Chapter 3
Pengembangan Wilayah Perbatasan
"Tiba-tiba banget, tapi mulai sekarang kita bakal
memulai pembukaan Lahan Sabnak."
Pada suatu hari, Rest dipanggil oleh Ketua OSIS,
Andrew Eywood.
Lokasinya di ruang OSIS setelah jam sekolah usai.
Viola, Primula, dan Celestina juga ikut bersama darinya.
Yuri dan Urula yang tidak ada hubungannya dengan OSIS
tentu saja tidak ikut dibawa.
Selain para pengurus dan anggota Dewan Eksekutif, ada
belasan siswa lain yang berkumpul di ruang OSIS.
Mereka semua adalah putra-putri bangsawan ternama,
ketua kelas, atau siswa berprestasi dari tiap departemen.
Kalimat pertama tadi dilontarkan oleh Andrew kepada
para sosok berpengaruh di akademi yang sedang berbaris tersebut.
Itu adalah sebuah deklarasi untuk membuka Lahan
Sabnak, wilayah liar yang pernah menjadi panggung "Festival Perburuan
Iblis".
"Seperti yang kalian tahu…… karena Sabnak yang
merupakan Penguasa Wilayah Liar sudah dikalahkan, tanah yang luas itu sekarang
bisa dibuka. Karena itulah, kita para siswa akademi akan menjadi inti
untuk membuka lahan tak terjamah tersebut."
"Hanya kita…… mungkinkah, ini bakal dilakukan
oleh murid-murid saja?"
Salah satu siswa yang berkumpul mengangkat tangan dan
bertanya.
"Kalau membuka lahan tak terjamah, bukankah itu
proyek berskala nasional……?"
"Ya, benar sekali. Tapi…… aku serius. Aku tidak
mungkin membicarakan hal seperti ini sebagai lelucon."
Andrew mengedikkan bahunya. Dia memang bukan tipe
orang yang suka melontarkan lelucon konyol.
Seperti yang ditunjukkan oleh nama belakangnya,
"Eywood", Andrew adalah anggota keluarga kerajaan. Dia adalah
Pangeran Kedua.
Kakak tiri dari Pangeran Bodoh, Rhodel. Karena
mengalir darah yang sama, garis wajah mereka memang memiliki kemiripan.
Hanya saja, kepribadian mereka bertolak belakang. Tidak seperti Rhodel, Andrew adalah orang yang lemah lembut, serius,
dan jujur.
"Kalian semua juga tahu…… saat ini, sebagian
bangsawan di negara kita sedang menunjukkan pergerakan yang mencurigakan.
Sedihnya, adikku tampaknya juga terlibat di dalamnya. Istana Kerajaan sedang
sibuk mengurus mereka, jadi situasinya tidak memungkinkan untuk menyentuh
pembukaan Lahan Sabnak."
Yang dimaksud adalah Rhodel dan para bangsawan
"Faksi Ibu Suri", termasuk Eigar.
Elemen pemberontak itu masih menunjukkan pergerakan
mencurigakan tanpa mengambil tindakan tegas.
Katanya, situasi saat ini saling mengawasi satu sama
lain.
"Kalau dibiarkan begitu saja, 'Penguasa' baru
mungkin akan lahir di wilayah liar itu. Kalau itu terjadi, lahannya bakal tidak
bisa dibuka lagi. Itu sangat disayangkan."
"Lalu…… kami yang akan membuka lahannya?"
"Tepat sekali."
Andrew mengangguk dalam-dalam menanggapi pertanyaan
siswa tersebut.
"Lagi pula, yang mengalahkan 'Penguasa' Wilayah
Liar juga siswa dari akademi ini. Kalau begitu, bukankah sekalian saja
kita yang menjadi inti untuk mendorong pembukaan lahan ini?"
"…………"
Pandangan para siswa yang berkumpul langsung tertuju pada
Rest.
Puluhan pasang mata yang mengarah padanya secara
bersamaan membuat Rest sempat merasa tertekan. Namun, dia tidak boleh
menunjukkan sikap memalu di depan Viola dan Primula. Rest pun mengencangkan
raut wajahnya dan memasang gertak sambal.
"Tentu saja, kita tidak dilepas begitu saja. Pihak
Istana Kerajaan juga memberikan bantuan personel, barang, dan dana, jadi tenang
saja."
Andrew menepuk tangannya pelan. Pandangan semua orang
kembali tertuju padanya.
"Beberapa orang, termasuk Rest-kun, sudah dipastikan
akan menerima sebagian Lahan Sabnak sebagai wilayah kekuasaan. Tapi, mereka
yang berprestasi dalam pembukaan lahan juga akan diberi gelar kebangsawanan dan
tanah sebagai hadiah. Tentu saja, ini sudah mendapat persetujuan dari Yang
Mulia Raja."
"""""……!"""""
Beberapa siswa menahan napas.
Ekspresi yang tadinya dipenuhi kebingungan kini bercampur
dengan "keserakahan" dan "ambisi".
Orang-orang di tempat ini tidak semuanya bisa mewarisi
posisi kepala keluarga atau tanah dari orang tua mereka. Ada putra kedua, putra
ketiga, bahkan rakyat biasa yang bukan berasal dari kalangan bangsawan.
Diumpani kesempatan untuk sukses dengan mendapat gelar
kebangsawanan dan tanah, kobaran semangat langsung membakar diri mereka.
"Syukurlah kalau motivasi kalian naik. Detailnya
akan diberitahukan kemudian, jadi kalian bisa mengajak siswa lain dan
mengumpulkan orang-orang yang mau bekerja sama dalam pembukaan lahan ini. Mohon
bantuannya."
Sebagai penutup dari perkataan itu, semua orang
dibubarkan.
Rest meninggalkan ruang OSIS bersama Viola, Primula,
dan Celestina.
"Pembukaan Lahan Sabnak, ya…… Rasanya makin nyata
saja."
"Rest-kun kan sudah pasti dapat tanah. Jadi tidak bisa menganggapnya sebagai urusan orang lain, kan?"
Viola yang berjalan di sampingnya berbicara dengan
nada ceria sambil menatap wajah Rest.
Rest dianugerahi gelar Viscount atas jasanya
mengalahkan monster Sabnak, dan sudah dijanjikan sebagian lahan sebagai wilayah
kekuasaannya.
Cepat atau lambat, keikutsertaannya dalam pembukaan
lahan sudah menjadi hal yang pasti.
"Untuk membuka tanah seluas itu, pasti butuh
banyak tenaga kerja…… Apa semuanya mau membantu, ya?"
"Tidak ada masalah, kok."
Melihat Rest yang memancarkan rasa cemas, Celestina
tersenyum anggun.
"Lagipula, kita yang mengajak. Mana mungkin
orang-orang tidak berkumpul?"
Celestina membusungkan dadanya yang besar dengan
penuh percaya diri.
Cara bicaranya memang terdengar agak sombong…… tapi
itu fakta. Keluarga Marquis Rosemary dan Keluarga Duke Crocus…… dua keluarga
ternama yang dibanggakan Kerajaan Eywood meminta bantuan, siapa yang sanggup
menolaknya?
Demi membuat nama mereka diingat oleh kedua keluarga
tersebut, orang-orang pasti akan berlomba-lomba mencalonkan diri.
Sembari membicarakan hal itu, keempatnya berjalan santai
kembali ke kelas.
"Hei, Rest! Benar kalau kita bakal membuka lahan di
dataran itu!?"
"Uwah!"
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam kelas, beberapa
teman sekelas langsung mengerubunginya.
"Aku dengar kalau berprestasi bakal dapat tanah!
Itu bukan hoaks, kan!?"
"Aah…… iya, benar. Cepat sekali kabarnya
beredar……"
Padahal baru saja diberitahukan oleh Andrew…… tak
disangka, saat perjalanan dari ruang OSIS ke kelas, beritanya sudah menyebar
luas.
(Jangan-jangan, ada siswa yang mencuri dengar di
depan ruang OSIS……?)
"Biarkan aku ikut juga! Aku pasti bisa!"
"Yesss! Ini kesempatan buat jadi bangsawan pemilik
tanah!"
"Dapat gelar kebangsawanan juga, kan? Aku
ikut!"
Sebagian siswa mulai terbakar semangatnya.
Padahal belum sempat mengajak, mereka sudah berkumpul
sendiri dari pihak sana.
"Rest, aku juga mau bantu!"
"Yuri……"
"Aku tidak sudi kalau cuma aku yang ditinggal! Mau
siapa pun yang melarang, aku pasti ikut!"
Yuri mendekati Rest dan mendeklarasikannya secara
terang-terangan.
"Nn……"
Selanjutnya, Urula berjalan mendekat secara perlahan lalu
menarik jaket Rest.
"Nona Lavender, jangan-jangan kamu juga……"
"Ikut."
Sebelum Rest selesai berbicara, Urula langsung
memotongnya.
"Aku juga mau ikut. Bantu."
"Be-Begitu, ya…… Terima kasih?"
Rest merespons dengan ekspresi heran dan wajah meringis.
Dengan wajah datar seperti boneka, tidak tahu apa yang
sedang dipikirkannya…… Namun entah kenapa, tekanan "Aku tidak akan
mengalah!" terpancar darinya.
"Ooh, Rest. Aku juga mau bantu."
"Loid, lalu Maurice juga."
Temannya, Loid Gistal, menyapa. Di
belakangnya ada Maurice Wood.
"Bukankah kamu penerus bangsawan pemilik tanah? Tidak ada untungnya ikut, kan?"
"Cari uang saku. Selain gelar dan tanah, kita
juga dapat uang, kan?"
"Ah…… iya. Sepertinya bakal diberi."
"Keluargaku bukan keluarga yang terlalu kaya.
Uang kiriman sedikit, jadi tidak ada uang buat main. Mumpung ada kesempatan,
aku mau cari uang."
"Kita juga bisa menjual budi pada keluarga
kerajaan atau bangsawan tingkat tinggi. Tidak ada alasan untuk tidak
ikut."
Maurice mengembuskan napas dari hidungnya dengan
bangga.
Ujung-ujungnya uang juga. Memang sudah biasa kalau
bangsawan bergerak demi perhitungan dan maksud terselubung, jadi mau bagaimana
lagi.
"Viola-san, Primula-san. Apa kami boleh ikut
membantu?"
"Celestina-sama, walau tenaga kami sedikit, kami
siap membantu."
Di sekeliling Viola, Primula, dan Celestina, para siswa
perempuan mulai berkumpul.
Tampaknya, tanpa disengaja tenaga kerja datang sendiri.
Pada akhirnya, lebih dari separuh Kelas 1-A memutuskan untuk ikut dalam
pembukaan lahan.
"Kalau begitu, semuanya. Mohon bantuannya."
Seminggu kemudian.
Rest dan yang lainnya kembali melangkahkan kaki ke Lahan
Sabnak.
◇ ◇ ◇
Di pintu masuk Lahan Sabnak, banyak orang telah
berkumpul.
Kelompok pembuka lahan yang jumlahnya mencapai seribu
orang…… dipimpin langsung oleh Pangeran Kedua, Andrew Eywood.
Kekuatan utama yang bertanggung jawab atas pembukaan
lahan adalah para siswa Akademi Kerajaan.
