Chapter 8
Mari Jalani
Hidup Apa Adanya
Setengah bulan telah berlalu sejak akun Klub
Penggemar Tidak Resmi Tinkle mulai beroperasi.
Musim pun telah memasuki bulan Juni dan awal musim
panas, membuat udara terasa jauh lebih hangat.
Di pagi hari, Hayato yang bermandi keringat karena
tidur melepas selimutnya dengan mata yang masih setengah terbuka.
Ia meraba ponselnya di dekat bantal dengan mata yang
mengantuk, lalu melihat beberapa notifikasi dari Mari dan mendesah panjang
bersamaan dengan helaan napas pasrah.
"Kenapa malah bagian sini yang viral?!"
"Lagian, kenapa semua hal yang kupikirkan meleset
terus sih!?"
"Citraku hancur lagiー!"
"Walaupun tidak viral pun, ini jauh lebih baik
sih!"
Setelah mengecek pesan dari Mari, Hayato mengusap
layarnya untuk kembali ke atas. Lalu, ia mendapati foto yang diunggah ke Klub
Penggemar Tidak Resmi Tinkle tadi malam sebelum tidur, yang menjadi pemicu
dikirimkannya pesan-pesan dari Mari tersebut.
Foto itu memperlihatkan Mari yang melayangkan pukulan
angin secara asal-asalan di arena batting center, kehilangan keseimbangan, dan
tampak panik seolah hampir terjatuh.
Omong-omong, setelah kejadian itu, Mari benar-benar jatuh
terduduk dengan gaya yang cukup heboh.
Hayato tersenyum puas sambil mengetik balasannya.
"Untung banget, pamorasnamu jadi naik lagi
berkat tag #MariUkyu."
Meskipun masih pagi, balasan dari Mari langsung masuk
seketika.
"Nggak untung sama sekali! Belakangan ini, tatapan
para staf di lokasi syuting jadi terasa setengah iba! Terlebih
lagi, si tante itu ikut-ikutan meledekku bersama yang lain!"
"Bukannya itu artinya karakter seperti itu
disukai dan diterima orang-orang? Malah menguntungkan buat seorang idol,
kan?"
"Mungkin juga sih! Hiks, padahal aku ingin
menjadi idol jalur utama yang keren, berkilau, dan diidolakan semua
orang..."
"Idol ceroboh yang memaksakan diri tapi tetap
memperlihatkan celah imut sepertinya tidak masalah, kan."
Sambil terkekeh kecil mengejek, Saki turut
menyumbangkan komentar bernada mendukung.
"Tapi nyatanya, justru banyak suara yang bilang
kalau sisi ceroboh itu terlihat imut, bukan? Di sekolahku, topik tentang
#MariUkyu juga sering dibicarakan di kelas lho."
"Ah, di kelasku juga aku dengar rumornya.
Katanya Mari selalu gagal terus, tapi usaha kerasnya itu kelihatan seperti anak
kecil yang patuh──seperti adik perempuan sendiri, jadi imut."
"Woi, kalian berdua, barusan mau bilang aku
bocah, ya!?"
Hayato membayangkan Mari yang sedang merengut kesal
di balik layar ponselnya, membuat bahunya bergetar menahan tawa.
Saki juga pasti sedang tersenyum geli di sana.
Setelah cukup puas tertawa, ia berpikir sambil
bersiap-siap untuk berangkat pagi.
Pertanyaan demi pertanyaan yang langsung dibalas
sekilas mirip dengan gaya interaksinya bersama Haruki. Apakah ini karena mereka
berdua adalah bibi dan keponakan?
Selain itu, Mari juga langsung akrab dengan Saki.
Gadis itu selalu mengajaknya setiap kali memotret foto snap, dan Hayato
sering melihat mereka asyik berdiskusi soal koreografi di sana.
Mengingat hal-hal tersebut, ia meninggalkan rumah di
waktu yang sama seperti biasanya.
Begitulah cara Hayato mulai mengunggah foto-foto ke
Klub Penggemar Tidak Resmi Tinkle.
Berkat Mari yang sudah memiliki pengikut dalam jumlah
lumayan dan melakukan pengumuman awal serta pengarahan, foto-foto yang diunggah
semuanya mendulang ulasan positif.
Sebagian fans membisikkan bahwa mereka bisa melihat
sisi keren yang baru dari Haruki dan Mari, cahayanya benar-benar bersinar
terang, hingga kekuatan visualnya terasa lebih hidup daripada foto resmi,
membuat Hayato yang memotretnya merasa tersanjung.
Semua foto tersebut diambil karena ia ingin membuat
Saki, Haruki, dan Mari terkejut atau sekadar ingin tertawa bersama saat
melihatnya.
Semenjak ia mulai menyadari hal itu sendiri, memotret
jadi terasa jauh lebih menyenangkan. Terutama sejak ia memulai kampanye
#MariUkyu ini.
Omong-omong, tag #MariUkyu itu dicetuskan oleh Hayato
sendiri.
Mulanya, ia mengunggah foto snap biasa dari
Mari, tetapi responsnya biasa saja.
Sebagai contoh, kali ini ia mengambil tema
"Seandainya Berkencan dengan Mari──", memperlihatkan momen saat ia
makan parfait di toko populer, bermain dengan kucing di kafe kucing, hingga
tampak gembira di fasilitas hiburan.
Meskipun responsnya lumayan, itu masih jauh dari kata
menandingi kepopuleran konten Tinkle.
Hayato lantas mengajak Mari yang sedang mengalami
kebuntuan untuk mengunggah momen ireguler yang ditangkapnya secara kebetulan
sebagai kesempatan emas, dengan syarat jika responsnya buruk akan langsung
dihapus. Foto yang sedang viral saat ini pun adalah salah satunya.
Selain itu, foto-foto lain yang sempat viral meliputi
wajah panik saat menjatuhkan krim parfait, atau saat memasang mata berkaca-kaca
karena diabaikan total oleh kucing saat mencoba memancingnya dengan mainan di
kafe kucing.
Tentu saja, karena semua itu terjadi di luar dugaan sang
idol sendiri, Mari tampak tidak terima.
