NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tonari no Seki no Seijo-sama wa Ore ni Kossori Sukāto no Naka o Oshiete Kureru V1 Chapter 3

 Penerjemah: Ceruzz

Proffreader: Ceruzz


Chapter 3

Keadaan Gadis Suci yang Tidak Terlalu Rumit

"Uung, jam sepuluh ya……"


Saat terbangun dari tidur kedua, waktu sudah menunjukkan nyaris tengah hari.


Kondisi tubuhku tidak begitu fit.


Nafsu makan juga tidak ada, jadi aku hanya minum air putih lalu 

kembali ke atas kasur.


Sebelum tidur lagi, aku sempat mengecek ponsel.


Ada beberapa pesan dari teman-teman yang mengkhawatirkan kondisiku.


Namun di antaranya, ada satu pesan yang mencolok.


『Hari ini warna hitam. Sudah mendingan? Mau kulepas saja?』


Logika macam apa coba.


『Jangan dilepas, nanti kamu ikut masuk angin. Tapi agak mendingan sih』


Setelah membalas pesan tersebut, aku kembali menyusup ke dalam selimut.


◇ ◇ ◇


"Hei, Himuro-kun. Menurutmu sekarang aku pakai? Atau tidak pakai? 

……Coba pastikan sendiri?"


"Aah……"


Tepat saat aku hendak menyingkap rok Saotome untuk memastikan isinya──


Ting tong!


Suara bel rumah yang tidak tahu situasi membangunkanku.


Sialan, siapa sih yang mengganggu orang lagi mimpi indah……


Sambil merasa jengkel, aku mengecek layar interkom.


Di sana tampak sosok Saotome.


Aku pun terburu-buru menuju pintu depan.


"Halo, Himuro-kun. Muka kamu tidak sepucat yang kubayangkan ya."


Ucap Saotome yang di tangannya memegang kantong belanjaan.


Tampaknya dia datang untuk menjengukku.


"Harusnya kabari dulu dong."


"Aku sudah kirim pesan pas jam makan siang tadi, tapi tidak kamu baca-baca."


"Eh."


Aku buru-buru mengecek ponsel.


Memang benar ada pesan dari Saotome yang berbunyi, 『Sepulang sekolah aku mau datang menjenguk, ada barang yang ingin kamu titip?』.


……Nggak menyangka kalau sekarang sudah sore saja.


"Karena tidak ada balasan, jadi kubelikan barang konsumsi seadanya saja."


"……Begitu ya. Terima kasih."


"Tidak usah dipikirkan. Lagipula bisa dibilang kamu masuk angin gara-gara aku juga."


Untuk sementara, aku membiarkan Saotome masuk ke dalam rumah.


"Hee…… walau dengar kamu tinggal sendirian, tempat ini ternyata lumayan rapi ya. Kukira bakal banyak sampah berserakan di mana-mana."


"Aku selalu membuangnya kok, jadi tenang saja."


Memangnya dia pikir aku ini apa sih……


Saat membatin begitu, Saotome menyodorkan kantong plastik di tangannya padaku.


"Plester pendingin sama permen tenggorokan. Terus, aku juga belikan bubur instan sama makanan kaleng. Nggak bakal mubazir, kan?"


"Terima kasih. Aku utang budi. ……Ada struknya?"


"Ada di dalam kantong. Tapi tidak usah dibayar juga tidak apa-apa kok. 

Ngomong-ngomong……"


Saotome dengan santai menepukkan tangannya ke bahuku.


"Ngg……!?"


Lalu dia mendadak mendekatkan wajahnya.


Bibirnya yang tampak kenyal makin mendekat.


Di dalam matanya yang biru, bayangan wajahku terpantul.


Dahi kami saling bersentuhan.


"Demammu tidak terlalu tinggi ya."


"B-bodoh, hentikan……!"


Aku buru-buru menarik diri dari Saotome.


Saotome justru memasang senyum jahil.


"Wajahmu merah banget. Jangan-jangan demamnya malah makin 

parah?"


Anak ini benar-benar ya.


Mumpung orang lagi tidak bisa melawan, seenaknya saja.


