Epilog
Sore itu, Hayato
dan Haruki pulang ke rumah lebih lambat dari biasanya.
"Ugh,
akhirnya sampai juga," keluh Haruki.
"…Cepat buka
pintunya, tanganku penuh nih," gerutu Hayato.
Haruki tertawa
dengan suasana hati yang bagus, lalu menggunakan kunci cadangan untuk
membukakan pintu.
Hayato, dengan
wajah memerah dan cemberut, memegang boneka kucing belang berukuran
raksasa—sebesar bantal peluk—yang tubuh lemasnya terjulur panjang. Terlihat
lucu dan menggemaskan, tetapi ini adalah barang yang sangat memalukan untuk
dibawa oleh seorang anak laki-laki SMA melewati kota.
Mereka
memenangkannya di pusat permainan yang mereka kunjungi saat jam istirahat
siang, lalu kembali lagi setelah sepul sekolah untuk bertaruh. Harganya 1.600
yen, jumlah yang tidak sedikit, membuat Hayato mengerutkan kening karena
berbagai alasan.
"Haha, kan
kamu yang menangin, Hayato, jadi bawa sendiri ya!" goda Haruki.
"Sialan,
rasanya aku menang pertandingannya tapi kalah perang…" gumam Hayato.
"…Onii,
kenapa kamu pegang-pegang itu?" tanya Himeko, tiba-tiba muncul dari
belakang mereka sepulang dari suatu tempat.
"Himeko!"
Hayato terkejut.
"Eh,
Hime-chan," sapa Haruki.
Merasa sadar diri
dengan beban aneh yang dibawanya, Hayato mencari-cari alasan, namun senyum
licik Himeko mendahuluinya. Gadis itu langsung mengambil foto.
"Haha,
harus pamer ke Saki-chan nih! Oh, sama foto honey toast karaoke kemarin juga," kata Himeko.
"Hei,
berhenti, Himeko!" protes Hayato.
"Ups, sudah
dibalas—" Himeko memeriksa ponselnya.
"Ada apa
ini!? Onii-san kelihatan malu-malu kucing, lumayan cocok juga sama boneka
kucingnya! Terus, ada apa dengan karaoke!? Onii-san berdandan rapi, ada cowok
keren yang merangkulnya, dan Haru genit banget—" suara Saki meledak dari
seberang.
"Wah,
Saki-chan!? Um, sebenarnya—" kata Himeko, buru-buru ngibrit ke kamarnya.
Hayato dan Haruki
saling bertukar senyum kecut, lalu melangkah masuk.
"Bagus deh,
Hayato. Cocok kok buat kamu," goda Haruki.
"Nggak
senang juga, ya ampun…" gerutu Hayato.
Godaan itu
membuatnya bingung harus merespons bagaimana. Sambil menghela napas, ia
membatin, Hari ini aku benar-benar diseret ke sana ke mari.
(Bukan cuma
Haruki, tapi Kazuki juga…)
Ia teringat saat
kembali ke sekolah tadi.
Meskipun ia
menarik Haruki keluar saat jam istirahat, bukan berarti Hayato yang menjadi
pusat perhatian. Kelas mendadak gempar membicarakan Haruki dan Kazuki, terutama
Haruki yang tampak kewalahan.
Saat menghadapi
Kazuki si pelaku utama, Hayato justru mendapat jawaban riang, "Oh,
pengakuan tadi itu nggak serius, kok, tenang saja!" Secara refleks, ia
langsung menoyor kepala Kazuki.
Namun, kalimat
susulan dari Kazuki, "Sekarang nggak bakal ada lagi yang berani nembak
Nikaidou-san atau aku, kan?" sambil tersenyum penuh arti, sukses membuat
Hayato bungkam.
Haruki
akhir-akhir ini memang berubah, jadi lebih mudah didekati dan pertahanannya
meleur. Bisa saja ia akan segera mendapat pernyataan cinta sungguhan. Langkah
yang diambil Kazuki adalah tindakan pencegahan yang cerdas.
Meski
begitu, Hayato melirik ke arah Haruki.
Di dekat
pintu masuk, gadis itu melepas sepatu loafer dan kaus kaki panjangnya,
memperlihatkan kaki jenjang yang biasanya tersembunyi—pemandangan yang hanya
diperuntukkan baginya. Ekspresinya yang tidak berubah terasa begitu curang.
Tenggorokannya
terasa tercekat, pipinya menghangat. Ia lantas membuang muka.
"Hm? Ada
apa, Hayato? Masih malu?" Haruki mengintip ke arahnya, senyum usil khas
miliknya dibumbui nada menggoda.
"!.. Mana
ada," sahutnya sengit.
Menangkap gelagat
itu, tatapan cerianya sukses membuat jantung Hayato berdegup kencang. Untung
saja gadis itu mengira wajah merahnya disebabkan oleh boneka tadi.
Untuk menutupi
debaran jantungnya, dengan sedikit nada penyesalan yang tertahan, ia
menyodorkan boneka itu ke depan.
"Nih!"
"…Eh?"
ia mengerjap.
"Hadiah.
Nggak berguna buatku," ucapnya.
"Hadiah…?"
ulang gadis itu.
"Haruki?"
panggilnya.
Ekspresinya sulit
dibaca—bingung, kehilangan kata-kata, namun tidak terlihat tidak suka. Ia
sepertinya ragu dengan perasaannya sendiri. Hayato memiringkan kepalanya.
Salah mengartikan
reaksi itu, Haruki buru-buru melambaikan kedua tangannya sambil terbata-bata.
"Um, aku
nggak ngerti… Ibuku kan, ya gitu deh, jadi aku belum pernah dikasih hadiah
seumur hidup, makanya aku bingung harus bersikap gimana…"
Suaranya perlahan
menghilang, membuat dada Hayato terasa sesak. Ia meraih tangan gadis itu,
memaksanya untuk memeluk boneka tersebut.
"Maaf ya
kalau hadiah pertamamu dari aku. Terima saja," ujarnya.
"…!" ia
terkesiap.
"Dia bakal
lebih senang sama kamu daripada aku—" ucapnya terpotong.
"…Paham! Aku
paham, kurasa ini yang namanya kebahagiaan!" potongnya.
"Haruki?"
tuju Hayato kaget.
Mata yang
mengerjap itu dipenuhi oleh pemahaman dan kegembiraan, lalu mekar menjadi
senyuman yang begitu cerah. Ia memeluk boneka itu erat-erat sambil terkikik.
"Bakalan aku
simpan baik-baik, terima kasih ya, Hayato!" serunya berseri-seri.
"!"
Hayato terperanjat.
Senyuman itu
begitu indah hingga merenggut napasnya.
Untuk pertama
kalinya, Hayato mendapati Haruki terlihat begitu manis.
"…Keren,"
gumamnya.
Jantungnya kini
berdegup dengan cara yang berbeda. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya untuk
menutupi salah tingkah.
Ia ingin teman
masa kecilnya ini terus tersenyum seperti itu.
Sepertinya,
perasaan itu sudah ada sejak mereka masih anak-anak.
Cahaya matahari sore yang menerobos masuk dari pintu depan membasahi senyuman mereka dengan rona kemerahan.



Post a Comment