Chapter 7
Festival Musim
Gugur, Bersama Orang yang Berharga
Di dalam
kamar mandi, Hayato memegang ponselnya dengan wajah yang dipenuhi rasa cemas.
Cermin di
hadapannya memantulkan sosok dirinya yang asing, mengenakan yukata—sebuah
pemandangan langka yang tidak pernah ia kenakan dalam keseharian.
"Tidak…
aneh, kan…?"
Ini adalah
pertama kalinya ia mengenakan yukata, dan tadi ia bahkan harus bersusah payah
mencari cara mengikat obi yang benar di internet. Ia tidak bisa berhenti merasa
khawatir apakah ikatannya sudah pas atau penampilannya terlihat pantas.
Anehnya, hal itu
juga membuatnya merisaukan tatanan rambutnya.
Saat ia sedang
memegang sehelai poninya sambil mengerutkan kening, sebuah suara memanggil dari
ruang keluarga, mendesaknya agar segera bergerak cepat.
"Onii, kamu
sudah selesai belum?"
Himeko rupanya
sudah bersiap sepenuhnya. Peran mereka yang biasanya terbalik membuat Hayato
tersenyum masam.
Melirik sekali
lagi ke arah cermin, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya kembali ke ruang
keluarga, membulatkan tekad untuk meminta bantuan Himeko.
"Hei,
Himeko, bisakah kamu… tolong rapikan rambutku?"
"…Hah!?"
Mata Himeko
membelalak kaget, membulat selebar piring.
Reaksi itu
membuat Hayato bertanya-tanya apakah ia mengatakan sesuatu yang aneh, membuat
wajahnya berubah cemberut. Namun dalam sekejap, Himeko berlari menghampirinya,
menyambar tangannya, dan mendudukannya di sofa, wajahnya berseri-seri penuh
senyum lebar sambil mengangguk antusias.
"Tentu saja,
boleh! Onii, ini keren—kamu kelihatan jauh lebih tampan dari yang kukira!
Warna-warna cerahnya terkesan manis, dan wajar banget kalau kamu mau rambutmu
serasi!"
"I-Iya, yah,
tentu saja..."
Isi pikirannya
terbaca begitu mudah oleh sang adik, membuat wajahnya merona merah karena malu,
dan ia pun menjawab dengan singkat.
Namun Himeko sama
sekali tidak mempermasalahkannya, ia sibuk merapikan rambut kakaknya dengan
riang.
"Ngomong-ngomong,
kamu yang pilih yukata ini? Bagus banget—agak mengejutkan sih mengingat kamu
biasanya tidak tertarik hal-hal semacam ini."
"Aku yang
memutuskan akhirnya, tapi Kazuki yang mencarikan pilihannya."
"!"
Tangan Himeko
terhenti sedetik begitu nama Kazuki disebut.
Alis Hayato
berkerut, menduga apakah ia telah salah berucap, namun Himeko dengan cepat
melanjutkan pekerjaannya.
"Begitu ya.
Kalau begitu aku harus pastikan gaya rambutku tidak kalah keren dari selera
temannya Onii!"
"Ya, aku
andalkan kamu."
"Ugh, Onii
harusnya belajar dandan sendiri!"
"Nanti
lama-lama juga bisa."
"Sudah
selesai!"
"Terima
kasih."
"Ayo,
Saki-chan dan Haru-chan mungkin sudah menunggu—cepatlah!"
"Baiklah,
baiklah!"
Sebelum ia sempat
memeriksa hasilnya, Himeko menyatakan pekerjaannya beres, berdiri, dan
mendorongnya ke arah pintu.
Saat ia
mengenakan alas kaki geta di ambang pintu, ia sempat melirik sekilas ke cermin
ukuran penuh. Versi dirinya yang tampak lebih rapi dan stylish membalas
tatapannya.
Pipinya
menghangat karena malu, namun rasanya tidak buruk sama sekali.
Dengan langkah
ringan, Hayato berjalan menuju stasiun.
Di stasiun,
Haruki dan Saki ternyata belum tiba. Sepertinya Hayato dan Himeko yang datang
paling awal.
Setelah membeli
tiket, Hayato mengedarkan pandangan sementara Himeko sibuk memainkan ponselnya.
Suasana malam
hari di hari libur dekat stasiun terasa jauh lebih meriah dari perkiraan.
Banyak orang
lain, yang kemungkinan besar juga menuju ke festival, mengenakan yukata,
menciptakan atmosfer yang bersemangat dan tidak sabar.
Mungkin lebih
baik membiarkan yang lain menemukan mereka.
Saat ia hendak
meraih ponselnya, sebuah suara ragu-ragu memanggil.
"M-Maaf
membuatmu menunggu..."
"Oh, Haru…
Haruki…?"
Mengangkat
kepalanya sambil tersenyum, Hayato tertegun, napasnya tertahan melihat
penampilan Haruki yang tak disangka-sangka.
Yukata putih
dengan motif ikan mas, terkesan ceria dan agak kekanak-kanakan, dipadukan
dengan obi merah menyala. Rambut panjangnya diikat menjadi gulungan sanggul,
dengan hiasan rambut yang mencuat, memberikan ilusi potongan rambut pendek.
Penampilan mudanya yang lembut mengingatkan pada sosok Haruki bertahun-tahun
lalu.
Ia pasti telah
tumbuh menjadi gadis seperti ini.
Jika ia
mengenakan yukata seperti ini saat kecil, tidak akan ada seorang pun yang
mengiranya sebagai anak laki-laki.
"..."
"..."
Hayato terpaku
menatapnya, jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu ia harus
mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya terasa kering dan kata-kata seolah
tersangkut.
Mereka saling
bertukar pandang, momen itu berlangsung dalam keheningan yang canggung.
"Maaf aku
telat!"
"!"
Suara Saki
memecah lamunan mereka.
Hayato
dan Haruki terkesiap bersamaan.
"Tidak
apa-apa, Saki-chan, kami baru saja mau mengirim pesan. Kami juga baru sampai
kok," ujar Himeko.
"T-Tunggu,
keretanya datang!"
"Seriusan?
Ayo naik yang itu, Onii, Haru-chan!"
Bel
perlintasan kereta berdering, menandakan kedatangan kereta.
Himeko
dan Saki buru-buru menempelkan kartu IC mereka dan melambai kepada Hayato dan
Haruki yang masih terpaku agar segera menyusul.
Hayato
mendengus pelan, “Ngh,” dan dengan agak kaku mengulurkan tangannya.
Ketika
Haruki dengan hati-hati menyambut uluran itu, ia menggenggamnya erat-erat lalu
menariknya ikut berjalan.
Ia sangat
sadar bahwa reaksinya kekanak-kanakan, dan wajahnya yang memerah serta
berpaling ke samping menunjukkan rona malu yang tak terbantahkan.
Kuil
tempat diadopsi festival tersebut berjarak sekitar tiga puluh menit perjalanan
kereta, berarah kebalikan dari kota sibuk yang sering mereka kunjungi, terletak
agak di pinggiran kota.
Selain
kuilnya yang sedikit lebih besar, kota itu tidak memiliki hal istimewa—kecuali
pada hari ini, ketika tempat itu berubah menjadi pemandangan yang meriah dan
luar biasa.
Melangkah
keluar dari stasiun, mereka disambut oleh spanduk, lampion, dan orang-orang
ber-yukata warna-warni, serta stan-stan ramai yang memanggil para pejalan kaki.
Kemeriahan itu membentang sepanjang jalan menuju kuil.
Berbeda
dari festival di Tsukinose yang sarat dengan ritual, ini adalah sebuah pasar
malam yang sesungguhnya.
"Wah,
ramai banget… Pasti karena festival," gumam Hayato.
"Bukan
cuma kita—semuanya pakai yukata! Rasanya kayak lagi di negara lain,"
tambah Haruki.
"Saki-chan,
Haru-chan, Onii! Lihat,
stannya banyak banget!" seru Himeko.
"Wah,
gulali-nya bentuknya berputar-putar dan empuk!" sahut Saki.
Kelompok
itu tertegun sejenak sebelum energi festival menyelimuti mereka, mengangkat
semangat mereka seketika.
Haruki
dan Saki tidak terkecuali, mata mereka berbinar-binar menikmati pemandangan di
sekitar. Himeko tampak siap berlari kencang menuju jajaran stan.
"Tunggu
dulu—Iori dan… Kazuki belum datang," ucap Hayato, suaranya sedikit
menegang.
Ia
memindai kerumunan namun tidak melihat tanda-tanda keberadaan mereka. Mengecek
ponselnya, ia mendapati waktu pertemuan masih kurang lima belas menit lagi.
Belum ada pesan keterlambatan juga.
Ia sudah
memperingatkan Kazuki semalam, dan menilai dari jawabannya, pemuda itu tidak
akan membatalkan janji.
Saat
Hayato mengerutkan kening, memikirkan cara menghabiskan waktu, sebuah suara
geruran keras yang menggemaskan terdengar dari sampingnya.
Menatap
si pelaku, Haruki bersemu merah dan menunduk, menggumamkan sebuah alasan.
"Aku, um,
melewatkan sarapan dan makan siang..."
Alasan khas
Haruki itu membuat bukan hanya Hayato, tetapi juga Himeko dan Saki tertawa
terbahak-bahak.
"Ugh, jangan
ketawa! Aku kan menantikan makanan festival!"
"Haha, salah
sendiri, salah sendiri! Jangan
dicubit!"
"Haruki-san..."
"Oh, Haru-chan..."
Haruki
mencubit tangan Hayato sebagai bentuk protes, sementara pemuda itu
menertawakannya dengan senyuman hangat.
Saki
tersenyum masam, dan Himeko memutar bola matanya seolah berkata, mulai lagi
mereka.
Lalu, suara
gemuruh perut lapar lainnya terdengar—bukan berasal dari Haruki.
Semua mata
langsung tertujukan ke arah Himeko.
Merah padam
karena malu, Himeko terbatuk untuk menutupinya, lalu menarik tangan Haruki.
"Mgh!?"
"Haru-chan,
kita punya waktu luang sebelum yang lain kumpul. Ayo kita redakan cacing-cacing di perut
ini!"
Sambil
meracau cepat, Himeko menyeret Haruki menuju stan makanan dan menghilang ke
dalam kerumunan.
Hayato dan
Saki saling bertukar pandang lalu tersenyum tipis.
"Yah,
Himeko melewatkan makan siang, dan sarapannya cuma yogurt," kata Hayato.
"Sebenarnya,
aku tadi siang cuma makan salad minimarket," aku Saki.
"Sama di
sini—cuma makan nasi porsi sedikit sama teh buat makan siang."
"Pfft."
"Haha."
