Bab 4: 「Rumor Buruk」
Begitu masuk kelas, suasana langsung
bergemuruh.
Eh, ada apa nih?
Saat aku sedang merasa aneh, suara
bisik-bisik terdengar dari berbagai penjuru.
Serizawa-san tidak kelihatan di
mana-mana, sementara Tsukimi-san entah kenapa sedang diberondong pertanyaan
oleh teman-teman sekelas.
Saat aku berjalan melewati dekat
Tsukimi-san, meski cuma terpotong-potong, percakapan mereka dapat tertangkap
oleh telingaku.
『Memanfaatkan kelemahan saat ditolak, lalu
mempermainkan Hiyori-chan』
Sebenarnya siapa yang mereka maksud?
Akhir-akhir ini aku memang selalu bersama Hiyori sih, tapi orang yang seperti
itu sama sekali tidak pernah kulihat.
Tepat saat aku duduk di kursi seperti
biasanya, percakapan mereka terhenti sejenak, dan pandangan seisi kelas
langsung tertuju padaku.
Ah, ini, jangan-jangan mereka sedang
membicarakan diriku ya.
Tepat di saat aku menyadari hal itu,
pesan dari Serizawa-san masuk ke ponselku.
Serizawa-san:
『Bun-bun, situasinya jadi gawat nih』
『Serizawa-san, sekarang kamu di mana?』
Serizawa-san:
『Sedang mengungsi di toilet cewek』
Oh, begitu. Berarti Serizawa-san juga
diberondong pertanyaan seperti Tsukimi-san.
Serizawa-san:
『Mendingan itu deh, sekarang gosip buruk tentang
Bun-bun lagi menyebar luas tahu』
『Gosip buruk?』
Serizawa-san:
『Katanya, kamu memanfaatkan kelemahan Hiyori
setelah dia ditolak buat mempermainkannya, lalu menjalin hubungan dengan aku
dan Hoshino sekaligus. Belum lagi, kamu juga berniat menyeret Ayabe-san ke
dalam cengkeramanmu yang beracun.』
Aku, ternyata brengsek banget ya.
Serizawa-san:
『Hari ini, Hiyori gimana?』
『Katanya hari ini dia juga izin sekolah buat jaga
kondisi』
Serizawa-san:
『Begitu ya……』
Kalau dipikir-pikir kemarin, Tsukimi-san
dan Serizawa-san sempat ditanya-tanya soal diriku ya……
Jangan-jangan soal hal ini?
Kalau memang begitu, kecepatan
menyebarnya gosip ini benar-benar terlalu kencang.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, guru
masuk ke kelas. Melihatnya, teman-teman sekelas pun kembali ke tempat duduk
masing-masing.
Tsukimi-san terlihat lemas, sementara
Serizawa-san kembali ke kelas dengan langkah pelan.
Saat bel berbunyi, kelas yang tadinya
ramai bergemuruh pelan-pelan menjadi tenang.
Andai saja gosipnya juga bisa mereda
dengan tenang seperti ini…… gumamku di dalam hati sambil mengikuti pelajaran.
◇
Saat jam istirahat siang, alih-alih
mereda, gosip tersebut justru makin menyebar layaknya virus.
Saat berjalan di koridor menuju koperasi,
setiap kali berpapasan dengan seseorang, aku selalu mendengar mereka
berbisik-bisik membicarakanku.
Tatapan penuh cemoohan dan celaan terus
tertuju padaku, membuatku merasa tidak nyaman.
Kalau kembali ke kelas dalam kondisi
seperti ini, aku pasti bakal menyusahkan Serizawa-san dan Tsukimi-san.
Berpikir demikian, tempat yang kutuju
sambil memegang roti di satu
tangan adalah bordes tangga menuju atap
sekolah. Pintu menuju atap terkunci jadi tidak bisa dimasuki, makanya
orang-orang tidak bakal datang ke sini.
Inilah spot menyendiri favoritku nomor
lima.
Sambil menyantap roti kari, aku
memikirkan situasi saat ini.
Jujur saja, untuk saat ini kerugian nyata
yang kudapatkan bisa dibilang hampir tidak ada. Tidak ada coret-coretan di
mejaku, barangku tidak hilang, dan aku juga tidak dilempari batu atau dikeroyok
beramai-ramai.
Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah
soal Hiyori, Serizawa-san, Tsukimi-san, dan Ichika yang menjadi korban dari
gosip ini.
Saat ini, keempat orang ini sudah cukup
banyak kurepotkan.
Mengingat potensi hal ini bakal
berkembang menjadi gangguan atau perundungan ke depannya, mungkin lebih baik
kalau untuk sementara waktu aku menjaga jarak dari mereka.
Dalang yang menyebarkan gosip ini pasti
bertujuan ke arah sana, jadi kalau tujuannya tercapai, dia bakal puas dan
gosipnya pun akan mereda.
"Bun-bun, akhirnya ketemu
juga."
Mendadak ada yang menyapaku, dan saat aku
tersentak mengangkat wajah, di sana berdirilah Serizawa-san dan Tsukimi-san
dengan napas tersengal-sengal.
"Kamu ini…… kenapa tidak membaca
pesan sih."
"Eh? Ah, maaf. Tadi aku sedang
memikirkan sesuatu……"
Saat memeriksa ponsel, ternyata mereka
berdua sudah mengirimiku pesan bertubi-tubi. Karena kupasang ke mode hening,
aku jadi sama sekali tidak menyadarinya.
"Lagipula jangan mendadak menghilang
begitu dong."
"Bener tuh. Soalnya Bun-bun tidak
balik-balik ke kelas jadi kami lumayan cemas tahu."
Serizawa-san duduk di sebelah kanan,
sementara Tsukimi-san duduk di sebelah kiri.
Aku diapit dua orang gadis. Benar-benar
seperti sandwich.
"M-, maaf ya."
Diapit bagaikan isi sandwich, aku meminta
maaf sambil menciutkan tubuh.
Eh, padahal tadinya berniat menjaga
jarak, tapi rasanya jarak kami justru makin dekat ya.
"Etto, kalian berdua tidak apa-apa
nih? Berada bersamaku yang seperti ini."
"Soal gosip itu? Yang begitu sih
biarkan saja mereka bicara sepuasnya kan? Aku sendiri tidak ambil pusing
kok."
"Aku juga sependapat dengan Hoshino,
tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak penting. Tapi,
kalau sampai dijauhi oleh Bun-bun, itu rasanya menyedihkan. Hal itu dipastikan
berlaku sama buat Hiyori."
"Tuh kan, makanya berhenti mencoba
menjaga jarak dari kami. Kalau aku sih terserah, tapi mentalnya Hiyori
dipastikan bakal gawat banget tahu."
"M-, rasanya kalau yang itu terlalu
berlebihan deh……"
Tapi, begitu ya. Ketiga orang ini
ternyata memikirkanku dan menganggapku berharga jauh melebihi dari yang
kubayangkan.
Kalau begitu, sebelum membuat semua orang
makin kerepotan,
"Gosip ini, harus segera diatasi
ya……"
Setelah mengubah jalan pikiranku, aku pun
mengirimkan pesan kepada seseorang.
◇
"Ooh, Bungaku selamat datang.
Baguslah kamu mau datang. Serizawa-san dan Tsukimi-san juga silakan santai saja
ya."
Sepulang sekolah, aku membawa
Serizawa-san dan Tsukimi-san untuk
berkunjung ke ruang OSIS.
"Untuk sementara, aku minta racikan
kopi blend ya."
"Serizawa-san, kamu kan tidak bisa
minum kopi."
Sambil melontarkan tsukkomi pada
Serizawa-san yang melempar lelucon, aku duduk di kursi meja yang dipersilakan.
Sekali lagi aku diapit oleh duet Serizawa dan Tsukimi.
…………Agak merasa canggung dan sempit juga.
Sosok
yang kumintai bantuan ini adalah sang protagonis dari 『Tenichi!!』
sekaligus ketua OSIS, Shindou Tenma.
Dan ada satu orang lagi.
"Bungaku-kun. Serahkan saja kepada
kami ya."
Yang duduk di hadapanku adalah sang main
heroine, Ayabe Ichika.
"Maaf ya. Padahal Hana-san juga
menjadi korban, tapi aku malah jadi merepotkan dan meminta bantuan seperti
ini."
"Sama sekali tidak kok. Justru aku
senang tahu. Karena Bungaku-kun mau mengandalkan kami dengan benar."
Ichika memamerkan senyuman lembut
bagaikan malaikat agung.
Meski agak malu, mendengar dia berkata
begitu membuatku sangat berterima kasih. Malahan rasanya mau menangis sedikit.
"Nah, mulai sekarang kita bakal
merapikan situasinya, membicarakan penyebabnya, lalu mencari solusi bersama.
Aku berniat menjalankan alurnya seperti ini, bagaimana menurut kalian?"
Semua orang mengangguk menanggapi
pengarahan dari Tenma yang duduk di sebelah Ichika.
Seperti yang diharapkan dari ketua OSIS.
Dia sangat pandai memimpin jalannya pembicaraan.
"Pertama,
terkait gosip itu, 『Bungaku yang memanfaatkan kelemahan saat ditolak
untuk mempermainkan Hiyori, menjalin hubungan dengan Serizawa-san dan
Tsukimi-san sekaligus, ditambah lagi bermaksud memasukkan Ichika ke dalam
cengkeraman beracunnya juga』, apa sudah benar begitu?"
"Tenma-kun. Kalau sekarang, ada
sedikit tambahan dan berbagai gosip turunan yang menyebar dari situ. Isinya……
itu, untuk sekarang kusembunyikan dulu sih."
Dengan wajah memerah, Ichika menatapku
dengan sedikit malu.
Eh, memangnya gosip seperti apa lagi yang
menyebar……?
