NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mugen no Majutsu Shi Maryoku Nashi de Heimin no Ko to Hakugai Sareta Ore ⁓ Jitsuha Mugen no Maryoku Mochi Volume 3 Chapter 4

Chapter 4

Kencan Daun Semanggi Berdaun Empat


Setelah itu, Rest dan yang lainnya masih dikerahkan untuk membasmi monster…… namun begitu monster di bagian pusat dataran berhasil dibereskan untuk sementara, mereka akhirnya diizinkan untuk kembali ke ibu kota.

"Kalau kalian terlalu aktif bertarung, orang lain tidak punya kesempatan untuk mendapat pencapaian. Kalau ada sesuatu kami akan menghubungi kalian, jadi beristirahatlah dulu untuk sementara."

Mendapat ucapan seperti itu dari Andrew, Rest dan kelompoknya pun kembali ke ibu kota.

Karena banyak murid akademi yang ikut serta dalam pembukaan lahan, kehadiran di kelas bersifat opsional. Secara praktis, situasi ini menjadi liburan panjang bagi mereka.

Rest adalah seorang murid yang rajin. Di saat seperti ini dia sebenarnya ingin fokus belajar dan berlatih sihir…… tetapi di tengah-tengah itu, Viola mengajukan usulan dengan suara lantang.

"Ayo kita kencan! Cuma itu pilihannya!"

Di ruang santai townhouse milik keluarga Marquis Rosemary.

Orang-orang yang ada di tempat ini adalah Rest, Rosemary bersaudara, Yuri, dan Celestine. Dengan kata lain, orang-orang yang sudah tidak asing lagi.

"Akhir-akhir ini kita sering main bareng-bareng, tapi belum pernah kan pergi berdua saja dengan Rest-kun? Sekali-kali aku mau kencan, lho!"

"Ide bagus. Kak, itu ide yang sangat cemerlang!"

Primula menyatukan kedua telapak tangannya sambil tersenyum manis.

"Aku juga punya tempat yang ingin kukunjungi bersama Rest-sama. Tentu saja, kalau Rest-sama tidak keberatan……"

"Ah, aku sama sekali tidak keberatan, kok. Benar-benar tidak masalah."

Viola dan Primula adalah tunangan Rest. Mana mungkin dia menolak diajak kencan.

Masalahnya adalah…… dua wanita tersisa yang berada di tempat ini.

"Aku juga! Aku juga mau pergi jalan-jalan dengan Rest!"

"Tentu saja, aku juga termasuk, kan?"

Yuri mengacungkan tangannya dengan penuh semangat, sementara Celestine menopang pipinya sambil berbicara dengan anggun.

Keduanya sudah biasa keluar masuk kediaman ini seperti rumah sendiri, bahkan tidak jarang sampai menginap.

Ada pepatah yang mengatakan 'Tiga wanita berkumpul suasana jadi bising', tetapi kalau sudah empat orang, keadaannya jadi makin heboh. Dikelilingi oleh empat gadis cantik, Rest merasa malu, canggung, sekaligus serbasalah.

"Emm…… aku sih tentu saja tidak keberatan pergi jalan-jalan dengan Yuri dan Celestine juga, tapi……"

Dengan ragu Rest menatap ke arah Rosemary bersaudara.

Sebagai seorang tunangan, bukankah ini bisa dianggap berselingkuh? Begitulah pertanyaan yang tersirat dari pandangannya.

"……Jujur saja, aku sudah pasrah soal kalian berdua."

"……Iya, benar."

Viola berucap sambil menghela napas, dan Primula pun menyetujuinya.

Di wajah mereka berdua terpancar kepasrahan yang sangat pekat.

"Terlepas dari Yuri…… sepertinya Yang Mulia Raja dan Perdana Menteri juga setuju kalau Celestine menikah dengan Rest. Kami tidak bisa egois."

"Lagipula, Ibu sendiri berniat mencarikan selir untuk Rest-san…… Daripada dengan orang yang tidak kami kenal, jauh lebih baik kalau itu kalian berdua."

Meski mereka berdua adalah gadis muda yang sedang kasmaran, bagaimanapun juga mereka adalah bangsawan. Mereka bakal patuh pada kebijakan negara dan keluarga.

Ibu dari dua bersaudara itu, Eilish Rosemary, adalah sosok wanita perkasa yang sangat mendedikasikan diri untuk negara. Dia percaya bahwa menyebarkan garis keturunan Rest demi masa depan adalah hal yang sangat bagus untuk negara, sehingga dia sangat menganjurkan untuk memiliki banyak keturunan.

"Malah, kalau kita membentengi Rest dari awal, mungkin kita bisa mencegah bertambahnya selir baru."

"Tapi rasanya bakal ada satu orang lagi yang ikut bergabung, ya……"

"Ah…… Nona Urula, ya……"

Rosemary bersaudara saling bertatap mata, lalu menghela napas sekali lagi.

Gadis yang tidak ada di tempat ini tetapi jaraknya terbilang sangat dekat dengan Rest…… Urula Lavender.

Bahwa gadis itu menyimpan perasaan suka pada Rest, bukan cuma orang-orang di tempat ini saja, melainkan seluruh murid di angkatan mereka pun sudah mengetahuinya.

(Urula, ya…… Anak itu juga berkali-kali bilang ingin main ke sini……)

Sejak liburan dimulai, Rest sudah menerima surat dari Urula berkali-kali.

Bahwa dia sangat ingin bermain ke kediaman Marquis Rosemary, atau meminta Rest untuk datang ke rumahnya…… hal-hal seperti itu tertulis cukup panjang di dalam surat.

Dari kabar yang didengar, Urula saat ini tinggal di kediaman kerabatnya yang ada di ibu kota.

Rest sempat terkejut karena gadis yang biasanya begitu pendiam itu bisa menjadi sangat cerewet di dalam surat.

"Yah, tidak usah memikirkan dia dulu. Daripada itu…… mari kita bahas soal kencan?"

Celestine mengembalikan pembicaraan ke topik utama.

Dia tampak jauh lebih gembira dari biasanya. Sambil berbicara dengan nada suara yang ceria, dia menyilangkan kakinya secara anggun.

"Kita punya banyak waktu…… Bagaimana kalau kita pergi bergiliran dengan Rest-san setiap harinya?"

"Boleh juga. Untuk urutannya……"

"Aku! Aku mau yang pertama!"

Yuri berdiri secara anggun dengan gerakan secepat kilat.

"Dulu kita pernah bertanding kartu, kan? Karena aku juara pertama, jadi aku mau dapat giliran pertama!"

"Ah…… kalau tidak salah ingat, memang pernah ada kejadian seperti itu, ya……"

Kejadiannya sudah berlalu lebih dari sebulan yang lalu, ketika mereka melakukan duel permainan kartu dengan memperebutkan Rest.

Saat itu Yuri menang dan mendapatkan hak untuk melakukan apa pun pada Rest…… tetapi setelah itu Urula masuk sebagai murid pindahan dan pembukaan wilayah liar dimulai, jadi hal itu sempat tertunda.

"Yah, boleh saja. Yuri duluan tidak masalah."

"Aku juga tidak keberatan…… Kalau begitu, urutannya sesuai hasil pertandingan hari itu saja, ya."

1.    Yuri Cattleya

2.    Viola Rosemary

3.    Primula Rosemary

4.    Celestine Crocus

Urutan kencan pun akhirnya ditetapkan.

Keinginan Rest benar-benar diabaikan secara total…… tetapi berdasarkan pengalaman, dia paham betul kalau dirinya tidak akan bisa menang melawan para wanita di saat-sayat seperti ini.

Mendapat kencan bergantian dengan gadis-gadis cantik sebenarnya adalah sebuah hadiah, jadi dia menerima hal itu tanpa mengajukan keberatan sedikit pun.

"Baiklah…… kalau begitu, kalian saja yang menentukan mau pergi ke mana. Aku bakal menemani ke mana pun kalian pergi."

"Mulai besok rasanya terlalu mendadak, jadi kita mulai dari awal minggu depan saja. Wah, tidak sabar rasanya!"

Viola tersenyum lebar dengan pipi yang merona kemerahan.

Primula, Yuri, dan Celestine pun menyahut dengan suara gembira, saling membicarakan mau pergi ke mana dan mau melakukan apa.

"Empat orang…… empat helai daun clover, ya……"

Melihat sosok mereka seperti itu, Rest bergumam pelan, "Begitu, ya……"

◇ ◇ ◇

"Nah, Rest! Kita sudah sampai di tempat tujuan!"

