NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 13

Bab 13: Setelah Membiarkan Sekretaris Cantikku Menginap di Rumah, Terjadi Hal yang Gawat


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Hal yang sulit dipercaya telah terjadi. Himegi-san yang tadi pergi mandi shower, dengan penampilan yang terbuka hanya berbalut selembar handuk mandi, membuka pintu ruang ganti.

 

Terlalu merangsang pikiran, sampai-sampai kepalaku serasa mau mendidih.

 

Sembari sebisa mungkin tidak melihat ke arah Himegi-san, aku menyelinap melewatinya, lalu walau terbata-bata, aku berhasil mengajarinya cara menggunakan shower.

 

Demi mundur secepat mungkin, aku mulai melangkah sambil menundukkan mata, tetapi di situ pakaian dalam Himegi-san yang tergeletak begitu saja tiba-tiba masuk ke dalam pandanganku.

 

Tepat pada detik saat aku tanpa sadar menahan napas, Himegi-san tampaknya juga menyadari hal itu, lalu demi menyembunyikan pakaian dalamnya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan.

 

Tampaknya dia sangat panik, hingga dadanya tertekan tepat ke lengan kananku. Kelembutan yang luar biasa itu tanpa sadar membuat perhatianku tertuju ke sana.

 

Di sisi lain, setelah menyembunyikan pakaian dalamnya, Himegi-san membetulkan posisi berdirinya, tetapi di luar dugaan handuk mandi yang melilit tubuhnya melorot jatuh.

 

Pemandangan yang luar biasa terbentang di hadapanku.

 

"Ha, jyuwa, aaah……"

 

Sambil mengeluarkan ucapan yang tidak jelas, aku bergegas keluar dari ruang ganti

 

Gawat…… Ini pertama kalinya aku melihat tubuh telanjang wanita secara langsung di dunia nyata……

 

Sampai kelas 3 SD aku memang pernah mandi bareng Yui sih, tapi rasanya benar-benar berbeda.

 

Gara-gara terlalu syok aku jadi linglung, lalu menjatuhkan diri duduk di sofa.

 

Kemudian, Yui yang baru selesai mengeringkan rambut duduk tepat di sampingku, lalu bertanya dengan suara berbisik.

 

"Lihat kan? Kamu lihat kan?"

 

"……Bicara apa sih?"

 

"Yang barusan lho. Luar biasa banget ya."

 

Yui tersenyum cengar-cengir. Rupanya dia menyaksikan insiden yang terjadi di ruang ganti tadi.

 

"Aku tidak paham maksudmu apa, dan aku sama sekali tidak melihat apa pun."

 

"Uwah~ reaksi khas murid teladan ya. Kalau begitu, coba berdiri sebentar dong."

 

"Karena tindakan langsung berdiri sekarang tidak punya rasionalitas, aku tidak mau."

 

"Ada rasionalitasnya kok. Kan bisa dicek apakah bagian bawahmu bereaksi atau tidak."

 

Justru karena tahu bakal begitu makanya kutolak tahu.

 

Maksudku, kenapa anak ini sama sekali tidak punya rasa sungkan dan kepekaan sih.

 

……Pasti gara-gara dia selalu sering membicarakan konten mesum bersamaku. Kepekaannya terhadap hal-hal erotis sepertinya sudah tumpul.

 

"Haruto itu punya ketertarikan pada tubuh telanjang wanita tidak sih?"

"Pertanyaan macam apa itu."

 

"Habisnya, cowok seumuran ini kan biasanya sangat penasaran sama pemandian wanita atau ruang ganti cewek kan? Tapi kalau Haruto, waktu aku keluar cuma pakai selembar handuk mandi pun cuma pasang muka canggung saja."

 

"Ya wajarlah. Mau seberapa besar pun rasa penasaran yang ada, kalau di depan mata ada lawan jenis berpakaian minim, sudah sewajarnya berusaha untuk tidak melihat kan…… Terus, walau Yui berpakaian minim sekalipun, aku tidak bakal terangsang kok…… Situasinya mirip seperti melihat ibu sendiri yang mondar-mandir pakai pakaian minim."

 

"Kok gitu sih!"

 

"Mau dibilang kok gitu juga, kenyataannya memang begitu jadi mau bagaimana lagi……"

 

Saat sedang membalas seperti itu, aku menyadari satu hal.

 

"Jangan-jangan ini riset lapangan buat komik bertema teman masa kecil?"

