NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Chapter 5

Chapter 5

Rasa Persaingan


Hari berikutnya setelah Ikki melakukan debut modelnya.

Saat Hayato pergi ke sekolah dengan perasaan waspada memikirkan apa yang akan terjadi, suasana di depan kelasnya dan teman-temannya sudah sangat ramai.

Seperti yang sudah diduga, situasi ini memang bisa diprediksi. Hayato bergumam sambil meringis.

"Sepertinya Ikki sudah datang ke sekolah."

"Seperti yang kamu lihat... eh?"

Ia bertukar pandang dengan Iori yang mengangkat bahu dan ekspresi mengira-ngira, namun mereka berdua segera menyadari ada hal yang aneh.

Mereka mengira jeritan histeris akan ditujukan kepada Ikki, tetapi suara yang terdengar justru didominasi oleh seorang siswi. Terlebih lagi, suara itu sangat akrab di telinga.

Memikirkan kemungkinan itu, ia mengintip ke dalam kelas dan mendapati Yuzu dengan raut wajah sangat geram sedang memberondong Ikki dengan berbagai pertanyaan, "Sebenarnya apa alurnya ini!?", "Apa Airi sudah tahu?", "Padahal kamu bisa bilang sepatah kata pun padaku!".

Tahun lalu pada malam acara pasca-festival budaya, Yuzu bersama model Airi menyatakan cinta kepada Ikki di hadapan publik, dan meskipun ditolak, ia mendeklarasikan akan terus berjuang mengejar cintanya.

Hal itu sudah menjadi rahasia umum bagi para siswa saat itu. Karena alasan tersebut, orang-orang di sekitar pun tampak mengawasi gerak-gerik Ikki dan Yuzu.

Dari apa yang dicuri dengar oleh Hayato, tampaknya Yuzu sama sekali tidak diberi tahu apa-apa, dan nada suaranya pun terdengar sedikit merajuk.

Apakah kemunculan nama Airi yang terus-menerus disebut itu karena rasa persaingannya?

Ikki tampak kewalahan dan mencoba mengelak dari desakan Yuzu secara mengambang menggunakan kata-kata seperti "Karena jalur Kakak" dan "Ada kewajiban menjaga kerahasiaan", namun tampaknya ia tidak terlalu berhasil.

Tiba-tiba, pandangan matanya bertemu dengan Ikki. Ikki memberikan tatapan memohon agar ditolong secara terang-terangan, namun Hayato dan Iori hanya bisa meringis sambil menggelengkan kepala.

Setelah itu, setiap jam istirahat Yuzu selalu mendatangi Ikki.

Seolah uneg-uneg yang ingin disampaikan sudah habis di pagi hari, Yuzu kini berbalik arah dan melontarkan nada khawatir, "Apa tidak apa-apa membagi waktu antara sekolah dan model?", "Apakah kamu mendapat tekanan keras karena menjadi adik Momoka-san?", "Jangan mudah terbuai mengikuti wanita yang tidak jelas asal-usulnya, ya!".

Meskipun Ikki menjawab, "Tenang saja karena ada Kakak," Yuzu mempertajam sudut matanya dan berteriak, "Makanya aku jadi semakin khawatir!".

Ikki tampak tidak bisa membalas dan hanya bisa mengerutkan kening. Melihat pemandangan tersebut, Hayato, Iori, dan Minamo saling berpandangan lalu bertukar senyum canggung.

Tawa cekikikan tertahan pun terdengar dari teman sekelas lainnya.

Pemandangan yang sungguh menggemaskan.

Namun, karena Yuzu terus saja menempel pada Ikki, tercipta suasana di mana orang lain tidak bisa menyela di antara mereka berdua.

Melihat situasi itu, Minamo tiba-tiba bergumam seolah baru saja memahami sesuatu.

"Senior Takura sepertinya sedang berjaga-jaga terhadap orang di sekitarnya, ya."

Mendengar itu, Hayato yang langsung menangkap maksudnya pun menepuk kedua tangannya.

"Ah, supaya siswi lain yang ingin mendekati Ikki gara-gara debut modelnya tidak bisa mengajaknya mengobrol, begitu ya?"

"Meskipun dia adalah senior yang sangat cantik seperti Senior Takura, toh dia pernah ditolak sebelumnya. Ini juga terlihat seperti tantangan yang menyiratkan 'kalau kalian merasa lebih percaya diri dariku, silakan saja dekati dia'."

"Begitu ya, ngomong-ngomong... aku tidak menyangka Senior Takura pun bisa merasa cemas karena hal seperti itu."

Ketika Minamo berkata dengan nada agak kesulitan, Iori yang datang mendekat melipat kedua tangannya sambil mengangguk setuju berkali-kali.

"Aku mengerti perasaan Senior Takura. Aku sendiri juga merasa cemas kalau Ema didekati oleh cowok lain di kelas barunya nanti."

"Eh? Bukankah Isami-san sudah mengumumkan di kelas sebelah kalau dia pacaran dengan Iori? Meskipun begitu tetap saja cemas?"

"Meskipun begitu, rasa cemas ya tetap saja cemas, mengertilah!"

"Haa..."

Ketika Hayato memberikan respons seolah tidak paham, Minamo pun tertawa kecil "Ahaha" dengan senyuman serba salah.

Begitu jam istirahat siang tiba, Ikki melontarkan kalimat ini sebelum meninggalkan kelas.

"Aku mau ke koperasi sekolah, jadi duluan saja!"

Hayato menjawab "Oura," lalu berjalan bersama Iori dan Minamo menuju markas rahasia.

Saki dan Ema ternyata sudah tiba di sana lebih dulu.

Ema yang menyadari kedatangan mereka menyapa dengan sedikit ekspresi bermasalah.

"Suasana di kelas I-chan tadi pasti berat banget, ya?"

Iori menjawab sambil mengangkat bahu.

"Soal Senior Takura, keributan memang sempat terjadi saat bel masuk pagi karena orang-orang berkumpul, tapi setelah itu tidak separah yang kubayangkan. Meskipun begitu, senior itu terus saja mendatangi Ikki seharian. Kan, Hayato?"

"Ah, ya. Lagian semua orang juga tahu soal pernyataan cinta terbuka di malam pasca-festival."

Saat Hayato mengalihkan pandangannya ke arah Minamo untuk meminta persetujuan, Minamo mengerutkan keningnya dan melanjutkan.

"Senior Takura benar-benar memancarkan aura 'jangan mendekati Ikki-san' yang kuat sekali pada siswi-siswi lain."

Ema pun tersenyum masam dan berkata, "Begitu ya." Sela itu, Saki menyela dengan nada sedikit merasa bersalah.

"Tapi anak kelas satu tidak ada yang tahu soal itu, jadi di kelasku banyak anak yang sangat penasaran soal Kaidou-san."

Yang lain tersenyum kaku, merasa kalau hal itu memang wajar.

Lalu mereka duduk di tempat masing-masing, membuka bekal makan siang, dan mulai makan di dalam suasana yang sulit dijelaskan.

Tepat pada saat itu, pintu masuk berderit terbuka.

"Maaf, aku terlambat! Di jalan tadi sempat tertahan macam-macam..."

Ikki datang membawa roti laju dan teh kotak kemasan kertas yang dibelinya dari koperasi.

Dibandingkan dengan waktu saat ia melesat keluar kelas tadi, Ikki membutuhkan waktu yang agak lama, membuat Hayato menggodanya dengan nada usil.

"Ada apa, Ikki? Jangan-jangan kamu dicegat orang buat minta tanda tangan atau foto?"

"...Kurang lebih begitu. Aku dicegat sekelompok anak kelas satu yang minta foto bareng. Aku kan tidak enak menolak anak baru."

"Seriusan?"

Ikki mengangkat bahu dengan ekspresi seolah berkata mau bagaimana lagi.

Padahal Hayato hanya berniat melontarkan gurauan, namun karena hal itu dibenarkan oleh yang bersangkutan, ia pun terkejut sementara Iori meniupkan peluit pelan saking takjubnya.

