NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Rakusen Yarou wa Daiakuou e Nakama ni Suterare Tsuihou Sareta Ore wa - Uragitta Yatsura no Onna o Katappashi kara Netori Tsukusu Volume 1 Chapter 3

Bab 3: Pertukaran Senilai atas Balas Dendam


Strayer keluar dari gubuk bersama Damon setelah merapikan pakaiannya dan mengenakan kalung leher yang terpasang pas di lehernya. Cara berjalan wanita itu jelas sekali tampak kaku.

 

Bukan cuma karena rasa sakit akibat pecahnya selaput dara, melainkan karena efek benturan berjam-jam dan lebih dari dua puluh kali ronde disetubuhi oleh kaki dan pinggang Damon yang tangguh di luar nalar.

 

Meski berusaha berpura-pura tanpa emosi, Strayer terlihat tak ubahnya seperti anak kuda yang baru lahir.

 

"Guwahaha... Kuikir kau cuma wanita sampah yang merusak hidupku, tapi ternyata kecocokan tubuh kita benar-benar yang terbaik... Walau aku tidak tahu karena ini yang pertama bagiku, sih."

 

"...Saya senang jika Anda menyukainya..."

 

"Lalu────"

 

Damon mengukir senyuman, merasa puas dengan tubuh yang baru saja

ditidurinya.

 

Sambil bernapas terengah-engah, Strayer berusaha menenangkan diri sembari berjalan.

 

Kepada Strayer yang seperti itu...

"Kau mau bagaimana setelah ini?"

 

"...Sesuai keinginan Master────"

 

"Bukan itu, memangnya apa tujuanmu? Untuk apa kau mendekatiku?"

 

Damon melontarkan pertanyaan yang terasa seperti serangan mendadak.

 

"Apa maksud dari perkataan Anda..."

 

"Melewatkan lahirnya Pahlawan... Kalau dipikir secara wajar, hal seperti itu mana bisa dimaafkan hanya dengan minta maaf secara pribadi atau seorang Saint yang menyerahkan diri jadi barang milik biasa, kan?

Lagipula, apa kata Kota Suci atau Raja Suci tentangmu?"

 

"Hal itu..."

 

"Harusnya kewibawaanmu langsung jatuh bebas, kan? Woi."

 

Atas pertanyaan itu, atmosfer di sekitar Strayer mendadak terasa berat.

 

Damon menunjukkan poin-poin yang tidak masuk akal dari serangkaian tindakan Strayer. Namun,

 

"Karena kau bakal mematuhi perintah apa pun, aku tinggal

memerintahkanmu 'katakan' saja sih... Tapi, ya sudahlah."

 

"Eh?"

"Kalau aku masih ada keterikatan untuk jadi Pahlawan, aku bakal menggalinya sampai ke akar-akarnya, tapi sekarang hal itu sudah tidak

ada artinya lagi."

 

Bagi Damon, mengetahui hal itu sekarang pun sudah tidak penting lagi, ia memilih pasrah. Ya, semuanya sudah terlambat. Bertarung demi umat manusia, dunia, Kekaisaran, atau cinta sudah terasa membodohkan, dan mengetahui kebenaran pun ia tidak peduli lagi.

 

"Apakah tidak apa-apa?"

 

"Ya. Mau apa pun yang kau pikirkan, selama kecocokan tubuh kita yang luar biasa ini terasa nikmat, aku bakal menggunakannya seperti alat.

Kalau sudah bosan bakal kubuang. Cuma sampai di situ."

 

"Diterima."

 

Karena itulah, Damon berniat bersikap lugas seperti itu pada Strayer dan tidak mengusutnya lebih jauh lagi.

 

"Haaaa... Walau begitu... Katanya desa terpencil, tapi desa ini benar-benar tidak ada apa-apanya, ya..."

 

Sambil menghirup udara luar dan mengatur napas, Damon kembali mengamati sekelilingnya. Area sekitar dikelilingi oleh hutan dan ladang, dan hanya terlihat puluhan rumah warga yang berukuran kecil.

 

"Tempat makan... atau semacam penginapan... kelihatannya tidak ada, ya."

"Ya. Sepertinya ini adalah desa kecil berpenduduk sekitar seratus orang yang tidak pernah dikunjungi oleh musafir ataupun pedagang. Kelihatannya tidak ada fasilitas penginapan ataupun kedai. Karena itulah, kita tidak punya pilihan selain menyewa gubuk dan meminta stok makanan..."

 

"Dasar, benar-benar desa terpencil. Yah, walau yang lari tanpa memikirkan apa pun sampai ke sini adalah aku, sih..."

 

"Jika mana dan tenaga saya masih tersisa, saya bisa membawa Master ke kota yang sedikit lebih besar... Saya mohon maaf. Namun, jika mana saya sudah pulih, dengan sihir perpindahan ruang saya bisa───"

 

Damon berasal dari Ibu Kota yang merupakan kota besar. Ia tidak pernah tinggal di desa yang sama sekali tidak ada apa-apanya seperti ini.

 

Namun, walau tidak ada apa-apa dan bingung harus bagaimana ke depannya, saat ini ia tidak merasa terganggu dengan udara tenang dan damai yang membentang luas ini, hatinya terasa sedikit tenteram.

 

"Berapa jauh jarak ke kota terdekat?"

 

"Membutuhkan waktu sekitar dua hari naik kuda, di sana ada kota milik tuan tanah yang menguasai wilayah ini termasuk desa ini."

 

"Dua hari naik kuda. Yah, kalau aku mau bersungguh-sungguh mungkin bisa sampai dalam setengah hari. Bagaimanapun juga, hari ini malas banget, jadi sepertinya menginap semalam lagi di sini saja deh."

 

"Diterima. Saya akan menyampaikannya kepada pemilik gubuk."

 

"Tidak, tunggu. Aku tidak berniat menerima sedekah tanpa imbalan. Makanya aku bakal melakukan sesuatu───"

 

Untuk saat ini, Damon tidak memiliki tujuan atau tempat yang ingin dituju. Malah, saat ini Damon tidak memiliki apa-apa. Karena itulah, walau desa ini tidak ada apa-apanya, ia tidak perlu terburu-buru pindah ke tempat lain.

 

 

Pada saat itulah—

"Ooh, akhirnya keluar juga dari gubuk, Nak!"

 

"Ya ampun, benar juga. Kelihatannya kau sangat~ bersenang-senang, ya. Ufufufu, padahal aku berpikir diriku masih cukup muda, tapi ternyata tidak sanggup menandinginya. Ya, kan, Pak?"

 

"A-Apa-apaan yang kau katakan, Bu. Aku juga masih sanggup, tahu."

 

"Iya, iya, tidak usah sok gengsi begitu."

 

Suara menyapa dari arah belakang.

 

Saat Damon dan Strayer menoleh, di sana berdiri sepasang suami istri yang tampaknya adalah warga desa. Penampilan mereka penuh dengan lumuran tanah setelah menuntaskan pekerjaan tani hari ini, tetapi mata mereka memancarkan binar yang sangat murni.

 

"Ah, halo. Master, beliau berdua adalah sepasang suami istri warga desa ini yang telah meminjamkan gubuk dan berbagi makanan untuk kita."

 

"Nhh? Ooh, begitu. Terima kasih banyak kalau begitu."

 

Mendengar kata-kata Strayer yang menundukkan kepala, Damon ikut mengangguk ringan.

 

"Terima kasih atas makanan dan gubuknya. Sebagai gantinya aku bakal membayar imbalannya. Tapi karena tidak punya uang, katakan saja mau kerja bakti di ladang atau apa pun. Bakal kulakukan."

 

Mendengar itu, sepasang suami istri di hadapan mereka mengangguk dengan senyuman tanpa niat tersembunyi sedikit pun.

 

"Hahahahaha, anak muda yang sangat bertanggung jawab! Tidak apa-apa, jangan dipikirkan! Walau desa ini tidak ada apa-apanya, kami tidak ingin dianggap sebagai desa yang tidak punya rasa kemanusiaan. Tidak tahu apa kau kabur dari rumah atau lari di tengah malam sampai ke desa ini sambil membawa pengawal cantik begitu, tapi santai saja di sini, ya."

 

"Ufufufu, tapi saat melakukan 'hal itu', kami harap suaranya disedikitkan, ya. Putri kami sampai mengintip kalian saat sedang begitu, wajahnya memerah padam dan jadi kerepotan, tahu~"

 

Mengatakan hal itu, sang suami menepuk bahu Damon...

 

"Aku Yaoji dari desa ini. Salam kenal ya, Nak."

"Aku Fukuro. Nak, seberapa pun dia seorang pengawal, bersikap lembutlah pada anak perempuan, ya."

 

Mereka berdua menyambut Damon dan Strayer.

 

Kebaikan itu meresap ke dalam hati Damon yang baru saja menerima celaan kejam dari para warga di Ibu Kota. Dan terlepas dari hal itu,

Damon menatap Fukuro—istri Yaoji—lalu membatin.

 

(Ibu ini... mirip seseorang...)

 

Namun, ia tidak bisa langsung mengingat siapa sosok itu, sehingga sempat berpikir sejenak.

 

"Ayah, Ibu, selamat datang kembali~! Aku juga baru saja sama Mbak Najimi────"

 

Seorang gadis cilik muncul sambil melambaikan tangan dengan riang, dan pada saat ia melihat Damon dan Strayer...

 

"Hyawawawawawawawawawawawawawa!"

 

Wajahnya memerah padam dan berteriak histeris.

 

"Lho? E-Eh? Kau... seperti pernah kulihat di suatu tempat..."

 

Damon merasa tidak asing dengan gadis cilik itu.

 

"Hyawawa, a, awa, a, awawawa, wawawa."

Seorang gadis bertubuh mungil berambut hitam yang usianya tampaknya sedikit lebih muda dari Damon. Mengikat rambutnya di kedua sisi, walau masih menyisakan kesan sedikit kekanak-kanakan, penampilannya sangat imut hingga pria-pria di Ibu Kota pun pasti tidak akan membiarkannya begitu saja.

 

Tampaknya dia adalah putri dari Yaoji dan Fukuro. Menyambut orang tuanya dengan mata bulat dan suara ceria, tetapi begitu melihat Damon dan Strayer, wajahnya langsung memerah padam dalam sekejap, kepalanya seolah mengeluarkan uap karena panik.

 

Di sisi lain, Damon juga pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Namun sebelum Damon bisa mengingat tentang gadis itu, si gadis sudah lari tergesa-gesa.

 

"Hyaaaaaaa, M-M-M-Mbak Najimiii!"

 

"Wa, ada apa, Shes... ta... Ah."

 

Tujuan gadis itu lari. Di sana, seorang wanita lain kebetulan sedang berjalan menuju ke arah sini. Memasukkan sayuran yang tampaknya akan digunakan untuk makan malam ke dalam keranjang jinjing, ia menyambut gadis yang menubruknya itu dengan terkejut.

 

"A, awa, wa, a-anda..."

 

Wanita ini terlihat seusia dengan Damon. Mengikat rambut berwarna jingga kemerahan di belakang kepala, penampilannya juga tergolong sederhana tanpa riasan khas gadis desa. Namun, penampilannya juga merupakan gadis cantik yang menggabungkan kepolosan dan keanggunan. Dan yang paling menyita perhatian adalah dadanya yang pejal berisikan, membuat Damon tanpa sadar nyaris terpesona melihatnya.

 

Hanya saja, di sisi lain Damon juga merasa tidak asing dengan sosok yang satu itu.

 

"Lho? Yang ini juga pernah kulihat di suatu tempat... Tidak, maksudku, kenapa kalian berdua panik banget melihatku? Ini... pertama kali kita ketemu, kan?"

 

Kedua gadis itu saling berpelukan dengan wajah memerah padam, tubuh mereka gemetar hebat saat menatap Damon dan Strayer. Saat Damon merasa heran apakah mereka telah melakukan kesalahan, Yaoji dan Fukuro tertawa terbahak-bahak.

 

"Ahahahahaha, jangan dipikirkan! Anak-anak ini lho, katanya mereka mengintip kalian berdua saat sedang bersenang-senang di dalam gubuk?

Berhubung ini desa kecil dan tidak ada laki-laki seusia mereka, anak-anak ini tidak punya kekebalan soal hal seperti itu."

 

"Tapi kalian yang salah, tahu? Walau di dalam gubuk, suaranya terdengar kencang sampai ke luar untuk waktu yang lama... Ufufufu, anak-anak ini sampai merapatkan paha dan bergerak gelisah───"

 

"Ayah!"