Siswa Departemen Sihir dan Departemen Ksatria bertindak
sebagai personel tempur, siswa Departemen Pendeta sebagai staf medis, sementara
siswa Departemen Birokrat dipercayakan tugas administratif di balik layar
seperti pengelolaan anggaran dan suplai barang.
Di antara kelompok pembuka lahan, bahkan ada siswa
Departemen Seni yang padahal tidak diajak sama sekali.
Ditambah dengan para pendukung yang dikirim dari Istana
Kerajaan dan bangsawan berpengaruh, terbentuklah kelompok pembuka lahan
berskala seribu orang.
"Nah…… kalau begitu, mulai sekarang kita akan
memulai pembukaan Lahan Sabnak. Aku rasa kalian sudah membaca dokumen yang
dibagikan sebelumnya…… aku ingin kalian mengerahkan seluruh kemampuan untuk
tugas yang diberikan."
Di hadapan kelompok pembuka lahan yang berbaris di
pintu masuk dataran, Andrew mulai berbicara.
"Pertama, tim garda depan bertugas membasmi
monster. Masing-masing regu tolong lakukan pembasmian monster di area tugas
kalian. Yang dilakukan sama seperti saat Festival Perburuan Iblis…… tapi kali
ini bukan kompetisi. Jika diperlukan, berkoordinasilah dengan regu lain dalam
menjalankan tugas."
Dua wanita di samping Andrew melangkah ke depan.
"Komando tim garda depan akan dipegang oleh
Riranda dan Isis. Jika ada apa-apa, mintalah petunjuk dari mereka
berdua."
Pengurus OSIS. Siswa tahun ketiga Departemen Ksatria,
Riranda Marker.
Dewan Eksekutif OSIS. Siswa tahun ketiga Departemen
Sihir, Isis Carbelt.
Meskipun keduanya wanita, mereka adalah sosok hebat yang
beraksi lebih tangguh dari laki-laki.
Rest hanya pernah berbicara satu dua kali dengan
Riranda…… tetapi Rest punya bayangan kalau dia selalu siaga di samping Andrew.
"Tim garda belakang bertugas mengumpulkan dan
menguliti monster yang dikalahkan tim garda depan. Lalu mengurus penjualan
material ke Guild Perdagangan. Selain itu, bertugas membeli barang dan
menyelidiki area yang sudah bersih dari monster. Selidiki topografi, keberadaan
sumber air, kelancaran saluran air, dan apakah tanahnya cocok untuk lahan
pertanian, lalu cari tanah yang tepat untuk membangun kota atau desa. Komando
di sana akan dipegang oleh Nona Celestina."
Selanjutnya, Celestina melangkah ke depan.
Celestina memang masih siswa tahun pertama, tetapi semua
orang tahu bakatnya. Ditambah posisinya sebagai putri Duke, tidak ada satu pun
yang melontarkan ketidakpuasan.
"Lalu, para siswa Departemen Seni…… kalian ke
sini mau apa?"
Andrew mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut
kelompok pembuka lahan.
Di sana, ada para siswa Departemen Seni yang memegang
pena dan kanvas.
"Kami akan mengabadikan tanah yang dibuka oleh
tangan manusia ini, serta surga para monster yang punah sebagai sebuah karya
seni. Kami bakal melakukannya sendiri, jadi tidak usah dipikirkan."
"Saya datang untuk mencari referensi menulis
puisi. Saya ingin menggambarkan diri kalian yang alami dalam bentuk tulisan,
jadi tolong abaikan saja."
"Seni adalah ledakan! Kami akan mengabadikan
semuanya tanpa tersisa!"
"……Begitu, ya."
Menanggapi jawaban laki-laki dan perempuan yang memegang
kanvas serta pena tersebut, ekspresi Andrew menjadi tak tertahankan.
Mungkin ada rasa ingin memprotes apa yang sedang mereka
katakan…… tetapi fakta sejarah yang diabadikan sebagai lukisan atau patung
untuk generasi mendatang pada dasarnya bukan hal yang buruk.
Seniman memang tipe orang yang tidak akan
mendengarkan meski dilarang. Andrew pun dengan cepat menyerah untuk memahami
mereka.
"……Yah, berhati-hatilah agar tidak diserang
monster hingga terluka. Kalau terjadi sesuatu, itu tanggung jawab
masing-masing."
Karena mereka datang sendiri tanpa diundang, sebisa
mungkin jangan sampai menyusahkan orang lain.
"Kalau begitu, mulai sekarang pembukaan Lahan Sabnak
dimulai! Semoga kalian beruntung!"
"""""Siap!"""""
Menerima deklarasi Andrew, masing-masing mulai
menjalankan tugasnya.
Di tengah situasi itu, Andrew yang selesai memberi
sambutan menghampiri Rest.
"Rest-kun, bisa bicara sebentar?"
"Iya, ada apa?"
"Grupmu minta tolong menyelidiki bagian tengah
dataran. Walau Sabnak si Penguasa Wilayah Liar sudah dikalahkan, anak buahnya
pasti masih ada yang tersisa. Tidak perlu dipaksa membasminya, tolong selidiki
jumlah populasi dan lokasi sarang mereka."
Hanya karena ketua kelompoknya dikalahkan, bukan berarti
monster bawahannya ikut musnah.
Meski kemungkinannya kecil, ada peluang ketua baru sudah
lahir.
Tentu saja, butuh waktu bagi ketua baru untuk tumbuh
menjadi raksasa sebesar Sabnak.
"Selain anak buah Sabnak, ada kemungkinan monster
kuat lain berada di bagian tengah wilayah liar. Berhati-hatilah."
"Iya, aku mengerti."
Rest mengangguk setuju.
Grup Rest beranggotakan Viola, Primula, Yuri, Urula,
serta beberapa teman sekelas dari Departemen Sihir.
Ini tugas yang berbahaya…… tetapi ada Rest yang
berhasil mengalahkan Sabnak. Seharusnya tidak ada masalah.
"Untuk berjaga-jaga…… aku minta tolong padamu
juga. Tolong dampingi Rest-kun."
"……Dimengerti."
Lalu…… satu orang pendamping lagi telah diputuskan.
Yang keluar saat dipanggil Andrew adalah Wilhelm
Lyubase. Si "Pedang Suci Pembenci Wanita" yang mengalahkan Sabnak
bersama Rest.
"Lyubase, ya."
"Bertemu lagi."
"Ada kamu di sini bikin makin tenang. Mohon
bantuannya."
"Hmph……"
Lyubase mengembuskan napas dari hidungnya lalu
memalingkan wajah.
Dia memang tidak ramah, tapi dia tipe pria yang bisa
diandalkan saat dibutuhkan. Hal itu sudah sangat dipahami Rest saat bertarung
bersama melawan Sabnak.
"Rest-kun, persiapannya sudah selesai."
"Kapan saja bisa berangkat, loh."
Viola dan Primula berlari mendekat.
Tampaknya persiapan anggota lain juga sudah selesai. Mari
segera berangkat.
Ini kedua kalinya merambah ke bagian dalam Lahan Sabnak……
tapi kali ini Viola, Primula, dan yang lainnya ikut bersama. Harus benar-benar
berhati-hati agar mereka tidak terluka.
"Baiklah…… kalau begitu ayo berangkat!"
Rest membulatkan tekad, lalu bergerak menuju bagian dalam
dataran bersama teman-temannya.
◇ ◇ ◇
Bagian Tengah Lahan Sabnak.
Dahulu kala, tempat yang menjadi asal-usul nama kawasan
ini merupakan wilayah kekuasaan monster bernamo Sabnak. Tempat tersebut adalah
titik semburan aliran mana tanah yang disebut "Sarang Naga".
Di sekitar Sarang Naga, tumbuh-tumbuhan sangat mudah
berkembang dan monster-monster kuat mudah bermunculan.
Selain itu, sejak zaman kuno dipercayai bahwa kota yang
dibangun di atas Sarang Naga akan berkembang pesat.
Tak jarang, perang terjadi hanya demi memperebutkan
wilayah tersebut.
"GAAAAAAA!"
"Wind Cutter!"
Sihir angin yang dilepaskan Rest menebas monster
hingga terbelah.
Rest dan kelompoknya yang diperintahkan melakukan
penyelidikan terus melangkah menembus dataran sambil menumbangkan monster.
Kini, mereka telah sampai di lokasi yang sedikit lagi
mencapai bagian pusat.
Rest dan yang lainnya menghadapi monster-monster
berwujud serigala dan beruang yang menghadang di depan mata.
"Rasakan ini, Primula! Fire Cutter!"
"Baik, Kak! Water Cutter!"
Viola dan Primula merapalkan sihir mereka.
Tebasan sihir berunsur elemen yang dilepaskan dua
bersaudara tersebut menumbangkan monster-monster hingga tak berkutik.
Jika dibandingkan dengan Rest, level mereka memang
berada di bawahnya. Namun, keduanya adalah anggota keluarga Marquis Rosemary,
sebuah garis keturunan penyihir ternama. Kemampuan mereka sebagai penyihir
tergolong sangat tinggi.
"Makan ini! Fireball!"
"Tembuslah, Ice Lance!"
"Hancurkan, Stone Bullet!"
Teman-teman sekelas mereka pun meluncurkan sihir
secara berturut-turut untuk meremukkan musuh.
Walau masih berstatus murid, mereka adalah jajaran siswa
berprestasi. Sebagai murid Akademi Kerajaan yang kelak menopang negara, tak ada
satu pun dari mereka yang menjadi beban.
(Tentu saja, mereka kan murid Kelas A. Semuanya kuat…… terutama orang ini, levelnya benar-benar beda.)
"Seni Pedang Armacain…… 'Sanga'."
Lyubase melancarkan tebasan bertubi-tubi ke segala
arah.
Monster berukuran besar terpotong-potong dalam sekejap
mata, lalu roboh berkeping-keping ke tanah.
Sepanjang perjalanan sampai ke titik ini, Lyubase-lah
yang paling banyak membantai monster.
Dia adalah murid tahun pertama nomor satu di
Departemen Ksatria. Kemampuan pedangnya tak kalah meski dibandingkan dengan
kakak kelas, dan ketajaman tekniknya sangat layak menyandang gelar 'Ksatria
Pedang'.
(Penyelidikan bagian pusat wilayah liar cuma dengan
murid…… normalnya ini aksi bunuh diri. Tapi kalau anggotanya seperti ini,
sepertinya tidak masalah.)
"Haaah!"
Yuri memutar tubuhnya secara vertikal lalu mendaratkan
tendangan tumit sekeras kapak guillotine.
Tanpa menggunakan senjata maupun sihir, tubuh monster itu
terbelah menjadi dua. Seluruh monster yang menghadang di hadapan mereka pun
telah habis dibantai.
"Tapi…… wilayah liar itu tempat yang aneh, ya. Aku
paham kalau monster bertambah kuat karena menyerap mana, tapi kenapa kota bisa
makin makmur? Apa mana yang menyembur dari Sarang Naga punya kekuatan untuk
memperkuat kota juga?"
Setelah menumbangkan monster terakhir, Yuri mengusap
keringat di dahi sambil melontarkan pertanyaan.
