NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Paku yang Terlalu Menonjol Tidak Akan Dipukul...?


Tidak Bakal Dipukul Sampai Amblas...?

Larut malam pada hari dia pergi ke arcade.

Sakuto sedang menyusun sebuah surat di kamarnya, mengandalkan cahaya dari lampu mejanya.

Dengan hormat, pada musim awal musim panas ini—

Tiba-tiba, tangannya terhenti. Dia melipat kertas surat itu dengan rapi dan meletakkannya di tepi meja.

Terlalu kaku, kurasa... terdengar seperti ditulis oleh orang asing...

Kemudian, dia mengambil selembar kertas baru dan menulis ulang surat itu dari awal.

Sudah lama tidak berjumpa. Apa kabar? Kalau aku, aku sudah mulai tinggal bersama tante dari pihak ibu—

Dan di sana, tangannya terhenti lagi.

Sambil perlahan memasukkan kertas yang terlipat itu ke dalam tempat sampah, dia menyandarkan punggungnya tanpa semangat ke sandaran kursinya dan menatap kosong ke arah langit-langit yang gelap.

Tidak banyak yang bisa ditulis... Bicara soal kejadian baru-baru ini... benar juga...

Yang mendadak terlintas di pikirannya adalah dua ekspresi dari Usami Chikage—

Wajah pemalu namun agak tajam saat di sekolah.

Senyum polos tanpa dosa itu saat di arcade.

Tanpa alasan, dia mematikan lampu, lalu menyalakannya, lalu mematikannya lagi—mengulangi tindakan tidak berguna itu berkali-kali sambil memikirkan Usami.

Apa dia benar-benar berpura-pura menjadi murid teladan di sekolah?

Apa sifat aslinya adalah versi yang di arcade...?

Apa dia melampiaskan stres karena selalu tegang di sekolah dengan pergi ke arcade...?

Bukannya tidak mungkin, tetapi dia tidak bisa menghilangkan rasa tidak selaras itu.

Rasanya hampir seolah-olah dia salah mengenali gadis itu dengan orang lain. Meskipun hal itu tidak mungkin terjadi.

Sakuto perlahan memejamkan kelopak matanya. Di balik bayangan sisa cahaya yang tertinggal di retinanya, kedua wajah itu kabur secara samar, dan garis bentuk mereka menjadi tidak jelas.

Senin, 30 Mei, awal minggu yang baru. Jam pelajaran ketiga telah berakhir, dan saat itu adalah sebelum jam pelajaran keempat.

Saat Sakuto sedang menuju ke ruang seni, dia melihat Usami mengenakan pakaian olahraganya di seberang koridor.

Gadis itu tampaknya baru saja menyelesaikan pelajaran Olahraga; sambil menyapu keringat yang mengalir di pipinya dengan handuk, dia berjalan ke arah Sakuto dengan gestur yang lemas.

Mengingat kejadian di arcade minggu lalu, Sakuto memperhatikan Usami dengan cermat, seolah-olah sedang mengamatinya.

Lengan dan kakinya yang menjulur dari lengan pendek dan celana pendeknya memiliki panjang yang memberikan keseimbangan sempurna pada tubuhnya.

Warna dan corak dari pakaian dalam merah mudanya terlihat samar-samar menembus kaos olahraga putihnya. Dadanya yang padat terangkat seolah terdorong dari bawah, memantul di setiap langkahnya.

Itu adalah proporsi yang indah yang membuat anak laki-laki yang lewat secara tidak sengaja memalingkan kepala mereka.

Aku tahu dia memang cantik, tapi aku tidak menyangka kalau dia bakal se-—

Tiba-tiba, matanya bertemu dengan mata Usami. Gadis itu merona, menyembunyikan wajahnya dari hidung ke bawah dengan handuk di tangannya, dan memalingkan pandangannya ke samping. Apa dia merasa malu terlihat dengan pakaian olahraganya?

Merasa agak canggung juga, Sakuto ikut memalingkan pandangannya.

Tepat sebelum saling melewati, sambil tetap saling memalingkan pandangan, mereka berdua menghentikan langkah secara bersamaan dan berdiri berdampingan.

"Soal hari itu—"

Orang yang berbicara terlebih dahulu adalah Sakuto, bergumam pelan seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku belum memberi tahu Tachibana-sensei... jadi aku bakal menjaga rahasiamu."