"Tapi bukannya kecepatan menyebarnya
gosip ini tidak wajar ya? Rasanya baru 1 hari saja tapi sudah menyebar ke satu
angkatan lho."
Seperti yang dikatakan Tsukimi-san, aku
pun memikirkan hal yang sama.
Terkait hal itu walau ini baru perkiraan
sih, Tenma pun menjawab.
"Aku rasa ada 3 alasannya. Yang
pertama karena isi gosipnya
berhubungan dengan percintaan, yang kedua
karena target gosipnya adalah Hiyori dan yang lainnya yang merupakan anak-anak
cewek terkenal dan populer di sekolah. Lalu yang ketiga karena ada seseorang
yang sengaja menyebarkan gosip ini."
"Berarti ada seseorang yang tidak
menyukaimu, lalu menyebarkan gosip buruk ini supaya Bun-bun jadi terisolasi
kan," ujar Serizawa-san, yang langsung diangguki oleh Tenma.
"Yah, kalau dilihat dari sudut
pandang orang luar, Bungaku yang sekarang kan kelihatan seperti cowok mata
keranjang yang dikelilingi cewek-cewek. Jadi tidak aneh kalau ada murid cowok
yang iri."
"……Memang sih, Bun-bun itu cowok
pemikat hati. Bagian itu tidak bisa kubantah."
Kalian ini ya……
"Etto, berarti untuk mengatasi gosip
tentangku ini, pertama-tama kita harus menemukan dalang yang menyebarkan
gosipnya dulu kan?"
"Begitulah. Makanya begini. Maaf ya
Bungaku, tapi besok pas jam istirahat siang, bisa tolong datang ke sini lagi
tidak? Soalnya dalam hari ini aku mau mengajak anggota OSIS yang lain untuk
membentuk 'Pasukan Penanggulangan Gosip Buruk Bungaku'."
"Eh, OSIS mau turun tangan
menanganinya? Tidak apa-apa nih?"
Bukannya itu namanya menyalahgunakan
wewenang organisasi ya?
"Tidak apa-apa. Soalnya aku ketua
OSIS-nya. Wewenang OSIS pun bisa kumanfaatkan untuk kepentingan pribadi
kok."
Tidak apa-apa dari mananya coba.
"Bungaku-kun. Kalau Tenma-kun sudah
jadi begini tidak bakal ada yang bisa menghentikannya, jadi lebih baik jangan
sungkan dan andalkan saja dia ya."
"K-kalau Hana-san yang bilang begitu
sih……"
Aku pun mengatakannya dengan agak
sungkan, Tenma mengangguk puas.
"Kalau begitu, sepertinya lebih baik
kita fokus mengumpulkan informasi saja ya. Lagipula, bakal ada banyak orang
yang menanyakan berbagai hal kepada kita."
Seperti yang dikatakan Ichika, kalau
Ichika, Tsukimi-san, dan Serizawa-san yang merupakan target gosip ini tidak
melakukan apa-apa pun, informasi bakal datang sendiri dari pihak sana.
Arah jalannya sudah ditentukan, dan
setelah rapat strategi selesai, kami pun bersiap untuk pulang.
"Bungaku-kun."
"Kenapa?"
Ichika memanggilku. Saat aku berhenti
melangkah, dia menatapku dari bawah dengan wajah gelisah dan malu-malu.
"Anu, itu…… aku percaya Bungaku-kun
bukan orang yang bakal melakukan hal seperti itu. Aku percaya kok…… t-tapi,
izinkan aku mengatakan 1 hal ini ya!"
"Eh? Apa itu?"
Apakah ada hal yang terpikirkan olehnya
terkait gosip ini?
"Itu, padahal belum berpacaran……
t-tidak boleh melakukan hal-hal yang mesum tahu!"
……
……………
……………………
……………………………………Eh, maksudnya bagaimana?
◇
Keesokan harinya setelah berkonsultasi
dengan Tenma dan yang lainnya. Aku sedang melangkah menuju ruang OSIS.
Serizawa-san dan Tsukimi-san sedang fokus
mengumpulkan informasi
di dalam kelas.
"Tunggu dong Bun-kuun."
"Eh?"
Saat aku berbalik, Hiyori yang sudah
pulih total sedang berlari-lari kecil menghampiriku.
Lho, bukannya waktu keluar kelas tadi dia
sedang diberondong berbagai pertanyaan oleh semua orang ya?
"Kamu mau ke ruang OSIS kan? Aku
ikut ya."
"Eh, a, ung……"
Begitu aku mengangguk, Hiyori mulai
berjalan di sampingku.
Soal gosip ini sudah kujelaskan kepada
Hiyori lewat telepon tadi malam.
Karena itulah, fakta bahwa dia berada di
sisiku seperti ini berarti dia menganggapku sebagai teman yang berharga, sama
seperti Tsukimi-san dan Serizawa-san.
"Eiy."
Hiyori yang berjalan di sampingku
menyenggol bahuku pelan.
……Entah kenapa, jaraknya dekat banget.
"Bun-kun, kamu bakal datang ke
rumahku hari Jumat minggu depannya lagi kan?"
"Eh, a, ung."
Seperti yang dikatakan Hiyori, dua minggu
lagi, tepatnya hari Jumat, aku akan makan bersama keluarga Nanase di rumah
mereka.
Bagaimana bisa jadi begini aku sendiri
juga tidak begitu paham.
Tadi malam kebetulan Hiyori menyalakan
panggilannya ke mode pengeras suara di ruang keluarga, jadi mama Hiyori
menyadari keberadaanku lalu ikut bergabung dalam panggilan. Ditambah lagi papa
Hiyori yang baru selesai mandi juga ikut datang…… setelah mengobrol bertiga
seperti itu, pembicaraan langsung berlanjut jadi acara makan bersama.
"Anu, tidak apa-apa nih? Papanya
Nanase-san tidak merasa keberatan?"
"Eh? Mana ada? Malah Papa
terus-terusan menanyakan kapan Bun-kun bakal datang, sepertinya kamu disukai
deh?"
Mana mungkin…… saat aku berpikir begitu,
jariku tak sengaja bersentuhan dengan jari Hiyori.
Karena berjalan dalam jarak dekat hingga
bahu saling bersentuhan, di saat-saat tertentu sesekali ujung jari Hiyori tanpa
sengaja menyentuh jariku.
Karena menganggap ini terlalu dekat dan
hendak mengambil jarak dari Hiyori, di saat itu juga jari kelingkingku
dicengkeram erat olehnya.
Seolah-olah menegaskan bahwa dia tidak
mengizinkanku untuk mengambil jarak sedikit pun.
"Ah, ngomong-ngomong kata Mama. Buat
minggu depannya lagi, tolong tanyakan masakan favorit atau makanan yang ingin
dimakan oleh Bun-kun gitu."
Lalu Hiyori mulai berbicara seolah tidak
ada hal apa pun yang terjadi.
Bohong kan. Kenapa kamu bisa bersikap
sebiasa itu? Kalau begini kan kelihatan seperti pasangan berpacaran saja.
Tidak, apakah bagi anak-anak gaul hal
seperti ini sudah biasa………… kah?
Ah, jangan-jangan ke Tenma dulu dia juga
begini ya.
"Aku cuma begini ke Bun-kun,
lho?"
"……………Eh?"
Seketika, jantungku serasa tersentak.
Jangan-jangan dia baru saja membaca pikiranku.
Kenapa bisa tahu apa yang kupikirkan……?
Ah, tidak. Bagian pentingnya bukan di situ.
"Bun-kun, tidak masuk?"
"He?"
Tanpa kusadari kami sudah sampai di depan
ruang OSIS. Jari kelingking yang tadinya dicengkeram erat pun sudah terbebas.
Melihat Hiyori yang memiringkan kepalanya
bingung, aku berdehem pelan lalu mengetuk pintu.
"Anu, permisi."
Saat membuka pintu, di dalam tampak
seorang gadis sedang berhadapan dengan segepok dokumen.
Rambut cokelat panjangnya yang berkilau
menjuntai hingga ke pinggang, sementara tubuhnya yang mungil tetap memancarkan
kesan feminin. Ditambah lagi, pembawaannya yang anggun dan lembut membuatnya
terlihat jauh lebih dewasa, sampai-sampai orang bisa salah mengiranya sebagai
siswi kelas tiga.
"Wah, maaf ya. Tomida Bungaku-san,
kan? Aku sudah mendengar ceritanya dari Ketua. Silakan duduk di sini."
"Ah, baik……"
Dipandu menuju meja olehnya yang
tersenyum ramah, aku pun menurut manis bagaikan kucing yang baru diadopsi.
"Orang yang cantik ya. Apa murid
kelas 3 ya."
Hiyori yang duduk di sebelahku bergumam
pelan di dekat telingaku.
Untuk ukuran kelas 3, rasanya
penampilannya kelihatan sedikit imut dan muda sih.
"Maaf aku terlambat memperkenalkan
diri. Namaku Kirifuji Sena, sekretaris OSIS. Aku murid kelas 1, jadi tidak
perlu memakai bahasa formal kok."
"Ah, baik……"
Refleks kami berdua membalas menggunakan
bahasa formal, membuat Kirifuji-san terkekeh tersenyum.
"Aku seduh teh dulu ya. Camilan di
sana silakan dinikmati sesuka hati."
Eh, camilan yang kelihatan mahal dan
dipajang di meja ini boleh dimakan nih?
Sambil menikmati camilannya, aku
bermaksud melihat apakah ada hal yang bisa kubantu dan mengalihkan pandangan
kembali ke Kirifuji-san, tetapi cara menyeduh tehnya kelihatan sangat
profesional jadi kuurungkan niatku.
Orang awam sepertiku kalau mencoba
membantu secara
setengah-setengah justru cuma bakal
mengganggu saja.
Kirifuji-san menyeduh teh sambil
tersenyum lembut dan kelihatan sangat menikmati kegiatannya.
