Chapter
2
Semester
Baru Bersama Saki
Sinar matahari yang lembut turun menyiram, membuat
kota terasa begitu ceria.
Bunga sakura yang bermekaran di sepanjang jalan,
tertiup oleh angin yang agak dingin sembari melantunkan nyanyian kedatangan
musim semi.
Musim dingin tanpa Haruki telah berlalu, berganti
menjadi musim yang baru.
Hari ini adalah upacara pembukaan sekolah, sekaligus
upacara penerimaan siswa baru.
Ketika Hayato tiba di tempat biasa mereka janjian
untuk berangkat setelah lebih dari setengah bulan tidak bertemu, ia mendapati
Saki sudah berdiri di sana dengan balutan seragam sekolah yang sama dengan
mereka.
Menyadari kehadirannya, Saki langsung berlari
mendekat sambil memasang senyum lebar.
"Kakak, selamat pagi!"
"Selamat pagi, Saki-san. Kamu mengubah gaya
rambutmu?"
Alih-alih dikepang dua seperti biasanya, Saki kini menata
rambutnya dengan gaya two-side up.
Mungkin dikeriting, rambutnya yang panjang tergerai dan
berombak lembut di punggungnya, mengikuti setiap embusan angin.
Gaya rambut baru itu memberikan kesan yang anggun
sekaligus manis pada Saki dalam keseimbangan yang sempurna, membuat Hayato
tanpa sadar mendesah kagum.
Saki memainkan ujung rambutnya dengan jari telunjuk
tangan kirinya seraya merasa sedikit salah tingkah, lalu bertanya dengan
tatapan dari bawah yang penuh keraguan.
"Iya. Um, karena aku sudah jadi anak SMA, aku pikir
aku harus berusaha sedikit dalam hal berpenampilan... Bagaimana menurut
Kakak?"
"Terlihat lebih dewasa, dan sangat cocok dengan
seragammu. Lagi pula, ini membuatku jadi merasa nyata kalau kita sekarang satu
sekolah."
"Fufu, begitu ya. Aku juga. Apalagi mengingat aku
lolos lewat jalur cadangan."
Sambil berkata demikian, Saki mengedipkan sebelah matanya
dengan nada usil.
Meskipun sekarang ia bisa menceritakannya sambil tertawa
seperti ini, ia ingat betul bagaimana saat itu Saki tidak kunjung mendapat
surat kelulusan, menjadi seperti cangkang kosong, hingga membuat orang lain
merasa sungkan untuk sekadar menegurnya.
Beberapa hari kemudian, kabar kelulusan lewat jalur
cadangan itu akhirnya tiba, membuat mereka menangis haru dan merayakannya
bersama-sama.
Mengenang kembali kejadian itu, Hayato tersenyum tipis
dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Bagaimanapun juga, aku senang. Tahun ini sepertinya
jumlah pendaftar juga membludak."
"Tapi, aku senang kita bisa masuk SMA yang sama
begini. Lagipula, kalau dipikir-pikir lagi, bisa satu sekolah di kota besar
seperti ini pasti akan membuat diri kita setahun lalu terkejut."
"Benar juga ya."
Mereka saling bertukar pandang lalu terkekeh pelan.
Setelah suasana mulai tenang, Saki melihat sekeliling
sambil bertanya.
"Um, di mana Hime-chan?"
"Dia sudah berangkat dari rumah sejak tadi. Soalnya,
sekolah Himeko itu lumayan jauh kalau naik kereta dari sini."
Hayato menjawab dengan ekspresi yang agak rumit.
Himeko bukan berarti gagal masuk SMA.
Awalnya ia mengincar sekolah yang sama dengan Hayato,
Haruki, dan Saki, tetapi menjelang hari-hari terakhir ia mendadak mengubah
pilihan sekolahnya.
Sekolah tempat Himeko diterima adalah sekolah swasta
bergengsi yang namanya dikenal semua orang, sebuah sekolah jalur terpadu dari
TK hingga universitas yang memiliki sejarah panjang.
Meskipun awalnya nilai Himeko mustahil bisa mengejar
standar sekolah itu, sejak memasuki musim dingin ia mendadak berubah seperti
orang lain dan mulai belajar dengan serius, meningkatkan kemampuannya secara
drastis.
Ia berhasil meraih keajaiban berkat semangat dan tekad
baja.
Kedua orang tuanya sampai panik bukan main, mengira
Himeko telah menghabiskan seluruh jatah keberuntungan seumur hidupnya, dan
bertanya-tanya apakah anak dari keluarga karyawan biasa seperti mereka boleh
masuk ke sekolah yang isinya anak orang kaya semua.
Ketika Hayato bertanya mengapa ia tiba-tiba mengubah
pilihan sekolahnya, Himeko sempat ragu sejenak sebelum menjawab, "Karena
sekolah itu memiliki koneksi yang kuat dengan dunia media."
Murid internal yang sudah bersekolah sejak TK kebanyakan
berasal dari keluarga kaya raya, dan bukan hal aneh jika sejak kecil mereka
sudah mengasah bakat di bidang seni atau hiburan melalui berbagai les privat,
serta memiliki jalur koneksi yang luas untuk bekerja di bidang tersebut setelah
lulus universitas.
