NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 1

Bab 1: Hari Ketika Gadis Cantik di Kelas Tiba-Tiba Menjadi Sekretarisku


(Sudut Pandang Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)

 

Hari ini lagi-lagi, indeks Nikkei dan Dow Jones mengalami kenaikan. Emas dan aset kripto sedikit turun sehingga mengalami kerugian, tetapi berkat investasi terdiversifikasi, secara keseluruhan hasilnya tetap plus.

 

Ketika memiliki banyak aset, kita jadi bisa berinvestasi dengan pemikiran bahwa berkurang sedikit saja tidak masalah. Lalu ketika aset bertambah, kita menjadi makin percaya diri dan berakhir meningkatkan jumlah investasi lebih banyak lagi.

 

Namun, waktu hidup sendiri yang merupakan modal terbatas, harus dipikirkan secara matang-matang di mana akan diinvestasikan.

 

Tentu saja, langkah yang bijak adalah menggunakan waktu untuk hal-hal yang diperkirakan memberikan return besar. Dalam kasusku sebagai seorang pembuat gim, bermain gim yang sedang hangat dibicarakan atau membaca manga populer adalah prioritas utama.

 

Mempelajari pemasaran dan desain juga penting.

 

Tentu saja, investasi untuk diri sendiri ini harus dilakukan menggunakan waktu tersisa setelah membuat gim setiap harinya.

Lantas, apa yang terjadi? Pelajaran sekolah yang prioritasnya rendah menjadi terbengkalai, dan aku mendapat nilai 0 pada tes kecil Bahasa Inggris.

 

Aku memahami bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang penting, tetapi bagiku yang untuk saat ini tidak memiliki rencana berkomunikasi dengan orang asing, prioritas untuk mempelajarinya tidaklah tinggi.

 

Waktu belajar yang dibutuhkan untuk menguasai kemampuan spesialis bahasa asing konon secara umum dikatakan membutuhkan 2.000 jam.

 

Karena total waktu pelajaran bahasa asing dari SD, SMP, hingga SMA di Jepang tampaknya hanya 1.000 jam, biaya tambahan yang diperlukan sampai bisa melakukan percakapan spesialis terlalu tinggi. Kalau begitu, bukankah lebih baik menyewa penerjemah atau menggunakan AI untuk menerjemahkannya saja.

 

Oleh karena itu, lembar jawaban nilai 0 ini adalah hasil dari seleksi dan fokus yang kulakukan, sehingga tidak ada alasan sama sekali untuk merasa malu. Kata guru isinya lumayan mudah, tetapi aku tidak memikirkan apa pun. Habisnya, aku punya aset yang menggunung.

 

Saat memikirkan hal semacam itu sambil membiarkan lembar jawaban tergeletak di atas meja, Kanehara-kun yang merupakan kelompok papan atas di kelas menemukannya dengan jeli, lalu memamerkannya ke sekeliling.

 

"Oi Takahashi! Padahal dapat nilai 0 tapi pede banget kau!"

Menanggapi hal itu, teman-teman sekelas yang populer pun ikut tertawa mengejek.

 

"Nilainya mirip kayak bab 1 manga yang ngincar masuk Universitas Tokyo ya."

 

"Bener banget. Nilai 0 itu artinya cuma punya ruang buat berkembang."

 

"Tapi Takahashi, kamu boleh kok menyontek sedikit."

 

Kelompok anak-anak populer di kelas saling bersahut-sahutan, memenuhi ruang kelas dengan gelak tawa.

 

Di dalam otakku, dopamin sebagai zat yang memicu kenikmatan tersebut disekresikan dalam jumlah besar.

 

Aku yang dikembalikan lembar jawaban bernilai 0, membiarkannya di atas meja sebagai umpan karena berpikir mungkin akan ada orang yang tertarik. Kemudian Kanehara-kun dan yang lainnya terpancing, lalu semua orang menjadi tersenyum. Betapa menyenangkannya saat hal-hal berjalan sesuai dengan dugaanku sendiri.

 

Tawa itu tidak terjadi secara kebetulan. Kita perlu memahami pengetahuan dasar lawan bicara, lalu mengkhianatinya secara sengaja.

 

Jika melihat kasus kali ini, gap antara seorang anak inkya di kelas yang mendapat nilai 0 pada kuis yang lumayan mudah tetapi tetap bersikap percaya diri mungkin terasa menarik.

Aku merasakan kenikmatan saat memahami struktur maupun pola dari suatu hal, lalu mengontrolnya sedikit saja untuk membuat orang lain tertawa.

 

Ini tidak berhenti sebagai sekadar hobi, melainkan menjadi latihan untuk memahami pemikiran orang lain secara mendalam. Dalam bertahan hidup di industri hiburan, tidak berlebihan rasanya jika dikatakan bahwa memahami orang lain adalah kemampuan yang paling penting.

 

Selain itu, membuat orang lain tertawa juga terhubung dengan memulihkan mental orang lain. Dengan kata lain, ini adalah tindakan yang sangat kreatif untuk menjaga stabilitas masyarakat.

 

Kembali ke topik utama. Meski semua orang sudah tersenyum karena lembar jawaban bernilai 0, suasananya terasa bisa memancing tawa sekali lagi jika dilakukan dengan baik.

 

Kelompok papan atas di kelas menantikan perkembangan selanjutnya dengan penuh harapan. Di sini jika aku mengatakan sesuatu, kemungkinannya tinggi akan disambut tawa meski isinya tidak seberapa.

 

Nah. Terhadap pernyataan "kamu boleh kok menyontek sedikit", balasan seperti apa yang paling optimal?

 

Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah "aku sudah menyontek dan ini hasilnya", tetapi karena itu berarti melakukan kecurangan, bakal sulit untuk ditertawakan. Kalau dengan orang yang akrab mungkin akan langsung paham kalau itu bercanda, tetapi karena aku hampir tidak pernah berinteraksi dengan Kanehara-kun dan yang lainnya, lebih aman untuk menghindarinya.

 

Aku tidak perlu mengincar tawa besar dari seisi kelas. Cukup dengan komentar yang sedikit di luar dugaan semua orang, tetapi masih dalam batas percakapan yang wajar──

 

"Berhenti mengejek dengan menyakiti orang lain. Itu sama saja seperti mengumumkan kalau kamu sendiri adalah manusia kelas bawah."

 

Di tengah-tengah otakku yang sedang berputar, Himegi Iori-san yang duduk di kursi tepat di belakangku berdiri dengan sigap, lalu melontarkan kata-kata itu ke arah Kanehara-kun.

 

Sesaat setelahnya, dia merebut lembar jawabanku yang dipegang oleh Kanehara-kun.

 

Pada saat itu, senyum di wajah anak-anak cowok yang tadi tertawa langsung menghilang. Himegi-san memang dikenal cukup tajam dalam berbicara sebagai ketua kelas, tetapi karena dia cantik dan sangat populer, mereka memilih diam untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ikut campur.

 

Kecepatan perubahan sikap itu terasa konyol sampai-banget aku tanpa sadar tertawa. Aku jadi belajar bahwa jika heroinenya terlalu cantik, hal seperti ini bakal terjadi.

 

Himegi-san yang tetap memegang lembar jawaban yang direbutnya, menoleh ke arah sini.

 

Pada saat itu, aku sampai menahan napas karena terpaku oleh tatapan mata Himegi-san yang begitu indah. Dengan tingkat kecantikan wajah Himegi-san yang tidak masuk akal, aku tetap tidak pernah bisa terbiasa dengannya meski melihatnya setiap hari.

 

Sebelumnya Himegi-san bilang ke Kanehara-kun "mengejek dengan menyakiti orang lain", tetapi kenyataannya aku tidak tersakiti dan malah merasa senang, hanya saja dia begitu cantik sampai-sampai aku merasa hal semacam itu tidak penting lagi.

 

Dengan ekspresi yang bercampur antara amarah dan rasa kasihan, Himegi-san menaruh lembar jawaban di atas mejaku, lalu kembali ke

kursinya sendiri.

 

"──Gara-gara cuma bolos terus, makanya jadi begini."

 

Saat melewati sampingku, Himegi-san bergumam dengan volume suara yang samar-samar terdengar.

 

Itu tidak lain hanyalah serangan balasan untukku, tetapi aku paham psikologis yang membuatnya ingin mengatakan hal itu. Habisnya, aku mungkin dibenci oleh Himegi-san.

 

Ada banyak hal yang terlintas di pikiranku, contohnya bulan Mei tahun ini. Bug yang cukup merepotkan ditemukan pada gim yang kukelola, dan aku perlu meresponsnya dengan cepat. Lalu akibat bolos dari festival olahraga karena hal itu, sepertinya aku sudah menyusahkan Himegi-san secara luar biasa.

