Chapter 1
Perubahan yang
Pasti Datang di Lingkungan Baru Ini
Hayato
terbangun dengan rasa lesu yang menggelayut.
Cahaya
matahari yang terik menyusup masuk melalui celah tirai.
Ia
samar-samar mengingat sebuah mimpi, tetapi tidak bisa mengingat detailnya.
Memang begitulah sifat sebuah mimpi.
"Ugh,
harus bangun..."
Menyingkirkan
rasa suram di kepala, ia menggaruk rambutnya lalu beranjak dari tempat tidur.
Hari ini
sepertinya akan kembali menjadi hari yang panas.
Kakak
beradik Kirishima yang sudah siap sejak pagi berjalan bersama menuju sekolah.
Himeko
bangun tidur tanpa rewel hari ini.
"Baiklah,
Kak, aku lewat jalan ini ya."
"Yoi."
Sambil
bertukar suara lelah di bawah terik panas, mereka berpisah di persimpangan
jalan.
Hayato
mendesah sambil mendongak ke atas. Matahari musim panas membara, menegaskan
eksistensinya.
"Panas
banget..."
Musim panas
di kota terasa begitu berat.
Tidak
seperti desa Tsukinose yang asri, jalanan aspal membentang tanpa ujung.
Alih-alih desiran daun, AC justru meniupkan udara yang terasa hangat. Lampu
lalu lintas tidak hanya berkedip kuning begitu saja.
Setiap
langkah membuat keringat semakin banyak keluar, seragamnya menempel dengan
tidak nyaman, memperburuk suasana hatinya.
Namun, ada
hal lain yang sedang membebani pikirannya.
"Yo,
Kirishima!"
"Pagi,
Mori."
"Hei,
anak pindahan!"
"Pagi,
Kirishima-kun."
"Eh,
ada Kirishima. Yo."
"...Pagi."
Di dalam
kelas, teman-teman sekelas menyambutnya dengan tatapan hangat yang menggoda.
Pekan lalu,
Haruki menunjukkan foto keusilan padanya, dan ia refleks merampas ponsel gadis
itu. Sejak saat itu, semua orang sepertinya mengira kalau ia sudah jatuh hati
pada teman masa kecil Nikaidou Haruki.
Sekarang,
mereka semua penasaran dengan "kisah cinta" miliknya, dan menontonnya
dengan perasaan geli.
(Yang di
foto itu Himeko, adikku lho...)
Haruki,
sang pelaku utama, sempat tergagap, "R-Rumor orang-orang itu cuma bertahan
tujuh puluh lima hari!" sambil menghindari tatapannya.
"...Pagi,
Nikaidou."
"P-Pagi
juga, Kirishima-kun."
Sapaannya
kepada Haruki terdengar ketus, dan ia langsung membuang muka. Haruki
membalasnya dengan senyuman penuh rasa bersalah.
Kekakuan di
antara mereka justru semakin memicu kesalahpahaman seisi kelas, meski tak
satupun dari mereka yang menyadarinya.
"Hei,
Nikaidou-san, ada waktu sebentar?"
"Kita
punya beberapa pertanyaan nih!"
"Ya,
ada apa—!? Iik!"
Melihat
tingkah Hayato yang salah tingkah, sekumpulan siswi mengerumuni Haruki,
bergosip dengan antusias sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya.
Mereka
sepertinya tipe orang usil yang suka memanaskan suasana.
Hayato bisa
melihat Haruki berusaha menolak, namun para gadis dengan mata berbinar-binar
itu tidak menyerah begitu saja.
Tak lama
kemudian, Haruki menghampirinya sambil memegang ponsel dengan ekspresi
bersalah.
"Um,
Kirishima-kun..."
"...Apa?"
"Jadi,
soal foto itu... mau lihat?"
"Nggak,
makasih."
"Tolong,
lihat sebentar saja...?"
"..."
Hayato
tidak tahu apa yang telah dikatakan oleh para gadis tadi. Teman masa kecil
Haruki adalah Himeko, adiknya sendiri—melihat apa pun itu pasti akan terasa
sangat canggung.
Namun,
ekspresi Haruki yang tampak meminta maaf dan kesulitan, serta kesadaran bahwa
gadis itu sedang berusaha bersikap baik, membuatnya kesulitan untuk
mengabaikannya begitu saja.