"Jangan ngerjain orang sakit dong."


"Benar juga sih. Tapi, kamu kelihatan lebih segar dari dugaanku. 

……Punya nafsu makan?"


"Nafsu makan sih……"


Aku mengelus perutku.


Sejak pagi tadi aku belum makan apa-apa.


"……Yah, lumayanlah."

"Begitu ya. Kalau begitu, mau kubuatkan sesuatu?"


"……Bisa bikin?"


"Tergantung isi kulkasmu."


Ucap Saotome sambil mengeluarkan celemek dari dalam tasnya.


Penampilan sang Gadis Suci saat memakai celemek ternyata lumayan cocok juga.


"……Bikin kamu repot sampai sejauh ini, rasanya tidak enak juga sih."


"Kalau kamu tidak cepat sembuh, aku bakal kesulitan karena tidak ada teman lho."


"Aah, begitu……"


Rasanya agak rumit.


"Ngomong-ngomong, Himuro-kun."


"Apa?"


"Menurutmu sekarang aku pakai? Atau tidak pakai?"


Saotome menjepit ujung roknya, lalu mengangkatnya sedikit.


Paha putihnya mengintip sekilas di jarak pandangku.

"Boleh kupastikan?"


"Ya jelas tidak boleh dong."


Saotome mengatakannya dengan wajah datar lalu menurunkan roknya kembali, kemudian berjalan menuju dapur.


……Rupanya tadi itu bukan mimpi yang jadi kenyataan.


◇ ◇ ◇


"Aku kaget ternyata bahan makanannya lumayan ada. Kamu masak sendiri ya."


Sambil mengatakan hal itu, yang dibawakan Saotome untukku adalah 

bubur telur.


Aroma lezat mengelus indra penciumanku.


"Yah, begitulah."


"Untuk ukuran lumayan, pilihannya cukup lengkap lho."


Dua hari sekali aku memang memasak sendiri sih……


Meski begitu, di tengah kondisi masuk angin begini aku sama sekali tidak ada gairah untuk memasak.


Kukira aku cuma bisa membeli makanan seadanya di minimarket, jadi aku benar-benar berterima kasih pada Saotome.


Terlebih lagi, ini masakan buatan sang Gadis Suci.


Rasanya dari aromanya saja sudah kelihatan enak.


"Kalau begitu, selamat makan."


Aku mengambil sendok lalu menyuapkan bubur telur ke dalam mulut.


Aroma kaldu yang lembut menyebar di dalam mulut.


Rasanya agak hambar, tapi untuk kondisi tubuh yang sedang kurang fit seperti sekarang justru pas sekali.


Daun bawang yang ditaburkan di atas bubur menjadi aksen yang pas.


"Enak. Kamu jago masak ya."


"Padahal bukan makanan yang butuh banyak usaha lho. Cuma 

memanfaatkan bahan yang ada saja."


"Bisa bikin makanan enak dalam waktu singkat pakai bahan seadanya itu justru bukti kalau kamu jago masak, tahu."


Orang yang jarang memasak pun kalau bikin sambil melihat resep pasti bisa membuat makanan yang mewah dan rumit.

Tapi cuma orang yang terbiasa memasak yang bisa membuat makanan enak dengan mudah hanya dari bahan seadanya.


"……Biasa saja kok."


Saotome memalingkan pipinya yang merona canggung.


Ekspresi anak ini yang seperti ini lumayan langka lho.


"Mumpung lagi ngobrol santai, boleh kutanya sesuatu?"


"Silakan."


"Hobi anehmu itu, sejak kapan mulainya?"


"……Gimana ya."


Pandangan mata Saotome menerawang jauh.


"Waktu itu, di suatu hari musim panas yang terik."


"Hou."


"Waktu itu aku masih SD. Hari itu ada pelajaran renang. Tapi, karena aku malas berganti pakaian renang……"


"Aha. Aku paham banget kalau kamu itu tipe yang mengulang kesalahan yang sama berulang kali."

Singkatnya sama seperti sebelumnya, gara-gara berangkat sekolah sudah memakai baju renang, dia lupa membawa pakaian dalam dan akhirnya menghabiskan hari tanpa celana dalam, kan.


