Chapter
1
Kehidupan
Sekolah si Pembunuh Monster
Sebulan yang lalu, sebuah insiden besar berguncang
hebat di Kerajaan Iwood, sebuah negara yang terletak di wilayah barat benua.
Di sana, sebuah acara rutin akademi bernama Festival
Perburuan Iblis tengah berlangsung.
Namun, stampede monster mendadak pecah. Tak
hanya itu, binatang buas bernama Sabnok yang merupakan penguasa wilayah
terlarang turut mengamuk dan menerjang maju.
Pihak yang berhasil menundukkan kekacauan tersebut
bukanlah para ksatria yang menjadi benteng kerajaan ataupun penyihir istana,
melainkan seorang murid biasa.
Nama pemuda yang berhasil menumbangkan Sabnok itu
adalah Rest. Karena berasal dari kalangan rakyat biasa, dia tidak
memiliki nama keluarga.
Akan tetapi, berkat jasanya menumbangkan Sabnok, dia pun
dianugerahi gelar Viscount.
Dia juga diberi wilayah kekuasaan yang sangat luas untuk
ukuran seorang Viscount. Meski begitu, sebagian besar tanah tersebut merupakan
bagian dari Dataran Sabnok yang telah kehilangan penguasanya—sebuah lahan tak
terjamah tanpa ada satu pun penduduk.
Berkat pencapaian luar biasa berupa penumpasan penguasa
wilayah terlarang yang belum pernah terjadi sebelumnya, Rest mendadak menjadi
pusat perhatian di seluruh penjuru kerajaan.
Bukan hanya para elit seperti keluarga kerajaan dan
bangsawan yang menaruh harapan sekaligus kewaspadaan terhadapnya.
Para murid di akademi tempatnya belajar pun turut
memusatkan perhatian padanya.
◇ ◇ ◇
"Hei, Rest-kun! Mau pergi ke kafe bareng setelah
ini?"
"Aku ingin mendengar cerita tentang penumpasan
binatang buas itu. Boleh, kan?"
"Ugh..."
Diserbu oleh suara-suara bernada tinggi yang riuh,
pemuda itu—Rest—memasang wajah kaku.
Seusai jam pelajaran di kelas Akademi Kerajaan, Rest
tampak dikelilingi oleh banyak perempuan.
Beberapa siswi mengepung dan menutup jalan keluar Rest
yang sedang berkemas untuk pulang setelah menyelesaikan kelas pilihan.
Ada teman sekelas dari kelas lain, ada pula senior dari
tingkat atas.
Meskipun memiliki tipe yang berbeda-beda, mereka semua
berwajah rupawan dan tergolong sebagai gadis-gadis yang sangat cantik.
"Rest-kun, kamu sudah jadi bangsawan, ya. Hebat
sekali."
"Aku sudah menduga kalau Rest-kun itu anak yang bisa
diandalkan. Kamu luar biasa."
Para siswi melayangkan pujian bertubi-tubi kepada Rest.
Padahal, mereka adalah orang-orang yang baru pertama kali
bertemu dan bahkan tidak saling tahu nama. Sama sekali tidak ada alasan logis
untuk menaruh harapan padanya sejak awal.
Alasan mengapa Rest didekati oleh banyak siswi... tak
lain dan tak bukan adalah karena gelarnya sebagai bangsawan baru.
Akademi Kerajaan adalah tempat untuk menimba ilmu dan
keterampilan seperti sihir, seni bela diri, serta akademis yang berguna untuk
menopang negara.
Namun, bagi para siswi, tempat ini juga berfungsi sebagai
ruang bersosialisasi demi masa depan.
Singkatnya... tempat ini juga menjadi ajang pencarian
jodoh untuk menemukan calon suami.
Rest yang berhasil menumpas binatang buas Sabnok dan
diangkat menjadi bangsawan merupakan aset yang sangat prospektif bagi para
wanita yang sedang mencari pasangan.
Prospek masa depannya cerah, parasnya tidak buruk, dan
kepribadiannya pun tampak tanpa celah... Demi memikat hati Rest, para wanita
dari kalangan rakyat biasa hingga bangsawan tingkat rendah berkumpul
mendekatinya.
"Anu... ini kan sudah jam pulang, aku mau
langsung pulang saja..."
"Karena sudah jam pulang, makanya ayo pergi
main!"
"Minum teh di kafe... atau mungkin lebih enak
minum alkohol di bar?"
"Setelah itu... Fufu, kamu paham, kan?"
Rest mencoba menghindar secara halus, tetapi para
wanita itu tidak membiarkannya lolos begitu saja.
Tatapan mata mereka tampak tajam berbinar bagaikan
singa betina yang telah menemukan mangsanya, membuat Rest mendadak gentar.
"Ah, Rest-kun! Apa yang sedang kamu lakukan!"
"Rest-sama... mari kita pulang?"
Namun... tiba-tiba ada orang yang menerobos masuk ke
tengah kerumunan siswi tersebut.
Mereka adalah dua gadis cantik dengan rambut keemasan dan
perak yang berkibar indah.
"Ah...!"
"Nona Viola... Nona Primula...!"
Melihat dua orang yang datang menyela, para siswi
tersebut panik dan refleks mundur.
Orang yang berdiri sebagai perisai menghalangi jalan di
depan Rest adalah Viola Rosemary dan Primula Rosemary.
Keduanya memiliki paras cantik menawan meski masih
menyisakan kesan kepolosan. Bulu mata yang lentik, mata berbentuk almond, serta
hidung yang mancung. Kulit mereka putih bak mutiara, sedangkan bibir mereka
merona bagaikan kuncup bunga mawar.
