Chapter 6
Ayo Pergi Bermain!
Pagi yang cerah
tanpa awan membentang, matahari musim panas membakar terik hingga membuat aspal
jalanan mengepulkan hawa panas. Hayato mendengus kesal menatap jalanan itu
sambil berjalan menuju sekolah.
"Panas
banget…"
Kota yang minim
pepohonan terasa begitu menyesakkan, membuat langkah kaki pendek menuju gerbang
sekolah sudah cukup membasahi tubuhnya dengan keringat. Bajunya terasa lengket
di kulit saat ia melewati gerbang dan mengarah ke area kebun sekolah, seraya memeriksa
lembar formulir klub di dalam tasnya.
Area kebun yang
terbuka tanpa peneduh itu memang mendapat sinar matahari penuh, tapi suhunya
sudah berada di tingkat yang sangat menyiksa.
"Ugh,
batangnya kok ditumbuhi benjolan begini!? Mitake-san, ini nggak apa-apa? Bukan
penyakit kan?" seru Haruki.
"Nikaidou-san,
itu namanya akar udara," jawab Minamo.
"Akar!?"
"Iya. Akar
itu muncul kalau pasokan air atau nutrisi kurang. Tanaman tomat aslinya dari
daerah kering, jadi memang agak rumit perawatannya…"
Hayato terkejut
mendengarnya. Bukan cuma Minamo, tapi Haruki juga ada di sana, sibuk berjibaku
merawat tanaman. Keduanya tampak berkeringat, dengan wajah yang tercoreng noda
tanah akibat mencabuti rumput liar.
"…Kalian
lagi ngapain?" tanya Hayato.
"Pagi,
Kirishima-san!" sapa Minamo ramah.
"Eh,
Kirishima-kun. Cuma… lagi panen, bantu-bantu ngerawat kebun," jawab
Haruki.
Hal itu jelas
terlihat, tapi alasan kenapa Haruki ada di sana justru memancing tanya. Ia
menunjukkan sisi dirinya yang apa adanya—sisi yang biasanya hanya ia tunjukkan
pada Hayato—dan tampak sangat akrab dengan Minamo, memangkas tanaman sambil
bertanya, "Dipotong di sini?" Detak jantung di dadanya berdesir aneh.
(Kalau Haruki
baik-baik saja dengan hal itu…)
Di luar dugaan,
mereka berdua tampak bahagia merawat tanaman. Sikap ceria Haruki membuat Hayato
tertegun dan mengurungkan niat untuk protes.
"Um,
Kirishima-san…" bisik Minamo dengan cemas.
"Ada
apa?"
"Soal akar
udara tadi… Emangnya
benar-benar nggak apa-apa?"
Akar-akar
yang mirip kutil bergerombol itu memang tampak sedikit menyeramkan. Meskipun ia
menjawab dengan percaya diri di depan Haruki tadi, Minamo sebenarnya tetap
merasa khawatir.
"Akhir-akhir
ini kan nggak hujan, jadi kemungkinan besar kekurangan air. Tanaman itu
baik-baik saja, bukan penyakit, dan nggak bakal ngaruh ke buahnya kok,"
tenangkan Hayato.
"Syukurlah…"
Minamo tersenyum lega, rambut keritingnya ikut memantul saat ia kembali sibuk
di kebun, membuat Hayato teringat pada domba-domba milik Kakek Gen.
"Hmm,"
gumam Haruki yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya dengan mata disipitkan.
"Gah,
Haru—Nikaidou!"
Dengan
tangan bersidekap, Haruki mengangguk-angguk kecil, melirik bergantian antara
Hayato dan Minamo sebelum mendengus dramatis.
"Cuma lagi
mikirin Mitake-san aja," ujarnya.
"Maksudnya
apa?"
Ia tertawa kecil,
meninggalkan Hayato yang kebingungan. Hayato lantas berbisik, "…Kamu baik-baik
saja?"
Tanpa perlu
diberi tahu detailnya, Haruki pasti paham maksud pertanyaan itu.
"Mitake-san
anak yang baik, teman berkebunku. Aku baik-baik saja kok," balas Haruki. "Tapi, giliran kamu
gimana? Nanti kulitmu terbakar matahari lho. Kalau nggak pakai pelindung, bakal
gosong."
"Ugh… Aku
sih nggak masalah, tapi kamu sendiri? Kulitmu juga ikut kecokelatan tahu!"
"Hei!"
Dengan nada usil,
Haruki tiba-tiba menyingkap sedikit ujung baju Hayato untuk memeriksa perut dan
lengannya, lalu berkomentar, "Ooh." Hayato langsung membeku, merasa
salah tingkah akibat tatapan tanpa beban gadis itu.
"Wah,
perutnya putih bersih. Si perut putih. Oh, ada otot perutnya juga rupanya!?
Boleh disentuh? Dikit aja!" goda Haruki.
"Haha, udah
dong! Geli tahu!"
"Nggak
apa-apa! Permukaannya empuk, rasanya aneh~"
"Berhenti,
Nikaidou…!"
