NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 11

Bab 11: Ada Kalanya Aku Tidak Mengerti Diriku di Dunia Paralel


Setelah makan siang secara sederhana di Green Mall, kami menuju ke Himurogioka Higashimachi untuk mencari cara agar aku bisa kembali.

 

Di jam-jam yang meleset dari waktu pulang sekolah maupun waktu belanja sore ini, orang yang lalu-lalang di jalanan memang terlihat sangat sedikit.

 

"Kalau kita menyusuri jalan yang sama seperti kemarin, mungkin saja ada sesuatu... tapi ya, pemikiran ini terlalu samar-samar, ya."

 

"Rasanya aku kepingin portal seperti yang ada di film-film Marvel, deh."

 

Kami berdua mencoba menggambar lingkaran di udara dengan kedua tangan, tetapi tentu saja tidak ada celah dimensi mencolok yang mendadak muncul.

 

"Tapi tetap saja... dibanding kondisi awal yang sama sekali tanpa petunjuk, lebih baik berpikir kalau kita sudah berhasil mempersempit lokasinya."

 

"Tanah terlarang, Himurogioka Higashimachi. Kalau kita bisa mempersempit lokasi tempat sesuatu terjadi, mungkin kita bisa mengetahui titik temu antar dunia. Karena mungkin tidak kelihatan secara kasatmata, sebaiknya kita rajin-rajin mengecek status ponsel."

"Waktu kasusku, kita terlalu keasyikan mengobrol soal bad end sampai-sampai tidak sadar kalau sudah sampai di rumah, kan?"

 

Untuk saat ini, ponselku masih berada dalam kondisi tanpa kontrak.

 

Kalau dunianya berganti, mungkin pesan akan mendadak masuk seperti yang dialami Tsukino dulu.

 

"Ah, benar juga."

 

Tsukino menepuk tangannya pelan.

 

"Aku sempat bertanya soal Asahi ke Paman. Tapi sepertinya Paman sama sekali tidak kenal padamu."

 

"Begitu, ya. Aku juga tadi bertemu Nanaha-senpai, dan seperti yang kuduga, dia tidak kenal padaku."

 

"...Begitu, ya. Senpai memang kerja paruh waktu di sana, sih."

 

Di dalam buku ‘Keabadian yang Berlanjut’, hubungan dengan

Nanaha-senpai memang telah terputus. Bagaimana dengan Tsukino yang asli di dunia nyata? Aku tidak bisa membaca sejauh itu dari bukunya.

 

"Sebenarnya apa ya yang membedakan kasusku dengan kasus Asahi? Pokoknya, berbahaya kalau kita tidak menganggap bahwa Asahi sama sekali tidak ada di dunia ini."

 

"Benar juga. Apa artinya identitasku memang tidak terdaftar, ya...?"

 

Hanya dengan berpikir sekilas saja, sudah terbayang betapa merepotkannya berbagai urusan administrasi tanpa identitas.

 

"Kita harus cepat-cepat menemukan cara agar Asahi bisa pulang, ya."

 

Aku mengangguk, tetapi di saat yang sama, sosok Tsukino semalam melintas di benakku. Sorot mata yang bergetar di bawah pendar cahaya bulan, dan buliran air mata yang menetes. Serta sensasi hangat saat tangan kami saling bertaut.

 

"...Boleh aku cerita sedikit lagi soal diriku? Diriku yang tidak tertulis di novel. Buku itu bagaimanapun juga cuma fiksi, kan?"

 

"Tidak kelihatan begitu, sih."

 

"Aku menulisnya dengan sangat berlebihan dan dramatis, lho. Sebagai

novel bad end milikku."

 

Apakah hasil dramatisasi dari Eternal Inferno miliknya itu justru melunakkan kenyataan yang terjadi?

 

Di bawah langit biru bertabur awan tipis, sambil melewati area dekat rumah Pamannya, Tsukino mulai berbicara dengan nada santai seperti sekadar obrolan ringan.

 

"Setelah kecelakaan itu, aku jadi tidak bisa menulis novel. Aku tidak punya energi untuk memikirkan bad end dengan bersemangat."

"Tentu saja begitu, kan."

 

"Padahal harusnya aku bisa memisahkan antara fiksi dan kenyataan, ya. Makanya aku jadi tidak tahu harus berbuat apa."

 

Tsukino mendadak memasang kuda-kuda dan melayangkan pukulan lurus (seiken). Suara hantaman tinjunya yang membelah udara terdengar sangat jelas.