 

Karena siapa yang keluar di nomor pertandingan apa pada festival olahraga sudah ditentukan sebelumnya, ada kebutuhan untuk mencari pengganti, dan tampaknya formasi tarian kreasi yang dilakukan oleh seluruh kelas juga berakhir diubah.




Berdasarkan tindakan dan perkataan sehari-harinya, Himegi-san bisa ditebak membenci orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.

 

Bagi diriku sendiri sebenarnya ada alasan yang tak terhindarkan, tetapi karena aku tidak menjelaskannya sama sekali, tampaknya aku dikira bolos tanpa alasan.

 

Aku adalah anak kasta terbawah (urutan ke-5) di kelas yang hampir tidak pernah bicara. Seorang murid payah yang terus-menerus mendapat nilai merah dan mungkin akan dikeluarkan tahun depan. Padahal tidak ada yang tahu bahwa gim yang kubuat sendiri meraih kesuksesan besar hingga aku mendirikan perusahaan, serta memiliki penghasilan tahunan sekelas direktur perusahaan besar. Wajar saja kalau aku dijauhi.

 

Meski begitu, Himegi-san telah membantuku. Yah, meskipun sebenarnya aku tidak perlu dibantu, diduga dia melakukannya karena memiliki rasa tanggung jawab sebagai ketua kelas.

 

──Meski telah melakukan analisis seperti itu, begitu memikirkan psikologis Himegi-san, aku menyadari hal ini tidak memberikan keuntungan 1 yen pun bagiku.

 

Aku segera kembali menatap ponsel, menutup aplikasi sekuritas yang sedang terbuka, lalu melanjutkan pekerjaanku.

 

☆ ☆

 

Hari ini pun aku kembali bekerja dengan menjadikan pelajaran para guru sebagai BGM sampai akhirnya waktu pulang sekolah tiba.

 

Karena ada batasan pada hal yang bisa dilakukan saat jam pelajaran, aku malah bisa fokus pada pekerjaan dan itu bagus. Lagipula ada banyak kejadian unik khas SMA yang bisa dimanfaatkan untuk karya.

 

langsung pulang ke rumah sewaan yang berjarak 30 detik jalan kaki dari gerbang sekolah.. Demi mempersingkat waktu perjalanan sebisa mungkin, aku tinggal sendirian di sebuah rumah sewa.

 

Begitu memasuki area genkan, pesan dari ibuku masuk ke ponsel.

(Tl/N: Genkan itu area pintu masuk rumah Jepang, tempat melepas sepatu.)

 

『Haruto, selamat ulang tahun ya. Ibu sudah menyiapkan hadiah yang luar biasa, jadi nantikan ya』

 

Melihat pesan ini, aku baru menyadari bahwa hari ini adalah tanggal 3 September yang merupakan hari ulang tahunku. Karena setiap hari terlalu sibuk aku sampai lupa sepenuhnya, tetapi rupanya umurku bertambah satu ya.

 

Meski begitu, bukan berarti bakal terjadi sesuatu yang spesial. Tidak seperti saat naik level di gim yang akan mendapatkan poin skill, dengan status yang sama seperti sebelum-sebelumnya, hidup hanya akan terus berlanjut.

Walau demikian, mendapatkan pesan dari ibu membuatku merasa sedikit senang. Karena aku keluar rumah atas kemauanku sendiri, tetapi aku merasa dia tetap memikirkanku.

 

Setelah tinggal terpisah dari orang tua aku baru menyadari, sepertinya aku memang cocok tinggal sendirian. Kalau tinggal bersama ibu, pikiranku bakal terganggu oleh hal-hal sepele seperti "Makan malamnya bagaimana?" atau "Cepat mandi sana".

 

Tentu saja ada saat-saat di mana aku merasa kesepian, tetapi bisa menentukan segala hal sesuai keinginanku sendiri itu bagus karena tidak membuat stres.

 

Sambil memikirkan hal semacam itu, aku membalas pesan ibu.

 

Kemudian aku menyalakan laptop di ruang tamu, lalu memulai pekerjaan.

 

Namun, baru beberapa menit berjalan, bel pintu berbunyi.

 

Kemungkinan besar itu adalah hadiah ulang tahun yang dikirimkan oleh ibu.

 

Akan tetapi, saat melihat layar bel pintu sambil membayangkan paman kurir pengantar barang, otakku seketika berhenti berpikir.

 

Entah kenapa di sana, Himegi-san yang sekelas denganku sedang berdiri dengan raut wajah tegang.

 

Di saat seperti ini, aku tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa.

 

Lalu Himegi-san membunyikan bel pintu sekali lagi. Tampaknya aku mendadak kaku di sini sampai-sampai membuatnya merasa cemas.

 

Untuk sementara aku coba menekan tombol bicara, tetapi apa yang sebaiknya kukatakan ya? Alasan Himegi-san mengunjungi rumahku terlalu tidak kupahami sampai-sampai tidak ada yang terlintas di pikiranku.

 

"……Siapa ya?"

 

Karena belum bisa sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa dia adalah orang yang sangat mirip dengan Himegi-san, aku memulainya dengan menanyakan namanya.

 

Meski jika dilihat dari seragamnya, hampir tidak ada keraguan lagi sih……

 

"Namaku Himegi. Aku datang karena direkomendasikan pekerjaan

sebagai sekretaris."

 

"──Sekretaris?"

 

Aku kaget karena kata yang sangat di luar dugaan keluar dari mulutnya.

 

"Iya, sekretaris."

 

"Sekretaris……"

Sekretaris itu, maksudnya sekretaris yang itu kan? Dari konteks dia datang karena direkomendasikan, jelas bukan hisho dalam arti tempat berlibur atau tempat rahasia, tapi sekretaris……

 

"Kenapa sekretaris?"

 

"Kenapa bagaimana, apa kamu tidak mendengar cerita dari ibumu?"

 

"Ibu……"

 

Saat itu juga, aku baru menyadari kaitan antara situasi ini dan pesan dari ibu tadi.

 

Pasti inilah hadiah ulang tahun dari ibu. Ibu memang khawatir kalau aku tinggal sendirian, pola makanku jadi tidak seimbang, atau rumah bakal penuh jamur karena aku malas membersihkannya……

 

Bukan, bukan, bukan, tapi tidak seharusnya dia mendadak mengirimkan sekretaris kan!?

 

Lagipula Himegi-san itu teman seangkatan tahu!? Kenapa tidak

mendiskusikannya terlebih dahulu denganku!?

 

……Kalau dipikir-pikir ibu adalah tipe orang yang sangat suka memberikan maupun menerima kejutan. Makanya mungkin dia salah paham dan mengira seluruh umat manusia menyukai kejutan. Sungguh merepotkan.

 

"──Ah, maaf. Untuk sementara aku buka pintunya dulu ya."

Menyadari bahwa aku membiarkan Himegi-san terus berdiri di luar, aku mulai berlari menuju genkan.

 

Setelah sedikit merapikan kardus-kardus yang menumpuk di koridor,

aku memakai sandal lalu membuka pintu genkan.

 

"Salam kenal, namaku Himegi Iori──ehhh!?"

 

Himegi-san yang melihat wajahku langsung berteriak kaget.

 

Padahal dia sendiri yang datang berkunjung, tapi bukannya aneh kalau dia kaget saat melihat sang pemilik rumah……?

 

"Takahashi-kun…… kan? Yang sekelas denganku."

 

"Benar."

 

"Kenapa ada di sini? ──Ah, jangan-jangan, orang yang mau kujadikan atasan sebagai sekretaris ini kakak dari Takahashi-kun?"

 

"Bukan, aku anak tunggal kok."

 

"Kalau begitu, kerabat dari Takahashi-kun? Di rumah ini

Takaharu-sensei juga tinggal kan?"

 

Mendadak Himegi-san menyebut nama penaku, sampai-sampai aku merasa jantungku hampir berhenti berdetak.

Sejak mendengar kata “sekretaris”, sebenarnya aku sudah menduga hal ini. Dan ternyata benar, Himegi-san datang ke sini setelah mengetahui bahwa Takaharu, sang pembuat gim, tinggal di rumah ini.

 

"Sebenarnya aku ini penggemar berat Takaharu-sensei tahu. 『Houkago Jihen』, cerita utamanya tentu saja, bahkan download content-nya pun sudah kubeli semua."

 

Mata Himegi-san berbinar-binar dan dia bercerita dengan penuh antusias.

 

Karena ini pertama kalinya aku mendengar kesan penggemarku secara langsung, dadaku diam-diam merasa hangat.

 

"……Anu, begini. Akulah orang yang membuat 『Houkago Jihen』 itu, si Takaharu."

 

"──Hah? Takahashi-kun itu Takaharu-sensei?"

 

Himegi-san mengintip wajahku dengan tatapan curiga.

 

Tekanan dari wajahnya yang terlalu indah terasa begitu kuat hingga tanpa sadar aku memalingkan wajah.

