NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 2 Chapter 4

Chapter 4

Kutukan, Bakarlah Keadilan yang Telah Berakhir Itu


Sudut Pandang Snow

Situasi ini benar-benar buruk. Saat membuka mata, tempat ini adalah lokasi yang sama sekali tidak kukenal.

"Te-tempat ini...... di mana?"

Di atas panggung yang dilapisi bunga, kami—para siswa dari Akademi Naga—diletakkan dalam posisi telentang. Hanya aku yang terbangun di sana.

Beberapa siswa lainnya juga tidak terlihat. Kasutani-san pun tidak ada di sini.

Ini adalah teater berbentuk lingkaran, atau mungkin lebih tepat jika disebut stadion sepak bola. Di tengah stadion itu, ada sesuatu yang menyilaukan mata.

Itu adalah api. Sebuah api raksasa yang melayang di udara.

"Waaaaaaahhhhhhhh!!"

Sorak-sorai itu sangat keras, tekanannya bahkan melebihi pertandingan olahraga internasional. Kami benar-benar dikelilingi oleh tribun penonton, persis seperti di dalam stadion.

Orang-orang berteriak, bertepuk tangan, dan tertawa dengan riang. Penontonnya—baik pria maupun wanita—semuanya terlihat cantik dan awet muda.

Pakaian kuno yang mereka kenakan terlihat familiar. Apakah itu mirip dengan gaya kekaisaran sebelum Perang Manusia-Iblis yang pernah kupelajari dalam sejarah?

Penonton yang bersemangat itu menatap kami dengan sorot mata penuh gairah yang tidak menyenangkan. Sebagai seseorang yang sangat menyukai game fantasi, aku bisa memahami situasi ini.

Hahaha, ini pasti adalah ritual pengorbanan.

"Eh? Kalian sudah bangun?"

"Menyedihkan sekali, si penanggung jawab amarah. Selain tidak bisa dihubungi, kau bahkan tidak bisa menyegel kesadaran calon penyihir ini."

"Wahahahaha! Pasti dia asyik bermain dengan Eugene-kun! Senang melihatnya tampak menikmati, bukan!"

Tiga gadis kecil melayang di sana. Begitu mereka muncul, sorak-sorai penonton menjadi jauh lebih megah.

Sekali melihat, aku langsung paham. Mereka itu bukan manusia.

"Kalian, bukan manusia, kan?"

"Ahahaha! Kau hebat sekali, ya! Bisa tahu hal seperti itu! Baiklah, mari kita mulai dengan perkenalan diri."

Energi sihir mereka sangat dahsyat. Jika energi sihir manusia diibaratkan seperti angin sepoi-sepoi, mereka ini bagaikan badai.

"Nama kami adalah Chandra──dewa kuno yang agung. Kami adalah dewa kebaikan yang menjadi standar dan keadilan bagi seluruh dunia."

Chandra? Jangan-jangan, dewa pelindung utopia itu? Sosok yang berulang kali muncul dalam legenda dan mitos......

Hm? Eh? Tapi firasat ini terasa janggal.

"Kalian ini roh, ya?"

"......Ha?"

Namun, aku tahu kebenarannya. Bakat yang telah menyertaiku sejak lahir berbisik dengan jelas.

Eksistensi di depanku ini bukan dewa, melainkan roh.

"A-ahaha. To-tolong jangan bicara sembarangan. Roh? Kau menganggap dewa sebagai roh?"

Wanita berambut panjang itu tergagap. Roh ini sangat tua, dan mustahil bagiku untuk menaklukkannya sekarang.

Suara penonton menjadi lebih keras.

"Menyedihkan, rakyat kami yang manis sedang marah. Roh, jangan disandingkan dengan eksistensi rendahan seperti itu──"

"Ah, tidak perlu bicara seperti itu. Tolong jawab pertanyaanku."

"!! Menyedihkan, ada apa dengan anak ini......"

"Kalian yang membawa kami ke tempat ini, bukan?"

"Wahahaha! Me-menarik sekali kau ini! Tapi lebih dari itu, lihatlah api itu!!"

Gadis kecil berambut hijau yang paling muda menunjuk ke arah api raksasa itu.

"Kalian, para calon penyihir, mulai sekarang akan──ke dalam api suci itu──"

"Tidak, penjelasannya sudah tidak perlu."

"......Hah??"

"Lagipula kami akan dijadikan pengorbanan untuk api itu, kan?"

"!!??"

Tiga dewa, tidak, tiga roh itu membelalakkan mata dan terpaku.

"Ahaha, anak itu kenapa sih? Kenapa dia begitu cepat memahaminya?"

"Terlalu menyedihkan, dia tidak takut pada apa pun."

"Reaksinya beda sekali dengan yang kubayangkan! Identitas kami juga bocor──uhuk, maksudku, intuisinya luar biasa aneh!"

"Permisi, apa sudah boleh sekarang?"

"E, eeh?? Anu, kau tidak penasaran? Di mana tempat ini atau kenapa kalian diculik ke sini?"

"Penjelasan tidak diperlukan, bukankah sudah kukatakan?"

Pikiranku sangat jernih, bahkan membuatku sendiri terkejut. Ini polanya persis sama dengan kejadian Pangeran Pertama waktu itu.

Entah prom atau kejadian kali ini, akhir-akhir ini banyak sekali masalah, ya. Sekarang, kami sedang diserang.

Dadaku terasa panas, tapi kepalaku tetap dingin. Mari kita lakukan apa yang harus dilakukan.

Snow von Lichte, ingatlah. Saat seperti ini, orang-orang itu──Kakak, atau Kasutani Takihito──pasti akan......

Kita harus melindungi semua orang!

Serahkan tempat ini padaku!

Ya, mereka pasti akan melakukannya.

"Atas nama keluarga Duke Lichte, salah satu dari Tiga Adipati Kekaisaran, aku memberikan peringatan."

"Kalian telah melanggar hak dan keamanan para siswa Akademi Naga."

"Segera kembalikan kami ke tempat semula. Jika tuntutan ini tidak dipenuhi──"

Aku menyalurkan sihir ke tongkat sihir yang menjadi katalis. Setelah menggenggam benda yang kini berubah menjadi pedang cahaya itu, aku mengarahkannya kepada mereka.

"Aku akan melenyapkan kalian, wahai Roh Agung."

"Kami adalah dewa."

"Kalian pembohong."

"Ahaha, aku jadi sedikit kesal, nih."

Roh berambut panjang mengarahkan ujung jarinya padaku. Seketika, bulu kudukku berdiri di sekujur tubuh.

Sihir tanpa mantra──teknik sihir tak terlihat yang digunakan oleh Lux──! Tapi, aku sudah tahu itu.

Aku tidak akan membiarkan diriku terkena teknik yang sama untuk kedua kalinya!

"Seni Roh: Rainbow Repulsion──huu, teyaaaaaa!!"

"!??"

Boooooom.

Segala sesuatu di depanku, udara maupun sihir, kutebas sekaligus dengan Seni Roh milikku. Waktu melawan Lux, teknik ini sempat menjadi bumerang, tapi aku sudah berlatih dengan benar!

"Boong banget, manusia bisa menangkis peluru sihirku."

"Karena ini bukan pertama kalinya orang melakukan itu padaku."

"──Ah, begitu ya. Firasat tadi...... mungkinkah kau seorang Spirit User? Kau punya Gift, kan?"

"......Tahu sekali, ya."

"Aha, ternyata benar! Hmm, jadi begitu. Kau adalah Spirit User di zaman sekarang, ya...... La-chan, menurutmu bagaimana?"

"Wahahahaha! Dia jauh lebih lemah dibandingkan Yuusha! ......Tapi, dia tidak takut pada kami, itu mirip dengan Yuusha...... menyebalkan sekali."

"Tsk!"

Suasana di antara para roh itu berubah. Tadi mereka hanya bermain-main, tapi sekarang permusuhan mereka benar-benar nyata──.

"Menyedihkan...... tapi...... jika lawannya adalah seorang Spirit User...... imanmu masih kurang, ya."

Roh yang suram menunjuk ke arah tribun penonton. Apa yang akan dia lakukan?

"Sedih sekali, tapi, sepuluh orang ke sini."

"Eh?"

Detik berikutnya, aku melihat sesuatu yang mengerikan.

"I-ini dia! Aku bertatapan dengan Chandra-sama yang penuh kesedihan!"

"Aku! Aku yang dilihatnya!"

"Ya ampun, Chandra-sama! Dewa baik yang memberikan keabadian pada kita!"

Penonton berdiri dengan wajah penuh sukacita, tepat sepuluh orang, tidak peduli tua atau muda, pria maupun wanita.

"Persembahkanlah."

"Baik!!"

"Eh?"

Sring.

Sepuluh orang itu secara bersamaan menusukkan pisau ke jantung masing-masing. Pisau yang diperkuat sihir itu dengan mudah membelah daging dan tulang, lalu menghancurkan jantung mereka.

Orang-orang jatuh bertumbangan satu per satu. Roh berambut ungu tersenyum tipis melihat kejadian itu.

