Chapter 9
──Tolong,
Selamatkan Aku
Sepeda motor pinjaman dari Saori memiliki bodi yang cukup
kokoh dan tidak biasa untuk ukuran motor yang dikendarai oleh seorang
mahasiswi, desainnya bahkan sekilas mengingatkan pada bilah pedang.
Hayato menahan perasaan yang kian mendesak, mengikuti
arah navigasi sembari mengincar lokasi yang telah ditentukan di kawasan Teluk.
Omong-omong, karena ia tidak punya waktu untuk sekadar
berganti pakaian, Hayato masih mengenakan pakaian kerjanya di toko wagashi
Shiro. Saki yang datang terburu-buru juga masih mengenakan pakaian rumahnya.
Entah bagaimana penampilan mereka jika dilihat oleh orang lain.
Lalu lintas di jalan raya perkotaan jauh lebih padat
dibandingkan dengan Tsukiyono. Ketegangan membuat keringat
merembes keluar dari telapak tangan yang mencengkeram setang, sementara
mobil-mobil melaju bergesekan tepat di samping mereka.
Namun, di belakang Hayato, Saki sedang memboncengnya.
Saki mempercayakan dirinya kepada Hayato,
mencengkeram erat dan menyandarkan tubuhnya. Hayato tersenyum tipis, berpikir
bahwa ia tidak boleh memperlihatkan sisi yang memalukan, lalu memecah udara
perkotaan dengan motornya sembari melontarkan candaan ringan.
"Sebenarnya ini pertama kalinya aku berkendara
di jalan raya luar dengan motor, jadi aku merasa agak gugup."
"Eh, baru pertama kalinya!?"
"Ya, praktik roda dua kemarin cuma di dalam area
sirkuit tempat latihan saja, tidak ada latihan di jalan raya."
"Kalau begitu, aku ini orang pertama yang
dibonceng oleh Kakak dengan motor, ya."
Saki bersuara dengan nada yang terdengar agak ceria,
mengerahkan tenaga pada kedua tangan yang melingkar di pinggang Hayato, dan
merapatkan tubuhnya dengan erat.
Akibatnya, secara tidak terhindarkan ia bisa
merasakan kelembutan tubuh Saki yang di luar perkiraan, membuat jantungnya
berdegup kencang karena alasan yang berbeda.
Untuk mengalihkan perhatian dari hal itu, Hayato
melanjutkan kata-katanya dengan nada bercanda.
"Lagian, SIM-ku belum genap satu tahun, jadi
sebenarnya aku tidak boleh membonceng orang. Karena itulah, kegugupanku jadi
berlipat ganda."
"Aha, tidak boleh, ya?"
"Yah, Saori-san juga pasti tahu hal itu waktu
meminjamkan motornya, jadi anggap saja ini keadaan darurat. Kalau terjadi
sesuatu, kita salahkan saja Haruki."
"Benar juga. Semuanya gara-gara Haruki yang
tiba-tiba memutuskan menjadi idol seorang diri!"
Mendengar itu, Hayato dan Saki tertawa bersama dengan
nada yang terdengar begitu riang.
Semakin mereka mendekati tempat tujuan, jumlah kendaraan
semakin meningkat dan arus lalu lintas menjadi semakin padat.
Tampaknya orang-orang yang mengincar acara Early
Summer Live telah berkumpul.
Motor melaju membelah celah-celah barisan mobil yang
mengalami kemacetan.
Di saat seperti ini, kendaraan roda dua yang gesit memang
terasa sangat praktis.
Begitu mereka tiba di titik di mana kawasan teluk mulai
terlihat, kerumunan manusia yang tampak seperti lautan hitam mulai terlihat
dari kejauhan.
Banyak orang tampaknya menggunakan transportasi umum
seperti kereta, berjalan kaki dari stasiun menuju panggung acara di kawasan
teluk.
Di sepanjang jalan, puluhan warung jajanan berjejer ramai
melayani mereka, suasananya persis seperti festival musim panas.
Jumlah orang yang hadir berada dalam skala yang belum
pernah Hayato lihat sebelumnya.
Kepadatan manusia itu sungguh membuat siapa pun merasa
ngeri. Entah sebenarnya ada berapa banyak orang di sana.
Selama datang ke kota besar, ia sudah sering merasa
kewalahan dengan jumlah manusia yang begitu banyak.
Ia juga sempat beberapa kali menghadiri event dan
merasa sudah cukup terbiasa.
Namun, skala sebesar ini adalah yang pertama kalinya.
