Chapter 6
Jangan Main-Main!
Dalam perjalanan
pulang dari sekolah setelah kegiatan klub, Kazuki turun dari kereta ekspres
satu stasiun lebih awal dari biasanya.
Sedikit merasa
kebingungan di stasiun yang asing baginya, ia melangkah melewati gerbang tiket.
Kota di
hadapannya terasa asing, dipenuhi oleh orang-orang yang bergegas pulang kerja
atau sekolah, serta penduduk lokal yang sedang berbelanja di senja hari.
Ia sebenarnya
tidak punya alasan khusus untuk berada di sini.
Ia hanya
tidak ingin langsung pulang ke rumah.
Mengurung
diri di rumah hanya akan membuatnya terus memikirkan hal-hal yang tidak
menyenangkan.
Melirik
sekeliling, ia melangkah ke jalan utama menuju rumahnya. Rute ini terasa asing,
tapi menjaga rel kereta tetap berada di dalam jangkauan pandangan seharusnya
bisa memandunya pulang.
Dengan
bahu membungkuk, ia menatap kosong ke arah aspal, ekspresinya tampak suram.
Hatinya
sedang kacau balau.
Menyapu
tangan ke dahi, ia menjambak rambutnya sendiri dan menghela napas panjang,
namun suara helaan napas itu dengan cepat tenggelam oleh deru knalpot mobil
yang melintas kencang.
Sejak
kemarin, pikirannya terus berputar-putar mengenang momen saat ia membongkar
rahasia kakaknya.
Kakaknya,
Momoka—yang dikenal sebagai MOMO—adalah seorang selebriti terkenal.
Bohong
rasanya jika ia mengaku tidak terganggu dengan orang-orang yang mengetahui hal
itu. Tahun lalu, di tengah masa-masa ia mengucilkan diri, orang-orang justru
mendekatinya demi bisa mencapai sang kakak, membuat situasinya semakin tidak
nyaman.
Secara nalar, ia
tahu bahwa teman-temannya tidak seperti itu. Ia mempercayai mereka.
Ia sebenarnya
selalu berniat untuk menceritakan hal itu kepada mereka pada akhirnya.
Namun hari
kemarin terjadi begitu saja secara mendadak, dan ia sama sekali belum siap.
Wajah-wajah
terkejut mereka, keheningan yang canggung, tatapan mata yang tertuju
padanya—semua itu terasa terlalu mirip dengan keterasingan yang pernah ia
derita sebelumnya. Takut mereka akan bereaksi dengan cara yang sama, ia malah
kabur. Betapa pengecannya dirinya.
Ia tidak tahu
bagaimana caranya menghadapi mereka.
Pagi tadi, Hayato
sempat mencoba bersikap biasa saja dan mengajaknya bicara, namun kecemasan dan
rasa malu membuat pandangan Kazuki menjadi kabur.
Tepat saat itu,
sekelompok siswa—tujuh anak laki-laki dan perempuan, mungkin usianya sedikit
lebih muda, anak SMP—berpapasan dengannya. Obrolan mereka tentang stan
festival, tempat janjian, waktu kembang api, dan yukata tertangkap oleh
telinganya. Mereka sepertinya sedang antusias membahas festival musim gugur
keesokan harinya.
Dadanya
bergemuruh.
Mereka
terlihat begitu bersinar.
Lalu apa
yang harus kulakukan dengan festival besok?
Ia
mencoba membayangkan dirinya berada di sana.
Senyuman
kaku, obrolan basa-basi yang dangkal, interaksi yang penuh
kehati-hatian—situasi itu sama sekali tidak akan menyenangkan.
"…Himeko-chan
sepertinya benar-benar menantikannya, ya?"
Ia
membayangkan adik perempuan dari temannya itu, gadis yang mengusulkan ide
festival tersebut.
Dengan
sifatnya yang jujur dan tanpa tedeng aling-aling, gadis itu mungkin akan
kesulitan menyembunyikan rasa canggungnya, wajahnya dipenuhi kebingungan
seperti kemarin. Atau lebih buruk lagi, gadis itu mungkin akan merasa terluka
oleh ketegangan di antara mereka, menunjukkan ekspresi kesakitan yang sama
seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.
"!"
Ingatan
tentang kejadian di kolam renang itu selalu berhasil membuat dadanya terasa
nyeri.
Ia ingin
gadis yang selalu ceria tanpa batas itu, yang melihatnya hanya sebagai sahabat
kakaknya, untuk terus tersenyum.
"…Mungkin
lebih baik kalau aku tidak usah pergi saja."
