Interlude 2
Hati yang Mulai
Berwarna, Mendekat dan Berayun
Langit
sebelah barat Tsukinose perlahan-lahan diwarnai oleh semburat merah jingga
senja.
Di belahan
langit timur, sebuah bintang yang tak sabar mulai berkelip memancarkan
sinarnya.
Angin
sepoi-sepoi yang berembus turun dari pegunungan menggoyangkan rambut flaxen
terang milik Saki yang kali ini diikat dalam model twin tail (dua kuncir
samping).
"Mmm,
anginnya sejuk sekali."
Dibandingkan
terik matahari siang hari yang menyengat, udara sore yang diiringi angin
sepoi-sepoi ini terasa begitu menyegarkan, membuat Saki menyipitkan mata
menikmati perjalanannya menyusuri jalan setapak di antara ladang-ladang warga.
Saat itu,
Saki mengenakan pakaian ritual miko lengkap.
Pakaian itu
memang terlihat mencolok dan menarik perhatian, namun di Tsukinose, pemandangan
tersebut sudah menjadi hal yang biasa.
Sebagai
anak perempuan satu-satunya dari keluarga pengurus kuil yang mengawasi seluruh
festival dan tradisi desa, Saki memang sering membantu berbagai urusan, dan
berjalan-jalan menjalankan tugas mengenakan pakaian miko praktis sudah menjadi
tradisi lokal tersendiri di Tsukinose.
Bahkan saat
ini, ketika ia berpapasan dengan para warga desa yang baru pulang dari ladang,
mereka melambaikan tangan dan menyapanya ramah.
"Oh,
Saki-chan, mau ke mana jalan-jalan pakai baju miko? Kelihatan gembira banget…
Apa anak laki-laki keluarga Kirishima dari kota itu baru saja bilang sesuatu
padamu?"
"Hah?!
T-Tidak, bukan begitu! A-Aku cuma mau, anu, pergi ke tempat Kakek Gen!"
"Haha,
iya deh terserah kamu. Hati-hati di jalan ya?"
"B-Baik!"
Seketika
merona merah padam, Saki langsung mempercepat langkahnya untuk menyembunyikan
rasa malunya. Hembusan angin sore kembali meniup lengan baju putih dan celana
hakama merah menyalanya.
(Ugh, apa
ekpresiku tadi kelihatan sejelas itu di wajahku?)
Memikirkan
hal itu, ia tanpa sadar menepuk saku lengan bajunya tempat ia menyimpan ponsel
pintar miliknya.
Omong-omong,
kepekaan para warga desa terhadap perasaan terpendam Saki memang sudah menjadi
rahasia umum, seperti yang bisa ditebak dari reaksi paniknya barusan.
Ia kembali
teringat pada percakapan obrolan grup mereka sebelumnya.
"Murano-san,
kalau kamu ada waktu luang, bisa tolong ambilkan beberapa foto domba di tempat
Kakek Gen?"
"Tentu
saja bisa, tapi untuk apa?"
"Hayato
bilang ada anak yang ngotot kalau gaya rambut ikalnya mirip banget sama domba
milik Kakek Gen."
"Iya,
katanya cara rambut ikal itu memantul saat jalan benar-benar mirip."
"Makanya, Saki-chan, kami butuh bantuanmu buat fotoin domba-domba itu buat pembuktian."
"Hehe,
mengerti. Akan kulakukan."
Mendapatkan
permintaan langsung dari Hayato, Saki tentu saja tidak bisa menolak.
Ini adalah
pertama kalinya ia menerima permintaan santai semacam itu, membuat dadanya
melonjak begitu girang hingga ia langsung melemparkan sapu lidi yang
dipegangnya dan bergegas keluar rumah.
Situasinya
memang belum sepenuhnya ia pahami.
Namun, jika
domba-domba milik Kakek Gen dari Tsukinose menjadi topik pembahasan, Saki
merasa ia juga berhak ikut bergabung dalam percakapan itu.
Kira-kira
topik seperti apa yang akan tercipta nanti?
Memikirkan
tentang Haruki, gadis yang akhir-akhir ini sering ia ajak mengobrol, membuatnya
merasa bahagia.
