Chapter 5
Punggung yang Bisa Diandalkan
Suasana jam
istirahat sekolah menengah pertama Himeko dipenuhi dengan berbagai aktivitas.
Sebagian siswa
berlari menuju kantin, yang lain berkumpul bersama teman untuk menyantap bento,
atau pergi ke kelas dan ruang klub lain. Himeko sangat menyukai waktu-waktu
ini.
Bento, terutama,
terasa jauh lebih dewasa dibandingkan makan siang bersama di gedung sekolah
dasar-menengah Tsukinose dulu. Ini adalah kebahagiaan sederhana baginya.
"Ugh…"
Saat membuka
kotaknya, Himeko meringis. Temannya, Honoka Torikai, mengintip dan melihat
bento yang tampak biasa saja: omurice, tomat mini, dan brokoli sebagai hiasan
warna.
"Ada apa,
Himeko-chan? Kelihatannya enak lho," puji Honoka.
"…Aku benci
tomat," jawab Himeko.
"Oh, cuma
karena nggak suka sayurnya?"
"Bukan cuma
itu. Ini pembalasan dari Kakak. Kemarin aku terus meledek makanannya yang
kelihatan jelek."
"Tunggu,
kakakmu yang bikin ini!?" seru Honoka.
"Iya, dia
selalu bikin sih, tapi…" Himeko terdiam sejenak, lalu menawarkan,
"Mau coba sesuap?"
"Mau
banget!"
Merasa kewalahan,
Himeko menyendok sedikit ke tutup bento Honoka. Honoka memeriksanya sambil
bergumam "Ooh" dan "Wah", membuat Himeko merasa malu pada
masakan kakaknya, meskipun ia bukan koki sebenarnya.
"Aku makan
ya… Eh! Tofu—bukan, okara!? Penuh jamur, rasanya lebih ke gaya Jepang daripada
nasi ayam… Enak banget! Kakakmu bukan cuma jago—dia hebat banget masak!"
puji Honoka menggebu-gebu.
"Dia
kan biasanya cuma bikin camilan bar. Lagian, dia suka bangunin aku dengan
kasar, bersihin kamarku tanpa izin—nggak sebaik itu kok," gerutu Himeko.
"Apa…
Bukan cuma masak dan bikin bento, tapi juga bangunin kamu, bersihin kamar, dan
ngurusin kamu…?" kaget Honoka.
"Honoka-chan!?"
cicit Himeko.
Maksud
Himeko tadinya ingin mengeluh, tapi mata Honoka justru membelalak sambil maju
dan menggenggam kedua tangannya. Teman-teman yang lain ikut mendekat.
"Kirishima-san,
ceritain lagi dong soal kakakmu!" pinta salah satu dari mereka.
"Orangnya
kayak gimana? Tinggi? Sekolah di mana? Punya foto? Yang penting, punya pacar
atau nggak!?" desak yang lain.
"Kakak cowok
ganteng yang jago masak dan perhatian… Poin plus banget!"
"Kenalin ke
kita akhir pekan ini dong!?"
"Eh,
um…?" Himeko tergagap.
Bagi Himeko,
Hayato adalah sosok yang suka mengomel, usil, dan kurang peka.
Meskipun
bersyukur atas makanannya, rambutnya yang berantakan dan gaya berpakaian topi
jerami di tengah kota sangat jauh dari kriteria pacar idaman.
Ia sama sekali
tidak paham kenapa teman-temannya begitu antusias.
Namun bagi
teman-temannya, Himeko adalah gadis cantik terlepas dari keunikannya, sehingga
ekspektasi mereka terhadap sang kakak sangat tinggi.
"Dia itu
nggak sehebat itu! Suka sok agung padahal cuma beda setahun, bajunya norak,
belum pernah punya pacar, dan sepertinya nggak akan pernah!" protes
Himeko.
"Jangan
ngomong gitu dong, Himeko-chan!"
"Ajak
dia nongkrong bareng!"
"Ke
karaoke juga boleh!"
