Epilog ①: Tugas Baru
(Sudut Pandang
Gadis Tercantik Seangkatan)
"Omong-omong Sensei. Kamu sempat
bilang, 'Setelah festival budaya selesai, ada pekerjaan yang ingin kuminta
darimu' kan? Pekerjaan seperti apa itu?"
Tanggal 4 Oktober, hari Minggu. Hari
kerja pertama setelah kontrak diperpanjang. Tepat setelah melangkah masuk ke
ruang tamu rumah Sensei, aku langsung melontarkan pertanyaan itu.
"Dulu waktu aku minta tolong
dikirimkan surel penolakan, aku sempat bilang kan kalau ada tawaran kerja sama
pembuatan gim yang masuk? Pada karya baru berikutnya, aku berpikir mau coba
meminjam kekuatan orang lain."
"Eh!? Benarkah begitu!?"
"Iya.
Kalau ingin membuat karya baru dengan kualitas yang tidak kalah dari 『Houkago
Jihen』, kupikir aku perlu meninjau ulang cara
pembuatannya."
"Luar biasa! Keputusan yang sangat
bagus ya……!"
"Ini berkat pengalamanku menjadi
pemimpin proyek di festival budaya kemarin kok. ……Cuma, karena berinteraksi
dengan orang yang tidak kukenal itu bikin tegang, aku ingin Himegi-san ikut
hadir mendampingiku di pertemuan pertama nanti……"
"Tentu saja. Sebagai sekretaris, aku
akan memberikan dukungan dengan segenap tenaga."
"Kalau begitu langsung saja, bisakah
bantu buatkan daftar para kreator
yang bilang ingin membuat karya bersama?
Walau agak canggung juga sih mau menghubungi mereka lagi, soalnya kan sempat
kita tolak sekali."
"Urusan merepotkan seperti itu biar
saya semua yang menanganinya,
jadi tidak perlu cemas. Penasaran sekali
ya orang seperti apa saja yang sudah mengajukan tawaran!"
"Aah…… Kurasa sebaiknya jangan
terlalu berharap tinggi deh."
"? Kenapa begitu?"
"Soalnya kreator yang menghubungi
untuk mengajak membuat karya bersama itu kebanyakan orang yang belum punya
banyak pencapaian."
"Benarkah begitu……?"
Saat itu, aku belum memahami maksud dari
kata-kata “belum punya banyak rekam jejak” yang diucapkan oleh Sensei, dan cuma
mengira bahwa karya yang pernah mereka rilis sebelumnya mungkin belum menjadi
hit.
Namun begitu mulai mengerjakan tugas
membuat daftar para kreator yang menghubungi, barulah aku paham apa maksud
perkataan itu.
Setelah membaca beberapa surel, ternyata
ada banyak kesamaan di
antara orang-orang yang belum punya rekam
jejak.
Pertama, padahal bilang ingin bekerja
sama, tapi sama sekali tidak mencantumkan profil pribadi di dalam isi surel.
Yang ditulis hanyalah info akun media sosial saja, jadi begitu kucoba melihat
ke sana, isinya cuma foto makanan atau foto artis idola pujaan mereka melulu,
sehingga aku sama sekali tidak tahu karya seperti apa yang pernah mereka buat.
Orang-orang ini, padahal menulis hal-hal
seperti 'Saya sangat ingin bekerja sama dengan Sensei yang saya hormati',
tetapi apakah mereka menyuruh kami menelusuri akun media sosial mereka dari
awal demi mencari tahu kemampuan yang mereka miliki……? Terlebih lagi mencarinya
dari sela-sela cuitan yang cuma berisi komentar langsung saat nonton anime atau
keluh kesah soal kantor……
Jika mereka beraktivitas secara
perorangan dan memang belum menorehkan hasil yang mencolok, hal itu sama sekali
bukan masalah.
Tapi paling tidak, tolong sematkan
informasi tentang karya sendiri di bagian atas profil media sosial dong……
Maksudku, di saat mengajukan tawaran, tolong lampirkan karya ciptaan yang bisa
memperlihatkan kemampuan langsung di surel……
Lalu, ada juga beberapa surel yang
berbunyi 'Tolong angkat saya jadi murid', tetapi karena aku tidak begitu
memahami sistem guru-murid di Jepang modern, kuputuskan untuk menganggap tidak
melihatnya saja
Meski begitu, banyak juga calon penulis
skenario maupun calon ilustrator yang menempelkan tautan agar kami bisa melihat
karya mereka dengan jelas di dalam isi surel. Dan orang-orang seperti itu
kebanyakan memiliki tingkat karya yang tinggi. Mungkin karena mereka punya
tekad kuat untuk menjual karya sendiri, serta memiliki kesadaran
terhadap orang yang bakal melihatnya.
Di
antara mereka semua, ada satu ilustrator yang kemampuannya luar biasa tinggi.
Ditambah lagi, nuansa karyanya sangat mirip dengan 『Houkago
Jihen』. Mengira orang ini bisa diharapkan, aku membaca
profil media sosialnya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat tulisan 'Siswi
SMA' di sana.
……Begitu ya, ternyata masih siswi SMA
toh…… Yah, kalau usianya sebaya, mungkin bakal lebih mudah bekerja sama sih,
tapi……
Sambil
berpikir orang ini bisa jadi kandidat nomor satu, aku menggulir akun media
sosialnya, dan mendadak foto seorang gadis cantik yang bercosplay menjadi
karakter heroine dari 『Houkago Jihen』
langsung menarik perhatianku.
Rupanya selain menggambar, orang ini juga
hobi bercosplay. Di keterangannya tertulis bahwa kostum itu buatan tangan
sendiri. Sudah pandai menggambar, pintar menjahit pula……
Kelihatannya foto itu diambil saat senja
di sekolahnya sendiri. Namun, selain kualitas latar dan kostumnya yang sangat
tinggi, riasan wajahnya juga sangat rapi, membuatnya benar-benar terlihat
seperti karakter dari karya aslinya.
Lagipula, wajah aslinya memang sudah
imut.
Uuumm…… Orang yang suka mengunggah foto
cosplay di media sosial sepertinya punya keinginan kuat untuk mendapat
pengakuan, mungkin lebih baik jangan pilih dia ya……
Walau begitu, gambarnya memang bagus
banget sih…… Tapi gimana ya……
Aku pun akhirnya dilanda konflik antara tugasku sebagai sekretaris dan keegoisanku yang tidak ingin Sensei direbut oleh wanita lain.
Chapter 17 | ToC | Epilog 2



Post a Comment