Bab 3: Pertukaran Senilai atas Balas Dendam
Strayer keluar dari gubuk bersama Damon
setelah merapikan pakaiannya dan mengenakan kalung leher yang terpasang pas di
lehernya. Cara berjalan wanita itu jelas sekali tampak kaku.
Bukan cuma karena rasa sakit akibat
pecahnya selaput dara, melainkan karena efek benturan berjam-jam dan lebih dari
dua puluh kali ronde disetubuhi oleh kaki dan pinggang Damon yang tangguh di
luar nalar.
Meski berusaha berpura-pura tanpa emosi,
Strayer terlihat tak ubahnya seperti anak kuda yang baru lahir.
"Guwahaha... Kuikir kau cuma wanita
sampah yang merusak hidupku, tapi ternyata kecocokan tubuh kita benar-benar
yang terbaik... Walau aku tidak tahu karena ini yang pertama bagiku, sih."
"...Saya senang jika Anda
menyukainya..."
"Lalu────"
Damon mengukir senyuman, merasa puas
dengan tubuh yang baru saja
ditidurinya.
Sambil bernapas terengah-engah, Strayer
berusaha menenangkan diri sembari berjalan.
Kepada Strayer yang seperti itu...
"Kau mau bagaimana setelah
ini?"
"...Sesuai
keinginan Master────"
"Bukan itu, memangnya apa tujuanmu?
Untuk apa kau mendekatiku?"
Damon melontarkan pertanyaan yang terasa
seperti serangan mendadak.
"Apa maksud dari perkataan
Anda..."
"Melewatkan lahirnya Pahlawan...
Kalau dipikir secara wajar, hal seperti itu mana bisa dimaafkan hanya dengan
minta maaf secara pribadi atau seorang Saint yang menyerahkan diri jadi barang
milik biasa, kan?
Lagipula, apa kata Kota Suci atau Raja
Suci tentangmu?"
"Hal itu..."
"Harusnya kewibawaanmu langsung
jatuh bebas, kan? Woi."
Atas pertanyaan itu, atmosfer di sekitar
Strayer mendadak terasa berat.
Damon menunjukkan poin-poin yang tidak
masuk akal dari serangkaian tindakan Strayer. Namun,
"Karena kau bakal mematuhi perintah
apa pun, aku tinggal
memerintahkanmu 'katakan' saja sih...
Tapi, ya sudahlah."
"Eh?"
"Kalau aku masih ada keterikatan
untuk jadi Pahlawan, aku bakal menggalinya sampai ke akar-akarnya, tapi
sekarang hal itu sudah tidak
ada artinya lagi."
Bagi Damon, mengetahui hal itu sekarang
pun sudah tidak penting lagi, ia memilih pasrah. Ya, semuanya sudah terlambat.
Bertarung demi umat manusia, dunia, Kekaisaran, atau cinta sudah terasa
membodohkan, dan mengetahui kebenaran pun ia tidak peduli lagi.
"Apakah tidak apa-apa?"
"Ya. Mau apa pun yang kau pikirkan,
selama kecocokan tubuh kita yang luar biasa ini terasa nikmat, aku bakal
menggunakannya seperti alat.
Kalau sudah bosan bakal kubuang. Cuma
sampai di situ."
"Diterima."
Karena itulah, Damon berniat bersikap
lugas seperti itu pada Strayer dan tidak mengusutnya lebih jauh lagi.
"Haaaa... Walau begitu... Katanya
desa terpencil, tapi desa ini benar-benar tidak ada apa-apanya, ya..."
Sambil menghirup udara luar dan mengatur
napas, Damon kembali mengamati sekelilingnya. Area sekitar dikelilingi oleh
hutan dan ladang, dan hanya terlihat puluhan rumah warga yang berukuran kecil.
"Tempat makan... atau semacam
penginapan... kelihatannya tidak ada, ya."
"Ya. Sepertinya ini adalah desa
kecil berpenduduk sekitar seratus orang yang tidak pernah dikunjungi oleh
musafir ataupun pedagang. Kelihatannya tidak ada fasilitas penginapan ataupun
kedai. Karena itulah, kita tidak punya pilihan selain menyewa gubuk dan meminta
stok makanan..."
"Dasar, benar-benar desa terpencil.
Yah, walau yang lari tanpa memikirkan apa pun sampai ke sini adalah aku,
sih..."
"Jika
mana dan tenaga saya masih tersisa, saya bisa membawa Master ke kota yang
sedikit lebih besar... Saya mohon maaf. Namun, jika mana saya sudah pulih,
dengan sihir perpindahan ruang saya bisa───"
Damon berasal dari Ibu Kota yang
merupakan kota besar. Ia tidak pernah tinggal di desa yang sama sekali tidak
ada apa-apanya seperti ini.
Namun, walau tidak ada apa-apa dan
bingung harus bagaimana ke depannya, saat ini ia tidak merasa terganggu dengan
udara tenang dan damai yang membentang luas ini, hatinya terasa sedikit
tenteram.
"Berapa jauh jarak ke kota
terdekat?"
"Membutuhkan waktu sekitar dua hari
naik kuda, di sana ada kota milik tuan tanah yang menguasai wilayah ini
termasuk desa ini."
"Dua hari naik kuda. Yah, kalau aku
mau bersungguh-sungguh mungkin bisa sampai dalam setengah hari. Bagaimanapun
juga, hari ini malas banget, jadi sepertinya menginap semalam lagi di sini saja
deh."
"Diterima. Saya akan menyampaikannya
kepada pemilik gubuk."
"Tidak,
tunggu. Aku tidak berniat menerima sedekah tanpa imbalan. Makanya aku bakal
melakukan sesuatu───"
Untuk saat ini, Damon tidak memiliki
tujuan atau tempat yang ingin dituju. Malah, saat ini Damon tidak memiliki
apa-apa. Karena itulah, walau desa ini tidak ada apa-apanya, ia tidak perlu
terburu-buru pindah ke tempat lain.
Pada saat itulah—
"Ooh, akhirnya keluar juga dari
gubuk, Nak!"
"Ya ampun, benar juga. Kelihatannya
kau sangat~ bersenang-senang, ya. Ufufufu, padahal aku berpikir diriku masih
cukup muda, tapi ternyata tidak sanggup menandinginya. Ya, kan, Pak?"
"A-Apa-apaan yang kau katakan, Bu.
Aku juga masih sanggup, tahu."
"Iya, iya, tidak usah sok gengsi
begitu."
Suara menyapa dari arah belakang.
Saat Damon dan Strayer menoleh, di sana
berdiri sepasang suami istri yang tampaknya adalah warga desa. Penampilan
mereka penuh dengan lumuran tanah setelah menuntaskan pekerjaan tani hari ini,
tetapi mata mereka memancarkan binar yang sangat murni.
"Ah, halo. Master, beliau berdua
adalah sepasang suami istri warga desa ini yang telah meminjamkan gubuk dan
berbagi makanan untuk kita."
"Nhh? Ooh, begitu. Terima kasih
banyak kalau begitu."
Mendengar kata-kata Strayer yang
menundukkan kepala, Damon ikut mengangguk ringan.
"Terima kasih atas makanan dan
gubuknya. Sebagai gantinya aku bakal membayar imbalannya. Tapi karena tidak
punya uang, katakan saja mau kerja bakti di ladang atau apa pun. Bakal
kulakukan."
Mendengar itu, sepasang suami istri di
hadapan mereka mengangguk dengan senyuman tanpa niat tersembunyi sedikit pun.
"Hahahahaha, anak muda yang sangat
bertanggung jawab! Tidak apa-apa, jangan dipikirkan! Walau desa ini tidak ada
apa-apanya, kami tidak ingin dianggap sebagai desa yang tidak punya rasa
kemanusiaan. Tidak tahu apa kau kabur dari rumah atau lari di tengah malam
sampai ke desa ini sambil membawa pengawal cantik begitu, tapi santai saja di
sini, ya."
"Ufufufu, tapi saat melakukan 'hal
itu', kami harap suaranya disedikitkan, ya. Putri kami sampai mengintip kalian
saat sedang begitu, wajahnya memerah padam dan jadi kerepotan, tahu~"
Mengatakan hal itu, sang suami menepuk
bahu Damon...
"Aku Yaoji dari desa ini. Salam
kenal ya, Nak."
"Aku Fukuro. Nak, seberapa pun dia
seorang pengawal, bersikap lembutlah pada anak perempuan, ya."
Mereka berdua menyambut Damon dan
Strayer.
Kebaikan itu meresap ke dalam hati Damon
yang baru saja menerima celaan kejam dari para warga di Ibu Kota. Dan terlepas
dari hal itu,
Damon menatap Fukuro—istri Yaoji—lalu
membatin.
(Ibu ini... mirip seseorang...)
Namun, ia tidak bisa langsung mengingat
siapa sosok itu, sehingga sempat berpikir sejenak.
"Ayah,
Ibu, selamat datang kembali~! Aku juga baru saja sama Mbak Najimi────"
Seorang gadis cilik muncul sambil
melambaikan tangan dengan riang, dan pada saat ia melihat Damon dan Strayer...
"Hyawawawawawawawawawawawawawa!"
Wajahnya memerah padam dan berteriak
histeris.
"Lho? E-Eh? Kau... seperti pernah
kulihat di suatu tempat..."
Damon merasa tidak asing dengan gadis
cilik itu.
"Hyawawa, a, awa, a, awawawa,
wawawa."
Seorang gadis bertubuh mungil berambut
hitam yang usianya tampaknya sedikit lebih muda dari Damon. Mengikat rambutnya
di kedua sisi, walau masih menyisakan kesan sedikit kekanak-kanakan,
penampilannya sangat imut hingga pria-pria di Ibu Kota pun pasti tidak akan
membiarkannya begitu saja.
Tampaknya dia adalah putri dari Yaoji dan
Fukuro. Menyambut orang tuanya dengan mata bulat dan suara ceria, tetapi begitu
melihat Damon dan Strayer, wajahnya langsung memerah padam dalam sekejap,
kepalanya seolah mengeluarkan uap karena panik.
Di sisi lain, Damon juga pernah melihat
gadis itu di suatu tempat. Namun sebelum Damon bisa mengingat tentang gadis
itu, si gadis sudah lari tergesa-gesa.
"Hyaaaaaaa, M-M-M-Mbak
Najimiii!"
"Wa, ada apa, Shes... ta...
Ah."
Tujuan gadis itu lari. Di sana, seorang
wanita lain kebetulan sedang berjalan menuju ke arah sini. Memasukkan sayuran
yang tampaknya akan digunakan untuk makan malam ke dalam keranjang jinjing, ia
menyambut gadis yang menubruknya itu dengan terkejut.
"A, awa, wa, a-anda..."
Wanita ini terlihat seusia dengan Damon.
Mengikat rambut berwarna jingga kemerahan di belakang kepala, penampilannya
juga tergolong sederhana tanpa riasan khas gadis desa. Namun, penampilannya
juga merupakan gadis cantik yang menggabungkan kepolosan dan keanggunan. Dan
yang paling menyita perhatian adalah dadanya yang pejal berisikan, membuat
Damon tanpa sadar nyaris terpesona melihatnya.
Hanya saja, di sisi lain Damon juga
merasa tidak asing dengan sosok yang satu itu.
"Lho? Yang ini juga pernah kulihat
di suatu tempat... Tidak, maksudku, kenapa kalian berdua panik banget
melihatku? Ini... pertama kali kita ketemu, kan?"
Kedua gadis itu saling berpelukan dengan
wajah memerah padam, tubuh mereka gemetar hebat saat menatap Damon dan Strayer.
Saat Damon merasa heran apakah mereka telah melakukan kesalahan, Yaoji dan
Fukuro tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahaha, jangan dipikirkan!
Anak-anak ini lho, katanya mereka mengintip kalian berdua saat sedang
bersenang-senang di dalam gubuk?
Berhubung ini desa kecil dan tidak ada
laki-laki seusia mereka, anak-anak ini tidak punya kekebalan soal hal seperti
itu."
"Tapi
kalian yang salah, tahu? Walau di dalam gubuk, suaranya terdengar kencang
sampai ke luar untuk waktu yang lama... Ufufufu, anak-anak ini sampai
merapatkan paha dan bergerak gelisah───"
"Ayah!"
"Paman!"