Ia menghela
napas berat lalu melirik layar ponsel. Alih-alih foto Himeko, yang terlihat
justru deretan teks:
"Maaf
untuk semuanya. Hari ini aku akan makan siang bersama mereka dan meluruskan
kesalahpahaman ini!"
Saat
menatap Haruki, gadis itu memberikan senyuman kecut seolah ingin berkata,
"Serahkan padaku."
Sepertinya
ia merasa bertanggung jawab atas semua ini.
Haruki
biasanya menghindari keributan dan memilih makan siang sendirian. Keinginannya
untuk membereskannya kali ini menunjukkan tekad yang kuat. Lagi pula, pekan
lalu saat makan malam, gadis itu sudah meminta maaf berulang kali karena
keusilannya.
(...Ampun
deh.)
Ekspresinya
melunak, sebuah senyumen kecil terukir di bibirnya.
"Baiklah."
"!
Oke!"
Menyadari
ia tidak marah, mereka saling bertukar pandang dengan perasaan lega.
Namun
tiba-tiba, pekikan nyaring terdengar dari belakang, "Kyaa!"
"Eek!?"
Para siswi
langsung menyambar tangan Haruki, menyeretnya pergi dengan aura yang tidak
memberinya kesempatan untuk menolak.
"Ayo
mengobrol, Nikaidou-san!"
"Sebentar
saja kok!"
"Aku
tadinya berpikir, mungkin aku bisa membantu sesuatu yang seru—maksudku!"
Hayato
memperhatikan kejadian itu dengan tercengang, namun ia menyadari bahwa para
siswi tersebut jauh lebih akrab dengan Haruki dibanding saat ia baru pertama
kali pindah ke sini.
Anggun
bagaikan bunga Peony, berjalan bagaikan bunga Lily, Haruki dulunya begitu
populer sekaligus tak tersentuh, bagaikan bunga di puncak gunung yang tinggi.
Wajar saja jika gadis itu memasang tembok pembatas dengan orang lain.
Namun
sekarang, auranya sedikit bergeser. Pemandangan barusan adalah buktinya.
(Pasti
melelahkan sekali. Aku yakin nanti malam dia bakal curhat pas makan malam.)
Jujur saja,
hal itu membuat dadanya terasa aneh, namun jika sedang berada di rumahnya,
Haruki toh masih sering bersantai tanpa beban dan bertingkah seperti dulu lagi.
Sebuah sisi
diri yang hanya ditunjukkan kepada dirinya seorang. Pemikiran itu membuatnya
terkekeh pelan.
"Kirishima,
lagi merhatiin sesuatu yang menakjubkan dari pujaan hatimu, ya?"
"Mori?
Bukan, nggak gitu—"
Yang lain
mengartikan ekspresinya dengan cara yang berbeda.
Mori, yang
cepat tanggap, langsung merangkul pundaknya, disusul oleh teman-teman lelaki
lain yang tersenyum jahil dan tidak membiarkannya kabur.
"Bukankah
kita butuh pendekatan yang lebih erat, hah?"
"Iya,
teman masa kecil Nikaidou-san itu imut banget, kan?"
"Jadi,
bagian mana spesifiknya yang bikin kamu kepincut?"
"T-Tunggu,
aku—"
Mengabaikan
kebingungan dirinya dan Haruki, seisi kelas mendadak gempar dalam kegembiraan.
Haruki
telah berubah sejak ia pindah ke sekolah ini.
Begitu pula
dengan dunia di sekitar Hayato.
Jam
istirahat siang. Bebas dari pelajaran yang membosankan, para siswa menikmati
kebebasan mereka.
Suara-suara
riuh bergema di seluruh penjuru kelas.
"Ayo,
Nikaidou-san, lewat sini!"
"Bawa
bento? Atau mau ke kantin? Kami bakal seret kamu ke mana pun!"
"Aku
sudah lama penasaran lho sama kamu, Nikaidou-san."
"Uhm,
tas—Eek!?"
Gerombolan
siswi dengan mata berbinar-binar membawa Haruki pergi bagaikan harimau yang
menerkam mangsanya menuju tempat nongkrong mereka.
Hayato
dalam hati mendoakan yang terbaik untuk Haruki, lalu menyelinap pergi menuju
tempat persembunyian mereka.
Untungnya,
para lelaki yang kelaparan lebih memprioritaskan makanan daripada gosip,
sehingga ia bisa kabur dengan mudah. Mori bahkan langsung ngibrit ke kantin
begitu bel berbunyi, mengabaikan guru di depan kelas.
