Bab 12: Setelah Mengadakan Acara Menginap, Terjadi Hal yang Gawat
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Benar-benar karena terbawa suasana, aku
akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Sensei.
Meski begitu, aku sama sekali tidak bisa
membayangkan kalau harus pulang secara penurut dalam situasi seperti tadi.
Tentu saja, walau mereka berdua selama ini telah berkali-kali melewatkan malam
di bawah satu atap yang sama dan tidak terjadi apa-apa sekalipun.
Bagaimanapun juga, mumpung sudah
diputuskan menginap, aku bakal memanfaatkan situasi ini secara maksimal. Aku
memutuskan begitu, lalu memilih piyama.
Piyama yang akhirnya kupilih berbahan
kain berbulu lembut dengan warna dasar merah muda pucat. Jika aku mengenakan
pakaian seperti ini, pasti akan terpancar keimutan yang membuat orang tanpa
sadar ingin memeluknya.
Terlebih lagi, panjang celananya cukup
pendek, sehingga kaki indahku bisa terlihat dan memikat siapa pun yang
melihatnya. Bagian atasnya seperti pakaian musim dingin, sedangkan bagian
bawahnya seperti pakaian musim panas, menghadirkan kesan ketidakseimbangan sih,
tetapi jika memikirkannya secara mendalam berarti aku kalah. Asalkan imut itu
sudah cukup.
Setelah selesai berbelanja dan kembali ke
rumah Sensei, aku segera berpindah ke ruang ganti lalu berganti ke piyama yang
baru saja dibeli.
Saat keluar dari ruang ganti dan kembali
ke ruang tamu, aku paham bahwa Sensei menahan napasnya. Tatapan matanya
seolah-olah tersedot oleh keimutanku yang terlewat batas.
Di sisi lain, Kagurazaka-san juga sudah
berganti memakai pakaian santai rumah. Sepertinya itu adalah pakaian olahraga
sekolah SMP yang dulu didatanginya.
Kami berdua kembali ke meja tempat makan
tadi, tetapi peralatan makan dan yang lainnya sudah dirapikan secara penuh, dan
di atasnya hanya tersisa tisu serta tisu basah.
"Maaf ya Takahashi-kun,
sampai-sampai membuatmu merapikannya."
"Karena bukan pekerjaan yang
merepotkan, jadi tidak apa-apa kok.
Terus, karena jumlah olahraga hari ini
masih kurang, aku mau melakukan squat sebentar ya, tidak usah dipikirkan."
Begitu mengatakannya, Sensei memegang
ponsel dengan kedua tangan dan mulai melakukan squat sambil bermain mahjong.
Bahkan saat sedang bermain gim bersama
pun, dia masih bisa menemukan sesuatu yang bisa dilakukan secara paralel……
Sensei benar-benar sangat disiplin dan bisa diandalkan……
Tak lama kemudian waktu melewati pukul
22.00, dan suasana mulai mengarah untuk bersiap-siap tidur.
"Himegi-san, mau berendam di bak
mandi?"
"Tidak kok. Karena panas, aku rasa
cukup pakai shower saja."
"Kalau begitu, berarti tidak usah
menyiapkan air hangat ya."
Setelah itu urutan untuk mandi shower diputuskan
adalah Sensei → Kagurazaka-san → aku.
Sensei membawa pakaian ganti lalu masuk
ke ruang ganti, menyisakan diriku yang berada di ruang tamu berdua saja dengan
Kagurazaka-san.
Saat aku duduk di sofa dengan sedikit
tegang, Kagurazaka-san membisikkan sesuatu kepadaku.
"Dengar-dengar, bagaimana kalau kita
mengintip ke kamar mandi pas diperhitungkan waktunya?"
"Usulan yang luar biasa mengejutkan
ya!?"
"Tenang saja, Haruto itu mau
diapa-apakan juga tidak bakal marah kok."
"Apakah di masa lalu kamu pernah
mengintipnya……?"
"Pernah kok, tapi dia meresponsnya
dengan tenang jadi membosankan."
"Pernah ternyata……"
Merespons dengan tenang itu, rasanya
seperti apa ya…… M, apakah dia melihatnya ya……?
"Kami berdua kan hubungannya sudah
terlalu lama, jadi aku sudah dianggap seperti adik ceweknya sih. Tapi kalau
mengintipnya bareng Iori-san, aku yakin dia bakal panik lho."
"Karena itu tergolong tindak
kriminal, aku menahannya saja ya."
Karena jika membayangkannya wajahku
rasanya bakal memerah, aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
"Daripada itu, aku ingin mendengar
cerita masa kecil Sensei. Apakah dari dulu dia sudah sangat cekatan dan
disiplin?"