"Kakak…
Tunggu, karaoke!? Bukan nyanyi di balai desa atau pakai mobil keliling, tapi
kotak karaoke sungguhan!?" seru Himeko.
"…"
Teman-temannya terdiam sejenak.
Giliran
Himeko yang maju mendekat.
Tsukinose
tidak punya tempat karaoke, hanya ada mesin usang di balai desa dengan
lagu-lagu lama.
Karaoke
bersama teman sepulang sekolah adalah impian yang sering ia baca di
cerita-cerita, kini berbinar di matanya.
Tatapan
teman-temannya melunak.
"Bagaimana
kalau kita mampir ke karaoke sepulang sekolah?" usul seseorang.
"Di dekat
stasiun? Aku punya kupon diskon."
"Para kakak
kelas akan traktir bagian Himeko-chan!"
"H-Hah!?"
Himeko berkedip.
Meskipun masih
bingung, antusiasme teman-temannya langsung menetapkan rencana untuk sore itu.
◇◇◇
Senja musim panas
terasa panjang.
Setelah bernyanyi
selama satu setengah jam bersama keempat temannya, matahari masih bersinar saat
Himeko berjalan sendirian menyusuri pusat perbelanjaan dekat stasiun.
"…Haa,"
desahnya sambil mengenang momen karaoke tadi.
(Mereka
jago banget…)
Teman-temannya,
terutama Honoka, bernyanyi dengan sangat terampil dan menjaga suasana tetap
meriah.
Himeko,
yang baru pertama kali ke karaoke, sempat kikuk menggunakan layar sentuh,
membuat mikrofon berdengung, dan lebih banyak menggumam daripada bernyanyi.
Kelompok
Honoka menontonnya dengan senyuman hangat—yang dirasakan Himeko sebagai bentuk
godaan—sehingga ia merasa sedikit rendah diri.
(Lain
kali, aku bakal latihan bareng Kakak atau Haru-chan!)
Cepat
bangkit dari rasa kecewanya, Himeko bertekad, lalu tak sengaja melihat sosok
yang familier.
"Hime-chan!?"
"Haru-chan!?"
kaget Himeko saat mendapati sekelilingnya dikelilingi oleh siswi-siswi
berseragam Haruki.
Himeko
yang pemalu langsung membeku saat mereka mulai mengobrol riuh.
"Anak ini!
Teman masa kecil Nikaidou-san!"
"Jadi dia
adiknya Kirishima-kun!"
"Anak SMP
kelas tiga, ya? Seragam itu bikin nostalgi."
"Tinggi dan
mirip model. Pantesan cowok-cowok ragu mau kenalin."
"Eh, anu,
aku…" gumam Himeko.
Berasal dari
pedesaan Tsukinose, Himeko tidak terbiasa dengan keramaian—paling-paling hanya
ayam, domba, atau anjing. Orang asing yang lebih tua membuatnya ciut.
(Haru-chan,
tolong!)
Ia menatap
Haruki, yang hanya membalas dengan senyum kikuk dan tawa, "Haha."
"Rambutnya
halus banget! Cara merawatnya gimana!?"
"Seragam
pelaut itu kelihatan lucu. SMP kita dulu pakai blazer; jadi pengen coba."
"Mau pinjam
seragamku? Yup, aku jadi paham perasaan Kirishima."
"Biasanya
kamu sama Nikaidou-san ngapain aja kalau main?"
Diberondong
berbagai pertanyaan, Himeko mengunci mulutnya di bawah tatapan penasaran dan
obrolan asing itu, emosinya meluap hingga hidungnya terasa perih.
"Udah
dong, Hime-chan takut! Jangan
digoda terus!" Haruki langsung pasang badan.
"…Ah,"
napas Himeko tercekat.
Sesosok
figur berambut hitam panjang melindunginya—terasa asing tapi begitu
menenangkan.
Secara
refleks, Himeko mencengkeram ujung sweater Haruki. Haruki menoleh ke belakang
dengan senyuman meyakinkan, persis seperti Haruki di masa kecil mereka.
"Hime-chan
baru di sini dan masih beradaptasi. Jangan galak-galak, ya," kata Haruki.
