Epilog
Setelah itu, seluruh proses syuting berakhir tanpa ada
kendala. Hayato meninggalkan lokasi bersama Haruki, lalu menuju Toka Shiro
untuk mengembalikan sepeda motor kepada Saori sekaligus mengambil pakaian ganti
mereka.
Langit malam telah sepenuhnya turun menutupi bumi.
Padahal biasanya ini adalah waktu untuk menyantap makan malam.
Meskipun demikian, di Toka Shiro, meskipun waktu tutup
sudah lama terlewat, bukan hanya Saori, melainkan Iori dan Ema juga menunggu
mereka di sini dengan perasaan cemas.
Meskipun detail tentang akhir dari masalah Haruki telah
disampaikan dengan benar melalui grup chat, permintaan mereka untuk ingin
melihat langsung wajah Haruki demi ketenangan hati membuat dada ini terasa
begitu geli sekaligus hangat.
Berdasarkan cerita dari Iori dan Ema, Saki yang bertindak
sebagai pengganti Haruki di Early Summer Live dan meraih kesuksesan besar,
langsung menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat dengan pertanyaan siapa
sebenarnya gadis itu.
Para pelaku industri hiburan langsung berdatangan
seketika, membuat situasi kepulangan menjadi sangat kacau.
Oleh karena itu, Himeko menggunakan strategi
"menyembunyikan pohon di tengah hutan" seperti yang pernah ia lakukan
pada Haruki dulu untuk memanggil Kazuki, namun hal itu justru menarik Momoka
dan Airi ke sana, yang kabarnya malah membuat situasi semakin gempar.
Memikirkan nasib Saki mulai esok hari, bukan hanya
Hayato, tetapi semuanya pun memberikan senyuman pahit yang sulit diungkapkan
dengan kata-kata sebelum akhirnya meninggalkan Toka Shiro.
Dua pasang langkah kaki bergema di kawasan perumahan yang
tenang.
Di bagian rendah langit timur tampak rasi bintang
Segitiga Musim Panas, sementara di kejauhan sebelah selatan terlihat sekumpulan
awan dengan rupa yang sedikit mengancam.
Namun, ekspresi Haruki tampak begitu cerah.
Ia sepertinya merasa lega setelah meluapkan perasaan
kepada sang ibu yang selama ini ia pendam di dalam dada.
Meskipun Haruki dan Mão sempat bersikap tegang selama
proses syuting berlangsung, hal itu tampaknya terjadi karena mereka menghadapi
karya tersebut dengan sungguh-sungguh dan diliputi ketegangan dalam arti yang
positif. Ganjalan di antara mereka selama ini seolah telah mencair.
Kini, udara yang tenang dan santai mengalir di antara
Hayato dan Haruki.
Situasinya sama seperti dulu. Haruki telah menyelesaikan
dialog dengan ibunya serta tujuannya.
Mulai dari urusan Saki hingga berbagai hal merepotkan
lainnya pasti sudah menanti di masa depan.
Meskipun begitu, Hayato melontarkan gurauan ringan
sembari merasakan berbagai hal yang perlahan kembali seperti semula.
"Ngomong-ngomong soal film itu, pada akhirnya adegan
pertengkaran ibu dan anak yang diambil pertama kali tadi yang dipakai,
ya."
"B-Bukan begitu! Itu kan improvisasi, improvisasi
tahu."
"Yah, kurasa adegan improvisasi itu memang jauh
lebih bagus daripada adegan yang direkam ulang setelahnya. Aktingnya terasa
begitu tulus, atau lebih tepatnya, sangat membekas di dada."
"Membayangkan wujudku yang menangis sungguh-sungguh
ditayangkan di seluruh negeri membuatku merasa suram, sih."
"Karena itu adalah pertengkaran ibu dan anak
berskala besar di mana kalian saling meluapkan emosi tanpa ditutup-tutupi,
kan."
"Ih, makanya, itu kan, improvisasi!"
"Wahahaha."
"Ah~~~~,
ampun deh!"
Menghadapi godaan Hayato, Haruki memerah seutuhnya sambil
memajukan bibirnya dengan ekspresi cemberut.
