NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Apakah Ini Tidak apa-apa?


Di titik tertinggi langit, matahari musim panas bersinar terik tanpa ampun pada tengah hari.

Berbeda dengan jalur kereta tunggal di Tsukinose yang lalu-lalang pekakinya sangat jarang, kawasan depan stasiun kota ini tampak luas dan ramai, terutama saat akhir pekan.

Alih-alih lapak sayur tanpa penjaga, berbagai toko berjajar rapi di sepanjang jalan, dan Hayato sedang berada di salah satunya—sebuah restoran keluarga—bersama Kazuki dan Mori.

"Ugh, aku sama sekali tidak paham dengan kata depan dalam bahasa Inggris! On, in, at—apa sih bedanya?!"

"Haha, mungkin orang yang sedang belajar bahasa Jepang juga merasakan hal yang sama terhadap partikel seperti te-ni-wo-ha," ucap Kazuki.

"Aku membayangkan sebuah gelas," tambah Hayato. "Es batu diletakkan di bagian atas, makanya 'on'. Buah plum dimasukkan ke dalam air, makanya 'in'. Dicampur dengan air, makanya 'with'. Begitulah cara aku mengingatnya."

"Wah, divisualisasikan seperti itu jadi masuk akal juga… tunggu, itu contoh yang…"

"Yah, waktu masih di desa dulu, aku sering diseret ikut ke berbagai perjamuan, dan alkohol selalu ada di sana," jelas Hayato.

"Sangat mencerminkan Hayato sekali," kekeh Kazuki.

Buku-buku pelajaran terbentang rapi di hadapan tiga sekawan yang sedang asyik mengobrol itu—sebuah sesi belajar bersama.

Semuanya bermula dari pesan yang dikirimkan Mori pagi tadi.

Awalnya Hayato sempat ragu untuk berlama-lama nongkrong di restoran keluarga, namun tempat itu ternyata tidak terlalu padat, banyak siswa lain yang juga belajar di sana, pendingin ruangannya sangat sempurna, ditambah fasilitas minuman sepuasnya (drink bar) yang langsung menyegel keputusan bulatnya.

"Fiuh, bahuku pegal semua! Waktunya istirahat?" usul Mori.

"Ide bagus, Iori-kun. Mau pesan sesuatu yang manis?" tanya Kazuki.

"Hmm, kita sudah belajar sekitar satu jam setengah, ya? Coba kulihat menu apa yang harus kupesan…" gumam Hayato.

Hayato sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Berdiskusi dan saling mengajari bersama teman-teman ternyata jauh lebih menyenangkan dari perkiraannya.

Selain itu, tempatnya sangat nyaman, dan harganya ramah di kantong anak SMA.

(Mungkin aku harus menyarankan tempat ini ke Himeko. Dan ke Haruki juga…)

Memikirkan adiknya, yang merupakan seorang siswi pejuang ujian namun gemar sekali menonton TV atau memainkan ponselnya, Hayato tersenyum geli. Namun, ketika pikirannya melintas pada ide untuk mengajak Haruki, ia mendadak teringat kembali wajah memerah gadis itu tempo hari saat mereka tak sengaja berpapasan di kamarnya saat Haruki sedang berganti pakaian.

Belakangan ini, perasaannya memang sering tidak menentu.

Terkadang, seperti saat ini, ia memikirkan Haruki begitu saja tanpa alasan, dan debar jantungnya langsung menjadi tidak karuan.

"…Ada apa?" sentak Hayato.

"Nggak apa-apa kok~," goda Kazuki.

Hayato menyadari Kazuki dan Mori sedang memperhatikannya, tatapan mata usil mereka seolah menyuarakan rupa ekspresi wajah seperti apa yang baru saja ia perlihatkan. Merasa malu, ia menggaruk bagian belakang kepalanya lalu meneguk es teh manisnya.

"Ngomong-ngomong, Hayato-kun, apa kamu nggak pernah belajar bareng Nikaido-san atau bersaing soal nilai ujian?" tanya Kazuki.

"Pfft! Uhuk, uhuk… Kazuki!" Hayato tersedak, memelototi temannya itu.

Kazuki hanya tersenyum simpul, bukan bermaksud mengolok-ngolok melainkan mengamatinya dengan geli. Mori, yang turut mengamati, meneguk minumannya sambil menghela napas.

"Serius deh, sejak kapan kalian berdua jadi begitu akrab?" ujar Mori.

"Mori, ini tuh Kazuki—” protes Hayato.

"Tunggu dulu. Aku Kazuki. Aku Mori. Sial, sudah lama berlalu tapi aku masih saja jadi pihak yang dikucilkan," gerutu Mori.

"Mau bagaimana lagi," balas Kazuki mengangkat bahu.

"Jadi, mulai sekarang panggil aku Iori, paham, Hayato?" desak Mori.

"Baiklah, Iori," pungkas Hayato mengalah.

Iori menyeringai lebar, dan senyuman di wajah Kazuki semakin mengembang. Hayato mencoba mengalihkan fokusnya dari situasi yang canggung itu, namun Iori rupanya belum mau berhenti meledek.

"Jadi, jelaskan soal ini padaku. Penampilanmu akhir-akhir ini kelihatan cukup tajam lho, Hayato," ujar Iori sambil menunjukkan layar ponselnya.

Hayato membeku saat melihat gambar di layar tersebut—sebuah foto dirinya di bioskop bersama Himeko yang sedang menceramahinya dari jarak dekat, tampak begitu intim.

