Epilog ②: Menuju Tantangan Baru
Tanggal 4 Oktober. Setelah berhasil
memperbarui kontrak dengan Himegi-san tanpa kendala, di ruang tamu aku mulai
semakin larut dalam khayalan tentang masa depan.
Mulai hari ini akulah yang akan membayar
upah Himegi-san sebagai sekretaris, tetapi seandainya setelah lulus SMA nanti
dia tetap bersedia menjadi sekretarisku, aku ingin menyambutnya masuk sebagai
karyawan tetap perusahaan.
Mempekerjakan seorang karyawan bukan
sekadar menambah tenaga bantuan semata. Sebagai ganti dari menerima waktu hidup
orang tersebut, kita wajib bertanggung jawab atas masa depannya.
Lalu selain membayarkan gajinya, kita
juga harus terus membayarkan iuran jaminan sosialnya kepada negara.
Apakah orang sepertiku sanggup melakukan
hal itu, aku sendiri tidak tahu. Meski begitu, agar kelak mampu
melaksanakannya, aku ingin mempersiapkan diri mulai dari sekarang.
Kita tidak pernah tahu apa yang bakal
terjadi dengan Jepang ke depannya, dan bisa saja hiperinflasi membuat seluruh
tabunganku berubah menjadi sekadar kertas tak berharga, jadi aku harus
membangun sistem yang mampu mendatangkan penghasilan lebih besar lagi.
Kulihat kembali surel-surel yang selama
ini dikirimkan ke perusahaanku. Pihak yang menawarkan kerja sama pembuatan
karya sebagian besar adalah kreator perorangan. Di sisi lain, dari pihak
korporat tawaran yang masuk kebanyakan mengajukan pembuatan dan penjualan
merchandise seperti figur atau gantungan kunci akrilik.
Kalau ingin membesarkan perusahaan,
sepertinya aku juga perlu mengembangkan merchandise. Aku harus menimbang dengan
cermat perusahaan mana yang sekiranya cocok diajak bermitra.
Walau begitu, melihat persentase
pembagian keuntungan yang tertera dalam surel, sepertinya akan jauh lebih
menguntungkan jika ke depannya kami memproduksi merchandise sendiri. Demi
mengurangi risiko menumpuknya stok, pertama-tama mari kumpulkan data tentang
seberapa laris barang-barang tersebut……
Tentu saja dengan asumsi bahwa aku tidak
akan berkompromi sedikit pun terhadap mutu dari gim utamanya, melainkan terus
mengembangkan gim tersebut
Apakah
karya berikutnya bakal meledak sukses atau tidak memang belum bisa dipastikan,
tetapi aku akan membuatnya hingga bisa dengan bangga berkata, ‘Ini jauh lebih
menarik dibanding 『Houkago Jihen』!".
Demi tujuan itulah aku memutuskan untuk
membuat karya ini bersama orang lain.
Jujur saja, pada saat ini rasa cemas jauh
lebih mendominasi ketimbang rasa percaya diri. Namun, apa yang bisa dipetik
dari kerja sama ini pastilah sangat besar, dan kurasa aku bisa berjuang sekuat
tenaga jika bersama Himegi-san.
Terlebih lagi karena aku sudah terlanjur
menyampaikannya kepada Himegi-san, aku tidak boleh mundur lagi. Aku akan
menghadapinya dengan tekad bulat, terus berkembang, dan membuktikan diri pantas
menjadi pria yang bersanding di sisi Himegi-san.
Diam-diam
aku melirik Himegi-san. Di layar ponselnya, dia sedang melihat foto seorang
perempuan yang bercosplay sebagai karakter dari 『Houkago
Jihen』 dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Padahal tadi aku hanya memintanya membuat
daftar kreator, sebenarnya ada apa dengannya?
……Seandainya Himegi-san bukan ingin
menjadi karyawanku, melainkan ingin menjadi anggota keluargaku…… Aku ingin
punya anak sekitar tiga orang sih, jadi bagaimanapun juga perusahaanku tetap
harus dikembangkan lebih jauh lagi ya……
"──Sensei,
ada satu hal yang ingin kupastikan."
Mendadak Himegi-san melontarkan
pertanyaan dengan nada bicara yang serius.
Agar tidak ketahuan kalau baru saja
memikirkan hal-hal yang tidak senonoh, aku segera duduk tegak.
"Bagaimana pandangan Sensei tentang
seorang cosplayer?"
"……Cosplay?"
"Iya.
Tentu saja setelah memahami bahwa ini adalah budaya yang luar biasa, yang
kutanyakan adalah selera pribadi Sensei. Contohnya di luar sana, ada orang yang
bercosplay menjadi karakter 『Houkago Jihen』
tanpa izin dari sang pembuatnya kan."
"Aah, orang-orang itu luar biasa ya.
Kelihatannya mereka membuat kostumnya sendiri, sampai sengaja menyewa studio
untuk berfoto."
"Dengan kata lain, kamu tidak punya
kesan negatif terhadap hal itu?"
"Malah kesanku sangat positif sih.
Maksudku, kurasa tidak ada pembuat karya yang merasa tidak senang melihat orang
membuat kostum karyanya sendiri. Walau tentu saja kalau memikirkan masalah hak
cipta, aku tidak bisa membenarkannya secara terang-terangan sih."
"Begitu ya. Kalau begitu, seandainya
tepat di depan matamu ada orang
yang
bercosplay menjadi karakter 『Houkago Jihen』,
apa yang bakal kamu lakukan?"
"Apa yang…… bakal kulakukan,
maksudmu?"
"Seandainya cosplayer itu cantik
luar biasa, apakah dia bisa masuk menjadi kriteria pasangan asmaramu? Pihak
sana kan menaruh rasa hormat kepada Sensei, jadi kurasa bakal sangat mudah
untuk ditaklukkan."
"Pembicaraan realistis macam apa itu
barusan……"
"Tolong dipikirkan dengan
sungguh-sungguh. Ini menyangkut masa depan perusahaan kita lho."
"Kenapa bisa menyangkut ke
sana!?"
Aku kurang paham maksudnya, tapi kalau
ditanya apakah dia bakal menjadi pasangan romantisku, jawabannya tentu saja
tidak.
Soalnya orang yang kusukai kan
Himegi-san……
"Tidak bakal kujadikan sasaran
asmara kok."
"Begitu ya. Ini sangat membantu
sebagai referensi."
Entah kenapa Himegi-san tersenyum lega,
lalu mengangguk puas. Sebenarnya apa maksud percakapan memalukan tadi……
Saat itulah, sebuah keraguan mendadak
terlintas di benakku.
"Kalau bicara soal cosplay,
Himegi-san sendiri sekarang kan sedang bercosplay jadi sekretaris kan?"
"I…… Ini bukan cosplay! Aku ini
benar-benar sekretaris sungguhan tahu!"
Dengan pipi yang memerah padam,
Himegi-san langsung memprotesku dengan suara nyaris berteriak.



Post a Comment