Chapter 2
Urula
Lavender, Putri Bangsawan Count
"Haa... Haa, haa, haa!"
Urula Lavender terbangun.
Dia berada di atas tempat tidur yang dikelilingi tirai
putih. Karena tidak tahu berada di mana, Urula hanya bisa mengedipkan matanya
polos.
"Di sini...?"
"Ah, kamu sudah bangun, ya?"
"............?"
Tirai terbuka dan seorang wanita berjas putih memunculkan
wajahnya.
"Ini ruang UKS akademi. Aku guru UKS di sini. Kamu
mengerti?"
"............"
Urula mengangguk pelan. Dia mengiyakan.
"Kamu pingsan di kelas. Kamu ingat?"
"............"
Urula terdiam sejenak untuk berpikir, tetapi tak lama
kemudian dia mengangguk lebih mantap dari sebelumnya.
"...Ya. Saya ingat."
Dia ingat. Tentu saja dia ingat. Mana mungkin dia bisa
melupakannya.
Saat dia melihat wajah laki-laki itu. Mana mungkin dia melupakan sensasi bak tersambar petir yang merambat di
dadanya.
"Begitu? Dari hasil diagnosis dengan sihir,
tidak ada kelainan pada tubuhmu... tapi untuk sementara, aku sudah memasangkan
sihir Heal dan Purification. Perasaanmu tidak enak?"
"............"
Ini anggukan ketiga kalinya. Mungkin berkat tidur
yang cukup, perasaannya tidak terasa buruk.
"Kalau begitu, aku akan memanggil Carder-sensei.
Tetaplah berbaring di sana."
"............"
Tirai kembali tertutup, lalu suara langkah kaki guru
UKS perlahan-lahan menjauh.
Urula yang ditinggalkan sendirian menatap sprei
tempat tidur dengan pandangan linglung... hingga akhirnya, dia bergumam pelan.
"......Hebatnya."
Wajahnya yang tertata sempurna bagaikan boneka mulai
merona merah. Seolah-olah sedang disinari oleh cahaya matahari
terbenam.
"Hebat... Hebat sekali... Betapa
indahnya............ kamu...!"
Sosok yang terlintas di dalam benaknya adalah pemuda
yang dia temui di kelas... Rest.
Hanya dengan sekali pandang, hatinya telah dicuri.
Bahkan jiwanya seakan ikut terenggut.
Cahaya menyinari dada Urula yang tadinya hampa,
membuat emosi yang melimpah ruah berhamburan keluar.
Kesenangan, harapan, kekaguman, rasa malu, rasa haru...
Otaknya tidak sanggup memproses semua perasaan yang mengalir masuk secara
bersamaan, hingga membuat darah menyembur dari hidungnya dan dia jatuh pingsan.
"...Hebatnya............"
Bibir kecilnya mengulang kata-kata itu.
Rest yang terlihat dari mata Urula tampak begitu indah
dan sangat memikat.
Jika ada seseorang yang melihat dunia ini dari sudut
pandang pihak ketiga bagaikan dewa, mereka pasti akan mempertanyakan rasa jatuh
cinta pada pandangan pertama Urula yang tiba-tiba ini.
Seorang gadis yang kehilangan emosinya bisa jatuh cinta
pada laki-laki yang baru pertama kali ditemui dan mendapatkan kembali hatinya,
sungguh sebuah perkembangan instan yang terlalu memanjakan cerita.
Namun... ada alasan mengapa Urula bisa terpesona oleh
Rest.
"...Ah............ Ah..."
Manik mata Urula bergoyang.
Iris matanya yang bagaikan batu amatis berubah warna
layaknya ketetesan minyak, terwarnai menjadi seindah pelangi.
Inilah kekuatan yang diwarisi Urula dari ibunya yang
seorang peramal... 'Fairy Eye'.
Sebuah kemampuan khusus yang bisa melihat potensi
manusia... dengan kata lain, masa depan. Sebuah kekuatan unik yang pemiliknya
bahkan tidak sampai seratus orang di seluruh dunia.
Sosok pemuda bernama Rest yang terlihat melalui Fairy
Eye... wujudnya benar-benar berubah-ubah tak terhingga.
Segala macam kemungkinan di masa depan membentang luas
bagaikan alam semesta, menyajikannya pemandangan seolah-olah dia dilemparkan ke
tengah lautan debu bintang.
"...Tak terbatas... Benar-benar, tak
terbatas...!"
Urula gemetar. Airmata berukuran besar menetes dari
matanya, lalu suara penuh sukacita teruntai dari mulutnya.
Bagi gadis bernama Urula Lavender, ini mungkin adalah
tunas emosi pertamanya. Sebuah ledakan dari kesadaran diri.
Transformasi mendatangi jiwa Urula yang dibesarkan
sebagai sebuah alat di kediaman Margrave Lavender.
Rasa haru saat menyaksikan potensi Rest yang
membentang tanpa batas telah menghancurkan cangkang keras yang menyelimuti
hatinya hingga berkeping-keping.
"Hebat, hebat...! Aku harus mengenal orang itu,
aku harus tahu lebih banyak lagi tentangnya!"
Dengan wajah memerah dan bergumam seolah-olah sedang
terserang demam, pikiran Urula tidak lagi menyisakan perintah kakeknya sedikit
pun.
Ingin mengenal Rest. Lalu, ingin Rest mengenal
dirinya.
Sambil tubuhnya gemetar oleh dorongan layaknya gadis
remaja pada umumnya, dia mabuk dalam kepahitan manis untuk pertama kali dalam
hidupnya.
◇ ◇ ◇
Seorang gadis bernama Urula Lavender telah pindah ke
Akademi Kerajaan.
Hal itu tidak lantas mengubah sesuatu di akademi.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, dan setelah jam
sekolah selesai, ada murid-murid yang tekun beraktivitas di OSIS, komite,
maupun klub.
Namun... setidaknya, lingkungan di sekitar Rest
berubah secara drastis.
Pasalnya, Urula terus-terusan menempel pada Rest tanpa
henti.
"...Eum."
"...Maaf. Bisakah kamu menjauh sedikit karena aku
sulit bergerak?"
Di tengah-tengah lapangan, Rest mendesah pasrah sambil
melontarkan suara.
Penyebab yang membuat Rest pusing adalah keberadaan gadis
mungil yang menempel di pinggangnya... Urula
Lavender.
(Kenapa... Kenapa anak ini menempel di pinggangku
seperti tas pinggang yang modis...?)
Rest menatap kepala berwarna ungu di bawahnya sambil
bertanya-tanya dari lubuk hati yang paling dalam.
Di hari pertama pindah sekolah, Urula menatap wajah
Rest secara lekat-lekat saat memperkenalkan diri, lalu mendadak pingsan karena
mimisan.
Teman-teman sekelasnya memang menuntut penjelasan
mengenai hubungan seperti apa yang mereka miliki... tetapi Rest sendiri tidak
mengenal Urula. Mana mungkin dia bisa melupakan gadis dengan kecantikan luar
biasa bak boneka ini jika pernah bertemu sebelumnya.
Keesokan harinya, Urula muncul di kelas seolah-olah
kejadian kemarin tidak pernah terjadi, tetapi entah mengapa dia mulai mengekor
di sekitar Rest.
"Gimana ya... Kamu laris manis banget, ya,
Bang."
"Menambah cewek baru lagi, ya. Aku benar-benar
iri."
