NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 3 Chapter 3

Chapter 3

Sang Pahlawan dan Pengikutnya


Dewi Lutos adalah sosok dewa yang kejam.

Tolok ukur nilainya amat sederhana: apakah hal itu menyenangkan bagi dirinya, ataukah tidak.

Kegemarannya adalah mempermainkan pihak lain.

Bagi sang dewi, dunia hanyalah arena bermain pribadinya, dan segala hal di luar dirinya tak lebih dari sekadar mainan belaka.

Manusia adalah mainan yang paling ia sukai.

Makhluk kerdil, kasar, dan penuh kedengkian.

Ras dungu dan kekanak-kanakan yang keliru menganggap diri mereka cerdas.

Namun, ada kalanya manusia menunjukkan sisi kebajikan yang luar biasa membingungkan.

Kontradiksi menggelikan itulah yang paling memikat hatinya.

Bagi Dewi Lutos, manusia hanyalah mainan yang bisa ia asuh atau hancurkan sesuka suasana hatinya.

Namun sekarang, apa sebenarnya yang sedang ia perbuat?

Dewi Lutos──tidak, boneka kain bernama Nutos──kini mempertanyakan dirinya sendiri.

Di belakang punggung Nutos, seorang gadis kecil tampak gemetar ketakutan.

Bocah bodoh yang dengan lancang menunjuk Nutos sebagai anjing peliharaan dalam permainan rumah-rumahannya.

Sementara di depan mata Nutos, berdiri sosok pria-pria ganjil bertanduk dan bersayap──kaum iblis.

Nutos sendiri nyaris tak memercayainya──bahwa kini, ia sedang melindungi anak manusia ini dari ancaman para iblis.

"Boneka ini... melindungi spesimen muda manusia?"

"Menarik sekali. Apakah ini mahakarya seorang penyihir? Menciptakan boneka yang bahkan meniru aroma dewa yang telah merendahkan ibu kami."

"Bocah-bocah lelaki itu berhasil lolos, ya. Mau bagaimana lagi. Kita serbu Desa Rusdan sekarang. Tuan Dewa Petir telah memberi izin untuk membantai separuh dari mereka."

Barier tipis berwarna emas berpendar melingkari Nutos sebagai porosnya. Para iblis mendengus jijik dan enggan menyentuh barier itu.

"Nutos-sama... Nutos-sama...! Tubuhmu terbakar...! Jangan... Nutos-sama... Jangan terbakar, kumohon..."

Suara tangisan anak kecil yang ia lindungi di belakangnya terdengar amat memekakkan telinga.

Sungguh, ia malah terseret ke dalam kekacauan yang tak bermutu.

Diasingkan dari alam dewa, kekuatannya dirampas, raga dewanya lenyap, hingga akhirnya terpuruk menjadi seonggok boneka kain tak berdaya.

Tahu-tahu, ia malah dipaksa menemani bocah ingusan bermain rumah-rumahan sebagai boneka mainan.

Lalu sialnya──ia justru berpapasan dengan 'kaum iblis'. Monster pemakan manusia yang mengangkat panji pemberontakan melawan para dewa. Anak-anak itu tentu saja ketakutan setengah mati hingga lemas tak bertulang.

Bocah-bocah ini tidak bersalah. Mereka tidak pernah melangkah sembarangan ke luar batas desa.

Hanya saja, para iblis kebetulan sedang berburu ke arah Desa Rusdan.

Ditambah lagi, orang tua mereka baru akan keluar rumah saat malam tiba dan tak kunjung menjemput. Singkatnya, nasib mereka memang sedang sangat malang.

Kekuatan dewa di dalam tubuh Nutos sudah nyaris terkuras habis.

Bagi seorang dewa, kaum iblis tak lebih berharga dari butiran debu. Namun bagi Nutos yang sekarang, mereka adalah ancaman setara bencana alam.

Mulanya, Nutos berpikir untuk memanfaatkan bocah ini sebagai umpan agar ia bisa kabur.

Kaum iblis memangsa manusia. Rencananya, ia akan melesat pergi saat anak-anak ini sedang asyik dikoyak dan disantap.

Akan tetapi, kemalangan terus bertumpuk. Para iblis rupanya menyadari sisa-sisa percikan ilahi yang samar-samar masih melekat pada diri Nutos.

──Serahkan boneka itu, maka kami akan mengampuni nyawamu.

Tentu saja, sekalipun boneka itu diserahkan, kaum iblis sama sekali tak berniat membiarkan sang anak lolos hidup-hidup.

Begitu kehilangan kegunaannya, leher anak itu pasti akan dipatahkan seketika.

Tubuh boneka ini pun kemungkinan besar akan dihancurkan berkeping-keping oleh mereka. Jika wadah rapuh ini hancur, Nutos pun akan menemui ajalnya.

Masa depan seburuk itu sangat mudah untuk diprediksi. Nutos tahu betul tabiat manusia──makhluk yang tak segan-segan menumbalkan pihak lain demi bertahan hidup, apalagi bila taruhannya cuma seonggok benda mati.

Namun, seluruh kalkulasi Nutos terpatahkan begitu saja.

──Enggak mau! Nutos-sama itu temanku! Aku enggak sudi memberikannya pada orang asing!

Gadis kecil itu sama sekali tidak menyerahkannya, melainkan mendekap Nutos erat-erat ke dadanya. Seolah-olah sedang menyembunyikan harta yang paling berharga.

Apa-apaan bocah ini?

Menganggap Dewi Lutos yang agung ini sebagai kawan, sebagai teman? Bocah manusia ingusan yang ringkih dan menyedihkan ini?

Tepat saat tangan iblis itu terulur hendak merenggut kepala si gadis kecil.

──Tanpa sadar, tubuh boneka itu bergerak sendiri.

Menjadikan eksistensinya sendiri sebagai bahan bakar, ia memeras sisa kekuatannya yang tinggal setetes untuk membentangkan barier yang berhasil menangkis cengkeraman iblis.

Tidak tahu, ia benar-benar tak mengerti alasan di balik tindakannya ini. Namun, tubuhnya tetap bergerak.

Demi menambal kekuatan yang kurang, Nutos terus membakar jiwanya sendiri sebagai bahan bakar sihir ilahi.

Apa sebenarnya yang sedang ia perbuat? Sekarang, ia bahkan tak lagi punya cukup daya untuk merapal sihir teleportasi demi melarikan diri.