Dengan
langkah-langkah ringan, Saki tiba di tempat tujuannya.
"Kakek
Ge-n, apa Kakek ada di rumah? …Hmm, sepertinya tidak ada orang?"
Ia
memanggil, namun tidak ada jawaban dari dalam.
Dengan
ekspresi bingung, Saki membuka gerbang kayu, melangkah masuk ke halaman, dan
mengintip ke bagian belakang rumah. Perilaku itu sebenarnya tidak bisa dibilang
terpuji, namun di pedesaan Tsukinose, tidak akan ada seorang pun yang akan
memarahinya karena masuk begitu saja seperti ini.
"Hmm,
kelihatannya memang tidak ada orang di rumah."
"Baa~"
"Eh?"
"Baa
baa~"
Rumah
keluarga Gen dibangun dengan gaya arsitektur rumah petani tradisional khas
Tsukinose.
Satu-satunya
hal yang membedakannya dari rumah-rumah warga lainnya adalah kandang domba yang
dibangun berdampingan langsung dengan bangunan utama rumah.
Domba-domba
yang berkeliaran bebas di halaman itu melihat Saki dan langsung mengembik
manja, menggesekkan kepala mereka ke tubuh gadis itu seolah memohon untuk
dibelai. Kejadian seperti itu sudah biasa terjadi karena hewan-hewan tersebut
memang sangat ramah.
"Ah,
sudahlah, kalian berdua memang tujuan utamaku ke sini. Boleh ya aku ambil
beberapa foto?"
"Baa
baa!" "Baa~" "Mbaa~~"
"Hehe,
kalau kalian membiarkanku mengambil foto yang bagus, akan kubelai kalian
sepuasnya, oke? Eh, jangan, jangan kunyah celana hakama-ku~!"
Setelah
membelai domba-domba itu satu per satu secara bergantian, Saki memotret
domba-domba yang mengembik gembira itu dengan ponsel pintarnya, lalu
mengirimkan hasilnya ke grup obrolan.
Saat
lampu-lampu penerangan di Tsukinose mulai meredup dan bulan sabit tipis
menggantung di atas pegunungan barat,
Saki, yang
baru saja menyelesaikan latihan tari kagura-nya, sedang membilas keringat di
kamar mandinya sambil menggerutu kecil.
"Ugh,
Nenek ini suka banget mengusili orang~!"
Latihan
hari ini dipenuhi dengan semangat yang membara.
Seiring
dengan intensitas obrolannya dengan Hayato yang meningkat akhir-akhir ini dan
perasaan kedekatan yang kian mendalam, adalah hal yang wajar jika ia mulai
bertanya-tanya apakah pemuda itu akan datang untuk melihat tariannya lagi tahun
ini.
Namun,
ketika sang nenek—yang juga bertindak sebagai guru tarinya—berkata sambil
menyunggingkan senyuman lebar, "Tarianmu akhir-akhir ini memancarkan warna
yang berbeda, ya? Sedang memikirkan siapa, hm?" tidak heran jika Saki
langsung merengut sebal.
"Baiklah,
apa sudah ada balasan?"
Setelah
membersihkan sisa-sisa rasa kesalnya di kamar mandi, Saki kembali ke kamarnya
dengan rambut panjang yang masih terasa lembap.
Ponsel
pintarnya, yang ia letakkan di dekat bantal, menunjukkan beberapa notifikasi
baru. Begitu ia memeriksanya, percakapan di dalam grup ternyata sudah
berlangsung seru.
"Haru-chan,
bersikaplah yang sopan ya? Jangan melempar bantal begitu!"
"Haruki,
pastikan kamu sudah ke kamar mandi sebelum tidur, tahu!"
"Hei,
sebenarnya kalian berdua ini, Hime-chan dan Hayato, menganggapku apa sih?!
Lagian Minamo-san malah ketawa-ketawa terus di sebelahku!"
Meskipun ia
tidak sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi, sepertinya Haruki sedang
menjadi bahan godaan.
Sudut bibir
Saki melunak melihat interaksi yang menghangatkan hati itu.
"Selamat
malam. Sepertinya obrolannya seru sekali ya."
