NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Epilog

Epilog


"Kalau begitu, ini kemenangan saya, ya! Hore~!"

 

Tepuk tangan bergema di seluruh ruang Klub Sastra. Aku dan Jun hanya bisa menepuk tangan pelan sambil menjatuhkan bahu dengan lesu.

 

Nanaha-senpai mengangkat kedua tangannya dengan polos, memancarkan senyum lebar di seluruh wajahnya.

 

Hari ini pun tidak ada yang berubah, Nanaha-senpai menang mutlak

sendirian dalam duel novel.

 

"Sialan! Seperti biasa novel buatan cewek satu ini seru banget, sih! Pokoknya bakal kuanalisis buat kujadikan referensi!"

 

"Karakter, latar dunia, pengembangannya... semuanya bagus banget sampai bikin tidak berkutik."

 

"Novel kalian berdua juga sangat seru, kok! Jangan terlalu memikirkan menang atau kalah, ayo kita bertumpah darah dan saling membunuh lagi, ya!"

 

"Dasar berserker karya kreatif... Tapi ya, nanti bakal kujelani lagi, sih."

 

"Aku juga."

 

Saat duel novel berakhir, para anggota klub mulai melakukan apa yang mereka inginkan masing-masing. Ada yang bersiap-siap pulang, ada yang mulai membaca novel, dan ada juga yang mulai menulis. Ini adalah suasana Klub Sastra seperti biasanya.

 

Sambil menikmati rasa nyaman yang terjalin, aku mencerna kekalahan yang menyisakan kepedihan ini sembari merapikan barang-barangku.

"Hari ini kamu jalani rutinitas itu lagi?"

 

"Iya. Kalau begitu, aku duluan, ya."

 

Setelah berpamitan seadanya, aku melangkah keluar dari ruang klub.

 

Sudah hampir dua bulan berlalu sejak kejadian waktu itu. Karena aku sempat menghilang selama seharian, Jun, Nanaha-senpai, dan keluargaku sangat mengkhawatirkanku, dan aku dimarahi habis-habisan. Mengenai cerita dunia paralel dan semacamnya, karena tidak ada yang percaya selain Nanaha-senpai, aku terpaksa mengelak dengan alasan seadanya. Gara-gara itu aku malah dimarahi sekali lagi, tetapi bagaimanapun juga kehidupanku kini sudah kembali seperti sedia kala. Tanpa kusadari, musim telah memasuki pertengahan musim panas, ujian akhir semester telah usai, dan yang tersisa hanyalah menunggu liburan musim panas tiba.

 

Meskipun hari sudah sore, suhu udara sama sekali tidak turun. Di bawah pendar langit senja yang sedikit lebih mendingan, aku melangkah meninggalkan sekolah dengan peluh merembes di seragam musim panas.

 

Sejak saat itu, aku memiliki sebuah rutinitas baru.

 

Baik saat mendatangi Klub Sastra maupun tidak, aku tidak langsung pulang ke rumah.

 

Aku berjalan melintasi kota tua, melewati bagian depan Kuil

Himurogioka. Di dalam area kuil tempat dedaunan hijau pepohonan bergemerisik tertiup angin, tampak seorang kakek dari lingkungan sekitar sedang datang beribadah.

 

Dari sana, aku terus melangkah menuju kawasan yang dulunya merupakan tanah terlarang.

 

Terowongan itu—Terowongan Pertama Himurogioka—kini terlihat seperti terowongan yang sangat biasa. Di siang hari, hutan yang menyimpan Iwakura di atas terowongan pun hanya terlihat seperti bagian dari pepohonan hijau yang memperindah kota.

 

Meskipun aku sudah berulang kali membayangkan apakah Tsukino akan berdiri di tengah-tengah terowongan itu, aku tahu betul kalau hal semacam itu tidak akan terjadi lagi.

 

Begitu melewatinya, aku langsung sampai di tempat tujuan. Sebuah taman di Higashimachi yang pernah kudatangi bersama Tsukino.

 

Anak-anak yang telah menantikan suhu udara sedikit mereda di sore hari tampak sedang bermain-main di wahana permainan. Sambil membatin berharap agar mereka berhati-hati terhadap serangan heatstroke, aku meneguk sisa teh gandum dari botol plastikku, lalu duduk di atas bangku.

 

Bangku tempatku memikirkan bad end bersama Tsukino ini memiliki atap, sehingga rasa terik dari cuaca panas yang ekstrem ini sedikit lebih mendingan.