"Sedih sekali, tapi, anak-anak yang baik."

"!!"

Tekanan energi sihir yang menyelimuti roh itu meningkat berkali-kali lipat......? Jangan-jangan......

"Apakah kalian...... memakan jiwa mereka?"

"Benar. Mereka adalah anak-anak yang telah kami lindungi selama ratusan tahun untuk saat ini."

"Dijadikan makanan...... hal seperti itu, tidak akan pernah kumaafkan......"

"Ahahaha! Begitukah? Tapi lihatlah wajah mereka semua, apa kau masih berpikir begitu?"

"Eh?"

Di tempat yang ditunjuk roh berambut panjang—tribun penonton—di sana──.

"Ya ampun, Sayang, Sayang...... ah, betapa membahagiakannya ini!"

"Ayah! Waaaaa, Ayah meninggal, aku senaaaang!"

"Aku bisa mempersembahkan putraku pada Chandra-sama, aku berhasil!"

Mereka merasa bahagia. Keluarga dari orang-orang yang diperintahkan dewa untuk mengakhiri hidupnya sendiri, semuanya tersenyum dan benar-benar merasa gembira......

"Rakyat Chandra sangat mencintai kami, lho."

Krek.

Ah, putus. Sudah pasti, beberapa pembuluh darah di kepalaku putus.

"Kalian...... hari ini, akan kuakhiri."

Instingku sebagai Spirit User menjerit. Di sini, aku harus benar-benar melenyapkan mereka.

"Waaaaaahhhhhh."

Sorak-sorai lagi.

"Sepertinya persiapannya sudah selesai."

Ke arah yang ditunjuk penonton, dan ke arah pandangan para Chandra, ada sebuah singgasana yang melayang. Di atas api yang bergejolak, terdapat dua singgasana yang mengapung berkat sihir.

Di sana, duduk seseorang──.

"......Snow, sama?"

"......"

"!! Sara-san!! Mitekiba-san!?"

Dua orang yang hilang! Aku harus segera menurunkan mereka dari sana......!

"Seni Roh: Double Element!"

Memperkuat tubuh dengan Seni Roh──mengubah sirkuit sihir menjadi sirkuit roh. Dengan teknik ini, aku bisa terbang sesaat dan melompat ke posisi singgasana!

Aku menendang tanah, merasakan sensasi melayang, sekali lagi membuat pijakan dengan Seni Roh, dan terus melompat. Aku melompat hingga mencapai ketinggian yang sama dengan singgasana.

Bisa, aku masih punya waktu beberapa detik untuk melayang!

"Sara-san! Mitekiba-san! Kemarilah──!"

Begitu tanganku terulur, aku menyadari dua hal. Tangan dan kaki mereka terpasang borgol sihir yang berat.

Dan──kondisi Mitekiba-san, aneh.

"......"

Jantungnya──tidak ada. Ekspresinya hampa, dadanya berlubang, lubang hitam terbuka lebar──bohong, ini mati──.

"Snow-sama!! Bahaya!"

Eh? Sara-san berteriak.

"Wah wah? Penuh celah. Apa kau pikir mereka berdua baik-baik saja?"

"Tsk!"

Sial──. Di depanku, roh gadis kecil mengayunkan sabit besar──pertahanan──ah, tidak sempat──.

"Gift: White Knight Medal."

Cahaya putih menutupi pandanganku. Sesuatu yang menangkis sabit roh itu adalah pedang yang bersinar putih.

Aku berhasil mendarat dengan susah payah.

"Kau, adalah......"

"......Aku terkejut. Snow von Lichte-sama. Tidak kusangka kesadaran Anda sudah kembali."

Pakaian kesatria putih, topeng putih. Pedangnya telah memutus lengan roh itu.

Energi sihir ini...... aku tahu.

"Kau adalah...... jangan-jangan......"

"Kakak!!??"

Sara-san yang duduk di singgasana berteriak.

"Maaf, Snow-sama. Waktu untuk menjelaskan terlalu berharga. Untuk saat ini, mohon──"

"Tidak, penjelasan tidak diperlukan. Eugene Tadano."

"Eh?"

Aku melangkah satu langkah ke depan.

"Mari kita hajar mereka."

"──Tsk...... Anda benar-benar orang yang kuat seperti yang dia katakan."

"?"

Yah, terserahlah. Penjelasan mendetail sudah tidak diperlukan lagi.

"Wahahahaha!! Sakit sekali!! Aah...... sakit sekali, sialan."

Sambil meregenerasi kedua pergelangan tangannya yang ditebas Tadano-san, roh gadis kecil itu bergumam. Senyum cerianya hilang, berganti dengan ekspresi tanpa emosi.

"Ahaha, bukankah ini si Pangeran Sampah? Hmm, kenapa si penanggung jawab amarah tidak ada di sini?"

"......Menyedihkan. Kau ada di sini, tapi penanggung jawab amarah tidak, itu artinya......"

"Yah, aku sendiri pun berpikir dia ada di sini."

"......Pangeran Sampah, kau sedikit berubah, ya? Dulu kau begitu ketakutan saat melihat kami, bukan? Benar, kan semuanya?"

Roh itu bertanya pada penonton.

"Kalau bangsawan, jadilah bangsawan dan matilah demi rakyat!"

"Untuk apa jadi bangsawan! Cepat persembahkan dirimu ke api! Kau pendosa, kan! Bertanggung jawablah!"

Sorak-sorai, makian.

"Tuh, tuh. Kau bangsawan, kan? Bangsawan itu pendosa, lho? Chandra yang begitu kuat dikalahkan oleh orang barbar seperti Arteria. Rakyat yang menghabiskan waktu di bawah tanah seperti ini juga karena ulah kalian para bangsawan──"

"......Terserah."

"Eh?"

"Ketakutan, rasa bersalah, maupun penyesalan, sekarang semuanya tidak penting lagi. Aku sudah tahu bahwa kampung halaman, rakyat, dewa, bahkan seluruh dunia tidak menginginkan keberadaanku, dan bahwa aku ditakdirkan untuk tidak bisa hidup secara normal."

"Lalu, kenapa kau tidak putus asa?"

Roh berambut panjang itu bergumam dengan nada kesal.

"Kutukan yang kalian berikan padaku semuanya──telah dihapus oleh temanku."

"Hah?"

Energi sihir dari tiga roh itu bergejolak. Mereka memasuki posisi tempur.

"Aku akan menyesuaikan diri, Tadano-san."

"Terima kasih, Snow-sama."

......Sudah waktunya, ya? Kalau aku saja bisa bangun.

"──Aki!! Sudah waktunya bangun!! Tolong bantu aku! Lawannya ada tiga!"

"Ugh, uuu."

Aki mengerang di atas panggung yang dilapisi bunga. Ah, tidak ada pilihan lain! Padahal aku tidak ingin menggunakan cara ini!

"──Kakak! Bangun!!"

"......!! Haaaaa!!"

Aki melompat bangun, berputar di udara, dan mendarat di depan kami.

"──Bagaimana situasinya?"

"Tiga roh di depan adalah musuh! Orang itu Tadano-san, dia kawan!"

"Mengerti, adikku. Gift: Black Knight Charter."

Aki segera mengenakan baju zirah otonom berwarna hitam dan bersiap tempur. Memang bisa diandalkan, bicara dengannya selalu cepat.

"Sekarang jadi tiga lawan tiga, ya."

Pertempuran pun dimulai. Para roh mengerahkan energi sihir yang dahsyat.

Tidak apa-apa, aku bisa bertarung, kami bisa bertarung. Ingat, pertempuran melawan Pangeran Pertama, cara melawan lawan yang kekuatannya luar biasa.

"Itu dia!"

"Ada celah!"

Satu serangan dari Ksatria Putih dan Ksatria Hitam menghancurkan pedang roh berambut panjang itu.

"Sakit sekali, sialan......!"

Roh berambut panjang itu berdecak lidah sambil mundur. Tiba-tiba, dia tersenyum tipis seolah menyadari sesuatu.

"Ngomong-ngomong, Spirit User dan Ksatria Hitam. Mau kuberi tahu satu hal menarik? Sampah di sana itu, sebenarnya dalam perjalanan ke sini──dia telah membunuh satu siswa Akademi Naga, lho."

"......Aki."

"Tidak masalah, Snow. Aku tidak berniat──"

"Kalau tidak salah, namanya──Kasutani Takihito, kan?"

"!!"

Refleks, gerak tubuh kami terhenti. Begitu juga dengan Aki.

"Ahahaha! Kalian menyembunyikan hal itu tapi sok akrab sebagai teman, apa tidak apa-apa? Tanpa menjelaskan apa pun──"

Aku dan Aki menatap Tadano-san tanpa kata.

"Dia──aku yang membunuhnya."

"Begitu, ya."

"Jadi begitu."

Aku dan Aki secara bersamaan memasang kuda-kuda pedang.

"Ahahahaha!! Begitu! Dia itu pendosa sejak lahir──"

"Seni Roh: Rainbow Meteor."

"Black Knight Charter: Sladiacus."