"Bisa diam tidak... kalian berdua."
Teman-temannya... Luid Gistal dan Maurice Wood
melayangkan godaan.
"Yah, jujur aku kaget. Kenapa semua gadis cantik
berkedudukan tinggi di kelas kita bisa jatuh cinta sama Rest, ya?"
"Keluarga Marquis Rosemary, Marquis Catelya,
Adipati Crocus... dan sekarang Margrave Lavender, ya. Kalau berkumpul sebanyak
ini, rasanya keluarga kerajaan pun bisa digulingkan."
"Itu tidak lucu... Beneran."
Rest menundukkan bahunya dalam-dalam.
Ketika dia mengarahkan pandangannya ke arah pinggang
dengan penuh rasa jengkel, manik mata berwarna ungu itu balas menatapnya secara
lurus.
"............"
"Ugh..."
Ditatap lekat-lekat dengan mata yang tidak goyah
membuat Rest memalingkan pandangannya terlebih dahulu.
Rest tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Urula,
tetapi setidaknya gadis itu tidak membencinya.
Mengikuti di belakang Rest, memeluk pinggangnya, duduk
di kursi sebelah dan menatapnya sepanjang pelajaran... Viola dan yang lainnya
juga tampak menunjukkan ekspresi rumit terhadap perilaku Urula.
Karena penampilan luar Urula terlihat seperti anak
kecil, mereka tidak menunjukkan rasa cemburu secara terang-terangan.
Meski begitu, apakah mereka tetap membakar semangat
persaingan... kontak fisik di dalam lingkungan sekolah jadi semakin intens.
(Kalau begini terus tubuhku bisa tidak kuat... Pandangan orang-orang di sekitar terlalu menyakitkan...)
"Kalian semua, berkumpul! Pelajaran akan
dimulai!"
Seorang guru laki-laki keluar ke tengah lapangan dan
memanggil para murid.
Mulai dari sekarang adalah pelajaran mata kuliah pilihan,
'Ilmu Pedang'.
Seorang guru paruh baya bertubuh bongsor dan berambut
pendek... Oddman, menyaringkan suaranya ke arah para murid yang telah
berkumpul.
"Hari ini kita akan melanjutkan sesi sebelumnya,
membagi diri menjadi dua kelompok untuk berlatih! 'Serigala' akan melakukan
latihan mengayun pedang lalu membentuk tim berdua untuk duel simulasi.
'Kelinci' mulailah berlari!"
'Serigala' dan 'Kelinci' adalah pembagian kelompok
dalam pelajaran 'Ilmu Pedang'.
'Serigala' adalah murid yang menang dalam duel
simulasi pertama setelah masuk sekolah. Sementara 'Kelinci' adalah murid yang
kalah.
Pelajaran ini menggabungkan murid-murid dari beberapa
jurusan seperti Jurusan Ksatria dan Jurusan Sihir, tetapi Oddman
mendiskriminasi murid-murid di luar Jurusan Ksatria.
Dia menggunakan sistem seperti ini untuk memperlakukan
murid dari jurusan lain secara dingin.
(Yang diizinkan mengayunkan pedang secara layak hanyalah
murid Jurusan Ksatria dan sebagian pesihir yang bisa pertarungan jarak dekat
seperti aku dan Luid. Meskipun ada aturan pemulihan untuk yang kalah, tetap
saja ini hal yang sangat menyebalkan... Sungguh.)
"Kalau begitu, segera mulai! Lalu, ah... Nona
Urula Lavender dari Jurusan Sihir, dan juga Rest. Kemarilah."
Di saat murid-murid lain mulai mengayunkan pedang dan
berlari, hanya Rest dan Urula yang dipanggil oleh Oddman.
"Anu... Ada apa, ya?"
"............"
Saat Rest maju ke depan, Urula secara alami ikut menyusul
di sampingnya.
Oddman memasang wajah curiga ke arah dua orang yang
menempel erat itu, lalu membuka mulutnya dengan nada berat.
"...Nona Urula Lavender. Kamu, maksudku Anda baru
pertama kali berpartisipasi hari ini, kan?"
Oddman berbicara kepada Urula dengan nada yang anehnya
terlihat canggung.
Urula tetap diam, tetapi dia memiringkan kepalanya
sedikit.
"Begitu... Kalau begitu, biarkan saya mengukur
kemampuan Anda. Tolong lakukan duel simulasi sederhana dengan saya,
kemarilah."
"Duel simulasi? Dengan Sensei?"
Yang menyuarakan keraguan bukanlah Urula, melainkan
Rest yang berada di sampingnya.
"Mengapa harus melakukan hal seperti itu?"
"...Ini hal yang diperlukan. Rest dari Jurusan
Sihir, kamu ahli dalam sihir pemulihan, kan? Bersiaplah di sini untuk jaga-jaga
jika terjadi sesuatu."
"............?"
Sikap Oddman yang tidak tegas membuat Rest semakin merasa
curiga.
(Jangan-jangan... Ada hubungannya dengan keluarga
Margrave Lavender?)
Kalau dipikir-pikir, Oddman adalah alumnus dari Orde
Ksatria.
Dia memiliki hubungan dengan pimpinan Orde Ksatria
yaitu Marquis Catelya, dan karena itulah dia menunjukkan sikap aneh terhadap
Yuri.
(Keluarga Margrave Lavender memang berbeda dari Orde
Ksatria, tapi mereka adalah faksi militer paling tangguh di antara bangsawan
negara ini. Mungkin memang ada hubungannya.)
"Nah, ambillah pedang kayu ini. Jangan khawatir,
saya akan menahan diri."
Oddman menggunakan suara ramah yang agak menjijikkan.
Sepertinya dia memang sedang berusaha mencari muka di
depan Urula.
"............"
Urula menengadah menatap wajah Rest, lalu menjauh
darinya dengan enggan.
Dia menggenggam pedang kayu yang disodorkan, lalu
berbalik menghadap Oddman dengan jarak sekitar dua meter.
"Nah, seranglah dari mana saja."
Oddman memegang pedang kayu dengan satu tangan, lalu
melambaikan tangannya yang lain untuk memanggil.
Dari ekspresi dan sikapnya terpancar rasa percaya diri
yang meluap-luap, sama sekali tidak berpikir bahwa dia bisa kalah dari Urula.
"...Mulai."
Urula menjejakkan kakinya ke tanah.
Gadis mungil itu merendahkan tubuhnya, lalu melompat ke
depan bagaikan seekor kucing hutan.
"Cepat...!"
"O-Oooh...!?"
Rest membelalakkan matanya, dan Oddman pun melontarkan
suara terkejut.
"...Hiat."
"Guh...!"
Urula menusukkan ujung pedangnya dari bawah, mengincar
tenggorokan Oddman.
Meskipun ini adalah pedang latihan tanpa bilah tajam,
tertusuk di bagian tenggorokan bisa mengancam nyawa. Sebuah serangan tanpa
belas kasihan.
"Hiat, hiat, hiat..."
"T-Tunggu... A-Apa...
Tu-Tunggu dulu!"
Urula bergerak lincah mengitari Oddman, melancarkan
serangan demi serangan secara berturut-turut.
Kecepatannya di luar dugaan sangat tinggi, mengincar
titik vital seperti tenggorokan dan selangkangan secara tepat.