"...? Kamu sedang membicarakan apa?"

"Ayo lah, maksudku... tidak, sebenarnya, lupakan saja."

"Ada apa? Itu malah membuatku makin penasaran. Tolong beri tahu aku kamu sedang membicarakan apa."

Tanpa sadar, dia berbalik menghadap Usami. Apa ekspresi wajahnya terlihat lebih tegang dibanding minggu lalu karena Sakuto membandingkannya dengan senyum ceria yang gadis itu tunjukkan di arcade?

"T-Tolong jangan menatapku seperti itu..."

"Ah, m-maaf... Aku cuma..."

Mereka berdua memalingkan mata mereka, tetapi pada saat itu, telinga kiri Usami menarik perhatian Sakuto. Dia mendadak teringat "jimat" yang telah gadis itu ajarkan padanya.

"U-Um, hei... ada sesuatu yang ingin kupastikan... Boleh?"

"Ada apa?"

Dia perlahan mengulurkan tangannya menuju telinga kiri Usami yang tampak bingung.

"Hyaah!? A-Apa yang kamu lakukan!?"




Sebelum dia sempat menyentuh cuping telinganya, Usami menarik diri ke belakang.

"Eh? Tapi bukankah kamu bilang kalau aku bisa menyentuhnya kapan saja..."

"T-Tidak, kamu tidak boleh! K-Kan sudah kubilang, hal semacam itu dilakukan setelah kita menjadi sepasang kekasih!"

"Tapi waktu itu, kamu membiarkanku menyentuhmu, padahal kita bukan sepasang kekasih? Seperti pelukan itu..."

"I-Itu kan kecelakaan!"

Mengatakan hal itu, Usami membelakangi Sakuto sambil berkobar dalam kemarahan.

...Sebuah kecelakaan? Lalu apa maksud dari sikap ketegasan di arcade itu...

Saat Sakuto berdiri dalam kebingungan, Usami menatapnya tajam sambil merona.

"K-Kalau kita menjadi sepasang kekasih, menyentuh... yah, aku bakal mempertimbangkannya! Kalau tidak, tolong jangan menyentuhku begitu akrab!"

Mendengar itu, Sakuto menerimanya sambil berpikir, "Begitu ya."

Ini adalah koridor tempat orang-orang berlalu lalang. Jika mereka melakukan hal-hal seperti sepasang kekasih di tempat seperti ini, rumor tanpa dasar benar-benar bakal beredar. Waspada akan hal itu, Usami sengaja berbicara dengan keras. Betapa perhatiannya gadis ini.

"Maaf, aku yang salah..."

"Apa kamu paham? K-Kalau kita sepasang kekasih, itu tidak apa-apa, tapi hanya jika kita sepasang kekasih!"

Usami mengatakan itu seolah sengaja menekankan kata "sepasang kekasih."

Tampaknya, dia ingin secara menyeluruh menegaskan kepada orang-orang di sekitar mereka bahwa mereka bukanlah sepasang kekasih. Tak disangka dia adalah seseorang yang menjaga citranya begitu menyeluruh baik di dalam maupun di luar sekolah.

"Begitu ya, aku paham. Kalau begitu aku pasti tidak bakal menyentuhmu lagi."

"...Huh?"

"Tidak, memang aneh kalau menyentuh padahal kita bahkan bukan sepasang kekasih, dan maaf soal yang tadi. Kalau begitu, aku sedang terburu-buru—"

"Kan sudah kubilang, kalau kita sepasang kekasih, itu tidak apa-apa!? Kamu mendengarkan tidak!? Hei, Takayashiki-kun—"

Merenungkan betapa dangkal dirinya tadi, Sakuto menuju ke ruang seni.

Masalah terjadi saat istirahat makan siang.

Saat Sakuto sedang berjalan kembali ke kelas dari kantin, sebuah kerumunan telah terbentuk di dekat kelas Kelas 1-1. Meskipun begitu, entah mengapa suasana di sana tenang, dan atmosfer yang agak tidak menyenangkan mengalir. Beberapa orang membisikkan sesuatu. Yang mereka semua lihat adalah ke arah koridor.

Penasaran, Sakuto membaur dengan kerumunan dan melihat ke arah tersebut.

Di sana, Usami dan guru pembina siswa, Tachibana Fuyuko, sedang berhadapan satu sama lain.