Tempat
persembunyian mereka: sebuah ruangan sempit seluas enam tatami di gedung
sekolah lama, yang kini dialihfungsikan sebagai gudang. Markas rahasia
sekaligus tempat perlindungan Hayato dan Haruki.
Sendirian
di sana, Hayato mengedarkan pandangannya.
"...Sepi
banget."
Berkat
kerja rajin Haruki, tempat ini memang bersih, tetapi isinya hanyalah sebuah
sapu di dekat pintu dan dua buah bantal duduk polos.
Mungkin
karena itulah tempat ini terasa dingin, meskipun sedang musim panas.
"Mungkin
aku harus beli sarung bantal..."
Menggumamkan
isi pikirannya, ia membuka bentonya. Makan sendirian terasa begitu hambar, dan
ia menghabiskannya dengan cepat. Melirik jam tangannya, ternyata baru lima
menit berlalu, dengan waktu istirahat yang masih sangat panjang.
Biasanya,
mengobrol dengan Haruki membuat waktu berlalu begitu cepat, tetapi sekarang
waktu terasa merayap lambat, membuatnya gelisah.
Melihat
sekeliling lagi, ruangan itu terasa begitu luas.
(Haruki...
apakah dia selalu sendirian di sini selama ini?)
Berperan
sebagai gadis baik-baik, hidup sendirian di sebuah rumah. Ia punya banyak
pertanyaan, tetapi ia tidak ingin memikirkannya terlalu dalam, jadi ia
menggaruk kepalanya lalu berdiri.
Ia
memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.
Jam
istirahat siang yang terik. Sebuah petak bunga tertata rapi di bagian belakang
sekolah.
Di sana,
seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut ikal tampak tekun merawat sayuran.
"Yo,
Mitake-san."
"Eh,
Kirishima-san!"
Meskipun
cuaca sangat panas, Mitake Minamo bekerja dengan rajin, meski wajahnya
menyiratkan kecemasan.
Melirik ke
arah petak bunga, sayuran-sayuran di sana tampak layu. Menyadari tatapannya,
Minamo berbicara dengan nada ragu-ragu.
"Aku
menyiraminya setiap hari agar tanahnya tetap lembap dan memangkas bagian yang
rusak, tapi akhir-akhir ini daunnya malah terkulai..."
"Kamu
nggak perlu menyiramnya setiap hari. Cukup beberapa hari sekali, tapi siram
dengan air yang banyak sampai meresap ke dalam. Kalau setiap hari disiram
sedikit-sedikit, airnya malah menguap dan bikin dehidrasi."
"Apa...!?."
"Tapi
ini bukan karena dehidrasi. Tanaman ini kan sudah banyak berbunga dan berbuah,
kan? Itu artinya mereka telah menggunakan banyak energi. Jadi, apa
masalahnya?"
"T-Tenaga?
Um..."
Minamo
merenungkan teka-teki itu sambil meletakkan jarinya di dagu dan memiringkan
kepalanya. Hayato menyipitkan mata penuh kelembutan.
(Dia mirip
banget.)
Rambut
ikalnya dan kuncup sayuran itu mengingatkannya pada domba-domba Kakek Gen di
Tsukinose yang mengejar bunga dan buah. Hal itu membuatnya tersenyum.
Kemudian,
Minamo berseru, "Ah!"
"Mereka
butuh nutrisi—pupuk!"
Mata gadis
itu berbinar-binar seolah meminta pujian, mirip seperti anak hewan. Hayato
nyaris menepuk kepalanya tapi berhasil menahannya.
"Tepat
sekali. Sayuran juga bisa kelelahan seperti manusia. Punya pupuk? Biar
kubantu."
"Seperti
manusia... Oh, iya, kami punya! Um..."
"Jangan
ditaruh langsung di dekat akar atau batangnya. Taburkan melingkar di
sekitarnya."
"Baik!
Ini dia..."
Petak bunga
itu memang cukup luas tapi ukurannya tidak lebih dari kebun rumah biasa.
Bersama-sama, mereka menyelesaikannya dengan cepat.
Kendati
demikian, di bawah terik matahari musim panas, Hayato sudah basah kuyup oleh
keringat, seragamnya menempel di tubuh.
"Selesai!
Terima kasih banyak!"
"A-Ah...!?"
"Ada
apa...?"