 

"Pada masa-masa itu, aku belajar karate. Oh iya, aku juga mencabut gigi bungsu."

 

"Sama sekali bukan cerita yang bisa dibikin tertawa, kan..."

 

"Arah linglungku dan bakat keputusasaanku yang aneh itu boleh kamu

tertawakan kok."

 

Dengan raut wajah yang tampak riang, ia melangkah maju dan melayangkan satu pukulan lagi. Bahkan di mata orang awam sekalipun, pergerakannya terlihat sangat indah.

 

"Lalu, setelah aku sempat bingung setengah mati apakah harus ikut kejuaraan karate atau tidak, akhirnya aku kembali sadar."

 

"Kamu tadinya beneran berniat fokus di karate saja?"

 

"Namanya juga sedang linglung. Pokoknya saat itu Nanaha-senpai memberiku saran: 'Kalau merasa dirimu saat ini berada di dalam bad end, bagaimana kalau coba kamu tulis saja?'"

Ia menghela napas pelan.

 

"Padahal waktu itu Senpai sendiri juga sedang pusing karena tidak bisa menulis novel, tapi dia tetap mau mendengarkan curhatanku dengan tulus. Makanya aku berpikir kalau aku harus menulis, lalu asal mengetik saja di keyboarx."

 

Sambil menundukkan pandangannya, ia tetap melanjutkan cerita.

 

"Begitu mulai menulis, justru karena ini cerita bad end, aku jadi bisa menulisnya. Walau novel ini tidak biasa dan berbeda dari gaya penulisan yang aku kuasai, aku berhasil menyelesaikannya sampai akhir. Lalu kukirimkan ke penghargaan literatur yang pendaftarannya masih buka."

 

"Dan hasilnya kamu menang, begitu?"

 

Tsukino tersenyum canggung sambil menggelengkan kepala.

 

"Jelas-jelas gugur, dong. Tidak semudah itu."

 

"Oh, begitu?"

 

"Soalnya itu cuma novel yang murni mencurahkan isi hatiku sendiri. Kalau dibanding dengan karya para pemenang, jelas masih jauh. Tapi, pihak dewan redaksi menghubungiku. Dari sana kami melakukan beberapa kali revisi hingga akhirnya diterbitkan."

 

"Ternyata prosesnya cukup panjang dan berat, ya."

 

"Tapi aku justru terselamatkan karena bisa memfokuskan pikiran hanya pada novel. Dan beruntungnya, buku itu jadi bahan pembicaraan."

 

"Di poster ada foto wajahmu, dan kamu juga menerima wawancara, kan?"

 

"Kamu membaca artikel wawancaraku!?"

 

"Tidak, aku belum membacanya. Rasanya kurang sopan kalau membacanya tanpa izin."

 

"A-Aku juga tidak bicara yang aneh-aneh sih... Tapi kalau dibaca oleh orang yang kukenal, rasanya tetap agak malu."

 

Melihatnya menunduk dengan pipi merona merah, jujur saja aku jadi makin penasaran.

 

"Barusan kamu mendadak berminat, kan?"

 

"Paham saja ya, dasar keberadaan yang sama! Aku memang penasaran,

tapi aku memutuskan tidak akan membacanya, kok."

 

"Kalau aku sudah memeriksa artikelnya dan memastikan isinya aman untuk kamu baca, mungkin tidak apa-apa."

 

Ia tertawa canggung, tetapi senyum itu perlahan sirna.

 

"...Tapi, menerima wawancara itu kadang terasa agak menyiksa."

Ia bergumam pelan.

"Aku ditanya berkali-kali soal Ayah dan Ibu. Ditambah lagi harus foto dengan pose yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya. Aku berhenti ego-search di tengah jalan, tapi ada banyak orang yang menghujat, bilang kalau aku memanfaatkan kematian orang tua demi cari uang.

Padahal orang-orang yang bicara begitu biasanya bahkan tidak membaca bukunya dan cuma asal bicarakan hal yang tidak relevan! Setidaknya baca dulu dong!"

 

Pukulan lurus yang membelah udara kali ini bahkan memancarkan hawa membunuh.

 

"...Tapi ya ini salahku sendiri yang tidak punya kekuatan untuk menolak permintaan dewan redaksi, sih."

 

"Kalau aku di posisimu pun, kurasa aku tidak bakal bisa menemukan alasan untuk menolaknya."