Mengingat ucapan Saki barusan, situasi seperti ini sebenarnya sangat mudah dibayangkan.

Saat Hayato sedang ragu bagaimana harus merespons, Senior Shiratori yang berwajah penuh rasa bangga tiba-tiba melompat keluar dari balik punggung Ikki.

Senior Shiratori memasang pose agak bergaya lalu bersenandung dengan nada dramatis.

"Dan aku yang kebetulan lewat di sana, langsung melangkah maju dan menyelamatkannya dengan sigap!"

"Senior... Shiratori..."

Menghadapi kemunculan sosok yang sama sekali tidak disangka-sangka, Hayato membelalakkan matanya dan menahan napas.

Iori, Ema, dan Minamo juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa, sehingga mereka saling berpandangan.

Di antara mereka semua, hanya Saki yang tampak mengerjap-ngerjapkan mata karena tidak begitu mengerti situasi.

Meskipun Senior Shiratori adalah orang yang ramah dan mudah diajak bicara, serta telah membangun hubungan yang baik melalui Haruki dalam berbagai acara seperti festival budaya, ia tetap saja merupakan Wakil Ketua OSIS yang bertugas menegakkan kedisiplinan.

Saat ini, markas rahasia ini sedang dalam status penggunaan ruang kelas kosong secara ilegal tanpa izin.

Sekalipun mereka berargumen bahwa mereka kebetulan menemukannya hari ini dan menggunakannya, ada banyak barang pribadi seperti bantal sofa di sini.

Walaupun bukan pelanggaran peraturan sekolah secara telak, tempat ini jelas berada di zona abu-abu. Sebagai anggota OSIS, ia pasti tidak akan memandangnya dengan sebelah mata.

Lagipula, tempat ini adalah markas rahasia.

Sebuah tempat suci yang hanya diketahui oleh orang-orang yang sangat dekat dengan Haruki, bukanlah tempat yang bisa sembarangan diajarkan ke orang lain.

Ikki seharusnya menyadari hal itu. Meskipun begitu, kenapa ia membawa orang ini, Hayato menatap tajam penuh teguran, namun Ikki justru membalasnya dengan senyuman cerah penuh kenakalan, membuat kerutan di dahi Hayato semakin dalam.

Sementara itu, Senior Shiratori melangkah masuk ke dalam markas rahasia dengan langkah ringan diiringi senandung, matanya berbinar-binar melihat sekeliling, lalu berseru riang.

"Wah, aku tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di gedung sekolah lama! Mirip tempat persembunyian atau markas rahasia, seru juga ya. Maksudku, suasananya terasa sangat muda dan kalian bikin aku iri banget!"

"Um, itu... Senior Shiratori ada perlu apa ke sini...?"

"Huops, jangan pasang ekspresi siaga begitu. Aku tidak berniat mempermasalahkan ruangan ini, kok."

"Haa..."

Menyadari tatapan Hayato, Senior Shiratori mengangkat kedua tangannya secara berlebihan seolah menegaskan bahwa ia tidak berniat memusuhi, namun kemudian ia tertawa kecil penuh arti.

Di tengah kebingungan orang-orang selain Ikki, Senior Shiratori berdehem sekali. Lalu, ia merentangkan kedua tangannya secara dramatis dan mengutarakan tujuan utamanya.

"Kalian semua, maukah kalian menjadi panitia turnamen olahraga?"

"...Maksudnya gimana?"

Karena datang secara tiba-tiba, Hayato tidak dapat menangkap maksud dari perkataan tersebut dan menatap Senior Shiratori dengan pandangan penuh curiga.

Lalu Ema dengan hati-hati mengangkat satu tangan dan bertanya untuk memastikan kepada Senior Shiratori.

"Maksudnya acara yang akan diadakan akhir bulan ini, ya?"

"Yup, betul sekali turnamen olahraga itu. Acara yang menggabungkan orientasi dan rekreasi agar bisa beradaptasi dengan kelas baru. Di saat-saat seperti ini, orang-orang yang biasanya diandalkan untuk membantu malah menjadi populer dan menghilang, jadi kami kekurangan tenaga dan benar-benar kewalahan."

Senior Shiratori tertawa kecil sambil menepuk dahinya sendiri. Pantas saja, selama ini Haruki memang banyak membantu pekerjaan OSIS. Ia sangat ingat betapa Haruki berlari kesana kemari bersama Senior Shiratori pada festival budaya tahun lalu. Karena Haruki sudah tidak ada, wajar saja jika mereka menjadi sibuk.

Situasinya sudah bisa dipahami. Namun, karena ada satu hal yang ia anggap janggal, Hayato pun menanyakannya.

"Kenapa harus kami?"

Sebagai Wakil Ketua OSIS, Senior Shiratori memiliki pengaruh yang besar dan seharusnya punya banyak koneksi lain. Jika ia mengajak orang lain, sepertinya akan banyak yang bersedia mengiyakan.

Tampaknya hal yang sama juga dipikirkan oleh yang lain, terlihat dari ekspresi penasaran di wajah mereka.

Mendengar itu, Senior Shiratori membusungkan dadanya dengan bangga dan menjawab dengan wajah penuh kemenangan.

"Ya karena kalian adalah teman-temannya Nikaidou-san!"

"Haa, memang benar sih. Tapi kalau maksud Kakak meminta kami membuat semacam acara kejutan untuk Haruki lewat bantuan kami, itu hal yang tidak mungkin."

"Bukan, bukan begitu! Nikaidou-san tahun lalu saat festival budaya dan setelahnya sempat menjadi pusat keributan, kan? Aku mengandalkan kemampuan kalian yang berhasil menangani situasi itu dengan bersih saat itu! Ditambah lagi, rasanya bakal seru saja!"

Sambil berbicara demikian, Senior Shiratori mengarahkan jarinya ke arah mereka dengan gaya yang agak teatrikal.

Meskipun ia banyak bicara, alasan terakhir sepertinya adalah dorongan terbesar, dan itu memang sangat mencerminkan kepribadian Senior Shiratori. Kendati demikian, jujur saja mereka merasa sulit untuk langsung memutuskan karena datang secara tiba-tiba.

Meskipun begitu, Senior Shiratori diam-diam pernah membantu mereka saat identitas Haruki sebagai anak Takura Mao terbongkar dan ia dikerumuni di lingkungan sekolah, dengan berpura-pura mengatakan ada urusan OSIS untuk menyelamatkannya.

Merasa bahwa tidak ada salahnya membantu sebagai bentuk balas budi jika pihak OSIS memang sedang kesulitan kekurangan tenaga, Hayato baru saja hendak membuka mulut ketika Saki tiba-tiba mengangkat satu tangan dan berseru lantang kepada semua orang.

"Aku ingin menjadi panitia, bersama-sama dengan kalian!"

"Saki-san...?"

Ketika Hayato menatapnya dengan terkejut, Saki menyampaikan alasannya dengan sungguh-sungguh dan penuh ketulusan.

"Aku juga ingin berpartisipasi dalam acara seperti ini bersama kalian semua. Tapi, tingkatan kelas kita berbeda... tapi kalau panitia turnamen olahraga, kita bisa bergabung bersama tanpa membatasi batasan kelas satu dan kelas dua, kan!?"

Hayato menatap Saki dengan mata membelalak. Saki menatapnya balik dengan sedikit rasa malu, namun sorot matanya lurus dan mantap. Benar seperti kata Saki, kegiatan sekolah semacam ini sebagian besar dilakukan berdasarkan unit kelas atau tingkat angkatan.

Namun jika posisinya berada di pihak penyelenggara acara, ceritanya tentu akan berbeda.

Senior Shiratori turut memperkuat perkataan Saki dengan menjentikkan jarinya dan berkata, "Tentu saja, kami para anak kelas tiga juga akan ikut bergabung!"

——Ingin menikmati acara sekolah bersama-sama.

