Kata
Penutup
Para pembaca sekalian, sudah lama tidak jumpa.
Meskipun telat, akhirnya aku jadi ketagihan dengan 『Kimetsu no Yaiba』. Aku sekarang sedang menyesal, kenapa
manga sekeren ini tidak kubaca dari dulu ya. Air mataku tidak mau berhenti
gara-gara akhir hidup Rengoku-san………… (menangis)!
Aku adalah Léonard D., seorang penulis dengan sindrom
chuunibyou abadi.
Pertama-tama, aku ingin menyampaikan rasa terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian yang telah mengambil karya
ini, ilustrator ye_jji-san, serta semua pihak yang telah memberikan bantuan
dalam proses penerbitannya.
Terima kasih banyak juga kepada Boukan-san yang telah
bertanggung jawab atas adaptasi komiknya.
Terima kasih yang tulus karena telah menggambar Rest dan
para heroine dengan begitu luar biasa.
Berikut ini mengandung spoiler dari cerita
utama, jadi harap berhati-hati.
Di jilid ketiga ini, heroine baru kita, cucu
perempuan margrave, Urula Lavender, akhirnya muncul.
Kelahiran karakter loli bertampang datar yang sudah
lama dinanti-nanti. Penampilannya saat digendong oleh Rest pada ilustrasi
sampul depan sungguh sangat imut, ya.
Mengubah pengaturan dari versi Web, Urula datang
sebagai seorang siswi pindahan. Mulai dari mengejar pencuri pakaian dalam
bersama-sama (?) hingga menempel dan tidur bersama Rest, porsi kemunculannya
telah ditambah secara besar-besaran.
Event kencan untuk heroine-heroine lainnya juga
ditambahkan dengan BESAR-BESARAN!
Ah, rasanya Rest benar-benar menikmati hidup sebagai
seorang normie sukses sampai-sampai ingin membuatku berteriak agar dia
segera meledak saja.
Pangeran bodoh Rodel yang memicu pemberontakan
akhirnya juga mendapat hukuman setimpal, dan Rest kembali menorehkan prestasi
besar. Kariernya berjalan dengan sangat lancar.
Merupakan suatu kebahagiaan terbesar bagiku jika bisa
kembali menyajikan kelanjutan kisah mereka kepada kalian di suatu kesempatan
kelak.
Oleh karena itu.
Bersamaan dengan adaptasi komiknya, mohon terus
dukung 『Mugen no Majutsushi』 ke depannya.
Berdoa kepada seluruh dewa, Buddha, dan iblis agar
hari di mana kita bisa berjumpa lagi benar-benar tiba.
Leonard
D.
Bonus E-book: Cerita Pendek
Tambahan
Kencan
Pulang Sekolah (Edisi Urula)
"Aku juga ingin kencan."
Peristiwa itu terjadi pada suatu hari, setelah perang
saudara berakhir dan keadaan mulai mereda.
Di ruang kelas Akademi Kerajaan, Urula Lavender selaku
putri margrave mendeklarasikan hal tersebut.
"...Ada apa, kenapa tiba-tiba?"
Menghadapi situasi yang mendadak, Rest yang sedang
membereskan peralatan belajarnya sampai terbelalak.
Waktu sepulang sekolah. Hari ini dia berencana untuk
pulang sendirian karena para saudari Rosemary—yang biasanya selalu
bersama—sedang ada urusan, tepat di saat detik-detik keberangkatannya.
Urula datang menghampiri Rest dan menegaskan
eksistensinya sambil menatapnya dengan mata ungu miliknya.
(Dia sedang bicara kepadaku, kan? Dengan kata lain, aku
dan Urula akan berkencan?)
Butuh waktu baginya untuk menyadari bahwa dirinya sedang
diajak berkencan.
"Kencan... Eh? Kenapa?"
"Aku sudah dengar. Kalau semuanya, pernah
berkencan."
"Semuanya..."
Penjelasan itu terdengar datar dan minim emosi.
Rest mengerahkan kemampuan imajinasinya untuk
menganalisis latar belakang di baliknya.
(Semuanya... mungkin maksudnya Viola, Primula, Yuri,
dan Celestine. Ngomong-ngomong, aku memang pernah berkencan dengan mereka ya.)
Rest pernah pergi ke kafe kucing bersama keempat gadis
cantik itu, berkeliling museum, piknik, hingga berjudi di kasino.