Tentu saja, mereka adalah kakak beradik, namun bagi orang luar, pemandangan itu pasti menimbulkan salah paham.

Hayato tidak tahu dari mana Iori mendapatkan foto itu, namun dengan begitu banyaknya orang di tempat umum, sama sekali tidak mengejutkan jika ada kenalan Haruki atau Himeko yang tidak sengaja memotretnya.

Sambil mengerutkan kening, Hayato melirik ke arah Kazuki, yang sudah tahu persis situasinya, namun pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum seolah berkata, "Kenapa tidak?"

Hayato menghela napas panjang, merasa sedikit kesal sembari teringat bahwa ia masih punya utang budi pada Kazuki.

Menoleh ke arah Iori yang tampak penasaran, Hayato menjelaskan, "Itu Himeko, adikku."

"Adik, ya… Tunggu, bukannya Nikaido tadi memanggilnya sebagai teman masa kecil?" tanya Iori.

"Ya, Haruki dan aku juga teman masa kecil," aku Hayato.

"Paham," ujar Iori, masih menyeringai sementara matanya kembali menatap ponsel. "Kamu seharusnya menata rambutmu lebih sering, Hayato. Foto ini kelihatan cukup keren lho."

"Mana mungkin. Hari itu, adikku yang memaksa menata rambutku. Kalau tidak, dia tidak mau berjalan berdampingan denganku," gerutu Hayato.

"Sayang sekali padahal," goda Iori.

"Terserah," tepis Hayato acuh tak acuh.

Saat Hayato meraih pensil mekaniknya untuk kembali belajar, Kazuki, yang sedari tadi hanya diam mengamati, mendadak menjatuhkan sebuah bom pernyataan.

"Kamu harus lebih merawat penampilan. Aku yakin Nikaido-san akan dengan bangga mengakui kalau kamu adalah pacarnya," cetus Kazuki.

"Dia bukan pacarku!" Hayato membanting meja, bangkit berdiri hingga pensil di tangannya patah dengan suara "krak" yang menyedihkan.

Meskipun pengunjung restoran tidak banyak, seluruh pasang mata langsung menoleh ke arahnya. Ia berdehem pelan, wajahnya memerah padam dalam segala arti kata, lalu kembali duduk di bangkunya.

"Hayato, kalian benar-benar nggak pacaran?" tanya Iori.

"Mana mungkin! Terutama dengan Kazuki yang sengaja memperkeruh suasana dengan setengah menyatakan cinta ke Haruki. Dia itu cuma teman masa kecilku!" sanggah Hayato bersikeras.

"Oh, benar juga, kejadian itu ya. Tapi, kalau aku sendiri sih pacaran sama teman masa kecilku, Ema," sahut Iori santai.

"Itu kan…" Hayato tersendat, keningnya berkerut dalam.

Bagaimana sebenarnya orang-orang di luar sana melihat hubungan dirinya dan Haruki?

Berpacaran dengan Haruki—ia bahkan tidak pernah membayangkannya sekalipun.

Atau lebih tepatnya, ia tidak pernah membiarkan dirinya berpikir ke arah sana.

Disadarkan seperti ini justru memicu sensasi gatal yang membuat dadanya gelisah, dan ia tidak tahu harus berbuat apa untuk meredakannya.

Kazuki, yang menyadari kondisi mental Hayato yang sedang kacau, kembali menimpali dengan nada usil, "Aku tahu rasanya aneh mendengarnya dariku, tapi Nikaido-san itu gadis yang sangat cantik, kan?"

"…Sebesar apapun rasa kesal yang kurasakan, aku tidak bisa memungkiri kalau itu adalah fakta yang objektif," aku Hayato.

"Begitu rumor tentangku mereda, seseorang mungkin akan segera merebutnya lho," goda Kazuki lagi.

"Mana boleh…!" Hayato langsung tersadar di tengah kalimatnya.

"Mana boleh apa?" pancing Kazuki.

"Bukan apa-apa. Ayo kita lanjutkan belajar," elak Hayato, menelan rasa getir yang bergejolak di dadanya bersamaan dengan tegukan terakhir es teh miliknya.

Kazuki mengangkat bahu acuh tak acuh, sementara Iori bergumam dengan ekspresi dilema, "Hmm, kalau begitu jadi lebih susah mengajak Hayato… atau mungkin justru pas ya."

"Ada apa memangnya?" tanya Hayato.

"Undangan ke kolam renang bareng-bareng setelah ujian selesai. Aku ingin kamu yang mengajak Nikaido," kata Iori.

"Kolam renang? Haruki?" ulang Hayato.

"Ema malu kalau harus pergi sendirian, dan aku khawatir ada cowok-cowok genit yang menggodanya. Aku ingin melihat Ema memakai baju renang. Bukannya kamu juga ingin melihat penampilan Nikaido?" tanya Iori.

"Apa…?! Aku tidak peduli soal baju renang. Tapi, ya, dia mungkin akan datang kalau aku yang minta," cicit Hayato terbata-bata.

"Keren, kalau begitu beres," ujar Iori dengan ekspresi lega.

"Terdengar seru. Boleh aku ikut bergabung? Nikaido-san dan Isami-san sepertinya… aman," tambah Kazuki.

"Sangat dipersilakan. Aman, ya? Ya, aku mengerti maksudmu," tawa Iori.

"Berada di dekat cowok-cowok dan cewek-cewek yang sedang puber itu melelahkan," keluh Kazuki.

"Pasti berat ya jadi orang yang terlalu populer," ledek Iori.