 

"Terima kasih, diriku. Pokoknya hal-hal seperti itulah yang terjadi.

Untuk sementara waktu aku sibuk mengurusi Keabadian yang Berlanjut, dan aku tetap tidak bisa menulis novel bad end yang biasa. Aku bahkan tidak bisa datang ke Klub Sastra sampai akhirnya memutuskan keluar. Yah, bagian ini kalau di buku memang agak didramatisir berlebihan, sih."

 

Meski ia bilang begitu, bagiku kisah ini terasa sangat nyata dan tidak dibuat-buat.

 

"Aku ingin melakukan sesuatu untuk Jun yang sedang bingung, atau Nanaha-senpai yang tidak bisa menulis novel lagi, tapi aku tidak menemukan ide apa pun. Hari-hari di mana aku malas pergi ke sekolah juga makin bertambah. Yah, ini juga gara-gara Ayah dan Ibu yang biasa membangunkanku di pagi hari sudah tidak ada, sih."

 

Tanpa orang tua, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya melewati pagi tanpa duduk bersama mengelilingi meja makan itu.

 

"Hari saat aku bertemu dengan Asahi itu, lho."

 

Pandangan Tsukino menerawang jauh ke depan. Ia melanjutkan dengan sikap seolah sedang menceritakan kejadian bertahun-tahun lalu, padahal itu baru beberapa hari yang lalu.

 

"Aku malas pergi ke sekolah dan tidur sampai siang. Lalu membawa dokumen ke rumah Paman, dan mampir ziarah ke makam. Karena punya banyak waktu luang, aku jalan-jalan di taman pemandangan. Dan terakhir, aku menuju ke bioskop itu."

 

"Di sana kamu salah mengira kalau Infinity Heaven sedang ditayangkan ulang."

 

"Iya, benar. Begitu melihat poster 'Sedang Tayang', aku berpikir kalau harus menontonnya sekarang juga! Tanpa memeriksa film lain, aku langsung membeli tiketnya."

 

Dan dari sanalah, aku dan Tsukino bertemu.

 

"Rasanya menyenangkan sekali. Beneran menyenangkan! Perasaan pusing karena tidak bisa menulis atau memikirkan bad end rasanya seperti bohong. Tanpa memedulikan hal-hal rumit, film itu benar-benar meluap dengan semangat untuk mengorek dan mencabik-cabik perasaan penontonnya, dan itu bagus sekali. Aku bahkan hampir berdiri dan memberikan standing ovation!"

 

Sama seperti saat kami mengobrol di kafe hari itu, suaranya terdengar sangat riang dari lubuk hatinya yang paling dalam.

 

Lalu ia berjalan sejajar di sampingku. Mengikis jarak di antara kami sebanyak setengah langkah. Tsukino yang menyipitkan mata dan

mengulas senyum berada tepat di sampingku.

 

"Aku bisa langsung menyampaikan kesan-kesanku saat itu, dan bisa berbagi kecintaan pada bad end yang sama secara mendalam—hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasanya seperti beban berat yang menggelayuti hatiku meleleh seketika, dan aku merasa bisa memikirkan bad end lagi. Itulah yang kurasakan saat itu."

 

Saat kami berjalan, tangan kami secara alami saling bersentuhan.

 

"Aku juga bisa bertemu dengan anggota Klub Sastra sebelum semuanya berubah. Jun si fanatik happy end, dan Nanaha-senpai si berserker karya kreatif. Dua orang yang kurindukan. Aku sangat senang melihat

Asahi melakukan interaksi yang sama dengan mereka."

 

Dengan langkah yang riang, Tsukino memutarkan seluruh tubuhnya menghadap ke arahku.

Dinaungi langit biru, dengan mata tajamnya yang menyipit dan tersenyum polos, sosoknya terlihat sangat cerah dan tanpa beban.

 

"Aku senang bisa bertemu dengan Asahi hari itu."

 

Aku tidak tahu harus membalas senyuman menyilaukan itu dengan kata-kata apa. Bahkan saat menulis novel pun, aku tidak pernah sekebetulan ini kesulitan menemukan kata yang tepat.

 

Diriku saat itu sama sekali tidak tahu beban apa yang sedang ditanggung oleh Tsukino. Aku hanya bersenang-senang karena menemukan seseorang dengan selera yang sama. Rasa bersalah terasa mencengkeram dadaku.

 

Seakan memutus jalan pikiranku, sebuah suara berbunyi saat itu. Suara yang sangat kukenal.