Hari pertama kencan.

Tempat yang dituju oleh Yuri adalah sebuah bukit yang terletak agak jauh dari ibu kota.

Bukit kecil yang menjulang itu diselimuti hamparan rumput hijau, langit terasa sangat tinggi, menyuguhkan pemandangan yang memberikan sensasi kesegaran.

"Hebat, kan? Aku menemukan tempat ini waktu sedang lari pagi kemarin!"

Yuri membusungkan dadanya penuh percaya diri.

"Pemandangannya memang bagus, sih…… Tapi ngomong-ngomong, kamu lari pagi sampai ke tempat sejauh ini?"

Jarak dari ibu kota ke bukit ini terbilang cukup jauh. Seberapa pun atletis dan sehatnya Yuri, jarak ini sudah melampaui batas jarak orang yang sekadar pergi lari pagi.

"Tidak, ini kebetulan saja. Setiap pagi aku selalu lari di jalanan ibu kota…… tapi karena ingin coba rute yang berbeda, aku belok di satu belokan, lalu mendadak sampai di sini."

"C-Cuma belok di satu belokan? Cuma gara-gara itu bisa sampai ke sini?"

Dipikir menggunakan logika apa pun, tempat ini bukanlah lokasi yang bisa ditemukan hanya dengan cara seperti itu.

Lagipula, kenapa dia bisa sampai keluar dari ibu kota? Apa dia tidak sadar saat melompati tembok kota?

"Yah, pemandangannya memang bagus, sih…… tapi anginnya agak kencang, ya."

Sejak tadi angin kencang berembus meniup mereka. Karena sudah memasuki musim gugur, bukannya terasa segar, rasanya malah agak dingin di kulit.

"Ah, harusnya kita datang di musim yang lebih hangat, ya. Cuacanya memang cerah, tapi anginnya dingin."

"Iya, benar…… Kalau begitu, Forcefield."

Rest mengaktifkan sihirnya.

Kubah transparan menyelimuti mereka berdua, memblokir hawa dingin dari luar.

Forcefield adalah sihir pertahanan tingkat tinggi. Dibandingkan dengan Wind Wall atau Earth Wall, konsumsi mananya memang lebih besar, tetapi sebagai gantinya sihir ini bisa melindungi dari segala arah secara merata.

Kalau aliran udara dihentikan secara total mereka bisa kehabisan napas, jadi dia hanya membatasi masuknya hawa dingin saja.

"Oho? Sudah tidak dingin lagi!"

"Kalau begini sudah tidak masalah, kan. Mari kita bersantai."

"Iya, benar. Aku membawa bekal, jadi ayo kita makan!"

Dari beban yang digendong di punggungnya, Yuri mengeluarkan kotak makan yang ukurannya terbilang cukup besar.

"Aku bangun pagi-pagi untuk membuatnya! Begini-begini, aku jago masak, lho!"

"Masa, sih…… Rasanya agak tidak terduga……"

Sama sekali tidak ada bayangan kalau Yuri jago memasak.

Malah, kesan bahwa dia bakal gagal memasak sampai memicu kebakaran jauh lebih kuat.

"Nah, silakan dimakan! Ini karya terbaikku!"

"Oho…… cokelat semua……"

Saat Yuri membuka kotak makan yang besar itu, dari dalamnya bermunculan lauk pauk yang serba berwarna cokelat.

Daging panggang, hamburg, ayam goreng, tonkatsu, yakitori…… pokoknya cuma berisi jenis daging-dagingan saja, sama sekali tidak ada sayuran pelengkap yang berwarna-warni seperti peterseli atau tomat ceri.

Porsinya pun sangat banyak. Bukannya untuk dua porsi, ini sih cukup untuk lima porsi, sampai-sampai kotak makannya tampak padat sesak seolah mau meledak dari dalam.

"Gimana ya…… kelihatannya bisa bikin stamina melonjak drastis, nih……"

"Rest kan selalu berjuang keras! Makanya aku padatkan dengan makanan yang kaya nutrisi!"

"Memang sih, nutrisinya pasti ada…… tapi rasanya agak tidak seimbang, ya."

"Di sebelah sini ada roti lapis juga, kok. Yang ini dimakan juga, ya."

Dari kotak makan yang lain, bermunculan roti lapis.

Roti lapis telur dan roti lapis BLT.

Melihat sayuran yang terselip di antara himpitan roti membuat Rest merasa sedikit lega.

"Nah, mumpung ada banyak, makan saja tanpa ragu!"

"……Selamat makan."

Meskipun menunya kelihatan bakal bikin perut terasa begah, tetapi secara tampilan makanan ini benar-benar kelihatan lezat. Rest mulai menyantap bekal tersebut.

"……Enak."

Dagingnya empuk. Rasa gurihnya benar-benar meresap sampai ke dalam daging.

Pasti dimasak dalam waktu yang lama. Proses pembuatannya jauh lebih rumit daripada penampilannya.

"Aku belajar dari Primula dan koki di kediaman Marquis Rosemary, lho. Aku dipuji punya bakat yang bagus!"

"Heh, hebat juga, ya."

"Kalau begini, aku sudah cocok jadi istri yang baik, kan?"

"Uhuk…… uhuk-uhuk!"

Makanan mendadak tersangkut di tenggorokan. Saat sedang terbatuk-batuk, Yuri menyodorkan segelas teh padanya.

"Kalau makan terburu-buru begitu nanti bisa tersedak, lho! Tidak usah panik, stoknya masih banyak kok!"

"Bukan, bukannya aku panik cuma gara-gara………… Tidak jadi, deh."

Rest memutuskan untuk membuang pikiran yang tidak perlu dan berfokus pada makanannya.

Tadinya sempat dikira porsinya terlalu banyak, tetapi Rest sendiri adalah remaja belasan tahun.

Yuri pun meski berbadan ramping sebenarnya pemakan banyak, jadi isi kotak makan itu akhirnya ludes tak tersisa.

"Aah, enak banget…… Terima kasih atas makanannya."

"Sama-sama. Aku senang kalau kamu suka."

"Perutku kenyang banget, nih…… jadi ngantuk."

Langit membiru cerah, di sekeliling terhampar bukit hijau dan dataran luas.

Kalau rebahan dan tidur siang di sini, pasti rasanya bakal sangat nikmat.

"Ah, itu juga sudah masuk dalam rencana!"

Sambil tersenyum, Yuri menepuk paha kakinya sendiri.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman ceria, sementara tangannya melambai-lambai memberikan isyarat "Sini, sini".

"Bantalnya sudah kusiapkan, lho. Gunakan saja tanpa ragu!"

"…………Serius nih?"

Bantal ini memang bantal kualitas kelas wahid. Bagaimana tidak, ini adalah bantal paha dari seorang putri pingitan keluarga Marquis.

Rest sempat bimbang apakah harus menolaknya atau tidak…… tetapi Yuri tersenyum jahil.

"Aku kan menang pertandingan kartu. Aku punya hak untuk melakukan apa pun pada Rest."

"Mmph……"

"Apa mau permintaan yang lain saja? Misalnya, tidur seranjang berdua……"

"Paham! Aku mengaku kalah!"

Rest seketika mengangkat kedua tangannya menyerah. Dia pun menerima tawaran bantal paha itu.

"Nah, gitu dong, anak pinter."

"……Dasar, pinter banget nyari celah. Ya ampun."

Sambil menggerutu pelan, Rest merebahkan tubuhnya menjadikan paha Yuri sebagai bantal.

Di depan matanya terhampar langit biru yang tinggi, dengan awan berbagai bentuk yang berenang bebas.

Di dalam kubah pelindung yang memblokir udara dingin dari luar, angin dengan hembusan yang pas membawa serta aroma segar daun-daun hijau.

"Fuu……"

"Bagaimana, Rest?"

"……Rasanya sangat nyaman, iya."

"Kenapa bicaranya jadi formal begitu?"

"Tidak…… cuma reflek saja……"

Bantal yang sangat nyaman. Di balik kelembutannya, terasa kejelasan struktur paha yang padat dan kencang.

Dari tubuh Yuri tercium aroma harum bunga yang samar-samar, terasa sangat menenangkan hati.

(Ini bukan wewangian parfum, apa aroma sabun, ya……?)

"…………"




"Kamu mau tidur, Rest?"

"……Ah…… iya………… mau tidur……"

"Gitu, ya. Selamat tidur."

"……Ngh."