Ia menganugerahkan berkat angin pada anak-anak lelaki yang berkaki lincah agar mereka bisa lari mencari bantuan. Sementara gadis kecil yang lemah dan lamban ini ia lindungi di balik barier sembari menanti pertolongan tiba.

Betapa rapuh dan menyedihkannya keadaan ini. Tubuh Nutos mulai terselimuti kobaran api kuning keemasan.

Membakar eksistensinya sendiri hanya demi mempertahankan barier sekecil ini sungguh menggelikan.

Prang!

Retak layaknya gula-gula tipis. Barier itu hancur berkeping-keping oleh satu tebasan pedang berbalut mana milik sang iblis.

"Tidaaak! Jangan, tidaaaak! Nutos-samaaaaa!!"

Nutos tertangkap dengan begitu mudahnya. Wajah bonekanya dicengkeram kasar dan diremas kuat-kuat oleh cakar iblis.

Kekuatan iman dalam dirinya terlampau minim.

Dewa adalah entitas rasa takut. Mereka baru memancarkan kekuatan sejati saat ditakuti dan disegani.

Mana mungkin dewa yang bermain dan melindungi anak kecil bisa memiliki kekuatan yang berarti?

"Hentikan! Kenapa, kenapa kalian berbuat sejahat itu pada Nutos-sama!? Hentikaaan!!"

Krek, krek. Tangan dan kaki pendek Nutos mulai dicabik putus tanpa ampun oleh sang iblis dengan ekspresi dingin.

Sakit, sakit, teramat sakit.

"Aneh sekali boneka ini..."

"Benar. Entah kenapa, rasanya gatal ingin meremukkannya."

"Puntir saja lehernya, aku sudah tak sabar."

"Mampuslah kau, dasar sampah."

Para iblis mencabik-cabik boneka itu layaknya anak kecil yang merusak mainan.

Akhir hidup yang sangat pantas bagi Nutos, yang selama ini gemar menjadikan orang lain sebagai mainan.

"Tidaaaak! Hentikan! Kumohon hentikan! Jangan siksa Nutos-sama...!! Jangan sakiti diaaaa!"

Ah, memuakkan, sungguh bising dan menjengkelkan.

Berhentilah menangis, dasar bocah cengeng tak berguna.

'Kusuruh kabur, ya kabur sana, dasar bocah sialan... Sialan, menyebalkan sekali... Kenapa kalian semua tidak ada yang mau menuruti perkataanku, sih...'

Nutos lantas dipelintir kuat-kapa seperti kain pel yang diperas habis-habisan.

Tapi, aneh sekali. Kenapa di saat seperti ini, relung hatinya justru merasa sedikit terpuaskan?

Sebuah rasa puas yang tak pernah ia kecap sekalipun saat masih bertahta bebas memimpin Tujuh Dewa Agung dan menginjak-injak dunia semaunya.

Sebenarnya, perasaan apa ini? Jelas-jelas ini hal yang tak berguna bagi Nutos. Tapi kenapa──kenapa rasanya sama sekali tidak buruk?

'Sepertinya... otakku sudah benar-benar rusak. Ini semua... gara-gara bajingan itu...'

Tepat ketika cakar iblis itu bersiap memelintir putus lehernya.

"Hk!? Siapa itu...!?"

"T-tunggu, hawa keberadaan apa ini!?"

Gerakan para iblis membeku seketika. Seakan-akan mereka baru saja dilanda ketakutan yang mencekam──.

"Kamu jadi kelihatan lebih langsing ya, Nutos-sama."

Sebuah kekuatan pekat yang menjijikkan merayap pelan di udara.

Untuk pertama kali seumur hidupnya, Nutos merasa jijik pada dirinya sendiri.

Sebab begitu pria itu menampakkan diri, Nutos langsung merasa bahwa bocah ingusan ini pasti akan selamat.

'──Lama banget sih, dasar Gifted Kelas G.'

Jauh di lubuk hatinya, ia merasa begitu lega.

'Cepat bantai mereka sampai mampus.'

◇◇◇◇

Nyaris saja terlambat!!

Aku melesat menyalip sang Pahlawan Berambut Biru dan tiba tepat waktu di lokasi kejadian.

Pemeriksaan situasi selesai! Korban anak-anak satu orang, tanpa luka. Tiga orang berpenampilan mirip iblis, dan satu boneka Nutos-sama yang lehernya nyaris terlepas!

Artinya, target yang boleh kubantai sampai mampus saat ini berjumlah tiga ekor iblis.

Dimulai dari iblis yang sedang berniat memuntir leher Nutos-sama.

"Apa-apaan... manusia? ...Hei. Jangan mendekat lagi kalau tidak mau kubunuh──"

"Halo. Mati sana."

"──h?"

Aku melesat cepat ke arah iblis yang mencengkeram Nutos-sama, lalu melancarkan tebasan jurus tangan berenergi kutukan tepat saat kami berpapasan!!

Kepala yang melayang itu sempat mengocehkan sesuatu, tapi masa bodoh!

Aku langsung menyambar Nutos-sama dari cengkeraman mayat iblis yang tumbang tak bernyawa.

"Tenang saja, Nutos-sama. Lehermu masih tersambung seutas kain tipis! Tuh lihat, meski sudah gepeng, kapasmu belum tumpah keluar, kok!"

'Ini namanya luka fatal, bego!'

Keadaan Nutos-sama mengenaskan sekali; kedua tangan dan kakinya putus, lehernya menggelantung lemas nyaris terpisah dari badan.

Ah, ternyata ada secuil kapas yang menyembul keluar! Tenang saja, lukamu masih dangkal...!

Itu luka parah, tahu.

Sudahlah, yang penting aman.

Walau ada sedikit efek kerusakan visual, setidaknya Nutos-sama dan gadis kecil penggemar rumah-rumahan realistis itu masih bernapas.

'Hah, sudah tidak kuat lagi... Aku mau tidur sebentar... Pokoknya pas aku bangun nanti, tangan dan kakiku harus sudah kamu jahit rapi, ya... Zzzzzzzzz...'

Hebat juga usahamu, Nutos-sama. Membakar eksistensi diri demi membentangkan barier pelindung anak kecil.

"Tindakan barusan benar-benar pantas menyandang gelar dewa yang kelak akan kubinasakan."