Pada akhirnya, dalam film utama tersebut, meskipun adegan
sesuai naskah juga direkam ulang, berdasarkan perkataan sutradara, versi
improvisasilah yang dipilih untuk digunakan.
Sutradara tampaknya menginterpretasikannya sebagai wujud
pertumbuhan di mana Haruki, yang awalnya ingin terus mengatakan betapa
kesepiannya ia, diajar oleh masa lalunya sendiri, menerimanya, lalu mengambil
langkah maju ke depan.
Bagi Hayato sendiri, meskipun isi dan arah cerita sedikit
berubah sehingga memerlukan penyesuaian secara keseluruhan, ia rasa hal itu
justru akan menghasilkan cerita yang jauh lebih baik.
Lagipula, Haruki pun pasti tidak akan mampu membawakan
akting yang melampaui kualitas dari improvisasi tersebut.
Bagaimanapun juga, itu bukanlah sekian dari akting biasa,
melainkan luapan emosi mentah antara ibu dan anak yang memanfaatkan peran yang
ada.
Itulah alasan mengapa adegan tersebut memiliki tingkat
realisme yang tinggi.
Hal itu pasti akan menyentuh hati bukan hanya sang
sutradara dan orang-orang yang ada di lokasi, but juga setiap penonton yang
menyaksikannya.
Saat Hayato merasa yakin akan kesuksesan film tersebut,
tiba-tiba Haruki bergumam dengan suara yang sarat akan perenungan.
"Kamu mungkin tidak percaya, Hayato, tapi sampai
sebelum improvisasi itu terjadi, aku selalu berpikir kalau aku dibenci oleh
Ibu. Tapi sekarang aku jadi tahu kalau sebenarnya tidak begitu."
Mendengar ucapan itu, Hayato sempat membelalakkan matanya
sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan senyuman pahit.
"Yah, aku mengerti. Dari improvisasi tadi, perasaan
bahwa beliau sama sekali tidak meremehkanmu itu tersampaikan dengan
jelas."
"Tapi bagaimana kalau itu cuma akting?"
"Mungkin saja. Tapi, baik Haruki maupun Ibumu,
kalian berdua hanya bisa saling berbicara lewat akting, kan?"
"Itu..."
Merasa tebakannya tepat sasaran, Haruki kehabisan
kata-kata dan menghentikan langkahnya. Hayato pun mengikuti jejaknya.
Haruki meletakkan tangan di dadanya dan bimbang sejenak.
Tidak lama kemudian, seolah-olah sedang melakukan
pengakuan dosa, Haruki membuka suara dengan nada berat.
"Aku... selama ini selalu berpura-pura menjadi anak
yang baik. Di hadapan Ibu dan semua orang, aku menekan diriku sendiri demi bisa
melewati hari-hari tanpa masalah. Makanya bagiku, melakukan akting, atau diriku
yang sedang berakting, adalah sesuatu yang sangat memuakkan."
"Tetapi Haruki sempat berpikir kalau akting yang
menjawab ekspektasi dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain itu
menyenangkan."
"Iya, betul. Awalnya pun aku masuk ke dunia hiburan
sebagai transaksi demi bisa menemui Ibu."
"Dan idol itu, karena kamu menikmatinya dengan
sungguh-sungguh, senyumanmu bahkan memancarkan aura yang melebihi
aslinya."
"...Begitukah, ya?"
"Begitulah. Makanya, aku merekamnya."
"Fufu, klub penggemar tidak resmi Tinkle, ya.
Benar juga."
Haruki saling bertukar pandang dengan Hayato, lalu
tertawa kecil sambil menggoyangkan bahunya.
Kemudian Hayato menyipitkan matanya dan menasihati dengan
lembut.
"Tidak ada yang salah dengan tindakanmu memerankan
sesuatu, Haruki. Lagipula, justru karena itu adalah akting, kalian bisa
berbicara jujur dengan ibumu."
"Tapi itu tidak normal. Bentuk hubungan yang
sangat terdistorsi."
"Itu salah, tidak benar. Baik Haruki maupun
Ibumu, kalian berdua selalu mengenakan topeng di hadapan orang-orang di sekitar
kalian. Itulah sebabnya kalian hanya bisa berbicara melalui akting. Kalian
berdua hanya canggung, itu saja. Kalau dipikir-pikir, bukankah akting justru
menjadi sesuatu yang tak tergantikan bagi kalian berdua sebagai ibu dan anak
untuk merajut kembali hubungan yang sempat putus?"
