Chapter 10
Kan, Karena Ini Spesial
Langit
sebelah barat berkilau tipis bagaikan fatamorgana, perlahan-lahan memerah.
Udara
panas dari matahari siang membentuk awan kumulonimbus musim panas, melemparkan
bayangan ke atas semburat senja.
Hayato
dan yang lainnya terdiam menatap transisi dari sore menuju malam melalui
jendela kereta.
Setelah
dari bioskop, mereka mampir ke Karaoke Celery atas permintaan Himeko yang ingin
makan makanan manis, tempat yang sama yang pernah dikunjungi Hayato dan Haruki
sebelumnya. Himeko, yang sempat kikuk dengan suasana baru, merajuk melihat
Hayato begitu santai karena sudah kedua kalinya ke sana, namun mereka menikmati
makanan dan karaoke, terutama roti panggang madu yang dinikmati duo yang sedang
diet itu sebagai suguhan langka.
Wajah mereka
menyiratkan kelelahan, namun juga kepuasan dan kenyamanan.
Kereta akhirnya
tiba di stasiun tempat Hayato, Haruki, dan Himeko turun.
"Yah, kami
turun di sini. Maaf ya, Haruki, Himeko, kalian berdua jadi ikut repot,"
ujar Kazuki.
"Nggak
apa-apa, aku bayar setengah kok, dan seru juga melihat sisi lain dari
kalian," balas Kazuki.
"Um,
Kaido-san, terima kasih traktirannya!" ucap Himeko.
"…Kaido,
makasih," tambah Haruki.
Hayato
melambaikan tangan santai saat mereka turun, dan Kazuki mengangkat tangannya
sebagai balasan.
"Main-main
lagi ya kapan-kapan. Nyanyianmu yang datar tanpa nada itu lumayan bikin
ketagihan, Hayato-kun," goda Kazuki.
"Oi,
diamlah!" bentak Hayato.
"Tahu kalau
Onii payah dalam menyanyi rasanya agak melegakan sih. Tapi Haru-chan tadi keren
banget!" puji Himeko bersemangat.
"Aku sudah
melatih keterampilanku di kamar mandi!" sombong Haruki.
"Haruki…"
keluh Hayato.
"Haru-chan…"
koor Himeko.
"Hei, jangan
lihat aku dengan tatapan begitu, Hayato, Hime-chan!?" protes Haruki.
Kazuki tertawa
terbahak-bahak hingga bahunya bergetar, persis saat pintu kereta tertutup dan
membawanya pergi.
"…Ayo
pulang," ajak Hayato sambil menggaruk kepalanya lalu menyuruh Haruki dan
Himeko melangkah.
Langkah kakinya
terasa berat, enggan mengakhiri hari ini. Mendekati gerbang stasiun, Haruki
mendadak berhenti.
"Aku tidak
usah makan malam. Sudah
terlalu kenyang. Langsung pulang saja," ucapnya.
"Aku
juga. Mungkin cuma mau makan es krim," tambah Himeko.
"Itu namanya
bukan makan malam, Himeko. Haruki, aku antar pulang yuk," tawar Hayato.
"Nggak usah,
sepertinya mau hujan… Lihat itu?" tunjuk Haruki.
Langit
menunjukkan gumpalan awan petir merah-kehitaman yang bergemuruh pelan, meski
hujannya sepertinya masih agak jauh.
"Duluan
ya!" Haruki langsung berlari pergi.
"Hei…
Sialan," gumam Hayato.
"Dadah,
Haru-chan!" panggil Himeko.
Uluran tangan
Hayato hanya menangkap angin kosong, membuat ia menghela napas panjang.
"Dia bakal
baik-baik saja, kan?" tanyanya cemas.
"Dia
bukan anak kecil lagi. Kakak terlalu overprotektif. Ayo kita ke supermarket
dulu," ajak Himeko.
"Iya…"
setuju Hayato.
Di area
perumahan yang temaram, Haruki berlari seolah ingin mengusir bayangannya
sendiri yang memanjang.
"Ugh,
menyebalkan!" gerutunya terengah-engah.
Hari ini
sangat menyenangkan, rasanya seperti masa kecil mereka dulu.
