NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Epilog

Epilog


Setelah itu, seluruh proses syuting berakhir tanpa ada kendala. Hayato meninggalkan lokasi bersama Haruki, lalu menuju Toka Shiro untuk mengembalikan sepeda motor kepada Saori sekaligus mengambil pakaian ganti mereka.

Langit malam telah sepenuhnya turun menutupi bumi. Padahal biasanya ini adalah waktu untuk menyantap makan malam.

Meskipun demikian, di Toka Shiro, meskipun waktu tutup sudah lama terlewat, bukan hanya Saori, melainkan Iori dan Ema juga menunggu mereka di sini dengan perasaan cemas.

Meskipun detail tentang akhir dari masalah Haruki telah disampaikan dengan benar melalui grup chat, permintaan mereka untuk ingin melihat langsung wajah Haruki demi ketenangan hati membuat dada ini terasa begitu geli sekaligus hangat.

Berdasarkan cerita dari Iori dan Ema, Saki yang bertindak sebagai pengganti Haruki di Early Summer Live dan meraih kesuksesan besar, langsung menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat dengan pertanyaan siapa sebenarnya gadis itu.

Para pelaku industri hiburan langsung berdatangan seketika, membuat situasi kepulangan menjadi sangat kacau.

Oleh karena itu, Himeko menggunakan strategi "menyembunyikan pohon di tengah hutan" seperti yang pernah ia lakukan pada Haruki dulu untuk memanggil Kazuki, namun hal itu justru menarik Momoka dan Airi ke sana, yang kabarnya malah membuat situasi semakin gempar.

Memikirkan nasib Saki mulai esok hari, bukan hanya Hayato, tetapi semuanya pun memberikan senyuman pahit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata sebelum akhirnya meninggalkan Toka Shiro.

Dua pasang langkah kaki bergema di kawasan perumahan yang tenang.

Di bagian rendah langit timur tampak rasi bintang Segitiga Musim Panas, sementara di kejauhan sebelah selatan terlihat sekumpulan awan dengan rupa yang sedikit mengancam.

Namun, ekspresi Haruki tampak begitu cerah.

Ia sepertinya merasa lega setelah meluapkan perasaan kepada sang ibu yang selama ini ia pendam di dalam dada.

Meskipun Haruki dan Mão sempat bersikap tegang selama proses syuting berlangsung, hal itu tampaknya terjadi karena mereka menghadapi karya tersebut dengan sungguh-sungguh dan diliputi ketegangan dalam arti yang positif. Ganjalan di antara mereka selama ini seolah telah mencair.

Kini, udara yang tenang dan santai mengalir di antara Hayato dan Haruki.

Situasinya sama seperti dulu. Haruki telah menyelesaikan dialog dengan ibunya serta tujuannya.

Mulai dari urusan Saki hingga berbagai hal merepotkan lainnya pasti sudah menanti di masa depan.

Meskipun begitu, Hayato melontarkan gurauan ringan sembari merasakan berbagai hal yang perlahan kembali seperti semula.

"Ngomong-ngomong soal film itu, pada akhirnya adegan pertengkaran ibu dan anak yang diambil pertama kali tadi yang dipakai, ya."

"B-Bukan begitu! Itu kan improvisasi, improvisasi tahu."

"Yah, kurasa adegan improvisasi itu memang jauh lebih bagus daripada adegan yang direkam ulang setelahnya. Aktingnya terasa begitu tulus, atau lebih tepatnya, sangat membekas di dada."

"Membayangkan wujudku yang menangis sungguh-sungguh ditayangkan di seluruh negeri membuatku merasa suram, sih."

"Karena itu adalah pertengkaran ibu dan anak berskala besar di mana kalian saling meluapkan emosi tanpa ditutup-tutupi, kan."

"Ih, makanya, itu kan, improvisasi!"

"Wahahaha."

"Ah~~~~, ampun deh!"

Menghadapi godaan Hayato, Haruki memerah seutuhnya sambil memajukan bibirnya dengan ekspresi cemberut.