Saki menjulurkan
lidahnya dengan main-main, dan Hayato mengakui rahasianya sendiri, keduanya
terkekeh pelan.
Jujur saja, jauh
di lubuk hati mereka sama-sama tidak sabar mencicipi makanan festival.
"…Hm?"
"Ada yang
salah?"
"Bukannya
apa-apa, cuma..."
Hayato
menyadari orang-orang di sekitar sedang menatap ke arah mereka. Mengikuti arah
pandangan orang-orang tersebut, ia mendarat pada Saki dan langsung mengerti
alasannya.
Di tengah
kehebohan kedatangan Haruki dan gerbong kereta yang padat, ia tadi belum sempat
mengamati penampilan Saki sepenuhnya.
Yukatanya
berwarna merah mencolok dengan pola putih dan hitam yang simpel, rambut sewarna
terangnya ditata model twin-tail ikal. Terlihat imut sekaligus memesona, ia
menyerupai gadis-gadis populer di sekolah.
Palet
warna merah-putih itu mengingatkan pada pakaian miko yang dikenakannya di
Tsukinose, dan gaya twin-tail miliknya sudah tidak asing, namun nuansanya
terasa sangat berbeda—ceria dan modern.
Seolah-olah
sosok Saki dari Tsukinose sedang ditimpa oleh kehadiran gadis baru yang memukau
ini, membuat Hayato salah tingkah.
Ketika Saki
memiringkan kepalanya dengan penasaran, mengamatinya, pemuda itu buru-buru
melontarkan alasan.
"Hanya saja…
Saki-san hari ini, kamu kelihatan memadukan nuansa Tsukinose dan gaya kota dari
hari itu. Terasa segar tapi bikin nostalgia, sampai kepalaku agak
pusing..."
"Hehe, aku
senang kalau kamu mikir gitu. Aku memang sengaja mengincar gaya itu."
"Eh,
maksudku, kamu kelihatan manis banget..."
"M-Manis…!?
Ohh..."
Seperti
sebelumnya, Hayato mendadak kaku dalam merangkai kata, hampir tidak mampu
mengekspresikan dirinya. Saki akhir-akhir ini selalu berhasil membuatnya
kehilangan kendali atas ucapannya, dan alasan yang sudah jelas itu membuatnya
semakin gugup.
Saki, di sisi
lain, terkesiap mendengar pujian blak-blakan tersebut, wajahnya langsung merona
merah padam.
Namun sedetik
kemudian, ia merapatkan bibirnya, berputar, dan menyingkirkan rambutnya ke
samping.
"Aku juga
berusaha menata rambutku hari ini lho. Bagian tengkukku biasanya tertutup…
Bagaimana menurutmu?"
"!?"
Kini giliran
Hayato yang merona hebat.
Leher jenjangnya
yang biasanya tersembunyi kini tersingkap tanpa perlindungan. Ia menelan ludah
dengan susah payah.
Kulitnya yang
pucat dan lembut begitu memikat, memicu dorongan terlarang untuk mengklaimnya
sebagai milik sendiri—sebuah pikiran lancang yang sulit ia usir.
"Apa aku
membuat jantungmu berdegup kencang, Onii-san?"
"T-Tidak,
maksudku..."
"Pfft."
Saki berbalik
menghadapnya, senyum usilnya memancarkan kesan kekanak-kanakan sekaligus
memikat. Jantung Hayato kembali melonjak.
Sepertinya Saki
tidak hanya tampil lebih berani dari segi penampilan hari ini, tetapi juga
dalam hal mental.
Hayato
mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Cewek
punya banyak sisi ya… Bikin kaget."
Mulai
dari Haruki tadi hingga Saki sekarang, jantungnya berdegup terlalu cepat, dan
ia menggerutu dalam hati.
"Yo,
Hayato."
"Hai,
Kirishima-kun."
"Iori, dan
Isami-san juga."
Iori melambai
santai, tiba bersama Ema.
Ekspresi mereka
sedikit tegang, namun tangan mereka saling bertaut erat—gaya sepasang kekasih,
seperti sebelumnya, menjaga jarak mereka tetap dekat.
Yukata biru
dongker Iori dengan motif tegas berpadu apik dengan yukata nila Ema yang
dihiasi bunga-bunga halus. Bersama-sama, mereka memancarkan aura yang hangat
dan ceria, bagaikan seorang adik laki-laki nakal dan kakak perempuannya yang
bersikap lembut menegur.
Ekspresi
Hayato melunak membentuk senyuman.
Mata Saki
berbinar, dan ia bertepuk tangan.
"Ema-san,
kamu pakai yukata yang itu!"
"Ya,
yah… Yang satunya agak… berlebihan, kan?"
"Benar
juga, rasanya agak mirip cosplayer. Kayak oiran atau semacamnya."
"Buat
jalan-jalan rasanya… Yah, nanti aku pakai diam-diam di rumah saja deh…
Oh!"
"Kamu beli
yang itu juga!?"
"Ema!?"
"~~~~!"
Pengakuan tak
sengaja Ema membuat Iori terkejut.
Sambil merona, ia
bergumam, "I-chan suka tipe yang begitu," dan Iori, dengan wajah yang
semakin memerah, berhasil menanggapi dengan, "Terima kasih, aku
menantikannya."
Suasana manis di
antara mereka membuat yang lain tersenyum geli.
Iori,
yang tidak tahan dengan atmosfer tersebut, langsung bersuara.
"Ngomong-ngomong,
Hayato, yang lain mana lagi? Cuma Miko-chan saja?"
"Himeko
dan Haruki bareng, tapi..."
Hayato
ragu-ragu, tidak tahu bagaimana harus merespons.
Saat ia
mengerutkan kening, sebuah suara memanggil dari belakang.
"Hei!"
Menoleh ke
belakang, ia melihat Haruki dan Himeko dengan tangan penuh muatan takoyaki,
cumi bakar, yakisoba, tusuk sate ayam goreng, dan okonomiyaki—sebuah pesta
makanan yang lengkap.
"Wah,
Ema-san, yukatanya cantik banget! Kamu dan pacarmu kelihatan serasi banget…
Kan, Haru-chan?"
"Yup,
setelah melalui proses pilih-pilih yang rempong."
"T-Terima
kasih, Haruki-chan, Himeko-chan. Kalian berdua juga kelihatan cantik kok."
"B-Benarkah?
Ehehe."
"Aku
berusaha keras banget buat rambutku hari ini!"
Himeko berputar,
memamerkan yukatanya yang berwarna putih dengan garis merah dan hitam, gaya
reverse-ponytail memberikan pesona dewasa sekaligus sentuhan mudanya.
Sama seperti
Haruki dan Saki, ia menjelma menjadi gadis yang memukau.
Namun melihat
tumpukan makanan di tangan mereka, Hayato menepuk dahinya pelan, merasa gemas
dengan sang adik yang hobi makan.
Sebelum
ia sempat bereaksi, Saki bergabung dengan para gadis, dan obrolan seputar
yukata pun langsung mengalir meriah.
Iori
bergumam di sampingnya.
"Tinggal
Kazuki sendirian ya..."
"Iya..."
Suara mereka
terdengar kaku, keduanya sama-sama memikirkan rahasia Kazuki—tentang kakaknya.
Setelah rahasia
itu terkuak, Kazuki sempat kabur, dan kemarin di sekolah ia terang-terangan
menghindari mereka.
Bohong rasanya
jika mereka bilang tidak khawatir.
"Hei, maaf
menunggu lama!"
Kazuki datang
berlari kecil, sedikit engah-engah.
Di belakangnya,
dua wanita tampak menunjukkan ekspresi kecewa.
Yukatanya yang
sederhana, hampir terkesan polos, dikenakan dengan pembawaan yang dewasa dan
elegan, menjelaskan alasan mengapa ia berhasil menarik perhatian orang-orang
tadi.
Hayato
dan Iori saling bertukar pandang, menyunggingkan senyum masam.
"Um, jadi
hari ini juga, nih?"
"Mereka
langsung mundur begitu melihat kalian, jadi tidak terlalu masalah."
"Ya."
"Yup."
"..."
"..."
Percakapan
terhenti begitu saja.
Senyum canggung
merayap di wajah mereka, kehabisan kata-kata. Alis Iori berkerut tidak nyaman.
Keheningan
yang tegang itu pecah saat suara Himeko memotong udara.
"Hei!
Aku lihat lho, Kazuki-san—digombalin orang lagi? Pak Popularitas seperti biasa
rupanya!"
"Himeko-chan?"
"Himeko."
Seolah-olah
kejadian hari itu tidak pernah ada, Himeko berbicara kepada Kazuki dengan nada
cerianya yang biasa.
"Ngomong-ngomong,
aku kaget banget waktu tahu soal kakakmu! Tapi ya masuk akal sih kenapa kamu
bisa jadi pusat perhatian cewek-cewek."
"Um,
ya…?"
Ia
langsung membahas topik yang sejak tadi dihindari oleh mereka semua.
Semua orang
meringis melihat kurangnya kepekaan gadis itu, sementara Kazuki tampak
jelas-jelas salah tingkah.
Lalu, senyuman
Himeko melembut.
Mata mereka
membelalak lebar.
Malam itu,
setelah kembali ke Tsukinose, Himeko sempat menunjukkan ekspresi lembut dan
dewasa yang sama kepada Hayato.
Sambil
tersenyum manis kepada Kazuki yang tertegun, ia menggoda dengan nada bernyanyi.
"Kenapa
pasang muka cemberut begitu? Menyesal karena membiarkan cewek-cewek tadi lepas
begitu saja?"
"T-Tidak,
bukan begitu…!"
"Aku
sudah mikir sejak hari itu—sampai barusan, sebenarnya. Ketemu kamu di sini bikin semuanya jadi jelas.
Emang bener aku kaget banget dua hari lalu, tapi kakakmu ya kakakmu, dan kamu
ya kamu, Kazuki-san. Kamu tetap temannya Onii, dan tidak ada yang
berubah."
Ia melirik
sekilas ke arah Haruki, lalu menyuapkan separuh tusuk sate ayam goreng ke dalam
mulut Kazuki.
"Mgh!?"
"Makanya,
makan ini, pasang senyum seperti biasa, dan ayo kita nikmati acaranya! Ini kan
festival, tahu!"
Himeko
menyeringai lebar, kembali menjadi dirinya yang ceria.
Kazuki mengerjap
kaget, mengunyah potongan daging ayam itu dengan ekspresi tanpa persiapan.
Saat
semua orang terdiam kaget, Saki mendadak berseru.
"Hime-chan
mau berbagi makanannya!?"
"Mana
mungkin… Himeko!?"
Pengamatan Saki
membuat Hayato ternganga tak percaya.