"Dikit lagi
ya?"
"Bukannya
gitu! Mitake-san…!"
"…Ah."
Minamo, yang
sempat menutup wajahnya karena malu, tidak sengaja melihat perut Hayato yang
terekspos, langsung bersemu merah karena menyaksikan pemandangan asing
tersebut.
"Um, akrab
sih boleh, tapi ini kan di luar ruangan, dan… hal-hal mesum itu nggak
boleh!" cicit Minamo sebelum kabur terbirit-birit.
"Mitake-san!
Haruki, aku bahkan belum sempat kasih formulir klub ke dia!" ratap Hayato.
"Haha,
maaf, tadi aku kebablasan," ucap Haruki.
Reaksi polos
Minamo membuat suasana mendadak canggung di antara mereka. Haruki, meskipun
tampak bersalah, terlihat geli, ekspresinya sangat mirip dengan anak nakal dari
masa kecil mereka dulu—setengah menyesal, setengah tak peduli. Hayato hanya
bisa menghela napas pasrah.
"Yuk, kita
balik ke kelas," ajak Haruki.
"…Iya."
Hari itu Haruki
tampak luar biasa bersemangat.
◇◇◇
Meski pagi
dimulai dengan kejadian heboh, siang harinya berjalan seperti biasa. Saat jam
istirahat tiba, Hayato hendak menuju tempat persembunyian mereka ketika Kazuki
Kaido mendadak datang menghampirinya.
"Hei,
Kirishima-kun. Rencana makan siangnya gimana?" tanya Kaido.
"Nggak
mau bareng kamu—hei, jangan asal duduk di situ!"
"Santai
aja, Kirishima," sahut Mori yang ikut bergabung, seolah sengaja menjebak
Hayato. Keduanya menyeringai usil, berniat menghabiskan waktu istirahat
bersamanya.
(Kenapa
Kaido jadi segitunya nempel ke aku?)
Kaido
tampaknya mulai menyukai kehadirannya, meskipun pertemuan pertama mereka dulu
tidak bisa dibilang menyenangkan. Berbeda dari biasanya, tidak ada siswi lain
yang berani mendekat berkat permintaan Kaido untuk mengadakan "obrolan
cowok", yang sukses membuat para gadis dan penggemar mereka mundur
teratur. Hanya Mori—yang sudah punya pacar—yang ikut nongkrong demi mencari
hiburan.
(Dan dia juga
tertarik sama Haruki rupanya…)
Mengingat
rumor yang beredar, dahi Hayato berkerut. Mori dan Kaido yang salah paham
langsung meledeknya.
"Pengin
ditemenin cewek-cewek ya, Kirishima-kun?" pancing Mori.
"Haha,
tenang Kaido, dia kan sudah punya seseorang yang spesial," timpal Mori
memberikan petunjuk terselubung.
"Siapa?
Kenalanku bukan?" selidik Kaido penasaran.
"Teman masa
kecil Nikaidou-san—mph!"
"Diam kamu,
Mori!" potong Hayato buru-buru, berusaha menghindari gosip tak sedar.
Reaksi Haruki juga terus mengusik pikirannya. Terakhir kali, ia sempat
melewatkan janji mereka. Saat melirik, ia mendapati Haruki sedang menatapnya
dengan senyuman tapi sorot mata yang menyiratkan ketidaksenangan.
(Biar dia nggak
ngomel-ngomel nanti.)
"Maaf, hari
ini aku—" kata Hayato mulai menolak.
"Kamu punya
janji sama aku, kan?" potong Haruki dengan senyum cerah yang dipaksakan.
"Oh, begitu
ya, Nikaidou-san?" komentar Kaido.
"Iya,
Kaido-kun," jawab Haruki mantap.
"Hei!"
Haruki langsung
menarik lengannya dengan paksa, memancing keterkejutan dari anak-anak sekelas.
Kejadian itu sukses menjadi tontonan.
Gadis itu dan
Kaido saling beradu pandang, tersenyum ramah namun memancarkan percikan
persaingan, mengabaikan atensi orang sekitar.
"Janjinya
sampai jam berapa? Aku bisa tunggu kok," ujar Kaido.
"Pekerjaan
persiapan di ruang perpustakaan lumayan banyak, jadi sebaiknya kamu cari orang
lain aja hari ini," balas Haruki dingin.
"Kalau gitu
aku bisa bantu, Kirishima-kun."
"Nggak
perlu. Ruangannya sempit, dan banyak orang juga nggak bikin kerjaan jadi lebih
cepat, kan?"
"Eh, yah,
benar juga sih…" tergagap Hayato, benar-benar tidak menduga alasan
perpustakaan yang mendadak dicatut Haruki.
Situasi itu
membuat ia dan Kaido seolah sedang memperebutkan sesuatu. Bahkan Hayato sendiri
bingung harus merespons bagaimana.
(Ke mana perginya
topeng manisnya itu!?)
