NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Chapter 3

Chapter 3

Situasi yang Terus Berubah


Begitu cepatnya sejak tahun ajaran baru dimulai dan pertengahan April pun telah terlewati.

Pohon-pohon sakura kini telah sepenuhnya merontokkan kelopak bunganya, menyisakan warna hijau muda yang segar.

Ketika Hayato berjalan menuju tempat janjian mereka seperti biasa, Saki yang menunggunya langsung berlari mendekat sambil mekar senyuman lebar.

"Selamat pagi, Kakak!"

"Pagi, Saki-san...?"

Aroma manis tak biasa yang menguar dari Saki yang datang menghampiri menggelitik rongga hidungnya dengan lembut.

Menduga sesuatu, Hayato bertanya kepada Saki yang tampak sangat ceria.

"Eh, kamu pakai sesuatu?"

"Iya, eau de cologne. Disarankan oleh temanku di kelas. Bagaimana menurutmu?"

Sambil berkata demikian, Saki menyingkirkan rambutnya, mengekspos lehernya yang putih dan jenjang ke arah Hayato.

Melihat sikap tanpa pertahanan dari sahabat adiknya itu, Hayato menelan ludahnya dengan susah payah.

Mengingat ia diminta pendapat seperti ini, tentu ia tidak bisa hanya diam membisu.

Berusaha memasang ekspresi biasa saja agar debaran jantungnya tidak ketahuan, ia mendekatkan wajahnya.

Sontak, perpaduan aroma tubuh Saki dan parfum tersebut menyerang kewarasan Hayato, membuatnya merasa pusing sesaat.

Meskipun dilanda gairah yang aneh, Hayato tetap mengendalikan dirinya dan menyampaikan kesan sejujurnya.

"Wanginya enak, rasanya... segar gitu."

"Fufu, apa Kakak suka wangi seperti ini?"

"Ah... karena aku baru pertama kali mencium wangi begini, jadi tidak begitu paham."

"Fufu, kalau begitu, aku akan buat Kakak menyukai wangi ini ya."

"A, Ah."

Mendengar ucapan berani yang dilontarkan Saki diiringi senyuman penuh keyakinan, Hayato menjawab dengan suara melengking karena gugup. Akhir-akhir ini, ia selalu berada di bawah kendali Saki.

Namun, fakta bahwa ia merasa hal itu tidak buruk membuatnya berpikir kalau ia mungkin sudah sepenuhnya takluk pada gadis ini.

Hayato mulai melangkah menuju sekolah untuk menyembunyikan rasa malunya.

Saki berjalan tepat di sampingnya sambil terkekeh geli.

Interaksi dan hubungan semacam ini dengan Saki perlahan-lahan mulai menjadi kesehariannya.

Dan begitu pula dengan ketiadaan Haruki.

Di tempat janjian satu lagi, Iori dan Ema sudah lebih dulu tiba.

Iori tampak serius memeluk Ema dan membisikkan sesuatu di telinganya, membuat pipi gadis itu merona merah.

Mereka sepertinya benar-benar masuk ke dunia mereka sendiri. Hayato dan Saki hanya bisa tersenyum masam seraya berkata, "Ah, mulai lagi."

Hayato diam-diam mendekati mereka berdua dan menegur dengan nada sedikit menggoda.

"Pagi, Iori. Lagi-lagi merayu Isami-san hari ini?"

"Selamat pagi. Ema-san, kamu sangat disayangi ya hari ini."

"Eh, Hayato dan Miko-chan?! Kalau ada orang tolong beri tahu dari tadi dong!"

"P-P-Pagi, Kirishima-kun dan Saki-chan!"

Melihat Iori yang panik menjauhkan diri, Hayato melanjutkan kata-katanya sambil menyeringai.

"Padahal sampai kemarin masih malu-malu kucing saat pegangan tangan, kemesraan kalian luar biasa juga ya."

"Biarin, emangnya kenapa. Kan kami pacaran."

Di sisi lain, Saki menatap Ema dengan pandangan penuh iri.

"Ema-san, enaknya punya pacar. Apa rasanya selalu merasa bahagia?"

"Eh, ah... begitulah, ya, um, iya."

Melihat Ema yang mengangguk sambil terbata-bata, Hayato melembutkan sudut matanya dengan ekspresi hangat.

Meskipun waktu kebersamaan Iori dan Ema berkurang karena kelas mereka terpisah, mereka jadi lebih sering jujur menyampaikan perasaan satu sama lain ketika bertemu—singkatnya, mereka menjadi lebih sering bermesraan tanpa peduli sekitar.

