Chapter 5
Pecahnya
Perang Saudara
"Mulai saat ini, kita akan menggempur ibu kota! Kita
akan menumbangkan raja bodoh yang mengklaim takhta secara ilegal, lalu
menyerahkan kursi kekuasaan kepada raja yang sah!"
Di wilayah Marquis Eiger, yang terletak di bagian selatan
Kerajaan Awood.
Di hadapan pasukan yang telah dihimpun, Marquis Berlio
Eiger memekikkan deklarasinya dengan lantang.
Jumlah prajurit yang berkumpul di bawah komando Marquis
Eiger—sosok sentral dari Faksi Ibu Suri—mencapai tujuh puluh ribu orang. Selain
prajurit pribadi milik para bangsawan bawahan, terdapat pula tentara bayaran
serta milisi rakyat yang direkrut paksa.
"Meski musuh sangat kuat, kalian tidak perlu cemas!
Kita mendapatkan ganjaran berkah dari Ibu Suri yang agung. Kekalahan adalah hal
yang mustahil!"
"OOOOOOOOOOOOOOOOOO!!"
"…………"
Reaksi para prajurit yang mendengarkan pidato Marquis
Eiger terbelah menjadi dua.
Antara mereka yang terbakar semangat dan mereka yang
bersikap acuh tak acuh. Kelompok pertama adalah orang-orang dari Faksi Ibu
Suri, pihak yang mengagumi mendiang Ibu Suri dari lubuk hati terdalam. Sementara
kelompok kedua adalah para milisi rekrutan dan tentara bayaran.
Ibu Suri…… wanita bernama Frederica Awood itu adalah
sosok yang memiliki karisma tersendiri.
Dia memimpin banyak bangsawan dan berhasil
menumbangkan raja sebelumnya yang dikenal sebagai raja lalim.
Dia menobatkan putranya sendiri sebagai raja baru demi
membenahi negara yang kacau, serta memakmurkan kehidupan rakyat.
Ada banyak orang yang memuja sosoknya, hingga
terbentuklah faksi besar bernama Faksi Ibu Suri bahkan setelah kematiannya.
Namun…… dia melakukan satu kesalahan besar.
Kesalahan itu adalah memanjakan cucunya, Pangeran
Ketiga Rodel Awood.
Dia memisahkan Rodel dari orang tuanya dan
membesarkannya secara liar, hingga mengubahnya menjadi pangeran bodoh yang
sangat egois.
Faksi Ibu Suri beranggapan bahwa Rodel—yang menerima
kasih sayang melimpah dari Ibu Suri—adalah sosok yang paling layak menjadi raja
berikutnya.
Mereka menetapkan Raja saat ini beserta Pangeran
Mahkota sebagai musuh bebuyutan yang harus ditumbangkan karena menghalangi
jalan tersebut.
"Nah, Pangeran Rodel! Silakan berikan patah kata
kepada para prajurit yang pemberani ini!"
"……Iya."
Atas dorongan Marquis Eiger, si pangeran bodoh yang
dimaksud akhirnya melangkah maju ke hadapan para prajurit.
"…………"
Ekspresi Rodel terasa pahit saat berdiri di depan tujuh
puluh ribu prajurit.
Jika itu adalah Rodel yang dulu, dia pasti sudah tertawa
terbahak-bahak penuh kesombongan melihat lautan prajurit yang tunduk padanya. Namun…… wajahnya hari ini tampak sangat muram.
(Goura, Tony…… sebenarnya apa yang sedang
kulakukan……?)
Dalam hati, dia bertanya kepada dua orang kepercayaan
yang merupakan teman sejak kecilnya.
Dua orang yang dulu mengabdi pada Rodel yang bodoh
kini sudah tidak ada…… mereka tewas di Dataran Sabnock.
Kematian mereka mengguncang nilai-nilai hidup Rodel
yang sebelumnya menganggap dirinya bagaikan dewa, sekaligus meruntuhkan
kesombongannya.
(Memicu stampede hingga membuat orang
kepercayaanku tewas, lalu diangkat menjadi simpul kekuatan pemberontakan
seperti ini…… apakah aku benar-benar sedang menempuh jalan yang benar?)
Jika itu adalah Rodel yang dulu, dia pasti akan
menerjang maju tanpa meragukan kebenarannya sendiri.
Menjak-injak siapa pun yang menghalangi, menghancurkan
siapa pun yang tidak disukai…… dan menuruti kehendaknya sendiri secara buta.
Namun…… rasa percaya diri seperti itu kini telah
hancur berkeping-keping.
Rodel tidak lagi menyombongkan diri sebagai orang yang
dipilih oleh dewa.
Dia tidak bisa menerima begitu saja perkataan Marquis
Eiger yang menyebutnya sebagai sosok yang harus menjadi raja.
(Bahkan jika aku mengatakan sesuatu, Marquis Eiger
maupun orang-orang Faksi Ibu Suri tidak akan mendengarkannya…… Kalau begitu,
yang bisa kulakukan hanyalah menerjang maju mengikuti takdir.)
"……Kita akan merebut ibu kota. Ikuti aku."
"Kalian dengar itu, Saudara-saudara sekalian!?
Pangeran Rodel memiliki tekad untuk menumpas raja bodoh demi memulihkan
kekuasaan kerajaan yang sah!"
Menginterpretasikan ucapan Rodel secara sewenang-wenang,
Marquis Eiger kembali berteriak nyaring.
"Ayo, maju! Wahai para prajurit, mulailah bergerak
menuju ibu kota!"
"OOOOOOOOOOOOOOOO!!"
Pekikan perang yang terdengar nekat berkumandang, lalu
pasukan pemberontak pun mulai bergerak.
Para prajurit Faksi Ibu Suri yang telah berhimpun
bergerak ke arah utara bagaikan koloni semut yang berbaris, membunyikan taring
kebencian mereka seolah hendak melahap habis ibu kota.
◇ ◇ ◇
"Akhirnya Faksi Ibu Suri mulai bergerak, ya…… Mereka
benar-benar membuat kita menunggu lama."
Kerajaan Awood. Di dalam istana kerajaan yang terletak di
ibu kota.
Pria yang duduk di atas takhta menghela napas berat. Raut
wajahnya tampak sangat pahit, seolah-olah dia baru saja dipaksa menelan puluhan
serangga beracun lalu ditinju tepat di wajahnya.
"Rodel…… anak bodoh. Sampai akhir pun kamu tidak
bisa bertobat……"
Sosok yang meratapi tindakan bodoh Rodel adalah
ayahnya sendiri…… Raja Darvid Awood.
Di ruangan tempat takhta berada, selain sang raja,
terdapat empat orang lainnya.
Salah satunya adalah putra sang raja…… Pangeran Pertama
sekaligus Pangeran Mahkota, Richard Awood.
Pria yang digadang-gadang sebagai calon raja berikutnya
itu melipat tangan, menunjukkan ekspresi tajam saat memikirkan adiknya yang
telah melakukan kesalahan fatal.
Sementara tiga orang sisanya adalah tiga pilar utama yang
menjadi orang kepercayaan raja…… Marquis Albert Rosemary, Marquis
Iljas Cattleya, dan Adipati Velios Crocus. Masing-masing
menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana, Komandan Ksatria, dan Perdana Menteri.
Kabar mengenai Marquis Eiger yang menghimpun pasukan
sudah sampai ke tangan mereka yang merupakan jajaran petinggi Kerajaan Awood.
Hari ini mereka berkumpul di istana kerajaan untuk
membahas langkah penanggulangannya.
"Pembentukan pasukan penumpas sudah selesai. Kita
bisa berangkat kapan saja."
Ayah Yuri…… Marquis Cattleya, bersuara dengan nada
berat.
Pada kenyataannya, mereka sudah tahu kalau Marquis Eiger
akan melakukan pemberontakan. Justru, mereka memang menantikan saat-saat pihak
lawan mulai bergerak.