Hayato setuju dalam hati, namun kondisi perasaannya saat ini sedang berantakan total.

Haruki dalam balutan baju renang—bayangan itu seketika memunculkan kembali ingatan saat gadis itu setengah berbusana di kamarnya, dan dorongan posesif yang kuat untuk tidak membiarkan orang lain melihatnya langsung membakar dadanya.

(Sialan!)

Wajahnya berubah dari merah menjadi muram, namun ia tidak menyadari senyuman geli di wajah Kazuki maupun seringai usil dari Iori.

Beberapa waktu kemudian, saat matahari masih menggantung tinggi di langit awal siang hari, kelompok belajar itu membubarkan diri setelah Iori mendapat panggilan telepon dari pacarnya, Isami Ema, mengenai pekerjaan paruh waktu gadis itu.

"Aku pulang," umum Hayato setibanya di rumah.

"Yo, Kak," sapa Himeko.

"Selamat datang kembali, Hayato," sambut Haruki.

Di dalam ruang keluarga, bukan hanya Himeko seorang melainkan Haruki juga berada di sana seolah-olah itu adalah hal paling natural di dunia, sibuk belajar untuk persiapan ujian dengan buku-buku pelajaran yang berserakan.

Sementara Himeko tampak merosot lemas karena fokusnya mulai buyar, Haruki segera menyadari kepulangan Hayato, merapikan keliman rok gaunnya, lalu duduk dengan tegak.

Disertai senyuman "ehehe", reaksi feminin yang tidak biasa itu membuat debar jantung Hayato melonjak, yang langsung ia tutupi dengan nada ketus. "Kalau kamu merasa risih, pakailah pakaian yang bisa membuatmu santai."

Pakaian yang dikenakan Haruki—sebuah gaun musim panas dengan kerah terbuka dan rok bertingkat—tampak sederhana namun manis, sangat kontras dengan setelan kaus tanpa lengan dan celana pendek rumahan milik Himeko atau pakaian rumahan Haruki yang sebelumnya terkesan kuno.

"Yah, aku kan tidak pernah terbiasa dengan hal-hal feminin, kan? Jadi aku sedang berusaha keras untuk berubah, meniru Saki-chan," ujar Haruki sambil berdiri lalu berputar pelan, membuat rok dan rambut panjangnya berkibar indah, nyaris menyingkap pahanya.

"—! P-Penampilan itu… tidak buruk juga, kurasa?" ceplos Hayato tanpa sadar, langsung membuang muka dengan wajah memerah.

Haruki berseri-seri senang, membuat Hayato merasa posisinya terpojok dan kembali mengerutkan kening.

"Dengar ya, Kak, Haru-chan itu benar-benar aneh," adu Himeko tiba-tiba.

"Hime-chan!" protes Haruki malu.

"Aneh kenapa?" tanya Hayato, nada suaranya meninggi karena panik.

Himeko melanjutkan tanpa mempedulikan reaksi gugup Hayato. "Waktu dia mengajariku matematika tadi, di rumus itu sama sekali tidak ada angka '2', tapi dia malah bilang, 'Substitusikan angka 2 untuk n di sini.' Ucapannya keluar begitu saja tanpa dasar, sama sekali tidak masuk akal, tapi jawaban akhirnya justru benar, yang mana itu malah semakin membingungkan!"

"Oh, aku mengerti. Tidak perlu dijelaskan lagi. Dia memang selalu begitu di sekolah," komentar Hayato.

"Hayato!" rengek Haruki.

Haruki memang memiliki intuisi belajar yang unik, mirip seperti insting alami, terutama untuk mata pelajaran matematika dan sains, di mana ia sering melewati langkah-langkah rumit demi langsung mencapai jawaban akhir.

Hayato teringat kembali sesi belajar sepulang sekolah baru-baru ini bersama Minamo dan Isami Ema, di mana Haruki sering kesulitan menjelaskan prosesnya kepada orang lain, sementara yang lain harus menguraikannya dengan jelas agar sesi belajar itu menjadi produktif secara tidak biasa.

Haruki tampak memasang ekspresi bersalah, namun teman-temannya tidak mempermasalahkannya. Himeko, yang berstatus sebagai adik tingkat, tampaknya kurang terkesan dan memilih merengut sebal.

Sambil terkekeh geli, Hayato memanfaatkan momen itu untuk menyampaikan ajakan dari Iori dan Kazuki. "Oh ya, ada rencana apa setelah ujian selesai? Ada ajakan untuk pergi ke kolam renang bareng-bareng."

"K-Kolam renang?! Maksudnya, kolam renang umum?" cicit Haruki terbata-bata.

"Asyik! Aku ingin mencoba seluncuran airnya! Yang seluncurannya dinaiki pakai ban pelampung atau perahu karet itu lho!" seru Himeko antusias.

Haruki tampak ragu-ragu, sementara Himeko justru sangat spesifik seolah-olah ia sudah merisetnya terlebih dahulu.

"Eh, Himeko, aku kan hanya menyampaikan undangannya saja. Itu dari teman-teman sekolahku. Aku sendiri sih tidak masalah, dan mereka mungkin akan menyambut kalian dengan senang hati, tapi… apa kamu yakin mau ikut?" tanya Hayato memastikan.

"Ugh, aku… akan memikirkannya dulu," gumam Himeko.

"Dan Haruki, kalau kamu tidak ingin pergi atau ada halangan, tidak usah dipaksa. Nanti akan kusampaikan ke mereka," tambah Hayato.