 

Aku mengeluarkan laptop dari tas dan mulai melakukan pekerjaan sehari-hariku. Meskipun laptop ini sudah diberi pendingin tambahan untuk mencegah overheat, kipasnya tetap saja mengeluarkan suara berdengung yang keras, tetapi aku memutuskan untuk tidak terlalu memedulikannya.

 

Rutinitas sehari-hariku ini tentu saja adalah menulis bad end. Novel panjang berjudul Seishun Killers yang sempat kupikirkan separuh jalan bersama Tsukino sejak hari itu terus kutulis, hingga akhirnya kini hampir mencapai babak klimaks.

 

Setelah Tsukino menghilang, entah karena jembatan yang menghubungkan kedua dunia telah sirna, jejak-jejak keberadaannya di sini makin lama makin memudar.

 

Kamar Tsukino kini telah kembali menjadi gudang penyimpanan sejak ia pulang. Hanya barang-barang kecil yang dibelinya belakangan yang tersisa, yang kini kusimpan dengan rapi di dalam kamarku.

 

Ayah, Ibu, Jun, dan Nanaha-senpai pun perlahan-lahan mulai berhenti menyebutkan namanya. Tsukino Masumi tidak ada di dunia ini. Segalanya seolah kembali ke bentuk yang alami.

Mungkin, satu-satunya orang di dunia ini yang masih mengingat Tsukino hanyalah diriku. Untuk saat ini sama sekali tidak ada tanda-tanda ingatanku mulai mengabur, tetapi jika suatu saat aku melupakannya, aku mungkin bahkan tidak akan sadar kalau aku telah melupakannya. Hal itulah yang membuatku merasa cemas.

 

"Mungkin, Tsukino juga memikirkan hal yang sama."

 

Begitu membayangkan bahwa ada orang lain yang memiliki kecemasan yang sama, rasa cemas yang tak berdaya ini terasa sedikit melunak.

 

Mengenai alasan mengapa kedua dunia ini bisa terhubung, saat kupikirkan kembali belakangan ini, masih terasa ada yang janggal. Jika lokasi tanah terlarang, tindakan berupa ritual, serta kurun waktu tertentu adalah satu-satunya alasan, orang-orang di sekitar sini yang memanfaatkan terowongan secara rutin pasti sudah berturut-turut terlempar ke dunia lain.

 

Mungkin ada satu alasan lagi. Misalnya saja, Tsukino yang telah kehilangan banyak hal merindukan dunia di mana hal itu tidak terjadi.

 

Sedangkan aku—seorang minoritas yang menyukai bad end—sedang mencari seseorang yang mau menerima hal itu. Perasaan dari dua keberadaan yang sama—yang serupa tetapi berbeda—saling bertumpuk, hingga akhirnya menjembatani dunia dengan dunia.

 

Ini cuma sekadar khayalanku belakangan.

 

Namun, biarpun hanya khayalan, aku tidak ingin memutus hubungan itu. Aku tidak mau kalah oleh rasa cemas bahwa suatu hari nanti hubungan ini akan terputus. Sosok yang merupakan keberadaan yang sama denganku, yang secara penampilan sangat sesuai dengan seleraku, dan memiliki selera spesifik yang cocok denganku. Jejak-jejak keberadaan Tsukino yang seperti itu akan kutahankan berada di sini bagaimanapun caranya.

 

Aku menyukai bad end. Aku suka saat hatiku dicabik-cabik oleh bad end, dan aku juga suka melihat wajah pembaca yang meringis kesakitan saat membacanya. Aku membayangkan raut wajah Tsukino—seorang pembaca sekaligus diriku sendiri—yang berada di antara kenikmatan mental dan penderitaan saat hatinya dicabik-cabik dalam rasa terpesona.

 

Mencabik-cabik hati Tsukino lewat novel ini akan menjadi kenikmatan bagiku sendiri, dan karya yang sanggup melakukan hal itu pasti akan sanggup meremukkan hati para pembaca hingga berkeping-keping.

 

"Novel ini adalah buktinya. Bad end terburuk demi mewujudkan hal itu. Extreme Bad End milikku dan Tsukino."

 

Jemariku menari di atas kibor, merajut adegan klimaks.

 

Tanpa disadari sudut bibirku terangkat, bahkan tawa kecil terlepas dari mulutku. Agar tidak membuat anak-anak yang sedang bermain dengan polos merasa takut, aku menutup mulutku dengan tangan sambil terus menumpahkan seluruh gairahku ke atas kibor.

Novel Seishun Killers yang telah ku-brush up dari percakapan bersama Tsukino di sini kini menjelma menjadi kisah pasangan buddy antara tokoh utama dan sang heroine.