Para siswi yang tadi mengelilingi Rest memang berparas
cantik, tetapi jika dibandingkan dengan mereka berdua, pesonanya jelas kalah
kelas.
Keduanya adalah saudara kembar. Perbedaan fisik mereka
terletak pada warna rambut—Viola berambut emas, sedangkan Primula berambut
perak. Selain itu, bentuk mata Viola sedikit tajam ke atas, sementara mata
Primula cenderung melengkung lembut ke bawah.
Kepribadian mereka pun berbeda. Viola memiliki watak yang
tegas dan aktif, sedangkan Primula berwatak tenang dan lembut.
"Ada urusan apa kalian dengan tunangan kami?"
"Padahal, kami baru saja hendak pulang..."
"A... M-Mohon maaf atas ketidaksopanan kami!"
"M-Mohon maafkan kami! Ohohohoho!"
Ditekan oleh senyuman sepasang saudari kembar tersebut,
para siswi yang tadinya gencar mendekati Rest langsung meminta maaf secara
panik.
Viola dan Primula adalah putri dari Marquis Rosemary,
sang Kepala Penyihir Istana. Dengan kata lain, mereka adalah putri bangsawan
tinggi. Diintimidasi oleh putri dari keluarga bangsawan utama yang termasuk
dalam lima besar di kerajaan, mereka pun melarikan diri dari kelas sambil
memasang senyum canggung yang dipaksakan.
"Kalian berdua, aku terselamatkan. Terima
kasih..."
Rest mengucapkan terima kasih sambil tersenyum lemas.
Rest dan Rosemary bersaudara adalah pasangan tunangan.
Berkat sebuah insiden di mana Rest menyelamatkan nyawa mereka berdua, melalui
berbagai dinamika, mereka akhirnya tinggal bersama dan kini resmi bertunangan.
"Ih! Tidak boleh begitu, kamu harus bersikap
tegas dan mengusir wanita-wanita seperti mereka!"
Viola berkacak pinggang dan menegur Rest.
Karena dia membusungkan dadanya, tonjolan dadanya yang
tajam makin terekspos, membuat Rest tanpa sadar mengalihkan pandangan ke arah
sana.
"Ah... maaf. Karena lawan bicaraku wanita, aku
jadi tidak bisa bersikap keras..."
"Rest-sama memang orang yang lembut, ya. Tapi,
tidak boleh melirik wanita lain, lho?"
Primula menyentil dahi Rest dengan jari telunjuknya.
Melihat tingkah adik perempuannya itu, Viola langsung
memeluk salah satu lengan Rest.
"Seperti hari ini, kita kadang berpisah saat
pelajaran pilihan. Jadi, sebaiknya kita tegaskan ke semua orang kalau
Rest-kun itu milik kami!"
"Aku setuju dengan Kakak. Mulai sekarang, mari kita
perbanyak kontak fisik."
"Wah!"
Primula ikut memeluk lengan Rest yang satunya lagi.
Sensasi empuk dan lembut berdesakan di lengan atasnya,
menekan dengan erat seolah ingin menunjukkan keberadaannya.
"T-Tunggu... k-kalian berdua...!"
Wajah Rest memerah padam karena panik.
Perkembangan tubuh Viola maupun Primula tumbuh sangat
pesat melampaui usia mereka. Lekukan di dada mereka memancarkan pesona keibuan
yang memikat sekaligus berbahaya.
(L-Lagi pula, rasanya dada mereka makin membesar, ya...?)
Karena sudah sering diperlihatkan dan ditempelkan selama
beberapa tahun terakhir, Rest bisa menyadarinya.
Meski ukurannya sudah seukuran ini... ukurannya masih
terus tumbuh. Dada Rosemary bersaudara rupanya masih dalam tahap perkembangan.
Pertumbuhannya melesat cepat dengan potensi yang masih sangat besar.
"Haah... terjadi lagi."
"Tolong lakukan di tempat lain saja. Atau lebih
baik, hancur saja kena sihir api."
Melihat ketiganya yang bermesraan tanpa memedulikan
tempat di dalam kelas, murid-murid lain melayangkan tatapan iri. Di luar murid
kelas lain atau tingkat atas, bagi teman sekelas Rest, hubungan mereka adalah
fakta yang sudah dapat diterima. Bukan hal yang mengejutkan lagi.
Meski begitu, melihat mereka yang saling menempel di
depan umum... atau lebih tepatnya melihat Rest, para murid laki-laki terutama
diliputi rasa cemburu dan melayangkan pandangan penuh dendam.
"Ah, anu... kalian berdua, ayo kita pulang."
Karena merasa tidak tahan lagi, Rest menarik mereka
berdua menuju koridor.
Karena mereka berdua enggan melepaskan kuncian lengan
tersebut, mereka bertiga berjalan bersisian.
(Ugh... pandangan orang-orang terasa menyakitkan. Rasanya
seperti ditusuk bilah pisau...)
Ada kiasan yang berbunyi 'tatapan mata yang menusuk', dan
kini dia bisa memahami arti frasa tersebut secara nyata.
Koridor di waktu pulang sekolah dipenuhi banyak murid,
dan mereka menatap pasangan sejoli yang berjalan bergandengan tangan itu dengan
pandangan heran.
(Kenapa mereka berdua bisa bersikap biasa saja, ya? Kalau
Viola sih wajar, tapi bukankah Primula tipe yang cukup memedulikan pandangan
orang lain...?)
"Rest! Ternyata kamu bersama Viola dan Primula
juga!"
"Ara ara, kalian bertiga mesra sekali. Aku jadi
iri."