"Mungkin manusia juga ikut menguat seperti halnya
monster? Kalau kota itu ditinggali orang-orang kuat, maklum saja kalau bisa
makin makmur!"
"……Masalahnya tidak sesederhana itu. Lagian, suaramu
kencang banget."
"Mmm…… Kamu ngomong sesuatu, Lyubase?"
"G-Gak ngomong apa-apa! Woi…… jangan mendekat ke
arahku, dasar cewek dada monster!"
"Jangan kabur dong. Ayolah, kita kan rekan, mari
pererat keakraban!"
"Jangan mendekat! Hei, jangan goyang-goyangkan
gumpalan daging itu di depanku!"
Lyubase berteriak sambil melarikan diri dari Yuri.
Padahal dia sosok yang mungkin paling kuat di Departemen
Ksatria, tapi kenapa dia takut sekali pada wanita?
"Duh…… Kalian berdua, kalau berisik begitu nanti
monsternya datang, tahu?"
"Mengenai pertanyaan Yuri-san, Sarang Naga tidak
secara langsung memakmurkan kota, kok. Mana yang memancar dari Sarang Naga
dimanfaatkan untuk memasang penghalang guna mencegah invasi monster, bencana
alam, dan wabah penyakit. Hasilnya, kota itu pun jadi
makmur."
Viola menegur, sementara Primula memberikan penjelasan.
"Ah, begitu rupanya…… Hebat seperti biasa,
Primula. Aku paham sekarang."
Yuri bersedekah tangan dan mengangguk terkesan.
Berkat penghalang, bencana alam dan monster bisa
diredam, apalagi tanaman di tanah sekitarnya jadi makin subur. Sudah pasti
tempat itu akan sangat makmur.
Tentu saja, karena semua orang tahu lokasi tersebut
akan membawa kemakmuran, wajar jika sampai terjadi perang perebutan wilayah.
"Ngomong-ngomong…… di sekitar sini, ya. Tempatku
bertarung melawan Sabnak waktu itu."
Saat akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud, Rest
bergumam pelan.
Di hadapan mereka, terlihat lubang besar hasil
tembakan Amaterasu, serta sisa-sisa pertarungan sengit yang bertebaran
di mana-mana.
"Di sini…… Luar biasa."
"B-Bagaimana bisa sihir menghasilkan bekas
seperti ini……"
"Hebat banget! Benar-benar mengerikan!"
Kecuali Rest dan Lyubase, semua orang menunjukkan
ekspresi terperanjat.
Bekas pertarungan yang tersisa di tempat ini begitu
dahsyat, sampai-sampai sulit dipercaya bahwa itu adalah perbuatan manusia.
Pemandangan ini makin menegaskan betapa bertarungnya
Rest melawan Sabnak telah melampaui akal sehat.
"Aku tahu Rest-kun itu kuat…… tapi saat melihatnya langsung begini, benar-benar mengagumkan."
"Karena ini Rest-sama, hal seperti ini sudah
sewajarnya…… Tapi pemandangannya sungguh mengerikan, ya."
Bahkan Viola dan Primula yang sangat tahu kapasitas
kekuatan Rest pun sampai menahan napas.
Semua orang mendadak menghentikan langkah tanpa ada
yang menyuruh…… lalu, lengan baju Rest ditarik pelan.
"……Ayo."
Suara kecil itu berasal dari Urula. Karena
perawakannya seperti anak kecil, dia secara alami dilindungi oleh anggota lain
dan tidak mendapat kesempatan bertarung. Kini,
dia mendorong Rest untuk terus maju.
"Ah, benar juga…… Semuanya, bagian pusat dataran
ada di depan sana. Pasti ada monster kuat juga, jadi harap sangat
berhati-hati."
"…………"
Sambil memimpin rekan-rekannya yang mendadak jadi
sangat tenang, Rest melangkah lebih jauh ke dalam dataran.
Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit sambil
beberapa kali berpapasan dengan monster, kelompok itu akhirnya tiba di bagian
paling dalam dataran.
Pusat dari Lahan Sabnak yang merupakan wilayah liar
tersebut diselimuti oleh rumput-rumput tinggi setinggi pria dewasa.
Ini juga pertama kalinya bagi Rest berada di tempat
ini. Dia hanya bisa melongo menatap tumbuhan yang berkembang biak secara tidak
wajar di depannya.
"Ini…… bukan hutan, kan?"
"Harusnya sih dataran. Tapi kelihatannya memang
tidak seperti itu."
Lyubase menjawab gumaman Rest.
Jika diperhatikan baik-baik, rumput tinggi yang tumbuh
lebat di depan mata mereka memiliki jenis yang sama dengan rumput liar biasa
yang mereka lihat di perjalanan tadi.
Namun…… ukurannya benar-benar luar biasa besar.
Seberapa melimpah nutrisi yang diserap rumput-rumput
ini hingga bisa tumbuh seperti ini? Rumput liar itu tumbuh sangat tidak wajar
dan begitu rapat, hingga menutupi jarak pandang bahkan untuk melihat satu meter
ke depan saja tidak sanggup.
"Jadi begitu…… Ini bagian pusat wilayah liar, ya.
Seperti yang kudengar, tempat ini memang aneh."
Rest menggenggam rumput di depannya lalu merobeknya
dengan paksa.
Seketika…… dari penampang rumput yang terputus,
butiran-butiran warna emas mirip cahaya kunang-kunang berjatuhan. Mana yang
begitu pekat hingga bisa terlihat oleh mata telanjang berkumpul di dalam rumput
tersebut. Tumbuhan ini memang tumbuh karena menyerap mana dari Sarang Naga.
"Wah, indah banget! Cahaya cantik ini mana, ya……
Aku juga bisa lihat!"
"Mananya sangat pekat sampai rasanya bikin sesak……
Benar-benar wilayah liar."
Yuri memetik rumput di depannya dengan gembira untuk
mengeluarkan butiran mana, sementara Primula menunjukkan wajah pucat sambil
menutup mulutnya. Anggota yang lain pun memandangi bagian pusat wilayah liar
itu dengan tatapan heran.
"Semuanya, ini bukan waktunya bermain-main. Tolong lebih waspada lagi."
Rest memperingatkan rekan-rekannya.
Mana di sekitar sini terlalu pekat, membuat sihir Life
Search tidak bisa bekerja dengan baik. Ditambah lagi semak rumput yang
tumbuh tidak wajar ini memperburuk jarak pandang, sehingga mereka mungkin baru
menyadari keberadaan monster tepat sebelum diserang.
"Kita tidak tahu kapan serangan akan datang.
Tolong benar-benar……"
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Kh……!"
Dari balik semak rumput, sesosok monster berukuran
dua kali lipat singa mendadak muncul.
Bulu berwarna biru, berkaki enam, dan memiliki mata
majemuk. Air liur pembusuk menetes-netes dari mulutnya.
Monster Pembusuk…… monster yang merupakan sejenis
dengan Sabnak itu menyerang ke arah Yuri yang berada paling dekat.
"Hiat!"
"Gyang!"
Namun…… Yuri tidak panik dan langsung mendaratkan
tendangan berputar.
Monster yang terkena hantaman telak di wajahnya
memekik pendek dan gentar.
"Wind Cutter, Amplification, Accelerator!"
"Gyak……"
Rest pun meluncurkan sihirnya. Sihir kombinasi tiga
lapis tersebut membelah singa hitam yang pergerakannya telah terhenti.
"Yuri, kamu tidak luka, kan?"
"Aku tidak apa-apa! Cuma kaget saja karena dia
muncul mendadak!"
"……Masih ada."
"Ehh?"
Urula menepuk bagian pinggang Rest.
"Masih ada. Datang terus-menerus."
"!"
Seolah membenarkan perkataan Urula, semak-semak
bergoyang hebat.
"Semuanya, mereka datang!"
Atas seruan Rest, rekan-rekannya langsung memasang
kuda-kuda.
Tak lama kemudian, beberapa ekor Monster Pembusuk
melompat keluar dari balik semak-semak.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Semuanya, hati-hati dengan air liur Monster
Pembusuk!"
Rest berteriak.
Sesuai dengan namanya, singa-singa hitam ini
menyemburkan air liur mengandung asam kuat seperti tembakan pistol air. Rest
sudah memberitahukan hal itu kepada rekan-rekannya lebih awal dan menyiapkan
tindakan pencegahan.
"Earth Wall!"
"Water Wall!"
Viola dan Primula memunculkan dinding pelindung sihir
secara bersamaan.
Dinding tanah di bagian dalam, dinding air di bagian
luar. Pertahanan ganda tersebut melindungi Rest dan kelompoknya.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Monster Pembusuk menyemburkan air liur asam, namun
tembakan itu kehilangan daya dorong dan dinetralkan kadar asamnya oleh dinding
air luar, lalu dihentikan sepenuhnya oleh dinding tanah.
"Bagus, sekarang!"
"Fire Bolt!"
Loid, Maurice, dan yang lainnya yang memunculkan
kepala dari balik dinding melancarkan serangan jarak jauh menggunakan sihir.
Semuanya berjalan sesuai rencana. Beberapa ekor
Monster Pembusuk langsung tumbang.
"Hiat!"
"Tebas."
Monster Pembusuk yang berhasil menembus rentetan sihir
mencoba mendekat, namun Yuri menyambut mereka dengan tendangan tajam dan
Lyubase dengan tebasan pedangnya.
Tanpa kendala berarti, jumlah Monster Pembusuk terus
berkurang pesat.
"Ya, kalau begini sepertinya tidak ada
masalah."
Rest yang mengawasi jalannya pertarungan mengangguk
dalam-dalam.
Peran Rest adalah sebagai cadangan untuk situasi
darurat. Dia bertugas menumbangkan musuh yang bergerak di luar dugaan dan
menyembuhkan rekan yang terluka dengan sihir pemulih.
Melihat situasi ini, tampaknya Rest tidak perlu turun
tangan…… namun tepat saat dia merasa lega, Urula kembali menepuk pinggangnya.
"Yang besar datang."
"……Siap!"
Seketika itu juga, Rest bersiap dalam posisi tempur.
Baik saat insiden pencurian pakaian dalam maupun hari
ini…… kata-kata Urula bukanlah intuisi tanpa dasar.
(Anak ini bisa melihat sesuatu yang tidak bisa
kulihat…… Dialah yang mendeteksi musuh lewat penglihatannya itu.)
Rest penasaran dengan apa yang dilihat anak itu……
tetapi dia memilih untuk tidak menguriknya.
Dia hanya bersiap menunggu saat itu tiba.
"GYAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Bersamaan dengan raungan berat, 'sosok itu' menerjang
maju dengan kecepatan luar biasa.
Sosok yang muncul sambil memijak rumput-rumput tinggi dan
menendang mayat sesamanya itu adalah Monster Pembusuk berukuran dua kali lipat
lebih besar dari individu biasa.
Ukurannya lebih besar dari Monster Pembusuk biasa, namun
masih lebih kecil jika dibandingkan dengan Sabnak.
"Jadi begitu…… Ini 'Penguasa' yang baru,
ya."
Rest menyipitkan matanya.
Kemungkinan besar, Monster Pembusuk raksasa inilah
penguasa baru wilayah liar. Generasi penerus Sabnak.