"Oh,
Saki-chan! Dengar nih, Hayato dan Hime-chan pada jahat banget!"
"Haru-chan
baru pertama kalinya menginap di rumah teman."
"Rasa
cemas ini bahkan lebih parah daripada saat aku disuruh belanja ke warung
pertama kali waktu kecil. Semoga aku tidak merepotkan…"
"Haruki-san,
besok kamu kan harus sekolah, jadi jangan tidur terlalu larut malam, ya?"
"Ugh,
bahkan Saki-chan ikut-ikutan!"
Sambil
duduk di atas tempat tidurnya, Saki terkikik geli membaca pesan-pesan tersebut.
Ia bisa
dengan mudah membayangkan Haruki sedang merona merah padam di sisi lain layar
sana, sementara Himeko dan Hayato menggodanya sambil tersenyum. Suasana itu
terasa begitu menyenangkan.
Bisa
mengobrol secara santai dengan melibatkan Hayato di dalamnya adalah sesuatu
yang mustahil dibayangkan hingga beberapa waktu lalu.
Di detik
ini, dada Saki terasa begitu ringan dan melayang.
Dan semua
itu berkat bantuan Haruki.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana hasil foto dombanya?"
"Oh,
fotonya sudah dikirim ya? Terima kasih, Murano-san."
"Sama-sama,
bukan masalah besar kok."
Hanya
sebuah ucapan "terima kasih" dari Hayato saja sudah cukup untuk
membuat bunga-bunga bermekaran di dalam hati Saki. Dalam hal itu, ia sama
polosnya dengan Himeko.
Namun,
ekspresinya langsung membeku saat melihat gambar berikutnya yang muncul di
layar.
"Onii,
bukankah itu keterlaluan? Bilang kalau gadis imut begitu mirip sama domba Kakek
Gen?"
Gadis yang
sangat imut.
Foto itu
sepertinya diambil secara diam-diam saat Haruki sedang lengah, menampilkan
ekspresi salah tingkah gadis itu yang justru semakin menonjolkan pesona
kelucuannya yang mirip hewan kecil.
Meskipun
demikian, rambut ikalnya dikepal rapi, memancarkan aura keanggunan, dan bagi
seseorang yang memiliki fitur wajah relatif awet muda dibandingkan teman
sebayanya, foto itu memancarkan daya tarik misterius yang membuat Saki mau
tidak mau harus menelan ludahnya susah payah.
(Cantik-imut—tunggu,
siapa gadis ini?! A-Apa dia temannya Onii-san?!)
Merasa
panik namun berusaha memahami situasinya, Saki duduk tegak di atas tempat
tidurnya, mengamati jalannya percakapan.
"Maksudku,
gaya rambut ikal aslinya yang tidak ditata itu memang mirip banget."
"Yah,
aku sedikit paham maksud Hayato sih. Aku juga sempat terkaget-kaget waktu
pertama lihat, coba deh."
Kali ini,
gambar yang muncul adalah foto Haruki dengan rambut terurai tanpa kepangan,
menampilkan ciri khas rambut ikalnya yang mengembang elastis.
Mungkin
merasa terkejut oleh Haruki, ia tampak malu-malu menyentuh kepalanya sendiri.
Sangat
mengejutkan betapa sebuah gaya rambut bisa mengubah kesan seseorang secara
drastis dibandingkan foto sebelumnya.
Perasaan
Saki mendadak rumit. Ia tidak bisa tetap tenang.
Secara
refleks, ia menyentuh rambutnya sendiri.
Rambut flaxen
(pirang terang) miliknya selalu mencolok bahkan di Tsukinose.
Ia tidak
pernah diejek karena warna rambutnya itu, namun karena tidak suka menjadi pusat
perhatian, ia biasanya mengikatnya menjadi dua kuncir sederhana. Model rambut
yang sangat biasa. Keningnya berkerut dalam.
"Haruki,
kamu nggak memaksa Minamo-san untuk difoto kan waktu dia lagi nggak mau?"
"T-Tidak
kok! …Mungkin. Tapi dia langsung diam-diam kabur ke kamar mandi setelah fotonya
kuambil."
"Ugh,
Haru-chan, kamu itu memang tidak punya kepekaan soal itu, mirip banget sama
Onii."