"Maaf,
kami tadi terlalu bersemangat," sesal salah seorang siswi.
"Iya,
kebablasan… Maaf ya?" tambah yang lain.
"A-Aku cuma
kaget… Nggak apa-apa kok," gumam Himeko.
Mendengar teguran
itu, para siswi meminta maaf dengan rasa bersalah.
Himeko
menerimanya dengan salah tingkah, sementara Haruki tersenyum sambil mengelus
kepalanya meskipun tinggi badan mereka hampir sama.
"Kerja
bagus, Hime-chan. Pintar," goda Haruki.
"Jangan
gitu, Haru-chan! Aku bukan anak kecil lagi!" protes Himeko.
Interaksi penuh
kehangatan itu—di mana Haruki bersikap lebih tua dan Himeko mempercayainya di
balik keluhannya—membuat para siswi di sekitar tersenyum gemas.
Kring—ponsel
Himeko berdering.
"Dari
Kakak. Susu, yoghurt, kecap… Ugh, belanjaannya berat nih," gerutu Himeko.
"Haha,
separuhnya kubawa yuk. Sampai jumpa besok semuanya!" pamit Haruki sambil
melambaikan tangan.
Para
siswi memperhatikan kepergian mereka sambil berbisik-bisik.
"Mereka
kelihatan dekat banget."
"Baru
kali ini lihat Nikaidou-san bersikap begitu."
"Dengar
nggak tadi?"
"Dia
panggil 'onii', kan?"
"Dan
Nikaidou-san mampir ke rumahnya…"
Kata kunci itu
menyulut imajinasi mereka: teman masa kecil yang bersatu kembali, kakaknya, dan
perubahan Haruki belakangan ini. Pandangan mereka bertemu, dan—
"Kya—!!"
pekik mereka menggema di luar kedai makanan cepat saji.
◇◇◇
Setelah
berbelanja di supermarket biasa mereka, Himeko dan Haruki berjalan pulang ke
apartemen dengan bayangan tubuh yang kini tampak sama panjang.
"Ini pertama
kalinya kita jalan pulang bareng, ya," kata Himeko.
"Haha, iya
sih beda sekolah terus," balas Haruki.
"Iya, tapi…
Emang kamu di sekolah kayak gitu? Sering kumpul bareng mereka?"
"Nggak juga,
tadi tuh kebetulan aja, agak dipaksa. Hayato juga sempat diseret… Aku tadi… aneh
ya?"
"Nggak
aneh, cuma… agak gimana gitu tahu sifat aslinya. Kayak waktu kita ketemu di minimarket dulu."
"Oh,
iya. Yang itu versi di luar diriku."
"Jadi versi
kamu yang sekarang ini rahasia kita berdua, gitu?"
Pertanyaan santai
itu justru membuat Haruki menghentikan langkahnya dan berkedip kaget.
"Ada apa,
Haru-chan?"
"N-Nggak
apa-apa! Rahasia… Iya, rahasia kita!" seru Haruki sumringah sambil
mengulang kata rahasia penuh kegirangan.
Himeko
memiringkan kepalanya, namun keakraban tadi kembali menyeruak, meluncur begitu
saja dari bibirnya.
"Aku senang
tadi itu kamu, bukan Kakak."
"Hah?
Kenapa?"
"Kakak itu
nggak bisa diandalkan di saat seperti tadi. Dari dulu selalu kamu yang
ngelindungin aku."
—Makanya aku suka
punggungmu.
Himeko menelan
sisa kalimatnya sambil merengut. Haruki berkedip, bergumam sambil menyentuh
dagunya—pose imut yang jauh dari imej tomboi lamanya, membuat dahi Himeko
semakin berkerut.
"Mana
mungkin. Hayato itu cuma susah ditebak—" mulai Haruki.
"Guk!
Guk! Grr… Guk!"
"!?"
kaget mereka berdua.
Seekor
anjing berukuran besar dengan bulu corak cokelat-putih berlari kencang
menerjang, tingginya mencapai pinggang, bahkan bisa lebih tinggi jika berdiri. Lompatan anjing itu bisa berbahaya.
