Final Chapter
Setelah Upacara
Penutupan...?
"Kalau
begitu, mari kita lanjut ke segmen berikutnya! Wawancara vokasional Klub Jurnalistik—"
"Yaaaash!
Aku akan menjelaskan tentang hal itu!"
"Eh?
...Lho! Ada dua Hikari-san!?"
Ishizuka
dibuat terkejut oleh Hikari Usami yang mendadak muncul dengan mengenakan
seragam olahraga.
"K-Kalau
begitu, siapa Usami-san yang ini...?"
"Nishishi...
Baik, Chi-chan, perkenalkan dirimu."
"A-Anu...
Aku adik kembarannya, Chikage Usami..."
"""Eeeeeehhhhhhhh—!?"""
Studio
siaran langsung itu pun diselimuti oleh suara-suara teriakan penuh rasa
terkejut.
Lagipula,
semua orang benar-benar percaya bahwa dia adalah Hikari sampai detik ini—
"—Itu
lelucon tukar posisi si kembar yang lumayan menarik, ya?" Tachibana
terkekeh sambil menatap layar ponsel pintarnya.
Di samping jalan
menuju area parkir staf, tepat di depan bedeng bunga hortensia, Sakuto dan
Tachibana berdiri berdampingan sambil bersandar ke dinding dan menyaksikan
video kemarin.
"Pada
akhirnya itu cuma jadi proyek lelucon biasa. Lagipula, itu jenis konten yang
cuma bisa dinikmati oleh kalangan internal saja."
"Fufu,
meskipun begitu, cerita yang beredar sepertinya sudah menetapkan kalau itu
adalah lelucon yang dilancarkan Klub Jurnalistik kepada Klub Penyiaran.
Anak-anak Klub Penyiaran juga senang bukan main. Mereka menyuntingnya dan
bahkan menambahkan efek suara lelucon... Dan coba lihat kolom komentar YouTube,
persis seperti ini—"
Isi garis
besarnya adalah hal-hal seperti "Mereka ternyata kembar?" dan
"Bagian mananya yang lelucon?", jadi dari sudut pandang orang-orang
yang tidak mengenal Usami bersaudara, itu cuma kelihatan seperti proyek lelucon
kalangan sendiri yang gagal.
Namun, alasan
kenapa jumlah penayangannya bisa melonjak lebih tinggi daripada video apa pun
yang diunggah sejauh ini adalah karena adanya dukungan yang begitu penuh
semangat seperti "Hikari-chan imut banget!" dan "Chikage-chan
memang yang terbaik!"
"Seperti
yang diharapkan dari Usami bersaudara."
"Yah, kurasa
memang begitu."
"Dengan ini
sebagai pemicunya, mungkin mereka bakal masuk ke dunia hiburan, atau menikah
dengan presiden perusahaan IT?"
"Sensei
ikut-ikutan bilang begitu juga..."
"Apa
maksudmu dengan 'ikut-ikutan'..."
Tachibana
memiringkan kepalanya dengan tatapan polos, tetapi Sakuto sedang tidak dalam
suasana hati untuk menjelaskan tentang Matori.
"Jadi,
apakah hal seperti ini sudah cukup bagiku?"
"Fufu, ini
melampaui ekspektasiku. Seperti yang diharapkan dari seorang Takayashiki,
kan?"
"Meskipun
Sensei memujiku, tidak akan ada hal bagus yang keluar dari mulutku, tahu?"
Tachibana
memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku sambil mengumbar senyuman.
"Aku
berterima kasih. Terima kasih, Takayashiki. Selain itu, ada satu hal yang belum
sempat kuberitahukan padamu."
"...Apa
itu?"
"Soal urusan
Klub Jurnalistik, sebenarnya sinyal SOS dari sang ketua, Ayaka Uehara, datang
kepadaku terlebih dahulu."
"Terlebih
dahulu? Apa maksud Sensei dengan sinyal SOS?"
—Awal
mula dari keriuhan ini berasal dari bulan Mei.
Alur
penerbitan koran Klub Jurnalistik adalah setelah dibagikan di antara para staf,
koran tersebut dievaluasi untuk melihat apakah layak terbit atau tidak, baru
kemudian didistribusikan.
Namun,
koran yang diterbitkan pada bulan Mei adalah sesuatu yang begitu buruk hingga
sama sekali tidak boleh didistribusikan.