Tanpa melawan godaan rasa kantuk, dia memejamkan kelopak matanya yang berat. Kesadarannya melayang perlahan bagai tenggelam ke dasar laut, rasanya seolah sedang berbaring santai di atas awan.

"……Suu…… suu."

Beberapa menit kemudian, Rest mulai bernapas halus dalam tidur nyenyaknya.

Yuri membelai rambut Rest dengan lembut, menikmati momen damai yang mengalir sejenak.

"GUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

"GISYAAAAAAAAA!"

"Uwah!?"

Namun…… waktu tidur nyenyak itu hanya berlangsung sebentar.

Suara raungan monster mendadak menggelegar, membuat Rest melompat bangun bak dipasang pegas.

"A-Apa itu!?"

"Ah, Rest. Kamu terbangun, ya."

"Yuri…… apa yang terjadi!?"

"Bukan apa-apa, kok…… Itu tuh, mereka cuma berisik saja."

"Itu…… maksudmu monster?"

Saat melihat ke bawah dari atas bukit, di sana tampak dua ekor monster sedang bertarung dengan sengit.

"I-Ular cobra sama musang……?"

Dua ekor monster yang sedang bertarung adalah seekor ular raksasa dan seekor binatang berkaki empat yang berbulu lebat.

Keduanya berukuran sebesar gajah, saling bertabrakan dengan keras dan melancarkan pertarungan yang sangat sengit.

"Mereka tiba-tiba muncul dan mulai bertarung tadi. Monster yang tidak pernah kulihat, ya?"

Yuri berucap dengan santai, lalu mengelus pahanya yang tadi dijadikan bantal oleh Rest.

"GISYAA!"

Di depan pandangan mereka berdua, kedua monster itu melanjutkan pertarungan. Ular raksasa menyerang binatang berbulu, mencoba melilit tubuh lawannya dengan badannya yang panjang.

"GUOU!"

Namun…… binatang itu dengan cepat menggigit kepala si ular, lalu meremukkan dan menggigit putus kepala lawannya yang sedang menggeliat kepanasan.

"Pertarungan antar monster, ya…… sepertinya sudah selesai."

Akan sangat bagus kalau pemenangnya langsung pergi dari sana…… namun binatang berkaki empat yang baru saja menggigit mati ular raksasa itu mengalihkan pandangannya ke atas bukit, lalu matanya beradu tepat dengan Rest.

"Gawat……"

"GUOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"

Menemukan target baru, binatang itu meraung keras lalu berlari cepat mendaki bukit.

"Ah, sialan…… padahal lagi hari libur……!"

Niat hati ingin piknik santai, malah harus berhadapan dengan monster lagi.

Rest bersiap untuk menyambut serangan tersebut…… tetapi Yuri menahannya dengan tangan.

"Tunggu, Rest! Biar yang ini aku yang hadapi!"

"Yuri?"

"Ayo, maju sini!"

Tanpa sempat dicegah, Yuri langsung melompat menjejak tanah.

Dia membumbung tinggi di udara, lalu melayangkan tendangan terbang ke arah monster seperti pahlawan bertopeng.

"GUOU……!"

Mendapat pukulan telak di dahi, monster itu berguling jatuh dari atas bukit.

Namun, matanya masih memancarkan rasa permusuhan yang pekat, lalu dia mengayunkan cakar tajamnya ke arah Yuri.

"Hahaha, serangan begitu tidak akan kena! Ini penutupnya!"

Yuri menghindar secara anggun dari serangan musuh, lalu melompat lagi. Bagaikan mengayunkan kapak, dia melancarkan tendangan tumit tepat menyasar tulang leher si monster.

"G-Gu……"

Suara patah tulang yang mengerikan terdengar, monster itu pun roboh dan tidak bergerak lagi.

"Siipp, Rest! Sudah selesai……"

"Wind Cutter!"

Yuri baru saja hendak mendeklarasikan kemenangannya…… namun Rest dengan sigap melepaskan sihirnya.

"Gisya……"

Tebasan angin berkecepatan tinggi melesat dan memenggal kepala ular raksasa yang hendak menyerang punggung Yuri.

Padahal kepalanya sudah dihancurkan oleh binatang berkaki empat tadi…… tetapi luar biasanya ular raksasa itu ternyata masih hidup, dan mencoba menyerang Yuri saat ada celah.

"Celah kecil bisa berbahaya. Tadi itu hampir saja, lho."

"Ah, gawat! Bisa-bisanya aku ceroboh begitu. Sepertinya aku dibantu oleh Rest lagi, ya!"

Yuri yang seharusnya lengah malah tertawa gembira entah kenapa, lalu berjalan menghampiri Rest.

"Rest memang bisa diandalkan, ya! Memang cocok jadi laki-laki pilihanku!"

"Terima kasih atas pujiannya…… tapi kamu memang wanita yang selalu merepotkan seperti biasa, ya……"

Melihat Yuri yang merangkul lengannya secara akrab, Rest hanya bisa mengelus dada sambil mengangkat bahunya.

◇ ◇ ◇

Hari kedua kencan. Lawan kencan hari ini adalah Viola.

Padahal mereka tinggal serumah, tetapi atas permintaan Viola, mereka sengaja janjian di luar. Di depan Rest yang sudah datang lebih awal ke lokasi janjian, Viola muncul dengan mengenakan gaun terusan yang anggun.

"Tadaa~!"

Viola mengibaskan ujung roknya, berputar kecil lalu merentangkan kedua tangannya.

"Cocok banget. Sangat cantik."

Paham dengan apa yang diharapkan darinya, Rest langsung melontarkan kata-kata pujian tanpa ragu.

"Terima kasih. Baju itu juga cocok banget di kamu, Rest-kun."

"Ini baju yang kalian berdua pilihkan waktu itu, kok. Hari ini kamu mau membawaku ke mana?"

"Ke tempat yang sangat spesial. Aku dapat rekomendasi kafe yang sangat bagus dari teman sekelasku."

"Wah, jadi penasaran. Kalau begitu, ayo."

Rest menyodorkan lengannya, dan Viola menyambutnya dengan menyatukan tangannya secara erat.

Sambil mengagumi pemandangan jalanan ibu kota, mereka akhirnya sampai di sebuah kafe kecil.

Rest sudah sering pergi ke kedai kopi…… tapi apa bedanya tempat ini?

"Kamu bakal paham kalau sudah masuk ke dalam."

Ditarik tangannya oleh Viola yang tersenyum jahil, begitu melangkah ke dalam, Rest langsung menyadari konsep dari kafe ini.

"Nyaa~"

"Tempat ini……!"

Begitu memasuki toko, makhluk kecil langsung menyambut mereka.

Kucing. Ada banyak sekali kucing di dalam toko, dan para pelanggan sedang mengelus serta memanjakan mereka.

"Kafe kucing……!"

"Baru buka belum lama ini, lho. Dari dulu aku penasaran ingin ke sini."

Viola berucap dengan suara gembira. Tampaknya, Viola adalah tipe penyuka kucing.

"Kaget, kan? Bisa-bisanya melepas begitu banyak kucing di dalam toko."

"Kaget banget…… iya, jujur saja."

Mana mungkin dia mengira bakal ada kafe kucing di dunia lain.

Sebenarnya, siapa orang yang membuat toko seperti ini?

(Ini jelas-jelas ide dari orang Jepang, kan…… Jangan-jangan, ada orang yang bertransmigrasi selain aku……?)

"Toko ini kabarnya terinspirasi dari kafe yang ada di Kekaisaran Geisel. Orang kekaisaran punya ide yang unik juga, ya."

"Kekaisaran……"

Negara tetangga sekaligus sekutu, dan juga bekas negara musuh.

Rest belum pernah berkunjung ke sana dan belum pernah bertemu dengan orang kekaisaran, tapi…… negara seperti apa sebenarnya tempat itu?

"Selamat datang~ silakan duduk di kursi yang kosong, ya~"

"Di sebelah sini kosong, tuh. Ayo duduk."

Diarahkan oleh pelayan wanita, mereka berdua duduk berdampingan di atas karpet yang terhampar di lantai.

Ada banyak kucing di dalam toko…… tetapi mereka sedang tidur siang atau memperhatikan dari kejauhan, tidak ada yang mendekat.

"Tidak mau mendekat, ya…… Apa kita yang harus mendatangi mereka duluan?"

"Jangan, Rest-kun! Kucing itu makhluk yang tingkat kewaspadaannya tinggi!"

Viola menegur Rest dengan suara pelan.

"Kita duduk saja begini, tunggu sampai mereka terbiasa dengan keberadaan kita."