Gara-gara itulah kelainan ‘itu’ jadi makin parah.


"……Kemarin itu bukannya aku sengaja lupa lho! Beneran deh. Aku tidak semesum itu kok."


Entah kenapa Saotome mendadak panik memberi penjelasan.


Di titik kamu memutuskan tidak pakai saja sudah mesum, jadi tidak pakai bra mah tidak ada bedanya, pikirku.


Anak ini, apa tidak sadar kalau dirinya itu mesum ya? Kayaknya memang tidak sadar deh.


"Boleh kutanya satu hal lagi?"


"Iya."


"Bukannya kalau punya pacar masalahmu bakal selesai? Kenapa tidak cari pacar saja?"


Harusnya dia tinggal melakukan permainan eksibisionis atau apa pun itu sepuasnya sama pacarnya kan.


Yah, bukan berarti aku merasa keberatan sih.


"Pacar ya…… yah, bukannya tidak pernah kupikirkan sih."


"Tapi?"


"Kalau setelah putus dia malah menyebarkan hal yang tidak-tidak kan repot?"


"Memang sih."


Soalnya ini kan gaya permainan yang khusus.


Pasti tidak mau kan kalau sampai disebarkan, "Cewek itu mesum banget lho!".


"Lagipula, belum tentu juga dia mau melayani hobiku kan."


"Benar juga sih."


"Lagi pula pacaran itu rumit, kan? Pernikahan juga……"


Raut wajah Saotome saat mengatakan hal itu tampak sedikit redup.


Apa pernah ada kejadian tidak menyenangkan terkait urusan asmara di masa lalu ya.


……Yah, untuk gadis secantik dia, tidak aneh sih kalau pernah punya satu atau dua mantan pacar di masa lalu.


"Lagipula ya, memperlihatkan kulit ke pacar sendiri itu bukannya hal yang biasa?"


"……Fumu?"


Arah pembicaraannya agak bergeser nih.


"Keadaan di mana aku memperlihatkannya ke orang yang 'bukan pacar' ini yang penting. Kan sudah kubilang, yang penting itu bukan hasil akhirnya, tapi prosesnya?"


Ternyata jauh lebih menyimpang dari dugaanku.


"Kalau cuma butuh orang yang bukan pacar, selain aku kan masih ada yang lain. Kenapa tidak bikin teman seperti itu saja?"


"Aku tidak suka orang yang terlalu bernafsu ingin melihat."


Ha, haa……?


Memang sih aku bukannya bernafsu ingin melihat.


"Aku tidak suka digas begitu lho. Tapi, kalau benar-benar menolak juga 

rasanya bukan begitu kan? Makanya batasanmu itu terasa pas banget."


Rasanya aku paham, tapi juga terasa makin tidak paham.


……Memang sejak awal mencoba memahaminya saja sudah salah kali ya.


Namanya juga kelainan aneh.


"Makanya, cepat sembuh ya. Soalnya sekolah tanpa kamu itu membosankan."


"Iya, iya."


Harusnya ini tipe kalimat yang bikin senang, tapi rasanya sama sekali tidak membuatku bahagia.


"Ngomong-ngomong, boleh ganti aku yang tanya?"


"Silakan."


"Katanya anak laki-laki itu suka sembunyiin buku mesum di bawah tempat tidur. Boleh kuperiksa?"


"Boleh-boleh saja sih, tapi di bawah tempat tidur tidak ada kok."


"Di bawah tempat tidur tidak ada, ya. Berarti kamu punya, kan."


Saotome mengatakannya sambil menyunggingkan senyum jahil.

Mungkin dia pikir aku baru saja menggali kuburanku sendiri?


"Ada di dalam lemari di sebelah sana kok."


"……K-kok pasrah banget bilangnya."


Entah kenapa Saotome malah pasang kuda-kuda.

Timing muncul rasa curigamu itu aneh banget lho.


"Anak seumuran kita kan wajar kalau punya hal seperti itu. Ditutupi juga tidak ada gunanya."