 

Dering pesan LINE terdengar dari dalam saku bajuku.

 

Begitu kuambil dengan tergesa-gesa, ada banyak pesan yang masuk dari Ayah, Ibu, Jun, dan Nanaha-senpai.

 

Kami rupanya sudah sampai di sekitar taman tempat kami mengobrol soal bad end waktu itu. Beberapa anak yang baru pulang dari TK tampak sedang bermain bersama orang tua mereka.

 

"Ponselmu bisa dipakai telepon?"

 

"Tidak, statusnya kembali jadi tanpa kontrak. Balas pesan LINE pun... tidak bisa, ya."

 

Semua pesan yang masuk berisi kekhawatiran mereka karena aku tidak kunjung pulang. Jumlah pesan dari keluarga bahkan luar biasa banyak.

 

"Ponselku terhubung, jadi tempat ini memang masih duniaku."

 

"Kalau begitu, tadi ada momen di mana aku sempat melewati duniaku secara sekilas. Atau mungkin ada titik temu di sekitar sini, yang membuat ponselku terhubung secara singkat."

 

Meskipun melihat ke sekeliling, yang membentang hanyalah pemukiman warga di siang bolong.

 

"Pasti di sekitar area sini, tidak salah lagi. Tidak apa-apa, Asahi. Kalau kita memeriksanya perlahan-lahan sambil memperhatikan ponsel, pasti kita bisa menemukan titik terhubungnya. Lagipula aku juga bisa kembali, kan?"

 

"Benar. Dibanding saat kita pergi sampai ke taman pemandangan,

lokasinya sudah jauh lebih dipersempit."

 

"Iya. Pasti... aku akan mengembalikan Asahi ke tempat Ayah, Ibu, Jun,

dan Nanaha-senpai. Sekarang giliranku."

 

Tsukino mengangkat alisnya. Tatapan matanya memancarkan tekad

yang kuat, bertumpuk dengan bayangan air matanya semalam.

Aku menghela napas sambil menggenggam ponsel yang tak terhubung ini.

 

Apa yang harus dilakukan setelah ini? Demi bisa pulang, mungkin aku harus segera bertindak.

 

Tapi—

 

"Tsukino, aku punya satu permintaan."

 

Ucapku.

 

"Ayah dan Ibu Tsukino. Aku ingin pergi ke makam mereka berdua."

 

Aku ingin mengenal Tsukino yang tak kuketahui—sebagai keberadaan yang sama yang seharusnya tahu segalanya tentang dirinya.

Itu adalah dorongan murni dari lubuk hatiku yang paling dalam.

 

◆ ◆ ◆

 

Deretan batu nisan berjejer rapi, tersiram hangatnya pendar sinar matahari di siang bolong. Dari suatu tempat, aroma dupa dan bunga berhembus lembut.

 

Mungkin karena faktor jam, pemakaman yang hampir tidak ada pengunjung ini terasa sangat sepi di bawah teriknya matahari.

 

Tepat di dekat pintu masuk, terdapat kran air dan ember yang disediakan untuk mengganti air bunga atau membersihkan batu nisan. Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi pemakaman ini. Setiap festival Bon, aku selalu datang ke sini bersama orang tua untuk berziarah ke makam nenek dan leluhur yang telah tiada.

 

Hanya saja, karena biasanya selalu datang bersama orang lain, aku hanya ingat-ingat lupa di mana letak persisnya batu nisan keluarga Masumi.

 

Tsukino melangkah melintasi pemakaman tanpa ragu sedikit pun.

 

Terlihat jelas bahwa ia sangat sering datang ke sini. Begitu mengikutinya, kami tiba di makam keluarga Masumi dalam waktu singkat.

 

Batu nisan dengan ukiran nama yang masih baru itu terawat dengan sangat baik. Permukaannya yang tanpa noda sedikit pun berkilau diterpa cahaya matahari. Bunga yang terpasang di pot memang sudah agak layu, tetapi masih bisa terlihat bahwa bunga itu baru diganti beberapa hari lalu. Mungkin saat Tsukino pergi berziarah sebelum terlempar ke duniaku.

 

Tsukino membeli bunga di dekat pemakaman tadi. Bunga krisan dengan warna yang cerah.

 

"Asahi mau ikut mempersembahkan bunga? Kalau versi keberadaan yang sama dari dunia paralel yang mempersembahkannya, biasanya kan tidak mungkin, jadi mereka pasti senang. ...Ah, tapi kamu mungkin merasa agak enggan, ya? Soalnya Orang Tua Asahi kan masih hidup."

