Bab 13: Setelah Membiarkan Sekretaris Cantikku Menginap di Rumah, Terjadi Hal yang Gawat
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Hal yang sulit dipercaya telah terjadi.
Himegi-san yang tadi pergi mandi shower, dengan penampilan yang terbuka hanya
berbalut selembar handuk mandi, membuka pintu ruang ganti.
Terlalu merangsang pikiran, sampai-sampai
kepalaku serasa mau mendidih.
Sembari sebisa mungkin tidak melihat ke
arah Himegi-san, aku menyelinap melewatinya, lalu walau terbata-bata, aku
berhasil mengajarinya cara menggunakan shower.
Demi mundur secepat mungkin, aku mulai
melangkah sambil menundukkan mata, tetapi di situ pakaian dalam Himegi-san yang
tergeletak begitu saja tiba-tiba masuk ke dalam pandanganku.
Tepat pada detik saat aku tanpa sadar
menahan napas, Himegi-san tampaknya juga menyadari hal itu, lalu demi
menyembunyikan pakaian dalamnya, dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
Tampaknya dia sangat panik, hingga
dadanya tertekan tepat ke lengan kananku. Kelembutan yang luar biasa itu tanpa
sadar membuat perhatianku tertuju ke sana.
Di sisi lain, setelah menyembunyikan
pakaian dalamnya, Himegi-san membetulkan posisi berdirinya, tetapi di luar
dugaan handuk mandi yang melilit tubuhnya melorot jatuh.
Pemandangan yang luar biasa terbentang di
hadapanku.
"Ha, jyuwa, aaah……"
Sambil mengeluarkan ucapan yang tidak
jelas, aku bergegas keluar dari ruang ganti
Gawat…… Ini pertama kalinya aku melihat
tubuh telanjang wanita secara langsung di dunia nyata……
Sampai kelas 3 SD aku memang pernah mandi
bareng Yui sih, tapi rasanya benar-benar berbeda.
Gara-gara terlalu syok aku jadi linglung,
lalu menjatuhkan diri duduk di sofa.
Kemudian, Yui yang baru selesai
mengeringkan rambut duduk tepat di sampingku, lalu bertanya dengan suara
berbisik.
"Lihat kan? Kamu lihat kan?"
"……Bicara apa sih?"
"Yang barusan lho. Luar biasa banget
ya."
Yui tersenyum cengar-cengir. Rupanya dia
menyaksikan insiden yang terjadi di ruang ganti tadi.
"Aku tidak paham maksudmu apa, dan
aku sama sekali tidak melihat apa pun."
"Uwah~ reaksi khas murid teladan ya.
Kalau begitu, coba berdiri sebentar dong."
"Karena tindakan langsung berdiri
sekarang tidak punya rasionalitas, aku tidak mau."
"Ada rasionalitasnya kok. Kan bisa
dicek apakah bagian bawahmu bereaksi atau tidak."
Justru karena tahu bakal begitu makanya
kutolak tahu.
Maksudku, kenapa anak ini sama sekali
tidak punya rasa sungkan dan kepekaan sih.
……Pasti gara-gara dia selalu sering
membicarakan konten mesum bersamaku. Kepekaannya terhadap hal-hal erotis
sepertinya sudah tumpul.
"Haruto itu punya ketertarikan pada
tubuh telanjang wanita tidak sih?"
"Pertanyaan macam apa itu."
"Habisnya, cowok seumuran ini kan
biasanya sangat penasaran sama pemandian wanita atau ruang ganti cewek kan?
Tapi kalau Haruto, waktu aku keluar cuma pakai selembar handuk mandi pun cuma
pasang muka canggung saja."
"Ya wajarlah. Mau seberapa besar pun
rasa penasaran yang ada, kalau di depan mata ada lawan jenis berpakaian minim,
sudah sewajarnya berusaha untuk tidak melihat kan…… Terus, walau Yui berpakaian
minim sekalipun, aku tidak bakal terangsang kok…… Situasinya mirip seperti
melihat ibu sendiri yang mondar-mandir pakai pakaian minim."
"Kok gitu sih!"
"Mau dibilang kok gitu juga,
kenyataannya memang begitu jadi mau bagaimana lagi……"
Saat sedang membalas seperti itu, aku
menyadari satu hal.
"Jangan-jangan ini riset lapangan
buat komik bertema teman masa kecil?"