Akting telah menghubungkan Haruki dan ibunya—Haruki
membelalakkan matanya lebar-lebar karena gagasan itu tidak pernah terlintas di
benaknya. Melihat Hayato yang tersenyum usil, Haruki akhirnya tertawa lepas
seolah sudah tidak dapat menahannya lagi.
"Ahaha, pandai sekali ya kamu merangkai kata."
"Tapi, bukankah itu jauh lebih baik?"
"Tidak bisa disangkal lagi."
Setelah itu, Haruki menyeka sisa air mata di sudut
matanya, lalu mekar dengan senyuman paling cerah ke arah Hayato.
"Terima kasih, Hayato. Di saat seperti ini, aku
merasa mulai bisa sedikit menyukai diriku di masa lalu."
"Begitukah."
"Hayato ini benar-benar orang yang misterius,
ya. Kamu selalu menolongku."
"Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan
saja."
Hayato menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar untuk
menyembunyikan rasa malunya.
Ketika akhirnya mereka tiba di depan kediaman keluarga
Nikaido, Haruki berbalik menghadapnya, lalu mengucapkan salam perpisahan yang
terdengar canggung sambil tersipu malu.
"Hayato, aku pulang!"
Itu pastinya adalah sebuah deklarasi bahwa ia telah
mengakhiri perselisihannya dengan sang ibu dan kembali menjalani kesehariannya
seperti biasa.
Hayato melunakkan ekspresi wajahnya lalu memberikan
balasan.
“Selamat datng kembali, Haruki.”
Pencocokan
Jawaban
Beberapa hari setelah syuting film selesai, di suatu hari
saat jadwal Haruki sedang libur, sepulang sekolah.
Haruki sedang mengunjungi sebuah menara apartemen mewah
di pusat kota yang namanya dikenal oleh semua orang.
Ketika ia mendongak dari pintu masuk untuk melihat
keseluruhan bangunannya, ukurannya begitu tinggi dan besar hingga membuat
lehernya terasa sakit.
Lobi apartemennya sangat luas dengan ruang kosong
berplafon tinggi hingga lantai tiga yang memberikan kesan lapang, serta
perabotan dengan desain elegan yang membuatnya tampak seperti hotel mewah.
Karena dilengkapi dengan kafe di dalamnya, kesan itu pun
semakin terasa kuat.
"...Apakah benar ini tempatnya?"
Merasa tertekan, Haruki bergumam dengan gugup dan sikap
yang tampak agak segan.
Ia memeriksa ponselnya karena berjaga-jaga, dan ternyata
memang benar di sinilah lokasinya. Untuk menenangkan diri, ia menghela napas
kecil.
Meskipun ada ruang tunggu mewah dan beberapa orang
terlihat berlalu-lalang, semuanya mengenakan pakaian bermerek dan bergaya
modis, membuat Haruki yang berseragam sekolah merasa sangat salah tempat.
Namun, ini adalah tempat yang sangat pantas sebagai
kediaman aktris papan atas Takura Mao.
Alasan mengapa ia datang ke sini adalah karena sang ibu,
Mao, mengundangnya untuk berbicara sekali lagi secara empat mata.
Dengan perasaan cemas, Haruki menuju ke meja concierge
yang telah ditentukan.
"Permisi, saya Nikaido, orang yang sudah berjanji
dengan Takura dari kamar 4102 hari ini..."
"...Ah, silakan tunggu sebentar."
Mendengar itu, petugas concierge sempat membelalakkan
matanya sesaat sebelum langsung menyambungkan sambungan internal untuk
menghubungi penghuni kamar 4102.
Konsep apartemen yang selama ini Haruki ketahui
seolah-olah runtuh.
Tidak lama kemudian, sang concierge meletakkan gagang
telepon lalu mengulurkan sebuah kartu kunci.
"Silakan gunakan ini. Kembalikan kepada kami saat
Anda pulang nanti. Liftnya berada di sisi kanan bagian dalam."
"Terima kasih banyak."