"Bukan berarti aku tidak mau atau punya rencana lain sih…" kalimat Haruki menggantung, wajahnya merona merah saat ia mencuri pandang ke arah Hayato.

"Haruki?" panggil Hayato heran.

Sikap ragu-ragu dengan rona merah di wajah itu benar-benar memancarkan aura gadis pemalu yang khas.

("Aku ingin melihat Ema memakai baju renang. Bukannya kamu juga ingin melihat penampilan Nikaido?")

Mengingat kembali ucapan Iori, Hayato baru menyadari bahwa ia tadi tidak sempat menjelaskan bahwa Ema sebenarnya pemalu atau bahwa ada gadis-gadis lain yang ikut, yang mana hal itu mungkin disalahartikan oleh Haruki.

Ia menoleh untuk meluruskan kesalahpahaman itu, namun langsung beradu pandang dengan sorot mata Haruki yang penuh tekad. "Aku… tidak bisa berenang!"

"H-Haruki… hah?" Hayato mengerjap bingung.

"Aku ini payah sekali kalau di dalam air!" deklarasi Haruki.

"Oh, benarkah?" komentar Hayato teringat sesuatu.

Dulu di Tsukinose, mereka memang sering bermain di sungai—memanjat bebatuan, menangkap kepiting, mengejar ikan kecil—namun mereka tidak pernah benar-benar berenang di tempat yang dalam. Sungai di sana tidak memiliki kedalaman yang cukup untuk itu.

Haruki merengut sebal, seolah menantangnya untuk menghakimi, namun Hayato justru merasa lucu dan mengacak rambut gadis itu pelan. "Kolam renang kan bukan cuma buat berenang saja. Kamu bisa mengapung pakai ban pelampung, berendam, atau mencoba seluncuran."

"Gampang banget ya ngomong begitu bagi orang yang bisa berenang… Menjadi orang yang tidak bisa berenang itu memalukan tahu," gerutu Haruki.

"Mau kuajari?" tawar Hayato.

"Tantangan diterima! Akan kubuktikan kalau manusia itu sebenarnya tidak didesain untuk bisa mengapung!" balas Haruki sewot.

"Idiot!" tawa Hayato lepas.

Himeko, yang mengamati interaksi penuh keakraban itu, bersungut-sungut kesal dengan erangan tertahan, merasa terintimidasi jika harus bergabung dengan teman-teman kakaknya.

"Kalian berdua malah asyik sendiri, ugh!" protes Himeko.

"Maaf, maaf," ucap Hayato.

"Tapi masalah utamanya ada di baju renang. Aku tidak punya baju renang yang layak," tambah Himeko.

"Oh, aku juga tidak punya," sahut Haruki.

"Aku bahkan cuma punya baju renang sekolah dari Tsukinose," aku Hayato.

Tentu saja ia tidak mungkin memakai benda itu, namun ia tidak masalah mengenakan pakaian apa pun asal tidak terlalu mencolok. Paling buruk, ia bisa membelinya langsung di lokasi kolam renang nanti, namun kedua gadis itu tampaknya jauh lebih pilih-pilih soal penampilan.

Himeko dan Haruki sama-sama mengerutkan kening, sibuk mencari referensi di ponsel masing-masing. Hayato, yang memperhatikan mereka dengan perasaan geli, berniat melangkah ke kamarnya saat Haruki tiba-tiba menarik ujung bajunya.

"Hei, Hayato, jenis baju renang seperti apa yang kamu suka?"

"J-Jahat—Apa?!" Hayato nyaris berteriak, menelan rasa terkejutnya sementara pipinya mendadak terbakar.

"Maksudku, seperti warna merah muda yang manis atau warna hitam yang terkesan dewasa—mana yang jadi tipemu?" desak Haruki.

"Mana kutahu?! Di Tsukinose kan cuma ada kolam renang sekolah!" protes Hayato tergagap-gagap.

"Haha, baiklah, kalau begitu nantikan saja kejutannya ya," ledek Haruki tersenyum penuh arti.

"I-Iya…" gumam Hayato salah tingkah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

Di dalam lubuk hatinya, ia memang ingin melihat Haruki mengenakan baju renang, namun di sisi lain ia tidak ingin orang lain melihat penampilan gadis itu—sebuah gejolak perasaan yang saling bertentangan di dalam dadanya. Kendati demikian, debar aneh itu terasa begitu menyenangkan.

Haruki, yang masih memegang ujung baju Hayato, tampak diliputi keraguan saat ia bergantian menatap pemuda itu dan Himeko.

"Haruki…?" panggil Hayato bingung.

Gadis itu memejamkan mata sejenak, mengangguk kecil, lalu berbisik tepat di telinganya, "Bolehkan… aku ikut denganmu menjenguk Ibumu?"

—! Itu kan…" Hayato tersentak kaget.

Ia menatap gadis itu, mencoba membaca pikirannya, namun rona di wajah Haruki meredup dan ia berbisik lirih, "Maaf, terkadang kunjungan seperti itu kan khusus untuk keluarga saja, ya?"

"Bukan, bukan begitu! Aku hanya terkejut saja. Dijenguk orang lain itu tidak masalah—penyakitnya kan bukan penyakit menular," sanggah Hayato buru-buru.

"Jadi aku boleh ikut?" Haruki mendekat, tatapan matanya begitu tajam menuntut kepastian.

Sorot mata yang jernih dan indah itu sukses membuat jantung Hayato berdegup kencang. Ia mengalihkan pandangannya, mendapati Himeko yang sudah tertidur lemas di atas meja, lalu menghela napas. "Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu dan Himeko."