Setelah Sabnak mati, dialah raja baru yang muncul
bertakhta.
"Begitu rupanya…… Kamu sudah lahir, ya……"
Meski ini musuh di luar dugaan…… berkat Urula yang
memberitahu lebih awal, Rest bisa tetap tenang.
'Penguasa' baru ini memang besar, namun masih jauh jika
dibandingkan dengan Sabnak. Tumbuhnya belum sempurna.
"Sebelum kamu tumbuh sempurna, akan kubantai
sekarang…… Ini berakhir."
Rest menengadahkan telapak tangannya. Di sana, muncul
bola hitam berukuran sebesar bola basket.
Bintang kegelapan yang menelan segalanya. Itu adalah sihir orisinal buatan Rest──Hoshihami.
Kemunculan bintang kegelapan membuat area sekeliling
menjadi gelap seketika. Cahaya terkumpul pada satu titik.
"Amaterasu!"
Tembakan pamungkas yang dilepaskan setelah
mengumpulkan daya.
Cahaya yang dihisap ke dalam bintang kegelapan
dipadatkan, lalu ditembakkan sebagai sinar laser matahari.
"GYA……"
Penguasa baru wilayah liar yang tadinya hendak
membantai kelompok Rest mendadak tertembus kepalanya oleh cahaya, lalu roboh
usai mengeluarkan jeritan pendek.
Belum lama bertakhta sebagai raja, penguasa baru
wilayah liar tersebut telah ditumbangkan dengan sangat mudah.
◇ ◇ ◇
Setelah menumbangkan 'Penguasa' yang baru, Rest dan
kelompoknya menebas serta membakar tumbuhan di sekitar sana.
Setelah itu, meski serangan monster masih terjadi
beberapa kali, tak ada lagi monster yang lebih kuat dari Monster Pembusuk di
tempat ini.
Tanpa bahaya berarti mereka berburu monster, sekaligus
menyelesaikan persiapan awal untuk membuka bagian pusat dataran.
Ke depannya, pengukuran dan penyelidikan tanah akan
dilakukan kembali, lalu pembangunan kota akan dimulai secara sungguh-sungguh.
Dengan memanfaatkan mana dari wilayah liar, kota
berskala besar yang mampu menandingi ibu kota kerajaan mungkin akan terbangun
di masa depan.
"Fuu…… Akhirnya satu pekerjaan selesai
juga."
Selesai menuntaskan tugas di bagian pusat, Rest dan
kelompoknya kembali ke pintu masuk dataran.
Saat mereka tiba di markas kelompok pembuka lahan yang
didirikan di pintu masuk, matahari sudah mulai terbenam.
Banyak orang yang berpartisipasi dalam pembukaan lahan
mendirikan tenda untuk berkemah, serta memasak makanan menggunakan kuali.
"Capek juga, ya…… Rasanya ingin langsung
berbaring saja."
"Kalau aku mau makan. Bau masakannya bikin perutku
makin keroncongan. Aku mau makan sampai kenyang."
Maurice terkulai lemas karena kelelahan, sementara Loid
menepuk-nepuk perutnya.
Teman-teman yang lain pun tampak kelelahan.
Yang masih segar bugar hanyalah Yuri yang memiliki
stamina luar biasa serta Lyubase yang berasal dari Departemen Ksatria.
"Harusnya sudah ada tenda yang disiapkan untuk
tempat istirahat kita semua. Silakan istirahat di area masing-masing."
Rest berbicara kepada teman-temannya.
"Berkat kalian semua, pembasmian monster berjalan
lancar. Terima kasih banyak, ya."
"Sama-sama…… Ngomong-ngomong, barang ini mau
dimanakan?"
Loid menunjuk hasil buruan yang dibawanya dari bagian
pusat dataran. Itu adalah material monster.
Barang yang tidak sanggup dibawa memang sudah dibuang di
jalan, tetapi bangkai Monster Pembusuk berusaha mereka kumpulkan sebanyak
mungkin.
Material monster adalah sumber daya berharga yang tidak
ada bagian terbuangnya.
Dagingnya untuk dimakan, taring dan cakarnya untuk
senjata, kulit dan tulangnya untuk pelindung, bahkan organ dalam serta darahnya
diperjualbelikan dengan harga tinggi sebagai bahan obat.
"Di sebelah sana ada tempat penyerahan material,
tolong bawa ke sana, ya. Kalau ada material yang kalian mau, ambil saja.
Setelah ini aku mau melapor ke Pangeran Andrew."
"Paham. Kalau begitu, kami duluan, ya."
Loid dan yang lainnya pergi untuk menyerahkan
material monster.
"Rest-kun, sampai ketemu nanti, ya."
"Kami bakal menyiapkan makanan dulu."
"Auu……"
Viola dan Primula menggandeng tangan Urula lalu
membawanya pergi.
"Sip, waktunya makan! Lyubase, kalau mau kamu juga
boleh……"
"Dih, emog!"
"Ah! Malah kabur!"
Yuri mencoba mengajak Lyubase makan, tetapi ditolak
dan dia pun langsung mengejar Lyubase yang berlari menjauh.
"Kenapa kamu malah mengikutiku! Jangan mendekat, sok
akrab banget!"
"Gara-gara kamu kabur! Kalau lihat yang lari-lari,
aku jadi makin ingin mengejar!"
"Kamu ini binatang apa?!"
Melihat keduanya berlari menjauh, padahal mereka sudah
cukup banyak bergerak hari ini, stamina mereka benar-benar luar biasa.
"Nah…… saatnya pergi."
Rest berjalan menuju tenda paling besar yang berada
di tengah-tengah perkemahan.
Karena ada prajurit penjaga di depan pintu masuk,
Rest meminta izin untuk berkunjung, lalu masuk setelah mendapat lampu hijau.
"Permisi."
"Ah, Rest-kun. Kamu sudah kembali, ya."
Saat Rest melangkah ke bagian dalam tenda, Andrew yang
merupakan panglima tertinggi kelompok pembuka lahan sedang duduk di meja. Di
sampingnya ada Riranda Marker yang bertugas sebagai bendahara OSIS, mereka
berdua duduk berdekatan sambil mengurus dokumen.
"Humm……?"
(Jarak mereka berdua dekat sekali, ya……?)
Riranda memang bawahan dekat Andrew, tetapi jarak mereka
terlihat begitu intim melebihi hubungan atasan dan bawahan biasa.
(Ngomong-ngomong…… Pangeran Andrew belum punya
tunangan, kan……?)
Sebagai anggota keluarga kerajaan, biasanya tunangan
sudah ditentukan sebelum berusia sepuluh tahun, tetapi tunangan Andrew masih
belum diumumkan sampai sekarang.
(Beda dengan Pangeran Bodoh Rhodel, aku tidak pernah
mendengar rumor buruk tentang Pangeran Andrew. Kalau punya tunangan dari
keluarga berpengaruh, dia bahkan bisa mengincar takhta. Ada rumor yang bilang dia sengaja tidak mencari tunangan karena tidak
suka hal itu…… tapi mungkin ada alasan lain.)
Jangan-jangan, dia sedang menjalin cinta beda kasta
dengan wanita yang menjadi bawahannya.
Meskipun berprasangka seperti itu, Rest tidak
menunjukkannya di raut wajah dan langsung beralih menyampaikan laporan tugas.
"Pembasmian monster di bagian pusat dataran sudah
selesai. Tumbuhan yang tumbuh tidak wajar akibat pengaruh wilayah liar juga
sudah kami bersihkan."
"Begitu, ya. Apa ada yang terluka?"
"Tidak ada, semuanya selamat."
"Syukurlah kalau begitu. Kerja
bagus."
"Lalu…… ini peta kasar bagian pusat dataran.
Karena aku tidak punya pengetahuan tentang pengukuran tanah, bentuknya sangat
kasar, tapi silakan dijadikan referensi."
Sambil menyerahkan sketsa topografi, Rest melaporkan
hal-hal yang dia lihat dan dengar di bagian pusat dataran.
Tentang tumbuhan yang tumbuh melimpah karena menyerap
mana yang pekat.
Sihir pendeteksi keberadaan yang tidak berfungsi
gara-gara hal tersebut.
Adanya anggota yang merasa tidak enak badan akibat
mana yang bikin sesak.
Serta pembasmian Monster Pembusuk yang merupakan anak
buah Sabnak.
Rest juga melaporkan kemungkinan masih adanya sisa-sisa
monster yang tertinggal.
"……Begitu, ya."
Mendengar laporan lengkap tersebut, Andrew menopang
dagunya sambil berpikir.
"Pusat wilayah liar. Tampaknya memang tidak bisa
diselesaikan dengan mudah, ya. Apa mananya tidak akan hilang kalau tidak
dipasang lingkaran sihir pelindung?"
"Kemungkinan besar begitu. Kalau lingkaran sihir
disuruh menyerap mana, kondisinya bakal sedikit lebih baik."
"Ya, aku paham. Aku akan meminta Istana Kerajaan
untuk mengirim orang yang ahli dalam sihir pelindung…… Timmu lanjutkan
penyelidikan di bagian pusat wilayah liar, sekalian lakukan pengurangan jumlah
monster, ya."
Sambil berbicara, Andrew meletakkan dokumen yang
dipegangnya ke atas meja.
Secara refleks mata Rest melirik ke arahnya…… namun
karena sadar itu bukan konsumsinya, dia terburu-buru memalingkan pandangan.
"Tidak apa-apa kalau mau lihat. Isi dokumennya tidak sepenting itu, kok."
Andrew menatap Rest dengan senyum sinis sambil
memperlihatkan dokumen tersebut.
"Ini…… pengajuan pengiriman bantuan
personel?"
Di dalam dokumen tertera nama beberapa bangsawan yang
ingin mengirimkan bantuan tenaga kerja untuk pembukaan lahan dataran.
"Benar-benar merepotkan saja orang-orang yang
baru mengajukan sekarang."
"Apa ada masalah? Bukankah makin banyak tenaga
kerja bakal makin bagus?"
"Yang mengajukan ini adalah para bangsawan
oportunis yang selama ini menjaga jarak dari keluarga kerajaan. Niat mereka
untuk 'menanam budi' terlihat sangat jelas."
Andrew mengedikkan bahu dengan nada sinis.
Pembukaan wilayah liar. Wilayah baru yang menanti
untuk dibuka. Di sana ada banyak hak istimewa, dan orang-orang ingin kebagian
jatah keuntungan.
"Padahal sebelumnya tidak memberikan bantuan apa
pun…… begitu melihat ada keuntungan besar, mereka langsung datang mendekat
sambil menggosok-gosokkan tangan. Daripada memberikan jatah ke
orang-orang seperti itu, lebih baik diselesaikan oleh kita para murid saja.
Kamu juga berpikir begitu, kan?"
"……Iya, benar."
Sayangnya negara ini tidak bersatu padu.
Ada bangsawan yang tidak kooperatif terhadap keluarga
kerajaan, dan ada juga yang menunjukkan niat pemberontakan secara
terang-terangan seperti "Faksi Ibu Suri". Didatangi hanya saat berbau
uang tentu saja sangat merepotkan.
"Bicara soal bangsawan yang menjaga jarak dari
keluarga kerajaan…… Rest-kun, kudengar kamu cukup dekat dengan putri
Margrave Lavender, ya?"
