Chapter 4
Hal yang Dirahasiakan
Akhir
pekan terasa lebih mirip sisa musim panas daripada musim gugur, dengan udara
panas bercucuran keringat yang sama sekali tidak sesuai dengan pergantian
musim.
Dalam
perjalanan menuju stasiun, hawa panas tampak bergetar di atas aspal, sementara
angin suam-suam kuku membelai pipi.
"Ugh,
panas banget..."
Hayato
memelototi matahari terik yang membakar di langit biru yang cerah, seolah-olah
matahari itu sedang memuntahkan sisa-sisa terakhir musim panas, lalu menyeka
keringat dari dahinya.
Area
stasiun sangat sibuk dipadati oleh orang-orang di hari libur ini.
Bahkan tanpa
tempat pertemuan khusus, berdiri diam saja sudah pasti akan menarik perhatian.
Melihat Haruki di
dekat mesin tiket, sedang memindai kerumunan orang sambil memegang ponsel di
tangannya, Hayato mengangkat sebelah tangan dan memanggilnya.
"Haruki,
maaf membuatmu menunggu."
"Oh,
Hayato... Cuma kamu sendirian? Di mana Hime-chan dan Saki-chan?"
"Ya, mereka
tadi ada urusan sebentar, jadi kita janjian langsung ketemu di sana."
"Hmm?"
"Ayo kita
naik kereta... Oh,
tunggu, aku harus beli tiket dulu."
Setelah
membeli tiket dan melewati pintu gerbang tiket, kereta tiba tepat pada
waktunya.
Didorong
oleh Haruki yang sudah berada di peron, Hayato bergegas naik ke dalam kereta.
Kereta
liburan itu memiliki beberapa kursi kosong, namun tidak ada yang tersisa untuk
dua orang sekaligus, jadi mereka berdiri di dekat pintu, berpegangan pada tiang
pegangan tangan sambil mengatur napas.
"Fiuh,
akhirnya keburu."
"Bukannya
mau sok mirip Hime-chan, tapi apa kamu nggak pernah kepikiran pakai kartu IC?
Aplikasi di ponselku bisa ngumpulin poin, tahu."
"Uh,
soalnya..."
Haruki
memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran, sementara Hayato menggaruk-garuk
bagian belakang kepalanya.
Ia
sebenarnya sudah pernah mendengarnya sebelumnya, tetapi ia tidak punya alasan
yang jelas. Uang tunai jauh lebih mudah untuk melacak pengeluaran, dan karena
ia lebih memilih berjalan kaki untuk menghemat ongkos kereta saat bekerja atau
bepergian, ia jarang sekali membutuhkannya. Ditambah lagi, ia agak waspada
terhadap hal-hal seperti peretasan, karena ia tidak sepenuhnya paham cara
kerjanya.
Sambil
mengerutkan kening saat memikirkan alasan untuk menjawab, Haruki menatapnya
dengan pandangan penuh selidik.
"Apa
jangan-jangan kamu lagi nabung buat beli skuter? Supaya nggak perlu naik kereta
lagi?"
"Nggak,
bukan begitu. Aku cuma jarang naik kereta, jadi nggak butuh."
"Padahal
itu praktis banget lho kalau punya. Beli aja sana."
"Mungkin
sih, tapi rasanya repot banget."
Hayato tertawa
kecil dengan canggung untuk mengalihkan topik.
Namun Haruki
justru mengerutkan kening dan mendesaknya lebih jauh.
"Kamu
sengaja menghindari skuter karena alasan yang sama juga, kan?"
"Hm, benar
juga sih. Banyak toko di dalam jarak berjalan kaki, tempat parkir terbatas, dan
biaya perawatannya juga numpuk. Kereta jauh lebih murah dan gampang buat
pergi-pergi."
"Wah,
Hayato, jawabanmu itu realistis banget sampai rasanya membosankan!"
"Haha,
tapi—"
Ia menghentikan
ucapannya, melirik sekilas ke luar jendela.
Di bawah langit
barat yang tanpa awan, Gunung Fuji tampak menjulang dengan jelas.
Menatap ke arah
gunung itu, ia membiarkan isi pikirannya terucap begitu saja.
"Kalau
aku punya skuter, di hari cerah seperti ini, aku bisa langsung berkendara ke
sana. Bukannya itu kedengaran seru?"
Itu
bukanlah alasan yang muluk-muluk. Ia tahu itu terdengar seperti anak kecil, dan
ia bahkan tidak yakin apakah ia benar-benar akan pergi sendirian.
Rasanya seperti
sebuah jimat—pemikiran bahwa ia bisa pergi ke mana saja jika ia
menginginkannya.
Untuk bisa tiba
di sana dalam sekejap jika seseorang yang penting membutuhkannya.
Saat Hayato
tertawa kecil malu-malu, Haruki, yang menatap ke arah Gunung Fuji, bergumam
pelan, "Aku mengerti—"
"Achoo!"
Gadis itu
mendadak bersin dengan manis.
"Kamu nggak
apa-apa?"
"Ya, nggak
apa-apa. AC-nya pas banget kena aku di sini. Aku bawa jaket kok."
Sambil
menggosok-gosok kedua lengannya, Haruki mengenakan atasan tanpa lengan dan rok
kotak-kotak, pakaian musim panas yang mirip seperti milik Hayato. Namun ia
membawa jaket tipis, yang langsung ia kenakan lalu berputar pelan di
hadapannya.
"Bagaimana
menurutmu? Aku beli ini bareng Hime-chan dan yang lain."
"…Rasanya
mendadak jadi bernuansa musim gugur banget."
"Kan? Hari
ini kan panas, jadi aku pakai pakaian berlapis yang pas."
"Oh
begitu."
Cewek-cewek pasti
memikirkan banyak hal soal pakaian, batin Hayato sambil memberikan jawaban
singkat. Haruki mengangkat bahunya dan berkata dengan nada menyindir,
"Kamu juga harusnya coba berdandan, Hayato."
"Uh, aku
begini saja sudah cukup."
"Mengubah
gaya berpakaianmu itu bisa memberi penyegaran lho! Orang-orang bakal bereaksi beda, dan itu seru.
Kamu juga pasti bakal kaget kan kalau melihatnya?"
"Ugh."
Memang
benar, sejak bertemu kembali, berbagai gaya busana Haruki sering kali
membuatnya kaget setengah mati. Namun nada bicara Haruki yang mengejek
membuatnya sedikit mengerutkan kening.
Ia
mencoba membayangkan dirinya berdandan rapi untuk mengejutkannya.
Karena
seumur hidup tidak pernah peduli soal fesyen, bayangan terbaik yang bisa ia
ciptakan di kepalanya adalah dirinya memakai kostum domba—jelas itu jenis
kejutan yang salah besar. Kerutan di dahinya semakin dalam. Haruki, yang
melihat ekspresi wajahnya, tersenyum kecut.
Tak lama
kemudian, mereka tiba di stasiun tujuan.
Stasiun yang luas
dan kompleks itu dipenuhi oleh lautan manusia yang bergegas menuju tujuan
masing-masing.
Tempat pertemuan
hari ini, sesuai perintah Himeko, adalah di pintu masuk pusat perbelanjaan di
dalam stasiun, bukan di patung burung yang biasa.
Sudah berapa kali
ia ke tempat ini? Ia masih belum sepenuhnya memahami tata letak stasiun
tersebut, namun mengikuti petunjuk arah dan kerumunan orang membuat
perjalanannya terasa lebih mudah. Ia mulai terbiasa dengan kehidupan kota.
Mereka tiba di
pintu masuk dengan lancar.
Sambil memindai
sekeliling untuk mencari wajah yang dikenal, sebuah sapaan "Yo!"
terdengar dari arah belakang.
"Hayato-kun,
Nikaido-san."
"Yo,
Kazuki."
Menoleh ke
belakang, Hayato melihat Kazuki berlari kecil menghampiri mereka, tampak
sedikit panik. Di belakangnya, seorang wanita yang sedikit lebih dewasa dengan
dandanan mencolok tampak menunjukkan ekspresi kecewa, mengisyaratkan bahwa
pemuda itu baru saja kabur darinya.
Hayato dan Haruki
saling bertukar pandang, tertawa kecil penuh arti—sangat khas Kazuki sekali.
"Masih saja
jadi magnet masalah, ya?"
"Haha, berat
juga ya. Tapi Nikaido-san pasti sering banget diajak kenalan juga, kan?"
"Aku
memastikan hal semacam itu nggak bakal terjadi."
"Iya, Haruki
itu pada dasarnya kayak gadis hikikomori yang benci keluar rumah."
"Hayato!?"
"Haha,
kalian berdua tetap saja klop seperti biasanya," ucap Kazuki dengan mata
melebar sebelum tersenyum lebar. Setelah tertawa sejenak, ia mengedarkan
pandangan. "Cuma kalian berdua saja?"
"Ya, kami
baru sampai—oh?"
Hayato melihat
Iori dan Ema sedang berjalan mendekat dari arah kawasan kota.
Ia berniat
melambaikan tangan namun mendadak membeku, menelan mentah-mentah kata-kata di
tenggorokannya.
"Pakaian
serasi, baru pertama kali ya."
"Agak
malu-malu-in sih."
"Tapi aku
senang."
"…Aku
juga."
"Ehe."
"Hehe."
Sambil
berpegangan tangan, mereka saling bertukar kata-kata malu-malu yang manis.