Namun, bagi Hayato, semua foto itu justru memperlihatkan
pesona asli Mari apa adanya.
Berkat hal itu pula, arah angin penilaian terhadap Mari
berubah drastis belakangan ini.
Meskipun ceroboh, ia punya daya tarik dan pesona yang
tidak kalah dari Haruki──ia berhasil membuat orang-orang berpikir seperti itu.
Faktanya, kemampuan Mari tidaklah rendah sama sekali.
Bahkan saat ajang Golden Rookie Festa beberapa hari lalu, ia berhasil menonjol
di antara para idol peserta event lainnya.
Hanya saja, kehadirannya tertutup bayang-bayang karena
berada di sebelah Haruki.
Jika pesona baru Mari yang tidak dimiliki orang lain ini
ditonjolkan dengan cara seperti ini, menjadi bahan pembicaraan adalah hal yang
tak terelakkan.
Memikirkan bahwa dialah yang berhasil membawa Mari keluar
dari bayang-bayang Haruki dan menyorotinya ke panggung utama benar-benar memicu
rasa percaya diri tersembunyi dalam dirinya.
Saat Hayato sedang tersenyum simpul dalam hati karena
kembali berhasil menghibur orang-orang lewat jepretan yang dianggapnya menarik,
Saki datang menghampiri tempat mereka biasa bertemu.
Begitu melihat sosok Saki, Hayato mengangkat tangan
dan menyapa.
"Pagi, Saki-san."
"Selamat pagi, Kakak. Reaksi untuk foto yang
diunggah kemarin juga bagus banget, ya!"
"Haha, padahal aslinya Mari sendiri kelihatan tidak
terima."
"Fufu, tapi aku pribadi lebih suka tag #MariUkyu
karena terasa lebih akrab."
Hayato dan Saki saling bertukar pandang, lalu tersenyum
kecil seolah-olah sebuah aksi kenakalan mereka berhasil dengan sukses.
Belakangan ini, ia jadi bisa tersuai tersenyum dengan
perasaan yang jujur seperti ini.
Semua itu berkat Saki yang telah membuatnya menyadari hal
berharga di dalam dasar hatinya.
Tanpa disadari, Saki selalu berada tepat di sampingnya
secara alami, dan kehadirannya bahkan memberikan rasa tenang tersendiri.
Ia masih belum tahu harus menyebut perasaan percaya yang
berbeda dari Haruki ini dengan sebutan apa.
Sambil memikirkan hal itu seraya menatap Saki
lekat-lekat, Saki yang menyadari tatapannya memiringkan kepala dengan bingung.
"Ada apa, Kakak?"
Ia tentu tidak mungkin menceritakan hal yang sedang
dipikirkannya itu kepada Saki secara langsung, jadi ia buru-buru melontarkan
kalimat yang terlintas di kepalanya.
"Ehm, soal klub penggemar tidak resmi itu,
rencananya aku mau mengunggah foto 'Bermain Bersama Mari' yang kita ambil tempo
hari, tapi... karena Saki-san juga ikut tersorot sebagai peran teman, aku jadi
mikir apakah benar-benar tidak apa-apa."
"Ya, tidak apa-apa kok. Wajahku kan tidak
kelihatan."
"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong soal itu,
aku juga sebenarnya pengen sekali memotret Saki-san setidaknya sekali."
Ia keceplosan mengucapkan kalimat bernada gombal, namun
itu adalah isi hatinya yang sesungguhnya.
Saki adalah gadis cantik dengan pesona yang berbeda,
bahkan tidak kalah jika disandingkan dengan Mari ataupun Haruki.
Bahkan saat acara dukungan turnamen bola voli tempo hari,
ia tanpa sadar sampai ikut memotretnya.
Mendengar perkataan Hayato, Saki mengerjap-ngerjapkan
matanya, lalu memasang senyuman yang sedikit menggoda.
"Fufu, kalau soal menjadi objek foto, kapan pun
Kakak mau boleh kok. Atau kalau Kakak mau, aku bahkan bisa memakai pakaian yang
agak seksi, lho?"
"Hah!?"
Mendengar pernyataan yang tergolong berani untuk ukuran
Saki, jantung Hayato melompat kaget dan ia membelalakkan matanya lebar-lebar.
Jika diperhatikan baik-baik, wajah Saki memerah hingga ke
ujung telinganya, menyiratkan rasa malu yang kentara.
Ia tahu kalau itu adalah pendekatan canggung khas Saki.
Meskipun begitu, membayangkan wujud menawan Saki membuat
perkataan itu sukses membangkitkan ekspektasinya, dan berbohong jika ia bilang
tidak mengharapkannya sama sekali.
Bagi Hayato, Saki adalah sahabat dari adiknya, kini
menjadi junior yang imut, serta sosok tak tergantikan yang sudah sangat ia
kenali.
Dan tidak dapat dipungkiri bahwa ia merasakan daya tarik
serta ketertarikan padanya sebagai seorang wanita.
Namun, hal yang sama juga berlaku untuk Haruki.
Ia masih belum bisa mengukur perbedaannya dengan Haruki,
dan belum mampu menemukan jawabannya sampai sekarang.
Saat Hayato kehabisan kata-kata, udara di antara mereka
berubah menjadi canggung dan menggelitik.
Mungkin karena Hayato tidak memberikan respons, Saki
memutar bola matanya karena tersiksa rasa malu, bahkan hampir mengeluarkan uap
dari kepalanya.
Ia tahu ia harus mengatakan sesuatu, namun kata-kata yang
tepat tak kunjung muncul di kepalanya.
Di saat ia membungkam mulutnya karena perasaan yang
serbapusing itu, ponsel Hayato dan Saki berdering menandakan masuknya
notifikasi.
Merasa diselamatkan oleh keadaan, masing-masing langsung
mengecek ponsel mereka. Itu adalah pesan dari Mari di dalam grup chat.
"Ngomong-ngomong soal hari Minggu besok, kalian
beneran nggak ada waktu luang, ya?"