"……Maksud Anda Nona Lavender?"
"Ya, Urula Lavender…… Bagaimana
keadaannya?"
"Bagaimana…… maksud Anda? Dia memang kurang pandai mengekspresikan emosi, tapi dia anak yang
baik, kok. Hari ini dia juga membantu kami."
"……Hmph."
Andrew mengembuskan napas pendek dari hidungnya.
Kesan yang ditangkap Rest adalah Andrew tidak puas
dengan penjelasannya.
"……Apa ada masalah dengan penjelasan saya?"
"Tidak…… cuma sebaiknya kamu tidak terlalu
membuka diri pada putri Margrave Lavender."
"……Kenapa begitu?"
"Karena keluarga Margrave Lavender juga termasuk
bangsawan yang tidak kooperatif pada keluarga kerajaan…… Yah, cara bicara
seperti ini agak licik, ya. Bagaimana harus bilang……"
Andrew berpura-pura berpikir sejenak, lalu kembali
berbicara.
"Mereka bersumpah setia pada Kerajaan Eywood. Tidak
ada keraguan soal itu. Tapi…… kesetiaan mereka sangat
berbeda dengan arah kebijakan keluarga kerajaan."
"Saya kurang paham…… Spesifiknya, bedanya di
bagian mana?"
"Karena mereka beranggapan bahwa mengembangkan
negara ini dengan kekuatan militer adalah bentuk kesetiaan yang sejati. Mereka
percaya penuh bahwa membinasakan Kekaisaran Geisel, suku asing di utara, serta
seluruh kekuatan yang memusuhi negara kita demi memperluas wilayah adalah
sebuah kebenaran. Bagi negara kita yang mengambil kebijakan diplomasi damai,
mereka jadi sumber masalah."
Mengembangkan negara dengan kekuatan militer……
"Negara Kuat, Militer Tangguh".
Hal itu memang sebuah kebenaran, tetapi itu adalah
jalan terjal yang penuh pertumpahan darah.
Sangat dimaklumi jika keluarga kerajaan yang menganut
paham damai memilih untuk menjaga jarak.
"Mereka yang dari dulu selalu menuntut invasi ke
Kekaisaran Geisel, mendadak mengirim putrinya ke akademi…… Aku tidak bisa tidak
berpikir kalau mereka punya niat terselubung."
"……Anda berpikir Nona Lavender sedang
merencanakan sesuatu?"
"Kemungkinan itu sangat besar."
"…………"
Rest mengingat kembali sosok Urula selama berada di
akademi.
Tiba-tiba mimisan dan pingsan saat pertama kali bertemu,
mengikuti Rest dari belakang seperti anak kecil yang merengek pada ayahnya,
serta memberi petunjuk secara terselubung saat bertarung melawan monster.
Setidaknya, di mata Rest, putri bernama Urula Lavender
itu sama sekali tidak terlihat sedang merencanakan hal jahat.
"Wajahmu kelihatan tidak setuju…… yah, tidak
apa-apa."
Mungkin karena membaca pikiran Rest dari ekspresi
wajahnya, Andrew tertawa getir.
"Aku tidak melarangmu makin dekat dengan putri
Margrave Lavender. Tapi…… berhati-hatilah agar tidak dimanfaatkan
olehnya."
"……Baik, saya mengerti."
Meski ada bagian yang tidak bisa dia terima…… ini
adalah perkataan dari keluarga kerajaan. Rest
pun mengangguk.
"Nasihat Anda akan saya ingat baik-baik…… Permisi."
Rest menundukkan kepala dalam-dalam, lalu pergi dari
hadapan Andrew.
"……Tampaknya aku malah dibenci, ya. Repot juga."
Di dalam tenda yang sudah tidak ada Rest, Andrew
tertawa getir.
"Wajar saja kalau temannya dijelek-jelekkan bakal
seperti itu…… Lagipula dia kelihatan sangat lembek pada wanita."
"……Saya rasa masalah ini bakal selesai kalau
Pangeran bisa lebih menjaga ucapan, lho?"
Orang yang melontarkan protes tersebut adalah
Riranda, bawahan dekat Andrew.
Selain sebagai bawahan, Riranda adalah teman masa
kecil yang sudah lama bersamanya. Di antara mereka berdua terpancar atmosfer
akrab yang saling memahami.
"Yah, aku sih tidak masalah kalau dibenci
olehnya. Tugas untuk mengikatnya sudah kuserahkan pada
Celestina."
"……Nona Celestina lagi, ya. Anda selalu saja memberi
beban padanya."
Riranda melemparkan tatapan menyalahkan.
Celestina sudah bertahun-tahun diberi tugas membereskan
masalah yang dibuat oleh Pangeran Bodoh, Rhodel.
Meskipun sudah terbebas dari beban berat itu karena
Rhodel dibawa pergi oleh Marquis Eigar…… kini dia malah dijadikan pasak untuk
mengikat Rest pada keluarga kerajaan.
Sebagai sesama wanita, tampaknya Riranda ikut prihatin
dengan nasib Celestina.
"Kurasa tidak perlu se-khawatir itu, kok…… Lagipula
Celestina sepertinya cukup menyukai Rest-kun."
"Benarkah? Rasanya tidak ada kesamaan apa pun di
antara dia dan Celestina?"
"Ada, kok. Keduanya sama-sama pekerja keras. Dan
sama-sama dimanfaatkan demi kepentingan orang-orang berkuasa."
"…………"
"Bercanda, kok. Jangan menatapku begitu dong."
Menanggapi tatapan Riranda yang makin tajam, Andrew
mengangkat kedua tangannya menandakan menyerah.
"Tapi…… jujur saja aku terbantu karena Celestina
mendekati Rest-kun."
"Ah…… ngomong-ngomong, dia kan calon tunangan
Anda, ya."
"Tanpa kuinginkan, tentunya."
Andrew menunjukkan ekspresi jijik.
Celestina adalah putri Duke. Di saat keluarga kerajaan
tidak memiliki putri raja, posisinya berada tepat di bawah ratu.
Statusnya sangat setara dengan Andrew. Jika tidak ada Rest, Andrew pasti sudah bertunangan dengan Celestina.
"Walau kelihatan begini, aku berterima kasih
padanya, lho…… Bukan cuma soal Celestina. Bahkan dua bersaudara dari keluarga
Marquis Rosemary dan putri dari keluarga Marquis Cattleya dibiarkan berada di
sisinya."
"Mereka semua wanita yang dulunya calon tunangan
Anda, ya."
"Hahaha, dengan begini aku jadi tidak perlu
melakukan pernikahan yang tidak kuinginkan."
Andrew tertawa terkekeh-kekeh. Dia tampak sangat gembira.
"Kamu tahu sendiri, kan? Orang yang kucintai cuma
satu. Menikah dengan orang lain selain dirinya jelas tidak
sudi!"
"……Bagi keluarga kerajaan, pernikahan politik itu
sebuah kewajiban, lho. Mengambil istri sesuai keinginan Yang Mulia Raja lalu
memelihara wanita simpanan di belakang kan juga bisa?"
"Jangan bercanda, aku tidak mau!"
Andrew meludah secara kasar seolah merasa jijik.
"Seleraku itu mencintai satu orang dengan
sepenuh hati. Aku tidak selincah itu sampai bisa mencintai dua orang
sekaligus…… Kamu kan tahu betul soal itu!"
"…………"
Riranda perlahan memalingkan pandangannya dari tuannya
yang sedang berapi-api.
Dia sangat paham perasaan Andrew. Sampai ke dalam-dalamnya.
Tapi…… dia juga sangat paham kalau perasaan itu tidak
akan pernah diakui oleh Sang Raja.
"……Mari kita akhiri pembicaraan ini sampai di sini.
Saya juga mohon pamit."
"Hmm? Ah, terima kasih atas kerja kerasmu.
Istirahatlah yang cukup."
"Baik, permisi……"
Riranda menundukkan kepala, lalu pamit dari hadapan
Andrew.
Saat hendak keluar dari tenda…… dia hampir
bertabrakan dengan pria yang masuk dari luar.
"Ups, maaf ya."
"Maaf, Eusgoth."
Pria yang masuk berbadan tegap.
Dia adalah teman lama Riranda sekaligus rekan kerja yang
sama-sama mengabdi pada Andrew.
Pria itu adalah sekretaris OSIS…… bernama Eusgoth Betras.
"Riranda, kamu mau kembali?"
"Iya, sudah malam juga. Selamat tidur."
"Ya, selamat tidur."
Keduanya bertegur sapa singkat lalu berpisah.
Berpapasan dengan Riranda, Eusgoth masuk ke dalam
tenda Andrew.
"Saya sudah kembali, Pangeran Andrew."
"Ah, kekasihku. Aku sudah menunggumu!"
Andrew berkata dengan gembira lalu berdiri dari
kursinya.
Dia langsung mendekati Eusgoth dan saling berpelukan
dengan mesra.
"P-Pangeran…… mendadak sekali."
"Mau bagaimana lagi. Aku sudah menunggumu dari
tadi…… Tenang saja, orang-orang sudah kusuruh keluar."
"Pangeran……"
"Eusgoth……"
Alasan kenapa Pangeran Kedua Andrew tidak memiliki
tunangan…… orang yang tahu alasannya hanyalah segelintir orang termasuk
Riranda.
Hari ini pun, Andrew memadu kasih tanpa diketahui siapa
pun.
◇ ◇ ◇
Selesai melapor pada Pangeran Kedua Andrew, Rest berjalan
menuju tenda yang dialokasikan untuknya.
Karena sudah menjadi bangsawan, Rest diberi tenda yang
cukup besar, di dalamnya ada tempat tidur, meja, dan kursi meskipun sederhana.
(Rasanya mirip-mirip glamping, ya…… Sekali-kali begini
tidak buruk juga.)
Prajurit berpatroli di mana-mana jadi masalah keamanan
tidak ada masalah. Tampaknya ini bakal jadi kemah yang nyaman.
"Ah, Rest-kun. Selamat
datang kembali!"
"Rest-sama. Terima
kasih atas kerja kerasnya."
Di depan tenda, Viola dan Primula sedang menyalakan
api dan memasak.
Di depan mereka berdua terdapat panggangan barbekyu
yang megah, daging dan sayuran dipanggang di atas kisi-kisi penjelajah arang
sambil mengeluarkan suara berdesis yang menggugah selera.
"Jangan-jangan itu…… barbekyu?"
"Iya, aku dengar kalau di luar ruangan memasak
makanan seperti ini."
"Kami juga baru pertama kali jadi tidak tahu
berhasil atau tidak……"
"Tidak, kelihatan enak banget, kok…… Uwah,
perutku mendadak lapar banget……!"
Aroma daging panggang yang harum membuat Rest menelan
ludah.
Rasa lapar yang tadinya tidak terasa kini menyerang
sekaligus.
"Ngomong-ngomong…… Urula ada di mana?"
Rest bertanya sambil mengingat kembali percakapannya
dengan Andrew tadi.
Di sekitar panggangan barbekyu tidak terlihat sosok Urula.
Padahal rambut ungu yang mencolok itu tidak mungkin luput dari pandangan.
"Kalau anak itu…… tuh, ada di dalam."