"Hime-chan
juga ikutan!"
"Haruki
seharusnya meniru Murao-san. Berbeda dengan penampilan Haruki yang menipu,
Murao-san itu benar-benar anggun dan lembut seperti kelihatannya, sopan dan
imut, rajin membantu tugas kuil tidak seperti Himeko yang pemalas, dan
disayangi oleh semua orang di desa. Dia benar-benar gadis yang sempurna."
"Ngh!?
Uhuk, uhuk, uhuk!"
Saki
tersedak sungguhan di dunianya nyata.
Ia tidak
mampu menyembunyikan reaksi paniknya saat membaca kalimat Hayato yang memujinya
cantik dan imut. Namun komentar-komentar itu belum berhenti.
"Hayato,
apa-maksudnya bilang penampilanku menipu?!"
"Onii,
aku ini nggak separah itu ya, aku normal!"
"Persis
seperti yang kukatakan. Haruki, belajarlah menjadi anggun dari Murao-san, dan
Himeko, perbaiki kebiasaan hidupmu yang berantakan itu!"
"Aku
juga bisa bersikap sopan kalau aku berusaha!"
"Bahkan
kamar Saki-chan mungkin juga berantakan, banyak barang berserakan dalam
jangkauan tangannya dari tempat tidur, kan?!"
"Haha…"
Pujian
bertubi-tubi itu membuat bukan hanya wajahnya saja, melainkan kedua telinganya
turut terbakar panas.
(A-Ahh…)
Hati Saki
sudah benar-benar masuk dalam mode festival. Wajar saja jika ia merasa
demikian.
Bahkan saat
ini, di layar ponselnya, Haruki dan Himeko melayangkan protes, "Itu pilih
kasih!" "Aku tidak seburuk itu!" sementara Hayato membalas
tegas, "Teladanilah Murao-san!", membuat kepala Saki serasa mendidih
karena salah tingkah. Namun sensasi itu sama sekali tidak terasa buruk.
Dadanya
terasa begitu ringan dan melayang, membuatnya ingin membenamkan wajah ke dalam
bantal, menendang-nendangkan kakinya ke udara, dan terus tinggal di dalam momen
ini selamanya.
"Onii,
kamu terlalu berlebihan memuji Saki-chan. Mau cari muka ya?"
Namun,
komentar bom waktu dari Himeko sukses menghentikan detik waktu Saki.
Kejutan itu
membuat otaknya mendadak kosong, tidak mampu langsung mencerna makna di balik
ucapan tersebut.
(O-Onii-san,
cari muka… padaku?!)
Jantungnya
berdegup dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Mana
mungkin. Ngomong begitu malah bisa bikin Murao-san terbebani, aduh."
"Oh,
iya juga sih, benar juga ya."
"!"
Mendengar
tanggapan cepat dari Hayato dan Himeko, jemari Saki bergerak secara refleks
tanpa dikomando.
"Aku
sama sekali tidak merasa terbebani kok. Di acara perkumpulan kuil, orang-orang
sering menggodaku seperti, 'Bagaimana kalau pemuda Kirishima itu dijadikan
suami saja? Usianya sebaya dan dia anak yang rajin bekerja,' jadi aku sudah
terbiasa mendengarnya. Lagian, aku mungkin tidak sebaik dan sesempurna seperti
yang Onii-san bayangkan? Saat akhir pekan, aku terkadang hanya bermalas-malasan
seharian mengenakan piyama sambil membaca manga atau menonton video, dan aku
sering berkeliaran di desa mengenakan pakaian miko hanya karena terlalu malas
memilih pakaian lain. Ditambah lagi, aku ini punya demam panggung yang parah,
makanya sampai detik ini aku bahkan belum bisa menyapa Onii-san dengan
benar…"
Itu adalah
gerakan mengetik tercepat yang pernah ia lakukan seumur hidupnya, sebagian
besar didorong oleh keinginan untuk menutupi rasa malunya.
Namun isi
pesannya berantakan total—apakah ia sedang mencoba menyangkal bahwa ia tidak
terbebani atau justru merendahkan dirinya sendiri agar terlihat tidak begitu
istimewa, sama sekali tidak jelas.
