NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Chapter 4

Bab 4: 「Rumor Buruk」


Begitu masuk kelas, suasana langsung bergemuruh.

 

Eh, ada apa nih?

 

Saat aku sedang merasa aneh, suara bisik-bisik terdengar dari berbagai penjuru.

 

Serizawa-san tidak kelihatan di mana-mana, sementara Tsukimi-san entah kenapa sedang diberondong pertanyaan oleh teman-teman sekelas.

 

Saat aku berjalan melewati dekat Tsukimi-san, meski cuma terpotong-potong, percakapan mereka dapat tertangkap oleh telingaku.

 

『Memanfaatkan kelemahan saat ditolak, lalu mempermainkan Hiyori-chan』

 

Sebenarnya siapa yang mereka maksud? Akhir-akhir ini aku memang selalu bersama Hiyori sih, tapi orang yang seperti itu sama sekali tidak pernah kulihat.

 

Tepat saat aku duduk di kursi seperti biasanya, percakapan mereka terhenti sejenak, dan pandangan seisi kelas langsung tertuju padaku.

 

Ah, ini, jangan-jangan mereka sedang membicarakan diriku ya.

Tepat di saat aku menyadari hal itu, pesan dari Serizawa-san masuk ke ponselku.

 

Serizawa-san: 『Bun-bun, situasinya jadi gawat nih』

 

『Serizawa-san, sekarang kamu di mana?』

 

Serizawa-san: 『Sedang mengungsi di toilet cewek』

 

Oh, begitu. Berarti Serizawa-san juga diberondong pertanyaan seperti Tsukimi-san.

 

Serizawa-san: 『Mendingan itu deh, sekarang gosip buruk tentang Bun-bun lagi menyebar luas tahu』

 

『Gosip buruk?』

 

Serizawa-san: 『Katanya, kamu memanfaatkan kelemahan Hiyori setelah dia ditolak buat mempermainkannya, lalu menjalin hubungan dengan aku dan Hoshino sekaligus. Belum lagi, kamu juga berniat menyeret Ayabe-san ke dalam cengkeramanmu yang beracun.』

 

Aku, ternyata brengsek banget ya.

 

Serizawa-san: 『Hari ini, Hiyori gimana?』

 

『Katanya hari ini dia juga izin sekolah buat jaga kondisi』

 

Serizawa-san: 『Begitu ya……』

Kalau dipikir-pikir kemarin, Tsukimi-san dan Serizawa-san sempat ditanya-tanya soal diriku ya……

 

Jangan-jangan soal hal ini?

 

Kalau memang begitu, kecepatan menyebarnya gosip ini benar-benar terlalu kencang.

 

Saat aku sedang memikirkan hal itu, guru masuk ke kelas. Melihatnya, teman-teman sekelas pun kembali ke tempat duduk masing-masing.

 

Tsukimi-san terlihat lemas, sementara Serizawa-san kembali ke kelas dengan langkah pelan.

 

Saat bel berbunyi, kelas yang tadinya ramai bergemuruh pelan-pelan menjadi tenang.

 

Andai saja gosipnya juga bisa mereda dengan tenang seperti ini…… gumamku di dalam hati sambil mengikuti pelajaran.

 

◇

 

Saat jam istirahat siang, alih-alih mereda, gosip tersebut justru makin menyebar layaknya virus.

 

Saat berjalan di koridor menuju koperasi, setiap kali berpapasan dengan seseorang, aku selalu mendengar mereka berbisik-bisik membicarakanku.

Tatapan penuh cemoohan dan celaan terus tertuju padaku, membuatku merasa tidak nyaman.

 

Kalau kembali ke kelas dalam kondisi seperti ini, aku pasti bakal menyusahkan Serizawa-san dan Tsukimi-san.

 

Berpikir demikian, tempat yang kutuju sambil memegang roti di satu

tangan adalah bordes tangga menuju atap sekolah. Pintu menuju atap terkunci jadi tidak bisa dimasuki, makanya orang-orang tidak bakal datang ke sini.

 

Inilah spot menyendiri favoritku nomor lima.

 

Sambil menyantap roti kari, aku memikirkan situasi saat ini.

 

Jujur saja, untuk saat ini kerugian nyata yang kudapatkan bisa dibilang hampir tidak ada. Tidak ada coret-coretan di mejaku, barangku tidak hilang, dan aku juga tidak dilempari batu atau dikeroyok beramai-ramai.

 

Satu-satunya hal yang kupikirkan adalah soal Hiyori, Serizawa-san, Tsukimi-san, dan Ichika yang menjadi korban dari gosip ini.

 

Saat ini, keempat orang ini sudah cukup banyak kurepotkan.

 

Mengingat potensi hal ini bakal berkembang menjadi gangguan atau perundungan ke depannya, mungkin lebih baik kalau untuk sementara waktu aku menjaga jarak dari mereka.

 

Dalang yang menyebarkan gosip ini pasti bertujuan ke arah sana, jadi kalau tujuannya tercapai, dia bakal puas dan gosipnya pun akan mereda.

 

"Bun-bun, akhirnya ketemu juga."