……Bagus ya.
Bagaimana ya mengatakannya, setiap
gerak-geriknya sangat teliti, indah, dan hangat. Perhatian dan kebaikan
Kirifuji-san tersalurkan dengan jelas.
"Sebentar Bun-kun. Dari tadi kamu
terlalu memperhatikan Kirifuji-san tahu."
Hiyori menatapku dengan mata menyipit
tajam.
"Eh, masa sih."
"Memang iya kok. Dari tadi cuma
melihat Kirifuji-san terus. Itu…… Bun-kun suka cewek yang anggun seperti
Kirifuji-san ya?"
"Tidak, bukan begitu
maksudku……"
Di saat aku bingung harus membalas apa,
Kirifuji-san dengan sigap menyajikan teh hangat di hadapan kami berdua.
"Maaf ya sudah membuat kalian
menunggu."
"Ah, terima kasih."
Aku dan Hiyori memasukkan gula batu dan
susu ke dalam teh yang disajikan, lalu mencicipinya sedikit.
"”Enak banget……!!”"
Seketika aku dan Hiyori saling
bertatapan.
"Terima kasih banyak."
Rasanya begitu kaya, sama sekali tidak
bisa dibandingkan dengan teh botolan yang biasa kuminum. Ditambah lagi, entah
kenapa…… rasanya terasa sangat hangat.
Kirifuji-san yang duduk di hadapan kami
bertiga juga ikut meminumnya.
Tampaknya dia meminum tehnya secara murni
tanpa campuran gula maupun susu.
Di saat kami sedang menikmati teh buatan
Kirifuji-san, pintu ruang OSIS mendadak terbuka.
"Maaf, ya. Sudah membuat kalian
menunggu."
Tenma masuk ke dalam ruangan dengan napas
yang agak
terengah-engah.
"Ketua Shindou, selamat atas kerja
kerasnya."
"Aa, Kirifuji-san juga, selamat atas
kerja kerasnya…… lho, Hiyori juga ada di sini?"
"Tentu saja. Soalnya aku kan tokoh
utama dari gosip ini."
"Kalau hal itu sih memang benar,
tapi bukannya kamu cuma sekadar…… ah, tidak, ya sudahlah."
Tenma melirik pelan ke arahku lalu
menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya apa yang tadinya hendak
dikatakannya?
"Wah? Ketua, di mana Wakil Ketua
Kimura?"
"Apa dia tidak datang, ya. Padahal
tadinya dia bilang 'kalau bisa datang aku bakal datang'."
Kalau begitu sih dipastikan tidak bakal
datang tuh.
Ngomong-ngomong, Wakil Ketua Kimura
adalah teman masa kecil
Tenma
sekaligus teman lamanya. Bisa dibilang karakter sahabat dekat di 『Tenichi!!』.
"Soal gosip Bungaku. Tampaknya gosip
itu menyebar mulai dari murid kelas 3."
Memang benar kata Tsukimi-san dan
Serizawa-san, orang yang menanyakan soal diriku adalah murid kelas 3……
"Sebaliknya, menurutku gosip tentang
Senpai belum menyebar sepenuhnya di antara murid kelas 1."
"Hee~ kalau begitu, gosip tentang Bun-kun ini
kalau dilihat dari alurnya menyebar dengan urutan kelas 3 → kelas 2 → kelas 1
ya."
"Kalau situasinya seperti itu, untuk
sementara waktu lebih baik kita meminta keterangan dari murid kelas 3 yang
punya kemungkinan tinggi terdapat dalang penyebar gosipnya ya."
"Seperti yang dikatakan Kirifuji-san
sih, tapi…… untuk jaga-jaga bukannya lebih baik minta keterangan di area kelas
1 juga?"
"Tidak masalah kok. Untuk area kelas
1, Shio-chan bagian bendahara yang bakal meminta keterangan untuk kita."
"Lho? Bukannya kemarin dia sempat
enggan memberikan bantuan ya?"
"Begitu kumohon-mohon dia langsung
setuju. Anak itu gampangan…… maksudku, rapuh terhadap desakan."
Begitu ya, Shio-chan bagian bendahara
ternyata gampangan ya…… aku jadi agak ingin bertemu dengannya.
"Apa ada hal yang bisa kubantu juga?
Kalau cuma diam saja rasanya aku kurang enak hati……"
"Tapi Bun-kun. Kamu kan orang yang
bersangkutan dalam gosip ini, bukannya tidak ada hal yang bisa dilakukan?"
Mengenai hal itu sih memang benar.
"Ah, kalau begitu bagaimana kalau
Bungaku menyamar jadi cewek lalu ikut membantu meminta keterangan?"
Aku refleks tersedak teh mendengar
pernyataan dari Tenma.
"B-, Bun-kun!? Tidak apa-apa!?"
"Gokho, gokho, u-, ung."
Hiyori mengelus punggungku dengan raut
khawatir saat aku tersedak.
"Menyamar jadi cewek…… maksudnya
Fumika-chan yang sempat dibilang oleh Ketua sebelumnya ya?"
"Aa, Fumika-chan."
Tunggu
sebentar. Kenapa Kirifuji-san bisa tahu soal 『Fumika-chan』?
"Menurut saya itu ide yang sangat
menarik…… maksud saya, ide yang sangat bagus. Senpai, apakah set penyamaran
ceweknya masih ada?"
"Eh? U-, ung. Set penyamaran
ceweknya masih terbiar ditinggal di
dalam loker kelas sih……"
Soalnya kalau dibawa pulang juga agak
nggak enak.
"Sisa bajunya saja ya. Kalau begitu,
bagaimana kalau menggunakan rok
cadangan milikku——"
"T-, tunggu sebentar!! Kalau soal
baju biar aku yang siapkan jadi tidak apa-apa!! Di lokerku ada rok cadangan dan
pita kok!! Makanya Bun-kun pakai milikku saja!"
"Eh, a, i-, iya……"
Aku mengangguk, sedikit ciut karena
Hiyori tiba-tiba menyela.
"Kalau begitu, sepulang sekolah hari
ini aku harus membereskan perlengkapan di gedung kelas 3, jadi sekalian saja
kita minta keterangan ya."
"……Berarti aku yang menyamar jadi
cewek ini juga ikut bareng kan?"
"Tentu saja♪"
"Etto, aku B-, Boleh ikut bareng
juga tidak?"
"Kalau Nanase-senpai ikut rasanya situasinya
bakal jadi agak rumit, jadi tolong bantu kumpulkan informasi di area kelas 2
saja ya♪"
"U-, baiklah……"
"Kalau begitu, pergerakan sepulang
sekolah kita tentukan seperti itu ya. Sisanya tinggal berbagi informasi terkait
gosip. Pas banget sepertinya ada pesan masuk tuh."
Seperti yang dikatakan Tenma, saat
melihat layar ponsel, tampak Tsukimi-san, Serizawa-san, dan Ichika menuliskan
informasi terkait gosip tersebut.
Coba kulihat……
Hana-san:
『Sepulang sekolah, menyuruh Nanase Hiyori
membelikan alat kontrasepsi di minimarket』
"……………"
"……………"
"……………"
"……………"
Keheningan seolah waktu terhenti
menyelimuti ruang OSIS.
"E-, ehem. Bungaku, Hiyori…… itu,
hal-hal mesum seperti itu kurasa lebih baik dilakukan setelah kalian
berpacaran."
"B-, Bukan begitu!? Memang sih
sepulang sekolah kami sering mampir ke minimarket berdua! T-, Tapi kami belum
melakukan hal-hal mesum kok!! Iya kan! Bun-kun!?"
"B-, Benar tuh!! Kami tidak
melakukannya kok!!"
『Itu, padahal belum berpacaran…… t-tidak boleh
melakukan hal-hal
yang
mesum tahu!』
Jadi hal yang dikatakan Ichika kemarin
itu maksudnya gosip yang ini!?
Tunggu sebentar, memangnya gosip lainnya
berisi hal seperti apa lagi sih!?
Sampai ada gosip sekelas ini, gosip yang
lain pasti isinya kacau balau dan murni tanpa bukti sama sekali!!
Etto, isi gosip yang lainnya adalah……!?
Saat larut malam pergi kencan ke Donki
berdua saja dengan Serizawa Shizuku.
Saat hari libur membawa Tsukimi Hoshino
masuk ke dalam apartemennya.
Sepulang sekolah, saling berpelukan tanpa
memedulikan pandangan orang di pusat perbelanjaan bersama Nanase Hiyori.
……
…………
………………
………………………Ini mah bukan gosip, tapi
kejahatan membeberkan fakta, kan?
◇
"Wah, imut sekali ya. Fumika-chan♪"
"Uugh…… jangan menggodaku
dong."
Sepulang sekolah, Kirifuji-san kelihatan
entah kenapa sangat menikmati momen melihat Fumika-chan yang kembali bangkit
secara ajaib.
"Kalau begitu, ayo berangkat. Mulai
sekarang, Senpai adalah Tomida Fumika-chan, magang pelaksana OSIS sekaligus
teman masa kecil dan sahabat terbaikku, ya."
"Pengaturannya dibuat-buat sampai
sejauh itu……"
Dengan mata sayu bagaikan ikan mati, aku
diseret oleh Kirifuji-san menuju gedung kelas 3.
Ngomong-ngomong, Hiyori sampai
detik-detik terakhir tetap bersikeras ingin ikut.
Saat sampai di gedung kelas 3, seisi
gedung sedang heboh membicarakan gosip tentangku.
"Kamu jadi orang terkenal dalam arti
yang buruk ya."
Kirifuji-san berbisik pelan di dekat
telingaku.
Di saat yang sama, segerombolan siswi
kelas 3 berjalan mendekat ke arah kami.