Sambil
menyeka keringat, ia melirik ke arah Minamo. Blus gadis itu, sama sepertinya,
menempel di tubuh, menonjolkan lekuk tubuh yang ramping namun tampak jelas
feminin. Di balik tubuhnya yang mungil, bagian dadanya ternyata jauh lebih...
menonjol ketimbang milik Himeko maupun Haruki. Ia langsung buru-buru membuang
muka.
Minamo
memiringkan kepalanya, bingung dengan reaksi Hayato.
(...Kena
mental juga aku.)
Gadis itu
mungkin mengingatkannya pada domba, tapi Minamo tetaplah seorang gadis
seusianya.
Karena
tidak terbiasa bergaul dengan sebaya dan berusaha menghindari pikiran semacam
itu, situasi tanpa persiapan ini membuatnya salah tingkah.
Lagipula,
terlepas dari rambut ikalnya yang kasual dan gaya busananya yang biasa saja,
wajah gadis itu sebenarnya sangat manis.
Permata
yang belum diasah.
"T-Topi!"
"Eh?"
"Maksudku,
topi jerami atau semacamnya mungkin bagus dipakai. Panas banget, bahaya kalau
kena heatstroke."
"Oh,
benar juga. Akhir-akhir ini cuacanya panas banget."
Mengambil
kata-kata salah tingkah Hayato sebagai nasihat, Minamo merengut, merasa
ceroboh. Hayato merasa bersalah karena telah beralasan seperti itu.
Suasana
canggung menyelimuti hingga sebuah handuk kecil mendadak disodorkan.
"Mitake-san,
pakai topi memang bagus, tapi pakaianmu juga perlu diperhatikan. Ini sedikit...
mengganggu buat para cowok."
"Ha—Nikaidou?"
"Eh?"
Haruki
tersenyum sambil menyodorkan handuk kepada Minamo.
Pandangannya
terpaku pada dada Minamo, tempat blus basahnya memperlihatkan pola renda.
"P-Pyaaa!"
Menyadari
keadaannya, wajah Minamo langsung memerah. Sambil mendekap handuk itu ke
dadanya, ia lari terbirit-birit.
Melihat
kepergiannya, Haruki menoleh ke arah Hayato dengan tatapan datar lalu bergumam.
"…Mesum."
"T-Tidak,
bukan begitu—"
"…Otak
selangkangan."
"T-Tunggu,
aku—"
"…"
"…Maaf."
"Hmph!"
Kata-kata
dan sikap yang tak biasa itu membuat Hayato refleks meminta maaf.
Pelajaran
sore.
"Ibu
kota Heijo-kyo dibangun pada tahun 710, mencontoh Chang'an dari Dinasti Tang,
di wilayah Nara saat ini—"
Pelajaran
sejarah Jepang, dengan suasana sore yang malas.
Namun, aura
tidak mengenakkan terpancar dari sebelah meja Hayato.
"…Hmph."
"…Haah."
Mencoba
memeriksanya, Haruki langsung membuang muka begitu Hayato menoleh. Ia
jelas-jelas telah membuatnya ngambek.
(…Gawat
nih.)
Alasannya
sudah sangat jelas.
Ia sempat
menatap seragam Mitake yang basah karena keringat, khususnya bagian dada.
Hal itu
wajar bagi seorang remaja cowok, tapi Haruki—
"Selain
itu, berbagai sistem juga direformasi, seperti sistem pajak soyochō… Ini sangat
seru untuk dibandingkan dengan periode Asuka bulan lalu. Lembar tugasnya—"
"…Eh."
Ia tidak
memegang lembar tugas itu.
Hampir
sebulan sejak pindah, ia sudah mulai terbiasa, tapi terkadang masih butuh
bantuan Haruki.
"Uhm,
Nikaidou… san?"
"…Hmph."
Meski
sedang ngambek, Haruki mendesah dan menggeser mejanya agar lebih dekat, lalu
menunjukkan lembar tugas miliknya.
(Hal ini
terjadi waktu aku pertama kali pindah, kan?)
Dulu gadis
itu juga ngambek tapi tetap membantunya.
"Haha,
terima kasih."
"…Hmph."
Ingatan itu
membuatnya terkekeh.
Namun,
Haruki tidak menyukai hal itu.
"Jangan
melihat lembar tugas ini dengan tatapan mesum yang sama seperti yang kamu
berikan pada gadis tadi."
"Ha!?"
Sambil
mengerutkan kening dan membuang muka, suara lembut namun tegas itu menggema di
dalam kelas. Setelah keheningan sekejap, tawa langsung meledak.
"Yo,
apa yang dilakukan Kirishima?"