Berbanding terbalik dengan hubungan canggung mereka sebelumnya, ikatan mereka sebagai sepasang kekasih semakin mendalam dengan kecepatan tinggi.

Kendati demikian, Iori sepertinya masih merasa malu jika digoda soal itu, sehingga ia dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

"Ngomong-ngomong Hayato, apa aku bisa minta tolong bantuanmu untuk kerja paruh waktu lagi hari ini?"

"Boleh saja. Tabunganku habis buat biaya sekolah mengemudi, jadi aku juga ingin cari tambahan untuk biaya motorku."

"Maaf ya, terima kasih banyak."

Mendengar percakapan itu, Saki tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada Iori karena penasaran.

"Eh, hari ini juga...? Maksudnya, tempat kerja kalian sedang kekurangan orang ya?"

"Akhir bulan lalu banyak yang keluar sekaligus karena lulus atau ujian, jadi di periode seperti ini pasti agak repot."

"Bukan cuma itu, mau pasang lowongan pun, ada banyak orang yang datang semata-mata demi mengincar Haruki-chan."

Ema memberikan penjelasan tambahan, membuat Saki mengangguk paham.

Meskipun sejak debutnya Haruki tidak pernah datang bekerja di Okashidokoro Shiro, tetap saja ada banyak pelanggan yang datang dengan harapan barangkali bisa melihatnya sekilas. Begitu besarnya popularitas Haruki.

Beberapa saat kemudian, Saki yang tadinya menunduk sambil berpikir seolah telah mengambil keputusan bulat, mengangkat satu tangannya.

"Um, kalau begitu bagaimana kalau aku yang ikut bekerja paruh waktu di sana?"

Mendengar itu, Iori langsung membelalakkan matanya dan menjawab tanpa jeda.

"O, bolehkah?! Kalau Miko-chan sih tentu saja sangat disambut, ah maksudku, ini sangat membantu! Ngomong-ngomong, bisa mulai sejak sepulang sekolah hari ini?"

"Wah! Aku juga tadinya mau mengajakmu kalau sudah pas waktunya, tentu saja kami sangat menyambutmu!"

"Baik, mohon bantuannya ya!"

Ketika Ema menyambutnya dengan nada bercanda, tawa riang langsung meletus dari mereka semua.

Setelah itu, mereka menyusuri jalan ke sekolah sambil membicarakan soal pekerjaan paruh waktu, mulai dari "Aku sedikit mengagumi seragam tempat itu!", "Kalau sedang sibuk memang benar-benar melelahkan sih", hingga "Tapi upahnya lumayan besar ya".

Menjelang sekolah, sosok para murid berbalut seragam baru mulai terlihat.

Para siswa baru yang tampak tegang di awal masuk sekolah kini mulai menguap malas dengan wajah mengantuk. Itu adalah tanda bahwa mereka sudah mulai terbiasa dengan kehidupan baru mereka.

Begitu melewati gerbang sekolah, orang-orang yang membagikan brosur ajakan klub mulai terlihat. Melihat mereka, Hayato teringat bahwa ada berbagai macam poster tertempel di berbagai sudut papan pengumuman sekolah.

Dunia luar sedang berada di musim rekrutmen klub baru. Di antara mereka, ada satu klub yang merekrut anggota dengan tingkat antusiasme tinggi yang luar biasa.

"Apakah kamu juga tidak ingin melambaikan penlight ini?!"

"Pasang cetakan oshi-mu di kipas!"

"Membuat boneka itu sangat seru!"

"Siapa yang mau tiru kostumnya, ayo berkumpul!"

Melihat mereka, Iori bergumam dengan nada kagum.

"Semangat banget ya hari ini, Klub Penelitian Idol."

Mendengar itu, Ema menanggapinya dengan senyum masam.

"Ahaha, benar juga. Ribet banget ya~ Kalau tidak salah klub itu baru dibentuk tahun ini, kan?"

"Sepertinya begitu. Rasanya mereka bersikap seolah-olah merekalah klub paling berpengaruh sejak lama di sekolah kita. Yah, tapi ini semua juga berkat... atau justru karena ulah Nikaidou..."

"Tapi orang-orang di Klub Idol itu sebenarnya bukan orang jahat kok."

Saat Hayato menanggapinya dengan senyuman kecut, Iori ikut mengerutkan alisnya dan menjawab, "Betul juga."

Seperti kata Iori, Klub Penelitian Idol adalah klub baru yang didirikan baru minggu lalu.

