Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Dirawat
oleh Snow
Peran penjahat kali ini juga sangat luar biasa. Pahlawan
yang menanggung seluruh kutukan di dunia demi melakukan apa yang harus dia
lakukan.
Lalu, ada Snow yang bertarung untuk menyangkal kutukan
Pahlawan tersebut dan melindungi martabatnya. Serta aku, yang menyela
pertarungan antara Pahlawan dan Raja Iblis, lalu pada akhirnya mengalahkan
mereka semua demi menyempurnakan peran penjahat yang terbaik.
Jika kurang satu orang saja, peran penjahat ini tidak
akan pernah selesai. Kami adalah satu tim, dan kami berhasil mendapatkan hasil
yang terbaik.
"Tim yang sungguh tidak tahu malu, ya."
Seperti biasa, Navi memang tidak bisa memahami hati
manusia. Saat ini aku sedang terbaring di ranjang rumah sakit demi
menyelaraskan cerita peran penjahatku.
Ceritanya seperti, aku dihukum gantung tapi secara
ajaib berhasil selamat. Itu adalah sandiwara kematian pengikut demi memicu event
kebangkitan Snow, tapi efeknya benar-benar luar biasa.
Adegan dramatis di mana aku dibunuh karena
kesalahannya, namun dia tidak menyerah dan memutuskan sendiri apa yang harus
dilakukan untuk menantang Raja Iblis. Pandanganku memang tidak pernah salah.
Seperti yang kuduga, Snow memendam potensi yang luar
biasa sebagai seorang protagonis. Dia memang memiliki pemikiran menyalahkan
diri sendiri yang agak kuat, tapi aku justru ingin mengembangkan hal itu
sebagai ciri khasnya.
Sifat buruk seperti itu tidak perlu diperbaiki. Jika
dia terus tumbuh dengan baik seperti ini, suatu saat nanti dia pasti akan
mencapai identitas asliku──Curse, sang penjahat terkuat.
Nah, tentang kandidat protagonis kita, Snow──sepertinya
sedang terjadi sedikit... masalah.
Tok, tok, tok.
"Selamat pagi, Kastani."
Setelah ketukan yang sopan itu, orang yang
mengunjungi kamar rawatku adalah Snow. Sebenarnya tidak masalah dia datang
menjengukku, tapi...
"Kastani... apa kamu sedang tidur?"
"..."
Saat aku menunggu sambil berpura-pura tidur.
"──Takihito."
──Sudah dimulai, ya.
Aku membuka mataku sedikit dan memastikan keadaan
Snow──mata gadis itu tampak begitu suram.
Biasanya, mata bulatnya yang besar itu memantulkan
warna cerah seperti langit biru di hari yang cerah, tapi sekarang mata itu
bagaikan kegelapan itu sendiri. Dengan tatapan yang suram itu, Snow terus
menatap wajahku.
"Takihito. Kamu terlihat manis saat tidur
nyenyak. Aku merasa tenang melihatmu tertidur damai seperti itu, karena saat
kamu tidur, kamu tidak akan melakukan hal-hal yang berbahaya. Tapi, aku juga
merasa cemas saat melihatmu menutup mata. Aku teringat saat kamu digantung oleh
Lumen──saat kamu berhenti bergerak tepat di depan mataku. ...Asal kamu tahu,
aku sangat senang. Saat aku terpilih menjadi Pahlawan dan tidak ada seorang pun──bahkan
Aki──yang bisa menemaniku, kamu bersinar dengan warna pelangi dan datang
menyelamatkanku, aku benar-benar bahagia. Tapi, aku tidak mau jika akhirnya
kamu yang terluka. Tidak, aku tahu kok, yang salah itu aku."
Aku senang karena wujud Rainbow Kastani itu
meninggalkan kesan yang kuat padanya, tapi...!
"Kamu harus terluka karena aku terlalu lemah. Baik
di kehidupan sebelumnya maupun di dunia ini, kamu selalu menjadi orang yang
berani dan sangat baik hati. Makanya kamu selalu saja terluka. Itu semua karena
aku lemah dan tidak bisa diandalkan. Benar, selalu seperti itu sejak dulu. Saat
di pulau tak berpenghuni, kamu juga bertindak nekat untuk menyelamatkan Tadano
dan yang lainnya, kan. Tadano dan yang lain juga selalu, selalu
mengkhawatirkanmu. Di Hutan Terlarang, saat Lux mengincar kita──saat Aki dalam
bahaya, kamu juga bertarung bersama Aki. Dan kali ini juga, kamu selalu
bertarung demi seseorang dan selalu terluka... kenapa harus selalu kamu yang
mengalami hal seperti ini?"