Menerima keinginan tulus dari Saki tersebut, jawaban apa lagi yang harus Hayato berikan selain menyetujuinya.

"Baiklah, ayo kita bantu."

"Tentu saja, aku juga ikut!" "Aku juga akan ikut berpartisipasi!" "A-Akan aku lakukan yang terbaik!"

Iori, Ema, dan Minamo langsung menyusul memberikan persetujuan, dan Senior Shiratori mengangguk puas melihat reaksi mereka semua.

"Nah, nah, aku sudah menduga kalian pasti akan mengatakan itu!"

Dan ketika Senior Shiratori mulai tertawa dengan suara khasnya yang sombong, Saki mencondongkan tubuhnya ke depan dan memberikan usulan.

"Um, sebenarnya ada satu hal yang ingin kucoba lakukan!"

"Hoho, mari kita dengar ceritanya!"

Saki sepertinya memiliki hal yang ingin ia wujudkan dalam turnamen olahraga kali ini.

Ia mengajak Ema dan Minamo untuk ikut serta ke dalam pembicaraan tersebut.

Hayato menatap Saki yang semakin menunjukkan sisi proaktif sejak masuk SMA dengan rasa takjub campur kagum, sementara Ikki di sampingnya meminta maaf dengan ekspresi bersalah.

"Maaf ya, Hayato-kun. Aku tiba-tiba membawa Wakil Ketua ke tempat ini. Aku sudah bilang padanya kalau aku mau pergi ke tempat rahasia yang berkaitan dengan Nikaidou-san..."

"Karena kamu ditolong, jadi susah menolaknya, begitu?"

"Ya, ada alasan itu juga, tapi Senior Shiratori bilang dia sama sekali tidak bermaksud buruk pada ruangan ini, dan dia adalah pihak yang berpihak pada Nikaidou-san."

"Makanya kamu sengaja membawanya ke sini dengan harapan bisa menjadikannya 'rekan konspirator', ya."

"Ahaha, itu terdengar jelek, tapi ya kurang lebih begitu. Kalau kita ingin menjaga tempat ini, kurasa lebih baik menjadikannya kawan. Meskipun begitu, aku memang seharusnya menghubungi kalian dulu sebelumnya."

"Tidak apa-apa, lupakan saja. Tidak ada seorang pun yang akan menyalahkan Ikki. Lagipula, semua ini demi Haruki, kan?"

"Ya, karena dia teman kita."

——Teman.

Mendengar jawaban Ikki yang diucapkan tanpa ragu sedikit pun, Hayato menyipitkan matanya dengan ekspresi rumit, lalu menjawab dengan nada sedikit gemas.

"Ya, benar juga."

Sejak hari itu hingga hari pelaksanaan turnamen olahraga, Hayato dan yang lainnya berlari kesana-kamari membantu persiapan bersama Senior Shiratori.

Turnamen olahraga ini dibagi ke dalam empat kelompok warna yaitu Merah, Putih, Biru, dan Kuning berdasarkan kelas, di mana masing-masing kelompok saling bersaing memperebutkan poin.

Pertandingannya bukan hanya olahraga yang biasa dilakukan di jam pelajaran penjaskes seperti sofbol, bola basket, sepak bola, bola voli, tenis meja, dan bulu tangkis, tetapi juga ada unsur permainan variasi yang menggunakan bola seperti tarik tambang, balap karung, estafet sendok, hingga lari estafet raksasa, mirip seperti acara festival olahraga kecil.

Hal ini tentu saja akan mendongkrak kemeriahan, memfasilitasi interaksi, dan membantu mempererat hubungan antar-siswa.

Namun di sisi lain, beban kerja bagi panitia pelaksana yang didominasi oleh OSIS juga sangat besar.

Begitu mereka mulai ikut membantu, mereka dihadapkan pada seabrek pekerjaan administratif yang memusingkan, mulai dari memeriksa perlengkapan, membuat formulir pendaftaran peserta, menyusun program acara, hingga jadwal tugas hari-H.

Alasan mengapa Senior Shiratori datang meminta tolong akhirnya sangat bisa dipahami. Peribahasa 'bahkan bantuan kucing pun akan diterima' benar-benar menggambarkan situasi mereka saat itu.

Di tengah kesibukan mempersiapkan segala sesuatunya, hari pelaksanaan turnamen olahraga pun tiba dalam sekejap mata.

Langit cerah membentang luas tanpa ada satu pun awan yang menghalangi.

Angin sepoi-sepoi yang membelai pipi terasa begitu nyaman dan membuat cuaca terasa sangat menyenangkan.

Hari yang sempurna untuk sebuah acara, hari yang luar biasa untuk turnamen olahraga.

Kalau begitu, turnamen olahraga tahun ini resmi dimulai~!

Dipicu oleh seruan pembukaan dari Senior Shiratori yang terdengar santai, turnamen olahraga pun dimulai.

Di dalam tenda bertuliskan 'Posko Utama' yang terletak di sudut lapangan, Hayato turut mengirimkan tepuk tangan meriah.

Saki datang mendekatinya dan tersenyum sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.

"Mari kita buat acara ini jadi meriah juga!"

"Ya!"

Hayato membalas senyuman Saki dan mengikuti instruksi dari Senior Shiratori yang kembali ke posko utama.

Sorak-sorai langsung bergema dari berbagai penjuru, dan pertandingan sengit pun digelar. Semua orang tampak sangat menikmati kompetisi tersebut.

Melihat pemandangan itu, wajah Hayato mengembang. Persiapannya memang melelahkan, tetapi kerja keras itu terbayar sudah.

Kendati demikian, turnamen olahraga baru saja dimulai, dan masih banyak tugas yang harus diselesaikan hari itu.

Ketika Hayato hendak melangkah menuju gudang perlengkapan di gedung sekolah lama untuk mempersiapkan perlengkapan program berikutnya, seseorang memanggil punggungnya.

"Aku juga akan ikut membantu, Hayato-kun! Apa yang harus kulakukan?"

Saat menoleh, ia melihat Ikki berlari mendekat sambil melambaikan tangan.

"Boleh kah? Kalau boleh, itu sangat membantu. Aku tadinya mau pergi mengambil bola untuk permainan memasukkan bola ke keranjang, jadi tolong bantu aku membawanya."

"Oke. Waktu persiapan kemarin aku tidak bisa membantu banyak, jadi setidaknya ini harus kulakukan."

"Habisnya mau bagaimana lagi. Ikki kan sedang sibuk-sibuknya karena baru debut, kan?"

"Yah, begitulah."

Ikki mengerutkan keningnya dengan ekspresi serba salah. Hayato mendengus kecil dan berkata, "Sudah kuduga."

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong yang sepi dari keramaian.

Interaksi kasual yang sama seperti biasanya. Hal itu membuat mereka seolah-olah tertipu bahwa sama sekali tidak ada yang berubah.

Namun, Ikki baru saja debut sebagai model beberapa hari lalu. Karena merupakan adik dari MOMO, ia juga menjadi topik hangat yang diperbincangkan di masyarakat.

Di sekolah, meskipun popularitasnya tertutup oleh bayang-bayang Haruki dan Yuzu yang sering datang ke kelas untuk berjaga-jaga dari siswi lain, Hayato sering kali mendengar namanya mulai dibicarakan oleh orang-orang yang peka terhadap fesyen dan gaya berpakaian, dikaitkan dengan sang kakak, MOMO.

Berdasarkan cerita dari Saki, rumor mengenai Ikki sudah mulai beredar di kalangan anak kelas satu, dan beberapa di antara mereka bahkan secara khusus datang untuk melihat langsung wujud Ikki.

Ikki tetap datang ke sekolah seperti biasa dan mengikuti pelajaran, namun begitu jam pulang sekolah tiba, ia langsung bergegas pulang.

Itu karena ia harus langsung menuju agensi model. Tampaknya masih banyak hal yang harus ia pelajari.