Meskipun secara permukaan mereka berkedok melakukan aktivitas seputar idol secara umum, isinya hampir sebagian besar tentang kegiatan mendukung Haruki (oshi-katsu).

Melihat sahabat masa kecil mereka dipuja-puja seperti ini terasa begitu menggelitik, membuat Hayato mengerutkan kening.

Pemicu dibentuknya Klub Penelitian Idol adalah Haruki. Tentu saja, banyak orang yang tidak bisa tinggal diam begitu tahu ada seorang idol yang sedang naik daun bersekolah di tempat yang sama.

Terutama para siswa kelas satu yang baru saja bebas dari belenggu ujian, dan rupanya beberapa guru juga menjadi penggemar berat hingga sempat terjadi sedikit keributan saat memperebutkan posisi pembina klub.

Sejujurnya, perasaan Hayato cukup rumit melihat sebuah klub didirikan semata-mata untuk mendukung Haruki.

Namun, ia juga tahu bahwa mereka bukanlah kelompok yang buruk bagi Haruki.

Meskipun sudah sewajarnya, Haruki adalah siswi kelas dua SMA sebelum ia menjadi seorang idol yang sedang berada di puncak popularitas.

Memang benar pada semester ketiga tahun pertama saat ia mulai berkecimpung di dunia idol, ia jarang menampakkan diri karena jumlah kehadirannya sudah mencukupi, tetapi tahun ini ia benar-benar datang ke sekolah.

Kendati demikian, ia sering kali datang mulai jam pelajaran kedua atau pulang sebelum jam pelajaran kelima, hampir tidak pernah berada di sekolah seharian penuh.

Walaupun ia dengar jumlah kehadirannya dihitung sedemikian rupa, ia benar-benar telah menjadi karakter yang langka.

 Seiring berjalannya waktu dan para siswa mulai terbiasa dengan kehidupan sekolah yang baru, jumlah orang yang ingin melihat sekilas sosok Haruki semakin bertambah.

Menurut Ema, seiring bertambahnya jumlah mereka, akan menimbulkan masalah antarsesama penonton juga meningkat, membuat situasinya sempat hampir memicu kerusuhan.

Namun, pihak yang berupaya menahan orang-orang tersebut dan melindungi kehidupan sekolah Haruki adalah para anggota Klub Penelitian Idol. Berkat itu, suasana di dalam kelas saat ini tampak begitu damai.

Di sisi lain, kontak dari luar terhadap Haruki dibatasi secara ketat, yang menjadi salah satu penyebab mengapa mereka tetap tidak bisa berbicara banyak meskipun melihat Haruki di sekolah.

Meskipun komunikasi lewat pesan sudah dimulai kembali, tentu saja mereka ingin berbicara langsung bertatap muka.

Namun, bertemu di luar sekolah pun sulit dilakukan. Jadi situasi ini ibarat buah simalakama.

Bagaimanapun juga, lingkungan di sekeliling Haruki yang kini tetap bersekolah di tengah kesibukannya sebagai idol telah berubah sekali lagi.

Dan selain Haruki, ada satu orang lagi yang hidupnya ikut berubah. Saki menatap ke arah anggota Klub Penelitian Idol sambil menghela napas berat penuh kejenuhan.

"Aku kurang begitu suka dengan orang-orang itu..."

"A, Ahahaha..."

Hayato melepaskan tawa canggung. Iori dan Ema pun ikut tersenyum masam dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Meskipun campur tangan dari pihak luar dapat dicegah, tidak ada batasan sama sekali bagi Haruki jika ia ingin menghubungi pihak luar. Dan sasaran utamanya adalah Saki.

Sejak insiden upacara penerimaan siswa baru, Saki diakui oleh orang-orang di sekitarnya sebagai sahabat karib Haruki.

Haruki sesekali mengunjungi Saki, dan mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol akrab. Topik pembicaraannya pun tidak jauh-jauh dari keluh kesah seputar pekerjaan Haruki.

Sikap Haruki terhadap Saki tidak berubah sedikit pun meskipun ia telah menjadi seorang idol.

Benar-benar mencerminkan hubungan teman dekat yang sesungguhnya.

Selain itu, Haruki juga kerap menyampaikan kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Saki adalah teman masa kecil yang berasal dari kampung halaman yang sama, sehingga hal itu sudah menjadi pemahaman umum.

Berkat itu, Saki kini dipandang oleh orang-orang sebagai sahabat dari idol populer Nikaidou Haruki.

Akibatnya, fokus perhatian Klub Penelitian Idol mau tak mau beralih kepada Saki, di mana ia sering kali dibombardir dengan berbagai pertanyaan menggantikan Haruki.