 

"Heh? ……Aah, yah, anggap saja begitu…… benar banget."

 

Entah kenapa Yui membalas sambil gelagapan.

 

Kalau memang demi berkarya, tanpa perlu malu, mari jawab sejujur mungkin.

"Mungkin karena sudah terlalu lama bersama dan sudah terbiasa melihatnya kali ya? Walau tidak ada hubungan darah, tapi rasanya sudah seperti keluarga sendiri."

 

"Be, benarkah begitu……?"

 

"Lalu, ini bukan cuma terbatas pada teman masa kecil saja sih, tapi kalau sehabis mandi keluar cuma pakai selembar handuk mandi, menurutku bakal terlihat seperti wanita yang tidak tahu malu dan nilainya jadi minus."

 

"Eh!? Tidak bikin terangsang!?"

 

"Merasa terangsang dan menganggapnya memikat sebagai seorang wanita itu hal yang berbeda kan. Sekalipun dibuat terangsang, itu cuma berakhir sebagai rangsangan seksual sesaat saja, dan poinnya malah berkurang gara-gara memberikan kesan murahan kan."

 

"Ternyata begitu ya……"

 

Yui tampaknya terpukul. Apakah di manga berikutnya dia berniat membuat heroine-nya melakukan tindakan seperti itu ya.

 

"Selain itu, karena aku sering mengobrolkan hal mesum bareng Yui, kesadaran bahwa kamu seorang wanita mungkin jadi memudar."

 

"Benarkah!? Lawan jenis yang bisa seru-seruan diajak ngobrol lelucon mesum bukannya bagus!?"

"Entah bagaimana kalau orang lain, tapi setidaknya kalau aku, rasanya bakal makin menjauh dari target asmara sih. Tentu saja sebagai teman cewek pasti menyenangkan."

 

"Be, begitu ya…… Berarti semua yang kulakukan selama ini salah ya……"

Yui bergumam dengan ekspresi putus asa. Untuk ukuran riset lapangan manga, dari tadi reaksinya terasa agak aneh……?

 

Di saat aku merasa heran seperti itu, Yui mengajukan pertanyaan dengan ragu-ragu.

 

"Anu ya, heroine yang berkali-kali keluar cuma pakai selembar handuk mandi, menurutmu masih bisa dianggap sebagai lawan jenis lagi tidak……?"

 

"Bukankah tinggal tidak usah menggambar adegan keluar cuma pakai selembar handuk mandi saja?"

 

"I, itu memang benar sih……!! Tapi untuk sementara, coba pikirkan dengan asumsi dasar bahwa event di mana heroine keluar cuma pakai selembar handuk mandi itu mutlak harus dibuat……!!"

 

"Punya obsesi yang aneh ya…… ……Lho, teman masa kecil yang mendadak merasa malu, bukankah lumayan bagus?"

 

"Beneran!?"

 

"Iya. Alasan bahwa dia jadi lebih menjaga kesopanan gara-gara mulai menyadari sang tokoh utama sebagai seorang pria itu terasa alami, dan kurasa itu perkembangan yang bakal bikin pembaca senang."

 

"Begitu ya…… Padahal kenyataannya sudah menyadari sebagai pria dari dulu sih, tapi tinggal dibuat seperti itu saja ya……!"

 

"…………?"

 

Aku kurang paham, tapi sepertinya di dalam diri Yui sudah ada gambaran heroine yang jelas.

 

Tepat pada saat itu, terdengar suara Himegi-san yang masuk ke kamar mandi, disusul bunyi air shower.

 

Sepertinya sejak insiden tadi dia terus mematung di ruang ganti, tetapi sekarang mungkin sudah berhasil menenangkan diri.

 

Mendengar suara air mengalir, aku jadi membayangkan air shower yang membasahi tubuh Himegi-san yang tadi kulihat.

 

"……Omong-omong Yui. Selanjutnya tolong dengarkan permintaanku ya."

 

"Boleh."

 

"Tolong sampaikan pesan ke Himegi-san. Katakan, 'Haruto sama sekali tidak melihat apa pun'."

 

"Padahal aslinya lihat?"

 

"……Sama sekali tidak melihat."

 

Aku tidak terpikir cara lain selain menganggapnya seperti itu.

 

"Karena kalau aku di sini bakal terasa canggung, aku tidur duluan ya. Selamat malam."