Perubahan besar ini sungguh luar biasa bagi mereka, kemungkinan besar terdorong
oleh pelajaran berharga tentang pentingnya mengungkapkan perasaan setelah
insiden kemarin.
Hayato menyadari
mereka sedang memainkan gantungan kunci kura-kura yang serasi di tas mereka,
tersipu malu dan memalingkan wajah saat tatapan mereka tak sengaja bertemu.
Mereka pasti baru membelinya tadi.
Mereka
benar-benar pasangan yang sangat kasmaran. Kehangatan kasih sayang mereka
sangat mengharukan sebagai seorang teman, namun suasana manis yang berlebihan
itu hampir membuat siapa pun merasa ngilu.
Hayato merasa
ragu untuk memanggil mereka.
Menoleh ke arah
Haruki dan Kazuki dengan kedutan di pipinya, ia melihat keduanya mengangkat
bahu dengan ekspresi seolah-olah kelebihan gula.
"—Oh."
"!?"
"Hei,
yo."
Mata Iori
bertatapan langsung dengannya, dan rona merah malu-malu langsung membanjiri
wajah pemuda itu. Ema, yang wajahnya merona merah, terbata-bata mengucapkan,
"Ini, um..." sambil memilin jarinya dengan salah tingkah. Hayato
berusaha memasang senyuman canggung.
Keheningan yang
tidak nyaman pun tercipta.
Lalu, sebuah
teriakan nyaring "Ahh!" memecah kesunyian saat Himeko berlari kencang
dari arah pusat perbelanjaan menuju ke arah Iori dan Ema.
"Eek,
kasmaran banget! Ema-san, imut banget! Oh, itu gaya pegangan tangan pasangan kekasih kan!?"
"!
Himeko-chan!?"
"H-Himeko-chan!?
Ini, um..."
"Tunggu,
gantungan kunci kembaran!? Sepasang!?"
"I-Iori
bilang kita harus beli barang yang samaan..."
"Ema,
tunggu!?"
"Kyaa!"
Antusiasme
Himeko meledak mendengar ucapan Ema.
Iori
tampak salah tingkah sementara Ema terlihat diam-diam merasa senang.
Hayato
dan yang lainnya saling bertukar pandang, tertawa kecil penuh geli.
Lalu ia
mendadak teringat—Saki tidak ada di sini. Bukankah gadis itu bersama Himeko? Ia
memiringkan kepalanya dengan bingung, hingga ia mendengar suara kepanikan
berseru, "Hime-chan, tunggu!"
Himeko
pasti berlari mendahului setelah melihat Iori dan Ema.
Hayato
menghela napas panjang melihat tingkah polah adiknya lalu menoleh ke arah
sumber suara Saki.
"Saki...
eh?"
Suaranya
tertahan di tenggorokan dengan aneh. Melihat gadis yang sedang berjalan
mendekat, ia ternganga lebar, dengan mata membelalak dan mengerjap tak percaya.
"Hime-chan
itu... Oh, sepertinya kita yang paling akhir ya. Apa kami membuat kalian menunggu lama?"
"Nggak,
itu..."
Itu sudah pasti
Saki—suaranya terdengar sama persis. Namun ia tidak bisa mengalihkan
pandangannya, betapapun tidak sopannya hal itu.
Gadis yang
berdiri di hadapannya, dengan pipi yang sedikit merembeskan rona kesal, adalah
kebalikan total dari imej Saki yang biasanya lembut dan pendiam. Ia terlihat
begitu memukau dan penuh energi.
Rambut pirang
kecokelatannya yang bergelombang ditata dengan model setengah diikat bervolume,
sementara atasan rajut off-shoulder dan rok mini yang dikenakannya
memperlihatkan bahu yang mulus serta paha jenjang yang biasanya selalu
tertutup.
Penampilan itu begitu mempesona, hampir terasa terlarang untuk dipandang. Riasan wajahnya tampak sempurna, menonjolkan pahatan wajahnya dan melipatgandakan keanggunannya.
Bagaikan kota
yang menjelma menjadi manusia—seorang gadis yang begitu elegan dan memukau.
Hayato, Haruki,
dan Kazuki terpaku, tak bisa berkata-kata.
Ekspresi
Saki mendadak berubah cemas.
"Um,
apa ini... aneh?"
"!
T-tidak, eh..."
Nada
bicaranya yang gelisah berhasil menyadarkan Hayato. Ia meraba-raba mencari kata yang tepat.
"A-aku cuma
kaget. Rambutmu beda, tapi itu cocok kok. Terus, eh, pakaianmu—nuansanya beda,
tapi cerah dan... bagus."
Ia bermaksud
berbicara seperti biasa, namun kata-katanya justru terbata-bata.
"! Terima
kasih! Yey!"
Wajah Saki
langsung berseri-seri, tangannya mengepal gembira sementara ia melompat-lompat
kecil seperti anak kecil.
Jantung Hayato
berdegup kencang—karena gugup atau sesuatu yang lain—membangkitkan emosi asing
di dadanya.
Sambil merona
merah, ia memalingkan wajah dan mendapati tatapan Haruki tertuju padanya.
"Tuh
kan, Hayato? Fesyen itu punya kekuatan besar, kan?"
"Ya..."
Haruki
tersenyum lebar lalu menoleh ke arah Saki.
"Saki-chan,
itu imut banget! Cocok buat kamu!"
"Ehe,
aku mencoba sesuatu yang baru. Soalnya kita lagi di kota, ya kan!"
"Nuansanya
beda banget, tapi pas! Kontrasnya keren—aku tadi sempat terpaku seperti Hayato,
sampai nggak tahu mau ngomong apa!"
"Haha,
sepertinya aku berhasil mengejutkan kalian ya!"
Saki berputar
pelan dengan malu-malu.
Kazuki, yang kini
sudah kembali tenang, ikut menimpali.
"Murao-san,
itu benar-benar cocok untukmu. Aku sampai kaget. Berubah sebanyak ini pasti
membuatmu merasa seperti menjadi versi baru dari dirimu, kan?"
"!
Iya! Aku, rasanya lebih bersemangat, sampai merasa seperti bukan diriku
sendiri..."
"Kayak
penampilanmu menarikmu masuk ke dalam versi dirimu yang baru?"
"Tepat
sekali!"
"…Aku
kenal seorang gadis yang berubah menjadi seperti yang ia inginkan dengan cara
seperti itu. Apa kamu punya gambaran ‘dirimu’ yang sedang kamu tuju,
Murao-san?"
"Eek!?"
Saki
mengerjap cepat dengan panik, melirik ke arah Hayato sambil bergumam
"Uh" dan "Hmm". Kazuki tersenyum hangat, entah sedang
menggoda atau sekadar mengawasinya.
Hayato
turun tangan menengahi.
"Ayo kita ke
tempat tujuan."
Pusat kota di
hari Minggu dipenuhi oleh orang-orang yang berbelanja atau sekadar menikmati
waktu luang.
Untungnya,
kerumunan orang secara alami mengalir menuju Shine Spirits City, membuat
perjalanan terasa mudah.
Namun Himeko,
yang berjalan di sisinya, mengeluh kepanasan.
"Ugh, panas
banget..."
Pakaiannya—atasan
lengan bangga dan rok bergaris timbul—tampak dewasa dan bernuansa musim gugur.
Ia menggumamkan frasa "Fesyen adalah pengorbanan" bagaikan sebuah
mantra.
Hayato meliriknya
dengan datar alih-alih menyetujuinya.
"Kalau
begitu, pakai pakaian yang lebih adem."
"Ugh, Onii,
kamu nggak ngerti! Coba lihat Kazuki-san!"
Gadis itu
menunjuk ke arah Kazuki, dan Hayato pun meliriknya.
Kemeja monokrom
dan celana tapered yang dikenakan Kazuki memancarkan kesan bersih dan
dewasa, ditambah sepatu kanvas yang memberikan sentuhan musim gugur. Hayato
mengeluarkan gumaman kagum, "Oh."
Kazuki,
menyadarinya, tersenyum.
"Haha,
terima kasih. Himeko-chan juga selalu terlihat imut kok."
"Hehe,
Kazuki-san selalu pandai merayu ya. Ugh, Onii, kamu setidaknya harus berusaha
setengah dari usahanya. Coba lihat dirimu—sama sekali nggak ada nuansa
musimannya!"
"…Maaf."
Karena ditegur
karena mengenakan pakaian musim panas, Hayato meringis masam.
Saat bertatapan
dengan Kazuki, ia mendapatkan balasan berupa angkatan bahu penuh simpati dan
senyuman usil.
"Ya,
Hayato-kun, mungkin kamu harus menganggap berpakaian rapi itu sebagai bentuk
penghargaan untuk orang lain, bukan cuma buat diri sendiri."
"Untuk orang
lain...?"
"Kalau kamu
satu-satunya yang santai sementara yang lain berusaha keras, itu bakal merusak
suasana kelompok, kan?"
"Hm, benar
juga..."
Pernyataan itu
masuk akal, akuinya dalam hati.
Himeko mengangguk
penuh semangat tanda setuju.
"Hayato-kun
sebenarnya punya postur tubuh yang bagus lho."
"Kazuki-san,
tolong bantu pilihkan pakaian untuk Onii lain kali ya!"
"Mungkin
seret dia ke salon juga sekalian."
"Setuju!
Ubah total penampilannya!"