Hanya ada satu jawaban yang benar untuk situasi ini. "…Baiklah."

Tak lama kemudian, mereka berpamitan dengan memberikan alasan kepada Himeko lalu meninggalkan apartemen.

Berjarak dua stasiun kereta dari stasiun terdekat.

Matahari masih memancarkan terik yang kuat, memaksa mereka berjalan menyusuri area yang teduhi oleh rimbunnya pohon-pohon pinggir jalan menuju rumah sakit.

"Jaraknya ternyata lebih dekat dari perkiraanku, meski agak melelahkan kalau berjalan kaki. Naik sepeda sepertinya lebih praktis," komentar Haruki.

"Aku berencana mengambil lisensi moped (motor skuter kecil) bulan depan pas hari ulang tahunku. Kemungkinan besar beli yang bekas saja, tapi aku harus cari pekerjaan paruh waktu dulu," balas Hayato.

"Ah, benar juga, kita kan sudah kelas satu SMA, jadi kita sudah boleh bekerja paruh waktu dan membuat lisensi—tunggu, ulang tahunmu bulan depan?!" seru Haruki kaget.

"Ya, tanggal 25 Agustus," jawab Hayato.

"Kamu seharusnya memberitahuku lebih awal…" gumam Haruki tertegun.

"Maaf… Haruki?" Hayato menyadari langkah gadis itu terhenti.

Haruki memamerkan senyuman kecut. "Bahkan aku tidak tahu soal itu."

"Aku juga tidak tahu tanggal ulang tahunmu," aku Hayato.

"14 Maret. Masih lama sih," kata Haruki.

"Sama seperti Himeko yang lahir lebih awal di tahun ajaran. Ulang tahunnya tanggal 7 Januari," tambah Hayato.

"Jadi Himeko juga anak yang lahir di awal tahun ya," gumam Haruki.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, namun atmosfer di antara mereka mendadak terasa sedikit berat. Bangunan rumah sakit kini sudah mulai terlihat di hadapan mereka.

Mobil dan bus lalu-lalang memasuki area rumah sakit. Begitu tiba di dekat gerbang, Hayato menghentikan langkahnya sambil menggaruk kepalanya.

"Aku memang tidak tahu tanggal ulang tahunmu, tapi aku tahu kalau kamu sangat suka minum ramune meskipun kamu selalu payah saat harus membukanya," ujar Hayato.

"…Hayato?" Haruki mengerjap kaget.

"Aku juga tahu kalau kamu itu punya sifat kompetitif yang tinggi, selalu menggerakkan seluruh tubuhmu saat sedang serius bermain game, suka mengejar serangga atau hewan, dan baru-baru ini, kamu selalu berusaha melangkah hanya di bagian garis putih saja saat menyeberang jalan," lanjutnya membeberkan.

"S-S-S-Sejak kapan?!" Wajah Haruki berubah merah padam.

Hayato, meski memasang ekspresi kaku namun serius, terus merinci berbagai kebiasaan masa kecil gadis itu yang kekanak-kanakan, membuat rona di wajah Haruki semakin pekat.

"Dan waktu di kandang domba milik Kakek Gen—" kalimat Hayato terpotong.

"Berhenti! Cukup, aku sudah paham!" seru Haruki memotong cepat. "Aku juga tahu kalau kamu dulu pernah terpeleset saat melompati batu-batu sungai, meniup permen karet terlalu besar sampai meledak di wajahmu sendiri, dan akhir-akhir ini sering mengecek diskon belanjaan di supermarket lewat ponselmu saat di sekolah!"

"Waduh, Haruki?!" Hayato panik.

Pandangan mata mereka bertemu, dan sedetik kemudian keduanya langsung tertawa lepas bersamaan.

"Waktu kecil dulu, kita memang lebih peduli pada permainan daripada tanggal ulang tahun," aku Hayato.

"Ya, kita bisa melengkapi bagian yang terlewat itu mulai sekarang," setuju Haruki.

"Benar, kita kan akan bersama selamanya," ucap Hayato tanpa beban.

"…" Haruki terdiam membeku.

"Haruki?" panggil Hayato heran.

"Kamu ini hobi sekali melempar bom ucapan seperti itu tanpa peringatan," gerutu gadis itu sambil membuang muka, lalu berlari kecil mendahuluinya melewati gerbang rumah sakit.

Merasa bingung, Hayato bertanya-tanya dalam hati apa ucapannya yang salah barusan, namun ekspresi wajah Haruki sudah kembali normal saat gadis itu menoleh ke belakang. "Ayo masuk?"

"Ya," angguk Hayato.

Lobi rumah sakit tampak terlalu luas, terang, dan bersih, yang selalu berhasil membuat Hayato mendengus kesal.

Di akhir pekan seperti ini, tempat itu dipadati oleh para pengunjung yang tampak sehat.

"Lewat sini," kata Hayato memimpin jalan.

"Oke," jawab Haruki, mengedarkan pandangannya dengan penuh rasa ingin tahu.

Hayato menyelesaikan urusan pendaftaran di bagian resepsionis dengan cepat, mengambil tali pengenal pengunjung (visitor strap), namun langkahnya terhenti saat melihat Haruki tampak ragu-ragu, berdiri kebingungan sambil melirik antara dirinya dan meja resepsionis.

"Ah, keliru. Tulis dulu namamu di buku catatan pengunjung lalu ambil talinya—" ucap Hayato.

"Kamu selalu datang sendirian selama ini, kan?" potong Haruki pelan.