Tampaknya pesan itu berkaitan dengan event yang akan
dihadiri Tinkle, yang sudah beberapa kali dimintanya sejak dulu.
Hayato saling berpandangan dengan Saki sambil memasang
ekspresi meminta maaf, lalu mengetik balasan untuk menasihati Mari.
"Sudah kubilang dari kemarin, kan, kalau aku ada
jadwal kerja paruh waktu. Minggu lalu jadwalku terus digantikan karena ujian
tengah semester, jadi aku benar-benar nggak enak kalau harus menolaknya."
"Aku juga sama. Lagian aku harus cepat-cepat
menghafal soal masak-memasak dan hal lainnya biar bisa diandalkan."
"Huu, padahal aku pengen nambahin foto-foto baru
Tinkle lagi ke depannya."
Hayato mengerutkan kening karena masalah ini tidak bisa
dihindari. Saki juga bergumam dengan nada kecewa.
"Event yang dibicarakan Mari-san akhir pekan ini...
kalau tidak salah Early Summer Live, ya... Skalanya sepertinya cukup
besar, ya."
"Begitukah?"
"Iya, kabarnya skalanya beberapa kali lipat lebih
besar dari sebelumnya. Konon, selain idol pendatang baru
seperti Tinkle, grup-grup populer juga akan tampil."
"Ah, pantas saja kalau Mari ingin sekali
mengabadikannya lewat foto."
"Waktunya memang kurang pas, tapi mau bagaimana lagi
kalau begini."
"Benar juga."
Hayato dan Saki sama-sama mengangkat bahu.
Hari ini, begitu rapor hasil ujian tengah semester
dibagikan, berbagai macam suara suka dan duka langsung bergema ke seluruh
penjuru kelas.
Di tengah situasi tersebut, Hayato melihat rapor yang
diterimanya dan melakukan gerakan guts pose secara sembunyi-sembunyi.
Peringkat 28 dari 251 siswa.
Mengingat posisinya yang biasanya selalu berada di
sekitar peringkat rata-rata, ini adalah lompatan yang sangat besar.
Keputusannya untuk mulai serius belajar sebagian besar
juga terinspirasi dari hasil ujian Himeko.
Sebagai seorang kakak, ia tidak boleh kalah dari adiknya.
Selain itu, berkat Saki yang membuat bakat fotografinya
diakui, ia berhasil menemukan kembali dirinya dan terdorong untuk bangkit.
Lagipula, tahun depan ia sudah harus menghadapi ujian
masuk universitas.
Semakin baik nilainya, semakin luas pula pilihan
universitas yang bisa diambilnya. Pilihan yang banyak tentu jauh lebih baik.
Begitu Hayato kembali ke tempat duduknya, Iori
menghampirinya dengan ekspresi yang tampak sangat bersemangat.
"Dengar-dengar, aku lolos dari semua nilai
remedial kali ini lho!"
Melihat rapor Iori yang ditunjukkan dengan penuh
kebanggaan, tertera angka 173 di sana.
Hayato membelalakkan matanya, lalu berkata dengan nada
kagum.
"Hebat juga kamu, Iori. Peringkatmu naik cukup jauh,
kan."
"Tentu saja dong, biasanya kan aku selalu masuk
dalam 30 besar dari bawah!"
"Itu sih bukan sesuatu yang bisa dibanggakan."
"Haha. Nah, kalau Hayato sendiri bagaimana──eh, yang
bener aja!?"
Melihat rapor yang direbut begitu saja dari tangan
Hayato, Iori memasang mata terkejut dan takjub.
Menghadapi hal tersebut, Hayato menyeringai lebar.
"Aku juga berniat untuk mulai serius belajar."
"Gぬぬ..."
(Guh...)
Saat Iori menggertakkan giginya karena geram, Minamo yang
kebetulan lewat menyapa mereka.
"Hayato-san dan Mori-san, hebat sekali kalian bisa
meningkatkan nilai kalian. Kalau aku nilainya malah sedikit turun..."
"Oh, bagaimana dengan Mitake-san?"
"Um, ini dia..."
Mendengar kata-kata 'turun', Iori memasang wajah yang
justru tampak agak senang.
Sambil membatin bahwa si Iori ini punya kepribadian yang
usil, Hayato ikut mengintip rapor yang disodorkan oleh Minamo dengan ragu-ragu,
lalu melontarkan suara kagum.
"Wah, peringkat 39. Kalau turunnya sampai di posisi
ini, biasanya kamu di peringkat berapa?"
"Dulunya aku selalu menjaga posisinya di dalam 30
besar, jadi dalam hati aku sedikit kaget. Tapi, begitu aku dengar Hayato-san
dan Mori-san bekerja keras, aku jadi tidak mau kalah juga!"
Mendengar perkataan Minamo yang mengepalkan kedua
tangannya di depan dada sambil berkata mun penuh semangat, Hayato
tersenyum provokatif.
"Kalau begitu, aku harus berusaha supaya bisa menang
lagi di ujian berikutnya."
"Fufu, aku tidak akan kalah lagi nanti."
"Sialan, Hayato dan Mitake-san malah asyik mengobrol
di menara gading... eh tunggu, Ikki?"
Di saat Hayato dan Minamo sedang membakar semangat juang
mereka, Iori yang merasa sedikit terasingkan merengut kesal, namun ia tiba-tiba
mengeluarkan suara penuh keheranan.
Mengikuti arah pandangan Iori karena penasaran apa yang
terjadi, mereka mendapati sosok Ikki yang berdiri mematung sambil menggenggam
rapor di tangannya.
Melihat pemandangan itu, Minamo bergumam dengan bingung.
"Eh, ada apa dengan Ikki-san?"
"Entahlah? Tapi ekspresinya kelihatan lucu banget,
jadi kuambil fotonya dulu ya."
Hayato menyeringai lebar dan secara refleks mengangkat
ponselnya, lalu membidik dengan suara cekrek.
Hasil jepretannya terlihat cukup mengocok perut,
sepertinya Saki, Haruki, maupun Himeko akan tertawa jika melihatnya.