"Kalau itu
Hayato-kun, mungkin—"
"Tapi kalau
Onii—"
"…"
Himeko dan Kazuki
terbawa suasana merencanakan perombakan total penampilan Hayato.
Merasa canggung,
Hayato melangkah mundur menjauh.
Saki sedang asyik
mengobrol dengan Iori dan Ema tentang rutinitas mereka, tampaknya membahas
topik percintaan.
Ia mengedarkan
pandangan ke sekeliling.
Meskipun cuaca
panas, para pejalan kaki mengenakan pakaian dengan warna yang lebih lembut dan
bernuansa musim gugur, mirip seperti Himeko dan yang lainnya.
Mengingat kembali
ucapan Kazuki, ia meneliti penampilannya sendiri. Pakaian musim panasnya memang
sangat mencolok, dan mungkin bukan dalam arti yang bagus.
Melirik ke arah
Haruki, ia memerhatikan fitur wajah gadis itu yang mencolok dan kerap menarik
perhatian orang-orang di kerumunan. Sebagai rekan jalannya, ia mungkin harus
lebih peduli pada penampilannya.
Mungkin aku harus
berusaha lebih... Tapi bagaimana caranya? Sambil mengerutkan kening, ia
memerhatikan Haruki yang sedang menatap sehelai rambutnya dengan ekspresi yang
tampak serius.
"Haruki?
Rambut bercabang atau semacamnya?"
"…Nggak."
Nada
suaranya yang merajuk diiringi dengan embusan napas jengkel.
Sambil
mempermainkan rambutnya, gadis itu ragu-ragu sejenak sebelum berbicara.
"Bagaimana
kalau aku, misalnya, memutihkan warna rambutku?"
"Kamu,
mau ganti warna rambut...?"
Ia
mengamati rambut hitam panjang dan berkilau milik gadis itu—bagian penting dari
penampilannya yang elegan dan rapi, yang sudah menjadi ciri khasnya.
Membayangkannya dengan warna lain terasa sulit; ia akan terlihat seperti orang
yang sepenuhnya berbeda.
Sambil
mengerutkan kening, ia berbicara jujur.
"Nggak
kebayang."
"Begitu
ya."
Haruki
tersenyum tipis, pandangannya tertuju pada Saki.
Mungkin
perubahan yang dilakukan Saki memicu sesuatu di dalam dirinya.
Merasa
sedikit paham, Hayato menggaruk kepalanya, berdehem pelan, lalu kembali
melangkah ke depan.
"Tapi
aku suka rambutmu yang sekarang kok."
"…Huh?"
Meninggalkan
suara keterkejutan gadis itu di belakang, ia berlari menyusul Himeko dan yang
lainnya.
Mereka tiba
di gedung pameran Shine Spirits City.
Sebuah
spanduk raksasa bertuliskan "Obral Besar-Besaran Akhir Musim Panas!"
menyambut mereka, sementara lautan wanita memadati area tersebut.
Hayato pernah
melihat kerumunan orang di tempat ini sebelumnya, namun kerumunan hari ini
terasa sangat luar biasa. Pantas saja mereka menggunakan aula acara alih-alih
toko khusus.
"““Wah...””"
Hayato, Himeko,
dan Saki—tiga serangkai Tsukinose—bergumam bersamaan.
Para wanita di
sekitar mereka memancarkan binar tatapan penuh semangat bagaikan pemburu harta
karun, menciptakan suasana yang menegangkan.
Obral
diskon ini adalah medan perang sejati, membuat Hayato menelan ludah.
Namun Himeko,
Saki, dan Ema justru tampak membara penuh semangat.
"Nggak ada
waktu untuk buang-buang waktu! Ayo pergi, Saki-chan, Ema-san!"
"Ya,
cepatlah, Hime-chan! Barang-barang bagusnya bakal keburu habis!"
"Iori, kita
ketemuan di sekitar sini nanti ya! Aku mau berburu barang diskon!"
"Ayo,
Haru-chan!"
"M-Mya!?"
Haruki,
yang awalnya ragu-ragu seperti Hayato, terseret oleh antusiasme Himeko.
Terpaku
oleh semangat menggebu-gebu para gadis itu, Hayato, Kazuki, dan Iori—tiga
sekawan cowok—saling bertukar pandang lalu tertawa kecil.
"Mari kita
mulai misi kita."
"Ya,
bagusnya kita menghindari kekacauan itu."
"Haha, Ema
itu selalu lama banget kalau milih barang."
Tanpa banyak
bicara, mereka melangkah masuk ke dalam area pameran.
Aula pameran
tersebut tampak sangat padat.
Stan-stan yang
tertata rapi berbaris memenuhi ruangan, pemandangan yang megah. Berbagai merek
terkenal di luar toko khusus kota juga turut hadir di sini.
Sangat mudah
untuk bersenggolan dengan orang lain jika tidak berhati-hati, namun Hayato
tidak bisa menahan diri untuk terus melihat-lihat sekeliling.
Kazuki dan Iori
menunjukkan rasa penasaran yang sama, sebuah bukti dari skala besar acara
tersebut.
Menyusuri jajaran
yukata, Hayato melihat berbagai desain sederhana, warna pastel yang imut, motif
berani, hingga gaya yang mencolok—masing-masing merek memiliki ciri khas
tersendiri.
Pakaian musim
panas, payung teduh, sandal, topi, dan kipas angin juga tersedia melimpah.
Pemandangan itu
sangat memanjakan mata, dan ia mulai mengerti kenapa Himeko dan yang lainnya
begitu antusias.
Mereka tiba di
bagian khusus pria, yang keadaannya tidak terlalu padat meskipun tetap sibuk.
"Wah, apa
itu?"
Iori berlari
mendekati sebuah manekin di dekat pintu masuk, disusul oleh Hayato yang
berjalan tergesa-gesa di belakangnya.
"Astaga,
mencolok banget... Sudut khusus seri Kabuki?"
"Di sebelah
kanannya ada sudut samurai dan ronin... Haha, cocok banget."
"Yang ini
untuk pakaian pasangan serasi... Iori, gimana kalau ambil ini?"
"Hah!? Mana
mungkin!"
"Ayolah, ini
kesempatan bagus, kan?"
"Kalau gitu
sana pakai itu bareng Nikaido-san!"
Iori menunjuk
sebuah yukata dengan motif kotak-kotak putih dan oranye, terlihat imut untuk
ukuran cowok namun sangat pas untuk Haruki.
Hayato
membayangkan dirinya mengenakan pakaian itu bersama gadis tersebut.
Pakaian itu akan
langsung menunjukkan kesan "pasangan dekat", yang memang memalukan
namun memunculkan bayangan senyum usil Haruki di kepalanya, membuatnya semakin
bersemangat—sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"…Nggak,
nggak mungkin."
"Haha, benar
juga ya?"
"Kenapa
harus aku dan Haruki sih? Kami kan cuma teman masa kecil."
"Hah?"
"Apaan?"
Keluhan gerutuan
Hayato membuat mata Iori membelalak tak percaya, lalu melengkung membentuk
senyuman licik.
"Jadi, kamu
sebenarnya lebih suka kembaran sama Miko-chan?"
"Apa!?"
Ucapan Iori
membuat Hayato membayangkan dirinya memakai yukata serasi dengan Saki, membuat
jantungnya berdegup kencang.
Sebelumnya, ia
akan membayangkan senyuman tenang dan anggun gadis itu layaknya seorang gadis
kuil saat menarikan tarian Kagura.
Namun kini, wajah
gadis itu yang merona malu justru terlintas di benaknya—dan ia langsung menepuk
kedua pipinya dengan keras.
"H-Hayato!?"
"Aduh!"
Pikirannya
mendadak kacau balau.
Secercah rasa
bersalah bercampur baur dengan emosi rumit yang tak bisa ia jabarkan.
Dalam
kepanikannya, ia menyapu pandangan ke seluruh toko untuk mengalihkan topik.
"J-jadi,
pilihannya banyak banget ya?"
"…Iya, lebih
banyak dari yang aku duga. Susah milihnya."
"Aku
benar-benar buta soal hal-hal begini... Mana si Kazuki?"
"Tadi
kuperhatikan dia bareng kita—kemana dia perginya?"
Melangkah lebih
jauh ke dalam toko, mereka menemukan pemuda itu, namun Hayato ragu-ragu untuk
memanggilnya.
Kazuki sedang
serius mengamati sehelai yukata yang menggantung pada gantungan baju, dengan
ekspresi yang luar biasa serius dan alis berkerut.
Ia belum pernah
melihat pemuda itu begitu fokus, bahkan saat kegiatan klub sekalipun.
Saat Kazuki
mengambil salah satu yukata, Iori bersuara.
"Kazuki, mau
ambil yang itu?"
"Oh,
Iori-kun, Hayato-kun. Ini cuma salah satu kandidat..."
Pemuda itu
mengangkat sebuah keranjang yang meluap penuh dengan tumpukan yukata, yang
sepertinya dikumpulkan hanya dalam hitungan menit.
Hayato
dan Iori mengerjap kaget.
Tanpa
merasa canggung, Kazuki tersenyum lebar, mengeluarkan yukata satu persatu, lalu
menjejalkannya ke hadapan mereka.
"Kalau
untuk Hayato-kun? Warna-warna cerah sepertinya cocok buatmu. Motif modern,
seperti ini..."
"Ah,
oke."
"Untuk
Iori-kun, mungkin kain berwarna lebih gelap dengan motif berani? Atau sesuatu
yang imut seperti ini..."