"Aku tidak punya lho?"


"Fuun."


"B-beneran tahu? ……Kalau cuma sekelas R-12 sih, punya."



Ucap Saotome sambil memalingkan wajah canggung.


Padahal kehidupan sehari-harinya sendiri sudah berlabel R-18, tapi kenapa coba malah sok polos begini.


"……Boleh kulihat?"


"Terserah kamu."


Begitu aku berikan izin, Saotome dengan ragu-ragu membuka lemari.


Lalu memasukkan kepala ke dalam lemari.


Pantatnya yang terbalut rok tampak bergoyang.


……Apa sekarang dia pakai ya? Atau tidak pakai? Bikin penasaran saja.


"Banyak juga koleksimu ya……"


Saotome menarik keluar satu dus karton dari dalam lemari.


Lalu membukanya, dan mengambil salah satu buku dari dalamnya.


Kemudian dia membuka halaman depannya dan……


"Kyyaa!"


Dia menjerit.


"……Kenapa?"


Di dalam koleksiku, memang ada beberapa yang gambarnya lumayan ekstrem.


Apa dia tidak sengaja mengambil yang level lanjut yang dosisnya terlalu kuat buat pemula ya……


Pikirku begitu, tapi begitu kulihat sampulnya, ternyata itu cuma komik romansa murni antar manusia normal.


"Te-telanjang…… ba-bagian pentingnya kelihatan jelas!"


Saotome mengatakannya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.


Tapi kalau dilihat-lihat lagi, matanya mengintip dari celah jari-jarinya.


"Namanya juga buku mesum, ya wajarlah."


"Ta-tapi, ini kan bukannya konten yang boleh dibaca dan dilihat 

anak-anak……"


"Ya makanya dinamakan buku mesum."

Ngarang apa sih anak ini.


Meski begitu, rupanya dia memang penasaran, Saotome mulai membuka buku tipis itu dengan ragu-ragu.


"A-tidak senonoh ini…… e, eeh? Sa-sampai bagian situ juga? Ga-gak boleh dong……"


Saotome terus meracaukan hal semacam itu sambil menatap lekat-lekat komik tipis tersebut.


Pada akhirnya, dia mulai merapatkan kedua pahanya dan bergoyang gelisah.


Tampak begitu hanyut sampai-sampai tidak menyadari keadaan sekitar.


"Suka?"


"Eh? A-tidak, bu-bukan begitu! I-ini cuma sebatas rasa penasaran 

akademis saja, bukannya……"


"Kalau suka, kubolehkan pinjam kok."


Mendengar kata-kataku, mata Saotome membelalak.


"B-boleh?"


"Bawa saja sebanyak yang kamu mau."


Ucapan terima kasih karena sudah merawatku…… rasanya terlalu menggurui kalau dibilang begitu.


Lagipula membagikan hal yang disukai kepada orang lain itu sudah jadi 

naluri manusia.


"Be-begitu ya. ……Kalau begitu, kupinjam ya. Bu-bukannya aku suka hal seperti ini deh? Cuma penasaran saja sama kelanjutannya. Kan tidak bagus kalau tanggung……"


Sambil terus beralasan, Saotome terburu-buru memasukkan komik tipis itu ke dalam tasnya.


"Lalu, Saotome."

"A-apa?"


"Terima kasih makanannya. Enak banget."


Aku memperlihatkan mangkuk yang sudah kosong.


Aku bisa menikmatinya sampai suapan terakhir.


"B-begitu ya. Sama-sama…… Sisa makanannya sudah kumasukkan ke wadah penyimpanan dan kutaruh di kulkas. Kalau mau dimakan, jangan sampai keburu basi ya."


"Pengertian banget. Terima kasih ya."


"Ka-kalau begitu…… aku pulang dulu."


"Iya. ……Lain kali ceritakan kesannya ya."


"E-eh…… kalau sudah selesai kubaca ya."


Saotome berlalu pergi sambil memeluk tasnya erat-erat di dada.


Dua hari kemudian.


Begitu akhirnya pulih, aku kembali masuk sekolah setelah sekian lama……


Kali ini giliran Saotome yang masuk angin.