Ada sepasang orang yang menyapa Rest yang sedang menahan
rasa malunya.
"Yuri, lalu Nona Celestine..."
Keduanya adalah teman-teman Rest.
Yuri Catelya. Putri dari Marquis Catelya sang Komandan
Ksatria. Walau seorang putri dari keluarga Marquis, saat ini dia sedang kabur
dari rumah.
Celestine Crocus. Putri dari Duke Crocus sang Perdana
Menteri. Sebagai putri dari keluarga Duke yang memimpin jajaran bangsawan, dia
adalah sosok wanita nomor satu yang tak tertandingi di generasi Rest dan
kawan-kawan.
"Kalian bertiga mau pulang, ya! Kalau begitu, apa
aku boleh ikut main hari ini?!"
Yuri mendekat dengan mata merahnya yang
berbinar-binar.
Yuri adalah gadis periang berambut merah pendek. Dia
merupakan tipe gadis cantik yang berbeda dari Rosemary bersaudara.
Dia dan Rest pertama kali bertemu di gunung sebelum
masuk Akademi Kerajaan, dan mereka berdua pernah bertarung melawan monster
bersama-sama.
"Main... belakangan ini kamu ikut terus, ya."
"Itu sih hampir sama saja dengan tinggal di rumah
kami."
Rest merasa heran, sementara Viola mendesah pelan.
Sejak beberapa waktu lalu, Yuri sering menginap di
kediaman rumah kota milik keluarga Marquis Rosemary di ibu kota kerajaan.
"Mungkin akan lebih baik kalau kamu sekalian indekos
di rumah kami..."
"Ooh, itu ide yang bagus! Aku harus segera
membatalkan sewa tempat tinggalku yang sekarang!"
"Eh!? Itu cuma bercanda, lho!?"
Menanggapi lelucon Primula secara mentah-mentah, Yuri
langsung membuat pernyataan tegas.
Mengingat Yuri adalah tipe orang yang penuh dorongan
aksi, dia bisa saja benar-benar mengosongkan tempat tinggalnya yang sekarang.
"Ide yang sangat bagus. Kalau begitu, bolehkah
saya ikut bergabung juga?"
Dengan suara yang anggun, Celestine ikut menyela
pembicaraan.
Celestine juga merupakan seorang gadis yang sangat
jelita. Rambut perak platinumnya yang panjang terurai di punggung, memancarkan
kecantikan mewah yang sangat sesuai dengan statusnya sebagai putri seorang
Duke.
"Sebagai calon tunangan Rest-san, ada baiknya
saya mempererat hubungan dengan kalian semua sejak dini."
"Ugh..."
Lalu... yang merepotkan adalah dia juga ikut gencar
mendekati Rest.
Celestine sebenarnya merupakan tunangan dari Pangeran
Ketiga kerajaan ini, Rodel Iwood.
Namun, karena Rodel memicu stampede dengan
memprovokasi binatang buas Sabnok pada acara Festival Perburuan Iblis, hubungan
pertunangan tersebut diperkirakan akan dibatalkan.
Rodel adalah pembuat masalah yang selalu merepotkan
banyak pihak. Celestine yang harus sibuk ke sana kemari demi membereskan
kekacauan yang dibuatnya merasa senang dengan pembatalan pertunangan tersebut,
dan kini mengincar Rest sebagai pasangan berikutnya.
"Celestine, pertunanganmu dengannya kan belum
diputuskan!"
"B-Benar... Mana boleh Nona Celestine yang
seorang putri Duke bersikap seceroboh itu..."
Mendengar ucapan yang tak bisa diabaikan itu, Rosemary
bersaudara yang berada di sisi kiri dan kanan Rest melayangkan protes.
Namun, Celestine tetap mempertahankan senyumnya dan
membalas dengan anggun.
"Memang benar belum diputuskan, tetapi saya rasa
ini hanya masalah waktu. Berkat jasanya yang kemarin, Rest-san kini menarik
perhatian keluarga kerajaan."
"Tapi, itu kan..."
"Keluarga kerajaan ingin mengikat Rest-san melalui
hubungan pernikahan. Saya yang seusia dengannya dan belum memiliki tunangan
adalah sosok yang paling tepat."
"Aduh..."
Mendengar sanggahan Celestine, Rosemary bersaudara
bungkam.
Meskipun mereka adalah gadis-gadis muda yang sedang
kasmaran, mereka tetaplah putri bangsawan. Mereka paham betul bahwa jika
keluarga kerajaan yang menginginkannya, hal itu tidak akan bisa dihindari.
"Jika bicara soal wanita lain di keluarga
kerajaan... adik perempuan Yang Mulia Raja masih belum menikah. Tahun ini
usianya empat puluh tahun. Tabiat pemborosnya sangat parah sampai-sampai Yang
Mulia Raja sendiri merasa kewalahan padanya."
"Tolong ampuni aku..."
Rest menundukkan bahunya.
Seorang wanita pemboros yang usianya lebih tua dua puluh
tahun darinya. Menikahi Tuan Putri adik Raja yang berderajat tinggi dan manja
seperti itu rasanya sudah setingkat dengan hukuman.
Karena pihak lawan adalah anggota keluarga kerajaan, dia
tidak bisa mengutarakannya secara terbuka karena dianggap tidak sopan... tapi
bukankah itu sama saja seperti disodori dewa kesialan?
"Mungkin ada rasa tidak puas... tapi saya rasa akan
lebih baik jika memilih saya saja."
Melihat Rest yang putus asa, Celestine memanfaatkan
kesempatan itu untuk mempromosikan dirinya.