"Y-ya?"
Hayato
dan Iori terhuyung kaget saat melihat mata Kazuki berbinar-binar penuh
semangat.
Pemuda itu
ternyata sangat menyukai kegiatan ini.
Yukata yang
dipilihnya terasa sangat modis—Hayato tidak akan pernah bisa menemukannya
sendiri jika mencarinya sendirian.
Iori, yang merasa
terkesan, mulai ikut memilih dari tumpukan pilihan Kazuki.
"Sepertinya
aku akan pilih dari sini saja. Terima kasih, Kazuki."
"Aku juga.
Makasih ya, bro."
"Sama-sama."
Kazuki
mengembuskan napas lega, dan Hayato tertawa kecil.
"Terus,
kalau buat kamu sendiri yang mana?"
Kazuki
mengerutkan kening, tampak kebingungan.
"Nah, itu
masalahnya—aku galau. Mau
yang simpel dan aman, yang modis dan tenang, atau yang berani dan unik... Masih belum bisa memutuskan. Bagaimana
menurutmu, Hayato-kun?"
"…Pertanyaan
sulit."
Hayato tadinya
bertanya karena penasaran, namun kurangnya kepekaan dirinya terhadap dunia
fesyen membuatnya ikut menemui jalan buntu. Kazuki sebenarnya cocok mengenakan
apa saja.
Meski begitu,
setelah dibantu tadi, ia tidak bisa begitu saja menjawab "terserah".
Saat mereka
saling bertukar pandang penuh kebingungan, rasa déjà vu tiba-tiba menghantam
benak Hayato.
Menyadari
alasannya, ia mengangguk lalu keceplosan berkata, "Oh, kamu ini mirip
banget sama Himeko dalam hal ini."
"!
B-benarkah?"
"Iya,
kami sering banget diskusi begini di rumah."
"Begitu
ya..."
Kazuki
tampak terkejut, bahkan sedikit salah tingkah.
Hayato,
yang baru menyadari bahwa membandingkan temannya dengan adiknya sendiri mungkin
terdengar kasar, menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung sambil
mencari kata-kata susulan.
Iori
lantas menengahi dengan nada ragu-ragu.
"Hei,
um, sebaiknya aku pilih sesuatu yang mungkin disukai Ema nggak ya?"
"Ya,
ide bagus tuh."
"Ema
sepertinya lebih suka warna-warna tenang, jadi aku ambil yang agak gelap ini
saja. Motif berani bisa nambah kesan gaya."
Iori
tersenyum lebar, puas dengan pilihannya sendiri.
Hayato
mengangguk kagum.
"Kamu
benar-benar paham selera Isami-san ya."
"Kami
kan sudah bersama cukup lama. Tadi aku juga milih pakaianku hari ini dengan
memikirkan dia. Kamu sendiri, emangnya nggak tahu apa yang bakal dipilih
Nikaido-san?"
"Haruki?
Dia kan selalu suka menjahili atau bikin aku kaget, jadi aku sama sekali nggak
punya bayangan apa yang bakal dia pilih."
Hayato
mengangkat bahu, dan keduanya tertawa bersama.
Setelah
beberapa saat, Kazuki bertanya, "Kalau Himeko-chan bagaimana? Apa yang dia
pilih?"
"Hmm,
dia kan selalu ngikutin tren, jadi susah ditebak. Belakangan ini dia lagi suka
gaya dewasa—nggak mau kelihatan kayak anak dusun."
"Hm,
paham."
Hayato
tadinya berniat meledek adiknya sendiri, namun Kazuki justru menaruh jarinya di
dagu dan merenung dalam-dalam.
"Aku mau
lihat-lihat barang yang lain dulu."
"Eh,
Kazuki?"
Kazuki menghilang
masuk ke dalam kerumunan toko, sementara Iori, yang sudah selesai membayar
belanjaannya, membuka suara.
"Jadi,
Hayato, kamu mau pilih yang mana?"
"Hmm,
sama-sama bagus sih..."
Semua pilihannya
tampak keren, dan tidak seperti Iori, ia tidak memiliki kriteria pasti untuk
memutuskan.
Sambil
mengerutkan kening membandingkan pilihannya, ia menyadari sesuatu.
"Baiklah,
aku ambil yang ini."
"Yang
itu?"
"Ya, ini
yang paling murah."
Alasan datarnya
itu membuat Iori mengerjap, lalu meledakkan tawa keras.
"…Pfft,
hahahaha! Khas kamu banget ya, Hayato!"
"Diam
kamu!"
◇◇◇
Bagi Saki, aula
pameran tersebut terasa begitu memukau.
Sorotan
warna-warni yang meriah, bagaikan taman bunga yukata yang sedang mekar dengan
indahnya.
Saki dan Himeko
melompat dari satu stan ke stan lainnya bagaikan kupu-kupu, memeriksa berbagai
macam yukata.
Karena area
pameran yang begitu luas, anak-anak SMP dan SMA itu memutuskan untuk berpencar
demi berbelanja.
"Saki-chan,
bagaimana dengan yang ini?"
"Wah,
imut banget! Agak manis sih, tapi kalau pakai gaya rambut hari ini, sepertinya
cocok ya?"
"Kalau
yang ini bagaimana!?"
"Hmm,
berani banget motifnya... Tapi
festivalnya pas senja, jadi mungkin nggak apa-apa ya?"
"Oh,
yang itu sepertinya cocok juga!"
"Desainnya
lumayan mencolok sih, tapi kan ini festival... Pilihan yang sulit..."
"Haha,
gayamu hari ini beda banget, aku jadi pengen nyuruh kamu cobain semuanya!
Masukin ke daftar yuk?"
"Boleh!"
Himeko,
yang tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya, menyerahkan sehelai yukata
kepada Saki, yang langsung memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Itu adalah
keranjang ketiganya, semuanya berisi pakaian untuk dirinya sendiri, yang
dipilih bersama Himeko.
Saki
tersenyum kecut—jumlahnya sudah terlalu banyak.
"Kita sudah
punya banyak pilihan."
"Iya,
saatnya menyaring pilihan yang ada."
Semua desainnya
tampak bagus, tetapi ia tidak mungkin membelinya sekaligus. Memilih salah satu
pasti akan menjadi hal yang sulit.
Lalu sebuah
pikiran terlintas di benaknya.
"Hei,
bagaimana kalau yukata milik Hime-chan—"
"Oh, yang
itu kelihatan bagus!"
"—eh."
Sebelum Saki
sempat menyelesaikan kalimatnya, Himeko sudah berlari kencang menuju stan lain,
terpikat oleh sesuatu yang menarik perhatiannya.
Saki berniat
menyusul namun mengurungkan niatnya, menatap tiga keranjang belanja yang sudah
penuh—ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.
Sebagai gantinya,
ia berjalan menuju cermin terdekat, dengan ragu-ragu mencocokkan sehelai yukata
ke tubuhnya.
"Hehe, ini
bahkan bukan gaya-ku."
Ia terkikik geli.
Yukata bermerek
feminin dengan warna pastel menonjolkan Sisi polos dalam dirinya. Sementara
itu, yukata cerah bergaya gyaru memamerkan motif bunga lili laba-laba merah
yang mencolok. Keduanya sama sekali bukan tipe pakaian yang akan dipilih oleh
Saki di masa lalu, namun pakaian-pakaian itu tidak terlihat buruk sama sekali.
Mencoba lebih
banyak pakaian, setiap bayangan di cermin memperlihatkan seorang gadis yang
ceria dan imut, sangat berbeda dari sosok Tsukinoe Saki yang biasa tampil
polos. Rasanya seperti melihat orang lain.
Ia jadi
bertanya-tanya bagaimana reaksi Hayato jika melihatnya.
Penampilannya
hari ini memang sempat mengejutkan pemuda itu, namun apakah Hayato menyukainya
adalah urusan lain. Ia ingin menyesuaikan diri dengan selera pemuda itu.
"…Dia
sepertinya nggak peduli sama hal-hal begini," gumamnya pelan sambil
mengerutkan kening.
Bukannya ia
membenci dirinya yang dulu—dunianya hanya menjadi sedikit lebih luas. Namun
justru hal itulah yang membuat proses pemilihan ini menjadi semakin sulit.
Gadis
dari pertemuan sebelumnya mendadak terlintas di benaknya.
Saran
dari gadis itulah yang telah memicu perubahan besar ini.
Gadis itu
pasti tahu apa yang harus dilakukan, atau mungkin akan memberikan beberapa kiat
yang berguna. Saki ingin
mengucapkan terima kasih padanya dan membicarakan tentang perasaan suka pada
seseorang. Gadis itu terasa bagaikan cerminan dirinya sendiri, yang terukir
jelas di dalam ingatannya.
Namun pertemuan
mereka hanyalah sebuah kebetulan semata.
Seberapa besar
kemungkinan mereka bisa bertemu lagi?
"—Oh."
Melihat seorang
gadis yang tampak mirip dengannya sedang mengamati kerumunan orang, Saki
mengeluarkan suara terkejut.
Begitu mirip.
Namun, mungkin
saja itu bukan dirinya.
Mereka hanya
berbicara sebentar—gadis itu kemungkinan besar sudah melupakan Saki yang
berpenampilan polos.
Bagi Saki yang
pemalu, mendatangi seseorang yang nyaris tidak dikenal adalah hal yang
mustahil.