Tempat
bermain mereka bergeser dari gunung dan kuil menjadi bioskop, restoran
keluarga, dan karaoke, memperlihatkan sisi baru dari diri masing-masing.
Hayato,
yang sempat digoda karena nyanyian datarnya, meringis malu.
Himeko,
yang serius ingin menangkap ritme lagu untuk acara jalan-jalan dengan teman
sekelasnya nanti.
Haruki,
yang bernyanyi sambil memeragakan gerakan, berhasil memancing tepuk tangan
enggan dari Hayato serta pertanyaan antusias dari Himeko tentang
gerakan-gerakan itu—sementara Kazuki, yang entah bagaimana bisa membaur, memicu
tawa lewat godaannya pada Hayato.
Semua
orang tersimpulkan senyuman, namun Haruki merasakan pusaran keruh di dadanya,
sebuah rasa sakit yang membakar. Rasanya mirip seperti rasa tidak sabar atau
cemburu, tapi lebih dekat ke arah sifat egois anak kecil.
"Aku
jadi agak iri sama Hime-chan…" gumamnya sambil berhenti melangkah.
Ia sudah
sampai di depan rumahnya. Ia mengerutkan kening, tidak mengerti kenapa ia bisa
mengatakan hal itu, merasa terjebak dalam pikirannya sendiri.
"Ngh,
baiklah!" Ia menampar kedua pipinya sendiri, memaksakan kembali nada suara
aslinya, lalu membuka pintu sambil mengucapkan salam ritualnya.
"Aku
pu—"
"Diam
di tempatmu seperti anak baik!" sebuah suara tajam memotong.
Sebuah tamparan
keras menggema. Tertegun, pipi Haruki terasa perih, kebingungan mengalahkan
rasa sakitnya. Ia mendongak untuk melihat Mao Takura, wanita anggun yang nyaris
tidak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya, menatap tajam seolah Haruki adalah
sebuah gangguan.
Mata Haruki
membelalak lebar, menyadari itu adalah ibunya. Emosi seolah terkuras habis dari
wajahnya, dan ia berbisik lirih, "…Ibu."
Hujan turun
dengan deras di luar sana, menghantam aspal dan memercikkan kabut air. Suhu
dinginnya mendinginkan pipi Haruki yang memerah.
Ia basah kuyup.
Rambutnya yang ditata rapi kini menempel berantakan, pakaian pilihannya terasa
berat karena air hujan, dan riasannya luntur meninggalkan bayangan gelap di
wajahnya.
"…Ah."
Tanpa sadar
melangkah, ia kini sudah berada di depan gedung apartemen Hayato yang familier.
Tempat itu begitu
besar, dengan mudah bisa menampung seratus keluarga, memberinya godaan untuk
percaya bahwa tempat itu bisa menerimanya.
"…Apa
yang sedang kulakukan?" tawa ringannya terdengar getir.
Kakiku membawaku
ke sini secara naluriah. Ia tahu betul alasannya.
Hatinya menjerit.
Hayato pasti akan menerimanya masuk tanpa banyak tanya, menenangkannya dalam
diam, dan membiarkannya bersandar.
Begitulah bentuk
pertemanan pemuda itu. Ia ingin berlari ke arahnya, namun ia tidak bisa
melakukannya.
"Tapi itu
bukan karena ini aku…" bisiknya pada diri sendiri.
Ia teringat hari
ini, melihat Kazuki "diselamatkan" oleh Hayato, persis seperti saat
Hayato menariknya keluar dari keterasingan di Tsukinose dan mengubah dunianya.
Itu sangat mirip
dengan kepribadian Hayato, namun hatinya terasa nyeri.
Mengepal
ponselnya di tangan, ia melihat kontak Hayato. Wajah canggung pemuda itu saat
ia tahu ibunya masuk rumah sakit kembali melintas di benaknya. Jari-jarinya
membeku di atas layar.
Hayato,
teman baiknya, adalah sosok yang istimewa.
Itulah
sebabnya ia tidak boleh bergantung padanya. Ia sadar dirinya sudah terlalu
sering bersandar pada pemuda itu. Sejak kecil, mereka berdiri berdampingan. Ia
ingin berdiri dengan penuh kebanggaan di samping sahabat terkasih ini.