"Benar lho, dari masa SD pun dia
sudah sangat serius. Tipe orang yang walau tidak disuruh orang tua, bakal
merapikan PR-nya secara benar sebelum bermain."
"Anak yang sangat ideal ya."
"Tapi
dulu kalau aku menjahilinya, dia secara normal bisa marah lho. Begitu masuk SMP
dan saat masa-mana 『Houkago Jihen』
meledak sukses, dia jadi mau tertawa memaafkan walau diapa-apakan
sekalipun."
"Mungkin karena pikirannya jadi
lebih lapang, ya."
"Tapi coba bayangkan, kalau di
punggung ditempeli stiker 'Diskon 30%', orang biasa kan pasti marah kan?"
"Untuk ukuran anak SMP kejahilannya
tergolong level rendah ya."
Sensei yang walau diturunkan harganya
secara sepihak tetap tertawa memaafkan, bisa kubayangkan dengan mudah.
"Berarti sejak masa SMP Sensei sudah
jadi manusia super yang sempurna ya."
"Begitulah~ Yah, walau kalau dilihat
dari dekat, dia sama sekali tidak
sempurna sih."
"Eh? Benarkah begitu?"
"Iya.
Cerita ini kalau dimulai mungkin bakal jadi panjang sih tapi──"
"Aku ingin mendengarnya."
Melihat diriku yang condong ke depan,
Kagurazaka-san menyemburkan tawa.
"Anu
ya, Haruto itu sejak masa SD terus membuat hal-hal yang menurutnya sendiri
menarik, lalu di kelas 1 SMP 『Houkago Jihen』
selesai dibuat dan meledak sangat sukses. Semua orang yang memainkannya
memberikan pujian, makin lama makin jadi bahan pembicaraan, sampai-sampai tidak
sanggup mengejar ego search. Tentu saja penghasilannya juga luar biasa. Aku
pernah melihat hasil penjualan di situs publikasinya bersama-sama, nominal yang
mirip seperti gaji bulanan pegawai perusahaan besar terus bertambah setiap hari,
hingga rasa takut jauh lebih besar dibanding rasa senang, dan sebelum
benar-benar ditransfer aku cuma bisa menganggapnya sebagai penipuan."
"Begitu mengeluarkan karya sukses,
emosi seperti itu yang bakal dirasakan ya."
"Tentu saja, setelah beberapa saat
uang dalam jumlah besar benar-benar masuk ke rekening Haruto. Terus coba pikir,
kalau menghasilkan uang sebanyak itu, orang biasa kan pasti jadi sombong kan?
Tapi Haruto malah bilang 'Aku ingin membuat hal yang lebih bisa membuat semua
orang senang', lalu masuk ke mode berjuang lebih keras lagi. Tanpa menyentuh
uang yang ditransfer, dia membaca tanggapan satu per satu, lalu terus menyusun
rencana pembaruan."
"Bukankah itu beneran manusia super
yang sempurna."
"Cuma
ya, dan di sinilah sulitnya berkarya secara mandiri…… Saat memikirkan cara agar
lebih banyak pengguna yang merasa senang, melakukan pembaruan 『Houkago
Jihen』 secara berulang agar bisa dimainkan dengan lebih
nyaman, atau membuat sekuelnya menjadi solusi yang paling optimal kan."
"Memang pasti begitu ya."
"Haruto juga sampai pada kesimpulan
seperti itu, lalu berjuang setiap hari. Awalnya dia kelihatan sangat menikmati
sampai tidak ada obatnya, tapi setelah berlalu sekitar 1 tahun, sepertinya dia
mulai bosan lho."
"──Eh,
benarkah begitu?"
"Iya.
Tentu saja karena itu karya sukses pertamanya, aku yakin dia punya rasa sayang
pada karyanya. Tapi kalau terus-menerus terpaku pada satu karya, rasanya bakal
jadi monoton kan…… Dia mungkin jadi tidak bisa menganggap karyanya sendiri
menarik secara tulus dari dalam hati. Makanya di sela-sela pekerjaan 『Houkago
Jihen』, diputuskan untuk membuat karya yang benar-benar
baru."
"Di saat begitu malah memulai
pekerjaan baru, benar-benar sangat mencerminkan Sensei ya."
Padahal tabungannya sudah banyak, orang
biasa mungkin malah akan hidup bermalas-malasan……
"Haruto
waktu itu bekerja dengan kecepatan yang tidak terpercaya lho. Sama sekali tidak
beristirahat, sampai-sampai aku yang melihatnya jadi cemas. Terus saat kelas 3
SMP, dia merilis 『Kimi ga Inai Mirai no Hanashi』."