Haruki membungkuk dengan sopan, menerima kartu kunci
tersebut, lalu melangkahkan kaki ke dalam apartemen sambil menonaktifkan sistem
keamanannya.
Ia terkejut karena lift juga memerlukan kartu kunci dan
tidak akan berhenti di lantai sembarangan, lalu naik ke lantai 41.
Sambil takjub dengan kelembutan karpet di koridor
dalam, ia berdiri di depan kamar 4102.
Di sinilah Haruki menyadari bahwa dirinya sedang
sangat gugup.
Bahkan tenggorokannya terasa kering.
Di sisi lain, punggungnya justru dipenuhi keringat
dingin.
Meskipun dikatakan ingin berbicara, sekarang ia tidak
tahu harus bersikap seperti apa dan membicarakan apa.
Lagi pula, hal yang paling ingin ia bicarakan telah
dicurahkan semuanya saat syuting beberapa waktu lalu.
Ia pikir mereka sudah berdamai.
Namun, ini adalah pertama kalinya sang ibu memintanya
untuk berbicara seperti ini.
Selain merasa senang akan hal itu, ia juga harus akui
kalau dirinya merasa cemas.
Kendati demikian, ia tentu tidak bisa terus-terusan
berdiri di sini.
Setelah menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali,
Haruki membulatkan tekad lalu menekan bel pintu.
Suara bel berbunyi. Bersamaan dengan itu, terdengar suara
langkah kaki tergesa-gesa.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Mao memunculkan
wajahnya.
"Selamat datang."
"Ah, e-ehm..."
Haruki yang tadinya gugup langsung terbelalak saat
melihat sosok Mao yang muncul. Wajah Mao tampak kemerahan. Matanya
tampak basah, dan napasnya beraroma alkohol.
Sungguh penampilan yang penuh celah.
Namun, riasannya tampak sempurna dan pakaian yang
dikenakannya pun sangat modis, yang justru membuat tampilannya terlihat semakin
berantakan.
Ia tidak menyangka ibunya akan menyambutnya dengan
minum alkohol sejak sore hari, membuat Haruki tidak tahu harus bereaksi seperti
apa menghadapi wujud tak terduga Mao, hingga ia hanya bisa memasang senyum
canggung dan kebingungan. Melihat ekspresi Haruki tersebut, Mao tertawa kecil
seolah menganggapnya lucu dan melontarkan kata-kata penuh cemoohan pada diri
sendiri.
"Fufu, entah kenapa aku merasa gugup di luar
kebiasaanku, jadi sepertinya aku tidak sanggup bicara dalam keadaan
sadar."
"Ya, ya ampun..."
"Pokoknya, masuklah... ah──"
Sambil melambaikan tangan menyuruh Haruki masuk, Mao
berbalik memutar tubuhnya dengan telinga yang memerah, lalu bergumam dengan
nada malu-malu.
"Bukankah seharusnya aku bilang 'Selamat pulang'
di tempat seperti ini?"
"Ah!"
Haruki membelalakkan matanya sesaat seolah dikejutkan
oleh sesuatu yang tak terduga.
Setelah menyadari bahwa itu adalah cara sang ibu
untuk menanggapi permintaannya beberapa waktu lalu, dadanya perlahan menjadi
hangat, dan Haruki pun bergumam sambil tersipu malu.
"Ya... aku pulang."
Ruangan apartemen Mao terasa sangat luas bahkan mulai
dari area pintu masuk.
Tepat di sebelah kiri setelah masuk, terlihat rak
sepatu berkapasitas besar.
Namun di sana, selain beberapa pasang sepatu yang
diletakkan berdampingan, hanya ada dua buah topi yang diletakkan begitu saja
seolah sekadar pelengkap.
Memberikan kesan yang terasa agak sepi.
Koridor yang membentang di bagian depan tampak
panjang, dengan masing-masing dua pintu di sisi kiri dan kanan, menunjukkan
luas area hunian yang cukup besar.
Namun, jika dikatakan dengan sopan, suasananya terasa
minimalis, tanpa hiasan, dan terkesan dingin. Sambil melihat sekeliling dengan
rasa penasaran, Haruki mengikuti punggung Mao menuju ruang keluarga.
"Wah."
