NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Interlude IV

Selingan 4

Orang yang Layak Berada di Sisi-Nya


Turnamen olahraga sekolah berakhir dengan kesuksesan besar.

Terutama di sesi siang, berkat sisa-sisa kesan mendalam dari penampilan sukarelawan yel-yel dukungan dan tarian dari Saki, semua orang tampak sangat bersemangat.

Hasil akhirnya bisa dibilang benar-benar sukses besar.

Bahkan setelah turnamen olahraga selesai, topik pembicaraan di antara para siswa masih terus membahas soal tarian Saki.

Bagi Saki sendiri, hasil yang didapat jauh melampaui apa yang ia perkirakan, membuatnya merasa bangga sekaligus salah tingkah.

Setelah pulang ke rumah di kediaman Kirishima, ia menyantap makan malam bertema stamina tinggi yang seolah ditujukan untuk menggantikan kalori yang terbakar hari ini—mulai dari ayam goreng karaage, babi tumis kimchi, gyoza dengan banyak bawang putih, hingga nasi bawang putih. Begitu ia sampai di rumah, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Pengirimnya adalah Haruki. Sangat jarang bagi Haruki mengirim pesan secara langsung seperti ini.

Saki merasa sedikit berdebar saat memeriksa isi pesan tersebut.

"Tarian tadi siang keren banget. Sepertinya aku sendiri pun tidak akan bisa membawakan tarian sehebat itu. Jujur saja, aku jadi merasa sedikit iri."

Bisa dibilang ini adalah sebuah pengakuan kekalahan yang begitu sportif.

Namun, karena merasa Haruki telah mengakui dirinya sebagai pihak yang setara, Saki membalas pesan itu sambil menyadari sudut bibirnya yang terangkat naik.

"Meskipun Haruki-san adalah seorang idol populer, kalau soal bidang keahlianku, aku tidak akan kalah."

"Padahal kenyataannya, video saat itu sekarang sudah diunggah ke SNS dan menjadi sedikit viral lho."

"Eh, begitu ya?"

"Iya, manajerku melihat video itu dan jadi tertarik pada Saki-chan."

Dari kalimat yang dikirimkan, Saki bisa membayangkan wajah Haruki yang tampak agak kesulitan.

Rupanya tarian Saki berhasil menarik perhatian orang-orang di dunia hiburan, bahkan hingga ke mata para profesional.

Namun, Saki yang tidak terlalu peduli dengan hal itu membalas pesan tersebut dengan ekspresi bingung seolah-olah itu adalah urusan orang lain.

"Aku senang mendapatkan penilaian seperti itu, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia hiburan."

"Ahaha, aku mengerti perasaanmu. Aku juga dulu begitu. Itu artinya, kamu pun akan merasa repot kalau sampai dibina (scout) agensi, ya?"

"Iya, aku sama sekali tidak punya niat ke arah sana."

"Begitu ya, aku mengerti."

Bagaimanapun juga, tarian hari ini ditujukan khusus untuk satu orang saja, yaitu Haruki.

Itulah sebabnya ia merasa senang karena Haruki mengakuinya, sementara penilaian dari orang lain sama sekali tidak penting baginya. Ini adalah bentuk egoisme tersendiri baginya.

Karena ada hal yang jauh lebih penting daripada itu, Saki mengetik balasan untuk memancing reaksi Haruki.

"Haruki-san, aku tahu kamu sibuk sebagai idol, tapi cepatlah kembali ya. Kalau tidak, aku akan merebut Onii-chan lho."

Larut malam pada hari yang sama.

Hayato yang kelelahan akibat turnamen olahraga berbaring malas di atas tempat tidur kamarnya sambil memandangi layar ponsel, lalu menghela napas panjang.

Di layar itu tertera foto Saki yang diam-diam ia ambil saat acara yel-yel dukungan siang tadi.

Pemeran utama di atas panggung lapangan tadi sepenuhnya adalah Saki.

Kehadirannya yang bersinar terang, langkah kakinya yang berani dan penuh energi mengikuti ritme lagu.

"Saki-chan benar-benar luar biasa..."

Bersamaan dengan helaan napasnya, kesan jujur itu meluncur begitu saja.

Sebagai bukti nyata dari hal tersebut, di dalam grup chat, video Saki yang diunggah ke media sosial menjadi bahan perbincangan hangat dan kabarnya hampir mendekati 10 Juta penayangan.

Meskipun Hayato tidak begitu paham seberapa hebat pencapaian angka tersebut, ia sangat mengerti alasan mengapa video itu bisa menjadi perbincangan publik.

Tarian Saki memang memiliki daya tarik yang begitu memukau pandangan mata.

Ia jadi merasakan déjà vu seperti saat melihat Haruki dulu.

Namun, beruntungnya Saki bukanlah seorang idol seperti Haruki, melainkan seorang miko biasa dari pedesaan.

Oleh karena itu, video tersebut pasti tidak akan menjadi masalah besar. Begitulah cara ia meyakinkan dirinya sendiri.

Di sisi lain, memang tidak bisa dipungkiri bahwa Saki memiliki pesona yang mampu memikat dan mendominasi orang-orang di sekitarnya, setara dengan Haruki.

Itulah sebabnya ia sempat berpikir bahwa Saki jauh lebih pantas berada di sisi Haruki.

Pemikiran tersebut tanpa sadar justru menimbulkan perasaan frustrasi dan keterasingan di dalam dada Hayato.

——Dirinya hanya bisa berdiri di sini dan menonton saja.

Pendamping setia saat Haruki berdiri di atas panggung pastilah Saki, dan juga Mari.

Hayato hanyalah orang biasa.

Ia kebetulan berada di dekat mereka hanya sebagai seorang teman masa kecil.

Hanya salah satu penonton dari pinggir lapangan.

Hal maksimal yang bisa ia lakukan hanyalah mengabadikan momen sesaat melalui layar ponsel seperti ini.

Sambil menyadari kenyataan pahit itu dan mengerutkan keningnya dengan ekspresi rumit, tiba-tiba pintu kamarnya diketok dari luar.

"Onii, ada di dalam?"

Himeko langsung nyelonong masuk ke dalam kamar tanpa menunggu jawabannya terlebih dahulu.

"Eh! Ada apa, Himeko?"

Hayato segera memasang ekspresi biasa untuk menutupi kegusarannya, lalu bangkit duduk dan menatap adiknya.

Meskipun Himeko masuk ke kamar tanpa sopan santun, ia justru tampak ragu-ragu dan kesulitan mengucapkan sesuatu dengan sikap yang tidak biasa.

Saat Hayato merasa heran dan bertanya-tanya apa maksudnya, adiknya itu bertanya dengan nada agak sungkan.

"Ehm begini, jadwal Onii saat libur Golden Week kosong nggak?"

"Aku cuma mengambil jadwal kerja paruh waktu saja sih. Ada apa memangnya?"

"Aku kan akhir-akhir ini sibuk dengan urusan ujian, dan rasanya baru mulai terbiasa dengan kehidupan SMA..."

"Hmm? Yah, begitulah ya?"

Mendengar Himeko berbicara setengah-setengah tanpa inti yang jelas, Hayato semakin mengerutkan dahi dan memiringkan kepalanya.

Hingga akhirnya, Himeko menarik napas dalam-dalam setelah membulatkan tekad, lalu menyampaikan sebuah usulan dengan suara yang terdengar agak kaku.

"Begini, bagaimana kalau sekali-kali kita pergi menonton acara yang dibintangi oleh Haru-chan?"

"............Eh?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close