Yaoji dan Fukuro menceritakan kelakuan
tidak sopan kedua gadis itu tanpa rasa canggung. Damon tanpa sadar tertawa
kebingungan. Strayer berpura-pura tenang tanpa memperlihatkan reaksi di
wajahnya.
"Ah,
benar juga. Yang ini putri kami, 『Shesta』. Lalu yang lebih besar ini tinggal di sebelah,
yah, sudah seperti putri kami sendiri juga sih, namanya 『Najimi』."
"Shesta? Najimi... Nama itu
kan..."
Mendengar nama kedua orang itu, Damon
tersentak. Nama itu, dan
setelah melihat kembali wajah mereka
berdua, ia langsung teringat.
Damon—meski secara sepihak—pernah melihat
wujud mereka berdua.
"Yah, bagaimanapun juga. Nak, kalau
kalian kesulitan, gubuk itu boleh dipakai untuk sementara waktu. Tapi, jangan
macam-macam pada mereka berdua, ya?"
"Aduh, Paman ini... Tapi, apa tidak
apa-apa? Maksudku, apa Paman sudah bertanya siapa mereka? Anu... dia membawa
pengawal wanita juga..."
"Aah, tidak apa-apa, Najimi. Kalau pria ini
tipe yang berbuat jahat pada pengawal wanitanya, pasti sudah kuusir dari tadi.
Tapi mbak yang membawa pria lemas ini merawatnya dengan sangat gigih,
kelihatannya hubungan mereka bukan hubungan yang jahat. Lagipula, mbak ini sama
sekali tidak kelihatan keberatan, kan? Dari suaranya saja♪"
"T-Tunggu!"
"Aduh, lagipula makin dilihat-lihat
dia ini sangat cantik dan berwajah anggun, tapi bisa sampai seperti itu,
ya?"
Sambil memerah padam, Najimi menatap
Damon dengan mata penuh
kewaspadaan. Ya, sekilas dipandang, Damon
dan Strayer yang sekarang benar-benar terlihat seperti sepasang orang
mencurigakan. Damon sendiri penampilannya tidak bisa dikatakan baik-baik saja
dan tergolong sangar, dan pria seperti Damon itu membawa gadis cantik bertali
leher.
Sangat wajar jika timbul kesan buruk.
Namun, Yaoji tertawa dan mengatakan tidak perlu khawatir.
"Lagipula, bagaimanapun juga aku ini
ayah dari Pahlawan! Sebagai ayah
dari Pahlawan, aku tidak boleh
memperlihatkan kalau diriku berpikiran
sempit!"
Yaoji menepuk dadanya sembari memamerkan
wajah bangga, lalu berteriak keras dan tertawa.
"Pahlawan..."
Strayer yang sejak tadi diam memberikan
reaksi, lalu melirik Damon sedikit. Damon tetap bungkam.
"Iya dong, Mbak. Kau tahu tidak?
Pahlawan baru Sekund yang lahir di Ibu Kota setelah dua puluh tahun itu~
berasal dari desa ini dan merupakan putraku!"
Sosok itu adalah pria yang memiliki
hubungan takdir yang sangat dalam dengan Damon.
Lari tanpa tujuan, menggelandang, dan
secara kebetulan tiba di tempat yang ternyata adalah kampung halaman Sekund.
"A-Auh, aduh... Ayah ini... Ehem.
Anu, kalau begitu, aku Shesta. Mohon bantuannya..."
"Haa... Aku Najimi."
Sekund yang telah merebut wanita yang
dicintainya. Kampung halaman tempat tinggal teman masa kecil dan adik perempuan
yang menjadi penopang hati Sekund hingga ia menjadi Pahlawan. Mereka berdua
berada tepat di depan matanya saat ini. Saat memikirkan hal itu, sesuatu yang
hitam membumbung tinggi dari dalam diri Damon.
Namun, pada saat itulah—
"Gawat! Paman Yaoji! Najimi-chan!
Gawat!"
Seorang warga desa berlari sambil
berteriak dengan wajah pucat pasi.
Keadaannya jelas menunjukkan bahwa
terjadi sesuatu yang luar biasa.
Semua orang menoleh ke arah datangnya
suara.
"Di sungai di dalam hutan, saat
hendak memperbaiki saluran air yang tersumbat kemarin... T-Tiba-tiba, a-au,
a... kawanan Red Lizard..."
"Ha? T-Tunggu dulu, hah? Red Lizard?
Mustahil, kenapa ada monster seperti itu di hutan..."
"K-Kami tidak tahu, tapi mereka
muncul tiba-tiba... Kami semua berusaha keras lari... Tapi!"
Raut wajah semua orang berubah. Damon dan
Strayer juga sedikit terkejut.
Red Lizard adalah monster raksasa
karnivora yang ganas dengan wujud menyerupai naga. Monster yang bahkan biasa
digunakan Pasukan Raja
Iblis sebagai pengganti prajurit dalam
perang melawan manusia, dan bukan jenis monster yang bisa ditaklukkan dengan
mudah bahkan oleh seorang Class Holder sekalipun.
"Lalu, Najimi-chan... Lalu... A-Ayah
dan ibumu... sudah..."
"Kh!"
"Uu, maafkan kami! Maafkan kami!
Mereka berdua... uu, mereka berdua...!"
Mendengar kata-kata yang disampaikan
sambil meneteskan air mata itu,
Najimi menjatuhkan keranjang yang
dipegangnya ke tanah.
"Tidakkkkk, Ayah, Ibu,
tidakkkkk!"
Suara jeritan tangis Najimi. Bersamaan
dengan itu warga desa lainnya juga berkumpul dan semuanya terisak-isak.
"Kenapa bisa begini... Padahal
sebelumnya tidak pernah ada Red Lizard di hutan ini... Sialan, brengsek!"
"Uu... Padahal mereka berdua sangat
menantikan hari pernikahan Najimi-chan dengan Sekund... Kenapa bisa
begini..."
Yaoji dan Fukuro yang tadinya tertawa
terbahak-bahak, serta Shesta, kini menangis tersedu-sedu. Semua orang
diselimuti duka mendalam.
"Maafkan kami, Najimi-chan! Kami
terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri sampai-sampai mereka berdua..."
"Saat kami hendak memperbaiki
saluran air, monster-monster itu mendadak..."
"Kami juga sedikit lagi, u-uu...
bakal dimakan seperti mereka berdua... uu."
Para warga desa berlutut di tanah sambil
menangis meminta maaf.
Merekalah orang-orang yang berada di
lokasi saat kedua orang tua Najimi dilalap habis.
"Bohong, Ayah dan Ibu, bohong,
mungkinkah mereka sempat lari, t-tolonglah, mungkinkah Ayah dan Ibu masih
hidup, cuma terluka dan tidak bisa bergerak saja, m-makanya..."
Sambil menangis, Najimi memohon kepada
para warga desa seolah hilang akal. Para warga desa menunjukkan raut wajah
penuh penderitaan. Walau ia berteriak bahwa orang tuanya mungkin masih hidup,
hal itu sama sekali tidak mungkin.
Sebab, mereka menyaksikan sendiri saat
orang tua Najimi dilalap habis oleh monster-monster itu.
"U-Uu, Ayah, Ibu... Aku tidak mau,
tidak mauuu... A, u, aa... A-Aku harus bagaimana..."
Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, Najimi
mendadak kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Melihat wujudnya yang sangat
memprihatinkan itu, Yaoji merengkuh Najimi dengan erat walau dirinya sendiri
juga diselimuti duka.
"Najimi, jangan cemas soal masa
depanmu! Kau ini sudah seperti putri kami sendiri! Mulai hari ini tinggallah di
rumah kami. Lagipula, Sekund pasti... Sekund pasti bakal melindungimu mulai
sekarang."
"A-Au, Paman..."
"Makanya tidak apa-apa. Kau pasti
tidak apa-apa."
Air mata Najimi kembali menetes deras
mendengar kata-kata Yaoji.
Shesta juga merapat dan memeluk Yaoji
serta Najimi sambil menangis tersedu-sedu.
"Haa... Bikin repot saja, mendadak
banget perkembangannya. Padahal aku sempat berpikir mau membalas dendam pada si
bajingan Sekund itu."
Damon yang mengamati situasi tersebut
dari jarak yang agak jauh di luar kerumunan warga menghela napas.
"Tapi
ya, kawanan Red Lizard, huh... Desa ini ternyata berbahaya sekali ya... Kalau
tidak salah, itu monster dengan 『Tingkat Bahaya 2』,
kan?"
"Benar.
Sebagai informasi tambahan, jika bergerak dalam kawanan, mereka juga
dikategorikan ke dalam kelas 『Tingkat Bahaya 3』."
"Tingkat Bahaya 3, ya. Angka yang
bisa bikin party Class Holder keteteran kalau sampai kecolongan."
'Tingkat Bahaya' yang dibicarakan Damon
dan Strayer adalah angka yang ditetapkan secara harfiah oleh manusia yang terus
bertarung melawan Kaum Iblis dan monster untuk memetakan seberapa berbahaya
suatu ancaman.
Untuk monster, tingkat bahaya ditetapkan
berdasarkan rasnya.
Sementara untuk para jenderal terkenal
Pasukan Raja Iblis, tingkat bahaya ditetapkan secara individu, dan jumlah angka
yang dipetakan sangatlah banyak. Namun, sebanyak apa pun angkanya, ada satu hal
yang berlaku sama: makin tinggi angkanya, makin berbahaya ancamannya.
Dan untuk ancaman Tingkat Bahaya 2 ke
atas, tidak ada yang bisa mengimbanginya kecuali mereka yang berstatus Class
Holder di kalangan manusia. Dengan kata lain, jika Red Lizard membentuk kawanan
hingga bisa dikatakan berada di 'Tingkat Bahaya 3', desa kecil tanpa Class
Holder dan tanpa seorang pun yang bisa bertarung dengan benar seperti ini tidak
akan sanggup bertahan sedikit pun. Dan hal itu juga dipahami oleh para warga
desa.
"Pokoknya, semuanya! Meratap itu
memang penting, tapi kita harus memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang.
Kalau ada Red Lizard di gunung ini, kita sudah tidak bisa masuk ke sana lagi.
Tapi kalau saluran airnya terus-terusan tidak bisa dipakai begini, kita tidak
bakal bisa bertahan hidup."
"Aku paham... Tapi Paman Yaoji, kita
harus bagaimana..."
"Tidak ada cara lain selain aku
memacu kuda sekarang juga ke kota untuk meminta tuan tanah mengirimkan pasukan
pembasmi. Kalau tidak, bagaimana kalau mencoba menghubungi Sekund..."
"Tunggu
dulu, mana mungkin 『Tuan Tanah Metabon』 mau
melakukan hal seperti itu... Tuan tanah babi yang cuma berpikir untuk memeras
pajak dan hidup mewah dari kita itu, lho. Lagipula surat ke Sekund-kun juga
tidak bisa sampai dengan cepat..."
"Tapi kita cuma bisa memohon
padanya. Tidak, kalau membawa-bawa nama Sekund mungkin saja bisa berhasil. Bisa
saja dikirim pakai pengiriman super kilat. Lagipula tuan tanah itu punya putri,
dan walau kasihan pada Najimi, kita bisa minta tolong untuk memanfaatkan 'tugas
Pahlawan'... Ini memang cara paling licik, tapi tidak ada cara lain agar kita
bisa bertahan hidup..."
Situasi ini tidak bisa diselesaikan oleh
mereka sendiri. Yaoji menjadi pusat pembicaraan dan menyampaikan apa yang harus
dilakukan.
"Tuan Tanah Metabon? Ah~ pernah
dengar... Benar juga, rasanya dia pernah mau memesan putrinya untukku..."
Damon dan Strayer hanya mengamati para
warga desa tanpa bermaksud ikut campur. Lalu, Strayer mendongakkan kepalanya.
"Master."
"Ha?"
"Jaringan persepsi saya menangkap
sesuatu. Ada dua ekor yang menuju ke mari."
Strayer yang sejak tadi diam akhirnya
membuka suara dengan tenang.
Dan saat pandangannya mengarah ke kandang
ternak desa, sebuah
kejanggalan terjadi.
──Hiiiin!
"""""Kh!"""""
Suara bangunan hancur dan ringkikan kuda
bergema keras.
"Suara apa itu tadi!"
"Lalu, kudanya... Eh? A...
a..."
