NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Punggung yang Bisa Diandalkan


Suasana jam istirahat sekolah menengah pertama Himeko dipenuhi dengan berbagai aktivitas.

Sebagian siswa berlari menuju kantin, yang lain berkumpul bersama teman untuk menyantap bento, atau pergi ke kelas dan ruang klub lain. Himeko sangat menyukai waktu-waktu ini.

Bento, terutama, terasa jauh lebih dewasa dibandingkan makan siang bersama di gedung sekolah dasar-menengah Tsukinose dulu. Ini adalah kebahagiaan sederhana baginya.

"Ugh…"

Saat membuka kotaknya, Himeko meringis. Temannya, Honoka Torikai, mengintip dan melihat bento yang tampak biasa saja: omurice, tomat mini, dan brokoli sebagai hiasan warna.

"Ada apa, Himeko-chan? Kelihatannya enak lho," puji Honoka.

"…Aku benci tomat," jawab Himeko.

"Oh, cuma karena nggak suka sayurnya?"

"Bukan cuma itu. Ini pembalasan dari Kakak. Kemarin aku terus meledek makanannya yang kelihatan jelek."

"Tunggu, kakakmu yang bikin ini!?" seru Honoka.

"Iya, dia selalu bikin sih, tapi…" Himeko terdiam sejenak, lalu menawarkan, "Mau coba sesuap?"

"Mau banget!"

Merasa kewalahan, Himeko menyendok sedikit ke tutup bento Honoka. Honoka memeriksanya sambil bergumam "Ooh" dan "Wah", membuat Himeko merasa malu pada masakan kakaknya, meskipun ia bukan koki sebenarnya.

"Aku makan ya… Eh! Tofu—bukan, okara!? Penuh jamur, rasanya lebih ke gaya Jepang daripada nasi ayam… Enak banget! Kakakmu bukan cuma jago—dia hebat banget masak!" puji Honoka menggebu-gebu.

"Dia kan biasanya cuma bikin camilan bar. Lagian, dia suka bangunin aku dengan kasar, bersihin kamarku tanpa izin—nggak sebaik itu kok," gerutu Himeko.

"Apa… Bukan cuma masak dan bikin bento, tapi juga bangunin kamu, bersihin kamar, dan ngurusin kamu…?" kaget Honoka.

"Honoka-chan!?" cicit Himeko.

Maksud Himeko tadinya ingin mengeluh, tapi mata Honoka justru membelalak sambil maju dan menggenggam kedua tangannya. Teman-teman yang lain ikut mendekat.

"Kirishima-san, ceritain lagi dong soal kakakmu!" pinta salah satu dari mereka.

"Orangnya kayak gimana? Tinggi? Sekolah di mana? Punya foto? Yang penting, punya pacar atau nggak!?" desak yang lain.

"Kakak cowok ganteng yang jago masak dan perhatian… Poin plus banget!"

"Kenalin ke kita akhir pekan ini dong!?"

"Eh, um…?" Himeko tergagap.

Bagi Himeko, Hayato adalah sosok yang suka mengomel, usil, dan kurang peka.

Meskipun bersyukur atas makanannya, rambutnya yang berantakan dan gaya berpakaian topi jerami di tengah kota sangat jauh dari kriteria pacar idaman.

Ia sama sekali tidak paham kenapa teman-temannya begitu antusias.

Namun bagi teman-temannya, Himeko adalah gadis cantik terlepas dari keunikannya, sehingga ekspektasi mereka terhadap sang kakak sangat tinggi.

"Dia itu nggak sehebat itu! Suka sok agung padahal cuma beda setahun, bajunya norak, belum pernah punya pacar, dan sepertinya nggak akan pernah!" protes Himeko.

"Jangan ngomong gitu dong, Himeko-chan!"

"Ajak dia nongkrong bareng!"

"Ke karaoke juga boleh!"

