NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Epilog 2

Epilog ②: Menuju Tantangan Baru


Tanggal 4 Oktober. Setelah berhasil memperbarui kontrak dengan Himegi-san tanpa kendala, di ruang tamu aku mulai semakin larut dalam khayalan tentang masa depan.

 

Mulai hari ini akulah yang akan membayar upah Himegi-san sebagai sekretaris, tetapi seandainya setelah lulus SMA nanti dia tetap bersedia menjadi sekretarisku, aku ingin menyambutnya masuk sebagai karyawan tetap perusahaan.

 

Mempekerjakan seorang karyawan bukan sekadar menambah tenaga bantuan semata. Sebagai ganti dari menerima waktu hidup orang tersebut, kita wajib bertanggung jawab atas masa depannya.

 

Lalu selain membayarkan gajinya, kita juga harus terus membayarkan iuran jaminan sosialnya kepada negara.

 

Apakah orang sepertiku sanggup melakukan hal itu, aku sendiri tidak tahu. Meski begitu, agar kelak mampu melaksanakannya, aku ingin mempersiapkan diri mulai dari sekarang.

 

Kita tidak pernah tahu apa yang bakal terjadi dengan Jepang ke depannya, dan bisa saja hiperinflasi membuat seluruh tabunganku berubah menjadi sekadar kertas tak berharga, jadi aku harus membangun sistem yang mampu mendatangkan penghasilan lebih besar lagi.

Kulihat kembali surel-surel yang selama ini dikirimkan ke perusahaanku. Pihak yang menawarkan kerja sama pembuatan karya sebagian besar adalah kreator perorangan. Di sisi lain, dari pihak korporat tawaran yang masuk kebanyakan mengajukan pembuatan dan penjualan merchandise seperti figur atau gantungan kunci akrilik.

 

Kalau ingin membesarkan perusahaan, sepertinya aku juga perlu mengembangkan merchandise. Aku harus menimbang dengan cermat perusahaan mana yang sekiranya cocok diajak bermitra.

 

Walau begitu, melihat persentase pembagian keuntungan yang tertera dalam surel, sepertinya akan jauh lebih menguntungkan jika ke depannya kami memproduksi merchandise sendiri. Demi mengurangi risiko menumpuknya stok, pertama-tama mari kumpulkan data tentang seberapa laris barang-barang tersebut……

 

Tentu saja dengan asumsi bahwa aku tidak akan berkompromi sedikit pun terhadap mutu dari gim utamanya, melainkan terus mengembangkan gim tersebut

 

Apakah karya berikutnya bakal meledak sukses atau tidak memang belum bisa dipastikan, tetapi aku akan membuatnya hingga bisa dengan bangga berkata, ‘Ini jauh lebih menarik dibanding 『Houkago Jihen』!".

 

Demi tujuan itulah aku memutuskan untuk membuat karya ini bersama orang lain.

 

Jujur saja, pada saat ini rasa cemas jauh lebih mendominasi ketimbang rasa percaya diri. Namun, apa yang bisa dipetik dari kerja sama ini pastilah sangat besar, dan kurasa aku bisa berjuang sekuat tenaga jika bersama Himegi-san.

 

Terlebih lagi karena aku sudah terlanjur menyampaikannya kepada Himegi-san, aku tidak boleh mundur lagi. Aku akan menghadapinya dengan tekad bulat, terus berkembang, dan membuktikan diri pantas menjadi pria yang bersanding di sisi Himegi-san.

 

Diam-diam aku melirik Himegi-san. Di layar ponselnya, dia sedang melihat foto seorang perempuan yang bercosplay sebagai karakter dari 『Houkago Jihen』 dengan ekspresi yang sulit dibaca.

 

Padahal tadi aku hanya memintanya membuat daftar kreator, sebenarnya ada apa dengannya?

 

……Seandainya Himegi-san bukan ingin menjadi karyawanku, melainkan ingin menjadi anggota keluargaku…… Aku ingin punya anak sekitar tiga orang sih, jadi bagaimanapun juga perusahaanku tetap harus dikembangkan lebih jauh lagi ya……

 

"──Sensei, ada satu hal yang ingin kupastikan."

 

Mendadak Himegi-san melontarkan pertanyaan dengan nada bicara yang serius.

 

Agar tidak ketahuan kalau baru saja memikirkan hal-hal yang tidak senonoh, aku segera duduk tegak.

 

"Bagaimana pandangan Sensei tentang seorang cosplayer?"

"……Cosplay?"

 

"Iya. Tentu saja setelah memahami bahwa ini adalah budaya yang luar biasa, yang kutanyakan adalah selera pribadi Sensei. Contohnya di luar sana, ada orang yang bercosplay menjadi karakter 『Houkago Jihen』 tanpa izin dari sang pembuatnya kan."

 

"Aah, orang-orang itu luar biasa ya. Kelihatannya mereka membuat kostumnya sendiri, sampai sengaja menyewa studio untuk berfoto."

 

"Dengan kata lain, kamu tidak punya kesan negatif terhadap hal itu?"

 

"Malah kesanku sangat positif sih. Maksudku, kurasa tidak ada pembuat karya yang merasa tidak senang melihat orang membuat kostum karyanya sendiri. Walau tentu saja kalau memikirkan masalah hak cipta, aku tidak bisa membenarkannya secara terang-terangan sih."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, seandainya tepat di depan matamu ada orang

yang bercosplay menjadi karakter 『Houkago Jihen』, apa yang bakal kamu lakukan?"

 

"Apa yang…… bakal kulakukan, maksudmu?"

 

"Seandainya cosplayer itu cantik luar biasa, apakah dia bisa masuk menjadi kriteria pasangan asmaramu? Pihak sana kan menaruh rasa hormat kepada Sensei, jadi kurasa bakal sangat mudah untuk ditaklukkan."

 

"Pembicaraan realistis macam apa itu barusan……"

"Tolong dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Ini menyangkut masa depan perusahaan kita lho."

 

"Kenapa bisa menyangkut ke sana!?"

 

Aku kurang paham maksudnya, tapi kalau ditanya apakah dia bakal menjadi pasangan romantisku, jawabannya tentu saja tidak.

 

Soalnya orang yang kusukai kan Himegi-san……

 

"Tidak bakal kujadikan sasaran asmara kok."

 

"Begitu ya. Ini sangat membantu sebagai referensi."

 

Entah kenapa Himegi-san tersenyum lega, lalu mengangguk puas. Sebenarnya apa maksud percakapan memalukan tadi……

 

Saat itulah, sebuah keraguan mendadak terlintas di benakku.

 

"Kalau bicara soal cosplay, Himegi-san sendiri sekarang kan sedang bercosplay jadi sekretaris kan?"

 

"I…… Ini bukan cosplay! Aku ini benar-benar sekretaris sungguhan tahu!"

 

Dengan pipi yang memerah padam, Himegi-san langsung memprotesku dengan suara nyaris berteriak.



Epilog 1 | ToC | Afterword

Post a Comment

Post a Comment

close