"Daya serangnya sepertinya tidak seberapa... tapi
karena menyadari hal itu, dia mengincar titik vital secara tepat, ya?"
Sambil mengamati duel simulasi dari luar, Rest
mengelus lehernya lalu merapatkan kedua paha.
Dia merasa merinding membayangkan jika dirinya yang
mengalami hal itu.
Lawan bertubuh kecil bergerak ke sana kemari tanpa
henti sambil melancarkan serangan yang dipastikan bisa 'membunuh'. Sungguh
bagaikan mimpi buruk.
"Kuh... A-Anak ini...!"
Oddman yang tidak sanggup menahannya lagi
memperlihatkan urat yang menonjol di dahi, lalu melancarkan serangan balasan.
Biar bagaimanapun dia adalah guru 'Ilmu Pedang' dan
mantan ksatria. Tebasan tunggalnya terasa tajam dan kuat.
"Bahaya!"
"...Menghindar."
Rest secara refleks berteriak... tetapi Urula tidak
panik.
Dia menghindari pedang kayu Oddman yang diayunkan
dari atas dengan gerakan tenang dan ringan bagaikan daun dedalu yang bergoyang
ditiup angin.
"A-Apa...!"
Karena yakin dirinya pasti menang... Oddman melotot
dengan mata terbelalak karena terkejut.
"...Menusuk."
Urula menyelinap dengan mulus ke belakang Oddman, lalu
melancarkan tusukan miring ke arah atas dari bawah.
"......Hiat."
"Ah."
"GYAAAH!?"
Pedang kayu Urula menembus bagian bawah tubuh Oddman...
tepat di satu titik tersebut.
Kain terdengar robek dengan keras, disusul oleh suara
menjijikkan dan mengerikan yang bergema.
"O-Gyo... Boht..."
Oddman mengeluarkan suara yang mirip seperti jeritan
ikan laut dalam.
Pedang kayu itu menembus celana serta celana dalamnya,
lalu menusuk telak ke lubang anus Oddman.
"Ha... Byo..."
Oddman tumbang ke depan, lalu pingsan dalam posisi
pantat yang tertancap pedang kayu mencuat ke udara. Kedua matanya benar-benar
memutih, dan busa keluar dari mulutnya secara berbusa-busa.
"P-Pemenangnya sudah ditentukan..."
"O-Oddman-sensei dikalahkan...!"
"Lubang pantatnya... Hiii!"
Tanpa disadari, para murid yang tadinya berlatih
mengayunkan pedang telah berkumpul untuk menonton duel simulasi.
Mereka menunjukkan wajah tercengang melihat kekalahan
guru yang mereka hormati... ditambah lagi dengan penampilan yang sangat
memalukan tersebut.
Rest pun sama terkejutnya. Dia tidak pernah menyangka
bahwa Urula akan menang.
"Hebat sekali... Jangan-jangan, ilmu pedangnya
luar biasa tinggi...?"
"...Bukan. Itu bukan teknik pedang."
"Lubess?"
Murid Jurusan Ksatria menjawab gumaman Rest.
Tanpa disadari, murid laki-laki yang menduduki
peringkat teratas di antara murid tahun pertama Jurusan Ksatria telah datang ke
sampingnya... Vilhelm Lubess.
"Tentu saja, dia memang sedikit menguasai ilmu
pedang. Kemampuannya bisa dibilang lumayan... Tapi dengan
kemampuan setingkat dirinya, mustahil bisa mengalahkan Oddman."
"Kalau begitu, memangnya kenapa?"
Rest bertanya dengan nada bicara kasual.
Meskipun berbeda jurusan dan tidak bisa disebut
sebagai teman dekat, mereka adalah kawan seperjuangan yang pernah bertarung
bersama melawan monster Sabnock.
Sebuah ikatan semacam persahabatan telah terjalin di
antara mereka.
"Aku tidak tahu."
"Tidak tahu bagaimana... Padahal itu kamu?"
"Ini di luar domainku. Gadis itu, seolah-olah sudah
tahu bagaimana Oddman akan bergerak."
"............"
"Membaca pikiran, atau..."
"Atau... Apa!?"
"Hiiik...!"
Di antara Rest dan Lubess, seorang gadis mendadak
memunculkan wajahnya.
"Kalian sedang membicarakan hal yang menarik, ya!
Biarkan aku ikut!"
Gadis yang melompat masuk dengan mata berbinar-binar
itu adalah Yuri.
Yuri adalah salah satu siswi yang tergolong langka
karena mengambil mata kuliah 'Ilmu Pedang', dan dalam duel simulasi sebelumnya
dia pernah bertarung dengan gigih (?) melawan Lubess.
"J-J-J-Jangan bicara padaku!"
Lubess melompat kaget, lalu mundur ke belakang dengan
gerakan yang seolah-olah menimbulkan efek suara "Sreeek!".
"Ngg? Ada apa?"
"Jangan bilang 'ada apa'! Jangan mendekat,
jangan menyentuh, jangan mengajak bicara! Dan lagi... jangan
menggoyang-goyangkan lemak berukuran besar yang sia-sia itu di depanku, dasar
wanita dada gemuk!"
Lubess berteriak tanpa peduli pandangan orang lain
dengan wajah memucat.
Sebagai murid tahun pertama Jurusan Ksatria... yang
mungkin merupakan murid terkuat bahkan jika memperhitungkan para senior,
satu-satunya kelemahan Lubess adalah 'wanita'.
Lubess adalah orang yang sangat membenci wanita. Hanya
dengan didekati saja sudah membuat wajahnya memucat dan ujung jarinya gemetar
kecil.
"Dada gemuk... Jahat sekali. Padahal
ini hubungan antara aku dan kamu!"
"Hubungan macam apa! Aku tidak merasa pernah akrab
dengamu!"
"Ngg? Kita kan pernah bertarung saling mengadu
pedang. Dengan kata lain, bukankah kita sahabat dekat?"
"Siapa yang sahabat dekat dengan siapa! Uwaaah,
benar-benar jangan mendekat!"
Didekati oleh Yuri yang mengenakan pakaian
olahraga... yaitu pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas,
Lubess melarikan diri sambil berteriak histeris.
"Ah, tunggu! Hari ini kamu harus melayaniku
dalam duel simulasi!"
Yuri mengejar Lubess yang seperti itu dengan
kelincahan bagaikan macan tutul betina.
"...Pada akhirnya, sebenarnya ada apa dengan
gadis itu?"
"............Eum."
Urula kembali ke tempat Rest yang sedang berdiri
terpaku.
Urula menggenggam erat lengan baju Rest, lalu
menengadah menatapnya dengan manik mata berwarna ungu.
"Kamu..."
"............?"
"...Tidak, bukan apa-apa."
Melihat Urula yang memiringkan kepalanya tanpa bersuara,
Rest menelan kembali pertanyaan yang hampir keluar dari kerongkongannya.
Dia merasa jika mengetahui jawabannya dia tidak akan bisa
kembali lagi, sehingga dia ragu untuk mencampuri rahasia Urula.
"Ghahahaha! Tunggu, tunggu, tungguuu!"
"JANGAN MENDEKAAAAAT!"
Melihat Yuri dan Lubess yang berlarian di lapangan tanpa
peduli pada latihan pedang, Rest sedikit menundukkan bahunya.
Kabar bahwa siswi pindahan mengalahkan guru penanggung
jawab 'Ilmu Pedang' menyebar ke seluruh akademi dalam sekejap.