Sangat wajar jika Saki merasa kewalahan dan jenuh menghadapi mereka. Mengingat tingkat kelas mereka yang berbeda, Hayato merasa tidak enak karena tidak bisa membantunya.

Namun, justru karena persahabatan antara Haruki dan Saki inilah mereka bisa mengetahui kondisi terkini Haruki, sehingga ia tidak bisa asal ikut campur.

(Kalau seandainya Haruki datang menemuiku... yah, itu sepertinya hal yang tidak mungkin ya...)

Di saat Haruki sedang melaju kencang di jalur bintang, tentu tidak mungkin memperlihatkan pemandangan seorang cowok tertentu akrab dengannya.

Justru karena Saki dan Ema adalah perempuan, mereka bisa berbicara akrab di lingkungan sekolah.

Hayato sangat merasakan dinding pemisah gender di antara mereka—dirinya yang seorang cowok sementara Haruki seorang cewek, dan Saki juga seorang cewek—membuatnya menghela napas panjang.

Waktu istirahat siang, di markas rahasia yang terletak di gedung sekolah lama.

Hayato memakan bekal siangnya bersama Minamo, Ikki, dan Saki dengan ekspresi yang membuat perut terasa enek.

Penyebabnya adalah Iori dan Ema yang sedang menciptakan dunia mereka sendiri tepat di hadapan mereka.

"Maaf ya, I-chan. Hari ini menunya makanan beku semua."

"Aku sudah sangat puas asalkan ada tamagoyaki buatan Ema. Hmm, rasanya pas. Enak."

"Fufu, karena ini makanan kesukaan I-chan. Setidaknya untuk hal ini, aku ingin usahakan."

"Tapi, membuat ini pun pasti cukup merepotkan, kan?"

"Tapi aku ingin I-chan merasa senang."

"Ema..."

"I-chan..."

Iori dan Ema saling menatap dengan pandangan penuh kemesraan.

Di dalam mata mereka, sama sekali tidak ada bayangan Hayato dan yang lainnya yang duduk tepat di sebelah mereka.

Sama seperti tadi pagi, mereka menciptakan dunia mereka sendiri.

Sejak kelas mereka dipisah, Ema jadi rajin membawakan bekal untuk Iori setiap hari.

Ia memulainya karena ingin memanfaatkan waktu istirahat siang di mana mereka bisa bertemu secara lebih maksimal.

Tampaknya, bukan hanya Iori, Ema sendiri juga memikirkan banyak hal di waktu-waktu mereka tidak bisa berjumpa.

Hanya saja, karena di markas rahasia ini tidak ada pasang mata yang mengawasi, Iori dan Ema menjadi tidak tahu malu, membuat yang lain kebingungan harus membuang pandangan ke mana.

Jika dibiarkan terus begini, kemungkinan besar situasinya akan berkembang menjadi saling suap-suapan. Kemarin pun begitu.

Bagi Hayato, meskipun ia turut senang melihat kemesraan antara sahabatnya Iori dan Ema, jika mereka terus bermesraan setiap hari seperti ini, ia jadi ingin meminta mereka mengembalikan pasangan malu-malu yang dulu.

“““Haah....”””

Saki, Minamo, dan Ikki tampaknya merasakan hal yang sama, mengeluarkan keluh kesah lelah yang bercampur rasa geli.

Jika diperhatikan, isi kotak bekal masing-masing dari mereka hampir tidak berkurang, membuat mereka saling bertukar pandang lalu tersenyum kecut.

Tepat pada saat itu, sebuah sorak-sorai terdengar dari arah gedung sekolah utama. Menjadikan suara itu sebagai aba-aba, Minamo merasakan perubahan atmosfer sekolah secara langsung di kulitnya, lalu bergumam dengan suara agak kaku.

"Sepertinya Haruki-san sudah datang ke sekolah."

"Sepertinya begitu ya. Hari ini pas jam istirahat siang, jadi situasinya relatif lebih mendingan..."

Saki menjawab dengan wajah bermasalah, dan Hayato mengangguk menyetujui sambil mengerutkan kening.

Iori yang baru saja kembali dari dunia berdua mereka berkata dengan nada kagum.

"Wah, kedatangan Nikaidou memang langsung bikin heboh ya. Langsung bikin ricuh suasana. Ingat waktu dia datang pas jam pelajaran, keributannya bikin kelas jadi tidak bisa belajar sama sekali."