Saat
memberikan bimbingan siswa yang sangat keras mengenai masalah tersebut, ada
kata-kata yang terucap dari mulut sang ketua, Ayaka Uehara.
—Bahwa
dia ingin melakukan sesuatu untuk Klub Jurnalistik tetapi tidak tahu apa yang
harus dia lakukan.
Meskipun
Tachibana menyemangati Ayaka—yang sangat bersungguh-sungguh dan memiliki rasa
tanggung jawab yang lebih kuat dari orang lain, tetapi berpenakut dan tidak
bisa mengendalikan anggota klub yang terbilang sangat individualistis—dengan
mengatakan dia harus melakukan yang terbaik karena dialah ketuanya untuk saat
ini, seperti yang diperkirakan, koran bulan Juni juga bukan sesuatu yang bisa
diterbitkan.
Kali
pertama berakhir dengan teguran, kali kedua akhirnya diangkat ke dalam rapat
staf, dan kesepakatan bersama di antara para pengajar adalah jika ada kali
ketiga, klub tersebut akan dibubarkan—
"—Aku
sudah membaca artikel-artikel dari tahun lalu, dan Ayaka Uehara serta Matori
Kosaka pada dasarnya sangat luar biasa. Bahwa mereka salah mengarahkan tujuan itu semata-mata karena kurangnya
pengawasan dari pihak guru. Itu bukan sepenuhnya tanggung jawab mereka."
"Apakah itu
artinya... Sensei sepenuhnya melemparkan masalah sebesar itu kepadaku, Hikari,
dan Chikage?"
"Yah,
aku memang berpikir kalian mungkin bisa melakukan sesuatu tentang itu, tetapi
persis seperti yang kamu katakan, aku melemparkan seluruh urusan itu kepada
kalian. Maaf ya."
"Maaf,
kata Sensei..."
"Namun,
sebuah keberkahan tersendiri bahwa Hikari Usami kebetulan berada di Klub
Jurnalistik kali ini."
Sambil mengatakan
itu, Tachibana memejamkan matanya seolah merasa lega.
"Jika dia
tidak ada di sana, aku tidak akan meneruskan masalah ini kepadamu. Meskipun
sejak awal aku berniat meminta Chikage Usami untuk mengambil peran sebagai
auditor."
"Apakah itu
karena Hikari seorang jenius?"
"Bukan,
karena dia adalah anak yang sedang mencari tempat untuk pulang."
Tanpa menghapus
senyumannya, Tachibana menatap ke arah Sakuto.
"Terlepas
dari penampilannya, gadis itu sangat rapuh seperti kerajinan kaca. Perlakukan dia dengan hati-hati,
ya?"
"Memperlakukan
seseorang seperti barang saja..."
"Itu
metafora, cuma metafora. Kenapa, aku cuma berpikir bebannya bakal terlalu berat
kalau kamu tanggung sendiri. Itu sebabnya aku berpikir akan bagus jika dia
memiliki setidaknya satu tempat lagi untuk pulang."
"Apakah itu
tanahnya... maksudnya Klub Jurnalistik?"
"Ya. Untuk
menggunakan metafora, dia adalah pupuknya. Klub Jurnalistik telah mendapatkan
kembali kilauannya hingga tidak mengenali dirinya yang dulu. Di sisi lain,
peranmu adalah sang pemelihara. Memasukkan tanah, menyiramkan air. Itulah peran
menyiapkan tanahnya."
"Lalu
bagaimana dengan Chikage?"
"Kurasa dia
adalah cuacanya? Ada hari-hari yang cerah, dan ada hari-hari saat dia
menjatuhkan petir. Dengan cara seperti itu, sebagai keberadaan yang memberikan
ketegasan, aku memintanya untuk mengambil alih Komite Audit kali ini."
"Begitu
ya..."
Metaforanya
memang mudah dipahami, tetapi terkesan sangat berbelit-belit.
"Tolong
beritahukan hal itu padaku sejak awal..."
"Jika aku
memberitahumu hal itu sejak awal, kamu pasti akan menolaknya, kan?"
"Ya, tentu
saja."
Jika dia tidak
kebetulan dijadikan target skandal oleh Matori dan Wakana, dia pasti tidak akan
terlibat dalam masalah ini, meskipun hal ini membuahkan hasil dalam artian
menciptakan tempat bagi Hikari untuk pulang.