Kelompok
itu langsung gaduh, sementara Haruki mengerjap heran.
Setelah menelan
daging ayam dan sisa suapan lainnya, Kazuki tertawa lepas.
"…Pfft!
Hahaha!"
"K-Kazuki-san!?
Onii, Saki-chan, apa maksudnya reaksi itu!?"
"Apa? Ya
iyalah… Himeko lho ini?"
"Iya,
Hime-chan mau bagi-bagi makanannya..."
"Ugh!"
Himeko
mengerucutkan bibirnya, merajuk.
Hayato dan Saki
ikut menimpali, menyebarkan tawa ke seluruh kelompok, membuat suasana kembali
normal seperti sediakala.
Namun di tengah
Himeko yang masih cemberut, Kazuki, yang kini kembali tersenyum, angkat bicara.
"Terima
kasih, Himeko-chan. Ayamnya enak banget dan bikin tenaga balik lagi. Sebagai
ucapan terima kasih, aku akan traktir kamu apa saja yang kamu mau."
"Kamu mau
mentraktirku!?"
"Jangan
pesan yang mahal-mahal ya?"
Suasana hati
Himeko langsung berubah 180 derajat dalam sekejap, menarik lengan Kazuki agar
berjalan cepat, persis seperti yang dilakukan Haruki sebelumnya.
"…Ayo kita
susul mereka juga."
"Ya."
"Yup!"
Hayato dan yang
lainnya mengikuti dari belakang, festival perkotaan yang jauh berbeda dari
Tsukinose itu pun resmi dimulai bagi mereka.
Mereka mulai
dengan mengisi perut, menyusuri stan-stan di tengah keramaian festival.
Musik festival
mengalun kencang dari pengeras suara yang tersebar di berbagai sudut kota.
Aroma sedap
makanan menguar dari stan-stan yang berjejer rapat.
Tawa dan obrolan
memenuhi udara, menampilkan sisi kota yang hanya bisa dilihat pada hari ini.
Semua orang yang
mengenakan yukata seolah memegang tiket masuk ke dunia lain yang ajaib ini.
Pandangan Hayato
mendarat pada dua sosok yang sedang berulah di depan sana.
"Wah,
baby castella-nya enak banget! Kazuki-san, kamu yakin tidak mau coba?"
"Haha, tidak
usah. Aku sudah makan taiyaki, crepe, dan jagung mentega… Kok perutmu masih
muat saja sih, Himeko-chan?"
"Aku baru
mulai kok! Oh,
omusoba! Jagung bakar juga!"
"Himeko-chan!?"
Kazuki
merinding ngeri melihat nafsu makan Himeko yang tak terkendali.
Sambil
mengunyah takoyaki, Hayato mengerutkan kening, berpikir apakah ia harus
mengerem tindakan ceroboh adiknya itu.
Saki
bersuara memecah lamunannya.
"Onii-san,
ada apa?"
"Ah,
aku cuma mikir sebaiknya aku bantu Kazuki mengawasi adikku."
"Haha,
Hime-chan benar-benar menggila ya."
"Yah, aku
ngerti sih perasaannya. Bahkan takoyaki ini—kesannya murah meriah, tapi rasanya
luar biasa enak kalau dimakan di sini."
"Aku setuju
banget! Ini pasti karena suasananya. Lagipula, melihat makanan yang jarang kita
makan bikin kita pengen coba."
"Makanan
yang sedang kamu makan itu doner kebab, kan? Makanan khas Turki?"
"Yup!
Daging yang berputar di stannya kelihatan menarik banget, jadi aku langsung
beli tanpa sadar!"
"Hah,
aku belum pernah coba."
"Mau
coba satu gigitan? Ini dari toko terkenal yang baru buka—enak banget, bahkan
tanpa suasana festival pun rasanya tetap juara."
"Boleh juga,
aku terima tawaranmu."
"…Ah."
Hayato
mengambil gigitan besar dari kebab tersebut.
Daging
sapi berbalut saus manis-pedas yang berpadu dengan kol dan irisan bawang
bombay, terbungkus rapi dalam roti tipis, menyatu sempurna di dalam mulutnya.
Rasanya
menawarkan kelezatan yang berbeda dari hamburger—mungkin bahkan sangat cocok
jika dimakan dengan nasi.
"…Mmm, ini
enak. Nanti aku mau beli satu deh… Saki-san?"
Menikmati kebab
tersebut, ia menyadari Saki sedang merona merah, matanya menghindari
tatapannya.
Gadis itu
bergumam memberikan alasan dengan nada ragu.
"Ini,
um… ciuman tidak langsung namanya..."
"!?"
Jantung
Hayato berdegup kencang saat ia menyadarinya terlambat.
Ia tadi tidak
berpikir panjang karena Saki menawarkan makanannya begitu saja secara natural.
"T-Tidak,
maksudku… kayak berbagi lauk atau minum dari gelas yang sama! Itu kan wajar banget kalau sudah
dekat, kan? Wajar banget!"
"I-Iya!
Kita kan dekat, jadi ini wajar banget!"
"Yup,
wajar, wajar!"
"Hehe,
ehehe."
Saki terkekeh
malu-malu, mencairkan ketegangan di antara mereka.
Kedekatan mereka
memang semakin terbangun akhir-akhir ini, sebagian karena Saki memang ingin
berinteraksi seperti ini dengannya.
Namun menghadapi
situasi romantis semacam ini dengan lawan jenis terasa cukup rumit baginya,
terutama karena ia ingin tampil sebagai kakak laki-laki yang bisa diandalkan di
mata teman adiknya itu.
Saat
Hayato sibuk merutuk dalam hati, seseorang menepuk pundaknya.
"Hm?
Haruki?"
Menoleh,
ia melihat Haruki sedang memegang pisang cokelat, bibirnya mengerucut membentuk
huruf ω yang usil. Firasat buruk langsung
merayap naik.
"Ini
pisang cokelat."
"…Yup,
pisang cokelat."
"Warnanya
hitam legam berkilau, agak melengkung juga, ya kan?"
"Itu
memang pisang cokelat."
"Pokoknya
harus nyobain yang klasik begini, kan?"
"Hei,
tunggu!"
Lidah
Haruki menjilat bibirnya dengan menggoda, sementara udara di sekitar mereka
seakan berubah.
Dengan
tatapan penuh gairah, ia memasang pose menantang sambil tersenyum nakal.
Saki terkesiap.
Mata Hayato menyipit.
"Fiuh…
jilat… Mmm."
Dengan ekspresi
penuh nafsu, ia meniupkan napas panas ke arah pisang tersebut, menjilat
ujungnya yang melengkung hingga air liurnya terlihat berkilau basah. Ia lalu
mendaratkan ciuman padanya.
Para pejalan kaki
terpaku di tempat, beberapa di antaranya bahkan sampai menganga lebar. Wajah
Hayato menggelap.
"Mmm…
slurp…"
Haruki dengan
antusias memasukkan pisang itu jauh ke dalam mulutnya, sedikit tersedak dengan
suara "Mgh" sambil menghisapnya.
Saki merona
merah, mengepulkan uap rasa malu, sementara para pria di sekitar mereka maju
condong ke depan. Alis Hayato berkerut dalam-dalam, dan ia dengan cepat
melayangkan jurus chop ke kepala Haruki.
"Berhenti
mempermainkan makanan!"
"Mgh!? Uhuk,
uhuk!"
Benturan itu
membuat Haruki menggigit pisang tersebut hingga putus, tersedak saat ia
menelannya. Ia meringis kesakitan sambil menarik diri, sementara para pria di
sekitarnya ikut meringis canggung.
"…Ampun
deh."
Hayato menghela
napas, merasa gemas, namun Haruki malah menyeringai lebar.
Saki,
yang baru sadar dari rasa syoknya, langsung melangkah mendekat dengan garang.
"H-H-Haruki-san!
Hari masih sore, dan kita lagi di tempat umum! Perilaku nakal kayak begitu itu tidak
boleh!"
"Mgh!?
Saki-chan, kamu tahu istilah itu dari mana… Oh, tunggu, jangan-jangan aku
sering meracunimu dengan game-game itu ya!?"
"~~~~!
Haruki-saaaan!"
Saki menceramahi
Haruki, yang hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.
Hayato kembali
menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.
Dinamika akrab di
antara mereka kembali terjalin, meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa aksi
usil Haruki tadi sempat membuatnya salah tingkah.
Dan tatapan penuh
selera dari orang-orang lain terhadap gadis itu membuatnya merasa jauh lebih
kesal dari yang ingin ia akui.
Untuk mengusir
rasa gelisah yang berputar di dadanya, ia menggaruk kepalanya lalu mengalihkan
pandangan.
Matanya mendarat
pada Iori dan Ema yang sedang asyik bermain balon air dalam diam, saling
memerciki satu sama lain. Sambil tersenyum, Hayato menangkap tatapan Iori, yang
langsung bersemu merah dan membuang muka, seolah berkata, Urusi saja urusanmu
sendiri.
Lalu, sesuatu
yang sempat diucapkan Haruki tadi mendadak terlintas di kepalanya.
"Meracuni
dengan game...?"
Setelah menikmati
jajanan stan dan meredakan perut keroncongan mereka, Hayato, yang sedang
mengunyah es serut, menyadari Himeko meringis kesakitan akibat brain freeze.
Ia menoleh ke arah Kazuki, yang tampak tidak biasa karena menunjukkan ekspresi
serius.
"Hei, maaf
ya soal adikku yang bikin repot."
"Tidak
apa-apa, Hayato-kun, santai saja. Aku malah senang, tapi, um..."
"…Kazuki?"
Hayato
memiringkan kepalanya, bingung melihat keraguan Kazuki.
Ia tadinya
mengira amukan kelaparan Himeko telah membuat pemuda itu kesal, tapi sepertinya
bukan itu masalahnya.
Keheningan
canggung sempat menggantung sampai akhirnya Kazuki berbicara dengan ekspresi
sedikit bersalah.
"Begini, di tempat tinggalku dulu, ada seekor kucing liar kesayangan semua orang..."
"Kayak kucing sakura?"
"Iya. Karena mereka kucing liar, mereka agak penakut dan langsung kabur kalau ada orang yang mendekat..."
"Oh, terus?"
"Tapi mereka bakal datang kalau dikasih makanan, jadi beberapa orang rutin memberi mereka makan. Aku jadi agak ngerti perasaan orang-orang itu sekarang..."
"…Pfft! Hahaha!"
"Jangan bilang ke Himeko-chan ya!"
"Aman!"
Himeko
melirik ke arah mereka, bingung melihat sang kakak tiba-tiba tertawa lepas.
