NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 12

Bab 12: Setelah Mengadakan Acara Menginap, Terjadi Hal yang Gawat


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Benar-benar karena terbawa suasana, aku akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Sensei.

 

Meski begitu, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau harus pulang secara penurut dalam situasi seperti tadi. Tentu saja, walau mereka berdua selama ini telah berkali-kali melewatkan malam di bawah satu atap yang sama dan tidak terjadi apa-apa sekalipun.

 

Bagaimanapun juga, mumpung sudah diputuskan menginap, aku bakal memanfaatkan situasi ini secara maksimal. Aku memutuskan begitu, lalu memilih piyama.

 

Piyama yang akhirnya kupilih berbahan kain berbulu lembut dengan warna dasar merah muda pucat. Jika aku mengenakan pakaian seperti ini, pasti akan terpancar keimutan yang membuat orang tanpa sadar ingin memeluknya.

 

Terlebih lagi, panjang celananya cukup pendek, sehingga kaki indahku bisa terlihat dan memikat siapa pun yang melihatnya. Bagian atasnya seperti pakaian musim dingin, sedangkan bagian bawahnya seperti pakaian musim panas, menghadirkan kesan ketidakseimbangan sih, tetapi jika memikirkannya secara mendalam berarti aku kalah. Asalkan imut itu sudah cukup.

Setelah selesai berbelanja dan kembali ke rumah Sensei, aku segera berpindah ke ruang ganti lalu berganti ke piyama yang baru saja dibeli.

 

Saat keluar dari ruang ganti dan kembali ke ruang tamu, aku paham bahwa Sensei menahan napasnya. Tatapan matanya seolah-olah tersedot oleh keimutanku yang terlewat batas.

 

Di sisi lain, Kagurazaka-san juga sudah berganti memakai pakaian santai rumah. Sepertinya itu adalah pakaian olahraga sekolah SMP yang dulu didatanginya.

 

Kami berdua kembali ke meja tempat makan tadi, tetapi peralatan makan dan yang lainnya sudah dirapikan secara penuh, dan di atasnya hanya tersisa tisu serta tisu basah.

 

"Maaf ya Takahashi-kun, sampai-sampai membuatmu merapikannya."

 

"Karena bukan pekerjaan yang merepotkan, jadi tidak apa-apa kok.

Terus, karena jumlah olahraga hari ini masih kurang, aku mau melakukan squat sebentar ya, tidak usah dipikirkan."

 

Begitu mengatakannya, Sensei memegang ponsel dengan kedua tangan dan mulai melakukan squat sambil bermain mahjong.

 

Bahkan saat sedang bermain gim bersama pun, dia masih bisa menemukan sesuatu yang bisa dilakukan secara paralel…… Sensei benar-benar sangat disiplin dan bisa diandalkan……

 

Tak lama kemudian waktu melewati pukul 22.00, dan suasana mulai mengarah untuk bersiap-siap tidur.

 

"Himegi-san, mau berendam di bak mandi?"

 

"Tidak kok. Karena panas, aku rasa cukup pakai shower saja."

 

"Kalau begitu, berarti tidak usah menyiapkan air hangat ya."

 

Setelah itu urutan untuk mandi shower diputuskan adalah Sensei → Kagurazaka-san → aku.

 

Sensei membawa pakaian ganti lalu masuk ke ruang ganti, menyisakan diriku yang berada di ruang tamu berdua saja dengan Kagurazaka-san.

 

Saat aku duduk di sofa dengan sedikit tegang, Kagurazaka-san membisikkan sesuatu kepadaku.

 

"Dengar-dengar, bagaimana kalau kita mengintip ke kamar mandi pas diperhitungkan waktunya?"

 

"Usulan yang luar biasa mengejutkan ya!?"

 

"Tenang saja, Haruto itu mau diapa-apakan juga tidak bakal marah kok."

 

"Apakah di masa lalu kamu pernah mengintipnya……?"

 

"Pernah kok, tapi dia meresponsnya dengan tenang jadi membosankan."

 

"Pernah ternyata……"

 

Merespons dengan tenang itu, rasanya seperti apa ya…… M, apakah dia melihatnya ya……?

 

"Kami berdua kan hubungannya sudah terlalu lama, jadi aku sudah dianggap seperti adik ceweknya sih. Tapi kalau mengintipnya bareng Iori-san, aku yakin dia bakal panik lho."

 

"Karena itu tergolong tindak kriminal, aku menahannya saja ya."

 

Karena jika membayangkannya wajahku rasanya bakal memerah, aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.

 

"Daripada itu, aku ingin mendengar cerita masa kecil Sensei. Apakah dari dulu dia sudah sangat cekatan dan disiplin?"

