Prolog ①: Keseharian Saat Gadis Tercantik Seangkatan Menjadi Sekretarisku di Rumah
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
"──Sensei
itu high spec banget ya."
Himegi Iori-san yang sedang memasak makan
malam di dapur mendadak memujiku, membuat jantungku rasanya hampir berhenti
karena kaget.
Aku mengalihkan pandangan dari laptop
yang sedang kugunakan untuk bekerja, lalu menatap Himegi-san yang mengenakan
celemek dan kacamata tanpa minus. Penampilannya itu indah seperti biasa.
Rambut biru mudanya yang halus berkilau
setiap kali terkena cahaya.
Setiap kali rambut itu berkibar mengikuti
gerak-gerik Himegi-san, mataku tanpa sadar ikut memperhatikannya.
Matanya yang jernih dibingkai oleh bulu
mata yang panjang. Seolah-olah langit malam dengan bintang-bintang yang
berkilau terang, rasanya aku seperti akan tersedot saat menatapnya.
Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang
sedikit lembap. Kedua hal itu memiliki kesempurnaan yang begitu presisi, seolah
telah diperhitungkan hingga detail terkecil layaknya patung Yunani.
Himegi-san memiliki visual yang sangat luar biasa. Buktinya, dia menjuarai 『Kontes Gadis Cantik Sekolah』 yang diadakan pada festival budaya beberapa hari lalu.
Tak perlu dikatakan lagi, nilai seorang
manusia ada pada isinya.
Menentukan tujuan hidup, lalu seberapa
banyak usaha yang mampu kita kumpulkan untuk mencapainya, itulah yang
menentukan nilai seseorang sebagai manusia.
Di sisi lain, penampilan adalah sesuatu
yang dibawa sejak lahir, dan
hampir tidak ada hubungannya dengan usaha
diri sendiri.
Tentu saja, kita tetap perlu menjaga
bentuk tubuh dan kondisi kulit, seperti dengan menahan diri dari makan dan
minum berlebihan serta berusaha berolahraga secukupnya. Perlu juga melakukan
pencegahan kulit terbakar sinar matahari, serta merawat rambut.
Namun, karena ketergantungannya pada
nilai awal terlalu besar, aku tidak menganggap kebaikan penampilan luar sebagai
nilai seorang manusia.
──Tapi
yah, terlepas dari itu, gadis cantik dengan nilai wajah yang tinggi memang
bagus.
Hanya berada di ruang yang sama saja
sudah membuat hati berdebar, dan hanya dengan sedikit dipuji saja sudah membuat
melayang.
Menurutku, mengutamakan penampilan luar
itu tidak baik, tetapi pada saat informasi visual disampaikan ke otak, rasa
gembira timbul begitu saja, jadi mau bagaimana lagi.
Mungkin ini adalah naluri sebagai
manusia, sebagai seorang jantan.
Namun, apakah benar-benar hanya itu? Ada
juga keraguan seperti itu.
Karena saat belum mengenal Himegi-san
dengan baik, aku tidak sampai terpesona olehnya seperti sekarang.
Himegi-san
bukan hanya memiliki penampilan luar yang luar biasa, tetapi juga memiliki sisi
dalam yang sama hebatnya. Justru karena itulah, seluruh gerak-geriknya mungkin
sampai membuat hatiku sekacau ini──
Saat aku sedang memikirkan hal tidak
berguna seperti itu, Himegi-san mulai melanjutkan pembicaraannya.
"Saat istirahat siang hari ini, aku,
Haga-san, dan Fuwa-san bertiga membicarakan tentang syarat pria idaman
lho."
"Paham. Lalu, syarat seperti apa
yang keluar?"
"Kalau dari bagian yang disetujui
semua orang, 'lembut dan penuh perhatian', 'tidak mudah marah', 'tidak
mengatakan hal buruk tentang orang lain', 'suka kebersihan dan kamarnya rapi',
'bersungguh-sungguh menekuni sesuatu', 'punya sesuatu yang tidak akan kalah
dari siapa pun dan bisa dihormati', dan sejenisnya."