"Lho~? Kamu bukannya Kirifuji-san
dari OSIS ya? Padahal masih kelas 1 tapi kenapa bisa ada di gedung kelas
3?"
Kirifuji-san membalas sapaan Senpai yang
tampak gaul dan modis itu dengan senyum sempurnanya.
"Permisi ya. Sebenarnya ada tugas
praktik OSIS di ruang perlengkapan yang ada di gedung ini."
"Ah, begitu ya. Merepotkan juga
ya~"
Gerombolan siswi itu melirik pelan ke
arahku.
"Ini teman masa kecilku,
Fumika-chan. Sebenarnya aku bermaksud memintanya membantuku untuk urusan
pembantu umum OSIS. Karena itulah kali ini aku memintanya mendampingiku
sekalian membantu,"
"Begitu ya~ heh…… berarti dia
kandidat anggota OSIS itu ya," gumam sekelompok siswi itu yang saling
bertukar pandang dengan penuh minat lalu mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong, kalian tahu tidak?
Rumor tentang cowok bernama Tomida Bungaku itu," lanjut mereka.
……Datang juga.
"Ya. Karena rumor itu belum terlalu
menyebar di antara murid kelas 1, aku cuma tahu sedikit sih."
"Beneran deh, kamu harus
berhati-hati. Soalnya dia itu cowok brengsek."
"Betul, betul. Katanya dia pernah
menyeret anak bernama Serizawa ke area dewasa di Donki, terus membujuk anak
bernama Tsukimi ke apartemennya lalu berhubungan sepanjang malam."
Kejam banget.
"Kalau aku mikirnya, dia itu
memanfaatkan fakta berpura-pura menjenguk anak bernama Nanase yang lagi izin
sakit, lalu memakai kesempatan saat kondisinya lemah untuk memaksa berhubungan
seksual!"
Gawat banget ini mah.
"Begitu ya, kalau begitu dia memang
benar-benar cowok brengsek yang tidak punya nurani ya. Ngomong-ngomong, cerita
itu kalian dengar dari siapa?" tanya Kirifuji-san memancing informasi dari
sekelompok siswi tersebut.
"Eeh, siapa ya. Iwata?"
"Aku dengarnya dari
Ritsuko-chan~"
"Kalau aku dari Murakami
kayaknya."
Setelah berhasil mengorek informasi dari
kelompok siswi tersebut, aku merasa waktunya sudah pas lalu menggamit lengan
baju Kirifuji-san pelan.
"Ah, maaf ya. Kami harus segera
pergi. Senpai sekalian, terima kasih banyak atas informasi berharganya."
"Ah, maaf ya sudah menahan
kalian~"
"Tidak apa-apa, kalau begitu kami
permisi dulu."
Kami membungkukkan badan sedikit, lalu
mulai melangkah menyusuri koridor menuju ruang perlengkapan.
Di tengah perjalanan, Kirifuji-san yang
berdiri di sampingku berbicara dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan
kebingungannya.
"Anu, Senpai…… itu, bukannya
perilakumu itu sudah terlalu keterlaluan?"
"Kan aku tidak melakukannya!?"
tegasku.
Dikira aku ini tokoh cowok di buku erotis
NTR apa!!
"Fufu, bercanda kok. Aku cuma
sedikit menggodamu," ucap Kirifuji-san sambil mengulas senyuman jahil dan
terkekeh pelan.
……Yah, walau aku memang pergi ke Donki
sampai larut malam dengan Serizawa-san, Tsukimi-san sudah berkali-kali datang
ke rumahku, dan
aku juga pergi menjenguk Hiyori sih.
Bagaimana ya mengatakannya, karena
informasinya dibumbui berdasarkan fakta yang ada, aku jadi tidak bisa
membantahnya secara total, dan itu bikin posisiku makin serba salah.
Setelah itu, kami kembali disapa oleh
beberapa murid kelas 3 dan mendengar berbagai macam hal soal rumor tersebut
sebelum akhirnya masuk ke ruang perlengkapan.
Untuk sementara, aku mencatat daftar
rumor yang kudengar beserta sumber informasinya di lembaran kertas.
"Fumu, rumornya sudah berkembang
terlalu jauh, dan kandidat dalangnya juga lumayan banyak ya," gumam
Kirifuji-san sambil menopang dagu menatap deretan rumor beserta daftar orang
yang menyebarkannya.
Memang benar, mengidentifikasi dalang
utama yang menyebarkan rumor dari jumlah sebanyak ini rasanya bakal sangat
menguras tenaga.
Penyelidikan ini mungkin bakal mandek
untuk sementara waktu.
"Untuk saat ini, aku akan membagikan
informasi ini ke grup percakapan, jadi mohon tunggu sebentar ya," kata
Kirifuji-san.
"Kalau begitu aku bakal merapikan
perlengkapan dulu ya," sahutku.
"Terima kasih banyak. Sangat
membantu," ucap Kirifuji-san.
Setibanya di ruang perlengkapan, aku
menerima daftar barang dari Kirifuji-san.
"Bagaimana ya mengatakannya, tanpa
perlu repot-repot minta keterangan pun, mereka sendiri yang mendatangi kita
ya," ujarku.
"Memang begitu. Bagaimanapun kita
ini pengurus OSIS. Karena punya pengaruh besar, kita adalah sosok yang sangat
cocok untuk dimanfaatkan menyebarkan rumor," balas Kirifuji-san.
"……………Begitu ya."
Memang benar OSIS yang sekarang berisi
orang-orang seperti Tenma dan Kirifuji-san, sekumpulan orang populer yang
rupawan dan berkemampuan luar biasa. Pengaruh yang mereka miliki tentu sangat
besar.
Setelah sekitar 30 menit melakukan
pekerjaan bersama Kirifuji-san, seorang murid laki-laki melangkah masuk ke
dalam ruangan.
"Kirifuji-chan ada~?"
"Wah, Wakil Ketua, selamat atas
kerja kerasnya," sapa Kirifuji-san.
Seorang murid laki-laki berambut pirang
mencolok, bertubuh tinggi, dan berwajah tampan tak kalah dari model. Tak salah
lagi. Dia adalah sahabat dekat Tenma sekaligus Wakil Ketua OSIS, Kimura Ryota.
"Pekerjaan merapikan perlengkapannya
sudah mau selesai?" tanya Kimura.
"Ya, baru saja selesai.
Ngomong-ngomong jarang sekali ya. Wakil Ketua yang punya hobi membolos bisa
datang ke tempat seperti ini," balas Kirifuji-san.
"Ah, soal kasus rumor cowok ini sih.
Pelakunya kayaknya aku sudah tahu deh."
Eh…… bohong!?
"Baguslah. Berarti kamu membaca
pesan-pesan di grup dengan teliti ya," sahut Kirifuji-san.
"Yah begitu deh. Soalnya kalau
dimintai tolong sama Tenma sampai segitunya, mana mungkin aku tidak melakukan
apa-apa. Setelah membaca gabungan informasi di pesan grup dan mencari
kesamaannya, aku berhasil menyempitkan kandidat dalang penyebar rumornya."
Wakil Ketua Kimura, bukannya kompeten
banget nih?
"Lagian, Kirifuji-chan juga
sebenarnya sudah bisa mereka-reka kan?"
"Ya, tapi karena belum yakin, aku ingin
mencocokkan jawabanku dengan jawaban Wakil Ketua saja kok♪"
Kirifuji Sekretaris juga bukannya terlalu
kompeten nih?
"Benar juga. Bagaimanapun ini masih
sebatas dugaan, jadi mari kita konfirmasi berbagai hal dulu.”
"Betul. Kalau begitu mari kita
kembali ke ruang OSIS dulu."
Apa-apaan nih, pengurus OSIS ini isinya
orang-orang kompeten semua kan.
"B-, benar juga ya. Ayo kita
kembali. Ke ruang OSIS," ujarku mencoba ikut-ikutan bicara bergaya seperti
mereka sambil bersiap keluar dari ruang perlengkapan.
"Kamu ganti baju dulu sana."
"……Baik."
Gara-gara argumen telak dan tak
terbantahkan dari Wakil Ketua Kimura, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
◇
Jam istirahat siang keesokan harinya.
"Nah. Kalau begitu hari ini mari kita berjuang
lagi ya♪"
"……………Baik."
Aku kembali menyamar menjadi perempuan
dan melangkah bersama Kirifuji-san menuju gedung kelas 3.
Hari ini tujuannya bukan untuk
mengumpulkan informasi lagi, melainkan untuk memastikan siapa dalangnya dan
mengamankan bukti.
"Nah, hari ini adalah momen krusial
kita ya. My best soul friend Fumika-chan."
Kenapa statusku malah naik pangkat jadi
soul friend begini……
Sambil meminum obat lambung, aku
menyusuri gedung kelas 3, dan sama seperti kemarin, pandangan dari murid
laki-laki maupun perempuan langsung tertuju ke arah kami.
Tidak, lebih tepatnya tertuju pada
Kirifuji-san. Namun Kirifuji-san sama sekali tidak gemetar atau terusik.
Hebat banget ya, padahal ditatap oleh
orang-orang yang usianya dua tahun lebih tua biasanya bakal bikin merasa agak
risi atau canggung.
Saat aku sedang kagum di dalam hati,
seorang murid laki-laki berjalan mendekat.
"Lho, Kirifuji-san. Ini kan gedung
kelas 3, ada apa?"
…………Umpannya dimakan.
Orang yang mengajak bicara adalah kapten
tim basket yang tampan, Sasahara-senpai.
Dialah dalang (tentatif) yang pernah
menyatakan cinta pada Hiyori di taman tengah lalu ditolak mentah-mentah.
"Aku ada sedikit urusan kerjaan OSIS
yang ingin kutanyakan pada Kaburagi-senpai."
"Ah, begitu ya. Dia kan bagian humas
ya," angguk Sasahara-senpai seolah memaklumi.