 

"Selamat malam~"

 

Dengan begini, aku berpindah ke kamar tidur seolah-olah sedang melarikan diri, tetapi tentu saja aku sama sekali tidak bisa tidur.

 

☆ ☆

 

Aku yang baru bisa tidur setelah lewat pukul 02.00 pagi, terbangun pada pukul 07.00 keesokan harinya.

 

Karena merasa bakal canggung kalau bertemu muka dengannya, aku turun ke ruang tamu, dan ternyata Himegi-san sudah bangun serta sedang menyiapkan sarapan.

 

"Takahashi-kun, pagi~"

 

Suaranya sangat tenang, seolah-olah tadi malam tidak terjadi apa-apa.

 

"Selamat pagi. Sedang menyiapkan sarapan?"

"Iya. Sekedarnya saja pakai bahan yang ada di kulkas. Aku buat untuk porsi tiga orang, tidak apa-apa kan? Kagurazaka-san sepertinya masih tidur sih."

 

Dia mengatakannya sambil melirik ke arah Yui yang tertidur di sofa dengan perut terbuka.

 

"Tentu saja. Kalau sudah matang nanti kubangunkan Yui secara paksa. Omong-omong, kemarin bisa tidur?"

 

Saat kutanyai begitu, Himegi-san mengalihkan pandangannya.

 

"Anu…… aku bangun sampai sekitar jam 3 sih."

 

"Begitu ya? Di sofa susah tidur ya?"

 

"Bukan, bukan begitu kok. Soalnya pas mulai main poker bareng

Kagurazaka-san, suasananya jadi kelewat seru."

 

"Begitu ya……?"

 

Dua gadis SMA bermain poker di larut malam…… rasanya agak surealis ya.

 

"──Omong-omong Sensei. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, apakah boleh?"

 

Himegi-san mendadak masuk ke mode sekretaris lalu mengajukan pertanyaan.

"Aku mendengarnya dari Kagurazaka-san sih, tapi apakah Sensei saat ini sedang menyimpan kegalauan mengenai pekerjaan? Secara konkretnya, apakah kamu merasa tidak bisa melakukan hal yang seratus persen ingin kamu lakukan?"

 

"Eh? Itu, Yui yang mengatakannya?"

 

Saat aku bertanya balik karena kaget, Himegi-san mengangguk dengan ekspresi serius.

 

"Begitu ya…… ternyata sudah terbaca toh……"

 

Kukira aku sudah menyembunyikannya dengan rapat, tapi seperti yang diharapkan dari seorang teman masa kecil.

 

"Itu memang kenyataan kan?"

 

"Benar juga ya…… Membuat kelanjutan 『Houkago Jihen』 memang menyenangkan, tapi aku merasa ada hal lain yang lebih ingin kulakukan. Tentu saja, sekuel yang terus laku terjual itu adalah hal yang patut disyukuri, dan aku juga paham kalau ini keluhan yang mengada-ada sih."

 

"Memang seperti itu. Hanya saja, karena kupikir membiarkannya tetap seperti ini tidak sehat, aku mencoba meriset mengenai motivasi seorang kreator dalam bekerja."

 

"Eh, benarkah?"

"Iya. Berdasarkan hasil riset yang kulakukan, motivasi seorang kreator secara garis besar sepertinya bisa dibagi menjadi lima."

 

Himegi-san mulai membacakan laporan hasil penyelidikannya sambil melihat layar ponsel.

 

"『① Pokoknya suka membuat karya』. Ini banyak terlihat pada masa-masa awal seorang kreator, di mana mereka sering merasa konten apa pun tidak masalah asalkan bisa membuat karya."

 

Aku paham itu. Diriku saat masih SD juga merasakan hal semacam itu.

 

"『② Ingin membuat hal yang menurut diri sendiri menarik』. Begitu mulai terbiasa membuat karya, perasaan seperti ini sering kali muncul. Awalnya pekerjaan apa pun terasa menyenangkan, tetapi perlahan-lahan hal itu saja tidak lagi memuaskan batin. Orang-orang cenderung berpikir kalau begitu tinggal membuat hal yang ingin dibuat saja, tetapi urusannya tidak sesederhana itu."

 

Ini pun aku paham. Membuat hal yang ingin dibuat lalu menjadikannya karya yang meledak sukses itu membutuhkan bakat dan keberuntungan

yang luar biasa.