 

"Benar lho, dari masa SD pun dia sudah sangat serius. Tipe orang yang walau tidak disuruh orang tua, bakal merapikan PR-nya secara benar sebelum bermain."

 

"Anak yang sangat ideal ya."

 

"Tapi dulu kalau aku menjahilinya, dia secara normal bisa marah lho. Begitu masuk SMP dan saat masa-mana 『Houkago Jihen』 meledak sukses, dia jadi mau tertawa memaafkan walau diapa-apakan sekalipun."

 

"Mungkin karena pikirannya jadi lebih lapang, ya."

"Tapi coba bayangkan, kalau di punggung ditempeli stiker 'Diskon 30%', orang biasa kan pasti marah kan?"

 

"Untuk ukuran anak SMP kejahilannya tergolong level rendah ya."

 

Sensei yang walau diturunkan harganya secara sepihak tetap tertawa memaafkan, bisa kubayangkan dengan mudah.

 

"Berarti sejak masa SMP Sensei sudah jadi manusia super yang sempurna ya."

 

"Begitulah~ Yah, walau kalau dilihat dari dekat, dia sama sekali tidak

sempurna sih."

 

"Eh? Benarkah begitu?"

 

"Iya. Cerita ini kalau dimulai mungkin bakal jadi panjang sih tapi──"

 

"Aku ingin mendengarnya."

 

Melihat diriku yang condong ke depan, Kagurazaka-san menyemburkan tawa.

 

"Anu ya, Haruto itu sejak masa SD terus membuat hal-hal yang menurutnya sendiri menarik, lalu di kelas 1 SMP 『Houkago Jihen』 selesai dibuat dan meledak sangat sukses. Semua orang yang memainkannya memberikan pujian, makin lama makin jadi bahan pembicaraan, sampai-sampai tidak sanggup mengejar ego search. Tentu saja penghasilannya juga luar biasa. Aku pernah melihat hasil penjualan di situs publikasinya bersama-sama, nominal yang mirip seperti gaji bulanan pegawai perusahaan besar terus bertambah setiap hari, hingga rasa takut jauh lebih besar dibanding rasa senang, dan sebelum benar-benar ditransfer aku cuma bisa menganggapnya sebagai penipuan."

 

"Begitu mengeluarkan karya sukses, emosi seperti itu yang bakal dirasakan ya."

 

"Tentu saja, setelah beberapa saat uang dalam jumlah besar benar-benar masuk ke rekening Haruto. Terus coba pikir, kalau menghasilkan uang sebanyak itu, orang biasa kan pasti jadi sombong kan? Tapi Haruto malah bilang 'Aku ingin membuat hal yang lebih bisa membuat semua orang senang', lalu masuk ke mode berjuang lebih keras lagi. Tanpa menyentuh uang yang ditransfer, dia membaca tanggapan satu per satu, lalu terus menyusun rencana pembaruan."

 

"Bukankah itu beneran manusia super yang sempurna."

 

"Cuma ya, dan di sinilah sulitnya berkarya secara mandiri…… Saat memikirkan cara agar lebih banyak pengguna yang merasa senang, melakukan pembaruan 『Houkago Jihen』 secara berulang agar bisa dimainkan dengan lebih nyaman, atau membuat sekuelnya menjadi solusi yang paling optimal kan."

 

"Memang pasti begitu ya."

 

"Haruto juga sampai pada kesimpulan seperti itu, lalu berjuang setiap hari. Awalnya dia kelihatan sangat menikmati sampai tidak ada obatnya, tapi setelah berlalu sekitar 1 tahun, sepertinya dia mulai bosan lho."

 

"──Eh, benarkah begitu?"

 

"Iya. Tentu saja karena itu karya sukses pertamanya, aku yakin dia punya rasa sayang pada karyanya. Tapi kalau terus-menerus terpaku pada satu karya, rasanya bakal jadi monoton kan…… Dia mungkin jadi tidak bisa menganggap karyanya sendiri menarik secara tulus dari dalam hati. Makanya di sela-sela pekerjaan 『Houkago Jihen』, diputuskan untuk membuat karya yang benar-benar baru."

 

"Di saat begitu malah memulai pekerjaan baru, benar-benar sangat mencerminkan Sensei ya."

 

Padahal tabungannya sudah banyak, orang biasa mungkin malah akan hidup bermalas-malasan……

 

"Haruto waktu itu bekerja dengan kecepatan yang tidak terpercaya lho. Sama sekali tidak beristirahat, sampai-sampai aku yang melihatnya jadi cemas. Terus saat kelas 3 SMP, dia merilis 『Kimi ga Inai Mirai no Hanashi』."