Tangan Snow yang lentik dan seputih pualam membelai
keningku. Ia mengelusnya berkali-kali, lagi dan lagi tanpa henti.
Ujung jemarinya terasa sangat dingin hingga membuatku
merinding.
"..."
"Eh, kamu mau terus pura-pura tidur?"
Habisnya, Snow di pagi hari itu menakutkan, tahu.
Sikapnya yang seperti ini bisa berlangsung selama lebih dari satu jam, lho!
"Tidak kusangka Raja Kutukan takut pada seorang
gadis kecil... heh."
Sialan! Brengsek!! Ketawa apa barusan!! Iya, aku
mengerti, aku cuma perlu bangun sekarang, kan!
"Ngh, eung..."
Aku dengan berani membuka mataku lebar-lebar. Dalam
sekejap, Snow melepaskan tangannya dari keningku, memperbaiki postur tubuhnya,
lalu tersenyum.
"Ah, Takihito... selamat pagi... syukurlah, kamu
sudah bangun ya."
"Ah, haha. Selamat pagi, Snow."
"Fufu, maaf ya aku tiba-tiba berkunjung sepagi ini.
...Aku akan segera menyiapkan makananmu."
Sikap Snow tampak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Tapi, matanya masih terlihat suram.
Ya, dia benar-benar menakutkan.
Snow dengan cekatan menyiapkan makananku. Itu adalah
makanan rumah sakit yang mirip seperti makanan bayi, terbuat dari campuran
susu, gandum, dan tanaman obat.
Sebagai efek samping dari hukuman gantung, ceritanya
tenggorokanku sedang terluka──sehingga butuh waktu sekitar satu bulan sampai
aku bisa menelan makanan padat lagi.
"Silakan, kunyah pelan-pelan ya."
Snow menyodorkan sendok berisi makanan cair itu dengan
senyuman bagaikan seorang Bunda Suci. Sepertinya dia ingin menyuapiku, tapi...
"T-terima kasih..."
Ugh... Makanan cair kental yang mirip bubur ini...
rasanya benar-benar tidak karuan karena dicampur dengan tanaman obat...
Kalau diibaratkan... rasanya seperti campuran obat herbal
Cina, daun mint, dan daun ketumbar.
Sepertinya dia menyadari keraguanku. Dengan suara yang
muram, Snow berkata.
"Takihito... tenggorokanmu, pasti sakit, ya..."
Snow menatap lekat-lekat memar biru yang tersisa di
leherku (Catatan: memar yang kubuat sendiri sebagai alibi).
Gawat! Mata Snow perlahan-lahan menjadi semakin gelap!
Sambil menggetarkan tangannya yang menggenggam
sendok──.
"Maafkan aku... ini, ini semua... ini semua karena
aku tidak bisa melindungimu... Aku malah membiarkan orang seperti Lumen...
melukaimu! Membuat tubuhmu jadi seperti ini sampai-sampai tidak bisa makan
dengan benar... T-tapi, tapi asal kamu tahu, Takihito, kamu tidak perlu
khawatir."
Mata Snow terbelalak dan pupilnya bergetar. Mulutnya
tersenyum, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum...!!
Snow menggenggam tanganku dengan sangat erat. Aku
bisa merasakan intimidasi yang tidak mengizinkan penolakan sedikit pun!
"Kalau saja... di masa depan nanti Takihito tidak
bisa makan sendiri lagi, aku akan terus berada di sisimu dan menyuapimu seumur
hidup. Selalu, dan selalu, untuk selamanya."
Dia mengatakan sesuatu yang sangat gawat, ya. Bagaimana
menurutmu, Navi?
"Bagaimana tanggapanmu sebagai ahli hati
wanita?"
Ini sih sudah bukan lagi masalah soal hati wanita, tahu.
"Aku akan menjadi lebih kuat... Aku tidak akan
membiarkan siapa pun melukaimu lagi. ...Aku akan menjadi sama kuatnya dengan
Curse, pria tangguh itu. Kali ini aku akan menjadi cukup kuat untuk
menyelamatkan orang-orang seperti Core──aku akan menjadi seseorang yang lebih
kuat dan lebih hebat daripada kakak... Makanya,
kumohon... Takihito, kamu jangan pernah pergi ke mana-mana, ya?"
"A-ah, baik."
S-sial...!
A-aku ini adalah sosok penjahat terkuat sekaligus
puncak dari segala misteri, seseorang yang dicintai oleh ladang dan sangat
mencintai pertanian──aku yang bahkan bisa bersinar dengan warna pelangi jika
aku mau, sedang terdesak begini!?
"Soal bersinar dengan warna pelangi itu lumayan
tidak penting, tapi memang begitulah kenyataannya."
Aku kalah dalam hal intimidasi dan nyali...