"…" Hayato menggaruk bagian belakang kepalanya.

Hal itu memang benar adanya, dan mengingat situasi rumit yang dialami Himeko, ia benar-benar tidak tahu harus merespons apa.

Haruki kembali setelah mendapatkan tanda pengenalnya, menatap lurus ke arahnya, lalu tersenyum lembut. "Kalau membicarakannya bisa meringankan bebanmu, bersandarlah padaku. Aku bisa ikut memikul beban itu."

"…Akan kukabari nanti," jawab Hayato singkat.

"Janji?" Haruki mengacungkan jari kelingkingnya.

Sorot mata yang serius itu sangat kontras dengan nada bicaranya yang ringan, sukses membuatnya merasa kewalahan. Ia pun menautkan jari kelingkingnya, dan tawa kecil gadis itu berhasil memenjarakan perhatiannya.

Kondisi hatinya sedang kacau balau—Himeko yang terus menghindari kunjungan, tautan jari kelingking yang terasa belum cukup untuk menenangkan—berkecamuk menjadi satu di dalam kepalanya.

Mereka sadar posisi mereka sedang menghalangi jalan orang lain.

"Ayo jalan," ajak Hayato, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang telanjur jujur.

"Ya… aku jadi gugup," aku Haruki.

Saat ia berbalik, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan. "Kenapa kamu ada di sini?!"

"Aduh…" gerutu Haruki meringis kecil.

"Haruki?" Hayato refleks berbalik.

Seorang pria asing tampak sedang mencengkeram lengan Haruki dengan agresif.

Siapa dia? Apa yang sedang terjadi?

Hayato bereaksi bahkan sebelum otaknya sempat berpikir. "Hei, apa yang kamu lakukan pada Haruki?!"

"Hayato!" seru Haruki kaget.

Sebuah suara tamparan keras menggema saat Hayato dengan kasar menepis tangan pria itu, lalu menarik tubuh Haruki untuk mendekat dan melindunginya di belakang punggungnya. Geraman rendah bernada mengancam yang keluar dari tenggorokannya bahkan berhasil membuat Haruki terkejut.

Pria itu tampak asing di matanya—berwajah tampan, berbadan tinggi, berusia sekitar 30 tahunan atau lebih, jelas bukan seumuran dengan mereka. Hubungannya dengan Haruki sama sekali tidak jelas.

Haruki, yang berdiri di samping Hayato, mengerutkan kening sambil memiringkan kepalanya bingung.

"Aku…" pria itu tersedap tersadar, menyadari tindakan impulsifnya di bawah tatapan tajam Hayato.

"Haruki, kamu kenal dia?" tanya Hayato.

"Nggak, sama sekali nggak kenal," jawab Haruki sambil menggelengkan kepala.

Mata pria itu membelalak lebar, lalu ia membungkuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh. "Maafkan aku, aku salah mengenali orang tadi. Wajahmu mirip sekali dengan… Tolong maafkan aku karena sudah keliru memegang tanganmu."

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja… Tolong, angkat kepalamu!" pinta Haruki buru-buru.

Pria itu menurut, mengamati wajah Haruki sejenak sambil menggumamkan sesuatu, lalu berkata, "Baiklah… Terima kasih," sebelum berlalu pergi dengan tergesa-gesa.

(Sebenarnya apa-apaan tadi itu?) Hayato menatap punggung pria itu yang menjauh, merasakan kejengkelan yang tidak beralasan.

Cengkeramannya pada lengan Haruki mengerat. "…Hayato?" panggil gadis itu cemas.

"Maaf!" Hayato baru sadar posisi mereka saat ini terlalu dekat—menyadari tubuh kecil gadis itu, kelembutan kulitnya, dan aroma manis yang menguar berhasil membuatnya kewalahan. Ia buru-buru melepaskan rangkulannya dengan wajah salah tingkah.

"Tidak… apa-apa selama tidak terjadi masalah," ucap Haruki, nada suaranya menyuratkan sedikit kesedihan—atau hanya perasaannya saja?

Pemuda itu menggaruk kepalanya, lalu mendesak, "Ayo jalan lagi. Lantai enam."

"Baiklah," angguk Haruki.

Di dalam lift yang meluncur naik ke lantai enam, Hayato merasa tegang luar biasa dengan kehadiran Haruki di sampingnya. Gadis itu rupanya juga merasa gugup, terlihat membungkukkan bahu sambil sesekali melirik ke sekeliling.

Setibanya di depan Kamar 617, ia mengetuk pintu pelan.

"Masuk saja, tidak dikunci—oh, Hayato!" sapa Mayumi dari dalam.

"…Ibu," desah Hayato sambil menggeser pintu terbuka.

Pemandangan di dalam ruangan langsung membuatnya memegang kepala—kain-kain sulaman, renda yang rumit, dan Mayumi yang sedang merancang pola jahitan di atas tempat tidurnya. Kamar rumah sakit itu seketika tampak seperti studio perancang busana profesional.

"Apa yang sedang Ibu lakukan?" tanya Hayato.

"Ibu mulai belajar menyulam untuk terapi pemulihan tangan dan malah ketagihan. Terus Ibu mencoba merajut renda dengan tangan, dan berpikir, kenapa tidak coba membuat pakaian sekalian?" jelas Mayumi enteng.

"Ampun deh…" gumam Hayato sambil merapikan kekacauan itu.

Kualitas sulaman dan renda itu setara dengan barang buatan toko, menjadi bukti nyata bahwa fungsi tangan ibunya sudah mulai pulih kembali, yang seketika berhasil melonggarkan rasa cemas di dadanya.

