NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Chapter 6

Bab 6: Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Mulai Mendominasi Kelas


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

Bagaimana ini? Begitu diserahi tugas sebagai pemimpin proyek, Sensei malah mulai menunjukkan kehebatannya tanpa tanding.

 

Sejujurnya, aku merasa bangga karena akhirnya semua orang bisa mengetahui sosok Sensei yang sebenarnya.

 

Selain itu, kalau membuat sesuatu yang berkaitan dengan gim, jika diserahkan pada Sensei sudah tidak diragukan lagi bakal menghasilkan karya berkualitas tinggi.

 

Tapi kalau begitu, beban Sensei bakal terlalu besar. Saat ini dia sedang membuat skenario tambahan 『Houkago Jihen』, aku tidak ingin menyita waktunya.

 

Meski begitu, begitu Sensei menjadi pemimpin proyek, pembahasan festival budaya langsung maju pesat dalam sekejap. Hal seperti ini cuma bisa membuatku makin menghormatinya, dan aku tidak berpikir ada orang lain yang sanggup mengoordinasikannya.

 

Ah, pikiranku jadi tidak karuan. Berbagai pergolakan batin yang tak terhitung jumlahnya melintas di dalam kepala, tumpang-tindih bercampur aduk di dalam dada.

"──Kalau begitu, untuk pembagian tugasnya mohon dilakukan seperti ini ya. Kalau ada masalah, tidak apa-apa jika disampaikan mulai besok dan seterusnya. Lalu untuk tim pemikir misteri dan tim dekorasi ruangan, sebisa mungkin tolong ajukan ide lebih awal, dan bagikan secara berkala di grup chat kelas ya."

 

Sensei membedah tugas-tugas yang dibutuhkan dengan kecepatan bak superhuman, lalu meminta pekerjaan sesuai dengan keunggulan masing-masing murid. Benar-benar jenius.

 

Dengan begini, setelah masing-masing diberikan tugas rumah, jam wali kelas hari ini pun berakhir dan masuk ke waktu pulang sekolah.

 

Saat sedang bersiap-siap pulang, anak-anak cewek di kelas sambil piket

membersihkan ruangan terdengar sedang membicarakan rumor tentang Sensei.

 

"Takahashi-kun, bukankah jalan pikirannya terlalu cepat?"

 

"Kan? Aku tidak menyangka dia pintar sampai sejauh itu."

 

"Hampir semuanya dia putuskan sendiri, dan dia kelihatan seperti orang yang bisa diandalkan ya."

 

"Sudah mirip orang dewasa."

 

Emm, emm. Tentu saja, tentu saja dong.

 

Sensei kami ini levelnya sudah beda jauh dibanding anak SMA sembarangan.

 

Mendengar kesan-kesan dari mereka, aku merasa sangat bangga.

 

Tanganku yang sedang merapikan barang terhenti, dan aku fokus menyimak percakapan mereka.

 

Meski begitu, gara-gara kejadian kali ini, semua orang jadi mulai menyadari pesona Sensei. Kalau terus begini, jangan-jangan dia malah jadi populer, bagaimana dong……

 

Tidak, bukannya aku tidak suka kepopuleran Sensei meningkat. Hanya saja, aku ingin menghindari bertambahnya saingan.

 

Lagipula, apakah Sensei punya gadis yang sedang dipikirkan ya……?

 

Di kelas aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan siapa pun, tetapi jangan-jangan ada orang yang diam-diam dia sukai……?

 

Saat sedang memikirkan hal-hal yang tak ada ujungnya itu, waktu sudah makin sore. Aku mengganti sepatu di loker, lalu seperti biasa menuju ke rumah Sensei dan menekan bel pintunya.

 

"Sensei, aku benar-benar minta maaf. Sampai-sampai harus menyerahkan pekerjaan merepotkan seperti pemimpin proyek padamu……"

 

Begitu Sensei menyambutku, hal pertama yang kulakukan adalah meminta maaf.

 

"Dalam situasi seperti itu, tidak ada pilihan selain memintanya padamu kan……"

 

"Sama sekali tidak apa-apa kok. Lagipula ini tergolong bidang keahlianku, jadi tidak bakal jadi beban sejauh itu kok."

 

Sensei mengatakannya sambil tersenyum. Padahal waktu kerjanya yang berharga terpotong, tetapi fakta bahwa dia mau berkata seperti ini membuktikan kalau dia memang baik hati.

 

Setidaknya dengan melakukan pekerjaan sebagai sekretaris, aku harus memberikan dukungan pada Sensei lebih dari sebelum-sebelumnya.

 

Setelah membulatkan tekad, aku pun segera mulai membersihkan rumah. Aku masuk ke kamar Sensei, lalu mengeluarkan penyedot debu tanpa kabel dari lemari.

 

Saat itu, tanpa sengaja aku melirik ke arah rak buku, dan mataku tertuju pada banyak album foto idola yang terselip di sana.

 

Aku menaruh sebentar penyedot debu, lalu mengambilnya dan membuka-bukanya secara sekilas.

 

Semuanya memang ditujukan untuk semua umur, tetapi banyak juga yang menampilkan foto dengan pakaian yang cukup terbuka seperti baju renang atau hanya berbalut selembar handuk mandi. Mereka semua punya penampilan yang bagus.

 

"……Sensei juga punya hasrat seperti itu ya……"

 

Dengan perasaan yang campur aduk, aku melanjutkan melihat-lihat album foto tersebut. Dari situ, aku baru menyadari bahwa semua idola yang dipilih Sensei ternyata tipe imut, dan tidak ada satu pun yang bertipe cantik.