"Jangan-jangan... setelah mendengar cerita itu,
kamu juga ingin aku ajak berkencan?"
"Un."
Urula mengangguk setuju.
Meskipun Rest tidak tahu dari siapa dia mendengarnya,
sepertinya tebakannya tepat.
(Berkencan, berkencan dengan Urula ya. Tentu
saja aku tidak keberatan... tapi kenapa dia jadi lengket begini ya?)
Tentu saja sebagai seorang pria, disukai oleh gadis imut
adalah hal yang membahagiakan.
Namun... jika menerima tingkat kesukaan yang tinggi tanpa
alasan yang jelas sejak pertama kali bertemu, perasaan bingung justru lebih
mendominasi.
"Kencan. Kita kencan."
"Ah... baiklah, baiklah. Boleh saja. Kamu mau pergi
ke mana?"
Lagi pula dia tidak punya rencana khusus dan berniat
langsung pulang ke townhouse milik Keluarga Marquis Rosemary untuk
mengerjakan tugas.
Selama Urula sudah berkata sejauh ini, meladeninya
bukanlah hal yang buruk.
"Pergi kencan."
"Bukan begitu, maksudnya ke mana..."
"Kencan..."
Saat Rest bertanya kembali, Urula memiringkan kepalanya
sambil mengulang kata yang sama.
Jangan-jangan... gadis ini sendiri sebenarnya tidak paham
apa itu 'kencan'?
(Yah, katanya dia berbadan lemah dan tidak pernah keluar
rumah. Jadi wajar saja kalau dia kurang pergaulan.)
"Baiklah. Biar aku yang tentukan
tempatnya."
Ucap Rest dengan andal sambil mengangkat bahu.
Rest bukanlah orang yang awam atau iseng saat
menghabiskan waktu bersama empat gadis cantik.
Dia sudah bukan lagi seorang pemula dalam urusan
percintaan. Biarkan dia menunjukkan sisi kelaki-lakiannya untuk memberikan escoring
yang layak.
"Sekarang, apa kamu lapar?"
"Belum... mungkin?"
"Begitu ya. Mana yang lebih kamu suka, tipe
bersantai atau tipe menggerakkan badan?"
"...Tipe menggerakkan badan?"
"Oke. Paham."
Setelah melontarkan beberapa pertanyaan, dia
mengambil barang-barangnya dan bangkit dari kursi.
"Kalau begitu, ayo berangkat. Ikuti aku."
"Un."
Rest berjalan keluar kelas dengan menggandeng Urula.
◇ ◇ ◇
Tempat yang Rest tuju bersama Urula adalah sebuah
taman publik di pusat ibu kota.
Tempat itu biasa digunakan oleh warga yang tinggal di
ibu kota untuk berjalan-jalan atau mengajak anak-anak bermain.
Sebagian area di dalam taman dipagari oleh pembatas,
dan terdapat sebuah lapangan kecil yang bisa digunakan untuk berolahraga
ringan.
"Ngomong-ngomong... bagaimana kalau kita main
lempar tangkap bola sebentar?"
Rest mengajukan usulan kepada Urula sambil memegang
bola pinjaman.
Hal yang bisa mereka lakukan berdua cukup terbatas,
dan waktu menuju petang sudah tidak banyak lagi.
Berolahraga ringan dan mengeluarkan keringat adalah
aktivitas yang pas untuk mengisi waktu.
"Un, ayo lakukan."
"Bagus. Kalau begitu, mulanya lempar pelan-pelan
saja..."
"Un."
Rest melempar bola tanpa mengerahkan terlalu banyak
tenaga.
Urula menangkapnya menggunakan tangan yang mengenakan
sarung tangan mitt.
"Nah, sekarang giliran kamu yang lempar."
"Paham."
Urula mengangkat kakinya sedikit lalu melempar bola
itu balik.
Bola tersebut mendarat mulus di dalam mitt
milik Rest tanpa sempat memantul ke tanah.
"Wah, lemparanmu bagus. Apa kamu pernah main
sebelumnya?"
"Belum... tapi, aku bisa."
"Begitu ya. Berarti kamu punya bakat."
Meskipun mereka mengambil kelas Swordmanship
bersama, Urula memiliki kemampuan motorik yang cukup bagus.
Bentuk lemparan bolanya pun terlihat rapi. Terlalu bagus
untuk ukuran seorang pemula.