"Ngomong-ngomong, hari ini kamu
kelihatan makin cantik saja ya.
Punya keanggunan khas seorang putri
bangsawan."
Seperti yang diharapkan dari
Sasahara-senpai. Merayu lawan bicara sudah seperti pengganti salam sapaan.
Tapi ngomong-ngomong, Kirifuji-san itu
ternyata putri bangsawan ya.
Entah kenapa memang terasa ada aura
seperti itu sih.
"……Terima kasih banyak. Senpai
pandai sekali berbicara ya." balas Kirifuji-san menepis rayuan
Sasahara-senpai. Entah cuma perasaanku saja atau memang ada nada penolakan
dalam kata-katanya.
"Halo," sapa Sasahara-senpai
beralih padaku.
Ooh, kali ini giliran ke sini ya.
"H-, halo (suara falseto)."
"Aku belum pernah melihatmu ya.
Kalau boleh tahu, bisa sebutkan nama dan kontakmu?" tanya Sasahara-senpai
meminta kontak sehalus mengembuskan napas.
"Maaf ya Sasahara-senpai. Anak ini
agak pemalu dengan orang baru."
"Begitu ya. Ah, maaf ya. Aku tidak
bermaksud menakut-nakutimu kok."
Sasahara-senpai sambil membungkukkan
badan meminta maaf.
Ada apa nih? Kok dia mendadak kelihatan
seperti orang baik-baik……?
"…………Ngomong-ngomong, apa kamu tahu?
Soal cowok yang terkenal dalam arti buruk itu."
Tarik kembali ucapanku tadi. Ternyata dia
benar-benar bajingan.
"Etto, dia…… itu siapa ya? (suara
falseto)"
"Namanya Tomida Bungaku, murid kelas
2."
Hebat banget bisa ingat namanya dengan
benar!!
"Kelihatannya dia suka main-main
dengan banyak cewek. Pasti kalau sudah bosan bakal langsung dibuang tanpa
ampun. Sebelum beredar rumor pun aku sebenarnya lumayan akrab dengannya, tapi
dia memang tipe cowok yang seperti itu."
Di pihakku sendiri sama sekali tidak
punya ingatan pernah akrab dengannya sih……
"Bagus juga kalau kamu dan
Kirifuji-san mau bantu menyebarkannya di antara murid kelas 1."
"Benar juga ya. Kalau sekadar
memberi peringatan agar orang-orang di sekitar lebih berhati-hati sih mungkin
bisa kami lakukan. Tapi, kalau sumber rumornya tidak jelas………… sebagai pengurus
OSIS kami tidak bisa ikut campur menyebarkan rumor tak pasti yang belum tentu
kebenarannya."
"……………Begitu ya, memang benar sih.
Kalau sumber informasinya tidak bisa dipercaya sampai batas tertentu, pengurus
OSIS tentu tidak bisa diajak kerja sama ya. Ung. Soal itu sih kamu tenang saja.
Soalnya yang menyebarkan rumor ini adalah aku sendiri."
Sasahara-senpai, sudah dipastikan sebagai
dalangnya.
"Apakah hal itu benar? Bukannya
Senpai sedang pasang badan melindungi seseorang?"
"Ah, ini benar-benar aku kok. Atau
kamu merasa aku ini tidak layak untuk dipercaya?"
Banget!!
"Aku mengerti. Akan kucoba beri
peringatan kepada murid kelas 1…… khususnya para siswi agar lebih
berhati-hati."
Kirifuji-san membalas dengan senyuman
ramah nan sempurna seperti biasanya.
"Terima kasih. Sangat
membantu."
Kami membungkuk kecil, lalu untuk
sementara meninggalkan tempat itu.
"Ternyata dia gampang banget ngaku
ya. Bagaimana ya mengatakannya, bukannya orang-orang seperti ini biasanya tidak
mau ketahuan kalau dialah sumbernya?"
"Ya, pada umumnya memang seperti
yang senpai katakan. Karena tidak mau bertanggung jawab dan tidak ingin merusak
hubungan antar manusia, psikologi orang-orang akan mengarah ke sana. Tapi,
Sasahara-senpai itu kan orang populer di sekolah. Karena itulah dia berpikir
meskipun dibenci sedikit pun posisinya tidak akan bergoyang."
"Maksudnya dia punya rasa percaya
diri berlebih sebagai kasta tertinggi?"
"Begitulah. Rasa tidak tersentuh
khas kasta tertinggi. Bisa dibilang begitu."
Orang-orang yang secara sosial
terlindungi seperti
Sasahara-senpai—kapten tim basket,
ganteng, populer, dan berada di kasta atas sekolah—memang sangat gampang
terjerumus ke dalam psikologi semacam itu.
Lagipula, dari sudut pandang
Sasahara-senpai, dia pasti menginginkan kerja sama dari pengurus OSIS yang
punya popularitas dan pengaruh lebih tinggi darinya.
Kirifuji-san pasti memancing informasi
dari Sasahara-senpai dengan memperhitungkan hal tersebut.
"Nah, karena bukti sudah didapatkan,
aku akan kembali ke ruang OSIS sebentar. Kemungkinan Sasahara-senpai bakal
dipanggil sepulang sekolah nanti, jadi tolong luangkan waktumu ya."
"Ung. Aku paham."
Yah, padahal sepulang sekolah aku kan
selalu senggang sih!
Tentu saja hal menyedihkan seperti itu
tidak mungkin kuucapkan dan cuma kupendam di lubuk hati yang terdalam.
◇
"Ternyata yang menyebarkan rumor
tentang Bun-kun itu Sasahara-senpai ya……"
Hiyori mengangguk seolah mengerti
semuanya.
Sepulang sekolah, aku dan Hiyori sedang
menunggu di ruang OSIS sambil menikmati teh seduhan Kirifuji-san.
Saat ini, Tenma dan Kimura-kun sedang
pergi memanggil Sasahara-senpai.
Aku juga sempat mengajak Tsukimi-san,
Serizawa-san, dan Ichika, tapi mereka bertiga kelihatannya sedang ada urusan
jadi tidak bisa datang.
Yah, karena mendadak juga jadi mau
bagaimana lagi.
Sesuai rencana, seharusnya sebentar lagi.
Tepat saat aku memeriksa
waktu, pintu ruang OSIS mendadak terbuka.
"Bungaku, selamat atas kerja
kerasnya. Maaf ya sudah menyita waktumu."
Di sana berdiri Tenma dan Kimura-kun.
Serta sang pelaku, kapten tim basket Sasahara-senpai.
Awalnya Sasahara-senpai memasang raut
wajah bingung tak paham situasi. Namun begitu menyadarinya, ekspresinya
pelan-pelan makin mengeras.
Tampaknya dia sudah paham kalau para
anggota OSIS berdiri di pihakku.
"Etto, kenapa aku dipanggil ke ruang
OSIS ya? Aku kan sebenarnya lagi ada kegiatan klub?"
Sasahara-senpai berucap dengan nada
ringan seolah berpura-pura bodoh.
"Yang menyebarkan rumor aneh tentang
Bungaku itu Sasahara-senpai, kan?"
Mendengar pertanyaan yang terlalu
blak-blakan dari Tenma, Sasahara-senpai terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Ya-, masa sih……"
"Beralasan pun tidak ada gunanya,
Sasahara-senpai. Soalnya cerita
rumor tentang Tomida-senpai yang Anda
katakan padaku tadi sudah kurekam dengan benar."
Kirifuji-san tersenyum manis sambil
menunjukkan ponsel yang berisi data rekaman.
Tepat saat itu.
Pandangan mata Sasahara-senpai sempat
goyah sejenak.
"Aku sangat ahli dalam hal beginian♪"
Seolah membaca apa yang ingin dikatakan
Sasahara-senpai lewat ekspresi wajahnya, Kirifuji-san berucap dengan raut
sedikit bangga.
Sasahara-senpai tidak mengatakan apa-apa.
Lebih tepatnya tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa berdiri mematung
dalam kebingungan.
Sebab dalam situasi seperti ini,
keunggulan kasta milik Sasahara-senpai sama sekali tidak berguna.
Kombo tiga serangkai: korban + OSIS +
bukti bukanlah sesuatu yang bisa dilawan
secara terang-terangan, seberapa populernya dia atau seberapa hebat posisinya
sebagai kapten tim olahraga.
"………………Memang benar. Akulah yang
menyebarkan rumor itu."
Setelah keheningan panjang,
Sasahara-senpai menatapku dengan senyuman ejekan pada diri sendiri seolah sudah
pasrah.
"Tidak disangka OSIS malah berpihak
pada orang sepertimu ya…… Menyusul Hiyori, sebenarnya dengan cara apa kamu
mengambil hati mereka?"
Sasahara-senpai berucap sambil
melayangkan tatapan sinis dengan pipi yang sedikit kedutan.
"Sasahara-senpai. Bungaku itu adalah
sosok penolong yang sudah menyatukan kembali 'orang yang sangat kucintai' dan
'sahabatku yang berharga'. Tolong hentikan cara bicaramu yang seperti
itu."
Tenma yang bahkan di karya aslinya tidak
pernah marah sama sekali, kini beneran marah. Meski pembawaannya tenang, tapi
tekanannya nyata.
"Kenapa kamu melakukan hal seperti
ini?"
"Mungkin untuk melampiaskan
kekesalan karena sudah ditolak
mentah-mentah oleh Nanase-senpai…… kali
ya."
Saat Kirifuji-san menjawab pertanyaan
Hiyori, Sasahara-senpai hanya bungkam tanpa kata.
Tampaknya tebakan itu tepat sasaran.
"Uwwah…… kerdil banget jadi
cowok."
Kimura-kun melontarkan kata-kata itu
dengan ekspresi wajah yang
terang-terangan menunjukkan rasa jijik.