Ia
bergumam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Jika ia
tidak datang, tidak akan ada masalah. Senyuman gadis itu akan aman.
Ya, itu
akan baik-baik saja.
Waktu
akan membereskan semua ini.
Oleh
karena itu, ia hanya perlu mencari alasan untuk membolos dari festival—itu
pasti solusi terbaiknya.
Menjelang
Kazuki mengambil kesimpulan ini, stasiun yang familier sudah berada di
dekatnya. Rumahnya hanya tinggal beberapa langkah lagi.
"Aku
pula—"
Kazuki
memulai salam rutinnya saat membuka pintu rumah, lalu perlahan ia mengerutkan
kening. Sepasang sepatu wanita yang asing, bukan milik kakaknya, tersusun rapi
di area pintu masuk.
Jarang
sekali ada orang yang repot-repot bertamu ke rumah kakaknya yang berjiwa bebas
itu, mengingat mereka pasti akan diperlakukan semena-mena.
Menebak
siapa tamu tersebut, ia melangkah masuk ke ruang keluarga dengan ekspresi
sedikit tidak senang.
"Aku pulang,
Nee-san. Kamu juga ada di sini, Airi?"
"Oh?"
"Hei,
Kazukichi, terima kasih sudah mengizinkanku mampir!"
Memastikan
tebakannya benar, mata Kazuki menyipit menatap benda yang sedang mereka pegang.
"Itu..."
"Yup,
yukata. Bagaimana menurutmu?"
Airi memamerkan
pakaian itu ke tubuhnya sambil berputar pelan. Yukata tersebut tampak cerah dan
sangat cocok untuknya.
Namun
Kazuki tertegun, tidak tahu harus merespons bagaimana.
Apa sebenarnya
niat mereka?
Mengingat
kejadian kemarin, ia tidak bisa mengusir rasa gelisahnya, meskipun ia tahu
sikapnya ini egois.
Suaranya menegang
saat ia bertanya, "…Sedang apa kalian dengan pakaian-pakaian itu?"
"Kami
berencana pergi ke festival musim gugur besok."
"…Bukankah
itu akan menimbulkan kehebohan? Lagipula Nee-san, kamu biasanya lebih suka
mengurung diri di rumah dan menghindari hal-hal seperti ini."
"Hmm, kalau
kita tidak bersembunyi dan bertindak biasa saja, mungkin tidak akan ada yang
sadar?"
"Kami ingin
menikmatinya seperti anak SMA pada umumnya, tahu."
"Stan
makanan di sana sudah memanggil-manggil namaku."
"Um,
terserah kalianlah..."
Kakaknya menjawab
dengan santai sambil sibuk memperhatikan kuku jarinya seperti biasa.
Respons yang
sudah bisa ditebak itu membuat sudut bibir Kazuki berkedut kesal.
Festival, dari
semua hal yang ada di dunia ini.
Sembari menghela
napas, ia berniat pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri sebelum suara tajam
Airi menghentikannya.
"Kazukichi,
kalian juga akan pergi ke festival besok, kan? Kenapa tidak bergabung saja
dengan kami? Pasti seru."
"Gadis
berambut panjang kemarin itu keren dan manis. Kalau ada orang sepertinya di
sekitar kita, kita bisa membaur tanpa masalah. Saling menguntungkan, kan."
"Aku
tidak akan pergi."
"—Hah?"
Suara
terkejut Airi menyapa pendengarannya.
Kazuki
sendiri terkejut dengan nada bicaranya yang terdengar begitu dingin.
"Aku
tidak akan pergi—atau lebih tepatnya, aku tidak bisa. Kemarin, semua orang tahu kalau Nee-san adalah
MOMO. Suasana di sekolah hari ini juga terasa canggung. Kalau aku ikut, aku
hanya akan merusak suasananya... Jadi, aku tidak bisa. Haha..."
Ia mengalihkan
pandangannya, menurunkan bulu matanya seraya melontarkan tawa mengejek pada
diri sendiri.
Ia tahu dirinya
bersikap kekanak-kanakan, bahkan mungkin dipenuhi rasa dengki. Namun begitu ia
mulai mengucapkannya, ia tidak bisa menghentikannya lagi.
Ini bukan salah
Airi ataupun Momoka—ini adalah sebuah kebetulan. Namun mereka adalah bagian
dari akar masalah tersebut.
Pialanya paham,
tapi hatinya tidak bisa menerimanya begitu saja.
Mengucapkannya
dengan suara lantang sedikit mendinginkan emosinya.