Kenapa? Di mana
pemiliknya? Apakah harus lari?
Pikiran Himeko
berputar kacau saat Haruki melempar tasnya.
"Hime-chan,
tangkap!"
"Haru-chan!?"
Haruki melesat
bagai anak panah. Himeko melihat seorang anak perempuan di depan mereka, lalu
terkesiap saat memahami situasinya.
"Bahaya!"
teriak Haruki.
"Fweh…
Ah!?" jerit anak itu.
"Kyah!"
pekik Haruki.
Haruki menerjang
anjing itu dari belakang untuk mengalihkan perhatiannya—sampai anjing tersebut
berhasil lepas, berputar balik, dan menubruknya hingga terjatuh ke tanah.
"Guk!
Guk! Hah… Pantul!"
"M-Myah!?"
cicit Haruki.
Suara debum
terdengar. Anjing itu berdiri mengintimidasi di atas Haruki yang telentang.
Pikiran Himeko sempat kosong, tapi wajah Hayato melintas di benaknya, dan ia
langsung menelepon.
"Ada apa,
Himeko? Supermarketnya kehabisan—"
"Tolong,
Kakak! Haru-chan diserang dan ditindih anjing, gawat banget!"
"Tunggu,
maksudnya apa!?"
"Hei, Rento!
Turun dari Nikaidou-san!" seru anak kecil itu.
"Guk!
Berhenti, jangan jilat—Myah! Jangan makan rambutku!" protes Haruki.
"Guk! Guk!
Hah, guk!"
"…Anjingnya
ngeces, parah banget. Aku
harus gimana…?" gumam Himeko.
"Anjing?
Air liur? Ada apa sebenarnya…?" tanya Hayato bingung.
Di sebuah
taman kecil dekat supermarket, Haruki duduk di bangku dengan postur lemas
sementara Himeko masi mengomelinya, melirik pergelangan kaki Haruki yang
terkilir dan dibungkus sapu tangan basah akibat terjangan anjing tadi.
"Parah
banget! Kamu sama Kakak sama-sama ceroboh! Kalau tadi wajahmu yang terluka
gimana!?" omel Himeko.
"Ugh, maaf
deh…" gerutu Haruki.
"Um,
Nikaidou-san tadi menyelamatkanku, jadi, eh, jangan dimarahin terus ya?"
bela anak perempuan kecil itu.
"Nggak bisa!
Haru-chan nggak bakal paham kalau nggak ditegasin!" bersikeras Himeko.
Anak itu berusaha
meredakan kemarahannya. Anjing berjenis collie bernama Rento itu duduk patuh di
sampingnya sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Rupanya itu adalah hewan
peliharaan tetangga yang sangat akrab dengannya.
Dari dekat, anak
itu berbadan mungil dan imut, dengan rambut keriting yang memiliki pola pusaran
khas. Tas belanjaannya menyembulkan ujung daun bawang segar. Namun, baju
hijaunya yang sederhana tampak ketat di bagian dada, membuat bibir Himeko
berkedut. Ia terbatuk kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya.
"Kamu nggak
apa-apa, Dek? Nggak
luka kan? Pintar banget sudah belanja! Anak zaman sekarang makannya apa sih
sampai bisa… berkembang pesat begini?" tanya Himeko sambil menatap lekat
bagian dada anak itu.
"Um, aku
nggak apa-apa, tapi—makan, berkembang!?" cicit anak itu terkejut.
Himeko
menepuk-nepuk kepala anak itu dengan penuh semangat seolah minta keberuntungan,
mengabaikan gerakannya yang salah tingkah dengan tatapan serius.
"Kamu tadi
panggil Haru-chan 'Nikaidou-san'. Kalian kenal?" tanya Himeko.
"Eh,
sekolah, sayuran, berkebun!" jawab anak itu terbata-bata.
"Itu
Mitake-san, teman sekelasku," jelas Haruki.
"…Hah?"
Himeko membeku.