Ia sedang
memamerkan lidahnya yang berubah hijau karena es serut rasa melon kepada Haruki
dan Saki.
Hayato dan
Kazuki saling bertukar pandang, bahu mereka bergetar menahan tawa.
Tiba-tiba,
seseorang menarik lengan baju Hayato.
Menoleh
ke samping, ia melihat Haruki dengan mata berbinar penuh rasa penasaran dan
secercah tantangan.
"Hayato,
lihat itu."
"Pencabutan
superball... Wah, superball. Nostalgia banget."
"Kan!?"
"Su-per-ball…?
Apaan tuh?"
Mata
Hayato melunak melihat mainan yang sudah tidak asing lagi baginya.
Saki ikut
bergabung dengan bingung, membuat Hayato terdorong untuk menjelaskannya.
"Intinya,
bola karet yang bisa memantul dengan gila."
"Yup!
Dulu kita biasa membantingnya ke tanah buat lihat siapa yang bisa mantulin
paling tinggi!"
"Haha,
kita juga sering bikin bolanya tersangkut di atap. Tapi dengan keramaian kayak
gini, bakal susah kalau mainnya begitu."
"Tapi
kita bisa saingan siapa yang paling banyak dapat bola, kan?"
"Oh,
menantang rupanya?"
"Hehe,
bersiaplah menyaksikan keahlian poi-ku! Meskipun aku belum pernah
mencobanya sih."
"Kamu belum
pernah coba!? Yah,
aku juga belum pernah."
"Ini
kedengarannya jadi pertandingan seru. Saki-chan, ayo kita ke sana!"
"H-Hah,
aku juga!?"
Haruki
menyambar tangan Saki dan langsung berlari pergi.
Himeko,
yang tidak ingin ketinggalan, buru-buru menghabiskan es serutnya sambil
meringis menahan brain freeze gelombang kedua.
Hayato
mengangkat bahu melihat tingkah adiknya saat Iori mendadak bersuara.
"Mumpung
kalian sibuk main itu, kami mau mampir ke stan mold-cutting di
sebelah."
"Hehe,
aku tidak bakal kalah dari I-chan kali ini! Aku mau balas kekalahan tahun lalu!"
"Diterima
tantangannya."
Iori dan Ema
sama-sama terbakar jiwa kompetitifnya.
Permainan mold-cutting
menyimpan rivalitas tersendiri yang tak diucapkan di antara dua sahabat masa
kecil itu.
"Himeko-chan,
mau gabung kita main mold-cutting? Rasanya macam-macam lho."
"Memangnya
itu bisa dimakan!?"
Mata
Himeko langsung berbinar mendengar unsur makanan di dalamnya.
Kazuki
terkekeh geli, sementara Hayato, dengan senyum masam, melangkah mengikuti
Haruki dan Saki.
Di stan
pencabutan superball, bola-bola warna-warni mengapung di sebuah kolam
kecil berarus tenang.
Hayato
dan Haruki, masing-masing menggenggam poi kertas di tangan, kini
terlibat dalam pertempuran sengit.
"Yes, dapat
satu! Aku menang!"
"Grrr..."
Hayato
mengepalkan tinjunya ke udara penuh kemenangan, sementara Haruki menggertakkan
giginya kesal.
Masing-masing
dari mereka akhirnya baru berhasil mendapatkan satu buah superball ke
dalam mangkuk kosong, dengan lima kertas poi yang sudah robek berserakan
di sebelah mereka.
Keahlian
mereka benar-benar sangat buruk.
Bahkan
anak-anak kecil di sekitar mereka sudah mengumpulkan beberapa bola di mangkuk
masing-masing.
"Beri
aku kertas lagi, om!"
"Haruki,
pertandingannya sudah selesai."
"…Kakak
manis, mau lanjut lagi?"
Pemuda penjaga
stan menatap Haruki dengan tatapan iba.
Bahkan Hayato,
yang sejak tadi bertahan dengan keras kepala, mencoba menghentikannya.
Haruki
merengut, melirik ke samping.
"Tapi
lihat itu..."
"Ya..."
"W-Wah,
aku dapat lagi! Yang ini juga… Yes!"
Mangkuk
Saki sudah meluber penuh dengan superball, dan ia masih terus menjaring
bola-bola lainnya dengan penuh konsentrasi.
Bola-bola
itu seolah tersedot ke arah poi miliknya, melompat masuk ke dalam
mangkuk bagaikan sihir. Itu adalah performa yang setara dengan dewa permainan.
Anak-anak
di sekitar menatapnya dengan mata berbinar penuh kagum, memanggilnya
"keren", sementara si penjaga stan tampak nyaris menangis.
"…Cuma
aku yang tidak dapat apa-apa. Rasanya bikin frustrasi."
"Aku
ngerti sih. Tapi keahlian Saki-san itu benar-benar di luar nalar."
"Mungkin
karena kuilnya ya? Saki-chan kan seorang miko, jadi dia mungkin punya buff
area semacam itu."
"Mana
ada."
"Ugh,
aku tadinya mau menjaring banyak-banyak terus mengejekmu, 'Lemah banget sih,
cupu♡, cupu♡!'"
"Haha,
sayangnya gagal!"
Hayato
tertawa meledek, membuat Haruki menggembungkan pipinya kesal.
Itu
adalah pemandangan yang sangat familier dari masa kecil mereka.
Namun
sesaat kemudian, nada suara Haruki berubah menjadi agak aneh.
"…Aku tidak
mau kalah dari Saki-chan."
"Mustahil
kamu bisa mengejarnya sekarang—"
Ucapan Haruki
sendiri sepertinya membuat dirinya terkejut.
Ekspresi tak
terduga itu membuat Hayato menelan sisa kalimat yang hendak ia ucapkan.
Untuk mengusir
suasana canggung, Haruki berseru, "Baiklah om, satu lagi!"
Hayato menggaruk
kepalanya, tersenyum lebar melihat wajah terkejut gadis itu. "Aku
juga."
"Hayato…?"
"Babak
kedua, ayo mulai!"
"—Ya!"
Poi di tangan, mereka memelototi kolam superball
tersebut, mengembalikan atmosfer akrab di antara mereka berdua.
Hayato
memanfaatkan momen itu untuk mengucapkan apa yang tadi sempat ia tahan.
"Ngomong-ngomong,
Haruki, hari ini..."
"Hm?"
"Kamu tadi
kelihatan mirip banget sama Haruki yang dulu."
"!"
Bahu Haruki
tersentak kaget.
Ia menoleh ke
arahnya, menyunggingkan senyuman usil penuh kemenangan.
"Rasanya
juga begitu."
◇◇◇
Di stan mold-cutting,
Himeko duduk di sebuah kursi meja, jarum di tangannya dipegang erat menghadap
cetakan gula dengan konsentrasi penuh.
"Mmm…"
Ia dengan
teliti menelusuri garis-garis desain kuda yang dinamis, mengikisnya berulang
kali.
Alurnya
sangat dalam—hampir siap terlepas.
Ia ingin
mempercepat gerakannya, tetapi ia malah memperketat fokusnya. Ia pernah gagal
pada tahap ini sebelumnya.
Hati-hati,
hati-hati.
Seperti
mengetuk jembatan batu sebelum menyeberang atau meniup makanan dingin setelah
lidahnya terbakar.
Akhirnya,
ia selesai dan mengembuskan napas lega. Pada saat yang sama, sebuah seruan
"Ah!" terdengar dari sebelah kirinya.
Melirik ke
samping, ia mendapati tatapan salah tingkah dari Kazuki.
"Bikin
mold-cutting ternyata lebih susah dari kelihatannya. Gagal lagi."
Ia menunjukkan
cetakan jamur yang patah dan cacat kepada Himeko.
Meskipun memilih
desain yang sederhana, Kazuki telah gagal di setiap percobaan.
Merasa malu
dengan kegagalannya yang beruntun, ia menggaruk pipinya sambil mengerutkan
kening.
Himeko
menyeringai menggodanya.
"Kazuki-san,
kamu agak kaku ya soal urusan tangan?"
"Sepertinya
begitu. Aku sendiri kaget. Tapi kalau soal gerak kaki, aku cukup jago
lho."
"Haha,
benar juga, kamu kan anak klub sepak bola. Ngomong-ngomong soal kejutan, Ema-san dan yang
lain..."
"Iya..."
Mereka menoleh ke
arah kerumunan di meja sebelah, tempat Ema dan Iori menjadi pusat perhatian.
Masing-masing
memegang cetakan kustom seukuran buku catatan—Ema dengan Menara Eiffel, dan
Iori dengan Kastil Himeji. Keduanya sangat rumit.
Di bawah tatapan
penonton, mereka mengukir dengan kecepatan luar biasa dan menyelesaikannya
dalam sekejap. Itu adalah penampilan yang memukau.
"Beneran
luar biasa..."
"Iya, nggak
masuk akal."
Kazuki terdiam
sejenak, lalu menoleh ke arah Himeko.
"Kamu nggak
mau lihat pertunjukan Iori-kun dan Isami-san?"
"Hmm,
menggoda sih, tapi aku lebih suka merasakannya sendiri."
"Paham. Aku
juga sama kalau soal sepak bola—main langsung itu lebih seru daripada cuma
nonton. Aku ngerti."
Himeko
menyeringai mendengar persetujuannya.
"Ngomong-ngomong
soal kejutan, kamu juga salah satunya, Kazuki-san. Kupikir kamu bakal gampang
menyelesaikan mold-cutting karena kamu jago dalam segala hal."
"Nggak juga.
Terutama dalam urusan orang lain—aku sering banget bikin kacau."
"Benarkah?"
Mengingat saat
pemuda itu bergaul dengan kakaknya atau memikat para pelanggan di tempat kerja
paruh waktunya, Himeko mengerjap skeptis.
Kazuki tersenyum
sinis pada dirinya sendiri.
"Soal
kakakku itu—aku merahasiakannya. Dan waktu SMP dulu, aku juga bikin kesalahan
besar. Ingat kan? Kayak waktu di bioskop dulu..."
"Oh..."
Himeko
mengingatnya.
Waktu itu,
orang-orang mencapnya sebagai pengkhianat, dan ia hanya menanggungnya dalam
diam.
Ia tidak tahu apa
yang sebenarnya terjadi.
Namun, ada satu
hal yang sangat jelas di benaknya tentang teman kakaknya itu.
"Hmm, tapi
kamu nggak akan pernah mengkhianati aku atau Onii, kan?"
"Tentu saja
tidak!"
"Tepat
sekali. Kamu datang ke festival hari ini karena kamu mempercayai kami."
"I-Itu...!
Mungkin, tapi...!"