Namun, sepertinya
Sakuto sendiri telah menjalin ikatan, atau lebih tepatnya ikatan yang tak
terpisahkan dengan Klub Jurnalistik.
"Kurasa bisa
dibilang ini adalah kemenangan untuk strategiku kali ini."
Tachibana
terkekeh saat mengatakan hal itu, tapi...
"Namun, kamu
sendiri adalah seorang ahli taktik yang lumayan handal, bukan?"
Kali ini
dia menyeringai.
"Aneh?
Apa yang sedang Sensei bicarakan?"
"Sampai
bela-belain meminta bantuan kepada Ishizuka demi Klub Jurnalistik."
Sakuto memasang
wajah yang tampak canggung.
"...Apakah
Sensei menyadarinya?"
"Sekitar
hari Kamis minggu lalu, kurasa. Aku kebetulan sedang patroli di area sekolah
dan melihatmu berbicara dengan Ishizuka. Jadi, apa yang kamu katakan untuk
membujuk Ishizuka?"
"...Bukan
apa-apa, aku cuma pergi secara normal ke ruang kelas tahun ketiga untuk
bertanya. Ishizuka-senpai pada dasarnya adalah orang yang baik. Dia
mendengarkan aku dengan penuh simpati, dan dia orang yang ceria serta
bersungguh-sungguh. Saat aku berbicara dengannya, dia langsung merancang
rencana dan bilang rasanya bakal menarik kalau Klub Jurnalistik muncul di
siaran langsung. Dia
juga bertukar info kontak denganku dan peduli dengan perkembangan Klub
Jurnalistik."
"Hmm,
terdengar sangat khas Ishizuka. Jika bukan karena orang seperti itu, Klub
Penyiaran tidak akan sepopuler sekarang."
"Ya. Ini
semua berkat Ishizuka-senpai. Lagipula, aku sama sekali bukan ahli taktik.
Fakta bahwa rencanaku terlalu mencolok hingga Matori-senpai hampir
mengetahuinya adalah satu hal, tetapi dikunci di dalam gudang berpelindung besi
pada hari H siaran langsung dan mengalami hal-hal di luar kendali... itu
benar-benar bencana yang bertubi-tubi."
"Tenggelam
dalam rencanamu sendiri sebagai seorang ahli taktik, huh..."
Tachibana tertawa
merasa terhibur.
"Yah,
meskipun begitu, kamu berhasil menyelesaikannya bersama Usami bersaudara.
Ngomong-ngomong, aku pikir kamu dan aku bisa membangun kemitraan yang bagus
juga, bagaimana menurutmu?"
"Aku
menolaknya dengan sopan. —Tolong bersantai saja selama liburan musim panas
nanti."
"Tidak bisa,
meskipun begitu, aku punya berbagai macam pekerjaan, dan aku harus pergi dinas
ke sana kemari; guru tidak bisa mengambil cuti dengan mudah, tahu..."
"Itu berat
ya, terima kasih atas kerja kerasnya."
Menganggapnya
sebagai sindiran, Tachibana terkekeh.
"Pura-pura
bersikap seolah-olah itu masalah orang lain... Yah, tidak apa-apa. Kalau
begitu, selamat menikmati liburan musim panas. —Sebagai catatan sampingan, lain
kali, daripada mendukung dari balik layar, cobalah untuk menjadi paku yang
lebih menonjol. Demi Usami bersaudara."
Berpikir bahwa
itu adalah saran yang tidak diperlukan, Sakuto tetap mengumbar senyuman dan
meninggalkan tempat tersebut.
* * *
Setelah
percakapan dengan Tachibana selesai—
"Apa yang
sedang kamu bicarakan dengan Tachibana-sensei~?"
"!?
Hikari!?"
Tiba-tiba, Hikari
muncul dari sudut bangunan sekolah seolah-olah ingin mengejutkannya.
"Entah
kenapa mencurigakan... Apa yang kamu bicarakan dengan Tachibana-sensei?"
Sakuto memasukkan
kedua tangannya ke dalam saku.
"...Sapaan
sebelum liburan musim panas."
"Hmm... yah,
terserahlah. Yang lebih penting, ayo kita pergi ke ruang klub! Sepertinya
Chi-chan juga sedang menuju ke sana!"
