Bab 8: Ah, Aku
Mengerti
"Haah... tuh anak, makin ke sini kok
makin seram aja tumannya...?"
Seusai jam pelajaran, Masachika bergumam
sendiri melihat pesan yang dikirim oleh Yuki.
Katanya ada belanja barang inventaris
untuk urusan OSIS, tapi karena mendadak ada urusan dan tidak bisa pergi, dia
minta Masachika untuk menggantikannya.
『Onii-chan, tolo~ng ya♡』
"..."
Melihat pesan terakhir yang terasa begitu
sengaja dipasang sok imut dan manja sampai bikin geli sekaligus jengkel,
Masachika merasa tenaganya seolah terkuras habis.
"Yah, aku bakal pergi juga sih...
Pergi juga, tapi ya..."
Sambil
menggerutu pelan, dia hanya membalas singkat, 『Oke』.
『Horeee, sayang banget sama Onii-chan♡』
"Iya, iya."
Sambil tersenyum kecut melihat stiker
bertaburan hati yang dikirim bertubi-tubi, Masachika mengantongi ponselnya lalu
melangkah menuju ruang OSIS.
Bagaimanapun juga, Masachika memang
sangat memanjakan adiknya.
Dalam standar umum, dia sudah bisa
dikategorikan sebagai sis-con tanpa bisa membantah.
"Permisi."
Saat Masachika mengetuk pintu ruang OSIS
lalu membukanya, ada dua orang di dalam.
"Ooh, Kuze. Maaf ya, malah kamu yang
repot-repot datang membantu."
"Tidak apa-apa, saya cuma datang
buat menutupi kelakuan Yuki kok."
Pria pertama adalah Ketua OSIS, Kenzaki
Touya. Dan satu orang lagi adalah...
"Araa, kamu yang namanya Kuze-kun?
Aku Maria Mikhailovna Kujou.
Kakaknya Alya-chan, sekaligus Sekretaris
OSIS. Salam kenal ya~?"
"Ah, halo. Alya selalu merepotkan
saya."
Melihat Maria yang menyapa dengan ramah
sambil mengulas senyum lembut, Masachika membungkuk ringan sambil berpikir
(Pasangan kakak-beradik ini benar-benar punya atmosfer yang berbanding
terbalik, ya).
"Saya dengar hari ini belanja barang
inventaris sama Kujou-senpai..."
"Kamu boleh panggil aku Masha, lho?
Kalau kamu temannya Alya-chan, berarti kamu temanku juga kan~"
"Ah, haah..."
Melihat Maria yang mendekat perlahan
dengan senyum merekah, Masachika agak ciut di dalam hati (D-daya ekstrovert-nya
tidak main-main).
"Mau panggil Masha-senpai atau
Masha-san juga boleh kok~?"
"Haah... kalau begitu, Masha-san
saja."
Masachika memalingkan pandangannya karena
agak malu. Begitu sampai di depannya, Maria menggenggam tangan kanan Masachika
dengan kedua tangannya lalu menggoyangkannya perlahan ke atas dan ke bawah.
"Yup yup, salam kenal, ya..."
Jabat tangan Maria diiringi senyuman yang
kalau itu seorang idola, pasti bisa membuat pria mana pun berlutut seketika.
Namun saat mendongak menatap wajah Masachika dari dekat, ekspresi itu mendadak
berubah menjadi datar.
Matanya yang agak turun dan biasanya
menyempit ramah kini membelalak lebar, dan senyuman yang biasanya terpajang
mendadak lenyap tanpa sisa.
"A-ada apa?"
Masachika refleks hendak menarik diri
karena perubahan drastis itu, tapi genggaman di tangan kanannya terasa
mengejutkan kuatnya, membuat dirinya hanya bisa mundur selangkah sebagai batas
maksimal.
"Kuze-kun... nama depanmu
siapa?"
"Eh? Masachika... ditulis memakai
kanji 'politik' dan 'dekat'."
"Masa... chika..."
Dengan ekspresi serius yang hampir terasa
menakutkan, Maria menatap wajah Masachika seolah ingin melubanginya.
Ditatap lekat-lekat sambil dipegang kedua
tangannya oleh seorang kakak kelas cantik yang baru pertama kali ditemui,
Masachika bukan lagi sekadar berdebar, melainkan mulai merasa cemas.
"Ada apa, Kujou kakak? Apa ada
sesuatu yang menempel di belakang Kuze?"
"Ketua, kalau mau memotong
pembicaraan harusnya 'Apa ada sesuatu yang menempel di wajahnya?', kan."
"Ooh, boleh juga potonganmu,
Kuze."
Touya mengulurkan bantuan dari samping,
dan Masachika dengan sigap menyambungnya. Dengan teguran cepat tanpa jeda itu,
Touya memberikan acungan jempol disertai pujian.
Atas lelucon yang mendadak itu terjadi,
Maria mengedipkan matanya perlahan, lalu kembali memajang senyum lembutnya yang
seperti biasa.
"Aaah, maaf ya. Aku cuma berpikir,
'Oh, jadi orang ini yang temannya Alya-chan ya~', makanya tanpa sadar jadi
begini."
Dia melepaskan tangannya dengan cepat,
lalu menempelkan tangan ke pipinya sendiri sambil memiringkan kepala seolah
merasa bersalah.
Kemudian, dia menepuk kedua tangannya
untuk mengalihkan suasana.
【それじゃあ、行きましょうか】(Kalau begitu,
ayo kita pergi)
Masachika mengedipkan matanya mendengar
bahasa Rusia yang mendadak itu. Tentu saja dia paham artinya, tetapi karena
selama ini dia bersikap seolah tidak paham bahasa Rusia di depan adiknya Alisa,
dia tidak boleh mengangguk di sini.
"Maaf, bicara apa tadi?"
Saat Masachika bertanya balik dengan
wajah pura-pura tidak tahu, mata Maria sempat terbuka lebar sejenak, sebelum
akhirnya kembali mengulas senyum.