"Kakak… Tunggu, karaoke!? Bukan nyanyi di balai desa atau pakai mobil keliling, tapi kotak karaoke sungguhan!?" seru Himeko.

"…" Teman-temannya terdiam sejenak.

Giliran Himeko yang maju mendekat.

Tsukinose tidak punya tempat karaoke, hanya ada mesin usang di balai desa dengan lagu-lagu lama.

Karaoke bersama teman sepulang sekolah adalah impian yang sering ia baca di cerita-cerita, kini berbinar di matanya.

Tatapan teman-temannya melunak.

"Bagaimana kalau kita mampir ke karaoke sepulang sekolah?" usul seseorang.

"Di dekat stasiun? Aku punya kupon diskon."

"Para kakak kelas akan traktir bagian Himeko-chan!"

"H-Hah!?" Himeko berkedip.

Meskipun masih bingung, antusiasme teman-temannya langsung menetapkan rencana untuk sore itu.

◇◇◇

Senja musim panas terasa panjang.

Setelah bernyanyi selama satu setengah jam bersama keempat temannya, matahari masih bersinar saat Himeko berjalan sendirian menyusuri pusat perbelanjaan dekat stasiun.

"…Haa," desahnya sambil mengenang momen karaoke tadi.

(Mereka jago banget…)

Teman-temannya, terutama Honoka, bernyanyi dengan sangat terampil dan menjaga suasana tetap meriah.

Himeko, yang baru pertama kali ke karaoke, sempat kikuk menggunakan layar sentuh, membuat mikrofon berdengung, dan lebih banyak menggumam daripada bernyanyi.

Kelompok Honoka menontonnya dengan senyuman hangat—yang dirasakan Himeko sebagai bentuk godaan—sehingga ia merasa sedikit rendah diri.

(Lain kali, aku bakal latihan bareng Kakak atau Haru-chan!)

Cepat bangkit dari rasa kecewanya, Himeko bertekad, lalu tak sengaja melihat sosok yang familier.

"Hime-chan!?"

"Haru-chan!?" kaget Himeko saat mendapati sekelilingnya dikelilingi oleh siswi-siswi berseragam Haruki.

Himeko yang pemalu langsung membeku saat mereka mulai mengobrol riuh.

"Anak ini! Teman masa kecil Nikaidou-san!"

"Jadi dia adiknya Kirishima-kun!"

"Anak SMP kelas tiga, ya? Seragam itu bikin nostalgi."

"Tinggi dan mirip model. Pantesan cowok-cowok ragu mau kenalin."

"Eh, anu, aku…" gumam Himeko.

Berasal dari pedesaan Tsukinose, Himeko tidak terbiasa dengan keramaian—paling-paling hanya ayam, domba, atau anjing. Orang asing yang lebih tua membuatnya ciut.

(Haru-chan, tolong!)

Ia menatap Haruki, yang hanya membalas dengan senyum kikuk dan tawa, "Haha."

"Rambutnya halus banget! Cara merawatnya gimana!?"

"Seragam pelaut itu kelihatan lucu. SMP kita dulu pakai blazer; jadi pengen coba."

"Mau pinjam seragamku? Yup, aku jadi paham perasaan Kirishima."

"Biasanya kamu sama Nikaidou-san ngapain aja kalau main?"

Diberondong berbagai pertanyaan, Himeko mengunci mulutnya di bawah tatapan penasaran dan obrolan asing itu, emosinya meluap hingga hidungnya terasa perih.

"Udah dong, Hime-chan takut! Jangan digoda terus!" Haruki langsung pasang badan.

"…Ah," napas Himeko tercekat.

Sesosok figur berambut hitam panjang melindunginya—terasa asing tapi begitu menenangkan.

Secara refleks, Himeko mencengkeram ujung sweater Haruki. Haruki menoleh ke belakang dengan senyuman meyakinkan, persis seperti Haruki di masa kecil mereka.

"Hime-chan baru di sini dan masih beradaptasi. Jangan galak-galak, ya," kata Haruki.