"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Kalau bisa, aku justru ingin menyapa mereka."

 

"Begitu, ya. Aku ikut senang kalau begitu."

 

Tsukino membuang bunga lama lalu mengganti airnya. Baik saat membeli bunga dalam perjalanan ke sini, menyiapkan ember, hingga merawat batu nisan di sini, gerakannya terlihat sangat cekatan dan terbiasa. Aku sendiri tidak tahu urutannya.

 

Atas dorongan Tsukino, kami masing-masing mempersembahkan bunga ke pot di sisi kiri dan kanan.

 

Setelah itu, kami berdiri berdampingan dan menangkupkan kedua tangan di depan batu nisan yang terukir nama kedua Orang Tua yang berbeda dari duniaku.

 

Entah di kuil, kelenteng, atau pemakaman, kita cenderung memanjatkan doa. Namun, apa yang kulakukan saat ini terasa mirip tetapi berbeda dengan saat di kuil waktu itu. Saat itu, setidaknya aku berdoa agar

Tsukino bisa kembali ke dunianya. Dan setelah dia berhasil sampai di rumahnya, kini malahan aku yang terlempar bingung di sini.

 

Kalau begitu, bukankah seharusnya kali ini aku berdoa agar diriku sendiri bisa kembali?

 

‘Keabadian yang Berlanjut’, Nanaha-senpai yang berambut hitam, serta raut wajah Tsukino yang begitu tenang dan tertidur lelap di atas tempat tidur semalam... berputar-putar di dalam dadaku.

"Kalau tidak ketemu cara untuk pulang pun... tidak apa-apa."

 

Kata-kata itu meluap keluar begitu saja dari mulutku.

 

"Eh?"

 

Mata Tsukino membelalak lebar seolah sedang melihat sesuatu yang tak masuk akal.

 

Meskipun begitu, aku tidak bisa menghentikan kata-kataku.

 

"Menurutku, aku tidak usah pulang saja tidak apa-apa."

 

Aku menatap lurus ke arah Tsukino yang tertegun, lalu menegaskan.

 

"Aku tidak bisa membiarkan Tsukino sendirian. Aku akan tetap di sini bersamamu."

 

"Tidak boleh!"

 

Teriakan pilu bergema di pemakaman siang itu.

 

Ia melangkah maju dengan menghentakkan kakinya. Dari balik rambut hitamnya yang berantakan, matanya yang membelalak terlihat samar.

 

"Kenapa kamu bicara begitu!? Jelas-jelas tidak boleh, kan!"

 

Ia menggelengkan kepalanya dengan hebat.

"Aku tahu kamu memikirkanku. Tapi... tidak boleh. Sama sekali tidak boleh. Mana mungkin begitu!"

 

Ia menunduk, bahunya berguncang hebat.

 

"Tsukino sekarang sendirian. Setelah kehilangan Ayah dan Ibu, jarak dengan Klub Sastra juga merenggang... kamu mengalami kesepian yang sama sekali tidak akan pernah bisa kupahami. Makanya aku... tidak bisa meninggalkan Tsukino begitu saja."

 

Bahu Tsukino berguncang semakin kuat. Raut wajahnya terhalang poni hingga tidak terlihat, tetapi sebuah buliran bening yang berkilau jatuh menetes ke tanah pemakaman.

 

"...Memang benar."

 

Suaranya terdengar parau.

 

"Aku kesepian. Walau Paman memperlakukanku dengan sangat baik, aku tetap kesepian. Setelah melihat semua orang di dunia Asahi masih sama seperti dulu, aku jadi merasa semakin kesepian. Aku jadi makin tersadar kalau aku ini sendirian. Tapi!"

 

Ia menegakkan wajahnya. Di balik matanya yang basah oleh air mata, tersirat rasa amarah yang mendalam. Ini pertama kalinya aku melihat

wajahnya yang beneran marah.

 

"Asahi itu masih memiliki segalanya! Ayah, Ibu, Klub Sastra...! Semua hal yang telah hilang dariku! Membuang semua itu... jelas-jelas tidak boleh! Aku tidak akan memaafkanmu!"




Cengkeraman tangan Tsukino di dadaku terasa begitu erat dan bergetar.

 

Air mata terus menetes tanpa henti dari matanya yang mendelik tajam menatapku dari bawah. Isak tangis menyelinap di antara hela napasnya, sementara jemari yang meremas kain bajuku gemetar hebat.