……Ya, fix ini gara-gara aku sih.


◇ ◇ ◇


『Aku berniat datang menjenguk, ada barang yang ingin kamu titip?』


『Puding』


『Kalau begitu sepulang sekolah aku ke sana ya』


『……Mumpung ingat. Mau main kuis?』


『Mana ada yang tega nyuruh orang sakit melakukan hal begitu』


『Ara, begitu…… Hari ini warna putih lho』


Atmosfer yang tersampaikan dari pesannya menunjukkan kalau dia 

lumayan segar.


Meski tidak menutup kemungkinan kalau dia cuma berpura-pura tegar.


『Jangan dilepas dan pakai baju yang hangat ya』

『Wajarlah』


Memakainya saat berangkat sekolah itu baru yang namanya "wajar" tahu.


Ingin rasanya aku menyindir begitu, tapi kubatalkan.


Orangnya sendiri tampaknya tidak menganggap dirinya itu mesum sih.


Karena itulah aku membeli barang konsumsi beserta puding pesatannya di toko kue, lalu berangkat menuju rumah Saotome.


"Ooh, megah banget."


Rumah Saotome bisa langsung kutemukan dengan mudah.


Bukan sekadar rumah…… tapi lebih mirip kediaman mewah.


Bangunan bergaya Barat kuno yang dikelilingi tembok besar.


Biaya perawatannya saja pasti menghabiskan uang yang tak sedikit.


Aku sempat khawatir apakah bakal diizinkan masuk, tapi syukurlah 


Saotome sudah memberi tahu kedatanganku terlebih dahulu.


Begitu menyampaikan nama dan keperluanku lewat interkom, aku 

langsung dipersilakan masuk tanpa hambatan.


"Terima kasih sudah berkenan datang menjenguk."


Asisten rumah tangga membimbingku menyusuri bagian dalam rumah.


Interior rumahnya pun memberikan kesan terawat dengan sangat baik.


Beberapa karya seni yang terpajang di sepanjang jalan sebagian besar merupakan benda berharga yang mahal dan bersejarah.


Memang beda ya dari keluarga kaya mendadak seperti keluargaku.


"Kamar Nona Muda ada di sebelah sini."


Setelah berjalan beberapa saat, asisten rumah tangga menghentikan langkah di depan salah satu pintu yang berderet.


Tampaknya ini kamar pribadi Saotome.


"Nggh, aahn……"


Aku merasa samar-samar mendengar suara lenguhan Saotome.


……Apa kondisinya sedang memburuk?


Di sisi lain, asisten rumah tangga tanpa ragu mengetuk pintu.


"Ehem…… Nona Muda! Himuro-sama sudah tiba. Boleh kami buka pintunya?"


"……Eh? T-tunggu sebentar!!"


Suara teriakan Saotome terdengar dari balik pintu.


Menyusul kemudian suara langkah kaki yang grusa-grusu berhamburan……

"E-ehem. Boleh dibuka kok. Persilakan masuk."


"Kalau begitu, kami permisi."


Asisten rumah tangga membuka pintu.


Di sana tampak Saotome yang sedang menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dia mengenakan gaun tidur putih──pakaian tidur model terusan satu gaun.


Sesuai julukannya sebagai "Gadis Suci", atmosfernya memancarkan aura putri raja yang anggun dan suci tanpa noda.


Padahal aslinya mesum sih……


"Nanti akan saya bawakan teh. Silakan menikmati waktunya."


Asisten rumah tangga membungkuk hormat lalu berlalu dari sana.

Aku melangkah mendekati Saotome.


"Kelihatan segar ya."


"E-eh…… ya-yah, begitulah……"


Ucap Saotome sambil memalingkan wajah.


Kondisi tubuhnya tidak kelihatan begitu buruk sih……

Tapi entah kenapa wajahnya merah padam.


Pakaiannya juga terasa agak sedikit berantakan.


Mungkin karena baru bangun tidur.


"Demammu bagaimana?"


"Eh, a, tunggu……"


"Permisi ya."


Sekalian membalas perbuatannya waktu itu, aku mendekatkan wajahku 

ke wajah Saotome.