Ibu dari Rodel—yang dijadikan sosok simbolis oleh Marquis
Eiger—berasal dari Kekaisaran Geisel. Demi menjaga hubungan dengan pihak
kekaisaran, mereka perlu membuat pihak lawan mengangkat senjata terlebih
dahulu.
Kini pasukan pemberontak sudah menghimpun kekuatan.
Legitimasi untuk membasmi mereka telah didapatkan.
"Rodel……"
Namun, sehebat apa pun legitimasi yang dimiliki, naluri
sebagai orang tua tetap ada.
Rodel yang melakukan pemberontakan…… walau dia hanya
dimanfaatkan sebagai boneka, tetaplah seorang pengkhianat negara. Dia harus
ditumpas bersama dengan Marquis Eiger.
Sang raja merasa terpukul oleh situasi di mana dia
harus membunuh putranya sendiri.
"Saya sangat memahami perasaan Anda, Yang
Mulia."
Melihat sang raja yang memegangi kepalanya, ayah
Celestinne…… Perdana Menteri Adipati Crocus, menyampaikan simpatinya.
"Jika kita berhasil menangkapnya hidup-hidup,
mungkin kita tidak perlu membunuhnya."
Seolah mempertimbangkan perasaan sang raja, Adipati
Crocus melontarkan gagasan tersebut.
"Bagaimana jika kita menumpas Marquis Eiger
sebagai dalang pemberontakan, lalu menangkap Pangeran Rodel hidup-hidup……
mencabut hak waris takhtanya, lalu mengasingkannya ke salah satu kuil?"
"Crocus, tapi hal itu……"
"Iya, itu akan meninggalkan potensi bahaya di masa
depan."
Atas ucapan Marquis Cattleya, Adipati Crocus mengangguk
setuju.
Membiarkan Rodel tetap hidup pasti akan menjadi benalu di
masa depan.
Pangeran bodoh itu mungkin saja akan kembali memelihara
ambisi, atau bangsawan lain yang merasa tidak puas dengan keluarga kerajaan
akan menghasutnya melakukan hal buruk.
Apakah ada gunanya menyelamatkan pangeran bodoh yang
terus-menerus melakukan tindakan tolol, hanya demi menanggung risiko sebesar
itu?
"Maafkan aku, Crocus…… aku tidak apa-apa."
Menerima kepedulian dari bawahannya, sang raja
menggelengkan kepala perlahan.
"Aku juga seorang penguasa. Aku tahu apa yang harus
diprioritaskan…… Aku tidak bisa membiarkan Rodel, anak itu, tetap hidup."
Jika memberi kelonggaran pada Rodel, rasa tidak puas bisa
saja meledak dari para bangsawan di pihak mereka.
Margrave Lavender yang berpikiran haus perang pasti
akan melontarkan kritik keras dengan suara lantang.
"Demi negara ini, putraku tidak punya pilihan lain
selain mati."
"Ayahanda, serahkan hal itu kepadaku!"
Pangeran Mahkota yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
"Tindakan ceroboh adikku akan diselesaikan olehku
sebagai kakak tertua…… Aku berjanji!"
Berbeda dari kedua adiknya, Pangeran Mahkota dikenal
sebagai pria yang tidak banyak bicara. Dia sosok yang serius dan lurus, tetapi
tidak terlalu pandai bersosialisasi dan jarang bicara panjang lebar.
Justru karena itulah, kata-katanya terasa begitu
berbobot. Tekad yang kuat terpancar jelas di matanya.
"Saya juga akan mendampingi sebagai wakil
komandan."
Tanpa menunda sesaat pun, Marquis Cattleya menyela.
"Mobilisasi seratus ribu prajurit telah selesai.
Jika Pangeran Mahkota sendiri yang turun ke medan perang, moral pasukan tentu
akan melonjak drastis. Kami akan segera pergi menumpas para pengkhianat."
"Tunggu sebentar, Marquis Cattleya."
"Ngh?"
Mata Marquis Cattleya sedikit memicing.
Sosok yang mengajukan keberatan adalah ayah Viola dan
Primula…… Marquis Rosemary alias Albert. Ditegur oleh kawan lamanya, Marquis
Cattleya mengangkat alisnya.
"Ada apa? Jangan bilang kamu keberatan kalau aku
yang mendampingi sebagai wakil komandan?"
"Tidak, bukan begitu. Jika itu kamu, kamu pasti bisa
melindungi Pangeran Mahkota tanpa celah sedikit pun."
"Lalu, ada masalah apa?"
"Bisakah kamu membawa calon menataku…… Rest-kun,
untuk ikut serta dalam pasukan penumpas?"
"Calon menanamu?"
Wajah Marquis Cattleya yang keras bagaikan batu mendadak
berkerut.
Dia tahu tentang pemuda bernama Rest itu. Sosok kunci
yang berhasil menumbangkan monster Sabnock dan menyelesaikan masalah stampede
monster.
Serta…… pemuda yang dilaporkan menjalin hubungan yang
sangat akrab dengan putrinya yang kabur dari rumah untuk bersekolah.
"……Dia baru saja dianugerahi gelar Viscount
beberapa waktu lalu, kan? Walau nama keluarganya belum ditentukan, apa kamu
ingin memberinya lebih banyak pencapaian lagi demi calon menanamu itu?"
"Bukan pencapaian yang ingin kuberikan, melainkan
pengalaman."
Sambil merasa heran melihat Marquis Cattleya yang
terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka, Albert memberikan penjelasan.
"Sebagai penerusku, dia kelak akan berdiri di puncak
para penyihir istana. Dia akan menjadi pedang dan perisai
baru yang menopang negara ini. Aku ingin dia menimba pengalaman di medan perang
sejak dini."
"……Itu berbahaya. Dia bisa saja tewas sebelum
berkembang sepenuhnya."
"Jangan meremehkannya. Dia adalah pria yang
kuakui pantas untuk kupercayakan Viola dan Primula."
"…………!"
Mendengar kata-kata tegas itu, Marquis Cattleya ikut
menahan napas.
Mana mungkin Marquis Cattleya—yang sama-sama seorang
ayah—tidak tahu betapa Albert sangat memanjakan kedua putrinya.
Tidak ada alasan untuk meragukan sosok yang diakui Albert
hingga membawa-bawa nama putrinya. Lagipula, Albert dan Marquis Cattleya adalah
rekan sejajar yang bahkan dijuluki sebagai 'Dua Sayap'.
"Begitu, ya…… pertanyaanku tadi sangat
konyol."
Marquis Cattleya menghela napas pelan.
"Mari kita lihat kemampuannya…… apakah pemuda
bernama Rest itu memang pantas menjadi penerusmu. Dan juga……!"
Dan juga…… apakah dia sosok yang layak untuk
dipercayakan Yuri kepadanya.
Tanpa diucapkan lewat kata-kata, Marquis Cattleya
memantapkan hatinya untuk menilai pemuda itu di medan perang.
"Kalau begitu…… Richard, Cattleya, kuserahkan
semuanya pada kalian berdua."
"Siap, Yang Mulia!"
Keduanya membungkukkan badan.
Demi menumpas kanker yang menggerogoti kerajaan……
Faksi Ibu Suri, Pangeran Mahkota bersama Komandan Ksatria memimpin pasukan
penumpas untuk berangkat ke medan perang.
◇ ◇ ◇
"Perang, ya…… Tidak menyangka aku juga bakal
mendapat perintah untuk maju ke medan perang."
Menerima perintah untuk berangkat perang, Rest
menghela napas dengan raut wajah agak bingung.
Lokasinya berada di ibu kota, di kediaman kota milik
keluarga Marquis Rosemary.
Rest menerima surat dari ayah angkatnya, Albert, yang
memintanya berpartisipasi dalam perang, hingga membuatnya merasakan emosi yang
sulit diungkapkan.
Sebagai seseorang yang di kehidupan sebelumnya adalah
orang Jepang yang cinta damai, dia tentu merasa enggan terhadap kata 'perang'.
Namun…… bertarung demi negara adalah kewajiban seorang
bangsawan. Dia tidak bisa menghindarinya.
"Aku paham perasaanmu. Dulu saat pertempuran
pertamaku, aku juga merasa begitu."