Hikari
menggandeng lengannya dengan ekspresi wajah yang cerah.
"Orang-orang
bakal curiga kalau kita bergandengan tangan di lingkungan sekolah... yah,
terserahlah."
Sambil tersenyum
kecut, Sakuto berjalan sambil ditarik oleh lengan Hikari.
Kemudian, tepat
setelah mereka mulai berjalan, Hikari membuka mulutnya secara perlahan.
"...Sungguh,
terima kasih atas semuanya, ya?"
"Hmm?"
"Kamu
bergerak ke sana kemari demi diriku dan demi Klub Jurnalistik. Jujur saja, aku
tidak bisa membaca situasi soal Klub Penyiaran. Waktu itu, kepalaku dipenuhi
oleh urusan Klub Jurnalistik..."
"Begitu
ya..."
Pantas saja
Hikari tidak mengatakan apa pun meskipun Matori telah menyadarinya.
"Nggak,
itu hal yang menyenangkan bagiku. Bisa menyaksikan perubahan dirimu dari dekat, Hikari."
"Apakah aku
sudah berubah?"
"Ya. Itu
sebabnya aku jadi semakin menyukaimu."
"!?—"
Hikari mendadak
berhenti dan wajahnya berubah merah padam.
"A-Ap..."
"K-Kenapa,
kok mendadak begini?"
"H-Harusnya
aku yang bertanya begitu padamu! Soalnya kamu mendadak bilang
menyukaiku...!"
"Lho...
seingatku, kurasa aku pernah menyampaikan kalau aku menyukaimu
sebelumnya..."
"Bukan
begitu, maksudku saat kita cuma berdua!"
Memang benar, dia
tidak memiliki ingatan pernah mengatakan menyukainya saat mereka hanya berdua
saja.
"Ah, benar
juga... maaf..."
"Nggak,
bukan begitu; aku cuma terkejut karena itu sangat mendadak, tapi aku senang,
jadi..."
Di dalam
kebingungannya, ada tanda-tanda rasa lega yang tipis.
Mungkin dia
merasa cemas selama ini. Memikirkan hal itu, Sakuto merasa bersalah.
Sepertinya dia
tidak memperhatikan gadis itu dengan benar, dan itu membuatnya merenungkan
dirinya sendiri sekali lagi.
"Tapi,
mendengarmu bilang kalau kamu menyukaiku... eh...!?—"
Sakuto sedang
memeluk Hikari.
"Sakuto,
kita sedang di sekolah..."
"Di
spot romantis di dalam lingkungan sekolah."
"Ah..."
Itu
adalah tempat yang kebetulan menjadi area titik buta.
"Hikari, aku
menyukaimu. Tolong terus jaga aku, ya."
"!?...
Aku... sungguh... saat ini aku terlalu bahagia sampai tidak bisa berkata
apa-apa lagi...—"
Sakuto menumpuk
bibirnya di atas bibir Hikari, yang telah memejamkan matanya dan menawarkan
bibirnya.
Itu bukanlah
kecupan 'sampai jumpa nanti'.
Itu adalah
kecupan intens yang disebutkan Hikari tepat sebelum dia muncul di siaran
langsung—
* * *
Di ruang Klub
Jurnalistik, mereka bertiga—Ayaka, Matori, dan Wakana—sedang berkumpul.
"Kita
berhasil! Kita akhirnya berhasil menyelesaikan pendistribusian seluruh koran! Aku senang banget!"
"Semua
orang mengambil satu dengan raut wajah yang kelihatan tertarik~. Wah,
syukurlah, syukurlah."
"Ini
semua berkat siaran langsung kemarin! Bahkan ada kerumunan orang yang berkumpul
di papan pengumuman sekolah!"
Merek
bertiga sedang membicarakan kejadian hari ini dengan gembira.
Sejak
pagi hari, Sakuto telah melihat para anggota Klub Jurnalistik membagikan koran.
Dia
merasa lega melihat mereka membagikannya dengan penuh semangat sambil berkata,
"Kami dari Klub Jurnalistik, silakan ambil satu jika Anda berkenan,"
dan Hikari berada di antara mereka.
Khususnya
untuk Hikari, berkat siaran langsung kemarin, dia sepertinya menjadi sangat
populer, dan ada banyak siswa yang mengambil koran darinya.