Jantungnya
berdegup kencang, dan ia sadar suhu di kepalanya sedang overheat.
Ia membaca
ulang apa baru saja ia ketik.
Lalu,
bayangan wajah gadis-gadis tertentu melintas di benaknya.
Haruki
dengan penampilan yang anggun dan memesona; Himeko yang ceria dan modis
meskipun berdiri berdampingan dengan Haruki; serta gadis dalam foto sebelumnya
yang memadukan daya tarik dan kelucuan.
(Ugh, apa
di kota sana ada banyak sekali gadis-gadis imut selain Haruki-san…!?)
Secercah
rasa tidak aman merayap masuk ke dalam hati Saki.
"Meskipun
begitu, bagiku Murao-san tetaplah gadis yang bisa diandalkan dan berhati
baik."
"…!"
Namun di
detik berikutnya, warna di dalam hati Saki berubah total.
(A-Aku
tidak boleh mengecewakan Onii-san, kan?)
Pujian
Hayato menyiraminya dengan gelombang kebahagiaan, motivasi, dan tekad yang
kuat.
"Ugh,
Onii mulai merayu Saki-chan lagi!"
"Sudah
kubilang bukan begitu maksudku!"
"Hehe,
dipuji oleh Onii-san membuatku senang. Aku akan terus berusaha keras agar bisa
mendapatkan lebih banyak pujian lagi."
Saki
mengepalkan kedua tangannya di depan dada seolah menyemangati diri sendiri,
"Baiklah, aku akan terus memberikan yang terbaik!" Ia bahkan tidak
lupa menyelipkan balasan bernada protes untuk menggoda Himeko.
Sungguh,
ucapan-ucapan Hayato memiliki efek magis bagi Saki.
Sementara
itu, duduk di atas tempat tidur, Haruki terpaku memegang ponselnya dengan
tatapan kosong.
Sebuah
pusaran emosi berupa rasa frustrasi yang tak bisa dijelaskan bergolak di dalam
dadanya.
Interaksi
sebelumnya yang dipicu oleh komentar Himeko terpatri kuat di dalam benaknya.
"Saki-chan…"
Balasan
pesannya yang tidak biasa panjangnya namun diketik dengan kecepatan kilat.
Kebahagiaan
yang coba disembunyikan di balik kata-kata gugup itu terpancar begitu jelas.
"Haruki-san,
kamar mandinya kosong."
"! Oh,
Minamo-chan."
Pikirannya
buyar saat ia tersadar kembali ke dunia nyata, teringat bahwa saat ini ia
sedang menginap di rumah Minamo.
Kamar tidur
Minamo memiliki nuansa ala Jepang modern yang tenang dengan sentuhan kayu
hangat, tampak sederhana dengan sedikit barang, serta koleksi buku-buku
berkebun yang mencerminkan kepribadian pemiliknya. Terdapat sebuah tempat tidur
di sana, namun malam ini, dua buah kasur futon digelar berdampingan di
lantai.
Minamo
tampak berada dalam suasana hati yang luar biasa baik.
Baru saja
keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang nyaman, rambut ikalnya yang
masih basah tampak memantul-mantul setiap kali ia melangkah mendekati Haruki.
Rupanya ini
adalah pertama kalinya seseorang menginap di rumah Minamo.
Setelah
menerobos masuk ke rumah Minamo tadi, Haruki sempat berjalan-jalan sore
dengannya dan Rento—anjing jenis collie yang sangat menyayangi Minamo—kemudian
berbelanja dan memasak makan malam bersama, menggelar kasur futon, dan
mengobrol santai—momen-momen kebersamaan yang sangat biasa.
Minamo
tampak sangat gembira karenanya, terpancar jelas dari ekspresi wajah dan
suasana hatinya.
"Waktu
jalan-jalan sore sama Rento tadi, rambutmu jadi berantakan lagi…
Haruki-san?"
"Ah,
iya, gara-gara mandi! Rambutku jadi lepek gara-gara tadi sempat
dielus-elus!"
"…"
"Haha…"
Haruki
pasti sedang memasang ekspresi wajah yang terlalu serius tadi.