Melihat wajah Rest yang muram, Albert bersuara sambil
menghela napas.
"Tapi…… cepat atau lambat, ini adalah jalan yang
harus kamu lalui. Aku ingin kamu menerimanya."
"Iya, aku paham."
Rest mengangguk. Meski ada rasa enggan, dia tidak
berniat menolaknya sejak awal.
Sejak menjadi bangsawan…… tidak, jauh sebelum itu,
sejak dia memutuskan untuk hidup bersama Viola dan Primula, dia sudah
memantapkan hatinya.
"Rest-kun……"
"Rest-sama……"
"Aku tahu apa yang mau kalian katakan, tapi aku
tidak akan membawa kalian berdua."
Viola dan Primula yang ada di ruangan menatapnya seolah
memohon lewat pandangan mata, tetapi Rest langsung memotongnya terlebih dahulu.
Yang diperintahkan untuk berangkat perang hanyalah
Rest seorang. Rosemary bersaudara tidak perlu pergi ke medan perang. Ayah
mereka, Albert, yang menjabat sebagai Kepala Penyihir Istana juga tidak akan
mengizinkan putri-putrinya pergi ke medan perang.
"Membasmi monster maupun perang mungkin sama-sama
berbahaya. Meski begitu, aku tetap tidak bisa membawa kalian."
"Tapi, kalau begitu sungguh tega. Padahal Rest-kun
sendiri masih seorang murid……"
"Benar kata Kakak…… Cuma Rest-san saja yang
mengalami hal berbahaya, itu tidak adil."
Saat mereka berdua menyampaikan protes sambil menatap
tajam ayah mereka, Albert menggelengkan kepala tanpa berani menatap mata kedua
putrinya.
"……Ini adalah keputusan Irish. Tolong pahami
itu."
"Ugh……"
Begitu nama ibu mereka disebutkan, kedua bersaudara
itu langsung ciut.
Mana mungkin Irish Rosemary menarik kembali keputusan
yang sudah dibuatnya. Sebagai anggota keluarga, Viola dan Primula sangat
memahami hal tersebut.
"Ngomong-ngomong…… aku tidak melihat keberadaan
Nyonya, hari ini Beliau ke mana?"
"Irish sudah pergi sejak kemarin. Sepertinya dia
sedang dimintai konsultasi oleh keluarga kenalan lamanya."
"……Jangan-jangan, Beliau sudah pergi ke medan perang
duluan?"
"Mana mungkin sampai sejauh itu. Bagaimanapun juga,
tidak mungkin, kan."
Atas pertanyaan Rest, Albert hanya mengangkat bahunya.
Sebrutal dan sehobi apa pun Irish dalam bertengkar, tidak
mungkin dia menerobos ke medan perang lebih dulu untuk menghajar musuh.
"Bahkan jika ini bukan perintah Nyonya, aku tidak
akan lari…… karena ini adalah hal yang sangat penting."
Rest mengepalkan tangannya erat-erat.
Rodel, sang dalang pemberontakan, adalah pangeran
bodoh yang sudah sangat terkenal. Dia telah memicu banyak masalah di akademi,
dan Rest sendiri ikut menjadi korbannya.
Jika sampai pasukan pemberontak memenangkan
pertempuran ini, Rodel akan bertakhta sebagai raja berikutnya. Jika itu
terjadi, dunia akan berubah menjadi neraka.
Membayangkan apa yang akan dilakukan oleh pangeran
bodoh pencinta wanita itu kepada Viola, Primula, Yuri, maupun Celestinne
setelah mendapatkan kekuasaan…… perutnya terasa menggelegak marah.
Ngomong-ngomong, hari ini Yuri dan Celestinne tidak
datang ke kediaman. Sebagai putri bangsawan kelas atas, mereka mungkin juga
memiliki pemikiran tersendiri.
"Aku pasti akan menang. Aku akan menang dan kembali
ke sini."
Rest mendeklarasikannya dengan penuh tekad. Saat ini,
ada orang-orang yang menantikan kepulangannya. Dia bersumpah akan menang,
kembali, dan pasti bertemu lagi dengan mereka.
"……Tekad Rest-kun sungguh teguh, ya. Licik
banget, dasar anak laki-laki."
"……Seandainya kita terlahir sebagai laki-laki,
apakah kita bisa bertarung bersama?"
Melihat tekad Rest yang tak tergoyahkan, ekspresi Viola
dan Primula meredup penuh kesedihan.
"Primula, kalau kamu terlahir sebagai laki-laki,
kamu tidak akan bisa jadi istri Rest-kun, lho."
"Benar juga, Kakak…… Kita kan mau menikah dengan
Rest-sama, ya."
Kedua bersaudara itu masing-masing menggenggam erat
tangan Rest.
"Rest-kun…… berjuanglah, ya. Jangan
sampai kalah."
"Rest-sama, tolong kembalilah dengan selamat."
"Iya, aku berangkat!"
Benar-benar terasa mengagumkan. Hanya dengan
mengetahui ada orang yang mempercayainya dan mengkhawatirkannya…… kekuatan
mendadak melonjak dari dalam dirinya.
"Bukan
sekadar Sihir Tak Terbatas... tapi kekuatan yang jauh, jauh lebih kuat."
Dengan meninggalkan Viola dan Primula, Rest berangkat
untuk bergabung dengan Pasukan Kerajaan.
Bagi Rest, tirai perang melawan sesama manusia yang
pertama kali dalam hidupnya resmi tersingkap.
◇ ◇ ◇
Pasukan Kerajaan dipimpin oleh Pangeran Mahkota dan
Marquis Cattleya.
Pasukan Pemberontak dipimpin oleh Rodel dan Marquis
Eiger.
Kedua belah pihak membangun markas di dataran sebelah
selatan ibu kota, menunggu saat pertempuran dimulai.
Di markas Pasukan Kerajaan, sosok Rest terlihat berdiri
di sana.
"Tadi aku mendengar para ksatria berbicara.
Katanya, pihak yang jumlahnya lebih sedikit biasanya memilih bertahan di
benteng. Musuh berjumlah tujuh puluh ribu, sementara kita seratus ribu.
Bertarung di medan terbuka dengan selisih angka sebanyak itu benar-benar
nekat!"
Seseorang menyapa Rest yang sedang menunggu
pertempuran dimulai dengan nada ceria tanpa membaca situasi.
"Tentu saja, jumlah pasukan yang banyak memang
menguntungkan. Tapi di dunia ini ada penyihir dan prajurit yang kekuatannya
setara seribu orang. Mungkin saja pihak musuh juga punya kartu as!"
" ...Begitu, ya. Ya, aku paham. Tapi...
boleh aku menanyakan satu hal?"
"Apa itu? Kalau aku tahu, akan kujawab
semuanya."
"Kenapa kamu bisa ada di sini... Yuri?"
Sosok yang menyambut dan menyapa Rest dengan akrab di
markas itu adalah Yuri Cattleya.
Dia adalah teman yang pernah tinggal satu tenda saat
berkemah.
Rest sempat heran karena tidak melihat posisinya saat
berangkat... ternyata Yuri sudah mendahuluinya sampai di medan perang.
"Jangan bilang... kamu pergi tanpa izin Viola dan
Primula?"
"Ah, tidak perlu khawatir. Aku meninggalkan surat
yang jelas untuk mereka. Kutulis, 'Aku pergi sebentar untuk mengambil kepala
komandan musuh'."
"Bukannya itu malah bikin makin khawatir? Lagipula,
mengambil kepala komandan musuh... kamu benar-benar berniat ikut perang,
ya?"
"Tentu saja. Aku
datang memang untuk itu!"
Yuri menepuk dadanya penuh percaya diri seolah
berkata, "Kenapa baru bertanya sekarang?".
Meski perawakannya langsing, dadanya yang berisi
tampak semakin menonjol.
"Bukankah kita belajar beladiri dan sihir di
akademi demi menghadapi krisis kerajaan? Hari ini, momen itu telah tiba.