"……Yah, aku minta maaf ya,
Tomida-kun. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Aku berjanji."
Permintaan maaf sebatas bibir tanpa
sedikit pun rasa tulus dari dalam hati.
Menyadari hal itu, Tenma mengambil satu
langkah mendekat dan memberikan teguran keras kepada Sasahara-senpai.
"Tolong kerahkan usahamu untuk
meredakan rumor tentang Bungaku ya. Kami akan terus mengawasimu."
"Un!! Aa…… aku mengerti."
Gemetar ketakutan di hadapan tekanan
Tenma, Sasahara-senpai meninggalkan ruang OSIS seolah-olah sedang melarikan
diri.
Punggungnya kelihatan jauh lebih kecil
dari biasanya.
"Nah, karena pelakunya sudah ketemu,
apa dengan begini masalahnya sudah selesai?"
"Begitulah. Mulai sekarang rumornya
bakal mereda sedikit demi sedikit. Tapi tidak akan bisa mereda secara total
sih."
Seperti yang dikatakan Kirifuji-san,
rumor yang sudah terlanjur menyebar luas hampir mustahil untuk menghilang
sepenuhnya. Bukan tidak mungkin hal ini bakal terus diungkit kembali setiap
kali ada kesempatan di masa depan.
Meski begitu, fakta bahwa satu tahap
masalah ini sudah selesai tetaplah benar.
"Semuanya, terima kasih banyak sudah
membantuku."
Aku membungkukkan badan kepada semuanya.
Semua orang memberikan balasan yang
berbeda-beda.
Ada yang membalas dengan tulus
mengucapkan sama-sama, ada juga yang memberikan balasan tsundere maksimal
dengan berujar bukan berarti melakukan ini demi diriku.
"Mumpung sudah begini, bagaimana
kalau kita mengadakan acara perayaan kecil-kecilan? Kebetulan aku punya camilan
istimewa lho."
"Ah, boleh juga tuh!"
Hiyori langsung menyambar usulan dari
Kirifuji-san.
Bagaimana nasib rumor ini ke depannya
memang masih bikin penasaran, rasa cemas dan gelisah pun masih tersisa.
Meskipun begitu, daripada memikirkan hal
itu, sekarang mari kita alihkan pandangan pada momen menyenangkan yang ada di
depan mata.
Melihat mereka semua, itulah yang
kupikirkan.
◇
"……Sip, dengan begini sepertinya
sudah selesai semua ya."
"Iya ya."
Sepulang sekolah, aku dan Bun-kun
menyelesaikan berbagai tugas kecil yang diminta guru sebagai ketua kelas.
"Entah bagaimana mengatakannya,
rasanya jadi ketua kelas bareng Bun-kun sudah makin terbiasa, ya."
"Memang sih, padahal belum berlalu
begitu lama."
"Kan? Rasanya kehebatan duet kita
ini makin terasah saja!"
Sambil membicarakan hal tak penting
seperti itu, kami pun menyelesaikan persiapan untuk pulang.
Sudah 1 minggu berlalu sejak terungkapnya
Sasahara-senpai sebagai dalang yang menyebarkan gosip.
Topik seputar gosip tersebut pelan-pelan
mulai mereda. Meski masih banyak orang yang melayangkan tatapan tajam bagaikan
menusuk ke arah Bun-kun sih.
Yah, karena orangnya sendiri kelihatan
tidak begitu ambil pusing, aku rasa waktu yang bakal menyelesaikan semuanya.
"Ooh, Bungaku dan Hiyori. Kebetulan
sekali ya."
Tenma, Kimura-kun, dan Kirifuji-san……
kami berpapasan dengan para pengurus OSIS. Kelihatannya mereka bertiga juga
baru selesai menyelesaikan urusan OSIS dan mau pulang.
Entah bagaimana, kami berlima berjalan
menuju rak sepatu bersama, mengganti sepatu, lalu melangkah keluar gerbang
sekolah.
"Nanase-senpai."
Seketika setelah keluar dari sekolah,
Kirifuji-san yang berjalan sambil memperhatikan Bun-kun di depan menyapaku.
"……Di antara murid kelas 2,
bagaimana perkembangan rumor tentang Tomida-senpai?"
"Uumm. Kalau dibandingkan saat
puncaknya sih sudah mendingan. Kayaknya. Soalnya masih banyak orang yang bicara
buruk soal
Bun-kun."
Yah, meredanya gosip memang memakan
waktu, jadi mau bagaimana lagi.
"Begitu ya…… Ada satu hal yang ingin
kusampaikan kepada Nanase-senpai."
Eh? Kepadaku?
"Tampaknya, cerita bahwa
Sasahara-senpai menyebarkan rumor buruk demi menjatuhkan Tomida-senpai sudah
menyebar luas di dalam sekolah."
"Eh?"
"Asal muasalnya kemungkinan dari
pengikut Sasahara-senpai yang sebelumnya ikut membantu menyebarkan rumor
Tomida-senpai."
"Kenapa bisa jadi begitu?"
"Aku rasa mereka cuci tangan dan
membuang Sasahara-senpai. Banyak murid yang melihat Sasahara-senpai dipanggil
oleh Ketua dan Wakil Ketua saat kegiatan klub. Di mata para pengikutnya, OSIS
tampak sudah bertindak dan bakal ada pertanda sanksi. Sasahara-senpai
kelihatannya punya banyak sekutu, padahal kenyataannya tidak. Begitulah
kira-kira."
"Maksudmu, karena tidak mau ikut
terseret, mereka menimpakan semua kesalahannya kepada Sasahara-senpai?"
Mendengar kata-kataku, Kirifuji-san hanya
mengangguk.
"Kenapa kamu memberitahuku?"
"Karena dalam masalah ini,
Nanase-senpai justru lebih mengkhawatirkan Tomida-senpai daripada dirinya
sendiri."
"Aku sih bukannya terlalu
memperhatikan, cuma cemas saja……"
Soalnya Bun-kun itu punya sisi yang masa
bodoh dengan dirinya sendiri……
"……Nanase-senpai, bagian mana dari
Tomida-senpai yang membuatmu tertarik padanya?"
"Uweh!? Kok mendadak begitu!?"
"Karena aku sendiri lumayan tertarik
pada Tomida-senpai, jadi penasaran."
Eh, eh, eh. Kirifuji-san, menaruh minat
pada Bun-kun? Memang sih dia sering mengajak Bun-kun bicara, dan rasanya jarak
mereka agak dekat, tapi sebenarnya kenapa?
"E, etto……"
Bingung mencari kata-kata yang pas untuk
diucapkan, Kirifuji-san tersenyum padaku dengan ekspresi yang terkesan
bijaksana.
"Tidak mau memberitahuku, ya?"
"He!? Bukan berarti tidak
mau……"
Entah kenapa, kata-kata selanjutnya
tersangkut di tenggorokan.
"Tidak apa-apa kok. Lagipula,
sesuatu yang sangat kita sukai memang wajar kalau ingin kita miliki
sendiri.."
"A, bukan begitu"
"Uwah, kolam ini kotor banget."
Terseret oleh ucapan Kimura-kun,
perhatian kami beralih ke arah kolam.
Seperti yang dikatakan Kimura-kun, Kolam
itu begitu kotor sampai sampah mengapung di permukaannya. Padahal seharusnya
tidak terlalu dalam, tetapi dasarnya bahkan tidak terlihat.
"Mungkin karena pengelolaannya tidak
menjangkau sampai ke sini. Walau cuma kebetulan lewat, tapi ini bisa jadi
kegiatan pembersihan lingkungan, dan sepertinya bagus juga kalau OSIS
mengumpulkan sukarelawan untuk membersihkannya."
"Ugeeh, kolam comberan begini mah
biarpun kegiatan OSIS aku ogah masuk. Bangkai tikus saja sampai mengapung
tuh."
Seperti yang dibilang Kimura-kun, aku
jadi cemas apa tidak apa-apa
kalau masuk ke sana. Maksudku, takut kena
penyakit atau semacamnya.
"……Lho, bukannya itu
Sasahara-senpai?"
Di ujung dermaga kayu yang ditunjuk
Tenma, tampak sosok Sasahara-senpai yang masuk ke dalam kolam comberan dan
sedang mencari sesuatu dengan setengah mati.
Lalu, beberapa murid yang kebetulan lewat
seperti kami tampak mengambil foto Sasahara-senpai menggunakan ponsel sambil
menertawakannya.
"Lagian kenapa sih anak itu malah
masuk ke kolam comberan?"
"Ada barang yang jatuh kali?
Setengah mati banget nyarinya, kocak dah."
"Ahahah, dasar Dobuhara. Foto ini
sebarin ke media sosial lucu kali ya?"
Sasahara-senpai dijadikan bahan tertawaan
oleh semua orang.
Pemandangan ini rasanya mencerminkan
posisi Sasahara-senpai yang sekarang.
"Gimana ya bilangnya…… benar-benar
karma."
Melihat Sasahara-senpai, Kimura-kun
bergumam pelan.
Jujur saja, melihatnya membuat perasaanku
sedikit kurang nyaman, dan di saat yang lain berniat pergi meninggalkan tempat
itu,
"Maaf. Nanase-san, boleh kutitipkan
tas?"
"He?"
Saat berbalik dengan kaget, Bun-kun
sedang melepas blazernya dan menggulung bagian bawah bajunya sambil menatap
Sasahara-senpai.
"Hah? Tomida…… kamu jangan-jangan
berniat menolong orang seperti Sasahara?"
"Ung. Habisnya, dia nyarinya sampai
setengah mati begitu. Pasti itu barang yang sangat berharga."
"Gila ya, Sasahara itu kan dalang
yang menyebarkan rumor buruk tentangmu? Biarkan saja orang seperti itu."
"Hal itu kan tidak ada hubungannya
dengan yang sekarang."