Sungguh kasihan... Karena kalah akibat pantatnya
ditusuk oleh seorang gadis, penilaian terhadap Oddman yang memang sudah rendah
di mata para siswi kini semakin merosot tajam.
◇ ◇ ◇
"Hahaha, jadi karena itulah gadis imut itu
menempel padamu?"
Seusai jam sekolah. Rest datang ke ruang pengurus
OSIS.
Pengurus OSIS adalah jabatan yang bertugas menjaga
kedamaian akademi layaknya komite kedisiplinan. Rest juga menjadi anggotanya
karena berbagai alasan.
Dia datang ke ruang OSIS karena dipanggil untuk urusan
pekerjaan... tetapi sosok Urula juga berada di samping Rest.
Rest sebenarnya sudah membujuknya untuk pulang lebih
dulu karena jam sekolah sudah selesai, tetapi gadis itu bersikeras ingin ikut.
Melihat mereka berdua berjalan bersisian seperti kakak
beradik yang akrab, pemimpin OSIS sekaligus pemilik ruangan tersebut... Isis
Carbert, tertawa dengan senang.
"Sebenarnya orang luar dilarang masuk... tetapi
mengingat dia adalah putri dari keluarga Margrave Lavender yang merupakan faksi
militer, terlebih lagi punya kemampuan hingga bisa mengalahkan Oddman-sensei
dari Jurusan Ksatria, kita tidak bisa mengabaikannya... Hari ini kita anggap
saja dia masuk sebagai anggota sementara OSIS."
"............Terima, kasih."
Saat Isis menyampaikan usulannya, Urula menundukkan
kepala sambil tetap memegang celana Rest.
"Oooh... Imutnya. Benar-benar
anak yang menggemaskan...!"
Isis memegang dadanya dengan tangan, lalu membiarkan
pipinya merona merah.
Perasaannya bisa dipahami. Pada salam pertamanya Urula
memang terlihat seperti boneka tanpa emosi, tetapi sekarang kepolosan bagaikan
hewan kecil memancar dari dirinya.
(Meskipun sama-sama tanpa ekspresi... aneh juga, ya.
Pasti di hari pertama dia terlihat seperti boneka karena merasa gugup...)
Rest menatap Urula yang bagaikan kucing dengan
kewaspadaan tinggi, lalu membatin dengan penuh perasaan.
"Lalu... Kapten Isis. Di mana
anggota OSIS yang lain hari ini?"
Rest mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Di
ruang OSIS yang lumayan luas ini hanya ada tiga orang. Anggota OSIS lainnya
sepertinya sedang pergi keluar.
"Ah, sebenarnya orang mencurigakan muncul lagi di
dalam akademi."
"Lagi... kah?"
"'Lagi'."
Mendengar jawaban Isis, raut wajah Rest menjadi keruh.
Sebelumnya, orang mencurigakan atau lebih tepatnya orang
aneh pernah menyusup ke dalam Akademi Kerajaan ini.
Orang aneh itu memanfaatkan sihir tingkat tinggi untuk
mempermainkan anggota OSIS demi menggambar sosok para siswi akademi tanpa
busana.
(Seharusnya keamanan akademi sudah diperketat sejak saat
itu... Jangan-jangan, ada penyusup lagi?)
"Apa yang dilakukan oleh orang mencurigakan
itu?"
"Pencurian. Singkatnya begitu."
"'Singkatnya'?"
Mengapa harus menggunakan penyampaian yang berbelit-belit
begitu? Kalau pencurian, katakan saja pencurian.
"...Apa yang dicuri?"
"Pakaian dalam."
"............!"
Rest membelalakkan matanya. Dengan kata lain, dia adalah
pencuri pakaian dalam.
(Pelaku kejahatan sekeji itu ada di akademi ini... Tidak
bisa dimaafkan!)
Membayangkan jika Viola, Primula, Yuri, atau Celestine
yang menjadi korbannya, dadanya terasa mendidih karena marah.
Masalah ini harus segera diselesaikan secepat mungkin.
"Sudah ada lebih dari tiga puluh kasus yang terjadi.
Aku ingin menyelesaikannya secepat mungkin."
"Tiga puluh kasus? Korbannya sudah sebanyak
itu?"
Mana mungkin. Jika sudah menjadi masalah sebesar itu,
tidak mungkin Rest tidak mendengarnya sama sekali.
"Jujur saja, pihak OSIS baru mendapatkan
informasi ini belakangan... Korbannya tidak melapor dan sengaja menutupi
kejadian ini. Akibatnya, penanganannya jadi terlambat."
"Korbannya menutupi kejadiannya...?"
Rest menundukkan wajahnya dan berpikir.
Perasaan mereka bisa dipahami.
Orang yang menjadi korban kejahatan seksual mungkin
tidak ingin orang-orang di sekitarnya tahu, sehingga mereka memilih pasrah dan
tidak melapor ke polisi.
Meskipun hal itu berujung pada meluasnya jumlah
korban... wanita yang terluka tidak bisa disalahkan.
"...Pasti berat bagi mereka, ya. Mereka pasti
memendam dan mengkhawatirkannya sendirian."
"Ya... Tampaknya mereka merasa pria dewasa tidak
perlu heboh hanya karena celana dalamnya dicuri, sehingga mereka bertekad
menyelesaikannya sendiri."
"Begitu, ya.................... Ya?"
Karena hampir saja melewatkannya, Rest mendongakkan
wajahnya.
"Barusan, Anda bilang apa?"
"Pria."
Urula yang berada di sampingnya menarik lengan baju
Rest, lalu memberitahu secara singkat.
"Bilang, pria."
"Benar sekali. Semua korban yang celana dalamnya
dicuri adalah pria yang menempuh pendidikan di Jurusan Ksatria."
Isis mengiyakan perkataan Urula dengan ekspresi yang
sangat serius.
"Dengan kata lain, ini adalah 'Kasus Pencurian
Celana Dalam Berantai Pria Jurusan Ksatria'... Korbannya sangat banyak, dan ini
mungkin akan menjadi perburuan terbesar sejak akademi ini didirikan. Kamu juga
segeralah melakukan penyelidikan."
"Eeeh..."
Rest mengeluarkan suara enggan dengan lemas.
Dia lega karena tidak ada wanita yang menjadi
korban... tetapi dalam arti tertentu, dia justru diserahi tugas untuk menangani
kasus yang jauh lebih menyebalkan.
"Aku benar-benar mengandalkanmu... Tolong,
ya."
Isis merangkulkan tangannya ke bahu Rest dengan ramah,
lalu tersenyum.
Senyuman menawan yang ditunjukkan oleh wanita yang
lebih tua membuat Rest tanpa sadar merasa berdebar.
"T-Tunggu... Terlalu dekat!"
"Hahaha, tidak apa-apa, kan. Sejak Festival
Perburuan Iblis waktu itu, aku jadi sangat tertarik padamu. Aku ingin tahu
lebih banyak tentangmu."
"Ugh... Permisi!"
Rest mengapit Urula di bawah ketiaknya, lalu melarikan
diri dari ruang OSIS.
"A... Apa Kapten Isis dari dulu seanggun dan
seseksip itu, ya?"
"Digendong, senang."
Sambil dibawa oleh Rest, Urula melonggarkan ekspresi
wajahnya dengan tampak bahagia.