Bagaimana bisa aku menyembunyikan tubuh dan keterampilan yang sudah kutempa
tanpa menggunakannya?"
"Itu... yah, ada benarnya juga, sih."
"Viola dan Primula pasti bertarung demi menjaga
tempat Rest kembali. Karena aku adalah orang tanpa gelar dan jabatan yang tidak
punya posisi maupun status untuk dilindungi, di saat seperti inilah aku harus
bertarung tanpa memedulikan nyawa, kan?"
"Tanpa gelar dan jabatan katamu... kamu itu putri
seorang Marquis..."
Sambil menahan rasa pening, Rest berusaha mencari alasan
logis untuk menyuruh Yuri pulang... Namun sayangnya, tidak ada kata yang
berguna di dalam kepalanya.
Wanita bernama Yuri Cattleya ini memiliki jalan pikiran
yang sama sekali berbeda dari Rest maupun Rosemary bersaudara. Apa pun yang
dikatakan Rest, jika wanita ini sudah bertekad, keputusannya tidak akan bisa
digoyahkan.
"Anu... maaf mengganggu, apakah saya boleh
bicara?"
Ganti sosok di samping Rest yang mengangkat tangan,
mewakili Rest yang bungkam tanpa bisa membalas.
Orang yang menyela percakapan adalah Dieble, pelayan
setia keluarga Marquis Rosemary. Albert memintanya mendampingi Rest untuk
memberikan bantuan.
"Komandan Pasukan Kerajaan adalah Marquis Cattleya
yang menjabat sebagai Komandan Ksatria. Apakah tidak apa-apa jika Nona bertemu
langsung dengan ayah Nona?"
"Itu dia...!"
Rest bersorak pelan dalam hati.
Kalau dipikir-pikir... Yuri sedang bertengkar dengan
ayahnya, sampai-sampai kabur dari rumah untuk masuk akademi. Jika membawa-bawa
nama ayahnya, mungkin saja dia bisa disuruh pulang.
(Seperti yang diharapkan dari Tuan Dieble... sudut
pandangnya benar-benar berbeda!)
"Hmm... begitu ya, benar juga. Di
pasukan ini ada Ayah."
Wajah Yuri sempat tegang... namun pada detik berikutnya,
ekspresinya kembali cerah seketika.
"Yah, mau bagaimana lagi. Kalau memang bertemu, aku
pasrah saja!"
"Se-secepat itu kamu menyerah...?"
"Soalnya... aku benci brokkoli."
"Hah?"
"Aku baru saja dimarahi Primula kalau pilih-pilih
makanan itu tidak baik. Tapi berkat latihan keras, sekarang aku sudah bisa
makan brokkoli."
"..."
Pilih-pilih makanan itu tidak baik. Karena sudah bisa
makan brokkoli, apakah dia ingin mengatakan kalau dia juga harus mengatasi rasa
bencinya pada sang ayah?
"Memangnya urusan ayahmu dan brokkoli ada di tingkat
yang sama...?"
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan bergerak bebas
sebagai prajurit sukarela. Aku tidak akan merepotkan keluarga Marquis Rosemary,
jadi santai saja."
"...Jujur saja, aku justru lebih tenang kalau kamu
berada di jarak yang bisa kuawasi?"
"Mari bergerak bebas di medan perang. Kalau
berhasil menebas komandan musuh, mungkin aku bisa mendapat gelar kehormatan
seperti Rest!"
"..."
"Oho! Kalau begitu, perselisihanku dengan Ayah bisa
selesai! Jika aku mendirikan keluarga baru dan mandiri, aku tidak ada
hubungannya lagi dengan Ayah. Yaps!"
"...Terserah kamu saja lah."
Karena bicara apa pun akan sia-sia, Rest memutuskan untuk
membiarkannya.
"Tapi... kumohon, hargailah nyawamu. Kalau kamu
mati, Viola dan Primula akan sedih..."
"Ngg? Apakah Rest tidak sedih kalau aku mati?"
"Tentu saja aku sedih... kamu kan teman yang
berharga."
"Begitu ya... ya, benar juga!"
Yuri tersenyum ramah bagaikan seekor anjing besar
yang agak bodoh.
"Kalau begitu, aku akan berjuang untuk bertahan
hidup! Mari berlomba siapa yang bisa meraih jasa lebih banyak!"
"..."
Terserah kamu saja... Rest
bergumam di dalam hati, lalu memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
"Mari fokus kembali... Tuan Dieble, bagaimana
pandangan Anda tentang pertempuran ini?"
Rest bertanya kepada Dieble.
Meskipun penyihir yang hebat, Rest hanyalah seorang
amatir yang belum pernah mengikuti perang.
Dia meminta petunjuk dari Dieble yang merupakan mantan
penyihir istana berpengalaman.
"Pasukan Kerajaan berjumlah seratus ribu, sedangkan
pemberontak tujuh puluh ribu... Menganalisis secara normal,
sepertinya pihak kita yang unggul."
"Benar sekali. Kita memiliki keunggulan
jumlah."
Dieble berdehem sejenak sebelum menjawab.
"Sejauh mata memandang, dataran ini sangat
terbuka... Tidak ada tanda-tanda pasukan tersembunyi. Ada
kemungkinan mereka bersembunyi menggunakan sihir, tetapi tidak akan mampu
menyembunyikan prajurit dalam jumlah banyak."
"Artinya ini pertarungan adu banteng... Marquis
Eiger percaya diri sekali, ya. Apa dia berpikir bisa menang dalam pertarungan
frontal?"
"Marquis Eiger adalah pria berpandangan sempit. Dia
masih hidup di masa lalu... masa di mana dia mengabdi pada Ibu Suri."
"Aku pernah mendengarnya, tapi apakah Ibu Suri
memang sosok yang sehebat itu?"
Atas pertanyaan Rest, Dieble mengangguk dalam-dalam.
"Ya... Ibu Suri tak diragukan lagi adalah pemimpin
langka. Segala hal yang terucap dari mulutnya pasti terwujud. Sosok yang seolah
mampu meramal masa depan. Berkat itu, ada banyak orang yang memujanya, bahkan
pengaruhnya tetap tersisa setelah beliau wafat."
"Meramal masa depan..."
Dahi Rest berkerut mendengar perkataan Dieble.
Melihat masa depan adalah hal yang tidak masuk akal
secara norma, tetapi Rest tahu tentang kekuatan yang tidak masuk akal seperti
itu.
(Bonus reinkarnasi... Kalau ada orang yang punya Sihir
Tak Terbatas, tidak aneh kalau ada orang yang bisa meramal masa depan...)
Mungkinkah Ibu Suri juga seorang reinkarnator?
Di dunia ini terdapat jejak-jejak dari dunia sana,
seperti arena pemukul bisbol. Sejak dulu, Rest sudah merasa bahwa mungkin ada
reinkarnator lain.
(Kalau Ibu Suri adalah seorang reinkarnator, karisma
luarbiasanya jadi masuk akal...)
"Hanya saja, beliau melakukan kesalahan besar di
akhir hidupnya. Beliau berpesan kepada para pengikutnya untuk menjadikan
Pangeran Ketiga yang sangat dimanjakannya sebagai raja berikutnya."
Di samping Rest yang tenggelam dalam pemikiran, Dieble
melanjutkan penjelasannya.
"Jika menelusuri akar pertempuran ini, kita akan
sampai pada surat wasiat Ibu Suri. Jika beliau tidak meninggalkan pesan seperti
itu, Marquis Eiger tidak akan bertindak senekat ini."
"...Pangeran Rodel juga sama. Dia tidak akan menjadi
pangeran bodoh yang sangat egois jika bukan karena itu."
"Tepat sekali. Pertempuran ini memang menguntungkan
Pasukan Kerajaan... namun, kita tidak boleh lengah."
Dieble menepuk bahu Rest.
"Di medan perang, terkadang muncul seseorang yang
sanggup membalikkan perbedaan jumlah pasukan dengan mudah. Bukankah Tuan Rest
juga pernah mempelajarinya saat ujian?"