Menyadari bahwa
ia telah bertindak terlalu jauh, ia mendongak untuk melihat, hanya untuk
mendapati tatapan tajam Airi, alis halusnya terangkat, memancarkan bukan
sekadar keseriusan melainkan kemarahan.
"Jangan
main-main!"
Teriakan tajam
dan tak terduga itu membuatnya terlonjak kaget.
Ia belum
pernah melihat gadis itu seperti ini.
"Apa
maksudmu, kamu sedang bilang kalau mereka itu orang-orang bodoh?"
"Airi!"
Perkataan
berikutnya membuat darah meremor deras ke kepalanya, dan ia balik membentak.
Itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima.
Ia balas
menatap gadis itu dengan sengit.
Namun mata Airi
semakin menajam, kata-katanya meluncur tanpa henti.
"Karena
kalau kamu ngomong begitu, itu sama saja dengan bilang kalau Hayato-kun dan
yang lainnya bakal berubah sikap cuma karena tahu kamu adiknya MOMO—seolah-olah
mereka adalah tipe orang seperti itu!"
"Itu...
Memangnya apa yang kamu tahu!"
"Aku
tahu!"
"!"
"Aku sempat
ngobrol dengan mereka! Kemarin, gadis itu... Dia begitu tulus dan
sungguh-sungguh, bukan tipe orang yang akan menghakimi orang lain
sembarangan—tidak seperti orang-orang di luar sana! Kamu sendiri tahu kan hal
itu lebih baik dari siapapun!?"
"Itu..."
"Kalau
begitu! Kalau begitu kenapa kamu tidak bisa mempercayai teman-temanmu
sendiri...?"
Suara Airi
bergetar, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.
Ucapannya
terdengar bagaikan sebuah permohonan—dan kalimat itu merasuk tepat ke dalam
lubuk hati Kazuki.
Gadis itu
benar seutuhnya.
Ia
mempercayai Hayato dan yang lainnya.
Ia harus
mempercayai mereka.
Waktu yang
mereka habiskan bersama, meski belum terlalu lama, telah membuktikannya.
Namun saat
ia mencoba menyelami isi hatinya sendiri, kenangan masa lalu kembali muncul ke
permukaan, memelintir ekspresinya.
Keraguan itu
bermuara pada satu hal.
"Aku
takut."
"…Takut?"
"Takut
membuat mereka merasa tidak nyaman, takut mengecewakan mereka, takut dipandang
dengan cara yang berbeda... Aku tidak ingin dibenci..."
Ya, ia merasa
ketakutan. Ia tidak ingin dibenci.
Ia pernah mengaku
hal ini kepada mantan pacar sekaligus "rekan sekongkolannya" di masa
lalu.
Tidak peduli
seberapa besar ia mempercayai mereka, rasa sakit karena dicap sebagai
pengkhianat masih membekas dan berdenyut di dalam dadanya. Betapa malangnya
dirinya. Wajahnya terpahat dalam ekspresi tersiksa.
Ia tahu dirinya
bersikap pengecut. Ia sudah berusaha untuk mengatasi ketakutan itu.
Namun dirinya
yang sekarang masih berantakan, membuat ia menertawakan kelemahannya sendiri.
Namun di luar
dugaan, Airi justru memberinya sebuah senyuman hangat yang merangkul.
"Jangan
pasang wajah seperti itu."
"…Hah?"
"Kalau kamu
terus memaksakan senyum palsu begitu, mereka juga akan ikut merasa sakit hati
karenanya... Mereka itu tipe orang yang seperti itu, kan?"
"…Ah."
"Makanya,
kumpulkan sedikit keberanian dan tersenyumlah. Tegakkan kepalamu."
"…Ya, kamu
benar. Terima kasih, Airi."
"Hehe,
sama-sama."
Selesai berkata
demikian, Airi tersenyum lembut, memutar tubuh pemuda itu menghadap ke depan,
lalu mendorongnya pelan.
"Airi?"
"Ayo sana,
tidak ada waktu untuk bermuram durja. Hayato-kun mungkin sedang cemas setengah
mati, tahu."
"Ya, mungkin
saja."
"Nah,
kan?"
Gadis itu
jelas-jelas sedang mendorongnya kembali ke kamarnya untuk mengambil tindakan
menghubungi mereka.
Namun ada sesuatu
yang terasa mengganjal di benaknya.
Ia langsung
menyadari alasannya.
Ekspresi Airi
kali ini sangat berbeda dari saat mereka masih "berpacaran" demi
pura-pura semata.
Tapi apakah
perasaan ini...