Tatapan Haruki
yang tanpa rasa takut dan menyala-nyala bertemu dengan pandangannya.
Sementara Kaido
terkekeh geli, kontras dengan ekspresi Haruki yang semakin masam. Ketegangan di
antara mereka begitu terasa.
"Ayo
berangkat, Kirishima-kun!" Haruki menarik tangan Hayato keluar kelas.
Sebelum
meninggalkan ruangan, Hayato sempat melihat ekspresi syok Mori dan tawa
tertahan Kaido.
"Ditolak,
ya," gumam Kaido, yang suaranya langsung tenggelam oleh kebisingan seisi
kelas.
"…Kira-kira
gimana caranya si berandal itu bisa menjinakkan kucing liar tersebut,"
bisik Kaido pelan.
◇◇◇
Ruang persiapan
perpustakaan, yang terletak persis di sebelah perpustakaan utama, terasa sangat
terisolasi dari keramaian kelas maupun kantin, menjadikannya tempat yang sangat
sunyi saat jam istirahat.
"Haruki,
tumpukan ini taruh di mana?" tanya Hayato.
"Di
sebelahku. Habis itu pindahkan buku-buku yang sudah dikelompokkan itu ke
sana," instruksi Haruki.
"Paham."
Mereka bekerja
dalam keheningan, suasananya terasa sedikit canggung. Saat melirik sekilas,
Hayato melihat leher dan telinga Haruki yang memerah, jelas masih salah tingkah
akibat insiden di kebun tadi pagi.
(…Tch.)
Sambil menghela
napas, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Mirip seperti
tempat persembunyian mereka, ruangan berukuran enam tatami itu dipenuhi
buku-buku baru, buku pengembalian, atau buku rusak yang harus disortir ulang
dan dipasangi kartu perpustakaan—tugas yang amat membosankan.
(Bagian dari
topengnya selama ini…)
Haruki bekerja
dengan sangat efisien, dan sepertinya tugas itu akan segera selesai.
Merasa situasinya
cukup tenang, Hayato akhirnya menyuarakan rasa penasarannya.
"Ada apa
sebenarnya hari ini?"
"Hah?"
"Pagi
tadi, terus barusan… Sikapmu aneh banget."
"Oh,
nggak mirip aku banget ya?"
"…Iya."
Haruki
terdiam sesaat, tampak sedikit bermasalah, menyadari perubahan drastis pada
dirinya sendiri.
Belakangan
ini, tembok pertahanan Haruki perlahan runtuh, membuatnya lebih disukai oleh
teman-teman sekelas—sebuah perubahan yang bagus.
Namun
nada bicara Hayato terdengar sedikit menyalahkan.
"Emangnya
nggak bakal bikin masalah kalau kamu terus-terusan lepas topeng di depan
umum?"
"…Mungkin
saja, tapi aku lagi coba memikirkan banyak hal."
"Memikirkan
apa?"
"Dan
sepertinya aku nggak butuh topeng itu lagi."
"Beneran?"
"Haha,
walaupun kebiasaan lama memang susah diubah sih."
"…Begitu
ya."
Topengnya selama
ini—menjadi sosok Nikaidou Haruki yang sempurna—memang membuatnya populer, tapi
juga membuatnya kesepian.
"Hei,
Hayato. Agak susah sih ngomongnya, tapi…" mulai Haruki sambil memainkan
ujung rambutnya, pipinya merona merah dengan gestur ragu-ragu.
"Apaan?"
"Aku pengin
berusaha lebih keras lagi, buat berubah," aku gadis itu.
"…Begitu
ya."
Hayato tidak tahu
harus merespons bagaimana. Perubahan bukanlah hal yang buruk—perubahan pada
diri Haruki belakangan ini tampak positif—tetapi dadanya justru terasa sesak.
Ia mengerutkan kening, diliputi perasaan yang rumit.
"Cuma
bercanda!" tawa Haruki sambil mengalihkan pandangan, buru-buru
mengumpulkan lembaran kertas di meja.
"Udah,
beresin ini dan tugas kita beres—ah!"
"Haruki!"
Karena terlalu
terburu-buru, kakinya tersandung tumpukan buku di lantai. Hayato dengan sigap
menangkap tubuhnya, membuat punggung pemuda itu menubruk pintu geser di
belakangnya dengan keras.
"Aduh!"
"Hayato!?"
"Kamu nggak
apa-apa…?"
"Aku
baik-baik saja!"
"Syukurlah…"
Hampir saja
celaka. Haruki kini berada tepat di dalam dekapan pelukannya, kelembutan tubuh
dan aroma manisnya menguar begitu dekat hingga memenuhi indra penciumannya.
Punggungnya yang berdenyut nyeri membuat Hayato tidak punya sisa tenaga untuk
menikmati situasi tersebut.
"Maaf,
kakiku lemas banget. Bisa tetep posisi begini sebentar?"
"B-Boleh."
"Maaf
ya."
"Kamu nggak
berat kok!"
