Selingan 5
Orang
Pertama
Hayato akhirnya memutuskan untuk membantu Mari secara
sungguh-sungguh setelah didorong oleh Saki.
Meskipun begitu, karena sudah telanjur terjun, ia tentu
akan melakukannya dengan sekuat tenaga. Sambil merasa bahwa ilmunya ini hanya
sekadar ilmu instan, ia bahkan membeli buku pengantar tentang teknik fotografi
kamera.
Selain itu, semenjak Haruki menjadi seorang idol, Saki
dan orang-orang di sekitarnya selalu memperlihatkan figur dirinya yang lesu.
Ini juga bisa menjadi kesempatan bagus untuk menyemangati diri sendiri dan
menata ulang niat.
Dalam rapat strategi beberapa hari lalu, diputuskan bahwa
mereka akan membuat akun media sosial bernama Klub Penggemar Tidak Resmi
Tinkle.
Meskipun dinamakan tidak resmi, rencananya Mari sendiri
akan secara terbuka mengumumkan keterlibatannya dan bahwa diriku yang
mengelolanya lewat akun pribadinya.
Mari langsung menghubungi manajer dan berhasil
mendapatkan izin untuk melakukan kegiatan semacam ini.
Maklum saja, karena sudah terbiasa hidup di dunia hiburan
sejak usia muda, ia sangat teliti dalam hal lobi-lobi seperti itu.
Omong-omong, konon ada akun resmi Tinkle yang juga
digunakan untuk promosi.
Namun, menurut Mari, akun tersebut terasa kaku dan
membosankan. Karena itulah, hal ini bisa dibilang memiliki sisi sebagai promosi
kegiatan idol secara pribadi oleh Mari.
Mari mengatakan bahwa foto-foto yang diunggah ke akun ini
tidak hanya berkisar pada kegiatan mereka sebagai Tinkle, tapi ia juga ingin
memuat foto snap pribadi miliknya. Cukup licik juga.
Kendati demikian, tujuan awal mereka adalah untuk
menunjukkan bahwa Mari sama sekali tidak kalah dari Haruki. Foto-foto seperti
itu tentu saja diperlukan juga.
Lalu, sebelum memulai operasional akun tersebut, mereka
mengambil kebijakan untuk menyiapkan sejumlah foto terlebih dahulu.
Katanya, mereka harus mengunggah foto-foto menarik secara
beruntun agar dikenali oleh sekitar dan mendapatkan pengikut.
Bagi Hayato yang tidak pernah menggunakan media sosial,
hal itu sama sekali tidak masuk di akal, tapi karena Mari menjelaskannya dengan
penuh semangat, yah, sepertinya memang begitu.
Mengenai foto snap pribadi Mari, hasil diskusi
rapat strategi memutuskan bahwa foto-foto tersebut akan diambil dengan
menentukan tema tertentu.
Tema itu nantinya akan dibahas secara bertahap
melalui grup chat bertiga yang juga menyertakan Saki, dan masalah utamanya
adalah foto Tinkle itu sendiri.
Situasi saat ini, foto-foto yang diambil pada acara
Golden Rookie Festa beberapa hari lalu masih jauh dari kata cukup.
Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mengambil
foto di acara lain yang akan dihadiri berikutnya.
Untungnya, Tinkle tampaknya sangat sibuk dan masih
memiliki banyak jadwal penampilan di berbagai acara.
Acara terdekat yang jadwalnya cocok dengan waktu
luang Hayato dan kawan-kawan tampaknya diadakan di panggung terbuka pinggiran
kota.
Tepat pada hari acara di akhir pekan berikutnya,
Hayato mendatangi tempat tersebut bersama Saki.
Sama seperti saat di Shine Spirits City tempo hari,
arus orang-orang terlihat mengalir dari stasiun menuju taman tempat acara
dilangsungkan, membuat mereka tidak mungkin tersesat.