"……Paham."

Mengikuti arahan Viola, saat mereka menunggu sambil duduk…… salah satu kucing berjalan mendekat dengan santai.

"Nyaa."

"…………!"

Kucing berwarna putih itu naik ke atas paha Rest. Kemudian, dia meregangkan tubuhnya dan tidur dengan santai di sana.

"Ini……"

"Beruntung banget, ya. Tiba-tiba langsung naik ke paha begitu."

"A-Ah…… iya juga, ya……"

Rest menelan ludah. Dia tidak terlalu sering berinteraksi dengan kucing…… tapi melihatnya bersantai di atas pahanya begini, rasanya sangat imut.

"Funyaa……"

"I-Imutnya…… bikin iri saja……"

"Memang imut banget, sih……"

Merasakan kehangatan dari si kucing, Rest meresapinya dalam-dalam.

(Rasanya kayak cuma dijadikan bantal duduk sih…… tapi entah kenapa, dipermainkan begini ternyata seru juga.)

Mungkin, dipermainkan oleh kucing dan dipermainkan oleh anak perempuan itu punya kemiripan.

Rest yang sering dipermainkan oleh para gadis mungkin memang sudah ditakdirkan untuk menyukai kucing.

"Ah, di tempatku juga ada yang datang!"

Seekor kucing belang mendekat ke samping Viola lalu melingkarkan tubuhnya. Saat Viola menjulurkan tangannya dengan ragu-ragu…… kucing belang itu hanya membuka satu matanya tanpa melawan.

"Hangatnya…… bulunya halus…… kecil banget……"

Viola mengelus kucing belang itu dengan raut wajah yang meleleh gemas.

"Toko yang sangat luar biasa, Rest-kun…… Aku merasa terharu banget sekarang……!"

"Sampai segitunya, ya…… yah, tempat ini memang menyenangkan, sih."

"Permisi, ini pesanannya. Silakan dinikmati."

Saat sedang asyik, pelayan wanita datang dan meletakkan minuman di atas meja.

"Kalau berkenan, bagaimana kalau sekalian membeli camilan untuk kucingnya? Harganya satu keping perak."

"Beli! Tolong bawakan ke sini!"

Viola menjawab seketika. Pelayan berucap "Baik, mengerti" lalu mundur sejenak, dan segera kembali membawa piring berisi biskuit.

"Nyaa~"

"Myaa-myaa."

Begitu melihat camilan di tangan, kucing-kucing yang tadinya memperhatikan dari jauh langsung berkumpul.

Dasar pragmatis. Padahal tadi wajah mereka seperti tidak tertarik sama sekali, tapi sekarang mereka mencakar paha keduanya meminta camilan.

"Iya, iya, ini buat kamu."

"Fufu, dasar tidak sabaran, ya."

Rest dan Viola masing-masing membagikan satu biskuit kepada kucing-kucing itu.

Kucing-kucing menyantap biskuit dengan mulut kecil mereka, bahkan sampai menjilati jari-jari keduanya.

"Aah, benar-benar menyenangkan…… Ternyata surga ada di tempat seperti ini, ya……!"

Viola menghela napas pasrah seolah tenggelam dalam kebahagiaan.

Dikelilingi oleh kucing, wajahnya tampak sangat bahagia.

"Rest-kun, ayo kita tinggal di sini saja. Kita pindah berdua ke sini!"

"Ya jangan, dong. Ayo pulang."

Apakah kucing punya sihir ajaib yang bisa membuat orang jadi bertindak ekstrem…… Viola sampai membelalakkan matanya dan mulai bicara yang aneh-aneh.

"Kamu sesuka itu sama kucing, tapi kenapa tidak memeliharanya di kediaman Marquis Rosemary?"

"Aah…… Aku sebenarnya ingin memelihara, tapi Ayah tidak kuat dengan kucing. Kalau ada kucing di dekatnya tubuhnya langsung gatal-gatal dan bersin-bersin tidak berhenti. Pakai sihir penyembuh pun tidak bisa sembuh, lho……"

"Heh…… begitu, ya."

Mungkin saja ayahnya memiliki alergi kucing.

Alergi adalah masalah konstitusi tubuh. Bukan penyakit biasa, jadi sihir penyembuh kurang mempan.

"Kalau nanti kita sudah bangun rumah sendiri, kita pelihara kucing, ya."

"Haha, tentu saja boleh."

"Primula sepertinya lebih suka anjing, jadi ayo kita pelihara keduanya…… Ah, tapi mungkin sebaiknya jangan buru-buru, ya. Mending tunggu beberapa tahun lagi."

"Ngh…… kenapa begitu?"

Saat Rest bertanya, Viola tersenyum manis.

"Soalnya, merawat anak dan merawat kucing secara bersamaan itu bakal merepotkan, kan? Sebelum anak kita agak besar, aku bakal tahan diri dulu buat tidak pelihara kucing."

"Nuhaa……!?"

"Nyaa!?"

Tubuh Rest seketika lemas sampai rasanya mau ambruk dalam posisi duduk.

Kucing putih yang duduk di paha Rest terkejut, lalu panik dan lari terbirit-birit.

"Aah, tuh kan, gara-gara Rest-kun bikin kaget, kucingnya jadi kabur."

"Y-Yang bikin kaget kan kamu sendiri…… Tiba-tiba ngomong apa sih……"

"Soalnya kita bakal bikin anak, kan? Apa aku salah?"

"…………"

Tidak salah. Memang tidak salah, sih…… tapi Rest belum seberani itu untuk mengatakannya secara gamblang dan tegas.

"Y-Yah…… begitulah. Bakal kupertimbangkan secara positif……"

"Tolong banget, ya. Nah, pintar, pintar."

Dengan senyuman manis di wajahnya, Viola mengelus punggung kucing lain yang naik ke atas pahanya.

"Kira-kira nanti anaknya perempuan tidak, ya? Tapi aku juga berpikir anak laki-laki yang aktif itu imut juga…… Menurut Rest-kun bagaimana?"

"……Itu lagi ngomongin kucing, kan?"

"Entah ya, kira-kira ngomongin apa?"

Viola terkekeh gembira sambil memiringkan kepalanya dengan raut wajah jenaka.

"Yang mana pun itu, ayo kita buat dia jadi orang paling bahagia di dunia. Bersama-sama, ya."

"…………Iya."

Menjawab pertanyaan Viola, Rest mengangguk dengan wajah yang memerah padam.

◇ ◇ ◇

Hari ketiga kencan. Lawan kencan hari ini adalah Primula.

"Kalau begitu, mohon bantuannya hari ini."

"Aku juga, mohon bantuannya."

Sehari setelah kencan bersama Viola, kali ini adalah gilirannya berkencan dengan Primula.

Rest menggandeng lengan Primula, lalu mereka berdua kembali menyusuri jalanan ibu kota.

"Jadi…… Primula mau pergi ke mana?"

"Nanti juga langsung paham, kok. Anggap saja kejutan sampai kita tiba di sana."

Berucap dengan nada bernada jahil, langkah kaki Primula terasa begitu ringan dan gembira.

Biasanya dia berkepribadian tenang dan lebih sering bersembunyi di balik bayang-bayang kakaknya…… tetapi kalau dilihat-lihat begini, dia hanyalah gadis remaja biasa pada umumnya.

"Tempat ini……?"

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka tiba di sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi.

Museum Kerajaan Awood. Tempat penyimpanan barang seni dan warisan sejarah yang dikelola oleh keluarga kerajaan.

Karena lokasinya dekat dengan akademi, Rest sudah beberapa kali melewatinya, tetapi ini adalah pertama kalinya dia berkunjung secara langsung.

"Di sini sedang ada pameran khusus, lho. Benda pusaka nasional dan magic item yang biasanya dirahasiakan sedang dipamerkan untuk umum. Aku benar-benar ingin melihatnya bersama Rest-sama."

"Ah, begitu. Magic item, ya, menarik sekali."

Museum Kerajaan menyimpan dan memamerkan barang-barang berharga, sehingga untuk mencegah pencurian atau kerusakan, hanya orang-orang tertentu saja yang diizinkan masuk.

Sebagai bagian dari keluarga Marquis Rosemary dan Rest yang bergelar Viscount, mereka tidak bakal menemui masalah untuk masuk.

Di bangunan tiga lantai berwarna putih itu tampak beberapa orang keluar masuk, yang semuanya adalah pria dan wanita berpenampilan rapi dan anggun.