Pada akhirnya, dalam film utama tersebut, meskipun adegan sesuai naskah juga direkam ulang, berdasarkan perkataan sutradara, versi improvisasilah yang dipilih untuk digunakan.

Sutradara tampaknya menginterpretasikannya sebagai wujud pertumbuhan di mana Haruki, yang awalnya ingin terus mengatakan betapa kesepiannya ia, diajar oleh masa lalunya sendiri, menerimanya, lalu mengambil langkah maju ke depan.

Bagi Hayato sendiri, meskipun isi dan arah cerita sedikit berubah sehingga memerlukan penyesuaian secara keseluruhan, ia rasa hal itu justru akan menghasilkan cerita yang jauh lebih baik.

Lagipula, Haruki pun pasti tidak akan mampu membawakan akting yang melampaui kualitas dari improvisasi tersebut.

Bagaimanapun juga, itu bukanlah sekian dari akting biasa, melainkan luapan emosi mentah antara ibu dan anak yang memanfaatkan peran yang ada.

Itulah alasan mengapa adegan tersebut memiliki tingkat realisme yang tinggi.

Hal itu pasti akan menyentuh hati bukan hanya sang sutradara dan orang-orang yang ada di lokasi, but juga setiap penonton yang menyaksikannya.

Saat Hayato merasa yakin akan kesuksesan film tersebut, tiba-tiba Haruki bergumam dengan suara yang sarat akan perenungan.

"Kamu mungkin tidak percaya, Hayato, tapi sampai sebelum improvisasi itu terjadi, aku selalu berpikir kalau aku dibenci oleh Ibu. Tapi sekarang aku jadi tahu kalau sebenarnya tidak begitu."

Mendengar ucapan itu, Hayato sempat membelalakkan matanya sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan senyuman pahit.

"Yah, aku mengerti. Dari improvisasi tadi, perasaan bahwa beliau sama sekali tidak meremehkanmu itu tersampaikan dengan jelas."

"Tapi bagaimana kalau itu cuma akting?"

"Mungkin saja. Tapi, baik Haruki maupun Ibumu, kalian berdua hanya bisa saling berbicara lewat akting, kan?"

"Itu..."

Merasa tebakannya tepat sasaran, Haruki kehabisan kata-kata dan menghentikan langkahnya. Hayato pun mengikuti jejaknya.

Haruki meletakkan tangan di dadanya dan bimbang sejenak.

Tidak lama kemudian, seolah-olah sedang melakukan pengakuan dosa, Haruki membuka suara dengan nada berat.

"Aku... selama ini selalu berpura-pura menjadi anak yang baik. Di hadapan Ibu dan semua orang, aku menekan diriku sendiri demi bisa melewati hari-hari tanpa masalah. Makanya bagiku, melakukan akting, atau diriku yang sedang berakting, adalah sesuatu yang sangat memuakkan."

"Tetapi Haruki sempat berpikir kalau akting yang menjawab ekspektasi dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain itu menyenangkan."

"Iya, betul. Awalnya pun aku masuk ke dunia hiburan sebagai transaksi demi bisa menemui Ibu."

"Dan idol itu, karena kamu menikmatinya dengan sungguh-sungguh, senyumanmu bahkan memancarkan aura yang melebihi aslinya."

"...Begitukah, ya?"

"Begitulah. Makanya, aku merekamnya."

"Fufu, klub penggemar tidak resmi Tinkle, ya. Benar juga."

Haruki saling bertukar pandang dengan Hayato, lalu tertawa kecil sambil menggoyangkan bahunya.

Kemudian Hayato menyipitkan matanya dan menasihati dengan lembut.

"Tidak ada yang salah dengan tindakanmu memerankan sesuatu, Haruki. Lagipula, justru karena itu adalah akting, kalian bisa berbicara jujur dengan ibumu."

"Tapi itu tidak normal. Bentuk hubungan yang sangat terdistorsi."

"Itu salah, tidak benar. Baik Haruki maupun Ibumu, kalian berdua selalu mengenakan topeng di hadapan orang-orang di sekitar kalian. Itulah sebabnya kalian hanya bisa berbicara melalui akting. Kalian berdua hanya canggung, itu saja. Kalau dipikir-pikir, bukankah akting justru menjadi sesuatu yang tak tergantikan bagi kalian berdua sebagai ibu dan anak untuk merajut kembali hubungan yang sempat putus?"

