NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Prolog 2

Prolog ②: Menjadi Sekretaris Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Bahkan di Sekolah


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Ruang kelas setelah pulang sekolah terasa begitu hening, seolah keributan yang biasanya terjadi hanyalah kebohongan. Setiap kali tirai bergoyang ditiup angin, sinar matahari sore yang lembut menerobos masuk.

 

Di dalam kelas hanya ada dua orang, aku dan Sensei. Sensei sedang menulis skenario gim di ponselnya, dan aku duduk di kursi tepat di belakangnya sambil mewakili menulis buku harian kelas. Hari ini Sensei memang bertugas piket harian, tapi mana mungkin aku membiarkannya membuang-buang waktu berharga untuk urusan sepele seperti mengisi buku harian kelas.

 

Teman-teman sekelas tidak ada yang tahu, padahal Sensei adalah orang yang luar biasa. Bagaimanapun juga, tiga tahun lalu, saat usianya baru 13 tahun, dia merilis sebuah gim indie yang luar biasa seru berjudul 『Houkago Jihen』.

 

Genre dari gim dewa ini adalah horror mystery love comedy, yang telah memikat banyak pemain termasuk aku, dan jika digabungkan dengan sekuelnya, total penjualannya telah menembus 1 juta kopi.

 

Terlebih lagi, gim pada dasarnya dibuat oleh beberapa orang, tetapi Sensei adalah seorang superhuman yang membuat skenario, grafik, musik, hingga pemrograman sendirian.

 

Dibandingkan denganku, nilai waktunya terlalu jauh berbeda. Karena itulah, sebagai sekretaris, aku menawarkan diri untuk menggantikannya menulis buku harian kelas.

 

Meski begitu, tulisan tanganku dan Sensei lumayan berbeda. Supaya tindakan menggantikan ini tidak ketahuan, aku menaruh buku catatan Bahasa Jepang milik Sensei di sampingku, lalu menulis sambil meniru tulisan tangannya.

 

"……Anu, Himegi-san. Apa tidak sebaiknya buku harian itu aku saja yang tulis?"

 

Sensei mengajukan penawaran itu karena tidak tega melihatku yang bekerja seolah menumpahkan jiwa pada setiap satu per satu huruf.

 

"Tidak perlu sungkan. Sebagai sekretaris, aku hanya melakukan pekerjaan yang sudah sepantasnya."

 

Aku yang berada dalam mode sekretaris menjawab dengan bahasa baku.

 

Untuk memberikan batasan yang jelas, aku membiasakan diri menggunakan bahasa baku selama bekerja.

 

"Sensei harus menyadari betapa tingginya upah per jam Sensei, kalau tidak, aku yang bakal kesusahan."

"Tidak, tingginya upah per jam dengan membebankan tugas piket harian itu beda urusan──"

 

"Tidak usah banyak omong, cepat tulis kelanjutan skenario dengan tulisanmu itu dan biarkan aku membacanya. Aku sangat penasaran bagaimana sang tokoh utama keluar dari krisis sampai-sampai otakku rasanya mau meledak."

 

"……Aku usahakan sebisanya."

 

Sensei tersenyum kecut, lalu mengembalikan pandangannya ke ponsel.

 

Ah…… bahagianya…… Bisa saling bertukar kata seperti ini dengan Sensei di kelas……

 

Kami biasanya sebisa mungkin tidak berbicara saat di sekolah. Jika kenyataan bahwa aku adalah sekretarisnya sampai ketahuan, ada risiko profesi Sensei juga ikut terbongkar secara beruntun.

 

Kata Sensei, karena ada berbagai macam risiko, dia ingin agar statusnya sebagai pembuat gim tidak diketahui oleh siapa pun.

 

Namun karena sekarang tidak ada orang lain, kami bisa berbicara secara normal.

 

Sambil menggerakkan pena, sesekali aku mengintip Sensei yang sedang bekerja dengan mencondongkan badan secara sembunyi-sembunyi.

Sensei mengoperasikan ponselnya dengan tubuh yang sedikit membungkuk. Posturnya memang tidak bisa dikatakan bagus, tetapi punggung itu terasa sangat diandalkan.

 

Setiap kali jari Sensei mengetuk layar ponsel dengan kecepatan yang bahkan tidak terkejar oleh mata, kalimat-kalimat yang memikat banyak orang pun teranyam. Dunia yang sangat kusukai itu, saat ini benar-benar sedang lahir dari ujung jari orang ini.

 

Aku selalu berpikir bahwa ini benar-benar seperti sihir.

 

Sensei sama sekali tidak punya motivasi untuk belajar pelajaran SMA, tetapi saat sedang bekerja, dia terlihat begitu hidup dan bersinar. Bisa mengagumi sosoknya dari dekat seperti ini adalah hak istimewa seorang sekretaris.

 

Selain itu, bisa membaca skenario sebelum diumumkan dengan dalih membantu memeriksa salah ketik dan kekurangan karakter juga merupakan hak istimewa sekretaris. Jujur saja, bonus ini saja sudah sepadan sampai-sampai aku rela menyerahkan seluruh harta kekayaanku.

 

──Saat itu, pintu kelas terbuka, dan Aizawa-san dari klub voli masuk.

 

Karena dia mengenakan pakaian olahraga, sepertinya dia datang untuk mengambil sesuatu di tengah kegiatan klub.

 

Hubunganku dengan Aizawa-san sebatas pernah mengobrol saat berada di tim yang sama dalam pelajaran olahraga, tetapi tidak pernah makan siang bersama.