Rest dan Primula pun menunjukkan kartu identitas di pintu masuk, membayar biaya tiket, lalu diperbolehkan masuk ke dalam.

"Oho……"

"Wah……!"

Begitu melangkah ke dalam, keduanya spontan berseru kagum.

Di aula pintu masuk terpajang sebuah opset raksasa. Itu adalah seekor naga dengan sisik berwarna biru.

"Ini…… jangan-jangan, 'Naga Petir Biru milik Beaorolf Awood'?"

"Iya, tidak salah lagi. Aku memang pernah mendengar rumornya…… tapi tidak menyangka kalau barang ini ikut dipamerkan juga, hebat banget……!"

'Naga Petir Biru milik Beaorolf Awood' adalah naga yang dikabarkan berhasil ditundukkan oleh adik dari raja pertama, Beaorolf Awood.

Sebagai salah satu dari 'Lima Jenderal Naga' yang merupakan tangan kanan raja pendiri bangsa, Beaorolf bertarung selama tujuh hari tujuh malam untuk menundukkan naga ini, hingga akhirnya ibu kota yang sekarang dibangun di tanah tersebut.

"Opset ini adalah pusaka nasional yang biasanya dilarang untuk dipamerkan untuk umum, lho. Hanya bisa dilihat saat ada upacara khusus atau pameran seperti ini saja. Naga Petir Biru seperti namanya adalah naga yang mengendalikan petir, dan sambaran petir yang diletupkan dari mulutnya dikabarkan bisa menyapu bersih ratusan prajurit dalam satu kali tembakan……"

"O-Oho……"

"Dulu pernah ada keturunan dari naga ini yang menyerang ibu kota untuk merebut kembali opset ini, tapi ketua ordo ksatria dan kepala penyihir istana pada masa itu……"

Sambil mendongak menatap opset naga, Primula menjelaskan dengan raut wajah yang begitu gembira.

Primula memang suka belajar dan membaca, tetapi ternyata dia punya sisi kutu buku yang sangat antusias.

"Begitu, ya…… ceritanya sangat menarik, tapi bagaimana kalau kita tidak mengobrol di sini terus?"

"Ah, maaf. Aku jadi kebanyakan bicara……"

Menyadari perbedaan antusiasme dengan Rest, wajah Primula langsung memerah kemerahan.

Dengan malu-malu dia menutup pipinya dengan kedua tangan sambil menundukkan pandangannya.

"Tidak kok, ini sangat menambah wawasan. Aku malah senang kalau kamu mau memberi tahu hal-hal lainnya lagi."

Itu adalah perasaan jujurnya. Malah, melihat Primula bercerita dengan sangat antusias terasa sangat menyenangkan.

Bagi sebagian orang mungkin kelihatan membosankan, tapi kalau gadis cantik yang menceritakan hal yang disukainya, rasanya tetap kelihatan imut. Dunia memang tidak adil.

"B-Benarkah begitu?"

"Tapi kalau kita diam di pintu masuk terus, nanti mengganggu orang di belakang, jadi ayo kita jalan ke dalam."

"Iya, benar juga…… maaf ya."

Rest menggandeng lengan Primula, lalu memandunya menyusuri museum sesuai dengan rute kunjungan.

"Tongkat ini adalah 'Tongkat Sihir Ramius'. Tongkat yang dibuat oleh bijak Ramius Lahit yang menjadi anggota Dewan Bintang 150 tahun lalu. Konon katanya punya kekuatan untuk meningkatkan sihir elemen es secara drastis."

"Heh."

"Kalau batu di sana itu 'Batu Sihir Looseroot'. Barang yang dikeluarkan dari dalam tubuh kera sihir yang dulu pernah merusak wilayah selatan kerajaan. Sepertinya menyimpan mana dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi, tapi karena belum ditemukan kegunaannya, akhirnya disimpan di ruang harta kerajaan."

"Oho."

"Ah, ada 'Pedang Cheval'! Pedang yang digunakan oleh Lord Cheval Dero, salah satu dari Lima Jenderal Naga yang bertarung bersama raja pendiri bangsa dan dijuluki sebagai Saint Pedang! Konon katanya Lord Cheval tidak memiliki mana, tetapi berkat ilmu pedangnya yang tiada tandingannya, dia sampai disebut sebagai yang terkuat di kerajaan, bahkan ada rumor yang menyebutkan kalau dia adalah anak iblis!"

"Oho, begitu ya."

Primula bercerita dengan penuh antusias, pipinya memerah gembira saat membeberkan pengetahuan yang dimilikinya.

Barang-barang yang dipamerkan memang menarik…… tetapi jujur saja, melihat Primula yang bercerita dengan gigih begini jauh lebih menyenangkan.

Melihat sisi baru dari Primula yang biasanya tenang tapi kini tenggelam dalam hal yang disukainya terasa seperti menemukan hal yang sangat langka.

(Gimana ya…… rasanya kayak dapat bonus. Primula yang seperti ini kan jarang banget kelihatan.)

"Ah…… maafkan aku! Cuma aku saja yang keasyikan dari tadi, kamu pasti bosan, kan?"

"Tidak, justru sebaliknya. Rasanya seru banget."

Melihat Primula yang panik, Rest mengutarakan perasaan jujurnya.

"Aku juga tertarik dengan magic item, jadi terbantu banget kalau ada yang menjelaskan. Ceritakan lebih banyak hal lagi, dong."

"B-Benarkah? Kalau begitu……!"

Primula tersenyum malu-malu dengan gembira, lalu menarik lengan Rest.

Ditarik oleh Primula yang semangatnya sedang berapi-api tidak seperti biasanya, Rest mengikutinya tanpa melawan sedikit pun.

"Kalau yang di sebelah sini…… ah!"

"Oho?"

Saat melangkah lebih dalam ke area Museum Kerajaan, di sana terpajang sesuatu yang sangat tidak asing bagi mereka.

"Subnock……!"

Itu adalah sisa-sisa dari penguasa monster yang dulu pernah menguasai dataran sebelah timur ibu kota…… monster buas Subnock.

Bagian badannya yang tertembus oleh Amaterasu sudah tidak ada, hanya bagian kepalanya saja yang dijadikan opset dan dipamerkan.

Matanya yang kehilangan cahaya memancarkan penyesalan, dan dari mulutnya yang sedikit terbuka, taring-taringnya yang ganas tampak mengintip dari dalam.

"Penguasa dataran yang dulu pernah mengamuk dengan kejamnya, kalau sudah jadi begini akhirnya selesai juga, ya."

"K-Kamu pernah bertarung melawan monster seperti ini, ya. Rest-sama……"

Primula menarik lengan Rest, lalu memeluknya erat-erat ke dadanya.

Kelembutan dadanya menyelimuti lengan atas Rest…… tetapi sebelum sempat menikmati sensasi itu, Primula menatapnya dengan mata yang tampak marah sekaligus cemas.

"Pokoknya, jangan melakukan hal-hal yang berbahaya lagi, ya…… Soalnya aku dan Kakak sangat mengkhawatirkanmu……!"

"……Bakal diusahakan."

Rest memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba melarikan diri dari tatapan Primula.

Walau sudah berjanji…… jujur saja, dia merasa tidak akan terlalu bisa menepatinya.

Rest adalah seorang bangsawan. Jika ada perintah dari raja, dia harus berangkat ke medan perang yang berbahaya.

(Lagipula…… kalau harus pergi ke tempat berbahaya demi melindungi Primula dan yang lainnya, aku pasti tetap bakal melakukannya. Sudah sewajarnya begitu.)

"Rest-sama……"

Primula memanyunkan bibirnya dengan raut merajuk, lalu mencubit lengan Rest.

"Sakit, lho, Primula."

"……Sudah janji, kan?"

"…………Iya."

Kalah oleh tekanan itu, Rest mengangguk pasrah.

Memiliki seseorang yang sangat mengkhawatirkan dirinya seperti ini adalah sebuah kebahagiaan.

Merapi keberuntungan dalam hidupnya, Rest pun melangkah pergi dari depan kepala Subnock.

"Sudah sampai pintu keluar, ya…… rasanya masih ingin di sini."

Primula mengerutkan alisnya dengan raut kecewa.

Berkat kejadian kali ini, terungkap bahwa Primula ternyata seorang kutu buku yang terobsesi dengan magic item.

"Ah, seru banget tadi."

"Iya, sangat menyenangkan."

"Kalau ada acara pameran seperti ini lagi, ayo kita pergi berdua lagi."

"Iya……!"