 

"Paman!"

Yaoji dan Fukuro menceritakan kelakuan tidak sopan kedua gadis itu tanpa rasa canggung. Damon tanpa sadar tertawa kebingungan. Strayer berpura-pura tenang tanpa memperlihatkan reaksi di wajahnya.

 

"Ah, benar juga. Yang ini putri kami, Shesta. Lalu yang lebih besar ini tinggal di sebelah, yah, sudah seperti putri kami sendiri juga sih, namanya Najimi."

 

"Shesta? Najimi... Nama itu kan..."

 

Mendengar nama kedua orang itu, Damon tersentak. Nama itu, dan

setelah melihat kembali wajah mereka berdua, ia langsung teringat.

 

Damon—meski secara sepihak—pernah melihat wujud mereka berdua.

 

"Yah, bagaimanapun juga. Nak, kalau kalian kesulitan, gubuk itu boleh dipakai untuk sementara waktu. Tapi, jangan macam-macam pada mereka berdua, ya?"

 

"Aduh, Paman ini... Tapi, apa tidak apa-apa? Maksudku, apa Paman sudah bertanya siapa mereka? Anu... dia membawa pengawal wanita juga..."

 

"Aah, tidak apa-apa, Najimi. Kalau pria ini tipe yang berbuat jahat pada pengawal wanitanya, pasti sudah kuusir dari tadi. Tapi mbak yang membawa pria lemas ini merawatnya dengan sangat gigih, kelihatannya hubungan mereka bukan hubungan yang jahat. Lagipula, mbak ini sama sekali tidak kelihatan keberatan, kan? Dari suaranya saja♪"

 

"T-Tunggu!"

 

"Aduh, lagipula makin dilihat-lihat dia ini sangat cantik dan berwajah anggun, tapi bisa sampai seperti itu, ya?"

 

Sambil memerah padam, Najimi menatap Damon dengan mata penuh

kewaspadaan. Ya, sekilas dipandang, Damon dan Strayer yang sekarang benar-benar terlihat seperti sepasang orang mencurigakan. Damon sendiri penampilannya tidak bisa dikatakan baik-baik saja dan tergolong sangar, dan pria seperti Damon itu membawa gadis cantik bertali leher.

 

Sangat wajar jika timbul kesan buruk. Namun, Yaoji tertawa dan mengatakan tidak perlu khawatir.

 

"Lagipula, bagaimanapun juga aku ini ayah dari Pahlawan! Sebagai ayah

dari Pahlawan, aku tidak boleh memperlihatkan kalau diriku berpikiran

sempit!"

 

Yaoji menepuk dadanya sembari memamerkan wajah bangga, lalu berteriak keras dan tertawa.

 

"Pahlawan..."

 

Strayer yang sejak tadi diam memberikan reaksi, lalu melirik Damon sedikit. Damon tetap bungkam.

 

"Iya dong, Mbak. Kau tahu tidak? Pahlawan baru Sekund yang lahir di Ibu Kota setelah dua puluh tahun itu~ berasal dari desa ini dan merupakan putraku!"

Sosok itu adalah pria yang memiliki hubungan takdir yang sangat dalam dengan Damon.

 

Lari tanpa tujuan, menggelandang, dan secara kebetulan tiba di tempat yang ternyata adalah kampung halaman Sekund.

 

"A-Auh, aduh... Ayah ini... Ehem. Anu, kalau begitu, aku Shesta. Mohon bantuannya..."

 

"Haa... Aku Najimi."

 

Sekund yang telah merebut wanita yang dicintainya. Kampung halaman tempat tinggal teman masa kecil dan adik perempuan yang menjadi penopang hati Sekund hingga ia menjadi Pahlawan. Mereka berdua berada tepat di depan matanya saat ini. Saat memikirkan hal itu, sesuatu yang hitam membumbung tinggi dari dalam diri Damon.

 

Namun, pada saat itulah—

 

"Gawat! Paman Yaoji! Najimi-chan! Gawat!"

 

Seorang warga desa berlari sambil berteriak dengan wajah pucat pasi.

 

Keadaannya jelas menunjukkan bahwa terjadi sesuatu yang luar biasa.

 

Semua orang menoleh ke arah datangnya suara.

 

"Di sungai di dalam hutan, saat hendak memperbaiki saluran air yang tersumbat kemarin... T-Tiba-tiba, a-au, a... kawanan Red Lizard..."

"Ha? T-Tunggu dulu, hah? Red Lizard? Mustahil, kenapa ada monster seperti itu di hutan..."

 

"K-Kami tidak tahu, tapi mereka muncul tiba-tiba... Kami semua berusaha keras lari... Tapi!"

 

Raut wajah semua orang berubah. Damon dan Strayer juga sedikit terkejut.

 

Red Lizard adalah monster raksasa karnivora yang ganas dengan wujud menyerupai naga. Monster yang bahkan biasa digunakan Pasukan Raja

Iblis sebagai pengganti prajurit dalam perang melawan manusia, dan bukan jenis monster yang bisa ditaklukkan dengan mudah bahkan oleh seorang Class Holder sekalipun.

 

"Lalu, Najimi-chan... Lalu... A-Ayah dan ibumu... sudah..."

 

"Kh!"

 

"Uu, maafkan kami! Maafkan kami! Mereka berdua... uu, mereka berdua...!"

 

Mendengar kata-kata yang disampaikan sambil meneteskan air mata itu,

Najimi menjatuhkan keranjang yang dipegangnya ke tanah.

 

"Tidakkkkk, Ayah, Ibu, tidakkkkk!"

 

Suara jeritan tangis Najimi. Bersamaan dengan itu warga desa lainnya juga berkumpul dan semuanya terisak-isak.

"Kenapa bisa begini... Padahal sebelumnya tidak pernah ada Red Lizard di hutan ini... Sialan, brengsek!"

 

"Uu... Padahal mereka berdua sangat menantikan hari pernikahan Najimi-chan dengan Sekund... Kenapa bisa begini..."

 

Yaoji dan Fukuro yang tadinya tertawa terbahak-bahak, serta Shesta, kini menangis tersedu-sedu. Semua orang diselimuti duka mendalam.

 

"Maafkan kami, Najimi-chan! Kami terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri sampai-sampai mereka berdua..."

 

"Saat kami hendak memperbaiki saluran air, monster-monster itu mendadak..."

 

"Kami juga sedikit lagi, u-uu... bakal dimakan seperti mereka berdua... uu."

 

Para warga desa berlutut di tanah sambil menangis meminta maaf.

 

Merekalah orang-orang yang berada di lokasi saat kedua orang tua Najimi dilalap habis.

 

"Bohong, Ayah dan Ibu, bohong, mungkinkah mereka sempat lari, t-tolonglah, mungkinkah Ayah dan Ibu masih hidup, cuma terluka dan tidak bisa bergerak saja, m-makanya..."

 

Sambil menangis, Najimi memohon kepada para warga desa seolah hilang akal. Para warga desa menunjukkan raut wajah penuh penderitaan. Walau ia berteriak bahwa orang tuanya mungkin masih hidup, hal itu sama sekali tidak mungkin.

 

Sebab, mereka menyaksikan sendiri saat orang tua Najimi dilalap habis oleh monster-monster itu.

 

"U-Uu, Ayah, Ibu... Aku tidak mau, tidak mauuu... A, u, aa... A-Aku harus bagaimana..."

 

Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, Najimi mendadak kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Melihat wujudnya yang sangat memprihatinkan itu, Yaoji merengkuh Najimi dengan erat walau dirinya sendiri juga diselimuti duka.

 

"Najimi, jangan cemas soal masa depanmu! Kau ini sudah seperti putri kami sendiri! Mulai hari ini tinggallah di rumah kami. Lagipula, Sekund pasti... Sekund pasti bakal melindungimu mulai sekarang."

 

"A-Au, Paman..."

 

"Makanya tidak apa-apa. Kau pasti tidak apa-apa."

 

Air mata Najimi kembali menetes deras mendengar kata-kata Yaoji.

 

Shesta juga merapat dan memeluk Yaoji serta Najimi sambil menangis tersedu-sedu.

 

"Haa... Bikin repot saja, mendadak banget perkembangannya. Padahal aku sempat berpikir mau membalas dendam pada si bajingan Sekund itu."

 

Damon yang mengamati situasi tersebut dari jarak yang agak jauh di luar kerumunan warga menghela napas.

 

"Tapi ya, kawanan Red Lizard, huh... Desa ini ternyata berbahaya sekali ya... Kalau tidak salah, itu monster dengan Tingkat Bahaya 2, kan?"

 

"Benar. Sebagai informasi tambahan, jika bergerak dalam kawanan, mereka juga dikategorikan ke dalam kelas Tingkat Bahaya 3."

 

"Tingkat Bahaya 3, ya. Angka yang bisa bikin party Class Holder keteteran kalau sampai kecolongan."

 

'Tingkat Bahaya' yang dibicarakan Damon dan Strayer adalah angka yang ditetapkan secara harfiah oleh manusia yang terus bertarung melawan Kaum Iblis dan monster untuk memetakan seberapa berbahaya suatu ancaman.

 

Untuk monster, tingkat bahaya ditetapkan berdasarkan rasnya.

 

Sementara untuk para jenderal terkenal Pasukan Raja Iblis, tingkat bahaya ditetapkan secara individu, dan jumlah angka yang dipetakan sangatlah banyak. Namun, sebanyak apa pun angkanya, ada satu hal yang berlaku sama: makin tinggi angkanya, makin berbahaya ancamannya.

 

Dan untuk ancaman Tingkat Bahaya 2 ke atas, tidak ada yang bisa mengimbanginya kecuali mereka yang berstatus Class Holder di kalangan manusia. Dengan kata lain, jika Red Lizard membentuk kawanan hingga bisa dikatakan berada di 'Tingkat Bahaya 3', desa kecil tanpa Class Holder dan tanpa seorang pun yang bisa bertarung dengan benar seperti ini tidak akan sanggup bertahan sedikit pun. Dan hal itu juga dipahami oleh para warga desa.

 

"Pokoknya, semuanya! Meratap itu memang penting, tapi kita harus memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang. Kalau ada Red Lizard di gunung ini, kita sudah tidak bisa masuk ke sana lagi. Tapi kalau saluran airnya terus-terusan tidak bisa dipakai begini, kita tidak bakal bisa bertahan hidup."

 

"Aku paham... Tapi Paman Yaoji, kita harus bagaimana..."

 

"Tidak ada cara lain selain aku memacu kuda sekarang juga ke kota untuk meminta tuan tanah mengirimkan pasukan pembasmi. Kalau tidak, bagaimana kalau mencoba menghubungi Sekund..."

 

"Tunggu dulu, mana mungkin Tuan Tanah Metabon mau melakukan hal seperti itu... Tuan tanah babi yang cuma berpikir untuk memeras pajak dan hidup mewah dari kita itu, lho. Lagipula surat ke Sekund-kun juga tidak bisa sampai dengan cepat..."

 

"Tapi kita cuma bisa memohon padanya. Tidak, kalau membawa-bawa nama Sekund mungkin saja bisa berhasil. Bisa saja dikirim pakai pengiriman super kilat. Lagipula tuan tanah itu punya putri, dan walau kasihan pada Najimi, kita bisa minta tolong untuk memanfaatkan 'tugas Pahlawan'... Ini memang cara paling licik, tapi tidak ada cara lain agar kita bisa bertahan hidup..."

 

Situasi ini tidak bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. Yaoji menjadi pusat pembicaraan dan menyampaikan apa yang harus dilakukan.

 

"Tuan Tanah Metabon? Ah~ pernah dengar... Benar juga, rasanya dia pernah mau memesan putrinya untukku..."

Damon dan Strayer hanya mengamati para warga desa tanpa bermaksud ikut campur. Lalu, Strayer mendongakkan kepalanya.

 

"Master."

 

"Ha?"

 

"Jaringan persepsi saya menangkap sesuatu. Ada dua ekor yang menuju ke mari."

 

Strayer yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara dengan tenang.

 

Dan saat pandangannya mengarah ke kandang ternak desa, sebuah

kejanggalan terjadi.

 

──Hiiiin!

 

"""""Kh!"""""

 

Suara bangunan hancur dan ringkikan kuda bergema keras.

 

"Suara apa itu tadi!"

 

"Lalu, kudanya... Eh? A... a..."