"'Tombak Dewa' Van Wally dari Majelis Orang Bijak. Raja Pertama Adamlet Awood. 'Pencuri Dewa' Jack All Wu..."
Rest menyebutkan beberapa nama.
Mereka semua adalah tokoh yang dikatakan sanggup
menumbangkan puluhan ribu pasukan maupun monster sendirian.
Di dunia yang menganggap keberadaan sihir sebagai hal
lumrah ini, prajurit yang setara seribu orang bukanlah hal yang terlalu langka.
Bagi prajurit papan atas seperti Komandan Ksatria atau Kepala Penyihir Istana,
membantai seribu prajurit biasa sendirian adalah hal yang sangat mungkin.
(Lagipula... mungkin aku juga bisa melakukannya. Sekadar
sebesar itu.)
Kalau puluhan ribu dia tidak percaya diri... tapi kalau
cuma seribu prajurit, mungkin dia sanggup menumbangkannya sendiri.
(Kalau ada orang yang bisa melakukan hal serupa di pihak
musuh... bakal sedikit merepotkan, ya?)
Meski memiliki Sihir Tak Terbatas, Rest bukanlah pahlawan
tak terkalahkan yang abadi.
Dia bersumpah dalam hati untuk menghadapi pertempuran ini
dengan penuh kewaspadaan.
"Apakah ada orang bernama Rest dari keluarga
Marquis Rosemary!?"
Seorang ksatria yang tidak dikenal memanggil nama
Rest.
Dilihat dari lencana di dadanya, dia tampaknya ksatria
berpangkat cukup tinggi.
"Saya Rest. Ada urusan apa?"
"Jadi kamu... Saya menyampaikan perintah dari
Yang Mulia Pangeran Mahkota selaku Panglima Tertinggi."
Ksatria itu berdiri di hadapan Rest dan berkata
dengan khidmat.
"Saat pertempuran dimulai, lepaskan serangan pertama
ke arah musuh. Hujani musuh dengan sihir yang kamu gunakan saat menumbangkan
monster Sabnock pada keluaran maksimal... Begitulah perintahnya."
"......!"
Rest membelalakkan mata mendengar perintah yang tak
terduga itu.
Sama halnya dengan Zaman Sengoku di Jepang, serangan
pertama... tombak pertama, dianggap sebagai sebuah kehormatan di medan perang.
(Aku yang melepaskan serangan pertama...
Jangan-jangan, aku sedang diuji...)
Rest memang telah menumbangkan monster Sabnock... tapi
mungkin mereka ragu apakah dia benar-benar mengalahkan penguasa wilayah
berbahaya itu seorang diri.
Mungkin ada unsur kepercayaan dan harapan... namun
tampaknya mereka ingin mengukur kekuatan dan nilai Rest di sini.
"...Baik. Saya menerima perintah ini."
Karena pimpinan yang menyuruh, Rest tidak punya pilihan
untuk menolak.
Rest membungkuk hormat dan menerima perintah tersebut.
◇ ◇ ◇
"Rest-kun, bisakah kamu membunuh manusia?"
Sebelum masuk akademi, Albert Rosemary yang merupakan
ayah angkatnya pernah menanyakan hal tersebut.
"Aku tahu kamu sangat ahli membunuh monster. Aku
sangat memahaminya. Tapi... membunuh monster dan membunuh manusia adalah dua
hal yang berbeda."
"Di antara para prajurit yang kembali dari medan
perang, bahkan ada orang yang jiwanya hancur karena telah merenggut nyawa
manusia. Pemanah dan penyihir memang sedikit lebih baik."
"Rest-kun. Kamu adalah penyihir yang luar biasa.
Mungkin... jika hanya melihat bakat, kamu bahkan setara dengan Orang Bijak dari
Majelis Orang Bijak."
"Saat menjadi bangsawan dan mengabdi pada Raja, kamu
pasti akan dituntut untuk membunuh banyak orang. Pengkhianat seperti kali ini,
prajurit musuh yang menginvasi, atau suku asing yang menyerang manusia bagaikan
binatang... kamu akan merenggut nyawa manusia yang tak terhitung
jumlahnya."
"Apakah kamu memiliki tekad itu?"
"Bisakah kamu berdiri di medan perang?"
"Bisakah kamu menembak mati manusia?"
"...Hal itu sudah lewat, Ayah Angkat."
Rest kembali menyadarinya. Dia sangat diberkahi dengan
orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang di keluarga Marquis Rosemary semuanya
baik, dan dia bersyukur atas keberuntungan bisa bertemu dengan mereka.
(Karena itulah, aku ingin membalas budi. Aku ingin
memenuhi harapan mereka. Aku ingin melindungi mereka.)
Markas musuh mulai bising. Saat ini kedua belah pihak
saling mengawasi untuk melihat siapa yang bergerak lebih dulu... tetapi menurut
cerita dari Dieble, musuh yang tidak sabar akan bergerak duluan.
(Di saat musuh bergerak, aku akan menghujamkan sihir ke
markas mereka... Itulah perintahnya.)
Sambil menenangkan diri dan mengamati musuh, Rest
teringat akan suatu kejadian.
Itu adalah pengalaman pertama Rest merenggut nyawa...
saat dia membunuh Cedric Eberne, kakak tiri beda ibu.
Waktu itu, Cedric telah berubah menjadi iblis akibat alat
sihir yang mengamuk. Lagipula, dia mencoba melukai Viola dan Primula.
Rest tidak menganggap tindakannya merenggut nyawa sebagai
kesalahan. Tidak ada penyesalan sedikit pun.
(Tapi... malam itu, aku muntah. Aku bermimpi membunuh
Cedric.)
Sambil memegang dadanya, dia mengepalkan tangan
erat-erat.
Rasa tidak nyaman karena telah membunuh manusia... terasa
seperti dipaksa menelan gumpalan lumpur. Rest pasti tidak akan pernah melupakan
hari itu seumur hidupnya.
(Tapi... bagaimanapun juga, aku akan tetap melakukannya.)
Bahkan jika hari ini trauma baru akan terukir lagi...
Rest akan tetap melakukannya. Tekadnya sudah bulat sejak lama.
(Menang atau kalah, orang akan tetap mati. Daripada
rekan yang mati, jauh lebih baik jika musuh yang mati... Itu sudah
sewajarnya.)
Jika Rest menyapu bersih musuh di sini, kerugian Pasukan
Kerajaan akan berkurang.
Dengan menunjukkan kekuatan yang luar biasa, musuh
mungkin akan kehilangan semangat bertempur dan menyerah.
Ini adalah 'Dilema Kereta Tram'. Pertanyaan tentang
pilihan mana yang bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Masalah tekad apakah
sanggup membunuh segelintir orang demi menyelamatkan mayoritas.
Jawabannya sudah keluar. Rest memiliki tekad untuk
memilih jalan pertumpahan darah. Dia sudah memutuskannya sejak lama.
"Tuan Rest, musuh mulai bergerak. Mohon
bersiap-siap."
Dieble yang berada di sampingnya menepuk bahunya.
Rest mengangguk tanpa suara, lalu mengaktifkan sihir
angin. Dia melayang ke udara dan menatap ke bawah ke arah markas musuh.
"Maju, wahai para prajurit Ibu Suri yang agung!
Seluruh pasukan, serangggggggggg!"
Di ujung pandangannya, seorang pria paruh baya yang
muncul dari markas musuh berteriak lantang.
Apakah itu Marquis Eiger? Ini pertama kalinya Rest
melihat wujud aslinya.
Sosok Rodel tidak terlihat... Apakah dia berada di
bagian dalam markas, atau ikut bergabung dalam barisan pasukan?
"OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!"
Sambil berteriak dengan suara membahana, Pasukan
Pemberontak bergerak maju secara serentak ke arah sini.
"[Hoshi Hami]"
Melihat musuh bergerak, Rest mengaktifkan sihirnya.
Sebuah bola hitam yang tidak memantulkan cahaya muncul
di depan matanya... bintang kegelapan yang sanggup menelan segala hal. Bintang
kegelapan yang diciptakannya menyerap cahaya matahari di sekitarnya.