Menanggapi kata-kata Kimura-kun, kami
sampai dibuat tercengang oleh ucapan Bun-kun yang diutarakannya seolah bukan
masalah besar.
"Nanase-san. Tasnya tolong ya."
"E, a, u, ung."
"Kalau begitu, aku pergi dulu!"
Meninggalkan kami yang terpaku
tercengang, Bun-kun berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat Sasahara-senpai.
"T-, tunggu sebentar Bun-kun!?"
Melihat Bun-kun masuk ke dalam kolam
comberan tanpa ragu, kami
pun bergegas menuju ujung dermaga kayu.
"Sasahara-senpai, aku bantu. Lagi
mencari apa?"
Mendengar kata-kata Bun-kun,
Sasahara-senpai melayangkan tatapan mata seolah tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya ke arah Bun-kun.
"Kenapa…… kamu? Orang
sepertiku……?"
Suara Sasahara-senpai terlontar tanpa
sengaja.
"Karena Sasahara-senpai kelihatannya
bersungguh-sungguh."
Mendengar jawaban jujur nan lugas dari
Bun-kun, Sasahara-senpai terdiam sesaat sebelum menjawab.
"…………A, tidak, kamu tahu sendiri
kan. Murid-murid di sekitar lagi merekam situasi sekarang pakai HP. Kalau
tersebar, kamu juga bakal dijadikan bahan tertawaan bareng aku tahu?"
Mendengar kata-kata Sasahara-senpai,
Bun-kun melirik pelan ke arah para murid yang sedang merekam dengan ponsel.
"Benar juga ya. Kalau begitu waktu
itu mari kita ditertawakan bersama."
Senyuman Bun-kun yang begitu lembut
sampai rasanya ingin membuatku menangis.
"…………Cincin. Jatuh. Ini peninggalan
Ibu. Sepertinya jatuh di sekitar sini."
Sasahara-senpai berucap sambil
mengernyitkan wajahnya yang hendak menangis.
"Aku mengerti. Tidak perlu memasang
wajah seperti itu, kamu tenang saja. Aku pasti bakal menemukannya!"
Sambil berkata begitu, Bun-kun mencari
cincin itu dengan wajah yang belepotan lumpur.
"Tenma, ada apa sih sama cowok ini.
Orang sebaik ini kok bisa sampai kelewatan begini……"
"Ahaha, memang orang yang terlalu
baik ya. Tapi aku nggak bisa membiarkan orang sebaik itu sendirian. Aku memang
sangat menyukainya. Ryota juga begitu, kan?"
"Hah? Hei! Tenma!?"
Sama seperti Bun-kun, Tenma melepas
sepatunya, melipat lengan bajunya, lalu masuk ke dalam kolam comberan
menghampiri Bun-kun.
"…………Ah, sialan, beneran bodoh
banget sih mereka itu!"
Meskipun ngomong begitu, Kimura-kun
melepas tasnya lalu ikut masuk ke dalam kolam comberan.
"Bun-kun, pokoknya semua barang yang
kamu temukan taruh di atas dermaga kayu! Biar aku yang periksa!"
"Aku juga bakal membantu."
"Nanase-san, Kirifuji-san. Terima
kasih ya."
Aku menatap lekat wajah Bun-kun.
Profil wajahnya yang belepotan lumpur itu
entah kenapa terlihat begitu keren. Dan yang paling utama, melihat ekspresi
bersungguh-sungguh dari Bun-kun membuatku menyadarinya.
Benar juga ya. Bun-kun itu selalu
berusaha bersungguh-sungguh, begitu jujur dan lurus hingga menyilaukan, selalu
mengulurkan tangan kapan saja, dan bersikap sangat perhatian.
Aku ini, soal Bun-kun yang seperti itu——
"Nanase-san? Ada apa?"
"Tidak. Bukan apa-apa. Beneran bukan
apa-apa kok."
Aku tersenyum seolah ingin mengelabui
Bun-kun yang memasang raut wajah bingung.
Setelah itu, kami terus mencari sampai
hari hampir benar-benar gelap. Setelah terus mencarinya, barang Sasahara-senpai
yang hilang akhirnya berhasil ditemukan.
Bun-kun sama sekali tidak menanyakan
alasan kenapa Sasahara-senpai sampai menjatuhkan cincin itu. Bagi Bun-kun,
mungkin hal semacam itu memang bukan hal yang penting untuk dipersoalkan.
"Tomida-kun, terima kasih ya……
beneran…… maafkan aku."
Sasahara-senpai menyampaikan ucapan
terima kasih dan permintaan maafnya kepada Bun-kun dari lubuk hatinya.
"Eh? Aaa…… soal kotor kena lumpur
sih tidak usah terlalu dipikirkan."
"Bukan, bukan cuma soal itu
saja……"
"Eh? Ah, kalau begitu, apa karena
sudah selarut ini?"
"Bukan, bukan karena itu
juga……!"
"Tidak usah sungkan begitu kali. Ah,
benar juga. Kalau begitu, traktir kami semua kroket saja deh."
"Bukan, beda tahu. Maksudku bukan ke
arah sana!! Ah, tidak, kalau traktir kroket sih bakal kutraktir tapi……!!"
Entah kenapa, percakapan antara Bun-kun
dan Sasahara-senpai sama sekali tidak nyambung.
"Tenma. Apaan nih. Interaksi model
begini."
"……Entahlah? Tapi ya bukannya bagus
kalau mereka jadi makin akrab?"
"Etto, bakal…… jadi seperti itu kali
ya?"
"……Fufu, hal yang seperti itu.
Kelihatannya ya."
Melihat interaksi Bun-kun dan
Sasahara-senpai yang mirip komedi manzai, kami semua tertawa serba salah.
◇
"……Ah, kroket yang ini. Enak sekali
ya."
"Beneran? Soalnya ini rekomendasiku,
syukurlah kalau cocok dengan selera Kirifuji-san."
Melihat diriku yang menyantap kroket
dengan nikmat, Bungaku-senpai tersenyum senang.
Kami sedang berjalan di jalur pulang
sambil menyantap kroket yang ditraktir oleh Sasahara-senpai.
Di saat semua orang sedang menikmati
makanan dengan penuh kehangatan, hanya Wakil Ketua Kimura seorang yang memasang
pandangan mata hampa.
Mungkin karena tidak tega melihat Wakil
Ketua Kimura yang seperti itu, Ketua Shindou menepuk bahu Wakil Ketua Kimura
pelan.
"Ada apa? Ryota."
"Apanya yang ‘ada apa’!! Badanku
belepotan lumpur! Bau lagi! Sial banget! Beneran, norak bang——"
"Tidak norak kok."
Tidak seperti biasanya, Bungaku-senpai
membantah ucapan Wakil Ketua Kimura dengan nada bicara yang jelas dan mantap.
Mendengar hal itu dari Bungaku-senpai,
Wakil Ketua Kimura pun mengernyitkan alisnya.
"Hah? Penampilan penuh lumpur
begini. Dilihat siapa pun dari sudut mana pun jelas-jelas kelihatan jelek dan
norak kan."
"Tidak seperti itu kok. Waktu itu
aku sangat senang karena kamu mau ikut membantu mencari cincinnya bersama-sama,
dan aku merasa Kimura-kun yang seperti itu kelihatan keren. Makanya, aku tidak
bakal membiarkan siapa pun mengatakan kamu kelihatan jelek."
Bungaku-senpai mengatakannya dengan
begitu kuat dan tegas tanpa ragu.
"Ah……!? H-hah!? I-itu…… b-bukannya
begitu!! Dipuji cowok mah sama sekali tidak bikin senang tahu!"
"Oho, ada apa nih Ryota.
Jarang-jarang kamu sampai salah tingkah begini?"
"B-bukan!! Bukan begitu!! Rasanya
ritmeku jadi berantakan, terus bikin risi geli gimana gitu…… ah, elah, udah
deh!!"
Sambil membiarkan warna merah merambat
sampai ke ujung telinganya, Wakil Ketua Kimura mengalihkan pandangan lalu
melahap kroketnya dengan asal-asalan.
Fufu, saya paham kok. Wakil Ketua Kimura.
Biasanya yang dipuji kan cuma penampilan luar dan kemampuan Anda saja, tapi
saat ini karena diri Anda sendiri yang dipuji, jadinya merasa malu kan?
Lalu yang paling utama dari semuanya,
rasanya membahagiakan.
Karena rasanya seolah diri sendiri
benar-benar diperhatikan dengan mantap.
……Sedikit, aku merasa iri pada Wakil
Ketua Kimura ya.
"…………"
Nanase-senpai hanya menatap interaksi
antara Bungaku-senpai dan Wakil Ketua Kimura dalam diam.
Raut wajahnya tampak menyimpan sedikit
bayangan muram……
"……Nanase-senpai?"
"Uweh!? A-ada apa ya?"
"Tidak, karena Senpai memperhatikan
Wakil Ketua dan yang lainnya dengan ekspresi yang terkesan cukup rumit."
"Ahaha, bukan apa-apa kok, tidak ada
apa-apa……"
Nanase-senpai berucap sambil menggenggam
erat tali tas sekolahnya.
……Fumu, untuk saat ini sepertinya lebih
baik tidak mendesaknya lebih jauh dari ini ya.
◇
Di saat semua orang melangkah menuju
jalur pulang masing-masing, pada akhirnya tersisa aku dan Bungaku-senpai berdua
saja.
Aku menatap wajah Bungaku-senpai dari
samping.
Gawat.
Padahal harusnya ada banyak hal yang
ingin kutanyakan dan kubicarakan dengan Bungaku-senpai…………
Sosoknya saat melompat masuk ke kolam
comberan tanpa ragu waktu itu, sosoknya yang terus mencari dengan sekuat tenaga
meski wajahnya tersiram lumpur, serta sorot matanya yang begitu serius itu,
benar-benar tidak bisa hilang dari kepala. Kata-kata yang ingin kuucapkan entah
kenapa malah tersangkut di dasar tenggorokan.