Wajah Kazuki
menunjukkan campuran keterkejutan, pergulatan batin, dan kesadaran, yang
memperlihatkan betapa besar tekanan yang harus ia hadapi untuk bisa datang ke
sini.
Datang ke
festival begitu cepat setelah terungkap bahwa ia adalah adik dari MOMO pasti
mendatangkan risiko ketegangan. Ia pasti merasa ketakutan. Namun, ia tetap
mempercayai teman-temannya dan memutuskan untuk datang.
Lalu, bagaimana
dengan dirinya sendiri?
"Kamu kuat,
Kazuki-san."
"…Ha?"
"Aku lemah.
Aku terlalu penakut untuk menceritakan segalanya ke Onii, Saki-chan, atau
Haru-chan. Mereka mungkin sudah tahu sedikit, tapi aku malah terus bergantung
pada mereka, kayak anak kecil... Ugh, aku payah banget."
"Himeko-chan..."
Kini Himeko
menunjukkan ekspresi yang mengejek dirinya sendiri.
Kazuki tampak
salah tingkah, terbata-bata mengucapkan "Uhm" dan "Yah".
Anehnya, situasi itu terasa begitu familier.
(Oh,
Haru-chan...)
Saat Himeko
terjatuh dan menangis ketika masih kecil, Haruki dulu bersikap persis seperti
ini.
Kazuki, yang
setahun lebih tua dan memiliki saudara kandung yang terkenal, berada dalam
situasi yang hampir serupa.
Sebenarnya apa
yang sedang ia pikirkan?
Sambil menghela
napas pada dirinya sendiri, Himeko berdiri dengan semangat yang baru.
"Ugh, kita
kan lagi di festival—kenapa suasananya malah suram begini? Aku mau coba cetakan
yang lebih susah. Kamu mau ikutan, Kazuki-san?"
"Iya... Aku
mau coba sekali lagi. Kalau gagal terus, malunya bukan main."
"Haha, ayo
kita beli!"
" !? "
Seperti yang
pernah dilakukan Haruki sebelumnya, Himeko mengulurkan tangan sambil tersenyum
cerah.
"Kazuki-san,
ayo kita berikan yang terbaik dan nikmati festivalnya!"
"Setuju!"
◇◇◇
Matahari telah
meredup turun.
Lampion-lampion
berpijar terang, menerangi jalan menuju kuil bagaikan siang hari. Tawa riang
bergema dari para pengunjung festival.
Setelah
menyelesaikan pertandingan menyaring superball, kelompok Hayato menjelajahi
atraksi lainnya.
Pasar malam ini
adalah pengalaman pertama bagi mereka, di mana setiap pemandangan terasa baru
dan memikat. Sekadar melihat-lihat saja sudah sangat menyenangkan.
Haruki dan Saki
sepertinya merasakan hal yang sama, mata mereka terus mengamati sekeliling
tanpa henti.
"Aduh!"
"Maaf!"
"Aku juga
minta maaf."
Hayato tak
sengaja menabrak seorang pejalan kaki, lalu menggaruk kepalanya meminta maaf.
Melirik ke
sekitar, kerumunan orang tampak jauh lebih padat dibanding saat mereka baru
tiba.
Tiba-tiba, sebuah
pekikan nyaring "Kyaa!" terdengar dari arah gerbang masuk kuil.
Saling
bertukar pandang dengan Haruki dan Saki, Hayato mengerutkan kening.
"Hm? Ada apa
itu... Haruki, kamu tahu sesuatu?"
"Nggak tahu.
Aku sudah cek jadwalnya, seharusnya nggak ada acara apa pun di gerbang
masuk."
"Sebaiknya
kita cek ke sana?"
"Ide bagus,
Saki-chan. Ayo kita ke sana, Hayato!"
"Boleh."
"Ayo."
Mereka melangkah
menuju sumber keributan.
Begitu
mendekat, orang-orang tampak sibuk memotret dan merekam video dengan ponsel
mereka. Suara-suara dari kerumunan itu membuat wajah Hayato menegang.
"Seriusan,
itu beneran MOMO dan Airi!?"
"Mereka
nggak keberatan difoto!?"
"Bisa minta
jabat tangan!?"
Dua gadis
berpenampilan memukau berdiri di tengah kerumunan.
"Ayolah
Airin, lambaikan tangan lagi! Berikan fanservice!"
"Iya sih,
tapi duh, kita tadinya bilang mau tampil berani, tapi ini mah berlebihan!"
"Hmm,
jangan-jangan kita bikin kehebohan ya, Airin?"
"Jelas
banget kita bikin heboh! Kita bikin festivalnya kacau!"
"Wah!"
"Jangan cuma
bilang 'wah'! Ayo kita pindah ke pinggir!"
"Oke!"
" "
"..." " "
Mereka adalah
Airi dan Momoka.
Yukata mereka
yang mencolok dan dikenakan dengan sempurna sangat sulit untuk dilewatkan.
Pantas saja mereka langsung menarik perhatian.
Sementara
kerumunan bergemuruh antusias, kelompok Hayato justru menegang. Mereka tidak
tahu apa tujuan Airi dan Momoka, tetapi mendekati kekacauan itu sepertinya
bukan keputusan yang bijak.
Tanpa
berkata-kata, mereka bergerak melawan arus orang-orang yang sedang terpukau
oleh para selebritas itu, lalu meninggalkan area tersebut.
"Ah!"
"Aduh!"
Saki tersandung.
Haruki dengan
sigap meraih lengan Saki untuk mencegahnya terjatuh, namun Saki tampak
sempoyongan, bernapas tersengal-sengal dengan wajah yang memucat.
"Saki-chan,
kamu tidak apa-apa...? Nggak, kamu kelihatan pucat."
"Wajahmu
jelek banget... Masuk angin karena keramaian?"
"Uhm,
aku..."
Saki ragu-ragu,
namun kondisinya yang melemah sudah cukup membuktikan kecurigaan mereka.
Sambil mengangguk
kepada Hayato, Haruki memapah Saki menuju area cuci tangan yang lebih sepi,
lalu mendudukannya di atas bangku batu datar yang biasa digunakan untuk
meletakkan barang bawaan.
"Saki-chan,
istirahatlah di sini. Hayato,
tolong jaga dia. Aku mau ambil minuman dingin."
"Paham."
Haruki
bergegas menghilang ke tengah kerumunan.
Hayato berdiri di
sisi Saki, menatap keramaian di kejauhan.
Stan-stan
dipadati oleh keluarga dan pasangan yang mengenakan yukata, mengalir tanpa
henti.
Suara aliran air
yang jernih dari bak tempat cuci tangan terdengar sayup-sayup di dekat mereka.
Tempat yang
remang-remang dan agak jauh dari lampion itu terasa terisolasi dari dunia luar,
membuat suasana festival seolah berada di tempat yang sangat jauh.
Waktu
yang tenang berlalu perlahan.
Kondisi
Saki berangsur-angsur membaik.
Setelah
memastikan keadaannya, Hayato bertanya dengan nada tegas.
"Sudah
berapa lama?"
"…Ha?"
"Sesak napas
karena keramaian tadi—mulai terasa sejak kapan?"
"Uhm,
itu..."
Pandangan Saki
yang mengelak dan keraguannya mengisyaratkan bahwa hal itu sudah dirasakannya
sejak lama.
Hayato merasa
bodoh karena tidak menyadarinya, wajahnya menegang dan kata-katanya terdengar
lebih tajam.
"Kalau tidak
sanggup, jangan dipaksa."
"Tapi... aku
nggak enak. Semuanya
kan lagi bersenang-senang di festival."
"Bodoh,
kalau kamu sampai pingsan, aku bakal khawatir—semuanya juga bakal khawatir.
Bukankah Iori dan Isami-san juga sempat ribut gara-gara masalah seperti
itu?"
"Hehe, iya
juga ya. Tapi—"
Saki terdiam,
lalu tersenyum malu-malu.
"Sulit
sekali untuk jujur mengatakannya. Aku kan baru saja mulai bisa mengobrol denganmu dan Haruki-san..."
"…Ah."
Ucapannya menohok
hatinya bagaikan sebuah pukulan telak.
Ia tumbuh besar
dengan Saki yang selalu ada di dekatnya, mengira ia sudah sangat mengenali
gadis itu.
Namun, mereka
baru saja mulai sering mengobrol secara terbuka akhir-akhir ini. Mengetahui
sisi lain dari diri Saki sering kali membuatnya terkejut. Membuka diri
sepenuhnya masih menjadi hal yang sulit bagi gadis itu. Ia merasa malu karena
tidak mempertimbangkan hal tersebut.
Namun, Saki
tersenyum lembut, mengepalkan kedua tangannya, lalu menatap lurus ke arahnya.
Kini, aku akan
berusaha untuk bisa menceritakan segalanya kepadamu, Onii-san.
" !? "
Kalimat itu
terasa bagaikan sebuah deklarasi perang.
Hayato terpaku,
napasnya seakan tertahan.
Kehadiran Saki
merayap semakin dalam ke lubuk hatinya.
Tatapan matanya
yang penuh tekad terlihat begitu indah memukau.
Dadanya terasa
sesak, memunculkan sensasi manis yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Apakah sudah
terlambat bagi dirinya untuk menyadari bahwa perasaan ini tidaklah buruk?
Hayato hanya bisa
bergumam kaku, "Iya," seraya mengangguk pelan.
"Saki-chan,
maaf menunggu lama!"
"Oh,
Haruki-san, terima kasih."
Haruki
kembali dengan membawa sebotol teh dingin.
Merasa lega
melihat rona wajah Saki yang sudah membaik, ia menatap Hayato dengan mata
menyipit penuh kecurigaan.
"…Hayato,
kamu habis berbuat apa ke Saki-chan?"
"Nggak
ngapa-ngapain."
"Beneran...?
Hmmm...?"
Meski
Hayato mengelak, Haruki terus memandangnya dengan tatapan menyelidik.
Hayato tahu
ekspresinya tampak aneh dan ia tidak sanggup membalas tatapan itu, lantas
memalingkan wajah. Mata
Haruki semakin menyipit.
Saki terkekeh
pelan.
"Dia tadi
cuma menceramahiku. Katanya aku harus jujur kalau sedang tidak enak badan. Iya
kan?"
"Cuma
itu?"
"…Iya. Ayo
kitahubungi yang lain dan berkumpul lagi."
Tidak ingin
memperpanjang topik tersebut, Hayato mengalihkan pembicaraan.
Haruki menghela
napas, merasa gemas.
"Dia sengaja
mengalihkan pembicaraan."
"Diam
kamu."
"Pfft."
Saat bergabung
kembali dengan kelompok mereka, mereka mendapati Himeko sedang meringis dengan
ekspresi serius.