'Hei, barusan kamu mengucap hal yang sangat mengerikan sambil lalu, ya?'

Tidak ada yang bicara begitu, kok. Silakan tidur yang nyenyak. Aku lalu menyelipkan Nutos-sama ke dalam saku bajuku.

"Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi...? Riley tewas... dibunuh oleh manusia rendahan sepertinya!?"

"Kau... apa yang barusan kau lakukan...? Gerakannya sama sekali tak terbaca... Mustahil, Riley dihabisi dalam satu serangan...!?"

Dua iblis yang tersisa berdiri mematung menatap jasad rekannya yang kini tanpa kepala.

Ini pertama kalinya aku melihat ras iblis secara langsung, tapi perawakan mereka mirip sekali dengan manusia biasa.

Selain kulit biru pucat, tanduk, dan sepasang sayap, mereka cuma terlihat seperti pria tampan berbadan jangkung.

Apakah mereka minim emosi? Aliran mana di tubuh mereka hampir tidak menunjukkan riak kepanikan.

"Yah, sudahlah, bukan urusanku."

Berkat kerja keras mencangkul ladang seharian tadi, kebugaran fisikku saat ini berada pada kondisi puncaknya.

Membunuh mereka berdua cuma butuh satu sentuhan santai.

"Hehehe."

"Hk!! Dia datang!! Baylis!! Kerahkan seluruh manamu sekarang juga!!"

"Aku tahu!! Ah, sungguh sebuah keberuntungan!! Bisa bertemu dengan lawan sekuat ini──"

"Ini pertama kalinya aku melihat manusia yang larinya lebih kencang dariku, Kas-kun."

Sinar biru melesat membelah remang senja, dan di detik berikutnya, kepala sang iblis sudah melayang ke udara.

""Eh?""

"Bisa tersalip begitu membuat rasa percaya diriku agak runtuh, tahu."

Itu Core-san.

Bilah pedang yang diselimuti pendaran mana menebas leher sang iblis dengan keanggunan yang luar biasa mulus.

Seolah-olah memang tempatnya di sana, kepala iblis itu mendarat tepat di atas mata pedang yang disorongkan Core-san.

Pernah memotong mentimun dengan pisau dapur lalu irisannya menempel di bilah pisau secara berurutan? Kurang lebih pemandangannya persis seperti itu.

"Ugh, ghh... Core si Pemangsa Iblis! Kau datang mengincar Yang Mulia Raja Iblis, hah!?"

"T-ternyata kau masih hidup!! Kali ini, Tuan Dewa Petir Thor pasti akan membantai kepalamu sampai hancur!"

Kepala iblis yang terpenggal itu masih sempat melolong marah.

Daya tahan hidup ras iblis memang luar biasa liat, atau mungkin saking halusnya tebasan Core-san sampai-masih mereka tak sadar lehernya sudah putus.

"Tinggal kepala saja masih cerewet, ya. Ya sudahlah, selamat tinggal."

""Gyaaaagh!!""

Wush. Kobaran api biru menyala di sekujur bilah pedang, melalap habis kepala kedua iblis itu tanpa menyisakan sebutir pun abu tulang.

Luar biasa... Inilah puncak tertinggi seorang penyihir roh.

Tipe petarung yang memadukan kekejaman statistik dasar tinggi dengan keahlian teknis yang rumit.

Sangat menarik... Aku jadi tak sabar menantikan potensi masa depan Snow-san.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Core-san."

"Iya, kerja bagus juga untukmu, Kas-kun. ...Jujur saja aku agak terkejut. Kamu hebat sekali, ya."

"Tadi cuma kebetulan mendaratkan serangan kritikal, kok. Murni faktor keberuntungan."

"Bohong besar."

Jawaban yang sangat ketus. Hantu berambut biru yang kini menyandang nama Pahlawan Core ini jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah kutemui di dunia ini.

Kira-kira kalau diadu bertarung habis-habisan melawan White, mungkin Core-san masih bisa menang tipis.

"...Dari cara kerjamu di ladang tadi aku memang sudah curiga. Kekuatanmu berada jauh di atas Snow-chan, kan? Itu bukan mana, melainkan sebuah kekuatan yang sama sekali berbe──"

"Aktivasi mantra──Perintah Titah Heian: 'Lupakan seluruh kecurigaanmu terhadapku. Ketiga iblis itu murni dibinasakan oleh Pahlawan Core.'"

"...Lho? Barusan aku sedang membicarakan apa, ya?"

Bagus, berhasil. Sihir manipulasi tingkat rusak yang mampu menanamkan sugesti perintah mutlak kepada target.

Dengan 'Perintah Titah Heian', kesadaran Core-san berhasil kutulis ulang.

Tindakan barusan benar-benar mencerminkan perilaku penjahat sejati...

Memang aku ini penjahat, tahu. Aku adalah inti dari segala kejahatan, sang pusat keburukan dunia.

Meski begitu, kemampuan ini terlalu curang dan merusak tatanan cerita, jadi sebaiknya jangan digunakan sembarangan.

Kalau terus bergantung pada jurus instan seperti ini, jalannya narasi bisa langsung tamat begitu saja.

Dunia tidak akan sudi membiarkan kemalasan semacam itu terjadi.

Setelah memanipulasi ingatan Core-san, kini giliranku menenangkan anak kecil yang sedari tadi menggigil ketakutan.

"A-Abang Kas, Kakak Pahlawan... Nutos-sama tadi... Nutos-sama sudah menolongku... Tadi Nutos-sama menyuruhku lari, tapi kakiku lemas sekali sampai tidak bisa gerak... tapi Nutos-sama tetap melindungiku..."

Bocah itu terus mencemaskan nasib Nutos-sama sembari mengusap air matanya yang berlinang deras.

Anak yang manis sekali... Sekarang aku bisa sedikit memaklumi alasan kenapa Nutos-sama rela mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.

...Sulit dipercaya. Dewi Lutos sudi melindungi manusia rendahan...

Yah, sekarang dia bukan lagi Dewi Lutos, melainkan cuma boneka Nutos-sama, kan? Entahlah, masa bodoh.

"Nutos...? Nama boneka kain milikmu itu, ya? ...Aneh sekali, rasanya para roh di sekitarku sangat tertarik pada boneka itu..."

"Ah... itu karena boneka edisi sangat terbatas. Sudahlah, sebaiknya kita segera kembali ke desa."