Ruang keluarga tersebut dikelilingi dinding kaca penuh di
bagian depan dan sisi kanan.
Pemandangan luar langsung terbuka lebar menampilkan
panorama kota yang membentang jauh, membuat Haruki tanpa sadar meloloskan suara
kagum.
Melihat hal itu, Mao bertanya dengan senyuman lembut.
"Mau minum teh? Silakan duduk di mana saja."
"Ah, ya."
Didorong oleh pandangan mata Mao, Haruki melangkah menuju
counter berbentuk konter dapur.
Di sana terdapat sebuah gelas berisi cairan berwarna
amber dengan es batu berbentuk bulat yang mengapung di dalamnya.
Mengira itu adalah sisa minuman ibunya, Haruki pun duduk
di kursi sebelah tempat itu.
Melihat sang ibu mengeluarkan daun teh dengan gerakan
terbiasa di depan matanya lalu menyeduh teh, Haruki merasa seolah sedang
berkunjung ke sebuah kedai kopi.
Atau lebih tepatnya, melihat jajaran botol alkohol yang
berderet rapi di rak dapur, menyebut tempat ini sebagai bar mungkin terasa jauh
lebih tepat.
Sambil menunggu tehnya siap, Haruki kembali mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru ruang keluarga.
Ruangan ini sepertinya memiliki luas dua kali lipat lebih
besar dari rumahnya saat ini atau apartemen keluarga Kirishima.
Namun, selain sebuah televisi layar berukuran besar dan
sofa untuk dua orang, tidak ada perabot lain yang diletakkan di sini,
menciptakan kesan tanpa kehidupan yang semakin memperkuat suasana hampa.
Sambil bertanya-tanya kehidupan seperti apa yang dijalani
ibunya di sini, ia mendadak teringat bahwa ruang keluarga di rumahnya yang
sekarang juga tidak jauh berbeda, lalu tersenyum pahit dengan ekspresi yang
sulit diungkapkan.
Tidak lama kemudian, Mao meletakkan cangkir berisi teh
seduh di depan Haruki.
"Nih, minum ini."
"Te-terima kasih..."
"Aku mau lanjut minum minumanku sendiri, ya."
Mao meletakkan botol alkohol lalu duduk di sebelah
Haruki, mengangkat gelas yang ada di hadapannya hingga menghasilkan suara
benturan es yang berdenting, lalu menyesapnya perlahan.
Haruki menelan ludah melihat gestur ibunya yang begitu
memesona meski ia adalah darah dagingnya sendiri, lalu mengembuskan napas
"fuuh" sambil meneguk tehnya sedikit.
"Ah, rasanya enak..."
Rasa teh yang begitu menyegarkan langsung menyebar
diiringi aroma harum yang menembus rongga hidung.
Kualitasnya jelas jauh berbeda dari teh botolan atau teh
kantong celup yang biasa ia minum.
Saat Haruki membelalakkan mata karena terkejut, Mao
mendengus senang dengan senyuman di wajahnya.
"Ini adalah merek kesukaanku. Tidak mengetahui
kesukaan anak sendiri adalah dampak dari hubungan ibu dan anak yang selalu kita
perankan selama ini."
"Kita perankan...?"
Haruki menatap Mao dengan pandangan penuh tanya,
mengingat ibunya sendiri yang sengaja bersikap dingin selama ini.
Namun, kata-kata itu begitu mudah meresap ke dalam
hatinya. Menerima tatapan lurus dari Haruki, Mao menghabiskan minumannya dalam
sekali teguk hingga kosong, lalu mendesah penuh beban sambil kembali menuangkan
wiski ke dalam gelasnya.
"Nah, apa yang harus kita bicarakan dulu ya. Mulai
dari mencocokkan jawaban kita... apa kamu sudah membaca naskah filmnya?"
"Ya, soal itu, sudah."
"Ceritanya kurang lebih persis seperti itu. Orang
tuamu... dalam artian untukmu berarti kakek dan nenek, membuat utang yang
sangat besar. Perasaan seperti apa yang kurasakan saat itu... fufu,
saat syuting kemarin aku sempat terbawa emosi dan kecewa, ya."
"Ehm, soal balas dendam pada orang yang menipu
itu?"