"Heh? ……Aah, yah, anggap saja
begitu…… benar banget."
Entah kenapa Yui membalas sambil
gelagapan.
Kalau memang demi berkarya, tanpa perlu
malu, mari jawab sejujur mungkin.
"Mungkin karena sudah terlalu lama
bersama dan sudah terbiasa melihatnya kali ya? Walau tidak ada hubungan darah,
tapi rasanya sudah seperti keluarga sendiri."
"Be, benarkah begitu……?"
"Lalu, ini bukan cuma terbatas pada
teman masa kecil saja sih, tapi kalau sehabis mandi keluar cuma pakai selembar
handuk mandi, menurutku bakal terlihat seperti wanita yang tidak tahu malu dan
nilainya jadi minus."
"Eh!? Tidak bikin terangsang!?"
"Merasa terangsang dan menganggapnya
memikat sebagai seorang wanita itu hal yang berbeda kan. Sekalipun dibuat
terangsang, itu cuma berakhir sebagai rangsangan seksual sesaat saja, dan
poinnya malah berkurang gara-gara memberikan kesan murahan kan."
"Ternyata begitu ya……"
Yui tampaknya terpukul. Apakah di manga
berikutnya dia berniat membuat heroine-nya melakukan tindakan seperti itu ya.
"Selain itu, karena aku sering
mengobrolkan hal mesum bareng Yui, kesadaran bahwa kamu seorang wanita mungkin
jadi memudar."
"Benarkah!? Lawan jenis yang bisa
seru-seruan diajak ngobrol lelucon mesum bukannya bagus!?"
"Entah bagaimana kalau orang lain,
tapi setidaknya kalau aku, rasanya bakal makin menjauh dari target asmara sih.
Tentu saja sebagai teman cewek pasti menyenangkan."
"Be, begitu ya…… Berarti semua yang
kulakukan selama ini salah ya……"
Yui bergumam dengan ekspresi putus asa.
Untuk ukuran riset lapangan manga, dari tadi reaksinya terasa agak aneh……?
Di saat aku merasa heran seperti itu, Yui
mengajukan pertanyaan dengan ragu-ragu.
"Anu ya, heroine yang berkali-kali
keluar cuma pakai selembar handuk mandi, menurutmu masih bisa dianggap sebagai
lawan jenis lagi tidak……?"
"Bukankah tinggal tidak usah
menggambar adegan keluar cuma pakai selembar handuk mandi saja?"
"I, itu memang benar sih……!! Tapi
untuk sementara, coba pikirkan dengan asumsi dasar bahwa event di mana heroine
keluar cuma pakai selembar handuk mandi itu mutlak harus dibuat……!!"
"Punya obsesi yang aneh ya…… ……Lho,
teman masa kecil yang mendadak merasa malu, bukankah lumayan bagus?"
"Beneran!?"
"Iya. Alasan bahwa dia jadi lebih
menjaga kesopanan gara-gara mulai menyadari sang tokoh utama sebagai seorang
pria itu terasa alami, dan kurasa itu perkembangan yang bakal bikin pembaca
senang."
"Begitu ya…… Padahal kenyataannya
sudah menyadari sebagai pria dari dulu sih, tapi tinggal dibuat seperti itu
saja ya……!"
"…………?"
Aku kurang paham, tapi sepertinya di
dalam diri Yui sudah ada gambaran heroine yang jelas.
Tepat pada saat itu, terdengar suara
Himegi-san yang masuk ke kamar mandi, disusul bunyi air shower.
Sepertinya sejak insiden tadi dia terus
mematung di ruang ganti, tetapi sekarang mungkin sudah berhasil menenangkan
diri.
Mendengar suara air mengalir, aku jadi
membayangkan air shower yang membasahi tubuh Himegi-san yang tadi kulihat.
"……Omong-omong Yui. Selanjutnya
tolong dengarkan permintaanku ya."
"Boleh."
"Tolong sampaikan pesan ke
Himegi-san. Katakan, 'Haruto sama sekali tidak melihat apa pun'."
"Padahal aslinya lihat?"
"……Sama sekali tidak melihat."
Aku tidak terpikir cara lain selain
menganggapnya seperti itu.
"Karena kalau aku di sini bakal
terasa canggung, aku tidur duluan ya. Selamat malam."
"Selamat malam~"
Dengan begini, aku berpindah ke kamar
tidur seolah-olah sedang melarikan diri, tetapi tentu saja aku sama sekali
tidak bisa tidur.