"Maaf, kami tadi terlalu bersemangat," sesal salah seorang siswi.

"Iya, kebablasan… Maaf ya?" tambah yang lain.

"A-Aku cuma kaget… Nggak apa-apa kok," gumam Himeko.

Mendengar teguran itu, para siswi meminta maaf dengan rasa bersalah.

Himeko menerimanya dengan salah tingkah, sementara Haruki tersenyum sambil mengelus kepalanya meskipun tinggi badan mereka hampir sama.

"Kerja bagus, Hime-chan. Pintar," goda Haruki.

"Jangan gitu, Haru-chan! Aku bukan anak kecil lagi!" protes Himeko.

Interaksi penuh kehangatan itu—di mana Haruki bersikap lebih tua dan Himeko mempercayainya di balik keluhannya—membuat para siswi di sekitar tersenyum gemas.

Kring—ponsel Himeko berdering.

"Dari Kakak. Susu, yoghurt, kecap… Ugh, belanjaannya berat nih," gerutu Himeko.

"Haha, separuhnya kubawa yuk. Sampai jumpa besok semuanya!" pamit Haruki sambil melambaikan tangan.

Para siswi memperhatikan kepergian mereka sambil berbisik-bisik.

"Mereka kelihatan dekat banget."

"Baru kali ini lihat Nikaidou-san bersikap begitu."

"Dengar nggak tadi?"

"Dia panggil 'onii', kan?"

"Dan Nikaidou-san mampir ke rumahnya…"

Kata kunci itu menyulut imajinasi mereka: teman masa kecil yang bersatu kembali, kakaknya, dan perubahan Haruki belakangan ini. Pandangan mereka bertemu, dan—

"Kya—!!" pekik mereka menggema di luar kedai makanan cepat saji.

◇◇◇

Setelah berbelanja di supermarket biasa mereka, Himeko dan Haruki berjalan pulang ke apartemen dengan bayangan tubuh yang kini tampak sama panjang.

"Ini pertama kalinya kita jalan pulang bareng, ya," kata Himeko.

"Haha, iya sih beda sekolah terus," balas Haruki.

"Iya, tapi… Emang kamu di sekolah kayak gitu? Sering kumpul bareng mereka?"

"Nggak juga, tadi tuh kebetulan aja, agak dipaksa. Hayato juga sempat diseret… Aku tadi… aneh ya?"

"Nggak aneh, cuma… agak gimana gitu tahu sifat aslinya. Kayak waktu kita ketemu di minimarket dulu."

"Oh, iya. Yang itu versi di luar diriku."

"Jadi versi kamu yang sekarang ini rahasia kita berdua, gitu?"

Pertanyaan santai itu justru membuat Haruki menghentikan langkahnya dan berkedip kaget.

"Ada apa, Haru-chan?"

"N-Nggak apa-apa! Rahasia… Iya, rahasia kita!" seru Haruki sumringah sambil mengulang kata rahasia penuh kegirangan.

Himeko memiringkan kepalanya, namun keakraban tadi kembali menyeruak, meluncur begitu saja dari bibirnya.

"Aku senang tadi itu kamu, bukan Kakak."

"Hah? Kenapa?"

"Kakak itu nggak bisa diandalkan di saat seperti tadi. Dari dulu selalu kamu yang ngelindungin aku."

—Makanya aku suka punggungmu.

Himeko menelan sisa kalimatnya sambil merengut. Haruki berkedip, bergumam sambil menyentuh dagunya—pose imut yang jauh dari imej tomboi lamanya, membuat dahi Himeko semakin berkerut.

"Mana mungkin. Hayato itu cuma susah ditebak—" mulai Haruki.

"Guk! Guk! Grr… Guk!"

"!?" kaget mereka berdua.

Seekor anjing berukuran besar dengan bulu corak cokelat-putih berlari kencang menerjang, tingginya mencapai pinggang, bahkan bisa lebih tinggi jika berdiri. Lompatan anjing itu bisa berbahaya.