Akting telah menghubungkan Haruki dan ibunya—Haruki membelalakkan matanya lebar-lebar karena gagasan itu tidak pernah terlintas di benaknya. Melihat Hayato yang tersenyum usil, Haruki akhirnya tertawa lepas seolah sudah tidak dapat menahannya lagi.

"Ahaha, pandai sekali ya kamu merangkai kata."

"Tapi, bukankah itu jauh lebih baik?"

"Tidak bisa disangkal lagi."

Setelah itu, Haruki menyeka sisa air mata di sudut matanya, lalu mekar dengan senyuman paling cerah ke arah Hayato.

"Terima kasih, Hayato. Di saat seperti ini, aku merasa mulai bisa sedikit menyukai diriku di masa lalu."

"Begitukah."

"Hayato ini benar-benar orang yang misterius, ya. Kamu selalu menolongku."

"Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan saja."

Hayato menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar untuk menyembunyikan rasa malunya.

Ketika akhirnya mereka tiba di depan kediaman keluarga Nikaido, Haruki berbalik menghadapnya, lalu mengucapkan salam perpisahan yang terdengar canggung sambil tersipu malu.

"Hayato, aku pulang!"

Itu pastinya adalah sebuah deklarasi bahwa ia telah mengakhiri perselisihannya dengan sang ibu dan kembali menjalani kesehariannya seperti biasa.

Hayato melunakkan ekspresi wajahnya lalu memberikan balasan.

“Selamat datng kembali, Haruki.”


Pencocokan Jawaban

Beberapa hari setelah syuting film selesai, di suatu hari saat jadwal Haruki sedang libur, sepulang sekolah.

Haruki sedang mengunjungi sebuah menara apartemen mewah di pusat kota yang namanya dikenal oleh semua orang.

Ketika ia mendongak dari pintu masuk untuk melihat keseluruhan bangunannya, ukurannya begitu tinggi dan besar hingga membuat lehernya terasa sakit.

Lobi apartemennya sangat luas dengan ruang kosong berplafon tinggi hingga lantai tiga yang memberikan kesan lapang, serta perabotan dengan desain elegan yang membuatnya tampak seperti hotel mewah.

Karena dilengkapi dengan kafe di dalamnya, kesan itu pun semakin terasa kuat.

"...Apakah benar ini tempatnya?"

Merasa tertekan, Haruki bergumam dengan gugup dan sikap yang tampak agak segan.

Ia memeriksa ponselnya karena berjaga-jaga, dan ternyata memang benar di sinilah lokasinya. Untuk menenangkan diri, ia menghela napas kecil.

Meskipun ada ruang tunggu mewah dan beberapa orang terlihat berlalu-lalang, semuanya mengenakan pakaian bermerek dan bergaya modis, membuat Haruki yang berseragam sekolah merasa sangat salah tempat.

Namun, ini adalah tempat yang sangat pantas sebagai kediaman aktris papan atas Takura Mao.

Alasan mengapa ia datang ke sini adalah karena sang ibu, Mao, mengundangnya untuk berbicara sekali lagi secara empat mata.

Dengan perasaan cemas, Haruki menuju ke meja concierge yang telah ditentukan.

"Permisi, saya Nikaido, orang yang sudah berjanji dengan Takura dari kamar 4102 hari ini..."

"...Ah, silakan tunggu sebentar."

Mendengar itu, petugas concierge sempat membelalakkan matanya sesaat sebelum langsung menyambungkan sambungan internal untuk menghubungi penghuni kamar 4102.

Konsep apartemen yang selama ini Haruki ketahui seolah-olah runtuh.

Tidak lama kemudian, sang concierge meletakkan gagang telepon lalu mengulurkan sebuah kartu kunci.

"Silakan gunakan ini. Kembalikan kepada kami saat Anda pulang nanti. Liftnya berada di sisi kanan bagian dalam."

"Terima kasih banyak."