"Saya tidak bermaksud menghalangi Nona Viola atau
Nona Primula. Menjadi istri selir pun sudah cukup bagi saya, dan tanpa
bermaksud menyombongkan diri, saya merasa diri saya adalah wanita yang setia.
Rest-san akan menjadi bangsawan yang memiliki wilayah kekuasaan, jadi menambah
istri yang ahli dalam manajemen dan tata krama sosial tentu menjadi sebuah
keuntungan."
"............"
Sebuah argumen logis yang tak terbantahkan.
Jika ada hal yang ingin disanggah, itu hanyalah
teguran agar tidak membicarakan hal semacam itu di koridor... tapi di situlah
dia baru menyadarinya. Sihir angin telah dipasang di sekeliling Rest dan yang
lainnya.
Sebuah penerapan dari sihir pembatas. Suara disekap
oleh angin agar tidak bocor keluar.
(Seperti yang diharapkan dari wanita yang terampil...
Rasanya menikahi dirinya benar-benar terasa menguntungkan...)
Tidak... kenyataannya itu memang sangat
menguntungkan. Luar biasa menguntungkan.
Menjadikan Celestine—seorang putri Duke sekaligus
gadis cantik yang sempurna—sebagai istri adalah sebuah keberuntungan yang
bahkan tidak akan cukup meski harus menukarnya dengan separuh sisa umur.
(Malah, karena terlalu beruntung, aku jadi merasa hal ini
terlalu berlebihan untukku... Mampu menikah dengan Viola dan Primula saja sudah
sangat luar biasa, apa tidak apa-apa kalau aku mendapatkan kebahagiaan sebanyak
ini?)
"Kalau Celestine menikah dengan Rest, aku juga ikut,
dong!"
Di tengah kebingungan Rest, Yuri mengangkat tangannya
dengan penuh semangat.
"Kalau aku jadi istri Rest, kita semua bisa tetap
bersama bahkan setelah lulus! Bukankah ini hal yang sangat
membahagiakan?!"
"Ha... eh..."
"Baiklah, ayo kita menikah!"
Tanpa memedulikan suasana di sekitarnya, Yuri berteriak
dengan lantang.
Berbeda dengan Celestine yang mengepung dari berbagai
sudut seperti permainan catur, gadis ini sama sekali tidak menggunakan trik apa
pun. Sebuah ungkapan perasaan yang lugas dan lurus ke depan.
"""............"""
Mendengar hal yang terlalu mengejutkan itu, baik Rest
maupun Rosemary bersaudara kehilangan kata-kata, hanya bisa membuka-tutup mulut
mereka seperti ikan yang mencari makanan.
◇ ◇ ◇
Meskipun ada banyak hal mengejutkan yang dilontarkan...
masalah pernikahan bukanlah hal yang bisa diselesaikan oleh anak-anak saja.
Pembicaraan itu pun ditunda, dan ketiganya kembali ke
kediaman rumah kota milik keluarga Marquis Rosemary bersama-sama.
"Ngomong-ngomong... Rest-san, apakah kamu sudah
menentukan nama keluarga?"
Setelah makan malam dan mandi... saat mereka sedang
mengobrol di ruang santai, Celestine menanyakan hal tersebut.
Kelima orang itu mengenakan pakaian tidur dan duduk di
sofa, membicarakan hal-hal umum seperti kejadian di akademi dan urusan
keluarga. Rest miringkan kepalanya menanggapi pertanyaan yang diajukan di
tengah perbincangan itu.
"Nama keluarga? Punya siapa?"
"Tentu saja punya Rest-san... Apakah kamu tidak
mendengarnya dari Yang Mulia Raja?"
"Ah... sepertinya hal itu pernah dibicarakan,
ya...?"
Saat dianugerahi gelar Viscount oleh Yang Mulia Raja,
rasanya hal mengenai nama keluarga—alias nama belakang—pernah disinggung.
"Karena waktu itu gugup, aku tidak begitu
ingat..."
"Ahahaha! Rest bodoh sekali!"
"...Aku tidak mau didengar olehmu, ya, Yuri."
Setelah melayangkan tatapan tajam ke arah Yuri yang
tertawa terbahak-bahak, Rest menekan pangkal hidungnya dengan jari.
"Benar juga... Karena menjadi bangsawan, aku
diminta menentukan nama keluarga lalu mengajukannya..."
Di dunia ini, rakyat biasa tidak memiliki nama
belakang atau nama keluarga.
Pihak yang boleh menggunakan nama belakang hanyalah
keluarga kerajaan, bangsawan, ksatria, dan orang-orang yang telah mengukir jasa
khusus.
Rest telah menjadi Viscount. Karena itu, dia harus
menggunakan nama keluarga.
"Aku kan bakal menjadi menantu di keluarga Marquis
Rosemary, apa tidak bisa pakai nama 'Rosemary' saja?"
"Bukan tidak bisa... tapi nanti bisa tertukar dengan
keluarga lain."
Bukan Celestine, melainkan Viola yang menjawab.
"Rest suatu saat nanti akan menjadi menantu di rumah
kami dan menjadi 'Marquis Rosemary'. Tapi... gelar yang diberikan kali
ini adalah hal yang berbeda dari itu."
"Bagi bangsawan tinggi, memiliki beberapa gelar
kebangsawanan sekaligus bukanlah hal yang aneh. Gelar itu bisa diwariskan
kepada anak selain penerus utama, atau diberikan kepada pengikut yang berjasa
besar."
Primula ikut memberikan penjelasan.
Dia berdiri dan mengambil sebuah buku dari rak buku
di ruang santai.