"Aku sudah memainkannya! Walau
ceritanya secara keseluruhan bernuansa gelap, tetapi itu adalah gim percintaan
berkualitas bagus yang memanfaatkan setting dunia paralel secara rapi
kan!"
Siapa sangka gim tersebut dilahirkan
lewat alur kejadian seperti itu.
"Iya.
Aku juga suka 『Kimi ga Inai Mirai no Hanashi』
kok. ……Cuma ya, gim itu tidak begitu meledak sukses. Ada sih orang-orang yang
memberikan penilaian bagus, tapi yang jauh lebih banyak justru komentar yang
meminta sekuel 『Houkago Jihen』
dibanding gim seperti ini jumlahnya jauh lebih banyak secara telak……"
"Uwah……"
"Walau berusaha tidak
memperlihatkannya ke luar, Haruto waktu itu lumayan patah semangat lho. Untuk
sementara, dia bekerja seperti monster yang menyedihkan. Tentu saja aku yakin
penggemar yang menginginkan sekuel tidak punya niat buruk, dan hal itu sendiri
adalah hal yang menyenangkan sih."
"Ternyata ada kejadian seperti itu
ya……"
"Makanya itu, Haruto yang terlihat
seperti manusia super yang sempurna, kenyataannya adalah kisah bahwa dia cuma
anak SMA biasa. Kalau dilihat dari luar memang terlihat seperti orang sukses,
tapi bagi dirinya sendiri ada juga hal-hal yang tidak begitu."
"Sama sekali tidak pernah
terpikirkan olehku. Terima kasih banyak sudah memberitahuku ya."
Ternyata Sensei menyimpan beban pikiran
seperti itu. Sungguh mengejutkan.
Bagi
diriku sendiri, bisa mendapatkan sekuel 『Houkago
Jihen』 adalah hal yang menyenangkan. Akan tetapi, jika
gara-gara hal itu Sensei sampai menyimpan beban psikologis, sebagai sekretaris
aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Aku akan memikirkan apakah ada sesuatu
yang bisa kulakukan untuknya.
☆ ☆
Tak lama kemudian Sensei keluar dari
ruang ganti. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat makin tampan. Ditambah
kulitnya yang agak kemerahan setelah mandi, dia terlihat semakin menarik.
Melanjutkannya Kagurazaka-san pergi mandi
shower, dan Sensei mulai menggunakan pengering rambut.
Gara-gara cerita yang kudengar tadi,
entah kenapa aku jadi merasa
memiliki jarak dengan Sensei.
"──Sewaktu
aku sedang mandi shower, kalian berdua membicarakan sesuatu kan?"
Begitu selesai menggunakan pengering
rambut, Sensei bertanya.
"Apakah percakapan kami terdengar
sampai ke kamar mandi?"
"Suaranya sih terdengar, tapi isinya
aku tidak paham kok."
"Begitu ya. Aku cuma mendengar
cerita masa lalumu dari Takahashi-kun kok. Seperti stiker diskon yang ditempeli
di punggungmu."
"Aah. Yui itu dari dulu memang suka
melakukan kejahilan yang tidak penting. Seperti mengeluarkan isi pensil mekanik
milikku sampai batas maksimal, atau memajukan jam wekerku lima menit lebih
awal."
"Kejahilan yang lumayan menyebalkan
ya."
"Dulu aku selalu meresponsnya setiap
kali dia berbuat begitu, tapi begitu tahu dia malah senang, frekuensinya jadi
berkurang setelah kubiarkan
tanpa respons."
"Yui-san ternyata dicueki……"
Sensei pasti kelak walau dijahili oleh
anaknya sendiri di masa depan, tidak akan marah setiap saat ya……
Di setiap ada celah, aku selalu saja
mengkhayalkan masa depan kami berdua. Diriku sendiri pun sadar kalau ini sudah
tahap akut.
Tepat pada saat itu, pintu ruang ganti
terbuka, dan Kagurazaka-san keluar dari sana.
"Haa~ Panas, panas banget."
"──!?"
Siapa sangka Kagurazaka-san tampil dengan
penampilan yang luar biasa keterlaluan, hanya berbalut selembar handuk mandi
saja.
Sama sekali tidak terlihat seperti orang
yang sama dengan gadis yang baru saja menceritakan kisah serius tadi.
Begitu kupikir Kagurazaka-san berpindah
ke depan kipas angin lalu menekan tombol nyala, di luar dugaan dia malah
melebarkan bagian depan handuk mandinya.
"Tung──!?
Kagurazaka-san!?"