 

Suara sesuatu yang mendadak hancur dan jeritan sakaratul maut seekor kuda. Para warga desa yang wajahnya memucat melihat ke arah kandang ternak, dinding kandang mendadak hancur berantakan, dan dari dalam keluar kadal raksasa dengan rahang berlumuran darah.

 

"Hii, a, aaah... Tidakkkkkkkkkkkkkkkk!"

 

"Hiiii, m-mereka sampai turun ke desa!"

 

"M-Muncul lagi, d-dua ekor... Mana mungkin, k-kudanya, kudanya..."

 

Dua ekor kadal raksasa itu tak salah lagi adalah Red Lizard.

 

Setelah melalap habis kuda, mereka menyadari keberadaan para warga desa yang berkumpul dan perlahan-lahan mendekat.

 

"S-Sialan! Kejadian seperti ini, monster-monster ini... Ibu! Bawa Shesta, Najimi, dan yang lainnya lari sekarang juga! Aku bakal mengulur waktu walau sedikit!"

 

"Ayah!"

 

"Ayah!"

 

"Paman!"

Saat itu, Yaoji yang gemetar memegang cangkul berdiri di depan semua orang dan berteriak.

 

"Aku tidak mau, Ayah, jangan! Aku tidak mau, Ayah!"

 

Tidak mungkin menang. Tidak mungkin selamat. Sudah pasti bakal dimakan sampai mati.

 

Namun meski begitu, Yaoji berteriak bahwa ia akan mengulur waktu walau sedikit demi melindungi keluarganya.

 

"Sudah, jadilah anak baik dan larilah, Shesta! Cepat!"

 

"T-Tidak mau, Kak! Kakak tolong! Kakak! Kakaaak!"

 

Ayahnya bakal mati. Bakal dimakan sampai mati seperti kedua orang tua Najimi. Saat memikirkan hal itu, Shesta memanggil kakaknya secara histeris sambil menangis tersedu-sedu.

 

"Kalau begini terus, Paman juga bakal... Kh, Sekund, tolong! Sekund, datanglah sekarang juga! Ku-mohon, tolong! Kalau kau Pahlawan, ku-mohon tolong kamiii!"

 

Najimi juga berteriak histeris. Namun jeritan itu tidak akan sampai ke Pahlawan Sekund.

 

"Guwahaha, si bajingan itu paling-paling sekarang lagi asyik meniduri

para wanita di seluruh Ibu Kota... Bagaimana ya rasanya... saat dirinya sedang asyik meniduri wanita, keluarga dan tunangannya malah dimakan sampai mati... Atau dia malah sudah mabuk kepayang sama situasinya dan lupa sama keluarga dan wanita di desa, ya?"

 

Sambil mengamati Najimi dan Shesta yang menangis histeris, Damon tertawa. Di dalam hatinya ia bahkan sempat berpikir "rasakan itu" pada Sekund. Namun di sisi lain, ia juga memikirkan hal berbeda.

 

"Emm~ walau begitu, merepotkan juga ya. Perkembangannya terlalu klise sampai-sampai bikin aku segan buat maju. Ya, kan? Strayer."

 

"Seluruh keinginan saya adalah milik Master. Jika Anda ingin membalas dendam pada Pahlawan Sekund yang telah melukai Master, saya tidak keberatan."

 

Ya, bagi para warga desa, ini adalah situasi kritis yang menebarkan firasat kematian. Namun bagi Damon, hal itu berbeda. Dari sudut pandang Damon, "Warga desa tanpa daya yang meminta pertolongan Pahlawan. Lalu aku yang kebetulan berada di tempat ini" adalah perkembangan cerita yang benar-benar klise sampai-sampai ia tertawa, bahkan merasa malu kalau harus muncul di sini karena terlalu klise.

 

Selain itu, ada alasan terbesar yang membuatnya sulit bergerak.

 

"Benar banget, kan. Tempat ini kan kampung halamannya Sekund."

 

Kenapa aku harus membantu desanya Sekund? Perasaannya campur aduk, sampai-sampai terlintas pikiran untuk membiarkannya begitu saja.

 

"Lagipula, bergerak tanpa imbalan itu sudah terasa membodohkan."

 

"?"

 

"Pelayanan tanpa imbalan adalah tugas Pahlawan... dulunya sih begitu, tapi aku ini bukan Pahlawan atau semacamnya lagi. Pelayanan tanpa imbalan itu membodohkan. Entah kenapa aku jadi berpikir begitu."

 

Selama ini jika dimintai tolong, Damon secara aktif berusaha melayani tanpa imbalan dengan alasan "karena aku pria yang bakal jadi

Pahlawan". Ia menanggapi permintaan orang, dan terkadang bergerak aktif walau tidak diminta.

 

Meski itu sebenarnya dilakukan demi menaikkan impresi baik dan nilai sikap, kini hal-hal tersebut sudah menjadi tidak berguna lagi, dan hal yang menantinya di ujung pelayanan itu adalah kejadian hari itu.

 

──Penipu! Penipu! Penipu! Penipu! Penipu! Penipu!

 

Para warga yang membalikkan telapak tangan seolah membuang segalanya. Tidak, umat manusia. Ia merasa melakukan sesuatu tanpa imbalan itu sudah tidak ada artinya lagi, sehingga ia tidak melangkah maju seperti biasanya. Di saat Damon bersikap pasrah seperti itu, Red

Lizard mulai melesat maju. Pergerakannya sangat cepat hingga tak terlihat seperti tubuh raksasanya, benar-benar bagaikan binatang buas.

 

"Sialan, aku tidak akan membiarkan kalian lewat dari sini────"

 

"Kakak, Kakak, Kakak, tidakkkk, Ayah!"

Yaoji mengayunkan cangkulnya. Cangkul itu diayunkan tepat ke kepala Red Lizard, tetapi justru cangkulnya yang hancur berantakan.

 

"K-Keras banget. Sialan!"

 

Senjata tajam atau alat yang diayunkan oleh Rakyat Jelata tidak bisa memberi luka sedikit pun. Itulah Tingkat Bahaya 2 ke atas. Namun, bagi

Damon lain lagi ceritanya.

 

"Aah... Ah, tidak! Ini bukan tanpa imbalan! Aku kan menyewa gubuk dan dibagi makanan!"

 

"............"

 

"Artinya, ini bukan tanpa imbalan... Ini imbalannya! Pertukaran senilai! Lagipula tubuhku ini entah kenapa tidak bisa menerima sedekah tanpa imbalan, tahu! Makanya!"

 

Sambil tetap memasukkan tangan ke dalam saku, ia mengerahkan tenaga ke kakinya lalu menendang ke atas. Hanya dengan itu, Damon menciptakan tebasan angin (kamaitachi), dan bilah angin itu membelah tubuh Red Lizard menjadi dua bagian secara tebas lurus.

 

"""""Eh?"""""

 

Para warga desa tertegun tanpa memahami apa yang baru saja terjadi.

 

Red Lizard yang satu lagi menatap ke arah Damon. Namun hal itu juga langsung berakhir dalam sekejap.

 

"Jangan melotot padaku, dasar sampah."

 

"Gupeh."

 

Tanpa sempat memahami apa yang terjadi, kepala Red Lizard yang satu lagi sudah melayang di udara.

 

"""""............"""""

 

Para warga desa hanya menatap Damon dengan tertegun. Ditatap seperti itu membuat Damon merasa canggung dan mengacak-acak rambutnya.




"A~~, sialan, padahal sudah kulakukan, tampil dengan gaya yang klise banget begini, malu, malu, malu banget~! Apalagi, kenapa harus di kampung halamannya si bajingan Sekund sih... A~, pokoknya, aku bukannya menolong kalian, ini pertukaran senilai dengan gubuk dan makanan, jadi jangan salah paham ya! Apa?! Jangan melotot begitu, dong!"

 

Di samping Damon yang berteriak-teriak dengan cepat, Strayer diam-diam menutupi mulutnya dengan tangan, seolah menahan sesuatu.

 

"...Master... imutnya."

 

Ia benar-benar meleleh.

 

"N-Nak, kau yang melakukannya, kan... yang tadi... S-Siapa kau? Kau ini sebenarnya siapa?"

 

Yaoji bertanya dengan gemetar dan mata yang seolah melihat hal yang tidak masuk akal.

 

"Damon. Cuma lewat."

 

"Saya Strayer. Barang milik Master."

 

Damon berpikir sejenak, lalu memutuskan tidak masalah untuk

memberitahukan nama aslinya, dan Strayer menyusul dengan membeberkan namany sendiri.

"Damon? Nama itu, nama yang sama dengan orang paling hebat di sekolah yang sama dengan Sekund, kan?"

 

"Benar. Kalau tidak salah, dia dibilang pasti jadi Class Holder atau semacamnya..."

 

"Bohong... Sekund selalu memberi tahu lewat surat... Dia bilang orang itu adalah targetnya... Apa dialah..."

 

"Orang itu, yang dibilang Kakak sebagai target utamanya, Damon-san?"

 

"Kalau begitu, masuk akal juga kalau dia bisa mengalahkan Red Lizard tadi..."

 

"Kalau begitu, kalau kita minta orang ini mengalahkan mereka..."

 

Karena keberadaan Sekund, nama Damon ternyata diketahui oleh semua orang bahkan di desa terpencil seperti ini. Namun di saat yang sama, mereka juga mengetahui satu hal lain.

 

"A-Ehem? Tapi ya, kami dengar Sekund jadi Pahlawan, tapi kalau tidak salah, orang bernama Damon ini... anu, waktu Upacara Pemilihan..."

 

Mereka tahu fakta bahwa Sekund menjadi Pahlawan, tetapi Damon yang merupakan rival Sekund malah gagal terpilih.

 

"Ooh, gagal terpilih. Ya, kan? Strayer. Aku bukan Class Holder, cuma Rakyat Jelata yang tidak lolos seleksi, benar begitu, kan? Strayer."

Mendengar hal itu, Damon memasang senyum jahat, mencengkeram kepala Strayer lalu menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri secara kasar. Strayer yang memejamkan mata dalam diam tidak membantah maupun membenarkan, hanya pasrah dibiarkan melakukan apa saja.

 

Dan Damon yang berpikir 'karena sudah terlanjur basah', langsung mengarahkan senyum jahatnya ke arah para warga desa.

 

"Makanya ya, aku benar-benar terkejut. Tidak disangka tempat yang kusinggahi secara kebetulan saat mengembara adalah kampung halamannya si Sekund~ Aah, masa aku malah menolong ayahnya si bajingan itu, aah!"

 

Damon mengucapkan "aah" secara sengaja dengan nada menyindir dan sedikit meluapkan emosi seolah bersikap pasrah. Para warga desa yang hanya tahu bahwa Damon adalah teman Sekund tetapi gagal terpilih saat

Upacara Pemilihan, menjadi bingung karena tidak memahami maksud dari perkataan Damon.

 

"K-Kenapa? Aku tidak begitu paham soal upacara itu, tapi kau kan temannya Kakak, kan?"

 

Pertanyaan polos dari Shesta yang tidak tahu apa-apa. Pertanyaan itu membuat Damon tersulut. Merekam hal yang wajar karena Shesta dan para warga desa tidak tahu apa-apa. Namun, tatapan mata yang seolah menyalahkannya itu membuat Damon merasa kesal.

 

"Hei, Nak... sebenarnya..."

Kedua orang tua Sekund yang tidak tahu apa-apa. Dan yang paling utama, ada Najimi yang saling mencintai dan saling berjanji masa depan dengan Sekund. Najimi yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena dilalap habis oleh monster dan kini berada di dasar kekecewaan.

 

Bagaimana jika Najimi mengetahui kabar tentang Sekund?

 

Masa bodohlah, pikir Damon lalu membeberkan semuanya.

 

"Teman~? Guwahaha, teman apanya~? Begitu jadi Pahlawan, dia langsung merebut wanita yang kusukai dan menidurinya berkali-kali, lalu membuangku dari Ibu Kota selamanya, Pahlawan Agung seperti itu temanku~?"

 

"""""Ehh............"""""

 

"A-Apa yang kau katakan, Kakak, m-meniduri, eh, apa?"

 

"Aah~? Kalian tidak tahu tugas Pahlawan, ya~? Class Holder Pahlawan itu bebas punya istri dan selir sebanyak apa pun, bebas meniduri wanita yang disukainya sepuasnya. Itu kan hal yang lumrah?"