"Ini adalah buku daftar nama bangsawan... nama
keluarga 'Rosemary' sendiri selain digunakan oleh keluarga bangsawan utama
kami, juga digunakan oleh keluarga cabang bertingkat Baron dan Viscount."
"Kalau bertambah lagi nanti malah makin
membingungkan. Kalau bisa, sebaiknya gunakan nama yang berbeda."
"Begitu ya... Kalau begitu, bagaimana
baiknya?"
"Ada juga pemikiran untuk menggunakan nama
keluarga bangsawan yang sudah punah. Di buku daftar ini juga ada beberapa
pilihan."
"Hmm, coba kulihat..."
Rest mengintip buku yang dibuka oleh Primula.
"Apricot, Fragrant, Kalmia, Bouvardia, Statice,
Ranunculus, Delphinium... Hmm, ada banyak sekali sampai aku bingung pilih yang
mana."
Nama keluarga di negara ini memang banyak yang
menggunakan nama tumbuhan, tetapi bagi Rest yang tidak memiliki ketertarikan
pada dunia berkebun sejak kehidupan sebelumnya, nama-nama itu terasa biasa
saja.
Kalau begitu, bagaimana jika membuat nama keluarga
baru saja... pemikiran seperti itu sempat terlintas, tetapi dia tetap tidak
bisa menemukan ide.
(Menggunakan nama belakang dari kehidupan sebelumnya...
Tidak mungkin. Sama sekali bukan pilihan.)
Siapa juga yang mau menggunakan nama belakang yang sama
dengan ayah yang telah menikamnya hingga tewas.
Membayangkannya saja sudah membuat dadanya sesak dan
emosinya mendidih.
"Membicarakan soal nama keluarga... dalam waktu
dekat mungkin akan ada beberapa keluarga bangsawan yang punah."
Celestine mendadak mengutarakannya dengan nada bicara
yang tidak tenang.
Saat Rest memiringkan kepalanya bingung, Viola
mewakilinya untuk memberikan jawaban.
"Ini soal perang saudara. Maksudnya, para
bangsawan dari 'Faksi Ibu Suri' akan lenyap."
"Ah... begitu rupanya..."
Perang saudara... mendengar kata yang lebih mengancam
itu, Rest teringat akan situasi berbahaya yang sedang dihadapi negara ini.
Karena kehidupan akademi terasa begitu damai, dia
hampir melupakannya... padahal saat ini Kerajaan Iwood berada dalam kondisi di
mana perang saudara bisa pecah kapan saja.
"Marquis Eiger... lalu Rodel Iwood, ya. Apakah
mereka benar-benar berniat menghimpun pasukan?"
Sejak sebulan lalu di acara Festival Perburuan Iblis,
Pangeran Ketiga Rodel Iwood memprovokasi binatang buas Sabnok hingga memicu stampede.
Insiden yang hampir menyudutkan ibu kota kerajaan itu
berhasil diselesaikan berkat aksi Rest, tetapi Rodel kini menghilang karena
disembunyikan oleh Marquis Eiger.
Marquis Eiger yang merupakan tokoh sentral dari 'Faksi
Ibu Suri' tengah mengumpulkan prajurit, dan rumor kuat menyebutkan bahwa dia
berniat melancarkan kudeta dengan menjadikan Rodel sebagai pemandu gerakan.
(Tapi... meski sudah sebulan berlalu sejak saat itu,
perang saudara belum juga pecah, ya...)
"Lagipula... kalau memang ada tanda-tanda
pemberontakan, bukankah lebih baik langsung diserang dan dihancurkan saja dari
awal? Kenapa masih dibiarkan saja?"
"Ada banyak alasan rumit di balik hal ini. Sangat
merepotkan."
Celestine menyentuh pipinya dengan tangan dan mendesah
pelan.
"Pangeran Rodel adalah anak dari istri selir, dan
ibunya berasal dari keluarga kerajaan Kekaisaran Geisel. Kondisi kesehatan
ibunya memburuk setelah melahirkan dan meninggal tidak lama setelah melahirkan
Pangeran."
"Hmm... Kekaisaran Geisel, ya..."
Negara tetangga yang berada di sebelah timur Kerajaan
Iwood. Dulunya negara itu pernah berperang dengan kerajaan ini, tetapi saat ini
mereka terikat hubungan aliansi dan perdagangan berlangsung dengan pesat.
"Meski itu adalah kejadian yang tidak terduga,
kematian seorang putri dari keluarga kerajaan membuat negara kita merasa
bersalah kepada Kekaisaran Geisel. Atas dasar itu, jika kita menindak Pangeran
Rodel sebagai pemberontak... hubungan kedua negara akan hancur."
"...Maksudmu, kita juga bakal berperang dengan
Kekaisaran Geisel?"
"Perang mungkin tidak akan langsung pecah, tetapi
hubungan kedua negara pasti akan retak. Karena itulah kita tidak bisa menyerang
Marquis Eiger terlebih dahulu."
Pihak kerajaan harus memberikan penjelasan yang cukup
kepada Kekaisaran Geisel terlebih dahulu, lalu menunggu hingga Rodel dan
Marquis Eiger benar-benar menghimpun pasukan sehingga dugaan pemberontakan
terbukti secara pasti, barulah mereka bisa bergerak.
"Jadi kita tidak bisa melakukan apa pun sampai pihak
lawan bergerak... Rasanya menyebalkan juga, ya."
"Yang Mulia Raja justru memanfaatkan situasi di mana
Marquis Eiger sedang mengumpulkan kekuatan. Beliau tampaknya menunggu seluruh
'Faksi Ibu Suri' berkumpul untuk membasmi mereka sekaligus dalam satu
tebasan."