"Edisi terbatas... Di mana belinya, ya... Ah, lupakan saja. Ayo, sini, biar Kakak gendong di punggung."

"Iya...! Terima kasih... Kakak Pahlawan..."

"Fufufu... Anak pintar. Aku sangat suka anak kecil yang tidak takut padaku."

Dengan raut wajah teduh penuh kehangatan, Core-san menggendong bocah itu di punggungnya.

"Abang Kas... Nutos-sama tidak mati, kan? Dia baik-baik saja, kan?"

"Tidak mati, kok. Nutos-sama itu kuat sekali. Nanti sesampainya di rumah akan kujahit tubuhnya, jadi kalian bisa segera bermain bersama lagi."

"Wah...! Terima kasih banyak, Abang Kas!"

"Kas-kun, kamu ternyata luwes sekali ya kalau menghadapi anak kecil?"

"Tentu saja. Waktu masih menjadi budak tani dulu, aku sering mengasuh putri dari orang yang merawatku."

"Budak tani... Maafkan aku, sepertinya aku menanyakan hal yang kurang pantas."

"Tidak apa-apa, itu kenangan yang indah bagiku, kok."

Hari-hari awal kehidupanku sebagai budak ladang sesaat setelah bereinkarnasi... Mengingat hal itu membuatku sedikit merindukan Tuan Bon, sang pengawas ladang yang dulu merawatku, beserta keluarganya.

Andaikan putri Tuan Bon masih hidup, dia pasti akan menjadi teman bermain yang sangat cocok untuk menyiksa Nutos-sama.

Sembari menceritakan riwayat kehidupanku sebagai budak ladang kepada Core-san, kami berdua melangkah menyusuri jalan setapak menuju desa──.

"Kastani-san! Core-san!"

Itu Snow-san. Di belakangnya, tampak serombongan warga desa berusia muda berjalan mengekor.

Mungkin mereka ini barisan pemuda patah arang yang konon gemar mengurung diri di rumah?

"! Ayah!"

Rupanya ayah dari bocah perempuan ini juga ada di dalam rombongan itu. Baguslah, dengan begini masalah bisa tuntas dengan damai──.

"K-kalian berdua, apa yang sudah kalian perbuat, hah!?"

Sebuah bentakan kasar meledak.

Kalimat pertama yang meluncur dari mulut sang ayah bukanlah ungkapan cemas kepada putrinya, bukan pula untaian rasa terima kasih kepada Core-san.

"K-kalian membunuh kaum iblis itu!? T-tega sekali... Apa yang sudah kalian lakukan!!"

"Kalau mereka datang membalas dendam, ba-ba-bagaimana kalian akan bertanggung jawab, heh!?"

"Kalian yang harus membereskannya! Sujud dan minta maaflah pada para iblis itu sekarang juga!!"

"Entah kalian pahlawan atau apalah masa bodoh, tindakan gegabah kalian ini cuma membawa sial bagi kami!!"

Rupanya dia tipe orang dewasa yang lidahnya kelu untuk sekadar mengucap kata terima kasih.

"Sialan, bagaimana ini sekarang!? Apa yang harus kita katakan pada bangsa iblis nanti!?"

"Kalau saudara kami yang dijadikan pekerja paksa di istana Raja Iblis disiksa gara-gara ini, siapa yang mau tanggung jawab!?"

"Ini perbuatan kalian sendiri! Jangan sangkut pautkan kami dalam masalah ini!!"

"...Mohon maaf, niat awal saya sebenarnya hanya ingin memanggil ayah dari anak ini... Ini murni kelalaian saya."

"Tidak apa-apa, Snow-chan. Langkahmu tidak salah, kok. Lagipula argumen yang mereka sampaikan memang sangat masuk akal."

Core-san berusaha menenangkan Snow-san yang tampak tertunduk lesu. Sementara itu, amarah para warga desa kian berkobar tak terkendali.

Pria yang tampak seperti ayah sang anak menudingkan jarinya tepat ke arah hidung kami.

"Semenjak kalian menginjakkan kaki di sini... cuma ada masalah yang datang bertubi-tubi! Lagak kalian mendekati para tetua dan sok rajin membantu di ladang tidak akan bisa membodohi kami! Kalian ini parasit!

Gara-gara kalian, para tetua itu mulai menyuruh kami bekerja lagi!

Kalau kaum iblis sampai menaruh dendam pada desa ini, kalian mau tanggung jawab!?

Ini semua salah kalian!!"

Kenapa ya, kalimat sesederhana 'terima kasih sudah menyelamatkan putriku' saja begitu sulit terucap dari mulutnya?

Mungkin karena belakangan ini aku terlalu sering dikelilingi bibit-bibit protagonis hebat seperti Snow-san dan Eugene-kun, aku jadi sempat melupakan realitas.

Benar juga. Tabiat mayoritas manusia pada dasarnya memang sebusuk ini.

Manusia medioker yang hanya mementingkan keselamatan perutnya sendiri adalah standar umum di dunia.

Hah, menjijikkan sekali. Rasanya seperti sedang menatap cermin diriku sendiri.

"K-kenapa kalian bicara sekasar itu...!? Core-san dan Kastani-san melakukan semua ini demi melindungi desa kalian──"

"Sudah cukup, Snow-chan. Mundurlah ke belakang."

Core-san menahan bahu Snow-san yang tampak gusar dan hendak membalas.

"Tapi... Core-san..."

"Terima kasih sudah membelaku, Snow-chan. Tapi tenang saja, aku sudah sangat terbiasa menghadapi hal seperti ini! Ya?"

Core-san menurunkan anak perempuan itu dari gendongannya, lalu melangkah tenang menghampiri kerumunan warga.

Sebelum orang-orang yang gemetar ketakutan itu sempat membuka mulut lagi.

"Maafkan saya karena telah lancang bertindak sembrono. ...Besok pagi-pagi sekali kami berjanji akan segera angkat kaki dari desa ini. Sudikah kiranya Anda sekalian memaafkan kami dengan itu?"

Core-san membungkukkan badannya dalam-dalam. Pemandangan yang sungguh ganjil dan ironis.

"T-tidak, harus hari ini juga! Angkat kaki dari sini sekarang juga!!"

Kenapa pihak yang diselamatkan justru bertingkah begitu arogan dan berkuasa, ya?

"K-kalian semua...!! Keterlaluan sekali memperlakukan orang seperti ini...!"