Haruki membungkuk dengan sopan, menerima kartu kunci tersebut, lalu melangkahkan kaki ke dalam apartemen sambil menonaktifkan sistem keamanannya.

Ia terkejut karena lift juga memerlukan kartu kunci dan tidak akan berhenti di lantai sembarangan, lalu naik ke lantai 41.

Sambil takjub dengan kelembutan karpet di koridor dalam, ia berdiri di depan kamar 4102.

Di sinilah Haruki menyadari bahwa dirinya sedang sangat gugup.

Bahkan tenggorokannya terasa kering.

Di sisi lain, punggungnya justru dipenuhi keringat dingin.

Meskipun dikatakan ingin berbicara, sekarang ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dan membicarakan apa.

Lagi pula, hal yang paling ingin ia bicarakan telah dicurahkan semuanya saat syuting beberapa waktu lalu.

Ia pikir mereka sudah berdamai.

Namun, ini adalah pertama kalinya sang ibu memintanya untuk berbicara seperti ini.

Selain merasa senang akan hal itu, ia juga harus akui kalau dirinya merasa cemas.

Kendati demikian, ia tentu tidak bisa terus-terusan berdiri di sini.

Setelah menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, Haruki membulatkan tekad lalu menekan bel pintu.

Suara bel berbunyi. Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Mao memunculkan wajahnya.

"Selamat datang."

"Ah, e-ehm..."

Haruki yang tadinya gugup langsung terbelalak saat melihat sosok Mao yang muncul. Wajah Mao tampak kemerahan. Matanya tampak basah, dan napasnya beraroma alkohol.

Sungguh penampilan yang penuh celah.

Namun, riasannya tampak sempurna dan pakaian yang dikenakannya pun sangat modis, yang justru membuat tampilannya terlihat semakin berantakan.

Ia tidak menyangka ibunya akan menyambutnya dengan minum alkohol sejak sore hari, membuat Haruki tidak tahu harus bereaksi seperti apa menghadapi wujud tak terduga Mao, hingga ia hanya bisa memasang senyum canggung dan kebingungan. Melihat ekspresi Haruki tersebut, Mao tertawa kecil seolah menganggapnya lucu dan melontarkan kata-kata penuh cemoohan pada diri sendiri.

"Fufu, entah kenapa aku merasa gugup di luar kebiasaanku, jadi sepertinya aku tidak sanggup bicara dalam keadaan sadar."

"Ya, ya ampun..."

"Pokoknya, masuklah... ah──"

Sambil melambaikan tangan menyuruh Haruki masuk, Mao berbalik memutar tubuhnya dengan telinga yang memerah, lalu bergumam dengan nada malu-malu.

"Bukankah seharusnya aku bilang 'Selamat pulang' di tempat seperti ini?"

"Ah!"

Haruki membelalakkan matanya sesaat seolah dikejutkan oleh sesuatu yang tak terduga.

Setelah menyadari bahwa itu adalah cara sang ibu untuk menanggapi permintaannya beberapa waktu lalu, dadanya perlahan menjadi hangat, dan Haruki pun bergumam sambil tersipu malu.

"Ya... aku pulang."

Ruangan apartemen Mao terasa sangat luas bahkan mulai dari area pintu masuk.

Tepat di sebelah kiri setelah masuk, terlihat rak sepatu berkapasitas besar.

Namun di sana, selain beberapa pasang sepatu yang diletakkan berdampingan, hanya ada dua buah topi yang diletakkan begitu saja seolah sekadar pelengkap.

Memberikan kesan yang terasa agak sepi.

Koridor yang membentang di bagian depan tampak panjang, dengan masing-masing dua pintu di sisi kiri dan kanan, menunjukkan luas area hunian yang cukup besar.

Namun, jika dikatakan dengan sopan, suasananya terasa minimalis, tanpa hiasan, dan terkesan dingin. Sambil melihat sekeliling dengan rasa penasaran, Haruki mengikuti punggung Mao menuju ruang keluarga.

"Wah."

Ruang keluarga tersebut dikelilingi dinding kaca penuh di bagian depan dan sisi kanan.