"Mmm……?"
Saat mengintip ke dalam tenda…… di tengah-tengah
tempat tidur tanpa hiasan, terlihat sosok kecil yang sedang bernapas teratur
dengan lelap.
Urula. Dia tertidur sambil meringkuk di tempat tidur.
"Dia tidur……"
"Sepertinya dia kelelahan. Dengan tubuh sekecil itu
dia mengikuti kita terus, sih."
"Ah…… begitu, ya. Benar
juga."
Rest mengangguk mendengar ucapan Primula.
Urula masih kelihatan seperti anak kecil. Dia juga tidak
kelihatan seperti tipe yang jago olahraga, tetapi dia ikut bersama Rest dan
yang lainnya melakukan perjalanan jauh sampai ke tengah dataran.
Tak peduli seberapa banyak dia memperkuat tubuhnya dengan
sihir, dia pasti sangat kelelahan.
"Aku tidak sadar…… Kasihan dia."
"Tidak perlu dipikirkan. Anak ini juga seorang
bangsawan, dan dia sendiri yang bilang mau ikut. Dia pasti sudah siap
menanggung risikonya."
Viola berbicara dengan nada tegas. Walau bicaranya terdengar keras…… tapi itu adalah kenyataan.
Terlahir sebagai bangsawan, tak peduli anak-anak atau
wanita, mereka harus menjalankan tanggung jawab yang dibebankan pada mereka.
Itulah harga dari hak istimewa yang mereka dapatkan.
"Dagingnya sudah matang, lho. Ayo
kita makan."
"Ah, terima kasih."
Primula menyerahkan piring berisi daging dan sayur
yang sudah dipanggang.
Rest menerimanya lalu langsung menyantapnya.
"Hmm, enak banget."
"Syukurlah
kalau begitu. Kalau begitu, kami juga—"
"Aah, enaknya! Memang pas banget dikasih garam
yang banyak!"
Masing-masing dari ketiga orang itu menikmati sajian
barbekyu.
Karena sudah menguras keringat dan kehilangan kadar
garam, bumbu yang pekat benar-benar meresap dan memanjakan tubuh mereka.
"Awalnya kupikir makan di luar bakal seperti
apa…… tapi ternyata rasanya lebih menyenangkan dari bayangan, ya."
"Serasa menyatu dengan alam, ya. Anginnya juga
terasa sejuk."
Bagi Rosemary bersaudara yang merupakan putri bangsawan,
ini mungkin pengalaman barbekyu pertama mereka.
Tampaknya mereka berdua sangat menikmati santap siang di
luar ruangan.
"Wah, aromanya menggoda banget! Aroma dagingnya
harum sekali!"
Yuri mendatangi mereka dengan mata yang berbinar-binar.
Kedua tangan Yuri tampak penuh memegang barang yang
terbungkus kain.
"Kamu kehabisan jejak Lyubase?"
"Yup, dia mendadak lari entah ke mana. Kenapa dia
sepasrah itu, ya?"
"Yah, namanya juga dia…… Terus, kamu mau ikut
makan juga, Yuri?"
"Mau banget!"
Tanpa ragu sedikit pun, Yuri langsung menjawab.
Dia mengambil piring, lalu menancapkan garpunya ke
bahan makanan yang sedang dipanggang di atas kawat penyangga.
"Haf-haf, enak, enak banget! Daging yang ini,
sayurannya, bahkan jamurnya juga…… Aww, panas!"
"Aduh, aduh, jangan makan terburu-buru begitu
dong."
"Nanti lidahmu bisa terbakar, lho, Yuri-san."
Melihat Yuri yang melahap daging dan sayur dengan
lahapnya, Rosemary bersaudara hanya bisa menghela napas pasrah.
"Makan bareng-bareng begini memang tiada
tandingannya! Enak banget!"
"Baguslah kalau begitu…… tapi cara
makanmu itu terlalu berlebihan."
Cepatnya laju makan Yuri benar-benar luar biasa. Kalau
begini terus, bahan makanan bakal cepat habis.
"Ah, kalau begitu, ayo panggang daging yang kubawa
ini juga!"
Yuri membuka bungkusan kain yang dibawanya. Dari dalamnya muncul sepotong daging dalam ukuran raksasa.
"Itu apa?"
"Aku dapat dari orang di tempat penyerahan
barang! Ini daging monster, lho!"
"Daging monster, ya……"
Daging monster memang dikenal sebagai makanan langka.
Ada orang yang merasa jijik, dan ada pula monster
yang beracun…… tetapi tergantung jenisnya, barang ini bisa diperjualbelikan
dengan harga tinggi sebagai bahan makanan kelas atas.
"Kelihatannya tidak beracun, sih. Aku tidak
masalah……"
"Aku juga tidak keberatan. Bagaimana menurutmu,
Primula?"
"Iya, aku juga tidak masalah."
"Kalau begitu, mari kita panggang yang ini
juga."
Rest menerima potongan daging besar itu dari Yuri.
Demi keamanan, dia melafalkan sihir Poison Search
untuk memastikan tidak ada masalah, lalu memotongnya menjadi ukuran yang pas
menggunakan sihir angin.
"Heh, empuk juga, ya. Ada lapisan lemaknya juga,
mirip daging sapi."
Entah ini daging dari jenis apa, tetapi sepertinya
tidak akan terasa aneh. Rest meletakkan potongan daging itu di atas panggangan.
"Ooh……!?"
"Wah……!"
Begitu menyentuh panas api, aroma juicy dan liar
langsung merebak ke sekeliling.
Padahal belum diberi bumbu sama sekali, tetapi aromanya
sangat harum dan kaya.
'Ini pasti enak'…… Keyakinan itu muncul bahkan sebelum
sempat mencicipinya. Tanpa sadar, Rest menelan ludahnya sendiri.
"R-Rest! Cepat, cepat panggangkan!"
"Yuri, jangan mendesak begitu! Tunggu
sebentar!"
"A-Aku beri bumbu dulu, ya. Kutaburi garam dan
lada……"
"Ayo, mari kita makan!"
Keempat orang itu mengambil daging ke piring
masing-masing dengan antusiasme yang membuncah.
Kemudian, mereka berebut memasukkan daging itu ke
dalam mulut.
"~~~~~~~~~!"
Begitu digigit, rasa gurih langsung meledak dan
memenuhi mulut. Serat daging yang empuk pecah dan mengeluarkan lelehan lemak
yang melimpah.
Mereka bahkan tidak peduli lagi kalau ini adalah
daging monster.
Kesegarannya benar-benar mirip daging salmon bagian
perut yang kaya lemak.
Jujur saja, ini adalah kualitas daging paling lezat
yang pernah dimakan di dunia ini.
"Enak banget……!"
"Luar biasa ya, daging ini……"
"Sungguh luar biasa, benar-benar……"
"Nyam-nyam, krauk-krauk……!"
Tiga orang mengeluarkan desah kagum, sementara Yuri
melahap dagingnya tanpa memedulikan sekitar.
Sangat dimaklumi jika mereka sampai kehilangan kata-kata.
Begitu dahsyatnya kelezatan dari daging tersebut.
"Ngh……"
"Ah, Urula. Kamu sudah bangun?"
Saat mereka sedang menikmati daging, Urula berjalan
mendekat sambil mengucek matanya yang masih sembap karena mengantuk.
"Makan……?"
"Ah, Nona Lavender juga sebaiknya ke sini. Mari
makan bersama."
"Ngh."
"Oho?"
Tanpa ragu sedikit pun, Urula langsung duduk di atas
pangkuan Rest yang sedang terduduk.
""Mmph……!""
"Nyam-nyam……"
Rosemary bersaudara mengerutkan dahi mereka.
Pasangan kakak beradik dengan kepribadian bertolak
belakang itu menunjukkan raut wajah tidak puas yang persis sama.
Sementara Yuri sama sekali tidak peduli dan hanya
berfokus menatap daging.
"Urula……"
"……Mau makan."
Urula mengabaikan situasi sekitar dan tetap meminta
makanan.
Sambil menghela napas, Primula menyajikan daging di atas
piring baru lalu menyerahkannya.
"……Ini, silakan."
"Terima kasih."
"Sama-sama…… tapi tidak sopan menempel terlalu dekat
dengan laki-laki, jadi tolong dikurangi, ya."
"Ngh."
Memberikan jawaban yang meragukan apakah dia benar-benar
paham atau tidak, Urula menancapkan garpunya ke daging.
Mulut kecilnya mengunyah daging itu dengan perlahan, lalu
gumaman pujian mengalir dari bibirnya.
"……Enak."
"Benar, kan? Kami juga baru saja membicarakan betapa
enaknya daging ini."
"Ngh…… Daging Monster Pembusuk, enak."
"A……?"
Mendengar ucapan Urula, mata Rest berkedip beberapa
kali karena terkejut.
"Daging Monster Pembusuk…… eh?"
"Ah, benar banget. Ini daging singa hitam yang
tadi itu, lho."
Yuri mengucapkannya santai seolah baru teringat,
sambil terus mengunyah daging.
"Karena aku penasaran rasanya seperti apa, aku minta
ke orang penyerahan barang! Penglihatanku memang tidak pernah salah, rasanya
benar-benar lezat!"
"I-Ini…… dari monster yang tadi……?"
"A-Ah, masa sih……?"
Wajah Viola dan Primula langsung menegang, garpu di
tangan mereka terhenti seketika.
Daging ini memang lezat. Sangat lezat, malah…… tetapi
mereka tidak pernah menyangka kalau yang masuk ke dalam mulut mereka adalah
monster yang mengeluarkan air liur pemakan daging.
Selezat apa pun rasanya, sensasi merinding itu tetap saja
tidak bisa dihindari.
"Yah, m-meskipun begitu, dagingnya kan tidak
bersalah……"
"B-Benar juga, ya…… umm."
"Apa yang dikatakan Rest-san memang benar……"
Meskipun merespons demikian, kecepatan garpu kedua
orang itu jelas-jelas menurun drastis.
"Nyam-nyam, krauk-krauk!"
"……Enak."
Berbeda dari kedua orang tadi, Yuri dan Urula terus
melanjutkan makan tanpa memedulikan hal tersebut.
Daging Monster Pembusuk.
Ini adalah momen pertama kalinya "Subnaut
Meat"—yang kelak bakal diakui sebagai salah satu dari tujuh makanan langka
terbaik di dunia—menyentuh lidah manusia.
◇ ◇ ◇
"Wah, kalian sudah selesai makan?"
Begitu selesai makan dan beres-beres, Celestine
muncul di hadapan mereka.
"Celestine, kamu terlambat, ya."
"Maafkan aku, padahal akan menyenangkan kalau bisa
makan bersama kalian……"
"Tidak apa-apa, kok. Aku sudah makan di sela-sela
pekerjaan tadi."
Melihat ekspresi penuh penyesalan dari Viola dan Primula,
Celestine membalasnya dengan senyuman anggun khas seorang putri Duke.
Celestine yang memimpin para murid dari Departemen Sipil
untuk mengurus pekerjaan di balik layar memang tidak menghadapi bahaya yang
mengancam nyawa seperti kelompok Rest, tetapi tingkat kesibukannya tidak kalah
berat.