☆ ☆
Aku yang baru bisa tidur setelah lewat
pukul 02.00 pagi, terbangun pada pukul 07.00 keesokan harinya.
Karena merasa bakal canggung kalau
bertemu muka dengannya, aku turun ke ruang tamu, dan ternyata Himegi-san sudah
bangun serta sedang menyiapkan sarapan.
"Takahashi-kun, pagi~"
Suaranya sangat tenang, seolah-olah tadi
malam tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi. Sedang menyiapkan
sarapan?"
"Iya. Sekedarnya saja pakai bahan
yang ada di kulkas. Aku buat untuk porsi tiga orang, tidak apa-apa kan?
Kagurazaka-san sepertinya masih tidur sih."
Dia mengatakannya sambil melirik ke arah
Yui yang tertidur di sofa dengan perut terbuka.
"Tentu saja. Kalau sudah matang
nanti kubangunkan Yui secara paksa. Omong-omong, kemarin bisa tidur?"
Saat kutanyai begitu, Himegi-san
mengalihkan pandangannya.
"Anu…… aku bangun sampai sekitar jam
3 sih."
"Begitu ya? Di sofa susah tidur
ya?"
"Bukan, bukan begitu kok. Soalnya
pas mulai main poker bareng
Kagurazaka-san, suasananya jadi kelewat
seru."
"Begitu ya……?"
Dua gadis SMA bermain poker di larut
malam…… rasanya agak surealis ya.
"──Omong-omong
Sensei. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, apakah boleh?"
Himegi-san mendadak masuk ke mode
sekretaris lalu mengajukan pertanyaan.
"Aku mendengarnya dari
Kagurazaka-san sih, tapi apakah Sensei saat ini sedang menyimpan kegalauan
mengenai pekerjaan? Secara konkretnya, apakah kamu merasa tidak bisa melakukan
hal yang seratus persen ingin kamu lakukan?"
"Eh? Itu, Yui yang
mengatakannya?"
Saat aku bertanya balik karena kaget,
Himegi-san mengangguk dengan ekspresi serius.
"Begitu ya…… ternyata sudah terbaca
toh……"
Kukira aku sudah menyembunyikannya dengan
rapat, tapi seperti yang diharapkan dari seorang teman masa kecil.
"Itu memang kenyataan kan?"
"Benar
juga ya…… Membuat kelanjutan 『Houkago Jihen』
memang menyenangkan, tapi aku merasa ada hal lain yang lebih ingin kulakukan.
Tentu saja, sekuel yang terus laku terjual itu adalah hal yang patut disyukuri,
dan aku juga paham kalau ini keluhan yang mengada-ada sih."
"Memang seperti itu. Hanya saja,
karena kupikir membiarkannya tetap seperti ini tidak sehat, aku mencoba meriset
mengenai motivasi seorang kreator dalam bekerja."
"Eh, benarkah?"
"Iya. Berdasarkan hasil riset yang
kulakukan, motivasi seorang kreator secara garis besar sepertinya bisa dibagi
menjadi lima."
Himegi-san mulai membacakan laporan hasil
penyelidikannya sambil melihat layar ponsel.
"『①
Pokoknya suka membuat karya』. Ini banyak terlihat pada masa-masa awal seorang
kreator, di mana mereka sering merasa konten apa pun tidak masalah asalkan bisa
membuat karya."
Aku paham itu. Diriku saat masih SD juga
merasakan hal semacam itu.
"『②
Ingin membuat hal yang menurut diri sendiri menarik』.
Begitu mulai terbiasa membuat karya, perasaan seperti ini sering kali muncul.
Awalnya pekerjaan apa pun terasa menyenangkan, tetapi perlahan-lahan hal itu
saja tidak lagi memuaskan batin. Orang-orang cenderung berpikir kalau begitu
tinggal membuat hal yang ingin dibuat saja, tetapi urusannya tidak sesederhana
itu."
Ini pun aku paham. Membuat hal yang ingin
dibuat lalu menjadikannya karya yang meledak sukses itu membutuhkan bakat dan
keberuntungan
yang luar biasa.
"『③
Ingin karyanya dinilai dan diapresiasi orang lain』.
Sudah sewajarnya saat merilis karya lalu dipuji, hal itu membuat senang kan.