Snow, ya ampun... dia benar-benar sudah berkembang...!
Tapi, aku sama sekali tidak menyangka dia akan
berkembang ke arah yang sesuram dan semengerikan ini...!
Ayo analisis. Aku harus menganalisis situasinya, Kastani
Takihito.
Dengan IQ-ku yang sangat tinggi ini, tidak ada masalah
yang tidak bisa diselesaikan!
Alasan Snow menjadi seperti ini adalah karena sandiwara
kematian yang kutunjukkan tepat di depan matanya itu terlalu menyakitkan.
Singkatnya──semua ini pasti disebabkan oleh rasa khawatirnya padaku...!
"O-ooh... ada apa denganmu, Player? Analisis situasimu sangat akurat, tidak seperti dirimu yang
biasanya."
Jangan menggunakan kata-kata yang sulit begitu,
dong!! Dasar kau ini!
"Aku tidak menggunakannya, lho."
Ugh, seperti biasa Navi memang tidak bisa
diandalkan...!
Aku hanya bisa mengandalkan IQ-ku yang tinggi serta
pemahamanku yang mendalam tentang hati wanita!
Untuk menghilangkan kondisi Snow yang aneh dan suram
ini──aku hanya perlu membuat dia berhenti mengkhawatirkanku!
"Takihito, apa ada... sesuatu yang ingin aku lakukan
untukmu? Katakan saja apa pun, ya? Soalnya, aku selalu menerima banyak hal
darimu..."
Ini dia! Saatnya tiba!!
Di sini, dengan kemampuan komunikasiku yang sempurna, aku
akan memberitahu Snow bahwa aku baik-baik saja!!
"Terima kasih, Snow──tapi aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir begitu! Lihat, aku bahkan sudah bisa berdiri
sendiri, kan!"
Aku langsung beranjak dari tempat tidur. Sambil
menunjukkan senyuman, aku memperlihatkan bahwa kondisiku sudah mulai pulih
tanpa membuatnya curiga.
"Takihito..."
Melihatku seperti itu, Snow tersenyum kecil.
Aku menang──.
"Aku... memang tidak bisa diandalkan, ya."
Hm?
Tiba-tiba saja, ekspresi wajah Snow kembali meredup.
"Aku, lagi-lagi... memaksamu untuk melakukan hal
yang mustahil, kan..."
Hng??
G-gawat, sepertinya tidak mempan...! Malahan suasananya
jadi semakin suram...! A-ada apa dengan anak ini, apakah dia ini reinkarnasi
dari musim hujan...!?
"Itu karena kamu terlalu baik, makanya kamu
memaksakan diri seperti itu... Tapi, tapi kamu tenang saja, aku
akan berusaha keras... Aku akan berusaha agar Takihito tidak perlu terluka lagi
untuk kedua kalinya, ya."
K-kenapa gadis-gadis di sekitarku tidak pernah ada
yang mau mendengarkan perkataan orang lain, sih...!!
"Bukankah itu karena kamu sendiri juga tidak mau
mendengarkan orang lain?"
Kapan aku pernah tidak mendengarkan perkataan orang lain,
hah! Aku tidak mau dengar omong kosong seperti itu, tahu! Ya ampun, Navi ini!
A-aku harus segera memperbaiki situasi ini. I-ini sangat tidak sehat! Snow yang merupakan protagonisku harus
tetap sehat dan waras...!
Tepat pada saat itu. Pintu kamar rawatku kembali terbuka.
Sosok yang muncul adalah──.
"Snow, bagaimana kondisi Brother──ups..."
A-Aki!! Si bos tampan yang merupakan penganut brocon
sehat, Aki Von Schwartz telah tiba!
Bagus, kalau ada Aki di sini, dia pasti bisa mengatasi
kesuraman Snow──.
"Apa kamu... berniat memaksakan diri lagi, Brother."
"Hm?"
Aki berdiri di sebelah Snow, menatapku lurus-lurus. Dia
memasang ekspresi seolah sedang menahan rasa sakit.
"Benar, Brother, aku seharusnya sudah tahu
kalau kamu akan bertindak nekat demi Snow... Aku memang telah gagal sebagai
seorang kakak..."
Ternyata Aki juga sama kacaunya.
"Takihito."
"Brother."
Kakak beradik berambut pirang yang sama-sama memancarkan
aura suram itu, perlahan-lahan mulai mendekat ke arahku.
"Aku pasti akan"
"Aku yang akan"
Keduanya menatapku dengan sorot mata yang begitu mirip,
sepasang mata yang benar-benar suram dan hampa.
""Melindungimu.""
Lalu, Nutos-sama yang diletakkan di dekat bantalku,
tiba-tiba bergumam──.
"Kocak."



Post a Comment