 

"Mana mungkin begitu. Kalau mau ngelindur di tempat tidur saja sana."

 

Aku ditolak mentah-mentah.

 

"Ini beneran. Tolong percayalah."

"Sudah cukup. Kebohongan itu sama sekali tidak lucu tahu."

 

Dibilang tidak lucu oleh penggemar sendiri……

 

“Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun, tetapi tidak berlebihan jika kukatakan bahwa bertemu dengan 『Houkago Jihen』 telah mengubah hidupku. Dari sana, aku belajar banyak hal penting, seperti ikatan dengan teman, betapa berharganya berusaha dengan sungguh-sungguh, dan berbagai hal berharga lainnya. Karena itu, aku sama sekali tidak ingin orang yang tidak serius dan tidak punya rasa tanggung jawab seperti Takahashi-kun mengatakan, meskipun hanya sebagai lelucon, bahwa dirinya adalah Takaharu-sensei yang sebenarnya.”

 

Himegi-san menegaskannya dengan suara yang seolah dipenuhi dendam.

 

Dia benar-benar penggemar garis keras.

 

"Benar-benar deh, jangan remehkan penggemar ya. Kalau benar-benar mengaku sebagai Takaharu-sensei, coba buktikan dong. Tidak bisa kan?"

 

"……Buktinya, apa yang harus kulakukan?"

 

"Haa…… tidak tahu malu banget……"

 

Himegi-san menyilangkan tangan di depan dada…, lalu menatapku tajam dengan raut wajah seolah merasa kerepotan.

"Kalau kamu mengatakannya sampai sejauh itu, aku bakal berikan beberapa kuis sederhana yang pasti bisa dijawab kalau memang benar-benar Takaharu-sensei. Bagaimana?"

 

"Boleh saja sih."

 

"Kalau begitu pertanyaan. Sekitar 1 tahun lalu, pada malam di mana Sensei merilis konten tambahan 『Houkago Jihen』 yaitu 『Tasogare no Hangyaku』, apa yang dimakannya sebagai hadiah untuk diri sendiri?"

 

"……Hah?"

 

Tunggu dulu. Sekarang aku malah diberi kuis tentang makan malam 1 tahun lalu……?

 

Aku sempat mengira bakal diberi pertanyaan dari setting dalam karya ceritanya……

 

"Kenapa? Harusnya mengerti kan?"

 

"Hal seperti itu mana mungkin aku ingat. Kebalikannya, kenapa Himegi-san bisa tahu hal semacam itu?"

 

"Kenapa bagaimana, kan tertulis di SNS punyanya Sensei."

 

"Masa iya……? Tapi, itu kan cerita 1 tahun lalu?"

 

"Aku ini membaca SNS punyanya Sensei secara berkala sampai menelusuri ke masa lalu tahu. Omong-omong jawabannya adalah 'Ramen Tonkotsu Pekat dengan Lemak Ekstra Banyak'."

 

"Rasanya aku baru saja mendengar pernyataan yang secara santai sangat luar biasa ya……"

 

Mendengar kata ramen tonkotsu, ingatan samar tentangnya pun perlahan muncul kembali. Ramen kurang baik bagi kesehatan, jadi aku memang membiasakan diri untuk tidak memakannya kecuali ada alasan khusus.

 

"Mana mungkin aku ingat hal yang sudah selamanya itu. Tolong berikan pertanyaan yang lebih normal seperti apa yang dilakukan oleh tokoh utama atau heroine di dalam karya saja?"

 

"Kalau begitu sih siapa pun yang memainkan gimnya pasti bisa menjawab dong."

 

"Memang benar begitu sih……"

 

"Kalau begitu, buktikan dengan cara lain. Coba katakan secara spontan kalimat yang bisa membuatku berdebar-debar. Kalau Takaharu-sensei pasti mudah kan?"

 

"Tidak, tidak, hal seperti itu kalau dibilang mendadak tetap saja tidak mungkin. Yang itu kan diracik termasuk dengan situasinya juga……"

 

Saat aku menjawab begitu, Himegi-san menghela napas panjang.

"Yang itu tidak bisa, yang ini tidak bisa. Takahashi-kun itu sebenarnya bisa apa sih?"

 

Aku benar-benar dibilang macam-macam.

 

Lagipula, kenapa walau sudah datang sebagai sekretaris, dia tidak tahu profilku sama sekali……

 

"Untuk memastikan saja, apa Himegi-san tidak mendengar nama asli Takaharu?"

 

"Iya. Aku mendadak diberi tahu oleh ibu 'Aku punya kenalan yang sama dengan Takaharu-sensei', lalu ditanya apa ada minat menjadi sekretaris, dan saat kubilang 'Pasti mau', aku hanya diberi tahu alamat ini saja."

 

"Begitu ya……"

 

Sepertinya ini juga kejutan merepotkan yang disiapkan oleh ibuku.

 

Mungkin dia sengaja membuat skenario agar situasi sang guru idaman yang ternyata adalah teman sekelas menjadi semakin seru.

 

Hasilnya, aku malah dikira pembohong dan dibilang tidak lucu.

 

"……Baiklah. Tolong tunggu sebentar."

 

Karena menjadi keras kepala, aku pergi ke ruang tamu dan kembali membawa kardus.. Di dalamnya penuh berisi 30 eksemplar lebih edisi kemasan 『Houkago Jihen』 yang masih baru dan belum dibuka. Semuanya adalah stok untuk pengiriman daring.

 

Melihat stok sebanyak ini, dia pasti akan mengakui bahwa aku adalah Takaharu. Aku menurunkan kardus ke lantai dengan bersemangat.

 

"Himegi-san, tolong lihat ini."

 

"Ah! 『Houkago Jihen』!"

 

"Stok sebanyak ini ada di rumahku, artinya ini menjadi bukti kalau aku adalah Takaharu, kan?"

 

"Eh? Kenapa? Di rumah ini kan Takaharu-sensei tinggal, jadi wajar saja kalau ada stoknya."

 

……Begitu ya. Kalau tidak percaya, reaksinya bakal jadi seperti itu ya.

 

"Kalau begitu……"

 

Aku pergi ke ruang tamu sekali lagi, lalu kali ini membawa laptop.

 

Jika memperlihatkan bahan yang digunakan untuk membuat cerita utama gim, aku pasti bisa membuktikan kalau diriku adalah pembuatnya.

 

"──Tolong lihat ini. Gambar kemasan 『Houkago Jihen』 ini dipisah per layer, kan?"

"Dipisah per layer? Rasanya gambarnya sedikit demi sedikit berubah, tapi memangnya kenapa dengan itu?"

 

Himegi-san memiringkan sedikit kepalanya. Dia sepertinya sama sekali tidak paham apa maksudnya.

 

Ternyata dia tidak tahu bahwa hanya pembuatnya yang memiliki data dengan layer terpisah seperti ini.

 

Aku baru pertama kali mengetahuinya. Membuktikan bahwa diri sendiri adalah pembuat gim ternyata lumayan sulit……

 

Kalau begini terus, bahkan jika aku memperlihatkan source code yang belum dipublikasikan pun sepertinya tidak akan dipahami olehnya.

 

Bagaimana ini……

 

"Mau bagaimana lagi…… Hal ini agak sedikit melanggar sih……"

 

Setelah bergumam, aku mulai mengoperasikan ponsel.

 

Yang kubuka adalah halaman pengelola dari situs resmi 『Houkago Jihen』.

 

Tentu saja, ini adalah halaman yang tidak bisa diakses oleh siapa pun selain diriku.

 

Aku membuka halaman bertuliskan 『Pesan』, di mana pertanyaan maupun kesan yang dikirimkan dari pengguna dapat dilihat sekaligus.

Lebih jauh lagi aku mencari dengan kata kunci tertentu, lalu menunjukkan ponsel ke Himegi-san dalam kondisi hasil pencarian sudah ditampilkan.

 

Di sana ditampilkan kesan di mana pengirimnya tertulis 『Himegi Iori』.

 

Waktu pengirimannya adalah bulan lalu, dan judulnya adalah 『

Skenario terbaru, beneran terlalu dewa sampai-sampai aku ingin seluruh umat manusia membacanya!!』.

 

"──Ehh!? Itu, surat penggemar yang kukirimkan!?"

 

Mata hitam besar Himegi-san bergantian menatap layar ponsel dan wajahku.

 

Karena nama depan dan belakangnya sama aku sempat berpikir jangan-jangan, tetapi setelah mendengar bahwa Himegi-san menyukai gimku aku jadi yakin.

 

"Ke, kenapa, surat penggemar yang kukirim ke Takaharu-sensei bisa ada di Takahashi-kun……!?"

 

"Makanya, akulah si Takaharu itu. Kalau tidak percaya, apa mau kubacakan seluruh isinya?"