Itulah sebabnya ia keluar dari klub sepak bola, dan bahkan tidak bisa lagi datang membantu di toko wagashi Shiro.

Bahkan untuk bermain bersama saat libur pun tidak akan bisa untuk sementara waktu.

Tentu saja, ia hampir tidak bisa membantu persiapan turnamen olahraga, membuat Ikki tampak merasa tidak enak.

Ia merasakan secara perlahan namun pasti, hubungan di antara dirinya dan Ikki pun mulai mengalami perubahan.

Namun, berbeda dengan Haruki, ia masih bisa mengobrol secara biasa dengan Ikki seperti ini.

Entah karena Ikki tidak separah Haruki dalam hal menjadi pusat perhatian, ataukah karena mereka sesama laki-laki, alasannya tidak diketahui secara pasti.

Hanya saja, ia merasa bahwa status mereka sebagai teman tidak akan pernah berubah.

Seiring berjalannya waktu, saat mereka semakin mendekati gedung sekolah lama, kebisingan dari turnamen olahraga mulai terdengar samar-samar.

Jika melirik sekilas ke samping, Ikki tetap memasang wajah santai seperti biasa.

Namun belakangan ini, Hayato juga menyadari bahwa Ikki terkadang menunjukkan ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya—sebuah ekspresi serius yang tampak sangat terbebani oleh pemikiran mendalam.

Mengingat waktunya yang bertepatan dengan dimulainya pekerjaan sebagai model, sangat wajar jika menghubungkannya dan mengira ada sesuatu yang sedang terjadi.

Apakah dunia hiburan memang sekeras itu? Begitu memikirkan hal itu, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.

Setibanya mereka di gudang perlengkapan gedung lama dan mulai mencari letak bola-bola tersebut, Hayato memberanikan diri bertanya kepada Ikki.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu tiba-tiba memutuskan jadi model?"

Ikki sedikit tersentak kaget, lalu bergumam dengan suara yang agak kaku.

"Begitu ya, di mata Hayato-kun hal ini terlihat mendadak, ya. Sebenarnya ini bukan keputusan yang diambil secara tiba-tiba. Sebenarnya, sebelum Natal tahun lalu pun aku sudah mendiskusikan hal ini dengan Kakak dan Houji-san."

"Eh, yang benar saja. Bukankah itu sebelum Haruki memutuskan jadi idol?"

"Betul."

Ikki mengangkat bahu sambil berkata demikian, membuat Hayato menatapnya dengan pandangan takjub.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ikki sudah memikirkan untuk menjadi model sejak jauh-jauh hari.

Sampai beberapa hari lalu, Ikki sama sekali tidak menunjukkan gerak-gerik ke arah sana, dan seperti halnya Haruki, Ikki tidak pernah menunjukkan ketertarikan khusus pada dunia hiburan sebelumnya, itulah yang membuat Hayato semakin terkejut.

Karena itulah, perkataan Ikki beberapa hari lalu tentang 'mengumpulkan informasi mengenai Haruki' terasa semakin terdengar seperti alasan yang dibuat-buat di kemudian hari.

Kira-kira apa yang membuat Ikki bertekad untuk menjadi seorang model? Dalam kasus Haruki, motivasinya adalah untuk berhadapan langsung dengan sang ibu, jadi ia bisa mengerti mengapa gadis itu menjadi idol.

Namun untuk Ikki, ia benar-benar sama sekali tidak bisa menebaknya. Rasa penasaran itu akhirnya terucap begitu saja dari mulutnya.

"Apakah Ikki sangat ingin menjadi model sampai segitunya...?"

Mendengar kata-kata Hayato, Ikki menghela napas pendek dan mulai berbicara dengan sedikit keraguan.

"...Aku ingin mengubah diriku yang sekarang."

"Mengubah diriku...?"

"Kalau dipikir-pikir dari arti itu, sebenarnya tidak harus menjadi model pun tidak apa-apa sih."

"Apakah hal itu ada hubungannya dengan pernyataan cinta dari Senior Takura dan Airi Sato? ...Ah, um, kalau itu hal yang sulit dijawab, tidak usah dijawab juga tidak apa-apa."

Ketika Hayato menanyakan satu-satunya kemungkinan yang terlintas di kepalanya, Ikki menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kikuk.

"Bukan, Senior Yuzu dan Airi sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi, karena aku melihat langsung bagaimana kedua orang itu berubah menjadi sosok yang jauh lebih menarik melalui jalur dunia hiburan, mungkin itu yang menjadi pemicu langkahku menempuh jalan sebagai model."

"Huuw... tapi bagaimanapun juga, kamu terlihat menekuni pekerjaan model ini dengan cukup serius, kan?"

Ikki menghentikan gerakannya, membelalakkan matanya menatap Hayato, lalu tersenyum kecil karena malu.

"Yah, kalau sudah dilakukan, kita harus melakukannya dengan serius. ...Meskipun aku tahu ini adalah pertarungan yang mustahil untuk dimenangkan."

"Hei, hei, pertarungan yang mustahil, ya."

Mendengar cara bicara Ikki, Hayato menanggapinya sambil tersenyum masam.

Lalu Ikki menyipitkan matanya dan merespons dengan nada suara yang terasa begitu berbahaya.

"Saat kamu benar-benar terjun ke dunia profesional, kamu akan disadarkan secara telak betapa hebatnya orang-orang di sekelilingmu. Bakat Kakak, ketekunan Airi... dan Nikaidou-san adalah—sesosok monster."

"…………"

——Monster. Ah, begitu ya, istilah yang sangat tepat.

Melalui ungkapan Ikki yang tidak dimiliki oleh Hayato—yang hanya bisa melihat dari luar saja—membuatnya menelan ludah dengan susah payah.

Sejak Haruki tampil di panggung utama, cara gadis itu langsung menyedot seluruh perhatian publik dalam sekejap memang benar-benar menggambarkan sosok tersebut.

Ikki yang berada langsung di lokasi syuting pasti merasakan jurang perbedaan yang begitu nyata dengan dirinya sendiri. Ikki bergumam dengan ekspresi agak lelah.

"Sungguh, aku hanya disadarkan kembali betapa tidak berbakatnya diriku. Aku ini bisa terjun ke sini murni karena koneksi belaka. Mungkin di awal-awal aku bisa menarik perhatian lewat topik hangat sebagai 'adik Momoka', tapi kalau aku tidak bisa meninggalkan hasil setelah itu, aku pasti akan langsung dilupakan dalam waktu singkat."

"Itu..."

"Tapi itulah kenyataannya. Aku tahu ini adalah dunia yang kejam. Tapi justru karena itulah, dunia ini sangat layak untuk ditantang."

Sambil berkata demikian, Ikki menyunggingkan senyuman yang bahkan terasa buas, membuat Hayato terkesiap.

Ia tidak pernah berpikir bisa mengalahkan para profesional di bidang yang sama.

Meskipun begitu, ia tidak menyerah untuk menantangnya. Ia pasti akan hancur lebur di tengah jalan. Sebuah tantangan dengan kesadaran penuh bahwa hal itu adalah tindakan yang nekat.

"Sebenarnya apa yang membuatmu sampai..."

Khawatir, kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Hayato.

Menanggapi hal itu, Ikki menunjukkan ekspresi paling serius yang belum pernah dilihat oleh Hayato sebelumnya.

"Di dalam diriku, ada sesuatu yang sama sekali tidak boleh kulepaskan."

Ikki yang menegaskan hal itu entah mengapa tumpang tindih dengan sosok Haruki—membuat Hayato tidak mampu mengatakan apa pun lagi.

Ikki sedang melangkah maju dengan membabi buta di jalan yang telah ia tentukan sendiri.

Fakta itu kini bisa ia pahami dengan amat sangat jelas.

Setelah mengantarkan bola ke tempat yang telah ditentukan, Hayato dan Ikki kembali ke posko utama.

Lalu, mengikuti instruksi dari Senior Shiratori, mereka berdua mengerahkan tenaga agar turnamen olahraga dapat berjalan dengan lancar.

