NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Prolog 1

Prolog ①: Keseharian Saat Gadis Tercantik Seangkatan Menjadi Sekretarisku di Rumah


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

"──Sensei itu high spec banget ya."

 

Himegi Iori-san yang sedang memasak makan malam di dapur mendadak memujiku, membuat jantungku rasanya hampir berhenti karena kaget.

 

Aku mengalihkan pandangan dari laptop yang sedang kugunakan untuk bekerja, lalu menatap Himegi-san yang mengenakan celemek dan kacamata tanpa minus. Penampilannya itu indah seperti biasa.

 

Rambut biru mudanya yang halus berkilau setiap kali terkena cahaya.

 

Setiap kali rambut itu berkibar mengikuti gerak-gerik Himegi-san, mataku tanpa sadar ikut memperhatikannya.

 

Matanya yang jernih dibingkai oleh bulu mata yang panjang. Seolah-olah langit malam dengan bintang-bintang yang berkilau terang, rasanya aku seperti akan tersedot saat menatapnya.

 

Hidungnya yang mancung dan bibirnya yang sedikit lembap. Kedua hal itu memiliki kesempurnaan yang begitu presisi, seolah telah diperhitungkan hingga detail terkecil layaknya patung Yunani.

Himegi-san memiliki visual yang sangat luar biasa. Buktinya, dia menjuarai 『Kontes Gadis Cantik Sekolah』 yang diadakan pada festival budaya beberapa hari lalu.




Tak perlu dikatakan lagi, nilai seorang manusia ada pada isinya.

 

Menentukan tujuan hidup, lalu seberapa banyak usaha yang mampu kita kumpulkan untuk mencapainya, itulah yang menentukan nilai seseorang sebagai manusia.

 

Di sisi lain, penampilan adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, dan

hampir tidak ada hubungannya dengan usaha diri sendiri.

 

Tentu saja, kita tetap perlu menjaga bentuk tubuh dan kondisi kulit, seperti dengan menahan diri dari makan dan minum berlebihan serta berusaha berolahraga secukupnya. Perlu juga melakukan pencegahan kulit terbakar sinar matahari, serta merawat rambut.

 

Namun, karena ketergantungannya pada nilai awal terlalu besar, aku tidak menganggap kebaikan penampilan luar sebagai nilai seorang manusia.

 

──Tapi yah, terlepas dari itu, gadis cantik dengan nilai wajah yang tinggi memang bagus.

 

Hanya berada di ruang yang sama saja sudah membuat hati berdebar, dan hanya dengan sedikit dipuji saja sudah membuat melayang.

 

Menurutku, mengutamakan penampilan luar itu tidak baik, tetapi pada saat informasi visual disampaikan ke otak, rasa gembira timbul begitu saja, jadi mau bagaimana lagi.

 

Mungkin ini adalah naluri sebagai manusia, sebagai seorang jantan.

Namun, apakah benar-benar hanya itu? Ada juga keraguan seperti itu.

 

Karena saat belum mengenal Himegi-san dengan baik, aku tidak sampai terpesona olehnya seperti sekarang.

 

Himegi-san bukan hanya memiliki penampilan luar yang luar biasa, tetapi juga memiliki sisi dalam yang sama hebatnya. Justru karena itulah, seluruh gerak-geriknya mungkin sampai membuat hatiku sekacau ini──

 

Saat aku sedang memikirkan hal tidak berguna seperti itu, Himegi-san mulai melanjutkan pembicaraannya.

 

"Saat istirahat siang hari ini, aku, Haga-san, dan Fuwa-san bertiga membicarakan tentang syarat pria idaman lho."

 

"Paham. Lalu, syarat seperti apa yang keluar?"

 

"Kalau dari bagian yang disetujui semua orang, 'lembut dan penuh perhatian', 'tidak mudah marah', 'tidak mengatakan hal buruk tentang orang lain', 'suka kebersihan dan kamarnya rapi', 'bersungguh-sungguh menekuni sesuatu', 'punya sesuatu yang tidak akan kalah dari siapa pun dan bisa dihormati', dan sejenisnya."