'Faksi Ibu Suri' adalah sel kanker yang menggerogoti
negara ini. Apakah beliau berniat memotong sel kanker tersebut sekaligus dalam
kesempatan ini?
(Sengaja membiarkan kekuatan musuh berkumpul sebelum
bertarung... secara militer mungkin itu langkah yang buruk, tapi saat Marquis
Eiger selesai bersiap, itulah saat pertempuran penentu dimulai, ya.)
"Pada saat itu tiba, kemungkinan besar Rest-san juga
akan dipanggil."
"...Begitu, ya."
Melihat Celestine yang menurunkan alisnya dengan cemas,
Rest tidak mengeluh dan hanya mengedikkan bahunya.
Jika dia masih rakyat biasa hal itu mungkin beda cerita,
tetapi Rest yang sekarang adalah seorang bangsawan.
Bangsawan wajib mematuhi perintah keluarga kerajaan dan
bertarung demi negara. Ini adalah sebuah kewajiban.
(Karena sudah jadi bangsawan, aku tidak bisa
menolak... Tidak, lagipula aku sudah memutuskan untuk hidup bersama Viola dan
Primula. Aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan demi negara
ini.)
"Tidak masalah. Kamu tidak perlu memikirkannya,
Celestine."
"Terima kasih... Rest-san."
""Muuu...""
Pipi Celestine merona merah, sementara Viola dan Primula
merajuk dengan pipi mengembung.
"Kalian semua, hentikan pembicaraan yang rumit itu
dan ayo kita bermain kartu saja?! Hari ini aku pasti tidak akan kalah!"
Yuri berseru dengan suara nyaring.
Di kediaman ini terdapat ruang permainan yang
dilengkapi dengan permainan seperti dart dan biliar.
"Aku tidak mau... Yuri kan tidak bakal berhenti
sebelum menang..."
"Tidak masalah! Soalnya, hari ini aku merasa
bakal menang!"
"Tanpa dasar sama sekali, ya. Pertama-tama pelajari
dulu cara memasang poker face."
Baik bermain poker maupun Old Maid, Yuri yang
tidak bisa berbohong dan selalu memperlihatkan emosi di wajahnya tidak akan
pernah bisa menang. Ingatannya pun di bawah rata-rata, jadi dalam permainan
daya ingat pun hasilnya akan sama saja.
"Fufu... Saya tidak keberatan, kok?"
"Boleh juga, aku ikut."
"Mumpung sedang berkumpul, bagaimana kalau kita
bertaruh sesuatu?"
Rest sempat ragu, tetapi tiga orang lainnya tampak
bersemangat.
"Ide bagus. Bagaimana kalau pemenangnya boleh
melakukan apa saja pada Rest selama sehari?"
"Uwaah!?"
Pernyataan mengejutkan dari Viola membuat Rest menarik
tubuhnya ke belakang.
Apa maksudnya dengan 'melakukan apa saja'? Mungkinkah hal
yang dipikirkannya itu benar-benar hal seperti itu?
"Aku setuju, Kak... Aku pasti tidak akan
kalah."
"Kelihatannya seru! Aku juga tidak keberatan!"
"Saya tidak boleh kalah, nih. Saya jadi sangat
bersemangat."
"Eh... Kalian malah makin bersemangat!?"
Primula, Yuri, dan Celestine langsung menyetujui.
Mengapa para putri bangsawan di dunia ini bisa
seaktif ini? Bukankah putri bangsawan seharusnya bersikap lebih santun?
"L-Lalu posisiku bagaimana...?"
"Kalau tidak mau dijadikan hadiah, Rest-kun menang
saja. Bertarunglah dan rebut kebebasanmu sendiri."
"Bicaranya sudah seperti Ibu Eirish saja...
Seperti ibu dan anak..."
Mendengar Viola yang mulai berbicara seperti ibunya
yang berotak otot—Eirish Rosemary—Rest hanya bisa menundukkan bahunya lemas.
"Aku tidak berpikir kalian bakal melakukan hal
yang aneh-aneh padaku... tapi karena bertanding, aku pasti akan menang. Baik
itu sihir maupun kartu."
"Harus begitu, dong! Kalau begitu, ayo kita
mulai!"
Kelima orang itu mengelilingi meja dan mulai bermain
kartu.
Para pemuda dan pemudi itu pun bersenang-senang dan
menikmati malam hingga larut.
◇ ◇ ◇
"Lho? Ada apa, Rest? Kamu kelihatan mengantuk
sekali."
"Tidak... tidak ada apa-apa..."
Keesokan harinya. Di dalam kelas Akademi Kerajaan.
Kepada teman laki-lakinya yang menyapa—Luid Gistal—Rest
menjawab sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
Semalam dia bermain kartu hingga larut malam, dan
akibatnya hari ini dia kurang tidur.
Pertandingan yang sengit itu tidak cukup hanya dilakukan
sekali. Akhirnya, dibuatlah aturan sistem poin di mana orang yang memperoleh
nilai tertinggi pada akhirnya yang akan menjadi pemenang.
(Siapa sangka... pemenang akhirnya justru Yuri...)
Mengingat pertarungan sengit tadi malam, Rest hanya
bisa mendesah.
Hasil dari pertandingan kartu tersebut adalah Yuri di
posisi pertama, Viola di posisi kedua, Primula di posisi ketiga, Rest di posisi
keempat, dan Celestine di posisi kelima.
Yuri yang seharusnya paling lemah dalam hal adu taktik
justru keluar sebagai juara pertama. Sebuah pemutarbalikkan keadaan di mana
Celestine sang kandidat kuat pemenang malah secara tak terduga menduduki posisi
juru kunci.