 

"Kh! E-Eh, m-memang begitu, tapi... t-tapi, walau memang begitu, walau memang begitu pun, kan ada Mbak Najimi, jadi yang nomor satu itu Mbak Najimi..."

 

"Guwahahaha, begitu ya~? Bajingan itu dari kemarin-kemarin sudah menikmati tugas Pahlawan yang bertabur harem dan main mesum sama banyak putri bangsawan dan gadis desa Rakyat Jelata, tahu? Saat kalian berteriak minta tolong pada si Kakak, atau saat wanita di sana sedang sedih karena orang tuanya mati, dia sekarang juga─────"

 

"Bukan! Bukan bukan bukan bukan bukan!"

 

Damon juga memiliki banyak kekesalan yang tertahan. Sebagian besar memang sudah diluapkan pada Strayer, tapi itu hanya berlaku untuk Strayer. Masalah Sekund adalah hal yang berbeda sama sekali.

 

"Bukan... Aku... percaya pada Sekund."

 

"Ha?"

 

"Sekund itu, walau laki-laki tapi lemah terhadap anak perempuan, kalau

soal hal-hal antara pria dan wanita wajahnya bakal memerah padam dan tidak bisa melakukan apa-apa, dia orang yang polos... Makanya, bukan. Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan."

 

Mengusap air matanya, Najimi berdiri dan membalas Damon dengan tatapan mata yang lurus. Warga desa lainnya juga berpikiran sama, kedua orang tua Sekund yang tadi menyambut Damon dengan senyuman kini menunjukkan raut wajah yang berbeda.

 

"Begitu ya, yah, terserah kalian saja. Aku sudah tidak enak perasaan, jadi izinkan aku pergi dari desa ini. Dengan membasmi dua ekor kadal tadi, anggap saja imbalan untuk gubuk dan makanan sudah terbayar lebih dari cukup, kan? Kembaliannya tidak usah."

 

Sudah tidak tahan dengan atmosfer di tempat itu, Damon membalikkan badannya.

 

"Hei, sudah cukup, kita pergi, Strayer."

 

"Diterima. Namun, jika begini kita akan berkemah di jalan────"

 

"Kalau lari dengan kekuatan penuh, sampai ke kota bukan masalah besar."

 

"Namun saya..."

 

"Dasar, bakal kugendong. Sebagai gantinya imbalan ongkosnya adalah pelayanan mesum banget!"

 

"Anu, pelayanan saya sudah termasuk dalam imbalan awal, jadi pelayanan mesum banget juga────"

 

Ayo cepat-cepat pergi dari desa ini. Damon berpikir demikian, tetapi sebelum itu Yaoji berlari memutar dan berlutut di hadapannya.

 

"T-Tunggu dulu, Nak. Tidak, Damon-kun! Aku tidak tahu mana yang benar. Apa yang telah dilakukan Sekund... putramu padamu... bagaimana perasaanmu pada putraku... Tapi, tapi, tunggu dulu! Sekarang... desa ini sedang dalam bahaya."

 

Ya, terlepas dari apakah ucapan Damon benar atau tidak, masalah mendesak saat ini adalah soal Red Lizard.

"Kuda kami sudah dimakan, kami tidak bisa pergi ke kota dengan cepat. Tidak, bukan cuma itu, mereka bilang jumlahnya bukan cuma satu dua ekor, jadi mungkin saja bakal ada yang datang lagi... Kalau begitu kali ini benar-benar..."

 

Di desa yang baru saja kehilangan kuda ini, butuh waktu lama untuk pergi meminta bantuan ke kota. Apalagi, pergi ke kota pun belum tentu pertolongan akan segera datang, dan tidak tahu kapan Red Lizard lain akan menyerang desa lagi.

 

"Tolong! Melihat kekuatanmu, tolong bantu kami! Kalau putraku sudah melukaimu, aku akan meminta maaf! Berapa kali pun bakal kulakukan! Makanya..."

 

Walau terlihat tegas, yang paling memahami situasi adalah Yaoji.

 

"Ayah, kenapa... orang ini, Kakak..."

 

"Paman..."

 

"Cuma ini satu-satunya cara, Shesta! Najimi! Saat ini cuma dengan

bantuan anak muda ini satu-satunya jalan agar kita bisa bertahan hidup!"

 

Yaoji paham bahwa hanya Damon satu-satunya yang bisa menyelesaikan situasi mereka saat ini. Namun bagi Damon, hal itu teramat menghinakan.

 

"Aahn? Kau menyuruhku bekerja demi kampung halamannya si Sekund itu? Kepada aku yang bahkan bukan seorang Pahlawan ini?"

 

"Kalau kau mau menolong, kami akan memberikan imbalan sebanyak mungkin, makanya..."

 

"Imbalan? Membasmi monster Tingkat Bahaya 3 itu biayanya tidak main-main, lho? Apa desa ini punya imbalan yang sepadan dengan itu, hah?"

 

Demi kampung halaman Sekund. Hanya dengan mengucapkannya saja sudah membuat Damon jengkel. Apalagi kalau tanpa imbalan, ia sangat tidak mau. Namun seolah makin membuat Damon jengkel, Fukuro ikut berlutut di samping Yaoji dan menundukkan kepala.

 

"Kami mohon... Tolong... selamatkan desa ini."

 

Melihat hal itu, warga desa lainnya ikut menyusul.

 

"K-Kami mohon, tolong bantu kami!"

 

"Kami mohon!"

 

Tanpa disadari hampir seluruh warga desa bersujud di hadapan Damon dan memohon pertolongan.

 

"Ayah... Ibu... U, uu... K-Kami... mohon."

 

Melihat wujud semua orang, Shesta yang tidak sanggup menahannya lagi kembali meneteskan air mata, lalu berlutut dan menundukkan kepala kepada Damon. Dan Najimi juga menyusul.

 

"Kh... Aku tidak bisa percaya soal Sekund... Tapi... seperti kata Paman, saat ini yang bisa menyelamatkan desa ini... cuma kau... Aku sudah... Ayah, Ibu... aku tidak mau kehilangan siapa pun lagi... Makanya... u, uu... Kami mohon."

 

Najimi yang merasa pria yang dicintainya dicemarkan. Di dasar kekecewaan karena baru saja kehilangan orang tuanya, kata-kata Damon bahkan menimbulkan amarah yang kuat di dalam dirinya. Namun meski begitu, saat ini jika tidak bergantung pada Damon, mereka akan kehilangan lebih banyak lagi. Karena itulah Najimi juga bersujud dan memohon kepada Damon. Rakyat tanpa daya yang meminta pertolongan. Menolong mereka tanpa imbalan adalah tugas Pahlawan.

 

Sebaliknya, Damon adalah orang yang tidak lolos seleksi. Orang yang gagal terpilih. Rakyat Jelata. Namun jika ia mau, Damon bisa menjadi Pahlawan mulai dari sekarang.

 

Jika mempublikasikan bahwa Upacara Pemilihan adalah kesalahan sang Saint—Strayer, ia bisa menjadi Pahlawan bahkan mulai dari sekarang. Namun meski begitu, Damon yang sekarang tidak memiliki keinginan untuk menjadi Pahlawan.

 

"Waktu masih di Ibu Kota, orang-orang yang dibilang pasti jadi Class Holder berkumpul di sekitarku. Semua orang memujiku, tersenyum cari muka, dan para wanita selalu mengerubungiku. Aku beneran berniat menjawab harapan mereka. Kalau pergi ke medan perang bakal kulibas Pasukan Raja Iblis, kalau dimintai tolong bakal kutolong, dan demi tugas Pahlawan aku bahkan berniat bertindak seperti pejantan buat wanita yang kucintai. Makanya aku berusaha. Selalu melakukan kegiatan pelayanan tanpa imbalan sudah jadi rutinitas dan hal yang lumrah bagiku."

 

Para warga desa yang bersujud sekuat tenaga meminta pertolongan.

 

Melihat wujud itu, Damon teringat pada para warga di Ibu Kota dan mengukir senyum menyindir.

 

"Tapi begitu aku gagal terpilih, mereka semua langsung membalikkan

telapak tangan! Wanita yang kucintai dan wanita-wanita yang mengerubungiku, tanpa memberi tahu apa pun padaku langsung bersetubuh telanjang sama Sekund! Dan tahu apa yang dikatakan para warga Ibu Kota pada diriku yang sedang kecewa? Penipu! Penipu penipu penipu penipu! Guwahahaha, mereka menyebutku penipu! Katanya dibuang selamanya supaya tidak menginjakkan kaki di Ibu Kota lagi! Bagaimana menurut kalian? Guwahahaha, tidakkah kalian berpikir itu kejam, hah?! Enak saja berharap, bikin heboh, bikin orang bersemangat, lalu menyebut penipu penipu penipu!"

 

Ya, semuanya tidak akan menjadi seperti ini jika bukan karena kesalahan analisis Strayer. Namun dipicu oleh kesalahan analisis Strayer, Damon menjadi muak pada orang-orang licik yang dengan mudah membalikkan telapak tangan. Bersenang-senang menjadi Pahlawan demi orang-orang seperti itu terasa membodohkan.

Melakukan sesuatu tanpa imbalan demi orang-orang seperti itu juga merupakan sebuah penghinaan. Padahal ia menjaga kesucian demi wanita yang dicintainya dan menahannya bertahun-tahun, tetapi dikhianati begitu saja, benar-benar membuat mau muntah.

 

"Lalu kepada orang sepertiku, kalian menyuruh menolong seperti seorang Pahlawan? Apalagi kampung halamannya Sekund? Itu sih agak terlalu enak di kalian, kan? Hah?"

 

Damon melontarkan kata-kata dengan nada kasar kepada para warga desa yang sedang bersujud.

 

"Kejadian seperti itu... kh... u... Putra kami padamu... Kalau itu benar, sungguh sebagai orang tua, anu... t-tapi..."

 

Mendengar apa yang dialami Damon, Yaoji dan para warga desa menunjukkan raut wajah penuh penderitaan. Jika itu adalah kejadian yang benar-benar terjadi, sungguh sangat menyedihkan, dan jika Sekund benar-benar melakukan "hal seperti itu", mereka merasa sangat bersalah. Dan meski begitu, fakta bahwa tidak ada jalan lain bagi mereka untuk bertahan hidup selain bergantung pada Damon yang seperti itu membuat hati mereka terasa sesak.

 

"Po-kok-nya, yang tadi sudah lunas. Lagipula tidak tahu ada berapa ekor di gunung ini, apa kalian menyuruhku mencari dan membasmi Semuanya? Bikin repot saja. Meski begitu kalau kalian tetap memaksa, bayar imbalannya. Strayer, berapa biayanya?"

 

"...Di dalam gunung ada belasan ekor... Menurut pasaran di Serikat Petualang atau semacamnya, satu ekor harganya lima ratus ribu Madoka... Kalau sepuluh ekor lima juta. Sepertinya saat ini di dalam gunung ada... sebelas, dua belas, tiga belas... tidak, masih ada..."

 

"Guwahahaha, dengar tuh! Ternyata mahal juga ya. Makanan di Ibu Kota sehari sekitar seribu Madoka, jadi ehem... pokoknya banyak banget!"

 

Jumlah uang itu. Begitu mendengarnya, wajah para warga desa langsung

memucat. Sama sekali bukan jumlah uang yang sanggup mereka bayar.

 

"Begitulah, kalau tidak bisa bayar imbalannya aku tidak mau."

 

Mengatakan hal itu, Damon membalikkan badannya membelakangi para warga desa dan berniat pergi meninggalkan tempat itu. Lalu, seorang wanita berlari tergesa-gesa.

 

"K-Kami mohon! Tolong selamatkan desa ini!"

 

Najimi yang tadinya bersujud, berlari memutar ke hadapan Damon dan kembali bersujud dengan dalam.

 

"Kami benar-benar minta maaf karena tidak bisa menyiapkan uangnya dengan segera... Tapi sebagai gantinya, aku bakal melakukan apa saja yang bisa kulakukan! Kalau mencari Red Lizard di dalam gunung itu sulit, aku yang bakal mencarinya. Aku bakal jadi umpannya. Makanya tolong... Aku bakal melakukan apa saja! Makanya kami mohon, selamatkanlah desa ini!"

 

"Aah~?"

 

"Soal Sekund aku tidak bisa berbuat apa-apa... Tapi di desa ini... masih ada anak-anak kecil... anak-anak itu tidak punya dosa apa pun! Kami mohon... kami mohon! Aku bakal melakukan apa saja! Apa saja!"

