Bab 7: Sekretaris Cantikku Bersedia Menjadi Model Baju Renang
(Sudut Pandang
Siswa SMA Berkemampuan Tinggi)
Mendadak Himegi-san mengatakan ingin
memakai baju renang.
Seberapa total dia dalam menjalankan
pekerjaan sebagai sekretaris……?
Bukan, kalau soal selalu mengerahkan
seluruh tenaga
sih aku sudah tahu, tapi sampai mau
memakai baju renang juga……?
Jangan-jangan, karena aku akhirnya
menjadi pemimpin proyek gim escape room pemecahan misteri, dia jadi merasa
bertanggung jawab kan……?
"Bagaimana? Kalau aku yang jadi
modelnya, apakah bakal membantu?"
Di saat aku sedang panik, Himegi-san
berusaha melanjutkan pembicaraan.
Jujur saja usulan ini hanya ada
keuntungan bagiku, tapi supaya tidak menimbulkan masalah nantinya, sebaiknya
aku memintanya untuk tenang dulu.
"Anu, kamu nggak perlu sampai
melakukan sejauh itu juga nggak apa-apa kok……?"
"Tapi, mencari posisi yang pas dari
album foto kan memakan waktu yang lumayan banyak kan?"
"Kalau itu…… memang benar sih."
"Kalau begitu, bukankah lebih
efisien kalau aku berganti memakai baju renang lalu mengambil foto? Padahal
begitu, kenapa kamu tidak mau mencobanya?"
"Habisnya, aku tidak ingin kalau
Himegi-san sampai menyesal……"
"Aku tidak bakal menyesal kok.
Maksudku, ini kan gagasanku sendiri kan? Kalau aku merasa sedikit saja tidak
nyaman, memangnya aku akan mengusulkannya?"
"……Memang seperti yang dikatakan
Himegi-san sih."
Padahal niatnya ingin memintanya berpikir
tenang, tetapi aku malah berhasil diyakinkan olehnya.
"Baguslah kalau kamu mengerti. Kalau
begitu, sekarang aku pergi membeli baju renang dulu ya. Apakah ada ketentuan
bentuk atau warnanya?"
"──Eh?
Sampai sengaja pergi membeli?"
"Iya. Karena tahun ini aku tidak
membeli baju renang, jadi pas banget. Mumpung sekarang sepertinya sedang ada
diskon juga."
"Begitu ya…… Kalau begitu, biaya
baju renang biar aku yang keluarkan, jadi minta kwitansinya ya."
"Mengerti. Untuk nama penerimanya
diisi apa?"
"Dikosongkan saja tidak apa-apa.
Kalau ditanyai keterangannya, minta ditulis biaya kostum ya."
Tanpa disadari pengambilan foto baju
renang sudah dipastikan, sambil berpikir begitu aku membalasnya.
"Lalu, baju renang seperti apa yang
sebaiknya kubeli?"
"Baju renang seperti apa ya……"
"Baju renang yang bakal dipakai
heroine kan sudah diputuskan kan?"
"Tidak, aku masih belum memikirkan
apa pun kok. Karena tidak tahu baju renang terbaru seperti apa, rencananya mau
kupikirkan sambil menggambar."
"Ternyata begitu. Kalau begitu
setelah sampai di area penjualan aku bakal mengambil foto lalu mengirimkannya,
jadi nanti kamu bisa membalas dan memilih mana yang bagus?"
"Mengerti. ……Ah tapi, mungkin aku
tidak bisa memutuskannya secepat itu. Soalnya ada pertimbangan dengan karakter
lain juga."
"Tidak apa-apa kok. Aku bakal
bersiap menunggu di area penjualan, jadi pilihlah dengan santai."
"Kalau begitu rasanya tidak enak……
Kalau kamu memberi tahu mau membeli di mana, aku bisa pergi melihat-lihat
duluan, lalu setelah baju renangnya diputuskan aku bakal menghubungi
Himegi-san."
"Kalau begitu, aku malah bakal
menyita waktu Sensei secara sia-sia."
"Lagipula aku kan memang perlu
memikirkan baju renangnya bagaimana, jadi tidak masalah kok. Kalau membuat
Himegi-san menunggu di area penjualan, aku malah bakal panik karena harus
buru-buru memutuskan kan……"
"Ini juga bagian dari pekerjaan
sekretaris, jadi tidak usah dipikirkan sih…… Lagipula, setelah memilihkan baju
renangnya, kalau tidak ada ukuran yang pas buatku kan jadi tidak ada
artinya."