◇ ◇ ◇
Gedung sekolah Jurusan Ksatria memiliki struktur yang
hampir tidak ada bedanya dengan gedung Jurusan Sihir.
Ruang kelas untuk pelajaran teori ada, area latihan
untuk mata pelajaran praktis pun tersedia, bahkan jumlah siswanya hampir tidak
ada bedanya.
Jika ada perbedaan besar, itu terletak pada rasio
gender siswa yang menempuh pendidikan di sana.
Jumlah siswa laki-laki dan perempuan di Departemen
Sihir hampir seimbang, tetapi di Departemen Ksatria, siswa laki-laki
mendominasi dengan perbandingan sembilan banding satu.
(Di Departemen Ksatria tidak ada kesempatan untuk
bertemu lawan jenis, sampai-sampai ada rumor kalau para siswa laki-laki saling
berebut siswa perempuan. Katanya, kalau ada yang berhasil mengatur kencan buta
dengan anak perempuan dari departemen lain, dia bakal diperlakukan seperti
pahlawan…… apa benar begitu, ya?)
Rest mengunjungi gedung sekolah Departemen Ksatria.
Mengingat waktu yang sudah memasuki jam sepulang
sekolah, keberadaan para siswa di sana tampak lengang.
Jarang sekali ada siswa Departemen Sihir yang
mendatangi gedung Departemen Ksatria…… Ini juga menjadi kali pertama bagi Rest.
"Nn……"
Urula yang ikut berjalan di sampingnya menarik lengan
baju Rest.
"Itu."
"Eh……?"
Urula menunjuk ke suatu arah. Begitu mengalihkan
pandangannya ke sana…… di sudut koridor lantai satu gedung sekolah, tampak
sekitar sepuluh orang laki-laki sedang berkumpul.
"Hari ini kita pasti bakal menangkap si brengsek
itu!"
"Jangan sampai lolos! Jangan biarkan dia berbuat
semaunya lagi!"
Di dalam gedung sekolah yang sepi, para laki-laki itu
menyuarakan tekad mereka dengan raut wajah penuh kekesalan.
Kelompok itu terdiri dari sekitar sepuluh orang
laki-laki. Semuanya berbadan besar dan memiliki wajah yang
tampak garang.
"Berani-beraninya dia mencuri celana dalam kita……
Tidak akan kuampuni!"
"Cabul menjijikkan, bakal kuhabisi kau!"
"Jangan-jangan, mereka itu korban kejadian ini…… Oh?"
Rest menemukan sosok yang kenal di antara kerumunan
tersebut. Dia pun mendekat dan menyapa.
"Danila."
"Oh…… Rest, ya."
Seorang siswa berbadan besar menoleh.
Dia adalah Danila, siswa tahun pertama Departemen
Ksatria.
Mereka beberapa kali berpapasan di kelas "Ilmu
Pedang", dan sempat berada di tim yang sama saat "Festival Perburuan
Iblis".
"Kenapa kau ada di gedung Departemen
Ksatria?"
"Ini tugas dari Dewan Eksekutif."
"Ah…… Begitu, ya. Kau juga sedang menyelidiki
pencuri pakaian dalam……"
Muka Danila merengut, lalu melanjutkan perkataannya
dengan nada mencemooh.
"Ini masalah Departemen Ksatria. Kau tidak usah ikut
campur."
"Tidak bisa begitu. Ini
perintah langsung dari Kapten Isis. Kalau kau tidak mau bekerja sama, aku
akan melaporkannya ke atasan."
"Cih……"
Danila decak lidah dengan keras.
Tampaknya dia tidak bisa berkutik jika nama Isis sudah
dibawa-bawa.
"Bisa ceritakan kejadiannya? Bagaimana situasi
kerugiannya?"
"Korbannya ada dua puluh orang. Ada juga yang
kecurian berkali-kali, dan semuanya adalah anggota 'Klub Duel'."
Danila menjawab pertanyaan itu dengan raut wajah enggan.
"'Klub Duel'?"
"Sesuai namanya, itu klub kegiatan yang bertujuan
untuk saling mengasah kemampuan lewat duel. Anggotanya ada lima puluh orang.
Setiap pulang sekolah, kami menyewa area latihan untuk bertarung satu lawan
satu demi mengasah teknik pertarungan antarpribadi."
Rest tidak tahu kalau ada klub kegiatan seperti itu.
Di akademi, ada banyak perkumpulan yang dibentuk untuk
tujuan penelitian maupun olahraga.
Tampaknya 'Klub Duel' adalah salah satu dari sekian
banyak perkumpulan tersebut.
"Pakaian dalam dan baju olahraga yang disimpan di
loker ruang klub atau di dalam tas kelas saat pulang sekolah telah dicuri. Lagipula, yang diambil cuma barang-barang yang sudah dipakai…… Aku tidak
tahu siapa dan apa tujuannya mencuri barang seperti itu…… tapi aku tidak akan
mengampuninya."
"Baju olahraga juga ikut dicuri, ya. Apa
pakaian yang hilang itu belum ditemukan?"
"Tidak…… Sehari setelah hilang, barangnya bakal
kembali. Lucunya lagi, entah kenapa barang itu sudah dicuci."
"Dicuci?"
Rest bertanya balik dengan raut wajah heran.
Pakaian dalam dan baju olahraga yang dicuri mendadak
dikembalikan dalam keadaan bersih karena sudah dicuci…… Sungguh kejadian yang
aneh.
"Apa ada masalah dengan hal itu? Bukankah bagus
kalau dikembalikan dalam keadaan bersih?"
"Bagus dari mana, jelas-jelas itu menjijikkan! Kita
tidak tahu siapa pelakunya dan dipakai untuk apa barang itu!"
"Ah…… Ya, benar juga sih."
Bagi para anak laki-laki Departemen Ksatria…… yaitu
remaja-remaja berotot ini, masalah tersebut mungkin tidak terdengar terlalu
serius.
Namun, jika korbannya adalah anak perempuan, hal itu
jelas sangat menjijikkan.
(Barang yang dicuri oleh pria tak dikenal dipakai untuk
bermacam hal, lalu dicuci dan dikembalikan…… Malah terasa lebih menggelikan
daripada hilang begitu saja.)
"Kalau mau menyelidiki, lakukan saja sesukamu. Tapi,
kami pasti akan menemukannya lebih dulu darimu!"
"Anak-anak, ayo kita patroli!"
"""""Ooooh!"""""
Danila dan para siswa laki-laki Departemen Ksatria
lainnya berlari menyusuri koridor. Kelompok yang sangat bising dan melelahkan
untuk dilihat.
Rest yang ditinggalkan hanya bisa berdiri terpaku di
tempat seperti orang yang kehilangan arah.
"……Mau kerja?"
"……Ah, benar juga."
Pinggang Rest ditepuk pelan oleh Urula, membuatnya
terlempar kembali ke realita.
Meski tanpa dasar, Rest merasa ragu kalau kelompok
tadi sanggup menangkap pelakunya.
Mau tak mau, dia juga harus ikut menyelidiki.
"Tapi…… petunjuknya nol besar. Harus bagaimana,
ya?"
Untuk sementara, Rest mengaktifkan sihir Life
Search. Jaringan indra mana disebarkan hingga menutupi
seluruh gedung Departemen Ksatria.