 

Najimi yang berada di dasar duka memohon kepada Damon walau harus mengorbankan seluruh dirinya. Bahwa ia akan melakukan apa saja.

 

Meski begitu, Najimi adalah tunangan Sekund, dan bagi Damon ia adalah sosok yang hanya akan menambah rasa jengkelnya. Karena itulah Damon yang kesal mendadak mendapatkan sebuah gagasan.

 

"Bakal melakukan apa saja, ya... Sampai sejauh itu kau ingin ditolong?"

 

"Ya."

 

"...Kalau begitu."

 

Sambil menyadari wujud wajah paling jahat dalam sejarah dirinya, Damon tertawa...

 

"Bersetubuhlah denganku."

 

"Kh!"

 

""""""Kh!!!!!!""""""

 

Atas perkataan itu, wajah Najimi dan para warga desa langsung tegang.

 

Dengan mata berair dan wajah memerah padam, Najimi melotot ke arah Damon dengan tatapan menghina.

 

"J-Jangan bercanda! A-Apa yang kau... Kau ini benar-benar..."

 

"Guwahahaha, aah iya iya, jangan memasang reaksi klise begitu dong, bodoh."

 

Melihat reaksi Najimi yang sesuai dugaannya, Damon tertawa sambil memegang perutnya.

 

"Astaga, kenapa bisa jadi begini ya? Padahal sampai beberapa hari lalu para wanita yang mendekatiku memohon agar ditiduri, tapi sekarang malah diperlakukan seperti bajingan biasa... Tapi disuruh melakukan hal seperti Pahlawan... beneran membodohkan banget."

 

Dan melihat atmosfer di sekitarnya yang seperti ini terhadap dirinya, Damon menghela napas.

 

(Yah, untuk sementara aku sudah memberi tahu kedua orang tua kandung, adik perempuan, tunangan berharga, dan seluruh desa kalau si Sekund sudah jadi pria pemain wanita, anggap saja aku sudah bisa membalas dendam sedikit, kan? Cuma monster Tingkat Bahaya 2 atau 3, pasti bisa kubunuh dalam sekejap... Lagipula Strayer sepertinya bisa pakai sihir pelacak atau semacamnya, kan? Kalau begitu sepertinya bisa diselesaikan dengan santai dengan cepat, dan kalau ada satu dua ekor yang lolos ya itu sudah bukan urusanku lagi... Benar juga. Lima juta kan tidak realistis... Sebagai imbalan, Minta dibagi sedikit makanan... Tidak, atau karena sudah malam, kamar mandi, makan malam, makan pagi esok hari... Lalu tempat tidur yang sedikit lebih layak dari gubuk untuk semalam... anggap itu sebagai imbalannya, lalu besok pagi cepat-cepat pergi dari desa ini, sudah cukup, kan?)

 

Sudah malas untuk bernegosiasi atau disujudi lagi, dan karena sudah membeberkan soal Sekund hingga merasa sedikit lega, cepat-cepat selesaikan urusan lalu pergi dari desa ini. Damon benar-benar berpikir demikian.

 

Ia benar-benar berniat membasmi Red Lizard dengan syarat seperti itu.

 

Namun sebelum itu, wanita di hadapannya telah menetapkan tekad.

 

"A-Aku paham... Tapi berjanjilah! Kalau kau meniduriku... kau bakal menyelamatkan desa ini."

 

"Ueh?"

 

Itu hanyalah lelucon yang dilontarkannya untuk mengejek. Namun Najimi mengucapkan hal itu kepada Damon dengan mata yang telah menetapkan tekad.

 

"N-Najimi, bicara apa kau! Hal seperti itu────"

 

"Tidak apa-apa, Paman... Kalau dengan begini desa bisa diselamatkan, aku..."

"Mana boleh begitu, N-Najimi! Kau kan sama Sekund, kh, Damon-kun, kami mohon, tolonglah, setidaknya biarkan anak ini tetap dalam keadaan suci..."

 

"Bibi! Tidak apa-apa... Tidak apa-apa, kok."

 

"M-Mana boleh begitu, Mbak Najimi... Aku tidak mau! Tidak boleh...

Hei, Damon...-san, Damon-san! Daripada Mbak Najimi, bagaimana kalau aku saja?"

 

"Jangan, Shesta. Kau kan masih anak-anak... Serahkan hal ini pada Mbak, ya."

 

Ya, Najimi telah menetapkan tekadnya.

 

Jika dengan dirinya ditiduri semua orang bisa selamat. Kehilangan kedua orang tuanya sekaligus, dan kesucian yang dijaganya demi Sekund yang selalu disukainya kini harus dipersembahkan kepada pria yang baru pertama kali ditemuinya. Sungguh sebuah tragedi. Namun Najimi tidak mendengarkan suara para warga desa yang mencoba menghentikannya.

 

"...Ke rumahku... Di sana... lakukan sesukamu. Tapi, berjanjilah! Kalau sudah meniduriku, lindungi desa ini!"

 

"Eh, a, o... Ooh."

 

Hal itu benar-benar di luar dugaan Damon. Ia sama sekali tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Hatinya sedikit merasa sakit. Bukankah ini sama saja dengan Sekund? Namun di saat yang sama, perasaan lain membumbung tinggi. Meski gadis desa, penampilannya pasti akan menjadi bahan pembicaraan bahkan di Ibu Kota. Proporsi tubuh yang pejal berisikan dan luar biasa.

 

Dan yang paling utama, tunangan di kampung halaman yang selalu dirindukan dan dijadikan penopang hati oleh Sekund sejak zaman sekolah akademi. Kesucian tunangan itu bisa didapatkannya. Meski tahu itu pikiran bajingan, ia merasa terangsang.

 

"Guwahahaha, entah kenapa jadi begitu! Awasi tempat ini ya, Strayer."

 

"Diterima."

 

Menghadapi Damon yang terangsang, Strayer hanya mengangguk tanpa emosi seperti biasanya. Sama seperti Sekund? Masa bodoh. Damon menarik tangan Najimi.

 

"Sip, rumahmu yang ini, kan? Guwahahaha, bakal langsung kusampar!"

 

"U-Ung."

 

Dengan napas memburu Damon mencengkeram pergelangan tangan Najimi dan masuk ke dalam rumah. Padahal hari ini ia sudah membuang hajat lebih dari dua puluh kali setelah meniduri Strayer, tapi gairahnya kembali membumbung tinggi.

 

Malah, justru karena sudah mengetahui nikmatnya bersetubuh dengan wanita, dan yang paling utama fakta bahwa ia adalah wanitanya Sekund makin membuatnya terangsang.

 

"A-Ah... Najimi... Sialan... Sialan!"

 

"Sungguh tega... Sekund... Maafkan aku."

 

Suara isak tangis para warga desa terdengar dari luar rumah. Namun

bagi Damon, ia tidak peduli.

 

"Anu, kamar milikku yang di sebelah sana... Di sana... lakukan sesukamu."

 

Begitu masuk ke dalam rumah, ada ruangan yang menyatu dengan meja

besar dan dapur. Hanya saja, bagian dalam ruangan terasa sederhana, hanya ada perabotan harian dan tidak ada ukiran mewah atau barang antik apa pun, benar-benar sederhana.

 

Begitu masuk ke kamar Najimi di bagian dalam, kamar itu juga tidak banyak menaruh barang. Hanya ada meja, tempat tidur, dan rak sederhana. Hanya saja, saat menemukan tumpukan kertas di atas meja itu, Damon tersentak.

 

"Guwahahaha, surat dari Sekund, ya?"

 

"...Kh... Tidak ada hubungannya..."

 

Najimi tidak menjawab pertanyaan Damon, hanya menggigit bibirnya dengan penuh penyesalan, lalu tergesa-gesa mencoba memasukkan tumpukan kertas di atas meja ke dalam laci meja. Namun Damon menghentikannya.

 

"Tunggu dulu, dong."

 

"Kh, a-apa?"

 

"Coba kulihat... Ooh, muncul muncul."

 

"Hentikan, apa yang kau lakukan!"

 

Saat Damon membuka kertas itu secara paksa, di sana tertulis rapi

tulisan tangan yang padat, dan di saat yang sama kertas itu memancarkan cahaya, memproyeksikan wujud Sekund di atas kertas.

 

"A, aaah, Sekund..."

 

"Guwahahaha, Sekund juga sering bersembunyi dan mengendap-endap melihat Surat Sihir ini, lho. Waktu kau dan adiknya muncul, aku sempat melihat wajah kalian."

 

"Kh, c-cukup! Tolong, simpan..."

 

Damon tidak menyimpannya. Malah, ia membentangkan dan menyebarkan seluruh surat Sekund lainnya, memproyeksikan wujud

Sekund di seluruh ruangan.

 

"Sebentar, hentikan! Kenapa kau memajang wujud Sekund, hah?!"

 

"Hei, apa Sekund pernah masuk ke kamar ini?"

 

"Bicara apa kau?! Daripada itu, ku-mohon. Cuma surat-surat Sekund yang—"

 

Padahal mereka hendak berhubungan, tetapi disuguhi wujud Sekund membuat dada Najimi terasa sesak. Namun, Damon mencengkeram Najimi dan tidak melepaskannya.

 

"Aku bertanya, kan. Apa Sekund pernah ke sini?"

 

"Kh, u, k-karena kami teman masa kecil... waktu masih anak-anak..."

 

"Begitu ya, begitu ya. Lalu... apa kalian pernah setidaknya berciuman?"

 

"...Kalau itu... saat dia... mau pergi dari desa... cuma di pipi—"

 

Meski saling mengikat janji masa depan dengan Sekund, mereka memiliki hubungan suci yang bahkan belum pernah berciuman bibir.

 

Dan tanpa tahu bahwa Sekund sedang sibuk menjalankan tugasnya sebagai Pahlawan, Najimi terus menjaga kesuciannya.

 

Najimi, surat darimu, kata-katamu selalu menjadi penopangku. Aku berjanji. Aku pasti akan menjadi kuat, lalu melindungi desa dan dirimu!

M-Makanya, t-tunggulah aku. Aku pasti akan menjemputmu... Janji sejak kecil kita, aku────

 

"Nchuh"

 

"Kh!"

 

Di saat surat Sekund menyampaikan rasa cintanya pada Najimi, Damon merebut bibir Najimi.

 

"Kh! A, t-tunggu, nnn! Nh────!"

 

Apalagi itu bukan ciuman biasa. Ciuman pekat yang memaksa masuk dan menjilat seluruh isi mulutnya. Najimi menegang, terkejut, dan secara refleks mencoba kabur, tetapi Damon mencengkeram dan tidak melepaskannya.

 

"Ja-jangan, nnn! Nh, u, uuu..."

 

Tidak bisa kabur. Dan bibirnya mulai dinodai. Sambil menerima ciuman Damon, Najimi kembali meneteskan air mata.

 

(Tega banget, ciuman, sengaja di depan Sekund... Ini ciuman pertama bibirku... Tidak mau... Hal seperti ini tega banget... Kotor! Lidahnya, air liurnya, tidak mau! Ini bohong, karena tidak ada perasaan di dalamnya, Sekund, ini bukan ciuman, ini beda!)

 

Ciuman pertama. Orang yang menerimanya sudah ditetapkannya di dalam hati sejak lama. Ia sudah memikirkan berbagai situasi dan membayangkan momen yang romantis. Namun, hal itu tidak terwujud dan malah diluluhlantakkan.

"Hehe, gawat, aku jadi terangsang banget."

 

"Hii... u, a..."

 

"Nah, sejak Sekund membaca surat di sekolah, aku sudah penasaran... Bagaimana kalau sekarang kau perlihatkan yang ini padaku?"

 

"T-Tunggu, aku lepas sendiri!"

 

"Tidak mau."

 

"A, aaaa, aaaa!"

 

Lalu, Damon yang tidak bisa menahan gairahnya merobek pakaian Najimi.

 

"Ooo~ celana dalam, pantat, dada, celana dalam, pantat, dada!"

 

"J-Jangan, mendekatkan wajahmu, tidak mau!"

 

"Ooh... sret sret"

 

"Tidak mau! Jangan mengendus aroma tempat seperti itu!"

 

"Aroma yang hangat dan pekat♪ Guwahahaha... jilat"

 

"Hin!"