Di sisi lain, Iori yang merasa curiga dengan sikap Ikki
yang tidak biasa langsung mendekat dan menepuk pundaknya dengan nada khawatir.
"Hei, ada apa, Ikki?"
"Gh! Ah, Iori-kun. Bukan apa-apa kok, tidak ada
apa-apa, sungguh."
Begitu kesadarannya kembali, Ikki dengan panik
menyembunyikan rapornya ke belakang punggung.
Melihat hal itu, mata Iori langsung berbinar tajam.
"Hih, tidak apa-apa, ya. Terus, bagaimana hasil
nilaimu?"
"Hm, ya karena tidak ada apa-apa. Seperti
biasa?"
"Kalau begitu, tunjukkan padaku."
"T-Tidak, yaah, aku agak malu sih..."
Sambil melontarkan alasan yang berbelit-belit, Ikki
berjalan mundur perlahan menjauhi Iori.
Iori menyeringai usil sambil merangsek maju, sementara
Hayato dan Minamo saling berpandangan sambil tersenyum pahit.
Ekspresi Ikki jelas-jelas menyiratkan bahwa situasinya
sedang gawat. Padahal biasanya ia selalu bersikap santai dan misterius, sangat
jarang melihatnya menunjukkan emosi separah ini. Rasa penasaran dan jiwa usil
Hayato pun mulai terpancing.
Menerima tatapan Minamo yang tampak sedikit serba salah,
Hayato diam-diam menyelinap ke belakang Ikki yang perhatiannya sedang tersita
oleh Iori, lalu merampas rapor dari tangannya dengan sigap.
"Ketahuan!"
"H-Hayato-kun!?"
"Coba kulihat......... eh?"
Begitu mengecek isi rapor tersebut, Hayato pun ikut
mematung dengan ekspresi bersalah mirip seperti Ikki.
Melihat reaksi Hayato, Iori dan Minamo ikut mendekat
untuk mengintip bagian tangannya, dan keduanya pun kembali tertegun dengan pipi
yang berkedut kaku tanpa bisa berkata apa-apa.
Hasilnya begitu mengenaskan hingga rasanya enggan untuk
menyebutkan angka pastinya secara langsung.
Wajah Ikki merona merah karena rasa malu yang amat
sangat, dan ia mengalihkan pandangannya ke samping.
Di tengah keheningan yang canggung, Hayato mencoba
berhati-hati dalam memilih kata-kata.
"Ehm, apa pekerjaanmu sebagai model sesibuk
itu?"
"B-Begitulah. Di luar perkiraan, banyak hal yang
harus dipelajari dari pekerjaan itu, jadi aku tidak punya waktu untuk
belajar."
"O-Oh gitu. Tapi, ngomong-ngomong, kalau sampai
banyak nilai remedial apa tidak mengganggu pekerjaanmu sebagai model?"
"Ugh!"
Tepat sasaran di titik terlemahnya, membuat Ikki
kehilangan kata-kata balasan.
Bagaimanapun juga, tugas utama seorang anak SMA tetaplah
belajar. Ikki pasti menyadari hal itu, makanya ia menunjukkan reaksi seperti
tadi.
Di tengah suasana yang sulit dicairkan, Minamo bertepuk
tangan pelan untuk mengubah topik dan mencoba berbicara dengan nada ceria.
"Di tengah kesibukan seperti itu, Haruki-san hebat
sekali ya karena tetap bisa mendapatkan hasil yang bagus dalam belajar!"
"Benar juga. Di semester tiga kelas satu kemarin,
dia bahkan menyapu bersih peringkat pertama."
Iori turut menimpali dengan nada kagum. Mendengar hal
itu, Minamo ikut bergumam penuh respek.
"Kali ini pun dia pasti jadi peringkat pertama,
ya."
"Haha, kalau ada rahasia bagaimana cara
menyeimbangkannya dengan pekerjaan di dunia hiburan, aku ingin sekali
diajarkan."
Ikki menggumamkan hal itu sambil mengangkat bahunya,
dan Hayato memberikan usulan secara natural.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi
bertanya langsung ke orangnya sekarang?"
"Hayato?" "Hayato-kun?"
"Hayato-san?"
Suara Iori, Ikki, dan Minamo tumpang tindih karena
terkejut. Reaksi mereka memang wajar.
Saat ini Haruki adalah idol papan atas yang tengah
menjadi sorotan publik.
Di lingkungan sekolah pun sudah terbentuk semacam tidak
resmi bahwa orang tidak boleh mendekatinya sembarangan, ditambah lagi para
anggota klub riset idol berpatroli dengan mata awas.
Suasananya sama sekali tidak memungkinkan untuk diajak
mengobrol seperti dulu lagi.
Hal itu tidak hanya berlaku untuk kelompok Hayato saja,
melainkan juga teman-teman yang lain.
Bahkan Ema, teman sekelas mereka, dikabarkan mendapat
tekanan dari sekitarnya agar tidak mendahului yang lain.
Namun jika dipikir-pikir, itu adalah cerita yang konyol.
Ia tidak pernah menyukai situasi ini sejak awal.
Begitu pula dengan dirinya sendiri yang hanya bisa
menerima dan menontonnya dari jauh.
Oleh karena itu, Hayato menegaskan tekadnya dengan jelas,
lalu bersuara dengan santai tanpa beban.
"Haruki sepertinya sudah datang hari ini, kan. Kita
hanya ingin pergi menemui teman dan sekadar mengobrol. Bukankah itu hal yang
biasa? Ayo kita pergi, Ikki."
"T-Tunggu, Hayato-kun!?"
Hayato menepuk punggung Ikki pelan, lalu mendorongnya ke
koridor dan mulai melangkah maju.
Iori yang sempat terpaku sesaat kemudian mengeluarkan
suara penuh antusiasme.
"Ahaha, benar juga. Begitulah baru Hayato namanya.
Ayo kita pergi, Mitake-san juga."
"B-Baik!"
Mereka berjalan bersama-sama menuju kelas Haruki tanpa
ragu-ragu dan tanpa ada jalan memutar.