"Pernah ya. Haruki-san sendiri juga tidak menyangka bakal separah itu, makanya sejak saat itu dia bilang akan berusaha datang pas jam istirahat."

Serta-merta Minamo bergumam "Repot sekali ya" dengan wajah cemas.

"Yah, setidaknya orang-orang yang sengaja datang mengintip ke kelas kita jadi berkurang, itu sih berkat jasa Klub Idol ya."

Saat Ema menimpali dengan nada bercanda, tawa penuh rasa serbasalah terlepas dari mereka semua.

Lalu Hayato menghembuskan napas panjang dengan ekspresi sedikit kesal.

"Seharusnya Haruki makan siang di tempat rahasia ini saja."

"Tapi kalau Haruki-san datang ke sini, tempat rahasia yang kita sembunyikan ini bisa-bisa ketahuan."

Saki balas menasihati dengan nada lembut.

Apa yang dikatakan Saki memang benar adanya. Haruki yang menyedot perhatian seluruh orang ke arahnya akan selalu diikuti oleh tatapan mata ke mana pun ia pergi.

Ada banyak orang yang menguntitnya karena rasa penasaran, dan sulit untuk mengecoh pengejaran mereka. Jika itu terjadi, tempat ini pasti akan terbongkar. Hayato bergumam dengan wajah kesal.

"Ampun deh, jadi orang populer itu susah juga ya. Padahal ini tempat perlindungan (shelter) yang ditemukan Haruki, tapi dia sendiri malah tidak bisa berlindung di sini."

Yang lain pun ikut tersenyum masam.

Jam kepulangan sekolah telah tiba.

Haruki hari ini sudah pulang satu jam lebih awal dari yang lain. Di tengah suasana bising seperti biasa, saat Hayato bersiap-siap pulang dengan santai, Iori memanggilnya dengan nada mendesak.

Kris, Hayato. Lama banget sih. Cepat bergerak."

"Hm? Bukankah masih ada waktu sebelum kerja paruh waktu?"

"Mungkin iya, tapi itu."

Saat Hayato mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Iori, ia melihat Ema berdiri di depan pintu masuk kelas, bersama Saki yang tampak dibimbing olehnya untuk menghampiri mereka.

Rupanya Saki sedang dicegat oleh orang-orang yang merasa penasaran setengah mati tentang Haruki.

Sebagai siswi baru, Saki tampak kesulitan menghadapi para kakak tingkat yang mendesaknya. Meskipun Ema berusaha mengusir mereka, jumlah orangnya terlalu banyak.

Jika dibiarkan terus, jelas mereka tidak akan sanggup mengatasinya. Hayato melempar senyum masam ke arah Iori.

"Sebaiknya kita juga segera pergi ke sana ya."

"Makanya."

Saat itu, Minamo yang telah selesai bersiap-siap pulang menghampiri mereka, mengepalkan tangan di depan dadanya penuh semangat, lalu berbicara dengan nada berapi-api.

"Aku sudah dengar tadi siang, hari ini adalah debut kerja paruh waktu Murao-san kan! Aku juga akan berjuang!"

Iori yang sempat mengatakan bahwa mereka kekurangan tenaga kerja juga telah mengajak Minamo untuk membantu.

Pada saat itu, ia sudah memberi tahu Minamo bahwa Saki juga akan ikut bekerja.

Hari pertama bekerja dalam kondisi kekurangan orang tentu akan sangat berat bagi pemula yang belum terbiasa. Hayato kembali meneguhkan tekadnya.

"Benar juga, kita harus membantu mengawasi. Oh iya, Ikki juga ikut, kan?"

Ketika ia menanyakannya kepada Ikki dalam obrolan mengalir itu, Ikki tampak berpikir sejenak sebelum memasang ekspresi penuh rasa bersalah.

"Maaf. Hari ini aku ada urusan setelah ini."

"Begitu ya, kalau begitu mau bagaimana lagi."

"Lagi pula, aku tadinya bukan pekerja paruh waktu resmi, tapi mulai sekarang aku mungkin tidak bisa sering membantu... Um, ada berbagai hal yang terjadi berkaitan dengan kakakku..."

Kakak perempuan Ikki, Momoka, adalah model karismatik yang sedang naik daun saat ini. Ia masih sering terlihat aktif menghiasi berbagai iklan dengan nama MOMO.

Tahun lalu, Ikki sempat membantunya sebagai kamuflase saat mereka pergi jalan-jalan terkait urusan Haruki, dan saat ini pun Ikki sering meminta tolong padanya untuk memberi tahu jika terjadi sesuatu pada Haruki di dunia hiburan, sehingga ia memiliki banyak utang budi pada Momoka.