Jika ia
bersandar padanya sekarang, timbangan di dalam hatinya akan bergeser selamanya
dan tak bisa kembali.
Ia tidak
menginginkan hal itu. Ia telah memutuskan untuk terus berjuang dengan kakinya
sendiri.
Ia
mengembalikan ponselnya ke layar utama lalu berlari, dengan sengaja menjauhi
arah rumah Hayato maupun rumahnya sendiri.
Itulah bentuk
harga diri keras kepalanya.
Ia tahu tindakan
ini sia-sia, namun ia tidak bisa berhenti berlari.
"…Apa yang
sebenarnya kulakukan?" gumamnya.
Ia kini berada di
taman dekat supermarket. Hujan badai sore tadi telah reda, menyisakan
bintang-bintang yang berkelip seolah mengejeknya. Duduk di atas bangku taman,
ia berbicara pada dirinya sendiri.
Pikirannya kini
sudah lebih jernih. Mengingat kembali kelakuannya tadi, ia tertawa kecil getir.
"Guk! Guk,
wuff!" seekor anjing menyalak.
"Hei, Rento!
Mau ke mana? Waktunya pulang!" panggil sebuah suara yang familier.
"!?"
Ia menoleh dan
mendapati Minamo Mitsutake sedang ditarik oleh seekor anjing collie berukuran
besar sambil memegang tali kekang.
Gadis itu
mengenakan pakaian longgar hitam dan celana skinny jeans kasual, membawa
tas ramah lingkungan berisi kecap asin dan mirin—sangat keibuan untuk ukuran
anak SMA.
Ia sepertinya
sedang dalam perjalanan pulang berbelanja sambil mengajak anjingnya
berjalan-jalan.
"Um, pemilik
Rento sudah lanjut usia, dan anjing besar butuh banyak jalan-jalan, jadi aku
kadang—" jelas Minamo kikuk.
"Haha,
begitu ya," tanggap Haruki.
"I-Iya!"
angguk Minamo.
Wajah
Minamo berubah cemas saat melihat Haruki basah kuyup sendirian di taman—jelas
bukan pemandangan yang normal. Siapa pun pasti akan khawatir melihatnya.
(Taman ini…)
Haruki teringat
insiden anjing tempo hari. Ini memang lingkungan rumah Minamo.
"Ehm…"
Haruki mencari-cari alasan yang tepat.
Minamo menatapnya
lekat, lalu mengepalkan kedua tangannya seolah membulatkan tekad.
"Rumahku
dekat dari sini! Kamu bisa masuk angin nanti!" serunya memaksa.
"Tidak usah,
aku tidak mau merepotkan—" tolak Haruki.
Minamo
menjatuhkan tas belanjaannya, menyambar tangan Haruki, dan menariknya.
Tenaganya tidak terlalu besar, dan Haruki sebenarnya bisa saja berdiri diam,
namun ia merasa tidak enak hati merepotkan Minamo. Ini adalah masalahnya
sendiri, dan menerima pertolongan terasa keliru.
"Aku tidak
mungkin meninggalkan teman dalam keadaan seperti ini!" deklarasi Minamo.
"…Hah?"
Haruki berkedip kaget.
Minamo tampak
terkejut dengan ucapannya sendiri, wajahnya merona merah sambil tergagap-gagap.
"Um,
berkebun! Teman berkebun! Jadi, eh…" gadis itu salah tingkah.
Haruki tidak
mengerti kenapa Minamo begitu peduli padanya. Namun usaha tulus gadis itu
berhasil membuatnya terkekeh pelan, membuat dadanya terasa lebih ringan.
"Terima
kasih, Mitsutake-san. Rumahku tidak jauh kok. Aku baik-baik saja," kata
Haruki sambil melepaskan genggaman tangan itu lalu melambaikan tangan.
Sebuah hantaman
ringan terasa di punggungnya.
"Mana bisa
begitu!" Minamo memeluknya erat, tidak peduli bajunya ikut basah.
Haruki
kebingungan. Mereka tidak begitu dekat, hanya kenalan sesama pencinta berkebun.
"Kenapa?"
tanyanya.
"Kamu punya
tatapan mata yang sama persis seperti Kirishima-san tadi. Aku tidak tahu apa
artinya, tapi itu… jelas tidak baik-baik saja!" ucap Minamo jujur.