Semakin dekat mereka dengan kelas Haruki, semakin banyak
tatapan bingung, penasaran, hingga tatapan tidak percaya yang menusuk dari
sekitar.
Di antara mereka, ada beberapa orang yang tampak
bersiap untuk menghentikan. Sepertinya mereka adalah anggota klub riset idol.
Namun, begitu melihat sosok Ikki, mereka mengurungkan
niat, mungkin mengira ada urusan antarartis.
Hayato melirik mereka sekilas dengan tatapan meremehkan,
lalu membuka pintu kelas Haruki.
Pengunjung dari luar sepertinya adalah hal yang
langka. Rasa terkejut terpancar dari dalam kelas, disusul oleh keheningan yang
mendadak.
Suasana itu membuat Hayato merasa agak geli. Ia
mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menemukan Haruki yang tampak sama
terkejutnya dan menciptakan jarak kosong di sekitarnya, lalu melangkah mendekat
sambil mengangkat satu tangan.
"Yo, Haruki. Bagaimana hasil ujian tengah
semesternya?"
"Eh... ah, iya. Peringkat pertama."
"Hebat sekali, kalau aku sudah berusaha keras kali
ini dan dapat peringkat 28."
"H-Hah. Kalau tidak salah biasanya posisimu di
sekitar peringkat rata-rata, kan, jadi itu naik banyak ya."
"Ya, begitulah. Oh ya, bukan cuma aku, peringkat
Iori juga naik cukup drastis. Jangan-jangan Isami-san sudah
menjewer Iori yang hobi remedial itu, ya?"
Tiba-tiba namanya diseret ke dalam obrolan, Ema yang
berada agak jauh menjawab dengan ragu-ragu.
"U-Um. Aku bilang padanya kalau aku ingin kami
kuliah di universitas yang sama..."
Mendengar itu, Iori yang berada di sebelah Hayato
mengusap hidungnya dengan rasa malu, lalu menjawab Ema.
"Kalau Ema sudah bilang begitu, aku jadi merasa
harus berusaha juga."
"T-Tapi, I-chan hebat banget lho karena berhasil
membuktikannya."
"Yah, karena aku ingin terus bersama Ema..."
"I-chan..."
Ema yang entah sejak kapan sudah berada di dekatnya
menggandeng tangan Iori, menciptakan dunia mereka sendiri.
Melihat Iori dan Ema yang tidak pernah berubah, bukan
hanya Hayato, Haruki dan orang-orang di sekitar pun turut tersenyum pahit
sambil tersenyum geli.
Minamo menghampiri mereka dengan sedikit rasa serbasalah,
mengarahkan pandangannya ke arah Ikki, lalu berkata kepada Haruki dengan
ekspresi agak cemas.
"Kalau Hayato-san dan Mori-san sih tidak apa-apa,
tapi Ikki-san ini... nilainya kali ini lumayan... begitulah."
"A, ahaha..."
Melihat Ikki yang tersenyum kaku dengan wajah menahan
malu, Haruki balas menatapnya dengan senyuman usil yang menyebalkan.
"Wah, separah itukah nilainya?"
"Yah, soalnya..."
"Sudahlah, ceritakan saja padaku, jangan biarkan aku
dikucilkan sendirian."
"Soal itu..."
Menghadapi Ikki yang tampak salah tingkah, Haruki
mendesaknya dengan ekspresi riang.
Hayato saling berpandangan dengan Minamo dan memasang
wajah masam, lalu membisikkan sesuatu di dekat telinga Haruki agar tidak
didengar orang lain demi menjaga harga diri seorang ksatria.
"Haruki, sebenarnya──"
"──Ha!? Seriusan, Kaidou yang bener aja!?"
Haruki membelalakkan matanya selebar mungkin karena tidak
percaya.
Ekspresi itu terasa begitu lucu di matanya, sehingga ia
refleks mengeluarkan ponselnya dan mengabadikannya dalam sebuah foto.
"Wah, ekspresi yang bagus!"
"Tunggu, Hayato!?"
Melihat tindakan yang tiba-tiba itu, Haruki membelalakkan
matanya dan melontarkan protes.
Belum pernah ada orang sedekat ini yang berani
memotret Haruki secara terang-terangan. Orang-orang di sekitar pun tidak bisa
menyembunyikan rasa terkejut mereka.
Namun, Hayato memasang senyuman penuh kenakalan dan
berbisik di dekat telinga Haruki agar suaranya tidak terdengar orang lain.
"Hei, boleh aku unggah ini ke klub penggemar
tidak resmi?"
"T-Terserah sih. ...Aku sempat dengar desas-desus
dari si Mari itu, tapi ternyata benar ya kalau Hayato yang memotretnya..."
"Ya begitulah, kami punya semacam hubungan yang
unik. Saki-san juga ikut membantu."
"---Wah, begitu ya. Aku dengar responsnya bagus
lho. Manajer kami juga bilang kalau sudut pandangmu tidak biasa. Ditambah lagi,
katanya kalau kamu mempelajarinya secara serius, kamu bisa jadi fotografer yang
hebat."
"Wah, suatu kehormatan mendengarnya. Tapi aku
tidak begitu tertarik jadi fotografer sih."
"Huuwalan."
Hayato mengangkat bahunya menghadapi Haruki yang
tampak kurang puas.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ikki yang
masih berdiri mematung, lalu mengangkat topik utama.
"Pokoknya, untuk Haruki-san yang bisa menjaga
peringkat nilainya tetap tinggi di tengah kesibukan sebagai idol. Maukan kamu
mengajari Ikki beberapa tips tentang cara mengatur waktu belajar? Cara
mengajarnya mungkin agak payah dan tidak begitu berguna sih."
"Aku juga mohon bantuannya. Kalau sampai gagal
ujian ulangan dan dipenuhi jadwal remedial, itu bisa mengganggu
pekerjaanku."
Mendengar permohonan Ikki, Haruki melepaskan helaan napas
panjang.
"Maaf ya kalau cara mengajarku payah! Haah, baiklah,
dengarkan ini sebagai referensi saja ya. Jadi begini──"
Haruki lantas mulai menjelaskan metode belajar yang
digunakannya di sela-sela kesibukan sebagai seorang idol.