Dia bisa merasakan hawa keberadaan para siswa dan
pengajar yang bergerak di koridor maupun ruang kelas, termasuk hawa keberadaan
Danila dan kelompoknya yang sedang berlari ke sana kemari. Untuk saat ini,
tidak ada aura yang mencurigakan.
(Kalau di Jepang pada kehidupan sebelumku, mungkin
orang-orang akan memasang kamera pengawas untuk mencarinya…… Tapi kalau di
dunia ini, harus bagaimana, ya?)
Mengingat sifat kejahatan ini adalah pencurian
pakaian dalam, cara paling pasti adalah menangkapnya basah-basahan saat
beraksi.
Namun, di saat Dewan Eksekutif dan anggota 'Klub
Duel' sedang gencar mencari pelaku, apakah aksi pencurian itu bakal terulang
kembali?
"……Sepertinya mustahil."
Rest menggelengkan kepalanya. Rasa bersalah pada Isis
tentu ada, tetapi jika pelakunya tidak bergerak, tidak ada yang bisa dia
lakukan.
(Kalau korbannya laki-laki, rasanya makin tidak ada
semangat buat bergerak…… Mending patroli seadanya saja, lalu melaporkan kalau
tidak ada kejadian apa-apa……)
"Ada orang mencurigakan! Di sebelah sini!"
"He……?"
Rest yang berniat menyelesaikan tugasnya secara
asal-asalan mendadak terkejut…… Suara teriakan seorang pria terdengar dari
lantai atas.
Melalui Life Search, Rest tahu ada banyak orang
yang sedang bergerak. Mereka sedang mengejar sesuatu.
Target yang dikejar…… tidak bisa dikenali. Itu
bukanlah hawa keberadaan manusia, melainkan hawa mana yang sangat tipis, hingga
dia tidak bisa langsung menyadari kalau itu adalah sosok penyusup.
"Jangan-jangan, pelakunya benar-benar muncul?
Dalam situasi seperti ini?"
Antara nekat atau memang bodoh. Berani-beraninya
memicu masalah di saat ada begitu banyak orang yang sedang berpatroli.
"Bagaimanapun juga, aku harus ikut
melihatnya……"
"Ah……"
"Maaf. Tolong lepaskan sebentar!"
Rest melepas pegangan Urula pada pakaiannya, lalu berlari
menuju lantai atas.
Berbekal Life Search, Rest menaiki tangga untuk
menghadang jalur melarikan diri dari sosok misterius tersebut.
"!"
Dan akhirnya…… Rest menemukan 'benda' itu.
Itu adalah sosok berselimut serba hitam. Dia
mengenakan jubah hitam kelam dari atas sampai bawah, berlari tanpa suara
sembari dikejar oleh para siswa Departemen Ksatria.
"Manusia…… bukan, ya?"
Rest memicingkan matanya dan bergumam.
Sosok serba hitam yang makin mendekat itu…… wujudnya
mirip dengan penyimpang yang dulu pernah menyusup ke akademi.
Saking miripnya, Rest sempat berpikir apakah pelaku
yang sama telah kabur dari penjara dan mengulangi perbuatannya.
Namun…… bagi Rest yang mendeteksi hawa keberadaan
lawan menggunakan mana, jangankan orang lain, benda itu bahkan tidak terasa
seperti manusia.
"Yah, untuk sementara…… Wind Wall!"
Rest mengaktifkan sihirnya, menciptakan dinding angin
yang menghalangi koridor.
Sosok serba hitam itu menabrak dinding dan gerakannya
terhenti.
"Ah, pergerakannya berhenti!"
"Bagus, bantai dia!"
Siswa Departemen Ksatria yang mengejar dari belakang
langsung menebaskan pedangnya ke arah sosok serba hitam tersebut.
Sebuah tebasan tanpa ampun. Serangan yang jelas-jelas
dilancarkan dengan niat membunuh.
"Ah……?"
Namun…… sosok serba hitam itu melayang ringan di udara
dan menghindarinya.
Gerakan aneh yang jauh dari jangkauan manusia biasa. Rasanya persis seperti pohon dedalu yang bergoyang ditiup angin.
"Jangan melarikan diri, Brengsek!"
"Diam di tempat, Bangsat!"
Siswa Departemen Ksatria lainnya mengayunkan senjata
dan mencoba mencengkeramnya untuk menangkap, tetapi sosok itu lagi-lagi
menghindar dengan gerakan luar biasa yang mustahil dilakukan manusia.
"Bajingan ini! Cukup bercandanya!"
"…………?"
Merasa heran dengan gerakan sosok serba hitam yang
terus mempermainkan para siswa Departemen Ksatria, Rest melepaskan sihir
bantuan.
"Wind Bind."
Angin berputar di sekitar sosok serba hitam,
melilitnya menyerupai tali dan mengunci pergerakannya.
"Bagus! Berhasil ditangkap!"
"Membuat repot saja, Bangsat!"
Siswa Departemen Ksatria langsung meringkus sosok
serba hitam yang sudah tidak bisa bergerak itu, ramai-ramai menghantamkan
senjata untuk memukulinya sampai tak berdaya.
"Ah…… Apa-apaan ini?"
Namun…… tak lama kemudian, suara tercengang terdengar
dari mereka.
Sosok serba hitam yang akhirnya berhasil ditangkap
itu…… ternyata bukanlah manusia, melainkan gumpalan kain hitam.
"Apa-apaan ini, ke mana orang itu menghilang?"
"Cangkang kosong…… Bukan, ini beda. Sejak awal kain ini memang bergerak sendiri."
Di hadapan siswa Departemen Ksatria yang terpana
sambil memegang kain tersebut, Rest bergumam pelan.
Pantas saja hawa keberadaannya terasa aneh. Sejak awal
benda itu bukanlah manusia hidup, melainkan kain hitam yang digerakkan oleh
sejenis sihir.
"Apa maksud dari semua ini, Rest!"
"Aku juga tidak tahu…… Tapi yang jelas, kita
semua baru saja dikerjai."
Rest menggelengkan kepala pada Danila yang mendesaknya
dengan pertanyaan.
Entah siapa pelakunya, tetapi seorang pengguna sihir
tingkat tinggi telah mengendalikan kain hitam untuk mengelabui Rest dan para
siswa Departemen Ksatria.
(Masalahnya, untuk apa dia melakukan hal semacam ini……)
"Jangan-jangan……?"
"Oii, Kalian! Bahaya!"
Seorang siswa Departemen Ksatria baru muncul dari arah
bawah tangga, berteriak dengan raut wajah panik.
"Kena kecurian lagi! Pakaian dalam dan baju olahraga
milik Klub Duel yang ada di ruang ganti lantai satu hilang dicuri!"
"A-Apa katamuuuuuuuuuuu!?"
Danila dan yang lainnya berteriak histeris saat mendengar
laporan tersebut.
Saat mereka mengira sedang mengejar si pencuri pakaian
dalam, di tempat lain justru muncul korban baru.
"Begitu rupanya…… Kita benar-benar
dikerjai."
Rest menghela napas panjang dengan raut wajah jengkel.
Dengan kata lain, Rest dan yang lainnya telah terjebak
dalam pengalihan perhatian musuh. Pelaku menggunakan kain hitam untuk memancing
perhatian mereka, lalu menyusup ke ruang ganti pada celah kesempatan tersebut
untuk mencuri celana dalam dan barang lainnya.
"Bukan cuma jago sihir, tapi dia juga penjahat
yang cukup cerdik…… Yah, pemborosan bakat yang luar biasa."