Banyak hal yang membuat mereka kebingungan karena baru pertama kali mengalaminya, namun mereka tetap berhasil menangani pekerjaan di balik layar dengan bekerja sama bersama yang lain.

Di lapangan dan di gedung olahraga, pertandingan yang menegangkan digelar, dan suasana panas bergemuruh di udara.

Program demi program berjalan dengan lancar dan waktu makan siang semakin dekat, ketika Hayato sedang menuju posko utama untuk meminta instruksi berikutnya, ia menyadari suasana di sekitarnya terasa menegang secara tidak wajar.

Apakah sesuatu telah terjadi?

Meskipun ada sedikit insiden seperti papan nomor skor yang kurang, mereka toh bisa mengatasinya dengan cukup baik dan sepertinya tidak ada masalah berarti yang terjadi.

Saat Hayato memiringkan kepalanya karena bingung, Iori yang tampak gelisah datang mendekat dan mencengkeram bahu Hayato dengan lemah seolah bersandar, lalu menghela napas panjang.

"Haa, entah kenapa aku jadi ikut gugup."

"Begitukah? Aku malah sudah mulai terbiasa dan tidak merasa cemas lagi."

Ketika Hayato menjawab dengan heran, Iori mengerjap-ngerjapkan mata lalu tertawa dengan nada gemas.

"Hei, hei, kamu lupa apa program terakhir di sesi pagi ini?"

"Pertandingan yel-yel dukungan, kan?"

"Ingatlah, Ema juga ikut serta di kelompok sukarelawan itu."

"Ah—"

Sesi terakhir di pagi hari adalah yel-yel dukungan. Selain dari masing-masing kelompok Merah, Putih, Biru, dan Kuning, ada juga kelompok sukarelawan yang dipimpin oleh OSIS.

Ema, Saki, dan Minamo dijadwalkan ikut ambil bagian dalam yel-yel sukarelawan tersebut.

"Bukannya apa-apa, tapi aku terus menemani Ema latihan bahkan sepulang ke rumah, dan begitu tiba di hari H yang sesungguhnya..."

"Begitu ya, kamu cemas apakah pacarmu bisa melakukannya dengan benar, ya."

"Mana ada orang yang tidak cemas kalau menyangkut hal yang dikhawatirkan! Lagian aku juga benci kalau ada cowok lain yang terpesona dan mendekati Ema gara-gara penampilan itu!"

"Bilang saja kalau kamu lagi memamerkan kemesraan!"

"Berisik! Pernah kejadian sebelumnya, jadi wajar saja kalau aku cemas!"

"Soal itu... maaf."

Hayato meminta maaf dengan ekspresi serba salah setelah teringat kejadian di masa lalu, ketika Ema sempat didekati oleh seorang senior klub bola basket yang tidak tahu bahwa Ema berpacaran dengan Iori, yang berujung pada kecanggungan di antara mereka berdua.

Mendengar itu, Iori memasang ekspresi geli lalu menghela napas panjang "Haa", sebelum melontarkan godaan kepada Hayato.

"Sifatmu memang sangat mirip Hayato, kalau sudah terlalu asyik dengan hal di depan mata, kamu jadi tidak bisa melihat hal-hal lain."

"Eh, emangnya aku punya imej seperti itu?"

Hayato memasang wajah cemberut seolah tidak terima, yang ditanggapi Iori dengan senyuman masam penuh keheranan.

"Tentu saja, buktinya waktu identitas Nikaidou terbongkar dan dia diincar oleh orang-orang dunia hiburan, kamu nekat membawanya kabur sampai ke Hokuriku, kan? Oh, dan sebelum itu, sewaktu festival budaya, kamu nekat naik Shinkansen demi mendamaikan Mitake-san dengan ayahnya. Belum lagi yang lain-lainnya—"

"Ugh..."

Disadarkan atas perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lalu, Hayato kehilangan kata-kata untuk membalas.

Iori mengguncang bahunya sambil menahan tawa kecil.

"Yah, aku justru suka sisi dirimu yang seperti itu, sih."

"Terima kasih atas pujiannya. Jadi, kembali ke topik awal, apa benar-benar separah itu sampai Iori jadi segugup ini?"

"Jelaslah. Soalnya urusan Ema itu rasanya sudah seperti urusanku sendiri."

"Huuw, begitu ya."

"Ngomong-ngomong soal Hayato, apa kamu tidak merasa cemas atau apa gitu soal Himeko-chan?"

"Aku..."

Mendengar Iori yang tiba-tiba menyinggung soal Saki, jantung Hayato langsung berdegup kencang.

Bukan rahasia lagi bahwa orang yang memikirkan koreografi untuk penampilan sukarelawan itu adalah Saki. Isinya adalah tarian yang disesuaikan dengan lagu debut Haruki.

Gerakannya sedikit memodifikasi tarian yang dibawakan oleh Haruki dan Mari di dalam video musik, membuatnya tampak sangat memukau meskipun dibawakan oleh banyak orang.

Kostumnya pun seragam dengan pakaian pemandu sorak (cheerleader).

Ia teringat saat jam pulang sekolah, para anggota sukarelawan berkumpul dan berlatih di sudut lapangan.

Saat itu, Saki yang merancang tarian tersebut bertindak sebagai contoh dan membimbing yang lain meskipun masih duduk di kelas satu.

Hayato mengenang pemandangan latihan tersebut, lalu memasang ekspresi tenang sambil menelan rasa pahit di dalam hatinya.

"Aku sama sekali tidak khawatir. Lagipula, tariannya kan dipikirkan sendiri oleh Saki-san, jadi kecil kemungkinan dia akan melakukan kesalahan."

"Benar juga sih. Ngomong-ngomong, aku kaget karena Miko-chan punya keahlian khusus seperti itu."

"Katanya sih, itu adalah aplikasi dari tarian kagura."

"Meskipun begitu, hal seperti itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan oleh orang biasa, ya. Aku dengar dari Ema, dia bahkan dipuji oleh orang-orang sekitar dengan sebutan 'Pantas saja dia sahabat baik Nikaidou!'"

"...Begitukah."

Mendengar penilaian objektif dari Iori mengenai Saki, dadanya bergemuruh.

Hayato sendiri pun sering mendengar pujian serupa yang ditujukan kepada Saki.

Tarian kagura Saki yang selalu ia saksikan di Tukinose sungguh sangat memukau.

Orang-orang yang melihat wujud Saki menari pasti akan terpesona.

Mereka pasti akan semakin menggunjingkan bahwa Saki memang sangat pantas menjadi sahabat seorang Haruki.

Justru karena ia sangat menyadari hal itu, Hayato menyimpan perasaan yang rumit di dalam hatinya.

Saat ia memasang ekspresi masam sambil berpikir keras, Iori menepuk punggungnya pelan.

"Nah, sepertinya kita dipanggil. Ayo kita pergi juga."

"Ah."

Ruang OSIS, terletak agak jauh dari hiruk-pikuk turnamen olahraga.

Ruangan itu digunakan sebagai ruang ganti sekaligus ruang tunggu bagi para anggota sukarelawan yang berpartisipasi dalam yel-yel dukungan.

Saat ini di lapangan, pertunjukan dukungan dari kelompok Merah, Putih, Biru, dan Kuning sedang berlangsung dan memeriahkan suasana.

Giliran orang-orang yang ada di ruangan ini akan tiba setelah itu, membuat semua orang yang akan tampil tampak menegang dan membisu.

Di tengah situasi tersebut, Saki yang telah mengenakan kostum pemandu sorak meletakkan tangan di dadanya, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam.

"Fuu............ Yosh."

Sama seperti saat ia mempersembahkan tarian kagura di kuil Tukinose, ia mulai merangkai gambaran tarian itu di dalam kepalanya.

Tidak masalah, semuanya sudah sempurna. Ia memiliki keyakinan penuh akan hal itu.

