NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Interlude II

Selingan 2

Jarak yang Telah Memisahkan


Beberapa hari telah berlalu sejak Haruki datang ke upacara penerimaan siswa baru dan menimbulkan sedikit kehebohan.

Sesuai janjinya pada Saki, Haruki mulai datang ke sekolah setiap hari.

Namun, jarang sekali Haruki menampakkan batang hidungnya sejak jam pelajaran pertama, dan sering kali ia baru datang di pagi hari untuk kemudian pulang sebelum jam makan siang. Bahkan di pagi hari pun, mereka tidak pernah berangkat bersama.

Begitulah sibuknya ia dengan pekerjaan di dunia hiburan.

Kendati demikian, fakta bahwa mereka kini bisa bertemu di sekolah adalah hal yang nyata.

Hanya saja, Hayato nyaris tidak bisa berbicara dengan Haruki secara layak di sekolah.

Haruki adalah seorang idol pendatang baru yang paling bersinar dan tengah naik daun saat ini.

Para siswa di sekolah, dari berbagai tingkat kelas, berbondong-bondong mendatangi kelasnya hanya untuk sekadar melihat sekilas sosok Haruki, menciptakan sedikit keributan di setiap jam istirahat.

Menurut Ema yang berada di kelas yang sama, meskipun tidak ada orang yang memaksa masuk ke dalam kelas secara ugal-ugalan, Haruki selalu dilihat oleh siswa dari kelas atau tingkat lain, membuatnya merasa seolah-olah ia sedang dijadikan tontonan.

Di tengah situasi seperti itu, mustahil bagi Hayato untuk pergi menghampiri dan berbicara dengan Haruki seperti biasanya.

Namun sebagai gantinya, mereka jadi lebih sering berinteraksi lewat grup chat.

Hari itu pun sudah lewat pukul 9.30 malam, setelah Hayato selesai makan malam, mandi, dan merampungkan tugas-tugasnya.

Mereka tengah bersenang-senang membahas topik yang dilemparkan oleh Iori di grup chat yang juga diikuti oleh Haruki.

"Aku baru saja membeli game slow life & sandbox yang kabarnya bikin waktu cepat berlalu, dan game itu benar-benar gila. Padahal baru beli tiga hari lalu, tapi jam bermainku sepertinya sudah lewat 20 jam."

Menanggapi pesan Iori tersebut, Saki dan Haruki membalas, "Ahaha, waktunya benar-benar tersita ya," dan "Sebenarnya aku juga tertarik, tapi kalau aku memainkannya, jadwalku sepertinya bakal kacau."

Ikki dan Minamo lantas menimpali, "Jadi karena itulah Iori-kun akhir-akhir ini tidur di kelas," serta "Sepertinya kamu juga lupa mengerjakan tugas, kan?" dan sebagai pukulan telak, Ema merajuk, "I-chan akhir-akhir ini tidak mau memperhatikannya." Iori pun langsung panik memberikan alasan yang sama sekali bukan pembelaan, "Eh, bukan begitu..." atau "Aku cuma sedikit hanyut dalam gamenya."

Yang lain langsung menggoda Iori dengan komentar, "Wah, parah banget," dan "Isami-san, kasihan sekali," hingga memancing tawa.

Hayato yang sedang berbaring di tempat tidur kamarnya pun ikut tersenyum tipis sambil melontarkan candaan ringan, "Mulai sekarang, ada biaya kalau mau nyontek catatannya ya," sembari mengamati jalannya obrolan tersebut.

Sejak mendengar permohonan Saki di upacara penerimaan siswa baru, Haruki terus bergabung dalam obrolan seperti ini setiap hari.

Persis seperti sebelum gadis itu menjadi seorang idol.

Meskipun hanya lewat layar ponsel, ia merasa sungguh bersyukur atas hal itu. Namun, ada satu hal yang terus mengganjal di dada Hayato. Ia masih belum bisa berbicara berdua secara layak dengan Haruki.

Selain itu, ada juga beberapa hal seputar dunia idol yang ingin ia tanyakan. Setelah memastikan Haruki sedang asyik mengobrol dengan yang lain di grup chat, Hayato mengirimkan pesan pribadi kepada Haruki dengan jari-jarinya yang sedikit ragu.

"Bisa ngobrol sebentar?"

