Bab 6: Siswa SMA Berkemampuan Tinggi Mulai Mendominasi Kelas
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
Bagaimana ini? Begitu diserahi tugas
sebagai pemimpin proyek, Sensei malah mulai menunjukkan kehebatannya tanpa
tanding.
Sejujurnya, aku merasa bangga karena
akhirnya semua orang bisa mengetahui sosok Sensei yang sebenarnya.
Selain itu, kalau membuat sesuatu yang
berkaitan dengan gim, jika diserahkan pada Sensei sudah tidak diragukan lagi
bakal menghasilkan karya berkualitas tinggi.
Tapi
kalau begitu, beban Sensei bakal terlalu besar. Saat ini dia sedang membuat
skenario tambahan 『Houkago Jihen』,
aku tidak ingin menyita waktunya.
Meski begitu, begitu Sensei menjadi
pemimpin proyek, pembahasan festival budaya langsung maju pesat dalam sekejap.
Hal seperti ini cuma bisa membuatku makin menghormatinya, dan aku tidak
berpikir ada orang lain yang sanggup mengoordinasikannya.
Ah, pikiranku jadi tidak karuan. Berbagai
pergolakan batin yang tak terhitung jumlahnya melintas di dalam kepala,
tumpang-tindih bercampur aduk di dalam dada.
"──Kalau
begitu, untuk pembagian tugasnya mohon dilakukan seperti ini ya. Kalau ada
masalah, tidak apa-apa jika disampaikan mulai besok dan seterusnya. Lalu untuk
tim pemikir misteri dan tim dekorasi ruangan, sebisa mungkin tolong ajukan ide
lebih awal, dan bagikan secara berkala di grup chat kelas ya."
Sensei membedah tugas-tugas yang
dibutuhkan dengan kecepatan bak superhuman, lalu meminta pekerjaan sesuai
dengan keunggulan masing-masing murid. Benar-benar jenius.
Dengan begini, setelah masing-masing
diberikan tugas rumah, jam wali kelas hari ini pun berakhir dan masuk ke waktu
pulang sekolah.
Saat sedang bersiap-siap pulang,
anak-anak cewek di kelas sambil piket
membersihkan ruangan terdengar sedang
membicarakan rumor tentang Sensei.
"Takahashi-kun, bukankah jalan
pikirannya terlalu cepat?"
"Kan? Aku tidak menyangka dia pintar
sampai sejauh itu."
"Hampir semuanya dia putuskan
sendiri, dan dia kelihatan seperti orang yang bisa diandalkan ya."
"Sudah mirip orang dewasa."
Emm, emm. Tentu saja, tentu saja dong.
Sensei kami ini levelnya sudah beda jauh
dibanding anak SMA sembarangan.
Mendengar kesan-kesan dari mereka, aku
merasa sangat bangga.
Tanganku yang sedang merapikan barang
terhenti, dan aku fokus menyimak percakapan mereka.
Meski begitu, gara-gara kejadian kali
ini, semua orang jadi mulai menyadari pesona Sensei. Kalau terus begini,
jangan-jangan dia malah jadi populer, bagaimana dong……
Tidak, bukannya aku tidak suka
kepopuleran Sensei meningkat. Hanya saja, aku ingin menghindari bertambahnya
saingan.
Lagipula, apakah Sensei punya gadis yang
sedang dipikirkan ya……?
Di kelas aku tidak pernah melihatnya
berbicara dengan siapa pun, tetapi jangan-jangan ada orang yang diam-diam dia
sukai……?
Saat sedang memikirkan hal-hal yang tak
ada ujungnya itu, waktu sudah makin sore. Aku mengganti sepatu di loker, lalu
seperti biasa menuju ke rumah Sensei dan menekan bel pintunya.
"Sensei, aku benar-benar minta maaf.
Sampai-sampai harus menyerahkan pekerjaan merepotkan seperti pemimpin proyek
padamu……"
Begitu Sensei menyambutku, hal pertama
yang kulakukan adalah meminta maaf.
"Dalam situasi seperti itu, tidak
ada pilihan selain memintanya padamu kan……"
"Sama sekali tidak apa-apa kok.
Lagipula ini tergolong bidang keahlianku, jadi tidak bakal jadi beban sejauh
itu kok."
Sensei mengatakannya sambil tersenyum.
Padahal waktu kerjanya yang berharga terpotong, tetapi fakta bahwa dia mau
berkata seperti ini membuktikan kalau dia memang baik hati.
Setidaknya dengan melakukan pekerjaan
sebagai sekretaris, aku harus memberikan dukungan pada Sensei lebih dari
sebelum-sebelumnya.
Setelah membulatkan tekad, aku pun segera
mulai membersihkan rumah. Aku masuk ke kamar Sensei, lalu mengeluarkan penyedot
debu tanpa kabel dari lemari.
Saat itu, tanpa sengaja aku melirik ke
arah rak buku, dan mataku tertuju pada banyak album foto idola yang terselip di
sana.
Aku menaruh sebentar penyedot debu, lalu
mengambilnya dan membuka-bukanya secara sekilas.
Semuanya memang ditujukan untuk semua
umur, tetapi banyak juga yang menampilkan foto dengan pakaian yang cukup
terbuka seperti baju renang atau hanya berbalut selembar handuk mandi. Mereka
semua punya penampilan yang bagus.
"……Sensei juga punya hasrat seperti
itu ya……"
Dengan perasaan yang campur aduk, aku
melanjutkan melihat-lihat album foto tersebut. Dari situ, aku baru menyadari
bahwa semua idola yang dipilih Sensei ternyata tipe imut, dan tidak ada satu
pun yang bertipe cantik.