Mulai dari waktu perjalanan, waktu istirahat, hingga
waktu tunggu. Tentang bagaimana durasi waktu tersebut serta ketersediaan ruang
untuk membentangkan buku pelajaran dapat memengaruhi efisiensi belajar, dan
lain sebagainya.
Tanpa disadari, bukan hanya Ikki, teman-teman sekelas
yang lain pun ikut menyimak dengan serius.
Tidak hanya itu, bahkan dari arah koridor pun ia bisa
merasakan ada orang-orang yang mencondongkan telinga untuk mendengarkan ke arah
sini.
Sejak masuk sekolah, Haruki selalu mempertahankan posisi
peringkat pertama dalam ujian berkala. Wajar saja jika yang lain juga merasa
penasaran dan ingin tahu rahasianya.
Faktanya, setelah mendengarkan penjelasan tersebut,
Hayato pun mengangguk dalam hati karena semuanya terasa sangat masuk akal.
Setelah selesai berbicara panjang lebar, Haruki menyadari
bahwa orang-orang di sekitarnya menatapnya bukan dengan tatapan sungkan seperti
belakangan ini, melainkan tatapan murni yang ingin tahu tentang metode belajar.
Merasa sedikit malu karena hal itu, Haruki berkelit dengan nada bercanda.
"Yah, mencari efisiensi seperti ini sebenarnya cuma
hasil aplikasiku dari apa yang kupelajari saat memikirkan cara paling efisien
untuk grinding di game gacha kok."
Mendengar itu, tawa langsung pecah dari orang-orang di
sekitar disusul dengan komentar-komentar seperti, "Tapi ada benarnya juga
sih", "Emangnya Nikaido-san juga main game?", hingga
"Boro-boro, coba ingat lagi karakternya waktu festival budaya kemarin
deh".
Suasana di ruangan itu kembali mencair seperti sedia
kala.
Rasanya seolah dinding penghalang berupa rasa sungkan
terhadap Haruki telah dirobohkan sepenuhnya.
Hayato tersenyum puas, sebuah senyuman penuh kemenangan.
Pada saat itu, bel peringatan pelajaran berikutnya
berbunyi.
Orang-orang yang berkumpul pun mulai membubarkan diri
satu persatu.
Saat Hayato hendak kembali ke kelasnya sendiri, tiba-tiba
ujung lengan bajunya ditarik seseorang.
"Tunggu, ...Haruki?"
Begitu ia menoleh, ia mendapati Haruki memasang ekspresi
bingung seolah bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa ia melakukan hal
barusan.
Saat Hayato menatapnya lekat-lekat, Haruki akhirnya
mengalihkan pandangannya dengan rasa malu sambil bergumam pelan.
"Entahlah, Hayato tetaplah Hayato ya."
"Hah? Tiba-tiba ngomong apa sih?"
"Biasa saja. Kamu selalu berhasil membuatku
terkejut. Atau lebih tepatnya, kenapa hari ini kamu malah datang ke
tempatku..."
"Kenapa ya, aku baru sadar kalau tidak perlu ada
alasan khusus untuk datang ke tempat teman cuma sekadar buat mengobrol
santai."
"Hayato..."
Mendengar Hayato yang menyeringai kecil, mata Haruki
bergetar.
Hayato sempat merasa grogi menghadapi reaksi tak terduga
dari Haruki dan sempat bingung harus membalas apa, namun ia tersenyum dengan
senyuman yang sama seperti biasanya dan menyampaikan kata-kata yang diajarkan
oleh Mari.
"Aku sudah memutuskan untuk melakukan apa yang
kubisa."
Sore harinya, Himeko yang pulang sekitar satu jam lebih
lambat dari Hayato dan kawan-kawan langsung melontarkan suara heran begitu ia
menampakkan diri di ruang keluarga.
"Aku pulang──eh Saki-chan, ada apa?"
Duduk di meja makan, Saki tidak menjawab pertanyaan
Himeko, melainkan terus membuat gyoza dengan tatapan kosong dan ekspresi hampa.
Pemandangan yang sedikit menyeramkan.
Sambil mengerutkan kening, Himeko diam-diam bertanya
kepada sang kakak yang sedang membuat gyoza dengan posisi tepat di hadapan
Saki.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi?"
Mendengar itu, Hayato mendengus dengan suara rendah, lalu
membuka suara dengan nada seolah enggan mengatakannya.
"Ehm, tadi kan rapor hasil ujian tengah semester
dibagikan."
"Ohh, nilai Saki-chan jelek ya?"
"Ugh!"
Mendengar ucapan langsung Himeko yang blak-blakan,
Saki langsung tertegun kaku. Ia bergesek pelan memalingkan wajahnya ke arah
Himeko sambil mengeluarkan suara penuh kepedihan.
"T-Tadi itu aku sedang lengah, atau mungkin
nilainya memang tidak sebagus yang kukira..."
"Huun. Jadi, peringkat berapa?"
"Um, rasanya tidak perlu dibilang juga tidak
apa-apa kali ya~?"
"Seburuk itu sampai kamu malu untuk
mengatakannya?"
"Hauk!"
Terkena serangan lanjutan dari Himeko yang menggoda
dengan riang, Saki kini memasang mata berkaca-kaca.
Sambil tersenyum pahit melihat situasi yang jarang
terjadi ini, Hayato mengulurkan tangan untuk menolong Saki.
"Sudah hentikan itu, Himeko. Aku memang tidak tahu
detailnya, tapi sepertinya nilainya tidak sampai seburuk itu hingga harus
mengulang ujian atau ikut kelas remedial."
"Eh, kalau begitu tidak perlu dipusingkan begitu
kan."
Mendengar Himeko mengangkat bahunya dengan santai
seolah merasa lega, Saki berkata dengan suara yang menyiratkan kepanikan.
"T-Tapi, Haruki-san sudah pasti peringkat
pertama, dan Kakak sendiri bilang dapat peringkat 28."
"Eh, nilai o-niisan sebegitu bagusnya?!"
"Yah, begitulah, aku sudah berusaha."