 

Berbeda dengan Strayer, pakaian dalam putih polos itu tampak sederhana dan murah. Namun, dada dan pantat yang ditutupi pakaian dalam itu tampak berisi, dipadukan dengan pinggang yang ramping, benar-benar tubuh wanita yang sangat menggoda.

 

(Kalau bakal begini... kalau bakal jadi begini... saat Sekund pulang ke desa tahun lalu... kalau bakal jadi begini, harusnya lebih cepat... momen pertamaku...)

 

Menyesal karena tidak mempersembahkannya lebih cepat pada Sekund pun sudah terlambat.

 

"Haa, haa, gawat... Beda dari Strayer, seksi banget... Tidak tahan lagi..."

 

"A, u, uuu... a... a... Maafkan aku, Sekund! U, uuu, padahal aku mau memberikan semuanya padamu────"

 

"Guwahahaha, hei, lihat aku... lihat milikku!"

 

"Hiii! B-Besar... Bohong, m-mana mungkin! K-Kalau sebesar ini, ba-bagaimana pun, b-besar..."

 

"Tidak masalah. Strayer saja tidak apa-apa, kok."

 

"T-Tapi, k-kalau begini..."

 

"Kalau begitu, selamat makan!"

 

"Uu, maafkan aku, Sekund! Maafkan aku, Sekund! Sekund, Sekund, Sekunddd!"

 

"Pertama-tama, mari kita santap marshmallow yang lezat ini dulu, am!"

 

"Hiii! A, jangan, aaaaa!"

 

Damon mulai menyantapnya. Menghadapi rangsangan pertama dalam hidupnya dan tindakan yang dilakukan oleh pria yang tidak disukainya, seluruh tubuh Najimi merinding dan ia berteriak histeris sambil menangis. Namun, jeritan dan rontaan itu justru hanya menjadi bumbu penyedap bagi Damon yang sekarang.

 

"Am, uoh, enak banget, apa-apaan ini, nchuburu, jurururu."

 

"Tidakkk, jangan diisap, tidak keluar, tidak ada yang keluar! Sudah kubilang tidak ada yang keluar, kh, menjijikkan!"

 

"Walau tidak keluar rasanya tetap pekat! Luar biasa, bisa kumakan

selamanya."

 

"Hentikan, ja-jangan dimakan! Jangan makan aku!"

 

Menempelkan mulutnya ke tubuh Najimi, mengisapnya hingga berbunyi. Menjilatnya hingga berbunyi basah. Lalu meremasnya. Tanpa ada rasa peduli pada pasangannya, Damon melahap tubuh Najimi hanya menuruti instingnya.

 

"Hehe, oho, teksturnya mulai berubah, makin kenyal dan mengeras... Kau terangsang, ya?"

 

"T-Tidak! Cuma merasa jijik, nhii!"

 

"Sip, mari kita permisi masuk ke pintu yang ini juga."

 

"A, aaaaa!"

 

"Oya oya, daerah sekitar sini adalah hutan hujan tropis yang lumayan basah, ya."

 

Damon menyelipkan tangannya ke dalam pakaian dalam Najimi dan mempermainkannya. Ke dalam area terlarang yang tidak pernah disentuh atau diperlihatkan pada orang lain, Damon menerobos masuk secara kasar.

 

"Hentikan, k-kalau mau dilakukan, cepat lakukan! Cepat selesaikan!"

 

Menghadapi perbuatan pertama dalam hidupnya, Najimi mengalami hiperventilasi dan mengerang kesakitan. Namun, Damon membalasnya dengan senyum iblis.

 

"Bicara apa kau. Cepat diselesaikan? Tidak akan kuselesaikan, tahu. Soalnya hari ini aku sudah memutuskan bakal menikmati dirimu sampai ke tulang-tulangnya."

 

"Kh, u, uuu."

 

Air mata memenuhi mata Najimi. Kenapa dirinya harus mengalami hal seperti ini? Itu demi melindungi desa ini. Demi hal itulah ia menjual dirinya pada iblis. Namun, walau sudah menetapkan tekad, perbuatan ini tetap saja teramat menyiksa.

 

"Jangan menangis, nchuh."

 

"Nnnnn!"

 

Lalu, Damon tidak memberikan belas kasihan pada Najimi yang meneteskan air mata. Ia kembali menyumpal bibirnya dengan ciuman, mewarnai bagian dalam mulut itu dengan lidah dan air liurnya sendiri.

 

Area kewanitaannya dipermainkan, dadanya diremas, dan ciuman pekat dengan lidah yang saling membelit. Dari seluruh tubuh Najimi, rangsangan seksual yang belum pernah dirasakannya menyerang secara bersamaan, membuat pikirannya perlahan-lahan tidak berfungsi.

 

"A, nh... annh... kh!"

 

Najimi tersentak mendengar suara yang tanpa sadar lolos dari mulutnya,

lalu menggigit bibirnya erat-erat. Apa yang baru saja diucapkannya?

 

Najimi terkejut dan takut pada dirinya sendiri karena suara yang seolah menikmati itu lolos dari mulutnya. Melihat hal itu, Damon makin ketagihan dan memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi.

 

"Seben- t-tunggu!"

"Tidak akan tunggu. Soalnya kemarin aku sudah lumayan belajar soal tubuh wanita dari Strayer. Begini, begini, begini, lalu begini. Terus ciuman juga, nchuh."

 

"Nnnn!"

 

Tangan Damon—tidak, pergerakan jari-jarinya makin aktif. Saat hendak bersuara memprotes, mulutnya langsung disumpal dengan ciuman.

 

(Aah, ciuman, dicium lagi, selangkanganku... dadaku... tidak boleh, aku tidak bisa berpikir. Lagipula, a-apa rangsangan ini? Ada sesuatu yang membumbung tinggi. Sensasi sesuatu yang naik dari perut bawah sampai ke ubun-ubun... Jangan-jangan... jangan-jangan aku... mencapai puncak... Bohong, a-aku, sambil dicium, oleh pria selain Sekund... Bohong, ini bohong!)

 

Perasaannya sendiri tidak ada hubungannya. Itu adalah refleks dan reaksi akibat rangsangan fisik. Itu bukan salah Najimi. Namun, Najimi merasa takut pada reaksi tubuhnya sendiri dan gairah yang melingkupinya. Namun, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hampir mencapai puncak, saat itulah—

 

"Kalau begitu, sebentar lagi kita mulai, ya."

 

"M-Mulai? A..."

 

Najimi tertegun, tetapi di hadapan matanya dan di depan gerbang kesuciannya, sebuah pedang perkasa telah bersiap dan menanti untuk menyerang dan menembus gerbang itu. Ia tidak bisa lari lagi. Beberapa detik lagi ia akan ditembus, dinodai, dan secara harfiah merontokkan kesucian yang dijaganya demi pria yang dicintainya seumur hidup.

 

Biarpun menjerit, mulutnya disumpal ciuman dan Damon tidak akan mendengarkannya. Walau tahu akan hal itu, Najimi menggantungkan secercah harapan dan memohon pada Damon.

 

"To-long..."

 

"Emm?"

 

"...Pakai... kontrasepsi..."

 

"Bakal kubuat kau hamil!"

 

Namun, hal itu justru makin menguatkan tekad Damon. Merebut dan mengambil wanita cinta pertamanya, lalu menyaksikan wujud Sekund yang melakukan perbuatan pembuahan di hadapan matanya, Damon yang sekarang tidak akan berhenti. Karena itulah, kini hanya ada satu hal yang bisa dilakukan Najimi.

 

"Yang kusukai itu Sekund! Cuma Sekund saja! Aku tidak akan berubah! Biarpun dinodai, perasaan ini tidak akan pernah────"




"Uraaaaaaaaa, selamat makan!"

 

"T-Tunggu, aku baru bicara setengah jalan────khuiiiiiiiiii!"

 

Lalu, kesucian Najimi rontok secara mengenaskan.

 

"Kahah... a... a..."

 

Gerbang kastil telah ditembus. Di hadapan kekuatan yang menginvasi, menguasai, dan meluluhlantakkan wilayah terlarang yang belum pernah diserang sekalipun, Najimi yang tidak memiliki pengalaman tempur sungguhan langsung dilibas dengan mudah.

 

(A-Apa-apaan ini, sensasi yang menembus dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun... Rasanya sakit atau tidak aku sendiri sudah tidak begitu paham... Rasanya seperti mau robek... Bagian dalam perutku diacak-acak, dan bagian dalam kepalaku seolah sedang ditulis ulang...)

 

Ketika manusia dihadapkan pada fenomena yang jauh melampaui imajinasinya, mereka bahkan kehilangan kata-kata. Najimi yang sekarang benar-benar berada di kondisi itu.

 

"Bagus, mantap banget... Beda dari Strayer, tapi kau juga yang terbaik, Najimi."

 

"Agu, a a."

 

"Wanita hebat seperti ini... Aku tidak akan menyerahkanmu pada siapa pun lagi. Kau milikku."

 

"A, nh, nhmu."

 

Bahkan jeritan pun tidak sanggup dilontarkan, bibir Najimi kembali disumpal dengan ciuman oleh Damon. Dan sambil terus berciuman tanpa melepaskannya, Damon melancarkan serangan bertubi-tubi.

 

(Aah, aku dicium... dicium lagi... Sambil menerima ciuman yang begitu dahsyat dan pekat, aku diperlakukan secara mesum... diinginkan... Dibuat hingga tubuhku rasanya mau robek jadi dua... Kalau begini terus, aku... aku────)

 

Saat itulah, Najimi mendadak membuka matanya lebar-lebar melihat sesuatu yang terpantul di sudut pandangannya. Itu adalah surat dari Sekund yang masih terbentang. Wujud Sekund yang terproyeksi. Di hadapan pria yang paling dicintainya, ia sendiri sedang dipeluk, dicium, dan mendesah oleh pria yang berbeda.

 

"Kh, tidakkk, tetap saja, tidak, tidak boleh, tidak boleh, Sekund melihatnya, Sekund melihat kita! Yang kusukai itu Sekund, makanya, ciuman tidak mau, mesum, bayi, dada juga, tidak mau!"

 

Dengan sekuat tenaga menggelengkan kepala demi melarikan diri dari ciuman, Najimi kembali berteriak histeris.

 

Namun, Damon mencengkeram kedua pipi Najimi dengan rapat untuk memfiksasi posisinya, lalu kembali menyumpalnya dengan ciuman. Meski merasa keberatan dan mengatupkan bibirnya demi mencegah masuknya lidah, karena ia diserang tidak hanya dari atas tetapi juga dari bawah, mau tidak mau ia refleks membuka mulutnya, dan lidah Damon kembali dipaksa masuk ke dalam mulut Najimi.

 

(Aah, ciuman lagi... Tidak mau, sesuatu membumbung tinggi... Sambil dicium aku, aku... mau mencapai puncak, bohong, ini bohong, ini bohong ya, Sekund... Ini beda...)

 

Perlawanan terakhirnya sia-sia, Najimi yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi kembali bersikap penurut. Melihat wujud itu, Damon mengukir senyuman sembari melepaskan bibirnya, lalu berbisik pada Najimi.

 

"Tenang saja. Aku bakal menepati janji."

 

"E..."

 

"Seluruh dirimu sudah kudapatkan. Karena itulah, sesuai keinginanmu seluruh ancaman bakal kulibas, dan aku bakal melindungi dirimu serta desa ini."

 

"..."

 

"Serahkan padaku."

 

Pertukaran senilai. Damon menyetubuhinya dengan syarat hal itu.

 

Namun, walau memperkosa wanita yang merasa keberatan, senyuman yang diukir oleh Damon tidak lagi tampak seperti iblis layaknya sebelumnya, melainkan terlihat seperti senyuman anak laki-laki yang polos di mata Najimi. Senyuman itu tanpa sadar membuat Najimi tertegun.

 

"A-Apa yang kau katakan... Memanfaatkan kelemahan orang... Memperlakukan wanita yang tidak punya pilihan lain secara tanpa ampun begini..."

 

"Begitu, ya. Kalau begitu, aku bakal berusaha supaya kau bukannya merasa keberatan, tapi merasa lebih bahagia."

 

"Tidak akan bahagia! Hal seperti ini sudah pasti cuma terasa tidak enak saja, annh, makanya, nh, tidak akan jadi begitu... Pada orang sepertimu... Pada orang sepertimu..."

 

"Damon."

 

"...Eh?"

 

"Bukan berarti kau harus jadi barang milik seperti Strayer, kok. Kau boleh memanggilku pakai nama. Damon."

 

"Bicara apa..."