 

Aku menggulir layar ponsel dan menampilkan pesan panjang yang ditulis Himegi-san.

『Takaharu-sensei, salam kenal! Aku anak SMA yang menjalani hidup dengan menjadikan karya Sensei sebagai kitab suci! Aku benar-benar terlalu menyukai karya Sensei, dan karena bagaimanapun juga ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung makanya aku menghubungi Sensei. Skenario terbaru yang dirilis kemarin, beneran parah banget……!! Terutama bagian tersesat di babak kedua, terlalu menyayat hati sampai-sampai dadaku rasanya sesak dan menangis tersedu-sedu. Hubungan antara mereka berdua terlalu emosional sampai-sampai aku kehilangan kosakata. Karena tidak sanggup menahan betapa bernilainya hal itu, aku sampai menggaruk-garuk dinding kamar dengan kuku berulang kali hingga kertas dindingnya jadi koyak-koyak. Kenapa bisa menulis skenario dewa seperti itu? Bagaimana kondisi di dalam otak Sensei? Lalu, saat tahu kalau gambar-gambarnya juga digambar oleh Sensei, aku sampai jungkir balik!! Padahal dewa skenario, tapi sampai gambarnya pun dewa, surga benar-benar terlalu banyak memberikan dua karunia!! Gambar di adegan saat sang heroine tersenyum sambil menangis, selain ekspresinya sempurna, aku pikir cara penggunaan cahayanya adalah puncak dari keemosionalan!! Aku beneran terselamatkan oleh karya Sensei. Aku bakal mengikuti Sensei seumur hidup, jadi mulai sekarang pun tolong jaga kesehatan dan

teruslah melahirkan karya-karya dewa!!』

 

"Himegi-san, sepertinya kamu bakal mengikutiku seumur hidup ya?"

 

"…………"

 

Aku mencobanya dengan bertanya sambil bercanda, tetapi Himegi-san berada dalam kondisi linglung.

"……Eh, beneran……? Eh, skenario emosional itu, semuanya ditulis oleh Takahashi-kun……?"

 

"Benar."

 

"Gambar dewa itu juga?"

 

"Benar."

 

"…………"

 

Himegi-san membuka mulut lebar-lebar, lalu seluruh tubuhnya mulai gemetar hebat.

 

"Anu…… Adegan di awal skenario terbaru di mana sang tokoh utama sengaja menjadi orang jahat dan mengatakan hal yang dingin, aku berpikir jantungku mau copot gara-gara terlalu menyakitkan…… Terhadap hal itu adegan di mana sang heroine mengatakan 'Benci banget', padahal melontarkan kata-kata makian, tapi di gambarnya dia terus menyentuh kalung murah yang didapatkan dari sang tokoh utama, aku berpikir kalau itu adalah kejeniusan……"

 

Entah kenapa Himegi-san mulai bergumam menyuarakan kesannya tentang gim, lalu secara tiba-tiba dia ambruk di tempat dan mengambil posisi bersujud.

 

"──Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah meragukanmu!!"

Himegi-san mengecilkan tubuhnya, lalu meminta maaf dengan volume suara yang bahkan membuat penghuni 3 rumah di sebelahnya bakal menoleh.

 

"Himegi-san, angkat kepalamu!"

 

“Tidak!! Padahal aku mengaku sebagai penggemar berat karyamu, tapi sampai tidak menyadari aura Sensei... aku benar-benar merasa bersalah sekali!!”

 

"Aura semacam itu tidak ada kok! Kalau teman sekelas mendadak bilang 'Sebenarnya akulah si Takaharu itu', wajar saja kalau tidak percaya!"

 

"Tapi, padahal aku berkunjung setelah mengetahui kalau Takaharu-sensei tinggal di rumah ini……!!"

 

"Kalau itu……"

 

Memang situasi yang sulit untuk membela sih.

 

"Pokoknya, berdirilah. Bersujud di depan genkan oleh teman sekelas itu hal yang sangat tidak kuinginkan."

 

“──!! Ma, ma, maaf!! Aku malah menambah ketidaksopanan di atas ketidaksopanan!!”

 

Himegi-san mengatakannya seperti berteriak, lalu segera berdiri untukku.

 

Begitu kupikir begitu, dia menatap wajahku lekat-lekat.

 

"……Haa…… Ini wajah mulia Takaharu-sensei……"

 

"Bukankah kamu  setiap hari juga melihatnya."

 

"Kalau itu memang benar sih…… ……Beneran, Takahashi-kun itu

pembuat 『Houkago Jihen』 ya……"

 

Setelah mengatakannya dengan serius, Himegi-san mengajukan pertanyaan dengan heran.

 

"Tapi, kenapa dirahasiakan di sekolah?"

 

"Kenapa…… maksudnya?"

 

"Di kelas kan lumayan banyak orang yang membicarakan 『Houkago Jihen』 kan? Seperti tepat setelah skenario tambahan dirilis. Kalau pada saat itu kamu bilang 'Gim itu aku yang buat lho', bukankah kamu bisa jadi orang populer?"

 

"Ah─…… Hal semacam itu, aku tidak tertarik sih."

 

Itu adalah alasan formal, sebenarnya setiap kali aku selalu membayangkan apa yang akan terjadi jika aku mengaku.

 

Meski begitu, karena risiko saat identitas terbongkar terlalu besar, aku menahannya. Bagaimanapun juga, di dalam rekening perusahaanku ada uang sejumlah ratusan juta. Walau tidak menaruh uang tunai di rumah, saat informasinya bocor, kemungkinan kemasukan perampok tidak bisa dibantah.

 

Karena itu, kebutuhan akan pengakuan kupuaskan dengan mencari tanggapan di SNS, sementara di dunia nyata aku bertekad untuk tidak pamer.

 

"Tolong usahakan agar kenyataan bahwa aku adalah Takaharu tidak sampai ketahuan di sekolah. Karena bakal jadi berbagai hal yang merepotkan."

 

"Mengerti……!!"

 

Himegi-san mengatakannya dengan nada bicara yang formal, lalu membungkukkan badan dalam-dalam.

 

"Sekali lagi, tolong maafkan berbagai pernyataan ketidaksopanku……!!"

 

"Tidak, aku tidak memikirkannya, jadi tolong lupakan saja."

 

Lagipula, karena Himegi-san sangat cantik, bahkan saat dia meragukanku pun situasinya terasa cukup menghibur.

 

Diremehkan oleh gadis yang luar biasa cantik, lalu setelahnya dimintai maaf, itu juga sebuah kesenangan tersendiri.

 

"Anu…… Lalu kalau begitu…… Kembali ke pembicaraan awal, apakah boleh jika mulai hari ini aku diperbolehkan menjadi sekretaris Sensei……?"

Dia mengajukan pertanyaan dengan raut wajah yang sangat sungkan, tetapi aku menggelengkan kepala.

 

"Agak sulit untuk mengatakannya, tetapi mempekerjakan Himegi-san itu adalah keputusan sepihak dari ibuku. Karena itu, aku ingin kamu pulang saja untuk hari ini."

 

"Eh……!? Apakah itu berarti, aku tidak diterima karena aku telah bersikap tidak sopan!?"

 

"Bukan, bukan karena hal seperti itu, melainkan sejak awal aku memang tidak berniat mempekerjakan sekretaris."

 

Saat kusampaikan hal itu, Himegi-san mengernyitkan alis tipisnya dengan raut wajah kebingungan.

 

"Tolonglah, Sensei. Berikan aku kesempatan untuk menebus dosa yang telah kulakukan."

 

"Tidak, kamu tidak melakukan hal yang sampai bisa disebut dosa kok. Dan maaf, tapi aku memang tidak membutuhkan sekretaris, jadi──"

 

"Apakah benar-benar begitu?"

 

Himegi-san menatap mataku lurus-lurus, lalu langsung mendekat.

 

Wajah yang luar biasa indah itu mendekat hingga berada tepat di depanku, membuatku gugup dan serba salah.

"Koridor ini, kardus-kardusnya menumpuk tinggi, kan? Apakah karena sibuk, sampai-sampai tidak sempat merapikannya?"


"……Ini buku dan gim yang kupesan secara online. Karena tidak perlu segera mengeluarkannya, aku berpikir untuk merapikannya setelah pekerjaan agak senggang──"

 

"Dengan kata lain, karena sibuk jadi tidak sempat merapikannya kan! Kalau begitu aku pikir kamu memang butuh sekretaris!"

 

"……Merapikan barang itu, memangnya pekerjaan sekretaris ya?"

 

"Tentu saja! Memberikan segala bentuk support untuk sang pemberi kerja adalah tugas seorang sekretaris!"

 

"Begitu ya……"

 

Jujur saja, kardus-kardus yang ada di sini dari dulu memang selalu mengganggu pikiranku, jadi kalau dia mau merapikannya tidak ada alasan untuk menolak.