"Maaf ya, aku cuma bilang 'Ayo kita
berangkat'."
"Ah, iya."
"Kalau begitu Ketua, kami berangkat
dulu ya."
"Ya, kutitip ya."
"Permisi."
"Kuze, tolong ya."
"Baik."
Setelah memberi salam pada Touya, mereka
berdua keluar dari ruang OSIS.
"Beli barang inventaris apa ya? Dari
Yuki saya cuma dengar garis besarnya saja."
"Begitulah~ berbagai barang yang mau
dipakai di ruang OSIS~"
"Haah... di SMP dulu barang-barang
seperti itu biasanya dipesan sekalian ke agen, tapi di SMA ternyata beda
ya."
"Kalau barang pakai habis yang
kecil-kecil memang begitu~ Tapi kan ini ruang OSIS yang kita pakai sendiri.
Mesti ada warna khas kita sendiri dong? Yang begitu harus dipilih langsung
dengan mata sendiri. Apalagi teh, kalau tidak dicium aromanya langsung kan
tidak bisa pilih yang bagus."
"Ah, begitu... Kalau begitu rasanya
orang luar seperti saya malah makin tidak enak buat ikut-ikutan."
"Begitu ya~... Kalau begitu,
bagaimana kalau Kuze-kun masuk OSIS sekalian saja?"
"Nggak ah, saya tidak ada minat ke
sana."
"Masa? Sa~yang sekali."
Melihat Maria yang mengedikkan bahu
dengan raut benar-benar merasa sayang, Masachika mengulas senyum kecut.
"Ya sudah, saya bakal berusaha keras
sebagai pembawa barang saja."
"Iya, tolong ya~?"
Karena posisinya hanya orang luar, dia
berpikir lebih baik tidak usah memberikan pendapat yang tidak perlu dan fokus
menjadi pembawa
barang saja... tapi ternyata pemikiran
itu terlalu meremehkan keadaan.
"Aroma
terapi ini wangi bange~t. Buat uji coba, bagaimana kalau beli semua jenisnya
sekalian──"
"Nggak bisa, masa memasang aroma
terapi di ruang OSIS. Yang begitu
silakan pakai di kamar sendiri
saja."
"Tidak mau~ boneka kucing ini mirip
banget sama Alya-chan! Ah, benar juga. Bagaimana kalau kita pajang boneka yang
menggambarkan semua anggota OSIS?"
"Memangnya ini dunia dongeng apa!
Kalau siswi lain mungkin tidak apa-apa, tapi Ketua pasti bakal merasa sangat
serba salah!"
"Kalau Ketua itu singa yang pakai
kacamata di sebelah sini ya~"
"Nggak, makanya... eh tapi mirip
banget, oi!"
"Kalau
begitu beli yang ini──"
"Nggak, biarpun mirip! Memajang
boneka di ruang OSIS itu jelas-jelas tidak boleh!"
"Eee~"
"Nggak, justru saya yang mau bilang
'Eee~'."
"Muu... Ya sudah deh. Tapi kucing
ini imut banget, jadi mau kubeli buat diriku sendiri saja."
"Ah, struk pembayarannya jangan
dicampur, gawat nanti! Bisa-bisa dimarahi Alya yang bagian bendahara!"
Masachika sudah punya firasat gawat saat
Maria tanpa ragu melangkah masuk ke toko barang-barang fancy, tapi kenyataannya
jauh lebih parah dari bayangannya. Tingkat kebebasannya benar-benar melompati
perkiraan Masachika.
Matanya berpindah ke sana-kemari, dan
secara sangat serius mencoba membeli barang-barang yang jelas-jelas tidak
pantas berada di ruang OSIS. Sebelum menjadi pembawa barang, Masachika sudah
mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk meluruskan alurnya.
(Tidak bisa ini, orang ini terlalu bebas.
Apa selalu begini tiap saat? Kalau iya, Alya pasti sengsara banget ya...)
Saat dia akhirnya berhasil mengumpulkan
barang-barang kebutuhan minimum dan melangkah menuju toko teh terakhir,
Masachika sudah benar-benar lelah secara mental. Sambil menjalankan tugasnya
sebagai pembawa barang sesuai janji, dia melirik ke arah Maria yang melangkah
sambil memeluk boneka kucing.
Melangkah di tengah kota sambil memeluk
boneka rasanya cukup berat dilakukan oleh anak SMA ketimbang anak SD kelas
rendah, namun anehnya saat Maria yang melakukannya tidak terasa ada
kejanggalan.
(Yah, gimana ya... rasanya seperti ingin
bilang 'Woi kucing, geser dikit dong'.)
Melihat dua bukit yang menekan kepala
boneka itu dari belakang, pemikiran seperti itu mendadak terlintas... dan tepat
setelahnya, wajah Alisa yang memasang mata seolah melihat sampah terbayang di
benaknya, membuat Masachika merinding seketika.
(Bukan begitu... Kalau ada barang
sedahsyat itu di depan mata, cowok mana pun pasti bakal melirik. Ini naluri
pria yang menyedihkan tahu.)
Sambil membuat alasan entah kenapa
memakai gaya bicara yang beda di dalam hati, dia meminta maaf pada Alisa yang
ada di kepalanya.
"Kuze-kun, di sini tempatnya~"
"Ya! Maaf!"
"? Ada apa?"
"Nggak, anu, ya. Tidak ada apa-apa
kok..."
Melihat Masachika yang menciutkan
lehernya, Maria memiringkan
kepalanya bingung "Nnn~?", lalu
melangkah masuk ke dalam toko.
"Anu, Masha-san. Biar saya bawakan
saja barangnya."
"Ah, terima kasih~ Kalau begitu, titip Alya-nyan ya?"
"A, Alya-nyan..."
Sambil meringis melihat penamaan yang
begitu dahsyat, Masachika menerima boneka itu dari Maria.