"………………"
"………………"
Keheningan terus berlanjut.
A-aneh ya. Aku tidak bisa memancing
pembicaraan dengan lancar seperti biasanya.
Saat aku sedang dibuat bingung oleh
diriku sendiri yang berbeda dari biasanya, Bungaku-senpai justru yang duluan
memancing pembicaraan.
"Kirifuji-san. Terima kasih ya untuk
berbagai hal hari ini."
"He, a, i-iya…………"
Bukan, bukannya 'iya' dong. Harus
dipanjangkan pembicaraannya dari situ. Sedang apa kamu Kirifuji Sena.
Setelah berdehem pelan sejenak, aku
menatap Bungaku-senpai.
"Tapi ya…… melompat masuk ke kolam
comberan begitu benar-benar membuatku terkejut. Bagaimanapun juga, kalau
terlalu baik sampai sebegininya bukannya agak kelewatan ya……"
Aduh gawat. Padahal aku tidak berniat
mengucapkan hal dengan nada seperti itu……
Kata-kata yang terlontar justru
berbanding terbalik dengan kalimat yang sudah kususun di dalam kepala, membuat
keringat dingin bercucuran.
Menanggapi diriku yang seperti itu,
Bungaku-senpai hanya tersenyum serba salah.
"Ahaha…… beneran maaf ya. Ah, benar
juga. Yah hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih, aku mau belikan minuman di
sana sebentar. Teh tidak apa-apa?"
Senpaimenunjuk mesin penjual otomatis
yang ada tepat di dekat situ.
"Ah, tidak…… aku mengatakannya bukan
dengan niat seperti itu……!"
"Tidak apa-apa, aku paham kok. Tapi
ya, anggap saja ini demi menjaga harga diri senpaimu lalu terima saja
traktirannya ya."
"……Kalau Senpai mengatakannya sampai
sejauh itu. Mumpung sudah ditawarkan, mohon bantuannya ya."
"Ung, paham."
……Ah, gawat. Aku lupa memberitahunya
kalau aku mau yang tanpa gula (unsweetened).
Jujur saja, selain teh murni tanpa susu,
lemon, maupun gula, aku tidak begitu menyukainya sih…… tapi ya mau bagaimana
lagi.
Sambil menatap Bungaku-senpai yang
melangkah menuju mesin penjual otomatis, aku pun berpikir.
Jujur saja, aku sudah menaruh minat pada
Bungaku-senpai bahkan sebelum kami saling bertemu.
Ketua Shindou dan Nanase-senpai yang
merupakan salah satu sosok paling populer di sekolah.
Ayabe-senpai, Tsukimi-senpai, dan
Serizawa-senpai yang selalu masuk jajaran siswa berprestasi.
Semua orang itu memberikan perhatian
padanya.
Khususnya Nanase-senpai…… terlihat jelas
ada perasaan yang menyerupai obsesi terhadapnya.
Alasannya baru saja sedikit kupahami
tadi.
Yang ingin kuketahui adalah hal setelah
itu, satu langkah lebih dalam menyusup ke sana……
"Maaf membuatmu menunggu. Etto,
tidak apa-apa kan yang tanpa gula?"
"Eh?"
Yang disodorkan oleh Bungaku-senpai
adalah teh tanpa gula.
K-kenapa bisa……?
"Lho, waktu kamu minum teh di ruang
OSIS, kamu kan tidak memasukkan gula maupun susu, makanya kupikir lebih baik
yang tanpa gula saja, apa salah ya?"
"……Tidak, terima kasih banyak ya.
Fufu."
"Eh, k-kenapa?"
"Bukan apa-apa, bagi Senpai hal
seperti ini pasti cuma sekadar hal sepele yang tidak berarti ya."
Bungaku-senpai meminum teh susunya
sedikit sambil memasang raut wajah bingung.
Sambil menatap Senpai dengan senyum
hangat, aku meminum teh tanpa gula.
Kalau sekarang, rasanya hal-hal yang
benar-benar ingin kutanyakan, bakal bisa kuucapkan dengan benar.
Aku menarik napas perlahan, lalu menatap
Bungaku-senpai.
"……Apakah Senpai pernah dimanfaatkan
gara-gara kebaikan hati yang berlebihan itu? Apakah sama sekali tidak pernah
merasa muak?"
Inilah hal yang sebenarnya ingin
kutanyakan.
Menanggapi pertanyaanku, Bungaku-senpai
sempat membelalakkan matanya karena terkejut untuk sejenak, namun di saat
berikutnya dia mengangguk dengan sorot mata yang terkesan cukup serius.
"Benar juga ya. Seperti yang
dikatakan Kirifuji-san, dimanfaatkan atau disakiti itu sudah sering banget
terjadi. Aku selalu diperlakukan sebagai 'orang baik' yang serbaguna dan
menguntungkan bagi semua orang."
Sorot mata Bungaku-senpai saat mengatakan
itu adalah sorot mata seseorang yang sama-sama pernah dimanfaatkan sepertiku.
Aku sendiri selama ini juga dimanfaatkan
orang lain demi kepentingan mereka, entah dari penampilan, kemampuan, maupun
latar belakang keluargaku.
Alasanku masuk ke OSIS pun karena aku
sudah benar-benar muak dari dasar hatiku saat melihat orang-orang saling
berebut memperebutkan kemampuanku, dan ingin segera mengakhirinya.
"Tapi, aku ingin percaya kalau bukan
cuma sebatas itu. Pasti akan ada seseorang yang benar-benar melihatku. Aku
ingin percaya seperti itu."
Entah kenapa, sorot mata Bungaku-senpai
saat mengatakan itu terasa begitu memikat.
Pasti dia sudah sering diperlakukan
seenaknya demi keuntungan banyak orang, namun Bungaku-senpai yang tetap
bersikeras mempertahankan kebaikan hatinya itu terasa sangat luar biasa bagiku.
"Lagipula, hari ini Kirifuji-san dan
yang lainnya benar-benar memperhatikanku, kan? Itu saja sudah membuatku cukup
bahagia."
"Hal itu tuh……"
"Makanya Kirifuji-san. Terima kasih
ya sudah memperhatikan diriku."
Melihat senyuman dan mendengar nada suara
lembut dari
Bungaku-senpai saat mengucapkan hal itu,
napasku seketika terhenti.
"……Bungaku-senpai."
"Eh, lho? Panggilannya……"
"Maaf ya, tapi bisakah aku minta teh
susunya satu teguk?"
"Eh? Sudah kuminum kok, tidak
apa-apa nih?"
"Iya, sebagai gantinya, meskipun
tidak seberapa, aku akan memberikan tehku satu teguk."
"Eh, tidak…… tidak usah tidak
apa-apa kok!"
"Begitu ya…… ciuman tidak langsung
denganku itu rasanya menjijikkan…… ya. Maafkan aku."
Sambil menerima teh susu milik Bungaku-senpai, aku berpura-pura bersedih dan terisak pelan.
"EH!? B-bukan begitu maksudku……!! Bukan berarti aku tidak mau
ciuman tidak langsung……!!"
"Fufu……"
Sambil memperhatikan Bungaku-senpai yang panik tak karuan, aku menempelkan bibirku ke bekas tegukan teh susu miliknya.
Seperti dugaanku, rasanya manis.
Meskipun begitu. Sekali-kali menikmati yang manis sepertinya tidak
buruk juga.
◇
"……Fuuu."
Seperti boneka yang talinya terputus, aku langsung ambruk ke atas tempat tidur.
Makan malam, mandi, hingga perawatan rambut dan kulit semuanya sudah selesai, sisanya tinggal tidur.
"……Bungaku-senpai."
Yang mendadak melintas di dalam benakku adalah wajah Bungaku-senpai.
"………………"
Memasang earphone, aku mulai mengoperasikan ponselku.
Pik.
『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』
"Bungaku-senpai……"
Pik.
『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』
"…………………………Haaaah~~~ sukanyaaa."
Aku memeluk erat-erat guling yang ada di atas tempat tidur.
"Hoaaaaaahhhh!!! Senpai!! Bungaku-senpai!! Suka! Aku suka banget sama Bungaku-senpai!! Ekspresi seriusnya waktu itu!!
Sorot mata itu!! Sikapnya yang terus mempertahankan kebaikan hatinya!! Suuuuper keren!! Nada suaranya yang lembut juga bikin meleleh! Terus, terus, fakta kalau dia memperhatikan diriku dengan benar itu juga bikin aku sukaaa banget!! Tapi tapi tapi, memang senyuman lembutnya itu yang paling nomor satu!! Sifatnya yang terlalu baik hati itu juga bikin aku nggak bisa membiarkannya begitu saja!! Haaaaah~~~~ kalau begini, aku yang harus melindunginya dong!! Duh~!? Kenapa sih!? Hah!? Yang begitu kan curang namanya!! Bikin mau mengamuk tahu tidak!? Terlalu indah dan berharga!! Beneran cinta mati tahu tidak!? Au-au-au-au!! Bungaku-shenpaaiii~! Suka suka sukaaa~~~♡ Cinta banget~~~♡"
Pik.
『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』
Oke, tenangkan diri dulu.
"Ah~ kenapa ya suara Bungaku-senpai ini bisa bikin tenang banget begini…… Ini pasti efek 1/f fluctuation, kan. Ung. Pasti begitu. Sudah pasti begitu…… apa kuputar ulang terus-menerus saja ya sambil tidur……"
Mengatur panggilannya ke mode loop, di dalam kesadaran yang mulai samar-samar menjelang tidur, aku pun berpikir.
"Variasi…… suara Bungaku-senpai…… harus…… diperbanyak lagi……………"



Post a Comment