Suara sesuatu yang mendadak hancur dan
jeritan sakaratul maut seekor kuda. Para warga desa yang wajahnya memucat
melihat ke arah kandang ternak, dinding kandang mendadak hancur berantakan, dan
dari dalam keluar kadal raksasa dengan rahang berlumuran darah.
"Hii, a, aaah...
Tidakkkkkkkkkkkkkkkk!"
"Hiiii, m-mereka sampai turun ke
desa!"
"M-Muncul lagi, d-dua ekor... Mana
mungkin, k-kudanya, kudanya..."
Dua ekor kadal raksasa itu tak salah lagi
adalah Red Lizard.
Setelah melalap habis kuda, mereka
menyadari keberadaan para warga desa yang berkumpul dan perlahan-lahan
mendekat.
"S-Sialan! Kejadian seperti ini,
monster-monster ini... Ibu! Bawa Shesta, Najimi, dan yang lainnya lari sekarang
juga! Aku bakal mengulur waktu walau sedikit!"
"Ayah!"
"Ayah!"
"Paman!"
Saat itu, Yaoji yang gemetar memegang
cangkul berdiri di depan semua orang dan berteriak.
"Aku tidak mau, Ayah, jangan! Aku
tidak mau, Ayah!"
Tidak mungkin menang. Tidak mungkin
selamat. Sudah pasti bakal dimakan sampai mati.
Namun meski begitu, Yaoji berteriak bahwa
ia akan mengulur waktu walau sedikit demi melindungi keluarganya.
"Sudah, jadilah anak baik dan
larilah, Shesta! Cepat!"
"T-Tidak mau, Kak! Kakak tolong!
Kakak! Kakaaak!"
Ayahnya bakal mati. Bakal dimakan sampai
mati seperti kedua orang tua Najimi. Saat memikirkan hal itu, Shesta memanggil
kakaknya secara histeris sambil menangis tersedu-sedu.
"Kalau begini terus, Paman juga
bakal... Kh, Sekund, tolong! Sekund, datanglah sekarang juga! Ku-mohon, tolong!
Kalau kau Pahlawan, ku-mohon tolong kamiii!"
Najimi juga berteriak histeris. Namun
jeritan itu tidak akan sampai ke Pahlawan Sekund.
"Guwahaha, si bajingan itu
paling-paling sekarang lagi asyik meniduri
para wanita di seluruh Ibu Kota...
Bagaimana ya rasanya... saat dirinya sedang asyik meniduri wanita, keluarga dan
tunangannya malah dimakan sampai mati... Atau dia malah sudah mabuk kepayang
sama situasinya dan lupa sama keluarga dan wanita di desa, ya?"
Sambil mengamati Najimi dan Shesta yang
menangis histeris, Damon tertawa. Di dalam hatinya ia bahkan sempat berpikir
"rasakan itu" pada Sekund. Namun di sisi lain, ia juga memikirkan hal
berbeda.
"Emm~ walau begitu, merepotkan juga
ya. Perkembangannya terlalu klise sampai-sampai bikin aku segan buat maju. Ya,
kan? Strayer."
"Seluruh keinginan saya adalah milik
Master. Jika Anda ingin membalas dendam pada Pahlawan Sekund yang telah melukai
Master, saya tidak keberatan."
Ya, bagi para warga desa, ini adalah
situasi kritis yang menebarkan firasat kematian. Namun bagi Damon, hal itu
berbeda. Dari sudut pandang Damon, "Warga desa tanpa daya yang meminta
pertolongan Pahlawan. Lalu aku yang kebetulan berada di tempat ini" adalah
perkembangan cerita yang benar-benar klise sampai-sampai ia tertawa, bahkan
merasa malu kalau harus muncul di sini karena terlalu klise.
Selain itu, ada alasan terbesar yang
membuatnya sulit bergerak.
"Benar banget, kan. Tempat ini kan
kampung halamannya Sekund."
Kenapa aku harus membantu desanya Sekund?
Perasaannya campur aduk, sampai-sampai terlintas pikiran untuk membiarkannya
begitu saja.
"Lagipula, bergerak tanpa imbalan
itu sudah terasa membodohkan."
"?"
"Pelayanan tanpa imbalan adalah
tugas Pahlawan... dulunya sih begitu, tapi aku ini bukan Pahlawan atau
semacamnya lagi. Pelayanan tanpa imbalan itu membodohkan. Entah kenapa aku jadi
berpikir begitu."
Selama ini jika dimintai tolong, Damon
secara aktif berusaha melayani tanpa imbalan dengan alasan "karena aku
pria yang bakal jadi
Pahlawan". Ia menanggapi permintaan
orang, dan terkadang bergerak aktif walau tidak diminta.
Meski itu sebenarnya dilakukan demi
menaikkan impresi baik dan nilai sikap, kini hal-hal tersebut sudah menjadi
tidak berguna lagi, dan hal yang menantinya di ujung pelayanan itu adalah
kejadian hari itu.
──Penipu!
Penipu! Penipu! Penipu! Penipu! Penipu!
Para warga yang membalikkan telapak
tangan seolah membuang segalanya. Tidak, umat manusia. Ia merasa melakukan
sesuatu tanpa imbalan itu sudah tidak ada artinya lagi, sehingga ia tidak
melangkah maju seperti biasanya. Di saat Damon bersikap pasrah seperti itu, Red
Lizard mulai melesat maju. Pergerakannya
sangat cepat hingga tak terlihat seperti tubuh raksasanya, benar-benar bagaikan
binatang buas.
"Sialan,
aku tidak akan membiarkan kalian lewat dari sini────"
"Kakak, Kakak, Kakak, tidakkkk,
Ayah!"
Yaoji mengayunkan cangkulnya. Cangkul itu
diayunkan tepat ke kepala Red Lizard, tetapi justru cangkulnya yang hancur
berantakan.
"K-Keras banget. Sialan!"
Senjata tajam atau alat yang diayunkan
oleh Rakyat Jelata tidak bisa memberi luka sedikit pun. Itulah Tingkat Bahaya 2
ke atas. Namun, bagi
Damon lain lagi ceritanya.
"Aah... Ah, tidak! Ini bukan tanpa
imbalan! Aku kan menyewa gubuk dan dibagi makanan!"
"............"
"Artinya, ini bukan tanpa imbalan...
Ini imbalannya! Pertukaran senilai! Lagipula tubuhku ini entah kenapa tidak
bisa menerima sedekah tanpa imbalan, tahu! Makanya!"
Sambil tetap memasukkan tangan ke dalam
saku, ia mengerahkan tenaga ke kakinya lalu menendang ke atas. Hanya dengan
itu, Damon menciptakan tebasan angin (kamaitachi), dan bilah angin itu
membelah tubuh Red Lizard menjadi dua bagian secara tebas lurus.
"""""Eh?"""""
Para warga desa tertegun tanpa memahami
apa yang baru saja terjadi.
Red Lizard yang satu lagi menatap ke arah
Damon. Namun hal itu juga langsung berakhir dalam sekejap.
"Jangan melotot padaku, dasar
sampah."
"Gupeh."
Tanpa sempat memahami apa yang terjadi,
kepala Red Lizard yang satu lagi sudah melayang di udara.
"""""............"""""
Para warga desa hanya menatap Damon dengan tertegun. Ditatap seperti itu membuat Damon merasa canggung dan mengacak-acak rambutnya.
"A~~, sialan, padahal sudah
kulakukan, tampil dengan gaya yang klise banget begini, malu, malu, malu
banget~! Apalagi, kenapa harus di kampung halamannya si bajingan Sekund sih...
A~, pokoknya, aku bukannya menolong kalian, ini pertukaran senilai dengan gubuk
dan makanan, jadi jangan salah paham ya! Apa?! Jangan melotot begitu,
dong!"
Di samping Damon yang berteriak-teriak
dengan cepat, Strayer diam-diam menutupi mulutnya dengan tangan, seolah menahan
sesuatu.
"...Master... imutnya."
Ia benar-benar meleleh.
"N-Nak, kau yang melakukannya,
kan... yang tadi... S-Siapa kau? Kau ini sebenarnya siapa?"
Yaoji bertanya dengan gemetar dan mata
yang seolah melihat hal yang tidak masuk akal.
"Damon. Cuma lewat."
"Saya Strayer. Barang milik
Master."
Damon berpikir sejenak, lalu memutuskan
tidak masalah untuk
memberitahukan nama aslinya, dan Strayer
menyusul dengan membeberkan namany sendiri.
"Damon? Nama itu, nama yang sama
dengan orang paling hebat di sekolah yang sama dengan Sekund, kan?"
"Benar. Kalau tidak salah, dia
dibilang pasti jadi Class Holder atau semacamnya..."
"Bohong... Sekund selalu memberi
tahu lewat surat... Dia bilang orang itu adalah targetnya... Apa
dialah..."
"Orang itu, yang dibilang Kakak
sebagai target utamanya, Damon-san?"
"Kalau begitu, masuk akal juga kalau
dia bisa mengalahkan Red Lizard tadi..."
"Kalau begitu, kalau kita minta
orang ini mengalahkan mereka..."
Karena keberadaan Sekund, nama Damon
ternyata diketahui oleh semua orang bahkan di desa terpencil seperti ini. Namun
di saat yang sama, mereka juga mengetahui satu hal lain.
"A-Ehem? Tapi ya, kami dengar Sekund
jadi Pahlawan, tapi kalau tidak salah, orang bernama Damon ini... anu, waktu
Upacara Pemilihan..."
Mereka tahu fakta bahwa Sekund menjadi
Pahlawan, tetapi Damon yang merupakan rival Sekund malah gagal terpilih.
"Ooh, gagal terpilih. Ya, kan?
Strayer. Aku bukan Class Holder, cuma Rakyat Jelata yang tidak lolos seleksi,
benar begitu, kan? Strayer."
Mendengar hal itu, Damon memasang senyum
jahat, mencengkeram kepala Strayer lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri
secara kasar. Strayer yang memejamkan mata dalam diam tidak membantah maupun
membenarkan, hanya pasrah dibiarkan melakukan apa saja.
Dan Damon yang berpikir 'karena sudah
terlanjur basah', langsung mengarahkan senyum jahatnya ke arah para warga desa.
"Makanya ya, aku benar-benar
terkejut. Tidak disangka tempat yang kusinggahi secara kebetulan saat
mengembara adalah kampung halamannya si Sekund~ Aah, masa aku malah menolong
ayahnya si bajingan itu, aah!"
Damon mengucapkan "aah" secara
sengaja dengan nada menyindir dan sedikit meluapkan emosi seolah bersikap
pasrah. Para warga desa yang hanya tahu bahwa Damon adalah teman Sekund tetapi
gagal terpilih saat
Upacara Pemilihan, menjadi bingung karena
tidak memahami maksud dari perkataan Damon.
"K-Kenapa? Aku tidak begitu paham
soal upacara itu, tapi kau kan temannya Kakak, kan?"
Pertanyaan polos dari Shesta yang tidak
tahu apa-apa. Pertanyaan itu membuat Damon tersulut. Merekam hal yang wajar
karena Shesta dan para warga desa tidak tahu apa-apa. Namun, tatapan mata yang
seolah menyalahkannya itu membuat Damon merasa kesal.
"Hei, Nak... sebenarnya..."
Kedua orang tua Sekund yang tidak tahu
apa-apa. Dan yang paling utama, ada Najimi yang saling mencintai dan saling
berjanji masa depan dengan Sekund. Najimi yang baru saja kehilangan kedua orang
tuanya karena dilalap habis oleh monster dan kini berada di dasar kekecewaan.
Bagaimana jika Najimi mengetahui kabar
tentang Sekund?
Masa bodohlah, pikir Damon lalu
membeberkan semuanya.
"Teman~? Guwahaha, teman apanya~?
Begitu jadi Pahlawan, dia langsung merebut wanita yang kusukai dan menidurinya
berkali-kali, lalu membuangku dari Ibu Kota selamanya, Pahlawan Agung seperti
itu temanku~?"
"""""Ehh............"""""
"A-Apa yang kau katakan, Kakak,
m-meniduri, eh, apa?"
"Aah~? Kalian tidak tahu tugas
Pahlawan, ya~? Class Holder Pahlawan itu bebas punya istri dan selir sebanyak
apa pun, bebas meniduri wanita yang disukainya sepuasnya. Itu kan hal yang
lumrah?"