Kazuki ragu-ragu.
Apakah menyadari hal ini akan berdampak positif atau negatif bagi gadis itu?
Mengucapkannya
mungkin akan membuatnya kesal atau terluka.
Namun gadis itu
baru saja memberinya pelajaran tentang keberanian, dan Iori serta Ema telah
menunjukkan padanya betapa pentingnya untuk jujur bersuara.
Menelan
ludah dengan susah payah, ia mulai berucap.
"Kata-kata
barusan, Airi... Terdengar begitu jujur. Mirip seperti saat kita di festival
olahraga SMP dulu, waktu lomba estafet."
"…Hah?"
"Kamu
tidak ingat? Itu adalah balapan penentuan kemenangan melawan anak-anak dari
klub atletik. Sebagian besar orang mungkin akan merasa ciut atau berpikir kalau
kekalahan adalah hal yang tak terhindarkan, tapi kamu berlari dengan
mengerahkan seluruh tenagamu. Pemandangan itu begitu memukau, terekam kuat di
dalam ingatanku... Makanya waktu itu aku memberanikan diri untuk mengajakmu
bicara."
"…Memangnya
ada kejadian seperti itu ya?"
"Haha, ada
kok."
Diiringi suara
kebingungan Airi dari balik punggungnya, Kazuki melangkah kembali ke dalam
kamarnya. Ia
menyambar ponsel dari dalam tas lalu duduk di tepi ranjang.
Melakukan
panggilan telepon terasa terlalu berat baginya saat ini. Sejujurnya, berbicara
secara langsung membutuhkan persiapan mental yang lebih matang.
Namun ia ingin
menyampaikan niatnya dengan cara apa pun, jadi ia membuka aplikasi pesan
singkat.
Setelah
berkali-kali mengetik dan menghapus kalimat, saat malam mulai turun dan cahaya
layar ponsel menjadi satu-satunya penerangan di dalam kamar, ia akhirnya
merangkai kata-kata yang dirasa cukup pantas untuk dikirimkan.
Sambil menarik
napas dalam-dalam, ia mengetuk tombol kirim atas dorongan hatinya.
"Tempat
dan jam janjian besok tetap sama kan?"
Sebuah
pesan singkat yang bernada santai.
Ia tahu
dirinya sedang mengambil jalan aman dan bersikap setengah-setengah.
Jantungnya
berdegup kencang, tidak sabar menantikan balasan.
Satu menit? Dua
menit? Lima menit?
Menatap layar
ponselnya, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka mungkin belum melihat
pesan itu atau belum sempat membalasnya. Tepat saat ia hendak bangkit berdiri,
sebuah balasan dari Hayato muncul di layar.
"Tidak ada
perubahan. Jam 4.30 di tempat biasa."
Singkat, padat,
dan sangat mencerminkan gaya Hayato.
Namun beberapa
baris di bawahnya, ada kalimat lain yang menyusul.
"Jangan
terlambat."
Kalimat tersebut,
yang mengasumsikan bahwa dirinya pasti akan datang, membuat Kazuki bergumam,
"Ah," sementara matanya terasa hangat.
◇◇◇
"Aku
akan mengantarmu pulang, Airin."
Jarang sekali
Momoka yang santai mau menawarkan diri seperti ini.
Tanpa alasan
untuk menolak, Airi berjalan bergandengan tangan dengannya menyusuri jalan
perumahan yang terang oleh lampu.
Saat jalan raya
yang sibuk mulai terlihat, Airi melontarkan sebuah isi hatinya dengan suara
pelan.
"Kazukichi
itu brengsek banget, ya kan?"
"…Airin."
"Kupikir
cuma aku yang merasakannya... Perasaan cewek bakal hancur tahu rasanya
digituin."
"…Iya, aku
paham."
"Ugh, bodoh!
Bodoh, bodoh, bodoh! Kazukichi, si playboy tolol! Gigolo natural!"
"Kurasa cara
aku dibesarkan dulu berbuah dengan cara yang agak aneh."
Candaan
Momoka memancing tawa kecil dari Airi.
Namun ekspresinya
perlahan memudar tak lama kemudian.
"Tapi merasa
bahagia karena hal sepele kayak gitu malah bikin aku makin susah buat
melepasnya... Aku memang bodoh..."
Suaranya bergetar
menahan tangis, tenggelam oleh deru truk yang lewat.
Airi
menghentikan langkahnya, berdiri mematung di tempat.
Momoka
memeluknya erat dari samping.
"Aku
menyayangimu, Airin."
"…Iya."



Post a Comment