(...Meskipun ya, aku memang sudah
menerimanya, tapi pemandangan ini ngenes banget!)
Seorang siswi SMA yang memeluk boneka
mungkin masih bisa dimaafkan dengan senyum kecut, tapi kalau cowok SMA yang
membawanya, itu mah sudah menjadi ekspresi tanpa emosi. Ini adalah kasus yang
sama sekali tidak boleh membuat kontak mata. Namun...
"Araa~ cocok banget, lho~"
"Model kepekaan macam apa yang Anda
miliki itu."
Entah bagian mana yang menarik
perhatiannya, Maria tersenyum gembira, lalu entah bagaimana caranya dia
mengeluarkan ponselnya dan mencoba mengambil foto untuk mengabadikannya.
"Ayo, say cheese."
"Nggak, mana kubiarkan?"
"Eee~ kenapa, kan bagus~"
Masachika menutupi lensa ponsel Maria
menggunakan kantong belanjaan yang dibawanya. Masachika sudah tidak merasa
sungkan lagi untuk melayangkan protes kepada senior satu ini.
"Sudah, mau lihat tehnya, kan?"
"Ah, benar juga ya. Pak Toko~"
Berhasil menghindari sesi foto, Masachika
mengawasi gerak-gerik Maria dari sudut toko.
Maria sepertinya sudah menjadi pelanggan
tetap di toko ini, sambil mengobrol sesuatu dengan sang pemilik toko paruh baya
yang sudah dikenalnya, dia mulai mencoba aroma dari berbagai daun teh.
"Kuze-kun, menurutmu yang mana yang
bagus?"
"Aduh, saya tidak tahu soal teh.
Lagian bukan saya yang bakal minum."
Mungkin karena merasa sungkan pada
Masachika yang mati gaya, Maria meminta pendapatnya, tapi Masachika menolaknya
dengan sopan.
(Kalau di situasi begini, Yuki pasti bisa
ikut bergabung, sih.)
Kalau Yuki yang merupakan putri dari
keluarga Suou, dia pasti punya pengetahuan yang lumayan soal merek teh.
Sambil memikirkan hal itu, tampaknya
Maria diperbolehkan mencicipi teh yang menarik perhatiannya. Seorang pelayan
wanita datang dari bagian dalam toko sambil membawa nampan berisi beberapa
cangkir kertas.
"Nmm~ enak. Kuze-kun juga, mumpung
ada mari kita coba?"
Sambil menempelkan bibirnya pada salah
satu cangkir kertas dan mengulas senyum lebar, Maria melambaikan tangan
menyuruh Masachika mendekat. Situasi itu langsung membuat satu hal terlintas di
benak Masachika.
(I-ini adalah... event ciuman tidak
langsung!)
Sebuah event di mana cewek yang tidak
acuh pada hal semacam itu tanpa berpikir panjang memberikan cangkir atau botol
plastik bekas minumnya. Event yang membuat banyak protagonis komedi romantis
berdebar-debar, dan memberikan sedikit kebahagiaan sebagai bayaran atas rasa
malu yang luar biasa!
(Tapi, aku berbeda.)
Masachika sangat paham bahwa dalam hal
semacam ini siapa yang merasa malu maka dialah yang kalah, siapa yang
memikirkannya maka dialah yang kalah. Ya, dalam situasi seperti ini harus
diselesaikan dengan cerdas dan penuh stylish!
"Kalau begitu..."
Di
bawah tekad itu, Masachika meletakkan barang bawaannya di tempat, lalu berjalan
mendekati Maria dengan langkah kaki yang stylish (standar Masachika)──
"Silakan, Kakak. Ini buat Kakak
juga."
"Terima kasih banyak."
Seorang pelayan wanita menyodorkan
cangkir baru, dan Masachika menerimanya sambil tersenyum. Rupanya dari awal
memang disiapkan untuk dua orang. Sungguh toko yang perhatian dan royal. Tapi,
perhatian itu sama sekali tidak membuat Masachika senang.
(Nuoooh,
oooohhーー!! Malu banget!! Aku, malu banget!!)
Sambil tersenyum dipaksakan dan menyesap
tehnya, Masachika menjerit tersiksa di dalam hati.
"Kan? Enak, kan?"
"Asli, ini beneran enak
banget."
"Yakan~"
"Asli, asli."
Masachika meronta-ronta di dalam hati
sambil tanpa sadar jadi bernada seperti anak sekolahan pecinta olahraga. Inilah
kesedihan dari otak otaku yang membuat garis batas antara dunia nyata dan dua
dimensi menjadi kabur.
◇
"Ooh, sudah pulang. Kerja bagus...
eh, bawa apa tuh kelihatannya heboh banget."
Touya yang sedang bekerja dengan dokumen
di ruang OSIS tersenyum kecut melihat boneka yang dipeluk oleh Maria.
"Lucu, kan?"
"Ya, lucu sih... tapi mau ditaruh di
mana di ruang OSIS?"
"Boleh ditaruh di sini?"
"Nggak, kalau itu tolong
jangan."
"Ketua, ini enaknya ditaruh di mana
ya?"
Masachika mengangkat kantong belanjaannya
dan bertanya, membuat Touya berdiri dari mejanya untuk melihat isinya.
"Coba kulihat... yah, barang
inventaris biasa. Kerja bagus, Kuze. Coba bayangkan kalau tadi cuma dibebankan
sama Kujou kakak saja, entah bakal jadi seperti apa..."
"Ruang OSIS bakal berubah jadi dunia
dongeng."
"Begitu ya... yah, syukurlah. Terima
kasih ya."
Mungkin menyadari sesuatu setelah melihat
boneka yang dipeluk Maria, Touya menepuk bahu Masachika dengan ekspresi penuh
arti.
"Bagaimana, Kuze. Apa kamu tidak mau
masuk OSIS saja?"