 

"Semuanya hal mendasar sih, tapi untuk mencakup seluruhnya itu tugas yang sangat sulit ya."

 

"Mendengar itu, aku berpikir. Sensei sudah memenuhi semuanya ya."

 

"Hah……?"

 

Aku dipuji dengan cara yang tidak terduga.

 

"Emm…… penilaian padaku terlalu tinggi, jadi aku bingung harus bereaksi bagaimana."

 

"Tapi, memenuhi semuanya kan?"

 

"Begitu…… yah, begitu ya……?"

 

Memang, tidak ada satu pun syarat di luar nalar manusia seperti 'bisa lari dengan kecepatan 80 km per jam', dan jika menjalani hidup dengan

cermat, siapa pun sepertinya bisa memenuhinya.

 

"Lalu, Fuwa-san mengajukan syarat seperti 'tulus dan tidak berjudi',

atau 'penghasilannya cukup banyak sampai aman meski masuk masa cuti melahirkan'."

 

"Fuwa-san realistis ya."

 

"Selain itu, Haga-san sedikit berbeda dari syarat sih, tapi dia bilang 'kalau follower SNS-nya banyak jadi bisa dihormati'. Lalu, semakin banyak mendengar berbagai pendapat, aku kembali berpikir kalau Sensei itu memang high spec."

 

"…………"

 

Terus-menerus dipuji habis-habisan. Rasa percaya diri meningkat drastis.

 

Namun, seperti dugaan, ini terlalu berlebihan. Jika penilaiannya setinggi ini, aku takut saat aku melakukan kesalahan nanti, dia akan kecewa lebih dari yang diperlukan.

 

Meskipun begitu, menolak kenyataan bahwa aku dipuji berisiko merusak suasana hati Himegi-san. Di sini mari menurunkan tingkat ekspektasi padaku dengan membawa elemen lain untuk mengejek diri sendiri.

 

Sekalian kalau mengangkat Himegi-san, penilaian secara keseluruhan harusnya makin meningkat.

 

"Orang sepertiku sama sekali tidak berguna kok. Ujian kemarin saja, aku dapat nilai merah terus dan hampir berada di urutan paling bawah. Berseberangan dengan itu, Himegi-san peringkat ke-7 kan."

 

"Ujian kemarin itu, karena tepat sebelumnya terjadi bug merepotkan dan sibuk mengurusnya, jadi mau bagaimana lagi."

 

"Kalau bicara soal itu, Himegi-san juga menemaniku kan, sampai hampir tidak ada waktu untuk belajar? Padahal begitu tapi dapat peringkat ke-7, biasanya bukan hal yang bisa dilakukan lho."

 

"……Yah, karena aku biasanya belajar persiapan dan mengulang pelajaran dengan benar sih……"

 

Himegi-san tersenyum seolah tidak terlalu membencinya, lalu melanjutkan.

 

"Tapi, karena Sensei itu dasarnya pintar, kalau memang berminat harusnya bisa menyalip orang sepertiku dengan cepat."

 

"Tidak tidak, tidak mungkin. Aku cuma bisa membagi sumber daya pada hal yang kuminati saja."

 

"Tapi dengan begitu bisa membuat hal yang disukai menjadi pekerjaan,

itu cara hidup yang keren lho."

 

Sampai dibilang keren segala. Aku susah payah menahan senyum lebar.

 

"Keren ya……? Aku cuma membuat gim yang kusukai saja sih……. Lagipula kalau SNS, bukan berarti memposting hal yang menarik, jadi follower-nya cuma ada 50 ribu orang."

 

"Sudah cukup hebat kok. Biasanya melampaui 100 orang saja susah. Kalau Sensei benar-benar serius, sepertinya bakal populer di kalangan anak perempuan, ya."

 

"Tidak populer kok."

 

Ini bisa ditolak secara jelas.