Tangan yang memegang ponsel itu terasa gemetar. Padahal ia sudah tak terhitung kali bertukar pesan dengan gadis itu, ia baru menyadari betapa tegangnya dirinya saat ini.

Haruki adalah seorang idol yang menjalani jadwal super sibuk.

Sebagai buktinya, meskipun ia sudah mengirimkan beberapa pesan sejak debut mereka di awal tahun, bukankah Haruki tidak pernah membalasnya sekalipun?

Bagaimana pun, membuang waktu Haruki demi urusannya sendiri bukanlah tindakan yang tepat. Pikiran negatif semacam itu melintas di benaknya, dan tepat saat ia hendak menghapus pesannya, sebuah balasan darurat datang dari Haruki.

"Ada apa?"

"Ck."

Balasan bernada santai itu sama sekali tidak berubah seperti biasanya. Kendati demikian, jantung Hayato berdegup kencang bukan main. Sempat terbersit di pikirannya untuk membalas, "Ah, lupakan saja."

Namun, kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan di mana Haruki mau menanggapinya seperti ini?

Karena itulah Hayato menggelengkan kepalanya untuk meniup keraguan di dalam dadanya, lalu mengetikkan balasan.

"Ada hal yang ingin kutanyakan pada Haruki."

"Hm, apa?"

"Kenapa kamu jadi seorang idol?"

Itulah hal yang terus mengganggunya selama ini. Bukankah sebelumnya Haruki berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi dunia hiburan? Entah bagaimana alasannya, kini ia malah tampil berkilau sebagai seorang idol.

Setelah membuat Hayato menunggu sejenak seolah sengaja ingin membuatnya penasaran, Haruki mengetikkan balasannya.

"Aku... sudah memutuskan untuk menghadapi ibuku... dan tidak lari lagi dari garis keturunanku. Makanya, aku jadi idol supaya bisa bertemu dengan ibuku."

"Eh, maksudnya?"

"Ibunya sangat ketat, atau lebih tepatnya sepertinya dia tipe hikikomori yang parah. Katanya, bahkan pihak agensi pun hanya bisa menemuinya langsung di lokasi kerja. Sepertinya hal itu berlaku juga untukku, jadi..."

"Maksudnya supaya kamu bisa jadi idol terkenal dan bekerja bersamanya, begitu?"

Meskipun merasa ada yang ganjil, Hayato menelan mentah-mentah penjelasan Haruki. Lawannya adalah aktris papan atas yang legendaris, Takura Mao. Sosok yang bisa dibilang sebagai penguasa dunia hiburan. Mungkin cara pandang mereka memang tidak bisa diukur dengan akal sehat orang biasa. Jika Haruki berkata demikian, pastinya memang begitu adanya. Ini pasti menjadi keputusan pahit bagi Haruki sendiri.

"...Lalu, kurasa kalau aku terus menjadi anak Takura Mao begitu saja, aku hanya akan terus merepotkan Hayato dan yang lainnya."

Hayato sempat mengetik, "Bukan urusan sepe—" sebelum ia meralatnya, menghapus semuanya, dan menunggu kelanjutan kata-kata Haruki.

"Demi hal itu juga, rasa penasaranku terhadap ibuku semakin kuat. Makanya, aku menerima tawaran untuk menjadi idol. Selain itu, dengan berdiri di panggung utama dunia hiburan, aku pikir aku bisa melihat pemandangan yang selama ini dilihat oleh ibu, dan memahami apa yang ada di dalam pikirannya."

"Begitu ya."

Hayato menggertakkan giginya rapat-rapat, lalu memaksakan diri mengeluarkan sepatah kata itu.

Haruki melangkah di jalur idol dengan membawa tujuan yang sangat jelas. Hal itu sangat ia pahami hingga terasa menyayat hati. Sebagai seorang partner, jika ia tidak mendorong punggung Haruki yang sedang menatap ke depan, lalu pantaskah ia disebut sebagai sahabat?

Namun di sisi lain, hal itu juga berarti Haruki melangkah semakin jauh ke dalam dunia yang sama sekali tidak ia kenal.

"Makanya Hayato, dukung aku ya."

"............"

Itulah sebabnya Hayato tidak tahu harus membalas apa menanggapi kalimat lanjutan Haruki tersebut, hingga pada akhirnya ia tidak bisa memberikan balasan apa pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close