Mereka
saling bertukar pandang, lalu Saki bertanya dengan lembut.
"Ada
apa, Hime-chan?"
"Ini..."
"Mold-cutting?
Gambar kuda, bunga cosmos, Skytree... Wah, semuanya rapi banget!"
"Iya,
makanya aku jadi nggak tega mau makannya..."
"Haha,
Hime-chan..."
"Punya
Ema-san bahkan jauh lebih gila!"
" !? "
Himeko menunjuk
ke arah Iori dan Ema, membuat keduanya terperanjat kaget.
Iori memegang
cetakan Kastil Himeji, sementara Ema memegang cetakan Menara Eiffel—berukuran
sebesar buku catatan dengan ukiran yang sangat rumit, mirip seperti karya seni.
Pantas saja Himeko ragu-ragu untuk memakannya.
Iori dan Ema,
dengan wajah bersemu merah, saling meninju pelan kepalan tangan satu sama lain
sembari memuji hasil kerja masing-masing.
"Waktu lihat
Iori-kun dan Isami-san beraksi, orang-orang di sekitar langsung berhenti buat
nonton lho. Pemandangan tadi keren banget," kata Kazuki.
"Aku
penasaran bagaimana cara mereka membuatnya. Kamu nggak coba bikin mold-cutting
juga, Kazuki?"
"Haha, aku
sempat coba, tapi aku benar-benar nggak punya bakat buat itu. Gagal
total."
"Oh..."
Kazuki mengangkat
kedua tangannya tanda menyerah, sementara Hayato, yang teringat perjuangannya
saat bermain superball, hanya bisa tersenyum masam.
Menjelang malam,
langit di sebelah barat telah berubah warna menjadi kemerahan, dan matahari
sebentar lagi akan tenggelam ditelan kegelapan malam.
Pertunjukan
kembang api sudah semakin dekat.
Jumlah stan
perlahan berkurang, dan bangunan utama kuil kini mulai terlihat.
Kantor kuil
tampak sangat ramai, dengan beberapa miko yang sibuk melayani para pengunjung.
Ema, dengan
sedikit nada iri, berbisik pelan.
"Mereka
biasanya merekrut miko paruh waktu untuk hari-hari festival. Lowongan pekerjaan
itu saingannya ketat banget."
"Iya,
anak-anak cewek di kelasku heboh banget waktu ngomongin soal pakai baju miko
asli," ujar Kazuki.
"Nggak ada
cowok yang benci sama miko, kan? Iya kan, Hayato?"
"Jangan
melempar pertanyaan itu kepadaku..."
Godaan Iori
membuat Hayato melirik ke arah Saki, yang balas tersenyum penuh arti.
"Kurasa
Hayato sudah terbiasa dengan Sakiko yang asli ya," ledek Iori.
"Penampilan
Saki saat pakai baju miko sudah jadi ciri khasnya di desa," tambah Hayato.
"Haha...
Ganti pakaiannya repot sekali sih..."
"Grrr,
beruntung sekali sialan ini!" gerutu Iori, memicu gelak tawa dari yang
lain.
Himeko, dengan
kening berkerut, bergumam penuh1 pertimbangan, "Melihat orang lain selain
Saki-chan pakai baju miko rasanya aneh."
"Iya, benar
juga."
"Karena
mereka sangat sibuk di sini, makanya butuh tenaga paruh waktu... Kalau kuil
kita penghasilannya sebanyak ini, kita pasti bisa memperbaiki bagian atap yang
bocor..."
"Saki-chan!?
Halo, Saki-chan!"
Saki bergumam
sendiri dalam lamunannya, memancing teguran langka dari Himeko.
Haruki, yang
terkekeh pelan, menyadari sesuatu yang menarik.
Orang-orang yang
meninggalkan kantor kuil ternyata tidak berniat untuk berdoa, melainkan
berjalan menuju tempat yang sama.
"Hm?
Itu..."
"Papan Ema.
Cukup populer rupanya," kata Hayato.
"Himeko-chan
yang menyarankannya... tapi jumlahnya banyak banget..."
Dengan
bingung, Kazuki tersenyum menatap Iori dan Ema.
"Papan itu
terkenal ampuh untuk perjodohan. Katanya, kalau menulis permohonan
bersama-sama, efeknya bisa berlipat ganda."
"Perjodohan...?"
" !? " "Perjodohan!?"
Haruki,
Himeko, dan Saki bereaksi serentak dengan ketegangan yang meningkat.
Iori dan
Ema merona merah dan membuang muka, memicu pekikan gemas dari Himeko serta
omelan Saki tentang kuda yang menendang.
"Perjodohan!
Romantis banget... Tapi kenapa harus kelinci, ya? Saki-chan, kamu tahu
sesuatu?"
"Uhm,
itu..."
"Kelinci
mungkin menyimbolkan kesuburan atau lompatan ke depan? Kuil ini memuja Susanoo,
istrinya Kushinadahime, orang tua sang istri, serta anak mereka Onamuchi—mereka
adalah dewa pelindung keluarga, jadi mungkin itulah alasannya," jelas
Haruki.
"Wah,
Haru-chan, kamu pintar banget!"
"Haruki-san
luar biasa..."
Himeko dan Saki
merasa kagum, meskipun penjelasan Haruki yang berbunyi, "Aku tahu tentang
mitologi itu dari game dan manga!" sukses mengundang tawa geli dari yang
lain.
"Baiklah,
ayo kita pergi menggantungkan ema," ajak Iori.
"Kita juga
boleh ikut menulisnya?" tanya Himeko.
Kazuki menimpali.
"Tidak ada
aturan yang bilang itu khusus untuk pasangan. Lihat saja, gadis-gadis di sana
berdoa untuk mendapatkan jodoh yang baik. Kalian bebas menulis permohonan apa
saja."
"Oh, begitu
ya. Kamu sendiri bilang tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu untuk saat
ini, kan, Kazuki-san?"
"Yup, betul
sekali."
Anggukan santai
Kazuki mencairkan suasana.
Mengikuti
kerumunan orang, mereka membeli papan ema dan mengambil alat tulis.
"..."
Pensa di
tangan Hayato mendadak terasa begitu berat.
Ia memikirkan apa
yang harus ditulis pada papan ema tersebut.
Soal perjodohan
sempat terlintas di benaknya, namun ia sama sekali tidak bisa membayangkan
dirinya bersama siapa pun, gagasan itu terasa begitu jauh.
Gadis-gadis yang
sering ia ajak bicara belakangan ini adalah Haruki, Saki, Minamo, dan Himeko.
Sambil
mengerutkan kening, ia menggelengkan kepalanya pelan.
Sebuah keluarga
di dekatnya menarik perhatiannya, membuat ia bergumam, "Ah."
Sebuah
permohonan.
Sesuatu yang
ingin ia mintakan kepada para dewa.
Jauh di lubuk
hatinya, ada satu hal yang paling membebani pikirannya.
(…Ini kan
pilihannya, ya?)
Rasanya seperti
menunda sebuah masalah, namun inilah satu-satunya permohonan yang ia miliki.
"Semoga Ibu
lekas sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit."
Ia menali papan
ema tersebut dengan harapannya.
"Baiklah...
Hm?"
" !? "
Menoleh ke
samping, ia mendapati Himeko berdiri di dekatnya, wajahnya tampak mendung
sambil menggenggam papan ema miliknya.
Ia sama sekali
tidak terlihat seperti gadis antusias yang tadi memekik heboh membicarakan soal
perjodohan.
"Himeko?"
"Onii..."
Gadis itu
mencengkeram lengan bajunya, matanya bergetar penuh kecemasan, mengingatkannya
pada saat ibu mereka kolaps di masa lalu.
Ketika dihadapkan
pada keharusan menuliskan sebuah permohonan, ia pasti juga memikirkan ibu
mereka.
Hayato tersenyum
meyakinkan, lalu mengacak-acak rambut adiknya pelan.
"Hei, Onii!
Kenapa rambutku diacak-acak!?"
"Papan ema
ini bakal lebih mujarab kalau permohonannya tulus, kan? Jadi permohonanmu pasti
bakal terkabul, iya kan?"
"…Ah."
Karena kita
mendoakan hal yang sama.
Sambil tersenyum,
ia melirik sekilas ke arah papan ema miliknya.
Ekspresi tegang
Himeko melunak setelah menangkap maksud dari ucapannya.
"Ugh, Onii,
rambutku jadi berantakan!"
"Iya,
iya."
Meskipun merengut
kesal namun tersirat rasa sayang, Himeko membiarkan kakaknya terus mengelus
kepalanya.
◇◇◇
Haruki
berdiri mematung sambil memegang pena di tangannya.
Semua orang telah
selesai menulis papan ema mereka, meninggalkannya seorang diri.
Soal perjodohan
sama sekali tidak ada artinya bagi dirinya.
Menatap papan ema
yang masih kosong itu, ia mempertanyakan isi hatinya sendiri.
Sebuah
permohonan.
Sesuatu yang
ingin ia mintakan kepada para dewa.
———.
Sebanyak apa pun
ia berdoa, permohonan Haruki yang sederhana dan biasa saja tidak pernah
terkabul.
Harapan itu sudah
lama terkikis habis.
Ia bahkan tidak
bisa merangkai permohonan baru lagi sekarang.
Ia tidak tahu apa
yang harus ditulis.
Hatinya terasa
hampa.
Itulah sebabnya
ia menjadi sangat lihai bersandiwara agar bisa beradaptasi dengan lingkungan
sekitar.
Wajah
Saki mendadak terlintas di benaknya.
Gadis yang
mengikuti Hayato ke kota, membawa serta perasaan masa kecilnya.
Mengingat kembali
deklarasi Saki di area cuci tangan tadi—begitu cerah, begitu jujur—Haruki
merasa dirinya berada di tempat yang terlalu jauh untuk bisa menyusup di antara
mereka berdua.
Kira-kira apa
yang akan Saki tulis? Berpura-pura menjadi gadis itu, Haruki mencoba
membayangkannya—lalu ia tertegun.
"Apa...?"
Ia tidak
memahaminya.
Perasaan Saki,
kobaran semangatnya yang begitu membara dan berada begitu dekat, berada di luar
jangkauan pemahamannya.
Pikirannya
mungkin bisa menebak—mungkin isinya "Semoga aku bisa semakin dekat dengan
Onii-san"—sebuah tujuan yang sederhana dan bisa dicapai. Itu masuk akal.
Namun, ketika
Haruki mencoba meraba lubuk hatinya untuk meniru emosi tersebut, rasanya
bagaikan terhalang oleh kabut tebal atau tutup wadah yang terkunci rapat. Ia
tidak bisa menyentuh kehangatan dan warna hidup Saki, ia hanya mampu meniru
permukaannya saja.