Bukan hanya kesadaran mentalnya saja, tetapi tubuhnya pun telah menghafal setiap gerakan tariannya.

Baik versi aransemen yang sekarang maupun versi aslinya. Bagaimanapun juga, sejak Haruki debut, ia terus-menerus menonton video musik sahabatnya itu.

Harapan dan euforia tersembunyi bergejolak di dalam dada Saki.

Tiba-tiba, Ema yang tubuhnya menegang kaku datang menghampirinya.

"Uwaa, aku jadi gugup. Aku kan baru pertama kali ikut hal seperti ini."

"Tidak apa-apa. Isami-san dan semuanya tampil dengan sangat sempurna saat latihan. Lagipula ada banyak orang lain yang ikut menari bersama kita, jadi tidak ada seorang pun yang akan peduli dengan sedikit kesalahan kecil."

"Yah, mungkin saja sih... haa, Saki-chan ternyata punya mental yang sangat kuat ya. Bahkan sekarang pun kamu terlihat sangat tenang."

Ema bergumam dengan nada kagum, lalu mengarahkan pandangannya ke sekeliling.

Para anggota lain yang menunggu giliran di dalam ruang OSIS tampak gelisah dan tidak tenang, atau seperti Ema yang dikuasai rasa gugup.

Di tengah situasi seperti itu, Saki yang tetap tenang tentu akan terlihat berbeda dari yang lain.

Saki sedikit mengerutkan alisnya dengan sopan.

"Aku sudah sering menari kagura di hadapan banyak orang sejak dulu. Jadi dalam artian tertentu, aku sudah terbiasa."

"Ah, benar juga, kamu dulunya seorang miko ya."

"Iya. Dibandingkan dengan itu, karena kali ini tidak sendirian, kalaupun ada kesalahan tidak akan terlalu mencolok, jadi terasa lebih santai."

Saki tersenyum lembut.

Melihat itu, Ema mengembuskan napas seolah ketegangannya lepas.

"Haa, begitu ya. Kata-kata Saki-chan memang benar."

"Lagipula ini adalah panggung besar yang sayang jika dilewatkan, hal seperti ini paling enak dinikmati oleh siapa pun yang bisa menikmatinya."

"Benar, Saki-chan ini ada-ada saja!"

Ema yang kembali mendapatkan semangatnya tersenyum lebar dengan ekspresi riang seperti biasanya.

Lalu orang-orang lain yang mendengarkan percakapan mereka dari dekat pun mulai tersulut semangatnya, seperti "Mungkin kata Murao-san memang benar ya", "Pasti akan jadi kenangan yang luar biasa!", hingga "Rasanya rugi kalau tidak menikmati momen di sini!". Jika suasananya seperti ini, semuanya pasti akan mempersembahkan penampilan terbaik mereka di hari H.

Bukan hanya Ema, para anggota lainnya pun melepaskan ketegangan di pundak mereka, sementara tekad dan semangat membara mulai meluap di dalam diri mereka.

Melihat pemandangan itu, Saki turut tersenyum manis.

Sejak Haruki debut sebagai idol selepas tahun baru dan tidak lagi menampakkan wujudnya di hadapannya, ada satu hal yang terus dipikirkan oleh Saki.

——Apakah dirinya sendiri benar-benar bisa berdiri sejajar dengan Haruki?

Di hari kepulangan mereka dari pesta Natal pada akhir tahun lalu.

Haruki mencurahkan isi hatinya hanya kepada Saki, sekaligus mengatakan bahwa mereka berdua adalah sahabat sekaligus saingan. Betapa bahagianya ia karena diakui sebagai sosok yang setara.

Namun, bagaimana dengan situasi saat ini?

Di satu sisi adalah seorang siswi SMA biasa asal desa, sementara di sisi lain adalah seorang idol yang berada di puncak popularitas.

Saki sama sekali tidak memiliki kemampuan menyanyi, daya tarik eksistensial, ataupun bakat akting yang mampu melesat ke puncak dunia hiburan dalam sekejap dan memikat banyak orang seperti Haruki. Ia merasa sama sekali tidak bisa menandinginya.

Terlepas dari apa pun pemikiran pihak yang bersangkutan, secara objektif sudah jelas ada jurang perbedaan di antara mereka.

Namun, ada satu hal.

Tarian kagura yang ia tekuni dengan tenang sejak sebelum ia mengerti banyak hal.

Itulah satu-satunya cara ekspresi bagi Saki untuk menyuarakan isi hatinya melebihi kata-kata.

Sesuatu yang bahkan pernah diakui oleh Haruki sendiri sebagai hal yang tidak bisa ia tandingi.

Khusus untuk urusan menari, ia tidak akan pernah mau kalah dari Haruki. Bagaimanapun juga, Hayato—pria yang dicintainya—sudah sejak lama mengatakan bahwa tariannya bukan hanya sekadar indah, melainkan juga keren.

Jika ini dianggap sebagai rasa persaingan kekanak-kanakan terhadap seorang idol populer, ya sudahlah terserah apa kata orang.

Namun, memang benar bahwa hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia lepaskan.

Dan ia digerakkan oleh dorongan yang menyerupai rasa tanggung jawab untuk mengerahkan seluruh tenaga dan mencurahkan semuanya kepada Haruki.

Saat Saki sedang memantapkan tekad sambil mendengus penuh semangat, Senior Shiratori datang dan membuka pintu dengan penuh tenaga.

"Semuanya, apa sudah siap? Astaga, kostum pemandu soraknya imut banget! Aku juga mau pakai! Uh, kutukan posisi Wakil Ketua OSIS―!"

Suara Senior Shiratori yang berenergi tinggi itu meniupkan keraguan kecil di dada setiap orang, mengubahnya menjadi tawa dan kelegaan.

Melihat situasi itu, Saki bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian, mengangkat alis dan matanya yang sedikit turun sekuat tenaga, lalu berseru penuh semangat.

"Teman-teman, mari kita tunjukkan kepada semua orang bahwa sekolah ini bukan hanya milik Haruki-san saja!"

““““Ooh!””””

 

Hari ini, Haruki datang ke sekolah sejak pagi—sebuah hal yang jarang terjadi.

Karena ini adalah hari turnamen olahraga, ia berhasil melonggarkan jadwal pekerjaannya.

Sejujurnya ia sudah bekerja terus-menerus akhir-akhir ini, jadi ia sangat bersyukur bisa sedikit merentangkan sayap dan bersantai untuk pertama kalinya dalam waktu lama.

Menggerakkan tubuh sepuasnya sepertinya bukan ide yang buruk.

"(...Haa)"

Meskipun datang dengan pemikiran seperti itu, Haruki justru mendesah di dalam hati saat duduk di kursi penonton di pinggir lapangan.

Di sekitar Haruki tercipta ruang kosong selebar satu orang, dan ia bisa merasakan teman sekelasnya kesulitan menjaga jarak interaksi dengannya.

Bahkan orang-orang yang berada di kelas yang sama tahun lalu pun tampak benar-benar menjaga jarak.

Pemandangan yang sama persis seperti setiap kali ia berangkat ke sekolah. Semuanya pasti sedang berhati-hati dan menjaga perasaan Haruki yang seorang idol.

Dan demi mencegah terjadinya cedera sekecil apa pun, satu-satunya cabang olahraga yang diizinkan untuk diikuti oleh Haruki adalah estafet sendok yang bernuansa rekreasi.

Pertandingan beregu? Jangan harap. Entah sebenarnya turnamen olahraga ini diadakan untuk apa.

Bahkan sekarang pun ia mendengar bisik-bisik dari teman sekelasnya, "Hei, ada yang mau ngajak ngobrol sana?", "Mana bisa, dunia kita kan beda level sama dia," sementara orang-orang dari kelas atau angkatan lain yang lewat di dekatnya melontarkan komentar iri, "Kira-kira kalau minta, bakal dikasih tanda tangan nggak ya?", "Visualnya bagus banget, rasanya kayak pemenang hidup."