Melihat pemandangan tersebut, Saki berkata dengan
ekspresi antusias.
"Suasananya luar biasa sekali... Aku jadi sedikit
bersemangat."
"Ngomong-ngomong, Saki-san baru pertama kali ini
menonton penampilan langsung Haruki, ya?"
"Iya, aku hanya pernah menontonnya lewat video
saja."
"Daya dobrak aslinya sama sekali berbeda
dibandingkan lewat layar kaca."
Hayato mengenang acara beberapa hari lalu sambil menjawab
dengan senyuman yang sulit diartikan.
Lalu, bersama Saki yang memancarkan mata penuh antisipasi
sambil berkata, "Begitu ya", mereka melangkah menuju venue.
Alun-alun tempat panggung berdiri sudah dipenuhi oleh
banyak orang.
Dari jumlah staf pengatur kelancaran yang berada di
berbagai titik, bisa ditebak bahwa ini adalah acara berskala cukup besar.
Hayato dan Saki menuju ke area prioritas menggunakan
tiket yang dikirimkan oleh Mari.
Ngomong-ngomong, Hayato sempat berniat membayar harganya,
namun ia ditolak dengan alasan bahwa itu adalah biaya operasional klub
penggemar tidak resmi.
Meskipun ia bersikeras ingin tetap membayar, Mari
beralasan bahwa tiket undangan untuk kerabatnya masih berlebih dan adalah
impiannya untuk mengajak seorang teman, membuatnya kesulitan menolak, dan
akhirnya ia memilih untuk mengiyakan perkataan tersebut.
Area prioritas pun dipadati oleh banyak orang, dan gelora
panas akibat ekspektasi terhadap acara berputar di udara.
Ia bisa merasakan sensasi getaran di kulitnya.
Suasana yang sama persis seperti saat Golden Rookie
Festa.
Sama seperti orang-orang di sekitarnya, Saki tampak
meluap-luap penuh semangat.
Di sisi lain, Hayato sadar kalau dirinya sedang merasa
sangat gugup.
Untuk mengalihkan perhatian, ia mengangkat ponselnya,
mengaktifkan fungsi kamera, lalu mengintip ke arah panggung.
Namun ujung jarinya bergetar membuat layar ponselnya
berguncang. Merasa kesal pada diri sendiri, ia melontarkan decakan lidah.
Ini adalah pertama kalinya ia mengambil foto dengan
tujuan seperti ini. Ia sama sekali tidak punya kepercayaan diri untuk
melakukannya dengan baik.
Selain itu, melalui saringan kamera ini, ia terpaksa
harus berhadapan langsung dengan sosok Haruki saat ini, dan ia sangat ketakutan
akan kenyataan pahit yang mungkin akan ditampar secara gamblang padanya.
Sungguh menyedihkan. Rasa bersalah pada Mari pun turut
menyeruak.
Tepat pada saat itu, Saki tiba-tiba menumpuk tangannya di
atas tangan Hayato, lalu menurunkan ponselnya ke bawah.
"Kakak, tolong tarik napas dalam-dalam."
"Hah..."
"Pejamkan mata, lalu keluarkan napas seolah-olah
Anda sedang membuang endapan keruh di dalam dada."
"Hah..."
Sesuai dengan apa yang dikatakan Saki, ia mengulangi
beberapa kali latihan pernapasan dalam tersebut.
Begitu membuka mata setelah perasaannya sedikit lebih
tenang, Saki tersenyum malu-malu dengan rona tipis di wajahnya.
"Kakak, apa sudah tenang?"
"Ah, ya. Terima kasih."
"Kalau begitu, tolong perlihatkan foto-foto yang
Kakak anggap menarik kepada saya, ya!"
"────Ah."
--Kepada saya.
Kata-kata Saki tersebut berhembus menembus dadanya
bagaikan embusan angin, menerbangkan sisa-sisa endapan keruh yang tadinya
sempat menggelayut.