"Ah, ada masalah seperti itu juga
ya……"
Kalau begitu, apakah tinggal menanyakan
ukuran Himegi-san, lalu mencari dari antara yang cocok saja?
Tidak, tapi menanyakan ukuran baju renang
wanita itu bagaimanapun juga gawat kan……
"……Maksudku, bukankah lebih baik
kita pergi membeli baju renang bersama saja?"
Himegi-san berkata seperti bergumam.
Titik buta. Lagipula kalau kami berdua
memang sama-sama pergi ke area penjualan, Kalau begitu, pergi bersama jelas
jauh lebih praktis.
Dengan begini, kami secara mendadak
berakhir pergi ke pusat perbelanjaan yang ada di depan stasiun.
☆ ☆
Di dalam pusat perbelanjaan, terlihat
beberapa murid dari SMA yang sama. Akan tetapi Himegi-san tidak terlalu
memikirkannya, lalu naik eskalator ke atas.
Karena tidak berani berdiri bersebelahan
dengannya, aku membiarkan sisi kanan tetap kosong lalu naik satu anak tangga di
bawah Himegi-san
Mulai sekarang aku bakal memilih baju
renang yang akan dikenakan oleh Himegi-san. Mau dipikirkan berapa kali pun ini
situasi yang sangat gawat.
Aku tidak boleh sampai ketahuan kalau
sedang berharap-harap, tetapi kalau lengah sedikit wajahku rasanya mau
tersenyum lebar.
Tak lama kemudian kami sampai di toko
yang separuh area dalamnya diisi barang-barang olahraga.
Karena musim panas sebentar lagi
berakhir, area baju renang sudah lumayan diperkecil. Sebagai gantinya, banyak
juga barang diskon untuk menghabiskan stok.
Jika digunakan untuk ilustrasi gim sudah
pasti bikini sih, tetapi ada yang hampir tidak memperlihatkan perut, ada juga
yang luasnya hanya menutupi kurang dari pakaian dalam.
"Jadi, Takahashi-kun ingin aku
memakai baju renang yang seperti apa?"
Mungkin demi menutupi rasa malu,
Himegi-san mengatakannya seperti bercanda.
Aku membalas dengan nada suara serius.
"Kalau memikirkan penjualan,
seharusnya yang lebih terbuka lebih bagus, tapi karena mungkin kamu keberatan,
aku pikir lebih baik kamu memakai yang lebih tertutup, lalu sisanya akan
kuselaraskan dalam imajinasi."
"Tapi kalau begitu, tidak ada
artinya dong aku benar-benar memakai baju renang?"
"Bukan begitu kok. Membayangkan
seseorang memakai baju renang hanya dari penampilan berseragam itu sulit, tapi
kalau membayangkan baju renang lain itu hampir tidak ada repotnya kok."
"Karena ada gambar referensi juga
kan?"
Entah kenapa Himegi-san mengatakannya
dengan nada tidak senang.
"Gambar referensi?"
"Album foto idola."
"……Ah, benar juga ya."
Aku teringat album foto itu masih
tertinggal di rak buku, lalu membenarkannya sambil panik. Mungkin dia
menemukannya saat sedang membersihkan rumah tadi.
Gawat nih…… Album foto itu bukan cuma
berisi foto baju renang, tapi juga banyak foto seperti sedang berendam di
pemandian air panas……
Apakah aku dikira tidak bersih ya……?
Meski begitu barang itu kan bahan materi,
dan aku tidak mungkin menyembunyikannya setiap kali Himegi-san datang, jadi mau
bagaimana lagi.
"Sensei, tidak perlu sungkan. Karena
yang memutuskan mau pakai atau tidak adalah aku, untuk sementara tolong beri
tahu baju renang yang ideal."
Tiba-tiba, cara panggil Himegi-san
berubah. Sepertinya untuk sesaat dia masuk ke mode sekretaris.
"Be, begitu……? Anu, kalau begitu……
mungkin sekitaran sini ya."