Area di sekitarnya semakin meredup dengan cepat.
Seolah-olah gerhana matahari total sedang terjadi.
"Ooh...!"
"Benar-benar jadi gelap...!"
"Masa sihir yang merebut cahaya benar-benar
ada...!"
Kegemparan terjadi di antara prajurit rekan. Karena
sudah diberitahu sebelumnya bahwa area akan menjadi gelap saat sihir
diaktifkan, guncangannya tidak begitu besar.
Di sisi lain, yang menjadi riuh adalah markas musuh.
Padahal baru saja melakukan serbuan, mereka mendadak terlempar ke dalam
kegelapan dan menghentikan langkah. Mereka terburu-buru menyiapkan obor atau
menerangi dengan sihir.
(Yah, cahaya itu juga akan terserap, sih...)
Membutuhkan waktu, energi cahaya dikumpulkan di dalam
bintang kegelapan.
Tidak ada tanda-tanda musuh akan menyerang. Padahal
jika ditembak pada timing seperti ini, semuanya akan berakhir.
(Tidak ada musuh tidak sopan yang menyerang saat charging...
Atau lebih tepatnya, sihir biasa tidak akan sampai dari sana, dan wujudku juga
tidak terlihat oleh mereka.)
Meski tidak terlalu menyadarinya, sihir ini memang
cocok untuk medan perang.
Dengan merebut cahaya, pergerakan lawan bisa
dihentikan, lalu serangan kuat bisa diluncurkan dari jarak jauh.
"Persiapan selesai... Tembak!"
Setelah sekitar satu menit berlalu, cahaya yang cukup
telah terkumpul.
(Incarannya adalah markas utama musuh. Tapi, daripada
memusatkannya sepenuhnya, lebih baik melebarkan jangkauannya sampai batas
tertentu, lalu melenyapkan seluruh prajurit yang bersiap di depan markas
utama...!)
"[Amaterasu]!"
Rest melepaskan sihirnya.
Cahaya menyilaukan terpancar dari bintang kegelapan,
berubah menjadi sinar laser raksasa yang dihujamkan ke arah Pasukan
Pemberontak.
◇ ◇ ◇
Sedikit mundur ke belakang, di bagian paling dalam markas
utama Pasukan Kerajaan.
Di sana terdapat Panglima Tertinggi Pasukan Kerajaan,
Pangeran Mahkota Richard Awood, serta Komandan Ksatria, Marquis Cattleya.
"Jumlah pasukan pemberontak lebih banyak dari
perkiraan. Kualitas senjata dan pelindung mereka juga tampak bagus."
"Seperti dugaan... Kekaisaran Geisel pasti
bergerak di balik layar."
Atas perkataan Richard, Marquis Cattleya menjawab
dengan raut wajah sekeras batu.
Berdasarkan informasi sebelumnya... jumlah total
pasukan musuh seharusnya tidak mencapai enam puluh ribu.
Namun, menurut laporan dari mata-mata, prajurit musuh
jauh lebih banyak dari perkiraan, mencapai tujuh puluh ribu orang.
"Bahkan jika merekrut milisi dan menyewa tentara
bayaran, jumlah ini terlalu banyak. Kemungkinan besar Kekaisaran memberi
bantuan secara rahasia."
Wajah Marquis Cattleya berkerut penuh rasa benci.
Kekaisaran Geisel adalah negara tetangga di sebelah
timur Kerajaan Awood sekaligus negara sekutu.
Namun, belakangan ini situasi dalam negeri Kekaisaran
menjadi mencurigakan, dan ketegangan semakin meningkat.
Ibu dari Rodel—pemimpin simbolis pasukan
pemberontak—berasal dari Kekaisaran, sehingga mereka secara rahasia mengirimkan
prajurit bantuan.
Kekuatan prajurit Pasukan Kerajaan memang lebih unggul...
tapi masalahnya bukan di situ.
Lagipula, jika hanya sekadar menang, pertempuran ini
tidak terlalu sulit.
Betapa pun Kekaisaran memberikan bantuan, Marquis Eiger
hanyalah seorang penguasa wilayah lokal.
Direpotkan oleh konspirasi di balik layar memang
menyebalkan, tetapi jika mereka melakukan pemberontakan secara terang-terangan,
membasmi mereka bukanlah masalah.
Tantangan yang sebenarnya adalah harus meraih kemenangan
dalam waktu singkat dengan kerugian seminimal mungkin.
(Jika Kekaisaran bergerak di balik layar, kita harus
menyelesaikannya lebih cepat. Jika perang saudara berkepanjangan dan menjadi
keruh, itu sama saja dengan kekalahan. Kita tidak boleh membuat celah yang bisa
dimanfaatkan negara lain.)
Saat ini Kekaisaran memang belum memperlihatkan
taringnya. Mereka hanya menyokong Rodel dan Marquis Eiger secara rahasia.
Tetapi... jika Kerajaan Awood melemah akibat perang
saudara ini, faksi di dalam Kekaisaran yang menyuarakan invasi ke luar negeri
akan semakin kuat.
Dalam skenario terburuk, ada kemungkinan mereka akan
menyerang Kerajaan Awood.
"Yang harus kita incar adalah kemenangan telak.
Kemenangan tanpa sisa. Kemenangan besar yang membuktikan kepada pihak dalam
maupun luar bahwa tidak ada prajurit lemah di Kerajaan Awood...!"
Pangeran Mahkota mengepalkan tangannya.
Saat dia kembali memantapkan hatinya, situasi di luar
mendadak bising.
"Yang Mulia Pangeran Mahkota! Komandan Ksatria! Musuh mulai bergerak!"
"Begitu ya... Suruh pemuda bernama Rest itu
bersiap melepaskan serangan pertama. Mari kita lihat serangan yang katanya
sanggup menumbangkan Sabnock itu."
Marquis Cattleya mengangkat sudut bibirnya sedikit
saat berbicara.
Proposal untuk menyerahkan serangan pertama kepada
Rest adalah ide dari Marquis Cattleya sendiri.
"...Apakah benar-benar tidak apa-apa, Komandan
Ksatria? Menyerahkan serangan pertama kepada dia yang masih seorang
murid."
Richard menyuarakan keraguannya.
"Aku tidak meragukan cerita bahwa dia menumbangkan
monster Sabnock. Tapi dalam diskusi di istana, bukankah disimpulkan bahwa
Sabnock sudah melemah akibat bertarung dengan monster lain? Apakah sihirnya
memang sepenting itu?"
Pihak istana memang mengakui Rest yang mengalahkan
Sabnock, tetapi tidak menelan mentah-mentah semuanya.
Besar kemungkinan Sabnock melemah akibat perselisihan
dengan monster lain di wilayah berbahaya.
Bukan karena tidak mempercayai Rest, melainkan karena
monster bernama Sabnock itu sangat ditakuti.
"Meskipun dalam keadaan melemah, keberhasilannya
menumbangkan penguasa wilayah berbahaya tetap harus diapresiasi. Dengan
mengangkatnya sebagai pahlawan, kita harus mengalihkan perhatian rakyat dari
rasa cemas akibat perang saudara."
Menyerahkan serangan pertama kepada Rest juga bertujuan
untuk itu.
Bisa mengubah situasi perang atau tidak, bukanlah masalah
utama. Yang dibutuhkan adalah fakta bahwa seorang pahlawan muda ikut bertarung
dan menorehkan prestasi.
"...Kasihan juga dia. Harus berdiri di garis
depan demi menutupi kegagalan keluarga kerajaan."
Ekspresi Richard meredup penuh rasa bersalah.
Latar belakang di balik ditekankannya prestasi Rest
secara berlebihan adalah fakta bahwa Pangeran Ketiga Rodel—anggota keluarga
kerajaan—terlibat dalam pemberontakan.
Secara publik memang belum diumumkan bahwa Rodel
adalah pemimpinnya, tetapi lambat laun kabar itu akan menyebar ke rakyat.
Demi menutupi skandal keluarga kerajaan sebanyak
mungkin, sosok pahlawan bernama Rest ini sengaja diagung-agungkan secara
berlebihan.