Peluru sihir yang kulepaskan dari pedangku dan tebasan hitam yang dilepaskan dari pedang hitam Aki.

"Hah?"

Serangan itu menghantam roh tersebut secara bersamaan.

"Kerja bagus, Aki."

"Kau tadi terlalu terbuka, Snow."

Kami saling mengepalkan tangan dan menatap ke depan. Tadano-san menatap kami dengan tatapan kosong.

"Apakah kalian, tidak membenciku?"

"Aku ahli dalam melihat kebohongan."

"Tsk......"

"Begitulah. Eugene Tadano. Kebohongan tidak mempan terhadap kami, kakak beradik."

Aki juga sepertinya melihat kebohongannya. Tapi, nada suaranya terdengar suram.

Ya, aku ahli dalam melihat kebohongan...... Kebohongan yang kami lihat darinya...... hanyalah tentang fakta bahwa dia membunuh Kasutani-san.

Bagian bahwa Kasutani-san sudah mati, itu bukan kebohongan.

......Dia selalu saja melakukan hal nekat di luar pengawasanku......

"......Ahahaha, tidak seru ah, kenapa kalian malah bisa saling memahami di saat seperti itu?"

Roh-roh itu muncul dari asap energi sihir. Sepertinya mereka tidak benar-benar tidak terluka. Mereka jelas mengalami kerusakan.

"......Menyedihkan. Manusia, apakah mereka makhluk yang bisa diajak bicara seperti ini?"

"......Menyebalkan, orang-orang ini──saat Yuusha, manusia tidak mengerti seperti ini."

"La-chan?"

"Yorokobi, sudah cukup. Mari kita lakukan dengan serius. Mereka menyebalkan. Sebagai dewa kebaikan Chandra, aku akan mengadili pendosa ini."

"......Sedih sekali karena si penanggung jawab amarah tidak ada, tapi ya sudahlah. Seperti kata La, sudah cukup, bukan?"

"Ahahaha. Benar juga...... kalau begitu, mari kita mulai──Ritual Pemujaan Api."

Suasana energi sihir yang menyelimuti ketiganya berubah. Energi sihir yang mencekik dan menyelimuti kami.

Ini adalah──pertanda sihir penghalang (barrier magic)!!

"Tsk! Snow!! Siswa lainnya!"

"Aku tahu!"

Bersamaan dengan teriakan Aki, aku mengaktifkan Seni Roh. Dan hampir bersamaan──.

"Seni Roh: Back to Path."

"Dunia Langit: Dazma La Astazoro! Api, adililah yang jahat."

Sret.

Pandanganku diselimuti cahaya. Dunia Langit──puncak dari pertempuran sihir, penulisan ulang dunia yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah mencapai inti dari sihir!!

Ruang virtual yang diciptakan dari energi sihir. Pandanganku yang tertutup cahaya kembali normal.

Langit biru, awan putih, dan kota porselen putih yang berkilauan. Api raksasa itu tumbuh semakin besar. Seolah-olah, matahari kecil.

Tempat ini──Utopia Chandra sebelum mengungsi ke bawah tanah......? Tribun penonton tetap ada, bahkan seluruh rakyatnya, tidak, seluruh dunia bawah tanah ditutupi oleh dunia langit ini......!

Karya luar biasa yang setara dengan Dunia Langit yang dibuat oleh sang Miko dan utusan sebelumnya......!

"Snow! Bagaimana dengan siswa lainnya!?"

"Tipis sekali! Aku sudah mengevakuasi mereka ke luar wilayah ini! Tapi──ah."

"Tsk!?"

"I-ini......"

Tubuhku, tidak bisa bergerak......!

Sampai terbukti tidak berdosa──kalian dilarang bergerak.

Dari dalam api, muncul seorang wanita raksasa. Tubuh dari api, dua pasang sayap di punggungnya, membawa lingkaran cahaya yang membakar di atas kepala dan punggungnya.

Sekali lihat saja aku tahu, ini gawat. Melebihi kesucian dan wibawa Lux yang menggunakan kekuatan Miko......!

Aku adalah dewa kebaikan Chandra. Mulai sekarang, Ritual Pemujaan Api akan dilaksanakan.

Mungkin, dia adalah kumpulan dari ketiga roh itu──tidak, mungkin ini adalah wujud aslinya yang telah kembali.

Tidak mungkin bisa mengukur dewa.

"Ugh, ah."

Sakit kepala, kepalaku serasa mau pecah......! Gawat, kalau tidak cepat...... efek khusus dari Dunia Langit akan aktif──.

Pendosa Snow von Lichte.

Menyatakan dakwaan──gagal mencegah kecelakaan kakak kandungmu, Justia.

"Ah, eh."

Lihatlah dosamu.

Di dalam api, terlihat sesosok bayangan manusia, semakin lama semakin besar dan mendekat.

Halo, Snow-chan.

"......Kakak."

Bayangan yang muncul dari dalam api adalah Kakakku. Justia-nee, yang tewas dalam kecelakaan di dunia nyata sebelum reinkarnasi.

"Ti-tidak, ini halusinasi, pasti ini hanya halusinasi."

Kenapa?

"Eh?"

Kenapa waktu itu kau tidak menolongku?

Sret. Luka besar muncul di wajah Kakak, sama seperti saat itu──. Ya, waktu itu aku hanya berdiri mematung...... Hanya Kakak yang melompat ke jalan untuk menyelamatkan seorang anak kecil.

Hei, Snow-chan. Kenapa kau tidak bergerak bersamaku? Kenapa kau tidak berusaha menyelamatkan anak kecil itu bersamaku? Kenapa?

Keanehan sedang terjadi. Dan itu bukan hanya padaku.

Pendosa Aki von Schwarz.

Menyatakan dakwaan──cinta pada kakak angkat Justia, serta pengabaian kewajiban.

"Bodoh...... Justia......? A, ah...... maaf, aku, tidak bisa melindungimu...... maaf, maaf......"

Aki berdiri mematung di tempat. Aku tidak tahu apa yang dia lihat. Tapi, pasti yang dia lihat adalah hal yang sama.

Kakak sedang menatapku.

Snow-chan, licik ya?

Kamu saja yang terlihat bersenang-senang.

Enaknya, Snow-chan. Bisa akrab dengan anak laki-laki dan punya banyak teman.

Kakak sedang tertawa.

"Mi-maafkan aku. Kakak……"

Apa kamu sudah melupakanku?

"Tidak, itu tidak benar. Sama sekali tidak!"

Begitu ya, kamu pasti lega setelah aku tidak ada, kan? Kamu memang membenciku, Snow-chan.

"Tidak! Kakak! Bukan begitu!"

Snow-chan.

"……Ah."

Tanpa kusadari, tanganku sedang menggenggam belati api dengan erat.

Tidak panas, hanya bilah yang bergetar itu yang terus menatapku.

Snow-chan adalah seorang pendosa, kan?

──Benar, aku adalah seorang pendosa.

Ah, lagi. Suara itu terdengar lagi. Suara yang terus bergema sejak Kakak meninggal.

Suara ini pasti adalah──rasa bersalah.

Aku telah melakukan perbuatan jahat.

"Kalau begitu, aku harus meminta maaf pada Kakak……"

Snow-chan adalah seorang pendosa, tahu. Jadi, ayo kita tebus dosanya, ya?

"Benar kata Kakak, aku harus meminta maaf. Dengan mati, tidak, dengan dibersihkan oleh api ini……"

Ya, anak pintar, Snow-chan.

"Terima kasih, Kakak. Kamu mau memaafkanku, ya."

Tentu, asalkan kamu mati.

Senyum Kakak. Ah, senyuman yang sangat dicintai oleh semua orang itu.

Aku mengarahkan belati api ke tenggorokanku. Dengan begini, aku akan dimaafkan.

Ah, akhirnya aku bisa merasa tenang──

Itu tidak cocok untukmu, Snow.

Ah.

Aku teringat akan malam itu.

◇◇◇◇

Udara malam ini terasa begitu nyaman.

Hari ini giliran kelompok kami yang berjaga malam, aku dan Kasutani-san bertugas mengawasi pantai.

"Hei, Snow-san, boleh aku bertanya satu hal?"

"Apa itu?"

Lautan malam, yang disinari oleh bulan tujuh warna, ternyata menyuguhkan pemandangan yang tak terduga dan sedikit romantis.

Seandainya saja cahaya dari Gaming Moon itu sedikit lebih redup……

Sialan, Curse. Dia benar-benar pria yang tidak mengerti perasaan wanita.

"Tentang Kakak yang kamu ceritakan tempo hari, dia orang seperti apa?"

"Kasutani-san, kamu penasaran, ya."

Aku mencoba melunakkan nada bicaraku secara alami.

Aku berharap jarak di antara kami bisa lebih dekat, seperti Weiss-san dengan teman masa kecilnya.

"Ya, kalau memang sulit untuk dibicarakan, maaf ya. Tapi aku sangat penasaran."

"……Karena kamu tidak mengatakan 'tidak perlu cerita kalau tidak mau', itu benar-benar gaya Kasutani-san."

"Begitukah?"