"Tatapan
macam apa itu?"
"Kirishima,
jangan bikin onar! Kembali ke pelajaran!"
"Grr…"
Di tengah
sisa-sisa tawa yang masih ada, Hayato menciut, pipinya merona karena malu.
Haruki,
yang masih membuang muka, mendengus.
Selesai
kelas, anak-anak cowok mengerubungi Hayato.
"Kirishima,
tatapan macam apa yang kamu berikan pada Nikaidou-san?"
"Apa
ini tentang teman masa kecil itu?"
"Apa
kamu melihat sesuatu yang separah itu?"
"Enggak,
tunggu, aku—"
Tatapan
penasaran mereka menyiratkan bahwa mereka tidak akan melepaskannya tanpa
jawaban.
Semua ini
gara-gara sikap Haruki sebelumnya.
Polos,
manis, berbakat, dan baik kepada semua orang.
Bagi gadis
itu untuk menegur seseorang seperti itu adalah hal yang langka, sehingga memicu
rasa ingin tahu.
"Kirishima,
ada apa dengan tatapan mesum itu? Apa kamu mengungkap fetis aneh sampai
Nikaidou ngomong begitu?"
"Mori!?"
Mori
melontarkan pertanyaan provokatif, memanas-manasi Hayato dan kerumunan.
"Aku
ngaku… Aku suka bagian ketiak!"
"Kalau
aku garis pergelangan kaki."
"…Tulang
selangka."
"Enggak,
aku nggak—!"
Obrolan
para cowok tentang para gadis semakin liar, tak peduli dengan tatapan tajam
para cewek. Debat fetis yang berpusat di meja Hayato semakin memanas berkat
suara dari sebelah.
"Dada.
Kirishima-kun suka dada."
"Haru—Nikaidou!"
Suaranya
hampir menyerupai teriakan.
Para cowok
bersorak, "Ohh!" "Klasik!" "Nikaidou bilang
'dada'…!" sementara para cewek berbisik, "Ih, cowok-cowok emang
paling parah," "Kirishima ternyata begitu juga ya…," "Tapi
cewek di foto itu… oh, itu tipenya."
Situasi
menjadi kacau, seperti pagi tadi.
Haruki
merengut, bibirnya mengerucut.
"Ampun
deh…"
Hayato
merosot, membenamkan wajah di tangan.
Keriuhan
itu berubah menjadi perdebatan cowok-cewek yang tidak penting, yang
diabaikannya. Tapi suara terkejut Mori menarik perhatiannya.
"…Nikaidou
bisa memasang ekspresi seperti itu ya."
"Mori…?"
"Oh,
Kirishima. Bukan apa-apa."
Melihat ke
arah Haruki, gadis itu berada di antara para cewek, memberikan tatapan jengkel
kepada para cowok. Matanya memancarkan kilatan usil yang sudah sangat
dikenalnya.
(…Ada apa
dengan dia?)
Hal itu
membuatnya gelisah.
Sambil
menggaruk kepala untuk mengusirnya, matanya beradu pandang dengan Haruki.
"—Hehe."
"…Tch,
dasar gadis itu…"
Gadis itu
menjulurkan lidahnya dengan penuh kemenangan, khusus untuknya.
Anehnya,
itu terasa… menyenangkan.
◇◇◇
Matahari
terbenam kota mewarnai gedung-gedung dengan warna merah, tidak seperti
pegunungan Tsukinose.
Di sebuah
minimarket besar di jalan menuju area perumahan, Himeko berpisah dengan
teman-teman sekelasnya.
"Dadah,
Himeko-chan!"
"Sampai
jumpa, Kirishima-san!"
"Duluan!"
"Ya,
sampai jumpa besok semuanya."
Lampu jalan
yang dinyalakan lebih awal menerangi senja kota, tetapi langkah Himeko terasa
berat.
(Kekenyangan
lagi… Duh, enak tapi mahal…)
Sambil
mengusap perutnya, ia berjalan pelan.
Penyebabnya:
camilan minimarket. Di Tsukinose, camilan hanyalah permen berumur simpan
panjang di toko hobi.
Di sini,
toko-toko dipenuhi dengan makanan penutup berbalut krim yang cepat kedaluwarsa.
Himeko,
yang lemah terhadap hal manis, tidak bisa menolaknya.
Teman-teman
sekelasnya memanas-manasinya, membuat kondisi uang sakunya berada di ambang
bahaya.
"Haa,
aku pulang…?"
"Yo,
selamat datang."
"…Selamat
datang, Hime-chan."
Himeko
memiringkan kepalanya saat masuk.
Hayato
sedang memotong sayuran dengan ekspresi bermasalah, sementara Haruki duduk di
sofa, mendekap bantal ke dadanya dengan cemberut. Suasana tegang menyelimuti
mereka.
Haruki,
tanpa alas kaki, duduk bersila, pertahanannya begitu longgar hingga pakaian
dalamnya terlihat dari sudut pandang tertentu. Himeko mendesah penuh arti.
"Uhm…
Haru-chan, ada apa sih?"
"Hime-chan…
Hayato itu buas banget…"
"Ha?"
Nada serius
Haruki dan dekapannya yang erat pada bantal membuat ketenangan Himeko menguap.
"Dia…
apa dia menyentuhmu!? Aku tahu dia itu buas, tapi Haru-chan, punyamu kan
lumayan besar, ya!? Boleh aku pegang sedikit—tolong bagi berkahnya!"
"H-Hime-chan!?
Bukan, bukan aku, tadi itu di kebun—Eek, perutku!"
"Hei,
hentikan, Himeko."
Entah
bagaimana salah paham, Himeko menerjang untuk memeriksa dada Haruki.
Hayato
menariknya menjauh, matanya setengah serius.
"Setengah…
bukan, sepertiga juga boleh, tolong bagi!"
"Mana
bisa!"
"Ayolah!"
Hayato
mendesah dalam-dalam, mengerutkan kening.
"Haha,
begitu ya. Kakak melirik dada cewek lain, ya."
"Dia
ketahuan banget."
"…Ampun
deh."
Obrolan
makan malam adalah Himeko dan Haruki menggoda Hayato.
Kesalahpahaman
Himeko sudah beres, dan nada bicara Haruki berubah menjadi lelucon main-main.
Hayato, yang mengerti, tersenyum kecut.
Menu utama:
terong dadu tumis daging cincang, bawang putih, jamur maitake, dan cabai hijau,
dibumbui manis-pedas dengan kecap asin, mirin, saus tiram, dan sedikit
miso—variasi mapo terong.
Sangat pas
dengan nasi, Hayato menumpuknya di mangkuk. Haruki dan Himeko mengikuti, makan
dengan lahap.
"Ngomong-ngomong,
Haru-chan, dada cewek itu sebesar itu ya?"
"Hmm,
dia mungil, tapi jelas dua… tidak, tiga tingkat di atasku?"
"Apa!?
Kamu kan sudah dua tingkat di atasku!"
"Haha,
jujur saja, mataku juga ke sana sih."
"Hmph,
kalau begitu tidak bisa disalahkan. Aku memaafkanmu, Kak."
"…Iya,
iya, makan makanannya, jangan cuma ngobrol."
""Baik!""
Setelah
makan dan menyeruput teh, keadaan kembali normal saat Haruki bersiap pulang.
Sambil Hayato mencuci piring, gadis itu merebahkan diri di sofa, menonton TV
dengan santai seperti Himeko.
(Oh, aku
paham.)
Himeko
menyadari suasana hati Haruki.
Ia kesal
dengan kejadian siang tadi dan ingin mencari cara untuk bersikap normal lagi.
Himeko telah diperdaya.
"Haru-chan,
kamu dari dulu payah kalau soal jujur."
"A-Apaan
sih, Hime-chan?"
"Nggak
apa-apa kok~"
Himeko
melirik Hayato dengan jengkel. Haruki, yang merasa ketahuan, mulai
bersiap-siap.
"Um,
ya udah, aku pulang ya. Terima kasih makanannya!"
"Yo,
hati-hati."
"Haru-chan…"
Haruki
bangkit, memakai kembali kaus kakinya yang tadi dilepas.
Mengingat
obrolan mereka, Himeko bergumam santai.
"Kakak
payah ya. Ada dua cewek imut di sini, tapi malah melirik yang lain."
"Haha,
benar kan? Seharusnya dia puas sama aku dan hidup bahagia… dengan…"
"Meskipun,
kalau dia menatap kita seperti itu, rasanya bakal aneh—Haru-chan?"
"…"
Haruki
mematung, satu kaus kaki terpasang, yang lain setengah ditarik, terlihat
konyol.
Bahkan
Himeko curiga setelah sepuluh detik keheningan.
"Haru-chan?
Halo, Haru-chan?"
"—!
