NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jitsu wa Haisupekkuna Danshi Kōkōsei - Gakunen'ichi no Bishōjo ni Hisho ni Natte Morau Volume 1 Epilog 1

Epilog ①: Tugas Baru


(Sudut Pandang Gadis Tercantik Seangkatan)

 

"Omong-omong Sensei. Kamu sempat bilang, 'Setelah festival budaya selesai, ada pekerjaan yang ingin kuminta darimu' kan? Pekerjaan seperti apa itu?"

 

Tanggal 4 Oktober, hari Minggu. Hari kerja pertama setelah kontrak diperpanjang. Tepat setelah melangkah masuk ke ruang tamu rumah Sensei, aku langsung melontarkan pertanyaan itu.

 

"Dulu waktu aku minta tolong dikirimkan surel penolakan, aku sempat bilang kan kalau ada tawaran kerja sama pembuatan gim yang masuk? Pada karya baru berikutnya, aku berpikir mau coba meminjam kekuatan orang lain."

 

"Eh!? Benarkah begitu!?"

 

"Iya. Kalau ingin membuat karya baru dengan kualitas yang tidak kalah dari 『Houkago Jihen』, kupikir aku perlu meninjau ulang cara pembuatannya."

 

"Luar biasa! Keputusan yang sangat bagus ya……!"

 

"Ini berkat pengalamanku menjadi pemimpin proyek di festival budaya kemarin kok. ……Cuma, karena berinteraksi dengan orang yang tidak kukenal itu bikin tegang, aku ingin Himegi-san ikut hadir mendampingiku di pertemuan pertama nanti……"

 

"Tentu saja. Sebagai sekretaris, aku akan memberikan dukungan dengan segenap tenaga."

 

"Kalau begitu langsung saja, bisakah bantu buatkan daftar para kreator

yang bilang ingin membuat karya bersama? Walau agak canggung juga sih mau menghubungi mereka lagi, soalnya kan sempat kita tolak sekali."

 

"Urusan merepotkan seperti itu biar saya semua yang menanganinya,

jadi tidak perlu cemas. Penasaran sekali ya orang seperti apa saja yang sudah mengajukan tawaran!"

 

"Aah…… Kurasa sebaiknya jangan terlalu berharap tinggi deh."

 

"? Kenapa begitu?"

 

"Soalnya kreator yang menghubungi untuk mengajak membuat karya bersama itu kebanyakan orang yang belum punya banyak pencapaian."

 

"Benarkah begitu……?"

 

Saat itu, aku belum memahami maksud dari kata-kata “belum punya banyak rekam jejak” yang diucapkan oleh Sensei, dan cuma mengira bahwa karya yang pernah mereka rilis sebelumnya mungkin belum menjadi hit.

Namun begitu mulai mengerjakan tugas membuat daftar para kreator yang menghubungi, barulah aku paham apa maksud perkataan itu.

 

Setelah membaca beberapa surel, ternyata ada banyak kesamaan di

antara orang-orang yang belum punya rekam jejak.

 

Pertama, padahal bilang ingin bekerja sama, tapi sama sekali tidak mencantumkan profil pribadi di dalam isi surel. Yang ditulis hanyalah info akun media sosial saja, jadi begitu kucoba melihat ke sana, isinya cuma foto makanan atau foto artis idola pujaan mereka melulu, sehingga aku sama sekali tidak tahu karya seperti apa yang pernah mereka buat.

 

Orang-orang ini, padahal menulis hal-hal seperti 'Saya sangat ingin bekerja sama dengan Sensei yang saya hormati', tetapi apakah mereka menyuruh kami menelusuri akun media sosial mereka dari awal demi mencari tahu kemampuan yang mereka miliki……? Terlebih lagi mencarinya dari sela-sela cuitan yang cuma berisi komentar langsung saat nonton anime atau keluh kesah soal kantor……

 

Jika mereka beraktivitas secara perorangan dan memang belum menorehkan hasil yang mencolok, hal itu sama sekali bukan masalah.

 

Tapi paling tidak, tolong sematkan informasi tentang karya sendiri di bagian atas profil media sosial dong…… Maksudku, di saat mengajukan tawaran, tolong lampirkan karya ciptaan yang bisa memperlihatkan kemampuan langsung di surel……

 

Lalu, ada juga beberapa surel yang berbunyi 'Tolong angkat saya jadi murid', tetapi karena aku tidak begitu memahami sistem guru-murid di Jepang modern, kuputuskan untuk menganggap tidak melihatnya saja

 

Meski begitu, banyak juga calon penulis skenario maupun calon ilustrator yang menempelkan tautan agar kami bisa melihat karya mereka dengan jelas di dalam isi surel. Dan orang-orang seperti itu kebanyakan memiliki tingkat karya yang tinggi. Mungkin karena mereka punya tekad kuat untuk menjual karya sendiri, serta memiliki kesadaran

terhadap orang yang bakal melihatnya.

 

Di antara mereka semua, ada satu ilustrator yang kemampuannya luar biasa tinggi. Ditambah lagi, nuansa karyanya sangat mirip dengan 『Houkago Jihen』. Mengira orang ini bisa diharapkan, aku membaca profil media sosialnya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat tulisan 'Siswi SMA' di sana.

 

……Begitu ya, ternyata masih siswi SMA toh…… Yah, kalau usianya sebaya, mungkin bakal lebih mudah bekerja sama sih, tapi……

 

Sambil berpikir orang ini bisa jadi kandidat nomor satu, aku menggulir akun media sosialnya, dan mendadak foto seorang gadis cantik yang bercosplay menjadi karakter heroine dari 『Houkago Jihen』 langsung menarik perhatianku.

 

Rupanya selain menggambar, orang ini juga hobi bercosplay. Di keterangannya tertulis bahwa kostum itu buatan tangan sendiri. Sudah pandai menggambar, pintar menjahit pula……

Kelihatannya foto itu diambil saat senja di sekolahnya sendiri. Namun, selain kualitas latar dan kostumnya yang sangat tinggi, riasan wajahnya juga sangat rapi, membuatnya benar-benar terlihat seperti karakter dari karya aslinya.

 

Lagipula, wajah aslinya memang sudah imut.

 

Uuumm…… Orang yang suka mengunggah foto cosplay di media sosial sepertinya punya keinginan kuat untuk mendapat pengakuan, mungkin lebih baik jangan pilih dia ya……

 

Walau begitu, gambarnya memang bagus banget sih…… Tapi gimana ya……

 

Aku pun akhirnya dilanda konflik antara tugasku sebagai sekretaris dan keegoisanku yang tidak ingin Sensei direbut oleh wanita lain.



Chapter 17 | ToC | Epilog 2

Post a Comment

Post a Comment

close