Hayato merasa terkejut karena adiknya sudah memikirkan
masa depannya sampai sejauh itu.
Selain itu, sepertinya ia tidak memilihnya karena sekadar
ikut-ikutan tren atau dorongan rasa penasaran semata.
Bagaimanapun juga, insiden debut idol Haruki pasti telah
meninggalkan kesan dan pengaruh yang sangat besar di hatinya.
Saki menyipitkan mata, lalu bergumam dengan nada yang
agak kesepian.
"Begitu ya... Karena kita selalu bersama selama
ini, rasanya agak kesepian. Lagipula, Haruki-san juga..."
"Ah..."
Sejak Tahun Baru, Haruki tidak pernah menampakkan
batang hidungnya lagi di tempat biasa mereka menunggu.
Meskipun biasanya mereka selalu berangkat berempat,
fakta bahwa kini hanya ada Hayato dan Saki di sini membuat suasana terasa
begitu sepi.
Di tengah udara yang mulai terasa melankolis, Saki
bergumam dengan wajah cemberut dan ekspresi kesal.
"Padahal aku sudah bilang ingin masuk sekolah
yang sama..."
Itu adalah kalimat yang diucapkan Saki kepada Hayato
dan Haruki di tepi Danau Tsukiyonose musim panas tahun lalu.
Hayato mengenang kembali kejadian itu dan membalas
dengan senyum pahit.
"Iya juga ya. Padahal sesuai janji waktu itu,
Saki-san berhasil masuk ke sekolah yang sama."
"Betul banget. Biarkan saja Haruki-san yang acuh
tak acuh itu, ayo kita berangkat ke sekolah berdua saja."
Sambil berkata demikian, Saki meraih lengan Hayato dan
melingkarkan tangannya.
Menyadari tindakan Saki yang tiba-tiba, tubuh Hayato
tersentak kaget.
Aroma manis Saki yang lembut menggelitik rongga
hidungnya, dan dada empuk khas perempuan yang tidak dimiliki oleh anak
laki-laki menempel erat di lengannya, membuat siapa pun akan kesulitan untuk
tidak merasa gugup setengah mati.
Hayato berkata terbata-bata kepada Saki.
"T-Tunggu, Saki-san apa-apaan..."
"Apa maksudnya, aku kan cuma menggandeng
lenganmu?"
"Bukannya apa-apa, tapi rasanya terlalu
mendadak..."
"Aku cuma ingin membuat Kakak berdebar."
Meskipun Saki berusaha mengatakannya seolah-olah itu
bukan hal besar, telinganya sudah memerah sampai ke ujung.
Jelas terlihat bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang
tidak biasa ia lakukan.
Hayato menggaruk pipinya yang ikut memerah, mengalihkan
pandangannya ke arah lain, dan berkata dengan nada malu-malu.
"Kalau begini kan rasanya terlalu malu dan susah
berjalan, bagaimana kalau pegangan tangan saja?"
"B-Begitu ya..."
Mendengar usulan Hayato, Saki meraih tangan kiri Hayato
dan tersenyum malu-malu.
Senyuman polos Saki membuat jantung Hayato berdegup
kencang.
Berusaha menutupi rasa gugupnya, Hayato memasang sikap
setenang mungkin dan berjalan berdampingan dengan Saki, memilih jalur yang
sedikit memutar menuju sekolah.
Meskipun mereka sudah saling mengenal sejak kecil, ini
adalah pertama kalinya ia berjalan ke sekolah sambil berduaan dan bergandengan
tangan dengan Saki.
Ia duluan mengenalnya sebagai sahabat adiknya, tetapi
sekarang rasanya sudah berbeda.
Ia kembali melirik Saki yang berjalan di sampingnya.
Rambut sewarna jerami muda alami miliknya, serta fitur
wajah yang tertata rapi. Gadis cantik dengan kecantikan yang
terkesan magis dan tidak nyata.
Bagi Hayato, Saki bukan hanya memiliki penampilan
seperti itu, tetapi ia juga seorang gadis menarik yang memancarkan pesona luar
biasa—gadis yang tidak pernah berhenti berusaha untuk menampilkan tarian Kagura
yang menakjubkan hingga membuat orang menahan napas, serta gadis yang
meninggalkan keluarganya untuk datang sendirian ke kota dan menantang berbagai
hal baru.
Genggaman tangannya terasa sedikit lebih kecil dari
tangan Hayato, sedikit dingin, dan sangat lembut seolah menyatu dengan telapak
tangannya. Sentuhan khas seorang gadis yang sangat berbeda dari Haruki maupun
adiknya membuat ia sangat salah tingkah.
Situasi ini terasa memalukan sekaligus menggelitik
hati.
Di saat jaraknya dengan Haruki yang telah menjadi
seorang idol semakin melebar, kedekatannya dengan Saki justru semakin menyempit
seolah berbanding terbalik.
Terutama sejak ujian selesai, Saki sering datang
bermain ke rumah keluarga Kirishima, selain menemani Himeko ia juga sering
mampir ke kamar Hayato, bahkan dengan aktif membantu menyiapkan makan malam.
Pada saat-saat itu, Saki sering mendekatkan tubuhnya
ke sisi Hayato, menyentuh bahu atau lengannya, dan melakukan kontak fisik
secara proaktif.