Mendengar jawaban Hayato yang memasang wajah penuh
percaya diri, Himeko menatapnya dengan pandangan kagum yang tulus.
Merasa sedikit geli, Hayato balik bertanya kepada
Himeko.
"Omong-omong, bagaimana dengan Himeko sendiri?
Ujian tengah semesternya kan sudah selesai dan harusnya sudah dibagikan juga,
kan?"
"Hmm, posisiku pas di tengah-tengah rata-rata.
Soalnya pelajarannya benar-benar ketat, aku sampai kewalahan hanya untuk
mengikutinya."
"Tapi kalau kamu bisa mendapat nilai rata-rata di
sekolahmu, bukankah kamu bisa mengincar universitas peringkat atas?"
"Begitulah. Tapi aku tidak berencana ikut ujian
luar, rencananya mau langsung naik ke universitas jalur internal saja."
Mendengar jawaban sang adik yang diucapkan begitu santai,
Hayato turut merasa kagum secara murni.
Mendapatkan nilai rata-rata di sekolah dengan standar
deviasi yang cukup tinggi sepertinya membuktikan bahwa Himeko tidak lulus ujian
masuk hanya karena keberuntungan semata.
Ia pasti telah membangun fondasi kemampuan yang kuat. Ini
adalah buah dari kerja keras Himeko.
Lalu Himeko berkata, "Kalau begitu, aku ganti baju
dulu ya," dan berjalan menuju kamarnya.
Menjadikan itu sebagai aba-aba, Hayato dan Saki
melanjutkan kembali pembuatan gyoza untuk makan malam.
Sambil sibuk membuat gyoza, tiba-tiba Saki bertanya.
"Oh iya, tadi aku sempat dengar rumor, apa Kakak
membuat keonaran di kelas Haruki-san?"
"Membuat keonaran apanya. Aku cuma pergi ke tempat
Haruki untuk menanyakan hasil ujian dan tips bagaimana cara belajar sambil
menjadi idol. Yah, waktu di jalan pulang kita juga sempat bahas kalau si Ikki
nilainya benar-benar gawat kali ini. Oh ya, tapi ekspresi Haruki waktu
mendengar hal itu benar-benar luar biasa! Aku sempat memotretnya, mau
lihat?"
Menghentikan sejenak kegiatan membuat gyoza, Hayato
meraba ponselnya yang berada di dekatnya dan menunjukkan foto yang dimaksud.
Mendapati Saki mengintip layar ponselnya, ia
mengerjap-ngerjapkan mata dengan ekspresi tertegun beberapa kali, lalu spontan
tertawa lepas seolah tidak bisa ditahan lagi.
"Fufu, dari ekspresi tidak percaya Haruki-san itu,
sudah sangat jelas menunjukkan seberapa buruk hasil nilai Kaidou-san."
"Kan? Aku yakin Saki-san pasti bakal tertawa kalau
lihat ini. Nanti mau kulihatkan ke Himeko juga."
"Dan foto ini, rasanya memperlihatkan sisi alami
Haruki... ekspresi Haruki yang seperti biasanya, jadi terlihat sangat bagus
ya."
Hayato menyeringai lebar, merasa itulah jawaban yang
ingin ia dengar sejak tadi.
"Iya, makanya aku ambil fotonya. Menurutmu, foto ini
jauh lebih memesona daripada ekspresi Haruki mana pun saat menjadi idol,
kan?"
Mendengar itu, Saki menatap wajah Hayato lekat-lekat,
lalu menjawab dengan sungguh-sungguh menggunakan nada penuh rasa kagum seolah
mengakui kekalahannya.
"Sungguh, o-niisan ini benar-benar ya."
"Apa maksudmu begitu. Haruki juga bilang hal yang
sama."
"Yaitu suka sembarangan melompat masuk ke zona
pribadi orang lain tanpa izin, lalu menepis semua masalah sesuka hati, dan
dengan paksa menarik keluar ekspresi asli mereka."
"...Rasanya aku seperti baru saja dibilang tidak
punya kepekaan."
"Fufu, kurasa ada sedikit batas tipis untuk hal
itu?"
"Ugh!"
Melihat Saki tertawa cekikikan dengan riang, Hayato
memasang wajah salah tingkah.
Mengenai kurangnya kepekaan, ia bahkan sering diingatkan
oleh adiknya sendiri, jadi ia tidak bisa membantah sepatah kata pun.
Lalu Saki berujar dengan santai seolah-olah itu bukan hal
besar.
"Tapi, caramu yang selalu membuat orang lain
tersenyum pada akhirnya... aku menyukainya."
Mendengar ucapan "suka" yang diucapkan secara
santai namun terasa seperti serangan mendadak itu, jantungnya berdegup kencang
meskipun ia tahu konteksnya bukan berarti seperti itu.
Saki pun menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah,
lalu kembali bekerja membungkus gyoza dengan cekatan.
Menyadari dirinya sedang berusaha menyembunyikan rasa
malu, Hayato memberikan respons dengan nada yang terdengar sedikit ketus.
"O-Oh."
Foto Haruki yang diambil oleh Hayato setelah mendapat
izin dari Mari akhirnya diunggah ke akun klub penggemar tidak resmi dengan
menyertakan tag #HarukiTerkejut, dan berhasil memicu respons yang belum pernah
ada sebelumnya.
Tentu saja, dari sekian banyak foto bertema Tinkle
termasuk foto resmi sekalipun, foto inilah yang mencetak angka tertinggi.
Mengingat ia biasanya selalu menampilkan figur penuh
pesona yang sempurna, ekspresi terkejut Haruki saat menunjukkan sisi aslinya
rupanya tergolong langka. Balasan di kolom komentar tidak hanya berisi,
"Wajah terkejutnya terlihat segar dan imut!" atau "Penasaran dia
lagi kaget karena apa!", "Murid sekelasnya benar-benar golongan orang
menang!" tetapi juga memancing permainan tebak-tebakan tentang apa
sebenarnya yang membuat sang idol terkejut, membuat topik pembicaraannya
semakin meluas.