"Diam kau!! Lagipula sejak awal memang gila menampung orang yang hobinya memecahkan guci dan mencuri sayuran warga seperti dia!!"

Skakmat, argumen yang itu memang telak menusuk ulu hati. ...Core-san, kenapa dulu kamu harus bertindak sebodoh itu, sih?

Raut wajah Snow-san pun sempat terenyak, menyadari posisi mereka yang memang serba salah.

"Mengenai hal itu kami sungguh meminta maaf! Kami benar-benar menyesal! Tapi sikap kalian saat ini sudah sangat keterlaluan! Kenapa kalian tega mencaci maki orang yang telah bertaruh nyawa demi melindungi kalian──"

"Snow-chan."

"Core-san...! T-tapi...!"

Mampu merasakan kepedihan orang lain seolah-olah rasa sakit itu menimpa dirinya sendiri. Itulah penilaian Core-san terhadap watak Snow-san tempo hari.

Penilaian itu seratus persen tepat; detik ini, Snow-san tengah meluapkan amarah murni demi membela harga diri Core-san.

"Hati mereka sedang terluka parah. ...Sebagai seorang pahlawan, sudah kewajiban kita untuk merengkuh kepedihan mereka, bukan?"

"...Hk... b-baiklah."

Baik Core-san maupun Snow-san, jiwa kepahlawanan dalam diri mereka selalu memprioritaskan perasaan kaum yang lemah ini.

Mereka berdua sungguh gadis-gadis yang terlampau berhati malaikat.

"C-cepat menjauh dari putriku!! Kalau kutukan monster menjijikkan sepertimu sampai menular padanya, bagaimana!?"

Cacian sang ayah disambut seruan setuju dari warga desa di sekitarnya.

Menyaksikan kebiadaban ayahnya dan para orang dewasa di desa itu, raut wajah si gadis kecil tampak begitu tersiksa menahan tangis.

"...Maafkan perbuatan ayahku..."

"...Kamu anak yang sangat baik, ya."

Core-san berlutut mensejajarkan pandangannya dengan sang bocah, lalu mengulurkan jemarinya hendak mengusap puncak kepala anak itu──.

"J-jangan sentuh anakku!! Dasar monster keparat!"

"Hk..."

Jemari Core-san yang nyaris menyentuh rambut sang anak tersentak kaku, lalu ditarik mundur perlahan.

Hoo, sampai berani mengucap kata sekejam itu, ya.

"...Maafkan aku, aku tidak bermaksud lancang. Hati-hati di jalan pulang, ya, Manis."

Core melambaikan tangannya pelan seraya pamit mundur. Namun sang bocah justru memberontak dan memeluk erat pinggang Core-san sembari menangis histeris.

"E-enggak mau! Ayah dan semuanya jahat sekali! Kenapa kalian mau mengusir Kakak Pahlawan dan Abang Kas!? Kalian jahat!!"

"Tutup mulutmu!! Kamu masih bocah ingusan, tidak tahu apa-apa soal dunia!!"

"Aku tahu, kok! Dulu Ayah selalu menasihatiku agar berbuat baik pada sesama! Tapi Ayah sendiri sama sekali tidak punya hati!"

"Berani sekali kau membantah orang tua sendiri, heh!?"

Sang ayah memungut sebongkah batu tajam yang tergeletak di dekat kakinya.

"Cepat kembalikan putriku sekarang juga!! Pasti kau yang meracuni isi kepalanya dengan omong kosong, kan!? Pasti begitu!! Kau biang keladinyaaaa!!"

Pria itu menarik tangannya ke belakang, bersiap melontarkan batu itu sekuat tenaga.

Core-san... tampaknya sama sekali tak berniat menghindar.

...Apakah selama ini dia selalu diperlakukan sehina ini oleh orang-orang yang ia lindungi...?

Berapa kali tubuh rapuh itu dihujani lemparan batu oleh orang-orang dungu seperti ini? Berjuang mati-matian seorang diri menumpas kaum iblis, tanpa ada satu pun jiwa yang sudi memahaminya.

"Mampus kau, dasar monster sialan!!"

"..."

"Hk!"

Core-san memejamkan matanya pasrah, sementara Snow-san bergegas melompat ke depan berniat pasang badan menjadi perisai.

Nah, batas toleransiku sudah resmi dilanggar.

Plak! Batu yang dilempar ke arah Core-san dan nyaris menghantam kening Snow-san itu berhasil kutangkap sempurna di udara.

"Kas-kun...?"

"Kastani-san?"

Kedua gadis itu mengerjapkan mata mereka keheranan.

"Maaf ya kalian berdua. Anggap saja tindakan ini murni bentuk keegoisanku pribadi."

Mereka berdua memang mirip sekali. Terlampau baik hati dan penuh dengan belas kasih tanpa batas.

Sosok protagonis cerita memang harus berwatak mulia seperti itu. Masalahnya, aku ini sama sekali bukan seorang tokoh utama.

"Mewakili sang pahlawan, izinkan aku sang pengiring, Rainbow Kastani, yang mengambil alih pembicaraan ini. Wahai sekalian warga Desa Rusdan yang terhormat."

Urusan menghadapi manusia medioker berhati picik memang paling cocok diserahkan pada sesama manusia medioker, bukan?

"A-apa maumu, bajingan... Tiba-tiba sok maju ke depan begitu."

"Bukannya anak itu... sosok Dewa Tani berambut hitam yang ramai dibicarakan para tetua tadi siang?"

"Dewa Tani pala lu peyang... Jangan bercanda di saat genting begini!"

"Kau juga komplotan pahlawan brengsek ini, kan!? Kau juga harus ikut bertanggung jawab!!"

Aduh, aduh, mulut-mulut busuk itu seenaknya saja menggonggong tanpa rem.

Mentang-mentang Core-san dan Snow-san adalah gadis-gadis cantik yang berhati lembut, para bedebah ini jadi besar kepala dan merasa berada di atas angin.

...Player.

Mau melarang tindakanku, heh, Navi?

Hajar dan bungkam mulut mereka sekarang juga.

Nah, begitu dong, itu baru rekanku.

"Kalian semua──apa tidak punya secuil pun rasa malu di dalam dada?"

"A-apa katamu?"

"Begitukah cara kalian memperlakukan orang yang sudah menyelamatkan nyawa anak kalian? Kalau memang begitu budayanya, berarti generasi muda di Desa Rusdan ini isinya cuma sekumpulan orang dungu tak berotak."