"Kh! E-Eh, m-memang begitu, tapi...
t-tapi, walau memang begitu, walau memang begitu pun, kan ada Mbak Najimi, jadi
yang nomor satu itu Mbak Najimi..."
"Guwahahaha,
begitu ya~? Bajingan itu dari kemarin-kemarin sudah menikmati tugas Pahlawan
yang bertabur harem dan main mesum sama banyak putri bangsawan dan gadis desa
Rakyat Jelata, tahu? Saat kalian berteriak minta tolong pada si Kakak, atau
saat wanita di sana sedang sedih karena orang tuanya mati, dia sekarang
juga─────"
"Bukan! Bukan bukan bukan bukan
bukan!"
Damon juga memiliki banyak kekesalan yang
tertahan. Sebagian besar memang sudah diluapkan pada Strayer, tapi itu hanya
berlaku untuk Strayer. Masalah Sekund adalah hal yang berbeda sama sekali.
"Bukan... Aku... percaya pada
Sekund."
"Ha?"
"Sekund itu, walau laki-laki tapi
lemah terhadap anak perempuan, kalau
soal hal-hal antara pria dan wanita
wajahnya bakal memerah padam dan tidak bisa melakukan apa-apa, dia orang yang
polos... Makanya, bukan. Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan."
Mengusap air matanya, Najimi berdiri dan
membalas Damon dengan tatapan mata yang lurus. Warga desa lainnya juga
berpikiran sama, kedua orang tua Sekund yang tadi menyambut Damon dengan
senyuman kini menunjukkan raut wajah yang berbeda.
"Begitu ya, yah, terserah kalian
saja. Aku sudah tidak enak perasaan, jadi izinkan aku pergi dari desa ini.
Dengan membasmi dua ekor kadal tadi, anggap saja imbalan untuk gubuk dan
makanan sudah terbayar lebih dari cukup, kan? Kembaliannya tidak usah."
Sudah tidak tahan dengan atmosfer di
tempat itu, Damon membalikkan badannya.
"Hei, sudah cukup, kita pergi,
Strayer."
"Diterima.
Namun, jika begini kita akan berkemah di jalan────"
"Kalau lari dengan kekuatan penuh,
sampai ke kota bukan masalah besar."
"Namun saya..."
"Dasar, bakal kugendong. Sebagai
gantinya imbalan ongkosnya adalah pelayanan mesum banget!"
"Anu,
pelayanan saya sudah termasuk dalam imbalan awal, jadi pelayanan mesum banget
juga────"
Ayo cepat-cepat pergi dari desa ini.
Damon berpikir demikian, tetapi sebelum itu Yaoji berlari memutar dan berlutut
di hadapannya.
"T-Tunggu dulu, Nak. Tidak,
Damon-kun! Aku tidak tahu mana yang benar. Apa yang telah dilakukan Sekund...
putramu padamu... bagaimana perasaanmu pada putraku... Tapi, tapi, tunggu dulu!
Sekarang... desa ini sedang dalam bahaya."
Ya, terlepas dari apakah ucapan Damon
benar atau tidak, masalah mendesak saat ini adalah soal Red Lizard.
"Kuda kami sudah dimakan, kami tidak
bisa pergi ke kota dengan cepat. Tidak, bukan cuma itu, mereka bilang jumlahnya
bukan cuma satu dua ekor, jadi mungkin saja bakal ada yang datang lagi... Kalau
begitu kali ini benar-benar..."
Di desa yang baru saja kehilangan kuda
ini, butuh waktu lama untuk pergi meminta bantuan ke kota. Apalagi, pergi ke
kota pun belum tentu pertolongan akan segera datang, dan tidak tahu kapan Red
Lizard lain akan menyerang desa lagi.
"Tolong! Melihat kekuatanmu, tolong
bantu kami! Kalau putraku sudah melukaimu, aku akan meminta maaf! Berapa kali
pun bakal kulakukan! Makanya..."
Walau terlihat tegas, yang paling
memahami situasi adalah Yaoji.
"Ayah, kenapa... orang ini,
Kakak..."
"Paman..."
"Cuma ini satu-satunya cara, Shesta!
Najimi! Saat ini cuma dengan
bantuan anak muda ini satu-satunya jalan
agar kita bisa bertahan hidup!"
Yaoji paham bahwa hanya Damon
satu-satunya yang bisa menyelesaikan situasi mereka saat ini. Namun bagi Damon,
hal itu teramat menghinakan.
"Aahn? Kau menyuruhku bekerja demi
kampung halamannya si Sekund itu? Kepada aku yang bahkan bukan seorang Pahlawan
ini?"
"Kalau kau mau menolong, kami akan
memberikan imbalan sebanyak mungkin, makanya..."
"Imbalan? Membasmi monster Tingkat
Bahaya 3 itu biayanya tidak main-main, lho? Apa desa ini punya imbalan yang
sepadan dengan itu, hah?"
Demi kampung halaman Sekund. Hanya dengan
mengucapkannya saja sudah membuat Damon jengkel. Apalagi kalau tanpa imbalan,
ia sangat tidak mau. Namun seolah makin membuat Damon jengkel, Fukuro ikut
berlutut di samping Yaoji dan menundukkan kepala.
"Kami mohon... Tolong... selamatkan
desa ini."
Melihat hal itu, warga desa lainnya ikut
menyusul.
"K-Kami mohon, tolong bantu
kami!"
"Kami mohon!"
Tanpa disadari hampir seluruh warga desa
bersujud di hadapan Damon dan memohon pertolongan.
"Ayah... Ibu... U, uu... K-Kami...
mohon."
Melihat wujud semua orang, Shesta yang
tidak sanggup menahannya lagi kembali meneteskan air mata, lalu berlutut dan
menundukkan kepala kepada Damon. Dan Najimi juga menyusul.
"Kh... Aku tidak bisa percaya soal
Sekund... Tapi... seperti kata Paman, saat ini yang bisa menyelamatkan desa
ini... cuma kau... Aku sudah... Ayah, Ibu... aku tidak mau kehilangan siapa pun
lagi... Makanya... u, uu... Kami mohon."
Najimi yang merasa pria yang dicintainya
dicemarkan. Di dasar kekecewaan karena baru saja kehilangan orang tuanya,
kata-kata Damon bahkan menimbulkan amarah yang kuat di dalam dirinya. Namun
meski begitu, saat ini jika tidak bergantung pada Damon, mereka akan kehilangan
lebih banyak lagi. Karena itulah Najimi juga bersujud dan memohon kepada Damon.
Rakyat tanpa daya yang meminta pertolongan. Menolong mereka tanpa imbalan
adalah tugas Pahlawan.
Sebaliknya, Damon adalah orang yang tidak
lolos seleksi. Orang yang gagal terpilih. Rakyat Jelata. Namun jika ia mau,
Damon bisa menjadi Pahlawan mulai dari sekarang.
Jika mempublikasikan bahwa Upacara
Pemilihan adalah kesalahan sang Saint—Strayer, ia bisa menjadi Pahlawan bahkan
mulai dari sekarang. Namun meski begitu, Damon yang sekarang tidak memiliki
keinginan untuk menjadi Pahlawan.
"Waktu masih di Ibu Kota,
orang-orang yang dibilang pasti jadi Class Holder berkumpul di sekitarku. Semua
orang memujiku, tersenyum cari muka, dan para wanita selalu mengerubungiku. Aku
beneran berniat menjawab harapan mereka. Kalau pergi ke medan perang bakal
kulibas Pasukan Raja Iblis, kalau dimintai tolong bakal kutolong, dan demi
tugas Pahlawan aku bahkan berniat bertindak seperti pejantan buat wanita yang
kucintai. Makanya aku berusaha. Selalu melakukan kegiatan pelayanan tanpa
imbalan sudah jadi rutinitas dan hal yang lumrah bagiku."
Para warga desa yang bersujud sekuat
tenaga meminta pertolongan.
Melihat wujud itu, Damon teringat pada
para warga di Ibu Kota dan mengukir senyum menyindir.
"Tapi begitu aku gagal terpilih,
mereka semua langsung membalikkan
telapak tangan! Wanita yang kucintai dan
wanita-wanita yang mengerubungiku, tanpa memberi tahu apa pun padaku langsung
bersetubuh telanjang sama Sekund! Dan tahu apa yang dikatakan para warga Ibu
Kota pada diriku yang sedang kecewa? Penipu! Penipu penipu penipu penipu!
Guwahahaha, mereka menyebutku penipu! Katanya dibuang selamanya supaya tidak
menginjakkan kaki di Ibu Kota lagi! Bagaimana menurut kalian? Guwahahaha,
tidakkah kalian berpikir itu kejam, hah?! Enak saja berharap, bikin heboh,
bikin orang bersemangat, lalu menyebut penipu penipu penipu!"
Ya, semuanya tidak akan menjadi seperti
ini jika bukan karena kesalahan analisis Strayer. Namun dipicu oleh kesalahan
analisis Strayer, Damon menjadi muak pada orang-orang licik yang dengan mudah
membalikkan telapak tangan. Bersenang-senang menjadi Pahlawan demi orang-orang
seperti itu terasa membodohkan.
Melakukan sesuatu tanpa imbalan demi
orang-orang seperti itu juga merupakan sebuah penghinaan. Padahal ia menjaga
kesucian demi wanita yang dicintainya dan menahannya bertahun-tahun, tetapi
dikhianati begitu saja, benar-benar membuat mau muntah.
"Lalu kepada orang sepertiku, kalian
menyuruh menolong seperti seorang Pahlawan? Apalagi kampung halamannya Sekund?
Itu sih agak terlalu enak di kalian, kan? Hah?"
Damon melontarkan kata-kata dengan nada
kasar kepada para warga desa yang sedang bersujud.
"Kejadian seperti itu... kh... u...
Putra kami padamu... Kalau itu benar, sungguh sebagai orang tua, anu...
t-tapi..."
Mendengar apa yang dialami Damon, Yaoji
dan para warga desa menunjukkan raut wajah penuh penderitaan. Jika itu adalah
kejadian yang benar-benar terjadi, sungguh sangat menyedihkan, dan jika Sekund
benar-benar melakukan "hal seperti itu", mereka merasa sangat
bersalah. Dan meski begitu, fakta bahwa tidak ada jalan lain bagi mereka untuk
bertahan hidup selain bergantung pada Damon yang seperti itu membuat hati
mereka terasa sesak.
"Po-kok-nya, yang tadi sudah lunas.
Lagipula tidak tahu ada berapa ekor di gunung ini, apa kalian menyuruhku
mencari dan membasmi Semuanya? Bikin repot saja. Meski begitu kalau kalian
tetap memaksa, bayar imbalannya. Strayer, berapa biayanya?"
"...Di dalam gunung ada belasan
ekor... Menurut pasaran di Serikat Petualang atau semacamnya, satu ekor
harganya lima ratus ribu Madoka... Kalau sepuluh ekor lima juta. Sepertinya
saat ini di dalam gunung ada... sebelas, dua belas, tiga belas... tidak, masih
ada..."
"Guwahahaha, dengar tuh! Ternyata
mahal juga ya. Makanan di Ibu Kota sehari sekitar seribu Madoka, jadi ehem...
pokoknya banyak banget!"
Jumlah uang itu. Begitu mendengarnya,
wajah para warga desa langsung
memucat. Sama sekali bukan jumlah uang
yang sanggup mereka bayar.
"Begitulah, kalau tidak bisa bayar
imbalannya aku tidak mau."
Mengatakan hal itu, Damon membalikkan
badannya membelakangi para warga desa dan berniat pergi meninggalkan tempat
itu. Lalu, seorang wanita berlari tergesa-gesa.
"K-Kami mohon! Tolong selamatkan
desa ini!"
Najimi yang tadinya bersujud, berlari
memutar ke hadapan Damon dan kembali bersujud dengan dalam.
"Kami benar-benar minta maaf karena
tidak bisa menyiapkan uangnya dengan segera... Tapi sebagai gantinya, aku bakal
melakukan apa saja yang bisa kulakukan! Kalau mencari Red Lizard di dalam
gunung itu sulit, aku yang bakal mencarinya. Aku bakal jadi umpannya. Makanya
tolong... Aku bakal melakukan apa saja! Makanya kami mohon, selamatkanlah desa
ini!"
"Aah~?"