Dadanya terasa
nyeri.
Keberadaannya
sendiri terasa begitu janggal.
Takut jika ia
akan semakin tenggelam dalam pikiran buruk itu, ia menggelengkan kepalanya dan
menghela napas untuk menjernihkan pikirannya.
Ia merenungkan
situasinya saat ini.
Begitu banyak hal
yang telah berubah, namun hari-hari belakangan ini, yang dipicu oleh kepindahan
Hayato, terasa sangat menyenangkan.
Jika ia
menuangkan hal itu ke dalam kata-kata, maka bunyinya akan menjadi:
"Semoga kita
semua bisa kembali datang ke festival musim gugur bersama-sama lagi."
◇◇◇
Hayato dan Himeko
bergabung kembali dengan kelompok mereka.
Suasana di
sekitar Iori dan Ema terasa kaku dan canggung, pipi mereka bersemu kemerahan.
"Maaf
membuat kalian menunggu!"
Haruki tiba
paling akhir, melengkapi kelompok mereka.
Hayato menangkap
pandangan Kazuki.
Senyum usil
temannya itu seolah bertanya, Siapa yang kamu doakan? Hayato mengerutkan kening
dan menggelengkan kepala, memberi isyarat Bukan urusanmu.
Kazuki mengangkat
bahu, memeriksa ponselnya, lalu berbicara.
"Masih ada
waktu sebelum kembang api dimulai, tapi orang-orang sudah mulai berkumpul. Di
sini mulai padat dan tempat duduknya terbatas. Kita bisa pindah, tapi bagaimana
menurut kalian?"
Seperti yang ia
katakan, alun-alun di depan bangunan utama kuil mulai penuh. Tempat itu tidak
terlalu luas karena memang diperuntukkan bagi para jemaah. Kembang api akan
diluncurkan dari taman olahraga terdekat, dan banyak orang menuju ke sana untuk
mendapatkan pemandangan yang lebih dekat.
Jujur saja,
Hayato tidak keberatan ke mana pun, dan yang lainnya pun tampak ragu-ragu.
Himeko mengangkat
tangannya.
"Ya! Aku
sempat cari tahu soal festival ini, dan foto kembang api yang dibingkai oleh
gerbang torii itu—apakah itu dari sini?"
"Mungkin
saja," ujar Kazuki.
"Kalau
begitu aku ingin melihatnya dari sini! Mungkin sambil foto-foto!"
"Baiklah,
mari kita cari tempat yang bagus."
"Asyik!"
Kazuki
melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada yang keberatan, lalu memimpin
jalan dengan percaya diri. Yang lain mengikutinya.
Himeko
berseru, "Oh, sebaiknya kita beli takoyaki atau apel karamel buat
dinikmati sambil nonton kembang api!?"
Tawa
langsung pecah, namun Kazuki seorang diri mendadak pucat pasi, membuat Hayato
terkekeh geli. Himeko menggembungkan pipinya memprotes.
"Ugh,
apa-apaan, Kazuki-san!? Aku nggak minta dibayarin—aku bayar sendiri kok!"
"Bukan,
bukan itu... Aku cuma khawatir soal, eh, kekenyangan..."
"Aku
baik-baik saja, beneran! Perutku
masih muat kok!"
"B-Begitu
ya."
Haruki, dengan
senyum licik, berbisik kepada Himeko.
"…Diet."
"H-Haru-chan…?"
"Bukankah
kamu sendiri yang bilang khawatir soal ukuran pinggangmu gara-gara jajan manis
minimarket musim gugur kemarin?"
"Bahkan kamu
juga, Saki-chan!? Aku baik-baik saja—aku sudah mulai mengurangi porsi, dan tadi
siang aku bahkan melewatkan sarapan dan makan siang!"
Wajah Himeko
langsung kaku.
Pernyataan telak
Saki membuatnya tertegun.
Ia tahu betul
bahwa ia memang telah makan terlalu banyak.
Haruki dan Saki,
yang sejak tadi bisa mengendalikan diri, menyeringai penuh kemenangan,
sementara Himeko memelototi mereka penuh kecurigaan.
Melihat Himeko
yang merintih kesusahan, Kazuki tersenyum hangat, berbicara dengan nada
menenangkan.
"Tidak
apa-apa, Himeko-chan. Akhir-akhir
ini kamu sudah banyak menahan diri, kan? Anggap saja hari ini sebagai hari bebas kalori."
"Hari bebas
kalori… Oh, aku pernah dengar itu!"
"Itu adalah
saat kamu boleh makan sepuasnya seminggu sekali untuk meredakan stres—itu juga
membantu proses diet. Kakakku juga sering melakukannya."
"Kakakmu!?
Kalau begitu hari ini adalah hari bebas kalori-ku! Aku mau makan!"
Ucapannya
terdengar bagaikan bisikan iblis.
Mata Himeko
berbinar-binar, seolah ia baru saja mendapatkan tiket bebas hambatan. Senyum
Kazuki semakin mengembang.
Hayato menghela
napas melihat adiknya yang begitu mudah dibohongi, lalu turun tangan.
"Himeko,
hari bebas kalori itu cuma berhasil kalau kamu sudah diet selama
berbulan-bulan."
"Matilah
aku… Tunggu, kenapa kamu tahu soal itu, Onii!?"
"Kamu
sendiri kan yang sempat heboh ngomongin soal diet kemarin-kemarin, jadi aku
sempat cari tahu. Kazuki cuma mengerjaimu—sadar dong."
"Kazuki-san!?"
"Haha."
Himeko menatap
Kazuki dengan pandangan seolah dikhianati.
Pemuda itu
mengedipkan sebelah mata dengan main-main, mengangkat kedua tangannya seolah
tertangkap basah.
Mata Himeko
menyipit, lalu ia menerjang maju, memukul lengan pemuda itu sebagai bentuk
protes.
"Ugh, bahkan
kamu juga, Kazuki-san!"
"Haha, maaf,
ma—"
"Himeko?
Kazuki-san?"
"..."
Senyum ceria
Kazuki mendadak membeku, warna wajahnya memudar seketika.
Himeko mendadak
panik, merasa dirinya telah melakukan kesalahan.
Hayato dan yang
lainnya berhenti melangkah, bingung melihat Kazuki yang tiba-tiba mematung,
lalu mengikuti arah pandangan pemuda itu ke sekelompok enam remaja laki-laki
yang berdiri tidak jauh dan ikut membeku.
Salah satu dari
mereka sadar lebih dulu, lalu mencibir dengan kejam.
"Wah,
bukannya ini si pengkhianat Kaido. Masih saja dikelilingi cewek, ya?"
Atmosfer mendadak
berubah menjadi tidak bersahabat dalam sekejap.
Mengikuti
arahannya, yang lain tersenyum sinis penuh penghinaan, lalu mengepung posisi
Kazuki.
"Satu, dua,
tiga… Sial, sekarang pasangannya empat sekaligus?"
"Kerjanya
cuma nempel sama cewek terus."
"Manfaatin
kakakmu sebagai umpan buat menarik perhatian mereka?"
"Enak
banget ya punya keluarga seorang selebritas."
"…!"
Kazuki
menunduk, mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak
tangan.
Sikap mereka
terang-terangan menunjukkan kebencian.
Hayato
mengerutkan kening. Dua di antara mereka tampak tidak asing—pria-pria yang
sempat membuat keributan di restoran keluarga setelah mereka menonton film
waktu itu.
Mereka
kemungkinan besar adalah kenalan Kazuki dari masa SMP.
Hayato tidak tahu
apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu dan ia tidak peduli. Namun ia bisa
menebaknya.
Ia sempat
menyadari bahwa Kazuki selalu menghindari berduaan dengan siswi perempuan di
sekolah.
Pemuda itu kikuk,
tidak pandai merangkai kata, dan tidak pernah merendahkan atau menyakiti orang
lain. Hayato tahu betul sifat itu.
Kazuki adalah
teman yang sangat baik.
Ketika Iori dan
Ema sedang bersitegang, pemuda itu bahkan rela membolos kegiatan klub demi
membantu pekerjaan paruh waktu mereka.
Melihat temannya
diperlakukan seperti kantong tinju, diejek, dan dihina begitu rupa terasa—
Benar-benar—
Sangat memuakkan—
Tidak bisa
dimaafkan.
"Kazuki,
sudahi urusan dengan mereka. Ayo kita cari tempat."
"H-Hayato-kun!?"
" !? "
Sebelum ia sempat
berpikir panjang, Hayato sudah melangkah maju, mencengkeram tangan Kazuki dan
menerobos lingkaran mereka begitu saja tanpa menghiraukan perkataan mereka.
Mereka sempat
tertegun sejenak namun dengan cepat mencengkeram pundak Hayato.
"Hei,
sialan, siapa kamu?"
"Kami lagi
ngobrol sama Kaido!"
"Ngobrol?
Kedengarannya kayak pecundang yang cuma bisa menggonggong."
"Apa kata
mu!?"
Hayato menepis
tangan mereka, mengibaskannya dengan nada meremehkan.
Salah satu dari
mereka sempat goyah namun menghela napas teatrikal sambil mencibir.
"Kaido kan
punya wajah pasaran, makanya cewek-cewek gampang nempel. Makanya orang kayak
kamu ikutan nebeng biar kecipratan sisa-sisanya, kan?"
"Paham. Kamu
ngomong begitu pasti berdasarkan pengalaman sendiri ya. Aku sih tidak
masalah."
"Yah! Awas
saja kalau cewekmu sampai direbut."
"Terima
kasih sarannya—meskipun meleset jauh, tapi aku terima. Ada lagi?"
"~~~!"
Nada suara Hayato
yang terdengar bosan dan ekspresinya yang datar membuat wajah mereka semakin
berkerut menahan amarah. Mereka kehabisan kata-kata untuk membalas.
Kazuki berteman
dengannya bukan karena alasan mengejar perempuan, jadi ejekan murahan itu sama
sekali tidak mempan. Helaan napas Hayato yang terdengar jengah justru semakin
menyulut emosi mereka.
Menyadari mereka
mulai terpojok, mereka mengalihkan target kepada para gadis yang berdiri di
belakang Hayato dan Kazuki.
"Hei!"
Teriakan Hayato
diabaikan begitu saja.
Tatapan mata
mereka—penuh penghinaan, rasa kasihan, dan nafsu—menyapu tubuh para gadis
tersebut, membuat Himeko terperanjat, Saki menggeliat tidak nyaman, dan Haruki
memasang wajah garang. Iori langsung melangkah melindungi Ema di belakangnya.
Namun mereka sama
sekali tidak berhenti.