Kendati
demikian, secara impulsif, tubuhnya bergerak sendiri.
"Um,
permisi!"
"!?
Eh...?"
Gadis itu
terlonjak kaget, berbalik dengan ekspresi kebingungan. Saki mendadak ragu dan
merasa malu, takut dirinya salah orang.
Namun ia
menguatkan tekadnya—jika ia salah, ia akan meminta maaf—lalu memberanikan diri
berbicara.
Keberanian
ini muncul berkat penampilan barunya.
"Um,
waktu itu, di kota, kamu bantu aku soal pakaian dan rambut... Apa kamu
ingat...!?"
"…Huh?"
Gadis itu
mengerutkan kening, memiringkan kepalanya, namun ketika Saki merapikan
rambutnya dan memperagakan gestur rambut kepang dua, mata gadis itu membelalak
lebar dengan mulut menganga.
"B-berkat
kamu, aku berusaha keras...!"
"…Kamu gadis
waktu itu! Wah, aku sampai nggak mengenali tadi!"
"Ehe,
aku juga merasa seperti bukan diriku sendiri. Terima kasih untuk waktu itu ya!"
Saki merapikan
kembali rambutnya lalu membungkuk hormat.
"Tidak,
tolong jangan begitu, aku cuma ikut campur! Kamulah yang berhasil
mewujudkannya!"
Gadis itu
menurunkan bulu matanya, menyembunyikan secercah kesedihan.
"Tapi tetap
saja! Penampilan ini, cara ini untuk mengejutkan orang lain—semuanya berkat
kamu!"
"Soal pujaan
hatimu..."
"Y-ya."
Saki merona
merah, mengangguk malu-malu.
Gadis itu
bergumam pelan sambil memasang ekspresi sebal.
"…"
"…"
Keheningan
yang canggung meliputi mereka berdua.
Mereka
saling bertukar pandang, mencari-cari kata yang tepat untuk diucapkan.
"“Um!”"
Suara
mereka berdua berpapasan secara bersamaan, membuat mata mereka saling menatap
erat.
"Pfft."
"Hehe."
Keduanya
langsung tertawa lepas.
"Aku
senang banget bisa ketemu kamu lagi. Aku sebenarnya pengen ngobrol lebih banyak
waktu itu, tapi aku nggak tahu nama kamu... Aku Murao. 'Mura' dari desa dan 'O' dari
ekor—Murao."
"Aku Sato.
Cuma, ya kamu tahu, Sato biasa saja. …Kesini mau cari yukata?"
"Ya, mau
pergi ke festival bareng teman-teman. Tapi aku bingung banget mau milih yang
mana..."
"Begitu
ya..."
Sato
mengangguk paham, mengamati Saki lekat-lekat sambil menumpukan tangan di
dagunya.
Karena tidak
terbiasa diamati separah itu, Saki merasa salah tingkah.
Sato berdehem
pelan, mengubah nadanya menjadi serius namun ragu-ragu.
"Jadi, um,
orang yang kamu suka itu seperti apa?"
"Seperti
apa...?"
"Penampilannya,
hubungan kalian, seleranya... Apa dia anak sekolah, kakak kelas, atau adik
kelas? Aku kan nggak kenal."
"…Oh."
Masuk akal juga.
Saki pun tidak
tahu siapa yang disukai oleh Sato, jadi ia hanya bisa memberikan saran samar
jika ditanya.
"Dia adiknya
Hime-chan... ralat, maksudku kakak dari sahabatku, teman masa kecilku."
"Kakak dari
sahabatmu...?"
"Ya. Dia
orangnya nggak terlalu rapi, agak berandalan desa, persis seperti aku dulu...
Haha, kami berdua sama-sama anak kampung yang baru tahu kehidupan kota."
"Begitu
ya..."
Ia kini telah
melangkah lebih dekat dari tempat yang tadinya terasa jauh namun dekat itu.
Ia ingin pemuda
itu melihatnya sebagai seorang gadis seutuhnya, tetapi dengan adanya
teman-teman seperti Haruki dan Himeko di sekitarnya, serta status mereka
sebagai teman kakaknya sejak dulu, perjuangannya terasa cukup berat.
Ia butuh bantuan
dari Sato.
Sato tersenyum
lembut.
"Dia sudah
ada di dekatmu sejak dulu, ya? Kalau begitu, mari manfaatkan citramu yang
lama."
"Citra
lamaku...?"
"Ya. Kalau
dia sudah mengenalmu sejak lama, dia pasti punya gambaran tetap tentang dirimu.
Pilihlah sesuatu yang terasa akrab namun berbeda agar dia sadar. Ada warna
tertentu yang dia suka kalau kamu pakai?"
"Um, merah
dan putih... mirip seperti pakaian miko."
"…Pakaian
miko?"
"Aku dulunya
seorang gadis kuil di kampung."
"Miko?"
"Ini."
Saki menunjukkan
foto-foto dirinya mengenakan pakaian miko, baik saat pakaian kasual maupun saat
bertugas di festival.
Mata Sato
membelalak lebar, bergumam, "Miko... Ternyata beneran ada..." Ia
melirik bergantian antara layar ponsel dan Saki, lalu menyipitkan matanya,
mengaduk-aduk keranjang belanjaan sebelum menyerahkan sehelai yukata kepada
Saki.
"Bagaimana
dengan ini? Memadukan citramu yang dulu—dan menata rambutmu seperti ini—"
"Oh,
aku ngerti! Terus obinya—"
Mereka merapat,
mulai menyusun strategi bersama.
Saran-saran
akurat dari Sato benar-benar membuka mata Saki.
Saki meraih
tangan gadis itu karena terlalu antusias.
"Luar biasa!
Ini benar-benar bisa mengubah imejku secara total!"
"Hehe, aku
mendukungmu. Oh, mau tukaran kontak nggak? Kalau butuh saran soal yukata lagi,
hubungi aku ya."
"Beneran!?"
"Tentu
saja."
"Tolong
ya!"
Sambil
meraba-raba ponselnya, Saki menambahkan nama Sato Airi ke dalam daftar
kontaknya yang sedikit.
Rasanya begitu
tidak nyata. Airi bukanlah tetangga ataupun teman sekolahnya. Di kota yang
penuh dengan orang-orang asing yang acuh tak acuh, hubungan kecil ini membuat
hatinya melambung tinggi.
Sambil tersenyum
lebar, Saki melirik nama Airi sekali lagi, merasakan ada sesuatu yang
mengganjal di benaknya.
"Tunggu,
nama ini—"
"Saki-chaaaan!"
"Hime-chan!"
Himeko kembali
menghampiri mereka, menatap Airi dengan rasa penasaran, lalu mengitarinya
dengan penuh semangat. Gerakannya mendadak menegang.
"Ini
Sato-san."
"Halo, aku
Sato."
"…Eh."
Wajah Himeko
membeku seketika, matanya membelalak tak percaya, menatap Airi dengan tatapan
blak-blakan. Airi menciut karena merasa tidak nyaman.
Lalu Airi berseru
seolah menyadari sesuatu.
"Oh! Apa
kamu datang bersama gadis berambut panjang yang imut itu? Dia, um, sempat
membantuku waktu itu..."
"Haruki-san?
Ya, dia ada di sini."
"A-aku,
senpalku dan aku ingin menemuinya, untuk berterima kasih karena sudah membantu
kami..."
"…Oh."
Haruki adalah
orang pertama yang menolong mereka ketika seorang pria mabuk mengganggu. Wajar
saja jika Airi ingin menyampaikan terima kasih.
Saki baru saja
hendak mengangguk setuju ketika Himeko tiba-tiba berseru, "T-Tunggu, Sato
Ai—"
"““Kyaaa!”"
Sorak-sorai
yang memekakkan telinga menggelegar mengguncang tanah.
◇◇◇
Beberapa
saat sebelumnya, Haruki dan Ema menyusuri lautan yukata yang memukau, merasa
kewalahan oleh banyaknya pilihan yang tersedia.
Memilih
satu pakaian terasa seperti mencari pesan dalam botol di tengah luasnya
samudra.
(Seragam
sekolah itu jauh lebih praktis—nggak perlu mikir sama sekali.)
Senyuman
mencemooh diri sendiri terukir di bibirnya.
Sejak
kembali bertemu dengan Hayato dan mendapat teguran dari Himeko, Haruki mulai
lebih memperhatikan penampilannya. Reaksi orang-orang di sekitarnya ternyata
cukup menyenangkan.
Namun
pilihan busananya selalu berpusat pada upaya untuk mengejutkan atau menjahili
Hayato.
Gaya
berpakaian sehari-harinya, seperti hari ini, cenderung kasual—aman, namun
terasa hambar.
Ia tidak
memiliki gambaran diri ideal yang jelas, tidak seperti Saki. Mungkin tujuannya
hanya sekadar terlihat "pantas"?
Sambil
menggelengkan kepala, ia membayangkan dirinya sedang mencoba berbagai yukata,
menerka-nerka reaksi Hayato.
Setiap
bayangan selalu berujung pada kata "Bagus", sebuah tanggapan yang
terlalu biasa.
Ekspresinya
mencerminkan wajah Hayato ketika ditanya ingin makan malam apa dan menjawab
"Terserah".
(Hidup
bakal jauh lebih gampang kalau dia kasih permintaan yang spesifik.)
Sambil
menghela napas, ia melirik ke arah Ema yang sedang serius memilih yukata.