Namun, atmosfernya tidak diragukan lagi sangat tegang, dan udara tidak menyenangkan itu menulari sekitarnya. Tampaknya, ini bukan sekadar obrolan ringan antara seorang gadis cantik dan seorang guru yang cantik.

"Apa yang salah dengan kuncir kuda?" tanya Usami dengan tidak puas, memberi isyarat pada rambutnya sendiri.

Sebagai tanggapan, Tachibana menghadapinya dengan sikap tegas khas seorang guru pembina siswa.

"Kuncir kuda adalah pelanggaran aturan sekolah. Segera perbaiki."

"Mengenai gaya rambut anak perempuan, peraturan sekolah menyatakan bahwa 'rambol panjang harus diikat atau dikepang agar tidak mengganggu pelajaran,' tetapi seingatku peraturan itu tidak menyatakan secara eksplisit bahwa kuncir kuda dilarang?" sanggah Usami secara logis. Meskipun begitu, apakah dia menghafal kata demi kata dari peraturan sekolah? Jika itu Usami, hal itu mungkin bukan tidak mungkin.

"Itu adalah masalah interpretasi. Lagipula, dinyatakan secara eksplisit bahwa 'modifikasi rambut yang mencolok dilarang.' Dengan kata lain, jika seorang guru menganggapnya mencolok, maka itu mencolok."

Tachibana juga secara gigih menolak untuk mengalah. Apakah orang ini menghafal peraturan sekolah itu sendiri? Karena bertugas dalam pembinaan siswa, dia mungkin melakukannya, tapi—

"Jika seorang guru menganggapnya? Bukankah itu berdasarkan subjektivitas Anda, Tachibana-sensei?"

"Bicaramu lancar juga ya... Namun, aku tidak bisa mengizinkannya."

Singkatnya, di tengah pengawasan publik ini, mereka telah mulai memperdebatkan prinsip dan klaim mereka, jatuh ke dalam situasi di mana tidak ada yang bisa mengalah. Untuk saat ini, dia ingin tahu rincian tentang bagaimana hal ini bisa terjadi.

Sakuto bertanya pada sepasang gadis di dekatnya.

"Permisi... bagaimana situasinya?"

"Ah, um... setelah pelajaran berakhir, Tachibana-sensei mulai menegur Usami-san tentang gaya rambutnya."

"Ya, ya, dan lalu Usami-san mulai bilang kalau kuncir kuda tidak dilarang... apa dia memberontak? Mungkin dia mencoba menyanggah argumen yang tidak masuk akal itu?"

Sakuto menaruh tangannya di mulut.

Jadi, situasi semacam ini ya... Membenturkan pendapat secara langsung bukanlah pilihan yang pintar... Aku pikir dia punya tekad yang kuat, tapi...

Masalahnya adalah di mana mereka berdua bakal menyelesaikan hal ini.

Sejak awal, dia tidak berniat untuk terlibat dalam masalah antara Usami dan Tachibana ini. Jika Usami hanya mematuhi bimbingan itu dengan jujur, masalahnya bakal berakhir di sana. Masalahnya harus berakhir di sana.

Pura-pura tidak melihat, Sakuto mencoba meninggalkan tempat kejadian, tapi—

"Usami-san memang dasar Usami-san ya~..."

"Padahal bakal selesai kalau dia langsung memperbaikinya dengan cepat~"

"Apa dia pikir keren bisa membentak Tachibana?"

"Bukankah dia cuma berpikir kalau kuncir kuda itu imut?"

Mendengar suara-suara bisikan, dia mendadak terhenti.

Menonjol sendirian tidak bakal menghasilkan hal yang baik... Kenapa melakukan sesuatu yang menonjol... Entah itu benar atau salah, semua itu tidak penting—

Namun, tiba-tiba, suaranya bergema jauh di dalam telinga Sakuto—

—Kenapa kamu tidak bersungguh-sungguh?

Suara itu, kata-kata itu, menusuk dengan tajam, dalam, dan lurus ke dalam hati Sakuto.

Ini adalah hal yang aneh. Tampaknya, memahami bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan kepala saja. Ketika dia teringat kata-kata itu setelah bertukar kata dengannya, betapa pun singkatnya, artinya secara aneh berubah.

Dia bisa memahaminya sekarang.

Saat itu, gadis itu mengucapkan kata-kata tersebut dengan keberanian untuk dibenci.

Dia bisa memahaminya sekarang.