"Hup."
"Un."
"Hup."
"Un."
Rest melempar bola, lalu Urula menangkapnya.
Urula melempar bola, lalu Rest menangkapnya.
Suara bashing yang berirama terdengar bersahutan
dari mitt di tangan mereka berdua.
Suasananya sama sekali tidak bernuansa romantis seperti
layaknya kencan, namun atmosfer yang tenang dan damai tercipta di antara mereka
berdua.
(Aku tidak bisa menebak isi hatinya karena ekspresinya
tidak terbaca... tapi kurasa Urula juga menikmati ini, kan?)
"Ah..."
Namun... tiba-tiba bola yang dilempar oleh Urula meleset.
Bola itu meluncur jauh dari jangkauan Rest dan terbang ke
arah yang salah.
"Ups, berbahaya."
Namun... Rest segera mengaktifkan sihirnya.
Dia memanipulasi udara menggunakan sihir Wind
Manipulation untuk mengubah arah lintasan bola.
Bola yang terbawa angin itu akhirnya kembali ke tangan
Rest.
"Maaf, tadi aku gagal."
"Jangan dipikirkan, tidak apa-apa."
"Un."
"Hup... eh."
Sambil memberikan kata-kata penyemangat pada Urula, Rest
melempar bola itu kembali, namun kali ini tangannya justru licin karena
berkeringat.
Bolanya melambung tinggi melewati tubuh mungil Urula.
"Maaf. Giliran aku yang melakukan kesalahan kali
ini."
"Un... tidak masalah."
Akan tetapi... tiba-tiba Urula melompat menendang tanah.
Dia melompat tinggi bagaikan seekor burung.
Melompat hingga ketinggian hampir tiga meter untuk
menyambut bola tersebut.
"Berhasil."
"......"
"Ada apa?"
Melihat Rest yang terdiam, Urula memiringkan kepalanya
dengan heran.
Sekalipun kemampuan motorik Urula bagus, mustahil baginya
bisa melompat setinggi itu.
Dia pasti menggunakan sihir Physical Enhancement
untuk mendongkrak kekuatan kakinya.
(...Warna hitam, ya.)
Namun... masalahnya bukanlah hal itu.
Saat Urula melompat tadi, posisi Rest berada tepat di
bawah sudut pandang rendah yang mendongak ke arahnya.
Saat ini Urula sedang mengenakan seragam akademi.
Yang berarti, rok.
Tanpa sengaja—benar-benar tanpa unsur
kesengajaan—pakaian dalam Urula tertangkap oleh penglihatannya... benda itu
ternyata jauh lebih dewasa dari apa yang bisa dibayangkan dari perawakan
kekanak-kanakannya.
(Dengan wajah seperti ini, perawakan setinggi ini,
memakai pakaian dalam yang begitu berani... Yang benar saja, apa aku tidak
salah lihat?)
"...Apa aku berbuat sesuatu yang aneh?"
"......Nandemonai, desu yo."
"Gayamu, jadi kaku."
"Bukan apa-apa. Sungguh, aku tidak melihat
apa-apa."
Rest berusaha menyangkal kenyataan dan mencoba merombak
ingatannya sendiri dengan berbagai cara.
"Ada yang aneh?"
"Nwaah!?"
Namun... serangan susulan yang bertubi-tubi datang
menghantam.
Urula mengangkat roknya sendiri dan dengan sengaja
memamerkan pakaian dalamnya.
Kali ini bukan sekadar sekilas, dia benar-benar
disuguhi pemandangan lingerie dewasa secara terang-terangan.
"Hentikan, jangan ditunjukkan!"
"?"
"Jangan pasang ekspresi '?' begitu, jangan
pamerkan celana dalammu sebagai seorang gadis!"
"Kalau untukmu, tidak masalah... boleh dilihat
kok."
"Tsk...!?"
Rest terpental ke belakang seolah-olah wajahnya baru saja
ditabrak oleh bola.
"Atau malah, mungkin kamu ingin melihatnya... Aneh ya."
"Aneh. Ini benar-benar aneh... Kumohon ampunilah
aku..."
Urula bergumam dengan polosnya, sementara Rest
mengerang dengan lemas.
Meskipun diwarnai berbagai macam insiden seperti
biasa... Rest dan Urula pada akhirnya menikmati kencan sepulang sekolah mereka
melalui sesi olahraga yang pas.



1 comment