Ia tidak sebodoh itu hingga tidak menyadari bahwa
Saki menyimpan perasaan yang begitu dalam padanya.
Menghadapi Saki yang bersikap seperti itu, tentu saja
ia merasa harus memberikan semacam tanggapan. Namun, bahkan ketika ia mencoba
memikirkan hubungannya dengan Saki secara serius, bayangan Haruki masih saja
mengusik benaknya.
Bagaimanapun juga, semuanya terjadi begitu cepat.
Terlebih lagi, kenyataan bahwa gadis itu menjadi
seorang idol benar-benar berada di luar batas pemahamannya.
Meskipun waktu telah berlalu dan ia memahami
situasinya, perasaannya masih belum bisa mengejar kenyataan tersebut.
Ia sadar bahwa dirinya bersikap sangat tidak adil dan
tidak peka terhadap Saki.
Namun, tidak ada hal lain yang bisa ia perbuat,
membuat Hayato diam-diam mendesah dalam hati.
Tepat pada saat itu, sebuah suara yang terdengar
ceria menegurnya dari samping.
"Halo-halo! Eh, Saki-chan pakai seragam sekolah
kita!"
"Wah, Saki-chan, gaya rambut itu cocok banget
buat kamu!"
"Ema-san, terima kasih banyak!"
Iori dan Ema terlihat berdiri tidak jauh dari sana,
membuat Saki dengan refleks melepaskan genggaman tangannya dari Hayato.
Mengingat betapa malunya jika mereka berdua ketahuan
sedang bergandengan tangan oleh kedua temannya itu, Hayato merasa lega di balik
rasa kecewa kecil di dadanya.
Sejak festival sekolah, Iori dan Ema mulai berangkat
bersama demi melindungi Haruki yang saat itu terbongkar sebagai anak Takura
Mao.
Bahkan setelah Tahun Baru di mana Haruki berhenti datang
ke sekolah, mereka tetap berangkat bersama seperti biasa.
Menurut mereka berdua, jika Haruki tiba-tiba datang ke
sekolah, kehadirannya pasti akan menimbulkan kehebohan yang merepotkan.
Kepedulian teman-temannya terhadap Haruki ini membuat
Hayato merasa senang sekaligus bersyukur seolah-olah itu terjadi pada dirinya
sendiri.
Sementara Ema dan Saki sedang asyik membahas gaya rambut
baru Saki dengan seru—"Suasananya jadi beda banget!" "Karena
belum terbiasa, jadi agak repot saat menatanya"—Iori melihat sekeliling
dan bergumam.
"Adikmu benar-benar tidak ada ya. Kalau
tidak salah, dia diterima di sekolah elit itu, kan?"
"Perjalanannya memakan waktu cukup lama, jadi hari
ini dia sudah berangkat pagi-pagi sekali."
"Haha, rasanya agak sepi juga ya."
"Iori..."
Hayato berkedip keheranan mendapati Iori ternyata
memikirkan Himeko seperti itu. Ia lalu melempar senyum tipis dan berbicara
kepada mereka dengan nada ceria yang disengaja.
"Nah, sebaiknya kita segera berangkat ke
sekolah."
Begitu Hayato mulai melangkah, yang lainnya langsung
mengikuti dari belakang.
Di sepanjang perjalanan, mereka mengobrol riang seperti
biasanya tentang rasa terkejut mereka terhadap tayangan siaran kemarin, mi
instan edisi terbatas di minimarket, hingga maraton membaca manga yang
diadaptasi dari anime musim semi mendatang.
Topik-topik obrolan ringan itu terus menghiasi perjalanan
mereka menuju sekolah seperti biasa.
Namun, suara Haruki tidak ada di antara mereka, membuat
suasana terasa agak hampa.
Menjelang gerbang sekolah, jumlah murid baru berbalut
seragam serba baru semakin bertambah banyak. Para siswa baru.
Saki melihat mereka sambil bergumam dengan suara kecil
yang terdengar kaku.
"Ugh, aku mulai gugup."
Mendengar gumaman itu, Hayato bertukar pandang dengan
Iori dan Ema sambil tersenyum pahit.
Bagaimanapun juga, Saki pada dasarnya adalah anak daerah
yang sama sepertinya, wajar saja jika ia merasa cemas harus dilemparkan
sendirian ke tengah lautan orang asing.
Memahami perasaan itu dengan sangat baik, Hayato memilih
kata-katanya dengan hati-hati sebelum menegurnya.
"Himeko kan tidak ada. Apa ada teman SMP-mu yang
masuk ke SMA kita?"
"Teman-temanku yang akrab terpencar ke sekolah lain,
termasuk Himeko-chan. Tapi Hono-chan sepertinya diterima di sini... Ugh,
kuharap kami bisa sekelas."
Mendengar ucapan Saki, giliran Iori yang mengeluarkan
suara cemas.
"Ah benar juga, kita juga akan pembagian kelas baru
ya. Ugh... bagaimana kalau aku sampai terpisah dari Ema...!"
Sebaliknya, Ema menenangkan Iori dengan ekspresi
tanpa beban.
"Kalau itu terjadi, aku yang akan pergi
menemuimu."
"A-Aku yang akan pergi mencarimu!"