Saat ditawari kesempatan berikutnya, raut muram di wajah Primula langsung sirna berganti kecerahan.

Syukurlah, Rest bernapas lega dalam hatinya.

"Kalau begitu, mumpung masih ada waktu, bagaimana kalau kita makan……"

Rest baru saja hendak mengajukan usulan…… tetapi tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu yang dipamerkan di sudut ruangan.

"Itu……?"

"Ada apa?"

Primula yang ikut penasaran menarik tangan Rest dan melangkah menuju barang pameran tersebut.

Di sudut museum diletakkan sebuah benda yang menyerupai batu nisak. Di atas lempengan batu tebal itu terukir wujud monster yang mengerikan, lengkap dengan nama pembuatnya yang terpahat di sana.

"Ini jangan-jangan…… 'Ukiran Terkutuk Austorja'!?"

Primula berseru kaget.

Matanya membelalak lebar sambil memeluk lengan Rest erat-erat, wajahnya seketika memucat.

"Kamu tahu barang ini, Primula?"

"Iya…… ini lempengan batu yang dikabarkan dipahat oleh seniman jenius bernama Austorja Zamas. Aku pernah mendengar kalau tempat ini mengelola magic item terkutuk milik keluarga kerajaan…… tapi tidak menyangka barang seperti ini juga dipamerkan."

"Magic item terkutuk……?"

"Tuan Austorja melahirkan banyak lukisan dan patung ukiran, dan dikenal sebagai seniman yang mewakili negara kita. Namun di akhir usianya, dia menderita mimpi buruk dan hanya membuat karya-karya yang mengerikan. Lempengan batu ini adalah salah satunya, konon orang yang memegangnya bakal bermimpi buruk lalu jadi gila……"

"Uwah…… Kenapa barang mengerikan begitu malah dipamerkan di sini?"

Rest merasa sangat ilfil. Barang berbahaya seperti itu bukankah seharusnya dikunci rapat-rapt di tempat yang tidak tersentuh mata manusia selamanya.

"Ukirannya memang kelihatan mengerikan, sih…… wujudnya seperti sesuatu yang bakal muncul di mimpi buruk……"

Yang terukir di lempengan batu itu adalah monster berwujud aneh. Kelihatan seperti naga, seperti kadal, atau seperti gurita, tapi pokoknya punya wujud yang sangat mengerikan dan menodai kesucian.

Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat cemas, tetapi entah kenapa mata rasanya tidak bisa berpaling…… lempengan batu yang seperti itulah wujudnya.

"Rest-sama, ayo kita pergi dari sini……"

"Iya, benar……"

Begitu mereka berdua hendak melangkah pergi dari depan lempengan batu…… tepat setelah itu.

"Uwah……!?"

Pandangan berganti. Kegelapan membentang luas di depan mata Rest.

Kegelapan itu menganga lebar, menjelma menjadi monster raksasa menyerupai naga, kadal, sekaligus gurita yang langsung menerjang ke arahnya.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"

"Hoshihami!"

Rest pasang badan melindungi Primula, lalu merapalkan sihir dalam sekejap.

Bintang kegelapan yang tercipta di telapak tangannya menyedot kegelapan berbentuk monster itu, menghancurkannya tanpa sisa dalam sekejap mata.

"…………!"

"Rest-sama? Ada apa?"

Begitu tersadar, Rest sudah berada di dalam Museum Kerajaan.

Di sampingnya ada Primula, dan tidak ada keanehan apa pun.

Monster tidak ada, bintang kegelapan pun tidak ada.

"Tidak…… bukan apa-apa. Cuma pusing sebentar."

"Anda tidak apa-apa? Mau duduk dan istirahat dulu di suatu tempat?"

"Tidak, ayo kita segera pergi dari sini. Perasaanku tidak enak kalau tetap di sini."

Rest mengajak Primula menjauh dari depan lempengan batu, lalu melangkah keluar meninggalkan museum.

"──, ………"

Tepat setelah mereka berdua pergi, lempengan batu mimpi buruk itu retak dan hancur berkeping-keping.

◇ ◇ ◇

"Terakhir giliran saya, ya. Mohon bantuannya, Rest-san."

"I-Iya, mohon bantuannya……"

Hari keempat kencan. Lawan kencan hari ini adalah Celestinne.

Rest tampak lebih gugup dari biasanya saat berhadapan dengan Celestinne.

(Aku sudah terbiasa dengan Viola dan Primula. Kalau Yuri, dia dari awal bukan tipe yang bikin gugup. Tapi kalau Celestinne, aduh……)

Celestinne adalah putri seorang adipati.

Wanita dari garis keturunan bangsawan tinggi yang mengalirkan darah kerajaan.

Aura "Nona Muda!" yang mewah terasa jauh lebih kuat dibanding Viola dan Primula, sampai-sampai berada di dekatnya saja membuat tertekan.

(Apalagi dengan pakaian begini……)

Celestinne mengenakan gaun yang sangat mewah.

Berhiaskan aksesori dengan rambut yang ditata rapi, tampil elegan tanpa cela. Penampilannya benar-benar seperti hendak menghadiri pesta dansa.

Omong-omong, Rest sendiri juga mengenakan tuksedo. Dia tidak diberi tahu hendak pergi ke mana, tetapi sudah dipesan dari awal untuk mengenakan pakaian formal.

"Hari ini kencan, kan. Kenapa pakaiannya harus begini…… lalu, kenapa baru pergi saat sore hari?"

Saat ini waktu menunjukkan pukul lima sore. Matahari sudah mulai tenggelam.

Celestinne sendiri yang menentukan waktunya. Mau pergi ke mana mereka pada sore menjelang malam begini?

"Fufu…… Saya sudah mendengar semuanya, lho, Rest-san. Anda pergi piknik bersama Yuri-san, ke kafe bersama Viola-san, dan ke museum bersama Primula-san, kan?"

"A-Ah, iya."

"Kalau begitu…… saya akan membawa Anda ke tempat bersosialisasi para pria dan wanita terhormat. Saya akan mengajari Rest-san cara bermain para bangsawan."

Celestinne tersenyum anggun.

Dia hanya menyentuhkan tangan ke pipinya sambil tersenyum…… tetapi gerakan sederhana itu memancarkan daya pikat dan pesona yang luar biasa.

(Rodel si tolol itu…… benar-benar menyia-nyiakan wanita sepertinya……)

Menelan ludah melihat senyuman Celestinne, Rest teringat akan pangeran bodoh yang merupakan mantan tunangan Celestinne.

(Melepaskan wanita secantik Celestinne itu benar-benar tindakan orang bodoh. Padahal kalau dia memperlakukannya dengan baik, dia pasti bisa bahagia……)

"Kalau begitu, silakan naik ke kereta kuda…… Anda mau menggandeng saya, kan?"

"A-Ah…… tentu saja."

Rest menyodorkan tangannya kepada Celestinne, lalu membantunya naik ke kereta kuda.

Kereta kuda yang membawa mereka berdua melaju…… hingga akhirnya sampai di sebuah fasilitas yang baru pertama kali Rest kunjungi.

Sebuah bangunan megah bagaikan istana dengan dinding dan atap putih bersih.

Papan nama yang diterangi oleh cahaya magic item menampakkan tulisan besar: Kasino.

"Baru tahu. Ternyata di dunia ini ada kasino juga……"

Rest bergumam pelan.

Rest yang tidak tertarik dengan judi sejak kehidupan sebelumnya tentu tidak tahu, tetapi kasino tertua di dunianya dulu dibangun pada paruh pertama abad ke-17.

Sebelum itu pun, arena permainan untuk kaum kelas atas menikmati perjudian sudah ada di berbagai belahan dunia.

Apalagi di dunia ini saja ada fasilitas batting center dan arena boling. Tidak mengherankan jika kasino juga ada.

"Ini adalah kasino milik negara yang dikelola oleh keluarga kerajaan. Pembangunannya diarsiteki oleh Ibu Suri sekitar dua puluh tahun lalu demi menertibkan hiburan malam."

"Kenapa malah membangun kasino demi menertibkan hiburan malam?"

"Dulu perjudian dilarang keras, tetapi penertiban itu malah membuat perjudian bergerak di bawah tanah dan menjadi makin tidak terkendali. Bahkan ada bangsawan yang berutang lalu menjual wilayah serta hak waris keluarganya, hingga membuat negara kacau."

"Jadi dengan menjadikannya fasilitas publik, negara bisa mengontrol perjudian tersebut, ya……"

Mungkin alasannya sama seperti di Jepang pada kehidupan sebelumnya, di mana perjudian dilarang tetapi pacuan kuda dan pachinko tetap diizinkan.