Kenapa? Di mana pemiliknya? Apakah harus lari?

Pikiran Himeko berputar kacau saat Haruki melempar tasnya.

"Hime-chan, tangkap!"

"Haru-chan!?"

Haruki melesat bagai anak panah. Himeko melihat seorang anak perempuan di depan mereka, lalu terkesiap saat memahami situasinya.

"Bahaya!" teriak Haruki.

"Fweh… Ah!?" jerit anak itu.

"Kyah!" pekik Haruki.

Haruki menerjang anjing itu dari belakang untuk mengalihkan perhatiannya—sampai anjing tersebut berhasil lepas, berputar balik, dan menubruknya hingga terjatuh ke tanah.

"Guk! Guk! Hah… Pantul!"

"M-Myah!?" cicit Haruki.

Suara debum terdengar. Anjing itu berdiri mengintimidasi di atas Haruki yang telentang. Pikiran Himeko sempat kosong, tapi wajah Hayato melintas di benaknya, dan ia langsung menelepon.

"Ada apa, Himeko? Supermarketnya kehabisan—"

"Tolong, Kakak! Haru-chan diserang dan ditindih anjing, gawat banget!"

"Tunggu, maksudnya apa!?"

"Hei, Rento! Turun dari Nikaidou-san!" seru anak kecil itu.

"Guk! Berhenti, jangan jilat—Myah! Jangan makan rambutku!" protes Haruki.

"Guk! Guk! Hah, guk!"

"…Anjingnya ngeces, parah banget. Aku harus gimana…?" gumam Himeko.

"Anjing? Air liur? Ada apa sebenarnya…?" tanya Hayato bingung.

Di sebuah taman kecil dekat supermarket, Haruki duduk di bangku dengan postur lemas sementara Himeko masi mengomelinya, melirik pergelangan kaki Haruki yang terkilir dan dibungkus sapu tangan basah akibat terjangan anjing tadi.

"Parah banget! Kamu sama Kakak sama-sama ceroboh! Kalau tadi wajahmu yang terluka gimana!?" omel Himeko.

"Ugh, maaf deh…" gerutu Haruki.

"Um, Nikaidou-san tadi menyelamatkanku, jadi, eh, jangan dimarahin terus ya?" bela anak perempuan kecil itu.

"Nggak bisa! Haru-chan nggak bakal paham kalau nggak ditegasin!" bersikeras Himeko.

Anak itu berusaha meredakan kemarahannya. Anjing berjenis collie bernama Rento itu duduk patuh di sampingnya sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Rupanya itu adalah hewan peliharaan tetangga yang sangat akrab dengannya.

Dari dekat, anak itu berbadan mungil dan imut, dengan rambut keriting yang memiliki pola pusaran khas. Tas belanjaannya menyembulkan ujung daun bawang segar. Namun, baju hijaunya yang sederhana tampak ketat di bagian dada, membuat bibir Himeko berkedut. Ia terbatuk kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya.

"Kamu nggak apa-apa, Dek? Nggak luka kan? Pintar banget sudah belanja! Anak zaman sekarang makannya apa sih sampai bisa… berkembang pesat begini?" tanya Himeko sambil menatap lekat bagian dada anak itu.

"Um, aku nggak apa-apa, tapi—makan, berkembang!?" cicit anak itu terkejut.

Himeko menepuk-nepuk kepala anak itu dengan penuh semangat seolah minta keberuntungan, mengabaikan gerakannya yang salah tingkah dengan tatapan serius.

"Kamu tadi panggil Haru-chan 'Nikaidou-san'. Kalian kenal?" tanya Himeko.

"Eh, sekolah, sayuran, berkebun!" jawab anak itu terbata-bata.

"Itu Mitake-san, teman sekelasku," jelas Haruki.

"…Hah?" Himeko membeku.