Bahkan, meskipun berusaha disembunyikan dengan rapi, rona
kelelahan tetap terpancar jelas di wajah Celestine.
"Fufu, kalian tampaknya makin akrab saja, ya?"
Celestine berbicara sambil menatap ke arah pangkuan Rest.
Di sana, Urula masih saja duduk nyaman. Mungkin karena
perutnya kenyang dan menjadi mengantuk, kepalanya mulai terkulai-kulai menahan
kantuk.
"Ah…… yah, entah kenapa bisa begini."
"Aku mengerti, kok. Rest-kun itu memancarkan
aura yang membuat orang merasa tenang."
"Saat bersamanya rasanya sangat lega, tetapi di
saat yang sama juga membuat berdebar-debar, ini benar-benar curang, kan?"
Viola dan Primula mengangguk setuju, mengiyakan
ucapan Celestine.
Rest sendiri sama sekali tidak menyadarinya, tetapi
tampaknya ada kesepahaman tersendiri di antara para wanita.
"Ngomong-ngomong…… di sebelah sana sudah
disediakan ruang mandi khusus wanita, bagaimana kalau kalian semua
menggunakannya?"
"Wah, ide bagus! Aku memang sedang ingin
membersihkan keringat!"
"Ayo pergi, aku juga merasa baunya mulai
mengganggu!"
"Apa aku juga boleh ikut menggunakannya?"
"Tentu saja boleh, Yuri-san."
Para wanita berbincang dengan ceria hingga riuh riang
terdengar dari mereka.
"Kalau begitu…… mohon maaf, ya. Ruang mandinya
hanya ada untuk wanita……"
"Ah, tidak perlu memikirkanku. Nikmati
saja waktu mandi kalian."
"Ayo, kamu juga harus ikut!"
"Mnggh……"
Viola membangunkan Urula, lalu menggandeng tangan gadis
yang masih setengah sadar itu.
Setelah para wanita pergi dan Rest tinggal seorang diri,
dia bergumam "Baiklah" sebelum berdiri dan melangkah masuk ke dalam
tenda yang luas.
Di tengah tenda terletak sebuah tempat tidur besar,
lengkap dengan meja dan kursi sederhana.
"Tempat ini jauh lebih layak daripada kamarku di
kehidupan sebelumnya…… rasanya jadi agak sedih."
Mengingat kembali kehidupan sebelumnya yang kurang
beruntung, Rest menelan rasa getir.
Sambil menata perasaan, dia melepas pakaiannya lalu
mengaktifkan sihir.
"Water Ball, Fireball."
Mantra sihir dilafalkan secara berbarengan melalui Duo.
Di udara, dua bola sihir berunsur air dan api tercipta secara bersamaan.
"Lalu gabungkan keduanya…… sip, selesai."
Kedua bola sihir menyatu, menciptakan uap air yang
memenuhi ruangan. Dengan menggabungkan air dan api, dia berhasil menciptakan
air hangat.
Sejak tinggal di kediaman Marquis Rosemary hal ini
sudah tidak diperlukan lagi, tetapi saat masih tinggal di kandang kuda rumah
utamanya dulu, dia sering menggunakan sihir untuk membuat air hangat demi
membersihkan tubuh.
Pengaturan suhunya pun sudah sangat terbiasa. Tidak
terlalu panas, pas dan nyaman di kulit.
"Fuu……"
Setelah menanggalkan pakaiannya, dia menyapu tubuhnya
menggunakan handuk yang sudah dibasahi air hangat.
Kalau hanya untuk menghilangkan kotoran, sihir Clean
saja sebenarnya sudah lebih dari cukup, tetapi membersihkan diri menggunakan
air hangat tetap memiliki kenikmatan tersendiri.
"Sip, sudah segar. Tinggal merapikan bagian dalam
tenda…… umm, begini saja sudah cukup."
Air bekas pakai dibuang ke luar, lalu dia menggunakan
sihir Clean dan Dry untuk menyegarkan serta mengeringkan interior
tenda.
Setelah berganti dengan pakaian dalam dan baju yang
baru, dia mengintip ke luar…… matahari sudah sepenuhnya terbenam dan malam
telah tiba.
Meskipun masih agak awal, sebaiknya hari ini langsung
beristirahat saja.
"Sip, waktunya tidur."
Para wanita yang baru selesai mandi juga kemungkinan
besar bakal langsung kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
Setelah menutup pintu masuk tenda rapat-rapat, Rest
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Nnggh……"
Begitu berbaring, rasa kantuk langsung menyerang
tanpa ampun.
Rest tidak melawan godaan itu dan membiarkan
kesadarannya hanyut…… menjelajahi alam mimpi.
◇ ◇ ◇
"Suu…… suu……"
"Lho……? Rest-kun, kamu sudah tidur?"
Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Seseorang masuk ke dalam tenda dan memanggilnya.
Rest yang sudah tertidur lelap tidak terbangun.
Kelopak matanya tetap tertutup rapat.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita juga ikut tidur
di sampingnya?"
"M-Mendadak membuat jantung berdebar, ya…… Apa
boleh kita melakukan hal seperti ini?"
"Kukira Kakak lebih baik tidur di tenda lain saja.
Kalau aku bakal beristirahat di sini."
"T-Aku juga tidak mau kalah! Sisi
kanan Rest-kun tidak akan kuserahkan!"
Di sisi kanan Rest yang sedang terlentang, terasa
sentuhan yang lembut dan hangat mendekat.
Selanjutnya…… di sisi kiri juga muncul sensasi yang
serupa.
"Begitu, ya? Kalau begitu aku di sebelah kiri
saja…… Kalian bagaimana?"
"Aku juga mau tidur! Sisi yang ini milikku!"
"Fufufu…… Kalau begitu, saya di bagian ujung sini
saja. Agak sempit juga, ya."
Selanjutnya, terdengar suara derit dari tempat yang
sedikit terpisah.
Merespons rentetan hawa keberadaan yang bermunculan,
alis Rest tampak bergerak sedikit.
"……Aku juga, mau tidur."
"Bugh……!"
Tiba-tiba saja, sesuatu mendarat dan menindih bagian
atas tubuhnya.
Mendapat tekanan semacam ini, Rest akhirnya terbangun
sepenuhnya dan mendapati pemandangan yang ada di depan matanya.
"A…… A-A-A-Apa yang kalian lakukan,
semuanya!?"
Di sana, sebuah pemandangan yang sangat memikat
terhampar luas.
Para wanita berada di sekeliling Rest. Ada empat
orang…… tidak, lima orang.
Dua orang di sebelah kanan. Tepat di sampingnya ada
Viola, dan di sebelahnya lagi tampak Yuri yang berbaring.
Sisi kiri juga sama, ada sosok Primula dan Celestine di
sana.
Dan…… di atas tubuhnya, Urula sedang menindihnya.
Kelima orang itu semuanya mengenakan pakaian tipis
mirip gaun malam, sebuah penampakan yang terlalu terbuka untuk diperlihatkan di
depan seorang laki-laki.
"Apa yang kami lakukan…… kami cuma berpikir untuk
beristirahat. Apa ada masalah dengan hal itu?"
Orang yang memiringkan kepala sambil tersenyum manis
adalah Primula. Di sampingnya, Celestine juga tersenyum jahil.
"A-Aku membangunkanmu, ya. Maafkan
aku."
Di sisi lain, wajah Viola merona merah dengan ekspresi
tegang. Secara mengejutkan, saat menggoda Rest, Primula ternyata jauh lebih
berani dan agresif dibandingkan kakaknya.
"Suuaa……"
Bisa dikatakan tidur dalam hitungan tiga detik…… Yuri
sudah mendengkur halus.
Berdasarkan pengalaman, Rest tahu betul bahwa mengatakan
apa pun padanya hanya akan sia-sia.
"Bukan…… bagaimanapun juga, ini keterlaluan, kan?
Laki-laki dan perempuan yang belum menikah berada di satu tempat tidur yang
sama, bukankah ini masalah besar bahkan bagi putri bangsawan?"
"Tidak
kok?"
"……Iya, tidak ada."
Primula menjawab, disusul oleh Viola beberapa saat
kemudian.
"M-Masa tidak ada?"
"Karena kami kan tunangannya. Ada orang yang memang tidak menyukai hubungan sebelum nikah…… tapi
pada akhirnya, itu semua tergantung izin dari kepala keluarga
masing-masing."
"……Ayah memang kaku, tapi Ibu malah menyuruh kami
untuk tancap gas. Cuma tidur di kamar yang sama sih beliau tidak bakal
berkomentar apa-apa."
Kepala keluarga Marquis Rosemary adalah ayah dari dua
bersaudara itu, Albert Rosemary, tetapi dia adalah seorang menantu yang masuk
ke keluarga istri. Ibunya, Eilish Rosemary, memiliki pengaruh yang jauh lebih
kuat.
Eilish sangat setuju Rest menikah dengan dua putrinya.
Malah, dia punya pemikiran unik bahwa Rest juga harus punya selir.
"Kalau Celestine……"
"Aku juga sudah mendapatkan izin dari Ayah. Jadi
tolong jangan dipikirkan."
Celestine pun mengucapkan hal serupa tanpa ragu.
Seorang putri Duke. Rest sempat ragu apakah wajar seorang
gadis yang mengalir darah kerajaan di tubuhnya santai saja soal hal ini, tetapi
tidak ada keraguan di mata Celestine. Secara kepribadian, dia juga bukan tipe
orang yang suka berbohong.
"Suuaa…… Aku sudah tidak sanggup makan
lagi……"
"Yuri, kamu ini latah indigo banget sampai
igauannya kayak di komik-komik……"
Yuri, yang mengucapkan igauan kelewat klise itu, saat
ini sedang kabur dari rumah dan jauh dari orang tuanya.
Rest kemudian menoleh ke orang terakhir…… Urula.
"Nona Lavender……"
"……Itu, aku tidak suka."
Urula yang menindih tubuh Rest menatap ke atas dengan
mata memohon.
"Aku juga mau dipanggil 'Urula'."
"Eh……?"
"'Urula'."
"Rest-kun, bukannya dia ingin kamu memanggil
nama depannya saja?"
Viola menimpali dari samping.
Memang benar, hanya memanggil Urula dengan nama
keluarganya terasa seperti membatasi diri.
Lagipula, Rest merasa mereka belum sekrab itu sampai
harus memanggil nama depan…… Namun saat memikirkan hal itu, Urula
makin menajamkan tatapannya dan menatap Rest lekat-lekat.
"'Urula'…… Kita teman, harus akrab……!"
"I-Iya, aku paham…… Urula, begini sudah cukup,
kan?"
Kalah oleh nada bicaranya yang tidak seperti biasanya,
Rest akhirnya memanggil nama depannya tanpa embel-embel.
"Ngh…… aku puas……"
Urula mengangguk, lalu membenamkan wajahnya di dada
Rest.
"Hei, ini bukannya……"
"Aduh, sudah pasti ini mah…… saingan kita bertambah
lagi……"
Viola dan Primula saling bertukar kata.
Rest yang mendadak diserang rasa lelah secara mental,
menatap kedua bersaudara di kiri dan kanannya secara bergantian.
"Apa…… kalian lagi ngomongin apa?"
"Bukan apa-apa, kok."