"Soal Sekund aku tidak bisa berbuat
apa-apa... Tapi di desa ini... masih ada anak-anak kecil... anak-anak itu tidak
punya dosa apa pun! Kami mohon... kami mohon! Aku bakal melakukan apa saja! Apa
saja!"
Najimi yang berada di dasar duka memohon
kepada Damon walau harus mengorbankan seluruh dirinya. Bahwa ia akan melakukan
apa saja.
Meski begitu, Najimi adalah tunangan
Sekund, dan bagi Damon ia adalah sosok yang hanya akan menambah rasa
jengkelnya. Karena itulah Damon yang kesal mendadak mendapatkan sebuah gagasan.
"Bakal melakukan apa saja, ya...
Sampai sejauh itu kau ingin ditolong?"
"Ya."
"...Kalau begitu."
Sambil menyadari wujud wajah paling jahat
dalam sejarah dirinya, Damon tertawa...
"Bersetubuhlah denganku."
"Kh!"
""""""Kh!!!!!!""""""
Atas perkataan itu, wajah Najimi dan para
warga desa langsung tegang.
Dengan mata berair dan wajah memerah
padam, Najimi melotot ke arah Damon dengan tatapan menghina.
"J-Jangan bercanda! A-Apa yang
kau... Kau ini benar-benar..."
"Guwahahaha, aah iya iya, jangan
memasang reaksi klise begitu dong, bodoh."
Melihat reaksi Najimi yang sesuai
dugaannya, Damon tertawa sambil memegang perutnya.
"Astaga, kenapa bisa jadi begini ya?
Padahal sampai beberapa hari lalu para wanita yang mendekatiku memohon agar
ditiduri, tapi sekarang malah diperlakukan seperti bajingan biasa... Tapi
disuruh melakukan hal seperti Pahlawan... beneran membodohkan banget."
Dan melihat atmosfer di sekitarnya yang
seperti ini terhadap dirinya, Damon menghela napas.
(Yah, untuk sementara aku sudah memberi
tahu kedua orang tua kandung, adik perempuan, tunangan berharga, dan seluruh
desa kalau si Sekund sudah jadi pria pemain wanita, anggap saja aku sudah bisa
membalas dendam sedikit, kan? Cuma monster Tingkat Bahaya 2 atau 3, pasti bisa
kubunuh dalam sekejap... Lagipula Strayer sepertinya bisa pakai sihir pelacak
atau semacamnya, kan? Kalau begitu sepertinya bisa diselesaikan dengan santai
dengan cepat, dan kalau ada satu dua ekor yang lolos ya itu sudah bukan urusanku
lagi... Benar juga. Lima juta kan tidak realistis... Sebagai imbalan, Minta
dibagi sedikit makanan... Tidak, atau karena sudah malam, kamar mandi, makan
malam, makan pagi esok hari... Lalu tempat tidur yang sedikit lebih layak dari
gubuk untuk semalam... anggap itu sebagai imbalannya, lalu besok pagi
cepat-cepat pergi dari desa ini, sudah cukup, kan?)
Sudah malas untuk bernegosiasi atau
disujudi lagi, dan karena sudah membeberkan soal Sekund hingga merasa sedikit
lega, cepat-cepat selesaikan urusan lalu pergi dari desa ini. Damon benar-benar
berpikir demikian.
Ia benar-benar berniat membasmi Red
Lizard dengan syarat seperti itu.
Namun sebelum itu, wanita di hadapannya
telah menetapkan tekad.
"A-Aku paham... Tapi berjanjilah!
Kalau kau meniduriku... kau bakal menyelamatkan desa ini."
"Ueh?"
Itu hanyalah lelucon yang dilontarkannya
untuk mengejek. Namun Najimi mengucapkan hal itu kepada Damon dengan mata yang
telah menetapkan tekad.
"N-Najimi,
bicara apa kau! Hal seperti itu────"
"Tidak apa-apa, Paman... Kalau
dengan begini desa bisa diselamatkan, aku..."
"Mana boleh begitu, N-Najimi! Kau
kan sama Sekund, kh, Damon-kun, kami mohon, tolonglah, setidaknya biarkan anak
ini tetap dalam keadaan suci..."
"Bibi! Tidak apa-apa... Tidak
apa-apa, kok."
"M-Mana boleh begitu, Mbak Najimi...
Aku tidak mau! Tidak boleh...
Hei, Damon...-san, Damon-san! Daripada
Mbak Najimi, bagaimana kalau aku saja?"
"Jangan, Shesta. Kau kan masih
anak-anak... Serahkan hal ini pada Mbak, ya."
Ya, Najimi telah menetapkan tekadnya.
Jika dengan dirinya ditiduri semua orang
bisa selamat. Kehilangan kedua orang tuanya sekaligus, dan kesucian yang
dijaganya demi Sekund yang selalu disukainya kini harus dipersembahkan kepada
pria yang baru pertama kali ditemuinya. Sungguh sebuah tragedi. Namun Najimi
tidak mendengarkan suara para warga desa yang mencoba menghentikannya.
"...Ke rumahku... Di sana... lakukan
sesukamu. Tapi, berjanjilah! Kalau sudah meniduriku, lindungi desa ini!"
"Eh, a, o... Ooh."
Hal itu benar-benar di luar dugaan Damon.
Ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Hatinya sedikit merasa
sakit. Bukankah ini sama saja dengan Sekund? Namun di saat yang sama, perasaan
lain membumbung tinggi. Meski gadis desa, penampilannya pasti akan menjadi
bahan pembicaraan bahkan di Ibu Kota. Proporsi tubuh yang pejal berisikan dan
luar biasa.
Dan yang paling utama, tunangan di
kampung halaman yang selalu dirindukan dan dijadikan penopang hati oleh Sekund
sejak zaman sekolah akademi. Kesucian tunangan itu bisa didapatkannya. Meski
tahu itu pikiran bajingan, ia merasa terangsang.
"Guwahahaha, entah kenapa jadi
begitu! Awasi tempat ini ya, Strayer."
"Diterima."
Menghadapi Damon yang terangsang, Strayer
hanya mengangguk tanpa emosi seperti biasanya. Sama seperti Sekund? Masa bodoh.
Damon menarik tangan Najimi.
"Sip, rumahmu yang ini, kan?
Guwahahaha, bakal langsung kusampar!"
"U-Ung."
Dengan napas memburu Damon mencengkeram
pergelangan tangan Najimi dan masuk ke dalam rumah. Padahal hari ini ia sudah
membuang hajat lebih dari dua puluh kali setelah meniduri Strayer, tapi
gairahnya kembali membumbung tinggi.
Malah, justru karena sudah mengetahui
nikmatnya bersetubuh dengan wanita, dan yang paling utama fakta bahwa ia adalah
wanitanya Sekund makin membuatnya terangsang.
"A-Ah... Najimi... Sialan...
Sialan!"
"Sungguh tega... Sekund... Maafkan
aku."
Suara isak tangis para warga desa
terdengar dari luar rumah. Namun
bagi Damon, ia tidak peduli.
"Anu, kamar milikku yang di sebelah
sana... Di sana... lakukan sesukamu."
Begitu masuk ke dalam rumah, ada ruangan
yang menyatu dengan meja
besar dan dapur. Hanya saja, bagian dalam
ruangan terasa sederhana, hanya ada perabotan harian dan tidak ada ukiran mewah
atau barang antik apa pun, benar-benar sederhana.
Begitu masuk ke kamar Najimi di bagian
dalam, kamar itu juga tidak banyak menaruh barang. Hanya ada meja, tempat
tidur, dan rak sederhana. Hanya saja, saat menemukan tumpukan kertas di atas
meja itu, Damon tersentak.
"Guwahahaha, surat dari Sekund,
ya?"
"...Kh... Tidak ada
hubungannya..."
Najimi tidak menjawab pertanyaan Damon,
hanya menggigit bibirnya dengan penuh penyesalan, lalu tergesa-gesa mencoba
memasukkan tumpukan kertas di atas meja ke dalam laci meja. Namun Damon
menghentikannya.
"Tunggu dulu, dong."
"Kh, a-apa?"
"Coba kulihat... Ooh, muncul
muncul."
"Hentikan, apa yang kau
lakukan!"
Saat Damon membuka kertas itu secara
paksa, di sana tertulis rapi
tulisan tangan yang padat, dan di saat
yang sama kertas itu memancarkan cahaya, memproyeksikan wujud Sekund di atas
kertas.
"A, aaah, Sekund..."
"Guwahahaha, Sekund juga sering
bersembunyi dan mengendap-endap melihat Surat Sihir ini, lho. Waktu kau dan
adiknya muncul, aku sempat melihat wajah kalian."
"Kh, c-cukup! Tolong,
simpan..."
Damon tidak menyimpannya. Malah, ia
membentangkan dan menyebarkan seluruh surat Sekund lainnya, memproyeksikan
wujud
Sekund di seluruh ruangan.
"Sebentar, hentikan! Kenapa kau
memajang wujud Sekund, hah?!"
"Hei, apa Sekund pernah masuk ke
kamar ini?"
"Bicara apa kau?! Daripada itu,
ku-mohon. Cuma surat-surat Sekund yang—"
Padahal mereka hendak berhubungan, tetapi
disuguhi wujud Sekund membuat dada Najimi terasa sesak. Namun, Damon
mencengkeram Najimi dan tidak melepaskannya.
"Aku bertanya, kan. Apa Sekund
pernah ke sini?"
"Kh, u, k-karena kami teman masa
kecil... waktu masih anak-anak..."
"Begitu ya, begitu ya. Lalu... apa
kalian pernah setidaknya berciuman?"
"...Kalau itu... saat dia... mau
pergi dari desa... cuma di pipi—"
Meski saling mengikat janji masa depan
dengan Sekund, mereka memiliki hubungan suci yang bahkan belum pernah berciuman
bibir.
Dan tanpa tahu bahwa Sekund sedang sibuk
menjalankan tugasnya sebagai Pahlawan, Najimi terus menjaga kesuciannya.
『Najimi, surat darimu, kata-katamu selalu menjadi
penopangku. Aku berjanji. Aku pasti akan menjadi kuat, lalu melindungi desa dan
dirimu!
M-Makanya,
t-tunggulah aku. Aku pasti akan menjemputmu... Janji sejak kecil kita, aku────』
"Nchuh"
"Kh!"
Di saat surat Sekund menyampaikan rasa
cintanya pada Najimi, Damon merebut bibir Najimi.
"Kh!
A, t-tunggu, nnn! Nh────!"
Apalagi itu bukan ciuman biasa. Ciuman
pekat yang memaksa masuk dan menjilat seluruh isi mulutnya. Najimi menegang,
terkejut, dan secara refleks mencoba kabur, tetapi Damon mencengkeram dan tidak
melepaskannya.
"Ja-jangan, nnn! Nh, u, uuu..."
Tidak bisa kabur. Dan bibirnya mulai
dinodai. Sambil menerima ciuman Damon, Najimi kembali meneteskan air mata.
(Tega banget, ciuman, sengaja di depan
Sekund... Ini ciuman pertama bibirku... Tidak mau... Hal seperti ini tega
banget... Kotor! Lidahnya, air liurnya, tidak mau! Ini bohong, karena tidak ada
perasaan di dalamnya, Sekund, ini bukan ciuman, ini beda!)
Ciuman pertama. Orang yang menerimanya
sudah ditetapkannya di dalam hati sejak lama. Ia sudah memikirkan berbagai
situasi dan membayangkan momen yang romantis. Namun, hal itu tidak terwujud dan
malah diluluhlantakkan.
"Hehe, gawat, aku jadi terangsang
banget."
"Hii... u, a..."
"Nah, sejak Sekund membaca surat di
sekolah, aku sudah penasaran... Bagaimana kalau sekarang kau perlihatkan yang
ini padaku?"
"T-Tunggu, aku lepas sendiri!"
"Tidak mau."
"A, aaaa, aaaa!"
Lalu, Damon yang tidak bisa menahan
gairahnya merobek pakaian Najimi.
"Ooo~ celana dalam, pantat, dada,
celana dalam, pantat, dada!"
"J-Jangan, mendekatkan wajahmu,
tidak mau!"
"Ooh... sret sret"
"Tidak mau! Jangan mengendus aroma
tempat seperti itu!"
"Aroma yang hangat dan pekat♪ Guwahahaha... jilat"
"Hin!"