"Duh, soal itu... kalau cuma sekadar
bantu-bantu sesekali sih tidak masalah tapi."
"Kalau cuma begitu, apa tidak lebih
baik terdaftar namanya saja? Aku tidak memaksa kok."
"Ooh, Kujou kakak setuju ya."
"Nggak, cuma terdaftar namanya
saja... mana bisa begitu. Lagipula, kalau Yuki sih aku paham, tapi kenapa Ketua
ngotot banget pengen aku masuk?"
Mendengar Masachika yang bertanya dengan
heran, Touya mengelus dagunya sambil memasang ekspresi seolah ingin berkata,
"Justru aku yang heran."
"Hmm... justru, kenapa Kuze tidak
mau masuk OSIS, ya? Rasanya mustahil kalau alasannya cuma karena pekerjaannya
yang sangat padat."
"...Karena aku bukan orang yang
pantas jadi pengurus OSIS."
Dirinya tidak memiliki tekad yang kuat
untuk mengincar posisi itu, ataupun kesiapan untuk menanggung tanggung jawab
yang menyertai posisi tersebut, sehingga dia merasa tidak pantas. Melihat
Masachika yang tersenyum kecut sambil menyurutkan bayangan di wajahnya, Touya
mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi "Hmm?" sambil memiringkan
kepala.
"Menurutku tidak ada kata tidak
pantas, kok. Lagipula, kamu kan punya rekam jejak yang membanggakan sebagai
Wakil Ketua OSIS di tingkat SMP."
"Justru karena punya pengalaman
itulah aku jadi tahu. Dari awal, aku jadi Wakil Ketua pun karena diminta oleh
Yuki... Diriku sendiri tidak punya hal ingin dicapai dari jabatan itu."
"...Hmm, terus apa salahnya dengan
itu?"
"Eh?"
Mendengar suara Touya yang terdengar
benar-benar kebingungan, Masachika mendongakkan kepalanya dengan cepat. Lantas,
Touya menyeringai lebar, lalu membusungkan dadanya dan berkata.
"Kalau aku dulu jadi Ketua OSIS demi
membuat cewek yang aku suka berpaling padaku, tahu? Kurasa alasanku jauh lebih
tidak suci dibanding dirimu! Hahaha!"
"Eh? B-begitukah?"
Touya mendeklarasikannya dengan begitu
percaya diri seolah tidak ada yang perlu disembunyikan, membuat Masachika
terkejut. Kepada Masachika yang membelalakkan mata karena terkejut, Touya
mengoperasikan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah gambar.
"Coba lihat ini."
"...? Um, ini adiknya Ketua?"
"Ini aku waktu kelas tiga SMP."
"Eh!?"
Sosok yang terpampang di sana sama sekali
tidak mirip dengan Touya yang sekarang, jujur saja dia adalah seorang cowok
gemuk yang sama sekali tidak menarik.
Rambut berantakan, kacamata kuno, dan
wajah penuh jerawat.
Lebih dari apa pun, tubuh yang besar
secara vertikal maupun horizontal itu ditekuk tanpa rasa percaya diri,
memancarkan keputusasaan yang sama sekali tidak bisa dirasakan sedikit pun dari
sosok Touya saat ini.
"Dua tahun lalu, aku ini seorang
icomic tipikal seperti yang kamu lihat. Nilaiku jelek dan aku juga payah dalam
olahraga. Sejujurnya aku tidak begitu suka dengan sekolah itu sendiri... tapi,
entah bagaimana aku malah jatuh cinta pada salah satu dari dua gadis tercantik
di angkatan yang sama."
"Itu kan..."
"Ya, Wakil Ketua. Sarashina
Chisaki."
Hubungan pacaran antara Ketua dan Wakil
Ketua adalah cerita yang terkenal di sekolah. Setidaknya cukup terkenal
sampai-sampai Masachika yang tidak tertarik pada gosip murahan pun tahu.
Namun, Masachika selama ini mengira bahwa
para elite yang berada di puncak school caste itu menjadi pasangan secara
alami. Dia sama sekali tidak mengira bahwa ini adalah sebuah giant killing dari
lapisan bawah school caste.
"Makanya, supaya aku bisa menjadi
pria yang pantas menjadi pacarnya, aku berusaha setengah mati. Keberhasilanku
merebut kursi Ketua ini pun adalah bagian dari usaha itu. Bagaimana, tidak suci
kan?"
"Hahaha... yah, begitu ya..."
Mendengar orangnya sendiri mengatakannya
dengan begitu penuh percaya diri, Masachika hanya bisa tertawa. Kepada
Masachika yang tersenyum kecut karena bingung harus merespons apa, Touya
berkata.
"Makanya, intinya alasan itu tidak
penting. Kakak Kujou yang ada di sana itu juga masuk OSIS karena ajakan
Chisaki, kok."
"Begitukah?"
"Iya~? Yah, tapi ada juga alasan
karena aku sekadar tertarik sih."
Maria mengonfirmasinya sambil tersenyum
lembut. Di sana, Maria memasang wajah yang agak serius, lalu berbicara dengan
nada menasihati yang lembut.
"Menurutku ya, apa pun alasannya
yang penting seseorang bisa meninggalkan hasil dengan benar. Entah pemicunya
itu perasaan cinta ataupun persahabatan, asalkan sebagai OSIS bisa menjalankan
kegiatan yang benar-benar berguna bagi para siswa, itu saja sudah cukup."
"Begitu, ya?"
"Iya, kan? Kalau tidak, berarti
politikus itu tidak boleh jadi politikus kecuali mereka adalah seorang
suci."
"Ahaha, yah benar juga sih."
Kepada Masachika yang tertawa sinis,
namun entah kenapa terasa begitu menikmati, Touya juga mengangguk membenarkan
perkataan Maria.
"Begitu intinya. Apa pun alasannya,
kamu bersama Suou telah meninggalkan hasil yang gemilang sebagai Wakil Ketua
OSIS. Tidak ada alasan sama sekali untuk merasa malu ataupun bersalah atas hal
itu."