Tangannya berhenti di udara. Sambil menoleh kaku, ia mendapati Haruki tersenyum usil dengan gestur bahu yang dilebih-lebihkan.

"Oh? Kukira Mitake-san lebih muda? Dia malah jauh lebih dewasa daripada Hime-chan dalam beberapa hal~" goda Haruki.

"Diam kamu, Haru-chan! Maaf ya, Mitake-san! Aku kan masih dalam masa pertumbuhan, masih banyak waktu!" protes Himeko.

"Iya deh, semoga ya~" seringai Haruki.

"Ugh, muka songongnya nyebelin banget!" gerutu Himeko.

"Haha, kalian berdua kelihatan akrab. Nikaidou-san beda banget kalau di luar sekolah… Agak mengejutkan sih," kikuk Minamo.

"!?" kaget mereka berdua.

Tawa Minamo menyadarkan mereka bahwa tingkah konyol barusan cukup memalukan.

Satu hal mengganjal di benak Himeko. Haruki memang memasang topeng di sekolah, tapi tadi ia langsung menanggalkannya di sini. Semuanya menjadi masuk akal.

"Oh, aku paham. Mitake-san itu teman sekolahmu ya," kata Himeko.

"Fweh!? Aku, temannya Nikaidou-san!? Itu berlebihan banget!" panik Minamo sambil merona merah.

"Bukannya begitu?" tanya Himeko.

Haruki, dengan rasa bersalah yang dibuat-buat, mengulurkan tangan.

"Teman… Iya, teman sekolah dan teman berkebun, kan!?"

"Y-Ya! Teman berkebun sekolah! Um, aku harus balikin Rento dulu, jadi permisi ya!" Minamo menjabat tangan Haruki dengan penuh semangat, lalu menarik Rento pergi dengan wajah memerah padam.

Semuanya berlalu begitu cepat. Haruki terkekeh, "Masih sama seperti biasanya."

Saat Himeko menatap dengan bingung, Hayato datang dengan ekspresi heran, mengamati pergelangan kaki Haruki yang bengkak sambil menghela napas panjang.

"Bodoh, apa yang kamu lakukan sih?" tegurnya.

"Jahat banget!" protes Haruki.

"Ck, Haruki… Sini," kata Hayato sambil berjongkok dan memunggungi gadis itu.

Tindakan itu begitu natural. Sesuatu di dalam dada Himeko terasa pas pada tempatnya.

"Eh, aku kan sudah tua buat digendong di punggung…" ragu Haruki.

"Kakimu parah gitu. Mau jalan sendiri sampai rumah?"

Hayato langsung mengangkatnya tanpa memedulikan protes gadis itu, bergerak seolah hal tersebut sudah sangat biasa—pemandangan familier dari Tsukinose dulu.

Saat Haruki terluka di gunung. Saat sepatunya hanyut di sungai. Saat ia tertidur pulas seharian.

(…Benar juga.)

Sederhana saja. Seperti halnya Himeko yang mengagumi punggung Haruki, Haruki pun selalu menatap punggung Hayato. —Selalu seperti itu.

Duri yang mengganjal di dada Himeko perlahan mencair dan terlepas.

"…Kamu lebih berat daripada waktu kita kecil dulu," ledek Hayato.

"Hei! Bilang cewek yang lagi diet itu berat!?" protes Haruki sambil menjewer telinga pemuda itu.

"Aduh, sakit, ampun!"

Himeko melihat interaksi mereka yang tidak pernah berubah sedetik pun.

"Ya ampun, Kakak tetap aja nggak peka!" gerutunya.

"Betul tuh, Hime-chan, hajar aja!" dukung Haruki.

"Iya, iya," keluh Hayato.

Sambil menghela napas, Himeko melangkah mendahului mereka, memimpin jalan pulang. Wajahnya menyiratkan sedikit rasa kesepian, namun terpancar kelegaan yang begitu jernih.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close