Pemandangan luar langsung terbuka lebar menampilkan panorama kota yang membentang jauh, membuat Haruki tanpa sadar meloloskan suara kagum.

Melihat hal itu, Mao bertanya dengan senyuman lembut.

"Mau minum teh? Silakan duduk di mana saja."

"Ah, ya."

Didorong oleh pandangan mata Mao, Haruki melangkah menuju counter berbentuk konter dapur.

Di sana terdapat sebuah gelas berisi cairan berwarna amber dengan es batu berbentuk bulat yang mengapung di dalamnya.

Mengira itu adalah sisa minuman ibunya, Haruki pun duduk di kursi sebelah tempat itu.

Melihat sang ibu mengeluarkan daun teh dengan gerakan terbiasa di depan matanya lalu menyeduh teh, Haruki merasa seolah sedang berkunjung ke sebuah kedai kopi.

Atau lebih tepatnya, melihat jajaran botol alkohol yang berderet rapi di rak dapur, menyebut tempat ini sebagai bar mungkin terasa jauh lebih tepat.

Sambil menunggu tehnya siap, Haruki kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang keluarga.

Ruangan ini sepertinya memiliki luas dua kali lipat lebih besar dari rumahnya saat ini atau apartemen keluarga Kirishima.

Namun, selain sebuah televisi layar berukuran besar dan sofa untuk dua orang, tidak ada perabot lain yang diletakkan di sini, menciptakan kesan tanpa kehidupan yang semakin memperkuat suasana hampa.

Sambil bertanya-tanya kehidupan seperti apa yang dijalani ibunya di sini, ia mendadak teringat bahwa ruang keluarga di rumahnya yang sekarang juga tidak jauh berbeda, lalu tersenyum pahit dengan ekspresi yang sulit diungkapkan.

Tidak lama kemudian, Mao meletakkan cangkir berisi teh seduh di depan Haruki.

"Nih, minum ini."

"Te-terima kasih..."

"Aku mau lanjut minum minumanku sendiri, ya."

Mao meletakkan botol alkohol lalu duduk di sebelah Haruki, mengangkat gelas yang ada di hadapannya hingga menghasilkan suara benturan es yang berdenting, lalu menyesapnya perlahan.

Haruki menelan ludah melihat gestur ibunya yang begitu memesona meski ia adalah darah dagingnya sendiri, lalu mengembuskan napas "fuuh" sambil meneguk tehnya sedikit.

"Ah, rasanya enak..."

Rasa teh yang begitu menyegarkan langsung menyebar diiringi aroma harum yang menembus rongga hidung.

Kualitasnya jelas jauh berbeda dari teh botolan atau teh kantong celup yang biasa ia minum.

Saat Haruki membelalakkan mata karena terkejut, Mao mendengus senang dengan senyuman di wajahnya.

"Ini adalah merek kesukaanku. Tidak mengetahui kesukaan anak sendiri adalah dampak dari hubungan ibu dan anak yang selalu kita perankan selama ini."

"Kita perankan...?"

Haruki menatap Mao dengan pandangan penuh tanya, mengingat ibunya sendiri yang sengaja bersikap dingin selama ini.

Namun, kata-kata itu begitu mudah meresap ke dalam hatinya. Menerima tatapan lurus dari Haruki, Mao menghabiskan minumannya dalam sekali teguk hingga kosong, lalu mendesah penuh beban sambil kembali menuangkan wiski ke dalam gelasnya.

"Nah, apa yang harus kita bicarakan dulu ya. Mulai dari mencocokkan jawaban kita... apa kamu sudah membaca naskah filmnya?"

"Ya, soal itu, sudah."

"Ceritanya kurang lebih persis seperti itu. Orang tuamu... dalam artian untukmu berarti kakek dan nenek, membuat utang yang sangat besar. Perasaan seperti apa yang kurasakan saat itu... fufu, saat syuting kemarin aku sempat terbawa emosi dan kecewa, ya."

"Ehm, soal balas dendam pada orang yang menipu itu?"