"Kalau begitu nanti kita malah berpapasan di jalan
dong?"
"Ugh...!"
Iori memasang wajah hendak menangis menghadapi godaan
Ema. Melihat reaksi tersebut, Ema tampak cukup menikmatinya. Interaksi
menggemaskan yang memperlihatkan dinamika kekuasaan di antara mereka membuat
Hayato dan Saki tersenyum masam seolah berkata mereka sudah kenyang melihatnya.
Beberapa saat kemudian, setelah ragu sejenak, Hayato
menggaruk kepalanya dan berkata kepada Saki dengan nada malu-malu.
"Saki-san, kalau misalnya kamu merasa kesulitan
beradaptasi di kelas atau ada apa-apa, datang saja ke kelas kita, ya."
Saki mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu sudut bibirnya
melengkung membentuk senyuman lembut sebelum ia menjawab dengan suara penuh
semangat.
"Iya! Aku akan melakukannya!"
Setelah berpisah dengan Saki di lobi sepatu, Hayato
mengecek papan pengumuman di pintu masuk untuk melihat kelasnya, lalu melangkah
menuju ruang 2-C.
Separuh kursi di kelas baru itu sudah terisi, dan
lingkaran obrolan yang ramai sudah terbentuk di sana-sini. Wajah-wajah di kelas
baru ini tentu saja berbeda dari tahun lalu. Hayato tidak bisa menyembunyikan
rasa canggungnya atas fenomena yang tidak terjadi saat di Tsukiyonose ini.
Begitu pula dengan absennya Haruki.
Nama Haruki tidak ada dalam daftar kelas, sepertinya
mereka memang ditempatkan di kelas yang berbeda.
Perasaan sepi dan frustrasi kembali merayap saat ia
menyadari jarak antara dirinya dan Haruki yang semakin melebar.
Seolah ingin mengusir pikiran-pikiran itu, Hayato
menggelengkan kepalanya pelan lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru
kelas.
Meskipun susunan siswanya berubah, bukan berarti semua
orang adalah orang asing.
Sekilas ia melihat, mungkin seperempat dari mereka adalah
teman sekelasnya tahun lalu.
Melihat wajah familiar yang meskipun tahun lalu berbeda
kelas, Hayato menyapanya dengan perasaan bersemangat yang aneh.
"Minamo-san, kita sekelas rupanya."
"Hayato-san! Sepertinya begitu ya. Mohon
bimbingannya untuk satu tahun ke depan."
"Ya. Syukurlah, aku merasa sedikit lega karena ada
teman yang bisa diajak bicara."
"Fufu, aku juga. Tapi ngomong-ngomong soal teman
ngobrol, itu..."
Minamo melirik ke arah sebuah kursi dengan ragu-ragu.
Di sana, Iori terlihat menelungkupkan kepalanya di
atas meja sambil merintih dengan suara penuh keputusasaan, "Ema...
Ema..."
Melihat temannya yang berada dalam kondisi mengenaskan
itu, Hayato mengangkat bahunya sembari menjawab.
"Iori itu... dia dan Isami-san masuk kelas yang
berbeda..."
"A, Ahahaha..."
Sejak mengetahui dari papan pengumuman bahwa ia
berpisah kelas dengan Ema, jiwa Iori seolah melayang keluar dari tubuhnya.
Hayato bahkan harus menarik kerah baju temannya itu untuk menyeretnya masuk ke
kelas ini.
Meskipun Iori sempat sesumbar akan tetap pergi
menemui Ema meskipun kelas mereka terpisah, ia tampaknya tidak bisa
menyembunyikan rasa syok yang mendalam karena perpisahan nyata ini. Meskipun
Hayato merasa hal semacam itu tidak bisa dihindari, menyebarkan aura suram di
tengah suasana kelas baru yang sedang bersemangat bukanlah hal yang baik.
Jika dibiarkan terus seperti ini, hal itu pasti akan
mengganggu proses pembentukan hubungan sosial di awal tahun kedua ini.
Namun, ia sendiri bingung harus mengatakan apa untuk
menghiburnya.
Ketika mereka berdua berdiri dengan alis bertaut
membentuk huruf V karena bingung, sebuah suara ceria menyapa mereka dari
samping.
"Halo, Hayato-kun dan Minamo-san! Tahun ini kita
sekelas... eh, ada apa ini, kenapa wajah kalian terlihat muram?"
Itu adalah Ikki. Rupanya Ikki juga berada di kelas yang
sama.
Melihat Ikki yang kebingungan menatap ekspresi serius
mereka berdua, Hayato dan Minamo saling berpandangan dan tersenyum kecut
sebelum mengarahkan pandangan mereka ke arah Iori.
Ikki berkedip beberapa kali, memahami situasinya, lalu
menyatukan alisnya dan berpikir sejenak sambil memegang dagunya.
Tidak lama kemudian, Ikki memasang ekspresi sangat
bijaksana dan berbicara dengan lembut kepada Iori.
Yoga-kun, sepertinya kamu masuk kelas yang berbeda dengan
Isami-san, ya."
"Ema sudah pergi dariku... Ugh, Ema yang biasanya
selalu ada di dekatku kini pergi jauh mela──"
"Tapi aku pikir ini adalah kesempatan yang pas
untuk memperdalam hubungan kalian berdua."
