Selingan 3
Aku Akan
Selalu Berada di Sisi-mu
Informasi yang dibawa oleh Himeko mengenai Ikki langsung
dibagikan kepada semua orang melalui grup chat.
Tampaknya tidak ada seorang pun yang mengetahuinya,
sehingga pesan-pesan langsung berhamburan seperti sarang lebah, "Hah, yang
benar saja!", "Aku sama sekali tidak dengar apa-apa!", "Eh,
ini beneran Kaidou-san!?", "Bukannya ini kamera tersembunyi?",
"Tapi kan kakaknya MOMO", hingga "Kenapa dia jadi model
ya?".
Bahkan setelah Ikki yang bersangkutan bergabung, rentetan
pertanyaan terus mengalir dengan dahsyat seperti "Kenapa tidak
bilang-bilang!", "Padahal bisa cerita sedikit!", sampai
"Kenapa tiba-tiba jadi model!?".
Ketika Ikki menjawab, "Aku sendiri tidak tahu sampai
detik-detik terakhir" dan "Syukurlah aku bisa debut dengan
selamat", semua orang mengirimkan ucapan selamat meskipun masih terkejut.
Haruki tampaknya juga tidak tahu apa-apa, ia mengirim
pesan bahwa ia terkejut karena baru saja bertemu di lokasi syuting, yang
membuat topik pembicaraan semakin hangat.
Bahkan saat waktu makan malam tiba, Himeko tidak
melepaskan ponselnya dan bergumam "Gila", "Keren banget"
dengan penuh semangat sambil mengetik pesan.
Hayato tersenyum masam melihat reaksi kekanak-kanakan
dari sang adik yang baru-baru ini menunjukkan sisi dewasa yang jauh lebih
tenang.
Di tengah-tengah suasana itu, Hayato yang sedang
mengamati percakapan tersebut di sofa ruang keluarga usai makan malam merasa
sangat terguncang oleh celetukan santai yang dikirimkan oleh Ikki.
"Tapi dengan ini kita sama-sama artis, jadi kurasa
tidak ada orang yang akan merasa aneh kalau aku mengajak Nikaidou-san mengobrol
di sekolah."
Ucapannya memang benar. Hal itu sepertinya dirasakan juga
oleh yang lain, terbukti dari tanggapan seperti "Ah, mungkin juga
ya", "Tapi kalau benar-benar diajak bicara, pasti bakal jadi bahan
gosip", hingga "Bisa jadi kehebohan besar".
Seorang idol yang sedang naik daun dan adik dari
MOMO—model populer di kalangan remaja yang baru saja debut.
Tidak ada yang aneh jika keduanya berdiri berdampingan,
dan dari segi penampilan pun mereka akan tampak serasi.
Begitu serasinya hingga orang biasa akan merasa tidak ada
celah untuk masuk ke antara mereka.
Namun, Hayato sama sekali tidak bisa menerima hal itu
begitu saja.
Dengan rasa tercengang, Hayato mencoba melihat situs
majalah fesyen yang menampilkan Ikki, seperti yang diberitahukan oleh Himeko. Ikki yang terpampang di layar ponsel tampak mengenakan pakaian mewah
dan bersinar terang. Dibandingkan dengan model lain di majalah yang sama,
penampilannya sama sekali tidak kalah.
Ikki yang seperti itu, rasanya seolah berada di tempat
yang sangat jauh.
Kegelisahan di dadanya tak kunjung reda, Hayato melangkah
ke dapur untuk menenangkan diri dengan melakukan hal lain, lalu mulai mencuci
piring yang ada di bak cuci secara otomatis. Namun, perasaan gundah gulana itu
sama sekali tidak sirna.
Tepat setelah ia selesai mencuci piring, Saki yang
tadinya berada di kamar Himeko menampakkan wajahnya di ruang keluarga.
"Kakak, aku pulang dulu ya."
Ia melirik jam dinding dan mendapati waktu menunjukkan
sedikit sebelum pukul sembilan malam.
Meskipun lingkungan sekitar sini cukup aman, jam sekian
tetap saja mengkhawatirkan bagi seorang anak perempuan yang berjalan sendirian.
Hayato menghentikan pekerjaannya, lalu menjawab sambil
menyeka tangannya.
"Biar kutemani. Tunggu sebentar ya."
"Iya."
Berjalan menyusuri jalanan malam bersama Saki.
Dibandingkan siang hari, udara yang terasa dingin membelai pipi mereka.
"..."
"..."
Biasanya, mereka akan membicarakan hal-hal sepele seperti
kejadian hari ini atau ramalan cuaca besok.
Topik tentang Ikki khususnya, tentu akan menjadi bahan
obrolan yang sangat pas.
Namun, tidak ada percakapan di antara mereka berdua, dan
suasana yang agak sendu menyelimuti sekitar.
Begitu apartemen Saki mulai terlihat di hadapan mereka,
gadis itu berbisik pelan.
"Tentang Kaidou-san, tadi itu benar-benar
mengejutkan ya."
"Ah, benar-benar bagaikan petir di siang bolong,
jujur saja aku bahkan masih belum tahu harus merespons bagaimana."
"Fufu, aku juga sama. Menyusul Haruki-san, rasanya
seperti Kaidou-san pun ikut pergi ke tempat yang sangat jauh."
"...Ah."
Suara Saki yang terdengar sedikit kesulitan seolah
mewakili isi hatinya sendiri, membuat Hayato mengangguk dengan perasaan yang
meluap-luap.
Mengetahui bahwa Saki merasakan hal yang sama membuat
hatinya terasa sedikit lebih ringan. Mereka saling berpandangan dan tersenyum
masam.
Di tengah situasi tersebut, setibanya mereka di pintu
masuk apartemen, Saki membungkuk sopan.
"Kakak, terima kasih sudah mengantarkanku."
"Ah, tidak masalah. Kalau begitu—"
"——Tunggu sebentar."
"...Saki-san?"
Tepat saat Hayato hendak membalikkan badan, Saki
tiba-tiba menghentikannya.
Saki menggenggam kedua tangan Hayato dengan kedua
tangannya, lalu menatapnya dengan pandangan lurus.
"Karena aku akan selalu ada di sisimu."
"…………"
Pernyataan itu terdengar begitu manis hingga membuat
hati Hayato goyah.
Saki melangkah maju satu langkah lagi, lalu berbisik
dengan ekspresi memikat.
"Bagaimana kalau sekarang Kakak memelukku
erat-erat di sini, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan Kakak,
bagaimana?"
"Itu, sih..."
Untuk sesaat, ia sempat berpikir kalau itu mungkin
bukan ide yang buruk.
Namun, hal itu justru membuatnya merasa sangat
menyedihkan karena tampak terlalu bergantung pada Saki, membuat ia tidak tahu
harus berbuat apa.
Ketika Hayato mengerutkan wajahnya karena kebingungan
dan mematung di tempat, Saki akhirnya tersenyum dengan nada penuh kenakalan.
"Cuma bercanda!"
"Aku ini, itu..."
"Kalau begitu, selamat malam, Kakak."
"A-Ah, ya. Selamat malam."
Mengucapkan kata-kata itu, Saki menghilang masuk ke dalam
gedung apartemen.
Hayato menatap tangannya yang tadi digenggam oleh Saki,
lalu mengenang kehangatan yang masih tertinggal di sana sebelum meninggalkan
tempat itu dengan perasaan enggan.



Post a Comment