"B-berani sekali kau bicara lancang!? Bocah tengil sepertimu──"

"───Bocah tengil?"

Kakiku yang telah dilapisi energi kutukan kuhentakkan keras menghantam daratan di bawah. Aksi gertak sambal yang sebenarnya cukup norak, namun terbukti luar biasa efektif untuk menundukkan nyali manusia-manusia medioker.

Duarrr!! Tanah amblas terbelah.

"""""!?!?!?!?!?!?!?"""""

"Perlu kuajari sopan santun cara berbicara yang benar pada tuanmu, wahai para budak jelata?"

Dalam sepersekian detik, warna darah seketika surut dari wajah para penduduk desa.

"H-hiiik...!"

"T-tanahnya...!? Retak dan amblas...!"

"D-dia monster sungguhan..."

"K-kau... ti-tidak, Anda juga rekannya sang pahlawan, kan...!? K-kenapa orang seperti kalian malah balik mengancam kami!? Bukankah kalian punya kewajiban untuk melindungi kami──"

"Kewajiban?"

"""""Hk, ugh..."""""

Kerumunan warga itu mendadak sunyi senyap membisu. Sungguh kaum oportunis rendahan. Begitu diperlihatkan sedikit kekerasan fisik, nyali mereka langsung ciut ke dasar bumi.

Aku tahu tindakan kotor semacam ini bukanlah hal yang diharapkan oleh Snow-san dan yang lainnya. Tapi orang-orang bodoh semacam ini memang harus diberi tamparan realitas agar otaknya berfungsi.

"Kalian pikir diselamatkan itu adalah hak mutlak yang sudah sewajarnya kalian terima?"

"I-itu, soalnya... Ka-kalian kan bergelar pahlawan...!"

"Lantas karena bergelar pahlawan, kalian merasa berhak melempari mereka dengan batu sesuka hati?"

Brakkk! Sekali lagi, kuhentakkan kakiku hingga tanah di sekitar kami retak mengerikan.

"...H-hiiiik!!"

"Ke mana perginya kesombongan kalian yang menggebu-gebu tadi, hah? Ternyata kalian baru bisa diajak berkomunikasi secara beradab setelah disuguhkan ancaman kekerasan fisik yang nyata, ya."

Para penduduk desa menelan ludah dengan susah payah.

"Ditolong itu bukanlah sebuah hal yang lumrah. Kalian sudah terlampau terlena oleh kebaikan mereka, sampai-sampai melupakan perkara yang begitu mendasar ini."

Core-san dan Snow-san adalah tipe orang yang sanggup merengkuh kepedihan orang lain seolah-olah itu adalah rasa sakit mereka sendiri.

Orang-orang medioker memang paling gemar pada orang baik hati. Sebab, sosok semacam itu sangat nyaman untuk dimanfaatkan demi keuntungan pribadi.

Namun, aku justru paling muak pada orang-orang medioker semacam itu.

"Jangan seenaknya memanfaatkan kemurahan hati orang lain."

"K-kami tidak berniat melakukan hal semacam──"

"Kalau memang tidak bermaksud begitu, kenapa kalian melempari Core-san dengan batu? Kenapa kalian melontarkan kata-kata keji pada Snow-san?

Kalian memandang rendah mereka berdua, kan? Kalian memanfaatkan kelembutan hati orang yang tulus untuk bertindak semena-mena."

Melihat tokoh utama milikku direndahkan oleh sampah-sampah ini benar-benar membuat suasana hatiku memburuk.

"Kebaikan hati itu ada batasnya, tahu. Semulia apa pun seseorang, kalau dilempari batu mereka pasti akan merasa muak, dan jika dicaci maki mereka juga akan merasa terluka."

"T-tapi... dua orang di sana itu──hk, bukankah mereka berdua adalah pahlawan!? Sudah kodratnya pahlawan bertindak seperti itu, kan!?"

"Bukan. Mereka berdua adalah manusia. Di samping menyandang gelar pahlawan, mereka tetaplah manusia seutuhnya."

""Hk...""

Eh? Kenapa Core-san dan Snow-san malah memasang ekspresi luar biasa terkejut seperti itu!? Navi, apa kalimatku barusan ada yang salah?

Tidak, sama sekali tidak ada masalah. Silakan lanjutkan.

Baguslah kalau begitu.

"Mereka hanya berusaha keras untuk tetap bersikap lembut dan berbuat baik. Meski merasa kesal mereka tetap menahannya, dan walau dirundung duka mereka tetap tersenyum. Kalian sama sekali tidak paham betapa sulit dan betapa luar biasanya pengorbanan itu."

"Kastani-san..."

"Kas-kun..."

"Aku sendiri mustahil bisa melakukan hal semulia itu. Soalnya, aku ini sama sekali bukan orang baik-baik. Itulah kenapa aku merasa sangat jengkel pada kalian yang sudah berani melukai orang-orang berharga—maksudku tokoh utamaku."

"Orang berharga...?"

"...Kami?"

Hm? Sikap Snow-san dan Core-san kok makin mencurigakan, ya?

Tidak apa-apa, abaikan saja. Silakan lanjutkan.

Siap.

"Makanya, aku tidak akan bersikap ramah pada kalian──karena sejak awal aku memang bukan orang yang baik hati."

"""""Ugh..."""""

"Minta maaflah karena sudah melempar batu tadi. Sekarang juga."

Melihat situasi ini, barisan penduduk desa akhirnya menyerah dan pasrah. Satu per satu dari mereka mulai menundukkan kepala di hadapan Core-san dan yang lainnya.

"...Tuan Pahlawan, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya... atas kelancangan kami..."

"Eh... e-eh?"

Core-san──terperangah mematung seolah-olah sedang menyaksikan fenomena yang mustahil terjadi.

Dia sama sekali tidak terbiasa menerima permintaan maaf. Jangankan terbiasa, mungkin seumur hidupnya dia belum pernah...

"...Tapi, lalu bagaimana sekarang? Fakta bahwa Pahlawan... maksudku Tuan Pahlawan telah membunuh kaum iblis itu tetap tidak berubah..."

"Kalau begini terus, monster-monster itu pasti akan datang membalas dendam..."

Ujung-ujungnya, kekhawatiran yang berputar di kepala para penduduk desa hanyalah keselamatan diri mereka sendiri.