"Ya, benar."

Bukan berarti aku tidak ingin bercerita. Tapi──.

Maaf, Snow! Sisanya, serahkan padaku!

Sampai sekarang, aku masih belum bisa menghapus rasa rendah diri terhadap orang itu.

"……Mungkin dia seperti matahari."

"Matahari?"

"Ya…… dia dicintai oleh semua orang, dan dia mencintai orang lain lebih dari itu. Hanya dengan keberadaannya, semua orang menjadi positif dan terselamatkan. Dia orang yang seperti itu."

Benar, matahari. Sesuatu yang sangat berbeda dari aku yang palsu dan hanya sebuah pajangan, yaitu──.

"Hmm, itu mirip dengan Snow-san."

"──Eh?"

"Snow-san dan Kakakmu itu mirip. Aku jadi ingin bertemu dengannya──"

"Kita tidak mirip!!"

Tanpa sadar, aku memekik keras.

Itu adalah kalimat yang paling tidak ingin kudengar dari Kasutani-san.

Aku hanya ingin kamu melihatku saja.

Pikiranku menjadi kacau.

Meski Kakak sudah tidak ada, aku masih takut dibandingkan dengannya──.

"Ah, maaf…… kita tidak mirip…… Aku bukan orang seperti matahari itu. Sebenarnya aku suram, sifatku buruk, dan aku orang yang mudah berkelahi…… Aku bukan orang seperti matahari itu."

"Manusia itu bukan matahari, Snow-san."

"Eh?"

"Manusia tetaplah manusia. Bukan matahari. Kalau ada orang yang terlihat seperti matahari, itu hanya karena dia berusaha keras untuk menjadi sosok ideal yang dia inginkan──jadi, kakakmu itu sedang berusaha keras."

"……Berusaha, ya. Fufu, kalau begitu, pada akhirnya…… aku tetap berbeda dengannya."

Entah mengapa, mungkin karena suasana laut malam ini.

Mulutku menjadi ringan. Hal-hal yang tidak pernah kubayangkan akan kuceritakan pada orang lain, terus mengalir ke arah Kasutani-san.

"Sebenarnya, aku ini pengecut, licik…… dan orang yang licin. Aku ingin dianggap sebagai orang baik. Aku ingin dibilang hebat. Aku hanya pandai membaca air muka dan perasaan orang lain. Jadi, aku tahu persis apa yang harus dilakukan agar terlihat seperti orang baik──"

"Snow-san, kamu itu luar biasa."

"……Kasutani-san?"

"Meski jati dirimu bukan matahari, kamu tetap mengejar sosok ideal itu dengan sungguh-sungguh. Ya, itu bagus, sangat bagus."

"Ta-tapi, Kakak, kalau Kakak yang di sini, dia pasti akan lebih──"

Seandainya orang itu datang ke dunia ini, pasti dia akan──.

"Yang ada di depanku saat ini adalah Snow-san."

"Ah……"

Otakku terasa seperti meleleh.

Hal-hal yang tidak pernah berniat kuceritakan pada siapa pun, justru terucap begitu saja.

"……Ini menyakitkan."

Tidak, apa yang kulakukan dengan membiarkan dia mendengar hal seperti ini.

Hentikan, hentikan, hentikan, Snow. Ini membuatku terlihat seperti wanita yang membosankan.

"Sejak hari Kakak mati di depan mataku…… selama ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa…… tapi, meski semua orang bersedih, hanya aku yang tidak terlalu merasakannya, bahkan sebaliknya──"

Aku merasa lega.

Kalau Kasutani-san, dia pasti akan mendengarkanku. Mungkin saja, Kasutani-san tahu cara untuk melarikan diri dari penderitaan dan beban ini──.

"Aku merasa lega──"

"Ya. Terima kasih, Snow-san."

"Eh?"

"Sudah, sampai di situ saja."

Dia tidak membiarkanku mengucapkannya lebih lanjut.

"……Kenapa? A-apa ceritaku, membosankan? Ah, ha…… be-benar ya, ahaha, maaf, maaf ya! Ahaha~. Ceritanya berat sekali, ya! Ah, kalau cerita tentang Kakak, aku punya cerita tentang tipe pria yang kusukai! Jadi, jadi……"

Aku merasa malu, wajahku terasa merah padam dan seolah terbakar.

A-apa barusan aku benar-benar terlihat seperti sedang membuat puisi?

Sedikit berat ya, jangan-jangan! Di majalah dibilang kalau pria membenci wanita yang berat──.

"Snow-san."

"Hi-hiya!"

"Tetaplah seperti dirimu sendiri, Snow-san."

"Eh?"

"Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk merasa lega."

Suara ombak laut seolah menghilang. Hanya kata-katanya yang terdengar olehku.

"Ke-kenapa?"

Aku adalah anak yang jahat. Aku adalah anak yang licik. Padahal aku ingin seseorang menghukumku──.

"Itu."

"Eh?"

"Perasaan ingin dihukum agar bisa merasa tenang."

Matanya terlihat memerah sesaat, tapi itu pasti hanya salah lihatku saja.

Aku tidak bisa memalingkan pandangan.

Bulan yang bersinar tujuh warna dan kegelapan malam yang pekat.

Kasutani-san menatapku dengan wajah yang seolah menguasai keduanya──.

"Itu tidak cocok untukmu, Snow."

Aku tidak mengerti maksudnya. Meski tidak mengerti──entah mengapa, aku merasa sangat senang.

◇◇◇◇

"……Tidak bisa, ini tidak berhasil."

Belati api ini—ini bukanlah sesuatu yang harus kutusukkan pada diriku sendiri.

Benar, menjadi tenang itu tidak cocok untukku.

"Eh?"

"Maaf, Kakak. Aku belum bisa pergi ke sana."

Aku menusukkan belati api itu sekuat tenaga ke tenggorokan sang Kakak—bukan, ke tenggorokan bayangannya.

"Aaaaaahhh, kenapa, kenapa, kenapaaaaaa—eh?"

"Karena aku belum boleh merasa tenang."

"Bercanda, kenapa tiba-tiba—bukankah kau ingin melarikan diri dari rasa bersalahmuuuu!"

"Aku sudah dibilang itu tidak cocok untukku!"

Aku menekan belati api itu lebih dalam lagi.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa."

Zafuh.

Bayangan Kakak hancur menjadi abu dan menghilang. Aku berhasil selamat, entah bagaimana caranya.

Tapi, bagaimana dengan Aki dan Tadano-san? Sihir dari Domain ini sebenarnya apa……?

"Hebat sekali, Snow-chan."

Bercanda, kan? Lagi? Aku menoleh ke belakang saat mendengar suara Kakak yang memanggilku.

"Eh?"

Di sana berdiri seseorang yang sangat mirip dengan Kakak.

Wajahnya seperti Kakak saat sudah dewasa…… namun ia memiliki rambut biru, sama sekali tidak mirip dengan Kakak yang berambut pirang.

"Maaf ya, tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo, Snow-chan, coba pikirkan?"

Wanita berambut biru yang mirip Kakak itu berbicara padaku.

"Setiap Domain memiliki efek sihir unik. Di Domain milik Miko dan utusan sebelumnya, ada sihir yang mengacaukan persepsi manusia di dalam cakupannya, kan?"

"Kenapa, kau tahu tentang itu……"

"Iya, sekarang fokuslah. Seorang Spirit User harus lebih tenang dari siapa pun. Kejadian yang baru saja kau alami, serta kata-kata yang diucapkan Chandra. Di sana ada petunjuk untuk menghancurkan Domain ini, bukan?"

──Tenangkan dirimu, Snow. Sekarang, siapa orang ini bukanlah hal yang penting, kan?

Aku mengunyah kata-kata dari bayangan berambut biru itu.

"Saat Chandra merangkak keluar dari api suci, apa yang dia katakan?"

"Dakwaan…… pendosa…… tapi. Aku tidak membunuh Kakak…… benar, aku tidak pernah diberitahu dakwaan yang spesifik!"

"Tepat sekali. Lalu kenapa bayangan Justia muncul? Dan kenapa hanya kamu yang bisa lepas dari pengaruh Domain dengan cepat?"

Sebuah pertanyaan. Dari perilaku bayangan Kakak, ada satu hal yang bisa disimpulkan──.

"──Rasa bersalah. Domain ini…… memberikan halusinasi yang merespons rasa bersalah?"

"Tepat sekali. Kalau begitu, Aki-kun yang sedang menderita di sana…… bisa diselamatkan, kan?"

Di arah yang ditunjuk bayangan berambut biru itu, Aki sedang memegang belati api seperti diriku──.

"Maaf, maafkan aku, Justia. Aku…… tidak bisa melindungimu, maafkan…… aku."

"Kakak!! Berhenti!!"

"Tsk, Snow?"

Aki tersentak dan berhenti bergerak. Matanya kosong, keringat dinginnya luar biasa banyak.

Pasti bayangan yang sama denganku—yaitu Kakak—sedang muncul di hadapannya juga. Kalau begitu, kata-kata yang harus kuucapkan sudah ditentukan.