 

"『③ Ingin karyanya dinilai dan diapresiasi orang lain』. Sudah sewajarnya saat merilis karya lalu dipuji, hal itu membuat senang kan. Ditambah lagi saat membuat karya bersama beberapa orang, diberi ucapan terima kasih ketika melakukan pekerjaan yang baik sepertinya juga sering terhubung menjadi motivasi."

Terhadap poin ini aku mengangguk dalam-dalam. Sebagian besar motivasi berkaryaku memang berasal dari rasa senang saat dipuji oleh para pengguna.

 

Selain itu, mengenai penilaian dari rekan pembuat karya pun, akhir-akhir ini kurasakan saat persiapan festival budaya. Setiap kali melontarkan ide lalu membuat teman sekelas berdecak kagum, itu rasanya sangat menyenangkan.

 

"『④ Dibanding pekerjaan lain, lebih mudah menghasilkan uang』. Ini motivasi yang agak terlalu terus terang sih, tetapi banyak juga pendapat yang menilai fakta bahwa bisa menghasilkan uang lewat keahlian sendiri adalah hal yang patut diprioritaskan. Mirip seperti pembahasan apakah lebih mudah menjaga motivasi saat berlari di posisi paling depan atau di posisi paling belakang dalam lomba maraton."

 

Ini pun masuk akal. Ketika hasilnya terlihat, timbul perasaan untuk berjuang lebih keras lagi.

 

"『⑤ Suka membuat karya bersama orang lain』. Kalau membuat karya sendirian, mau tidak mau cenderung menjadi egois dan sempit. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa senang ketika kualitas karyanya meningkat berkat menerima masukan dari rekan pembuat karya."

 

Ini juga hal yang sedang kurasakan dalam persiapan festival budaya.

 

Menerima pendapat yang bahkan tak terbayangkan olehku sendiri, lalu bisa memasukkannya ke dalam karya terasa begitu mengasyikkan.

 

"Pasti masih ada berbagai macam jenis motivasi lainnya, tetapi jika menggabungkan perilaku keseharian Sensei serta cerita yang kudengar dari Kagurazaka-san, daya penggerak Sensei sepertinya adalah gabungan dari nomor ① sampai ④."

 

"……Begitu ya. Aku tidak pernah memikirkannya secara mendalam, tapi begitu diungkapkan dengan kata-kata jadi mudah dipahami ya……"

 

Aku sampai dibuat kagum oleh daya analisis Himegi-san.

 

"Atas dasar hal itu, izinkan saya mengajukan pertanyaan yang lancang…… Saat ini kamu sudah lumayan terpenuhi oleh motivasi ①, ③, dan ④, tapi bukankah yang paling penting bagi Sensei sebenarnya adalah 『② Ingin membuat hal yang menurut diri sendiri menarik』? Bukankah karena kehilangan poin ② inilah yang membuatmu galau?"

 

Pertanyaan ini membuatku mau tidak mau harus mengangguk.

 

Akhir-akhir ini aku memang sering memperhitungkan hal seperti apa yang bakal disukai penggemar, lalu membuat karya hanya berdasarkan kebiasaan semata.

 

Aku tidak lagi membuat sesuatu yang kuyakini menarik secara tulus dari lubuk hati seperti dulu.

 

"Kalau begitu, solusinya hanya satu. Pada karya berikutnya, bagaimana kalau membuang poin ③ dan ④, lalu mencoba mengejar poin ②?"

 

"……Maksudmu, aku harus membuat karya yang berpotensi tidak dilirik oleh siapa pun?"

 

"Tentu saja tidak perlu sampai seekstrem itu menurutku, tetapi setidaknya Sensei harus membuat hal yang dari lubuk hati terdalam kamu rasakan menarik."

 

Himegi-san menatap lurus ke arahku, lalu mengatakannya dengan tegas.

 

"……Pendapat Himegi-san itu memang benar kok. Menurutku itu adalah salah satu wujud ideal seorang kreator."

 

"Gaya bicaramu seperti menyiratkan makna lain ya."

 

"Memang benar, tapi kurasa itu tidak rasional. Mumpung sudah berhasil melahirkan karya yang meledak sukses, bukankah seharusnya menghasilkan uang dari konten tersebut sampai batas maksimal?

Dengan begitu orang yang senang jauh lebih banyak, dan pajak yang kubayarkan pun bakal maksimal. Yang biasa disebut kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbanyak."