"──Apa maksudmu, Ikki?"
Seolah tidak ingin melewatkan sepatah kata pun dari
ucapan Ikki, Iori langsung mengangkat kepalanya dari atas meja.
Menerima tatapan tajam Iori, Ikki menyipitkan matanya dan
berkata dengan nada menasihati.
"Bukankah justru karena ada jarak di mana kalian
tidak bisa langsung bertemu, saat kalian bertemu nanti kalian bisa menjadikan
waktunya jauh lebih bermakna? Dan justru karena kalian tidak bisa bertemu
setiap saat, kalian bisa melatih diri untuk memikirkan sosok seperti apa yang
ingin kalian tunjukkan saat berjumpa lagi, kan?"
"Hm... Benar juga ya..."
"Memikirkan perasaan pasangan, lalu merenungkan diri
sendiri apa yang ingin kamu tunjukkan saat kalian bertemu lagi. Memang terasa
sepi karena terpisah, tapi bukankah ada istilah bahwa krisis adalah peluang?
Bukankah bagus jika memanfaatkannya sebagai kesempatan seperti itu?"
"Ah, kalau dipikir-pikir lagi, kalau aku
terus-menerus menunjukkan wajah cengeng dan menyedihkan seperti ini, aku pasti
bakal ditertawakan oleh Ema!"
"Lagi pula, hubungan kalian tidak akan rusak hanya
karena berpisah jarak sedikit saja, kan?"
"Tentu saja, itu sudah pasti!"
Mendengar ucapan itu, Iori bangkit berdiri dengan napas
memburu sambil menepuk dadanya, berhasil mengembalikan semangat aslinya.
Melihat Iori yang kembali seperti semula, Hayato bersama
Minamo menghela napas lega secara bersamaan, sekaligus menyadari Ikki yang
memberikan isyarat mata ke arah mereka.
Kata-kata Ikki barusan juga terasa sangat pas mendarat di
lubuk hati Hayato. Kalimat itu pasti juga ditujukan untuk dirinya.
Kebaikan hati yang terkesan suka ikut campur itu terasa
menenangkan sekaligus mencubit perasaan.
Saat Hayato mengangkat bahunya dengan senyum kecut, Ikki
membalasnya dengan senyuman penuh keyakinan.
Setelah wali kelas tahun ini yang sudah tidak asing lagi
dari pelajaran Sastra Klasik memberikan perkenalan singkat, mereka langsung
bergerak menuju aula tempat digelarnya upacara pembukaan.
Kursi lipat sudah tertata rapi di dalam aula, dan para
siswa kelas dua seperti Hayato dikumpulkan di bagian belakang.
Sama seperti biasanya, guru bagian bimbingan konseling,
ketua tingkat, hingga wakil kepala sekolah menyampaikan berbagai peringatan
wajib seperti menjaga kesehatan, hidup teratur, dan belajar dengan giat.
Kemudian, para siswa kelas dua diingatkan akan kesadaran
diri sebagai senior, sementara siswa kelas tiga diberi pembekalan mental
sebagai peserta ujian, sehingga upacara pembukaan selesai dengan cukup cepat.
Namun, acara tidak langsung bubar di situ; setelah
sedikit kegaduhan, instruksi dari para guru membuat suasana kembali senyap dan
udara di ruangan ini mendadak menegang.
Beberapa saat kemudian, pintu depan aula terbuka, dan
para siswa baru yang baru saja masuk disambut oleh tepuk tangan meriah dari
para siswa senior. Para siswa baru memasang ekspresi gugup, namun mata mereka
berpendar penuh warna harapan menyambut kehidupan baru yang akan segera
dimulai. Di antara kerumunan itu, Hayato menemukan sosok Saki.
Berbeda dari siswa baru lainnya, Saki menegakkan dadanya
dan menatap lurus ke depan dengan penuh wibawa.
(Padahal tadi dia bilang gugup...)
Namun jika dipikir-pikir lagi, Saki sudah terbiasa
berdiri di depan orang banyak melalui tarian Kagura. Ia pasti memiliki
mental panggung yang kuat. Selain itu, postur berjalannya pun terlihat begitu
indah.
Tentu saja, bersikap tenang dan anggun di tengah
kerumunan siswa baru yang kebingungan membuatnya langsung mencuri perhatian.
Terlebih lagi dengan rambut berwarna cokelat terang
yang lebih terang dari orang kebanyakan serta kulit putihnya yang tembus
pandang.
Ditambah lagi dengan fitur wajah yang proporsional
serta gerak-gerik yang memancarkan keanggunan, membuat tatapan semua orang
secara alami tertarik kepadanya. Saki langsung berhasil memusatkan perhatian
seluruh ruangan. Sepertinya banyak orang yang tidak dapat menahan diri untuk
berbisik-bisik, meskipun mereka tahu tindakan itu kurang sopan.
Mulai sekarang, Saki pasti akan menjadi pusat perhatian
di sekolah ini, suka atau tidak suka. Orang-orang di sekitarnya tidak mungkin
membiarkannya begitu saja.