Menghadapi semua itu, ia hanya bisa tersenyum ramah dan menebar pesona. Betapa ironisnya.

Meskipun sukses menyedot perhatian orang lain melebihi siapa pun, Haruki sebenarnya terisolasi sepenuhnya.

Satu-satunya orang yang datang menyapanya hanyalah Saki.

Hari ini ada hal yang ingin kutunjukkan pada Haruki-san, jadi tolong nantikan sekitar jam makan siang ya!

Saki langsung menghampirinya begitu upacara pembukaan selesai dan mengatakan hal itu padanya.

Haruki merasa penasaran dengan apa yang ingin ditunjukkan oleh Saki.

Dari cara bicaranya, Saki sepertinya berniat melakukan sesuatu demi dirinya.

Di satu sisi ia merasa senang atas niat tersebut, namun di sisi lain dada Haruki justru bergemuruh gelisah.

Sejak turnamen olahraga dimulai, Saki terus berlari kesana-kamari ke berbagai tempat.

Sepertinya ia bertindak sebagai panitia pelaksana.

——Bersama Hayato.

Sejak tadi ia sudah sering melihat Saki dan Hayato bersama-sama sibuk berlari mengurus berbagai persiapan.

Selain itu, ia juga melihat sosok Ema, Iori, dan Minamo. Bahkan Ikki yang seharusnya sibuk sebagai model pun tampak bekerja bersama mereka. Sepertinya mereka semua bergabung menjadi panitia pelaksana.

Biasanya, Haruki pasti berada di posisi itu bersama mereka.

Namun sekarang, Saki lah yang mengisi posisi tersebut.

Merasa terasingkan adalah hal yang wajar dirasakannya saat ini.

Jujur saja, ia sangat ingin berlari menghampiri mereka sekarang juga.

Ia mengingat kembali tugas-tugas panitia pelaksana karena tahun lalu ia juga mengerjakannya, dan ia memiliki rasa percaya diri untuk bisa menanganinya.

Namun, membayangkan reaksi dari panitia lain membuat ia tidak bisa begitu saja pergi ke sana.

Di saat Haruki sedang merenung gelisah, program acara terus berjalan dengan cepat.

Saat ini sedang berlangsung pertunjukan yel-yel dukungan dari masing-masing warna, dan setelah pertunjukan terakhir dari kelompok Merah yang menampilkan tiruan kepiting dan gurita selesai, jadwal berikutnya di dalam susunan acara adalah jam istirahat siang.

Apakah hal yang dijanjikan oleh Saki untuk dinantikannya itu belum dimulai?

Karena sibuk menikmati pertandingan, orang-orang pasti juga mulai merasa lapar. Di saat suasana mulai mencair dan Haruki sedang memiringkan kepalanya karena bingung, Senior Shiratori melompat ke tengah lapangan dan mengeraskan suaranya melalui mikrofon.

Wah-wah, sebentar lagi masih belum waktunya makan siang, lho! Pertunjukan terakhir kita adalah penampilan sukarelawan yang ditujukan untuk semuanya!

Saat Senior Shiratori mengulurkan tangannya ke arah gerbang masuk sisi gedung sekolah, Saki dan yang lainnya sudah berdiri di sana.

Saki berada di posisi tengah seolah memimpin yang lain, membuat mata Haruki membelalak.

(Eh, Saki-chan!?)

Saki dan kawan-kawan semuanya mengenakan kostum pemandu sorak khusus untuk dukungan, memicu sorak-sorai penuh antisipasi dari orang-orang sekitar yang berteriak, “““Waaaah!”””

Kemudian Saki dan yang lainnya melangkah menuju bagian tengah lapangan sambil menebar pesona dan keramahan.

Sorak-sorai itu membuat ekspektasi semua orang semakin melambung tinggi. Suasana di tempat itu benar-benar sudah terbentuk sempurna.