"Bagian itu adalah fiksi. Yah, kalau boleh dibilang, utang yang ditimpakan kepada kami itulah kenyataannya. Meskipun begitu, karena jumlahnya masih tersisa sangat banyak, balas dendam itu sendiri belum sepenuhnya tuntas."

"......"

Menyadari bahwa alasan mengapa rumah ibunya memiliki sangat mungkin disebabkan oleh utang tersebut, Haruki memilih untuk terdiam.

Setelah memiringkan gelasnya dan menjilat bibirnya, Mao membuka suara dengan nada berat.

"Alasan kenapa aku tiba-tiba melakukan improvisasi saat syuting... itu adalah tindakan yang didorong oleh impulsif. Yah, kalau boleh dikatakan dalam satu kata... itu adalah cemburu."

"Cemburu?"

Mendengar kata-kata tak terduga itu, Haruki memasang ekspresi kebingungan karena sama sekali tidak mengerti.

Kira-kira apa dari diri Haruki yang bisa membuat ibunya merasa cemburu. Kemampuan akting ibunya sebagai seorang aktris adalah sesuatu yang nyata.

Perbedaan kemampuan di antara mereka pun sangat jauh. Hal itu sangat ia pahami setelah berhadapan langsung beberapa waktu lalu.

Mao mengalihkan pandangannya ke arah jendela, lalu bergumam sambil menatap ke tempat yang jauh.

"Kapan pertama kali aku menyadarinya ya. Aku ingat saat itu usiamu masih sangat kecil. Bakatmu untuk secara refleks menebak apa yang diinginkan orang sekitar, menghitungnya, dan memerankannya secara sempurna... itu bahkan membuatku merasa cemas sebagai seorang aktris. Dan terbukti, hanya dalam waktu setengah tahun kamu berhasil membuat orang-orang mengakuinya dan datang berdiri di hadapanku."

"Tapi bagaimanapun juga, aku masih jauh tertinggal dari Ibu—"

"Benar. Saat ini popularitas dan kemampuanku masih jauh di atasmu, dan aku sama sekali tidak berniat untuk kalah. Makanya, bukan hal itu yang membuatku cemburu. Laki-laki yang memakai jaket staf di atas baju pelayan toko manisan tradisional yang ikut bersamamu saat itu, bukankah dia anak dari Kazui?"

"Kazu-ni...?"

Mendengar nama yang asing di telinganya, Haruki menunjukkan ekspresi kebingungan, sementara Mao mengeluarkan suara dengkusan rendah.

"Kirishima Kazuyoshi. Dari Tsukinose."

"Ah, ayah Hayato."

"Jadi namanya Hayato, ya. Fufu, auranya benar-benar mirip dengan Kazui waktu muda. Wajahnya mirip dengan Mayu-nee, ya? Saat melihat anak itu, aku langsung tahu dia adalah anak dari pasangan itu dan merasa sangat terkejut. Setelah itu, kamu pasti sedang bingung memikirkan bagaimana cara memilih antara Early Summer Live dan syuting, lalu dia datang dan menyeretmu secara paksa, kan?"

"Ke-kenyataannya, sepertinya memang begitu."

Mao berbicara seolah-olah ia melihat langsung kejadian tersebut, lalu tertawa geli.

Sambil menyembunyikan kebingungannya, Mao mempermainkan gelas di tangannya dan berkata dengan nada penuh kenangan.

"Hal yang sama juga terjadi padaku."

"...Eh?"

"Saat itu usiaku belum menginjak SMP. Saat aku terpuruk dan diperlakukan oleh semua orang bagaikan membawa penyakit karena keluarga kami jatuh miskin, dia datang dan bilang kalau dia akan pergi meninggalkan Tsukinose untuk kuliah, jadi aku harus ikut dengannya. Ia melibatkan Mayu-nee dan orang-orang yang sudah lebih dulu meninggalkan desa untuk kuliah. Kazui memang sudah punya dorongan bertindak yang aneh sejak dulu."

Mao mengenang masa lalu tersebut sambil menggoyangkan bahunya pelan karena merasa geli.

Haruki pun ikut tersenyum kecil, berpikir bahwa sifat gegabah dan kurang peka semacam itu memang sudah menjadi garis keturunan mereka.