(Si Yuri itu, keberuntungannya dalam bertanding aneh
sekali... Padahal biasanya tidak seberapa, tapi di saat-saat krusial
keberuntungan pasti selalu berpihak padanya.)
Yuri saat itu benar-benar memiliki keberuntungan yang
luar biasa. Ditambah lagi, insting liarnya terasah dengan sangat tajam.
Yuri menunjukkan keberuntungan luar biasa yang lebih dari
cukup untuk menutupi kekurangannya yang tidak bisa memasang poker face.
Saat bermain Old Maid, dia berhasil menebak kartu seolah-olah memiliki
kemampuan tembus pandang.
(Mana mungkin aku menyangka dia akan mengeluarkan Royal
Straight Flush di putaran pertama tanpa menukar kartu... Bagaimana coba
caranya melawan hal seperti itu?)
Rest melirikkan matanya sedikit ke samping.
Di tempat yang agak jauh, Viola, Primula, Yuri, dan
Celestine sedang mengobrol dengan gembira bersama siswi-siswi teman sekelas
mereka.
Viola dan yang lainnya tampak memasang wajah mengantuk...
tetapi hanya Yuri seorang yang wajahnya berseri-seri dan mengobrol dengan penuh
semangat.
(Pada akhirnya, permintaan seperti apa yang ingin
diajukan Yuri, ya...?)
Perjanjian awal menyebutkan bahwa sang pemenang boleh
melakukan apa saja pada Rest selama sehari. Karena Yuri tidak bisa langsung
memikirkannya, janji hadiah itu pun ditunda untuk lain hari.
(Yah, kalau Yuri sih paling tidak akan meminta hal yang
aneh-aneh. Mungkin. Ya, aku percaya padanya.)
"Ngg? Ada apa, ada apa? Menatap ke arah para gadis
seperti itu. Apa kamu sedang masa puber?"
"Mana mungkin. Kamu bodoh, ya?"
"Hahaha! Yah, kamu memang tidak pernah kesulitan
soal wanita, sih. Punya dua tunangan cantik, tambah lagi berhubungan dekat
dengan Nona Yuri dan Nona Celestine. Mana statusmu pahlawan penyelamat negara
lagi. Pilih wanita mana saja bebas, kan?"
"............"
Rest menatap dalam diam teman laki-lakinya yang
menyikutnya sambil menggoda itu.
Belakangan ini, hal seperti ini sering sekali terjadi.
Siswi-siswi yang mengincar uang dan ketenaran mendekatinya secara
terang-terangan, sementara para siswa laki-laki melayangkan rasa iri dan godaan
padanya.
Di rumah pun dia tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Di manakah sebenarnya tempat yang aman baginya?
"Semuanya, duduk di kursi masing-masing. Jam wali
kelas akan dimulai!"
Pintu ruang kelas terbuka.
Seorang guru wanita berstelan jas... Nephily Carder,
masuk ke dalam kelas.
"Ini mendadak, tapi hari ini ada murid pindahan yang
datang, jadi aku akan memperkenalkannya."
"Murid pindahan?"
"Di saat seperti ini? Kenapa?"
Mendengar perkataan Carder, kegemparan kecil terjadi di
berbagai sudut kelas.
Untuk bisa masuk ke Akademi Kerajaan, seseorang harus
lulus ujian masuk yang diadakan setahun sekali.
Namun... sebagai pengecualian, jika seseorang lulus ujian
khusus, mereka bisa pindah sekolah bahkan di tengah semester.
(Ujian masuk murid pindahan tingkat kesulitannya jauh
lebih tinggi daripada ujian biasa. Lagipula, bukankah harus ada kuota murid
yang kosong?)
(...Ah, benar juga, kuota kosongnya memang ada.)
Rodel dan anak-anak bangsawan dari 'Faksi Ibu Suri' telah
lenyap sepenuhnya dari akademi. Begitu pula dengan para pengikut Rodel, yang
kabarnya ada sekitar sepuluh orang di setiap angkatan.
Selain itu, ada juga murid-murid yang mengalami luka
parah saat 'Festival Perburuan Iblis' sehingga harus mengambil cuti atau
berhenti sekolah.
"Di Kelas A sebenarnya tidak ada kuota kosong...
tetapi karena dia meraih nilai yang sangat tinggi dalam ujian pindahan, dia
secara khusus dimasukkan ke kelas ini. Semuanya, bersikaplah ramah
padanya."
Carder mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat.
Kemudian, pintu kelas kembali terbuka dan seorang
perempuan masuk ke dalam.
"............Hah?"
Perempuan... tidak, apakah tepat jika menyebutnya
perempuan?
Postur tubuhnya sangat mungil, mungkin lebih pendek dua
kepala dari Rest.
Rambut ungu gadis itu berayun setiap kali dia
melangkah. Raut wajahnya yang belia minim ekspresi, tampak persis seperti
boneka buatan yang sempurna.
Daripada wanita, dia lebih cocok disebut gadis.
Daripada gadis, dia lebih cocok disebut anak perempuan.
Seorang siswi dengan penampilan luar seperti anak
sekolah dasar kelas atas baru saja melangkah masuk.
"Namanya adalah Urula Lavender. Dia adalah cucu
dari Margrave Lavender."
"............!"
Sekali lagi, ruang kelas menjadi gempar.
Margrave Lavender memiliki wilayah kekuasaan di
perbatasan timur, seorang bangsawan tinggi yang setingkat dengan Marquis
Rosemary dan Marquis Catelya.