Pipi Haruki
bersemu merah padam. Posisi mereka saat ini—dengan Haruki berada di atas
tubuhnya dan bersandar pada daun pintu—tampak sangat intim, nyaris menyerupai
posisi seseorang yang sedang menerkam. Jantung gadis itu berdegup kencang,
tetapi rasa sakit di punggung Hayato membuat pikirannya ke mana-mana.
"Hei,
Senpai! Tuh kan, bener kan nggak ada orang di sini!" suara seseorang
terdengar mendekat.
"Benar
juga, tempatnya mojok banget sih," balas suara lain.
"!?"
tubuh mereka berdua langsung menegang kaku.
Sepasang kekasih
baru saja masuk ke dalam ruang perpustakaan. Posisi mereka saat ini sama sekali
tidak pantas jika terlihat orang lain. Keduanya menahan napas dan tidak berani
bergerak sedikit pun.
"Boleh kita
makan di sini?"
"Kayaknya
sih nggak boleh, tapi kalau sekadar ciuman kan boleh, kan?"
"Logika dari
mana itu… Mmph."
"Mmm… Chu,
hehe, kangen banget tahu, jatah 'recharge' dari Senpai♪"
"Kangen?
Padahal tadi pagi kita baru ketemu."
"Beda dong!
Jangan usil terus, mmm!"
"Eh, jadi
mau makan dulu nggak?"
"Cicipi
Senpai duluan aja deh~"
Bukan sekadar
pasangan biasa, melainkan pasangan yang kelewat mesra dan berani berbuat nekat
karena merasa tidak ada orang di sekitar. Keheningan yang canggung seketika
menyelimuti Hayato dan Haruki.
"…"
Suara napas
tertahan, gumaman samar, dan gesekan kain yang mencurigakan mulai terdengar
jelas dari luar pintu. Keduanya merona hebat, berharap pasangan itu segera
pergi, tapi mereka justru semakin menjadi-jadi.
Hayato, yang
mulai bisa menguasai diri, mendadak sangat menyadari beban tubuh, kehangatan,
dan kelembutan Haruki yang menempel padanya, memicu debar aneh di dadanya.
(—!)
(…Ah.)
Ia tidak bisa
terus berada di posisi ini.
Perlahan-lahan ia
melepaskan pelukannya, sementara Haruki mengeluarkan suara kecil yang lirih,
matanya yang basah seolah melayangkan protes.
Kelembutan
tubuhnya, aromanya, serta rasa sakit di punggung Hayato mengacaukan pikirannya,
memaksa pemuda itu melihatnya bukan lagi sekadar teman masa kecil, melainkan
seorang gadis.
(…Sialan!)
Namun, perasaan
penuh hasrat pada teman masa kecilnya sendiri terasa seperti sebuah
pengkhianatan, membuatnya merasa jijik pada diri sendiri.
Ia menggaruk
kepalanya, mengembuskan napas panjang, lalu berbisik, "(Sekarang gimana
nih?)"
"(!?)"
Haruki tersentak
kaget, tangannya reflek mencengkeram dadanya sendiri.
"(…Shi?)"
"…"
"…"
Gadis itu
menatapnya dengan pipi yang merona hebat, seolah baru saja menyadari sesuatu.
"…Mya~!?!?id"
"!?"
kaget ketiganya bersamaan.
Haruki
menjerit histeris sambil mondar-mandir takik, matanya berputar panik. Hayato pun tak kalah terkejut.
"Hei! Nanti
kedengaran orang!"
"T-Tapi! Aku kan cuma… Mya~!"
"Haruki!?"
Gadis itu
melompat mundur, menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua tangan sambil
menggelengkan kepala, sama sekali mengabaikan orang lain di sekitarnya.
Setelah
mengucapkan maaf terbata-bata, ia langsung berlari kencang meninggalkan
ruangan. Untungnya, pasangan
kekasih tadi sudah lama pergi.
"…Apa-apaan
tadi itu?" gerutu Hayato sendirian.
◇◇◇
Jam pelajaran
sastra klasik sore hari. Haruki tampak menghela napas suram, berhasil menarik
perhatian seisi kelas. Sebagai siswi teladan, perilakunya yang tidak biasa
tentu memancing teguran dari guru.
"Nikaidou,
ada bagian yang kurang jelas?"
"Eh…
Nggak ada kok," jawabnya sambil tersenyum kikuk.
Guru
kembali melanjutkan pelajaran, tetapi semua orang bisa merasakan ada yang tidak
beres dengan Haruki.
Hayato
mengamatinya dari kejauhan, tapi gadis itu terus menghindari tatapannya dengan
telinga yang masih memerah.
(Ini pasti
gara-gara kejadian pas istirahat tadi.)
Ia
mengingat-ingat sambil menggaruk kepalanya. Tidak ada solusi yang muncul,
membuat sisa jam pelajaran yang canggung itu terasa begitu lambat.
Sepulang
sekolah, mood Haruki masih saja suram—sangat tidak biasa bagi karakternya yang
blak-blakan.