Gadis itu tidak ingin memenangkan argumen.

Gadis itu berusaha setengah mati untuk berdiri melawan ketidakmasukakalan.

Kemudian, di dalam diri Sakuto, kata "bersungguh-sungguh" bertukar tempat dengan "keberanian."

—Kenapa kamu tidak punya keberanian?

Pada akhirnya, Sakuto melonggarkan dasinya secara signifikan dan menuju ke tempat Usami dan Tachibana berada.

Kemudian, dengan wajah tanpa dosa, dia mendekati mereka dengan lincah dan—

"Tachibana-sensei, terima kasih atas bimbingannya waktu itu."

—Tiba-tiba melakukan bungkukan yang indah.

Usami dan Tachibana terkejut dengan gangguan yang mendadak ini.

"Ada apa? Kamu Takayashiki Sakuto dari Kelas 1-3... Tidak, bisakah kamu tahu hanya dengan melihat? Aku sedang berada di tengah-tengah bimbingan sekarang," kata Tachibana sambil meringis.

"Ah, maafkan aku. Aku cuma kebetulan melihat Anda, Sensei..."

Bahkan saat ditatap tajam, Sakuto membalas dengan senyum pahit. Kemudian, Tachibana menyadari dada Sakuto.

"...Hm? Takayashiki, dasimu cukup miring."

"Eh? W-Wah...! Maafkan aku! Aku bakal memperbaikinya segera—"

Sambil pura-pura memperhitungkan dasinya, Sakuto menangkap sosok Usami di sudut penglihatannya.

Gadis itu menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, namun pada saat yang sama, bingung.

Untuk menyelesaikan situasi ini, aku harus melakukannya...!

Sakuto memiliki rencana tertentu. Setelah menyelonongkan lehernya ke dalam bimbingan secara mendadak—

"Maafkan aku, sebenarnya, aku tidak bisa memasang dasi sendiri..."

Dia bakal berpura-pura menjadi cowok tidak berguna dan tidak kompeten yang tidak bisa membaca situasi.

Untuk menghindari menyiram minyak ke dalam api, dia mencoba menunjukkan sosok sekonyol dan sekomikal mungkin.

"Ampun deh... Kalau begitu biar kutanya, apa yang biasanya kamu lakukan dengan dasimu?"

"Aku tinggal berdua saja dengan tante dari pihak ibu, dan aku meminta tanteku untuk memasangkannya padaku."

Pada kenyataannya, dia hanya mengikuti permainan peran beberapa kali karena Mitsumi ingin bermain rumah-rumahan, tetapi ini adalah kebohongan yang praktis.

Mungkin tahap pertama dari rencana hingga titik ini berhasil, karena Tachibana menunjukkan raut wajah yang sangat jengkel.

Di sana, Sakuto berpindah ke tahap kedua dari rencananya.

"Tinggal berdua saja dengan tantemu? Begitu ya... bagaimana dengan orang tuamu?"

"Karena suatu keadaan, aku tinggal terpisah dari ibuku. Ayahku... um, agak..."

"...Begitu ya. Kalau begitu, mau bagaimana lagi."

Seolah ingin mengatakan "sekarang kesempatanku," Sakuto menyunggingkan senyuman.

"Tidak apa-apa kok. Tapi sungguh, memiliki guru seperti Anda— yang 'bersemangat,' 'penuh kasih sayang,' dan 'baik hati' terhadap siswa—di dekat sini benar-benar 'penyelamat' bagiku."

Setelah menunjukkan kelemahan diri kepada orang yang ingin diajak bernegosiasi, pujilah poin-poin baik mereka. Ini adalah strategi untuk membuat permintaan lebih mudah disampaikan dan lebih sulit untuk mereka tolak.

Ini adalah teknik negosiasi yang diajarkan oleh Mitsumi, seorang pengacara yang andal, kepada Sakuto, sambil berkata, "Kamu harus menggunakan ini pada orang yang lebih tua." Dia tidak pernah berpikir hari di mana dia bakal menggunakannya bakal tiba, tetapi dia mencoba mengeksekusinya secara tepat.

Tampaknya, efeknya sangat luar biasa.

Seolah menyentuh sanubari di hati Tachibana, ekspresinya secara bertahap melembut.

"Begitu ya... Yah, aku sedang di tengah-tengah bimbingan, tapi biar kupasangkan dasimu untuk saat ini..."