 

Kalau dipikir-pikir, penyebab utamanya adalah tidak adanya penyampaian informasi dari ibuku. Karena pihakku juga ada salahnya, kali ini biarlah aku mengalah. Lalu kalau perapiannya sudah selesai, tinggal cari-cari kesalahan pada hasil pekerjaannya lalu dipecat

saja.

 

"Baiklah. Kalau begitu, tolong rapikan kardus-kardus yang ada di sini ya. Karena ada barang yang berat juga, aku pikir bakal berat sih──"

 

"Tidak perlu khawatir! Aku percaya diri dengan ketahanan fisikku kok!"

Karena dia sudah membusungkan dada dan berucap tegas, aku berhenti mengkhawatirkannya. Aku membawa laptop kembali ke ruang tamu, lalu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan.

 

Namun, aku hampir tidak bisa fokus sama sekali. Jika kecepatan kerja biasaku dianggap 100, hari ini cuma sekitar 5. Dengan kata lain, 95 persen dari pikiranku dikuasai oleh pikiran-pikiran yang mengganggu.

 

Gadis yang luar biasa cantik dari teman sekelas sedang melakukan pekerjaan di genkan. Apa-apaan situasi ini……

 

☆ ☆

 

Sekitar 20 menit kemudian. Karena suara kegaduhan merapikan barang sudah tidak terdengar lagi, begitu aku keluar ke koridor, Himegi-san sedang menyapu dan mengepel koridor dengan kain lap yang tampaknya dia bawa sendiri.

 

"──Ah, Sensei. Merapikan barangnya sudah selesai. Semua kardus sudah dibongkar, lalu diikat silang menggunakan tali plastik. Bahan kemasan sudah dipilah sesuai jenis bahannya dan disatukan. Buku-buku yang ada di dalam kardus semuanya sudah dimasukkan ke rak buku di koridor. Karena sepertinya disusun berdasarkan urutan nama pengarang per label penerbit, aku menyimpannya mengikuti aturan tersebut. Perangkat lunak gim disusun berdasarkan urutan gojūon untuk setiap perangkat keras, jadi kusimpan seperti itu."

 

Sempurna. Cara menyimpannya pun sesuai dengan dugaan Himegi-san, sampai-sampai tidak ada celah untuk memberi komplain.

Rencananya aku mau menyuruhnya pulang secara asal-asalan, tapi pikiranku berubah. Sekretaris mungkin terasa praktis juga.

 

"……Bagaimana? Kalau ada ketidakpuasan pada pekerjaanku, aku bakal menyerah untuk menjadi sekretaris sih……"

 

"Tidak, aku pikir ini luar biasa. Kamu sudah melakukan pekerjaan melebihi dari apa yang kuharapkan."

 

"Kalau begitu──"

 

"Hanya saja, merapikan kardus bukanlah tugas yang sering terjadi. Karena itu, bisakah aku meminta pekerjaan lain dilakukan, lalu melihatnya dan memberikan penilaian setelahnya?"

 

"Tentu saja!"

 

Himegi-san yang tadinya terlihat cemas kini mengukir senyum cerah.

 

Kalau begitu, aku akan langsung memberinya pekerjaan lain──pikirku, lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benakku.

 

"Sekretaris itu, secara spesifik bakal melakukan pekerjaan seperti apa ya?"

 

"Kalau dari hal-hal mendasar, hal seperti manajemen progres pekerjaan, mewakili surel dan telepon, serta membantu mengatur informasi dan membuat dokumen."

"Detail sekali ya. Jangan-jangan, kamu punya pengalaman menjadi sekretaris di masa lalu?"

 

"Mana mungkin ada. Setelah mendapat tawaran ini, aku mempelajari berbagai macam hal kok."

 

Begitu ya. Artinya dia datang dengan persiapan yang sepadan. Kalau begitu, aku bisa memahami kenapa dia tetap bersikeras meskipun hampir ditolak mentah-mentah.

 

"Lalu, mengenai isi pekerjaan, aku diminta oleh ibu Sensei untuk membantu pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan membersihkan rumah."

 

"Ah, kalau itu sangat membantu."

 

Karena kalau tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga, aku bisa menambah waktu untuk bekerja sebanyak itu.

 

"Kalau begitu, tolong siapkan makan malam ya. Untuk menunya kuserahkan padamu."

 

"Mengerti. Lalu, hari ini adalah hari ulang tahun Sensei kan? Boleh aku siapkan kue juga?"

 

"Tidak, tidak perlu."

 

"Eh? Kamu tidak suka makanan manis?"

"Bukan karena hal seperti itu sih, hanya saja sejak awal aku memang tidak berniat merayakan ulang tahun."

 

"? Padahal hari ulang tahun yang berharga?"

 

“Memangnya ulang tahun itu sepenting itu? Kalau untuk bisa sampai ke hari ulang tahun harus berusaha keras, mungkin lain cerita. Tapi selama masih hidup, usia juga akan bertambah dengan sendirinya. Jadi, menurutku, tidak ada alasan khusus untuk merayakannya……”

 

"Penting tahu! Habisnya kalau Sensei tidak terlahir, 『Houkago Jihen』 juga tidak akan ada di dunia ini kan!"

 

Himegi-san mendadak jadi berapi-api, lalu mendesak mendekat dengan gencar.

 

"16 tahun lalu pada hari ini, seorang dewa telah lahir, jadi rasanya tidak berlebihan kalau sampai dibuat sebuah nama zaman baru yang menjadikan hari itu sebagai awal penanggalannya!"

 

"Bukannya ini malah jadi seperti agama ya?"

 

"Itu artinya aku begitu jatuh cinta pada karya Sensei! Maksudku, demi hari ini aku sudah menyiapkan berbagai macam hal selama beberapa hari, jadi izinkan aku merayakannya dengan kue!"

 

"Eh, benarkah begitu?"

"Benar sekali. Makanya jika ditolak oleh Sensei, setelah pulang ke rumah aku memutuskan untuk menggelar festival kelahiran Sensei secara pribadi!"

 

"……Karena membayangkannya terasa cukup menakutkan, kalau memang begitu alasannya, tolong siapkan kuenya juga."

 

Sambil merasa sedikit cemas pada Himegi-san yang menjadi sekretaris, aku menyampaikan hal itu padanya.

 

☆ ☆

 

Himegi-san yang pergi berbelanja ke supermarket terdekat, kembali setelah sekitar 30 menit. Kemudian setelah memakai celemek di atas seragamnya, dia mulai membuat hamburg dan salad.

 

Aku diam-diam memperhatikan gerak-geriknya sambil mengetik di kibor.

 

Di dapur rumah yang kutempati sendirian, Himegi-san sedang menyiapkan makan malam. Pemandangan yang terlalu tidak realistis sampai-sampai otakku rasanya mau error.

 

Ini, beneran bukan mimpi kan……? Rasanya hanya bisa dianggap sebagai halusinasi yang terlalu menguntungkan saja……

 

Saat itu, mendadak Himegi-san mendongakkan wajahnya, dan mata kami pun saling bertatapan.

Aku mengira ketahuan sedang mengintip, tetapi Himegi-san tersenyum dengan lembut.

 

"Apakah kamu cemas kalau aku bakal gagal? Kalau memasak aku selalu melakukannya kok, jadi tenang saja."

 

Terselamatkan. Berkat sikapku yang terlihat curiga, aku tidak dikira sedang terpesona melihatnya.

 

"Karena dari keluarga orang tua tunggal, ibu selalu pulang larut malam. Makanya aku bisa melakukan pekerjaan rumah tangga secara umum."

 

"Be, begitu ya."

 

Aku membalas dengan suara yang seperti dipaksakan keluar. Jika dilihat setelah dikatakan begitu, gerakannya memang lumayan cekatan.

 

Firasatku mengatakan bahwa hari ini aku sudah tidak bisa bekerja lagi, jadi aku menutup laptop dan mencoba mengobrol dengan Himegi-san.

 

"Anu, tadi aku memang sempat bicara seolah-olah akulah yang berhak menentukan apakah kamu layak menjadi sekretaris atau tidak. Tapi rasanya tidak adil kalau Himegi-san juga tidak diberi kesempatan untuk menilai apakah aku layak menjadi atasanmu, kan?."

 

"Heh……? Ah, tidak, tidak, hal seperti itu tidak diperlukan kok."

 

Himegi-san dengan raut wajah panik menghentikan tangannya yang sedang mencincang halus bawang bombai.

"Asalkan bisa menjadi sekretaris Sensei, dalam lingkungan seperti apa pun aku bakal puas kok."

 

"Tidak bisa begitu. ……Lagipula Himegi-san kan dari awal membenciku saat di sekolah kan……?"

 

Saat aku bertanya begitu, Himegi-san terdiam, tak tahu harus menjawab apa.