Orang-orang ini adalah manusia medioker, persis sepertiku. Mana mungkin mereka bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan.

"Bisa jadi kaum iblis sedang bergerak menuju ke sini saat kita sedang bicara begini... Lantas apa yang harus kita lakukan..."

"Bukan 'bisa jadi'. Sudah pasti mereka akan datang ke sini."

"...Eh?"

"Lagipula, sedari tadi dia memang sudah ada di sini, kok."

"Eh?"

Tepat saat para penduduk desa memiringkan kepala mereka kebingungan.

"Hup──"

Aku melemparkan sebutir batu ke arah dahan pohon di dekat kami. ──Prak. Kilatan cahaya biru yang menyerupai sengatan listrik seketika menyala terang dalam sekejap mata.

"..."

Sosok itu akhirnya menampakkan diri di atas dahan pohon.

Sebenarnya sejak pertengahan obrolan tadi, makhluk itu sudah berdiri mematung di sana tanpa bergerak.

Karena dia bersikap tenang dan tidak membuat keributan, sengaja kubiarkan saja. Namun seperti dugaanku, dia memang seekor iblis.

Kulit biru pucat, tanduk melengkung, serta sepasang sayap. Sosoknya berupa pria tampan bertubuh semampai dengan rambut merah panjang yang terurai.

"...Bagaimana caramu menyadari keberadaanku?"

"Firasat saja."

Tentu saja aku bohong. Mataku yang dilapisi Evil Eye of Curse bisa menangkap wujudnya dengan sangat gamblang.

Di dalam aliran mananya... terkandung karakteristik petir yang pekat.

Dia membiaskan cahaya di sekitarnya layaknya kamuflase optik untuk menyatu sempurna dengan pemandangan sekitar. Hoo... teknik yang sangat menarik.

"H-hiiiik!"

"P-Pahlawan-samaaaa!"

Dasar manusia-manusia payah, tidak tahu malu sekali.

Core-san langsung bergeser gesit mengambil posisi di mana ia bisa melindungi orang-orang itu setiap saat.

"Dewa Petir──Thor...!"

"Sudah lama tidak berjumpa, Pahlawan Core. Terakhir kali kita berhadapan di kota atas laut itu, kan?"

Rupanya mereka berdua sudah saling mengenal cukup dekat.

"Kurasakan mana anak buahku lenyap tak bersisa, maka aku datang ke sini untuk memastikan. Ternyata benar ulahmu."

"Maaf ya, kelakuan anak buahmu itu buruk sekali, sih. Kamu datang berniat membalaskan dendam bawahanmu, kah?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak punya keterikatan emosional pada sampah yang melupakan harga diri ras iblis hanya demi membantai anak-anak kecil sebagai pelampiasan waktu luang. ...Tampaknya masa kejayaan bangsa iblis memang sudah berada di ujung tanduk. Ini semua gara-gara kau terlalu banyak membantai iblis-iblis berbakat kami.

Sampai-sampai iblis yang melayani langsung di bawah istana Raja Iblis pun kualitasnya cuma sekelas cecunguk rendahan seperti ini."

"Tak perlu dipikirkan terlalu larut. Toh sebentar lagi seluruh bangsamu juga akan musnah tak bersisa."

Nada bicara Core-san mendadak berubah sangat agresif bila berhadapan dengan kaum iblis.

Begitu rupanya, ada sisi kepribadian yang seperti ini juga, ya.

"Ah, kau benar. ...Kelak kau pasti akan membantai Raja Iblis kami. Dengan mengorbankan sisa nyawamu sendiri."

"Tentu saja, karena itulah peran utama seorang pahlawan."

"Begitu, ya. Kalau begitu, izinkan aku menuntaskan peranku sendiri──sebagai bagian dari ras iblis."

Keheningan dingin mencekam sepersekian detik. Keringat dingin tampak mengalir tipis di pelipis Core-san.

"Gawat, dia memang selalu gegabah begini... Snow-chan, Kas-kun."

Core-san berbisik dengan raut wajah tegang yang jarang sekali ia perlihatkan.

"Maaf merepotkan, bisakah kalian berdua membawa orang-orang ini lari secepat mungkin?"

"Eh?"

Snow-san gelagapan dan belum sempat merespons secara utuh. Ah, serangan mematikannya sudah datang.

"──Guncangan Gift. ──Heavenly Thunder Summons."

Iblis itu melesat melonjak ke angkasa.

Dalam sekejap mata, sekujur raganya berubah wujud murni menjadi kilatan petir menyambar-nyambar.

Luar biasa sekali, cakrawala seketika terselubung awan kelam pekat yang berputar mengerikan. Dia berniat meluncur turun menghujam bumi sebagai halilintar raksasa.

...hk! I-ini... Gift...!? Tapi, bagaimana bisa skalanya sebesar ini!?

Aku mengerti betul situasinya, Navi.

Kalau dibiarkan menghantam, seluruh area Desa Rusdan ini pasti akan lenyap terhapus dari peta.

"Kau selalu saja tidak sabaran, Dewa Petir Thor!! Sihir Roh──Spirit Flame Barrier!!"

Core-san melompat menerobos ke garis depan, memosisikan dirinya di antara sang iblis dan kami semua.

Kabut biru pekat terhampar membentuk tirai tebal di depannya.

Gadis itu berniat menjadi perisai tunggal demi melindungi kami seisi desa.

Tapi ini gawat sekali. Dari analisis Evil Eye of Curse milikku, pertahanan Core-san mustahil sanggup meredam petir dahsyat itu. Dinding sihir rohnya pasti akan hancur lebur.

Petir itu nantinya bakal terpental liar ke segala penjuru; dengan ketahanan fisik yang kumiliki, aku dan Core-san mungkin masih sanggup bertahan hidup tanpa luka berarti.

Namun Snow-san dipastikan terluka fatal, sementara seluruh penduduk desa ini akan tewas terpanggang menjadi abu.

Ini saatnya memainkan peran pengiring yang setia berkorban jiwa raga.

Aku sengaja berpura-pura tersandung lalu melompat pasang badan tepat di depan Core-san.

"! Kas-kun, apa yang kamu lakukan!!??"

Tenang saja, biar serangan ini kutampung dengan sisa bar darahku!