Karena tipe mereka berbeda denganku,
entah kenapa dadaku terasa sedikit nyeri
Tanpa sadar, aku malah sibuk memeriksa
selera Sensei. Padahal, baru saja aku bertekad untuk mendukung Sensei lebih
dari sebelumnya……
Tapi sebagai sekretaris, memahami selera
atasan kan memang dibutuhkan. Aku membuat alasan atas terbuangnya waktu tadi
entah pada siapa.
Setelah itu, aku membersihkan ruang
kerja, kamar tidur, lalu tangga. Saat masuk ke ruang tamu, Sensei memanggilku.
"Maaf, bisakah bantu aku mengambil
foto sebentar?"
Aku mematikan penyedot debu lalu bertanya
balik.
"Mengambil foto?"
"Iya. Karena mau menggambar
ilustrasi baru untuk heroine, aku ingin mengambil foto untuk dijadikan
referensi. Aku yang bakal jadi modelnya, jadi tolong pegang kameranya ya."
"AAh, begitu ya. Kukira hal seperti
itu digambar hanya berdasarkan imajinasi."
"Struktur tubuh manusia itu rumit,
jadi kalau menggambar pakai bayangan bakal muncul kesan ganjil."
Sambil memberikan penjelasan, Sensei
menyerahkan ponsel yang sudah menyalakan kamera padaku.
"Latar belakangnya adalah laut, dan
adegan di mana heroine menyodorkan botol plastik ke arah sang tokoh utama. Aku
bakal bergerak sedikit demi sedikit, jadi coba ambil foto dari berbagai
komposisi ya."
Setelah memberikan penjelasan singkat,
sambil mengarahkan minuman olahraga ke kamera, Sensei mengubah posisinya
sedikit demi sedikit.
Rasanya dia agak malu-malu. Imutnya.
Aku yang diserahi tugas mengambil foto
berpikir betapa luar biasanya
pekerjaan ini. Sambil menekan tombol
jepret, aku beberapa kali menyarankan posisi seperti, "Bagaimana kalau
tatapan matanya dibuat agak mendongak sedikit?".
"Terima kasih. Biasanya aku memasang
kamera di satu titik lalu mengambil foto sendirian, jadi dibantu Himegi-san
benar-benar mempermudah pekerjaanku."
Setelah selesai mengambil foto dan
mengembalikan ponselnya, Sensei menyampaikan terima kasih.
Di situ aku memberanikan diri melontarkan
usulan.
"Sekadar informasi saja, kalau
dijadikan referensi ilustrasi heroine, bukankah modelnya lebih baik wanita?
Laki-laki dan wanita kan punya perbedaan dalam bentuk tubuh maupun sudut
tekukan sendi, kan."
Kemudian, Sensei menggaruk pipinya dengan
raut wajah serba salah.
"Emm…… Memang benar mengambil foto
wanita itu yang paling ideal sih, tapi kan aku tidak punya orang yang bisa
dimintai tolong jadi model……"
"Di sini kan ada."
Aku menunjuk ke arah diriku sendiri.
Sensei tertegun dengan mulut terbuka
"Eh……? Kamu mau
melakukannya……?"
"Tentu saja. Kan aku
sekretaris."
"Be…… Kalau begitu tolong ya."
Setelah hampir mengatakan sesuatu, Sensei
mengarahkan kameranya.
Aku memegang botol plastik, mengingat
kembali posisi yang dilakukan Sensei tadi, lalu melakukan gerakan yang mirip.
Meski tadi aku langsung menyanggupinya,
mengambil posisi di depan kamera ternyata cukup memalukan. Apalagi setelah ini
Sensei bakal menggambar ilustrasi dengan menjadikan fotoku sebagai referensi.
Aku harus terlihat sebaik mungkin di foto.
"Fotonya bisa terambil dengan sangat
bagus lho. Terima kasih banyak ya."
Sambil melihat folder foto, Sensei
menyampaikan terima kasih berulang kali.
Lalu di situ, sebuah keraguan kecil
melintas di kepalaku.
"Omong-omong tadi kamu bilang latar
belakangnya adalah laut kan? Apakah pakaian heroine-nya adalah seragam?"
Kemudian, Sensei kembali menunjukkan raut
wajah canggung.
"……Bukan, baju renang. Soalnya yang
begitu lebih laku."
Padahal aku tidak bermaksud
menyalahkannya, tetapi entah kenapa
Sensei mengatakannya seperti sedang
membuat alasan.
Dengan kata lain saat menggambar
ilustrasi, Sensei bakal memvisualisasikan penampilanku yang mengenakan baju
renang ya……
"Penampilan saat memakai baju
renang, apakah bisa digambar dengan bagus hanya berdasarkan imajinasi?"
"Pada dasarnya, aku mencari foto
dengan pose yang mirip dari berbagai referensi, lalu menjadikannya acuan."
"Referensi, ya……"
Secara refleks, aku teringat kembali pada
album foto idola yang kulihat tadi.
Jangan-jangan, tubuh para idola itu akan
ditempelkan pada bagian bawah leherku……
Tentu saja aku tahu bukan begitu
maksudnya. Sensei hanya akan menggunakan bagian-bagian tertentu sebagai
referensi.
Tapi entah kenapa, rasanya sungguh
memalukan.
"……Kalau boleh, bagaimana kalau aku
berganti memakai baju renang saja?"
"──Eeeeeh!?"



Post a Comment