Ditambah lagi saat membuat karya bersama beberapa orang, diberi ucapan terima
kasih ketika melakukan pekerjaan yang baik sepertinya juga sering terhubung
menjadi motivasi."
Terhadap poin ini aku mengangguk
dalam-dalam. Sebagian besar motivasi berkaryaku memang berasal dari rasa senang
saat dipuji oleh para pengguna.
Selain itu, mengenai penilaian dari rekan
pembuat karya pun, akhir-akhir ini kurasakan saat persiapan festival budaya.
Setiap kali melontarkan ide lalu membuat teman sekelas berdecak kagum, itu
rasanya sangat menyenangkan.
"『④
Dibanding pekerjaan lain, lebih mudah menghasilkan uang』.
Ini motivasi yang agak terlalu terus terang sih, tetapi banyak juga pendapat
yang menilai fakta bahwa bisa menghasilkan uang lewat keahlian sendiri adalah
hal yang patut diprioritaskan. Mirip seperti pembahasan apakah lebih mudah
menjaga motivasi saat berlari di posisi paling depan atau di posisi paling
belakang dalam lomba maraton."
Ini pun masuk akal. Ketika hasilnya
terlihat, timbul perasaan untuk berjuang lebih keras lagi.
"『⑤
Suka membuat karya bersama orang lain』. Kalau membuat karya sendirian, mau tidak mau
cenderung menjadi egois dan sempit. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa
senang ketika kualitas karyanya meningkat berkat menerima masukan dari rekan
pembuat karya."
Ini juga hal yang sedang kurasakan dalam
persiapan festival budaya.
Menerima pendapat yang bahkan tak
terbayangkan olehku sendiri, lalu bisa memasukkannya ke dalam karya terasa
begitu mengasyikkan.
"Pasti
masih ada berbagai macam jenis motivasi lainnya, tetapi jika menggabungkan
perilaku keseharian Sensei serta cerita yang kudengar dari Kagurazaka-san, daya
penggerak Sensei sepertinya adalah gabungan dari nomor ① sampai ④."
"……Begitu ya. Aku tidak pernah
memikirkannya secara mendalam, tapi begitu diungkapkan dengan kata-kata jadi
mudah dipahami ya……"
Aku sampai dibuat kagum oleh daya
analisis Himegi-san.
"Atas
dasar hal itu, izinkan saya mengajukan pertanyaan yang lancang…… Saat ini kamu
sudah lumayan terpenuhi oleh motivasi ①, ③, dan ④, tapi bukankah yang paling
penting bagi Sensei sebenarnya adalah 『② Ingin membuat hal yang menurut diri sendiri
menarik』? Bukankah karena kehilangan poin ② inilah yang
membuatmu galau?"
Pertanyaan ini membuatku mau tidak mau
harus mengangguk.
Akhir-akhir ini aku memang sering
memperhitungkan hal seperti apa yang bakal disukai penggemar, lalu membuat
karya hanya berdasarkan kebiasaan semata.
Aku tidak lagi membuat sesuatu yang
kuyakini menarik secara tulus dari lubuk hati seperti dulu.
"Kalau
begitu, solusinya hanya satu. Pada karya berikutnya, bagaimana kalau membuang
poin ③ dan ④, lalu mencoba mengejar poin ②?"
"……Maksudmu, aku harus membuat karya
yang berpotensi tidak dilirik oleh siapa pun?"
"Tentu saja tidak perlu sampai
seekstrem itu menurutku, tetapi setidaknya Sensei harus membuat hal yang dari
lubuk hati terdalam kamu rasakan menarik."
Himegi-san menatap lurus ke arahku, lalu
mengatakannya dengan tegas.
"……Pendapat Himegi-san itu memang
benar kok. Menurutku itu adalah salah satu wujud ideal seorang kreator."
"Gaya bicaramu seperti menyiratkan
makna lain ya."
"Memang benar, tapi kurasa itu tidak
rasional. Mumpung sudah berhasil melahirkan karya yang meledak sukses, bukankah
seharusnya menghasilkan uang dari konten tersebut sampai batas maksimal?
Dengan begitu orang yang senang jauh
lebih banyak, dan pajak yang kubayarkan pun bakal maksimal. Yang biasa disebut
kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbanyak."
"Apakah perlu memikirkan orang lain?
Bukankah asalkan Sensei bahagia, itu sudah cukup?"