Fokus
gadis itu begitu intens hingga membuat Haruki ragu untuk membuka suara.
Mengamatinya
sedari tadi, Haruki memerhatikan bahwa Ema memilih antara yukata bernuansa
tenang dan elegan atau yukata bermotif sangat mencolok.
Model
yang tenang sangat cocok dengan postur tubuh Ema yang tinggi dan dewasa.
Sementara
model yang mencolok—yang memperlihatkan bahu atau berpotongan pendek mirip rok
mini—terasa sangat berani, jauh berbeda dari imej Ema sehari-hari.
Sambil
mengerutkan kening karena penasaran, Haruki tak sengaja bertatapan dengan Ema.
Ema merona merah, ragu-ragu sejenak sebelum berbicara.
"Um,
Iori sepertinya suka gaya yang begini."
"Begitu
ya."
"Aku
pengen pakai pakaian yang dia suka, tapi model-model ini terlalu berani, udah
kayak cosplay. Aku bakal jadi
pusat perhatian kalau dipakai di depan umum."
"Haha, iya
juga ya."
Mereka saling
bertukar senyuman kecut.
Ema biasanya
tidak akan pernah melirik desain seperti itu, namun keinginannya untuk
menyenangkan hati Iori membuatnya merasa ragu.
Sambil
bergumam dan mengeluh kecil, Ema justru terlihat begitu menggemaskan.
Kata
"cosplay" memicu sebuah ide di kepala Haruki, dan ia langsung
berseru, "Oh!"
"Bagaimana
kalau kamu pakai yukata yang mencolok itu khusus buat Iori di rumah saja?"
"Hah!?"
"Kalau
kamu khawatir jadi pusat perhatian orang banyak, lakukan saja secara pribadi.
Lihat ini."
Haruki
menunjukkan layar ponselnya—sebuah foto cosplay dari acara menginap di rumah
Hayato. Ia, Saki, and Himeko mengenakan berbagai kostum, sementara Hayato
memakai bantal telinga kucing. Ema langsung meledakkan tawa melihatnya.
Itu
bukanlah pakaian yang layak dipakai di tempat umum, tetapi mereka
bersenang-senang saat memakainya.
Sambil
tersenyum lebar, Haruki mendesak, "Tuh kan?"
"…Iya sih,
tapi..."
"Tapi
apa?"
Mata Ema
membelalak lebar, lalu ia mendadak salah tingkah, merona merah dan menggumamkan
suku kata yang tidak jelas.
Haruki, yang
kebingungan, bertanya-tanya apakah ia baru saja mengucapkan hal yang aneh. Ema
berbicara dengan nada ragu-ragu.
"Desain
baju-baju ini... rasanya agak terbuka... terkesan seksi, kan?"
"Oh, iya
sih, cowok-cowok pasti suka."
"Kalau Iori
nanti jadi bersemangat terus suasana jadi... mengarah ke sana, aku harus
bagaimana?"
"Uh, um...
Mya!?"
Wajah Haruki
langsung memerah padam. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu, namun
bagi Ema yang sedang menjalin hubungan asmara dengan Iori, hal itu adalah
kekhawatiran yang nyata.
Mereka memang
sedang membangun hubungan secara perlahan, namun suasana di antara mereka cepat
atau lambat pasti akan mengarah ke sana. Hanya soal waktu saja.
Ema bergumam soal
dirinya yang terkesan agresif atau perlu mempersiapkan mental dan fisik,
membuat suhu di kepala Haruki mendadak naik drastis karena salah tingkah.
Agar otaknya
tidak meleleh, Haruki buru-buru memotong pembicaraan.
"J-jadi, itu
tetap jadi salah satu opsi! Kan!?"
"Y-ya! Aku
masukin ke daftar pilihan deh!"
"Pfft!"
"Haha!"
Merasa lega, Ema
langsung memanfaatkan pengalihan topik itu.
"Hei,
Haruki-chan, kamu sendiri belum milih yukata?"
"Ugh, aku
sudah cari-cari dari tadi, tapi nggak ada yang klip di hati."
"Pilihan
modelnya terlalu banyak ya?"
"Bukan cuma
itu, aku juga nggak pernah peduli soal pakaian. Aku bahkan nggak tahu gaya
fashionku sendiri..."
"Hmm...
Bagaimana kalau cari sesuatu yang mungkin disukai sama Kirishima-kun?"
"Ugh..."
Ia sebenarnya
sudah memikirkan hal itu.
Meskipun ia sudah
mencoba berbagai gaya busana, ia selalu berakhir dengan tujuan untuk
mengejutkan atau menjahili Hayato, tanpa pernah benar-benar mencari tahu apa
yang menjadi selera pemuda itu.
Haruki
tersenyum hambar sambil menggelengkan kepala.
Mereka
berdua saling melempar pandangan penuh kebimbangan.
Ema, yang
sedang berpikir keras, memberikan usul, "Bagaimana kalau kita kembali ke
hal-hal yang mendasar?"
"Mendasar?"
"Misalnya
seperti waktu kita masih kecil, saat pertama kali pergi ke festival. Dulu kamu
pilih model yang seperti apa?"
"…Oh."
Sesuatu
sepertinya tersambung di kepalanya.
Ia membayangkan
dirinya kembali ke Tsukinoe saat masih anak-anak, sedang memilih yukata untuk
dipakai ke festival desa.
Mencoba yukata
sekarang ini, bayangan dirinya di masa lalu—si kecil Haruki—tampak mengkritik
setiap pilihan model yang ada. Sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Terima
kasih, Ema-chan. Sepertinya aku mulai mendapat pencerahan."
"Hehe,
sama-sama."
"Baiklah,
mari kita pilih dengan penuh semangat! …Hm?"
"Waktunya
untuk—eh?"
Saat mereka
berbalik menghadap rak yukata, mereka menyadari ada keributan kecil di tengah
kerumunan orang, yang rupanya terarah pada mereka.
Mereka sedang
menarik perhatian banyak orang. Meskipun penampilan mereka lumayan, mereka toh
hanyalah anak-anak SMA—tidak ada alasan bagi orang-orang untuk memfokuskan
perhatian separah ini.
Suasana itu
terasa agak aneh. Saling bertukar pandang dengan Ema, mereka memutuskan untuk
beranjak pergi.
Namun sebuah
tangan tiba-tibamencengkeram bahu Haruki dari belakang.
"Yo!"
"!?"
"Hah!?"
Suara
yang terdengar terlalu akrab. Ketika mereka berbalik, ekspresi wajah keduanya
langsung membeku.
Seorang
gadis mencurigakan berdiri di hadapan mereka—usianya seumuran atau sedikit
lebih tua, rambutnya disembunyikan di balik topi, serta mengenakan kacamata
mainan dengan tempelan kumis palsu. Meskipun demikian, atasan off-shoulder
dan celana pendek yang dipakainya justru mengekspos bentuk tubuhnya
yangproporsional, membuat penyamarannya terlihat sangat konyol dan mencolok.
Pantas saja ia
sukses menarik perhatian orang-orang.
Haruki sama
sekali tidak mengenal gadis itu.
"Ema-chan,
temanmu ya?"
Ema menggelengkan
kepalanya dengan penuh semangat.
Namun cengkeraman
tangan gadis itu terasa kuat dan mustahil untuk diabaikan.
Haruki menghela
napas panjang lalu bertanya dengan nada hati-hati, "Um, kita baru pertama
kali ketemu, kan?"
"Yup."
"Jadi, um,
ada perlu apa ya?"
"Aku
tersesat."
"Tersesat?"
"Kadang-kadang
begitu. Repot juga."
Nada
bicaranya yang santai membuat situasi itu terdengar wajar, namun ucapannya
"kadang-kadang" atau "sering"? Haruki sangat ingin melontarkan sindiran namun ia
tahan.
"Apa kamu
terpisah dari rombongan? Sama seseorang?"
"Hm, sama
Mama."
"…Mama?"
"Tapi dia
lebih muda dariku."
"Lebih
muda!?"
"Yup, suka
ngomel tapi bisa diandalkan."
"Bersikaplah
layaknya orang yang lebih tua!"
"Oh, terus
Papa juga ikut."
"Papanya
juga lebih muda?"
"Nggak, jauh
lebih tua. Hobinya merayu cewek buat urusan kerja."
"Cara
ngomongmu itu lho! Ucapanmu barusan bisa disalahartikan sebagai staf toko di
sini lho!"
"Oh, benar
juga ya!"
Gadis itu
bertepuk tangan gembira.
Haruki, yang
tadinya ingin melontarkan balasan pedas, mendadak merona merah karena menyadari
suaranya terlalu kencang. Sambil berdehem pelan untuk menjernihkan tenggorokan,
ia berkata, "Pokoknya, telepon saja Papa atau Mamamu supaya kalian bisa
ketemu."
"Jenius!"
"Itu
kan hal yang wajar!"
"Aku tadi
terlalu fokus mencari orang lain—halo?"
Gadis itu
menempelkan ponsel ke telinganya tanpa rasa bersalah. Haruki memijat pelipisnya
yang mendadak pening, sementara Ema tersenyum lelah.
Sungguh gadis
yang unik dan melelahkan—namun di sisi lain, ia memiliki daya tarik yang aneh.
"Udah
terhubung sama Papa. Makasih ya!"
"Sama-sama.
Jangan sampai tersesat lagi."
"Nggak ada
jaminan."
"Hei!"
