NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 2 Prolog

Prolog


Prolog

Hari itu kembali terasa sangat panas.

Di desa pegunungan Tsukinose yang tenang, waktu seolah terisolasi dari dunia luar. Terik matahari pertengahan musim panas bersinar sangat terang, dengan awan kumulonimbus putih yang mengintip dari balik pegunungan.

Di pinggiran desa, dekat sebuah kuil kecil pinggir jalan, tiga anak kecil dengan kaus yang basah menempel di kulit berkeringat mereka, menatap lurus ke satu titik dengan saksama.

"Aku akan mengejarnya dari sisi kanan kuil, Haruki, kamu sembunyilah di depan dan cegat dia."

"Oke, pastikan kamu menggiringnya ke arahku!"

"Tentu saja! Jangan sampai gagal, ya?"

"Kamu juga, Hayato!"

Mereka saling melempar senyum kecil lalu kembali fokus ke depan.

Di depan kuil terdapat seekor anak domba, seukuran anjing berukuran sedang, yang sedang berjemur dengan santainya di bawah sinar matahari. Hewan itu kabur dari rumah Kakek Gen pagi tadi. Ketiga anak itu bertindak sebagai "Tim Pencari Anak Domba".

"Haru-chan, Kakak, bagaimana dengan dariku...?"

Berbeda dengan Hayato dan Haruki yang begitu bersemangat, Himeko justru tampak gelisah dan gugup.

"Hmm, Hime-chan, bagaimana kalau kamu menjaga jalur di sini saja?"

"Ya, kalau Himeko berdiri di sana, dombanya pasti bakal lari ke arah Haruki."

"B-Baiklah!"

Begitulah, strategi penangkapan anak domba pun dimulai.

"Ini dia, Haruki!"

Terkejut oleh kemunculan dan suara Hayato yang tiba-tiba, anak domba itu sempat membeku sesaat sebelum akhirnya berlari kencang, persis seperti rencana, melewati kuil menuju tempat persembunyian Haruki. Kedua bocah laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan.

"Kena kamu!"

Namun, domba itu terperanjat oleh lompatan Haruki yang mendadak, lalu mengubah arahnya secara drastis.

Dalam sekejap, semua orang terkesiap kaget.

"Himeko!?" "Hime-chan!?"

"Iik!?"

"Mbee!?"

Himeko berdiri di sana, membeku karena syok saat domba itu berlari kencang ke arahnya dengan laju yang tak terhentikan. Tak mampu bergerak, ia langsung memejamkan mata rapat-rapat.

"~~~!"

"Hime-chan! …Aduh!"

"Haruki!?"

Suara dentuman keras bergemuruh. Himeko perlahan membuka matanya dan melihat Haruki yang terlempar ke belakang hingga terduduk di tanah, serta anak domba yang ikut terguling jatuh.

Hayato berlari menghampiri.

"A-Aku baik-baik saja! Hime-chan juga! Makanya, tangkap dombanya!"

"Baiklah!"

Hayato sempat ragu sejenak, namun setelah menatap mata Haruki, ia mengangguk lalu menerjang maju untuk menangkap domba tersebut.

"Himeko, pergi beri tahu Kakek Gen!"

"B-Baik!"

"Hayato, cara pegang dombanya salah. Seperti waktu kita lihat saat mencukur bulunya dulu, ingat?"

"Oh, benar juga."

Mengikuti saran Haruki, Hayato menyesuaikan pegangannya, mendudukkan bagian belakang domba itu ke tanah dan menahannya dari belakang, seperti yang pernah mereka lihat saat proses pencukuran bulu. Domba itu perlahan menjadi tenang, membuat mereka menghela napas lega.

"Heh, kita berhasil, Haruki! Untung saja Himeko tidak apa-apa. Kalau sampai ada anak perempuan yang terluka, Ibu pasti bakal menceramahiku habis-habisan!"

"Huh, jadi kalau aku yang terluka nggak apa-apa gitu?"

Haruki mengerucutkan bibirnya, merajuk pada tawa menggoda Hayato.

"Eh? Kamu beda. Aku tahu kamu bakal baik-baik saja, Partner!"

Mata Haruki melebar mendengar kata-kata itu.

Partner.

Menggul ulang kata tersebut di dalam benaknya, Haruki melihat cengiran tanpa beban Hayato lalu balas tersenyum lebar.

"Partner, ya? Baiklah kalau begitu, heh!"

"Ya! Berkat kamu, kita berhasil menangkapnya!"

"Haha, benar juga!"

"Hahaha!"

Tawa mereka melambung tinggi ke langit biru.

Semuanya masih sama seperti sedia kala. Selalu bersama.

Pakaian mereka belepotan lumpur, lengan dan kaki telanjang mereka penuh goresan, dengan senyuman yang jauh lebih terang daripada matahari musim panas.

Hari-hari yang biasa dan tidak ada istimewanya.

Tak terhitung banyaknya kenangan yang mereka bangun bersama.

Ini adalah salah satu dari sekian banyak kenangan indah yang bersinar terang.

Sebuah masa ketika mereka tidak tahu apa-apa, hanya hidup berdampingan satu sama lain.

Itu adalah sebuah kisah dari hari musim panas yang terik di masa lalu.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close