Membayangkan keributan itu, Hayato tersenyum masam sambil
memikirkan apa yang harus dilakukan. Jika ini Saki sebelum datang ke kota
besar, tanpa kehadiran Himeko di sisinya, ia mungkin sudah kewalahan dihujani
perhatian dan menjadi terisolasi.
Namun, Hayato yakin bahwa Saki yang sekarang pasti bisa
bergaul dengan baik bersama siapa pun.
Melalui kehidupan mandirinya, Saki tumbuh menjadi sosok
yang semakin mandiri dan dapat diandalkan. Bukan hanya itu, sebelum ia
menyadari pertemanannya dengan Airi sudah terjalin erat, membuat sifat pemalu
dan penakutnya yang dulu seolah lenyap tak bersuara. Hayato diam-diam mendesah
dalam hati menyadari betapa jauh citra Saki telah berubah.
Tidak lama kemudian, seluruh siswa baru duduk di
tempatnya masing-masing, dan upacara penerimaan pun dimulai.
Setelah sambutan ketua yayasan yang tidak terlalu akrab
bagi para siswa, kepala sekolah dan tamu undangan menyampaikan pidato ucapan
selamat.
Di tengah rentetan pidato membosankan dari para orang
dewasa tersebut, seorang siswi naik ke atas podium.
Hayato mengenali wajah gadis itu. Senior Hakurizawa.
Senior Hakurizawa yang juga menjabat sebagai wakil ketua OSIS menyampaikan
pidato penyambutan atas nama siswa perwakilan dengan sedikit bumbu humor,
membuat ketegangan di ruangan ini sedikit mencair.
Berkat hal itu, pidato sumpah perwakilan siswa baru
yang dibacakan setelahnya juga tampak disampaikan dengan bahu yang lebih
rileks.
Jika saja Haruki tidak memilih jalan sebagai idol,
apakah tahun ini dialah yang seharusnya berdiri di sana menggantikan Senior
Hakurizawa...? Hayato menertawakan dirinya sendiri yang sempat memikirkan
angan-angan penuh penyesalan tersebut.
Upacara penerimaan siswa baru pun selesai.
Namun dalam arti tertentu, bagi para siswa lama, acara
yang sebenarnya justru dimulai dari sini.
"Berikutnya, pertunjukan penyambutan siswa baru oleh
masing-masing klub akan segera dimulai!"
Seiring dengan pengumuman dari Senior Hakurizawa,
sorak-sorai dan tepuk tangan meriah langsung meledak.
Meskipun bertajuk sambutan, acara ini sekaligus
berfungsi sebagai ajang perkenalan dan perekrutan anggota baru dari setiap
klub.
Dimulai dari penampilan memukau klub Brass Band,
demonstrasi kaligrafi raksasa yang bertenaga dari klub Kaligrafi, atraksi bela
diri tanpa celah dari klub Karate, hingga trik memainkan bola dengan teknik
tinggi lewat juggling klub Sepak Bola, sorak sorai dan tepuk tangan bergemuruh
dari para siswa baru maupun senior.
Di antara sekian banyak pertunjukan, acara yang
paling meriah dan menyedot perhatian tentu saja adalah penampilan drama yang
dibintangi oleh Yuzu. Naskahnya sendiri adalah adaptasi ortodoks dari Romeo and
Juliet dengan sentuhan modern. Namun di dalam pementasan itu, kehadiran Yuzu
memancarkan pesona yang begitu unik dan berbeda. Kecantikannya tampak semakin
terpancar matang dibandingkan sebelumnya, berhasil memikat hati penonton tanpa
memandang gender.
Para siswa baru langsung mulai berbisik-bisik
membicarakan Yuzu.
Segera setelah seluruh rangkaian program acara
selesai.
Di saat semua orang masih terbuai dalam sisa-sisa
suasana yang menyenangkan, Senior Hakurizawa sang pembawa acara naik kembali ke
podium untuk mengumumkan penutupan acara. Tepat pada
saat itu, pintu di bagian belakang aula mendadak menjadi riuh.
Keributan itu menyebar dengan cepat bagaikan riak air,
dan bisikan-bisikan seperti "Tunggu, bukankah itu orangnya?!",
"Wah, serius dia murid sini?!", "Gawat, visual aslinya parah
banget cantiknya!", "Kira-kira aku bisa minta tanda tangannya tidak
ya?!" mulai terdengar dari berbagai arah.
Seketika itu juga, suasana di sekitarnya berubah menjadi
kekacauan tak terkendali yang sulit dipercaya.
Meskipun Senior Hakurizawa berusaha setengah mati
menenangkan keadaan dengan berteriak, "Mohon tenang!", "Tolong
jangan membuat keributan!", usahanya bagaikan memadamkan api dengan
seember air.
Tanpa bisa dikendalikan, pusat perhatian itu terus
bergerak maju mendekati barisan tempat duduk kelas dua.
Ikki, yang paling cepat mengenali sosok di pusat
keributan tersebut, mengeluarkan seruan tak percaya.
"Bukankah itu... Nikaidou-san?!"
Mendengar itu, Iori yang berada di dekatnya ikut
berjinjit, memajukan tubuhnya, dan berseru kaget.
"Wah, benar-benar Nikaidou!"
"Ck!"
Hayato membelalakkan matanya dan mematung.
Sosok Haruki terlihat jelas sedang berjalan menuju kursi
bagiannya yang kosong.