Kata-kata itu menggetarkan lubuk hati
Masachika jauh lebih kuat dari yang dia duga
Selama ini, selalu ada rasa bersalah di
suatu sudut hatinya. Seberapa banyak pun pencapaian yang ditinggalkannya,
pemikiran "masih ada orang lain yang lebih pantas menduduki posisi
ini" tidak pernah hilang.
Rasa bersalah karena telah merebut posisi
itu dari "seseorang" terus meninggalkan bayangan di hati Masachika.
Sebanyak apa pun pujian yang diberikan
orang sekitar, tidak ada artinya jika yang bersangkutan tidak bisa mengakuinya
sendiri. Jika tidak diiringi dengan rasa percaya diri, kemuliaan apa pun akan
terasa hampa.
Tapi sekarang, lewat kata-kata Touya dan
Maria, Masachika untuk sesaat bisa mengakui dirinya di masa lalu.
"Masuk OSIS demi menjadikan orang
lain sebagai Ketua? Bagus sekali. Aku, Chisaki, maupun Kujou kakak juga
menyambutnya. Tidak akan kubiarkan siapa pun protes."
Melihat Touya yang berkata demikian
dengan angkuh dan senyum penuh keyakinan, Masachika merasa matanya agak panas.
Dia tidak tahu apakah rasa haru itu berasal dari kelegaan karena dimaafkan oleh
masa lalunya sendiri, ataukah dari rasa kekaguman terhadap sosok Touya yang
begitu cemerlang.
"......Akan kucoba pikirkan
sebentar."
"Ooh, pikirkanlah baik-baik. Merasa
bingung adalah hak istimewa anak muda, kok."
"Ketua juga anak muda, kan~. Jujur
saja tidak kelihatan seperti anak kelas dua SMA lho."
"Hahaha, sering dibilang begitu!
Kemarin bahkan aku disangka mahasiswa pascasarjana!"
Di hadapan dua senior yang tertawa cerah
dengan ramah, Masachika ikut menyunggingkan senyum tipis.
(Demi menjadikan seseorang sebagai Ketua,
ya...)
Sambil merenungkan kata-kata Touya di
dalam hati, sesaat kemudian dia terkejut saat sosok seseorang secara alami
terlintas di benaknya.
Karena sosok itu bukanlah Yuki,
melainkan...
"......Ngomong-ngomong, hari ini
Alya di mana?"
Mencoba mengalihkan pikirannya, Masachika
bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Meski itu adalah
pengalihan topik yang mendadak, Touya menjawabnya tanpa rasa curiga sedikit
pun.
"Ah, Kujou adik sedang pergi untuk
menengahi masalah di klub olahraga... ngomong-ngomong, lama juga ya."
"Masalah? Itu..."
"Tenang
saja. Bukan berarti ada perkelahian fisik kok. Sebenarnya──"
Katanya, masalah itu adalah perebutan hak
penggunaan lapangan sekolah antara klub sepak bola dan klub bisbol.
Klub sepak bola dan klub bisbol, keduanya
menggunakan lapangan sekolah sebagai tempat latihan.
Dan pada musim seperti ini setiap
tahunnya, klub bisbol menggunakan lapangan sedikit lebih banyak untuk persiapan
pertandingan luar yang sudah menjadi agenda rutin tahunan.
Namun, tahun ini klub sepak bola
mengajukan keberatan atas hal itu.
Katanya, "Klub sepak bola juga ada
jadwal pertandingan luar, jadi tolong berikan hak penggunaan lapangan kepada
kami."
"Klub bisbol bersikeras karena itu
adalah jadwal yang sudah ditentukan setiap tahun, sementara klub sepak bola
bersikeras bahwa tidak adil jika klub bisbol yang prestasinya lebih sedikit
terus yang diprioritaskan hanya karena tradisi. Faktanya, prestasi klub sepak
bola meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sementara klub bisbol jumlah
anggotanya berkurang dan menyusut akhir-akhir ini... jadi kedua belah pihak
sama-sama punya argumen yang kuat, agak susah mencari jalan tengahnya."
"Dan hal itu sedang ditengahi oleh
Alya?"
"Iya. Biasanya masalah antar klub
seperti ini ditangani oleh Chisaki, tapi hari ini dia tidak bisa ditinggal
karena urusan di klub kendo. Aku menyerahkannya pada Kujou adik karena
menganggap ini sebagai pengalaman juga, tapi... sepertinya cukup mengalami
kesulitan, ya."
Setelah melihat jam dinding, Touya
mengarahkan pandangannya ke luar jendela, ke arah gedung klub.
"......Apa tidak apa-apa?"
"Hah? Yah, meski situasinya sedikit
memanas, kurasa tidak akan sampai berujung tawuran kok."
Touya mengedikkan bahunya santai. Tanpa
ada rasa khawatir sama sekali, Maria merapikan barang inventaris yang baru
dibeli.
Namun, di dalam benak Masachika terbayang
sosok Alisa yang hampir bersitegang dengan seorang pekerja kantoran pemabuk
beberapa hari lalu. Rasa cemas mulai merayap di dada Masachika.
"......Kalau begitu, saya permisi
dulu."
"Ooh, hati-hati di jalan."
"Terima kasih untuk hari ini ya.
Nanti kapan-kapan aku traktir lagi."
"Ya."
Sambil setengah gelisah, Masachika pamit
pada para seniornya lalu keluar dari ruang OSIS.
"......Lebih baik aku pastikan saja
apakah mereka beneran tidak sedang bertengkar."
Dan setelah menggumamkan hal itu tanpa
tujuan yang jelas, dia mengarahkan langkahnya bukan ke pintu keluar, melainkan
ke gedung klub.
◇
"Makanya! Meskipun kalian bilang itu
tradisi, bukannya itu cuma sebatas pertandingan persahabatan, ya? Kami ini ada
pertandingan penting buat turnamen, tahu!"