Menempelkan dahi ke dahinya.


Agak…… tidak, terasa sangat panas.


"Demammu sepertinya tinggi banget, tidak apa-apa nih? Wajahmu juga merah padam begitu……"


"T-tidak apa-apa kok! J-jangan dekat-dekat……"


Saotome menepis tanganku sambil mengatakannya.


Rasanya dia jauh lebih penurut atau tepatnya lebih canggung dibanding biasanya.


Entah kenapa dia juga tidak mau menatap mataku sama sekali……


"Ngomong-ngomong, kenapa jendela sampai dibiarkan terbuka lebar begitu?"


Anehnya jendela di kamar pribadi Saotome terbuka lebar tanpa ditutup.


Gara-gara itu udara luar yang gerah jadi masuk ke dalam ruangan.


"P-pengudaraan tahu, pengudaraan. B-biarkan saja kenapa sih."


"Begitu ya. ……Boleh kulihat kaca jendelanya sebentar?"


"Un? Yah, boleh saja sih."


Setelah mendapat izin dari Saotome, aku berdiri lalu berjalan menuju kaca jendela.


Lewat kaca jendela, kucoba memandangi pemandangan halaman dalam.


Seketika itu juga, pemandangan di luarnya tampak sedikit membayang keruh.


"Bukankah ini kaca Taisho? Langka banget. Pasti susah merawatnya."


"Iya sih. ……Kalau aku sih berpikir lebih baik disumbangkan saja ke kota atau pemerintah daerah untuk dijadikan museum. Tapi ya belum tentu mereka mau menerima sih."


Saotome mengatakannya seolah meluapkan kekesalan.


Tampaknya dia tidak begitu menyukai rumah ini.


Memang sih kalau sekadar untuk wisata kelihatan bagus, tapi rasanya tidak bisa dibilang nyaman untuk ditinggali.


Kalau musim panas rasanya bakal lembap, sedangkan kalau musim dingin pasti dingin banget.


"……Sekalian, bisa tolong tutup jendelanya? Soalnya mulai agak panas nih."


"Pengudaraannya sudah tidak apa-apa?"


"Iya. ……Lagipula rasanya baunya juga sudah tidak tersisa."


Ucap Saotome sambil mengendus-endus hidungnya.


……Bau?


Tanpa sadar aku memiringkan kepala.

"……Ngomong-ngomong, pakaian itu cocok kok di kamu. Kelihatan seperti Gadis Suci."


"Masa? Terima kasih."


Saotome menjawab dengan suara acuh tak acuh.


Sepertinya dia sudah terbiasa dipuji begitu…… pikirku, tapi kalau dilihat baik-baik dia tampak memainkan rambutnya dengan canggung.


Sudut bibirnya juga sedikit melonggar.


Rupanya Gadis Suci pun kalau dipuji bakal merasa senang secara jujur.


Lain kali aku bakal makin rajin memberinya pujian manis deh.


Di tengah obrolan kami, asisten rumah tangga membawakan teh barley.


Mumpung ada kesempatan, kubuka saja oleh-olehnya.


"Mau makan puding?"


"Ara, kamu benar-benar membelikannya ya. ……Tapi tunggu, ini 

bukannya yang mahal. Padahal yang dari minimarket saja sudah cukup kan."


Meski berkata begitu, Saotome kelihatan senang.


Baguslah kalau dia menyukainya.

"Terima kasih atas makanannya. Enak banget."


"Syukurlah kalau begitu. Ngomong-ngomong, Saotome."


"Apa?"


"Komik tipis yang kupinjamkan kemarin, gimana? Bagus tidak?"


Halamannya kan tidak terlalu banyak.


Apa dia sudah selesai membacanya ya? Pikirku sambil menanyakan hal itu ke Saotome dengan nada santai.


Mendadak……


"……Eh."


Raut wajah Saotome membeku.


Lalu dalam sekejap, wajahnya memerah padam.


"Ka-kamu, menyadarinya……?"


……Menyadari apa?