"Lalu, apa yang Ibu lakukan?"

Ketika Haruki mendesaknya untuk melanjutkan cerita, Mao justru mengubah ekspresinya, menurunkan bulu matanya dengan sedih.

"Aku menolaknya. Aku tidak bisa meraih uluran tangan itu. Jarak usia kami terpaut enam tahun dan kami tidak pernah terlalu akrab karena jarang berinteraksi. Lagi pula, sejak dulu Kazui sangat lengket dengan Mayu-nee, jadi aku berpikir kalau aku pasti hanya akan menjadi prioritas kesekian. Aku berasumsi bahwa aku akan dibuang jika terjadi sesuatu, jadi aku tidak bisa sepenuhnya percaya."

"Itu..."

"Tapi, kamu justru menyambut uluran tangan itu, kan. Itulah sebabnya saat syuting kemarin, kamu bisa mengucapkan perasaan jujurmu kalau kamu merasa kesepian. Aku yakin, aku pun selama ini selalu merasa kesepian. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Sampai sekarang pun aku terkadang masih sering berpikir. Seandainya waktu itu aku bisa meminta tolong kepada orang-orang di sekitarku, apa yang akan terjadi pada hidupku?"

"...Ah."

"Lalu di saat seperti itu, meskipun jadwalmu bentrok dengan Early Summer Live, kamu malah muncul di hadapanku bersama anak Kazui. Terlebih lagi, anak yang menjadi penggantimu itu adalah anak dari keluarga Murao di desa kuil Tsukinose, kan? Ah, rasanya seperti diperlihatkan bahwa sementara di sekitarku tidak ada siapapun, Haruki justru memiliki begitu banyak orang yang bisa diandalkan. Tentu saja aku merasa cemburu."

Di titik itulah Haruki mendadak menyadari sesuatu.

(Ibu adalah aku... seandainya aku tidak menjadi teman Hayato...)

Haruki meletakkan tangannya di dada dan mencoba membayangkannya.

--Seandainya, waktu itu ia tidak bertemu dengan Hayato.

--Seandainya, ia menepis uluran tangan yang diberikan saat itu.

Ia pasti tidak akan pernah membuka hatinya kepada siapapun, hidup seorang diri di rumah itu, dan menjalani hari-hari yang hampa tanpa warna.

Hubungannya dengan sang ibu pun akan renggang tanpa pernah menciptakan keributan, tanpa pernah saling bertatap muka, atau bahkan berbicara seperti ini.

Lalu saat beranjak dewasa, ia mungkin akan bekerja di suatu tempat, menjalani hari-hari yang tenang tanpa interaksi berarti dan tanpa emosi apa pun.

Namun, kenyataannya tidak lagi seperti itu.

Jika ia memejamkan mata, orang-orang berharga langsung melintas di dalam benaknya.

Berbagai kejadian yang telah ia rajut bersama mereka telah membentuk sosok Haruki yang ada sekarang.

Ke depannya, ia pasti akan bertemu dengan lebih banyak orang lagi dan menumpuk berbagai pengalaman baru.

Di sekeliling Haruki, ada begitu banyak teman yang bisa diandalkan dan suka ikut campur.

Oleh karena itu, Haruki memberitahu ibunya dengan nada bangga.

"Ibu tahu tidak? Aku punya banyak teman sekarang. Ada Hime-chan, Saki-chan, Minamo-chan, Ema-chan, Mori-kun, dan bolehkah aku memasukkan Kaido juga? Lalu, ada orang yang kusukai juga!"

Mendengar itu, Mao sempat membelalakkan matanya karena terkejut sesaat sebelum akhirnya tersenyum dengan sangat lembut dan penuh kasih.

"Begitu ya, baguslah. Kamu sekarang sudah baik-baik saja, tidak perlu dijaga olehku lagi, ya."

"Iya. Saat aku sedang sedih atau kesulitan, selalu ada orang-orang yang berada di sisiku dan bisa diandalkan. Di dunia hiburan pun aku terkadang direpotkan oleh orang-orang yang aneh, tapi di sana juga ada orang-orang yang mau mendengarkan dan menolongku."