"Bagian itu adalah fiksi. Yah, kalau boleh dibilang,
utang yang ditimpakan kepada kami itulah kenyataannya. Meskipun begitu, karena
jumlahnya masih tersisa sangat banyak, balas dendam itu sendiri belum
sepenuhnya tuntas."
"......"
Menyadari bahwa alasan mengapa rumah ibunya memiliki
sangat mungkin disebabkan oleh utang tersebut, Haruki memilih untuk terdiam.
Setelah memiringkan gelasnya dan menjilat bibirnya, Mao
membuka suara dengan nada berat.
"Alasan kenapa aku tiba-tiba melakukan improvisasi
saat syuting... itu adalah tindakan yang didorong oleh impulsif. Yah, kalau
boleh dikatakan dalam satu kata... itu adalah cemburu."
"Cemburu?"
Mendengar kata-kata tak terduga itu, Haruki memasang
ekspresi kebingungan karena sama sekali tidak mengerti.
Kira-kira apa dari diri Haruki yang bisa membuat ibunya
merasa cemburu. Kemampuan akting ibunya sebagai seorang aktris adalah sesuatu
yang nyata.
Perbedaan kemampuan di antara mereka pun sangat jauh. Hal
itu sangat ia pahami setelah berhadapan langsung beberapa waktu lalu.
Mao mengalihkan pandangannya ke arah jendela, lalu
bergumam sambil menatap ke tempat yang jauh.
"Kapan pertama kali aku menyadarinya ya. Aku ingat
saat itu usiamu masih sangat kecil. Bakatmu untuk secara refleks menebak apa
yang diinginkan orang sekitar, menghitungnya, dan memerankannya secara
sempurna... itu bahkan membuatku merasa cemas sebagai seorang aktris. Dan
terbukti, hanya dalam waktu setengah tahun kamu berhasil membuat orang-orang
mengakuinya dan datang berdiri di hadapanku."
"Tapi bagaimanapun juga, aku masih jauh tertinggal
dari Ibu—"
"Benar. Saat ini popularitas dan kemampuanku masih
jauh di atasmu, dan aku sama sekali tidak berniat untuk kalah. Makanya, bukan
hal itu yang membuatku cemburu. Laki-laki yang memakai jaket staf di atas baju
pelayan toko manisan tradisional yang ikut bersamamu saat itu, bukankah dia
anak dari Kazui?"
"Kazu-ni...?"
Mendengar nama yang asing di telinganya, Haruki
menunjukkan ekspresi kebingungan, sementara Mao mengeluarkan suara dengkusan
rendah.
"Kirishima Kazuyoshi. Dari Tsukinose."
"Ah, ayah Hayato."
"Jadi namanya Hayato, ya. Fufu, auranya benar-benar
mirip dengan Kazui waktu muda. Wajahnya mirip dengan Mayu-nee, ya? Saat melihat
anak itu, aku langsung tahu dia adalah anak dari pasangan itu dan merasa sangat
terkejut. Setelah itu, kamu pasti sedang bingung memikirkan bagaimana cara
memilih antara Early Summer Live dan syuting, lalu dia datang dan menyeretmu
secara paksa, kan?"
"Ke-kenyataannya, sepertinya memang
begitu."
Mao berbicara seolah-olah ia melihat langsung
kejadian tersebut, lalu tertawa geli.
Sambil menyembunyikan kebingungannya, Mao
mempermainkan gelas di tangannya dan berkata dengan nada penuh kenangan.
"Hal yang sama juga terjadi padaku."
"...Eh?"
"Saat itu usiaku belum menginjak SMP. Saat aku
terpuruk dan diperlakukan oleh semua orang bagaikan membawa penyakit karena
keluarga kami jatuh miskin, dia datang dan bilang kalau dia akan pergi
meninggalkan Tsukinose untuk kuliah, jadi aku harus ikut dengannya. Ia
melibatkan Mayu-nee dan orang-orang yang sudah lebih dulu meninggalkan desa
untuk kuliah. Kazui memang sudah punya dorongan bertindak yang aneh sejak
dulu."
Mao mengenang masa lalu tersebut sambil menggoyangkan
bahunya pelan karena merasa geli.