"Gaya
ngomelmu itu mirip banget sama Mama."
Sambil
mencondongkan tubuhnya ke depan, gadis itu mengamati Haruki lekat-lekat lalu
mengangguk puas.
"Yup, kamu
lulus."
"Huh?"
"Aku tadi
lagi nyari gadis berambut panjang yang imut. Kamu super imut dan jago banget ngebales
ucapan orang."
"Uh,
terima kasih?"
"Tapi
apa kamu ini gadis berambut panjang imut yang lagi aku cari?"
"Nggak
tahu!"
"Poin
plus buat kejujurannya! Gadis yang lucu!"
"Bukan
pujian namanya kalau keluar dari mulutmu!"
Gadis itu
tertawa lepas sambil mengacungkan jempol.
Haruki merasakan
sensasi déjà vu—gadis itu benar-benar tahu cara meluluhkan pertahanan orang
lain.
"Kalau itu
kamu, aku rasa—"
"Terima
kasih—"
Saat gadis itu
membungkuk, topi dan kacamata palsunya tiba-tiba melorot jatuh, mengekspos
seluruh wajah aslinya.
Haruki dan Ema
terkesiap kaget, begitu pula orang-orang di sekitar mereka, menciptakan
keheningan mencekam yang menyebar luas bagaikan ruang hampa sebelum badai
menerjang.
Gadis itu
menjulurkan lidahnya sambil mengetuk kepalanya sendiri.
Suasana santai
tanpa beban yang dipancarkan gadis itu memicu suatu kesadaran di benak Haruki.
Sebelum ia sempat
memahaminya, sebuah sorotan teriakan melengking memecah lamunannya.
"““Kyaaa!”"
Sorak-sorai yang
memekakkan telinga menghantam kesadaran Haruki, membuatnya meringis kesakitan
sambil menutup kedua telinganya. Gadis itu terlonjak kaget.
"MOMO!?
Nggak mungkin, itu beneran MOMO, kan!?"
"Imut
banget, dan lihat kakinya itu!"
"Aslinya
jauh lebih imut daripada di majalah!"
"Kenapa dia
bisa ada di sini!?"
"Ada acara
khusus ya? Pakaiannya saja mencolok banget begitu!"
MOMO—model papan
atas yang sangat dikenal Haruki dari majalah-majalah fesyen.
Wajahnya yang
memukau, postur tubuhnya yang tinggi, serta proporsi tubuh yang sempurna
langsung menjelaskan kenapa ia begitu terkenal.
Kemunculannya
yang tiba-tiba memicu kehebohan dan antusiasme luar biasa. Ema bergumam panik,
"MOMO!? Apa-apaan ini!?"
MOMO, yang tampak
salah tingkah, mengembuskan napas panjang. Auranya berubah dalam sekejap.
Mengangkat sebelah tangan ke depan mulutnya, ia berteriak lantang, "Terima
kasih semuanya sudah datang ke obral besar kita!"
Suaranya yang
sedikit menyeret namun bertenaga berhasil memotong kebisingan di sekitar.
Keheningan
sesaat, disusul oleh sorak-sorai yang menggelegar.
Ia
berhasil menguasai situasi dengan sempurna.
Berbalik
menghadap Haruki, ia mendekatkan wajahnya.
"Kalian ke
sini mau cari yukata?"
"Uh,
iya."
"Nonton
iklan kita ya?"
"Yup, kami
lagi belanja buat persiapan festival."
"Asyik!"
Situasi itu
terasa persis seperti sesi wawancara penggemar.
Kedekatan jarak
itu pasti akan membuat para penggemar histeris—Ema bahkan terlihat sangat
antusias—namun Haruki justru menyadari mata gadis itu yang bergerak gelisah
karena gugup.
Sambil menghela
napas, Haruki memasang ekspresi datar. MOMO tersenyum kecut lalu berbisik,
"Terus sekarang aku harus bagaimana?"
"Kamu bahkan
nggak punya rencana apa-apa?"
"Aku
tadi kan lagi menyamar! Nggak menyangka bakal ketahuan!"
"Itu
namanya kostum, bukan penyamaran!"
"…Oh!"
"Jangan
bilang 'oh'!"
MOMO
terkikik geli. Haruki menghela napas pasrah.
Sebuah suara nyaring memanggil dari kejauhan, "MOMO-san, persiapan sudah selesai!"
Siap?
Haruki dan MOMO memiringkan kepala mereka, menatap ke arah sumber suara.
MOMO
berseru, "Oh!"
"Datang!"
Gadis itu
melambai, wajahnya tampak santai—kemungkinan besar dia adalah seorang staf.
Merasa lega
karena situasi telah teratasi, tangan Haruki tiba-tiba ditarik seseorang.
"Kamu
seru banget!"
"Hah?"
"Ayo!"
"Tunggu,
sebentar!"
MOMO
menyeretnya, mengabaikan segala protes, sambil bersenandung kecil sementara
orang-orang menatap mereka dengan penuh rasa penasaran.
Takut menjadi
pusat perhatian, Haruki sempat berpikir untuk melepaskan diri namun ragu-ragu.
Mereka tiba di
sebuah ruang terbuka yang sepertinya disiapkan secara mendadak, di mana
pandangan Haruki langsung tertuju pada seorang pria yang membuat pikirannya
mendadak kosong.
"Yo,
Sakurajima-san. Terima kasih! Mendadak menyiapkan semua ini tanpa persiapan?
Hebat juga."
"Ini adalah
'acara kejutan'. Aku meminta bantuan para staf—ini jauh lebih baik untuk
publisitas daripada membiarkan kekacauan terjadi."
"Bagus
juga, Papa. Licik ya."
"…Papa?"
"Kita
harus bagaimana? Tidak ada pembawa acara, kita tidak mungkin hanya berdiri dan
berbicara."
"Karaoke
penggemar. Penyanyi pertama yang gugup atau tampil buruk bisa menghancurkan
suasana, tapi anak itu akan baik-baik saja."
"!?"
Pria
itu—Sakurajima, orang yang sama dari acara rumah sakit Airi—tersenyum ke arah
Haruki, membuatnya kembali ke kesadarannya.
MOMO
menyerahkan sebuah mikrofon, yang langsung diterima oleh Haruki secara refleks.
"Kamu bisa
menyanyikan lagu Kapitan?"
"Um, ya,
sedikit..."
"Keren, ayo
kita lakukan!"
Sambil
menyeringai lebar, MOMO menariknya ke tengah panggung, lalu berteriak,
"Mau ke mana dengan yukata barunya itu? Bersama seseorang yang spesial?
Mari kita bernyanyi untuk menyemangatimu!"
Begitu ia selesai
berbicara, sebuah lagu idol yang populer mulai diputar, membuat energi penonton
langsung melonjak naik.
Haruki baru
menyadari kalau dirinya sudah terjebak dan terlambat untuk mundur.
Sambil
mencengkeram mikrofon erat-erat, ia menguatkan tekadnya.
"Tertawa
tanpa menjawab~♪"
Nyanyian mereka
memicu sorak-sorai yang riuh—sebuah awal yang sangat kuat.
Dari atas
panggung, Haruki melihat seberapa besar lautan penonton di sana, beberapa di
antaranya bahkan merekam, membuktikan betapa besar kekuatan bintang yang
dimiliki MOMO.
Meskipun ia sudah
terbiasa menjadi pusat perhatian, situasi ini tetap terasa sangat luar biasa
dan melelahkan.
Penampilannya
yang berani selama ini hanyalah topeng dari kepura-puraan di masa lalu.
Menyanyi bersama
MOMO terasa begitu tidak nyata.
Sambil memasang
senyuman yang terlatih, ia menatap tajam ke arah Sakurajima yang menjadi dalang
di balik semua ini.
Pria itu
menanggapinya dengan cengiran santai, membuat sudut bibir Haruki berkedut
kesal.
"Mimpi
seribu malam~♪"
MOMO bernyanyi
dengan antusiasme tingkat karaoke, pesonanya berhasil memikat para penonton
meskipun kemampuan vokal miliknya tergolong biasa saja.
Tidak ada sesi
obrolan spontan, jadi karaoke penggemar adalah pilihan yang cerdas. Sakurajima
memang sangat lihai.
Hal itu justru
meningkatkan kewaspadaan Haruki.
Pria itu
kemungkinan besar sudah memperhitungkan keberadaannya dalam rencana ini.
Ia pernah
menggumamkan nama Takura Mao—ibu Haruki.
Pria itu
sepertinya tahu tentang hubungan mereka, yang menjelaskan kenapa ia tahu
terlalu banyak hal.
Hubungan pasti di
antara mereka memang belum jelas, namun pria itu pasti mengetahui sesuatu.
Haruki merasa
penasaran sekaligus kesal karena dipermainkan seperti bidak catur.
Pria itu
sepertinya berniat menyorotinya demi keuntungan di industri hiburan,
memanfaatkan hubungannya dengan Takura Mao.
"Godaan
malaikat~♪"
Ia sempat
berpikir untuk sengaja tampil buruk agar terlihat bodoh.
Namun merusak
suasana penonton yang sedang bersemangat terasa salah, dan itu tidak adil bagi
MOMO yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Membiarkan
dirinya dikalahkan begitu saja juga melukai harga dirinya.
Apa yang akan
dipikirkan Hayato atau Saki jika ia sengaja merusak penampilan ini? Apakah ia
sanggup menatap mereka dengan bangga setelahnya?