"Semuanya hal mendasar sih, tapi
untuk mencakup seluruhnya itu tugas yang sangat sulit ya."
"Mendengar itu, aku berpikir. Sensei
sudah memenuhi semuanya ya."
"Hah……?"
Aku dipuji dengan cara yang tidak
terduga.
"Emm…… penilaian padaku terlalu
tinggi, jadi aku bingung harus bereaksi bagaimana."
"Tapi, memenuhi semuanya kan?"
"Begitu…… yah, begitu ya……?"
Memang, tidak ada satu pun syarat di luar
nalar manusia seperti 'bisa lari dengan kecepatan 80 km per jam', dan jika
menjalani hidup dengan
cermat, siapa pun sepertinya bisa
memenuhinya.
"Lalu, Fuwa-san mengajukan syarat
seperti 'tulus dan tidak berjudi',
atau 'penghasilannya cukup banyak sampai
aman meski masuk masa cuti melahirkan'."
"Fuwa-san realistis ya."
"Selain itu, Haga-san sedikit
berbeda dari syarat sih, tapi dia bilang 'kalau follower SNS-nya banyak jadi
bisa dihormati'. Lalu, semakin banyak mendengar berbagai pendapat, aku kembali
berpikir kalau Sensei itu memang high spec."
"…………"
Terus-menerus dipuji habis-habisan. Rasa
percaya diri meningkat drastis.
Namun, seperti dugaan, ini terlalu
berlebihan. Jika penilaiannya setinggi ini, aku takut saat aku melakukan
kesalahan nanti, dia akan kecewa lebih dari yang diperlukan.
Meskipun begitu, menolak kenyataan bahwa
aku dipuji berisiko merusak suasana hati Himegi-san. Di sini mari menurunkan
tingkat ekspektasi padaku dengan membawa elemen lain untuk mengejek diri
sendiri.
Sekalian kalau mengangkat Himegi-san,
penilaian secara keseluruhan harusnya makin meningkat.
"Orang sepertiku sama sekali tidak
berguna kok. Ujian kemarin saja, aku dapat nilai merah terus dan hampir berada
di urutan paling bawah. Berseberangan dengan itu, Himegi-san peringkat ke-7
kan."
"Ujian kemarin itu, karena tepat
sebelumnya terjadi bug merepotkan dan sibuk mengurusnya, jadi mau bagaimana
lagi."
"Kalau bicara soal itu, Himegi-san
juga menemaniku kan, sampai hampir tidak ada waktu untuk belajar? Padahal
begitu tapi dapat peringkat ke-7, biasanya bukan hal yang bisa dilakukan
lho."
"……Yah, karena aku biasanya belajar
persiapan dan mengulang pelajaran dengan benar sih……"
Himegi-san tersenyum seolah tidak terlalu
membencinya, lalu melanjutkan.
"Tapi, karena Sensei itu dasarnya
pintar, kalau memang berminat harusnya bisa menyalip orang sepertiku dengan
cepat."
"Tidak tidak, tidak mungkin. Aku
cuma bisa membagi sumber daya pada hal yang kuminati saja."
"Tapi dengan begitu bisa membuat hal
yang disukai menjadi pekerjaan,
itu cara hidup yang keren lho."
Sampai dibilang keren segala. Aku susah
payah menahan senyum lebar.
"Keren ya……? Aku cuma membuat gim
yang kusukai saja sih……. Lagipula kalau SNS, bukan berarti memposting hal yang
menarik, jadi follower-nya cuma ada 50 ribu orang."
"Sudah cukup hebat kok. Biasanya
melampaui 100 orang saja susah. Kalau Sensei benar-benar serius, sepertinya
bakal populer di kalangan anak perempuan, ya."
"Tidak populer kok."
Ini bisa ditolak secara jelas.