"Justru karena pertandingan
persahabatan makanya itu penting! Ada urusan relasi dengan sekolah lain juga,
dan yang memaksakan kehendak itu kan kalian dari awal!"
Ruang klub sepak bola benar-benar
memperlihatkan kondisi yang siap meledak sewaktu-waktu. Belasan murid senior
dari klub sepak bola dan klub bisbol yang berkumpul di sana saling menatap
tajam tanpa ada satu pihak pun yang mau mengalah.
"Tolong tenanglah. Bukannya tidak
ada gunanya jika kita saling menyalahkan begini?"
Alisa yang berdiri di antara mereka
berusaha menengahi untuk kesekian kalinya, tetapi tidak terlalu membuahkan
hasil.
Sebenarnya, sebagai bahan bujukan, Alisa
telah menyiapkan tempat latihan baru di bantaran sungai dekat sekolah. Namun,
kali ini pendapat mereka justru bertolak belakang mengenai siapa yang akan
menggunakan lapangan sekolah dan siapa yang akan menggunakan bantaran sungai.
Perdebatan terus berjalan tanpa titik
temu, dan diskusi kedua belah pihak kini sudah berada dalam kondisi yang hampir
mirip dengan aksi saling maki.
Alisa berusaha mencari jalan tengah,
tetapi kedua pihak yang sudah terlanjur emosi sama sekali tidak mau memberikan
kompromi.
"Lagipula jumlah anggota klub sepak
bola itu jauh lebih banyak! Kalau memperhitungkan kerepotan saat berpindah
tempat, harusnya kalian yang pindah!"
"Justru karena itu anggaran yang
kami dapat lebih besar, kan! Sudah begitu masih mau merebut tempat latihan kami
lagi, itu mah murni intimidasi jumlah!"
"Tolong tenang, tolong
tenanglah!"
Meski berusaha menenangkan mereka dengan
sekuat tenaga, hati Alisa sebenarnya sudah hampir patah.
Sehebat apa pun Alisa, berada di antara
para murid laki-laki senior bertubuh bongsor tetap saja membuatnya merasa
takut.
Ditambah lagi, usul yang dikeluarkannya
terus-menerus ditolak, dan jika terus-menerus dihujani kata-kata pedas dari
kedua sisi, Alisa pun tentu akan merasa tertekan secara mental.
Dia hanya bisa bertahan sejauh ini berkat
rasa tanggung jawab atas tugas yang diterimanya serta sifat pantang menyerah,
tetapi hal itu pun sudah mendekati batasnya.
(Tidak ada orang... yang mau mendengarkan
kata-kataku. Aku, memang...)
Tidak bisa menggerakkan hati orang lain.
Hal itu sudah samar-samar disadarinya
sejak lama.
Meremehkan orang lain, menepis mereka
dengan berpikir "Toh tidak ada yang bisa mengimbangiku", serta
menolak untuk memahami dan mendekatkan diri.
Ini adalah pembalasan atas hal itu.
Siapa yang mau mendengarkan kata-kata
dari orang seperti ini?
Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah
mencoba memahami perasaan orang lain, dan hanya bisa menyodorkan argumen benar
dari sudut pandang di atas, sanggup menggerakkan hati seseorang?
(Aku... sendirian.)
Fakta itu meresap ke dalam hati Alisa
yang terluka bagaikan racun dingin yang menyiksa dengan rasa sakit yang tajam.
Dia paham. Yang memilih untuk menjadi
seperti ini adalah dirinya sendiri. Menganggap semua orang di sekelilingnya
hanya sebagai saingan, dan hidup agar tidak kalah dari siapa pun.
Karena semua ini adalah hal yang
dipilihnya sendiri, jadi mau bagaimana lagi.
(Ya,
aku paham. Aku paham...っ)
Tapi, tapi...!
【助けて……】(Tolong aku…..)
Keluhan lemah yang dibisikkannya secara
pelan adalah bahasa Rusia yang tidak dipahami oleh siapa pun di tempat ini.
Dia tidak bisa membuang harga dirinya
lalu melarikan diri, tidak bisa menangis dan berteriak, dan bahkan tidak bisa
meminta bantuan secara jujur.
Di sudut hatinya, dirinya yang tenang
mengatakannya dengan dingin, "Makanya kamu itu sendirian." Sambil
mengejek dirinya sendiri bahwa hal itu memang benar, mulut Alisa tetap memeras
suara dari dalam tenggorokannya yang gemetaran.
【誰か、助けてよぉ……】(Seseorang, tolong aku…..)
Itu adalah SOS yang sangat pelan dan
menyedihkan, namun bagi Alisa, itu adalah jeritan paling memilukan yang
dikeluarkannya sekuat tenaga.
Kata-kata yang dibisikkan oleh gadis yang
menyendiri tanpa niat menyampaikannya kepada siapa pun itu, seharusnya sirna
begitu saja tergerus oleh teriakan amarah yang bersahutan di dalam ruangan...
seharusnya.
Gagagaga!
Suara pintu geser yang dibuka secara
mendadak bergema di dalam ruangan, membuat pandangan semua orang yang ada di
sana terpusat secara bersamaan.
Di sana berdiri seorang murid laki-laki
berpenampilan biasa.
Melihat warna dasinya, dia adalah murid
kelas satu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi atau kekar, dan merupakan yang paling
kurus di antara para murid laki-laki di ruangan ini.
Namun, saat pemuda itu menyapu
pandangannya ke seluruh ruangan, semua orang di tempat itu menahan napas. Dalam
sekejap, mereka terseret oleh atmosfer yang dipancarkan oleh pemuda tersebut.
Pemuda yang hanya dengan pandangan
matanya sanggup membungkam para murid senior yang tadinya dipenuhi hawa
membunuh itu, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan tegap... lalu mendadak
mengulas senyum santai dan berkata.