"Bukan apa-apa, yaa~"
Menjawab dengan nada agak merajuk, kedua bersaudara itu
makin menempel erat ke lengan Rest.
"Ugh……!"
Karena menempel erat, suhu tubuh mereka mengalir terasa
jelas. Aroma parfum bunga, bahkan sedikit aroma keringat pun tercium.
Dan…… meski Rest berusaha sekuat tenaga untuk tidak
memikirkannya, sentuhan dari lekuk tubuh yang lembut itu tetap terasa.
(Padahal sama-sama manusia…… kenapa sentuhan tubuh
laki-laki dan perempuan bisa sebeda ini, ya?)
Tubuh anak perempuan mungkin terbuat dari marshmallow……
pemikiran konyol seperti itu bahkan mulai terasa masuk akal dan terlintas di
benaknya.
"……Sudah lama ya tidak tidur menempel dengan Rest
begini. Rasanya agak segar."
Viola berbisik dari sebelah kanan. Detak jantung Viola
yang menempel di lengannya terasa agak cepat, menyebarkan sensasi bahwa dia
sedang berdebar karena situasi yang jarang terjadi ini.
"Rasanya ajaib, ya. Rest-san hangat sekali……"
Hal yang sama berlaku untuk Primula di sebelah kiri.
Detak jantungnya sedikit lebih tenang dibanding Viola. Suhu tubuhnya sedikit
lebih tinggi, dan kelembutan di dadanya terasa sedikit lebih berisi……
"Uhuk, uhuk-uhuk……!"
"Kamu tidak apa-apa, Rest-kun?"
"Ada apa tiba-tiba, Rest-sama?"
"Tidak…… tidak apa-apa. Mungkin udaranya agak
kering saja……"
(Gawat…… aku sama sekali tidak merasa bakal bisa tidur
kalau begini……)
Kesadarannya benar-benar terbangun total.
Indranya terasah sampai batas maksimal, hingga dia
bisa merasakan dengan jelas suhu tubuh, hembusan napas, bahkan aroma dari
kelima gadis ini.
(Kalau begini terus gawat nih…… gejolak jiwa muda belasan
tahunku bisa-bisa lepas kendali……!)
Rest memang seorang pemuda yang rasional, tetapi
bagaimanapun juga dia adalah remaja laki-laki yang sedang berada di puncak masa
pubertas.
Tidur seranjang dengan gadis-gadis sebaya…… apalagi
yang semuanya berparas sangat cantik, mana mungkin dia bisa tetap tenang.
(Kalau sudah begini, ini jalan terakhir……!)
"Sleep."
Dia berbisik pelan agar tidak terdengar oleh yang
lain.
Itu adalah sihir yang secara harfiah membawa orang ke
alam mimpi.
Sihir ini tergolong sihir status abnormal…… tetapi
jangkauannya pendek, ditambah lagi hampir tidak mempan pada orang yang punya
mana tinggi. Sihir yang hampir tidak ada gunanya dalam pertarungan.
(Tapi kalau dimantrakan ke diri sendiri dan menerima
sihirnya tanpa perlawanan…… pasti bisa…… kena……)
"Suu……"
Rest yang tadinya berdebar-debar karena ditempeli oleh
lima gadis, perlahan merasakan kesadarannya menjauh.
Tak butuh waktu lama, kesadarannya pun tenggelam ke dasar
lautan mimpi.
"Lho…… Rest-kun, sudah tidur?"
"Dia pasti kelelahan sekali, ya."
Tanpa menyadari bahwa Rest tertidur karena cara ekstrem
menggunakan sihir, Rosemary bersaudara di kiri dan kanannya saling berbisik.
"Fufu, wajah tidurnya imut sekali, ya. Padahal dia
kuat sekali, tapi saat tidur kelihatan seperti anak-anak."
Primula menyenggol pelan pipi Rest yang tertidur dengan
jarinya.
Di dalam kegelapan, pipinya memerah dan raut wajahnya
mengendur penuh kasih sayang.
"Suuaa, suuaa!"
"K-Kalau yang ini sih benar-benar kayak anak kecil,
ya."
Di samping Viola, Yuri sedang tidur nyenyak dengan
hembusan napas yang bersemangat.
Keduanya sudah tertidur lelap, kelihatannya tidak bakal
bangun hanya karena gangguan kecil.
Viola dan Primula pun memeluk lengan Rest erat-erat,
bersiap mengikuti mereka berdua berlayar ke alam mimpi.
"Ngomong-ngomong…… boleh aku menanyakan
sesuatu?"
Di tengah keheningan, Celestine yang berada di samping
Primula membuka suara.
"Ada apa, Celestine?"
"Tidak…… yang ingin kuajak bicara adalah Urula-san."
"Ngh……?"
Urula yang menempel pada Rest mengangkat wajahnya
sedikit.
Mata purpunya berkedip tanpa suara, memintanya untuk
melanjutkan perkataannya.
"Urula-san selalu bersama Rest-san, apakah itu
atas keinginan Margrave Lavender sendiri?"
""!""
Pertanyaan yang sangat menohok.
Viola dan Primula menahan napas mereka.
Itu adalah keraguan yang selama ini terpendam di dalam
hati mereka berdua, tetapi tidak pernah sanggup mereka tanyakan secara
langsung.
Keluarga Margrave Lavender adalah keluarga yang memiliki
posisi sangat khusus di antara para bangsawan.
Bangsawan besar yang menjaga perbatasan timur.
Menjadi poros perdagangan dengan Kekaisaran Geisel, tetapi di saat yang sama
menjadi penjelmaan dendam yang sangat membenci kekaisaran.
Bukan faksi moderat seperti keluarga Marquis
Rosemary, Marquis Cattleya, atau Duke Crocus, melainkan faksi utama penyerang
yang mendorong invasi secara aktif.
Mereka memang tidak memiliki pemikiran berbahaya
seperti Faksi Ibu Suri…… namun tetap saja, sulit untuk tidak waspada saat
keluarga Margrave Lavender yang selama ini bungkam mendadak mulai bergerak.
"Mohon maaf atas ketidaksopananku, tapi aku sudah
menyelidiki tentangmu. Kudengar kamu berbadah lemah dan terbaring sakit
bertahun-tahun sehingga tidak bisa muncul di hadapan publik?"
"…………"
"Tapi…… lagipula, ayahmu, yaitu putra dari
Margrave Lavender yang sekarang, sudah menghilang sejak dua puluh tahun yang
lalu. Tidak diketahui kebenarannya, tapi ada rumor yang mengatakan kalau dia
kabur bersama penari jalanan. Cerita yang cukup romantis, ya."
Celestine terus mendesak dengan nada suara yang tenang
dan pelan.
"Margrave Lavender tidak memiliki anak lain.
Padahal begitu, tiba-tiba saja kamu muncul sebagai cucunya. Di dalam masyarakat
bangsawan yang sangat mementingkan pertalian darah, pengangkatan anak
membutuhkan pengajuan resmi ke negara."
"…………"
"Apakah kamu benar-benar cucu perempuan dari
Margrave Lavender? Apakah keputusannmu masuk ke akademi…… dan menjadi teman
seangkatan kami, benar-benar murni kebetulan tanpa ada niat politik?"
Pertanyaan yang menusuk, disampaikan dengan tenang tetapi
tidak memberi ruang untuk berbelit-belit.
Viola dan Primula menahan napas, menantikan jawaban dari Urula.
"Tidak penting."
"""!"""
Urula yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan jawaban
singkat.
Sangat santai…… dan sesuai dengan perkataannya, dia
benar-benar terlihat tidak peduli.
"Aku, cucu Kakek. Disuruh Kakek datang ke
akademi…… tapi, tidak penting."
"Tidak penting itu……"
"Apa maksudnya?"
Viola dan Primula bertanya dengan heran.
Namun, ditatap oleh tiga orang, Urula justru
menguselkan pipinya ke dada Rest dengan wajah yang benar-benar tidak tertarik.
"Tidak penting…… Semuanya, sama sekali tidak
penting……"
"Ah……"
Celestine menghela napas.
Penjelasan Urula sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.
Bahkan tidak jelas apakah dia memang berniat memberi penjelasan atau tidak.
Namun…… ada satu hal yang pasti dan bisa ditegaskan.
"Kamu…… memang benar-benar manja pada Rest-san,
ya."
Celestine mengatakannya dengan nada antara heran dan
kagum.
Bahwa Urula memiliki perasaan menyukai Rest…… itu sudah
pasti sebuah kenyataan.
Melihat sosok Urula yang menggosokkan tubuhnya seperti
anak anjing yang bermanja-manja pada induknya, rasanya tidak mungkin perasaan
itu palsu.
"Kenapa kamu bisa se-menempel itu pada
Rest-san……?"
"Karena indah."
Pertanyaan yang dilemparkan langsung dibalas tanpa jeda
sedikit pun.
"Karena indah. Karena cantik. Sangat, sangat,
sangat-sangat indah……!"
"B-Begitu, ya……"
Napasnya yang bergelora membuat Celestine agak gentar.
Mulut Viola dan Primula juga ikut kedutan.
Seolah tidak peduli bahwa orang-orang di sekitarnya
merasa heran, Urula terus saja mengusel-uselkan pipinya tanpa henti.
"Haa…… gimana ya, rasanya jadi antiklimaks
banget……"
"Iya, ya……"
Primula menyetujui ucapan Viola.
Biasanya dua bersaudara ini bakal cemburu, tetapi cara
Urula menempel lebih terlihat seperti ungkapan kasih sayang hewan kecil
daripada sebuah 'rasa cinta', sehingga rasa kewaspadaan mereka melunak begitu
saja.
"Kalau anak ini bukan musuh Rest-kun sih aku tidak
masalah. Soal Margrave Lavender memang bikin penasaran, tapi kalau soal
emosian, Ibu kita juga sama saja, kok."
"Di depan Ayah sih tidak bakal diucapkan…… tapi Ibu kan juga orang dari faksi utama penyerang."
Membayangkan wajah ibu mereka yang menyimpang dari
aturan dan hobi berkelahi, kedua bersaudara itu tertawa getir.
"Sepertinya aku sudah menanyakan hal yang tidak
sopan, ya…… Mohon maaf."
"Ngh."
Saat Celestine meminta maaf, Urula merespons pelan tanpa
menghentikan uselan pipinya.
"Apa pun yang terjadi, kita berada di pihak
Rest-san…… cuma itu yang ingin kupastikan, jadi sudah cukup."
"Mnya-mnya…… Tenang saja, Rest. Ada
aku di sini~"
"Fufu, Yuri-san sepertinya juga setuju, ya."
Yuri yang tidur lelap membalas lewat igauannya. Tawa
kecil membahana halus di dalam tenda.
"Malam ini mari kita beristirahat. Lanjutannya
kapan-kapan saja, sambil minum teh dengan santai……"
"Benar…… selamat tidur."
"Selamat tidur……"
"Ngh…… selamat tidur."
Percakapan pun berakhir, dan keheningan menyelimuti
kegelapan.
Malam yang panjang bagi Rest dan kelima gadis terus
larut.
Meski berada di luar ruangan, tidak ada rasa dingin
sedikit pun, malam itu justru terasa hangat dan membara.



Post a Comment