 

"Sampai sekarang aku belum pernah mendapatkan cokelat di Hari Valentine kok."

"Itu karena semuanya tidak tahu Sensei yang sebenarnya. Kalau Sensei punya kebutuhan akan pengakuan yang lebih kuat dan mengumumkan secara terbuka bahwa Sensei adalah kreator gim yang luar biasa hebat, seharusnya Sensei bisa mendapatkan cokelat dari para gadis di seluruh sekolah sampai ruang tamu ini penuh."

 

"Menurutku tidak bakal begitu sih……"

 

"Bakal begitu kok. Menurutku Sensei harus lebih bisa melihat diri sendiri secara objektif. Lalu, aku tahu kalau sibuk, tapi lebih baik memperhatikan penampilan luar. Pertama-tama pergi ke salon yang benar──"

 

Lalu, Himegi-san mendadak menghentikan kata-katanya di sana, dan berpikir keras.

 

"Dipikir-pikir lagi, kalau Sensei tidak populer justru lebih menguntungkan bagiku, jadi dilarang pergi ke salon yang benar."

 

"Kenapa begitu."

 

"Habisnya, kalau Sensei sampai membawa pacar ke rumah, aku jadi susah berada di sini."

 

"Ah, begitu ya……. Lagian, meski aku punya pacar pun kamu berniat datang ke rumah ini?"

 

"Karena aku ini sekretaris, jadi sudah sewajarnya. Jika pacar Sensei datang berkunjung, aku sebagai sekretaris akan menyapa dan pamer kedekatan dengan bilang, 'Aku sudah sejak lama menghabiskan waktu di rumah ini’."

 

"Nanti malah jadi ribut, jadi jangan."

 

"Aku juga tidak mau bertengkar, jadi dilarang populer. Kenyataan bahwa sebenarnya high spec itu, anggap saja rahasia hanya berdua denganku."

 

Setelah Himegi-san tertawa seperti anak jahil, dia menegakkan jari telunjuknya, dan membiarkannya menyentuh bibirnya sendiri secara ringan.

 

"Makanya, aku bilang aku bukan high spec."

 

"Iya iya. Makanannya sudah jadi, jadi tolong segera dimakan ya."

 

Himegi-san mengabaikannya dengan ringan, lalu membawakan shogayaki babi di atas piring putih untuk 2 orang.

 

Tak lama kemudian di atas meja berjejer menu sehat berupa nasi beras merah, sup miso dengan banyak isian, shogayaki babi, dan bayam rebus.

 

"Terima kasih sudah membuatkannya. Selamat makan. ──Wah! Shogayaki hari ini, luar biasa enak ya!"

 

Segera setelah makan satu suapan, aku memuji-mujinya.

 

Himegi-san menutupi mulut dengan tangannya, lalu tertawa malu-malu.

 

"Aku selalu berpikir begitu, tapi Sensei itu berlebihan."

 

"Tidak, karena benar-benar enak kok. Jahenya terasa, tingkat kematangannya juga terbaik jadi juicy, teksturnya paling mantap lho. Mungkin ini yang paling enak di antara shogayaki yang pernah kumakan sampai sekarang."

 

"Ehehe. Terima kasih banyak."

 

Himegi-san menunduk, dan merona pipinya.

 

"Tuh kan, Sensei memang high spec."

 

"Eh? Dari bagian mana dalam percakapan tadi kamu berpikir begitu?"

 

"Habisnya, pintar memuji sih."

 

"Kalau itu tidak ada hubungannya dengan spec kan? Aku cuma mengatakan apa yang kupikirkan saja kok."

 

"Hal itu yang lumayan tidak bisa dilakukan orang-orang lho. ……Sensei, mutlak dilarang ke salon ya."

 

"Kenapa ditekankan lagi di saat-saat seperti ini?"

 

"Fufu. Kenapa ya~"

 

Himegi-san mengatakannya seperti bernyanyi, dan mengulas senyum penuh arti.



Illustrasi | ToC | Prolog 2

Post a Comment

Post a Comment

close