 

Kepada Damon yang mengucapkan hal yang sangat tidak menyambung kepada wanita yang sedang disetubuhinya, berbagai kata makian terlintas di dalam hati dan kepala Najimi. Namun entah kenapa, ia tidak menyemburkan seluruh makian itu, hatinya perlahan-lahan mulai terbawa suasana, dan ia kembali menetapkan tekad lalu membuang posisi perlawanannya.

 

"Ya sudah, lakukan saja cepat dan puaskan dirimu, kan..."

 

"Sip, bakal kulakukan~ Najimi!"

 

"Eh, sebentar, makanya, tahan dirimu sedikit dong, Damon!"

 

Pergerakan Damon makin bertambah ganas. Najimi mencoba menahannya, tetapi tanpa disadari kedua tangan dan kakinya telah memeluk erat tubuh Damon.

 

"Hei, cium! Cium lagi!"

 

"Ya ampun, lakukan saja sesukamu, nh, nh, nnn!"

 

Ciuman yang sangat dibencinya tadi pun, kini ia tidak lagi melawan seolah memasrahkan "lakukan saja sesukamu". Ia tidak mengatupkan mulutnya dan menerima lidah Damon.

 

Lalu, mereka berdua mencapai puncak di paling puncak.

 

"Kahah, aaah, gawat, a... a... a."

 

"Uoh, hooh, oooh, gawat, mantapppp! Mantap banget, Najimi!"

 

Najimi yang napasnya terengah-engah, serta Damon yang terangsang oleh momen kebahagiaan. Najimi yang terkapar dan mencapai puncak sudah tidak sanggup menegakkan tubuhnya lagi. Namun meski begitu, ia diselimuti oleh rasa pencapaian bahwa ia "telah berhasil melaluinya".

 

"S-Sudah puas... belum? Damon."

 

Dengan begini semuanya sudah berakhir. Berpikiran demikian, Najimi berbisik di telinga Damon yang sedang menindih tubuhnya. Namun, Najimi tidak memahami satu hal.

 

"Guwahahaha, tambah lagi!"

 

"He, a, sebentar, he, e, eeeee!"

 

Damon langsung bangkit kembali dan mulai beraktivitas lagi.

 

"K-Kenapa, mana bisa begitu, masih ada?!"

 

"Sudah kubilang, kan, hari ini aku bakal melahapmu sampai ke tulang-tulangnya! Mana mungkin selesai cuma dengan satu dua kali, tahu! Oraaaaa!"

 

"H-Hyaaaaa, a, tidak mungkin, tidak bisa begitu!"

 

Najimi benar-benar dilahap habis seluruh tubuhnya sampai ke tulang-tulangnya.

 

"Guwahahaha, ini masih belum selesai, tahu!"

 

Sudah tak ubahnya jeritan gairah dari binatang buas yang hilang akal.

"Hei, Najimi, mari kita ciuman lagi? Nih lihat, di depan suratnya Sekund, lho."

 

"Ogooo, obooo, o, O, oOO!"

 

Para warga desa yang mengenal Najimi sejak lahir pun ketakutan mendengar jeritan gairah Najimi yang belum pernah mereka dengar sekalipun. Najimi bakal hancur. Najimi bakal sirna. Yaoji dan Fukuro yang menganggap Najimi seperti putri kandung sendiri berjongkok dan menangis tersedu-sedu seolah mau hilang akal, sementara warga desa lainnya yang tidak bisa membantu terus bergumam "maafkan kami" berulang kali sembari menutupi telinga mereka karena merasa tidak berguna.

 

"..............."

 

Strayer hanya mengamati para warga desa itu dalam diam. Dan sambil memasang telinga pada tindakan yang terus berlangsung di dalam rumah tanpa istirahat,

 

(Seorang Pahlawan memiliki kewajiban untuk menyebarkan benihnya... Itu demi umat manusia... Namun, kenyataannya bukan cuma itu saja. Seorang wanita secara insting akan menginginkan benih dari pria yang unggul. Karena itulah, niat tersembunyi dari tugas yang diberikan pada Pahlawan adalah agar benih unggul yang diinginkan semua orang tidak didominasi oleh satu wanita saja hingga memicu perselisihan.)

 

Dengan wajah tenang, namun berjuang sekuat tenaga berpura-pura tenang agar tidak ketahuan bahwa bagian dalamnya mulai terasa panas membara, ia tenggelam dalam lamunan.

 

(Master hanya tidak memiliki gelar saja, tetapi nilainya sebagai pria adalah Class Holder Pahlawan Tengen yang melampaui Pahlawan biasa. Jika dipeluk oleh pria seperti itu, seberapa pun tubuhnya merasa keberatan, kemungkinan perlahan-lahan dia akan... tidak, mungkinkah... hatinya sudah sejak tadi...)

 

Strayer tidak melewatkan perubahan pada desahan Najimi yang sedang diluluhlantakkan di dalam rumah.

 

"♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥"

 

Waktu berlalu bagaikan neraka bagi para warga desa, hingga matahari benar-benar tenggelam dan malam pun tiba.

 

"Guwahahahahaha, mantappp! Duh, puas banget rasanya!"

Suara jeritan gairah bak binatang buas telah hilang, dan perbuatan yang tetap berlanjut itu akhirnya selesai juga. Damon yang bertelanjang dada keluar dari dalam rumah. Di sampingnya, ada Najimi dengan wajah merona dan berjalan sempoyongan sembari terbungkus kain sprei.

 

"A, ah, Najimi!"

 

"Najimi, sadarlah! Najimi!"

 

"Mbak Najimi!"

Keluarga Sekund berlari menghampiri Najimi. Mereka menggoyang-goyangkan tubuh Najimi yang linglung dan memanggilnya dengan suara keras, tetapi reaksi Najimi sangat lamban.

 

"Nhi, a... nguh... tidak apa-apa... Paman, Bibi... Shesta... semuanya... tidak apa-apa, walau tadi luar biasa banget, tapi aku tidak apa-apa..."

 

"Najimi..."

 

Tidak perlu khawatir. Tidak apa-apa. Wujudnya memang terlihat lemas dan kehabisan tenaga, tetapi meski begitu Najimi tetap berusaha mengulas senyum ke arah semua orang. Namun, senyuman itu bukan lagi senyuman Najimi yang dikenal oleh semua orang.

 

"M-Mbak Najimi..."

 

Rona sensual yang mendalam seolah ada bagian dirinya yang telah

hancur terpancar erat, hingga membuat dada yang melihatnya terasa sesak.

 

"Guwahahaha, sudah gelap gulita, ya. Oho, gelap banget."

 

"Apakah Anda sudah puas? Master."

 

"Ooh, sebenarnya aku masih bisa lanjut sedikit lagi, tapi ya sudahlah, sudah kunikmati dari ujung ke ujung. Lagipula perutku juga mulai lapar."

 

"Kalau begitu, mari makan malam..."

"Tidak, sebelum itu────"

 

Strayer menyapu keringat dari tubuh Damon yang telah meniduri Najimi sepuasnya. Ketika ia bertanya apakah mereka akan langsung makan malam, Najimi yang berada di sisinya mencubit lengan Damon.

 

"...Hei... kita... sudah berjanji, kan? Damon... sudah, kan?"

 

Sikap itu sama sekali bukan sikap yang ditunjukkan oleh wanita yang baru saja diperkosa. Atmosfer unik bagaikan sepasang pria dan wanita yang telah mengenal satu sama lain secara mendalam mengalir di antara mereka, membuat para warga desa tidak percaya dengan penglihatan mereka. Lalu, Damon mengukir senyum pada Najimi.

 

"Aah, karena aku sudah menikmati tubuhmu sepuasnya, bagian yang itu bakal kubayar tuntas! Guwahahaha, Red Lizard bakal kubasmi tanpa tersisa satu ekor pun!"

 

Ia mengumumkan bahwa ia akan mewujudkan permintaan itu.

 

"Hei, Strayer. Kau bisa melacak keberadaan mereka, kan?"

 

"Ya. Alasan saya bisa menemukan Master yang lari melesat dari Ibu Kota juga berkat kemampuan tersebut."

 

"Kau tahu ada berapa ekor dan di mana lokasi Red Lizard itu?"

 

"Untuk lokasi perkiraannya. Namun, apakah kita akan memulainya sekarang? Saat malam hari para monster biasanya tidak beraktivitas────"

 

"Kalau aku bilang lakukan, ya lakukan. Janji itu harus cepat-cepat ditepati, tahu. Lagipula, bukannya kau tidak boleh menolak atau mempertanyakan tindakanku dan cuma perlu mematuhinya saja, hah?"

 

"Saya mohon maaf. My Master."

 

Lalu, kalau mau bertindak maka langsung bertindak saat itu juga.

 

Memikirkan rencana, atau menunggu esok pagi saat hari sudah terang—Damon tidak memikirkan hal-hal rumit seperti itu.

 

"Mungkin mereka agak menyebar, jadi tunjukkan lokasi umum keberadaan mereka pakai jarimu. Sisanya tinggal mengandalkan insting, hawa keberadaan, dan bau, semuanya bakal beres."

 

"Hanya dengan itu saja? Kalau begitu, pertama-tama ada sekitar empat ekor di daerah sebelah sana."

 

"Kalau begitu, berangkat!"

 

Sesuai yang diintruksikan, Strayer menunjuk ke satu arah di dalam hutan gunung yang gelap. Merasa hal itu sudah lebih dari cukup, Damon mengambil posisi membungkuk. Lalu, tubuhnya berubah. Damon membungkuk sembari mengerang. Wujud itu membuat Strayer yang tadinya tanpa emosi menjadi terperanjat. Kedua paha kaki Damon membesar secara tidak wajar, dan kedua kaki itu membuat retakan yang menjalar di atas tanah.

 

"Shahhaaa!"

 

Di detik berikutnya, bersamaan dengan suara dentuman dahsyat, asap debu membumbung tinggi, dan Damon melesat terbang dengan kecepatan yang tak tertangkap mata. Ia terbang di udara seolah-olah ditembakkan dari sebuah meriam. Di saat Strayer dan para warga desa menyadari hal itu, suara hantaman bagaikan tembakan meriam bergema di hutan gunung.

 

"Guwahahaha, ketemuuu! Guwahahaha, kroco, kroco kroco banget♪ Empat ekorrr!"

 

Lalu, dari tengah lereng hutan gunung, suara monster yang mengamuk bergema. Namun hanya suara. Suara dan dentuman juga terdengar.

 

Karena gelap dan jaraknya jauh, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang terjadi di sana.

 

"Ooi, Najimi~! Buki pembuktiannya bakal kutendang ke sana, jadi lihat baik-baik, ya~? Oraaa! Long Feed!"

 

Para warga desa tertegun. Saat itulah, mereka menyadari ada benda hitam yang terbang melayang dari arah gunung menuju ke mari.

 

"A-Apa itu?! Ada sesuatu yang besar melayang ke mari!"

 

"Sebentar, semuanya, menjauh!"

 

Benda itu jatuh menghantam area kosong yang berada di antara rumah Yaoji dan rumah Najimi.

 

"Hii! S-Sebentar, i-ini kan..."

 

Para warga desa lemas hingga terduduk. Sebab benda itu, walau telah kehilangan bagian kepalanya, tak salah lagi adalah batang tubuh dari Red Lizard.

 

"Nih nih nihhh!"

 

Di hadapan semua orang yang tercengang hingga melongo, benda-benda berjatuhan dari langit satu demi satu. Benda dalam kondisi isi perut terburai ke mana-mana. Benda dalam kondisi berlubang di bagian dadanya.

 

Benda dalam kondisi batang tubuhnya tertekuk ke arah yang tidak masuk akal. Seluruh bangkai Red Lizard yang telah tewas terkapar rapi berbaris secara horizontal sebanyak empat ekor.

 

"Dari jarak sejauh itu membawa tubuh raksasa ini. Terlebih lagi, berbaris rapi secara horizontal tanpa ada pergeseran. Sampai bisa melakukan kontrol seakurat ini..."

 

Mengenai hal ini, Strayer pun tidak sanggup menyembunyikan rasa terkejutnya. Lagipula, bagi Strayer yang mengetahui kelas asli Damon, ia sudah tahu bahwa Damon tidak mungkin kalah dari monster sekelas Red Lizard. Karena itulah, selain kekuatan tempur murni milik Damon, ia dibuat merinding mengetahui Damon sanggup melakukan atraksi seperti ini.