 

"……Aku tidak akan mengatakan sampai membenci sih, tetapi aku sempat berpikir kalau kamu itu tidak serius dan tidak punya rasa tanggung jawab. Tapi itu karena aku tidak tahu identitas asli Sensei. Tapi karena Sensei mampu menghasilkan karya yang begitu luar biasa, kepribadian seperti apa pun yang kamu miliki, tidak ada masalah sama sekali."

 

"Diberi perlakuan khusus seperti itu juga menyulitkan sih, tetapi untuk sementara, izinkan aku meminta maaf karena sudah membolos saat festival olahraga. Waktu itu, Aku yang menemukan dan melaporkan bug itu.”."

 

"Aku tahu kok. Bug itu, yang menemukan dan melaporkannya adalah aku."

 

"Benarkah begitu!?"

 

"Iya. Mungkin karena aku mengulang save dan load melebihi jumlah yang diperkirakan oleh Sensei, makanya jadi bug."

"Aku sama sekali tidak tahu…… Gimana ya, kita sepertinya harus lebih saling mengenal satu sama lain ya."

 

"Begitu…… ya. Kalau begitu, selanjutnya boleh aku yang bertanya?"

 

"Si, silakan."

 

Aku menjawab sambil bersiap menghadapi pertanyaan berikutnya.

 

"Jujur saja, aku masih belum bisa mempercayainya sih…… Tapi benar-benar Sensei kan pembuat 『Houkago Jihen』 itu……?"

 

"Benar."

 

"Ini mungkin pertanyaan sederhana, tapi kenapa Sensei masih bersekolah di SMA……? Maksudku, berkat itulah aku bisa berbicara dengan Sensei seperti ini, tapi tetap saja rasanya agak aneh……."

 

Pertanyaan Himegi-san sangat wajar. Jika memperhitungkan rasionalitas ekonomi, lebih baik aku tidak usah bersekolah di SMA dan fokus membuat gim saja.

 

"Bagiku sendiri, berhenti setelah lulus SMP pun tidak masalah, tapi karena itu adalah keinginan kuat ibuku, aku akhirnya melanjutkan sekolah, makanya aku lanjut sekolah. Jujur saja, bagiku walau tidak bekerja lagi, sudah dipastikan aku bisa mendapatkan penghasilan seumur hidup pria pada umumnya. Tapi, dia khawatir kalau aku memilih jalan hidup yang sama sekali berbeda dari orang lain, hubungan

dengan masyarakat akan hilang dan aku jadi tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang normal."

 

"Begitu ya…… Kalau orang biasa mungkin akan berpikir, kalau menghasilkan uang sebanyak Sensei, lebih baik hidup bersenang-senang saja."

 

"Aku tidak menghasilkan uang sampai bisa hidup santai sambil bersenang-senang kok."

 

"Benarkah begitu? Tapi, jika menggabungkan edisi kemasan dan edisi unduhan, 『Houkago Jihen』 bukankah sudah menembus total serial 1 juta kopi?"

 

"Iya. Edisi kemasan seharga 1.000 yen, edisi unduhan seharga 500 yen, jadi ini dihitung dari penjualan 1 juta kopi gim yang harga rata-ratanya 750 yen."

 

"Penjualan 750 juta yen dalam 3 tahun……!! Kalau dihitung ulang, angkanya benar-benar luar biasa ya……!!"

Himegi-san menyampaikannya dengan raut wajah tegang.

 

"Meski begitu, karena ada berbagai potongan dari hasil penjualan, bukannya semuanya masuk bulat-bulat ke tempatku. Edisi kemasan memerlukan biaya produksi dan ongkos kirim, serta potongan komisi situs penjualan daring. Edisi unduhan pun terpotong 30 persen untuk komisi platform."

 

"30 persen…… Andaikan meraih penjualan 300 juta yen, berarti 90 juta yen!?"

 

Himegi-san mengeluarkan suara yang hampir berupa jeritan.

 

"Apa-apaan komisi yang keterlaluan itu!?"

 

"Tidak keterlaluan kok. Kalau tidak ada situs semacam itu, sejak awal aku malah tidak akan bisa merilis gimnya."

 

"Tapi…… 90 juta yen itu……"

 

"Selain itu masih terpotong pajak dan lain-lain, jadi jumlah yang akhirnya kuterima menjadi jauh lebih sedikit. Lalu, di antara total 1 juta kopi itu, ada juga yang dijual saat diskon setengah harga, jadi hasil penjualan tidak bisa dihitung sesederhana harga normal × 1 juta kopi. Sekadar informasi tambahan, hasil penjualan ditampung di perusahaan yang kukelola, dan aku menerimanya sedikit demi sedikit setiap bulan dalam bentuk gaji, jadi secara ketat bukan berarti aku yang memegang uangnya."

 

"I-informasinya terlalu banyak sampai-sampai aku tidak bisa mengikutinya……!!"

 

Himegi-san tampak kebingungan. Imutnya.

 

"Tapi, untuk sementara aku paham kalau Sensei itu luar biasa. Ternyata bukan cuma selesai saat membuat gim, penanganan setelah menjualnya juga merepotkan ya……"

"Benar. Malah, prosedur seperti itu justru lebih merepotkan. Karena meminta bantuan konsultan pajak untuk mewakilinya, jadi perlu sering berinteraksi dengan mereka."

 

"Haaa……"

 

"Kamu terlihat kewalahan, tetapi kalau Himegi-san menjadi sekretaris, urusan berinteraksi dengan konsultan pajak dan yang lainnya bakal kuserahkan sepemuhnya padamu lho?"

 

"Ah, be, benar juga ya."

 

"Apakah kelihatan sulit?"

 

"……Aku bakal berusaha."

 

Himegi-san mengatakannya sambil mengepalkan kedua tangannya.

 

"Kalau merasa tidak sanggup, tolong katakan dari sekarang ya. Karena kalau mempekerjakanmu padahal tidak bisa, itu hanya akan membuang-buang waktu kita berdua."

 

"Tidak, aku akan membuktikan kalau aku bisa. ……Setelah diberi tahu sedikit tentang keadaan Sensei yang sebenarnya, keinginanku untuk mendukung Sensei sebagai sekretaris malah semakin kuat."

 

"Baguslah kalau begitu. Terima kasih."

"……Maksudku, harus membuat gim sambil mengurus pekerjaan administratif seperti itu benar-benar berat, ya…… Aku jadi berpikir kalau wajar saja jika Sensei tertidur saat jam pelajaran."

 

"Ugh……"

 

Disinggung mengenai hal yang tidak menguntungkan bagiku, aku memalingkan wajah.

 

"Itu…… Di dalam hati aku tahu kalau aku juga harus belajar, tapi karena terlalu sibuk, aku jadi tidak sempat……"

 

"Karena duduk tepat di kursi belakang, aku tahu betul kok. Sensei cuma punya dua pilihan, mengutak-atik ponsel di bawah meja atau tidur."

 

"……Kemarin dibilang, kalau terus-terusan dapat nilai merah seperti ini, bakal sulit untuk naik ke kelas 2."

 

"Gawat dong kalau begitu! ──Tidak, karena kamu melakukan pekerjaan dengan benar jadi bukan berarti gawat sih…… tapi Sensei ini sulit ditegur ya."

 

Himegi-san menanggapinya dengan nada bingung.

 

"Tapi, coba pikirkan baik-baik. Walau aku sedikit belajar, tidak ada

pengaruhnya bagi masyarakat. Tapi, jika merilis gim baru, puluhan ribu orang akan mengunduhnya, perekonomian akan ikut bergerak, dan aku akan membayar banyak pajak sehingga Jepang menjadi lebih makmur."

"Kalau itu memang benar sekali. Yang paling penting, para penggemar karya Sensei termasuk aku juga akan senang."

 

Himegi-san mengangguk berulang kali, lalu seolah mendadak teringat sesuatu dia berkata.

 

"Omong-omong, dalam menjalankan tugas sebagai sekretaris aku menerima beberapa permintaan dari ibu Sensei, dan salah satunya adalah 'Tolong buat dia belajar pelajaran SMA dengan benar'."

 

"Eh."

 

"Melihat nilai Sensei, dia pasti merasa cemas kalau kamu tidak bisa naik kelas kan."

 

"…………"

 

Suasananya mendadak menjadi agak mencurigakan.

 

Alasan utama ibu mengirimkan sekretaris, pasti yang paling besar adalah hal itu……

 

"Anu, Himegi-san ada di pihakku kan? Kan kamu penggemar karyaku?"

 

"Memang benar begitu, tapi aku bakal merasa sedih kalau sampai tidak bisa bertemu Sensei di sekolah, jadi aku ingin kamu naik kelas dengan benar."

 

"Baik……"

"Dengan kata lain, kalau aku yang mengelola jadwal, tanpa ampun aku bakal memasukkan waktu belajar di dalamnya."

