Selingan 2
Jarak yang
Telah Memisahkan
Beberapa hari telah berlalu sejak Haruki datang ke
upacara penerimaan siswa baru dan menimbulkan sedikit kehebohan.
Sesuai janjinya pada Saki, Haruki mulai datang ke sekolah
setiap hari.
Namun, jarang sekali Haruki menampakkan batang hidungnya
sejak jam pelajaran pertama, dan sering kali ia baru datang di pagi hari untuk
kemudian pulang sebelum jam makan siang. Bahkan
di pagi hari pun, mereka tidak pernah berangkat bersama.
Begitulah sibuknya ia dengan pekerjaan di dunia
hiburan.
Kendati demikian, fakta bahwa mereka kini bisa
bertemu di sekolah adalah hal yang nyata.
Hanya saja, Hayato nyaris tidak bisa berbicara dengan
Haruki secara layak di sekolah.
Haruki adalah seorang idol pendatang baru yang paling
bersinar dan tengah naik daun saat ini.
Para siswa di sekolah, dari berbagai tingkat kelas,
berbondong-bondong mendatangi kelasnya hanya untuk sekadar melihat sekilas
sosok Haruki, menciptakan sedikit keributan di setiap jam istirahat.
Menurut Ema yang berada di kelas yang sama, meskipun
tidak ada orang yang memaksa masuk ke dalam kelas secara ugal-ugalan, Haruki
selalu dilihat oleh siswa dari kelas atau tingkat lain, membuatnya merasa
seolah-olah ia sedang dijadikan tontonan.
Di tengah situasi seperti itu, mustahil bagi Hayato
untuk pergi menghampiri dan berbicara dengan Haruki seperti biasanya.
Namun sebagai gantinya, mereka jadi lebih sering
berinteraksi lewat grup chat.
Hari itu pun sudah lewat pukul 9.30 malam, setelah Hayato
selesai makan malam, mandi, dan merampungkan tugas-tugasnya.
Mereka tengah bersenang-senang membahas topik yang
dilemparkan oleh Iori di grup chat yang juga diikuti oleh Haruki.
"Aku baru saja membeli game slow life &
sandbox yang kabarnya bikin waktu cepat berlalu, dan game itu benar-benar
gila. Padahal baru beli tiga hari lalu, tapi jam bermainku sepertinya sudah
lewat 20 jam."
Menanggapi pesan Iori tersebut, Saki dan Haruki membalas,
"Ahaha, waktunya benar-benar tersita ya," dan "Sebenarnya aku
juga tertarik, tapi kalau aku memainkannya, jadwalku sepertinya bakal
kacau."
Ikki dan Minamo lantas menimpali, "Jadi karena
itulah Iori-kun akhir-akhir ini tidur di kelas," serta "Sepertinya
kamu juga lupa mengerjakan tugas, kan?" dan sebagai pukulan telak, Ema
merajuk, "I-chan akhir-akhir ini tidak mau memperhatikannya." Iori
pun langsung panik memberikan alasan yang sama sekali bukan pembelaan,
"Eh, bukan begitu..." atau "Aku cuma sedikit hanyut dalam
gamenya."
Yang lain langsung menggoda Iori dengan komentar,
"Wah, parah banget," dan "Isami-san, kasihan sekali,"
hingga memancing tawa.
Hayato yang sedang berbaring di tempat tidur kamarnya pun
ikut tersenyum tipis sambil melontarkan candaan ringan, "Mulai sekarang,
ada biaya kalau mau nyontek catatannya ya," sembari mengamati jalannya
obrolan tersebut.
Sejak mendengar permohonan Saki di upacara penerimaan
siswa baru, Haruki terus bergabung dalam obrolan seperti ini setiap hari.
Persis seperti sebelum gadis itu menjadi seorang
idol.
Meskipun hanya lewat layar ponsel, ia merasa sungguh
bersyukur atas hal itu. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal di dada
Hayato. Ia masih belum bisa berbicara berdua secara layak dengan Haruki.
Selain itu, ada juga beberapa hal seputar dunia idol
yang ingin ia tanyakan. Setelah memastikan Haruki sedang asyik mengobrol dengan
yang lain di grup chat, Hayato mengirimkan pesan pribadi kepada Haruki dengan
jari-jarinya yang sedikit ragu.
"Bisa ngobrol sebentar?"
Tangan yang memegang ponsel itu terasa gemetar.