"Maaf ya berantakan. Seharusnya Ibu minta tolong kamu bawakan kotak jahit dari rumah," kata Mayumi.

"Nanti kubawakan minggu depan. Memangnya baju apa yang sedang Ibu buat?" tanya Hayato.

"Tinggal di rumah sakit itu membosankan. Bagaimana kalau membuat gaun mewah? Pasti seru," gumam ibunya bersemangat.

"Untuk apa? Memangnya siapa yang mau pakai?" protes Hayato.

"Benar juga… Mungkin baju kostum cosplay? Untuk acara festival budaya atau semacamnya. Nah, ide bagus, mari kita buat itu saja!" keputusan Mayumi sepihak.

Hayato menghela napas panjang, merasa kasihan pada Himeko, lalu ia menyadari keheningan aneh di balik punggungnya.

"Eh?" gumamnya menoleh ke belakang.

"Ada apa?" tanya Mayumi.

Haruki sudah tidak ada di sampingnya, melainkan meninggalkan sosok bayangan ragu-ragu di balik pintu kaca buram.

(Padahal dia sendiri yang tadi ngotot mau ikut…)

Merasa geli, Hayato menggeser pintu itu terbuka, mendapati Haruki sedang asyik memilin ujung rambutnya karena gugup. Ia menatap gadis itu dengan pasrah sambil menggaruk kepalanya.

"…Um," cicit Haruki tampak salah tingkah.

"Masuklah," ajak Hayato sambil menarik lengan gadis itu agar melangkah masuk.

"Bu, aku membawa seseorang untuk berkenalan denganmu," lapornya sambil mendorong Haruki ke depan.

"A-Aku belum siap… Um, sudah lama tidak berjumpa!" sapa Haruki terbata-bata.

"Oh… Astaga!" Mata Mayumi berbinar terang, langsung melompat turun dari tempat tidur untuk menyambut dan menggenggam kedua tangan Haruki.

"Kamu terlihat sangat sehat sekali, Ibu senang… Eh…" ucap Haruki gugup.

"Ya ampun, cantiknya gadis ini! Ibu adalah ibunya Hayato! Anak laki-laki itu memang payah soal merawat diri, tapi dia sebenarnya anak yang baik, cuma agak usil sedikit," puji Mayumi antusias.

"T-Cantik… Aku justru lega karena Hayato ternyata masih tetap menjadi anak yang suka ikut campur," balas Haruki tersenyum.

"Oh! Sudah panggil nama panggilan langsung begini ya? Akrab banget! Jangan-jangan…?" goda Mayumi.

"Tunggu, Bu, Ibu salah paham," potong Hayato buru-buru.

Ada yang tidak beres. Haruki tampak salah tingkah, kewalahan menghadapi energi menggebu-gebu dari Mayumi.

(Bukankah situasinya dulu tidak seperti ini saat dia pertama kali bertemu Himeko?) batin Hayato berusaha mengingat, lalu turun tangan.

"Bu, ini Haruki. Haruki teman bermain kita waktu kecil dulu," perjelasnya.

"…Haruki-chan?" Mayumi membeku sejenak, sebelum akhirnya kesadaran menghantam benaknya.

"Um, sudah lama tidak bertemu, Bibi. Aku Haruki Nikaido…" sapa Haruki sopan.

Mayumi menatap lekat-lekat, matanya membelalak lebar, lalu meledakkan teriakan, "EH?!"

Jeritan itu sukses membuat Hayato dan Haruki berjengket kaget. Haruki menatap ke arah pemuda itu meminta bantuan, namun Hayato hanya bisa mengangkat bahu pasrah.

Cengkeraman tangan Mayumi pada lengan Haruki mengerat, tubuhnya bahkan sedikit bergetar. "Haruki-chan, dulu kamu kan anak laki-laki, tapi kenapa sekarang jadi secantik ini?!"

"Mya?!" seru Haruki kaget.

"Ibu!" protes Hayato keras.

"Ada apa ini ribut-ribut, ibunya Kirishima-san?!" Minamo—seorang gadis berambut ikal yang ditata dengan sangat cantik hingga nyaris membuat Hayato tidak mengenalinya dibanding saat di sekolah—tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar.

Kedua mata Haruki berputar pusing melihat penampilan Minamo yang berubah drastis.

"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh Kirishima—Kamu?!" kakek Minamo menyusul masuk dengan amarah meletup-letup, bahkan langsung melemparkan botol air minum mineral ke arah Hayato.

"Bahaya!" Hayato refleks menghindar.

"Kakek?!" jerit Minamo panik.

"Jangan hentikan aku, Minamo! Pemuda sialan ini kerjanya cuma mendekati cucuku dan sekarang berani membawa gadis lain pula!" raung sang kakek murka.

Kekacauan itu baru mereda setelah kepala perawat datang menerobos masuk dan mendaratkan omelan maut agar mereka menjaga ketenangan rumah sakit.

Sepuluh menit kemudian, lima orang dengan ekspresi penuh penyesalan berbaris rapi di dalam Kamar 617.

Mayumi berdehem pelan, menatap lurus ke arah Haruki. "Maaf ya, Bibi tadinya benar-benar mengira kalau kamu itu anak laki-laki lho."

"Haha, Hime-chan juga mengira begitu dulu…" cengir Haruki.

"Kamu dulu selalu belepotan lumpur dengan banyak luka gores di mana-mana! Siapa yang menyangka kalau kamu akan tumbuh menjadi gadis secantik ini? Hayato pasti syok banget waktu lihat kamu, kan?" ujar Mayumi.