Ia tidak
pernah berlarut-larut dalam masalah, selalu bisa bangkit dengan cepat.
Memang
mereka pernah mengalami momen-momen canggung sebelumnya, tapi kali ini ia
tampak begitu terpukul, membuat Hayato kehilangan akal.
(Semuanya
gara-gara kecelakaan tadi. Harapanku sih, bilang aja kalau aku nggak
keberatan.)
Merasa harus
segera meluruskan keadaan, ia menepuk kedua pipinya sendiri lalu melangkah
mendekati meja Haruki.
"Hei,
Nikaidou."
"A-A-Apaan,
Kirishima-kun!?" cicit Haruki kaget.
"Um…"
Reaksinya yang
berlebihan justru membuat Hayato salah tingkah, seolah mengumumkan ke seluruh
kelas bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.
Para cowok yang
iri dan cewek-cewek yang penasaran mulai menatap mereka, membuat nyali Hayato
ciut.
"L-Lupakan
saja."
"Oh…"
bahu Haruki langsung merosot leceh, memicu rasa bersalah di dada Hayato.
Tidak punya
keberanian untuk melanjutkan di bawah tatapan banyak orang, ia merutuki
ketidakmampuannya sendiri.
(Padahal kalau
sama orang-orang tua di desa aku jago!)
Sambil menghela
napas, seseorang mendadak menepuk bahunya.
"Biar aku
yang urus, Kirishima-kun," ujar Ema Isami, siswi ceria yang cukup dekat
dengan Haruki, menyeringai galak.
Ia
langsung meluncur ke arah Haruki.
"Nikaidou-san,
bisa ngobrol sebentar?"
"Isami-san?
Boleh—Mya!?"
Beberapa siswi
lain ikut mengerumuni mereka.
"Kita punya
beberapa pertanyaan."
"Mau cerita
soal beban pikiranmu?"
"Dan soal
keluarga teman masa kecilmu itu!"
Haruki
kini telah terkepung, mengeluarkan suara rengekan melengking yang menyedihkan.
Hayato
terpaku di tempat, tidak mampu mengikuti kecepatan obrolan para gadis tersebut.
"Maaf
ya, pacarku memang begitu," kata Mori sambil menepuk pelan bahunya.
"Pacar!?"
"Ema itu
tipe yang suka memaksakan kehendak. Kasihan si Nikaidou."
Haruki tampak
merona merah saat Ema berbisik di telinganya, memicu pekikan "Kya~!"
dari gerombolan siswi lain.
"Jarang-jarang
Nikaidou-san mau ditarik begitu."
"Dia
seserius itu masalahnya?"
"N-Nggak
kok, bukan gitu!" protes Haruki panik.
Dipimpin
oleh Ema, Haruki digiring pergi—meski sempat protes, ia terlihat seperti anak
sapi yang hendak dijual.
Ema
sempat melambaikan tangan dengan usil ke arah Hayato dan Mori, memperlihatkan
keakraban yang lebih mirip geng pertemanan daripada pasangan kekasih.
Hayato
melirik bergantian ke arah mereka. Mori, yang menyadari tatapannya, mengangkat
bahu sambil tersenyum kecut.
"Ema itu
teman masa kecilku, hubungan kami sudah sangat lama."
"Oh ya!?
Serius…?"
Kata "teman
masa kecil" sukses membuatnya terusik.
"Jadi,
Kirishima."
"Apa?"
"Mau
nongkrong bareng setelah ini?"
"…Boleh
juga."
Ia mengangguk
mantap.
◇◇◇
Di dalam restoran
keluarga yang dipenuhi para pelajar menjelang petang, Mori tertawa geli melihat
Hayato yang tampak kikuk menggunakan layar sentuh pemesanan dan mesin minuman
(drink bar), jelas menunjukkan ketidaktarikannya pada tempat gaul seperti itu.
"Seriusan
ini pertama kalinya buatmu!?" ledek Mori.
"…Terus
kenapa kalau iya?"
"Maaf,
maaf!"
Hayato menyesap
teh esnya sambil merengut, sementara Mori berusaha menguasai diri.
"Jadi?"
"Hah?"
"Ada apa
sebenarnya pas jam istirahat tadi?"
"…Cuma
beres-beres di ruang persiapan, terus ada pasangan masuk, pacaran, dan… ya gitu
deh."
"Canggung
ya? Nikaidou kelihatannya payah soal gituan padahal populer?"
"Dia
itu punya tembok pelindung, jarang banget curhat langsung, jadi mungkin
toleransinya rendah."
"Menarik
juga. Kamu tahu banyak tentang dia."
"Emang
iya?"
"Iya lah,
dia kan jarang banget mau terbuka sama orang lain."
"…Haha."
Ia keceplosan.
Mori menyeringai lebar, seolah berhasil menangkap ikatan di antara mereka
berdua. Hayato tertawa gugup sambil mengelap keringat dingin di pelipisnya.
"Ngomong-ngomong,"
Mori mengalihkan pembicaraan, "Aku sudah pacaran sama Ema selama tiga
bulan."