Di sisi lain, Momoka memiliki kepribadian yang bebas dan semaunya sendiri, sering kali membuat orang-orang di sekitarnya kewalahan.

Jangan-jangan ia berulah lagi. Melihat Ikki yang memasang ekspresi bermasalah, bukan hanya Hayato, Iori dan Minamo pun ikut tersenyum masam. Hayato lantas menjawab dengan senyuman samar.

"Begitu ya."

Bersama Iori dan Minamo, Hayato berhasil menyelamatkan Ema dan Saki dari kerumunan orang-orang yang mengerubungi mereka demi mencari informasi tentang Haruki.

Setelah itu, mereka berlima melangkah menuju tempat kerja paruh waktu mereka, Okashidokoro Shiro.

Begitu mereka tiba di toko, kakak perempuan Iori, Saori, langsung menangkap sosok Saki, lalu berlari menghampirinya dengan wajah berseri-seri sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.

"Wah, Miko-chan! Aku sudah menunggu hari ini! Nah, nah, toko ini selalu butuh banyak gadis manis untuk bekerja!"

Menghadapi jarak interaksi Saori yang tanpa batasan seperti biasa, Saki sempat tersentak kaget sejenak sebelum segera menguasai diri, lalu menjawab dengan ekspresi kaku.

"A, Akn berusaha... ugh..."

Namun, karena terlalu gugup, Saki tanpa sengaja menggigit lidahnya sendiri hingga matanya berkaca-kaca. Tawa hangat langsung terdengar dari orang-orang di sekitarnya, membuat wajah Saki merona merah padam.

Kendati demikian, hari ini adalah hari pertama Saki bekerja paruh waktu. Wajar saja jika ia merasa tegang.

Hayato menegurnya dengan nada selembut mungkin untuk menenangkan Saki.

"Saki-san, kalau ada apa-apa kami akan membantumu, santai saja ya."

"Kakak... benar juga ya. Semuanya, mohon bantuannya mulai hari ini!"

"Sia-sia!" "Serahkan saja pada kami!" "Mari bersemangat!" "Aku menantikan kinerjamu!"

Saat Saki membungkuk dengan senyuman manis, suara sambutan hangat dari semua orang tumpang tindih.

Maka dimulailah hari pertama Saki bekerja paruh waktu.

Sejak debutnya sebagai idol, Haruki tidak pernah datang bekerja di Okashidokoro Shiro.

Meskipun demikian, sebagai tempat di mana Haruki pernah bekerja di masa lalu, toko ini masih tetap ramai dikunjungi orang. Toko itu begitu sibuk hingga membuat kepala berputar.

Bahkan di dekat pintu masuk toko, terpajang dengan santai sebuah bingkai foto yang mencetak sampul lagu debut Haruki.

Tentu saja lengkap dengan tanda tangannya.

Rupanya itu ditandatangani oleh Haruki atas permintaan Saori ketika ia datang untuk menyampaikan pengunduran dirinya secara langsung saat Hayato dan yang lainnya tidak ada di sana.

Sungguh, seorang wanita yang tidak pernah melewatkan kesempatan.

"Saki-chan, tolong antarkan satu set teh hijau ke meja nomor dua!"

"Baik, di meja bagian dalam sebelah sana, kan!"

"Eh, tolong bantu rapikan meja nomor enam sekalian ya!"

"Baik! Setelah itu, apa aku harus pergi mencatat pesanan di meja nomor tiga belas?!"

"Tolong ya, sangat membantu!"

Meskipun awalnya Saki tampak ketakutan, meskipunn ia hanya mendapat pelatihan singkat tanpa penjelasan yang memadai, ia sudah menghafal letak meja dan berbagai perlengkapan dengan baik.

Begitu mulai bekerja, kinerjanya sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali paruh waktu.

Kehebatan Saki yang langsung bisa diandalkan ini tidak hanya membuat Hayato terkesan, tetapi kakak-beradik Mori yang merupakan pemilik asli toko ini pun turut berdecak kagum.

Setelah itu, tanpa ada masalah berarti, hari pertama kerja paruh waktu Saki berakhir dengan mulus. Bahkan terasa begitu cepat.

"Terima kasih atas kerja kerasnyaa."

"Kerja bagus."

"Aku duluan ya."

Waktu menunjukkan pukul 6 lewat sedikit, langit di sebelah barat telah dicat warna merah senja.

Hayato, Saki, dan Minamo berjalan berdampingan dalam perjalanan pulang setelah meninggalkan Okashidokoro Shiro.

Saat menyusuri pinggir jalan raya besar, Minamo bergumam dengan penuh kekaguman.

"Saki-san, hebat sekali~! Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali bekerja."

"Kurasa juga begitu. Level kerjanya tidak kalah dari pegawai lain, aku benar-benar terkejut."

"Benar banget. Waktu pertama kali aku bekerja, aku bergerak lambat karena takut melakukan kesalahan."

"Waktu giliranku pun aku bingung setengah mati, dan sangat terbantu oleh Iori."

Hayato menyetujui ucapan Minamo. Kinerja Saki hari ini memang patut diacungi jempol.

Dibandingkan dengan pengalaman pertama mereka dulu, cara kerjanya sudah begitu terlatih hingga membuat orang lain kagum.

Mendapatkan pujian dari keduanya, Saki merasa malu-malu dan sedikit salah tingkah.

Setelah ragu sejenak, ia menatap lurus ke mata Hayato dan berkata.

"Yah, karena aku selalu memerhatikan kalian. Aku... hanya bisa melihat saja. Makanya, aku selalu berimajinasi tentang apa yang harus kulakukan jika seandainya aku bekerja bersama kalian."

"Itu..."

Hingga tahun lalu, Saki yang masih duduk di bangku SMP tidak bisa bekerja paruh waktu seperti Hayato dan yang lainnya, sehingga ia hanya bisa melihat dari kursi penonton sementara yang lain bekerja bersama.

Saki tersenyum malu-malu dengan penuh penghayatan.

"Akhirnya aku bisa menyusul ke tempat yang sama dengan Kakak sekalian."

"Saki-san..."

Sambil berkata demikian, Saki mencengkeram ujung seragam Hayato.

Tindakan Saki yang menyiratkan bahwa ia telah mengejar hingga tepat berada di sisinya membuat jantung Hayato berdegup kencang. Untuk menutupi rasa gugupnya, ia memasang senyum samar lalu mengalihkan pandangannya.

Melihat situasi tersebut, Minamo menutup mulutnya dan tertawa geli penuh arti, lalu melangkah maju mendahului mereka berdua dengan riang.

"Kalau begitu, jalanku arah ke sini ya. Silakan lanjutkan waktu berdua kalian~"

"M-Minamo-san!?"

Minamo melambaikan tangannya dengan anggun sambil meninggalkan pesan bernada menggoda, "Semangat ya walau melelahkan," lalu berjalan pergi.

Hayato dan Saki yang kini tertinggal berdua merasakan suasana canggung menyelimuti mereka sejenak.

Beberapa saat kemudian, Hayato berusaha bersikap senatural mungkin dan mengalihkan topik pembicaraan.

"Ah, mumpung masih agak sore, bagaimana kalau kita mampir belanja untuk makan malam? Sebagai perayaan hari pertama kerja paruh waktu, kita bikin menu yang agak repot sedikit."

"Kalau begitu, Hanbagu (Hamburger steak) jumbo sepertinya enak. Hime-chan sering bilang masakan itu sangat enak setiap kali dibuat."

"Ah benar juga, akhir-akhir ini kita jarang memasaknya. Jadikan itu menu utamanya hari ini."

"Kita juga butuh sayuran ya. Bagaimana kalau Chopped Salad yang kaya isian dan berwarna-warni?"

"Ide bagus. Ditambah sup dari sisa sayuran, maka persiapannya akan sempurna."

"Betul juga."

Begitu Hayato melangkah mengarahkan tujuan ke supermarket, Saki tiba-tiba meraih tangannya.

"......!"

Meskipun terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, Hayato pura-pura tidak mempermasalahkannya, dan berjalan menuju supermarket tanpa melepaskan genggaman tangan Saki.

Hayato dan Saki singgah di supermarket untuk berbelanja, lalu pulang bersama ke apartemen keluarga Kirishima.

"Aku pulang."

"Permisi."

Saki langsung menuju dapur bersama Hayato seperti sudah terbiasa, melepaskan jas blazer, mengenakan apron, dan bersiap-siap.

Hayato pun melepas blazernya, mengenakan apron, lalu mulai memasak berdampingan dengan Saki.

Saki yang tinggal sendirian di apartemen tak jauh dari sana hampir selalu makan malam di rumah keluarga Kirishima seperti biasa.

Ia juga sering membantu memasak seperti ini, bahkan menyiapkan bahan dan peralatan memasak yang dibutuhkan pada waktu yang tepat. Kerja sama mereka sangat padat dan membuat semuanya terasa mudah.