"Sampai sekarang aku belum pernah
mendapatkan cokelat di Hari Valentine kok."
"Itu karena semuanya tidak tahu
Sensei yang sebenarnya. Kalau Sensei punya kebutuhan akan pengakuan yang lebih
kuat dan mengumumkan secara terbuka bahwa Sensei adalah kreator gim yang luar
biasa hebat, seharusnya Sensei bisa mendapatkan cokelat dari para gadis di
seluruh sekolah sampai ruang tamu ini penuh."
"Menurutku tidak bakal begitu
sih……"
"Bakal
begitu kok. Menurutku Sensei harus lebih bisa melihat diri sendiri secara
objektif. Lalu, aku tahu kalau sibuk, tapi lebih baik memperhatikan penampilan
luar. Pertama-tama pergi ke salon yang benar──"
Lalu, Himegi-san mendadak menghentikan
kata-katanya di sana, dan berpikir keras.
"Dipikir-pikir lagi, kalau Sensei
tidak populer justru lebih menguntungkan bagiku, jadi dilarang pergi ke salon
yang benar."
"Kenapa begitu."
"Habisnya, kalau Sensei sampai
membawa pacar ke rumah, aku jadi susah berada di sini."
"Ah, begitu ya……. Lagian, meski aku
punya pacar pun kamu berniat datang ke rumah ini?"
"Karena aku ini sekretaris, jadi
sudah sewajarnya. Jika pacar Sensei datang berkunjung, aku sebagai sekretaris
akan menyapa dan pamer kedekatan dengan bilang, 'Aku sudah sejak lama
menghabiskan waktu di rumah ini’."
"Nanti malah jadi ribut, jadi
jangan."
"Aku juga tidak mau bertengkar, jadi
dilarang populer. Kenyataan bahwa sebenarnya high spec itu, anggap saja rahasia
hanya berdua denganku."
Setelah Himegi-san tertawa seperti anak
jahil, dia menegakkan jari telunjuknya, dan membiarkannya menyentuh bibirnya
sendiri secara ringan.
"Makanya, aku bilang aku bukan high
spec."
"Iya iya. Makanannya sudah jadi,
jadi tolong segera dimakan ya."
Himegi-san mengabaikannya dengan ringan,
lalu membawakan shogayaki babi di atas piring putih untuk 2 orang.
Tak lama kemudian di atas meja berjejer
menu sehat berupa nasi beras merah, sup miso dengan banyak isian, shogayaki
babi, dan bayam rebus.
"Terima
kasih sudah membuatkannya. Selamat makan. ──Wah! Shogayaki hari ini, luar biasa
enak ya!"
Segera setelah makan satu suapan, aku
memuji-mujinya.
Himegi-san menutupi mulut dengan
tangannya, lalu tertawa malu-malu.
"Aku selalu berpikir begitu, tapi
Sensei itu berlebihan."
"Tidak, karena benar-benar enak kok.
Jahenya terasa, tingkat kematangannya juga terbaik jadi juicy, teksturnya
paling mantap lho. Mungkin ini yang paling enak di antara shogayaki yang pernah
kumakan sampai sekarang."
"Ehehe. Terima kasih banyak."
Himegi-san menunduk, dan merona pipinya.
"Tuh kan, Sensei memang high
spec."
"Eh? Dari bagian mana dalam
percakapan tadi kamu berpikir begitu?"
"Habisnya, pintar memuji sih."
"Kalau itu tidak ada hubungannya
dengan spec kan? Aku cuma mengatakan apa yang kupikirkan saja kok."
"Hal itu yang lumayan tidak bisa
dilakukan orang-orang lho. ……Sensei, mutlak dilarang ke salon ya."
"Kenapa ditekankan lagi di saat-saat
seperti ini?"
"Fufu. Kenapa ya~"
Himegi-san mengatakannya seperti bernyanyi, dan mengulas senyum penuh arti.
Illustrasi | ToC | Prolog 2



Post a Comment