"Nah, mari kita masuk."

"……Iya."

Ditantang oleh Celestinne, Rest masuk ke area lobi bangunan dengan perasaan gugup.

"Oh, astaga…… Nona Celestinne. Selamat datang, suatu kehormatan atas kehadiran Anda."

Seorang pria setengah baya berambut uban yang mengenakan tuksedo muncul, lalu membungkukkan badannya dengan sangat hormat.

Celestinne mendekatkan bibirnya ke telinga Rest lalu berbisik, "Beliau adalah manajernya."

"Sudah lama tidak berjumpa. Apakah pria di sebelah Anda ini adalah teman Anda?"

"Iya, dia adalah boyfriend yang sangat dekat dengan saya."

"Oh, begitu rupanya…… Silakan menikmati fasilitas kami hari ini."

Pria manajer itu memberikan tatapan seperti sedang menilai Rest, tetapi Rest berusaha menjaga ekspresinya dan hanya menyapa lewat anggukan kepala.

"Ooh……!?"

Begitu melangkah lebih dalam ke dalam bangunan…… sebuah aula luas dengan pemandangan serbalewat yang berkilauan terhampar di depan mata.

Banyak pria dan wanita berpenampilan rapi sedang asyik menikmati perjudian.

Ada yang minum minuman keras, ada yang bermain kartu, dan ada pula yang berkumpul sambil mengobrol gembira.

Aroma uang dan alkohol menyengat di udara.

Namun tempat ini tidak terasa murahan seperti kedai minuman biasa…… ini adalah suasana yang belum pernah Rest rasakan sebelumnya.

"Arah sana…… bukankah itu Nona Celestinne Crocus?"

"Nona Adipati Crocus, ya…… Siapa pria di sebelahnya itu?"

"Dia kan baru saja pembatalan pertunangan dengan Pangeran Rodel. Jangan-jangan itu tunangan barunya?"

Melihat keberadaan mereka berdua, para pria dan wanita terhormat membelalakkan mata karena terkejut.

Orang-orang yang berkumpul di sini semuanya adalah kaum bangsawan. Sepertinya tidak ada yang tidak mengenal Celestinne.

"Ugh……"

"Tegakkan punggung Anda, Rest-san."

Melihat Rest yang merasa tertekan, Celestinne berbisik pelan memberinya dorongan.

"Anda adalah pasangan saya. Silakan membusungkan dada dengan penuh percaya diri."

"……Iya, kamu benar."

Rest menghela napas panjang, lalu membusungkan dadanya dengan mantap.

Jika Rest menunjukkan sikap tidak percaya diri, Celestinne yang ada di sebelahnya yang akan menanggung malu.

Rest menanamkan dalam pikirannya bahwa dirinya memang pantas berada di samping Celestinne, lalu menatap balik orang-orang di sekitarnya dengan pandangan menantang.

"Nah, Rest-san. Kita mau bermain apa? Apa mau bermain poker lagi seperti waktu itu?"

"Poker tidak usah deh…… Lebih dari itu, aku penasaran dengan meja yang di sebelah sana."

Yang menarik perhatian Rest adalah permainan yang sering dia lihat di video kasino luar negeri, yaitu melempar bola ke dalam wadah berputar lalu menebak warna merah-hitam atau angkanya.

"Roulette, ya. Saya sangat mahir dalam permainan itu, lho?"

Celestinne memanggil staf yang ada di dekat sana, dan tak berapa lama koin chip kasino langsung dibawakan. Kelihatannya dia tidak membayar di tempat, mungkin menggunakan sistem bayar nanti.

"Apakah Anda tahu aturannya?"

"Sedikit paham. Intinya menebak merah atau hitam, serta angkanya, kan?"

"Selain warna dan angka, Anda juga bisa memasang taruhan pada low number, high number, even, odd, serta dozen dan column."

"Heh…… Ternyata lebih rumit dari yang kubayangkan, ya……"

Sambil mendengarkan penjelasan dari Celestinne, Rest duduk di meja permainan.

Di meja tersebut sudah ada sekitar lima orang pria dan wanita terhormat yang sedang menatap tajam ke arah area taruhan di atas meja.

"Place your bets."

Bandar melempar bola ke dalam roda roulette yang berputar. Permainan dimulai.

"Kalau begitu aku coba pasang di warna dulu. Merah."

"Kalau begitu, saya akan memasang di high number."

Rest dan Celestinne masing-masing memasang taruhan dengan peluang dua kali lipat. Yang membedakan adalah jumlahnya.

Rest hanya memasang sedikit koin, sedangkan Celestinne langsung mempertaruhkan sejumlah besar uang.

"No more bets."

Setelah taruhan ditutup, beberapa saat kemudian bola berhenti berputar.

"Merah angka 21."

"Wah, kena."

"Saya juga menang. Dengan ini chipnya menjadi dua kali lipat."

Rest dan Celestinne sama-sama menang. Chip yang mereka taruhkan kembali dua kali lipat.

Di depan Rest menumpuk sedikit chip, sementara di depan Celestinne menumpuk chip dalam jumlah besar.

"Begitu, ya…… Jadi begini rasanya berjudi. Rasanya bikin ketagihan……"

Sensasi gembira saat tebakannya tepat. Kenikmatan saat uang bertambah dua kali lipat dalam sekejap.

Rest jadi bisa sedikit memahami perasaan orang-orang yang ketagihan hingga menghancurkan hidup mereka sendiri.

(Tapi tetap saja, aku tidak bisa memaafkan orang yang berutang lalu memakai uang sekolah anaknya demi judi……)

Dia teringat pada ayahnya di kehidupan sebelumnya…… pria sampah yang menggunakan uang sekolah hasil kerja paruh waktu anaknya demi judi, dan malah mengamuk lalu menusuknya sampai mati saat ditegur.

"Rest-san?"

"Ah, maaf. Bukan apa-apa, kok."

Rest melemparkan senyuman pada Celestinne yang menatap wajahnya dengan cemas.

Orang yang hilang kendali memang bermasalah, tetapi dia tidak berniat melarang permainan yang dilakukan dalam batas uang saku.

Mumpung Celestinne sudah membawanya ke sini, lebih baik dia menikmatinya dengan murni.

"Berikutnya merah lagi."

"Kalau begitu, saya pasang masing-masing di low number dan even."

Seperti biasa, Celestinne bertaruh dengan sangat berani. Dilihat dari caranya bertaruh, dia memang benar-benar orang kaya. Cara bermainnya sangat dinamis.

"Uang taruhannya saya yang tanggung, jadi Anda boleh bertaruh lebih banyak lagi, lho?"

"Tidak usah…… terima kasih. Sepertinya aku memang tidak berbakat."

Setelah berada di arena judi seperti ini, Rest makin sadar…… dirinya memang bukan seorang penjudi.

Terlepas dari apakah itu uangnya sendiri atau bukan, dia bukan tipe orang yang bisa tetap tenang saat melihat uang dalam jumlah besar ditentukan oleh keberuntungan atau keputusan sesaat.

(Lagipula aku ini cuma penakut yang bisa emosi cuma gara-gara game koin di game center…… Segini saja sudah pas buatku.)

Menang dan kalah bergantian…… walau Rest lebih banyak kalahnya, Celestinne yang mengaku mahir memang terbukti lebih sering menang.

Padahal ini permainan keberuntungan yang tidak menjamin kemenangan pasti…… apakah ini karena keberuntungan alaminya? Jumlah chip di depannya jelas-jelas terus bertambah.

(Dia kuat banget dalam taruhan…… Apakah ini yang dinamakan proteksi tokoh utama……?)

"……Sebaiknya kita tahan diri dulu untuk yang satu ini."

"Ngh? Ada apa?"

Celestinne yang tadinya bertaruh tanpa ragu-ragu…… mendadak menarik diri begitu bandar melempar bola ke dalam roda.

"Entah kenapa…… perasaan saya bilang tebakan kita tidak akan kena kali ini."

"…………?"

"No more bets."

Taruhan ditutup. Bola jatuh di…… petak hijau. Angka '00'.

"Aah!"

"Sial…… chip kita disita……!"

Suara desahan penuh kekecewaan terdengar dari berbagai sudut meja.

Jika bola jatuh di petak hijau '00', pihak pemain dinyatakan kalah. Seluruh chip disita oleh kasino.

"Kamu kok bisa tahu? Apa itu kekuatan Nona Adipati?"