"…Apa?"
Haruki membeku, tertegun mendengar perbandingan itu.
"Kira-kira
apa yang sedang kulakukan…" Haruki tertawa lagi.
Kewalahan
menghadapi desakan Minamo, ia kini sudah berada di rumah Minamo, berendam di
dalam bathtub berisi air hangat sambil meniup gelembung sabun. Suara mesin
pengering berdengung pelan dari ruang cuci.
Sambil
mengerutkan kening, ia membatin, (Rumahnya besar, tapi suasananya ini…)
Rumah
Minamo yang terletak dekat taman itu adalah rumah tradisional Jepang berukuran
besar dan agak tua, menyiratkan keluarga yang cukup berada. Koridornya terawat rapi, terasa hangat
namun diselimuti kesedihan yang samar.
Ia tidak bisa
menganggap ini sekadar urusan orang lain, tenggelam lebih dalam ke dalam air
hangat sambil menyunggingkan kerutan di dahinya. Ia merenungkan perkataan
Minamo tadi.
(Aku dan Hayato,
punya tatapan mata yang sama…)
Ada sesuatu yang
mengganjal di hatinya, namun ia tidak bisa menebaknya. Kebaikan Minamo yang
terlampau memaksakan diri itu terasa sangat mirip dengan sifat Hayato.
Merasa sedikit
pusing, ia akhirnya bangkit dan keluar dari kamar mandi.
"Terima
kasih pinjaman bajunya," ucap Haruki mengenakan seragam olahraga
Minamo—kaos dan celana pendek. Pakaian itu terasa agak ketat namun pas di
badannya, meski bagian dadanya terasa longgar, membuatnya mendesah muram.
"Um, aku
tidak punya pakaian kasual yang lucu…" cicit Minamo.
"Haha, aku
biasanya juga pakai pakaian seperti ini di rumah," jawab Haruki mencairkan
suasana.
"B-Benarkah?"
gugup Minamo.
Minamo duduk kaku
di sofa ruang tamu dengan postur yang terlalu formal. Haruki yang bingung harus
merespons bagaimana menyunggingkan senyuman tipis, duduk di sebelah gadis itu
sambil bergumam, "Terima kasih sudah menampungku."
Minamo
tersentak kecil, tubuhnya sedikit bergetar. Haruki terkekeh melihat situasi terbalik di antara
mereka.
Keheningan
melingkupi ruangan.
Melirik
ke arah Minamo, gadis itu tampak tegang, meringis sambil menghindari kontak
mata.
(Pakaianku
sepertinya butuh waktu agak lama untuk kering…) desah Haruki dalam hati sambil
mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Lemari
pakaian yang sudah usang, meja rendah dengan goresan di sana-sini, serta rak
televisi jadul terlihat tua namun terawat dengan penuh kasih sayang,
mencerminkan kepedulian pemiliknya. Namun keberadaan Minamo yang sendirian di
rumah sebesar itu terasa janggal.
(Tunggu
sebentar…)
Haruki
menyadari tidak ada tanda-tanda kehadiran anggota keluarga lain atau suara
aktivitas di rumah itu. Keberadaan
tas belanja berisi kecap dan mirin tadi semakin memperkuat keanehan ini. Ada
sesuatu yang tidak beres di sini.
Pikiran itu
tercermin jelas di wajahnya. Minamo yang menangkap tatapannya mengepalkan
tangan, dan setelah ragu sejenak, gadis itu akhirnya membagikan rahasianya.
"Aku
sendirian di rumah ini," akunya lirih.
"…Oh,"
kaget Haruki pelan.
Perasaan deja
vu melanda, kepingan-kepingan teka-teki itu mulai jatuh ke tempatnya.
"Kakekku,
yang sudah lama tinggal bersamaku, sekarang masuk rumah sakit. Rasanya sepi
sekali… Aku membawamu ke sini sebenarnya untuk menemaniku. Maafkan aku…"
sesal Minamo.
"Tidak perlu
minta maaf! Jadi begitu alasannya…" kata Haruki lembut.
Permohonan maaf
Minamo yang polos layaknya anak kecil, mengakui kesepiannya dengan jujur,
terasa begitu menggemaskan. Ketulusannya terpancar nyata, membuktikan bahwa
gadis itu memang memiliki hati yang sangat baik.