"Fufu, bagus sekali."

"Ehehe."

"...Sebenarnya, aku sempat merasa sangat bingung harus berbuat apa dengan kehadiranmu. Meskipun ini bukan hal yang pantas diucapkan pada anak sendiri, saat aku mengandungmu dulu, aku sempat ragu apakah aku harus melahirkanmu atau tidak. Pada akhirnya, aku melahirkanmu demi motif penuh perhitungan terhadap ayahmu──Kiyotatsu Sakurajima. Sungguh ibu yang kejam, ya."

"Tapi, justru karena Ibu melahirkanku, aku bisa bertemu dengan orang-orang berharga. Dan aku juga bisa bertemu dengan Ibu seperti ini. Makanya, terima kas...ih..."

"...Haruki."

Saat Haruki menyampaikan rasa terima kasih yang tulus tanpa kebohongan sedikit pun, air mata mengalir perlahan di pipi Mao.

Sambil tersenyum manis kepada Haruki, Mao meletakkan gelasnya, menyeka air matanya dengan jari telunjuk, lalu melontarkan kata-kata seolah sedang melakukan pengakuan dosa.

"Ada apa dengan diriku. Setelah melihatmu menunjukkan kedewasaan penuh dalam syuting kemarin, pertahananku jadi longgar... Padahal aku sudah memutuskan untuk terus memerankan sosok ibu yang jahat sampai akhir. Aku tidak punya kualifikasi untuk mendengarkan kata-kata seperti itu darimu, apalagi merasa senang karenanya... itu adalah hal yang sama sekali tidak dimaafkan..."

"Ibu, tapi mulai sekarang—"

Seolah ingin memaafkan dan menerima pengakuan dosa Mao, Haruki meraih tangan ibunya lalu menggenggamnya erat. Persis seperti yang dilakukan Hayato kepadanya dulu.

Namun, Mao justru menggelengkan kepalanya pelan seolah ingin menolak uluran itu.

"Maafkan aku. Aku sudah tidak bisa."

"Ke-kenapa..."

"Coba lihat ini."

Mao menggulung lengan bajunya. Terlihat jelas beberapa lebam berwarna ungu keunguan menghiasi lengan putihnya.

"Eh, ini..."

"Bukan hanya di lengan, lebam seperti ini bisa muncul hanya karena sedikit benturan."

Saat ia menyibak roknya, memar serupa juga terlihat di berbagai bagian kakinya.

Jumlahnya jelas tidak normal.

Suasana ruangan yang temaram dan riasan wajahnya membuat hal itu tidak terlihat, namun jika diamati lebih dekat, wajah Mao tampak kehilangan warna darahnya dan jelas menunjukkan ciri-ciri seorang pasien.

Dada Haruki mulai bergemuruh dipenuhi perasaan tidak enak.

Mao memasang senyuman tipis, seolah ia telah memahami takdirnya.




"Aku mengidap penyakit darah. Penyakit itu sempat mereda saat usiaku masih muda, tapi kambuh lagi. Pengobatan juga sudah dilakukan namun efeknya sangat minim, dan sisa waktu hidup yang divoniskan bahkan sudah lama terlewati. Kata dokter, aku bisa bertahan hidup hanya karena tekadku saja... Waktuku sudah tidak banyak."

"Tunggu, itu bohong."

Berpikir bahwa itu mungkin hanya akting semata, Haruki langsung melontarkan kata-kata penolakan sementara sensasi dingin merayapi tulang belakangnya.

Namun, ironisnya, ia sama sekali tidak bisa melihat hal itu sebagai sebuah akting.

Ia teringat akan rumor yang sempat dikatakan oleh Seiji bahwa Takura Mao sedang menderita penyakit parah.

Situasi di hadapannya membenarkan hal tersebut secara telak, membuat kepalanya terasa pusing berkunang-kunang.

Ia terpaksa harus memahami alasan di balik kenyataan mengapa Chihiro menjadi karya terakhir Takura Mao sebelum pensiun, bahkan tanpa bisa mengelaknya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close