Kenapa juga orang itu sampai melakukan hal sejauh ini
hanya untuk mencuri pakaian dalam dan baju olahraga milik anggota 'Klub Duel'.
Pertanyaan itu muncul dari lubuk hati Rest yang paling dalam.
"…………Nn."
"Nona Lavender……?"
Saat Rest sedang tenggelam dalam pikirannya, Urula
muncul dan menarik ujung bajunya.
"……Aku ditinggalkan."
"Ah…… Maaf. Aku yang salah."
Urula menengadah menatapnya dengan raut wajah datar
seperti biasa.
Ekspresi fisiknya memang tidak berubah, tetapi entah
kenapa tatapan matanya terlihat penuh dendam.
(Apa cuma perasaanku saja…… Setelah menghabiskan waktu
beberapa hari dengannya, apa aku jadi bisa membaca jalan pikirannya?)
"……Tertangkap?"
"Tidak…… Sayangnya itu cuma barang palsu. Umpan yang dibuat menggunakan sihir."
"Begitu……"
Urula mengalihkan pandangannya ke arah kain hitam
yang dipegang siswa Departemen Ksatria.
Dengan matanya yang setengah terbuka dan tampak
mengantuk, dia menatap kain itu lekat-lekat.
"Penyelidikan kembali ke titik awal. Tidak ada
petunjuk sama sekali, dan rasanya sulit untuk menangkapnya dari sini……"
"……Orang itu."
"Eh?"
Urula menyembulkan jalurnya dari jendela koridor,
lalu menunjuk ke arah lapangan.
"Orang itu pelakunya."
Ujung jari telunjuk Urula menunjuk ke sana…… Ke arah seorang siswa perempuan yang mengenakan seragam sekolah.
Gadis itu tampil dengan rambut dikepang tiga dan
memakai kacamata, tipe anak perempuan sederhana yang terlihat sering membaca
buku novel di sudut kelas saat jam istirahat.
"Tidak, memangnya apa dasarnya sampai kamu
bilang begitu……"
"Ah……!"
Siswa perempuan berkacamata dan berkepang tiga itu
tampak tidak memiliki hal yang mencurigakan…… Saat Rest berpikir demikian, mata
gadis itu mendadak beradu pandang dengannya, dan wajahnya langsung menyiratkan
rasa terkejut.
"Tch……!"
Gadis itu langsung berbalik badan dan berlari
sekencang-kencangnya.
Berseberangan dengan penampilannya yang tampak
lembut, pergerakannya sangat lincah…… Jelas sekali kalau dia menguatkan
fisiknya dengan sihir.
"Ah, tunggu!"
Rest belum tahu pasti apakah gadis itu benar-benar
pelakunya, tetapi dipaksa melihat orang yang melarikan diri membuat nalurinya
tergerak untuk mengejar.
Rest melompat keluar dari jendela, lalu mengaktifkan
sihir Wind Control.
Dia mengendalikan angin untuk terbang di udara,
kemudian mendarat tepat di hadapan gadis berkepang tiga tersebut.
"Maaf, bisakah kau memberikan penjelasan……"
"Fireball!"
"Tch……!"
Gadis itu mendadak menyerang. Setelah menghindar dari
bola api yang melayang ke arahnya, gadis berkepang tiga itu langsung menerobos
masuk ke jarak dekat Rest dan mengayunkan tinjunya.
"Yaaah!"
"Ups……!"
Rest menangkis pukulan yang dilayangkan menggunakan
tangannya.
Merasa serangannya berhasil dihindari, gadis berkepang
tiga itu mengibaskan roknya dan melancarkan tendangan tinggi, tetapi Rest
menurunkan badannya untuk mengelak.
"Sihir ditambah pertarungan jarak dekat…… Hebat
juga."
Sembari mengucapkan hal itu, Rest menyentuh permukaan
tanah untuk mengaktifkan sihir.
Tanah terangkat seperti leher ular yang menegak, lalu
melilit empat anggota badan gadis berkepang tiga tersebut hingga tak bisa
bergerak.
"Earth Bind."
"Kyaaa!?"
"Tolong diamlah. Kalau kau
makin memberontak, aku harus membuatmu merasakan sedikit rasa sakit."
Rest mengarahkan tangannya ke hadapan gadis berkepang
tiga itu, memicu sihir petir yang memancarkan kilatan listrik ungu
berkerlap-kerlip.
Dia tidak berniat melukainya, melainkan hanya ingin
membuatnya pingsan menggunakan serangan petir.
"Ugh…… Saya menyerah……"
Dalam keadaan terikat, gadis berkepang tiga itu
tertunduk lesu. Tampaknya dia sudah pasrah.
"Oii, Rest! Apa-apaan ini!"
Danila yang baru keluar dari gedung sekolah berlari
mendekat. Siswa Departemen Ksatria lainnya beserta Urula juga berada di sana.
Melihat pemandangan tersebut, wajah gadis berkepang tiga
itu mendadak pucat pasi, memperlihatkan ekspresi keputusasaan.
"Aku juga tidak tahu masalah pastinya…… Tapi aku harus mendengarkan penjelasan darimu."
"…………"
Gadis berkepang tiga itu menjatuhkan bahunya tanpa
tenaga, lalu mengangguk pelan.
◇ ◇ ◇
"Jadi…… maksudmu, kau adalah penggemar
mereka?"
"……Iya."
Di tengah-tengah lapangan. Dikelilingi oleh Rest dan
para siswa Departemen Ksatria, gadis berkepang tiga itu memberikan pembenaran
dengan suara yang hampir tak terdengar.
Gadis berkepang tiga itu…… namanya tampaknya adalah
Shanoa Base. Dia ternyata seorang penggemar yang mendukung 'Klub Duel'.
Sejak dulu dia sudah mendukung para anggota 'Klub
Duel', dan berniat untuk membantu kegiatan 'sosok favoritnya' dengan cara apa
pun.
Sebagai jalannya, dia memutuskan untuk mencuci baju
olahraga dan pakaian dalam mereka yang kotor.
Namun, Shanoa memiliki kepribadian yang sangat pemalu.
Dia bukan tipe anak perempuan yang sanggup berkata 'serahkan pakaian kalian
padaku' secara langsung di hadapan anak laki-laki.
Oleh karena itu…… Shanoa memutuskan untuk mencurinya.
Pakaian dalam dan baju olahraga milik para laki-laki 'Klub Duel'.
Dia mencuri pakaian mereka, mencucinya, lalu
mengembalikan barang itu diam-diam.
"Bagaimana, ya…… Bukankah ada cara lain yang
lebih masuk akal dibanding ini?"
Seusai mendengar cerita tersebut, Rest menekan area di
antara kedua alisnya dengan jari demi menahan rasa pusing.
Motifnya sudah jelas, tetapi justru karena sudah
paham, dia makin tidak mengerti. Apakah rasa cinta pada sosok favorit sanggup
membuat seseorang menjadi seberangsi ini?
"Lagipula sampai membuat barang palsu pakai sihir
dan bikin keributan besar…… Sihir yang kamu pakai buat menggerakkan sosok serba
hitam itu, itu Marionette, kan?"
"Iya, benar……"
Marionette adalah
sihir untuk menggerakkan benda yang telah diberi mantra secara bebas. Yang bisa
digerakkan hanyalah benda mati. Manusia atau hewan tidak bisa dikendalikan.