"Tolong ya."

Tachibana berdiri di depan Sakuto dan secara lembut menarik dasi ke arah dirinya sendiri. Sebelum dia menyadarinya, kebaikan bersemayam di mata Tachibana. Mungkin dia adalah guru yang secara mengejutkan mudah tersentuh oleh emosi.

"Nah kalau begitu, ini dia—"

Dasi itu terlepas dengan lancar. Tachibana menggerakkan tangannya dengan sangat mahir. Apa dia biasanya melakukan ini untuk pacarnya?

Untuk saat ini, setelah ini, dia bakal membawa Usami dan meninggalkan tempat ini. Jika dia memberi tahu Tachibana bahwa dia juga bakal menyuruh gadis itu memperbaikinya, dan sang guru setuju untuk menyelesaikannya di sana, itu bakal baik-baik saja.

Apakah Usami bakal menerimanya atau tidak adalah masalah lain, tetapi jika dia meminta secara tulus, gadis itu mungkin bakal memperhitungkan kuncir kudanya.

Namun, hanya ada satu kalkulasi yang sangat meleset—

"Tolong tunggu sebentar...!"

Sebuah seruan penghentian mendadak terdengar.

Terkejut, dia berbalik ke arah itu untuk melihat Usami yang wajahnya merah padam, matanya menyenget ke atas menjadi bentuk segitiga.

"Tachibana-sensei! Apa yang Anda lakukan pada Takayashiki-kun!?"

"...Aku cuma baru mau memperhitungkan dasinya?"

"Itu curan... tidak, maksudku, hanya pasangan yang sudah menikah atau pasangan yang tinggal bersama yang diizinkan melakukan itu! Atau hanya untuk pria yang Anda sayangi!"

Begitukah? Sakuto merasa takjub.

Dan tak disangka gadis itu bakal mengeluarkan "teori sepasang kekasih" bahkan di tahap yang terlambat ini. Tidak lama lagi, dia mungkin bakal mulai mengatakan kalau ciuman dianggap sebagai pertunangan.

"Apa yang kamu katakan? Aku hanya berusaha memperbaiki dasi Takayashiki!"

Kuharap itu benar. Sakuto berharap.

"Usami, dengan logikamu, itu berarti kalau aku mengarahkan rasa sayang kepada Takayashiki!?"

"Bukan begitu!?"

"T-Tidak!"

Entah mengapa, situasinya jatuh ke dalam kekacauan yang bahkan lebih besar. Terlebih lagi, Sakuto tidak bisa bergerak karena Tachibana sedang menarik dasinya. Apa yang harus dilakukan soal ini?

Sakuto merasa panik.

"Aku yang bakal mengambil alih!"

Sebelum dia sempat bertanya kenapa, Usami mulai menarik dasinya juga.

"Tidak! Aku yang bakal bertanggung jawab dan melakukannya! Karena ini adalah bimbingan siswa!"

"Tidak! Aku, yang menghadiri tempat bimbingan belajar yang sama dengannya, yang bakal melakukannya! Lagipula, lagipula... karena kami adalah teman sekelas!"

Gadis itu mulai membawa-bawa hal-hal yang tidak relevan.

Situasinya benar-benar tidak terkendali. Terlebih lagi, setiap kali mereka berdua berdebat, dasi itu makin mengencang di sekitar leher Sakuto. Tidak ada dari mereka yang tampaknya menyadarinya sama sekali. Kalau terus begini, ini adalah kabar buruk baginya.

"M-Menyerah, menyerah...! Kalian berdua, lepaskan...!"

""Aaaahhhhh!?""

Akhirnya menyadarinya, mereka berdua melihat Sakuto yang telah berubah menjadi sangat pucat, dan akhirnya melepaskannya.

Untuk saat ini, adalah hal yang baik bahwa dia entah bagaimana mampu menghentikan perdebatan mereka.

Namun, Sakuto mempelajari bahwa menyelonongkan lehernya ke dalam masalah yang tidak perlu secara harfiah bisa membuatnya tercekik.

Setelah sekolah pada hari itu, Sakuto menerima permintaan maaf yang sangat sopan dari Tachibana di ruang guru, memberi tahu guru itu bahwa tidak apa-apa, lalu pergi.

Ketika dia tiba di loker sepatu, Usami sedang berdiri di sana dengan menyandarkan punggungnya ke dinding, memegang tasnya dengan kedua tangan. Gadis itu memiliki tatapan lesu, seperti saat dia sedang dimarahi.