Melihat Minamo
dengan berani mencoba bertahan di tengah kesepiannya, Haruki bergerak secara
naluriah.
"Sendirian
itu menyebalkan, kan?" ucapnya pelan.
"Nikaidou-san!?"
kaget Minamo.
"Aku juga
sendirian di rumah. Rasanya sepi sekali…" aku Haruki terbuka.
"Nikaidou-san…"
gumam Minamo terharu.
Mengikuti
dorongan hatinya, Haruki merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangat,
mengabaikan keterkejutan Minamo.
(Ah, aku
mengerti sekarang…)
Ia akhirnya
paham.
Kesepian
memang menggerogoti jiwa. Keinginan
untuk melarikan diri dari rasa itu—Hayato pasti merasakan hal yang sama. Itulah
sebabnya sahabat masa kecilnya itu begitu overprotektif dan suka ikut campur
urusannya.
Sebuah
tekad bulat mengisi ruang kosong di dalam hatinya.
"Hei,
bolehkah aku datang lagi lain waktu? Di siang hari," pinta Haruki.
"Tentu
saja, dengan senang hati!" senyum Minamo cerah.
"Dan…
mari berteman."
"Hah?"
"Bukan
cuma sekadar teman berkebun. Teman sungguhan. Aku ingin berubah. Apakah… boleh?"
"Mana
mungkin aku menolak! Um, tentu saja, silakan...!" jawab Minamo
terbata-bata saking bahagianya.
"Haha,"
tawa Haruki renyah.
Mereka terkikik
geli dalam kecanggungan, tawa itu berhasil mengusir awan kelam di hati mereka.
Semuanya sebenarnya sesederhana itu, hanya saja tertutupi oleh keegoisan mereka
sendiri.
Haruki bersumpah
dalam hati untuk terus berjuang, menepati janji-janji masa lalu.
Ponselnya
berdering—panggilan dari Hayato.
Kenapa
tiba-tiba menelepon? Mereka biasanya lebih sering berkirim pesan teks. Merasa
heran, ia sempat ragu-ragu untuk mengangkatnya.
Minamo
mengangguk memberi dorongan semangat. Haruki tersenyum masam lalu menerima panggilan itu.
"Kamu
baik-baik saja?" tanya Hayato langsung.
"…Hah?"
Haruki berkedip bingung.
"Um, waktu
di bioskop tadi… Kalau tidak terjadi apa-apa, baguslah," sambung pemuda
itu dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam.
Perhatian tak
terduga itu membuatnya salah tingkah, tapi itu memang sangat mencerminkan diri
Hayato. Mendengar suara pemuda itu, semangat aslinya kembali bangkit, membuat
dadanya terasa lapang.
Namun sebuah
perasaan usil mendadak muncul di benaknya. Melirik ke arah Minamo, ia menggoda,
"Kenapa, merasa kesepian dan butuh mendengar suaraku?"
"Mana
mungkin! Jangan ngawur! Tapi… kalau kamu baik-baik saja, syukurlah,"
gerutu Hayato di ujung sana.
"Aku tadi
merasa kesepian kok," aku Haruki jujur.
"…Haruki?"
Nada suara Hayato berubah serius.
"Waktu
aku pulang tadi, Ibu ada di rumah. Hal pertama yang dia lakukan adalah menampar pipiku. Lucu, kan? Pertama
kalinya dalam enam bulan kami bertemu, dan dia bilang keberadaanku adalah
sebuah kesalahan. Aku langsung kabur," jelas Haruki tenang.
"…"
"Ini masalah
pribadiku, bukan cerita yang pantas dibagikan sembarangan. Canggung, ya? Tapi
aku ingin kalian berdua tahu," lanjutnya.
"Aku adalah
anak haram Mao Takura," ia membongkar rahasia terbesarnya.
"!?"
kaget Hayato di ujung telepon.
"Iih!?"
teriak Minamo kaget
setengah mati di sebelah Haruki.
"Aku
tidak tahu siapa ayahku. Aku hanya dianggap beban, tidak diinginkan. Rasanya…
benar-benar sepi," aku Haruki diiringi getir.