Karena bertanggung jawab atas pertahanan perbatasan,
kekuatan militernya sangat tinggi, merupakan kekuatan tempur utama kerajaan
yang setara dengan Orde Ksatria dan Penyihir Istana.
"Keluarga Margrave Lavender punya anak
perempuan...?"
"Oi oi, aku tidak pernah mendengar hal seperti
itu."
"Tapi, dia jelas-jelas masih anak-anak, kan? Apa
dia benar-benar seumuran dengan kita?"
"Lagipula, kenapa harus pindah sekolah? Padahal
kalau ikut ujian masuk biasa kan bisa."
"Harap tenang. Jangan ribet."
Carder melirik tajam ke sekeliling kelas, membungkam para
murid.
"Dia telah menderita penyakit sejak lama, sehingga
tidak bisa tampil di depan umum. Tubuhnya yang mungil juga akibat dari penyakit
itu, usianya sama dengan kalian semua. Belakangan ini, penyakitnya akhirnya
sembuh total sehingga dia pindah ke Akademi Kerajaan."
"............"
Di samping Carder yang sedang memberi penjelasan, Urula
tetap berdiri tanpa ekspresi.
Sosok itu kecil dan imut... tetapi tidak terasa seperti
itu.
Meskipun terlihat seperti anak-anak, ketiadaan emosi pada
dirinya justru memberikan kesan yang aneh dan menyayat hati.
(Menurut penjelasan Sensei, dia memang seumuran dan
bukan anak-anak... Tapi kalaupun begitu, atmosfer di sekitarnya terasa agak
tidak biasa, ya.)
"Kalau begitu, silakan perkenalkan dirimu."
"Baik."
Urula
berbicara dengan suara yang singkat dan datar.
"Nama saya Urula Lavender. Senang berkenalan
dengan Anda sekalian."
"............"
Meski Urula menyampaikan salamnya tanpa ragu... kesan tak
alami tetap tidak bisa dihilangkan.
Dia memang seorang gadis yang cantik, tetapi ekspresinya
sama sekali tidak bisa dibaca hingga tak ada yang tahu apa yang sedang
dipikirkannya.
"Ugh..."
"Anu..."
Bukan hanya Rest yang bingung, tetapi teman-teman sekelas
lainnya juga menunjukkan wajah serbasalah yang sulit dilukiskan.
"............"
Urula menatap teman-teman sekelasnya.
Dari ujung ke ujung dia memperhatikan mereka satu per
satu, seolah-olah sedang menilai kualitas barang dengan matanya yang bening
bagaikan bola kaca...
"Ah..."
"............"
Manik mata berwarna ungu itu terhenti di tempat Rest
berada.
Dia menatap Rest secara lekat-lekat.
"O-Oi, Rest. Kamu dilihatin, tuh."
"Anu... Sepertinya memang begitu, ya..."
Rest menjawab Luid yang berbisik padanya sambil
memasang raut wajah canggung.
Urula sedang menatap ke arah sini. Tanpa diragukan
lagi, fokus matanya tertuju tepat pada Rest.
"............"
"Ada apa, Urula Lavender?"
Carder yang berada di sampingnya bertanya dengan
curiga, tetapi Urula tidak memberikan respons.
Dia tetap berdiri mematung di atas mimbar dengan
pandangan yang terkunci pada Rest.
"Rest-kun?"
"Apa dia kenalannya?"
"Tapi katanya dia tadi dirawat karena sakit."
"Rest lagi? Bukankah anak itu punya terlalu banyak
teman perempuan?"
Para murid saling melempar pandangan bingung antara Rest
dan Urula, tetapi Rest sendiri sama terkejutnya. Dia tidak mengerti apa yang
sedang terjadi.
(Aku dan Nona Lavender tidak saling kenal...
seharusnya. Tapi, kenapa dia menatapku seperti itu?)
"Urula Lavender, perkenalannya sudah cukup. Duduklah di kursi yang kosong."
"............"
"Oi, aku bilang duduk di kursimu. Cepatlah!"
"...A..."
Saat Carder memberi perintah dengan nada bicara yang
tegas... Urula akhirnya membuka mulut dan bergerak.
"Aah!"
"Urula Lavender!"
Namun secara tak terduga, darah mendadak menyembur
deras dari hidung Urula.
Darah dalam jumlah banyak mengotori lantai, lalu
tubuhnya tumbang begitu saja ke belakang.
"Bahaya!"
Rest secara refleks berdiri dan mengaktifkan
sihirnya.
Melalui Wind Control, dia mengendalikan udara
untuk menopang dan menangkap tubuh Urula.
"Ugh... Semuanya, waktu belajar mandiri dimulai
dari sekarang! Aku akan membawanya ke ruang UKS!"
Carder mengangkat tubuh Urula yang melayang.
Dia berlari dengan kecepatan yang luar biasa,
mendobrak pintu kelas, lalu melesat keluar menuju koridor.
"A-Apa-apan itu tadi..."
"Oi, Rest. Kamu benar-benar tidak kenal
dengannya?"
"Aku tidak kenal..."
Aku tidak tahu. Itu adalah fakta.
Namun... sepertinya sebagian besar teman sekelasnya
tidak berpikir demikian, hingga tatapan tajam bagaikan anak panah menghujam
Rest dari segala arah.
""""............""""
Di antara tatapan tersebut... terdapat pula tatapan dari
Viola, Primula, Yuri, dan Celestine.
Hanya Yuri yang tampak memunculkan tanda tanya di atas
kepalanya, tetapi sepertinya Rest harus memberikan penjelasan kepada mereka
nanti.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment