Prolog
Prolog
Hari itu
kembali terasa sangat panas.
Di desa
pegunungan Tsukinose yang tenang, waktu seolah terisolasi dari dunia luar.
Terik matahari pertengahan musim panas bersinar sangat terang, dengan awan
kumulonimbus putih yang mengintip dari balik pegunungan.
Di
pinggiran desa, dekat sebuah kuil kecil pinggir jalan, tiga anak kecil dengan
kaus yang basah menempel di kulit berkeringat mereka, menatap lurus ke satu
titik dengan saksama.
"Aku
akan mengejarnya dari sisi kanan kuil, Haruki, kamu sembunyilah di depan dan
cegat dia."
"Oke,
pastikan kamu menggiringnya ke arahku!"
"Tentu
saja! Jangan sampai gagal, ya?"
"Kamu
juga, Hayato!"
Mereka
saling melempar senyum kecil lalu kembali fokus ke depan.
Di depan
kuil terdapat seekor anak domba, seukuran anjing berukuran sedang, yang sedang
berjemur dengan santainya di bawah sinar matahari. Hewan itu kabur dari rumah
Kakek Gen pagi tadi. Ketiga anak itu bertindak sebagai "Tim Pencari Anak
Domba".
"Haru-chan,
Kakak, bagaimana dengan dariku...?"
Berbeda
dengan Hayato dan Haruki yang begitu bersemangat, Himeko justru tampak gelisah
dan gugup.
"Hmm,
Hime-chan, bagaimana kalau kamu menjaga jalur di sini saja?"
"Ya,
kalau Himeko berdiri di sana, dombanya pasti bakal lari ke arah Haruki."
"B-Baiklah!"
Begitulah,
strategi penangkapan anak domba pun dimulai.
"Ini
dia, Haruki!"
Terkejut
oleh kemunculan dan suara Hayato yang tiba-tiba, anak domba itu sempat membeku
sesaat sebelum akhirnya berlari kencang, persis seperti rencana, melewati kuil
menuju tempat persembunyian Haruki. Kedua bocah laki-laki itu tersenyum penuh
kemenangan.
"Kena
kamu!"
Namun,
domba itu terperanjat oleh lompatan Haruki yang mendadak, lalu mengubah arahnya
secara drastis.
Dalam
sekejap, semua orang terkesiap kaget.
"Himeko!?"
"Hime-chan!?"
"Iik!?"
"Mbee!?"
Himeko
berdiri di sana, membeku karena syok saat domba itu berlari kencang ke arahnya
dengan laju yang tak terhentikan. Tak mampu bergerak, ia langsung memejamkan
mata rapat-rapat.
"~~~!"
"Hime-chan!
…Aduh!"
"Haruki!?"
Suara
dentuman keras bergemuruh. Himeko perlahan membuka matanya dan melihat Haruki
yang terlempar ke belakang hingga terduduk di tanah, serta anak domba yang ikut
terguling jatuh.
Hayato
berlari menghampiri.
"A-Aku
baik-baik saja! Hime-chan juga! Makanya, tangkap dombanya!"
"Baiklah!"
Hayato
sempat ragu sejenak, namun setelah menatap mata Haruki, ia mengangguk lalu
menerjang maju untuk menangkap domba tersebut.
"Himeko,
pergi beri tahu Kakek Gen!"
"B-Baik!"
"Hayato,
cara pegang dombanya salah. Seperti waktu kita lihat saat mencukur bulunya
dulu, ingat?"
"Oh,
benar juga."
Mengikuti
saran Haruki, Hayato menyesuaikan pegangannya, mendudukkan bagian belakang
domba itu ke tanah dan menahannya dari belakang, seperti yang pernah mereka
lihat saat proses pencukuran bulu. Domba itu perlahan menjadi tenang, membuat
mereka menghela napas lega.
"Heh,
kita berhasil, Haruki! Untung saja Himeko tidak apa-apa. Kalau sampai ada anak
perempuan yang terluka, Ibu pasti bakal menceramahiku habis-habisan!"
"Huh,
jadi kalau aku yang terluka nggak apa-apa gitu?"
Haruki
mengerucutkan bibirnya, merajuk pada tawa menggoda Hayato.
"Eh?
Kamu beda. Aku tahu kamu bakal baik-baik saja, Partner!"
Mata Haruki
melebar mendengar kata-kata itu.
Partner.
Menggul
ulang kata tersebut di dalam benaknya, Haruki melihat cengiran tanpa beban
Hayato lalu balas tersenyum lebar.
"Partner,
ya? Baiklah kalau begitu, heh!"
"Ya!
Berkat kamu, kita berhasil menangkapnya!"
"Haha,
benar juga!"
"Hahaha!"
Tawa mereka
melambung tinggi ke langit biru.
Semuanya
masih sama seperti sedia kala. Selalu bersama.
Pakaian
mereka belepotan lumpur, lengan dan kaki telanjang mereka penuh goresan, dengan
senyuman yang jauh lebih terang daripada matahari musim panas.
Hari-hari
yang biasa dan tidak ada istimewanya.
Tak
terhitung banyaknya kenangan yang mereka bangun bersama.
Ini adalah
salah satu dari sekian banyak kenangan indah yang bersinar terang.
Sebuah masa
ketika mereka tidak tahu apa-apa, hanya hidup berdampingan satu sama lain.
Itu adalah sebuah kisah dari hari musim panas yang terik di masa lalu.



Post a Comment