"Kalau
begitu! Kita sudah berjanji,
kan! Aku akan menjemputmu, kamu di mana sekarang!?" bentak Hayato panik di ujung
sambungan.
"Tidak
mau," tolak Haruki tegas.
"Haruki!"
"Aku tadi
sempat pergi ke tempatmu, tahu. Kamu pasti akan menerimaku masuk tanpa banyak
tanya. Tapi aku berpikir, mungkin bukan karena aku orangnya kamu mau berbuat
begitu," jelasnya.
"Haruki… Apa
maksud dari perkataanmu itu?" tanya Hayato kebingungan.
Ketenangannya
sangat kontras dengan kepanikan pemuda di seberang sana. Minamo mengawasi
dengan cemas, membuat Haruki kembali terkekeh kecil.
"Karena kamu
juga merasa kesepian, Hayato," ucapnya lembut.
“!?” Hayato
tertegun.
“Kubilang kamu
itu istimewa. Aku tidak mau hanya bersandar padamu. Itu namanya ketergantungan.
Aku juga ingin mendukungmu. Ini masalahku sendiri,” ucap Haruki mantap.
Waktu telah
mengubah banyak hal.
Perbedaan tinggi
badan mereka, suaranya yang semakin matang, hingga masalah keluarga yang
membelit.
“Kita tidak bisa
terus menjadi diri kita yang dulu,” ujarnya.
“Mana bisa
begitu…” protes Hayato di ujung sambungan.
Masa lalu telah
berlalu, kenyataan hidup pun telah bergeser.
Namun, perubahan
itu pula yang justru menjaga hal-hal berharga tetap utuh.
Perpisahan mereka
di masa kecil memang tidak bisa dihindari, tapi sekarang semuanya bisa berjalan
dengan cara yang berbeda.
Ia ingin memperkuat ikatan rapuh di antara mereka dengan kenangan-kenangan baru, menyuarakan keinginannya itu dengan penuh keberanian.
“Aku ingin
berubah, menjadi sosok yang benar-benar istimewa untukmu,” ucap Haruki.
Pengakuan itu
begitu berani, membuat jantungnya berdegup kencang namun menyisakan kehangatan
di dada.
“Cuma bercanda
kok! Sampai ketemu besok di sekolah!” serunya terburu-buru, lalu langsung
memutuskan sambungan telepon untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang
luar biasa.
Minamo menatapnya
dengan wajah bingung dan salah tingkah. Haruki merona merah, baru menyadari
betapa berat dan jujurnya bobot kata-kata yang baru saja ia ucapkan.
Rasa penyesalan
mulai merayap, namun Minamo tiba-tiba meraih kedua tangannya dengan erat.
“Aku tidak akan
bilang ke siapa pun!” janji Minamo bersungguh-sungguh.
“Wah!
Mitsutake-san!?” seru Haruki kaget.
“Bagi-bagi beban
itu susah. Kakekku juga… tapi sekarang, aku juga temanmu!” tegas Minamo kukuh.
“…Oh,” leleh
pertahanan Haruki, senyum lembut terukir di wajahnya.
Kesungguhan hati
Minamo, di tengah pergulatannya sendiri, adalah hal yang dulu berhasil menarik
perhatian Haruki.
Membalas
genggaman tangan itu, Haruki mengakui kelemahannya, “Sebenarnya aku ini orang
yang berantakan dan payah.”
“Nikaidou-san…?”
Minamo memiringkan kepalanya bingung.
“Jadi, bantu aku
jadi lebih kuat ya?” pinta Haruki tulus.
“Kalau aku bisa,
dengan senang hati!” setuju Minamo mantap.
Haruki tersenyum
kikuk, sementara Minamo berseri-seri gembira sambil mengecap pelan nama
panggilan baru itu di bibirnya.
“Mau dengar keluh
kesahku? Tentang sahabat masa kecilku yang istimewa tapi juga menyebalkan itu…
Minamo-chan,” ajak Haruki.
“Ya, Haruki-san!”
jawab Minamo penuh semangat.
Di luar sana,
langit malam perkotaan menampilkan lebih sedikit bintang, sang bulan pun
bersembunyi di balik awan.
Namun, sesuatu
yang lain justru bersinar jauh lebih terang di dalam sana.



Post a Comment