"Kekuatan apa coba. Saya cuma merasa warna mata bandar itu mendadak berubah."

"Hmm?"

"Matanya seperti sedang berburu mangsa. Saya merasakan sesuatu yang mirip dengan niat membunuh."

Sambil mendengarkan bisikan pelan Celestinne, Rest mengamati mata si bandar.

Tidak ada hal aneh yang terlihat. Pria itu tetap melempar bola dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"…………"

Namun…… seiring permainan berlanjut, Rest akhirnya menyadari sesuatu.

(Orang ini…… apa dia sedang curang menggunakan sihir?)

Rest menyadarinya.

Terkadang, si bandar menyalurkan mana ke dalam bola untuk mengendalikan petir tempat bola itu jatuh.

Mananya sangat tipis, hingga kalau bukan Rest, orang lain pasti akan melewatkannya.

(Mungkin dia hanya mengendalikan bola di saat-saat krusial agar pemain kalah…… Celestinne pasti bisa membaca hal itu dari raut wajah si bandar.)

"Place your bets."

Sekali lagi, bola yang dialiri mana hendak dilemparkan.

"Heh……!"

Pada saat itu juga, Rest menembakkan mananya sendiri ke arah bola tersebut.

Jumlahnya sama tipisnya dengan mana si bandar. Celestinne yang ada di sebelahnya maupun pelanggan lain tidak ada yang menyadari apa yang baru saja Rest lakukan.

"Angka 7. Aku pasang semuanya di sini."

Rest mempertaruhkan seluruh chip yang dimilikinya pada satu angka.

"Saya juga ikut."

Seketika itu juga Celestinne melakukan hal yang sama. Dia mempertaruhkan chip dalam jumlah sangat besar yang dimilikinya di tempat yang sama dengan Rest.

Padahal Rest tidak menjelaskan apa-apa…… namun wanita itu menyunggingkan senyuman penuh percaya diri.




"Celestinne……!"

"Saya sudah memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya pada Anda. Seluruh hidup saya."

"Ngh……!"

Pengakuan yang tiba-tiba itu membuat Rest terguncang…… tetapi apa yang harus dilakukannya tidak berubah.

Rest mengendalikan laju bola. Si bandar panik dan berusaha merebut kembali kendali atas bola tersebut…… tetapi presisi kendali mana milik Rest jauh lebih unggul beberapa tingkat.

(Dia memang punya kemampuan yang lumayan, sih…… tapi bagaimanapun juga, aku ini mengincar posisi penyihir istana. Mana sudi aku kalah di tempat seperti ini.)

"Guh……!"

Ekspresi si bandar yang dari tadi menjaga poker face seketika runtuh.

Tak berapa lama, bola yang berputar di roda roulette pun berhenti.

"Aah!"

"Masuk……!"

Para pemain lain berseru kaget.

Bola itu terhisap masuk ke petak merah angka '7'. Tebakan mereka tepat sasaran.

"Ngh……!"

"Hmph……"

"Ufufu……"

Si bandar menatap mereka dengan penuh rasa benci, tetapi Rest hanya terkeh meremehkan, dan Celestinne membalasnya dengan senyuman anggun.

Rest paham betul kalau pria itu ingin menuduhnya curang, tapi lagipula pihak sanalah yang memulainya duluan.

Ditambah lagi ada Celestinne sang putri adipati di sana, sehingga si bandar hanya bisa terpaksa gigit jari dan mundur.

"Kalau tebakan angkanya tepat, dapat berapa kali lipat, ya?"

"Karena ini straight up, nilainya jadi tiga puluh enam kali lipat, Rest-san."

"Aah…… begitu, ya."

Pantas saja wajah si bandar memucat dan memancarkan ekspresi putus asa.

Kemenangan yang amat telak. Mereka berhasil meraup jumlah uang yang luar biasa banyak dalam sekejap.

"Jadi begini rasanya berjudi. Ternyata lebih seru dari yang kubayangkan, ya."

Melihat si bandar yang melakukan kecurangan malah kalah akibat kecurangannya sendiri dikembalikan…… Rest pun tersenyum bangga tidak seperti biasanya.

"Tapi tetap saja…… saya cukup kaget, lho. Rest-san bisa sampai seantusias itu."

Di dalam kereta kuda perjalanan pulang, Celestinne yang duduk di hadapannya angkat bicara.

"Antusias…… maksudmu aku?"

"Iya. Saat taruhan terakhir tadi, Anda melakukan sesuatu, kan? Walau saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya Anda lakukan."

Celestinne menyunggingkan sudut bibirnya dengan raut puas.

"Bisa sampai seberani itu, ternyata Anda tipe orang yang tidak mau kalah, ya."

"Aah…… iya, ya. Mungkin memang begitu."

Rest tertawa kecut.

Jujur saja, dia sendiri kaget. Tak peduli seberapa curangnya lawan, dia tidak menyangka dirinya bakal sampai membalas kecurangan demi meraih kemenangan dan larut dalam perjudian.

"Begitu, ya…… ternyata aku tipe orang yang tidak mau kalah……"

Dia tidak ingin kalah. Terhadap tindakan bernama perjudian itu sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, sang ayah tenggelam dalam alkohol dan judi hingga tega menusuk putranya sendiri.

Tentu saja itu adalah kesalahan ayahnya…… tetapi dia tidak ingin kalah dari perjudian yang telah merusak ayahnya tersebut.

Oleh karena itu, keinginan untuk membalas dendam itulah yang terhubung dengan taruhan besar terakhir tadi.

"Tapi itu sangat luar biasa, kok. Saya jauh lebih menyukai pria yang seperti itu daripada pria yang hanya bisa diam saja."

"Terima kasih…… walau cuma pujian manis, aku tetap senang menyengarnya."

"Saya tidak merasa sedang melontarkan pujian manis, kok…… Namun, hari ini benar-benar sukses besar, ya."

"Sukses besar? Yah, kita memang menang, sih……"

"Ini menjadi ajang unjuk diri yang sangat bagus. Saya yakin, keberadaan Anda pasti menarik perhatian banyak orang."

"Ah……"

Rest langsung paham apa yang dimaksud oleh Celestinne.

Kasino adalah tempat bersosialisasi para bangsawan.

Di tempat itu ada banyak sekali sosok berpengaruh dari Kerajaan Awood.

Banyak orang yang menyaksikan mereka berdua berdiri berdampingan secara akrab.

Seorang putri adipati yang baru saja membatalkan pertunangannya dengan pangeran bodoh Rodel mendampingi pria baru…… rumor itu pasti akan langsung menyebar ke seluruh kalangan istana dalam waktu singkat.

"Jangan-jangan, kamu membawaku ke kasino demi hal itu……?"

"Fufu, entahlah. Saya serahkan saja pada imajinasi Anda."

Celestinne tersenyum anggun bagaikan bunga bakung.

Melihat senyuman yang tampak anggun namun menyimpan ketangguhan yang tak tergoyahkan itu, Rest hanya bisa batin, "Aku memang tidak bisa menang darinya."

"Berkat Rest-san, uang saku saya jadi bertambah…… Jadi kalau Anda berkenan, bagaimana kalau saya traktir makan malam?"

"Aah…… uang taruhan yang kupinjam tadi……"

"Tidak perlu dikembalikan. Lagipula, Anda sudah melipatgandakannya menjadi berlipat-lipat."

"Gitu, ya…… Kalau begitu aku mau belikan hadiah buat yang lain, deh……"

Rasanya agak kurang pas menggunakan uang hasil judi untuk memanjakan wanita, tetapi boleh juga kalau dia memberikan aksesori untuk Viola, Primula, dan Yuri.

"Wah, ide yang sangat bagus. Saya juga bakal dapat hadiahnya, kan?"

"……Tentu saja. Dengan senang hati."

Dia benar-benar cerdik. Rest benar-benar tidak bisa berkutik menghadapinya.

Dengan demikian, Rest menikmati kencan bersama empat gadis cantik memanfaatkan waktu luangnya di hari libur.

Pergi berdua bersama para wanita dari kalangan bangsawan tinggi, mempererat hubungan…… dia berhasil menghabiskan waktu yang penuh dengan keramaian sekaligus menyenangkan.

Namun…… itu semua hanyalah 'ketenangan singkat' sebelum badai besar melanda.

Beberapa hari setelah kencan bersama Celestinne.

Marquis Eiger dan Rodel Awood menghimpun pasukan dan mengangkat senjata, menandai dimulainya perang saudara.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close