Kepada
para siswa yang menyapanya dengan berkata, "Aku melihat siaran langsung
kemarin; itu kocak banget," Hikari mengarahkan senyuman dari lubuk hatinya
yang paling dalam, bukan senyuman ramah yang formal.
"Meskipun
begitu, kepopuleran Hikari rasanya menyebalkan. Padahal aku juga sudah bekerja
keras~..."
"Wakana, di
sinilah letak bagian yang perlu kamu perbaiki, tahu? Wanita yang suka mengeluh
itu tidak populer~."
"Kejam!
Kakak sendiri yang tidak populer, Matori-senpai!"
"Kamu tahu
sendiri, kameraku adalah kekasihku."
"Apa-apaan
itu~!"
Matori dan Wakana
melakukan percakapan seperti biasanya. Namun, itu tidak sepenuhnya seperti
biasanya.
Model KANON Hug
yang berharga yang biasanya dikalungkan Matori di lehernya tidak ada di
dadanya. Seperti yang diperkirakan, kamera itu pasti rusak saat dia membantu
Hikari.
Kemudian,
Chikage berdeham dengan suara "Ehem" dan berdiri di depan.
"Semuanya,
bisa minta waktunya sebentar? Aku sudah menyusun draf laporan audit dan
menyerahkannya kepada ketua komite. Laporan itu bakal diangkat pada rapat
anggaran setelah liburan musim panas... tapi sepertinya tidak akan ada
masalah."
"Saat kamu
bilang tidak akan ada masalah, maksudnya...?"
Saat Ayaka
bertanya dengan malu-malu, Chikage mengumbar senyuman.
"Itu artinya
semuanya akan berjalan seperti biasa seperti tahun-tahun sebelumnya."
"Apakah itu
benar!?"
"Ya. Oleh
karena itu, tolong terus terbitkan koran-koran yang luar biasa mulai dari
sekarang, ya?"
""Ya!""
Merek
bertiga mengumbar ekspresi wajah yang bahagia.
"Selain
itu... ini, Hii-chan."
"Ah,
iya."
Saat Hikari
melangkah ke depan, ketegangan kembali menyelimuti Ayaka dan dua orang lainnya.
Hingga titik
ini—mereka tahu bahwa setelah masalah ini selesai, gadis itu akan mundur dari
klub.
"Ini cuma
untuk beberapa hari saja, tapi rasanya sungguh menyenangkan. Kalian semua
memperlakukanku dengan sangat baik, dan aku merasa benar-benar bagus bisa
melakukan aktivitas bersama kalian semua..."
Merek bertiga
mengerutkan ekspresi wajah mereka dengan sedih, tapi—
"Oleh karena
itu, aku ingin terus melakukan yang terbaik di Klub Jurnalistik!"
"""...Eh?"""
"Tolong
terus jaga aku, ya!"
Saat Hikari
tersenyum berseri-seri, wajah para anggota Klub Jurnalistik seketika cerah luar
biasa.
"Tentu saja!
Kami bakal mengandalkanmu mulai dari sekarang, Hikari!"
"Kamu sangat
kami sambut! Tolong terus jaga kami, ya!"
"Hikari~,
syukurlah~, aku tidak bakal jadi satu-satunya anak tahun pertama~... Terima
kasih ya~!"
Saat mereka
bertiga berkumpul mengelilingi Hikari, gadis itu tersenyum dengan bahagia.
Itu bukanlah
senyuman ramah yang membangun tembok pembatas. Sakuto merasa lega bahwa gadis
itu tersenyum dari lubuk hatinya yang paling dalam, dan mengambil sebuah benda
tertentu dari dalam tasnya.
"...Anu,
mumpung aku sedang di sini, Matori-senpai—ini untukmu."
"Eh?
—Takayashiki, ini kan... KANON-chan!?"
Apa yang
diletakkan Sakuto di atas meja adalah sebuah kamera refleks lensa tunggal KANON
yang rilis dua tahun lalu.
"Ya,
yah... saat aku menceritakan tentangmu kepada bibiku, Matori-senpai, dia bilang
dia membelinya tapi tidak menggunakannya sama sekali... Jika kamu berkenan,
silakan gunakan."
"Apakah
kamu serius!?"
"Yah,
kalau kamu tidak membutuhkannya, ini bisa jadi peralatan untuk Klub
Jurnalistik..."