"Usami-san?"

"Ah... Takayashiki-kun..."

Ketika Usami melihat wajah Sakuto, dia menyusut kembali dengan penurut.

Gadis itu mungkin sedang merenungkan kejadian saat makan siang. Rambutnya, yang tadi dikuncir kuda, kembali ke gaya biasanya dengan rambut samping kiri yang diikat. Entah bagaimana, ini terlihat lebih menenangkan.

"Um, soal apa yang terjadi saat istirahat makan siang... Aku benar-benar minta maaf..."

"Oh, tidak apa-apa, tidak apa-apa. Itu salahku karena menyelonongkan leherku... Yang lebih penting lagi, apa kamu sengaja menungguku?"

"Ya..."

Dia bertanya-tanya apa yang harus dikatakan padanya selagi gadis itu sedang menyesali perbuatannya, tetapi untuk saat ini, Sakuto menyunggingkan senyuman.

"Kenapa kamu membentak Tachibana-sensei?"

"...Karena itu tidak masuk akal secara logis. Tidak ada peraturan ketat dalam peraturan sekolah mengenai cara mengikat rambut, jadi aku ingin memperjelas alasan bimbingan itu."

Itu bukanlah baris kata yang cocok untuk seseorang yang mampir ke arcade dalam perjalanan pulang sekolah.

Namun, gadis itu kemungkinan memiliki prinsip dan aturannya sendiri; selama itu masuk akal secara logis, dia mungkin bakal mematuhinya secara jujur.

"Pasti ada cara yang lebih pintar untuk menanganinya. Kamu bisa saja bilang kalau kamu bakal memperbaikinya untuk membiarkannya berlalu, atau mematuhi seperti yang diberi tahu... Menjawab kembali di tempat seperti itu sangat menonjol, kan?"

"Begitu ya, jadi ternyata begitu..."

Usami membuat wajah seolah-olah dia telah menyadari sesuatu.

"Apa maksudmu dengan 'ternyata begitu'?"

"Nilai ujian tengah semestermu... Kamu punya alasan untuk tidak ingin menonjol, jadi kamu sengaja tidak bersungguh-sungguh... Begitu kan?"

Sakuto terguncang dan mengatupkan mulutnya. Melihat wajahnya, Usami terlihat menyesal lagi.

"Aku minta maaf. Aku bicara blak-blakan lagi... Kamu tidak suka hal semacam ini, kan?"

"...Tidak."

Dia menggelengkan kepalanya, tetapi kondisi pikiran Sakuto sangat kompleks.

Gadis itu menaruh minat padanya dan ikut campur adalah dua hal yang berbeda. Pada tahap ini, dia tidak terlalu ingin gadis itu mengorek terlalu dalam tentang hal itu. Dia juga tidak terlalu memahami alasannya ingin tahu tentang dirinya sejauh itu.

Namun, ini adalah kesempatan yang langka. Mungkin tidak ada salahnya untuk menanyakan sesuatu yang telah mengusik pikirannya selama beberapa waktu tepat di sini dan sekarang.

"...Apa yang kamu pikirkan tentang dirimu yang menonjol, Usami-san? Kamu tahu, nilaimu selalu berada di posisi teratas... dan menjadi siswa eksternal membuatmu makin menonjol, kan? Bahkan, tampaknya ada rumor..."

Dia berniat memilih kata-katanya dengan cermat, tetapi dia pikir dia telah gagal. Itu seperti mengatakan rumor adalah hal yang buruk. Lagipula, rasanya canggung, seolah-olah dia sedang membicarakan dirinya sendiri.

Kemudian, Usami memberikan senyum kecil.

"Aku... tidak berpikir menonjol itu buruk, tapi ada kalanya aku merasa takut. Bahkan aku pun cemas tentang bagaimana aku dilihat oleh orang lain, tahu?"

Senyum Sakuto mendadak lenyap.

"...Kalau begitu, kamu harusnya mencoba untuk tidak menonjol sejak awal. Tak peduli seberapa keras kamu berusaha, pada akhirnya, paku yang menonjol bakal dipukul sampai amblas..."

Kata-kata kepasrahan yang menyerupai perasaan sebenarnya terlepas dari mulut Sakuto.

"Aku tidak berpikir aku bisa melakukan itu."