 

Karena tipe mereka berbeda denganku, entah kenapa dadaku terasa sedikit nyeri

 

Tanpa sadar, aku malah sibuk memeriksa selera Sensei. Padahal, baru saja aku bertekad untuk mendukung Sensei lebih dari sebelumnya……

 

Tapi sebagai sekretaris, memahami selera atasan kan memang dibutuhkan. Aku membuat alasan atas terbuangnya waktu tadi

entah pada siapa.

 

Setelah itu, aku membersihkan ruang kerja, kamar tidur, lalu tangga. Saat masuk ke ruang tamu, Sensei memanggilku.

 

"Maaf, bisakah bantu aku mengambil foto sebentar?"

 

Aku mematikan penyedot debu lalu bertanya balik.

 

"Mengambil foto?"

 

"Iya. Karena mau menggambar ilustrasi baru untuk heroine, aku ingin mengambil foto untuk dijadikan referensi. Aku yang bakal jadi modelnya, jadi tolong pegang kameranya ya."

 

"AAh, begitu ya. Kukira hal seperti itu digambar hanya berdasarkan imajinasi."

 

"Struktur tubuh manusia itu rumit, jadi kalau menggambar pakai bayangan bakal muncul kesan ganjil."

 

Sambil memberikan penjelasan, Sensei menyerahkan ponsel yang sudah menyalakan kamera padaku.

 

"Latar belakangnya adalah laut, dan adegan di mana heroine menyodorkan botol plastik ke arah sang tokoh utama. Aku bakal bergerak sedikit demi sedikit, jadi coba ambil foto dari berbagai komposisi ya."

 

Setelah memberikan penjelasan singkat, sambil mengarahkan minuman olahraga ke kamera, Sensei mengubah posisinya sedikit demi sedikit.

 

Rasanya dia agak malu-malu. Imutnya.

 

Aku yang diserahi tugas mengambil foto berpikir betapa luar biasanya

pekerjaan ini. Sambil menekan tombol jepret, aku beberapa kali menyarankan posisi seperti, "Bagaimana kalau tatapan matanya dibuat agak mendongak sedikit?".

"Terima kasih. Biasanya aku memasang kamera di satu titik lalu mengambil foto sendirian, jadi dibantu Himegi-san benar-benar mempermudah pekerjaanku."

 

Setelah selesai mengambil foto dan mengembalikan ponselnya, Sensei menyampaikan terima kasih.

 

Di situ aku memberanikan diri melontarkan usulan.

 

"Sekadar informasi saja, kalau dijadikan referensi ilustrasi heroine, bukankah modelnya lebih baik wanita? Laki-laki dan wanita kan punya perbedaan dalam bentuk tubuh maupun sudut tekukan sendi, kan."

 

Kemudian, Sensei menggaruk pipinya dengan raut wajah serba salah.

 

"Emm…… Memang benar mengambil foto wanita itu yang paling ideal sih, tapi kan aku tidak punya orang yang bisa dimintai tolong jadi model……"

 

"Di sini kan ada."

 

Aku menunjuk ke arah diriku sendiri.

 

Sensei tertegun dengan mulut terbuka

 

"Eh……? Kamu mau melakukannya……?"

 

"Tentu saja. Kan aku sekretaris."

 

"Be…… Kalau begitu tolong ya."

 

Setelah hampir mengatakan sesuatu, Sensei mengarahkan kameranya.

 

Aku memegang botol plastik, mengingat kembali posisi yang dilakukan Sensei tadi, lalu melakukan gerakan yang mirip.

 

Meski tadi aku langsung menyanggupinya, mengambil posisi di depan kamera ternyata cukup memalukan. Apalagi setelah ini Sensei bakal menggambar ilustrasi dengan menjadikan fotoku sebagai referensi. Aku harus terlihat sebaik mungkin di foto.

 

"Fotonya bisa terambil dengan sangat bagus lho. Terima kasih banyak ya."

 

Sambil melihat folder foto, Sensei menyampaikan terima kasih berulang kali.

 

Lalu di situ, sebuah keraguan kecil melintas di kepalaku.

 

"Omong-omong tadi kamu bilang latar belakangnya adalah laut kan? Apakah pakaian heroine-nya adalah seragam?"

 

Kemudian, Sensei kembali menunjukkan raut wajah canggung.

 

"……Bukan, baju renang. Soalnya yang begitu lebih laku."

 

Padahal aku tidak bermaksud menyalahkannya, tetapi entah kenapa

Sensei mengatakannya seperti sedang membuat alasan.

Dengan kata lain saat menggambar ilustrasi, Sensei bakal memvisualisasikan penampilanku yang mengenakan baju renang ya……

 

"Penampilan saat memakai baju renang, apakah bisa digambar dengan bagus hanya berdasarkan imajinasi?"

 

"Pada dasarnya, aku mencari foto dengan pose yang mirip dari berbagai referensi, lalu menjadikannya acuan."

 

"Referensi, ya……"

 

Secara refleks, aku teringat kembali pada album foto idola yang kulihat tadi.

 

Jangan-jangan, tubuh para idola itu akan ditempelkan pada bagian bawah leherku……

 

Tentu saja aku tahu bukan begitu maksudnya. Sensei hanya akan menggunakan bagian-bagian tertentu sebagai referensi.

 

Tapi entah kenapa, rasanya sungguh memalukan.

 

"……Kalau boleh, bagaimana kalau aku berganti memakai baju renang saja?"

 

"──Eeeeeh!?"



Chapter 5 | ToC | Chapter 7

Post a Comment

Post a Comment

close