"Aku
butuh, aku butuh banget! Terima kasih, Takayashiki!"
Sakuto
sempat bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan jika gadis itu menahan diri
atau menolaknya, tetapi dia merasa bagus bahwa gadis itu menerimanya dengan
sangat mudah di luar dugaan.
Sekadar
informasi, apa yang menyerahkannya kepada Matori adalah model kelas atas yang
disebut KANON KissMark IV. Itu adalah barang seharga sekitar 300.000 yen yang
bahkan digunakan oleh para profesional, tetapi menurut Mitsumi, "Itu cuma
jadi pajangan yang tidak berguna, jadi berikan saja pada seseorang yang
membutuhkannya."
Namun, ini juga
demi masa depan. Dia hanya memutuskan untuk menanam budi hingga akhir yang
sangat pahit; ini sama sekali bukan demi Klub Jurnalistik, apalagi demi Matori.
Sakuto menyakinkan dirinya sendiri akan hal itu.
"Yah, kalau
begitu, aku juga sudah merepotkan kalian."
"Kenapa
kamu tidak sekalian bergabung saja dengan Klub Jurnalistik? Kami bakal
menyambutmu dengan tangan terbuka, tahu?"
"Nggak,
kalau yang itu aku lewat dulu. Yang lebih penting, mulai dari sekarang, tolong
jangan tulis artikel pembongkaran skandal dan tetaplah bersungguh-sungguh
seperti kali ini, ya?"
"Aku tahu,
aku tahu. Terima kasih, Takayashiki."
Matori dengan
cekatan mengulurkan tangan kanannya.
"Aku juga
harus berterima kasih padamu. Jika ada kesempatan lain nanti."
"Ya. Kami
menyambutmu kapan saja."
Sakuto
dan Matori berjabat tangan dengan erat—.
—Namun.
"...Matori-senpai,
apa yang sedang kamu lakukan!?"
Tiga puluh menit
kemudian, Sakuto telah menyudutkan Matori ke dinding ruang Klub Jurnalistik.
"A-Aku tidak
sedang mengambil foto secara sembunyi-sembunyi atau semacamnya!? Aku sudah
dapat izin dengan benar!"
"Bukan itu
masalahnya... kenapa kamu menyuruh Hikari dan Chikage melakukan
cosplaayyyyyy—!"
Sakuto akhirnya
lepas kendali, tetapi Hikari dan Chikage berjalan mendekatinya.
"Aku agak
suka ini, jadi aku tidak keberatan kok~?"
Sambil mengatakan
itu, Hikari berputar-putar, tetapi dia mengenakan pakaian yang cukup berani.
Pakaian
pelayan—memang benar, tetapi dengan bagian perut dan punggung yang terbuka
sepenuhnya, serta panjang rok yang sangat pendek, itu adalah pakaian pelayan
yang agak seksi.
Kaos kaki putih
setinggi paha mempertahankan area mutlak, yang juga merupakan desain yang cukup
nakal.
Jika dia
mengenakan ini, sang Majikan kemungkinan besar akan sangat senang.
"A-Aku
dengar ini pakaian gadis kuil...!"
Chikage, yang
wajahnya berubah merah padam dan bersikap malu-malu, juga tidak kalah berani.
Itu adalah
pakaian gadis kuil, tetapi sekali lagi, bagian perut dan punggungnya terbuka
sepenuhnya, dan sementara bagian lengannya nyaris lebar, bagian hakama
sepenuhnya mengabaikan tradisi Jepang dan berupa rok mini dengan panjang yang
hampir sama dengan milik Hikari.
Itu adalah jenis
pakaian yang merangsang perasaan nakal daripada kesan rapi atau sakral, dan
bahkan Sakuto dibuat tercengang dibuatnya.
Jika dia
mengenakan ini, para Dewa kemungkinan besar akan mendengarkan apa pun yang dia
katakan.
"Mau kamu
gunakan untuk apa foto-foto mereka dengan pakaian seperti ini!?"
Sakuto
mendesak Matori lebih jauh.
"Anu~, untuk
koran setelah liburan musim panas nanti~..."
"Ditolak!
Kita tidak butuh halaman gravure seperti itu di koran sekolah! Lagipula, aku
heran kenapa kamu bisa punya pakaian cosplay seperti ini!?"
Kemudian, orang
yang mengangkat tangannya dengan malu-malu sambil mengucapkan "Saya"
adalah Ayaka.