"Halo~, saya datang sebagai bantuan
dari OSIS. Saya Kuze Masachika, urusan umum OSIS."
◇
Masachika yang tiba di depan ruang klub
sepak bola, berdiri mendengarkan dari luar ruangan saat Alisa berjuang
sendirian.
(Ini sih sudah tidak mungkin, Alya.)
Hanya mendengarkan suara Alisa yang
berusaha sekuat tenaga menyampaikan kata-katanya seorang diri, Masachika
menilai hal itu secara dingin.
Kedua belah pihak sudah terlalu tersulut
emosi. Masalah ini harus dihentikan dulu untuk sementara, lalu mendiskusikannya
kembali di hari lain setelah mereka merasa tenang.
Jika itu Alisa yang pintar, dia pasti
paham kalau itulah jawaban terbaik dalam situasi seperti ini.
Apakah karena dia merasa panik atas tugas
yang dipercayakan oleh Ketua, sehingga dia kehilangan momen untuk mundur?
(...Yah, kasihan sih, tapi ini juga
pengalaman.)
Kalau terus begini, tanpa perlu
dihentikan oleh Alisa pun, tidak lama lagi diskusi mereka akan pecah karena
bertengkar.
Setelah itu, tinggal mengatur waktu untuk
berdiskusi kembali dari awal.
Sebagai orang luar, dia tidak boleh
menyela dengan cara yang salah di sini, dan jika dia melakukannya, hal itu
justru akan melukai harga diri Alisa.
"Semangat ya, Alya."
Setelah
melayangkan dukungan pelan dalam satu kata, Masachika meninggalkan tempat itu──
【助けて……】(Tolong aku…..)
Di punggung Masachika yang baru saja
membalikkan badan, sebuah SOS pelan pun sampai. Langkah kaki yang terayun
berhenti seketika.
Suara yang lemah dan memilukan.
Suara minta tolong darinya yang tidak
pernah didengarnya sekali pun selama ini.
Atas suara yang membuat dadanya sesak
luar biasa itu, Masachika menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar.
(*Ah, sialan! Kenapa kamu malah bilang
begitu!*)
Harusnya aku pergi dari tempat ini
sedikit lebih cepat. Kalau begitu, aku tidak perlu mendengar suara seperti itu
darinya.
Betapa canggungnya SOS itu. Harusnya dia
minta bantuan saja secara jujur pada Ketua atau kakaknya. Karena dia tidak bisa
melakukan hal itulah makanya dia selalu sendirian sampai kapan pun. Gara-gara
hal seperti itu...
【誰か、助けてよ……】(Seseorang,
toloang aku…..)
Bagaimanapun juga, aku tidak bisa
membiarkannya.
【Японял】(Aku mengerti))
Setelah berbisik pelan, Masachika
mengusap rambutnya dengan kasar, lalu membalikkan badannya kembali.
◇
Di tengah kebingungan banyak orang atas
penyusup yang mendadak ini, beberapa murid termasuk Ketua Klub Bisbol
melontarkan suara terkejut, "Kuze...". Mereka adalah orang-orang yang
mengenal Masachika sejak zaman OSIS tingkat SMP.
"Kuze, kun..."
Menepuk punggung Alisa yang memanggil
namanya dengan suara penuh terkejut dan bingung namun entah kenapa terasa
bersandar padanya, Masachika maju ke depan seolah melindungi Alisa di
belakangnya.
"Saya sudah mendengar garis besarnya
dari Ketua, apa benar masalahnya adalah perebutan tempat latihan antara
lapangan sekolah dan bantaran sungai, mengenai siapa yang menggunakan yang
mana?"
"Ya, benar."
"Terima kasih."
Yang menjawab pertanyaan Masachika adalah
Ketua Klub Bisbol yang entah kenapa sejak tadi terus membisu.
Di tengah anggota lain yang melontarkan
makian, dia yang terus diam menatap Masachika dengan mata yang menyimpan
harapan dan rasa percaya secara berimbang.
Seolah menjawab pandangan mata itu,
Masachika mengedarkan pandangannya sekali ke seluruh wajah kedua belah pihak
sebelum akhirnya berkata.
"Kalau begitu, bagaimana jika
seperti ini. Mengingat jumlah orang yang berpindah, klub bisbol yang akan pergi
ke bantaran sungai. Namun sebagai gantinya, dari klub sepak bola yang jumlah
anggotanya lebih banyak, akan mengirimkan tenaga bantuan untuk membantu
mereka."
Atas usulan Masachika, klub sepak bola
merasa bingung, sementara klub bisbol merasa keberatan.
"Apa-apaan itu! Pada akhirnya kami
kan yang kena ruginya!"
"Kenapa cuma kami yang harus
diasingkan ke bantaran sungai!"
Protes yang wajar pun membumbung. Namun,
hal itu ditenangkan hanya oleh satu suara yang muncul dari pihak klub sepak
bola.
"Kalau jalannya begitu, para manajer dari kami yang bakal pergi membantu klub bisbol kok."
Suara yang menyela adalah seorang siswi
yang bertindak sebagai manajer klub sepak bola.
Berkat penampilannya yang cantik serta
dukungannya yang penuh pengabdian kepada para pemain, dia adalah manajer kepala
klub sepak bola yang sangat populer di kalangan murid laki-laki.
Atas pencalonan diri yang tidak
disangka-sangka ini, di pihak klub bisbol melintas atmosfer seolah bilang
"Kalau gadis itu yang datang membantu sih...". Namun, kali ini pihak
klub sepak bola yang mengajukan keberatan.
Meski begitu, keberatan itu pun
ditenangkan hanya oleh satu kalimat darinya, "Kalau mereka mau menyerahkan
hak penggunaan lapangan sekolah, hal sekecil ini sudah sepatutnya kita lakukan,
kan."
"...Dari pihak kami tidak keberatan
dengan syarat itu, bagaimana menurut kalian?"