Padahal ia sudah tak terhitung kali bertukar pesan dengan gadis itu, ia baru
menyadari betapa tegangnya dirinya saat ini.
Haruki adalah seorang idol yang menjalani jadwal
super sibuk.
Sebagai buktinya, meskipun ia sudah mengirimkan
beberapa pesan sejak debut mereka di awal tahun, bukankah Haruki tidak pernah
membalasnya sekalipun?
Bagaimana pun, membuang waktu Haruki demi urusannya
sendiri bukanlah tindakan yang tepat. Pikiran negatif semacam itu melintas di
benaknya, dan tepat saat ia hendak menghapus pesannya, sebuah balasan darurat
datang dari Haruki.
"Ada apa?"
"Ck."
Balasan bernada santai itu sama sekali tidak berubah
seperti biasanya. Kendati demikian, jantung Hayato berdegup kencang bukan main.
Sempat terbersit di pikirannya untuk membalas, "Ah, lupakan saja."
Namun, kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan di mana
Haruki mau menanggapinya seperti ini?
Karena itulah Hayato menggelengkan kepalanya untuk meniup
keraguan di dalam dadanya, lalu mengetikkan balasan.
"Ada hal yang ingin kutanyakan pada Haruki."
"Hm, apa?"
"Kenapa kamu jadi seorang idol?"
Itulah hal yang terus mengganggunya selama ini. Bukankah
sebelumnya Haruki berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi dunia hiburan? Entah
bagaimana alasannya, kini ia malah tampil berkilau sebagai seorang idol.
Setelah membuat Hayato menunggu sejenak seolah sengaja
ingin membuatnya penasaran, Haruki mengetikkan balasannya.
"Aku... sudah memutuskan untuk menghadapi ibuku...
dan tidak lari lagi dari garis keturunanku. Makanya, aku jadi idol supaya bisa
bertemu dengan ibuku."
"Eh, maksudnya?"
"Ibunya sangat ketat, atau lebih tepatnya sepertinya
dia tipe hikikomori yang parah. Katanya, bahkan pihak agensi pun hanya
bisa menemuinya langsung di lokasi kerja. Sepertinya hal itu berlaku juga
untukku, jadi..."
"Maksudnya supaya kamu bisa jadi idol terkenal dan
bekerja bersamanya, begitu?"
Meskipun merasa ada yang ganjil, Hayato menelan
mentah-mentah penjelasan Haruki. Lawannya adalah aktris papan atas yang
legendaris, Takura Mao. Sosok yang bisa dibilang sebagai penguasa dunia
hiburan. Mungkin cara pandang mereka memang tidak bisa diukur dengan akal sehat
orang biasa. Jika Haruki berkata demikian, pastinya memang begitu adanya. Ini
pasti menjadi keputusan pahit bagi Haruki sendiri.
"...Lalu, kurasa kalau aku terus menjadi anak Takura
Mao begitu saja, aku hanya akan terus merepotkan Hayato dan yang lainnya."
Hayato sempat mengetik, "Bukan urusan sepe—"
sebelum ia meralatnya, menghapus semuanya, dan menunggu kelanjutan kata-kata
Haruki.
"Demi hal itu juga, rasa penasaranku terhadap ibuku
semakin kuat. Makanya, aku menerima tawaran untuk menjadi idol. Selain itu,
dengan berdiri di panggung utama dunia hiburan, aku pikir aku bisa melihat
pemandangan yang selama ini dilihat oleh ibu, dan memahami apa yang ada di
dalam pikirannya."
"Begitu ya."
Hayato menggertakkan giginya rapat-rapat, lalu memaksakan
diri mengeluarkan sepatah kata itu.
Haruki melangkah di jalur idol dengan membawa tujuan yang
sangat jelas. Hal itu sangat ia pahami hingga terasa menyayat hati. Sebagai
seorang partner, jika ia tidak mendorong punggung Haruki yang sedang menatap ke
depan, lalu pantaskah ia disebut sebagai sahabat?
Namun di sisi lain, hal itu juga berarti Haruki melangkah
semakin jauh ke dalam dunia yang sama sekali tidak ia kenal.
"Makanya Hayato, dukung aku ya."
"............"
Itulah sebabnya Hayato tidak tahu harus membalas apa
menanggapi kalimat lanjutan Haruki tersebut, hingga pada akhirnya ia tidak bisa
memberikan balasan apa pun.



Post a Comment