"Itu
milikku... Menjahit adalah hobi saya..."
"Pakaian
jenis apa yang kamu buat!? Apakah kamu tidak punya cukup uang untuk membeli
kain!? Luas kainnya jelas-jelas aneh, kan!?"
"Hiee!?
S-Soalnya, kalau bahannya agak kurang jadi kelihatan lebih imut, jadi..."
Kemudian Wakana,
yang diam saja hingga saat ini, dengan ragu dan malu-malu mengangkat tangannya.
"Anu...
aku juga seorang gadis penyihir..."
"Eh?
Ah, iya..."
Dia
adalah seorang gadis penyihir. Sama sekali tidak ada kata "tapi"; dia
benar-benar hanya seorang gadis penyihir biasa—seperti sesuatu yang keluar dari
fantasi Barat, dengan kain yang menutup dari atas sampai bawah secara benar,
tidak ada bagian yang terpotong di mana pun, tidak ada unsur kejahilan, dan
tidak ada fitur yang menarik, cuma memegang sebuah sapu.
Dengan kata lain,
Wakana adalah... Wakana tetaplah Wakana.
Rasanya kasihan
sekali melihat Wakana hanya berdiri di sana sambil memegang sapu.
"Bukankah
ini bagus? Aku pikir ini sangat cocok untukmu. Mungkin, aku tidak tahu pasti,
tapi..."
"Ada apa
dengan perbedaan suasana itu!? Tatapan mata apa itu!? Kamu jelas-jelas baru
saja membandingkanku dengan Usami bersaudara, kan!?"
".........
—Matori-senpai! Pokoknya, hal semacam ini tidak boleh!"
"Jangan
acuhkan akuuuuuuu! Bikin jantungmu berdebar donggggggg!"
Untuk saat ini,
usulan halaman gravure untuk koran resmi dilarang.
...Pakaian gadis
penyihir milik Wakana, karena kasihan, akhirnya digunakan dalam bagian
perekrutan anggota Klub Jurnalistik.
* * *
"Jujur saja,
kalau sudah menyangkut orang itu..."
"Yah,
bagaimanapun juga dia kan Matori-senpai~. Tapi pakaian pelayan tadi imut
banget~."
"Hii-chan,
itu bukan alasan, tahu? Haa, tapi tadi itu memaluuukan banget~..."
"Kalian
tahu, salah langkah sedikit saja foto itu bisa bocor keluar, tahu...? Kalian
harus bisa mengambil keputusan untuk tidak memakainya sebelum benar-benar
memakainya..."
Di Restoran
Bergaya Barat Canon, Sakuto menghela napas panjang karena terheran-heran.
"Yah, tapi
bukan cuma Matori-senpai saja, kita harus lebih berhati-hati mulai dari
sekarang..."
"Soal
siaran langsung video kemarin?"
"Ya.
Sepertinya kalian berdua jadi sangat populer..."
Awalnya,
hanya Hikari yang dijadwalkan muncul secara santai, tetapi dengan kemunculan
Chikage juga, mereka berdua menarik perhatian lebih dari yang diperkirakan.
Ada
kekhawatiran bahwa jika dia terus bersama mereka berdua dalam kondisi seperti
ini, mereka mungkin bakal ketahuan suatu hari nanti.
"Lagi
pula, itu karena kamu muncul dengan bagian dada yang terbuka lebar,
Chi-chan."
"Tidak
terbuka lebar atau semacamnya kok! Aku cuma meniru pakaian harianmu, Hii-chan!"
"Aku tadinya
berencana mengancingkan bagian depan kemejaku sebelum siaran langsung,
tahu?"
"Uugh...
Mengingatnya saja sudah bikin aku malu~..."
"Maksudku,
rekaman arsipnya masih ada di YouTube, tahu?"
"Aku
bakal bilang ke Klub Penyiaran dan menyuruh mereka menghapusnya!"
Melihat
Chikage yang wajahnya berubah merah padam sekarang terasa agak imut.
"Yah,
bicara serius, soal masa depan kita."
"Apakah
bakal berat setelah liburan musim panas nanti?"
"Nggak, kita
mungkin perlu berhati-hati selama liburan musim panas juga."