"Snow…… aku, tidak bisa melindunginya…… orang seperti aku, apa nilai hidupku──"

"Aki von Schwarz. Apakah Kakak benar-benar menginginkan hal ini?"

"Ah……"

"Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa orang yang seperti matahari itu──orang yang berusaha keras untuk menjadi matahari—menginginkan hal konyol dan picik seperti ini, serta menginginkan kita mati?!"

Aku berteriak sekeras mungkin. Aki membuka matanya lebar-lebar.

"……Bodohnya aku."

Dia menusukkan belati itu ke ruang hampa; dia pasti telah membunuh rasa bersalah terhadap kakaknya sendiri.

"Maaf, Snow. Kabutnya sudah hilang."

"Ya, selamat datang kembali, Aki."

Domain ini benar-benar terburuk…… Apa itu pendosa…… ini hanyalah sihir sampah yang cuma mengaduk-aduk rasa bersalah manusia!

"Bercanda saja kamu, dewa palsu……"

Nada bicaraku menjadi kasar. Aku diperlihatkan hal yang tidak disukai di waktu yang tidak tepat, aku tidak akan memaafkan mereka……!

"Kamu lolos dari teknik Domain-ku, pendosa."

Chandra menatapku dan Aki dari atas, lalu menyeringai.

"Tapi, bagaimana dengan pria dan wanita ini?"

Tadano-san berdiri mematung dan membeku. Di sampingnya, sang adik, Sara-san, juga──sama-sama menatap api dengan tatapan kosong sambil duduk di singgasana.

Pasti mereka juga sedang diperlihatkan bayangan rasa bersalah mereka sendiri.

"Dosa pria ini jauh lebih dalam daripada rasa bersalah pribadi kalian. Pas sekali, kalian juga harus melihatnya."

"Pendosa Eugene Mira Chandra, pendosa Nostra Mira Chandra."

"Menyatakan dakwaan──pembunuhan massal sebagai White Knight Gereja Maris, serta membantu pembunuhan sebagai peramal Nostra di Gereja Maris."

"Ayo, saksikan dosa kakak-beradik ini."

Gooo.

Api suci semakin membesar. Api itu sendiri adalah sebuah ilusi, bergetar layaknya fatamorgana.

Di sana──dosa mereka diperlihatkan.

"Lihatlah, dasar anak dari keturunan terkutuk!"

"Kalau saja leluhurmu tidak kalah, kami pasti bisa hidup lebih baik!"

"Bertanggung jawablah! Cepat jadi kayu bakar dan terbakar habis!"

Masa kecilnya dihabiskan dengan perlakuan sebagai keturunan pendosa sejak lahir. Setiap kali keluar rumah, mereka dilempari batu dan makanan busuk setiap hari.

Bahkan saat kembali ke rumah──.

"Ah, cepat, cepatlah aku ingin menjadi kayu bakar."

"Aku sudah melahirkan seorang anak…… kuharap ada yang mengakhirinya……"

Di istana yang hancur, di dalam rumah yang mirip penjara itu, kedua orang tua mereka tidak pernah mempedulikan kakak-beradik itu.

Orang tuanya juga pendosa. Mereka hanyalah kayu bakar yang nantinya akan dibakar.

Melihat cedera akibat lemparan batu, baju yang kotor oleh makanan busuk, orang tuanya hanya berkata satu hal.

"Ah, mau bagaimana lagi. Dasar anak pendosa."

Adiknya menangis pelan, sang kakak memeluknya.

"Kakak……"

"Apakah kita seharusnya tidak dilahirkan saja?"

Kakak tidak bisa menjawab apa-apa.

Aku membencinya.

Tempat lahirku, orang tuaku, dan terutama diriku sendiri karena tidak bisa melindungi adikku.

Karena itulah, aku meninggalkan kampung halaman. Aku bertekad pada hari ketika orang tuaku dibakar sebagai kayu bakar sambil ditertawakan oleh penduduk.

Bagaimana mungkin aku membiarkan adikku dijadikan kayu bakar?

"Hii, White Knight Gereja!!??"

"Berhenti, hentikan, ada keluarga, keluargaku ada di sini!! Maafkan aku! Aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan melakukannya lagi! Aku tidak akan menjual organ anak-anak sembarangan lagi!! Aku akan meminta izin Gereja!"

"Aku mengerti, apa yang kamu inginkan. Biarkan nyawaku saja, aku hanya akan berburu budak dalam batas yang diizinkan Gereja. Jadi, jadi, biarkan aku hidup sajaaa!!"

Menebas, menebas, dan menebas.

Keluar dari pulau, menyeberangi benua, lalu sampai di Kekaisaran.

Kakak-beradik itu memiliki bakat. Sang kakak memiliki Gift White Knight, sang adik memiliki Gift Peramal.

Adiknya meramalkan dosa, sang kakak yang memburunya.

Tanpa disadari, mereka belajar cara untuk bertahan hidup dengan memburu para pendosa.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan membunuh orang lain.

……

"A, aaaaaaa……"

Sara-san memegangi kepalanya.

"Maafkan aku…… ini salahku…… aku membuat Kakak menjadi pendosa."

Bayangan di api.

Itu Shiraha-san, terlihat sosoknya saat menantang Chandra lalu kalah.

"Shiraha juga…… dia orang yang menyebutku temannya, tapi aku membiarkannya mati…… Semuanya salahku, karena akulah pendosa itu."

Sara-san menatap Shiraha-san yang duduk membisu di singgasana.

"Begitu ya, kalau begitu kamu pasti tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang pendosa."

"Ah……"

Di tangan Sara-san, muncul belati api.

Gawat! Sihir unik Domain itu──harus dihentikan──.

"Jangan bergerak."

"……"

Aku dan Aki jatuh tersungkur di tempat itu.

Sial, pengekangan dengan Magic Power yang sederhana……!

Tidak bisa, bergerak……

"Maaf, Kakak. Maaf, Shiraha. Maaf, semuanya…… Seharusnya aku tidak ada. Semuanya mencoba melindungiku──karena aku ada di sini, semuanya menjadi tidak bahagia……"

Dengan tangan yang gemetar, Sara-san mengarahkan belati itu ke tenggorokannya.

"Mati!! Mati!! Mati!!!!"

Sorakan, sorakan yang meriah.

Di dalam Domain, para penonton yang telah berubah bentuk terus meneriakkan kata-kata kotor.

Tidak peduli orang dewasa atau anak-anak, seluruh negeri ini mengharapkan kematian kakak-beradik itu.

──Dasar brengsek.

"Tidak, Sara-san! Belati itu bukan untuk ditujukan pada dirimu sendiri!!"

"Pikirkan lagi! Sara Tadano! Tidak ada kakak yang akan menyesali apa yang telah dia lakukan demi adiknya!"

Teriakan aku dan Aki tidak sampai.

"Tusuk dia!"

"Mati kau!"

"Pendosa!"

"Persembahkan dia!!"

"Maaf, maaf. Aku akan mati, aku akan mempersembahkan segalanya pada api, jadi, kumohon bersihkan dosaku."

Belati di tangan Sara-san bergerak cepat.

"Jangan, jangan sampaiiiiiii!!"

Jashu.

Juuuunnnnn.

Suara daging terbakar. Bau darah yang hangus.

Belati api itu membakar tubuh manusia──tangan Tadano-san. Tangannya masuk di antara tenggorokan Sara-san dan belati itu──.

"……Eh? Kaka,k?"

"……Memang menyakitkan, ya."

Karan, karan. Tadano-san membuang belati yang tertancap di telapak tangannya.

"Kakak?"

"Sara. Aku ingin melindungimu. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu jalan mana yang harus kupilih."

"Kakak, tanganmu…… kenapa…… aku yang seharusnya mati, aku yang paling tidak berguna, aku pendosanya──"

"Ya, kita memang pendosa. Justru karena itulah──kita harus menentukan jalan hidup kita sendiri di neraka ini."

"Eh?"

"Sara, pasti kamu juga."

Tadano-san berhadapan dengan Chandra.

Matanya tertuju pada satu titik, dia hanya menatap Chandra.

"Hah? Kamu, kenapa…… kamu tidak merasakan rasa bersalah?"

"Sudah kukatakan, bukan? Chandra. Kutukan itu sepenuhnya──telah disucikan oleh temanku."

Cahaya putih menyelimuti Tadano-san.

"White Knight Order: Sword Draw."

Bukan, bukan hanya putih.

Kabut hitam yang pekat meluap dari topengnya.

Cahaya putih dan kabut hitam. Dua elemen yang saling bertolak belakang, suci dan jahat, berada di bawah kendalinya.

"Kamu…… hahahaha, berani-beraninya melawan sekarang, padahal telah melakukan dosa yang tak terhitung jumlahnya, sungguh tidak tahu malu."

"Seperti katamu, Chandra."

"Apa?"

"Temanku mengajariku. Hal yang selama ini enggan kulihat, hal yang tidak kuketahui. Jawaban yang tidak bisa kucapai sendirian."

Cahaya terkumpul di pedang yang disiapkan Tadano-san.