"Oh
ya?"
Mendengar
topik yang tidak mendesak itu, Hayato merasa sedikit lega.
"Kenal
dia sejak TK, kukira aku sudah tahu segalanya tentang dia, tapi ternyata aku
salah besar."
"Oh
ya."
"Ternyata
dia suka mengoleksi boneka capit mesin, suka pakaian berenda meski sering
mengelak, dan pengen melihara kucing padahal alergi… Pacaran itu penuh kejutan."
"…Romantis
banget ya?"
"Haha, sok
romantis ya."
"Tapi kalian
nggak pernah kelihatan mesra di sekolah tuh selama tiga bulan ini."
Mori menggosok
hidungnya sambil membuang muka.
"Kami kan
teman lama, jarang nongkrong berdua sebelumnya. Pacaran itu hal baru,
mengejutkan, kadang bikin bingung, tapi belajar hal baru tentang dia itu
seru."
"Begitu
ya."
"Intinya
soal jalan-jalan bareng dan saling mengenal satu sama lain. Bukan cuma
Nikaidou, kapan-kapan gabunglah sama kita. Kamu kan kerjanya selalu buru-buru
pulang."
"Iya sih,
boleh juga."
Saran itu terasa
agak usil, tapi jauh lebih baik daripada asumsi liar orang-orang. Pikiran
Hayato lantas beralih kembali ke Haruki.
(Kami bahkan
belum pernah jalan-jalan lagi sejak punya ponsel…)
Mereka memang
bertemu setiap hari, tapi itu hanya rutinitas biasa. Ia mengenang masa-masa di
Tsukinose—gunung, sungai, kuil, dan bengkel pandai besi yang menjadi taman
bermain mereka, mengubah apa saja menjadi mainan dan merajut banyak kenangan.
Ia tahu betul
siapa Haruki: sangat suka menangkap cicau, minum ramune, dan membangun tempat
persembunyian. Tapi itu semua masa lalu.
Seberapa banyak
hal tentang gadis itu yang ia ketahui sekarang? Masih suka main gim, makan
makanan minimarket, punya selera pakaian yang buruk, dan merasa
kesepian—menampilkan ekspresi sedih yang persis seperti Himeko waktu itu.
"Jalan-jalan
bareng ya…"
Ide yang bagus.
Bermain bersama seperti dulu mungkin bisa mengembalikan senyuman di wajahnya
dan menutup jarak di antara mereka. Sudut bibirnya terangkat, sebelum akhirnya
kembali berkerut.
"Kirishima?"
"Cuma
mikirin…"
Saran Mori memang
bagus, tapi ada satu masalah besar yang menghalangi.
"Kira-kira
kita mau ke mana, dan ngapain di sana?"
"Haha, mulai
dari nol lagi nih rupanya!?"
Tsukinose tidak
punya tempat hiburan semacam itu.
Hayato, yang
terbiasa menghabiskan waktu dengan gim rumahan atau bekerja di ladang, merasa
hal semacam ini sangat memusingkan. Ia mendelik kesal ke arah Mori yang berusaha menahan tawa.
"Nanti
dipikirkan lagi."
"Iya,
nanti aku cari referensi tempatnya."
Karena
harus pulang untuk menyiapkan makan malam, Hayato pamit lebih dulu. Senja musim
panas di perkotaan masih menyisakan hawa gerah, membuat keringat menempel di
seragamnya sepanjang perjalanan pulang.
Saran
Mori tentang tempat-tempat rekreasi sebenarnya banyak, beberapa bahkan familier
dari media, tapi Hayato tetap saja buta arah.
Sambil
mengerutkan kening saat memilih bahan makanan di supermarket, ia terlihat
begitu gelisah sampai-sampai orang lain memperhatikannya.
(Mungkin Haruki
atau Himeko tahu tempat asyik?)
Pikiran itu
sedikit mengangkat suasana hatinya, membuat kantong belanjaannya berayun
ringan. Tanpa disadarinya, ia ternyata jauh lebih antusias dari yang ia duga.
"Aku
pulang."
"Selamat
datang kembali, Hayato!" sambut Haruki yang sudah berdiri di depan pintu
dapur mengenakan sebuah apron.
"…Ada apa
dengan baju itu?"
Apron berwarna
pastel dengan motif kucing calico itu tampak sangat keibu-rumahan dan tidak
biasa dikenakannya.
"Baru beli.
Bagus nggak?"
"Eh, bagus
kok."
"Hehe."
Pakaian itu
sangat cocok dengan imej Yamato Nadeshiko miliknya, menambah pesona kehangatan
rumah tangga yang luar biasa.
Cowok mana pun
pasti akan berdebar jika disambut seperti ini. Jantung Hayato sempat berdetak
dua kali lebih cepat.
Haruki tampak
sangat ceria hari ini, mungkin efek dari apron baru atau karena obrolan sesama
gadis tadi. Sikapnya yang kembali normal membuat beban di pundak Hayato
terangkat.
