NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 3 Epilog

Epilog

Selamat Tinggal, Penyihir Kutukan Biasa


"A, gaaaaaaaaaa, aaaaaaaaaa!!??"

Ruang itu sepenuhnya putih. Atas, bawah, dan sekitarnya semuanya putih, sebuah singgasana dewa.

Di wilayah Lutos, sang dewa keberanian dan kewajiban, Lumen terus meronta sambil memegangi perutnya dan memuntahkan darah.

"Cuuuuuuurse!! T-tidak kusangka kau akan ikut campur, dan bukan hanya itu, perutkuuuuuu, aaaaaaaaaa!? Aku ini dewa, aku yang telah mendapatkan keilahian Dewi Lutos, beraninya kau menghancurkan Divine Barrier miiiiilikkuuuuuuu!"

Bahkan bagi tubuh seorang dewa, serangan Raja Kutukan itu terasa sangat berat. Lumen terus meronta dalam rasa sakit yang setara dengan penderitaan maut.

"Tidak, tidak, tidak! Ini sama sekali tidak menyenangkan!! Seharusnya Snow lebih menderita lagi. Pada akhirnya, ini seharusnya menjadi akhir di mana dia memohon dan menjilat padaku──eh?"

Tiba-tiba dia menyadari, ada sebuah telepon yang diletakkan di ruang putih bersih itu. 

Sebuah telepon hitam──apakah benda seperti ini memang ada di sini?

"...Telepon?"

KRIIIIIIIIIING

Rasa merinding menjalar di tubuhnya.

Saat telepon itu berdering, Lumen merasakan sensasi yang aneh. 

Karena telah menyatu dengan dewa, dia sampai lupa bahwa sensasi itu adalah rasa takut.

Hal itulah yang menentukan takdirnya. Lumen yang telah melupakan rasa takutnya, entah kenapa malah mengulurkan tangan ke arah telepon itu.

"Aku Nutos-sama. Sekarang, aku sedang berada di Ibukota Kekaisaran."

"...Hah?"

Secara refleks, dia melepaskan gagang telepon itu seolah-olah membantingnya.

"B-barusan itu, apa-apaan..."

KRIIIIIIIIIING

"Aku Nutos-sama. Sekarang, aku sedang berada di gerbang surga."

"!?"

Praaang!! Lumen menghancurkan telepon itu.

"Haa, haa, d-dengan begini──"

KRIIIIIIIIIING

"J-jangan bercanda, jangan bercanda denganku!!"

Lumen tidak mau lagi menyentuh gagang telepon itu. Sambil melangkah mundur, dia mencoba untuk pergi dari tempat itu.

"Aku Nutos-sama."

Sebuah suara terdengar dari telepon.

"K-kenapa bisa, padahal aku belum, mengangkat, teleponnya──"

"Sekarang, aku berada tepat di belakangmu──Curse juga ada di sini."

Jleb. 

Sebuah lengan menembus keluar dari dada Lumen. Bukan, dia baru saja tertembus oleh tikaman tangan dari belakang.

"A, gah."

Tangan yang menembusnya itu sedang menggenggam sesuatu. 

Sesuatu yang berwarna merah dan berdetak itu──merupakan titik vital bagi manusia maupun dewa, jantung.

"H-hii, aaaaaa, aaaaaaaaaa, hentikan, hentikan, jantungku, jantungku."

"Kehih."

"Kehih."

"Kehih."

Saat tiga suara tawa menjijikkan yang saling tumpang tindih itu terdengar, tangan yang menembus dadanya itu meremukkan jantungnya. 

Itulah pemandangan terakhir yang Lumen lihat dan dengar di akhir hayatnya.

◇◇◇◇

Aktivitas lakon penjahatku kali ini juga sangat sukses.

Soal hukuman gantung itu, aku melindungi tulang leher dan sarafku dengan energi kutukan agar oksigen tetap mengalir ke otak. 