 

"Aku sudah memainkannya! Walau ceritanya secara keseluruhan bernuansa gelap, tetapi itu adalah gim percintaan berkualitas bagus yang memanfaatkan setting dunia paralel secara rapi kan!"

 

Siapa sangka gim tersebut dilahirkan lewat alur kejadian seperti itu.

"Iya. Aku juga suka 『Kimi ga Inai Mirai no Hanashi』 kok. ……Cuma ya, gim itu tidak begitu meledak sukses. Ada sih orang-orang yang memberikan penilaian bagus, tapi yang jauh lebih banyak justru komentar yang meminta sekuel 『Houkago Jihen』 dibanding gim seperti ini jumlahnya jauh lebih banyak secara telak……"

 

"Uwah……"

 

"Walau berusaha tidak memperlihatkannya ke luar, Haruto waktu itu lumayan patah semangat lho. Untuk sementara, dia bekerja seperti monster yang menyedihkan. Tentu saja aku yakin penggemar yang menginginkan sekuel tidak punya niat buruk, dan hal itu sendiri adalah hal yang menyenangkan sih."

 

"Ternyata ada kejadian seperti itu ya……"

 

"Makanya itu, Haruto yang terlihat seperti manusia super yang sempurna, kenyataannya adalah kisah bahwa dia cuma anak SMA biasa. Kalau dilihat dari luar memang terlihat seperti orang sukses, tapi bagi dirinya sendiri ada juga hal-hal yang tidak begitu."

 

"Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku. Terima kasih banyak sudah memberitahuku ya."

 

Ternyata Sensei menyimpan beban pikiran seperti itu. Sungguh mengejutkan.

 

Bagi diriku sendiri, bisa mendapatkan sekuel 『Houkago Jihen』 adalah hal yang menyenangkan. Akan tetapi, jika gara-gara hal itu Sensei sampai menyimpan beban psikologis, sebagai sekretaris aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

 

Aku akan memikirkan apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan untuknya.

 

☆ ☆

 

Tak lama kemudian Sensei keluar dari ruang ganti. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat makin tampan. Ditambah kulitnya yang agak kemerahan setelah mandi, dia terlihat semakin menarik.

 

Melanjutkannya Kagurazaka-san pergi mandi shower, dan Sensei mulai menggunakan pengering rambut.

 

Gara-gara cerita yang kudengar tadi, entah kenapa aku jadi merasa

memiliki jarak dengan Sensei.

 

"──Sewaktu aku sedang mandi shower, kalian berdua membicarakan sesuatu kan?"

 

Begitu selesai menggunakan pengering rambut, Sensei bertanya.

 

"Apakah percakapan kami terdengar sampai ke kamar mandi?"

 

"Suaranya sih terdengar, tapi isinya aku tidak paham kok."

 

"Begitu ya. Aku cuma mendengar cerita masa lalumu dari Takahashi-kun kok. Seperti stiker diskon yang ditempeli di punggungmu."

 

"Aah. Yui itu dari dulu memang suka melakukan kejahilan yang tidak penting. Seperti mengeluarkan isi pensil mekanik milikku sampai batas maksimal, atau memajukan jam wekerku lima menit lebih awal."

 

"Kejahilan yang lumayan menyebalkan ya."

 

"Dulu aku selalu meresponsnya setiap kali dia berbuat begitu, tapi begitu tahu dia malah senang, frekuensinya jadi berkurang setelah kubiarkan

tanpa respons."

 

"Yui-san ternyata dicueki……"

 

Sensei pasti kelak walau dijahili oleh anaknya sendiri di masa depan, tidak akan marah setiap saat ya……

 

Di setiap ada celah, aku selalu saja mengkhayalkan masa depan kami berdua. Diriku sendiri pun sadar kalau ini sudah tahap akut.

 

Tepat pada saat itu, pintu ruang ganti terbuka, dan Kagurazaka-san keluar dari sana.

 

"Haa~ Panas, panas banget."

 

"──!?"

Siapa sangka Kagurazaka-san tampil dengan penampilan yang luar biasa keterlaluan, hanya berbalut selembar handuk mandi saja.

 

Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sama dengan gadis yang baru saja menceritakan kisah serius tadi.

 

Begitu kupikir Kagurazaka-san berpindah ke depan kipas angin lalu menekan tombol nyala, di luar dugaan dia malah melebarkan bagian depan handuk mandinya.

 

"Tung──!? Kagurazaka-san!?"

 

Memang posisinya membelakangi Sensei sih, tetapi tergantung seberapa lebar handuk mandinya tersingkap, bisa-bisa bagian tubuhnya terlihat.