Berbeda dengan Strayer, pakaian dalam
putih polos itu tampak sederhana dan murah. Namun, dada dan pantat yang
ditutupi pakaian dalam itu tampak berisi, dipadukan dengan pinggang yang
ramping, benar-benar tubuh wanita yang sangat menggoda.
(Kalau bakal begini... kalau bakal jadi
begini... saat Sekund pulang ke desa tahun lalu... kalau bakal jadi begini,
harusnya lebih cepat... momen pertamaku...)
Menyesal karena tidak mempersembahkannya
lebih cepat pada Sekund pun sudah terlambat.
"Haa, haa, gawat... Beda dari
Strayer, seksi banget... Tidak tahan lagi..."
"A,
u, uuu... a... a... Maafkan aku, Sekund! U, uuu, padahal aku mau memberikan
semuanya padamu────"
"Guwahahaha, hei, lihat aku... lihat
milikku!"
"Hiii! B-Besar... Bohong, m-mana
mungkin! K-Kalau sebesar ini, ba-bagaimana pun, b-besar..."
"Tidak masalah. Strayer saja tidak
apa-apa, kok."
"T-Tapi, k-kalau begini..."
"Kalau begitu, selamat makan!"
"Uu, maafkan aku, Sekund! Maafkan
aku, Sekund! Sekund, Sekund, Sekunddd!"
"Pertama-tama, mari kita santap
marshmallow yang lezat ini dulu, am!"
"Hiii! A, jangan, aaaaa!"
Damon mulai menyantapnya. Menghadapi
rangsangan pertama dalam hidupnya dan tindakan yang dilakukan oleh pria yang
tidak disukainya, seluruh tubuh Najimi merinding dan ia berteriak histeris
sambil menangis. Namun, jeritan dan rontaan itu justru hanya menjadi bumbu
penyedap bagi Damon yang sekarang.
"Am, uoh, enak banget,
apa-apaan ini, nchuburu, jurururu."
"Tidakkk, jangan diisap, tidak
keluar, tidak ada yang keluar! Sudah kubilang tidak ada yang keluar, kh,
menjijikkan!"
"Walau tidak keluar rasanya tetap
pekat! Luar biasa, bisa kumakan
selamanya."
"Hentikan, ja-jangan dimakan! Jangan
makan aku!"
Menempelkan mulutnya ke tubuh Najimi,
mengisapnya hingga berbunyi. Menjilatnya hingga berbunyi basah. Lalu
meremasnya. Tanpa ada rasa peduli pada pasangannya, Damon melahap tubuh Najimi
hanya menuruti instingnya.
"Hehe, oho, teksturnya mulai
berubah, makin kenyal dan mengeras... Kau terangsang, ya?"
"T-Tidak! Cuma merasa jijik,
nhii!"
"Sip, mari kita permisi masuk ke
pintu yang ini juga."
"A, aaaaa!"
"Oya oya, daerah sekitar sini adalah
hutan hujan tropis yang lumayan basah, ya."
Damon menyelipkan tangannya ke dalam
pakaian dalam Najimi dan mempermainkannya. Ke dalam area terlarang yang tidak
pernah disentuh atau diperlihatkan pada orang lain, Damon menerobos masuk
secara kasar.
"Hentikan, k-kalau mau dilakukan,
cepat lakukan! Cepat selesaikan!"
Menghadapi perbuatan pertama dalam
hidupnya, Najimi mengalami hiperventilasi dan mengerang kesakitan. Namun, Damon
membalasnya dengan senyum iblis.
"Bicara apa kau. Cepat diselesaikan?
Tidak akan kuselesaikan, tahu. Soalnya hari ini aku sudah memutuskan bakal
menikmati dirimu sampai ke tulang-tulangnya."
"Kh, u, uuu."
Air mata memenuhi mata Najimi. Kenapa
dirinya harus mengalami hal seperti ini? Itu demi melindungi desa ini. Demi hal
itulah ia menjual dirinya pada iblis. Namun, walau sudah menetapkan tekad,
perbuatan ini tetap saja teramat menyiksa.
"Jangan menangis, nchuh."
"Nnnnn!"
Lalu, Damon tidak memberikan belas
kasihan pada Najimi yang meneteskan air mata. Ia kembali menyumpal bibirnya
dengan ciuman, mewarnai bagian dalam mulut itu dengan lidah dan air liurnya
sendiri.
Area kewanitaannya dipermainkan, dadanya
diremas, dan ciuman pekat dengan lidah yang saling membelit. Dari seluruh tubuh
Najimi, rangsangan seksual yang belum pernah dirasakannya menyerang secara
bersamaan, membuat pikirannya perlahan-lahan tidak berfungsi.
"A, nh... annh... kh!"
Najimi tersentak mendengar suara yang
tanpa sadar lolos dari mulutnya,
lalu menggigit bibirnya erat-erat. Apa
yang baru saja diucapkannya?
Najimi terkejut dan takut pada dirinya
sendiri karena suara yang seolah menikmati itu lolos dari mulutnya. Melihat hal
itu, Damon makin ketagihan dan memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi.
"Seben- t-tunggu!"
"Tidak akan tunggu. Soalnya kemarin
aku sudah lumayan belajar soal tubuh wanita dari Strayer. Begini, begini,
begini, lalu begini. Terus ciuman juga, nchuh."
"Nnnn!"
Tangan Damon—tidak, pergerakan
jari-jarinya makin aktif. Saat hendak bersuara memprotes, mulutnya langsung
disumpal dengan ciuman.
(Aah, ciuman, dicium lagi,
selangkanganku... dadaku... tidak boleh, aku tidak bisa berpikir. Lagipula,
a-apa rangsangan ini? Ada sesuatu yang membumbung tinggi. Sensasi sesuatu yang
naik dari perut bawah sampai ke ubun-ubun... Jangan-jangan... jangan-jangan
aku... mencapai puncak... Bohong, a-aku, sambil dicium, oleh pria selain
Sekund... Bohong, ini bohong!)
Perasaannya sendiri tidak ada
hubungannya. Itu adalah refleks dan reaksi akibat rangsangan fisik. Itu bukan
salah Najimi. Namun, Najimi merasa takut pada reaksi tubuhnya sendiri dan
gairah yang melingkupinya. Namun, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan
hampir mencapai puncak, saat itulah—
"Kalau begitu, sebentar lagi kita
mulai, ya."
"M-Mulai? A..."
Najimi tertegun, tetapi di hadapan
matanya dan di depan gerbang kesuciannya, sebuah pedang perkasa telah bersiap
dan menanti untuk menyerang dan menembus gerbang itu. Ia tidak bisa lari lagi.
Beberapa detik lagi ia akan ditembus, dinodai, dan secara harfiah merontokkan
kesucian yang dijaganya demi pria yang dicintainya seumur hidup.
Biarpun menjerit, mulutnya disumpal
ciuman dan Damon tidak akan mendengarkannya. Walau tahu akan hal itu, Najimi
menggantungkan secercah harapan dan memohon pada Damon.
"To-long..."
"Emm?"
"...Pakai... kontrasepsi..."
"Bakal kubuat kau hamil!"
Namun, hal itu justru makin menguatkan tekad Damon. Merebut dan mengambil wanita cinta pertamanya, lalu menyaksikan wujud Sekund yang melakukan perbuatan pembuahan di hadapan matanya, Damon yang sekarang tidak akan berhenti. Karena itulah, kini hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Najimi.
"Yang kusukai itu Sekund! Cuma Sekund saja! Aku tidak akan berubah! Biarpun dinodai, perasaan ini tidak akan pernah────"
"Uraaaaaaaaa, selamat makan!"
"T-Tunggu,
aku baru bicara setengah jalan────khuiiiiiiiiii!"
Lalu, kesucian Najimi rontok secara
mengenaskan.
"Kahah... a... a..."
Gerbang kastil telah ditembus. Di hadapan
kekuatan yang menginvasi, menguasai, dan meluluhlantakkan wilayah terlarang
yang belum pernah diserang sekalipun, Najimi yang tidak memiliki pengalaman
tempur sungguhan langsung dilibas dengan mudah.
(A-Apa-apaan ini, sensasi yang menembus
dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun... Rasanya sakit atau tidak aku sendiri
sudah tidak begitu paham... Rasanya seperti mau robek... Bagian dalam perutku
diacak-acak, dan bagian dalam kepalaku seolah sedang ditulis ulang...)
Ketika manusia dihadapkan pada fenomena
yang jauh melampaui imajinasinya, mereka bahkan kehilangan kata-kata. Najimi
yang sekarang benar-benar berada di kondisi itu.
"Bagus, mantap banget... Beda dari
Strayer, tapi kau juga yang terbaik, Najimi."
"Agu, a a."
"Wanita hebat seperti ini... Aku
tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun lagi. Kau milikku."
"A, nh, nhmu."
Bahkan jeritan pun tidak sanggup
dilontarkan, bibir Najimi kembali disumpal dengan ciuman oleh Damon. Dan sambil
terus berciuman tanpa melepaskannya, Damon melancarkan serangan bertubi-tubi.
(Aah,
aku dicium... dicium lagi... Sambil menerima ciuman yang begitu dahsyat dan
pekat, aku diperlakukan secara mesum... diinginkan... Dibuat hingga tubuhku
rasanya mau robek jadi dua... Kalau begini terus, aku... aku────)
Saat itulah, Najimi mendadak membuka matanya lebar-lebar melihat sesuatu yang terpantul di sudut pandangannya. Itu adalah surat dari Sekund yang masih terbentang. Wujud Sekund yang terproyeksi. Di hadapan pria yang paling dicintainya, ia sendiri sedang dipeluk, dicium, dan mendesah oleh pria yang berbeda.
"Kh, tidakkk, tetap saja, tidak, tidak boleh, tidak boleh, Sekund melihatnya, Sekund melihat kita! Yang kusukai itu Sekund, makanya, ciuman tidak mau, mesum, bayi, dada juga, tidak mau!"
Dengan sekuat tenaga menggelengkan kepala
demi melarikan diri dari ciuman, Najimi kembali berteriak histeris.
Namun, Damon mencengkeram kedua pipi
Najimi dengan rapat untuk memfiksasi posisinya, lalu kembali menyumpalnya
dengan ciuman. Meski merasa keberatan dan mengatupkan bibirnya demi mencegah
masuknya lidah, karena ia diserang tidak hanya dari atas tetapi juga dari
bawah, mau tidak mau ia refleks membuka mulutnya, dan lidah Damon kembali
dipaksa masuk ke dalam mulut Najimi.
(Aah, ciuman lagi... Tidak mau, sesuatu
membumbung tinggi... Sambil dicium aku, aku... mau mencapai puncak, bohong, ini
bohong, ini bohong ya, Sekund... Ini beda...)
Perlawanan terakhirnya sia-sia, Najimi
yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi kembali bersikap penurut. Melihat wujud
itu, Damon mengukir senyuman sembari melepaskan bibirnya, lalu berbisik pada
Najimi.
"Tenang saja. Aku bakal menepati
janji."
"E..."
"Seluruh dirimu sudah kudapatkan.
Karena itulah, sesuai keinginanmu seluruh ancaman bakal kulibas, dan aku bakal
melindungi dirimu serta desa ini."
"..."
"Serahkan padaku."
Pertukaran senilai. Damon menyetubuhinya
dengan syarat hal itu.
Namun, walau memperkosa wanita yang
merasa keberatan, senyuman yang diukir oleh Damon tidak lagi tampak seperti
iblis layaknya sebelumnya, melainkan terlihat seperti senyuman anak laki-laki
yang polos di mata Najimi. Senyuman itu tanpa sadar membuat Najimi tertegun.
"A-Apa yang kau katakan...
Memanfaatkan kelemahan orang... Memperlakukan wanita yang tidak punya pilihan
lain secara tanpa ampun begini..."
"Begitu, ya. Kalau begitu, aku bakal
berusaha supaya kau bukannya merasa keberatan, tapi merasa lebih bahagia."
"Tidak akan bahagia! Hal seperti ini
sudah pasti cuma terasa tidak enak saja, annh, makanya, nh, tidak akan jadi
begitu... Pada orang sepertimu... Pada orang sepertimu..."
"Damon."
"...Eh?"
"Bukan berarti kau harus jadi barang
milik seperti Strayer, kok. Kau boleh memanggilku pakai nama. Damon."
"Bicara apa..."