Kehangatan dari tangan Saki yang menempel di tangannya
menghangatkan dadanya yang sempat terasa kosong.
Ia teringat kembali pada perkataan Saki beberapa hari
lalu.
--Bukankah foto-foto itu diambil karena Kakak ingin
berbagi hal yang indah dengan seseorang?
Selama ini ia tidak pernah menyadarinya, namun jika
dipikir-pikir kembali, mungkin jauh di lubuk hatinya memang seperti itulah
adanya.
Jika memang begitu, hari ini ia akan memotret demi Saki.
Ia akan mencari hal-hal memukau yang ingin ia tunjukkan
pada Saki.
Dadanya bergemuruh semakin kencang. Sudut bibirnya pun
tersenyum secara alami.
Sensasi seolah hendak pergi bermain penuh kenakalan,
sebuah gelora kegembiraan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.
Hayato merekah sebuah senyuman cerah ke arah Saki.
"Haha, serahkan padaku!"
Jantung Saki berdetak kencang jauh melebihi batas normal.
Suaranya bahkan jauh lebih berisik dibandingkan suasana
panggung yang kini mencapai puncaknya berkat kemunculan Haruki dan Mari.
Senyuman yang baru saja dilemparkan oleh orang yang
dicintainya, Hayato, begitu berdampak luar biasa.
Sebab senyuman itu sama persis dengan senyuman yang
selama ini terus diidam-idamkan oleh Saki, senyuman yang ditujukan oleh Hayato
kepada orang yang sangat berharga baginya, Haruki.
Terlebih lagi, ia berhasil meruntuhkan bayang-bayang
muram yang menyelimuti Hayato belakangan ini, dan dialah yang memancing
senyuman itu keluar.
Hayato pada saat itu benar-benar hanya melihat ke arah
Saki saja. Hal itu pastilah bukan sekadar perasaan geer belaka.
Perasaan tulus Hayato tercurah sepenuhnya hanya kepada
Saki.
Ia sudah mengamati Hayato dari dekat selama
bertahun-tahun lamanya.
Tidak mungkin ia salah mengenali hal tersebut.
Melirik sekilas ke arah Hayato di sebelah, pria itu
sedang memegang ponselnya dengan tatapan serius, namun dibarengi dengan
senyuman polos—ekspresi yang paling sangat disukai oleh Saki.
Demi memotret hal-hal menarik untuk Saki.
Karena Saki yang memintanya.
Fakta tersebut membuat kedua pipi Saki memanas hingga
ke ujung telinga.
Sejujurnya, Saki tidak tahu apakah kemampuan
fotografi Hayato itu bagus atau buruk.
Hanya saja, saat foto-foto tersebut ditunjukkan oleh
Mari beberapa hari lalu, keterkejutan dan emosi haru Hayato tersampaikan dengan
begitu jelas.
Di dalam foto-foto itu, perasaan Hayato tertuang
dengan sangat nyata.
Oleh karena itu, foto-foto yang sedang diambil oleh
Hayato sekarang pasti akan mampu memancarkan pesona Haruki dan Mari yang hanya
diketahui oleh Hayato seorang.
Serta, boleh jadi foto-foto yang sedang dijepret oleh
Hayato saat ini adalah foto pertama yang ia ambil khusus untuk seseorang.
Dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Saki.
Memikirkan bahwa dirinyalah orang pertama
tersebut—membuat bagian bawah kakinya terasa melayang seolah ia sedang
melambung tinggi menuju langit.
Rasanya ia ingin menyombongkan hal itu ke seluruh dunia.
Dan Saki memiliki semacam keyakinan yang kuat.
Operasional klub penggemar tidak resmi Tinkle ini
pasti akan berjalan dengan sukses.
Keesokan harinya, persis seperti keyakinan Saki.
Foto-foto yang diunggah oleh Hayato di Tinkle semuanya
meledak di media sosial.



Post a Comment