Haruki pun ikut tersenyum kecil, berpikir bahwa sifat
gegabah dan kurang peka semacam itu memang sudah menjadi garis keturunan
mereka.
"Lalu, apa yang Ibu lakukan?"
Ketika Haruki mendesaknya untuk melanjutkan cerita, Mao
justru mengubah ekspresinya, menurunkan bulu matanya dengan sedih.
"Aku menolaknya. Aku tidak bisa meraih uluran tangan
itu. Jarak usia kami terpaut enam tahun dan kami tidak pernah terlalu akrab
karena jarang berinteraksi. Lagi pula, sejak dulu Kazui sangat lengket dengan
Mayu-nee, jadi aku berpikir kalau aku pasti hanya akan menjadi prioritas
kesekian. Aku berasumsi bahwa aku akan dibuang jika terjadi sesuatu, jadi aku
tidak bisa sepenuhnya percaya."
"Itu..."
"Tapi, kamu justru menyambut uluran tangan itu, kan.
Itulah sebabnya saat syuting kemarin, kamu bisa mengucapkan perasaan jujurmu
kalau kamu merasa kesepian. Aku yakin, aku pun selama ini selalu merasa
kesepian. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Sampai sekarang pun aku terkadang
masih sering berpikir. Seandainya waktu itu aku bisa meminta tolong kepada
orang-orang di sekitarku, apa yang akan terjadi pada hidupku?"
"...Ah."
"Lalu di saat seperti itu, meskipun jadwalmu bentrok
dengan Early Summer Live, kamu malah muncul di hadapanku bersama anak Kazui.
Terlebih lagi, anak yang menjadi penggantimu itu adalah anak dari keluarga
Murao di desa kuil Tsukinose, kan? Ah, rasanya seperti diperlihatkan bahwa
sementara di sekitarku tidak ada siapapun, Haruki justru memiliki begitu banyak
orang yang bisa diandalkan. Tentu saja aku merasa cemburu."
Di titik itulah Haruki mendadak menyadari sesuatu.
(Ibu adalah aku... seandainya aku tidak menjadi teman
Hayato...)
Haruki meletakkan tangannya di dada dan mencoba
membayangkannya.
--Seandainya, waktu itu ia tidak bertemu dengan Hayato.
--Seandainya, ia menepis uluran tangan yang diberikan
saat itu.
Ia pasti tidak akan pernah membuka hatinya kepada
siapapun, hidup seorang diri di rumah itu, dan menjalani hari-hari yang hampa
tanpa warna.
Hubungannya dengan sang ibu pun akan renggang tanpa
pernah menciptakan keributan, tanpa pernah saling bertatap muka, atau bahkan
berbicara seperti ini.
Lalu saat beranjak dewasa, ia mungkin akan bekerja di
suatu tempat, menjalani hari-hari yang tenang tanpa interaksi berarti dan tanpa
emosi apa pun.
Namun, kenyataannya tidak lagi seperti itu.
Jika ia memejamkan mata, orang-orang berharga
langsung melintas di dalam benaknya.
Berbagai kejadian yang telah ia rajut bersama mereka
telah membentuk sosok Haruki yang ada sekarang.
Ke depannya, ia pasti akan bertemu dengan lebih
banyak orang lagi dan menumpuk berbagai pengalaman baru.
Di sekeliling Haruki, ada begitu banyak teman yang
bisa diandalkan dan suka ikut campur.
Oleh karena itu, Haruki memberitahu ibunya dengan
nada bangga.
"Ibu tahu tidak? Aku punya banyak teman
sekarang. Ada Hime-chan, Saki-chan, Minamo-chan, Ema-chan, Mori-kun, dan
bolehkah aku memasukkan Kaido juga? Lalu, ada orang yang kusukai juga!"
Mendengar itu, Mao sempat membelalakkan matanya
karena terkejut sesaat sebelum akhirnya tersenyum dengan sangat lembut dan
penuh kasih.
"Begitu ya, baguslah. Kamu sekarang sudah
baik-baik saja, tidak perlu dijaga olehku lagi, ya."
"Iya. Saat aku sedang sedih atau kesulitan,
selalu ada orang-orang yang berada di sisiku dan bisa diandalkan. Di dunia
hiburan pun aku terkadang direpotkan oleh orang-orang yang aneh, tapi di sana
juga ada orang-orang yang mau mendengarkan dan menolongku."