Kepada Damon yang mengucapkan hal yang
sangat tidak menyambung kepada wanita yang sedang disetubuhinya, berbagai kata
makian terlintas di dalam hati dan kepala Najimi. Namun entah kenapa, ia tidak
menyemburkan seluruh makian itu, hatinya perlahan-lahan mulai terbawa suasana,
dan ia kembali menetapkan tekad lalu membuang posisi perlawanannya.
"Ya sudah, lakukan saja cepat dan
puaskan dirimu, kan..."
"Sip, bakal kulakukan~ Najimi!"
"Eh, sebentar, makanya, tahan dirimu
sedikit dong, Damon!"
Pergerakan Damon makin bertambah ganas.
Najimi mencoba menahannya, tetapi tanpa disadari kedua tangan dan kakinya telah
memeluk erat tubuh Damon.
"Hei, cium! Cium lagi!"
"Ya ampun, lakukan saja sesukamu,
nh, nh, nnn!"
Ciuman yang sangat dibencinya tadi pun,
kini ia tidak lagi melawan seolah memasrahkan "lakukan saja
sesukamu". Ia tidak mengatupkan mulutnya dan menerima lidah Damon.
Lalu, mereka berdua mencapai puncak di
paling puncak.
"Kahah, aaah, gawat, a... a...
a."
"Uoh, hooh, oooh, gawat, mantapppp!
Mantap banget, Najimi!"
Najimi yang napasnya terengah-engah,
serta Damon yang terangsang oleh momen kebahagiaan. Najimi yang terkapar dan
mencapai puncak sudah tidak sanggup menegakkan tubuhnya lagi. Namun meski
begitu, ia diselimuti oleh rasa pencapaian bahwa ia "telah berhasil
melaluinya".
"S-Sudah puas... belum? Damon."
Dengan begini semuanya sudah berakhir.
Berpikiran demikian, Najimi berbisik di telinga Damon yang sedang menindih
tubuhnya. Namun, Najimi tidak memahami satu hal.
"Guwahahaha, tambah lagi!"
"He, a, sebentar, he, e,
eeeee!"
Damon langsung bangkit kembali dan mulai
beraktivitas lagi.
"K-Kenapa, mana bisa begitu, masih
ada?!"
"Sudah kubilang, kan, hari ini aku
bakal melahapmu sampai ke tulang-tulangnya! Mana mungkin selesai cuma dengan
satu dua kali, tahu! Oraaaaa!"
"H-Hyaaaaa, a, tidak mungkin, tidak
bisa begitu!"
Najimi benar-benar dilahap habis seluruh
tubuhnya sampai ke tulang-tulangnya.
"Guwahahaha, ini masih belum
selesai, tahu!"
Sudah tak ubahnya jeritan gairah dari
binatang buas yang hilang akal.
"Hei, Najimi, mari kita ciuman lagi?
Nih lihat, di depan suratnya Sekund, lho."
"Ogooo, obooo, o, O, oOO!"
Para warga desa yang mengenal Najimi
sejak lahir pun ketakutan mendengar jeritan gairah Najimi yang belum pernah
mereka dengar sekalipun. Najimi bakal hancur. Najimi bakal sirna. Yaoji dan
Fukuro yang menganggap Najimi seperti putri kandung sendiri berjongkok dan
menangis tersedu-sedu seolah mau hilang akal, sementara warga desa lainnya yang
tidak bisa membantu terus bergumam "maafkan kami" berulang kali
sembari menutupi telinga mereka karena merasa tidak berguna.
"..............."
Strayer hanya mengamati para warga desa
itu dalam diam. Dan sambil memasang telinga pada tindakan yang terus
berlangsung di dalam rumah tanpa istirahat,
(Seorang Pahlawan memiliki kewajiban
untuk menyebarkan benihnya... Itu demi umat manusia... Namun, kenyataannya
bukan cuma itu saja. Seorang wanita secara insting akan menginginkan benih dari
pria yang unggul. Karena itulah, niat tersembunyi dari tugas yang diberikan
pada Pahlawan adalah agar benih unggul yang diinginkan semua orang tidak
didominasi oleh satu wanita saja hingga memicu perselisihan.)
Dengan wajah tenang, namun berjuang
sekuat tenaga berpura-pura tenang agar tidak ketahuan bahwa bagian dalamnya
mulai terasa panas membara, ia tenggelam dalam lamunan.
(Master hanya tidak memiliki gelar saja,
tetapi nilainya sebagai pria adalah Class Holder Pahlawan Tengen yang melampaui
Pahlawan biasa. Jika dipeluk oleh pria seperti itu, seberapa pun tubuhnya
merasa keberatan, kemungkinan perlahan-lahan dia akan... tidak, mungkinkah...
hatinya sudah sejak tadi...)
Strayer tidak melewatkan perubahan pada
desahan Najimi yang sedang diluluhlantakkan di dalam rumah.
"♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥"
Waktu berlalu bagaikan neraka bagi para
warga desa, hingga matahari benar-benar tenggelam dan malam pun tiba.
"Guwahahahahaha, mantappp! Duh, puas
banget rasanya!"
Suara jeritan gairah bak binatang buas
telah hilang, dan perbuatan yang tetap berlanjut itu akhirnya selesai juga.
Damon yang bertelanjang dada keluar dari dalam rumah. Di sampingnya, ada Najimi
dengan wajah merona dan berjalan sempoyongan sembari terbungkus kain sprei.
"A, ah, Najimi!"
"Najimi, sadarlah! Najimi!"
"Mbak Najimi!"
Keluarga Sekund berlari menghampiri
Najimi. Mereka menggoyang-goyangkan tubuh Najimi yang linglung dan memanggilnya
dengan suara keras, tetapi reaksi Najimi sangat lamban.
"Nhi, a... nguh... tidak apa-apa...
Paman, Bibi... Shesta... semuanya... tidak apa-apa, walau tadi luar biasa
banget, tapi aku tidak apa-apa..."
"Najimi..."
Tidak perlu khawatir. Tidak apa-apa. Wujudnya memang terlihat lemas dan kehabisan tenaga, tetapi meski begitu Najimi tetap berusaha mengulas senyum ke arah semua orang. Namun, senyuman itu bukan lagi senyuman Najimi yang dikenal oleh semua orang.
"M-Mbak Najimi..."
Rona sensual yang mendalam seolah ada
bagian dirinya yang telah
hancur terpancar erat, hingga membuat
dada yang melihatnya terasa sesak.
"Guwahahaha, sudah gelap gulita, ya.
Oho, gelap banget."
"Apakah Anda sudah puas?
Master."
"Ooh, sebenarnya aku masih bisa
lanjut sedikit lagi, tapi ya sudahlah, sudah kunikmati dari ujung ke ujung.
Lagipula perutku juga mulai lapar."
"Kalau begitu, mari makan
malam..."
"Tidak,
sebelum itu────"
Strayer menyapu keringat dari tubuh Damon
yang telah meniduri Najimi sepuasnya. Ketika ia bertanya apakah mereka akan
langsung makan malam, Najimi yang berada di sisinya mencubit lengan Damon.
"...Hei... kita... sudah berjanji,
kan? Damon... sudah, kan?"
Sikap itu sama sekali bukan sikap yang
ditunjukkan oleh wanita yang baru saja diperkosa. Atmosfer unik bagaikan
sepasang pria dan wanita yang telah mengenal satu sama lain secara mendalam
mengalir di antara mereka, membuat para warga desa tidak percaya dengan
penglihatan mereka. Lalu, Damon mengukir senyum pada Najimi.
"Aah, karena aku sudah menikmati
tubuhmu sepuasnya, bagian yang itu bakal kubayar tuntas! Guwahahaha, Red Lizard
bakal kubasmi tanpa tersisa satu ekor pun!"
Ia mengumumkan bahwa ia akan mewujudkan
permintaan itu.
"Hei, Strayer. Kau bisa melacak
keberadaan mereka, kan?"
"Ya. Alasan saya bisa menemukan
Master yang lari melesat dari Ibu Kota juga berkat kemampuan tersebut."
"Kau tahu ada berapa ekor dan di
mana lokasi Red Lizard itu?"
"Untuk
lokasi perkiraannya. Namun, apakah kita akan memulainya sekarang? Saat malam
hari para monster biasanya tidak beraktivitas────"
"Kalau aku bilang lakukan, ya
lakukan. Janji itu harus cepat-cepat ditepati, tahu. Lagipula, bukannya kau
tidak boleh menolak atau mempertanyakan tindakanku dan cuma perlu mematuhinya
saja, hah?"
"Saya mohon maaf. My Master."
Lalu, kalau mau bertindak maka langsung
bertindak saat itu juga.
Memikirkan rencana, atau menunggu esok
pagi saat hari sudah terang—Damon tidak memikirkan hal-hal rumit seperti itu.
"Mungkin mereka agak menyebar, jadi
tunjukkan lokasi umum keberadaan mereka pakai jarimu. Sisanya tinggal
mengandalkan insting, hawa keberadaan, dan bau, semuanya bakal beres."
"Hanya dengan itu saja? Kalau
begitu, pertama-tama ada sekitar empat ekor di daerah sebelah sana."
"Kalau begitu, berangkat!"
Sesuai yang diintruksikan, Strayer
menunjuk ke satu arah di dalam hutan gunung yang gelap. Merasa hal itu sudah
lebih dari cukup, Damon mengambil posisi membungkuk. Lalu, tubuhnya berubah.
Damon membungkuk sembari mengerang. Wujud itu membuat Strayer yang tadinya
tanpa emosi menjadi terperanjat. Kedua paha kaki Damon membesar secara tidak
wajar, dan kedua kaki itu membuat retakan yang menjalar di atas tanah.
"Shahhaaa!"
Di detik berikutnya, bersamaan dengan
suara dentuman dahsyat, asap debu membumbung tinggi, dan Damon melesat terbang
dengan kecepatan yang tak tertangkap mata. Ia terbang di udara seolah-olah
ditembakkan dari sebuah meriam. Di saat Strayer dan para warga desa menyadari
hal itu, suara hantaman bagaikan tembakan meriam bergema di hutan gunung.
"Guwahahaha, ketemuuu! Guwahahaha, kroco, kroco kroco banget♪ Empat ekorrr!"
Lalu, dari tengah lereng hutan gunung,
suara monster yang mengamuk bergema. Namun hanya suara. Suara dan dentuman juga
terdengar.
Karena gelap dan jaraknya jauh, tidak ada
seorang pun yang tahu apa yang sedang terjadi di sana.
"Ooi, Najimi~! Buki pembuktiannya
bakal kutendang ke sana, jadi lihat baik-baik, ya~? Oraaa! Long Feed!"
Para warga desa tertegun. Saat itulah,
mereka menyadari ada benda hitam yang terbang melayang dari arah gunung menuju
ke mari.
"A-Apa itu?! Ada sesuatu yang besar
melayang ke mari!"
"Sebentar, semuanya, menjauh!"
Benda itu jatuh menghantam area kosong
yang berada di antara rumah Yaoji dan rumah Najimi.
"Hii! S-Sebentar, i-ini kan..."
Para warga desa lemas hingga terduduk.
Sebab benda itu, walau telah kehilangan bagian kepalanya, tak salah lagi adalah
batang tubuh dari Red Lizard.
"Nih nih nihhh!"
Di hadapan semua orang yang tercengang hingga melongo, benda-benda berjatuhan dari langit satu demi satu. Benda dalam kondisi isi perut terburai ke mana-mana. Benda dalam kondisi berlubang di bagian dadanya.
Benda dalam kondisi batang tubuhnya
tertekuk ke arah yang tidak masuk akal. Seluruh bangkai Red Lizard yang telah
tewas terkapar rapi berbaris secara horizontal sebanyak empat ekor.
"Dari jarak sejauh itu membawa tubuh
raksasa ini. Terlebih lagi, berbaris rapi secara horizontal tanpa ada
pergeseran. Sampai bisa melakukan kontrol seakurat ini..."
Mengenai hal ini, Strayer pun tidak
sanggup menyembunyikan rasa terkejutnya. Lagipula, bagi Strayer yang mengetahui
kelas asli Damon, ia sudah tahu bahwa Damon tidak mungkin kalah dari monster
sekelas Red Lizard. Karena itulah, selain kekuatan tempur murni milik Damon, ia
dibuat merinding mengetahui Damon sanggup melakukan atraksi seperti ini.