Memang posisinya membelakangi Sensei sih,
tetapi tergantung seberapa lebar handuk mandinya tersingkap, bisa-bisa bagian
tubuhnya terlihat.
Sensei kebingungan harus membuang
pandangannya ke mana.
Usahanya yang sebisa mungkin tidak melihat itu terasa imut…… tapi ini bukan saatnya memikirkan hal seperti itu!
"Kagurazaka-san, penampilan seperti
itu bagaimana pun juga gawat lho."
"Tenang saja. Aku pakai pakaian
dalam kok."
Kagurazaka-san mengatakannya dengan
santai, tetapi bukan berarti kalau begitu semuanya jadi baik-baik saja.
Lagipula, rasanya tali bra-nya tidak
ada……?
Sambil merasa heran, begitu aku berpindah
ke depan Kagurazaka-san, yang dikenakannya ternyata dia hanya mengenakan celana
dalam, sementara bagian atas tubuhnya terbuka begitu saja.
"Ihh, Iori-san mesum deh."
Kagurazaka-san merapatkan kembali handuk
mandinya dengan malu-malu.
Aku malah merinding. Orang ini
benar-benar berbahaya.
☆ ☆
Aku merasakan krisis yang sangat besar
terhadap keberadaan yang bernama Kagurazaka-san ini. Kalau event seperti itu
terjadi secara berkala, di saat timbul sedikit saja godaan dalam benak Sensei,
bukankah mereka bisa saja langsung berakhir menjadi pasangan?
Sebaik apa pun Sensei, pasti ada
saat-saat di mana dia sangat lelah atau tidak bisa berpikir jernih. Di saat
seperti itu, perkembangan terbawa suasana bersama Kagurazaka-san…… bukanlah hal
yang mustahil.
Sambil memikirkan hal-hal seperti itu,
aku melepas semua pakaianku di ruang ganti. Aku harus segera mandi dan kembali
ke ruang tamu sebelum terjadi sesuatu.
Akan tetapi, tepat setelah masuk ke kamar
mandi, masalah malah muncul. Aku tidak tahu cara menyalakan air shower-nya.
Kerannya memang mengalirkan air dengan
benar, tetapi saat diputar ke mode shower, tidak ada air yang keluar sama
sekali.
Merasa heran, aku mengamati kepala
shower-nya, dan ternyata ada tombol pengalih. Sepertinya dengan menekan tombol
ini, aliran shower bisa dinyalakan dan dimatikan. Praktis sekali ya di saat
tidak bisa membuka mata seperti saat sedang mencuci muka.
──Lalu
di situ, sebuah pikira licik melintas
di kepalaku.
Pertama-tama aku kembali ke ruang ganti,
melilitkan handuk mandi di tubuh, lalu memeriksa penampilanku di cermin secara
teliti.
Bagus, aman. Bagian yang tidak boleh
terlihat sudah tertutup rapi. Selain itu, penampilanku juga terlihat sangat
menggoda.
Aku membulatkan tekad, lalu membuka kunci
ruang ganti dengan kondisi berbalut handuk seperti itu.
Kemudian kubuka pintunya sedikit, lalu
menjulurkan kepala dan sebagian tubuh bagian atasku ke luar.
Di ruang tamu terlihat Kagurazaka-san
yang sedang mengeringkan rambut memakai pengering rambut, serta Sensei yang
sedang mengerjakan sesuatu di ponselnya.
Sensei mendongakkan wajah lalu melihat ke
arah sini, tetapi begitu mata kami bertemu, dia langsung terperanjat. Melihat
pundakku yang terbuka polos, dia pasti membayangkan penampilanku seperti apa.
"Hi, Himegi-san……!?"
"Takahashi-kun, bisa ke sini
sebentar?"
"A, ada apa?"
"Sudah tidak apa-apa, ke sini saja
dulu."
Kalau sampai Kagurazaka-san yang datang
merespons rencanaku bakal gagal total, jadi sengaja tanpa menyampaikan
keperluannya, aku melambaikan tangan memanggilnya ke ruang ganti.
Sambil membuang pandangan ke arah lain,
Sensei perlahan mendekat ke arah sini. Terlihat jelas sekali kalau dia sedang
panik.
Begitu jaraknya cukup dekat untuk
berbicara dengan suara berbisik, barulah aku menyampaikan keperluanku.
"Sebenarnya, aku tidak tahu cara
menyalakan air shower-nya. Padahal sudah kuputar ke mode shower, tapi air
hangatnya tidak mau keluar. Bukan rusak kan?"
"──Maaf,
aku lupa memberi tahu. Di kepala shower-nya ada tombol pengalih, jadi coba
tekan sambil menyalakan air hangatnya ya."