"…No comment," gumam Hayato salah tingkah, jantungnya berdegup kencang berusaha menutupi rasa malunya.

Melirik sekilas ke arah Haruki, ia melihat gadis itu merona merah saat Mayumi asyik menceritakan kenangan masa kecil mereka—mulai dari memamerkan biji ek, terjebak perangkap rumput liar, hingga menahan tangis.

Merasa sedikit lega, Hayato menangkap Minamo yang sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, dan gadis itu buru-buru meminta maaf.

"Maafkan soal Kakek ya," ucap Minamo pelan.

"Ah, tidak apa-apa, Miyatake-san kan tidak bermaksud jahat," balas Hayato.

"Huh! Masih saja dikelilingi gadis-gadis cantik! Kamu harus hati-hati, Minamo!" gerutu sang kakek memperingatkan.

"Kakek!" tegur Minamo kesal.

Memahami naluri protektif sang kakek, mereka bertiga hanya bisa tersenyum kecut. Haruki tiba-tiba melangkah maju dengan gugup, berdehem pelan, hingga auranya mendadak berubah drastis.

"Senang berkenalan dengan Anda, nama saya Haruki Nikaido. Aku adalah teman dekat Minamo-chan, terutama dalam urusan berkebun. Mohon bimbingannya ke depan," ucap gadis itu sambil membungkuk anggun, menampilkan postur seorang Yamato Nadeshiko sejati.

Kakek Minamo mengerjap bingung, wajahnya merona merah, menggaruk pipinya yang tidak gatal, lalu bergumam, "U-Urus cucuku baik-baik ya!" sebelum bergegas kabur keluar ruangan.

"…Haruki-chan ternyata bisa bersikap sangat anggun ya," puji Mayumi takjub.

"Pfft!" Hayato refleks menyemburkan tawa kecil.

"Bibi?! Hayato!" protes Haruki sebal.

"Haha…" Minamo tersenyum kecut melihatnya.

Haruki merengut sekelip, lalu menghela napas panjang sebelum beralih mengamati Minamo dari atas sampai bawah. "Wah, Minamo-chan, gaya rambutmu ditata manis sekali. Kenapa tidak dibikin seperti itu terus setiap hari?"

"Fweh?!" Minamo membeku, keningnya berkerut dengan wajah memerah padam.

"Model itu jauh lebih bagus daripada gaya rambutmu biasanya. Iya kan, Hayato?" desak Haruki meminta persetujuan.

"Ya, kelihatannya memang cocok," aku Hayato jujur.

"A-Aduh," erang Minamo malu-malu, sebelum akhirnya mengaku, "I-Ini ditata oleh ibunya Hayato-san. Aku sendiri tidak bisa…"

"Oh, begitu rupanya. Bibi memang suka usil, mirip seperti Hayato," komentar Haruki.

"Heh," protes Hayato tidak terima.

Haruki bertepuk tangan pelan, merasa puas. "Mau latihan menatanya bersamaku? Aku juga baru belajar soalnya. Lagian, ibunya Hayato tadi sempat mengiraku sebagai cowok lho."

"Fweh?! Um, beneran nggak apa-apa?" tanya Minamo ragu.

"Tentu saja, kan kita teman," jawab Haruki ramah.

"Hehe, benar juga!" senyum Minamo merekah.

Mereka tertawa bersama, masih sedikit canggung namun jelas terlihat begitu dekat, sangat mirip seperti saat mereka asyik mengobrol di dekat petak bunga sekolah.

(Teman dekat perempuan…)

Hayato merasakan tusukan aneh di dadanya melihat pemandangan yang menghangatkan hati itu, buru-buru menggaruk bagian belakang kepalanya untuk menutupi salah tingkahnya.

Area stasiun sudah semakin dekat.

"Aku akan naik bus saja. Haruki-san, Haya… to-san, sampai jumpa di sekolah besok ya," pamit Minamo.

"Tunggu sebentar," cegat Hayato ragu-ragu. "Sebaiknya… aku tetap memanggilmu Miyatake-san saja di sekolah? Seperti halnya Haruki, untuk menghindari kesalahpahaman yang aneh-aneh…"

"Oh…" Minamo mengerjap, menyentuh dagunya pelan.

Haruki mengerutkan kening, bergantian menatap kedua orang di hadapannya itu.

Minamo, dengan rona merah yang kian jelas di pipinya, berkata pelan, "Aku… sebenarnya lebih suka dipanggil dengan nama depanku. Hanya Haruki-san saja yang memanggilku begitu selain keluargaku sendiri."

"Paham, Minamo-san," ralat Hayato cepat.

"Ya!" Minamo berseri-seri senang.

Hayato kembali menggaruk kepalanya karena salah tingkah. Sementara Haruki merengut tanpa disadari siapapun, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Kalau begitu aku duluan—" ucap Minamo hendak melangkah.

"Tunggu!" Haruki tiba-tiba mencekal pergelangan tangan gadis itu.

"Fweh?!" seru Minamo kaget.

"Haruki?" panggil Hayato heran.

"Bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini, Minamo-chan?" tanya Haruki, sorot mata gadis itu memancarkan tekad yang begitu kuat.

"…Haruki-san?" Minamo mengerjap bingung.

Tatapan Haruki sama sekali tidak bergeming, begitu memikat hingga membuat Hayato hanya bisa terdiam dan menonton interaksi mereka berdua tanpa mampu berkata-kata.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close