 

Karena merepotkan, aku berharap dia langsung pergi tanpa mengatakan

apa-apa, tetapi setelah menyadari keberadaanku, Aizawa-san menyapa dengan sok akrab tanpa alasan.

 

"Lho? Iori, kamu kok belum pulang?"

 

"──Iya. Soalnya Takahashi-kun minta diajari cara mengisi buku harian."

 

Hampir bersamaan dengan jawabanku, Sensei menyimpan ponselnya lalu mengintip ke arah buku harian.

 

Secara mendadak, kami berdua mulai bersandiwara.

 

"Jadi begini, Takahashi-kun. Kolom 'Hal yang Menarik Perhatian di Kelas' itu tinggal diisi dengan hal baik atau hal yang perlu diperbaiki dari kejadian seharian ini."

 

"Bahkan kalau kamu bilang begitu, aku tidak bisa memikirkan apa-apa……"

 

"Contohnya, hal sederhana seperti 'Begitu bel berbunyi, semua orang langsung duduk di kursi masing-masing' atau 'Ada lampu yang lupa dimatikan jadi harus lebih berhati-hati' saja sudah cukup kok."

 

Saat sedang memberikan penjelasan seadanya, aku menyadari ada buku catatan Bahasa Jepang milik Sensei di samping buku harian.

 

Kalau ini sampai terlihat, dia mungkin bakal menyadari kalau aku sedang menggantikan tulisannya. Sambil berhati-hati agar kepanikanku tidak terdengar dari suara, aku menutupi buku catatan itu menggunakan buku harian.

 

"Iori memang perhatian banget ya~. Jadi ketua kelas itu berat juga."

 

Aizawa-san mengucapkannya dengan nada yang diseret-seret sambil mengintip ke dalam mejanya. Nada bicaranya seolah-olah kasihan karena aku diganggu oleh seorang inkya.

 

Memang benar jika dilihat sekilas Sensei hanyalah seorang inkya biasa,

dan dia tidak pernah memamerkan pencapaiannya. Malah, dia cenderung ingin menyembunyikannya.

 

Karena itulah, selain aku, tidak ada teman sekelas yang tahu betapa hebatnya Sensei. Bahwa sosok aslinya adalah seorang kreator yang luar biasa berbakat, dengan skenario dewa, ilustrasi dewa, serta musik dewa yang telah berkali-kali mengguncang jiwaku dan mengaduk-aduk emosiku.

 

Terlebih lagi, selain seorang pekerja keras, Sensei itu baik hati, cepat berpikir, bisa berempati secara alami, dan mengingat semua hal kecil yang pernah kubicarakan…… Pokoknya dia orang yang luar biasa. Jika mereka tahu hal itu, sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa lagi memperlakukan Sensei sebagai inkya yang merepotkan.

Aku terdorong oleh dorongan kuat untuk membocorkan identitas asli Sensei. 『Houkago Jihen』 juga merupakan gim yang cukup populer di kelas, jadi mereka pasti akan sangat terkejut.

 

Aku ingin melihat seperti apa raut wajah Aizawa-san……

 

Tapi, aku menahannya sekuat tenaga di sini. Karena Sensei tidak menginginkan hal seperti itu.

 

Meski terkadang aku merasa geregetan seperti ini, kenyataan bahwa hanya aku yang mengetahui sosok asli Sensei memberikan rasa unggul yang sangat luar biasa.

 

Tak lama kemudian Aizawa-san keluar dari kelas, lalu aku dan Sensei saling bertatap muka dan tersenyum cengengesan.

 

"Kira-kira ketahuan tidak ya kalau aku menggantikan tulisanmu."

 

"Gara-gara Himegi-san mendadak mulai berakting mengajari, aku hampir saja membuatnya tawa tahu. Lagipula, di tengah-tengah kamu menyembunyikan buku catatan Bahasa Jepang milikku, kan?"

 

"Habisnya, kalau ini sampai kelihatan, dia bakal berpikir kalau aku sedang meniru tulisan tanganmu."

 

"Lawan bicara kita kan bukan detektif, tidak akan jadi sampai seperti itu lah. Paling-paling dia cuma berpikir kalau aku sedang diajari belajar."

 

"Kalau dipikir-pikir benar juga ya…… Mungkin aku agak terlalu sensitif."

"Perasaan tidak perlu sampai sekreatif itu hanya gara-gara mewakili menulis buku harian……"

 

"“Habisnya, kalau pembicaraan malah melebar sampai identitas asli Takahashi-kun terbongkar, bisa gawat. Aku sebagai sekretaris harus melakukan pekerjaanku dengan sempurna."

 

Saat aku mengatakannya dengan serius, Sensei tersenyum lembut.

 

"Terima kasih ya sudah memikirkannya sampai sejauh itu."

 

……Aku menerima gaji dari Sensei dan menjalankan kewajibanku sebagai sekretaris.

 

Namun, aku berpikir bahwa senyuman inilah yang menjadi imbalan nomor satu.

 

Pembuat gim populer dan sekretarisnya. Hubungan kami berdua benar-benar rahasia di sekolah.

 

Terkadang ada saat-saat di mana rahasia ini hampir terbongkar, tetapi aku merasa hal itu sedikit menyenangkan karena rasanya mirip seperti pasangan kekasih yang berpacaran sembunyi-sembunyi dari orang-orang di sekitar.



Prolog 1 | ToC | Chapter 1

Post a Comment

Post a Comment

close