 

"Apakah perlu memikirkan orang lain? Bukankah asalkan Sensei bahagia, itu sudah cukup?"

 

"I──"

 

"Tolong lebih percayai bakatmu sendiri. Karena Sensei bisa membuat gim semenarik itu, bukankah ada kemungkinan karya berikutnya bakal meledak lebih sukses dibanding 『Houkago Jihen』?"

"……Urusannya tidak semudah itu tahu. Coba pikirkan setiap bulannya ada berapa banyak gim yang dirilis, lalu lenyap tanpa sempat menjadi bahan pembicaraan. Nyatanya, 『Kimi ga Inai Mirai no Hanashi』 yang kurilis 1 tahun lalu pun sama sekali tidak terdengar kabarnya……"

"Kan baru gagal satu kali saja. Kenapa sebelum karyamu sukses kamu terus menantang hal baru satu per satu, tapi begitu sukses kamu langsung mulai bermain aman?

"

"…………"

 

Apa yang dikatakan Himegi-san memang sepenuhnya pendapat orang awam. Untuk bertahan hidup di industri hiburan, strategi itu memang diperlukan.

 

Karena aku mengelola perusahaan, setiap tahun aku tetap harus menghasilkan keuntungan……

 

……Tapi, kenapa ya kata-kata Himegi-san bisa membuat hatiku berdebar gembira sampai seperti ini.

 

"Pada karya baru berikutnya, bungkam para penggemar lama dengan kualitasmu. Gaet penggemar baru dengan keseruan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun. Bukankah tinggal membuatnya dengan tekad seperti itu saja?"

 

──Memang benar begitu. Berhenti menantang hal baru itu bukan salah siapa pun. Itu murni karena aku tidak ingin terluka.

"……Himegi-san, terima kasih. Berkatmu perasaanku jadi mantap. Begitu merilis skenario tambahan yang sedang kukerjakan sekarang, aku bakal membuat karya baru yang luar biasa menarik."

 

Begitu aku mengatakan hal itu, raut wajah Himegi-san seketika menjadi cerah.

 

"Maafkan saya karena telah bicara sok menggurui. Tapi saya memercayai kekuatan Sensei melebihi siapa pun. Tentu saja sebagai sekretaris, saya akan memberikan dukungan semaksimal mungkin."

 

"Iya, mohon bantuannya ya."

 

"Ehehe. Kalau begitu, aku selesaikan sup miso-nya dulu ya."

 

Himegi-san mengatakannya dengan nada riang bersenandung, lalu mulai memotong daun bawang di atas talenan.

 

☆ ☆

 

Aku kembali merasa bersemangat setelah sekitar satu tahun lamanya.

 

Itu karena setelah memutuskan membuat karya baru, timbul kebutuhan untuk memikirkan konten seperti apa yang ingin kubuat.

 

Setelah memutuskan hal itu karena dibujuk Himegi-san, aku terkejut saat menyadari bahwa inilah yang sebenarnya ingin kulakukan.

 

Seandainya tidak dikatakan olehnya, aku mungkin tidak akan pernah menyadarinya selamanya.

 

Meskipun begitu, aku baru bisa mulai mengerjakannya setelah menyelesaikan pekerjaan skenario tambahan 『Houkago Jihen』 serta persiapan festival budaya.

 

Sambil menahan perasaan yang bergejolak, pertama-tama aku merapikan tumpukan tugas yang ada di hadapanku.

 

Hari-hari yang sibuk pun berlalu, dan tanpa disadari sudah tiba tanggal 2 Oktober, sehari sebelum festival budaya.

 

Pertunjukan kelas kami yaitu gim escape room pemecahan misteri berhasil diselesaikan dengan selamat. Memoles berbagai ide yang diajukan oleh teman-teman sekelas, hasilnya memiliki kualitas yang membuat kami bisa dengan bangga mengatakan bahwa karya ini layak dipatok harga.

 

Dan saat ini, aku dan Himegi-san sedang mengadakan rapat terakhir di ruang kelas sepulang sekolah.

 

Topik pembahasannya adalah penentuan harga.

 

"Jadi menurut Takahashi-kun, biayanya lebih bagus 100 yen per main?"

 

Mendengar pertanyaan Himegi-san, aku mengangguk. Yang kami siapkan untuk pertunjukan kali ini hanyalah buku saku kecil dari lembaran kertas yang dicetak memakai mesin fotokopi sekolah lalu di staples. Karena biaya produksinya 0 yen, dengan harga segitu pun kami tetap mendapat untung.