Sensei kebingungan harus membuang pandangannya ke mana.

 

Usahanya yang sebisa mungkin tidak melihat itu terasa imut…… tapi ini bukan saatnya memikirkan hal seperti itu!




"Kagurazaka-san, penampilan seperti itu bagaimana pun juga gawat lho."

 

"Tenang saja. Aku pakai pakaian dalam kok."

 

Kagurazaka-san mengatakannya dengan santai, tetapi bukan berarti kalau begitu semuanya jadi baik-baik saja.

 

Lagipula, rasanya tali bra-nya tidak ada……?

 

Sambil merasa heran, begitu aku berpindah ke depan Kagurazaka-san, yang dikenakannya ternyata dia hanya mengenakan celana dalam, sementara bagian atas tubuhnya terbuka begitu saja.

 

"Ihh, Iori-san mesum deh."

 

Kagurazaka-san merapatkan kembali handuk mandinya dengan malu-malu.

 

Aku malah merinding. Orang ini benar-benar berbahaya.

 

☆ ☆

 

Aku merasakan krisis yang sangat besar terhadap keberadaan yang bernama Kagurazaka-san ini. Kalau event seperti itu terjadi secara berkala, di saat timbul sedikit saja godaan dalam benak Sensei, bukankah mereka bisa saja langsung berakhir menjadi pasangan?

Sebaik apa pun Sensei, pasti ada saat-saat di mana dia sangat lelah atau tidak bisa berpikir jernih. Di saat seperti itu, perkembangan terbawa suasana bersama Kagurazaka-san…… bukanlah hal yang mustahil.

 

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, aku melepas semua pakaianku di ruang ganti. Aku harus segera mandi dan kembali ke ruang tamu sebelum terjadi sesuatu.

 

Akan tetapi, tepat setelah masuk ke kamar mandi, masalah malah muncul. Aku tidak tahu cara menyalakan air shower-nya.

 

Kerannya memang mengalirkan air dengan benar, tetapi saat diputar ke mode shower, tidak ada air yang keluar sama sekali.

 

Merasa heran, aku mengamati kepala shower-nya, dan ternyata ada tombol pengalih. Sepertinya dengan menekan tombol ini, aliran shower bisa dinyalakan dan dimatikan. Praktis sekali ya di saat tidak bisa membuka mata seperti saat sedang mencuci muka.

 

──Lalu di situ, sebuah pikira   licik melintas di kepalaku.

 

Pertama-tama aku kembali ke ruang ganti, melilitkan handuk mandi di tubuh, lalu memeriksa penampilanku di cermin secara teliti.

 

Bagus, aman. Bagian yang tidak boleh terlihat sudah tertutup rapi. Selain itu, penampilanku juga terlihat sangat menggoda.

 

Aku membulatkan tekad, lalu membuka kunci ruang ganti dengan kondisi berbalut handuk seperti itu.

Kemudian kubuka pintunya sedikit, lalu menjulurkan kepala dan sebagian tubuh bagian atasku ke luar.

 

Di ruang tamu terlihat Kagurazaka-san yang sedang mengeringkan rambut memakai pengering rambut, serta Sensei yang sedang mengerjakan sesuatu di ponselnya.

 

Sensei mendongakkan wajah lalu melihat ke arah sini, tetapi begitu mata kami bertemu, dia langsung terperanjat. Melihat pundakku yang terbuka polos, dia pasti membayangkan penampilanku seperti apa.

 

"Hi, Himegi-san……!?"

 

"Takahashi-kun, bisa ke sini sebentar?"

 

"A, ada apa?"

 

"Sudah tidak apa-apa, ke sini saja dulu."

 

Kalau sampai Kagurazaka-san yang datang merespons rencanaku bakal gagal total, jadi sengaja tanpa menyampaikan keperluannya, aku melambaikan tangan memanggilnya ke ruang ganti.

 

Sambil membuang pandangan ke arah lain, Sensei perlahan mendekat ke arah sini. Terlihat jelas sekali kalau dia sedang panik.

 

Begitu jaraknya cukup dekat untuk berbicara dengan suara berbisik, barulah aku menyampaikan keperluanku.

"Sebenarnya, aku tidak tahu cara menyalakan air shower-nya. Padahal sudah kuputar ke mode shower, tapi air hangatnya tidak mau keluar. Bukan rusak kan?"

 

"──Maaf, aku lupa memberi tahu. Di kepala shower-nya ada tombol pengalih, jadi coba tekan sambil menyalakan air hangatnya ya."

 

"Tombol? Di sebelah mana?"