"Ka-kalau kamu menyadarinya, harusnya bilang dari tadi dong…… M-maksudku, kalau bisa sih ketawakan saja biar rasanya tidak begitu menyakitkan buatku……"


"Kamu bicara soal apa sih?"


"Eh? Ya, makanya, itu……"


Saotome memalingkan wajahnya.


"B-bukan apa-apa kok."


"Masa sih? ……Terus komik tipisnya gimana? Masih belum selesai dibaca?"


Aku kembali ke topik utama.


"Sudah selesai kok. Ya, begitulah. Lumayan menarik lho. Iya, tidak buruk kok."


"Aku bawa yang judul lain nih, mau baca?"


Ucapku sambil mengangkat kantong kertas.


Mata Saotome membelalak lebar.


"J-judul lain maksudmu…… i-itu, buku mesum……?"


"Iya, yah, mumpung kamu lagi senggang kan. Aku bawa beberapa buku yang sekiranya kamu suka. ……Kalau tidak mau ya tidak apa-apa sih."


"M-mau, a-aku mau!"


Saotome memajukan badannya lalu merebut kantong kertas itu dariku.


Di saat yang sama, kain di bagian dadanya melonggar dan terbuka.


Belahan dadanya yang putih mulus mengintip sekilas.


Dan pakaian dalamnya…… tidak kelihatan.


"Kamu……"


"Ung? Ada apa?"


"Nggak, bukan apa-apa."


Jangan-jangan, dia tidak pakai bra……


"Ngomong-ngomong, bukan bermaksud minta imbalan sih, tapi komik 

tipis yang kupinjamkan kemarin…… ada di mana?"


Sebenarnya aku juga mendadak ingin membacanya lagi.


Memberi Saotome komik tipis yang baru juga sekalian untuk menggantikan yang itu.


"Eh? A-eh, anu…… m-maksudku, di sini sekarang lagi tidak ada……"


"Di sini tidak ada? ……Ketinggalan di sekolah?"


"B-bukan! Ada kok, beneran ada. Bukannya hilang atau bagaimana tapi…… Anu, sekarang lagi ada di tempat yang agak susah diambil……"


Ucap Saotome sambil menggerakkan tangannya gelisah di dalam selimut.


Tempat yang susah diambil?


"Maksudmu kamu sembunyikan?"


"E-eh, anu…… i-iya! Beneran. Kan kalau ditaruh di sini bisa saja ketahuan sama asisten rumah tangga pas lagi bersih-bersih!"


"Aha, begitu."


Tempat tersembunyi tiap orang kan beda-beda.


Kalau bisa sih ingin kubaca sekarang, tapi kutahan dulu deh.


"Orang tuamu galak ya?"


Melihat reaksinya saat melihat komik tipis kemarin, rasanya dia kurang berpengalaman menyentuh hal-hal semacam itu.


Mungkin orang tuanya melarang hal seperti itu, atau setidaknya menjauhkannya dari hal semacam itu.


"Iya…… kalau orang tua sih lebih ke pembebas ya. Tapi kakek dan nenek…… dulu galak banget pas mendidikku. Kalau sekarang karena sudah paham batasannya, jadi tidak segalak dulu sih."


……Sepertinya hubungan keluarganya tidak begitu harmonis ya.


Rasanya lebih baik tidak usah menggalinya terlalu dalam.


"Tapi tenang saja. Bakal kujaga supaya tidak ketahuan kok. Kalapun sampai ketahuan, kalau kubilang ini barang pinjaman orang lain, mereka tidak bakal membuangnya. Soalnya mereka tipe orang yang peduli sama pandangan orang lain."


Ucap Saotome sambil menepuk tangannya seolah ingin mengalihkan atmosfer yang mendadak suram.


Di saat yang sama dadanya sedikit bergoyang.


……Jujur saja, dibanding hubungan keluarga Saotome, sekarang aku lebih penasaran apakah dia pakai pakaian dalam atau tidak.


Coba kupancing sedikit ah.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah pakai baju yang hangat belum?"


"Eh? Baju hangat……"


Mendengar kata-kataku Saotome memiringkan kepala, lalu mendadak membeku.