Aku menunjuk ke arah bikini warna merah
muda yang keterbukaannya lumayan tinggi. Sudah pasti bagian perutnya tentu saja
terbuka, ditambah desain yang memperlihatkan belahan dada.
"Tidak apa-apa. Kalau segini aku
bisa pakai."
"Boleh!?"
Dia langsung menjawab, dan tanpa sadar
aku malah bertanya balik dengan bahasa sopan
"Tentu saja. Karena aku tidak
memaksakan diri, jadi jangan cemas."
Himegi-san mengatakannya dengan santai,
lalu masuk ke ruang ganti dan menutup tirainya.
Mulai sekarang di dalam sana, Himegi-san
bakal berganti memakai baju renang…… Karena merasa bakal jadi aneh, aku
memutuskan menunggu agak menjauh.
Saat sedang memandangi sepatu gunung demi
menenangkan perasaan, pesan masuk ke ponselku.
『Pergi ke mana sih (marah)』
Saat buru-buru kembali ke ruang ganti,
Himegi-san dengan malu-malu membuka sedikit tirainya lalu mengeluarkan
wajahnya, dan menatapku tajam.
"Kenapa malah menghilang?"
"Mendadak ingin melihat sepatu
gunung…… Himegi-san sendiri, kenapa cuma buka sedikit begitu?"
"……Yang begitu, sudah pasti karena
malu kalau sampai kelihatan orang lain kan."
"Pa, paham……?"
Padahal sebentar lagi aku akan memotret
penampilannya seperti itu.
Apa dia benar-benar tidak masalah……?
"Lalu, bagaimana? Baju renang ini
sesuai imajinasimu?"
"……Anu……"
Begitu melihat penampilan Himegi-san dari
depan, hal pertama yang membuatku kewalahan adalah belahan dadanya. Lekuk
tubuhnya yang penuh itu hanya tertutup seadanya. Terlalu luar biasa.
Saat kupaksa pandanganku turun, terlihat pinggangnya yang ramping dan pusarnya yang imut. Dari situ ke bawah, aku terlalu takut untuk melihatnya.
"Bagus kok menurutku……"
Sambil memalingkan mata dari proporsi
tubuhnya yang sempurna, aku membalas dengan suara yang seperti dipaksakan
keluar. Himegi-san hanya berkata singkat, "Aku paham," lalu menutup
tirai dan mulai
berganti pakaian.
Setelah itu, Himegi-san keluar sambil
membawa bikininya.
Pembayarannya memang ditanggung olehku,
tetapi karena bakal sama-sama canggung jika aku menerima bikini yang baru saja
dilepasnya, kami berdua pun berjalan menuju kasir.
"Minta kwitansinya ya. Untuk nama
penerimanya dikosongkan saja tidak apa-apa."
Begitu aku melontarkan kalimat formal
tersebut, Himegi-san berkata, "Kelihatan seperti orang dewasa yang sudah
bekerja, keren deh."
"Omong-omong Takahashi-kun, setelah
ini kita mau bagaimana?"
Tepat saat keluar dari toko, dia
tiba-tiba bertanya begitu.
Mau bagaimana lagi, bukankah seharusnya
kita langsung pulang ke rumah lalu melakukan pengambilan foto? Mumpung sudah
datang ke pusat perbelanjaan, apakah ada barang yang ingin dibelinya ya?
Aku memutar otak secara maksimal,
memikirkan bagaimana sebaiknya menjawab.
"Anu, Himegi-san ada toko yang ingin
didatangi?"
"Tidak kok. Tidak ada yang
khusus."
Lah, tidak ada ternyata.
Kalau begitu bukankah langsung menuju ke
rumahku saja sudah cukup?
Apakah kalau begitu bakal terasa terlalu
praktis, atau dianggap terlalu mengejar efisiensi ya?
"……Mumpung sudah di sini, mau makan
dulu sebelum pulang?"
Saat aku memberanikan diri melontarkan
usulan, ekspresi Himegi-san langsung menjadi ceria.
"Hore! ……Ah, maaf, ternyata tidak
jadi deh."
"Ehh!?"
"Mari cepat pulang lalu ambil foto.
Makannya setelah itu saja ya."
Begitu mengatakannya, Himegi-san langsung
berjalan menuju pintu keluar.
Aku tidak paham sama sekali…… Kenapa pemikirannya mendadak berubah coba……?



Post a Comment