"Fufu, bagus sekali."
"Ehehe."
"...Sebenarnya, aku sempat merasa sangat bingung
harus berbuat apa dengan kehadiranmu. Meskipun ini bukan hal yang pantas
diucapkan pada anak sendiri, saat aku mengandungmu dulu, aku sempat ragu apakah
aku harus melahirkanmu atau tidak. Pada akhirnya, aku melahirkanmu demi motif
penuh perhitungan terhadap ayahmu──Kiyotatsu Sakurajima. Sungguh ibu yang
kejam, ya."
"Tapi, justru karena Ibu melahirkanku, aku bisa
bertemu dengan orang-orang berharga. Dan aku juga bisa bertemu dengan Ibu
seperti ini. Makanya, terima kas...ih..."
"...Haruki."
Saat Haruki menyampaikan rasa terima kasih yang tulus
tanpa kebohongan sedikit pun, air mata mengalir perlahan di pipi Mao.
Sambil tersenyum manis kepada Haruki, Mao meletakkan
gelasnya, menyeka air matanya dengan jari telunjuk, lalu melontarkan kata-kata
seolah sedang melakukan pengakuan dosa.
"Ada apa dengan diriku. Setelah melihatmu
menunjukkan kedewasaan penuh dalam syuting kemarin, pertahananku jadi
longgar... Padahal aku sudah memutuskan untuk terus memerankan sosok ibu yang
jahat sampai akhir. Aku tidak punya kualifikasi untuk mendengarkan kata-kata
seperti itu darimu, apalagi merasa senang karenanya... itu adalah hal yang sama
sekali tidak dimaafkan..."
"Ibu, tapi mulai sekarang—"
Seolah ingin memaafkan dan menerima pengakuan dosa Mao,
Haruki meraih tangan ibunya lalu menggenggamnya erat. Persis seperti yang
dilakukan Hayato kepadanya dulu.
Namun, Mao justru menggelengkan kepalanya pelan seolah
ingin menolak uluran itu.
"Maafkan aku. Aku sudah tidak bisa."
"Ke-kenapa..."
"Coba lihat ini."
Mao menggulung lengan bajunya. Terlihat jelas beberapa
lebam berwarna ungu keunguan menghiasi lengan putihnya.
"Eh, ini..."
"Bukan hanya di lengan, lebam seperti ini bisa
muncul hanya karena sedikit benturan."
Saat ia menyibak roknya, memar serupa juga terlihat di
berbagai bagian kakinya.
Jumlahnya jelas tidak normal.
Suasana ruangan yang temaram dan riasan wajahnya membuat
hal itu tidak terlihat, namun jika diamati lebih dekat, wajah Mao tampak
kehilangan warna darahnya dan jelas menunjukkan ciri-ciri seorang pasien.
Dada Haruki mulai bergemuruh dipenuhi perasaan tidak
enak.
Mao memasang senyuman tipis, seolah ia telah memahami takdirnya.
"Aku mengidap penyakit darah. Penyakit itu sempat
mereda saat usiaku masih muda, tapi kambuh lagi. Pengobatan juga sudah
dilakukan namun efeknya sangat minim, dan sisa waktu hidup yang divoniskan
bahkan sudah lama terlewati. Kata dokter, aku bisa bertahan hidup hanya karena
tekadku saja... Waktuku sudah tidak banyak."
"Tunggu, itu bohong."
Berpikir bahwa itu mungkin hanya akting semata, Haruki
langsung melontarkan kata-kata penolakan sementara sensasi dingin merayapi
tulang belakangnya.
Namun, ironisnya, ia sama sekali tidak bisa melihat hal
itu sebagai sebuah akting.
Ia teringat akan rumor yang sempat dikatakan oleh Seiji
bahwa Takura Mao sedang menderita penyakit parah.
Situasi di hadapannya membenarkan hal tersebut secara
telak, membuat kepalanya terasa pusing berkunang-kunang.
Ia terpaksa harus memahami alasan di balik kenyataan
mengapa Chihiro menjadi karya terakhir Takura Mao sebelum pensiun,
bahkan tanpa bisa mengelaknya.



Post a Comment