Menyadari
tatapannya, Haruki dengan malu-malu meremas kain apronnya, lalu menatap Hayato
dengan serius.
"Selama
ini aku terlalu banyak bergantung padamu."
"Beneran?
Cuma masalah makan malam, lagian kamu juga yang bayar bahan makanannya."
"Itu saja
sudah cukup. Kamu bahkan menggendongku juga."
"Itu kan hal
biasa buat kita."
"Sudah
kuduga kamu bakal ngomong begitu."
Ia tertawa kecil,
tampak sedikit kesal. Hayato sendiri tidak pernah menganggap hal itu sebagai
beban, rasanya mirip seperti mengurus dua orang Himeko sekaligus.
"Tapi, aku
pikir aku harus mulai belajar bantu-bantu masak dan pekerjaan rumah. Tolong
ajari aku ya."
"Hei,
Haruki!"
Gadis itu
membungkuk formal, membuat Hayato terperangah. Belum pernah seumur hidupnya ia
melihat Haruki, terutama versi dirinya yang sekarang, bersikap begitu sopan.
Merasa salah
tingkah, ia menggaruk kepalanya dan membuang muka saat Haruki kembali berdiri
dengan ekspresi cemas.
"Nggak
boleh…?"
"Bukan
begitu… Cuma kaget saja. Masak kan hobiku, nggak perlu segitunya."
"Tetap
saja aku merasa tidak enak."
"Meskipun
begitu…"
"Aku
kan seorang gadis, tinggal sendirian pula. Belajar masak dan bersih-bersih
rumah itu hal yang wajar, kan?"
"…Gadis?"
"Reaksi
macam apa itu tadi!?"
"Haha,
habisnya aku nggak terbiasa bayangin kamu sebagai cewek anggun."
"Bilang apa
kamu sama cewek secantik ini!?"
"Loh,
kan kamu sendiri yang ngomong?"
"Ugh,
mendadak aku merinding sendiri!"
"Haha."
"Hah."
Interaksi
saling lempar ejekan itu terasa begitu natural dan menenangkan. Namun Haruki
kembali memasang wajah serius sambil mencengkeram ujung apronnya.
"Selalu
ditolong orang lain terus itu bikin frustrasi rasanya…"
"…Ah."
Kata-kata
jujur yang diucapkan dengan bibir mengerucut itu tepat mengenai sasaran di
hatinya.
Jika
posisi mereka dibalik, Hayato pun pasti akan benci jika terus-menerus menjadi
pihak yang berhutang budi secara sepihak.
Masa lalu mereka
yang selalu setara membuat tindakan Haruki sekarang menjadi sangat masuk akal.
"Mau ikut
masak?"
"…Mau!"
Ia mengulurkan
tangan. Haruki melepaskan cengkeraman di apronnya lalu menyambut uluran tangan
itu.
"Kakak, ada
apa sih ngobrol di depan pintu terus? Lagi PDKT? Makan malamnya sudah siap
belum?" Himeko mendadak muncul dengan wajah cemberut, merasa diabaikan.
"Haha, nggak
ada apa-apa kok," elak Hayato.
"Ih, Kakak!
Jangan diusap-usap kepalanya, nanti rambutku berantakan!"
"Haha,
Hime-chan. Hayato cuma malu karena mengira apron seragam ini kelihatan seksi,
makanya dia salah tingkah," goda Haruki.
"…Kakak?"
"Haruki!?
Himeko!"
Himeko memelototi
mereka tajam. Sementara Haruki menyipitkan mata ke arah kakak-beradik itu,
seolah sedang melihat pemandangan yang menyilaukan mata.
Hayato buru-buru
ngibrit ke dapur, disusul oleh Haruki di belakangnya.
Menu malam ini
adalah bang bang ji—dada ayam rebus yang dimasak dengan sake dan daun bawang,
disuwir-suwir, lalu disajikan bersama irisan tipis bawang bombay, wortel, lobak
putih, mentimun, tomat, dan daun shiso. Sausnya menggunakan cincangan daun
bawang, jahe, pasta wijen, kecap asin, mirin, dan doubanjiang.
Proses
pembuatannya memang cukup memakan waktu, tapi rasanya pedas menyegarkan, rendah
lemak, tinggi protein, sangat cocok dinikmati saat musim panas, ditemani sup
telur rumput laut.
"Selamat
makan… Kak, di piringku nggak ada tomat kan?" pastikan Himeko.
"Pindahkan
saja tomatnya ke piringku."
"Mmm,
enak banget. Nggak pakai nasi hari ini?"
"Aku pakai
nasi instan kemasan."
"Lagi diet,
jadi aku cukup makan ini saja."
Sambil makan
dengan santai, Haruki justru memancarkan aura suram di sudut meja.
"Ugh…"
"Kak, dia
kenapa sih?" bisik Himeko penasaran.