"Apakah pemuda seukurannya sanggup menanggung
beban berat itu...?"
"Yah, harusnya tidak apa-apa... Dia adalah pria yang dipilih Albert sebagai calon menantu."
Dan juga, dia adalah favorit putri kesayangannya,
Yuri.
Pandangan mata Marquis Cattleya sangat tajam dan
dingin.
Wibawanya tidak hanya ditujukan kepada prajurit musuh,
tetapi juga kepada Rest yang akan melepaskan serangan pertama.
Apakah pemuda yang dekat dengan putri kesayangannya
itu memang pria yang sepadan... Dia berniat menilai hal itu di kesempatan ini.
"Mari kita keluar."
"Ah, benar juga."
Keduanya berjalan bersama keluar dari tenda.
Saat itu... tepat di mana Rest mengaktifkan [Hoshi
Hami], dan area sekitarnya mulai menggelap.
"Hoho..."
"Benar-benar menyerap cahaya. Sihir yang
menarik."
Keduanya terkagum... Namun jika hanya menjadi gelap,
itu tidak ada bedanya dengan membuat tabir asap.
Bagaimanapun, yang terpenting adalah kekuatannya.
Apakah dia benar-benar memiliki kekuatan untuk mengalahkan Sabnock, ataukah
pencapaian terbesar sejak berdirinya kerajaan itu hanyalah keberuntungan
semata.
"Nah, tunjukkan padaku. Apakah kamu memiliki
wadah untuk menjadi pahlawan? Tunjukkan apakah kamu pantas berdiri di samping
Yuri-ku yang lucu, lucu, lucu, lucu, lucu!"
"......?"
Marquis Cattleya mengucapkan kata-kata yang penuh
dengan perasaan pribadi atau lebih tepatnya dendam pribadi, membuat Pangeran
Mahkota menatapnya dengan wajah heran tepat sebelum kejadian itu terjadi.
"Ooh...!?"
"......!"
Garis cahaya menyiur membelah kegelapan.
Membelah langit menjadi dua, sebuah pukulan dahsyat
bak hukuman dewata dihantamkan tepat ke arah markas musuh.
◇ ◇ ◇
Di sisi lain, di dalam markas utama Pasukan Pemberontak.
Di sana terdapat pemimpin simbolis Pasukan Pemberontak,
Rodel Awood, serta komandan yang sebenarnya, Marquis Eiger.
Di dalam markas berbahan kain yang terpasang, diskusi
militer terakhir sebelum bentrokan sedang digelar.
"Nah... Pangeran Rodel. Akhirnya tiba saatnya
bagi Anda untuk menjadi raja!"
Di dalam markas berbahan kain, Marquis Eiger
berbicara dengan berapi-api di hadapan Rodel yang duduk di kursi.
"Masa kepemimpinan raja bodoh yang memiliki
darah Ibu Suri tetapi sama sekali tidak berbakat, serta Pangeran Mahkota palsu
akan berakhir di sini! Mari kita hancurkan musuh di sini, lalu menyerbu masuk ke
ibu kota!"
"...Begitu, ya."
Rodel menjawab dengan tatapan mata yang gelap dan redup
kepada Marquis Eiger yang berbicara dengan semangat berapi-api hingga terasa
gila.
(Jika menang dalam pertempuran ini, aku akan menjadi
pangeran mahkota. Menjadi Raja Kerajaan Awood... seperti yang diharapkan
Nenek...)
Harapannya akan terwujud. Cita-citanya akan tercapai.
Padahal begitu... anehnya perasaannya sama sekali tidak
membumbung tinggi.
Sejak selamat dari tempat itu... Dataran Sabnock, dia
selalu merasa seperti ini.
(Goura... Tony...)
Yang terbayang di kepalanya adalah wajah dua orang
yang telah bersamanya sebagai orang kepercayaan sejak kecil.
Goura adalah pria yang jujur. Tipe orang polos yang
tidak bisa berbohong, tidak pandai menggunakan otak, dan selalu mencoba
menyelesaikan segala hal dengan otot.
Tony adalah pria berjiwa kerdil. Penakut, tetapi bisa bersikap jumawa dan berakting garang hanya saat
Rodel dan Goura berada di sisinya. Dia pandai bicara, lihai bersilat
lidah, dan anehnya sulit untuk dibenci.
Secara bertahap sejak kematian mereka, perasaannya terus
terasa berat seolah-olah ada batu besar yang mengendap di dalam perutnya.
(Apakah aku memang bukan orang yang terpilih... Aku
adalah cucu dari Ibu Suri yang agung, seorang jenius yang menerima pendidikan
khusus dari beliau agar kelak menjadi raja. Aku adalah penyihir yang lebih kuat
dari siapa pun, sosok yang seharusnya mencapai keagungan untuk menyatukan
Kerajaan Awood... tidak, bahkan seluruh benua...)
Dulu, Rodel selalu penuh percaya diri dalam melakukan apa
pun.
Seolah-olah memiliki sepasang sayap di punggungnya... dia
merasa sanggup terbang ke mana saja.
Perasaan serba bisa seperti itu selalu memenuhi dada
Rodel.
Namun... setelah kehilangan teman-teman yang juga
merupakan orang kepercayaannya, dia benar-benar kehilangan rasa percaya diri.
Alasan Rodel bisa menjadi sosok yang angkuh dan percaya
diri selama ini, mungkin karena dia belum pernah merasakan kegagalan.
Manja karena sangat disayangi oleh Ibu Suri yang
berkuasa.
Bahkan setelah kematian Ibu Suri, dia tetap dilindungi
oleh para pendukung seperti Marquis Eiger.
Orang-orang di sekitarnya hanyalah mereka yang selalu
berkata "ya", tidak ada satu pun yang menasihati atau menegurnya.
Fakta bahwa dia memiliki bakat sihir yang lumayan justru
memberikan dampak yang buruk.
Karena Raja dan Pangeran Mahkota tidak memiliki mana yang
banyak, teguran dari mereka pun hanya dia anggap sebagai 'rasa iri dari orang
lemah'.
Namun... di tengah situasi seperti itu, dia mengalami
kegagalan fatal di Dataran Sabnock.
Akibat serangan nekat yang tidak perhitungan, dia harus
kehilangan orang kepercayaan yang sangat dia andalkan.
Setelah kehilangan dua orang penyorak yang selalu
membenarkan tindakannya, untuk pertama kali dalam hidup, Rodel menyesali
perbuatannya dan merasa telah melakukan kesalahan.
(Di dataran itu, banyak murid yang tewas akibat serbuan
monster... Ini semua gara-gara aku. Gara-gara aku memanggil Sabnock...!)
Sebelumnya, Rodel bukanlah tipe orang yang memedulikan
sekitarnya.
Seandainya Rodel berhasil menang melawan monster
Sabnock... atau setidaknya bisa meraih hasil, berapa pun orang yang mati akan
dia tertawakan sebagai "pengorbanan yang diperlukan".
Namun karena menderita kekalahan dan tidak menghasilkan
apa pun selain korban jiwa... untuk pertama kali sejak terlahir ke dunia, benih
rasa bersalah mulai tumbuh di dalam dirinya.
"...Musuh berjumlah seratus ribu. Mereka lebih
banyak dari kita. Apakah kita benar-benar bisa menang?"
"Jangan khawatir. Jumlah kita memang kalah... tapi
yang terpenting dalam perang adalah kualitas prajurit. Berapa pun banyaknya
rakyat jelata yang berkumpul, mereka tidak akan ada artinya."
"...Begitu, ya."
"...Lagi pula, kita memiliki sekutu yang sangat
diandalkan!"
Pandangan Marquis Eiger tertuju pada sosok yang berdiri
di sudut markas.
"............"
Sosok yang memberikan anggukan tanpa suara kepada Rodel
dan Marquis Eiger itu mengenakan jubah hitam yang menutupi wajahnya
dalam-dalam.