Itu bukan sekadar Magic Power. Itu mirip dengan kekuatan yang dimiliki Chandra──kekuatan untuk mendefinisikan dunia. Ketuhanan.

"Aku pendosa, aku jahat, pemilik jiwa yang terkutuk."

Kegelapan dan cahaya, hitam dan putih, dosa dan pembersihan.

White Knight mengubah keduanya menjadi pedang.

"Tidak masalah. Dunia ini adalah neraka sejak awal, tidak ada satu orang pun yang bisa hidup dengan tetap suci. Manusia hanya bisa bertahan hidup dengan terus mengambil milik orang lain."

"……Apa itu. Pedang itu, cahaya itu, apa itu?"

Chandra jelas merasa takut.

Keangkuhannya yang mengaku sebagai dewa tidak mengizinkannya untuk melarikan diri.

Jika dia melarikan diri di depan rakyat yang diundang ke dalam wilayah ini sebagai energi, maka kepercayaannya sebagai dewa akan hancur.

"Aku yang akan mengakhirinya──awalnya adalah pengabdian dari seorang bangsawan. Itu hanyalah tekad dan niat baik yang murni. Namun tanpa sadar itu menjadi kesalahan, menjadi distorsi──dan membuat negeri ini membusuk. Ya, semuanya, kita seharusnya mengakuinya lebih cepat──bahwa kita semua pendosa, dan negeri ini memang sudah berakhir."

"Dasar bocah sepertimu!! Keturunan pendosa mau apa!"

"Ya, aku memang pendosa. Aku hanyalah pendosa yang membuat adikku menderita karena ketidakmampuanku, dan membunuh temanku karena ketidakmampuanku. Tapi──bagaimana denganmu?"

Tidak ada keraguan sedikit pun dalam diri Tadano-san.

"Siapa kamu sebenarnya, Chandra?"

"……!"

Cahaya yang terkumpul di pedangnya sudah cukup besar untuk menembus langit Domain.

"Aku sudah tahu siapa diriku sekarang. Temanku, Kastani Takihito, telah mengajariku."

"Tunggu, tunggu, hei, bicaralah──"

Tidak ada keraguan dalam dirinya.

"Aku Eugene Mira Chandra. Sahabat dari──Kastani Takihito."

"Aku katakan tunggu──!!"

"Bangsawan terakhir──yang akan mengakhiri negeri ini."

"Dengarkan akuuuuuuu. Dasar pendosa yang kotor ini aaaaaaa."

Itu pun diayunkan.

Aliran cahaya menyelimuti api dan menelan Chandra.

"U……"

Tadano-san jatuh telungkup.

"Kakak!!"

Sara-san melompat turun dari singgasana dan menangkap Tadano-san.

Ikatan pada tubuhnya telah terlepas, kekuatan sihir yang luar biasa itu pun menghilang.

Bakik, mekik.

Retakan mulai muncul di Domain.

"Tadano-san, kamu berhasil."

"……Ya, terima kasih atas bantuannya, Snow-sama."

"Jangan begitu. Teknik yang luar biasa, Tadano-san."

"……Mengenai Kastani-san, aku akan segera menceritakannya begitu kembali ke daratan, tidak, aku akan menyerahkan diri, atas semua dosa yang telah kuperbuat selama ini, semuanya."

"Tadano-san……"

Euforia pertempuran telah sirna, sisa-sisa kemenangan pun terasa hambar.

Isak tangis terdengar dari arah singgasana.

Shiraha-san yang duduk dengan dada berlubang tanpa sepatah kata pun, dan Sara-san yang menggenggam tangannya.

"Shiraha…… maafkan aku, maafkan aku……"

"Shiraha-san…… kamu melindungiku, ya…… aku telah salah paham terhadapmu……"

Hal yang kita kehilangan terlalu besar.

Tapi, dengan ini semuanya berakhir──.

“Semuanya sudah berakhir, benarkah kamu berpikir begitu?”

Keruntuhan Domain terhenti.

Api kembali menyala di langit.

"Eh?"

"Kakak-beradik Tadano!! Menjauhlah dari anak itu!!"

Teriakan Aki, di saat yang bersamaan──.

“Sudah terlambat.”

Suara Chandra bergema dari singgasana.

Itu Mitekiba-san. Mitekiba-san yang seharusnya sudah tiada, berdiri, lalu menyeringai──.

Sial, ini yang terburuk!!

"Shiraha?"

"Bukan! Sara-san, itu──bukan Shiraha-san!"

“Domain──Final.”

──Chandra yang merasuki tubuh Mitekiba-san.

Api yang berkilau memenuhi pandangan.

"Sial, a, aaaaaaaa!! Panas!!"

"I, ni…… Snow, ku, gu, aaaaaaaaaaa!!"

"Tidak mungkin, jangan bilang, aaaaaaaaaa."

Bo-ou.

Tubuh terbakar oleh api.

Panas, panas, panas.

Tenang, tenang! Aku masih bisa bernapas, tidak kekurangan oksigen, tenggorokanku juga tidak terbakar!? Daging dan bajuku tidak terbakar.

Ini bukan api yang terbakar karena oksigen!

Ini adalah──api yang membakar Magic Power dan jiwa……!!

Dia…… dengan paksa menggunakan Magic Power, mengabaikan aturan Domain, dan menekankan apinya saja kepadaku!!

Semua orang kecuali Tadano-san terbakar oleh api roh──.

Panas, panas, panas!

Meskipun menahannya dengan Magic Power, itu hanya mengulur waktu!

“Api keadilan membakar dosa yang paling berat!! Pilih dan bunuh! Adikmu, atau rekan seperjuanganmu!”

Apa yang terjadi benar-benar sesuai prediksi sampai aku ingin tertawa.

"……"

Tadano-san terdiam……! Sara-san, sepertinya sudah mendekati batasnya──.

Ah, sudahlah!! Benar-benar yang terburuk!!

"Tadano-san!! Pilih aku!"

"──!!"

Ah, aku mengatakannya, aku tidak mau mati, aku tidak mau mati!

Tapi, hanya ini satu-satunya──!!

"Cepat!! Sara-san sudah melemah! Dia tidak akan bertahan lama dengan api ini!!"

"Jangan, bercanda!! Snow!! Sial……!! Tadano!! Aku! Pilih aku!! Sebagai sesama kakak aku yakin kamu paham! Adikku, jangan pilih Snow!!"

Aki berteriak, ah, padahal aku sudah tahu akan jadi seperti ini.

"Tidak, Kakak…… lakukan padaku…… aku yang paling tidak berguna…… aku yang membuat ramalan salah, aku yang kalah dari ramalan sialan itu, semuanya salahku…… karena itu."

Situasi seperti neraka di mana semua orang mencari kematian.

Di tengahnya, tawa mengejek dari roh dan penonton bergema.

"Tidak, aku tidak akan memilih siapa pun."

Suara Tadano-san terasa tenang.

"Di tempat ini, ada orang yang paling berdosa."

Firasat yang buruk──muncul.

Sosok Tadano-san──dan sosoknya tumpang tindih sejenak.

"Ah, tunggu!! Tadano-san! Jangan! Apa pun yang akan kamu lakukan, aaaaa."

"Kakak……? Tunggu, hei, Kakak! Apa yang mau kamu lakukan!? Tunggu, jangan pergi!!"

Rasa sakit dari api, meski begitu kami terus berteriak.

Namun, hanya satu orang, Aki yang merupakan sesama kakak──.

"Tadano, kamu…… jangan-jangan……"

Dia memasang wajah seolah sudah mengerti apa yang akan dilakukan Tadano-san.

Kin.

Dia mencabut pedang putih dari sarung putihnya.

“Hahahahaha, dengan pedang itu!! Kamu mau membunuhku!? Tubuh ini adalah teman dari adikmu! Baiklah! Kalau kamu ingin menanggung dosa lebih banyak──”

"Tidak, aku sendiri."

“……Apa?”

"Api keadilan membakar dosa yang paling berat. Kamu sendiri yang mengatakannya, Chandra."

Mata pedang itu sudah terarah ke leher Tadano-san.

“Ah, begitu ya…… baiklah, memang benar di tempat ini orang yang memikul dosa terberat adalah kamu.”

Senyuman Chandra.

“Dasar pembunuh yang terkutuk, bakarlah dirimu sendiri karena dosamu.”

Bintang api muncul kembali di atas kepalanya.

Tadano-san menatapnya dengan lurus.

"Sekarang aku mengerti perasaan temanku. Neraka yang jalan keluarnya ditentukan sendiri oleh langkah kaki…… ternyata, tidak terlalu menakutkan."

"Bodoh!!!!"

"Tadano!!"

"Kakak!! Tidak, Kakaaaaaaaaak!!"

Tadano-san menjatuhkan pedang dari tangannya, lalu mengangkat tangannya ke arah api.

"Aku akan menghukum pendosa terakhir."

“Baiklah──Pendosa Eugene Mira Chandra.”

“Dosa-dosamu adalah──”

Bintang api muncul di atas kepala Tadano-san──untuk membakar dosanya──.

“Dosa: Invasi Negara Yamatai.”