 

Sang tokoh utama yang terus-menerus menerima perundungan kejam melampaui batas dari teman sekelasnya mulai berubah setelah bertemu dengan sang heroine yang tidak ragu untuk melakukan pembalasan.

 

Balas dendam kepada teman sekelas yang mereka mulai perlahan berkembang menjadi pertarungan melawan kelompok geng motor di belakangnya, hingga meluas ke musuh yang jauh lebih kuat. Sebuah drama kepemudaan tempat dua orang dengan penderitaan serupa saling menautkan hati. Kebangkitan bakat membunuh yang terpendam di dalam diri sang tokoh utama. Serta banyaknya rasa kehilangan dan penyesalan akibat rantai pembalasan dendam.

 

Di ujung perjalanan itu, sang tokoh utama akhirnya mengetahui bahwa sejak awal sang heroine hanya memanfaatkannya, dan bahwa di balik berbagai rasa kehilangan yang dialaminya, sang heroine-lah yang mengendalikan segalanya dari belakang layar. Sang heroine sebenarnya hanya memanfaatkan sang tokoh utama demi balas dendam pribadinya sendiri. Sambil menyiramkan tawa ejekan, sang heroine memandang rendah dirinya. Sang tokoh utama pun menghabisi nyawa sang heroine dengan tangannya sendiri. Balas dendam, kebencian, hingga rasa cinta... segalanya hanyalah kepalsuan belaka. Tanpa mendapatkan apa-apa, dan kehilangan segalanya di detik-detik paling akhir, sang tokoh utama hanya bisa meraung histeris dalam penderitaan, lalu segalanya berakhir.

Tanpa kusadari aku sempat menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan. Sambil merasakan paru-paruku kembali terisi udara, aku selesai mengetik kalimat terakhir.

 

Saat mendongak menatap langit, tanpa disadari matahari terbenam telah menghilang. Meskipun titik balik matahari musim panas (geshi) telah lewat, siang hari seharusnya masih cukup panjang. Baru saat itulah aku tersadar bahwa aku telah menulis dengan sangat fokus dalam waktu yang cukup lama.

 

Setelah ini aku akan memasuki proses penyuntingan, tetapi aku memiliki keyakinan kuat bahwa aku telah berhasil menulis bad end terbaik yang pernah kubuat sejauh ini. Aku penasaran bagaimana reaksi Jun, Nanaha-senpai, dan anggota klub lainnya. Ini adalah bad end yang tidak hanya seru sebagai hiburan, tetapi juga sanggup mencabik-cabik hati sampai hancur.

 

Hanya saja, Tsukino tidak akan pernah membaca novel ini.

 

Aku sudah mengikhlaskannya sejak lama. Aku akan menempuh jalan di duniaku sendiri. Bukankah aku sudah memutuskannya demikian?

 

Namun, begitu selesai mengetiknya, aku merasa ada sesuatu yang masih kurang. Apakah bad end-nya masih belum cukup, ataukah—

 

Sambil menahan helaan napas yang hampir terlepas, aku menutup aplikasi pengolah kata yang sedang kugunakan.

 

Tampilan di layar membuatku merasakan kejanggalan.

File Seishun Killers bertambah menjadi dua. Aku tidak ingat pernah membuat file dengan catatan tambahan "Versi 2".

 

Dengan rasa heran, aku membuka file tersebut. Jumlah halaman keseluruhannya berbeda dari yang baru saja kuselesaikan, dan di bagian akhir terdapat tulisan tambahan berwarna merah. Itu adalah garis besar alur cerita yang belum diubah menjadi bentuk novel. Namun, kisahnya berbeda dari konklusi yang kutulis.

 

Setelah menghabisi sang heroine dengan tangannya sendiri, sang tokoh utama melihat rekaman video yang ditinggalkan oleh gadis itu. Video itu berisi permohonan maaf dan salam perpisahan untuk sang tokoh utama.

 

Sang heroine ternyata selama ini memendam rasa bersalah yang mendalam kepada sang tokoh utama. Dari video tersebut, terpancar perasaan suka yang murni tanpa ada kepalsuan sedikit pun. Gadis itu

sebenarnya berniat mengakhiri hidupnya sendiri setelah segalanya usai.

 

Namun, sang tokoh utama yang mengejar gadis yang hendak pergi itu malah melontarkan kata-kata kotor, lalu membunuhnya setelah menyiksanya sejauh mungkin. (※ Di sini sajikan penggambaran kekejaman/gore yang maksimal). Sang tokoh utama baru tersadar bahwa tawa ejekan maupun jeritan memohon ampun yang menyedihkan di detik-detik terakhir sang heroine... segalanya hanyalah akting agar sang tokoh utama tidak merasa bersalah atas kematiannya. Jika saja ia mengetahuinya lebih awal, ia tidak akan pernah membunuh sang heroine. Sang tokoh utama baru menyadari hal itu.