(Meskipun bisa dipakai untuk menggerakkan pisau atau
batu buat menyerang lawan…… sejujurnya itu sihir yang tidak ada gunanya.)
Rest juga telah menguasai sihir Marionette,
tetapi tidak pernah menggunakannya dalam pertarungan.
Lagipula, jika ingin mengendalikan benda untuk
menyerang, lebih baik mengubah angin atau tanah menjadi bilah pisau atau tombak
lalu menghantamkannya. Tidak ada gunanya repot-repot mengendalikan benda mati.
Shanoa pasti mengenakan sihir ini pada kain hitam,
lalu mengombinasikannya dengan Life Search untuk mengendalikannya dari
jarak jauh sebagai boneka umpan.
"Sihir yang paling banyak cuma dipakai buat
mengangkut barang atau pertunjukan boneka, tapi malah kamu pakai buat hal
tingkat tinggi seperti itu…… Kamu rasanya lebih cocok masuk Departemen Sihir
daripada Departemen Ksatria, deh."
"Anu…… itu…… emm……"
Wajah Shanoa memerah, lalu bergumam dengan suara
lirih.
"Saya…… menyukai laki-laki. Itu, orang-orang yang berotot……"
"…………"
"Kalau masuk Departemen Ksatria, ada orang-orang
seperti itu. Saya juga bisa melihat mereka…… bertarung dengan otot
yang bergerak dinamis……"
"…………Begitu, ya."
Wajah Rest makin menunjukkan rasa tidak paham, tetapi dia
tetap mengangguk demi mencoba mengerti.
Shanoa tampaknya memiliki preferensi seksual yang cukup
menyimpang.
Jangan-jangan, sebelum mencuci pakaian dalam dan baju
olahraga yang dicuri, dia sempat menggunakannya untuk hal-hal tidak senonoh
sendirian.
"Kira-kira begitu alasannya…… Jadi bagaimana
keputusan kalian, Para Korban?"
"""""…………"""""
Rest berbalik badan dan bertanya pada para siswa
Departemen Ksatria yang ada di sana.
Para siswa Departemen Ksatria anggota 'Klub Duel'
yang sebelumnya mengejar pelaku kejahatan ini. Mereka semua saling bertukar
pandang dengan ekspresi wajah rumit yang tak tergambarkan.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau orang yang
mencuri pakaian mereka ternyata seorang siswa perempuan…… ditambah lagi, dia
adalah penggemar mereka sendiri.
Rasa senang karena disukai bertabrakan dengan rasa
jengkel karena telah dirugikan, membuat mereka bingung harus meluapkan emosi ke
mana.
"Ahー…… Begitu, ya. Walau perbuatannya memang salah……"
"Tapi dia melakukan itu buat kita, kan…… Cuci
pakaiannya."
"Yah, karena tadi tidak tahu siapa pelakunya, memang
terasa menjijikkan sih……"
"Tapi jujur saja kita terbantu. Cuci baju sendiri
itu merepotkan."
Para siswa Departemen Ksatria mulai melontarkan
kalimat-kalimat yang menunjukkan keraguan mereka.
"Mohon maafっ…… Saya sudah menyusahkan kalian semua……!"
Di hadapan mereka, Shanoa membungkukkan badannya
dalam-dalam dengan penuh penyesalan.
"Saya…… suka melihat kalian semua saat
mengayunkan pedang atau tombak ketika bertarung, dan saya sangat ingin
mendukung kalian. Makanya saya mendadak melakukan hal seperti ini……!"
"Ah."
Saat membungkukkan badan, kacamata yang dikenakan
Shanoa mendadak terjatuh ke tanah.
Shanoa mengangkat wajahnya kembali dalam keadaan
kacamata tebal bermodel pantat botol itu terlepas.
"Mohon maaf…… Tolong maafkan saya……"
"""""!"""""
Melihat wajah Shanoa yang terekspos tanpa kacamata,
para siswa Departemen Ksatria serentak menahan napas mereka.
Shanoa yang tadinya berpenampilan seperti simbol gadis
sederhana dengan kepang tiga dan kacamata tebal, ternyata menyimpan mata
berbentuk almond yang berbinar di balik kacamatanya.
Paras wajahnya ternyata sangat rupawan…… Singkat kata, dia adalah seorang gadis cantik.
"Tidak! Kamu sama sekali tidak salah!"
Danila berteriak paling awal, matanya berbinar-binar
penuh semangat.
"Malah kami sangat terbantu karena kamu mau mencuci
pakaian kami! Ahh, sungguh terbantu!"
"Benar sekali! Kami saja yang meresponsnya secara
berlebihan!"
"Kalau ke depannya kamu masih mau membantu kami,
kami akan sangat berterima kasih!"
Menyusul Danila, para siswa Departemen Ksatria lainnya
saling berlomba-lomba melontarkan kalimat pembelaan.
Jangan-jangan…… tidak salah lagi, mereka cuma ingin
memberikan kesan yang baik di hadapan gadis cantik yang menjadi penggemar
mereka. Laki-laki memang makhluk yang sangat bodoh.
"Tapi, mencuri itu bagaimanapun juga tetap
perbuatan buruk!"
"Benar juga…… Kalau begitu, sebagai hukumannya
kamu harus jadi manajer 'Klub Duel'!"
"Mulai sekarang, kami serahkan urusan cuci
pakaian dalam, baju olahraga, dan dukungan lainnya padamu, ya!"
"I-Iya…… Jika kalian tidak keberatan dengan
saya……"
Shanoa mengangguk dengan kedua pipi merona merah.
Tampaknya, penyelesaian masalah telah dicapai…… Bagi
Rest yang berada di posisi orang luar, penyelesaian ini terasa sangat ganjil
dan meninggalkan rasa tidak ganjur di hatinya.
"Nn."
Urula menarik lengan baju Rest yang sedang merasa
heran bukan main.
"……Nona Lavender?"
"……Apa aku berguna?"
"Ahー, iya. Begitulah……"
Rest menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan
yang disampaikan dengan tatapan mendongak itu.
Pada kejadian kali ini, jika tidak ada Urula, masalahnya
mungkin tidak akan selesai dengan damai. Kalau ditanya apakah dia berguna,
jawabannya tentu saja iya.
"Ahh…… Terima kasih. Aku senang kamu ada di
sini."
"Begitu…… Aku senang."
Urula tersenyum dengan lembut.
Justru karena dia adalah tipe gadis yang selalu
berekspresi datar, senyuman itu memiliki daya hancur yang luar biasa.
"Mu…… U……"
(Ada apa dengan anak ini…… Kenapa dia
bisa memiliki perasaan sesuka ini padaku……?)
Bagaimana cara Urula bisa mengetahui kalau Shanoa adalah
pelakunya…… Ada banyak hal yang ingin Rest tanyakan, tetapi di hadapan senyuman
ini, dia tidak sanggup melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
"Baiklah, ayo kita langsung latihan hari ini!"
"Iya…… Saya akan membantu……"
"……Ayo pulang."
"Nn."
Rest membelakangi Danila, Shanoa, dan yang lainnya,
lalu melangkah pergi meninggalkan gedung sekolah Departemen Ksatria.
Dengan demikian, "Insiden Pencurian Celana Dalam
Beruntun Departemen Ksatria" yang sempat menghebohkan sebagian area
akademi pun resmi berakhir.



Post a Comment