"Oh,
itu…"
Haruki tadi
sempat mencoba membantu pekerjaan rumah: menanak nasi (salah pencet tombol),
mengganti filter penyedot debu (malah dijatuhkan), mencuci baju (lupa
memasukkan detergen). Antusiasmenya yang terlalu tinggi justru berujung pada
kecerobohan khas dirinya, terlepas dari ketangkasannya yang biasa.
(Mirip banget
kayak waktu dia mati duluan di gim baru gara-gara terlalu semangat.)
Hayato terkekeh
pelan. Haruki semakin menyusutkan tubuhnya karena malu.
"Bagaimana
masakannya? Pertama kalinya aku bikin lho," tanya Hayato.
"…Menyebalkan
rasanya," gerutu gadis itu.
"Menyebalkan
ya?"
Biasanya ia akan
langsung membalas dengan nada ketus, tapi malam ini ia tampak begitu terpukul
hingga membuat Hayato cemas. Himeko mengangguk-angguk paham.
"Aku ngerti
sih. Dulu aku juga sempat nyerah duluan," kata Himeko.
"Tapi
kamu kan lebih muda, adiknya lagi. Aku kan seumuran sama dia," sanggah Haruki tidak terima.
"Oh, masalah
gengsi ya rupanya."
"Makanya aku
bakal coba lagi… Tapi rasanya memang enak, itu yang bikin sebal."
"Kan
kubilang juga apa."
"Kalian
berdua sebenarnya lagi ngomongin apa sih?" bingung Hayato.
Kedua gadis itu
mengangguk kompak, membuat Hayato semakin tidak paham. Tapi ia masih punya satu
hal penting untuk disampaikan.
"Akhir pekan
depan pada kosong nggak?"
"Jadwal
pembaruan gim sih minggu depannya lagi, tapi stok gim, manga, dan anime yang
harus kutonton masih banyak. Lagian aku sudah terlalu sering main ke
tempatmu," jawab Haruki.
Artinya, dia
kosong. Nada bicaranya yang serius membuat Hayato tidak bisa menebak apakah dia
sedang bercanda atau tidak.
"Baguslah…
Mau jalan-jalan ke tempat seru nggak?"
"Mau!
Pastinya mau banget, ayo!"
"Wah, hobi
maraton animemu gimana?"
"Hal ini
jauh lebih penting daripada itu!"
Antusiasmenya
begitu meledak-ledak dengan mata yang berbinar-binar, condong melewati meja
makan—perubahan drastis yang begitu familier.
(Ah, benar juga…)
Di Tsukinose
dulu, Haruki sering kali menunjukkan wajah murung, kemungkinan besar akibat
masalah keluarganya.
Hayato kecil yang
tidak tahu apa-apa hanya bisa mengajaknya bermain untuk mengejar kembali
senyuman di wajahnya.
Bermain
bisa mendatangkan kebahagiaan—begitu sederhana. Ia menggaruk kepalanya,
menyesal karena tidak mengajak lebih awal.
"Mau ke
mana? Kamu sudah temukan tempat asyiknya!?" desak Haruki tak sabar.
"Belum,
sama sekali nggak tahu. Kamu tahu tempat bagus?"
"Ugh,
aku kan tipe anak rumahan…"
"Iya juga
ya…"
Meskipun
sama-sama tidak tahu tujuan, senyuman antusias terpancar jelas di wajah mereka.
(Oh ya, kata Mori
kemarin…)
Saat
Hayato mengeluarkan ponselnya, Himeko mendadak mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Aku
mau pergi ke bioskop!"
"Bioskop?
Ada film yang ingin
ditonton?"
"Bioskop
dengan 768 kursi."
"…Hah?"
"Bioskop
dengan layar raksasa yang muat 768 orang sekaligus. Tertarik?"
"Gila!
Setengah penduduk Tsukinose bisa muat nonton di situ kali!"
Bioskop di tempat
asal mereka biasanya hanya berupa penyewaan kaset atau layanan streaming, atau
gedung pertunjukan kecil berjarak dua jam perjalanan. Bioskop skala masif di kota besar adalah hal
asing yang mendebarkan.
"Mau
lihat seberapa besar tempatnya? Aku harus ke sana minimal sekali seumur
hidup!" seru Himeko bersemangat.
"Boleh
juga tuh dibuktikan sendiri. Haruki, kamu ikut kan?"
"…Um,
iya, boleh."
"Di
sana ada menu popcorn, kan?"
"Lupakan
soal makanan—bioskop 4D itu apa lagi maksudnya!?"
"…"
Di saat Hayato
dan Himeko sibuk berdiskusi heboh, Haruki justru berkedip kebingungan dengan
mata terbelalak.
"Um,
Hime-chan ikut juga rupanya?" tanya Haruki memastikan.
"Ya jelas
lah. Emangnya ada masalah?" jawab Hayato.
"Sudah lama
banget kita nggak jalan-jalan bertiga kayak gini!" tambah Himeko riang.
"Haha, iya
juga ya," senyum Haruki dengan ekspresi yang menyiratkan sejuta makna.



Post a Comment