"Beliau adalah orang yang datang tergesa-gesa
sebagai pasukan bantuan dari Kekaisaran, tanah kelahiran dari Selir Agung. Di
belakang Pangeran Rodel tidak hanya terdapat kewibawaan Ibu Suri, tetapi juga
Kekaisaran Geisel. Mana mungkin kita bisa kalah!"
"............"
Mata Marquis Eiger bersinar aneh saat menegaskan hal
tersebut.
Kata-kata yang sebelumnya terasa menentramkan itu, kini
secara aneh terasa menakutkan bagi Rodel.
(Mata pria ini tidak sedang melihatku. Meski tertuju
padaku, yang terpantul di sana hanyalah Nenek...)
Dia akhirnya menyadari bahwa orang yang dilayani Marquis
Eiger bukanlah dirinya, melainkan Ibu Suri.
Bukan hanya Marquis Eiger. Orang-orang di dalam markas
kain ini... para bangsawan Faksi Ibu Suri semuanya sama saja.
Mereka memuja Ibu Suri yang sudah meninggal, tidak lagi
melihat Rodel maupun kenyataan yang ada.
"Marquis, persiapan para prajurit sudah
selesai."
"Ooh, kalau begitu... langsung serang!"
Tanpa meminta petunjuk dari Rodel, Marquis Eiger
langsung memberi perintah agar para prajurit melancarkan serbuan.
Suara trompet ditiupkan tinggi-tinggi. Itu adalah
trompet yang menandakan persiapan untuk maju ke medan perang.
Begitu suara ini terdengar sekali lagi, seluruh
prajurit akan menerjang ke arah musuh.
"Mari kita berangkat! Semua demi Ibu Suri yang
agung. Demi membangun tanah idaman di dunia ini, mari kita gempur sampai ke ibu
kota..."
Marquis Eiger kembali berpidato... namun kata-katanya
terhenti di tengah jalan.
Secara mendadak, area sekitarnya berubah menjadi
gelap.
Matahari meredup, kegelapan tipis menyelimuti.
Seolah-olah gerhana matahari total sedang terjadi.
"......?"
"Hei, ada apa ini!"
"K-kami tidak tahu... tiba-tiba sekeliling jadi
gelap..."
Saat hendak melancarkan serangan, mereka seolah disiram
air dingin.
Bagian dalam dan luar markas kain dipenuhi suara
kebingungan, hingga situasi tidak memungkinkan untuk menyuruh prajurit
menyerbu.
"Gawat...!"
Di tengah situasi itu, sosok berjubah hitam mendadak
berdiri.
Dengan panik dia menyibak kain markas untuk keluar...
namun tepat setelahnya, cahaya menyilaukan menerjang masuk dari luar.
"A..."
Bahkan tidak ada waktu untuk menjerit.
Sihir cahaya yang dilepaskan dari Pasukan Kerajaan
menelan Rodel dan yang lainnya bersama para prajurit di depan markas utama.
◇ ◇ ◇
"GUAARRGHHHHHHHHHH!"
"GIAAAARGHHHHHHHHHH!?"
"Bagus... berhasil."
Melihat hasil perbuatannya, Rest untuk sementara bernapas
lega.
Sihir orisinal yang mengumpulkan lalu memancarkan cahaya
matahari... [Amaterasu].
Dahsyatnya kekuatan yang bahkan sanggup membantai
penguasa wilayah berbahaya itu tentu sudah dia ketahui, tetapi dia tetap merasa
lega saat bisa menuntaskan tugasnya dengan baik.
Sinar cahaya yang dilepaskan Rest membumihanguskan
sebagian Pasukan Pemberontak dan menelan markas musuh.
Karena lawan kali ini adalah sebuah pasukan, dia sedikit
menyebarkan cahayanya untuk memperluas jangkauan.
Akibat pengerahan yang dilonggarkan, kekuatannya memang
menurun... meski begitu, kurang dari sepuluh persen pasukan musuh, yaitu
sekitar lima ribu prajurit, tewas terpanggang oleh cahaya.
Sisa Pasukan Pemberontak jatuh ke dalam kepanikan luar
biasa bagaikan sarang lebah yang diganggu.
Jika Pasukan Kerajaan diterjunkan untuk menggempur
sekaligus saat ini, musuh pasti akan hancur total.
"Tuan Rest, sungguh luar biasa."
Dieble menyambut Rest yang turun dari udara.
"Saya sudah mendengar ceritanya, tetapi ini
benar-benar sihir yang dahsyat. Melihat perkembangan Tuan Rest, Tuan Besar dan
Nyonya pasti akan sangat gembira."
"...Begitu, ya. Kuharap memang begitu."
"...Apakah Anda baik-baik saja?"
Dieble bertanya dengan raut wajah khawatir.
Akibat serangan Rest, banyak prajurit musuh yang
merenggut nyawa. Berbeda dengan Cedric, dia sama sekali tidak memiliki rasa
dendam kepada mereka.
Dia tidak merasa telah melakukan hal yang salah. Ini
adalah hal yang diperlukan.
Meski begitu... nyawa manusia tetaplah terasa berat.
"Aku baik-baik saja... aku pasti bisa
melaluinya."
Rest tidak memalingkan pandangannya dan tetap menatap
lurus ke depan.
Markas musuh dalam kekacauan besar. Prajurit musuh yang
tadinya hendak menyerbu kini berlarian tanpa arah... jika ingin menyerang,
sekaranglah saatnya.
"Seluruh pasukan, serang! Hancurkan Pasukan
Pemberontak yang sedang panik!"
Suara lantang bergema dari markas rekan.
Meskipun wujudnya tidak terlihat dari posisi Rest,
Pangeran Mahkota selaku komandan memberikan perintah untuk menyerang secara
serentak.
"""""............"""""
Namun... para prajurit rekan tak kunjung bergerak.
Para prajurit terpaku bagaikan patung batu,
tercengang melihat pencapaian tempur yang ditunjukkan oleh Rest.
"Ah... bukannya ini gawat?"
Rest bergumam.
Tampaknya stumulusnya terlalu kuat. Rupanya itu bukan
hanya menjadi obat keras bagi musuh, melainkan juga bagi pihak rekan.
Jika terus seperti ini, kesempatan emas akan terbuang
sia-sia.
"Serang! Tebas musuh!"
Namun... dari dalam Pasukan Kerajaan yang membeku,
seorang pria melompat menerjang keluar.
Pria itu menerobos ke medan perang seorang diri, lalu
menebas beberapa prajurit musuh hingga tumbang dalam satu sabetan.
"Lubes... Pria itu juga datang, ya!"
Sosok yang menebas musuh sendirian adalah Wilhelm
Lubes. Sang 'Pedang Suci Pembenci Wanita' yang dikenal baik oleh Rest.
Setiap kali Lubes mengayunkan pedangnya, cipratan
darah membumbung dan prajurit musuh bertumbangan satu demi satu.
Lubes adalah satu-satunya orang di Pasukan Kerajaan
yang pernah melihat dari kejauhan saat Rest menumbangkan Sabnock.
Oleh karena itu, dia bisa bergerak lebih cepat
daripada siapa pun di tempat ini.
"I-ikuti dia! Serang!"
"Jangan mau kalah dari anak muda! Maju,
serang!"
Menyusul Lubes, para ksatria dan prajurit Pasukan
Kerajaan melancarkan serangan.
Mereka menerobos ke wilayah musuh yang kekacauannya
belum reda, lalu menumbangkan Pasukan Pemberontak yang berlarian kian kemari
satu per satu.
Pasukan Kerajaan seratus ribu.
Pasukan Pemberontak tujuh puluh ribu.
Pertempuran yang sejak awal diungguli oleh Kerajaan
ini... kini timbangan kemenangan yang diangkat oleh Dewi Kemenangan telah
miring sepenuhnya ke sisi Pasukan Kerajaan akibat satu hantaman cahaya yang
bagaikan hukuman dewata.
Saat pertempuran baru berjalan sekitar satu jam, hampir
separuh dari Pasukan Pemberontak telah melarikan diri, menyerah, atau terbunuh
di medan perang.



Post a Comment