Ia teringat perkataan Iori tadi bahwa ini adalah
event batu loncatan bagi para idol pendatang baru.
Ini pasti kesempatan emas untuk menarik perhatian begitu
banyak orang.
Hawa panas dari semangat mereka bahkan sampai menjangkau
jalan raya tempat mereka berada saat ini, membuat Hayato menelan ludah dengan
susah payah.
Lalu, Saki bergumam dengan nada suara yang sedikit kaku.
"Orang-orang di sini semuanya datang demi
menonton live hari ini, ya."
"Kira-kira ada berapa banyak orang ya, rasanya
jauh lebih luar biasa dari perkiraan angka yang kudengar. Bagi para pendatang
baru, pertarungan yang sebenarnya adalah bagaimana mendapatkan pengakuan dari
semua orang di sini dan menarik fans baru."
"Makanya Mari-san belakangan ini sering sekali
membicarakan hal ini. Tapi, sepertinya telah terjadi masalah di lokasi."
"Kalau memang ada sesuatu, harusnya Haruki bilang
saja pada kita."
"Betul sekali, kalau tidak bilang kan Kakak jadi
nekat menerobos datang ke sini!"
Saki yang tadinya berbicara dengan nada kekaguman
yang mendalam, mendadak memajukan bibirnya dengan ekspresi merajuk, melontarkan
kalimat yang berada di ambang batas antara kejujuran dan candaan.
Mendengar itu, Hayato merasa situasi ini mendadak
jadi lucu, lalu menertawakan sisa-sisa kecemasan yang sempat bergelayut di
dalam dadanya.
"Haha, benar juga ya! Haruki sendiri seharusnya
tahu soal itu!"
"Betul banget, sampai-sampai membuat Mari-san
ikut khawatir juga!"
Hayato dan Saki tertawa lepas sembari melontarkan
komentar-komentar bernada gerutuan kecil seperti itu.
Setelah itu, ia memacu motornya menuju bagian
belakang area venue acara seperti yang telah diinstruksikan oleh Mari.
Namun di sana, mereka dihentikan oleh seorang staf yang
tampak seperti petugas keamanan menggunakan lampu pengatur lalu lintas.
"Berhenti. Eh, kalian berdua ini...?"
"Ah..."
Hayato merasa kesulitan menjawab dan terdiam kehabisan
kata-kata.
Jika melihat penampilan mereka saat ini, yang satu
mengenakan seragam pegawai toko wagashi, sementara yang seorang lagi adalah
siswi SMA berbalut pakaian rumah.
Setidaknya, penampilan mereka sama sekali tidak terlihat
seperti orang yang berkaitan dengan staf penyelenggara acara.
Terlebih lagi, menyebut nama Haruki atau Mari sekarang
justru akan membuat orang semakin sulit mempercayai mereka.
Saki yang panik hendak mengeluarkan ponselnya untuk
menghubungi Mari tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan Mari yang mengenakan
jaket windbreaker di atas kostum idolnya, berseru dengan suara lantang.
"Tunggu! Mereka berdua adalah teman-temanku yang
paling berharga!"
◇◇◇
Taman tepi laut yang luas membentang di kawasan teluk
serta plaza serbaguna.
Tepat di dekat sana, sebuah panggung luar ruangan
berukuran raksasa juga telah didirikan, menjadikannya lokasi yang sangat
sempurna sebagai ruang acara berskala besar.
Salah satu sudut bangunan komersial di dekat panggung
utama difungsikan sebagai markas operasional jalannya event kali ini.
Haruki duduk bersandar di kursi pipa di dalam ruang ganti
yang disediakan, menopang dagunya sambil menatap ke arah area panggung dari
jendela.
Lombok manusia yang mengincar Early Summer Live
berdatangan, para staf berlalu-lalang menciptakan hawa panas yang bergemuruh,
dan laut di sebelah mereka pun seolah tidak mau kalah dengan mendorong ombak
yang bergolak.
Birunya langit terbentang luas, namun menurut perkiraan
cuaca, hujan deras akan turun akibat badai begitu awal pekan tiba.
Banyak fans yang merasa bersyukur karena Early Summer
Live bisa diselenggarakan tanpa beruntung terkena terjangan badai.
Namun, Haruki justru memasang ekspresi seolah baru saja
menggigit serangga pahit, lalu menghela napas panjang dengan sengaja.
Melihat itu, Seiji Sakurajima yang duduk di hadapannya
mengerutkan kening sambil mengangkat bahu dengan gaya teatrikal.
"Jadwal syuting film terpaksa diubah mendadak
gara-gara badai... Sungguh, waktu yang benar-benar menyebalkan," ucap
Seiji.
"...Begitulah ya," gumam Haruki sambil
menggigit bibirnya.
Mao Takura akan membintangi film yang sekaligus
menjadi karya pensiunnya──informasi itu berhasil dicium oleh Seiji, yang
kemudian menggunakan segala koneksi dan cara untuk mendapatkan peran bagi
Haruki sesuai janjinya.
Terlebih lagi, meskipun kemunculannya hanya sedikit,
peran tersebut sangat penting yaitu sebagai versi muda dari sang pemeran utama,
Mao Takura.
Mao Takura adalah aktris senior hebat yang terus
memimpin di garis depan selama bertahun-tahun, bersanding dengan Haruki, idol
populer yang tengah bersinar saat ini──karena ini adalah proyek kolaborasi ibu
dan anak, daya tariknya pun sudah lebih dari cukup, sehingga para sutradara dan
pihak produksi menyambutnya dengan tangan terbuka berkat motif tersembunyi
tersebut, meski tampaknya para rekan sesama industri tidak begitu menyambutnya
dengan baik. Tindakan Seiji pasti melibatkan cara-cara yang cukup memaksa.
Namun, tujuan Haruki hanyalah untuk berbicara dengan
sang ibu.
Hal semacam itu tidak penting baginya.
Yang terpenting adalah ia harus pergi ke lokasi kerja
yang sama demi bisa berbicara dengan ibunya itu.
Syuting tersebut dimajukan akibat badai dan
dikabarkan akan dilaksanakan hari ini.
Terlebih lagi, mereka akan mengambil adegan penting
di mana Haruki dan Mao Takura saling berhadapan.
Sebenarnya pemberitahuan itu datang sedikit lebih
awal, namun karena kesibukannya mempersiapkan Early Summer Live, ia
tidak menyadarinya dan baru mengetahuinya sekarang.
Jadwal syuting film yang direncanakan adalah pukul
13.00.
Berapa pun cepatnya mereka bergegas dari sini,
perjalanan ke lokasi syuting akan memakan waktu setidaknya dua jam.
Jika melihat jam, saat ini sudah lewat pukul 10.30.
Agar bisa tepat waktu, ia harus segera meninggalkan
tempat ini sekarang juga.
Di sisi lain, Early Summer Live ini akan dimulai
pada pukul 12.00. Jadwalnya benar-benar tumpang tindih.
Pihak sana pun pasti mengetahui situasinya, dan jika
mereka mengatakan bahwa pemeran pengganti akan digunakan seandainya ia tidak
bisa datang──dengan menunjuk orang yang awalnya memang sudah diputuskan untuk
peran tersebut agar tidak menjadi masalah, bisa jadi mereka sengaja mengatur
jadwalnya agar berbenturan.
Bagaimanapun juga, saat ini Haruki dipaksa untuk memilih
antara berpartisipasi dalam Early Summer Live atau pergi untuk syuting
film bersama ibunya.
Menghadapi Haruki yang memasang ekspresi tegang,
Seiji bertanya dengan senyuman hampa.
"Kamu tidak perlu pergi syuting?"
"Mana mungkin aku bisa pergi!" bentak
Haruki sambil menatap tajam ke arah Seiji.
Setelah meninggikan suaranya, Haruki mengalihkan
pandangannya ke luar jendela, melihat para staf yang bekerja keras menyiapkan Early
Summer Live serta para penonton yang menantikan acara tersebut dengan
antusias.
Mendengar itu, Seiji mengangkat bahunya dan bergumam,
"Kira-kira kamu bakal ngomong begitu."
Jika ini terjadi di masa-masa awal ia menerima
tawaran menjadi idol, ia pasti akan berlari menghampiri sang ibunya tanpa ragu
sedikit pun.
Alasan Haruki bergabung dengan Tinkle adalah demi
berbicara dengan ibunya.
Kenyataannya saat ini, bagian logika di dalam
kepalanya tahu betul bahwa ia harus segera pergi menemui sang ibu sekarang
juga.
Namun jika ia melakukan itu, secara otomatis ia akan
meninggalkan lubang besar di atas panggung Tinkle.
Bagi Tinkle, Early Summer Live ini adalah ujian
penentuan.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sukses atau
tidaknya event ini akan menentukan seberapa jauh mereka bisa terbang di masa
depan.
(Apa yang sedang kulakukan...)
Bergabung dengan Tinkle awalnya hanyalah sebuah
transaksi dengan Seiji agar ia bisa dipertemukan dengan ibunya.
Namun melalui aktivitas Tinkle, ia jadi tahu bahwa ada
banyak orang—mulai dari staf lagu, kostum, perencanaan event, penataan
panggung, hingga administrasi—yang bekerja keras demi meraih kesuksesan.
Mereka semua berjuang demi impian dan tujuan
masing-masing. Paling tidak, orang utama yang mewakili itu semua adalah Mari
yang ia saksikan dari jarak dekat.
Ia bukan lagi anak kecil yang tidak tahu seberapa banyak
uang yang berputar, selain jumlah orang yang terlibat.
Selain itu, Tinkle telah menerima dan menginginkan
Haruki, seseorang yang baru pertama kali mencoba dunia akting.
Bagi Haruki yang selama ini selalu memainkan peran sesuai
keinginan orang sekitar dan melewatkan hari-hari secara aman, kenyataan itu
memberikan kejutan tersendiri; rasa kesatuan di atas panggung yang ia ciptakan
bersama yang lain, serta waktu di mana orang-orang membutuhkan dirinya sebagai
seorang idol membuatnya merasa senang──dan yang terpenting, ia merasa
menikmatinya. Ia menyadari dirinya menikmati semua itu.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tempat ini kini
telah menjadi salah satu tempat tinggalnya yang lain.
Oleh karena itu, mana mungkin ia sanggup merusak Tinkle
dengan tangannya sendiri secara sengaja?
Namun di sisi langka, syuting film adalah kesempatan emas
untuk bisa berbicara dengan ibunya.
Jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini, entah kapan lagi
kesempatan serupa akan datang.
Haruki mencengkeram erat bagian dada kostum idolnya.
Di dasar perutnya, rasa frustrasi, kekesalan, dan
berbagai emosi tidak menyenangkan bergolak campur aduk.
Ia bahkan merasa ingin muntah saat ini juga. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.
(Hayato...)
Pada saat itu, bayangan wajah Hayato tiba-tiba
melintas di benaknya. Dadanya terasa nyeri menusuk.
Bagi Haruki, Hayato adalah simbol dari kesehariannya.
Hanya di sisi Hayato-lah ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Namun saat ini, orang yang berada di sisi Hayato adalah
Saki.
Bahkan saat turnamen bola voli tempo hari, Saki tidak
hanya membantu melintasi batasan tingkat kelas bersama Hayato dan yang lainnya,
tetapi ia juga meramaikan sorak-sorakan dukungan melalui tarian.
Rasanya seolah Saki telah merebut tempat tinggalnya yang
dulu.
Perasaan kesepian sekaligus rasa terasingkan menyelimuti
hatinya.
Meskipun begitu, ia tidak bisa begitu saja berhenti
menjadi idol dan kembali ke tempat itu sekarang.
Ingin membuat Tinkle semakin bersinar, ingin pergi
menjalani syuting film bersama ibu, ingin segera kembali ke sisi Hayato.
Meskipun hanya memiliki keinginan-keinginan seperti itu,
ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa selain terbawa arus
oleh keadaan, berdiri di antara dua pilihan tanpa ketegasan.
Dan sensasi terombang-ambing oleh kekuatan di luar
kendalinya ini terasa sangat familier.
Ia teringat saat-saat ketika ia terpisah dari Hayato di
Tsukiyono dahulu.
(Aku...)
Meskipun ia telah berusaha keras dan berlari sejauh ini,
apakah semuanya tetap berakhir sia-sia?
Tepat saat keputusasaan itu hendak merayap dan
menggerogoti hatinya, pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka dengan kencang, dan
suara penuh semangat Mari menggema di ruangan.
"Maaf membuatmu menunggu, Bibi!"
"Aku sudah dengar semuanya, Haruki!"
Mendengar suara seseorang yang seharusnya tidak ada di
tempat ini menyusul setelahnya, Haruki mengeluarkan suara terkejut yang
terdengar bodoh di tengah rasa syoknya.
"...Hayato?"
Hayato menatapnya dengan senyuman santai dan penuh
kenakalan yang sangat ia kenal.
Krisis Haruki. Hayato membelalakkan matanya mendengar
kalimat tersebut, menyadari ia tidak boleh mengabaikannya.
"Aku sudah dengar, Haruki. Kamu sepertinya sedang
dalam kesulitan, ya."
"Kamu egois sekali, Haruki-san! Katanya kalau ada
apa-apa disuruh mengandalkan kalian, tapi buktinya!"
"S-Saki-chan juga!?"
Melihat Saki yang muncul berikutnya dengan pipi
menggembung kesal, Haruki merasa bingung karena tidak mampu mempercayai situasi
di hadapannya.
Namun di sisi lain, ia juga merasa separuh dirinya sudah
menduga bahwa Hayato pasti akan datang membawa Saki seperti ini jika ia sedang
jatuh ke dalam krisis.
Kendati demikian, seharusnya orang luar tidak diizinkan
masuk ke area ini.
Dengan sistem pengamanan hari ini, bahkan Ikki yang
sama-sama bekerja di dunia hiburan pun pasti akan kesulitan. Seiji sendiri
tampak terdiam karena terkejut mendapati tamu tak diundang.
Di tengah situasi itu, Haruki bertanya kepada Mari yang
bertolak pinggang dengan bangga setelah membawa dua orang dari luar.
"Apa maksudnya ini?"
Sejak kapan mereka berdua saling kenal? Apa gunanya
membawa mereka kemari?
Pertanyaan-pertanyaan yang dipenuhi berbagai macam emosi
meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mari menjawab dengan nada yang terdengar dibuat-buat
santai.
"Mau menyelamatkan situasi ini, tentu saja."
Jawaban itu justru menyulut emosi Haruki, membuatnya
bangkit berdiri dan mendekati Mari.
"Menyelamatkan situasi? Kamu tahu tidak keadaan kita
sekarang?"
"Tahu, kan baru dengar tadi. Bibi mau pergi
syuting film tapi bentrok sama jadwal live, jadi Bibi bingung karena
nggak bisa pergi, kan?"
"Ya, benar begitu!"
"Makanya, aku manggil bantuan buat
itu."
"Bantuan..."
Mari membusungkan dadanya penuh percaya diri.
Karena mengatakannya dengan begitu enteng, Haruki
merasa kepalanya mendadak pusing.
Gadis itu bersikap seolah ia sama sekali tidak
memahami kenyataan yang ada. Rasa sakit kepala mulai menyerang.
Apakah dia benar-benar paham dengan situasi saat ini?
Menghadapi sikap Mari yang santai tanpa beban, Haruki
menepuk keningnya karena jengkel dan melontarkan interogasi.
"Memangnya apa yang bisa kalian lakukan secara
spesifik?"
"Itu, itu..."
"Kita tidak bisa menelantarkan panggung live
begitu saja, kan? Kalau aku tidak ada, acaranya pasti hancur berantakan."
"A-Aku tahu. Tinkle bisa sebesar ini kan karena
popularitas Bibi. Aku sendiri nggak bakal bisa ngatasin live hari ini
sendirian... makanya kita butuh bantuan."
"Dengar ya, memangnya apa yang bisa dilakukan
oleh mereka berdua dalam situasi seperti ini!?"
"Gh!"
Haruki tidak bisa menahan diri untuk tidak
meninggikan suaranya.
Ia tentu merasa senang secara jujur karena Hayato dan
Saki datang bergegas menemui mereka.
Namun, hanya sebatas itu saja.
Selain itu, mereka berdua adalah orang biasa yang tidak
punya hubungan apa pun dengan dunia idol.
Mereka tidak memiliki pengetahuan khusus, jadi apa yang
sebenarnya bisa mereka perbuat?
Sikap Mari yang terkesan acuh tak acuh itu membuatnya
terlihat seperti anak kecil yang sedang ngambek, dan kemarahan Haruki kian
tersulut.
Haruki adalah orang yang paling paham betapa tidak
tertolongnya situasi saat ini. Kemarahan itu akhirnya tumpah dalam bentuk
kata-kata.
"Bahkan aku sebenarnya ingin sekali pergi menemui
Ibu! Sejak awal, aku menganggap dunia idol ini sekadar batu loncatan untuk bisa
berakting bersama Ibu. Meskipun begitu, ada banyak sekali
staf yang terlibat dalam event hari ini. Ini adalah saat penentuan bagaimana
nasib Tinkle setelah menarik perhatian puluhan ribu orang!"
"Aku tahu. Aku tahu kok soal itu."
"Kalau kamu tahu, kamu tidak mungkin bisa
mengatakannya dengan begitu mudah! Terlebih lagi, aku tahu betul seberapa besar
usaha yang kamu lakukan untuk bisa berdiri di panggung ini, jadi mana mungkin
aku bisa menghancurkannya begitu saja hanya demi kepentinganku sendiri!"
Mendengar teriakan dari lubuk hati Haruki tersebut, Mari
tersentak kaget, menundukkan kepalanya, lalu menggigit bibirnya sambil gemetar.
Kata-katanya terhenti.
Tepat saat ia mengira argumennya tersampaikan dengan
benar, Mari justru mengeluarkan suara erangan dari dasar perutnya.
"...Jangan remehkan aku."
"Apa? Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan
yang jelas."
"Ugh, jangan jadikan aku... alasan untuk melarikan
diriー!"
"Hah!?"
Namun Mari meninggikan suaranya karena tidak bisa
memaafkan hal itu.
"Memang benar aku tidak bisa menandingi Bibi.
Aku tahu apa yang dibicarakan orang-orang di luar sana, dan aku juga paham apa
akibatnya kalau live hari ini dijalankan tanpa Bibi. Tapi, Tinkle bukan
cuma milik Bibi saja. Aku juga ada di sini! Apa-apaan kalimat Tinkle tidak akan
berjalan kalau tidak ada Bibi!? Aku bukan sekadar hiasan pelengkap Bibi! Kalau
Tinkle sampai gagal hanya karena tidak ada Bibi, hancur saja sudah sana! Jangan
jadikan aku alasan untuk kabur! Jangan kasihaniku secara sembarangan! Aku ini
sedang berjuang mati-matian menargetkan Bibi, jadi jangan buat aku terlihat
menyedihkan, bodohh...!"
Mari meluapkan emosinya sambil meneteskan air mata
berukuran besar yang mengalir deras.
Wajahnya berantakan oleh berbagai emosi, termasuk
rasa frustrasi. Itu adalah pemandangan di mana Haruki untuk pertama kalinya
melihat sisi asli Mari yang tanpa ditutup-tutupi.
Baru pada saat itulah Haruki menyadari bahwa ia
secara tidak sadar telah memandang rendah Mari selama ini, membuat rasa
bersalah menusuk tepat di sasaran dan membuatnya tertegun karena gentar.
Dadanya terasa sakit.
Di dalamnya pasti juga terselip hubungan mereka
sebagai bibi dan keponakan.
Bukankah ia sendiri yang paling tahu seberapa serius Mari
menantangnya selama ini?
Namun, itu hanya berlangsung sesaat. Justru karena ia
tahu bahwa situasi saat ini sudah tidak ada jalan keluar, ia melampiaskan emosi
yang tak bertepi itu kepada Mari, meskipun ia tahu itu adalah hal yang salah.
"Yang ingin menangis itu aku! Kalau
begitu beritahu aku, apa yang harus kulakukan—"
"Haruki, cukup sampai di situ. Atau lebih tepatnya, tenangkan dirimu. Jangan membuat keponakan
menangis."
Namun pada saat itu, Hayato tiba-tiba menyela dan
menghentikan Haruki dengan cara menarik kedua pipinya menggunakan kedua
tangannya secara gemas.
"Ma, mafkan aku?"
Ketika ia mengarahkan pandangannya yang dipenuhi
kebingungan, Hayato—sahabat karib sejak masa kecilnya itu—tersenyum dengan
senyuman penuh kenakalan kesukaannya, lalu melontarkan kalimat yang sama sekali
tidak boleh dilewatkan.
"Aku punya cara untuk menyelamatkan situasi
ini."
"Eh?"
Suara kebingungan lolos dari bibir Haruki.
Mana mungkin ada cara seperti itu. Hal itu tidak masuk akal. Logikanya langsung menolak perkataan Hayato
detik itu juga.
Hayato pasti juga memahami situasi ini.
Meskipun begitu, karena Hayato mengatakannya dengan
begitu santai dan tanpa beban seperti biasanya, entah kenapa ia jadi berpikir
jangan-jangan memang ada cara yang bagus.
Saat Haruki menatapnya dengan pandangan penuh harap dan
permohonan, Hayato melunakkan tatapannya seolah meminta agar ia merasa tenang.
Lalu Hayato mengarahkan senyuman menyeringai itu kepada
Mari, dan juga Saki.
Seolah mengerti maksud tersebut, Mari langsung mengusap
kasar sisa air mata di sudut matanya dengan lengan kostumnya, lalu mengangguk
dengan tatapan penuh tekad.
Saki mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali karena
terkejut seolah tidak percaya, tampak ragu-ragu sejenak.
Saat Hayato mengulurkan kepalan tangan kanannya seolah
menantang mereka untuk melakukannya, Mari langsung menirukannya, dan Saki pun
ikut menyusulkan tangannya dengan perasaan canggung.
Melihat ketiganya saling memahami sesuatu sementara ia
sendiri tertinggal di luar lingkaran itu, dada Haruki terasa nyeri menusuk.
Tak lama kemudian, Hayato mendorong beberapa meja ke
samping untuk menciptakan ruang kosong, dan Mari memimpin jalan agar Saki juga
berdiri di sana.
Saat Haruki memperhatikan untuk melihat apa yang akan
mereka lakukan, Mari tiba-tiba menarik napas dalam-dalam, mengubah atmosfer di
sekitarnya dalam sekejap.
Dan di saat bersamaan, Saki mulai menari, merajut dunia
baru di ruangan tersebut.
"────♪"
““──Ah””
Begitu Mari mulai bernyanyi secara a cappella,
Haruki membelalakkan matanya selebar mungkin dan terpaku menatap keduanya,
sementara Seiji pun ikut mencondongkan tubuhnya ke depan karena tidak ingin
melewatkan pemandangan ini.
Mari bernyanyi dengan ritme kecil yang terjaga, suaranya
melengking tinggi penuh tenaga dan membahana.
Seolah menyempurnakan penampilan Mari, Saki menari dengan
berani, gemilang, dan ringan di sekitarnya.
Melalui nyanyian dan tarian, kehadiran keduanya saling
mengangkat satu sama lain lewat efek sinergi.
Kualitasnya sama sekali tidak kalah jika dibandingkan
dengan versi aslinya.
Bahkan, jika ditambah dengan koreksi kostum dan tata
panggung, penampilan ini mungkin bisa melampauinya.
Tanpa sadar, Haruki menelan ludahnya. Dadanya bergetar
hebat.
Ia tahu Saki sangat pandai menari, namun mengapa nyanyian
Mari bisa begitu menggetarkan hatinya?
Tak lama kemudian, nyanyian itu berakhir.
Saat Haruki berdiri dengan ekspresi seolah baru dibohongi
rubah, Hayato menjelaskan alasannya.
"Begini, kami tadi sempat mengobrol dan memikirkan
bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Haruki."
"...Ah."
Di titik itulah Haruki menyadari bahwa Mari dan Saki
tampil dengan sangat natural tanpa dibuat-buat.
Selain itu, mereka juga menampilkan senyuman yang
benar-benar tulus tanpa ada rasa canggung.
Ah, begitu ya. Bukan hanya karena teknik menyanyi dan
menari mereka yang tinggi. Justru karena rasa suka dan kesenangan itu terpancar
begitu nyata melalui layar kaca maupun secara langsung, itulah yang mampu
menggerakkan hati orang-orang.
Terlebih lagi, tujuan mereka adalah untuk mengalahkan
dirinya.
Haruki bergumam dengan nada sedikit merajuk, merasa gemas
karena mereka bersenang-senang seperti itu tanpa melibatkannya.
"Apa-apaan mengalahkanku, sungguh."
Mendengar itu, Saki berkata dengan penuh percaya diri.
"Soal menari, aku tidak akan kalah dari
Haruki-san."
"A-Aku juga tidak kalah kalau sudah fokus bernyanyi.
Kalau sendirian mungkin tidak bisa, tapi kalau berdua bersama Saki, aku pasti
bisa mengalahkan Bibi."
Mari menyusul mengatakannya sambil membusungkan dada
dengan mata yang masih kemerahan.
Lalu Hayato ikut membuka suara sambil menyeringai usil.
"Makanya. Meskipun suara Mari tadi sempat sedikit
serak karena menangis, kalau dia fokus bernyanyi, kualitas vokalnya bakal jauh
melampaui apa pun sebelum ini."
"Bawel!"
"Sakit!?"
Mendengar godaan Hayato, Mari membelalakkan matanya kesal
lalu menendang tulang kering pemuda itu.
Setelah mengeluh kesakitan secara berlebihan, Hayato
mengubah ekspresinya menjadi serius dan mengajukan pertanyaan.
"Hei, bukankah Mari dan Saki-san bisa mengambil alih
posisi Haruki?"
"Itu..."
Di mata Haruki pun, penampilan mereka tampak tidak kalah
sedikit pun jika dibandingkan dengan versi aslinya.
Namun, pihak yang berhak memutuskan hal itu pada akhirnya
bukanlah dirinya.
Dengan perasaan ragu-ragu, Haruki melirik ke arah Seiji
yang terus membisu sejak tadi.
Setelah menghela napas berat, Seiji mengangkat
sebelah alisnya.