 

"Ooi, Strayer! Berikutnya di mana? Tunjukkan jarimu!"

 

"Terlebih lagi, di jarak sejauh ini ia bisa melihat kita. Kh, Master, dari posisi itu lurus ke arah kiri ada tiga ekor."

 

"Sip! Oho, baunya tercium banget nih~ Guwahahaha, ketemuuu!"

 

Lalu ia mengamuk lagi, dan bangkai Red Lizard berjatuhan serta berbaris satu demi satu.

 

"Berikutnya, di arah kiri agak ke atas dari posisi itu."

 

"Guwahahaha!"

 

Seolah sedang memetik sayuran liar di dalam gunung, Damon memburu para Red Lizard dengan sangat mudah.

 

"Red Lizard yang jika berkawan bisa mencapai Tingkat Bahaya 3. Tingkatan yang harus ditangani oleh party Class Holder. Tapi ia membereskannya dengan begitu mudah..."

 

Malam itu, berbanding terbalik dengan durasi berjam-jam saat Najimi diluluhlantakkan, pembasmian Red Lizard yang dilakukan Damon sebagai imbalan dari perbuatan tersebut selesai hanya dalam hitungan menit, dan delapan belas bangkai Red Lizard berbaris rapi di desa.

"Seperti dugaan saya, Anda memang manusia super terlahir berbakat yang berada di tingkatan berbeda... Master."

 

Pengalaman Damon

● Mantan Saint Strayer: 21 Ronde

● Gadis Cantik Dada Besar Desa Najimi: 7 Ronde

 

"Ayah, Ibu... terima kasih atas semuanya selama ini. Aku bakal berjuang."

 

"Kalian berdua... Najimi benar-benar sudah berjuang keras. Karena Najimi menahannya makanya desa ini... Tolong, mulai sekarang awasilah Najimi."

 

Di alun-alun pusat desa, para warga berkumpul sembari menyalakan kobaran api besar. Yang berbaris di depan api adalah bangkai para Red Lizard.

 

"Kalau begitu, mari berdoa untuk mereka berdua."

 

Sembari menyiapkan alkohol dan masakan, mereka semua memanjatkan doa hening seolah sedang melangsungkan penghormatan bagi orang yang telah wafat.

 

"Ngomong-ngomong kadal ini kalau dipanggang bisa dimakan tidak?"

 

"Bukan berarti tidak bisa dimakan, tetapi memotong dan memasaknya merepotkan, dan denger-dengar rasanya tidak seberapa enak."

 

"Apa-apaan, membosankan banget."

 

"Hanya saja, kulit monster itu sangat kuat, jadi biasa digunakan untuk perlengkapan pelindung atau semacamnya. Jika dibawa ke toko peralatan di kota, sepertinya bisa jadi sumber penghasilan yang lumayan.""Fuuun. Ngomong-ngomong, kenapa monster seperti ini bisa ada di sini?"

 

"Dalam pertempuran antara Pasukan Raja Iblis dan Pasukan Aliansi, mungkin prajurit Pasukan Raja Iblis yang kabur membuangnya ke gunung. Lalu monster itu menjadi liar."

 

"Fuuun. Ah, benar juga, bulan lalu juga ada kejadian kan. Kemenangan mutlak Jenderal Besar Bushin, jenderal musuh juga katanya hilang atau tewas dalam perang."

"Ya. Mungkin monster dari pertempuran saat itulah."

 

Di saat para warga desa sedang berdoa hening, Damon dan Strayer melakukan obrolan santai seperti itu di luar kerumunan. Dan begitu para warga desa menuntaskan doa hening mereka, mereka mengangkat alkohol dan masakan sembari berteriak ke arah langit.

 

"Nah... Nak... anu, te-terima kasih ya."

 

"Ha?"

 

Perasaan yang campur aduk. Namun kenyataan bahwa mereka telah diselamatkan adalah fakta. Setelah menuntaskan doa hening, Yaoji mewakili desa mengucapkan terima kasih pada Damon. Namun bagi Damon, hal itu terasa aneh.

 

"Ha? Kenapa begitu? Aku bukannya menolong kalian secara cuma-cuma, aku kan sudah dapat imbalan jadi kita impas, dong."

 

"T-Tentu saja begitu, tapi..."

 

"Benar kan? Najimi~. Guwahahaha."

 

Bukan hal yang perlu ditumpahi ucapan terima kasih. Sebagai imbalan ia sudah meniduri Najimi. Saat Damon mengucapkan hal itu sembari memamerkan senyum jahat, semua orang kembali menunjukkan raut wajah yang campur aduk. Najimi juga menggigit bibirnya dengan cemberut. Namun, hanya sampai di situ.

 

"Yah, berkat hal itu desa kalian selamat, dan kalau kadal ini dijual bisa jadi biaya hidup untuk sementara waktu, kan? Pakai itu buat memikirkan masa depan kalian. Sambil menunggu disamput Pahlawan Pemain Wanita menjemput kalian."

 

"""""Ehh?? Break"""""

 

Mendengar kata-kata Damon, para warga desa terkejut.

 

"N-Nah, Damon."

 

"Emm?"

 

"E-Eh, a-anu... Bangkai Red Lizard ini... diberikan untukku?"

 

"...Ha? Eh? ...Kalian tidak mau?"

 

Atas pertanyaan yang diajukan Najimi dengan ragu-ragu itu, Damon malah ganti terkejut.

 

"Eh? Soalnya kan kau yang minta makanya monster-monster ini kubunuh, penanganan setelah dibunuh ya urusanmu... Eh? Beda, ya? Strayer, ada yang beda?"

 

"Saya menganggap semua pikiran Master sebagai kebenaran mutlak."

 

"Makanya, ini kan milikmu? Tidak, kalau tidak mau sih bakal kuambil lalu kujual... tapi kalau membawa semuanya kelihatannya merepotkan juga."

 

Bagi Damon yang sudah menerima imbalan, ia tidak memiliki pikiran untuk meminta lebih dari ini. Dengan pemikiran "kalau tidak mau ya kuambil", Damon tidak begitu terikat pada bangkai itu. Karena itulah, kalau Damon berkata demikian, Najimi juga tidak menolaknya.

 

"Aku paham, kalau begitu ini buatku... Tidak, buat desa ini. Soalnya aku berpikir harus membeli stok persediaan di kota untuk persiapan musim dingin, dengan begini perasaanku jadi sangat lega."

 

"Guwahahaha, begitu ya."

 

Najimi merasakan perasaan yang entah kenapa terasa aneh. Kehilangan kedua orang tuanya hingga jatuh ke dasar duka, dan mengetahui hal itu, kesucian yang dijaganya demi pria yang disukainya malah direbut dan diluluhlantakkan oleh Damon.

 

Meski demi desa, seharusnya Damon adalah sosok yang membuatnya ingin muntah. Namun entah kenapa, saat ini rasa tidak senang atau dendam sama sekali tidak terlintas di dalam diri Najimi terhadap Damon.

 

"Nih, Damon juga pasti lapar, kan. Makanlah. Ini buatanku, kok. Kau dan gadis itu pasti sangat lapar, kan?"

 

Tanpa disadari, Najimi menyodorkan piring berisi biji-bijian tumis dan sayuran kepada mereka berdua.

 

Damon hendak mencapainya dengan gembira. Namun, ia mendadak tersentak dan menghentikan tangannya.

 

"...Ooh... Emm? Tidak, tunggu tunggu... Kalau aku menerima ini, bukannya aku jadi punya utang padamu? Ini kan gratisan."

 

"...Apa?"

 

"Tidak, saat ini kan kita berada di posisi tidak saling berutang... Jadi kalau di sini aku menerima sedekah, padahal sudah lunas nanti malah muncul utang baru..."

 

"Bicara apa kau? Sama sekali bukan seperti itu, kok. Cuma rasa terima kasih atau niat baik biasa..."

 

"Aahn? Kalau begitu malah makin tidak bisa kuterima, dong."

 

"K-Kenapa?"

 

Kalau beberapa saat lalu mungkin ia tidak akan berpikir seperti ini.

 

Namun, Damon telah mengubah cara berpikinya.

 

"Aku sudah berhenti melakukan sesuatu secara cuma-cuma. Di sisi lain, dari awal aku menganggap menerima sesuatu secara cuma-cuma itu rasanya menjijikkan, jadi hal itu tetap berlanjut. Niat baik gratisan begitu tidak kubutuhkan."

 

"E-Eh?"

 

"Strayer karena suatu hal sudah jadi milikku seumur hidup dan berbakti padaku, jadi kalau punya Strayer bakal kuterima, tapi aku tidak bakal menerima sedekah gratisan dari selain itu. Maksudnya, aku memutuskan buat membeli. Begitu lebih tenang. Berapa harganya? Aku tidak punya banyak uang, sih."

 

Damon sudah memutuskan untuk tidak bertindak demi seseorang secara cuma-cuma seperti seorang Pahlawan lagi. Sebaliknya, tidak mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma juga tetap ia jalankan. Sisa hidupnya kelak akan ditukar dengan imbalan. Sebab dengan begitu, hatinya merasa lebih tenang tanpa perlu merasa dikhianati atau semacamnya.

 

"Aku tidak begitu paham. Beneran aneh... Ah... Benar juga."

 

Najimi yang tidak begitu memahami cara berpikir baru Damon menghela napas pasrah. Namun, ia segera teringat akan suatu hal.

 

"Hei, Damon. Saat ini kuda di desa ini kan sudah habis dan kami kerepotan. Lagipula kalau cuma kami saja yang membawa bangkai sebanyak ini bakal makan waktu lama, dan yang paling utama jalannya mungkin berbahaya."

 

"Emm?"

 

"Makanya bantu kami bolak-balik membawanya. Kalau begitu, bakal kuberikan makanan ini."

 

"Nhh... Ooh... Begitu caramu, ya."

 

Kelihatan membodohkan, tetapi tawaran Najimi yang telah memahami aturan Damon membuat Damon menepuk tangannya.

 

"Tapi kota kan jaraknya beberapa hari naik kuda dari sini, kan? Yah, kalau aku lari sekuat tenaga sih setengah hari, ya? Tapi membawa barang sebanyak ini merepotkan... Kereta dorong... tidak, dimasukkan ke dalam karung lalu dipanggul..."

 

"Master. Jika tempat itu pernah saya kunjungi sekali, saya bisa berpindah tempat menggunakan sihir perpindahan ruang dengan menandai lingkaran sihir. Karena saya belum pernah ke kota tersebut, perjalanan perginya memang butuh sedikit usaha, tetapi perjalanan pulangnya bisa dalam sekejap."

 

"Hoo. Kalau begitu, perginya setengah hari... pulangnya pakai sihir perpindahan ruang... Kalau sampai menyuruhku memakai kekuatan Strayer juga, makanan satu porsi saja tidak bakalan cukup────"

 

"Hari ini kau mau menginap di luar? Atau di gubuk? Di rumahku, kau boleh memakai tempat tidur Ayah dan Ibu, lho? Lalu aku juga bakal memanaskan air buat mandi, kan? Makan pagi esok hari juga."

 

"Sip, sepakat! Guwahahaha, kalau begitu Strayer, kita bakal main di saat mandi dan tempat tidur!"

 

"Baik."

 

"Kh, s-sebentar, kau masih berniat main? Aku tidak mau ikut main, ya!"

 

"Guwahahahahaha. Eh tapi, enak banget! Masakan apa ini! Sayurnya enak, tapi kuahnya enak banget, tahu! Kau yang membuatnya? Ini jauh lebih enak dari kuahnya Strayer, tahu!"

 

"........................"

 

"Iya, iya."

Bersama Damon yang telah meluluhlantakkan kesuciannya dan Strayer yang merupakan barang miliknya, mereka bertiga masuk ke dalam rumah begitu saja.

 

"M-Mbak Najimi... tidak apa-apa... ya?"

 

"Entahlah. Anak muda itu, aku tidak begitu paham dia itu orang jahat atau bukan."

 

Melihat negosiasi Najimi yang berjalan lancar dan berujung sepakat saat mengobrol santai dengan Damon, para warga desa hanya bisa melongo menontonnya.

 

Padahal hari ini adalah kejadian paling menyiksa dan menyedihkan dalam hidupnya, tetapi hal itu justru mengelupas kulit Najimi hingga menjadikannya lebih tangguh dan tebal muka.

 

Dan setelah ini, Damon dan Strayer melakukan persetubuhan yang sangat luar biasa gila.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close