Ia
memaksakan tawa untuk mencairkan suasana, namun Minamo justru memandangnya
dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Keheningan
singkat merayap di antara mereka.
Bagi
Haruki, emosi yang dirasakannya terlalu rumit untuk diungkapkan dengan
kata-kata.
Namun
melihat wajah khawatir Minamo, dinding pertahanannya runtuh, memunculkan sisi
rapuh di dalam dirinya. Sambil menggenggam erat ponsel pintarnya, ia mulai
berbicara terbata-bata, mencoba merapikan emosi di dalam dadanya.
"Jadi,
anu… aku belakangan ini sering mengobrol dengan gadis itu, Saki-chan,
tapi…"
"Maksudmu
temannya adiknya Hayato-san, ya? Apa kalian sempat bertengkar atau ada
masalah?"
"Nggak,
sama sekali nggak ada masalah. Dia gadis yang benar-benar baik. Begitu baiknya
sampai-sampai, yah, aku…"
"…"
"Ugh,
aku bahkan nggak tahu apa sebenarnya yang sedang coba kukatakan. Haha…"
"Haruki-san…"
Ia mencoba
menyuarakan isi kepalanya namun kesulitan menyusun perasaannya sendiri.
Minamo
hanya duduk mendekat, berbagi ekspresi serius yang sama.
Sebuah
kenyamanan kecil yang berarti.
Melirik ke
arah Minamo, pikiran Haruki kembali melayang pada Saki.
Kesan
pertamanya saat melihat foto Saki adalah sosok gadis dengan senyuman yang
begitu indah dan menawan.
Saki begitu
memukau.
Sebaliknya,
bagaimana dengan dirinya sendiri?
Senyuman
yang ia kenakan di sekolah atau di luar sana hanyalah topeng murahan hasil
latihan berjam-jam di depan cermin.
Yang asli
versus yang palsu.
Membandingkan
keduanya membuat dadanya terasa sesak dan nyeri.
Haruki
sebenarnya sangat awam dalam memahami seluk-beluk emosi kaum hawa.
Bahkan ia
sendiri masih belum sepenuhnya mengerti perasaannya sendiri yang masih abu-abu.
Di satu
sisi, hal itu wajar bagi Haruki, yang selama ini sengaja menghindari ikatan
emosional yang terlalu dekat dengan orang lain.
Namun ia
tidak cukup bodoh untuk tidak menyadari ke arah mana senyuman dan perasaan Saki
itu ditujukan.
Keinginannya
yang jujur adalah merawat emosi yang baru tumbuh dan rapuh ini secara perlahan,
namun sepertinya waktu tidak mengizinkannya. Ia meremas kain baju di bagian
dadanya dengan kuat.
"Haruki-san,
ayo kita lakukan sesuatu yang nakal!"
"Apa?!
N-Nakal?!"
"Ya,
sesuatu yang nakal!"
"Ehm,
anu, Minamo-chan…?"
Minamo,
yang sedari tadi mengamati wajah Haruki, tiba-tiba bangkit berdiri dan menarik
pergelangan tangannya.
Arti kata
"nakal" di sini sama sekali tidak jelas.
Namun
dengan senyuman ramah di wajahnya, Minamo dengan antusias menariknya menuju
dapur.
Ia merebus
air di dalam panci dan mengeluarkan sebungkus ramen instan.
Melirik ke
arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Makan malam
memang sudah lama usai, namun aroma gurih dari bumbu kaldu yang menguar sukses
membangkitkan selera makannya, membuat perutnya langsung keroncongan.
"Hehe,
makan ramen selarut ini rasanya nakal banget, kan?"
"Ugh,
aroma seperti ini di jam segini tuh curang namanya, benar-benar teror
makanan."
"Hehe,
kalau dihabisin sendirian sepertinya terlalu banyak, jadi kita bagi dua
ya."
"Haha,
ide bagus."
Dua
setengah menit kemudian, panci berisi ramen yang masih mengepulkan uap panas
diletakkan di atas alas meja makan.
Minamo
menjatuhkan sepotong mentega ke dalam kuahnya.
Mentega itu
meleleh seketika, mempertajam aroma gurih kuah kaldu ayam yang begitu menggoda.