"I──"
"Tolong
lebih percayai bakatmu sendiri. Karena Sensei bisa membuat gim semenarik itu,
bukankah ada kemungkinan karya berikutnya bakal meledak lebih sukses dibanding 『Houkago
Jihen』?"
"……Urusannya
tidak semudah itu tahu. Coba pikirkan setiap bulannya ada berapa banyak gim
yang dirilis, lalu lenyap tanpa sempat menjadi bahan pembicaraan. Nyatanya, 『Kimi
ga Inai Mirai no Hanashi』 yang kurilis 1 tahun lalu pun sama sekali tidak
terdengar kabarnya……"
"Kan baru gagal satu kali saja.
Kenapa sebelum karyamu sukses kamu terus menantang hal baru satu per satu, tapi
begitu sukses kamu langsung mulai bermain aman?
"
"…………"
Apa yang dikatakan Himegi-san memang
sepenuhnya pendapat orang awam. Untuk bertahan hidup di industri hiburan,
strategi itu memang diperlukan.
Karena aku mengelola perusahaan, setiap
tahun aku tetap harus menghasilkan keuntungan……
……Tapi, kenapa ya kata-kata Himegi-san
bisa membuat hatiku berdebar gembira sampai seperti ini.
"Pada karya baru berikutnya, bungkam
para penggemar lama dengan kualitasmu. Gaet penggemar baru dengan keseruan yang
belum pernah dilihat oleh siapa pun. Bukankah tinggal membuatnya dengan tekad
seperti itu saja?"
──Memang
benar begitu. Berhenti menantang hal baru itu bukan salah siapa pun. Itu murni
karena aku tidak ingin terluka.
"……Himegi-san, terima kasih.
Berkatmu perasaanku jadi mantap. Begitu merilis skenario tambahan yang sedang
kukerjakan sekarang, aku bakal membuat karya baru yang luar biasa
menarik."
Begitu aku mengatakan hal itu, raut wajah
Himegi-san seketika menjadi cerah.
"Maafkan saya karena telah bicara
sok menggurui. Tapi saya memercayai kekuatan Sensei melebihi siapa pun. Tentu
saja sebagai sekretaris, saya akan memberikan dukungan semaksimal
mungkin."
"Iya, mohon bantuannya ya."
"Ehehe. Kalau begitu, aku selesaikan
sup miso-nya dulu ya."
Himegi-san mengatakannya dengan nada
riang bersenandung, lalu mulai memotong daun bawang di atas talenan.
☆ ☆
Aku kembali merasa bersemangat setelah
sekitar satu tahun lamanya.
Itu karena setelah memutuskan membuat
karya baru, timbul kebutuhan untuk memikirkan konten seperti apa yang ingin
kubuat.
Setelah memutuskan hal itu karena dibujuk
Himegi-san, aku terkejut saat menyadari bahwa inilah yang sebenarnya ingin
kulakukan.
Seandainya tidak dikatakan olehnya, aku
mungkin tidak akan pernah menyadarinya selamanya.
Meskipun
begitu, aku baru bisa mulai mengerjakannya setelah menyelesaikan pekerjaan
skenario tambahan 『Houkago Jihen』
serta persiapan festival budaya.
Sambil menahan perasaan yang bergejolak,
pertama-tama aku merapikan tumpukan tugas yang ada di hadapanku.
Hari-hari yang sibuk pun berlalu, dan
tanpa disadari sudah tiba tanggal 2 Oktober, sehari sebelum festival budaya.
Pertunjukan kelas kami yaitu gim escape
room pemecahan misteri berhasil diselesaikan dengan selamat. Memoles berbagai
ide yang diajukan oleh teman-teman sekelas, hasilnya memiliki kualitas yang
membuat kami bisa dengan bangga mengatakan bahwa karya ini layak dipatok harga.
Dan saat ini, aku dan Himegi-san sedang
mengadakan rapat terakhir di ruang kelas sepulang sekolah.
Topik pembahasannya adalah penentuan
harga.
"Jadi menurut Takahashi-kun,
biayanya lebih bagus 100 yen per main?"
Mendengar pertanyaan Himegi-san, aku
mengangguk. Yang kami siapkan untuk pertunjukan kali ini hanyalah buku saku
kecil dari lembaran kertas yang dicetak memakai mesin fotokopi sekolah lalu di
staples. Karena biaya produksinya 0 yen, dengan harga segitu pun kami tetap
mendapat untung.