Untuk sesaat, kata-kata "kenapa" melintas di
benaknya.
Kendati demikian, Haruki adalah murid di sekolah ini.
Kehadirannya di upacara pembukaan sama sekali bukan hal yang aneh.
Keterlambatan kedatangannya pun pasti berkaitan dengan
jadwal pekerjaannya di dunia hiburan.
Namun, fakta bahwa Haruki kini adalah seorang idol yang
tengah naik daun juga tidak bisa dipungkiri.
Dalam sekejap, atmosfer di ruangan ini seolah berubah
dari perkenalan klub sekolah menjadi ajang pameran kehadiran Haruki.
Sementara itu, di tengah kehebohan ini, Haruki tetap
tampak tenang, menyunggingkan senyuman manis, dan melambaikan tangan kepada
orang-orang di sekitarnya dengan penuh percaya diri. Sikapnya begitu natural,
seolah hal semacam ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Namun, melihat Haruki bersikap seperti itu, Hayato justru
membelalakkan matanya karena merasakan kejanggalan yang teramat sangat.
Sebelum identitasnya sebagai anak Takura Mao terbongkar,
Haruki memang sudah menjadi siswi terkenal di sekolah ini.
Namun kepopuleran itu tetap berada dalam koridor seorang
siswi SMA biasa.
Meskipun Haruki kini hanya duduk di bangkunya sendiri,
teman-teman sekelas di sekitarnya menahan napas karena terkejut sekaligus
canggung, menjaga jarak darinya seolah ia adalah sosok yang tidak boleh
disentuh, merasa bahwa mereka berada di dunia yang berbeda darinya.
Pemandangan reaksi orang-orang terhadap Haruki di
hadapannya saat ini persis seperti reaksi orang-orang terhadap seorang idol
ternama.
Haruki sendiri menerima reaksi dari teman sekelasnya itu.
Hal itu menyiratkan bahwa Haruki kini benar-benar
terisolasi dari lingkungannya.
Meskipun orang bilang ia bagaikan bunga di puncak gunung,
Haruki saat ini terasa begitu jauh.
Dan ia memasang tembok pembatas terhadap siapa pun.
Meskipun ia tahu seberapa besar popularitas Haruki lewat
informasi di media, menyaksikan langsung Haruki yang kembali menjadi pusat
perhatian setelah tiga bulan lebih berlalu membuat Hayato merasakan perbedaan
jurang pemisah di antara mereka secara nyata.
Keributan itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
mereda. Kehilangan kesabaran, Senior Hakurizawa berteriak dengan nada putus
asa, "Dengan ini upacara penyambutan siswa baru resmi berakhir!"
Meskipun Senior Hakurizawa memaksa menutup acara
penyambutan tersebut, mata semua orang tetap terpaku pada Haruki. Mereka
menatap penuh harap, seolah-olah meminta penampilan puncak dari upacara
penyambutan itu ditampilkan olehnya.
Melihat situasi tersebut, Iori bergidik ngeri sambil
bergumam.
"Rasanya suasana ini tidak akan mereda kecuali
Nikaidou menyanyikan satu lagu..."
"A, Ahahaha. Aku ingin bilang 'Mana mungkin', tapi
situasinya memang..."
"......"
Ikki merautkan alisnya tanda setuju, sementara Hayato
terdiam dengan ekspresi tegang. Seperti yang dikatakan Iori, seolah-olah semua
orang menuntut Haruki untuk memberikan semacam penampilan panggung.
Namun, sebelum Haruki menjadi seorang idol, ia adalah
seorang siswi SMA yang terdaftar di sekolah ini.
Sebagai siswi biasa, ia tidak akan bernyanyi di tempat
seperti ini atau memicu keributan yang melanggar ketertiban umum. Haruki
sendiri menyadari hal itu dan tidak dapat menyembunyikan rasa bingungnya,
tampak ragu harus berbuat apa.
Namun, Haruki sangat peka dalam membaca situasi.
Tidak mungkin ia tidak tahu apa yang sedang diharapkan
darinya oleh orang-orang di sini.
Bagi Haruki saat ini, mengabaikan ekspektasi orang-orang
di ruangan ini tentu merupakan hal yang harus dihindari demi menjaga grafik
popularitasnya sebagai seorang idol tetap stabil.
Beberapa saat kemudian, Haruki mengubah aura di
sekelilingnya dan perlahan bangkit berdiri.
Menyadari apa yang hendak dilakukan Haruki, Hayato
menahan napas dengan terkejut.
Semua orang di dalam aula terdiam, mengawasi setiap
gerak-gerik Haruki.
──Jika dibiarkan seperti ini, Haruki akan sepenuhnya
berubah menjadi seorang idol seutuhnya.
Didorong oleh desiran insting yang kuat, Hayato sangat
ingin segera berlari menghampiri Haruki saat itu juga dan melontarkan lelucon
ringan seperti "Apa yang sedang kamu lakukan?".
Namun, entah mengapa kedua kakinya terasa terpaku di
lantai dan tidak mau bergerak, membuat Hayato merasa sangat ngeri pada dirinya
sendiri.
Ia merasa bahwa dirinya saat ini sama sekali tidak
memiliki kualifikasi yang pantas untuk berdiri dengan dada membusung di samping
Haruki sebagai seorang partner.