 

Himegi-san mengucapkannya sambil membentuk daging hamburg.

 

Tampaknya sekretaris ini bukanlah sosok yang bakal menuruti semua

keinginanku.

 

☆ ☆

 

Tak lama kemudian Himegi-san mulai memanggang hamburg, dan

begitu kedua sisinya sudah kecokelatan, dia menambahkan saus lalu mulai merebusnya. Aroma yang sangat harum tercium, membuat perutku mendadak merasa lapar.

 

"Sebentar lagi selesai, tapi apakah masih terlalu pagi untuk makan malam? Nanti bisa kupanaskan ulang sih."

 

"Aku ingin memakannya sekarang juga."

 

Menjawab dengan jujur sesuai keinginanku, Himegi-san tersenyum lalu mulai menyajikan makanan ke piring. Aku beranjak dari kursi dan bertanya, “Ada yang bisa kubantu?”, tetapi dia menjawab, “Tolong tetap duduk. Ini pekerjaan sekretaris,” jadi aku kembali duduk.

 

Tak lama kemudian, di atas meja dihidangkan salad sayur segar dan hamburg lezat yang diberi lelehan keju di atasnya.

 

"──Lho? Porsi untuk Himegi-san tidak ada?"

Karena yang disiapkan hanya untuk 1 porsi, aku bertanya dengan kaget.

 

"Aku mau menyiapkan kue ulang tahun setelah ini, jadi makan saja tanpa perlu memikirkanku."

 

"Ah, begitu ya."

 

"Sekadar informasi, karena ada sedikit elemen kejutan, bisakah aku minta agar tidak mendekati dapur sampai kuenya selesai?"

 

"Mengerti."

 

Ada elemen kejutan ya…… Apakah perempuan memang menyukai kejutan ya……

 

"Kalau begitu, itadakimasu."

(Tl/N: ‘Itadakimasu’ artinya selamat makan.)

 

Aku pun mengalihkan pikiranku dan mulai menyantap hamburg tersebut.

 

Saat pisau ditancapkan, sari daging langsung meleleh keluar. Begitu dimasukkan ke dalam mulut penuh harapan, aroma harum dari permukaannya yang dipanggang dan gurihnya sari daging langsung menyebar di mulut. Dagingnya lembut, tetapi memiliki tekstur yang mantap.

 

"──Enak banget!"

Begitu hamburg itu masuk ke mulut dan tekstur serta rasanya mulai terasa, aku langsung berseru. Himegi-san yang sedang bekerja di dapur pun tertawa.

 

"Barusan, begitu masuk mulut langsung berteriak, kan? Padahal belum sempat merasakan rasanya, kan?"

 

"Tidak kok. Begitu masuk mulut, keharuman permukaan yang terpanggang, serta rasa manis dan kekayaan rasa sausnya yang begitu lembut."

 

"Be, begitu ya……"

 

"Dagingnya sangat juicy, dan setiap kali dikunyah, gurihnya memenuhi mulut. Keseimbangan antara saus dan dagingnya terlalu sempurna."

Karena terlalu enak, aku memasukkan hamburg ke dalam mulut secara beruntun.

 

"Aku sampai tidak bisa berhenti menyantapnya. Rasanya bisa makan berapa pun."

 

"Terima kasih banyak……"

 

"Dari semua hamburg yang pernah kumakan sampai sekarang, ini jelas nomor satu.. Kalau membuka kedai pasti bakal jadi kedai yang populer. Bolehkan aku ikut berinvestasi?"

 

"──Sensei, Sensei ini terus saja," ujar Himegi-san sambil tertawa memperingatkanku.

"Karena terlalu banyak dipuji, aku jadi malu, jadi tolong makan saja tanpa banyak bicara."

 

"Maaf-maaf. Tapi, aku tidak ingin membiarkan bakat Himegi-san terpendam begitu saja. Kalau ada kedai makan dengan kualitas seperti ini, aku bakal datang setiap hari.."

 

Hamburg-nya enak, dan pemilik kedainya juga cantik. Kalau ini sih bakal jadi kedai populer yang antreannya tidak pernah terputus saat jam makan siang…… Aku bahkan bisa membayangkan sampai ke tahap

membuka cabang dan sang pemilik kedai tampil sendiri di iklan TV.

 

"Bila perlu, aku bisa keluarkan modal awalnya."

 

"Tidak usah, terima kasih. Jangan-jangan, kamu berniat mengalihkan profesiku jadi pemilik kedai hamburg supaya aku menyerah jadi sekretaris ya?"

 

"Bukan, aku sama sekali tidak ada niat begitu. Tapi kalau hidangan sekelas ini cuma kunikmati sendirian, rasanya aku jadi sungkan."

 

Semestinya begitulah, karena hamburg buatan Himegi-san memang seenak itu.

 

"Fufu, terima kasih banyak. Sebenarnya aku sangat menyukai hamburg, jadi aku sudah banyak merisetnya. Mulai dari keseimbangan saus, rasio bahan-bahan, sampai cara memanggangnya. Makanya karena percaya diri, aku memilihnya sebagai menu hari ini."

 

"Ternyata begitu alasannya ya. Ini jadi hari ulang tahun terbaik buatku."

 

"Sensei selalu saja berlebihan."

 

Himegi-san mengukir senyuman yang polos tanpa beban. Senyumannya terlalu memikat sampai-sampai aku tanpa sadar memalingkan pandangan.

 

Setelah itu, tepat saat aku menghabiskan hamburg dan saladnya,

Himegi-san membawa kue berwarna merah muda dari dapur.

 

"Dengan segala kerendahan hati, aku sudah membuatkan kue untuk merayakan hari ulang tahun Sensei."

 

Himegi-san menyampaikannya dengan raut wajah tegang, lalu menaruh kue itu di atas meja.

 

Itu adalah kue berbentuk mawar yang dibuat dari kerajinan cokelat yang sangat rumit. Cokelat yang menyerupai kelopak bunga menumpuk berlapis-lapis, dengan kualitas yang begitu tinggi sampai sulit dibedakan dari mawar asli..

 

"Luar biasa ya! Ini, Himegi-san yang buat!?"

 

"Iya. Aku sudah menyiapkannya dari rumah, dan syukurlah cokelatnya tidak retak."

 

"Kamu bisa jadi chocolatier profesional lho……! Boleh aku foto?"

"Tentu saja boleh, tapi selain foto, aku juga merekomendasikan video lho."

 

"Video……?"

 

Aku tidak tahu alasannya, tetapi karena Himegi-san terlihat sangat percaya diri, setelah mengambil beberapa foto, aku memutuskan untuk merekam video seperti yang disarakannya.

 

Kemudian Himegi-san membawa teko perak yang baru saja dipanaskan di atas kompor.

 

"Di dalam sini ada saus vanila yang hangat. Kalau ini dituangkan dari atas……"

 

Sambil menjelaskan begitu, Himegi-san memiringkan tekonya.

 

Kemudian saus vanila mengenai cokelatnya, dan karena panasnya,

kelopak bunga perlahan-lahan mekar ke arah luar.

 

Tak lama kemudian, di pusat mawar yang sudah mekar sepenuhnya, sebuah cincin kecil bersemayam anggun di sana.

 

"……Luar biasa banget……!!"

 

Untuk beberapa saat, tidak ada kata lain yang bisa keluar dari mulutku.

 

Membuat kue berbentuk mawar saja sudah pasti sulit, tetapi sampai menyiapkan trik seperti ini juga.

Berapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk persiapan ini ya.

 

Padahal melakukan hal seperti ini tidak akan menambah penghasilannya sebagai sekretaris, tetapi Himegi-san menyiapkannya secara sukarela. Semuanya demi tujuan untuk membuatku senang.

 

Perasaan ingin menghibur dan membuat orang lain bahagia, menurutku

adalah hal yang paling penting dalam membuat hiburan. Makanya aku merasa seperti bertemu dengan kawan seperjuangan hingga aku merasa sangat terkejut dan dadaku terasa hangat.

 

"Karena sudah melakukan simulasi berkali-kali, syukurlah bisa berhasil. ……Sensei, bagaimana menurutmu?"

 

"Dadaku benar-benar berdebar keras. Maksudku ini, bukankah ini cara lamaran ideal yang dikatakan oleh sang heroine di dalam cerita?"

 

"Iya. Aku mencobanya untuk mewujudkannya dalam batasan yang bisa kulakukan."

 

Himegi-san membalas dengan senyum lebar, dan aku gemetaran karena kegembiraan.

 

"Aku benar-benar sangat tersentuh. Antusiasme Himegi-san benar-benar luar biasa…… Rasanya aku ingin meninju diriku sendiri yang tadi sempat bilang bahwa aku tidak membutuhkan sekretaris."

 

"Ini sih lebih ke tindakan sebagai penggemar daripada sekretaris ya."