"……Eh?"

Apa maksudnya?

“──Eh, apa, ini, dosa──ah, a, a, a, a, a, a, a.”

Bikut, bikut.

Ada yang aneh dengan Chandra. Matanya memutih, mulai kejang──.

“Dosa, Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa Dosa”

“Bersama Yamato Takeru membantai banyak ketuhanan, setelah kematian Yamato Takeru, menaklukkan Dewa Gunung Ibuki.”

“Penaklukan Himiko, konspirasi Pemberontakan Jinshin, konspirasi Pemberontakan Jouhei Tengyou, penobatan kaisar baru, invasi Bun'ei, dua kali perebutan Kamikaze dari Dewa Shinatsuhiko selama invasi Kouan, penaklukan Kublai Khan, pembantaian besar Nanboku-cho, pembantaian iblis Gunung Ooe, kutukan membunuh semua pemburu iblis, memusnahkan 90% misteri asli Jepang termasuk Tsuchigumo, pembakaran Kuil Enryaku-ji di Gunung Hiei, bersama Akechi Mitsuhide dan Akechi Hidemitsu membantai Dainichi Nyorai, penaklukan Yakushi Nyorai──kehancuran massal Gereja Maris, penaklukan bandit, kutukan api biru, pembunuhan massal, kutukan penyayat manusia, pembunuhan massal, insiden Aburakouji, dan banyak pembunuhan lainnya, semua dosa kutukan, menaklukkan Pangeran Pertama Kekaisaran, Lux Mira Arteria.”

Chandra mulai berteriak seperti radio rusak.

Bintang api pun melengkung dan menderita.

Api yang ada di tubuh kami pun menghilang begitu saja.

Tadano-san pun, tidak terbakar.

Ini──dosa ini──bukanlah milik Tadano-san.

Dosa ini adalah──.

"Peran pendosa itu adalah milikku."

Saran.

Lonceng, berbunyi.

Zo, zozozozozozozozozo.

Tidak ada seorang pun di tempat ini yang bisa bergerak.

Tanpa disadari, kegelapan menyelimuti sekeliling.

Itu adalah kegelapan di gang sempit yang pernah kulihat, perbatasan laut malam yang pernah kulihat.

Kegelapan yang tidak boleh disentuh oleh manusia.

Dari balik kegelapan itu, embusan angin berhembus, dan angin tersebut melahap api yang sedang membakar Magic Power kami.

Mishi, pakin.

Tanpa kusadari, Domain itu telah terbelah. Sebuah pedang raksasa telah menancap menembus dunia ini.

Aku mengenal pedang itu.

Bagiku, itulah gambaran kekuatan terkuat, simbol dari sebuah kekuasaan──.

"Curse……"

"Pria berbaju hitam itu……"

Aku dan Tadano-san bergumam secara bersamaan.

"Kalian benar-benar mempertontonkan hal yang menarik, para protagonis."

Di balik tudung berwarna gelap itu, sepasang bola mata merah yang terbungkus kegelapan bersinar terang.

"Kamu, tubuhmu……!"

Bou, api suci mulai membakar tubuh Curse.

Namun, dia tetap terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Tanpa memedulikan apa pun, dia terus berjalan menuju bintang api yang ada di hadapannya.

Dia tidak takut sedikit pun.

"Akan kutunjukkan kepada kalian, apa itu dosa yang sesungguhnya."

Entah kenapa, aku──merasa sedikit terpompa.

“A, aa, oee, oeeeee…… kamu, itu, itu apa!! Dosa itu──”

"Roh keadilan, Chandra, ya? Begitu rupanya. Kalau dilihat, sosokmu ini adalah kumpulan dari berbagai emosi, selain amarah, bukan?"

“Ba, bagaimana kamu tahu kalau amarah tidak ada di sini──”

"Karena aku bisa melihat dosa, bukan?"

“Jangan-jangan──pe, perbuatan dosa──penaklukan Roh Keadilan, Chandra si amarah…… eh? Kamu, kamu yang memiliki amarah??”

"Yah, begitulah kira-kira."

“Kamu──sebenarnya, apa, siapa kamu, kenapa, meski dibakar api kamu tetap tenang──”

Meski tubuhnya diselimuti api yang berkilau, Curse sama sekali tidak peduli.

Dia hanya terus melangkah maju.

Itu adalah puncak dari pengendalian Magic Power…… Dia pasti sedang melindungi tubuhnya dari api dengan manipulasi Magic Power yang sangat halus.

Dia memanipulasi output dari Magic Power yang menjadi bahan bakar untuk api yang membakar Magic Power itu sendiri.

Itu bukan tindakan manusia biasa, dan dia juga sudah tidak waras.

Mampu melakukan hal seperti itu berarti jika dia mau, dia bisa memadamkan api seperti itu kapan saja.

Dia tidak melakukannya, itu berarti──.

"Api yang hangat."

Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menunjukkan perbedaan strata yang luar biasa.

“Kurang ajar──a…… oee, sialan, dosa itu…… dosa itu, apa……!!?? Perbuatan jahat yang melekat pada jiwa──sebuah suara yang seolah mengumpulkan semua dendam di dunia ini. Kenapa kamu bisa tetap tenang sambil membawa hal semacam itu…… itu──”

Chandra benar-benar ketakutan.

"Dendam? Apakah kamu bisa mendengar hal semacam itu?"

Curse berhenti sejenak, lalu memasang gestur seolah sedang mendengarkan dengan saksama.

"Aku tidak mendengar apa pun."

Kinn.

Begitu saja, dia menghunus pedang yang tergantung di pinggangnya.

Pedang itu, aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat──.

"Itu pedang pendekar itu."

"Aki?"

"Aku tidak mungkin melupakannya. Aku sudah cukup banyak ditebas oleh pedang itu. Jadi, benar Curse yang telah mengalahkan pendekar itu……"

Aki juga menatap Curse dengan tatapan kosong.

Namun, di matanya tersimpan sesuatu yang membara.

“Pedang itu…… haha! Apakah bisa menebas! Tubuhku ini adalah teman dari para Spirit User di sana──”

"Ekspansi Spell: Spirit Blade, Kashuu Kiyomitsu."

Su.

Seolah embusan angin yang berlalu, sosok Curse menghilang.

"Tunggu──Curse!! Tubuh itu──"

Saat aku mengeluarkan suara, semuanya sudah berakhir.

Chandra yang merupakan tubuh Shiraha-san jatuh tumbang.

Di belakang Chandra, sambil membelakangi, Curse menyarungkan pedangnya kembali.

Dia menebasnya──bersamaan dengan tubuh Shiraha-san──.

"Ti, dak…… Shiraha……"

"……Tidak, Sara. Kamu salah. Coba lihat."

"Kakak?"

"Tubuh Shiraha-san, tidak ada luka sedikit pun."

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! Tidak mungkin!! Kamu menebas jiwa milikku, hanya tubuh rohnya saja, begitu!!??”

Bersamaan dengan teriakan itu, tubuh api itu melompat keluar dari tubuh Shiraha-san.

Tidak mungkin, dia benar-benar hanya menebas roh yang merasuki tubuh itu──.

“Kamu, pedang apa itu!? Tidak mungkin, teknik yang hanya menebas roh, itu adalah milik pahlawan──”

"Ho, apakah ada orang lain yang bisa melakukan hal yang sama? Dunia ini ternyata luas juga."

“Tunggu──aaaaaaa.”

Zon.

Chandra yang melarikan diri ke langit pun dikejar olehnya yang menapak di udara layaknya hal yang wajar, lalu menebas kedua lengannya dalam satu serangan──.

"Jantung Shiraha Mitekiba, apakah ada di sana?"

“Tunggu, tun──”

"Ekspansi Spell: Curse, Triple Stage."

Satu serangan tusukan.

Sebuah lubang besar terbuka di dada Chandra, dan jantung berwarna merah menyala itu berputar-putar.

"Snow von Lichte."

"……!"

Saat aku sadar, Curse sudah berdiri di belakangku.

Dia menggendong Shiraha-san dan memasukkan jantung itu ke dalam lubang di dadanya.

"Sembuhkan dia dengan Spirit Magic."

"……Kenapa, kenapa kamu menolong kami?"

"Karena aku tidak bisa membiarkan kalian mati."

"……Aku seharusnya berterima kasih, ya."

"Aku berniat meminta bayarannya nanti, jangan dipikirkan."

Mengatakan itu, Curse hendak pergi menuju Chandra kembali.

"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"

"Kalau kamu melihatnya, kamu akan mengerti. Ah, ya, Eugene Tadano."

"Aku, maksudmu?"

"Ya──jalan hidup yang bagus. Jangan pernah lupakan prinsip itu."

"……! Kamu, tidak, itu tidak mungkin……! Kamu, siapa sebenarnya……"

"Curse. Seseorang yang hidup bersama kutukan, dan seseorang yang menguasai kutukan."

Curse menjawab seperti itu, lalu berjalan pergi.

Dengan tubuh yang terus terbakar, dia hanya berjalan perlahan menuju sang roh.

Aku menatap punggungnya.