"Ooi, Strayer! Berikutnya di mana?
Tunjukkan jarimu!"
"Terlebih lagi, di jarak sejauh ini
ia bisa melihat kita. Kh, Master, dari posisi itu lurus ke arah kiri ada tiga
ekor."
"Sip! Oho, baunya tercium banget
nih~ Guwahahaha, ketemuuu!"
Lalu ia mengamuk lagi, dan bangkai Red
Lizard berjatuhan serta berbaris satu demi satu.
"Berikutnya, di arah kiri agak ke
atas dari posisi itu."
"Guwahahaha!"
Seolah sedang memetik sayuran liar di
dalam gunung, Damon memburu para Red Lizard dengan sangat mudah.
"Red Lizard yang jika berkawan bisa
mencapai Tingkat Bahaya 3. Tingkatan yang harus ditangani oleh party Class
Holder. Tapi ia membereskannya dengan begitu mudah..."
Malam itu, berbanding terbalik dengan
durasi berjam-jam saat Najimi diluluhlantakkan, pembasmian Red Lizard yang
dilakukan Damon sebagai imbalan dari perbuatan tersebut selesai hanya dalam
hitungan menit, dan delapan belas bangkai Red Lizard berbaris rapi di desa.
"Seperti dugaan saya, Anda memang
manusia super terlahir berbakat yang berada di tingkatan berbeda...
Master."
【Pengalaman Damon】
●
Mantan Saint Strayer: 21 Ronde
●
Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 7 Ronde
"Ayah, Ibu... terima kasih atas
semuanya selama ini. Aku bakal berjuang."
"Kalian berdua... Najimi benar-benar
sudah berjuang keras. Karena Najimi menahannya makanya desa ini... Tolong,
mulai sekarang awasilah Najimi."
Di alun-alun pusat desa, para warga
berkumpul sembari menyalakan kobaran api besar. Yang berbaris di depan api
adalah bangkai para Red Lizard.
"Kalau begitu, mari berdoa untuk
mereka berdua."
Sembari menyiapkan alkohol dan masakan,
mereka semua memanjatkan doa hening seolah sedang melangsungkan penghormatan
bagi orang yang telah wafat.
"Ngomong-ngomong kadal ini kalau
dipanggang bisa dimakan tidak?"
"Bukan berarti tidak bisa dimakan,
tetapi memotong dan memasaknya merepotkan, dan denger-dengar rasanya tidak
seberapa enak."
"Apa-apaan, membosankan
banget."
"Hanya saja, kulit monster itu sangat kuat, jadi biasa digunakan untuk perlengkapan pelindung atau semacamnya. Jika dibawa ke toko peralatan di kota, sepertinya bisa jadi sumber penghasilan yang lumayan.""Fuuun. Ngomong-ngomong, kenapa monster seperti ini bisa ada di sini?"
"Dalam pertempuran antara Pasukan Raja Iblis dan Pasukan Aliansi, mungkin prajurit Pasukan Raja Iblis yang kabur membuangnya ke gunung. Lalu monster itu menjadi liar."
"Fuuun. Ah, benar juga, bulan lalu juga ada kejadian kan. Kemenangan mutlak Jenderal Besar Bushin, jenderal musuh juga katanya hilang atau tewas dalam perang."
"Ya. Mungkin monster dari
pertempuran saat itulah."
Di saat para warga desa sedang berdoa
hening, Damon dan Strayer melakukan obrolan santai seperti itu di luar
kerumunan. Dan begitu para warga desa menuntaskan doa hening mereka, mereka
mengangkat alkohol dan masakan sembari berteriak ke arah langit.
"Nah... Nak... anu, te-terima kasih
ya."
"Ha?"
Perasaan yang campur aduk. Namun
kenyataan bahwa mereka telah diselamatkan adalah fakta. Setelah menuntaskan doa
hening, Yaoji mewakili desa mengucapkan terima kasih pada Damon. Namun bagi
Damon, hal itu terasa aneh.
"Ha? Kenapa begitu? Aku bukannya
menolong kalian secara cuma-cuma, aku kan sudah dapat imbalan jadi kita impas,
dong."
"T-Tentu saja begitu, tapi..."
"Benar kan? Najimi~.
Guwahahaha."
Bukan hal yang perlu ditumpahi ucapan
terima kasih. Sebagai imbalan ia sudah meniduri Najimi. Saat Damon mengucapkan
hal itu sembari memamerkan senyum jahat, semua orang kembali menunjukkan raut
wajah yang campur aduk. Najimi juga menggigit bibirnya dengan cemberut. Namun,
hanya sampai di situ.
"Yah, berkat hal itu desa kalian
selamat, dan kalau kadal ini dijual bisa jadi biaya hidup untuk sementara
waktu, kan? Pakai itu buat memikirkan masa depan kalian. Sambil menunggu
disamput Pahlawan Pemain Wanita menjemput kalian."
"""""Ehh??
Break"""""
Mendengar kata-kata Damon, para warga
desa terkejut.
"N-Nah, Damon."
"Emm?"
"E-Eh, a-anu... Bangkai Red Lizard
ini... diberikan untukku?"
"...Ha? Eh? ...Kalian tidak
mau?"
Atas pertanyaan yang diajukan Najimi dengan ragu-ragu itu, Damon malah ganti terkejut.
"Eh? Soalnya kan kau yang minta
makanya monster-monster ini kubunuh, penanganan setelah dibunuh ya urusanmu...
Eh? Beda, ya? Strayer, ada yang beda?"
"Saya menganggap semua pikiran
Master sebagai kebenaran mutlak."
"Makanya, ini kan milikmu? Tidak,
kalau tidak mau sih bakal kuambil lalu kujual... tapi kalau membawa semuanya
kelihatannya merepotkan juga."
Bagi Damon yang sudah menerima imbalan,
ia tidak memiliki pikiran untuk meminta lebih dari ini. Dengan pemikiran
"kalau tidak mau ya kuambil", Damon tidak begitu terikat pada bangkai
itu. Karena itulah, kalau Damon berkata demikian, Najimi juga tidak menolaknya.
"Aku paham, kalau begitu ini
buatku... Tidak, buat desa ini. Soalnya aku berpikir harus membeli stok
persediaan di kota untuk persiapan musim dingin, dengan begini perasaanku jadi
sangat lega."
"Guwahahaha, begitu ya."
Najimi merasakan perasaan yang entah
kenapa terasa aneh. Kehilangan kedua orang tuanya hingga jatuh ke dasar duka,
dan mengetahui hal itu, kesucian yang dijaganya demi pria yang disukainya malah
direbut dan diluluhlantakkan oleh Damon.
Meski demi desa, seharusnya Damon adalah
sosok yang membuatnya ingin muntah. Namun entah kenapa, saat ini rasa tidak
senang atau dendam sama sekali tidak terlintas di dalam diri Najimi terhadap
Damon.
"Nih, Damon juga pasti lapar, kan.
Makanlah. Ini buatanku, kok. Kau dan gadis itu pasti sangat lapar, kan?"
Tanpa disadari, Najimi menyodorkan piring
berisi biji-bijian tumis dan sayuran kepada mereka berdua.
Damon hendak mencapainya dengan gembira.
Namun, ia mendadak tersentak dan menghentikan tangannya.
"...Ooh... Emm? Tidak, tunggu
tunggu... Kalau aku menerima ini, bukannya aku jadi punya utang padamu? Ini kan
gratisan."
"...Apa?"
"Tidak, saat ini kan kita berada di posisi tidak saling berutang... Jadi kalau di sini aku menerima sedekah, padahal sudah lunas nanti malah muncul utang baru..."
"Bicara apa kau? Sama sekali bukan
seperti itu, kok. Cuma rasa terima kasih atau niat baik biasa..."
"Aahn? Kalau begitu malah makin
tidak bisa kuterima, dong."
"K-Kenapa?"
Kalau beberapa saat lalu mungkin ia tidak
akan berpikir seperti ini.
Namun, Damon telah mengubah cara
berpikinya.
"Aku sudah berhenti melakukan
sesuatu secara cuma-cuma. Di sisi lain, dari awal aku menganggap menerima
sesuatu secara cuma-cuma itu rasanya menjijikkan, jadi hal itu tetap berlanjut.
Niat baik gratisan begitu tidak kubutuhkan."
"E-Eh?"
"Strayer karena suatu hal sudah jadi
milikku seumur hidup dan berbakti padaku, jadi kalau punya Strayer bakal
kuterima, tapi aku tidak bakal menerima sedekah gratisan dari selain itu.
Maksudnya, aku memutuskan buat membeli. Begitu lebih tenang. Berapa harganya?
Aku tidak punya banyak uang, sih."
Damon sudah memutuskan untuk tidak
bertindak demi seseorang secara cuma-cuma seperti seorang Pahlawan lagi.
Sebaliknya, tidak mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma juga tetap ia jalankan.
Sisa hidupnya kelak akan ditukar dengan imbalan. Sebab dengan begitu, hatinya
merasa lebih tenang tanpa perlu merasa dikhianati atau semacamnya.
"Aku tidak begitu paham. Beneran
aneh... Ah... Benar juga."
Najimi yang tidak begitu memahami cara
berpikir baru Damon menghela napas pasrah. Namun, ia segera teringat akan suatu
hal.
"Hei, Damon. Saat ini kuda di desa ini kan sudah habis dan kami kerepotan. Lagipula kalau cuma kami saja yang membawa bangkai sebanyak ini bakal makan waktu lama, dan yang paling utama jalannya mungkin berbahaya."
"Emm?"
"Makanya bantu kami bolak-balik
membawanya. Kalau begitu, bakal kuberikan makanan ini."
"Nhh... Ooh... Begitu caramu,
ya."
Kelihatan membodohkan, tetapi tawaran Najimi yang telah memahami aturan Damon membuat Damon menepuk tangannya.
"Tapi kota kan jaraknya beberapa hari naik kuda dari sini, kan? Yah, kalau aku lari sekuat tenaga sih setengah hari, ya? Tapi membawa barang sebanyak ini merepotkan... Kereta dorong... tidak, dimasukkan ke dalam karung lalu dipanggul..."
"Master. Jika tempat itu pernah saya
kunjungi sekali, saya bisa berpindah tempat menggunakan sihir perpindahan ruang
dengan menandai lingkaran sihir. Karena saya belum pernah ke kota tersebut,
perjalanan perginya memang butuh sedikit usaha, tetapi perjalanan pulangnya
bisa dalam sekejap."
"Hoo.
Kalau begitu, perginya setengah hari... pulangnya pakai sihir perpindahan
ruang... Kalau sampai menyuruhku memakai kekuatan Strayer juga, makanan satu
porsi saja tidak bakalan cukup────"
"Hari ini kau mau menginap di luar?
Atau di gubuk? Di rumahku, kau boleh memakai tempat tidur Ayah dan Ibu, lho?
Lalu aku juga bakal memanaskan air buat mandi, kan? Makan pagi esok hari
juga."
"Sip, sepakat! Guwahahaha, kalau
begitu Strayer, kita bakal main di saat mandi dan tempat tidur!"
"Baik."
"Kh, s-sebentar, kau masih berniat
main? Aku tidak mau ikut main, ya!"
"Guwahahahahaha. Eh tapi, enak
banget! Masakan apa ini! Sayurnya enak, tapi kuahnya enak banget, tahu! Kau
yang membuatnya? Ini jauh lebih enak dari kuahnya Strayer, tahu!"
"........................"
"Iya, iya."
Bersama Damon yang telah meluluhlantakkan
kesuciannya dan Strayer yang merupakan barang miliknya, mereka bertiga masuk ke
dalam rumah begitu saja.
"M-Mbak Najimi... tidak apa-apa...
ya?"
"Entahlah. Anak muda itu, aku tidak
begitu paham dia itu orang jahat atau bukan."
Melihat negosiasi Najimi yang berjalan
lancar dan berujung sepakat saat mengobrol santai dengan Damon, para warga desa
hanya bisa melongo menontonnya.
Padahal hari ini adalah kejadian paling
menyiksa dan menyedihkan dalam hidupnya, tetapi hal itu justru mengelupas kulit
Najimi hingga menjadikannya lebih tangguh dan tebal muka.
Dan setelah ini, Damon dan Strayer melakukan persetubuhan yang sangat luar biasa gila.



Post a Comment