Di tengah situasi tersebut, lagu yang sangat familiar mengalun dari pengeras suara, sementara Saki dan kawan-kawan memulai pertunjukan mereka.

~~~~♪

(--!?)

Itu adalah lagu debut Haruki. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak mengeluarkan suara seru terkejut.

Tak lama kemudian, tepuk tangan meriah membahana dari sekeliling. Merasakan pandangan orang-orang tertuju padanya, ia sedikit meringis kaku sambil membalas dengan senyuman.

Fakta bahwa Haruki bersekolah di sekolah ini sudah menjadi rahasia umum.

Lagu tersebut tentu saja adalah pilihan yang paling sempurna untuk dijadikan musik pengiring pertunjukan.

Dan begitu sorak-sorai itu mereda, keheningan seketika menyelimuti tempat tersebut.

Haruki pun dibuat kehilangan kata-kata.

Tarian, gerakan, dan koreografi yang selaras tanpa ada cacat sedikit pun. Istilah apa pun sah-sah saja digunakan untuk menggambarkannya.

Di ujung pandangan semua orang, hanya ada Saki seorang.

Di tengah lapangan, Saki menggerakkan orang-orang di sekelilingnya bagaikan anggota tubuhnya sendiri, layaknya seorang dirigen dari pertunjukan tersebut.

Luar biasa dan memukau, indah berkilau dan anggun.

Penuh tenaga, semarak, dan cemerlang.

Dari tarian Saki, terpancar tekad yang kuat dan menyala-nyala seolah ingin menerobos maju—pesan yang terkandung di dalam lagu tersebut tersampaikan secara langsung.

Semua orang terhipnotis oleh sosok Saki yang bersinar paling terang di antara yang lain.

Haruki sendiri pun merasa terkejut oleh kekayaan ekspresi yang dipancarkan melalui tarian Saki.

Ia tiba-tiba teringat pada tarian kagura Saki yang ia lihat di Tukinose musim panas tahun lalu.

Dibandingkan dengan dirinya sendiri yang selalu bersikap 'menyesuaikan diri' di hadapan orang lain, tarian Saki menyadarkannya akan arti sebuah keaslian yang sesungguhnya.

Tarian kagura yang ditujukan kepada seseorang yang ingin ia capai saat itu beririsan dengan tarian yang digelar di depan matanya sekarang.

Kini sudah sangat jelas, kepada siapa dan apa yang ingin disampaikan oleh Saki melalui tarian ini.

——Aku tidak akan kalah darimu, Haruki-san!

Setidaknya dalam hal menari, ia bisa mensejajarkan diri dengan Haruki—bahkan, ia tidak mungkin kalah.

Perasaan dan keyakinan itu terpancar dengan begitu jelas.

Haruki saat ini adalah seorang idol top yang bakatnya dipuja-puji di berbagai tempat dan berhasil menggemparkan dunia hiburan.

Namun, hanya sebatas itu saja.

Saki tidak mengerti dunia hiburan, dan bahkan tidak bisa membayangkannya.

Kendati demikian, khusus untuk urusan menari—hal yang telah ia tekuni dan asah sejak masa kanak-kanak—ia akan melangkah satu tingkat lebih unggul di atas Haruki. Ini adalah surat tantangan murni dari Saki.

Seiring dengan dimulainya bagian refrein lagu, Saki meningkatkan gigi tariannya beberapa tingkat sekaligus.

Lebih cemerlang, lebih anggun, dan jauh lebih penuh gairah.

Ia menari dengan ringan, seolah-olah hendak memamerkannya kepada Haruki, atau seolah-olah sedang meneriakkan harga diri seorang Saki.

Semua orang terseret masuk ke dalam dunia yang diciptakan oleh Saki.

Secara kebetulan, lagu Haruki ini adalah lagu yang memberikan dorongan semangat bagi orang-orang yang hendak memulai sesuatu yang baru.

Dipadukan dengan lagu tersebut, perasaan Saki tersampaikan secara langsung tanpa filter.

Tanpa disadari, dada Haruki bergemuruh dengan cara yang bahkan tidak ia pahami sendiri.

Ia tidak tahu ekspresi seperti apa yang harus ia tunjukkan saat ini.

Hingga akhirnya, lagu tersebut pun berakhir.




Lalu, tepuk tangan meriah yang begitu riuh seketika pecah, bahkan seolah menenggelamkan seruan Senior Shiratori yang berteriak, "Dengan ini waktu istirahat siang dimulaiーー!"

Saki berhasil merebut hati setiap orang yang berada di tempat itu.

Hingga membuat orang-orang berpikir bahwa kehadirannya mampu menyamai Haruki saat festival budaya dulu. Atau bahkan, rasanya mungkin melebihi itu.

Artinya, Saki sedang membuktikan bahwa dirinya memiliki kehadiran yang tidak kalah dari Haruki.

Dengan ekspresi enggan berpisah, orang-orang tampak tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari Saki yang berjalan kembali menuju posko utama.

Haruki pun terus mengekori sosok Saki dengan pandangannya——lalu, ia menyaksikan sesuatu yang tidak ingin ia lihat. Ia melihat Saki melakukan high-five untuk merayakan kesuksesan bersama Hayato di posko utama.

"...!"

Rasa sakit yang luar biasa melanda dadanya, seolah-olah bilah pisau tajam baru saja ditusukkan ke sana.

Sadar-sadar, Haruki sudah berlari meninggalkan tempat itu seolah hendak melarikan diri.

Untungnya kesadaran semua orang sedang tertuju pada Saki, sehingga tidak ada seorang pun yang memerhatikan kepergian Haruki.

Saat Haruki tiba di bagian belakang gedung sekolah untuk mencari tempat yang sepi dari keramaian, sebuah suara yang terdengar mendesak memanggil punggungnya.

"Haruki-san, tunggu sebentar!"

"...Eh, Minamo-chan."

Saat ia menghentikan langkahnya dan menoleh, ia melihat Minamo sedang mengatur napasnya. Gadis itu pasti mengejarnya dengan terburu-buru, terlihat dari jaket olahraga yang ia kenakan, sementara di baliknya ia masih mengenakan kostum pemandu sorak seperti tadi.

Minamo tersenyum kecil sambil mencoba menenangkan napasnya.

"Haruki-san, maukah kamu mengobrol sebentar denganku?"

Tempat yang dituju saat mengikuti Minamo adalah bagian atap gedung, melewati tumpukan meja yang berserakan di dekat tangga lantai tiga gedung sekolah lama. Tidak ada hal yang begitu mencolok di sana, pagar pembatas di sekelilingnya sudah berkarat dimakan usia, dan hiruk-pikuk turnamen olahraga pun terdengar begitu samar. Tempat itu benar-benar terlihat suram dan sepi.

"Tempat seperti ini ternyata ada ya."

Menanggapi gumaman Haruki, Minamo menjawab dengan sedikit rasa ragu.

"Saat aku baru masuk sekolah tahun lalu dan tidak ingin pulang ke rumah sendirian... saat itulah aku menemukannya."

"Minamo-chan..."

Haruki tahu mengenai keretakan hubungan Minamo dengan orang tuanya, serta kenyataan bahwa Minamo sempat sendirian karena kakeknya—satu-satunya orang yang memihaknya—tengah dirawat di rumah sakit. Membayangkan keadaan Minamo saat itu membuat hatinya terasa sesak.

Minamo meletakkan tangan di dadanya, lalu bergumam sambil menatap ke kejauhan.

"Waktu itu, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa terhadap Ayah... bahkan kegiatan merawat tanaman sayur pun kulakukan sebagai bentuk pelarian dari kenyataan. Tapi sekarang sudah berbeda. Karena Haruki-san telah menjadi temanku."

"...Ah."

"Bukan, bukan hanya Haruki-san saja. Ada Hayato-san, Ikki-san, Mori-san, Isami-san, dan sebelum aku sadari, bahkan Saki-san juga. Karena kalian semua ada di sisiku, kalian mengajarkanku bahwa aku tidak sendirian. Itulah sebabnya aku bisa berani menghadapi Ayah."

Minamo menghentikan ucapannya sejenak, menunduk, lalu setelah ragu-ragu sejenak, ia menatap lurus ke arah Haruki dan bertanya.

"Haruki-san, apakah ada sesuatu terjadi dengan Ibumu?"

"...Kenapa kamu tahu?"

"Ekspresi Haruki-san tadi persis seperti saat awal musim panas tahun lalu, ketika kamu basah kuyup di taman karena ada masalah dengan Ibumu. Itulah kenapa aku tahu."

Perhatian dan kepedulian Minamo kepada Haruki begitu terasa nyata.

Lagipula, tebakannya memang tepat sasaran.

Perasaannya saat ini mungkin memang mirip dengan situasi waktu itu.

Haruki memasang senyuman lemah sambil menggelengkan kepala perlahan.

"Begitu ya, kalau dibilang gara-gara Ibu, mungkin memang benar begitu. Aku menjadi idol semata-mata demi bisa menemui dan berbicara dengan Ibu. Tapi, aku sama sekali tidak bisa berbicara dengan Ibu. Ditambah lagi, karena kesibukanku sebagai idol, tercipta jarak di antara aku dan kalian semua. Rasanya hari ini aku menjadi satu-satunya orang yang dikucilkan."

"Dikucilkan, mana mungkin! M-Memang benar akhir-akhir ini karena alasan teknis kita jarang mengobrol... tapi... itu... uuu..."

Melihat Minamo menunduk lesu dengan ekspresi bersalah, Haruki membalasnya dengan senyuman masam sambil berkata mau bagaimana lagi.

"Soal itu aku juga mengerti. Tapi, terkadang aku jadi berpikir, untuk apa sebenarnya aku menjadi idol? Lagipula, seandainya aku bisa bertemu dengan Ibu, aku bahkan tidak tahu apa dan bagaimana cara aku harus berbicara dengannya."

Haruki tanpa sadar melontarkan keluh kesahnya.

Jika dipikir-pikir, ia selalu memperlihatkan sisi dirinya yang menyedihkan di hadapan Minamo.

Justru karena itulah, ia bisa dengan bebas menumpahkan keluh kesah dan kelemahannya di sini, ya?

Mendengar itu, Minamo menggenggam tangan Haruki dan berkata dengan wajah sungguh-sungguh.

"Kalau begitu, saat itu tiba, kamu tinggal bernyanyi saja!"

"Bernyanyi?"

"Waktu aku hendak pergi menemui Ayah, nyanyian Haruki-san lah yang memberikan dorongan semangat di punggungku."

Memang benar, saat itu Haruki tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada Minamo, sehingga ia memilih menyalurkan perasaannya lewat lagu untuk memberikan dukungan.

Namun, Haruki menunjukkan ekspresi bingung dan mengingatkan bahwa cara tersebut tidak bisa digunakan untuk situasi kali ini.

"Hmm, kalau bernyanyi sifatnya kan hanya satu arah saja."

"Ah, benar juga ya..."

"Yang ingin kulakukan adalah berdiskusi dan berbicara dari hati ke hati."

"Kalau begitu, sampaikan lewat akting!"

"Fufu, kalau itu mungkin bisa dicoba."

Sambil melontarkan candaan ringan seperti itu, mereka saling berpandangan dan tertawa kecil.

Hingga akhirnya Minamo tersenyum lembut penuh kehangatan.

"Jika terjadi sesuatu, tolong andalkan kami."

"Minamo-chan..."

"Semua orang adalah pihak yang memihak Haruki-san. Tapi, meskipun kamu sedang kesulitan, kami tidak akan pernah tahu kalau kamu tidak menceritakannya pada kami."

"Iya, kamu benar... Minamo-chan, terima kasih banyak."

"Iya!"

Ada orang-orang yang menantikan keberadaannya di sini.

Dan perasaan tidak akan pernah tersampaikan jika tidak diucapkan dengan kata-kata.

Menyadari kembali hal itu, Haruki merasakan tekad di dalam hatinya semakin kuat untuk segera kembali ke tempat teman-temannya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close