Entah kenapa, aku merasa terpompa.

◇◇◇◇

“Aaaaaaaaaaa, kamu, kamu tidak akan kubiarkan hidup pulang! Ketahuilah bahwa dosa itu tidak akan bisa lepas dari apiku!!”

Gooooooo.

Bintang api raksasa yang membakar langit.

Domain yang hampir hancur itu mulai hangus dan meleleh.

“Teknik pamungkasku──Dewa keadilan yang membakar pendosa, api kebajikan──”

"Ah, itu sudah cukup. Aku sudah mengerti semuanya."

“A, pa?”

"Sepertinya itu hanyalah teknik yang meningkatkan daya tembak sebanding dengan dosa dan rasa bersalah korbannya. Jangan beri nama yang terdengar hebat seperti 'Ritual Pemujaan Api', memalukan."

“Ha, hahaha! Memangnya kenapa kalau kamu tahu!! Bahkan bagiku, ini adalah api yang belum pernah kulihat!! Keadilanku berteriak agar kamu dihancurkan!!”

"Bagus, kalau begitu cobalah untuk menghancurkanku."

“Ha?”

"Aku bilang, silakan serang."

“Apa yang kamu bicarakan? Apa kamu tidak bisa melihatnya? Intensitas panas ini, api ini! Ini adalah api yang bisa membakar habis dunia bawah ini!! Takutlah!! Memohonlah belas kasihan!! Sangkal dosamu!! Takuti hukumannya!! Serahkan orang lain! Itulah manusia──……ah……”

Chandra kehilangan kata-kata.

Ekspresi Curse, kegelapan yang tenang itu, benar-benar menelan sang roh.

"Gunakan kekuatan terkuatmu."

“Kamu, sebenarnya, siapa…… kenapa, dengan memikul dosa seperti itu, kenapa, bisa memasang wajah seperti itu──aaaaaaaaaaaa, terbakar, terbakar, terbakar laaaaahhh!!”

Bintang api raksasa dijatuhkan dari langit.

Bintang yang jauh lebih besar dibandingkan api yang ditunjukkan kepada Snow dan yang lainnya.

Bintang itu menghantam tubuh Curse.

“Hahahahahaha!! Lihat, inilah api keadilan!! Dosa-dosa itu disucikan!! Ya, akulah yang mewujudkan cita-cita pahlawan itu!!”

Api membakar Curse.

Api itu benar-benar menelan Curse sepenuhnya.

“Manusia itu penuh dosa, dan menjijikkan!! Kalian jauh dari cita-cita! Binatang tanpa keadilan!! Karena itulah, kalian meninggalkan pahlawan itu!! Aku akan mengadili makhluk-makhluk yang membuang pahlawan!! Aku akan menyucikan dunia tempat dia akan lahir kembali!! Karena itu tambahkan apinya, buat apiku semakin raksasa!! Persembahkan kayu bakarnya! Lagi, sampai mencapai takhta Tuhan!! Namaku adalah Chandra! Tuhan yang menyebarkan kebajikan, keadilan, dan cita-cita di dunia yang tanpa pahlawan ini──”

"Cita-cita, ya? Aku tidak membenci kata itu."

“…………Ha?”

Sebuah suara terdengar dari dalam api.

Suara yang ringan, ceria, seolah seseorang sedang minum teh di teras setelah bekerja di ladang.

"Namun, apa kamu lupa? Cita-cita yang tak tercapai pada akhirnya akan membusuk. Kemakmuran semu, keabadian semu…… ah, semuanya, adalah kejahatan yang memuakkan."

“Ti, dak mungkin…… ti, dak mungkin, tidak mungkin kamu tidak terbakar habis oleh api penghakiman ini──”

"Mari kita bandingkan kutukan kita."

Juuuunnnnn!!

Bintang api itu terbelah.

Curse merangkak keluar dari sana. Sambil tetap dibalut api yang berkilau di tubuhnya, dia mencengkeram leher Chandra.

Atas nama ◇◇〇〇〇──Aku menjatuhkan hukuman padamu

“Ha? Apa, suara ini…… dari mana──punggungmu…… cahaya itu──sebenarnya──”




"Teman seperjalanan."

Kamu tenggelam dalam nostalgia, membusukkan cita-citamu, memutarbalikkan prinsip hidupmu, dan secara egois menghakimi dosa──itu berarti, kamu adalah "Kutukan Kesombongan".

"Tidak!! Aku, aku bukan kutukan!! Aku adalah Tuhan!! Aku adalah roh, aku adalah berkah!! Aku adalah, pahlawan berambut biru yang menyelamatkan dunia──"

"Tidak, kamu sama sepertiku──hanya sekadar kejahatan."

"A, aaaaaaaaaaaaaaaaaa!! Hentikan, kenapa, kenapa api dosa ini membakarku!!?? Aaaaaaaa."

Api yang tak terbendung tumpah dari mata Curse.

Api itu mulai menjalar ke seluruh tubuh Chandra.

"A, aaaaaa, panas, panas, panas panas!! Kenapa, bagaimana bisa!! Aku, aku hanya ingin mengejar cita-cita, keadilan…… hahahahaha!! Apa kamu akan membunuhku!! Baiklah, tapi ingatlah, kamu telah membunuh keadilan!! Tidak akan ada lagi yang akan menghakimimu setelah ini!!"

"Keh."

"Apa yang, apa yang lucu!! Wahai pendosa besar!!!"

"Lagipula──semua kejahatan di dunia ini adalah cita-citaku."

"Na…… sebagai manusia, mana mungkin bisa melakukan hal seperti itu."

"Sebagai langkah awal, biar kuakhiri juga cita-citamu itu."

"Kamu, justru kamu lah yang sombong!! Mana mungkin seorang manusia bisa memikul dosa sebesar itu──"

"Tidak, sudah saatnya──kutukanmu pun, sekarang menjadi milikku."

Api itu membakar dan melelehkan Chandra.

Chandra yang telah meleleh berubah menjadi bola berwarna merah gelap──dan Curse menelannya bulat-bulat.

"Penyimpanan Spell."

Kutukan Kesombongan telah disimpan.

Roh itu telah berakhir. Dan──di saat yang sama──.

"Apa ini."

"Aaaa, tubuhku, meleleh──"

"Bohong, bohong, bohong!! Kami, rakyat Chandra adalah abadi!! Chandra!! Kenapa ceritanya berbeda!!"

"Jangan mauuuu. Aku belum mau matiii, aku tidak mau matiiiiiiii!!"

"Aku ingin hidup selamanyaaaaaa."

"Aaa, begitu ya, kami, sudah lama, musnah──"

Doro, dororororo.

Seluruh penduduk yang bertahan hidup berkat Magic Power Chandra meleleh dan menghilang.

Semua orang yang mempertahankan hidup berkat kekuatan sang roh, semuanya berakhir.

Api yang bersemayam di tubuh Curse tidak padam.

Api itu membakar habis Domain dan terus merambat ke dunia bawah tanah.

Api berkilau yang terus tumpah dari mata Curse membakar dan melelehkan negeri impian tersebut.

Api penghakiman itu telah menetapkan negeri ini sebagai target dari tekniknya.

Curse berjalan sendirian di negeri yang sedang menuju kemusnahan itu. Seolah hendak mengantar kepergian terakhir negeri impian yang kini tanpa penduduk, raja, maupun Tuhan.

"White?"

Tiba-tiba, dia muncul di sampingnya.

"Ya. Snow dan yang lainnya, anggota kelas naga, sudah diantar ke permukaan oleh tiga orang demi-human itu."

"Bagaimana dengan Shiraha Mitekiba?"

"Dia selamat. ……Apa kali ini kamu menyukai gadis itu?"

"Aku suka orang yang berani. Lebih penting lagi, apa kamu tidak merasa panas?"

"Ya, aku baik-baik saja. Tidak kusangka, kamu benar-benar akan membakar habis negeri impian ini."

"Apa kamu marah?"

"Tentu saja tidak…… Aku hanya sedang meresapinya. Roh Keadilan, Chandra. Dia itu, pasti, adalah aku yang tidak pernah bertemu denganmu. Sampai kapan pun, aku hanyalah──mainan Tuhan."

"Kamu adalah White, kesatriaku. Tidak ada yang lain selain itu."

"──Curse. ……Agak dingin, bolehkah aku menempel saat berjalan?"

"Aku ini panas, lho? Api masih terus tumpah dari mataku."

"Itu, akan berhenti tidak?"

"Siapa tahu."

Bahkan dengan api penghakiman yang mampu melelehkan dunia, dosa sang Raja Kutukan tidak kunjung terbakar habis.

Kesatria penguasa itu berjalan sambil merangkul lengan sang Raja Kutukan.

Negeri impian legendaris, Chandra, meleleh ke dalam api sebagai sebuah legenda.

Dan ketika api telah membakar habis seluruh dunia Chandra, barulah──api dari mata Curse akhirnya berhenti.

──Ya ampun…… aku benar-benar tidak habis pikir.

Tanpa mampu membakar kutukan maupun dosa itu sedikit pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close