Tak lama kemudian, ia memecahkan sebutir telur mentah ke dalamnya, di mana
bagian putih telur perlahan-lahan memadat terkena panas kuah, merekah bagaikan
sekuntum bunga, sementara kuning telurnya yang masih setengah matang bergetar
seolah memohon untuk dipecahkan.
Haruki
harus berjuang keras melawan dorongan untuk segera menghancurkan kuning telur
itu dan melahapnya, menggigit sumpitnya erat-erat untuk menahan diri. Ia tidak
sendirian—Minamo juga ada di hadapannya.
Minamo,
yang memperhatikan dengan senyuman kecil, menangkupkan kedua tangannya.
"Selamat
makan."
"S-Selamat
makan!"
"Aku
paling suka menghancurkan kuning telurnya saat masih panas."
"Aku
juga! Suka sekali mencampur kuah kuning telur yang kental itu dengan
minya!"
Satu panci
ramen diletakkan tepat di tengah meja, tanpa mangkuk tambahan.
Keduanya
kompak memecahkan kuning telur itu, mencampurnya dengan mi, lalu menyeruputnya
langsung dari dalam panci bersama-sama.
Suap demi
suap ramen tengah malam itu berlanjut dalam keheningan yang nyaman.
Ada sensasi
kenakalan tersendiri yang membuat rasanya begitu luar biasa di lidah. Mereka
saling mendekatkan tubuh, berbagi sumpit dengan akrab.
"Enak
banget."
"Iya,
apalagi dimakan jam segini."
"Makan
bareng orang lain ternyata bikin rasanya jadi jauh lebih enak ya, kan?"
"…Ah."
Haruki
akhirnya menyadari kenapa Minamo berada dalam suasana hati yang begitu gembira
malam ini.
Itu adalah
perasaan yang sangat dipahami oleh Haruki, seseorang yang sering menghabiskan
waktu makannya sendirian. Dan itulah juga alasan kenapa ia tadi secara impulsif
menarik tangan Minamo untuk mengajaknya menginap.
Makan
bersama seseorang yang dekat terasa hangat, lezat, dan menyenangkan.
Hayato-lah
yang telah mengajarinya arti hal tersebut.
Maka,
Haruki membalas senyuman itu, membawa serta secercah harapan di dalam hatinya.
"Kalau
begitu, gantian main ke tempatku ya next time. Bagaimana kalau kita bikin study
camp pas musim ujian nanti? Tempatku kan lebih dekat dari sekolah, jadi,
ya?"
"Beneran?
Apa nggak apa-apa?"
"Tentu
saja—kan kita berteman."
"Hehe,
iya juga ya. Aku pasti akan datang."
"Haha,
ditunggu ya. Janji lho."
"Iya!"
Keduanya
saling berpandangan lalu tertawa bersama.
Sebuah
interaksi yang sangat wajar di antara para sahabat.
(Teman…)
Tiba-tiba,
bayangan Saki melintas di benaknya.
Sahabat
karib Himeko di Tsukinose.
Seorang
gadis yang akhir-akhir ini semakin dekat dengannya, seseorang yang bisa ia
sebut sebagai seorang teman.
Bukankah
gadis itu sedang sendirian di desa pegunungan sana saat ini?
Haruki
sangat tahu betapa sepi dan resahnya rasa kesendirian itu.
Seberapa
besar perasaan yang tersimpan di balik senyuman manis gadis itu tadi?
Seketika
itu pula, wajah Hayato berkelebat di benaknya, meninggalkan sensasi pahit yang
menusuk tenggorokannya.
Bagi
Haruki, arti kata "teman" adalah sesuatu yang spesial. Bahkan jauh
lebih spesial daripada keluarga.
Itulah
kenapa ia ingin mendukung perasaan tulus dari temannya itu.
Namun di
sisi lain, kata "teman" justru terasa bagaikan sebuah kutukan yang
menggerogoti hatinya, menimbulkan rasa sakit yang begitu tajam. Haruki segera
menyeruput sisa ramennya untuk menepis rasa sesak itu.
Sambil
terus tersenyum di samping Minamo—sahabat wanitanya.



Post a Comment