Membaca atmosfer para anggotanya, Ketua
Klub Bisbol bertanya demikian, dan Ketua Klub Sepak Bola pun mengangguk sambil
agak meringis.
"Kalau begitu, diputuskan seperti
itu ya. Besok atau kapan pun, silakan datang lagi ke OSIS untuk mengajukan
permohonan secara resmi."
Masachika menutupnya seperti itu, dan
diskusi kedua belah pihak pun
terselesaikan secara lancar dengan bentuk
yang tak terduga.
◇
Seusai diskusi, Masachika dan Alisa
berjalan di koridor gedung klub menuju bangunan utama sekolah. Tanpa ada
percakapan di antara keduanya, mereka melangkah dengan tenang tanpa saling
bertukar pandang.
"...Ah~, maaf ya."
Tak lama kemudian, Masachika yang tidak
sanggup menahan keheningan berucap demikian, membuat Alisa mengarahkan ekspresi
heran ke arah Masachika.
"Aku seenaknya ikut campur dan
memajukan pembicaraan. Aku jadi bikin kamu kehilangan muka, ya."
"...Tidak juga."
Setelah mengatakannya secara dingin,
Alisa kembali menghadap ke depan. Namun, sambil tetap menghadap ke depan dia
langsung mengangkat suaranya, "Nee."
"Kenapa kamu memberikan usulan
seperti itu?"
"Nng?"
"Kalau dipikir secara normal, tidak
mungkin klub bisbol akan setuju dengan usulan seperti itu. Di mataku, kamu
terlihat seolah-olah sudah tahu kalau senior itu akan mencalonkan diri untuk
membantu."
"Hee... kamu paham betul, ya."
"Paham lah. Saat klub bisbol sedang
memprotes, kamu terus menatap ke arah senior itu, kan."
Sambil merasa kagum karena Alisa
memperhatikan dengan sangat baik, Masachika membeberkan rahasianya dengan nada
bicara yang santai.
"Ini rahasia, ya?"
"? Ya."
"Senior manajer itu... sebenarnya
pacaran sama Ketua Klub Bisbol."
"Eh!?"
Atas informasi yang di luar dugaan ini,
Alisa membelalakkan matanya lebar-lebar lalu melihat ke arah Masachika.
"Ketua Klub Bisbol terus membisu
selama diskusi, kan? Itu karena kekasihnya ada di pihak lawan, makanya dia
tidak bisa bicara keras. Biarpun mencampuradukkan urusan pribadi dan kelompok
itu keterlaluan, tapi yah mau bagaimana lagi."
"Jadi, begitu..."
"Di sisi lain, si cewek juga sadar
kalau pihak mereka menuntut hal yang berlebihan jadi merasa tidak enak.
Makanya, aku tahu kalau diberikan usulan seperti itu di sana, dia pasti bakal
ikut."
"...Begitu."
"Klub bisbol senang karena dapat
bantuan latihan dari gadis-gadis imut. Klub sepak bola senang karena bisa
menguasai lapangan sekolah secara eksklusif. Mereka berdua senang karena bisa
kencan latihan menembus batas klub. Ya ampun, tiga pihak benar-benar selesai
dengan damai!"
Masachika tertawa sambil menambahkan,
meski merasa para anggota biasa klub bisbol yang tidak tahu apa-apa agak
sedikit dirugikan sih.
Menatap Masachika yang seperti itu, Alisa
pun menyunggingkan sedikit senyuman.
"...Tapi
tunggu──"
Namun di sana, melihat seorang murid
laki-laki berdiri di ujung koridor
yang terhubung ke bangunan utama sekolah,
senyuman Masachika sedikit bercampur rasa pahit.
"Ooh, apa diskusinya berjalan
lancar?"
"Ketua..."
Di sana berdiri Touya. Tanpa
memperlihatkan raut heran melihat
Masachika bersama Alisa, dia memajang
senyuman seolah sudah memprediksi semuanya.
"...Klub sepak bola menggunakan
lapangan sekolah, dan sebagai gantinya klub bisbol menggunakan bantaran sungai,
lalu selama masa itu manajer klub sepak bola akan membantu klub bisbol. Diskusi
selesai dengan kesepakatan itu. ...Ini semua berkat Kuze-kun."
"Begitu ya, kerja bagus Kujou
adik."
Mendengar Alisa yang menyampaikan fakta
secara datar, Touya memujinya tanpa mengatakan hal yang tidak perlu. Kepada
Touya yang seperti itu, Masachika menusukkan mata sipit sebagai bentuk
perlawanan minimum.
"Apakah semuanya berjalan sesuai
rencana Anda?"
"Nng? Bukannya seperti itu juga
sih."
"Di saat Anda tidak menjawab 'Apa
maksudmu?', itu sudah cukup
membuktikan kalau Anda memang
pelakunya."
"Oho... aku kalah telak ya."
Melihat Touya yang mengangkat kedua
tangannya secara jujur, Masachika menghela napas seolah semangat bertempurnya
dilucuti.
"Lalu, bagaimana? Apa keputusannya
sudah bulat?"
"..."
Sambil berpikir bahwa pria ini memang
sudah tahu semuanya, kali ini Masachika mengibarkan bendera putih secara jujur.
"Ya, begitulah... Saya, Kuze
Masachika yang masih serba kekurangan ini, akan bergabung sebagai anggota OSIS
di posisi paling bawah."
"Ooh, selamat bergabung ya."
Touya yang menyunggingkan senyum maskulin
yang pekat, dan Masachika yang mengulas senyum kecut seolah ingin bilang
"Aku benar-benar tidak berkutik padanya". Dua orang yang mengulas
senyum berlawanan itu saling berjabat tangan dengan erat.
Melihat pemandangan itu dari posisi yang agak mundur, Alisa mengawasinya dengan raut wajah yang entah kenapa terasa rumit.



Post a Comment