"Tapi, bukankah pengunjung tetap
bakal masuk walau harganya dinaikkan sedikit?"
"Benar juga. Kurasa walau dipatok
300 yen per main pun pengunjung tetap bakal masuk kok. Kali ini persiapan kita
memakan banyak tenaga, dan di hari H juga ada orang-orang yang bertugas
melayani pengunjung, jadi aku paham perasaan ingin memaksimalkan
keuntungan."
"Kan? Kalau keuntungannya banyak,
acara syukuran kita kan bisa jadi lebih mewah."
"Meski begitu, karena ini adalah gim
escape room pemecahan misteri buatan orang amatir, belum ada kepercayaan dari
pengunjung bahwa ini bakal menarik. Kalau 100 yen per main, sulit memperkirakan
berapa banyak orang yang bakal menggunakan jasa ini. Makanya aku ingin
menjadikannya 100 yen per main, agar stan ini terkesan sebagai tempat populer
yang selalu penuh setiap sesinya. Karena ini barang yang dibuat teman-teman
dengan kerja keras, aku ingin semua orang merasakan bagaimana rasanya ketika
karya mereka begitu dicari dan diminati orang lain."
"Toko populer……"
"Musuh terbesar saat membuka stan
toko adalah waktu ketika tidak ada yang bisa dikerjakan. Saat pengunjung datang
membludak dan suasana sangat sibuk, orang masih bisa berusaha menghadapinya.
Tapi sebaliknya, saat pengunjung tidak datang dan waktu luang tanpa ada kerjaan
terus berlanjut, orang akan sulit bertahan."
Begitu kusampaikan hal itu, Himegi-san
tampak memahami maksudku.
"Begitu ya…… Aku paham. Kalau begitu
biar kutulis di papan pengumuman '100 yen per main' ya."
"Terima kasih."
"Omong-omong stan ini, dari sudut
pandang profesional apakah menurutmu hasilnya bagus?"
"Rasanya sayang sekali kalau cuma
diadakan untuk pertunjukan 1 hari saja, saking menariknya hasil yang sudah kita
buat."
"Syukurlah kalau begitu.
Takahashi-kun sempat bilang punya trauma dengan kerja sama dalam membuat karya,
tapi ternyata bisa menghadapinya dengan baik, kan?"
"Benar juga ya. Kalau dipikir-pikir
sekarang, mungkin waktu SMP dulu aku masih terlalu bocah, jadi semuanya tidak
berjalan lancar. Berkat kejadian kali ini, aku jadi tahu betapa berartinya
keberadaan rekan yang melangkah menuju tujuan yang sama."
"Takahashi-kun menjadi pemimpin
proyek memang kebetulan sih, tapi aku senang mendengarmu berkata begitu.
Lagipula ada kan pepatah yang bilang, ‘Kalau ingin pergi cepat, pergilah
sendirian. Kalau ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama'."
"……Kalau ingin pergi cepat pergilah
sendirian, kalau ingin pergi jauh pergilah bersama-sama?"
"Belum pernah dengar? Seingatku itu
peribahasa Afrika lho. ……Lho, atau perkataan mantan wakil presiden Amerika
ya?"
"Perbedaan sumber asalnya terlalu
jauh ah."
"Secara garis besar artinya, kalau
bertindak sendirian kita memang bisa bergerak dengan ritme sendiri, tapi jarak
yang bisa ditempuh ada batasnya. Di sisi lain, kalau melangkah bersama rekan,
sebelum berangkat kita perlu menyatukan pendapat dan menyesuaikan kecepatan
langkah. Tapi kita bakal bisa melihat pemandangan jauh yang tidak akan pernah
bisa dicapai kalau cuma sendirian, kira-kira seperti itu."
Begitu mendengar hal itu, rasanya
pandangan di depanku seketika terbuka lebar
Aku jadi benar-benar memahami apa yang
harus kulakukan untuk membuat karya berikutnya.
"──Himegi-san.
Setelah festival budaya selesai, ada pekerjaan yang ingin kuminta darimu."
Kupikir jika meminta seperti itu, dia
bakal langsung menyanggupinya tanpa ragu.
Namun, balasan dari Himegi-san justru di
luar dugaan.
"Sayangnya──masa
kontrakku sebagai sekretaris hanya sampai besok saja lho."
Chapter 12 | ToC | Chapter 14



Post a Comment