Tidak lama kemudian, setelah selesai memotong banyak bahan makanan, adonan hamburger siap dicetak.

Saat mereka berdua sibuk membentuknya bersama-sama, Saki tiba-tiba membuka suara dengan nada sedikit tegang.

"Ngomong-ngomong, hari ini tidak ada orang lain ya."

"Ah, Ibu sedang bekerja paruh waktu, dan Himeko sekolahnya jauh."

Ibu Hayato, Mayumi, mulai bekerja paruh waktu di sebuah pusat perbelanjaan terdekat sejak awal tahun karena merasa bosan sendirian di rumah.

Ia sepertinya menikmati pekerjaan yang tidak ada di Tsukiyonose itu, sehingga kesempatan mereka memasak makan malam bersama seperti ini semakin sering terjadi.

"Waktu berduaan dengan Kakak seperti ini, mungkin akan semakin sering terjadi mulai sekarang ya."

"A, Ah... sepertinya... begitu..."

Ucapan itu mendadak membuat Hayato menyadari situasi di mana ia sedang berduaan saja dengan seorang gadis di rumah, membuatnya merasa salah tingkah.

Saat Hayato memasang ekspresi kebingungan, Saki mendadak bergumam dengan nada cemberut.

"Padahal kukira Haruki-san juga ada di sini."

Mendengar nama Haruki yang tiba-tiba disebut oleh Saki, Hayato mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu melembutkan pipinya.

"...Haha, benar juga. Aku tahu dia sibuk, tapi setidaknya sesekali dia bisa mampir."

"Aku tahu kalau ulang tahun Haruki bulan lalu itu dari televisi, lho."

"Ah, iya, waktu dirayakan di salah satu program variety show, kan."

"Lalu ada juga──"

"Soal itu──"

Begitu mereka mulai mengeluhkan tentang Haruki, keluh kesah itu mengalir tanpa henti.

Meskipun mereka kini bisa berbicara dengan Haruki melalui grup chat, tetap saja ada banyak hal yang mengganjal di hati.

Berbicara tentang Haruki bersama Saki seperti ini membuat ganjalan di dada mereka sedikit mencair.

Merenungkannya kembali, bukankah ada sesuatu yang bisa ia lakukan untuk Haruki dalam situasi ini?

Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan──di tengah lamunannya, suara pintu depan tiba-tiba terbuka dengan kencang disertai bunyi klik. Disusul suara derap kaki berlari menyusuri lorong lorong dengan terburu-buru.

"K-Kak!"

Berbeda dari masa SMP-nya, Himeko yang mengenakan seragam pelaut klasik bergaya rapi langsung menampakkan wajahnya di ruang keluarga sambil terengah-engah dan berseru lantang.

Melihat perilaku adiknya yang tidak biasa dan sempat mereda akhir-akhir ini, Hayato mengerutkan kening lalu menegurnya.

"Ada apa Himeko, lagi pula jangan berlari di lorong yang sempit."

"Ahahaha..."

Saki pun tersenyum masam menyadari ia tidak bisa membela Himeko kali ini.

Namun, Himeko mengabaikan teguran itu begitu saja, melangkah lebar mendekati mereka berdua sambil memperlihatkan layar ponselnya.

"Sudahlah, lihat ini! Apa maksudnya ini!?"

"...Ha? Eh?"

Suara terkejut lolos dari mulut Hayato dan Saki tanpa sengaja. Apa yang diperlihatkan Himeko adalah versi digital dari sebuah majalah mode ternama.

Di sampul depan majalah itu, tampil sosok teman yang sangat tidak asing bagi mereka—Ikki. Di sebelah fotonya tertera tulisan mencolok berbunyi: Debut Gemilang Adik MOMO!

Hayato, Saki, dan Himeko saling bertukar pandang dengan ekspresi tidak percaya.

Himeko mengarahkan tatapan bingung kepada Hayato dan mendesaknya.

"Ini Ikki-san, kan? Kak, apa Kakak tidak dengar apa-apa?!"

Jika ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, justru Hayatolah orang yang paling ingin menanyakannya.

Bukankah saat bertemu di sekolah tadi pun Ikki bersikap seperti biasanya? Benar-benar tidak masuk akal.

Menyusul kepopuleran Haruki, kini rasanya Ikki pun seolah-olah melangkah pergi menuju dunia yang jauh di sana.

"Aku... tidak tahu apa-apa..."

Menghadapi pertanyaan adiknya, Hayato hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan secara hampa.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close