 

Seolah menghantam bertubi-tubi, berita di media mengumumkan kabar berikutnya. Para penjahat yang dibunuh oleh sang tokoh utama ternyata sebenarnya sudah diputuskan akan diadili oleh hukum. Maksud hati ingin membunuh musuh yang tidak bisa dijangkau hukum, ia justru malah mengganggu jalannya keadilan hukum. Akibat hilangnya para penjahat itu tanpa bisa diadili, timbul orang-orang yang jatuh ke dalam keputusasaan. Tindakan yang diputuskan oleh sang tokoh utama tidak melahirkan apa pun selain kemalangan. Apa yang dilakukannya sama sekali tidak memiliki arti.

 

Padahal jika ia menginginkannya, ia bisa saja mundur di suatu titik.

 

Sang tokoh utama hanya bisa menangis meraung-raung tanpa daya.

 

"Ini more hell!"

 

"Sudden Strike. Namun di saat yang sama juga merupakan more hell yang ditopang oleh Uroboros the End."

 

Di bawah cahaya bulan, rambut hitam berayun pelan dengan tenang. Bunga mawar hitam dan perak berkilau halus.

 

Tepat di sampingku, ia duduk. Begitu dekat hingga ujung rok seragamnya menyentuh kakiku.

 

Tatapan matanya yang tajam menyipit dingin, tetapi di dalamnya membara kehangatan penuh hasrat akan keindahan bad end. Di atas kulitnya yang begitu putih, bibir merah pekatnya terangkat membentuk segaris senyum.

Benda yang diletakkannya di atas meja adalah laptop lamaku yang waktu itu dibawanya. Begitu jemari putihnya mengoperasikan perangkat tersebut, folder bersama di aplikasi komputasi awan langsung terbuka.

 

Tulisan "Versi 2" ternyata adalah salinan Seishun Killers yang ia edit dan beri catatan tambahan.

 

"Tsukino!?"

 

"Iya. Aku adalah dirimu yang satunya lagi, Asahi."

 

Tadinya kukira ini hanyalah ilusi belaka. Namun, di hadapanku saat ini, senyuman, helaan napas, bahkan hasrat more bad milik Tsukino benar-benar nyata. Satu-satunya hal yang berbeda hanyalah seragam sekolahnya, yang kini telah berganti menjadi blus lengan pendek khas musim panas. Akibat suhu udara yang tak kunjung turun meski malam telah tiba, rambut hitamnya tampak sedikit lembap, membuat kehadirannya terasa semakin nyata.

 

Biarpun mencoba melontarkan kata atau menanyakan sesuatu, suaraku seolah tertahan di tenggorokan. Melihatku yang hanya terdiam, ia menyeringai, memperlihatkan giginya yang putih.

 

"Setelah kejadian waktu itu, aku mencoba meneliti lebih dalam soal legenda Kamigakushi bersama Nanaha-senpai dan Jun. Dari sana, kami menemukan bahwa periode terjadinya fenomena tersebut ternyata tidak hanya sekali dalam setahun. Makanya... aku mencoba membuktikannya sekali lagi."

 

Tsukino mengarahkan pandangannya ke arah Terowongan Pertama Himurogioka. Meski terhalang kompleks perumahan sehingga terowongannya hanya terlihat sedikit, Iwakura di atas sana memang benar-benar ada.

 

"Karena itulah... aku datang untuk menemui orang yang kusukai."

 

Setelah mengucapkan kalimat seberani itu, ia mendadak menundukkan pandangan. Dari balik rambut hitamnya yang menjuntai, daun telinganya tampak merona merah pekat.

 

Mungkin, tidak, sudah pasti wajahku saat ini juga sama merahnya.

 

"Aku juga menyukaimu. Aku benar-benar ingin bertemu denganmu."

 

Tsukino kembali mengangkat wajahnya. Jarak di antara kami semakin dekat. Sentuhan yang begitu lembut dan hangat terasa amat nyata, sebuah kehangatan yang kami berdua rasakan.

 

"...Kali ini, maukah kamu membuat bad end terburuk yang kutulis bersama-sama?"

 

"Tentu saja. Sebuah bad end yang sanggup mencabik-cabik hati hingga tak tersisa."

 

"More bad! More hell!"

 

Kami berdua mengangkat kepalan tangan ke udara, merayakan pertemuan ini dengan beberapa kali fist bump.

 

Aku ingin mengenal sosoknya jauh lebih dalam lagi.

 

Karena dia adalah diriku.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close