"Kenapa?"

"Aku benci kekalahan. Mungkin itu karena aku mendengar waktu dulu bahwa 'paku yang terlalu menonjol tidak bakal dipukul sampai amblas'?"

Itu berarti memilih jalan yang sangat sulit untuk hidup di masyarakat ini. Bahkan jika seseorang terlalu menonjol, bakal selalu ada orang yang mencoba memukul mereka sampai amblas. Tampaknya tidak ada batasan untuk hal itu.

Usami menyadari hal itu, namun sambil melawan rasa takutnya, gadis itu memberanikan diri untuk maju ke depan. Gadis itu mendeskripsikan hal tersebut sebagai benci kekalahan.

Tapi apakah itu benar-benar satu-satunya alasan? Dia tidak bisa percaya bahwa itu adalah satu-satunya rahasia kekuatannya.

"Itu... kepribadian yang merepotkan ya?"

"Ya. Tapi inilah diriku," kata Usami secara merendahkan diri.

"Aku selalu ceroboh, tidak imut... sungguh, aku tidak ada harapan ya?"

"Tidak, tidak begitu... Apa benci kekalahan adalah satu-satunya alasan kamu bekerja keras, Usami-san?"

"Yah, ada kepribadian asliku, tapi—"

Mengatakan hal itu, gadis itu mulai mengelus ujung pita yang mengikat rambut sampingnya.

"Saat ini, ada seseorang yang sangat ingin kulihat hasil kerja kerasku."

Itu adalah saat di mana Sakuto baru mau bertanya "siapa."

Segera, dia menemukan dirinya tidak mampu memalingkan pandangan darinya. Dia jatuh ke dalam sensasi seolah-olah dia sedang tersedot ke dalam kedalaman mata gadis itu dan jatuh makin dalam. Panik, dia memalingkan seluruh tubuhnya menjauh darinya.

Seolah-olah dia berada di ujung tatapan serius Usami, dan Sakuto merasa malu karena memiliki delusi semacam itu. Dia menegur dirinya sendiri karena menginterpretasikan hal-hal secara terlalu menguntungkan.

"Um, hei... ah, tidak..."

"...? Ada apa?"

Ketika Tachibana hendak memasangkan dasinya, kenapa gadis itu menawarkan diri untuk mengambil alih? Dengan logika Usami, tindakan memasangkan dasi pria adalah sesuatu yang diizinkan hanya untuk sepasang kekasih. Namun, kenapa?

Dia ragu-ragu untuk menyatakannya dalam kata-kata.

Itu benar-benar bakal menjadi interpretasi yang terlalu menguntungkan. Namun, jika gadis itu adalah seseorang yang berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, jika ada satu benang merah logis yang berjalan melalui tindakan itu, maka hal itu bisa dijelaskan.

Saat Sakuto bergumam, Usami angkat bicara.

"...Jadi, waktu itu, kenapa kamu melangkah masuk untuk menengahi...?"

"Ah, itu... cuma karena."

"Begitu ya... cuma karena, ya..."

Usami menunduk kecewa, tapi—

"Cuma saja aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, Usami-san."

Suaranya mengecil di akhir, tetapi Sakuto mengatakannya tanpa hiasan apa pun. Dia berniat menyampaikan perasaannya yang sebenarnya, tetapi apakah gadis itu merasa ilfil? Menunjukkan keberanian bukanlah dirinya yang biasa, dan mungkin itu bukan sesuatu yang harus dia lakukan.

Ketika dia menatapnya dengan cemas, gadis itu telah berubah menjadi merah padam sampai ke telinganya.

"Um, soal apa yang baru saja kamu katakan—"

"T-Terima kasih banyak...! Aku ada urusan, jadi aku permisi dulu!"

Gadis itu terburu-buru mengganti sepatunya dan berlari pergi dengan langkah kecil.

Seperti yang diduga, gadis itu pasti merasa ilfil. Memikirkan hal itu, Sakuto merasa agak tertekan.

Namun, dia memutuskan untuk tidak merasa malu atas langkah yang dia ambil dalam menyampaikan perasaannya yang sebenarnya kepada gadis itu.

Bahkan jika apa yang baru saja terjadi adalah kegagalan besar, dia memutuskan untuk percaya kalau itu adalah langkah besar yang menuju ke langkah berikutnya.



Previous Chapter | ToC | Netx Chapter

0

Post a Comment

close