Oleh karena itu,
Haruki memilih untuk bermain sebagai pendukung, menurunkan nada suaranya untuk
menonjolkan MOMO, serta menyesuaikan koreografi agar MOMO tetap berada di pusat
panggung.
Menjadi pemeran
pembantu, sebuah bayangan di balik layar.
Ia memainkannya
dengan sempurna, penuh perhitungan.
"Penjelajah
waktu~♪"
Lagu tersebut
berakhir, disambut dengan sorak-sorai yang menggelegar, semuanya tertuju untuk
MOMO.
Melirik sekilas
ke arah Sakurajima, Haruki melihat mata pria itu membelalak kaget—rencananya
berhasil. Sambil menyunggingkan senyuman miring, ia membungkuk kepada MOMO,
pura-pura tampak gugup.
"Terima
kasih! Menyanyi bersama MOMO-san sungguh luar biasa!"
"Curang!"
"Giliran aku selanjutnya!" teriak para penonton dari bawah.
Saatnya untuk
pergi.
Mengangkat
wajahnya yang merona, ia berbalik—
"Tunggu!"
"Hah?"
"Kamu
luar biasa! Tadi itu keren banget!"
MOMO
mencengkeram tangannya, menatapnya dengan tatapan intens.
"Aku
bilang kamu lulus, tapi ini jauh di atas lulus! Mau bekerja sama dengan kami? Iya kan,
Sakurajima-san?"
"T-Tunggu,
apa maksudnya!?"
MOMO menoleh ke
arah Sakurajima, yang membalas dengan cengiran lebar sambil membentuk lingkaran
dengan kedua tangannya.
Kerumunan
penonton langsung bergemuruh—"Pencari bakat!?" "Dia beda dari yang
lain!" "Sepertinya cocok?"
Keringat
dingin mengalir membasahi punggung Haruki.
Situasi
ini terasa seperti sebuah perangkap yang perlahan menutup.
Apakah
semua ini memang sudah direncanakan oleh Sakurajima?
Wajah
ibunya tiba-tiba melintas di benaknya, membuat tangannya sedikit bergemetar.
"Apa
yang sedang Momocchi-senpai bicarakan!"
Suara
nyaring seorang gadis memotong kehebohan, menarik perhatian semua orang ke
arahnya.
Gadis itu
melangkah maju dengan berani, secara teatrikal melepas topi dan kacamata
palsunya, yang langsung memicu sorak-sorai lebih meriah dari penonton.
"Yo,
Airin-Mama!"
"Jangan
pakai 'yo'! Dan lagi, Mama? Usiaku lebih muda darimu!"
"Airin kaku
banget sih."
"Aku
nggak kaku!"
Sato
Airi, seorang model yang menjadi saingan berat MOMO.
Perhatian
orang-orang langsung beralih kepadanya.
"Lupakan
soal Mama—Momocchi-senpai selalu saja berulah seperti ini! Lihat tuh, kamu
sampai membuat dia ketakutan!"
"Nggak
apa-apa kan?"
"Bukan
begitu masalahnya!"
"Nggak tidak
apa-apa?"
"Bukan
begitu!"
"Bukan
tidak tidak apa-apa?"
"Bukan
tidak tidak tidak a—ugh!"
"Airin
salah ngomong!"
"Argh!"
Interaksi
konyol mereka memicu gelak tawa dari penonton, membuat tawaran MOMO tadi
seketika terlihat seperti sebuah gurauan belaka.
"Haruki!"
Sebuah panggilan
tegas berhasil menarik kesadaran Haruki kembali.
Di dekat Airi,
Hayato dan yang lainnya sudah berdiri sambil melambaikan tangan memanggilnya.
Sambil memasang
kembali senyumannya, ia berkata, "Terima kasih!"
"Terima
kasih sudah membantu!"
"Kapan-kapan
kita lakukan ini lagi ya!"
"Berhenti
bikin ulah, Momocchi-senpai!"
"Airin jahat
banget!"
"Aku nggak
jahat!"
Di tengah gelak
tawa penonton, Haruki berjalan turun dari panggung.
Airi mengedipkan
sebelah matanya, seolah menyampaikan permintaan maaf.
Reaksi kelompok
mereka pun beragam.
"Sial juga
ya, Haruki."
"Kamu nggak
apa-apa!? Nyanyianmu
tadi keren banget!"
"MOMO
dan Airi! Ternyata mereka
beneran teman dekat di dunia nyata juga!"
"Sato
Airi... Tunggu, Sato Airi yang itu!?"
Hayato mengangkat
bahu sambil tersenyum kecut, Kazuki mengangguk-angguk, Ema tampak panik
bersemangat, Himeko bersorak kagum, sementara Saki terlihat kebingungan.
Benar-benar
kekacauan yang luar biasa.
Namun suasana itu
justru terasa seperti rumah, meredakan ketegangan di dalam dadanya.
"…Lumayan
melelahkan juga."
Sambil menghela
napas, tangannya tiba-tiba ditarik seseorang.
"Iya, aku
juga. Ayo cari tempat buat santai."
"!?
Hayato...?"
Wajah serius
pemuda itu membuatnya terkejut, namun sekilas ia melihat Sakurajima mulai
mendekat. Jantungnya berdegup dengan cara yang berbeda.
"…Aku juga
sudah capek. Iori-kun?"
"Oh, iya,
aku haus. Ema?"
"Uh,
iya."
"Himeko-chan,
Saki-chan—"
Kazuki, yang
menyadari situasi, langsung mengajak semuanya untuk bergerak.
Pemuda itu selalu
peka, kadang-kadang bahkan terlalu peka.
"…Terima
kasih."
Haruki bergumam
pelan tanpa menunjuk siapa pun.
◇◇◇
Taman atap yang
berada di dekat gedung pameran itu terasa cukup tenang.
Sorak-sorai
sesekali masih terdengar dari dalam aula, menandakan betapa populernya para
model tersebut. Mengingat acara itu digelar secara spontan, Sakurajima
sepertinya tidak akan mengikuti mereka sampai ke sini.
Haruki
mempermainkan botol teh di tangannya sambil mengedarkan pandangan ke
sekeliling.
Dikelilingi
oleh gedung-gedung pencakar langit, tempat ini terasa seperti sebuah lubang di
langit, dipenuhi warna hijau yang mengingatkannya pada Tsukinoe.
Namun
suasananya terasa gelisah, sangat berbeda dengan ketenangan pedesaan.
Ema bersuara,
mewakili apa yang dipikirkan oleh semua orang.
"Um, barusan
itu sebenarnya ada apa...?"
Mereka saling
bertukar pandang dengan penuh kewaspadaan.
Haruki sendiri
tidak sepenuhnya memahami situasi tadi.
Hayato
hanya memasang ekspresi bermasalah.
Keheningan
yang canggung sempat menggantung di antara mereka.
Kazuki
mengembuskan napas panjang, mengangkat kedua tangannya seolah menyerah, lalu
menatap lurus ke arah Haruki.
"Maaf ya,
Nikaido-san. Dan semuanya."
"…Huh?"
"Kejadian
kamu ikut terseret tadi sepertinya ulah Sakurajima-san. Pria tinggi anggota
staf yang bareng MOMO tadi. Dia memang sangat handal tapi orangnya agak
memaksa..."
"Hah..."
Permintaan maaf
yang mendadak itu justru membuatnya bingung, terutama karena ia tadinya mengira
Sakurajima memiliki hubungan masa lalu dengan dirinya dan Takura Mao.
Namun Kazuki
tampaknya sangat mengenal pria itu.
Saat Haruki
menatap mata Hayato dan Saki, mereka berdua pun tampak memiringkan kepala
kebingungan.
Iori akhirnya
berbicara mewakili kelompok mereka.
"Eh, Kazuki,
sebenarnya siapa sih Sakurajima itu? Kamu kenal dia?"
"Dia
seorang produser di sebuah agensi—biasanya bertugas mencari talenta model,
aktor, dan idol. Dia punya penciuman tajam untuk bakat seseorang, terbukti dia
berhasil menemukan MOMO dan Airi, lalu membentuk citra serta kehadiran media
mereka. Kemampuannya lah yang membuat mereka sukses jadi bintang besar tahun
ini."
Hal itu
sangat cocok dengan perilaku pria tersebut di rumah sakit waktu itu.
Kerutan di dahi
Haruki semakin dalam.
"Wah, kamu
tahu banyak banget ya, Kazuki. Kedengarannya seperti urusan pribadi."
"Yah,
bisa dibilang begitu..."
"Tunggu,
kalau sampai Haru-chan menarik perhatian pria itu—"
Himeko terkesiap
namun langsung menutup mulutnya, seolah menyadari sesuatu.
Hayato
ikut menimpali.
"Oke,
dia memang orang penting. Tapi
kenapa Kazuki harus minta maaf?"
"Begini
ya—"
Kazuki berhenti
sejenak, mengambil napas dalam-dalam, mengamati wajah teman-temannya satu per
satu, lalu menjatuhkan sebuah bom informasi.
"Sebenarnya
ada hal yang aku sembunyikan selama ini. Nama asli MOMO adalah Kaido
Momoka."
"Kaido
Momoka...?"
"Dia adalah
kakak perempuanku."
"““““!?””””"
Pengungkapan itu
membuat pikiran mereka mendadak kosong, meninggalkan mereka dalam keheningan
tanpa kata-kata.



Post a Comment