Di saat Hayato berdiri mematung dalam kebingungan,
barisan depan aula tempat para siswa baru berkumpul tiba-tiba mendadak ricuh.
Menajamkan pendengaran karena penasaran, ia mendengar
suara-suara seperti "Siapa gadis itu?", "Apakah rambut itu warna
rambut asli?", "Manis banget, ralat, cantik parah!" sayup-sayup
terdengar.
Keriuhan itu semakin mendekat ke arah mereka, lalu
tiba-tiba Saki menerobos kerumunan orang banyak dan melompat maju ke hadapan
Haruki.
"......Eh?!"
Bahkan Haruki pun tampak tak bisa menyembunyikan rasa
terkejutnya mendapati Saki yang tiba-tiba muncul.
Sambil terengah-engah, Saki mengangkat matanya yang
sedikit turun dengan sekuat tenaga, lalu berjalan lurus dengan langkah lebar
dan pasti menuju hadapan Haruki. Kemudian, dengan kedua tangannya, Saki menarik
pipi Haruki dengan gemas.
"Jangan menghilang seenaknya sendiri,
Bodoh!"
"Hya, hya hihyan?!"
Saki meluapkan seluruh perasaannya kepada Haruki
dengan suara lantang yang tidak seperti biasanya, melontarkan kata-kata jujur
tanpa peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya. Itu adalah ungkapan tulus
yang dipenuhi emosi murni terhadap seorang sahabat karib yang dianggapnya
setara.
"Begitu tahu kamu tiba-tiba menghilang dari
sisiku dan jadi idol, aku benar-benar tidak paham! Waktu ujian masuk aku bilang
kita akan masuk sekolah yang sama tapi aku malah gagal di awal, aku sempat
sangat terpuruk sampai akhirnya bisa lolos lewat jalur cadangan, tapi
Haruki-san malah tidak pernah masuk sekolah, aku sempat khawatir kamu akan
keluar atau pindah ke sekolah lain, aku, aku... Waaaaaaaaah!"
Suara Saki mulai bergetar menahan tangis, dan pada akhirnya ia benar-benar menangis. Beban yang selama ini menumpuk dan menegang di dalam dadanya akhirnya pecah berkeping-keping. Haruki, yang sama sekali tidak menyangka Saki akan menangis, tampak panik sebelum akhirnya perlahan memeluk tubuh sahabatnya itu dengan lembut.
"Maaf, maafkan aku ya. Aku tidak bilang
apa-apa."
"Gus, uuuuu... Bodoh, Haruki-san, bodoh...!"
Haruki mengusap punggung Saki yang bergelayut
memeluknya, menenangkan gadis itu selama beberapa saat.
Orang-orang di sekitar pun hanya menyaksikannya dalam
diam tanpa berniat mengganggu mereka berdua.
"Mulai sekarang, aku akan usahakan untuk
sering-sering datang."
"B-Beneran, ya?"
"Beneran, beneran. Soalnya ada urusan soal
jumlah kehadiran juga."
"Ini janji, ya..."
"Dan tolong balas pesan di grup chat juga dengan
benar."
"Uhm, aku bakal ikut sebisa mungkin?"
"Tidak boleh!"
"...B-Baik."
"Kalau begitu, mari berjanji kelingking!"
Sambil memasang wajah belepotan air mata dan pipi
yang menggembung, Saki dengan paksa mengaitkan jari kelingking mereka.
Haruki sempat membelalakkan matanya, namun
perlahan-lahan bibirnya ikut melengkung membentuk senyuman.
Pemandangan itu benar-benar menyerupai dua sahabat
karib yang baru saja melepas rindu setelah sekian lama.
Hayato menatap kedua gadis itu dengan rasa
tercengang.
Rasanya seperti Saki telah mengambil alih tugas yang
seharusnya ia lakukan.
Para hadirin di dalam aula juga mulai memberikan
tepuk tangan kecil dari berbagai arah, seolah mengakui bahwa Saki dan Haruki
memang benar-benar sahabat dekat.
Baru pada saat itulah Saki tampaknya menyadari apa
yang baru saja ia perbuat, membuat wajahnya merona merah padam hingga
menundukkan kepala, sementara Haruki mengusik pipinya sambil meledeknya.
Suasana hangat itu membuat wajah semua orang
melembut.
Sebuah atmosfer mulai terbentuk, seolah menerima Saki
secara terbuka sebagai sahabat karib Haruki.
Namun di lubuk hati Hayato, gelombang cemburu dan iri
hati bergemuruh hebat. Disusul oleh rasa benci pada diri sendiri serta
keputusasaan.
Suasana hatinya benar-benar berantakan. Tempat di mana
Saki berdiri saat ini, tadinya adalah tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
Kikuk, Hayato menggertakkan gigi belakangnya.
"Hei, Hayato..."
"Hayato-kun..."
Iori dan Ikki menegurnya dengan nada khawatir.
Ekspresinya pasti terlihat begitu menyedihkan saat ini.
Namun Hayato mencoba menutupi keadaannya sekarang, lalu
melemparkan senyuman canggung kepada mereka berdua.
"Bukan apa-apa, kok."



Post a Comment