H-Hime-chan! Haha… um, aku duluan ya! Nggak usah diantar, dadah!"
"Haru-chan!?"
Tersadar
oleh suara Himeko, Haruki kabur, kaus kakinya tidak rata, dengan tergesa-gesa.
Himeko yang
tercengang dan Hayato yang menghentikan cucian piring ternganga.
"Dia
pergi?"
"Ya,
sepertinya begitu."
"Kamu
tidak mengantarnya pulang?"
"Dia
mungkin mengira kamu akan menatap dadanya lagi."
…Mana
mungkin. Berhenti bercanda dan mandi sana, airnya sudah siap."
"Baiklah."
Saling
melempar candaan, Himeko menuju kamar mandi, mengambil handuk dan pakaian.
Godaannya tadi masih membekas—mungkin itu benar.
(Apa Kakak
menatap Haru-chan seperti… Ah, nggak mungkin.)
Ia
menepisnya.
Sikap super
santai Haruki di tempat mereka seperti Himeko. Hayato sepertinya tidak pernah
melihatnya secara romantis, lebih seperti keluarga.
(Atau… apa
Haru-chan mulai menyadari keberadaannya? Haha, nggak mungkin.)
Pikiran itu
membuat dadanya nyeri, jadi ia menepisnya, melepas seragam pelautnya.
Melihat
timbangan yang lama tidak dipakai, perutnya yang sedikit buncit menarik
perhatiannya. Setelah ragu sejenak, ia naik ke atas timbangan.
"~~~~~~~!!?!?!?"
Jeritan
tanpa suara.
"Himeko,
ada apa!?"
"Bodoh,
jangan datang, jangan mengintip, Kakak bodoh!"
"M-Maaf!"
Berjongkok
karena malu, Himeko memegangi kepalanya dengan panik.
(A-A-Apa
yang harus kulakukan…!?)
Timbangan
yang dicek setelah sepuluh hari itu menunjukkan kenaikan berat badan hampir 10%
akibat pesta camilan manis akhir-akhir ini.
◇◇◇
Larut
malam, bulan sabit belum muncul.
Lampu jalan
menjaga jalan tetap terang meski tanpa cahaya bulan.
"Hah,
hah, hah…!"
Seorang
gadis berlari, rambutnya berantakan, berlari dengan kecepatan penuh.
Pemandangan
yang aneh.
Wajahnya,
merah hingga ke leher, pasti menarik perhatian di siang hari.
"Aku
pulang!"
Haruki
meneriakkan salam biasa ke dalam kegelapan, tetapi tidak seperti biasanya, ia
tidak menunggu jawaban dan langsung melompat ke kamar mandi.
Melempar
blus basahnya ke mesin cuci, ia menyiram dirinya dengan air pancuran dingin.
"Dingin!?"
Bergumam
yang sudah jelas, ia melanjutkan saat airnya menghangat. Keringatnya basah,
tapi kabut di dadanya tertinggal.
Akhir-akhir
ini, hal-hal kecil terus membuatnya gelisah.
"Ugh…"
Di bawah
air panas, ia mengenang hari itu.
Setelah
menghindari interogasi para cewek dan menuju markas rahasia, tempat itu kosong.
Mengetahui kebiasaan Hayato, ia pergi ke kebun sayur, dan pemuda itu ada di
sana.
"Hay…
Kirish—"
Ia mencoba
memanggil tapi tidak bisa.
Hayato
merawat kebun dengan ahli, sesekali membimbing Minamo, gadis klub berkebun,
dengan nada lembut. Gadis itu bertanya dengan antusias, bergantung padanya.
Sisi Hayato
yang tidak Haruki ketahui.
(Ya… Hayato
selalu jadi pengasuh…)
Kenangan
berkelebat: berjanji makan siang bersama di markas, ia mengantarnya pulang,
menyuruhnya menginap untuk menghindari rumahnya.
Apa yang
dilakukannya adalah kebaikannya, sesuatu yang dikaguminya. Namun, dadanya
perih.
Bingung, ia
mengamati Minamo.
Ia sedikit
tahu tentangnya—beda SMP. Pendiam, jauh lebih pendek, tapi dengan lekuk tubuh
yang jelas. Pesona imut seperti hewan.
Sesuatu
sisi cewek yang tidak dimiliki Haruki di dekat Hayato.
(Apa…)
Perasaan
tidak menyenangkan muncul, tidak terdefinisi. Menyaksikan Hayato tersenyum
bersama Minamo membuat iritasi meningkat.