"Ayolah,
tinggalkan cowok-cowok ini dan main sama kita saja."
"Iya, nanti
kita traktir."
"Kaido
bahkan nggak peduli sama kalian."
"Aku tahu
tempat nonton kembang api yang jauh lebih bagus."
"Asyik!
Beres kalau gitu!"
"!"
"Dengar ya!"
Mengabaikan
Hayato, mereka mengulurkan tangan ke arah Saki yang masih terpaku ketakutan.
Himeko secara insting melangkah ke depan, menepis tangan itu dengan tatapan
tajam.
"Jangan
berani-an ganggu Saki-chan! Omongan kalian soal wajahnya atau kakaknya itu
benar-benar menyedihkan! Kalian cuma cemburu kan sama Kazuki-san!?"
Wajah
mereka langsung memerah karena marah mendengar ucapan blak-blakan Himeko.
"Apa
yang kamu bilang, bocah sialan—!"
"Siapa yang
cemburu sama Kaido!?"
"Jangan-jangan
kamu sendiri yang sengaja jual mahal ke dia!"
"Cewek
murahan!"
Mengepalkan
tangan yang tadi ditepis, tubuh mereka bergetar menahan amarah, siap
melampiaskannya pada Himeko. Meskipun ia berdiri teguh, bentakan mereka sempat
membuatnya ciut.
Melihat rasa
takut di wajah gadis itu, mereka tersenyum licik.
"Kenapa, sok
berani tapi tubuhmu gemetar gitu?"
" !? "
Hayato tidak
sanggup lagi menahannya. Saat ia bergerak untuk maju melerai, Kazuki tiba-tiba
mencengkeram pundaknya.
"Tunggu,
Hayato-kun."
" !?
…Kazuki?"
Tatapan protes
Hayato dibalas dengan gelengan kepala yang serius dari Kazuki, seolah berkata,
Serahkan ini padaku atau Ini urusanku.
Dengan
suara lantang, ia berteriak, "Sudah cukup, Tachibana!"
"Apa,
Kaido…?"
Kazuki
memang memasang senyum khasnya, namun sorot matanya benar-benar berbeda dari
yang pernah Hayato lihat sebelumnya.
Sensasi dingin
merayap di punggungnya. Ekspresi itu terasa begitu asing dari sosok Kazuki yang
biasanya.
Kelompok remaja
itu merasakan perubahan tersebut, sempat goyah sejenak namun kembali memelototi
dengan menantang.
"Bolehkah
aku bilang sesuatu?"
"…Apa?"
"Aku tidak
peduli apa yang kalian katakan tentang diriku. Sungguh."
Ia melangkah
lebih dekat ke arah mereka yang mundur selangkah, senyumannya berubah menjadi
seringai buas—
"Tapi jangan
pernah berani-berani mengejek teman-temanku—orang-orang yang sangat berharga
bagiku!!!"
Ia tidak akan
menyerahkan urusan ini pada Hayato.
Bersamaan dengan
raungan itu, dengan seluruh intensitas emosinya, ia melayangkan tinju ke wajah
salah satu dari mereka.
Suara
benturan tumpul antara buku jari dan tulang pipi terdengar nyaring.
Semua
orang tertegun, terpaku di tempat.
Hanya
remaja yang dipukul tadi yang bereaksi, balas melayangkan pukulan karena marah.
"Keparat
kamu!"
"Itu
kalimatku!"
"Gih… Jangan
besar kepala!"
Kazuki menerima
hantaran di pipinya namun langsung mencengkeram kerah baju anak itu, lalu
menanduk kepalanya.
"Aku sudah
lama memikirkan ini! Apa maksud kalian terus meneriakkan soal 'pengkhianat'
itu!? Kalau kalian memang begitu menyukai Takakura-senpai, kenapa kalian tidak
bicara sendiri padanya waktu itu!?"
"Kamu,
dengan segala kelebihan yang kamu punya, apa yang kamu tahu!?"
"Nggak tahu
apa-apa! Aku nggak paham kenapa kalian harus melampiaskan kegagalan cinta
kalian padaku!"
"~~~!
Persetan denganmu!"
"Tidak,
kalian yang sialan!"
Mereka saling
mencengkeram, melontarkan makian satu sama lain.
Kazuki, yang
dipicu oleh adrenalin, beralih menatap kelima anak lainnya sambil berteriak.
"Merebut
gebetan kalian? Aku selingkuh? Apa kalian nggak dengar bagaimana aku menyangkal
semua tuduhan itu waktu itu!? Ah, aku justru lega bisa lepas dari pecundang
pencemburu kayak kalian, pengecut!"
"Cukup,
tutup mulutmu!"
"Diam,
keparat!"
"Kaido,
kamu benar-benar sampah!"
"Ugh!"
Provokasinya
membuat mereka murka, lalu mendorongnya hingga terjatuh ke tanah. Sambil
terbatuk akibat hantaran keras di dadanya, ia tersungkur tak berdaya.
(Apa yang
dilakukan si bodoh itu!)
Hayato
mengutuk dalam hati. Kazuki pasti tahu akibat dari tindakannya ini.
Namun
ketika Kazuki mendongak, wajahnya menyunggingkan senyuman yang begitu lega dan
cerah—
Tanpa
sadar, kaki Hayato sudah bergerak berlari.
"Kazuki!"
"Hayato-kun!?"
"Ada apa
dengan kalian berdua!?"
Hayato menerjang
pemuda yang hampir menendang Kazuki, lalu berdiri melindungi di depannya.
Tatapan tajam
menghujam ke arahnya—penuh kebencian murni, sesuatu yang baru pertama kali ia
rasakan.
Tulang
belakangnya terasa ngilu, menyuruhnya untuk mundur ke belakang, namun ia
mengatupkan rahangnya erat-erat, bertahan di posisinya.
Mundur bahkan
satu inci saja berarti ia tidak akan pernah bisa berdiri dengan bangga di
samping temannya lagi. Ia tidak akan pernah bisa menerima hal itu.
(—!)
Wajah Haruki
tiba-tiba melintas di benaknya.
Meskipun harus
menghadapi kebencian dari ibu, kakek-nenek, dan orang-orang di sekitarnya,
gadis itu tetap mengenakan topeng senyumannya. Dari situ ia mengerti sesuatu.
Maka Hayato pun
tertawa.
Meniru seringai
buas Kazuki, ia mendengus lalu menertawakan permusuhan mereka.
Mengira sikapnya
adalah bentuk ejekan, mereka bersiap mendorongnya—
"Tertawa apa
kamu—"
"Ups!"
"Guh!?"
"Iori-kun!" "Iori!?"
Iori melesat
masuk, mencengkeram dan memuntir lengan yang terulur itu.
Hayato dan Kazuki
terperangah.
Iori, yang kini
menjadi sasaran tatapan penuh permusuhan, tersenyum santai sambil mengangkat
bahu, lalu meledek, "Hei, kalau kalian mau bersenang-senang dengan Kazuki
dan Hayato, aku ikut ya. Kita kan teman, benar kan?"
"Iori-kun…
Pfft."
"Haha…
Hahaha!"
Hayato dan Kazuki
tertawa lepas.
Sebenarnya apa
yang sedang mereka lakukan saat ini?
Kalah jumlah,
tanpa pengalaman bertarung fisik, ini jelas adalah pertempuran yang akan
berujung pada kekalahan.
Namun, situasi
ini terasa begitu konyol sekaligus lucu.
"Apa-apaan
ini!?"
"Tch, apa
yang kalian tertawakan!?"
"Menyebalkan
sekali..."
Iritasi anak-anak
itu mencapai puncaknya, kepalan tangan mereka terangkat siap menghantam.
Atmosfer mendadak
menegang.
Tekad Hayato
sudah bulat, namun ia mencemaskan keselamatan Saki, Himeko, dan Ema yang ikut
terseret.
Ia melirik ke
arah Haruki, memberi isyarat agar gadis itu membawa yang lain pergi. Haruki
mengangguk—
Lalu, ia
mencengkeram yukata dan obi miliknya—
"Kyaaa!
Tolong… Mereka mau berbuat jahat padaku!"
Dengan jeritan
melengking yang membelah udara, Haruki berlari menubruk dan memeluk Hayato
erat.
Suaranya
yang jernih terdengar begitu lantang, persis seperti teriakan seseorang yang
sedang mengalami pelecehan.
Yukatanya
tampak berantakan, satu bagian bahunya tersingkap, dan obinya setengah terurai,
seakan-akan ia baru saja berhasil melarikan diri dari sebuah serangan.
Perhatian
di sekitar langsung teralihkan ke arah mereka.
Sambil
menunjuk ke arah kelompok remaja tadi, Haruki meninggikan suaranya.
"M-Mereka
tadi memanggilku cewek murahan, bilang mau mempermainkanku… hiks…!"
Para
pejalan kaki yang tadinya sengaja menghindari masalah kini mulai tergerak,
menyadari tingkat keparahan situasi tersebut.
"Coba
lihat gadis itu..."
"Keterlaluan
banget… Dikeroyok gitu…?"
"Tadi
aku dengar mereka ngomongin soal 'cewek murahan' dan 'main-main'..."
"Ada
batas wajar kalau mau berbuat ulah..."
"Akan
panggil petugas keamanan!"
Akting
gadis itu benar-benar layak mendapatkan penghargaan Oscar.
Pemandangan
di hadapan mereka saat itu tidak diragukan lagi tampak seperti Haruki yang
sedang diserang lalu mencari perlindungan pada Hayato.
Menyembunyikan
wajahnya di dada Hayato, sudut bibir Haruki menyunggingkan senyuman licik,
mengedipkan sebelah mata dan menjulurkan lidahnya dengan usil.
"B-Bukan
begitu—!"
"Dia
bohong!"
Alasan
putus asa dari kelompok remaja itu justru semakin memperkeruh suasana, membuat
tatapan menuduh dari orang-orang semakin tajam.
Saki,
yang tampak gemetar nyaris menangis, serta Himeko yang mematung, semakin
memperkuat kesan akting Haruki, membuat para remaja itu terlihat seperti
monster.
Menyadari
situasi mereka sudah di ujung tanduk, wajah mereka memucat pasi.
Mendengar
seruan, "Petugas datang!", mereka langsung kocar-kacir melarikan diri
ke arah pepohonan gelap bagaikan laba-laba yang terpencar.
"Sialan
kalian!"
"Kalian
bakal menyesal!"
Melihat
kepergian mereka, Haruki bergumam datar, "Manusia ternyata benar-benar
memakai dialog klise seperti itu ya..."
"Pfft!"
Hayato
dan yang lainnya langsung meledakkan tawa, mencairkan ketegangan yang sempat
mencekam.



Post a Comment