Tangannya
berhenti di udara. Sambil menoleh kaku, ia mendapati Haruki tersenyum usil
dengan gestur bahu yang dilebih-lebihkan.
"Oh? Kukira
Mitake-san lebih muda? Dia malah jauh lebih dewasa daripada Hime-chan dalam
beberapa hal~" goda Haruki.
"Diam kamu,
Haru-chan! Maaf ya, Mitake-san! Aku kan masih dalam masa pertumbuhan, masih
banyak waktu!" protes Himeko.
"Iya deh,
semoga ya~" seringai Haruki.
"Ugh,
muka songongnya nyebelin banget!" gerutu Himeko.
"Haha,
kalian berdua kelihatan akrab. Nikaidou-san beda banget kalau di luar sekolah… Agak mengejutkan
sih," kikuk Minamo.
"!?"
kaget mereka berdua.
Tawa
Minamo menyadarkan mereka bahwa tingkah konyol barusan cukup memalukan.
Satu hal
mengganjal di benak Himeko. Haruki memang memasang topeng di sekolah, tapi tadi
ia langsung menanggalkannya di sini. Semuanya menjadi masuk akal.
"Oh, aku
paham. Mitake-san itu teman sekolahmu ya," kata Himeko.
"Fweh!? Aku,
temannya Nikaidou-san!? Itu
berlebihan banget!" panik Minamo sambil merona merah.
"Bukannya
begitu?" tanya Himeko.
Haruki,
dengan rasa bersalah yang dibuat-buat, mengulurkan tangan.
"Teman…
Iya, teman sekolah dan teman berkebun, kan!?"
"Y-Ya!
Teman berkebun sekolah! Um,
aku harus balikin Rento dulu, jadi permisi ya!" Minamo menjabat tangan
Haruki dengan penuh semangat, lalu menarik Rento pergi dengan wajah memerah
padam.
Semuanya berlalu
begitu cepat. Haruki terkekeh, "Masih sama seperti biasanya."
Saat Himeko
menatap dengan bingung, Hayato datang dengan ekspresi heran, mengamati
pergelangan kaki Haruki yang bengkak sambil menghela napas panjang.
"Bodoh, apa
yang kamu lakukan sih?" tegurnya.
"Jahat
banget!" protes Haruki.
"Ck,
Haruki… Sini," kata Hayato sambil berjongkok dan memunggungi gadis itu.
Tindakan
itu begitu natural. Sesuatu
di dalam dada Himeko terasa pas pada tempatnya.
"Eh, aku kan
sudah tua buat digendong di punggung…" ragu Haruki.
"Kakimu
parah gitu. Mau jalan sendiri sampai rumah?"
Hayato langsung
mengangkatnya tanpa memedulikan protes gadis itu, bergerak seolah hal tersebut
sudah sangat biasa—pemandangan familier dari Tsukinose dulu.
Saat Haruki
terluka di gunung. Saat sepatunya hanyut di sungai. Saat ia tertidur pulas seharian.
(…Benar
juga.)
Sederhana
saja. Seperti halnya Himeko yang mengagumi punggung Haruki, Haruki pun selalu
menatap punggung Hayato. —Selalu seperti itu.
Duri yang
mengganjal di dada Himeko perlahan mencair dan terlepas.
"…Kamu
lebih berat daripada waktu kita kecil dulu," ledek Hayato.
"Hei!
Bilang cewek yang lagi diet itu berat!?" protes Haruki sambil menjewer
telinga pemuda itu.
"Aduh,
sakit, ampun!"
Himeko
melihat interaksi mereka yang tidak pernah berubah sedetik pun.
"Ya ampun,
Kakak tetap aja nggak peka!" gerutunya.
"Betul
tuh, Hime-chan, hajar aja!" dukung Haruki.
"Iya,
iya," keluh Hayato.
Sambil menghela napas, Himeko melangkah mendahului mereka, memimpin jalan pulang. Wajahnya menyiratkan sedikit rasa kesepian, namun terpancar kelegaan yang begitu jernih.



Post a Comment