 

"Jangan buang kebahagiaanmu... kebahagiaan Asahi! Kalau Asahi lenyap dari hadapan Ayah dan Ibu... kalau Nanaha-senpai dan Jun terus-menerus memikirkan Asahi yang menghilang... mana mungkin dunia seperti itu bisa dianggap baik! Aku tidak mau! Aku tahu betul betapa dalamnya rasa sedih dan kesepian itu!"

 

Hantaman kata-kata itu memberikan guncangan yang membuat kepalaku pening seketika. Pada hakikatnya, aku memang tidak akan pernah bisa benar-benar membayangkan penderitaan Tsukino yang kehilangan orang-orang terkasihnya. Namun, setidaknya aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika diriku menghilang dari duniaku sendiri. Padahal, aku merasa sudah bersiap untuk menanggung hal itu.

 

Aku menjadi orang pertama yang memalingkan pandangan. Tak lama kemudian, cengkeraman tangan Tsukino terlepas perlahan.

 

"...Maaf."

 

Ia bergumam pelan dengan suara yang amat lirih, lalu melangkah melingkari posisiku.

 

Refleks aku membalikkan badan dan berniat menghentikan langkahnya.

"Jangan tahan aku."

 

Teguran yang mendahului gerakanku itu membuatku terpaku kaku.

 

Tanpa mampu membalikkan badan sedikit pun, aku hanya bisa mendengarkan derap langkah kaki Tsukino. Batu nisan di depanku beserta bunga yang kami persembahkan berdua berdiri kaku seolah tak terjadi apa-apa.

 

"Biarkan aku sendiri sebentar."

 

Berbekal kalimat itu dan sebuah penolakan yang begitu nyata, derap langkah kakinya perlahan-lahan makin menjauh.

 

Setelah keheningan panjang melingkupi tempat itu, barulah aku memberanikan diri menengok ke belakang. Namun, sosok Tsukino sudah tak terlihat di mana pun.

 

"...Harusnya aku bagaimana?"

 

Mendadak pendar matahari redup tertutup bayangan. Itu hanyalah

fenomena biasa saat awan melintas di langit. Batu nisan tempat kedua orang tua Tsukino bersemayam tak mengucapkan sepatah kata pun, dan aku sama sekali tak berdaya menghadapi takdir kematian mereka berdua.

 

Meskipun kami adalah keberadaan yang sama, aku yang sekarang tak

lagi sanggup memahami seluruh sisi kehidupan Tsukino.

Suara gesekan halus terdengar saat sesuatu jatuh meluncur di dekat kakiku. Ditiup angin pelan, beberapa tangkai bunga yang layu tampak berserakan. Itu adalah krisan layu yang sebelumnya terpasang di pot.

 

Bunga yang baru saja kami persembahkan dan bunga yang gugur ke tanah ini berasal dari jenis yang sama, tetapi perjalanan waktu telah mengubahnya menjadi dua hal yang berbeda. Jumlah yang bertengger di pot dan jumlah yang berserakan di tanah pun tak lagi sama.

 

Akan tetapi, bunga yang gugur itu tetap terlihat indah meski telah melayu. Perasaan dan ketulusan yang ditaruh Tsukino di sana tidak pernah berubah sedikit pun.

 

Diriku dan Tsukino. Duniaku dan dunia Tsukino.

 

"Aku dan Tsukino memang berbeda. Namun, aku dan Tsukino tetaplah sama."

 

Bukankah hal itu sudah kurasakan berkali-kali selama beberapa hari terakhir ini? Kami terhubung lewat bad end, menikmati more bad bersama, dan tertawa lepas dalam penderitaan more hell. Bahkan selera spesifik kami yang belum terjamah pun berhasil digali bersama.

 

Aku mengembalikan ember di dekat pintu masuk pemakaman, lalu menyampaikan salam perpisahan pada bunga-bunga yang telah menunaikan tugasnya.

 

Tanpa ragu, aku mulai berlari.

Justru karena aku adalah dirinya, aku tahu betul apa yang bisa kulakukan untuk Tsukino saat ini.

 

"Seperti yang kuduga dari diriku."

 

Berbeda dari Tsukino yang melatih fisiknya, aku memacu langkah dan menjejakkan kaki ke tanah sekuat tenaga dengan tubuh tanpa latihan ini.

 

Tujuan yang hendak kutuju sudah terkunci dengan pasti.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close