"Memang benar, level penampilannya tinggi. Aku
akui itu. Tapi, penonton yang datang demi melihat Tinkle tujuannya
adalah Haruki-kun. Kenyataannya, performa tinggi Haruki-kun juga sedang menjadi
bahan pembicaraan di internet dan media sosial. Oleh karena itu, jika
Haruki-kun tidak ada di atas panggung, itu berarti kita tidak bisa memenuhi
ekspektasi dari orang-orang yang berkumpul hari ini. Kalau ditanya apakah
penampilan tadi sanggup membalikkan situasi sulit itu, aku tetap merasa
ragu."
"Itu...!"
Mari hendak mengatakan sesuatu, namun ia menghentikannya
di tengah jalan dan menutup mulutnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
Seiji melipat tangannya di atas meja kecil, menatap
Haruki dan memaparkan faktanya secara dingin.
"Mengambil risiko tampil tanpa Haruki-kun terlalu
besar. Kalau sampai live ini gagal, nama Tinkle akan tercoreng, dan
popularitas yang sudah kita bangun dengan susah payah akan meredup. Bangkit
kembali pun sepertinya akan sulit."
Seiji secara tersirat sedang bertanya apakah Haruki tega
menginjak-injak masa depan karier idol Mari demi kepentingannya sendiri.
Pertanyaan yang sungguh licik. Namun, itu adalah sebuah
fakta.
Haruki mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga
gigi belakangnya bergemeretak.
Tepat pada saat itu, Hayato mendengus pelan dan
menampilkan senyuman buas yang bersifat provokatif.
"Tapi kalau kita berhasil di sini, kemampuan
Mari akan diakui dan popularitas Tinkle akan melonjak naik."
Seiji tertegun sejenak karena keheranan, sebelum
akhirnya tertawa lepas dengan riang.
"...Haha! Bisa jadi. Itu adalah taruhan yang buruk.
Mau dihitung selonggar apa pun, tingkat keberhasilannya paling-paling hanya
sekitar tiga puluh persen, bukan?"
"Baguslah! Kalau ada peluang tiga puluh persen, itu
sudah lebih dari cukup untuk mempertaruhkan masa depan idolaku!"
Menanggapi peringatan Seiji, Mari mengepalkan tinjunya
dengan penuh semangat hingga membentur meja, membakar jiwa juangnya.
Lalu, menatap Haruki yang masih menunjukkan keraguan,
Saki bertanya dengan senyuman lembut.
"Haruki-san, kami akan melakukan yang terbaik di
sini. Apakah kamu tidak bisa mempercayai kami?"
Mendengar pertanyaan itu terasa begitu curang, Haruki
membasahi matanya dan meletakkan tangan di dadanya.
Early Summer Live dan
syuting film.
Ia hanya bisa pergi ke salah satu di antara keduanya, dan
harus memilih.
Meskipun ia telah didorong ke arah jalan yang ingin ia
tuju, rasa cemas itu tetap ada.
Bukankah Seiji sendiri bilang tingkat keberhasilannya
paling tinggi hanya tiga puluh persen jika dihitung secara lunak? Mustahil jika
ia tidak merasa ragu.
Namun timbangan di dalam hatinya terseret jatuh
sepenuhnya ke sisi ibunya berkat kata-kata tersebut.
Haruki meluapkan isi hatinya sambil memohon, tidak hanya
kepada Saki, tetapi juga kepada Hayato dan Mari.
──Tolong selamatkan aku.
"Ya, kami datang untuk itu."
Saki yang mendekat menggenggam tangan Haruki.
Lalu Saki menarik tangannya, membimbingnya menuju ke sisi
Hayato seolah sedang menyerahkan estafet.
Hayato menyambutnya dengan senyuman polos sambil
mengulurkan tangan.
Sosok itu berhimpitan dan tumpang tindih dengan
bayangan Hayato kecil yang pertama kalinya menyapanya di Tsukiyono dahulu.
"Kakak, sisanya aku serahkan."
"Baiklah, serahkan padaku. Kalau begitu, ayo kita
pergi, Partner Haruki."
Ah, ini sama persis seperti saat itu.
Ia tidak tahu apa hasil akhir dari pilihan ini.
Namun ia yakin, keputusan ini pasti akan berujung pada
senyuman yang sama seperti masa itu──ia memiliki keyakinan kuat akan hal itu.
"Ya, bawa aku pergi menemui Ibu."
Jika ia mengulurkan tangannya, ia pasti bisa segera
meraihnya.
Berbeda dengan masa kecilnya dulu, Haruki menggenggam
tangan Hayato tanpa ragu sedikit pun.



Post a Comment