"Tombol? Di sebelah mana?"
"Tepat di bawah bagian keluarnya air
hangat ada tombol kok……"
"Aku kurang paham, bisa tolong
nyalakan langsung untuk memperlihatkannya?"
"Menyuruhku masuk ke kamar
mandi!?"
Wajah Sensei memerah, lalu melontarkan
suara yang hampir mirip jeritan. Imutnya.
"Aku kan melilitkan handuk mandi,
jadi aman kok."
"Aman apanya……"
"Kalau tidak cepat-cepat, nanti aku
bisa masuk angin lho?"
"…………"
Sensei sempat ragu sejenak, tetapi
akhirnya memantapkan tekad. Lalu, dengan hati-hati, dia membuka pintu ruang
ganti lebar-lebar.
Sebisa mungkin berusaha tidak melihat ke
arahku, Sensei menyelinap tepat di sampingku lalu masuk ke kamar mandi.
Walau aku sendiri yang menjalankannya,
jujur saja aku merasa sangat tegang. Terutama momen saat berpapasan di ruang
ganti tadi benar-benar gawat.
"……Tombol di sini kalau ditekan air
hangatnya bakal keluar, dan kalau ditekan sekali lagi bakal berhenti."
"Apakah harus terus ditekan?"
"Tidak…… sekali ditekan bakal
terkunci, jadi jarimu boleh dilepas kok."
Sambil terbata-bata, Sensei mengajariku
cara memakai shower.
"Aku paham. Terima kasih banyak ya
sudah repot-repot membantuku."
"I, iya……"
Sambil terus menundukkan pandangan ke
bawah, Sensei berniat menyelinap kembali melewati sampingku.
──Namun
tepat pada saat itu, aku baru sadar telah melakukan kesalahan yang besar!
Pakaian dalam yang kulepas tadi masih
tergeletak begitu saja!
Terlebih lagi, posisinya tepat berada di
ujung tatapan Sensei yang sedang berjalan sambil menunduk!!
"──Sensei!!
Tunggu sebent──"
Sambil panik berniat mengamankan pakaian
dalam itu aku mencondongkan badan ke depan, lalu di luar dugaan, aku malah
menabrak Sensei.
Bagian dadaku yang hanya tertutup handuk
mandi pun terdorong menempel pada Sensei.
Tapi sekarang aku harus menyembunyikan
pakaian dalam itu!
Aku memaksakan diri mengulurkan tangan,
lalu menyelipkan pakaian dalam itu ke bawah tumpukan piyama. Misi selesai.
Tepat setelahnya, sambil berpura-pura
tenang, aku membalikkan badan menghadap ke arah Sensei.
Aku benar-benar malu, tetapi aku tidak
boleh sampai kepanikanku terlihat. Hanya itu yang kupikirkan.
Akan tetapi, tepat pada detik saat aku
berbalik, handuk mandi yang melilit tubuhku melorot jatuh.
Secara refleks aku mencoba menahannya, tetapi sudah terlambat.
"──Kyaa!!"
Aku segera berjongkok dan menyembunyikan
tubuhku.
Sedangkan Sensei, sambil melontarkan
suara yang tidak jelas, bergegas keluar dari ruang ganti dengan panik.
……Barusan, kelihatan…… kan……?
Atas maupun bawah, semuanya……
……Berakhir sudah……
Ibu, maafkan aku……
Aku yang sudah jatuh ke dasar
keputusasaan itu kemudian terus mengerang sendirian di ruang ganti selama
beberapa saat.. Seandainya ini adalah gim, tepat saat handuk mandinya jatuh
permainannya bakal
Game
Over, dan setelah tulisan 『YOU ARE DEAD』
terpampang di seluruh layar, permainannya pasti bakal dimulai kembali dari
titik penyimpanan otomatis. Aku bahkan sempat melarikan diri dari kenyataan
seperti itu.
Setelah itu, butuh waktu yang lumayan
lama sampai aku bisa menenangkan diri kembali.
Meski begitu, aku tidak punya pilihan
selain menerima kenyataan.
Karena apa yang sudah terlanjur terjadi,
sudah tidak bisa diapa-apakan lagi.
……Tidak apa-apa. Kalau di masa depan aku
berpacaran dengan Sensei, toh nanti bakal dilihat juga kan……!!
Maksudku, kalau sampai tidak bisa
berpacaran dengan Sensei setelah ini, itu berarti aku cuma rugi karena sudah
dilihat cuma-cuma.
Kalau sudah begini caranya, aku pasti bakal berpacaran dengan Sensei……!!
Chapter 11 | ToC | Chapter 13



Post a Comment