Sambil melakukan pijat jantung menggunakan sihir petir, memasuki kondisi mati suri adalah hal yang sangat mudah bagiku.

Setelah itu, aku kembali sebagai Curse, mengawasi aksi Snow, mengantar kepergian Core, lalu membereskan Lumen. Ini benar-benar sangat memuaskan, ya.

Namun, ada sebuah masalah.

Setelah menjadi Curse, aku buru-buru kembali ke tiang gantungan. 

Di sana aku masuk ke kondisi mati suri lagi, lalu pergi ke alam dewa bersama Nutos-sama untuk membereskan Lumen yang telah menjadi dewa.

Sampai di sini semuanya masih berjalan lancar.

Masalahnya dimulai dari sini.

Aku benar-benar diperlakukan seperti mayat dan dibawa ke Akademi Sihir. 

Di sanalah aku pulih dari kondisi mati suriku. Singkatnya, inilah yang terjadi──.

"Tidak, tidak, tidak, tidak. Bangunlah, bangunlah... Kastani... bangunlah...!! Aku, aku masih punya banyak sekali, banyak sekali hal yang ingin kubicarakan denganmu...! Kenapa harus kamu...!"

Snow menangis histeris.

"Ini semua, ini semua salahku. Lagi-lagi, aku... pada akhirnya, pada akhirny aaaaaaa."

Dia benar-benar menangis sesenggukan...

"Brother... aku, aku tidak akan menerimanya. Aku tidak akan pernah menerima akhir yang seperti ini!"

Darah menetes dari kepalan tangan Aki.

"Kastani, aku, aku ini masih belum bisa membalas budi apa pun padamu...! Kenapa harus kamu terus yang menanggungnya...!"

Suara Eugene terdengar bergetar.

"Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh seperti ini, kamu masih harus hidup...! Kakakku dan aku bisa sampai di titik ini karena ada kamu."

Sarah juga ada di sana rupanya.

"Tidak, tidak mau! Cepat bangun! Dasar bodoh!! Padahal kita sudah berjanji untuk pergi kencan belanja bersamaaaaaa! Dasar bodohhhhh!"

Barusan, apa dia memanggilku bodoh? Tunggu, bukan itu, bahkan ada Shiraha si gyaru bergigi gingsul dengan rambut merah muda kuncir dua.

Benar dugaanku, dia mirip dengan Wakaba dan Senpai dari Desa Last Dungeon... Ah, Mitekiba!! 

Nama keluarganya!! Bohong!! Jangan-jangan desa itu adalah milik keluarga Shiraha──.

"Kastani Kastani Kastani Kastani Kastani Kastani Kastani"

Gawat, bahkan Kotori juga sudah sepenuhnya terselimuti aura gelap.

Ya, aku jadi tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk membuka mata.

Apa sebaiknya aku membiarkan diriku dikubur begitu saja, agar kisah Kastani Takihito berakhir sejenak di sini? 

...! Tiba-tiba aku mendapat sebuah ide yang cemerlang...! 

Aku yang dimasukkan ke dalam peti mati, tetapi pada hari pemakaman ternyata peti itu kosong melompong...

"Oi bodoh, hentikan."

"Orang ini benar-benar tidak pernah mendengarkan perkataan orang lain, ya."

Navi dan Nutos-sama melontarkan protes padaku, tapi aku sama sekali tidak peduli.

Kastani Takihito, arc Vampir...! Keren banget, kan? Peran penjahatku yang selanjutnya sudah diputuskan...!

Terasa sangat cocok untuk penjahat, bagus!

Hm? Entah kenapa aku tiba-tiba merasa merinding. Ada apa, ya. Saat aku membuka mataku sedikit.

"...──Takihito, kamu sudah bangun?"

Mata Snow yang gelap gulita dan hampa itu sedang menatap lurus ke arahku.

...Bagus!

"Apanya yang bagus."

TAMAT



Final Chapter | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close