 

"Tapi, bukankah pengunjung tetap bakal masuk walau harganya dinaikkan sedikit?"

 

"Benar juga. Kurasa walau dipatok 300 yen per main pun pengunjung tetap bakal masuk kok. Kali ini persiapan kita memakan banyak tenaga, dan di hari H juga ada orang-orang yang bertugas melayani pengunjung, jadi aku paham perasaan ingin memaksimalkan keuntungan."

 

"Kan? Kalau keuntungannya banyak, acara syukuran kita kan bisa jadi lebih mewah."

 

"Meski begitu, karena ini adalah gim escape room pemecahan misteri buatan orang amatir, belum ada kepercayaan dari pengunjung bahwa ini bakal menarik. Kalau 100 yen per main, sulit memperkirakan berapa banyak orang yang bakal menggunakan jasa ini. Makanya aku ingin menjadikannya 100 yen per main, agar stan ini terkesan sebagai tempat populer yang selalu penuh setiap sesinya. Karena ini barang yang dibuat teman-teman dengan kerja keras, aku ingin semua orang merasakan bagaimana rasanya ketika karya mereka begitu dicari dan diminati orang lain."

 

"Toko populer……"

 

"Musuh terbesar saat membuka stan toko adalah waktu ketika tidak ada yang bisa dikerjakan. Saat pengunjung datang membludak dan suasana sangat sibuk, orang masih bisa berusaha menghadapinya. Tapi sebaliknya, saat pengunjung tidak datang dan waktu luang tanpa ada kerjaan terus berlanjut, orang akan sulit bertahan."

 

Begitu kusampaikan hal itu, Himegi-san tampak memahami maksudku.

 

"Begitu ya…… Aku paham. Kalau begitu biar kutulis di papan pengumuman '100 yen per main' ya."

 

"Terima kasih."

 

"Omong-omong stan ini, dari sudut pandang profesional apakah menurutmu hasilnya bagus?"

 

"Rasanya sayang sekali kalau cuma diadakan untuk pertunjukan 1 hari saja, saking menariknya hasil yang sudah kita buat."

 

"Syukurlah kalau begitu. Takahashi-kun sempat bilang punya trauma dengan kerja sama dalam membuat karya, tapi ternyata bisa menghadapinya dengan baik, kan?"

 

"Benar juga ya. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin waktu SMP dulu aku masih terlalu bocah, jadi semuanya tidak berjalan lancar. Berkat kejadian kali ini, aku jadi tahu betapa berartinya keberadaan rekan yang melangkah menuju tujuan yang sama."

 

"Takahashi-kun menjadi pemimpin proyek memang kebetulan sih, tapi aku senang mendengarmu berkata begitu. Lagipula ada kan pepatah yang bilang, ‘Kalau ingin pergi cepat, pergilah sendirian. Kalau ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama'."

"……Kalau ingin pergi cepat pergilah sendirian, kalau ingin pergi jauh pergilah bersama-sama?"

 

"Belum pernah dengar? Seingatku itu peribahasa Afrika lho. ……Lho, atau perkataan mantan wakil presiden Amerika ya?"

 

"Perbedaan sumber asalnya terlalu jauh ah."

 

"Secara garis besar artinya, kalau bertindak sendirian kita memang bisa bergerak dengan ritme sendiri, tapi jarak yang bisa ditempuh ada batasnya. Di sisi lain, kalau melangkah bersama rekan, sebelum berangkat kita perlu menyatukan pendapat dan menyesuaikan kecepatan langkah. Tapi kita bakal bisa melihat pemandangan jauh yang tidak akan pernah bisa dicapai kalau cuma sendirian, kira-kira seperti itu."

 

Begitu mendengar hal itu, rasanya pandangan di depanku seketika terbuka lebar

 

Aku jadi benar-benar memahami apa yang harus kulakukan untuk membuat karya berikutnya.

 

"──Himegi-san. Setelah festival budaya selesai, ada pekerjaan yang ingin kuminta darimu."

 

Kupikir jika meminta seperti itu, dia bakal langsung menyanggupinya tanpa ragu.

 

Namun, balasan dari Himegi-san justru di luar dugaan.

"Sayangnya──masa kontrakku sebagai sekretaris hanya sampai besok saja lho."



Chapter 12 | ToC | Chapter 14

Post a Comment

Post a Comment

close