"Ah, gawat……"


Lalu dengan panik dia menarik selimut dan membungkus tubuhnya rapat-rapat untuk bersembunyi.


"T-tentu saja sudah……! Aku tidak sebodoh itu tahu!!"


"B-begitu…… ya……?"


Pandangan mataku…… bukannya menatap Saotome, melainkan tersedot ke pinggir tempat tidur.


Gara-gara Saotome menarik selimutnya, benda yang sebelumnya tersembunyi jadi kelihatan.


Dua helai kain putih.


Dan komik tipis yang kupinjamkan ke Saotome.


Titik-titik puzzle di kepalaku langsung terhubung menjadi satu garis.


"Aah…… iya, paham-paham……"


"B-bukan…… i-ini tuh, anu, gara-gara susah tidur saja, kebetulan saja lagi kubaca, b-bukannya ada maksud begitu……"


"Ya sudah yang penting kamu kelihatan segar. ……Kalau begitu, aku 

pamit pulang dulu ya. Maaf sudah mengganggu."


"T-tunggu dulu! Dengarkan aku. Biarkan aku memberi penjelasan!"


Saotome berteriak lalu memegangku erat-erat saat aku hendak pergi.


Pundakku ditahan secara paksa.


"O-hei……! J-jangan. B-bagian pentingmu kelihatan tahu……"


Aku buru-buru memalingkan pandangan.


Gaun tidur Saotome berada dalam kondisi yang sangat bahaya, sedikit lagi bagian pentingnya bakal kelihatan jelas.


"Makanya, pahami dong. Aku cuma sekadar membaca saja tahu!"


"I-iya deh. Aku mengerti. Aku paham kok."


"Bagus kalau begitu."


Saotome mengangguk seolah merasa puas.


Lalu dia baru menyadari kondisi gaun tidurnya yang berantakan dan 

menjerit kecil.


"Ka-kamu tidak melihat apa-apa, kan?"


"Sayang sekali, tipis banget hampir kelihatan."


Jujur saja, rasanya ada sesuatu yang samar-samar masuk ke jarak pandangku sih.


Tapi aku tidak sempat mengamatinya.


Sayang banget ya.


"B-begitu ya. Bakal kupercaya deh."


Saotome mengangguk dengan ragu-ragu lalu kembali ke atas tempat tidur.


Tapi entah kenapa, dia kelihatan kurang bersemangat.


……Yah, wajar sih kalau hal semacam itu sampai diketahui lawan jenis 

pasti rasanya malu banget.


"……Aku juga sering kok pakai komik tipis begitu. Wajar kok, wajar."


"Fuun, b-begitu ya. Begitu ya. Y-yah, aku sih tidak melakukan hal begitu ya. Jangan salah paham gitu."


"Nggak kok, nggak. Mana mungkin Gadis Suci melakukan hal begitu kan."


Padahal aslinya cewek mesum sih.


"I-iya, benar banget. ……Ngomong-ngomong, boleh kutanya satu hal?"

"Apa?"

"Kamu pernah pakai aku tidak?"


Mendadak dia melempar pertanyaan secepat kilat.


Aku sempat bingung bagaimana harus menjawabnya……


"Nggak pernah kok, tenang saja."


Untuk saat ini, aku memutuskan untuk menyangkalnya.


"B-begitu…… Lega deh."


Ucap Saotome sambil menundukkan pandangannya.


"Terus, kapan kamu pulang? Urusanmu sudah selesai kan? Cepat pulang sana. Soalnya kalau Kakek sama Nenek pulang bisa repot."


"Yang nahan aku kan kamu sendiri."


Diusir oleh Saotome yang sikapnya mendadak dingin, aku pun melangkah keluar dari kamarnya.


……Apa aku melakukan sesuatu yang bikin dia marah ya?


Yah, paling besok juga mood-nya sudah balik lagi.


Akhirnya, asisten rumah tangga yang mengantarku keluar sempat berbisik, 


"Sudah lama saya tidak mendengar suara Nona Muda sesegar ini."


Rupanya obrolan kami berdua terdengar jelas sampai luar ya.


Malu banget tuh……


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close