Saat ia
merona karena dada Minamo yang lebih besar, kesabaran Haruki runtuh, dan ia
menerobos masuk. Sikapnya kemudian, diakuinya kanak-kanak, hanya ngambek.
Reaksi
Himeko mengejutkan tapi membuatnya bersyukur. Ia pikir perasaannya akan mereda
besok.
"Haha,
benar kan? Seharusnya dia puas sama aku dan hidup bahagia… dengan…"
Obrolan
santai mengungkapkan akar keresahannya.
(Aku pikir
Hayato mungkin akan diambil orang!)
Dorongan
posesif kekanak-kanakan, bukan cemburu.
Ia tahu
Hayato adalah remaja normal dan menggodanya. Ia percaya pemuda itu memahaminya.
Tetap saja,
ia benci pemuda itu merona pada cewek lain.
(Aku tidak
kecil-kecil amat…)
Mencoba
menepis pikiran itu, ia menaikkan shower, tapi itu sudah maksimal.
"Ugh,
cukup!"
Menggosok
kuat untuk menghilangkan kabut, jantungnya tidak mau tenang.
Ini akan
menjadi mandi yang panjang.
"Panas
banget~"
Mandi
terlalu lama membuatnya kepanasan.
Tidak
tahan, ia mengambil es krim, kembali ke kamar, dan menyalakan AC.
"Duh,
tapi enak!"
Menggigit
terlalu cepat membuat kepalanya pusing sebentar, tapi ia melahapnya.
Kekacauan
yang tersisa membuatnya makan karena stres.
(Ini semua
salah Hayato!)
Setelah
kekacauan emosional, ia menyalahkannya. Tidak adil dan belum dewasa, tapi ia
tidak bisa menahannya.
Hatinya
kacau.
Hayato
selalu membuatnya lepas kendali, seperti biasa. Tapi keadaannya berbeda. Meski
begitu, itu tidak buruk—ia paling kesal pada dirinya sendiri.
"…Haa."
Mendengus
dengan batang es krim di mulutnya, ia duduk bersila, melihat sekeliling.
Manga,
game, model setengah jadi, kosmetik baru, majalah mode, dan pakaian cewek
berserakan, kesepian.
"…"
Kamar itu
sunyi. Keheningan biasa dan akrab selama bertahun-tahun.
Namun, ia
membandingkannya dengan apartemen Kirishima yang berisik, mengerutkan kening,
dadanya gelisah.
Kring~
"!"
Ponselnya
yang jarang berdering membuatnya terkejut. Ia mengambilnya.
"…Haru-chan."
"Uhm,
Hime-chan? A-Ada apa?"
"…Kamu
tidak apa-apa?"
"Uhm,
maksudmu apa…?"
Suara
Himeko gelap, serius. Haruki tidak mengerti.
Rasanya
hatinya dibeberkan, detak jantungnya berpacu.
"…Berat
badanku naik [X] kilo."
"—!"
Ia terdiam.
Ia punya kecurigaan.
"Haru-chan,
kamu nambah porsi hari ini juga, kan…?"
"Ah,
ah, ah…!"
Akhir-akhir
ini, makan di tempat Hayato terasa sangat enak.
Tidak
seperti makan mekanis, makan bersama, mengobrol, membuatnya makan lebih banyak,
nambah.
Dan di
rumah, ia makan es krim karena stres, seperti sekarang.
"Bagaimana
denganmu?"
"Tunggu,
sebentar, aku mungkin baik-baik saja kan? Ya, pastinya."
"Hadapi
kenyataan. Ayo perbaiki sebelum terlambat. Timbang berat badanmu
sekarang."
"Haha,
aku baik-baik saja…"
Tapi ia
menyadari pinggang dan lengannya terasa aneh.
Sambil
mengobrol, ia kembali ke kamar mandi, meletakkan ponsel, ragu di depan
timbangan. Menanggalkan pakaian—perlawanan sia-sia untuk beberapa gram.
"Kyaaa!!?!?!?"
Kenyataan
itu kejam.
Seperti
Himeko, berat badan Haruki naik hampir 10% sejak terakhir kali dicek.
"Hehe,
aliansi diet terbentuk, ya?"
Suara
Himeko, yang ingin menyeretnya masuk, bergema dari ponsel.
Tubuh
Haruki, seperti hatinya, sedang berubah, perasaan yang tumbuh berputar semakin
jauh.



Post a Comment