Selama seluruh petir itu kulumuri dan kuserap habis menggunakan energi kutukan──eh? Kok tidak jadi menyerang? Sang iblis justru berhenti mematung di udara dalam wujud halilintar berderak.

"...Tunggu dulu. Kau barusan sengaja pasang badan demi melindungi Pahlawan Core, kan? Atas alasan apa? Padahal kau tahu tindakan itu sama saja dengan menjemput maut."

Aduh, malah ketahuan lagi. Peka sekali insting iblis yang satu ini.

"Membantu dan melindungi sang pahlawan adalah tugas mutlak seorang pengiring, kan?"

"──Pengiring, katamu?"

Sosok iblis itu seketika membatalkan wujud petirnya dan kembali berpijak di udara.

"Kau... adalah pengiring dari sang pahlawan?"

"Benar."

Yah, lebih tepatnya sih aku ini pengiringnya Snow-san, bukan Core.

"...Pantas saja aku merasakan percikan ilahi yang tipis dari tubuhmu... Begitu rupanya. Seorang pengiring, ya..."

Fokus perhatian sang iblis kini sepenuhnya tertuju ke arahku seorang.

"...Kutarik kembali seranganku, Pahlawan Core."

"Hah? Apa maksudmu? Sang Dewa Petir memutuskan untuk menghentikan pertarungan?"

Mata Core-san terbelalak tak percaya.

"Pikiranku berubah. ...Mari kita buat kesepakatan dagang. Serahkan pria itu ke istana Raja Iblis. Sebagai gantinya... yah, aku akan membatalkan seluruh hukuman pembalasan untuk Desa Rusdan."

"Kau pikir aku sudi bernegosiasi dengan seekor iblis?"

"Kau pasti paham betul konsekuensinya, Pahlawan Core. Jika kau dan aku bentrok di tempat ini, desa di belakangmu ini tidak akan pernah selamat."

"..."

Core-san terbungkam tak mampu membalas sepatah kata pun. Ya, perkataan iblis itu memang seratus persen benar.

"Core-san, mari kita turuti persyaratannya. Soal keselamatanku, kamu tidak perlu khawatir."

"Kas-kun... tunggu, jangan gegabah...! Jangan lakukan hal gila itu!"

"Ka-Kastani-san, ku-kumohon hentikan! Pasti ada jalan keluar yang lain!"

"...Besok pagi, aku akan mengirim utusan untuk menjemputmu. Pengiring, kenakan benda ini sebelum fajar menyingsing."

Sebuah rantai besi tebal berkarat berbentuk segi empat dilemparkan oleh sang iblis ke arah kakiku.

"Kalung Penahan Jiwa. Artefak sihir yang mampu menyegel aliran mana bagi siapa pun yang mengenakannya. Wahai pengiring, pasang benda itu di lehermu sebagai bukti ketundukan mutlak."

"Kas-kun, kamu dengar aku, kan? Kamu sama sekali tidak perlu mengenakan benda sema──"

Klek. Kalung itu langsung kupasang mengunci di leherku. Lumayan berat dan tebal juga, ya...

"...Kenapa..."

"Ka-Kastani-san, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran Anda..."

Baik Core-san maupun Snow-san langsung membeku di tempat dengan mata terbelalak lebar.

Raut wajah mereka berdua persis seperti kucing yang kebingungan melihat tingkah aneh sang majikan.

Habisnya, kalau tidak segera kupasang sendiri, salah satu dari Core-san atau Snow-san pasti akan mengajukan diri untuk mengenakannya demi berkorban.

Wajah mereka berdua sudah berteriak 'aku siap menumbalkan diri' sejak tadi.

"Wahai petinggi iblis, atau Tuan Empat Raja Surgawi. Begini sudah cukup, kan?"

"...Hmph, pria yang sangat ganjil. ...Malam ini akan menjadi malam terakhirmu bercengkerama dengan rekan-rekanmu. Gunakanlah waktu yang tersisa itu sebaik-baiknya."

Tubuh iblis itu seketika melesat lenyap berubah menjadi kilatan petir biru.

Baru setelah sosoknya menghilang, dentuman guntur menggelegar dahsyat di udara. Kecepatan gerak yang melampaui rambatan suara, hebat juga.

"Ka-Kastani-san, apa yang sebenarnya──"

"Kas-kun, apa yang sebenarnya kamu perbuat──!!"

Wajah panik yang belum pernah kutemukan sebelumnya terpampang jelas di paras kedua gadis itu.

Kalimat yang harus kuucapkan pada mereka berdua sudah kupersiapkan dengan sangat matang.

"Kita berhasil, Core-san, Snow-san."

"...Eh?"

"Dengan begini, kita bisa menyerbu istana Raja Iblis tanpa perlu mencemaskan keselamatan warga desa maupun ladang di Desa Rusdan lagi."

""...Hah?""

"Posisi pengiring pahlawan sepertiku yang dijadikan sandera di istana Raja Iblis, secara taktis berarti seorang mata-mata telah berhasil menyusup masuk ke dalam markas utama musuh."

Ini adalah kesempatan emas untuk melakoni peran pria misterius sekaligus pengiring setia secara bersamaan.

Ditambah lagi, aku bisa memamerkan kecerdasan taktis sekelas ahli strategi perang di hadapan mereka.

"Di bagian dalam istana musuh ada diriku yang bersiaga. Sementara di luar istana, ada dua orang pahlawan hebat yang siap menggempur. Dengan kata lain,"

Kusalangkan kedua jari telunjukku membentuk formasi silang.

"Manuver serangan jepit sempurna telah tercipta."

"Kas-kun... mungkinkah sejak awal... kamu memang sengaja merencanakan hal ini...?"

"Peluang emas ini hanya ada saat ini saja, wahai Tuan Pahlawan sekalian. Ada Snow-san dan juga Core-san. Dengan kekuatan dua orang pahlawan terhebat,"

Inilah manuver paling berkelas yang sangat layak diperagakan oleh sosok pengiring penuh misteri...!

"Mari kita hancurkan Raja Iblis itu bersama-sama."

""Hk!""

Kedua pahlawan itu terdiam kaku dengan kelopak mata yang berkedut-kedut hebat.

Aksi pengorbanan diri itu bukanlah hak monopoli milik pahlawan saja, tahu!!

Manuver lemparan batu yang sudut belokannya cukup rapi juga, ya...



Chapter 2 | ToC | Chapter 4

Post a Comment

Post a Comment

close