 

"Tepat di bawah bagian keluarnya air hangat ada tombol kok……"

 

"Aku kurang paham, bisa tolong nyalakan langsung untuk memperlihatkannya?"

 

"Menyuruhku masuk ke kamar mandi!?"

 

Wajah Sensei memerah, lalu melontarkan suara yang hampir mirip jeritan. Imutnya.

 

"Aku kan melilitkan handuk mandi, jadi aman kok."

 

"Aman apanya……"

 

"Kalau tidak cepat-cepat, nanti aku bisa masuk angin lho?"

 

"…………"

 

Sensei sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya memantapkan tekad. Lalu, dengan hati-hati, dia membuka pintu ruang ganti lebar-lebar.

Sebisa mungkin berusaha tidak melihat ke arahku, Sensei menyelinap tepat di sampingku lalu masuk ke kamar mandi.

 

Walau aku sendiri yang menjalankannya, jujur saja aku merasa sangat tegang. Terutama momen saat berpapasan di ruang ganti tadi benar-benar gawat.

 

"……Tombol di sini kalau ditekan air hangatnya bakal keluar, dan kalau ditekan sekali lagi bakal berhenti."

 

"Apakah harus terus ditekan?"

 

"Tidak…… sekali ditekan bakal terkunci, jadi jarimu boleh dilepas kok."

 

Sambil terbata-bata, Sensei mengajariku cara memakai shower.

 

"Aku paham. Terima kasih banyak ya sudah repot-repot membantuku."

 

"I, iya……"

 

Sambil terus menundukkan pandangan ke bawah, Sensei berniat menyelinap kembali melewati sampingku.

 

──Namun tepat pada saat itu, aku baru sadar telah melakukan kesalahan yang besar!

 

Pakaian dalam yang kulepas tadi masih tergeletak begitu saja!

 

Terlebih lagi, posisinya tepat berada di ujung tatapan Sensei yang sedang berjalan sambil menunduk!!

 

"──Sensei!! Tunggu sebent──"

 

Sambil panik berniat mengamankan pakaian dalam itu aku mencondongkan badan ke depan, lalu di luar dugaan, aku malah menabrak Sensei.

 

Bagian dadaku yang hanya tertutup handuk mandi pun terdorong menempel pada Sensei.

 

Tapi sekarang aku harus menyembunyikan pakaian dalam itu!

 

Aku memaksakan diri mengulurkan tangan, lalu menyelipkan pakaian dalam itu ke bawah tumpukan piyama. Misi selesai.

 

Tepat setelahnya, sambil berpura-pura tenang, aku membalikkan badan menghadap ke arah Sensei.

 

Aku benar-benar malu, tetapi aku tidak boleh sampai kepanikanku terlihat. Hanya itu yang kupikirkan.

 

Akan tetapi, tepat pada detik saat aku berbalik, handuk mandi yang melilit tubuhku melorot jatuh.

 

Secara refleks aku mencoba menahannya, tetapi sudah terlambat.




"──Kyaa!!"

 

Aku segera berjongkok dan menyembunyikan tubuhku.

 

Sedangkan Sensei, sambil melontarkan suara yang tidak jelas, bergegas keluar dari ruang ganti dengan panik.

 

……Barusan, kelihatan…… kan……?

 

Atas maupun bawah, semuanya……

 

……Berakhir sudah……

 

Ibu, maafkan aku……

 

Aku yang sudah jatuh ke dasar keputusasaan itu kemudian terus mengerang sendirian di ruang ganti selama beberapa saat.. Seandainya ini adalah gim, tepat saat handuk mandinya jatuh permainannya bakal

Game Over, dan setelah tulisan 『YOU ARE DEAD』 terpampang di seluruh layar, permainannya pasti bakal dimulai kembali dari titik penyimpanan otomatis. Aku bahkan sempat melarikan diri dari kenyataan seperti itu.

 

Setelah itu, butuh waktu yang lumayan lama sampai aku bisa menenangkan diri kembali.

 

Meski begitu, aku tidak punya pilihan selain menerima kenyataan.

 

Karena apa yang sudah terlanjur terjadi, sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.

 

……Tidak apa-apa. Kalau di masa depan aku berpacaran dengan Sensei, toh nanti bakal dilihat juga kan……!!

 

Maksudku, kalau sampai tidak bisa berpacaran dengan Sensei setelah ini, itu berarti aku cuma rugi karena sudah dilihat cuma-cuma.

 

Kalau sudah begini caranya, aku pasti bakal berpacaran dengan Sensei……!!



Chapter 11 | ToC | Chapter 13

Post a Comment

Post a Comment

close