Melihat hal itu, Mari bahkan sempat bertanya, "Apa
tidak ada hal lain yang bisa dipakai untuk menyaingi tag #MariUkyu!?"
Memang benar, di luar sana sudah ada begitu banyak foto
Haruki yang beredar dan menuai pujian.
Namun, bagi Hayato yang mengenal esensi sejati Haruki, ia
memiliki kebanggaan tersendiri karena berhasil menangkap pesona wajah Haruki
yang jauh lebih menarik daripada foto-foto tersebut.
Faktanya, melihat gelombang respons yang luar biasa ini,
ia mengangguk setuju dan tersenyum simpul karena merasa ini adalah bukti bahwa
dialah orang yang paling mengenal Haruki dengan baik.
Singkat cerita, tibalah hari Minggu, hari di mana Early
Summer Live diselenggarakan.
Meskipun ada badai yang mendekat, langit cerah tanpa awan
membentang luas, menjadikannya cuaca yang sempurna untuk event luar ruangan.
Matahari bersinar terik sejak pagi hari, menciptakan
suasana gerah yang bahkan membuat orang berkeringat hanya dengan berdiri.
Seperti yang telah ia katakan pada Mari, Hayato sudah
sibuk bekerja paruh waktu di toko wagashi Shiro sejak pagi buta.
Saat ia tengah sibuk menyiapkan persiapan buka toko, Iori
mengajaknya bicara dengan nada bernada mengejek.
"Ngomong-ngomong, hari ini kan ada Early Summer
Live-nya Nikaido, bukankah seharusnya Hayato pergi ke sana sebagai
fotografer?"
Sudah tentu, #HarukiTerkejut adalah foto Haruki yang
menangkap momen tak terduga di sekolah.
Siapa pun yang berada di tempat kejadian pasti tahu
persis siapa yang memotretnya.
Secara otomatis, orang-orang terdekatnya pun akhirnya
tahu bahwa foto-foto di klub penggemar tidak resmi itu diambil oleh Hayato,
sehingga orang-orang seperti Iori sesekali suka menggodanya seperti ini.
Hayato membalasnya dengan senyuman pahit.
"Hei, memangnya boleh membolos kerja paruh waktu?
Bisa-bisa aku melihat neraka nanti. Lagian, foto itu sifatnya kan tidak
resmi."
"Tapi, bukankah Early Summer Live itu semacam
batu loncatan bagi idol pendatang baru? Mumpung ini panggung besar, apa tidak
apa-apa kalau kamu tidak memotretnya?"
"Eh, benarkah begitu?"
Ia memang tahu skalanya besar. Mari
bahkan sangat bersemangat dan berulang kali memintanya untuk datang memotret.
Namun, ia sama sekali tidak tahu kalau acara itu
adalah gerbang utama bagi para idol pendatang baru.
Mendengar Hayato bertanya dengan wajah kebingungan,
Ema langsung mendesaknya dari samping.
"Tentu saja, kesuksesan di Early Summer Live
kabarnya akan sangat menentukan popularitas mereka ke depannya! Kalau
Kirishima-kun berniat pergi memotretnya, urusan kerja paruh waktu biar aku dan
I-kun yang atasi sebanyak apa pun!"
"Betul kata Ema, Hayato."
"S-Soalnya ya..."
Iori turut mendukung perkataan Ema.
Namun, Hayato yang sama sekali tidak berniat memberikan
dukungan pada Haruki sebagai seorang idol hanya bisa memasang wajah kesulitan
dan memberikan jawaban yang mengambang.
Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan keras dari
pintu masuk yang masih terkunci.
Saat ia menatap ke arah sumber suara dengan rasa heran,
Saki yang tampak berlari terburu-buru mengenakan pakaian rumah dan sandal selop
sambil memegang ponsel di tangannya, mengetuk pintu kaca depan dengan ekspresi
wajah yang berubah pucat pasi.
Hari ini, jadwal kerja paruh waktu Saki baru dimulai
menjelang siang.
Segera setelah Iori membukakan kunci pintu karena
penasaran apa yang terjadi, Saki berlari mendekati Hayato seolah terpental,
lalu berteriak dengan napas tersengal-sengal.
"Haruki-san, gawat! Event hari ini, aku ditelepon
Mari-chan! Katanya dia keras kepala, minta tolong!"
──Gawat darurat Haruki. Hayato membelalakkan matanya
mendengar kalimat tersebut, menyadari ia tidak boleh mengabaikannya.
Tampaknya telah terjadi masalah besar di sekitar Haruki.
Saking gawatnya, bahkan Mari yang merasa tidak sanggup
mengatasi situasinya sendiri sampai harus menghubungi Saki.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, Haruki
sedang dalam kesulitan.
Jika itu masalahnya, maka hanya ada satu tindakan
yang harus diambil oleh Hayato.
"Aku mengerti, ayo kita pergi sekarang!"
"Baik!"
"Hayato!? / Kirishima-kun!?"
Iori dan Ema berseru kaget menanggapi Saki yang
mengangguk mantap.
Sementara itu, kakak perempuan Iori, Saori, yang
mendengar percakapan mereka dari dekat tertawa terbahak-bahak seolah merasa
situasi itu sangat lucu.
"Ah, ahahahah! Bagus, yah, rasanya seperti masa
muda! Pergi sana, Remaja Kirishima!"
"Eh, ini...?"
Saori melemparkan sebuah kunci ke arah mereka.
Saat Hayato yang menangkapnya secara refleks memasang
wajah bingung, Saori menyeringai lebar dan menunjuk bagian belakang toko dengan
ibu jarinya.
"Pakai motorku saja! Helm cadangannya juga ada di
dekat sini kok!"
"Tsk! Saori-san, terima kasih banyak! Ayo pergi,
Saki-san!"
"Baik!"
Begitu Hayato mengulurkan tangannya, Saki langsung
menyambutnya tanpa ragu, lalu bersama-sama mereka berlari keluar toko dan
meluncur menuju tempat Haruki berada.
──Bukan sebagai idol, melainkan dengan semangat untuk membantu krisis seorang teman.



Post a Comment