"Tapi, ini sangat berguna sebagai referensi buatku. Saat tokoh utama melamar di dalam cerita nanti, aku berniat menjadikan video tadi sebagai referensi."

 

"──Eh!? Mau ada lamaran!?"

 

Himegi-san mendadak berteriak melengking.

 

"Kapan!? Di skenario tambahan berikutnya!?"

 

"Tidak, aku masih belum berniat membuat mereka melamar kok. Kalau melakukan itu, ceritanya bakal tamat dong."

 

"──B, benar juga ya. Aku kaget karena mengira kena spoiler mendadak."

 

Himegi-san menepuk dadanya sambil mengatur napas.

 

Namun, entah kenapa, dia kemudian menatapku penuh harapan.

 

"Ngomong-ngomong, Sensei. Bagaimana masakan buatanku? Karena sudah dipuji sejauh ini, apakah boleh kalau aku menganggap sudah diterima sebagai sekretaris?"

 

"……Benar juga ya."

 

Jujur saja, pada saat melihat kue ini, jawabanku sudah diputuskan.

 

Lagipula, keahlian memasak Himegi-san begitu luar biasa hingga aku malah ingin mempekerjakannya sebagai koki. Padahal sebagai sekretaris dia juga mau melakukan pekerjaan lain, jadi aku tidak menemukan satu pun alasan untuk menolak.

 

"Dengan senang hati, mulai hari ini selama 1 bulan, aku ingin kamu bekerja sebagai sekretaris. Dengan mendapatkan dukungan dari Himegi-san, aku ingin membuat karya yang lebih bagus lagi dari sebelum-sebelumnya. Mohon bantuannya."

 

"Terima kasih banyak……! Saya juga mohon bantuannya……!"

 

Setelah mengatakannya dengan penuh haru, Himegi-san mengukir senyuman yang bebas tanpa beban.

 

"Bisa menjadi sekretaris dari orang hebat seperti Sensei, merupakan kehormatan yang luar biasa. Aku akan berusaha sekuat tenaga."

 

"Tidak, tidak, aku ini tidak hebat sama sekali kok."

 

"Tapi, total 1 juta kopi itu bukankah sangat luar biasa?"

 

"Kalau hal itu memang benar sih……"

 

Jujur saja, bisa mengeluarkan karya yang menjadi hit besar di gim indie seperti itu, bahkan aku sendiri merasa itu hal yang luar biasa. Kalau disuruh mengulanginya sekali lagi, aku tidak yakin bisa melakukannya.

 

Makanya di sini mari bersikap rendah hati saja.

 

"Bisa meledak itu cuma karena beruntung saja. Karya-karya lain yang kukeluarkan sebelum ini sama sekali tidak laku."

 

"Benarkah begitu? Omong-omong, sampai sekarang sudah berapa gim yang kamu rilis? karya-karya lamamu sepertinya sudah tidak dirilis lagi, ya?"

 

"Benar juga ya…… Anu…… berapa buah ya……?"

 

"Sampai tidak bisa tahu secara instan, berarti ada banyak sekali ya."

 

"Yah…… karena aku sudah membuatnya sejak kelas 2 SD."

 

"Itu juga luar biasa ya. Kalau aku, waktu kelas 2 SD pikiranku cuma penuh dengan urusan sekolah dan bermain saja."

 

"Bagiku, membuat gim adalah kegiatan yang paling menyenangkan…… Tentu saja, awalnya aku dibantu oleh orang tua. Setelah pulang sekolah, aku mencicil pengerjaannya, lalu pada hari Sabtu dan Minggu aku meminta orang tua meninjau hasilnya…… Karya pertamaku memakan waktu sekitar tiga bulan untuk diselesaikan. Aku membuat sebuah RPG yang dapat ditamatkan dalam waktu sekitar satu jam, lalu kurilis."

 

"Apakah yang itu tidak meledak?"

 

"Sayangnya tidak. Tapi karena jadi paham semacam trik dalam membuat gim, dari karya ke-2 dan seterusnya pada dasarnya kubuat sendirian. Lalu di karya ke-4 untuk pertama kalinya aku mencoba gim action, dan walaupun menurutku sendiri hasilnya sampah banget, tapi gara-gara terlalu kacau itu jadi bahan pembicaraan dan dijadikan mainan oleh netizen."

 

"Mainan?"

 

"Semacam meme internet kecil-kecilan…… Rasanya seperti

diremehkan."

 

"Pasti berat ya."

 

"Benar, pada masa-masa awal terasa menyakitkan. Tapi hasilnya ada banyak orang yang memainkannya, dan ada banyak juga orang yang memuji kalau bisa membuat ini saat SD itu luar biasa, makanya aku jadi makin tenggelam dalam pembuatan gim. Dari situ popularitasku sebagai pembuat gim perlahan-lahan naik, hingga akhirnya 『Houkago Jihen』 bisa meledak."

 

"Kerja kerasmu akhirnya terbayarkan ya."

 

"Iya. Jadi kalau dibilang aku punya bakat, mungkin karena aku pantang menyerah ya. Karena meski kemungkinan meledaknya rendah, kalau tidak melakukan apa-apa kemungkinan suksesnya kan nol."

 

Saat aku bercerita begitu, mata Himegi-san berbinar-binar.

 

"Sensei memang orang yang luar biasa. Meski mengalami kegagalan tidak lantas merajuk, dan meski sukses tidak lantas sombong, serta terus melanjutkan usaha telaten setiap hari. Itu bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah."

Himegi-san mengatakannya sambil mengarahkan tatapan mata penuh rasa hormat.

 

Aku sebenarnya berniat agar tidak dinilai terlalu tinggi, tetapi sepertinya aku malah diharapkan ke arah yang berbeda.

 

"Aku akan mengerahkan seluruh tenaga supaya Sensei bisa bekerja dengan nyaman. ……Omong-omong, bantuan seperti apa yang kamu inginkan dariku? Contohnya mulai besok apakah kamu ingin aku datang untuk membuatkan sarapan, atau membuatkan bekal untuk makan siang?"

 

"Eh? Sekretaris itu sampai mau melakukan hal sebanyak itu?"

 

"Aku tidak tahu bagaimana dengan sekretaris lain, tetapi aku akan melakukannya."

 

"Begitu ya……"

 

Ditawari sarapan merupakan tawaran yang cukup menarik.

 

Soalnya aku jadi bisa bekerja sampai pas sebelum berangkat sekolah.

 

Meski begitu, aku merasa beban Himegi-san bakal terlalu besar.

 

"Anu, kalau sarapan tidak apa-apa tidak usah, jadi aku minta dibuatkan bekal saja. Untuk isi lauknya kuserahkan padamu."

 

Aku memutuskan untuk jujur pada hasratku setengahnya saja.

"Mengenai isi tugas lainnya, akan kupikirkan sampai besok. Seharusnya hal ini sudah kurangkum hari ini, tetapi karena tidak diberitahu oleh ibu, aku minta maaf."

 

"Tidak, sama sekali tidak apa-apa. Sekali lagi, mohon bantuannya mulai besok."

 

Himegi-san mengatakannya sambil menundukkan kepala dengan hormat.

 

☆ ☆

 

Setelah itu, Himegi-san berencana pulang setelah selesai mencuci peralatan makan.

 

Aku memakai sandal, lalu ikut keluar bersamanya.

 

Langit malam musim gugur terasa jernih, dan bulannya tampak begitu indah.

 

"Kalau begitu Sensei, besok pagi aku akan membawakan bekal ya."

 

"Iya, mohon bantuannya."

 

Saat aku mengangguk memberi salam, Himegi-san melambaikan tangan kecilnya sambil perlahan-lahan makin menjauh. Aku merasa agak malu untuk melambaikan tangan balik, jadi aku hanya berdiri terpaku, memandangi punggungnya hingga dia pergi.

Tak lama setelah Himegi-san tak terlihat lagi, aku merasakan kesedihan seperti baru saja terbangun dari mimpi yang menyenangkan. Rasanya seolah-olah keberadaan Himegi-san di rumah hari ini hanyalah khayalan belaka.

 

Namun saat kembali ke ruang tamu, aroma hamburg tercium.

 

Aku berdiri terpaku di tempat itu untuk beberapa saat, mengingat kembali momen saat karyaku dipuji oleh Himegi-san. Karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan penggemar yang seantusias itu, rasanya aku bisa berlama-lama menikmati perasaan yang masih membekas ini.

 

Akan tetapi, aku mendadak sadar kembali dan memaksa diriku untuk mengalihkan pikiranku.

 

Saat ini, masih ada pekerjaan yang belum selesai karena aku mengobrol dengan Himegi-san. Aku harus segera mulai bekerja sekarang juga.



Prolog 2 | ToC | Chapter 2

Post a Comment

Post a Comment

close