"Tapi aku
mau bermesraan dengan Sakuto sepanjang liburan musim panas~"
Melihat Hikari,
yang terkikik sambil merapatkan belahan dadanya, Sakuto berubah merah padam
sambil bergumam "Urk."
"Ayo kita
sisihkan pembicaraan yang suram dan bicara soal perjalanan liburan musim panas,
yuk?"
"Benar
banget!"
"Ayo kita
buat liburan musim panas yang menyenangkaaaan!"
Sambil
membatin terheran-heran dengan 'astaga,' Sakuto memikirkan tentang Hikari dan
Chikage.
Ingin
melindungi senyuman mereka berdua mungkin adalah sebuah hal yang sangat mewah.
Bukan cuma satu, melainkan dua orang.
Satu
orang saja sudah menjadi sebuah kemewahan, tetapi memiliki dua orang adalah hal
yang terlalu mewah.
Semester
pertama telah usai, dan dia bertanya-tanya apakah hubungan ini akan terus
berlanjut untuk waktu yang lama mulai dari sekarang—
"Ngomong-ngomong,
Sakuto-kun, kamu bakal mendengarkan keinginan apa pun dariku, kan?"
"...Hmm?
Apa yang sedang kamu bicarakan?"
Sakuto
menatap Chikage, kebingungan oleh keputusannya yang mendadak.
"Soalnya,
kamu tahu sendiri... saat aku muncul di siaran langsung menggantikan Hii-chan,
kamu bilang, 'Chikage, kamu melakukannya dengan baik, kan? Seperti yang
diharapkan dari pacarku! Aku bakal mengabulkan keinginan apa pun yang kamu
mau!'..."
"Ehh!?
Aku tidak bilang begitu, aku tidak bilang begitu! Apa-apaan itu!?"
—Itu sepenuhnya
merupakan delusi milik Chikage.
"P-Pokoknya!
Aku sudah bekerja keras, jadi tolong biarkan aku memanjakan diriku padamu
baaanyak-banyak selama liburan musim panas nanti!"
"Urk... Itu,
yah... iya sih..."
Kemudian Hikari
juga menatapnya dengan mata yang jahil.
"Aku juga
dapat baaanyak bantuan kali ini, jadi aku mau memberimu semacam hadiah~?"
"Nggak, kamu
benar-benar tidak perlu mengkhawatirkannya... Sama sekali tidak perlu... hal
semacam itu adalah..."
"Ah, aku
tahu! Bagaimana kalau kita lakukan hal itu dengan gaya Klub Jurnalistik!"
"Gaya
Klub Jurnalistik? Itu artinya..."
Hikari memamerkan
dadanya dengan nishishi. Karena gadis itu memberinya intipan sekilas pada bra
milik dari sela-sela kemejanya, Sakuto terburu-buru memalingkan wajahnya.
"Mau
membandingkan dengan Wakana-chan?"
"Nggak,
aku tidak bakal membandingkannya! Atau lebih tepatnya, Hikari, jangan sampai
diracuni oleh Klub Jurnalistik!"
"Tunggu
dulu, Hii-chan! Yang harusnya melakukan itu aku, kan!? Sakuto-kun, tolong
bandingkan dan lihat siapa yang punya PERFECT BODY antara aku dan
Hii-chan!"
"Chikage,
yang itu juga salah! ...Lagi pula, pelafalan Bahasa Inggrismu bagus banget
ya?"
"Nishishi~...
Aku bakal minta Matori-senpai dan yang lainnya mengajariku banyak hal
lainnya♪"
"Hikari!
Kamu mundur dari klub sekarang juga, mundurrrrrr—!"
—Dan
begitulah. Hari-hari yang dihabiskan bersama mereka bertiga berlalu dengan
cepat, dan tanpa terasa, liburan musim panas akan dimulai besok.
Menyelesaikan
masalah Klub Jurnalistik. Menciptakan tempat bagi Hikari untuk pulang.
Setelah
menyelesaikan dua masalah yang dibebankan di saat-saat terakhir ini dan meraih
keduanya, masalah menyenangkan tentang bagaimana mereka bertiga akan
menghabiskan liburan musim panas sudah menanti.
Hubungan
mereka bertiga, yang telah berkembang satu langkah lebih jauh, melangkah maju
ke tahap berikutnya. Selanjutnya
adalah—
""Kita
bakal pergi jalan-jalan bersama-samaaaaaaaaa—!""



Post a Comment