 

Mendadak ada yang menyapaku, dan saat aku tersentak mengangkat wajah, di sana berdirilah Serizawa-san dan Tsukimi-san dengan napas tersengal-sengal.

 

"Kamu ini…… kenapa tidak membaca pesan sih."

 

"Eh? Ah, maaf. Tadi aku sedang memikirkan sesuatu……"

 

Saat memeriksa ponsel, ternyata mereka berdua sudah mengirimiku pesan bertubi-tubi. Karena kupasang ke mode hening, aku jadi sama sekali tidak menyadarinya.

 

"Lagipula jangan mendadak menghilang begitu dong."

 

"Bener tuh. Soalnya Bun-bun tidak balik-balik ke kelas jadi kami lumayan cemas tahu."

 

Serizawa-san duduk di sebelah kanan, sementara Tsukimi-san duduk di sebelah kiri.

 

Aku diapit dua orang gadis. Benar-benar seperti sandwich.

 

"M-, maaf ya."

Diapit bagaikan isi sandwich, aku meminta maaf sambil menciutkan tubuh.

 

Eh, padahal tadinya berniat menjaga jarak, tapi rasanya jarak kami justru makin dekat ya.

 

"Etto, kalian berdua tidak apa-apa nih? Berada bersamaku yang seperti ini."

 

"Soal gosip itu? Yang begitu sih biarkan saja mereka bicara sepuasnya kan? Aku sendiri tidak ambil pusing kok."

 

"Aku juga sependapat dengan Hoshino, tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak penting. Tapi, kalau sampai dijauhi oleh Bun-bun, itu rasanya menyedihkan. Hal itu dipastikan berlaku sama buat Hiyori."

 

"Tuh kan, makanya berhenti mencoba menjaga jarak dari kami. Kalau aku sih terserah, tapi mentalnya Hiyori dipastikan bakal gawat banget tahu."

 

"M-, rasanya kalau yang itu terlalu berlebihan deh……"

 

Tapi, begitu ya. Ketiga orang ini ternyata memikirkanku dan menganggapku berharga jauh melebihi dari yang kubayangkan.

 

Kalau begitu, sebelum membuat semua orang makin kerepotan,

 

"Gosip ini, harus segera diatasi ya……"

Setelah mengubah jalan pikiranku, aku pun mengirimkan pesan kepada seseorang.

 

◇

 

"Ooh, Bungaku selamat datang. Baguslah kamu mau datang. Serizawa-san dan Tsukimi-san juga silakan santai saja ya."

 

Sepulang sekolah, aku membawa Serizawa-san dan Tsukimi-san untuk

berkunjung ke ruang OSIS.

 

"Untuk sementara, aku minta racikan kopi blend ya."

 

"Serizawa-san, kamu kan tidak bisa minum kopi."

 

Sambil melontarkan tsukkomi pada Serizawa-san yang melempar lelucon, aku duduk di kursi meja yang dipersilakan. Sekali lagi aku diapit oleh duet Serizawa dan Tsukimi.

 

…………Agak merasa canggung dan sempit juga.

 

Sosok yang kumintai bantuan ini adalah sang protagonis dari 『Tenichi!!』 sekaligus ketua OSIS, Shindou Tenma.

 

Dan ada satu orang lagi.

 

"Bungaku-kun. Serahkan saja kepada kami ya."

 

Yang duduk di hadapanku adalah sang main heroine, Ayabe Ichika.

"Maaf ya. Padahal Hana-san juga menjadi korban, tapi aku malah jadi merepotkan dan meminta bantuan seperti ini."

 

"Sama sekali tidak kok. Justru aku senang tahu. Karena Bungaku-kun mau mengandalkan kami dengan benar."

 

Ichika memamerkan senyuman lembut bagaikan malaikat agung.

 

Meski agak malu, mendengar dia berkata begitu membuatku sangat berterima kasih. Malahan rasanya mau menangis sedikit.

 

"Nah, mulai sekarang kita bakal merapikan situasinya, membicarakan penyebabnya, lalu mencari solusi bersama. Aku berniat menjalankan alurnya seperti ini, bagaimana menurut kalian?"

 

Semua orang mengangguk menanggapi pengarahan dari Tenma yang duduk di sebelah Ichika.

 

Seperti yang diharapkan dari ketua OSIS. Dia sangat pandai memimpin jalannya pembicaraan.

 

"Pertama, terkait gosip itu, 『Bungaku yang memanfaatkan kelemahan saat ditolak untuk mempermainkan Hiyori, menjalin hubungan dengan Serizawa-san dan Tsukimi-san sekaligus, ditambah lagi bermaksud memasukkan Ichika ke dalam cengkeraman beracunnya juga』, apa sudah benar begitu?"

 

"Tenma-kun. Kalau sekarang, ada sedikit tambahan dan berbagai gosip turunan yang menyebar dari situ. Isinya…… itu, untuk sekarang kusembunyikan dulu sih."

 

Dengan wajah memerah, Ichika menatapku dengan sedikit malu.

 

Eh, memangnya gosip seperti apa lagi yang menyebar……?

 

"Tapi bukannya kecepatan menyebarnya gosip ini tidak wajar ya? Rasanya baru 1 hari saja tapi sudah menyebar ke satu angkatan lho."

 

Seperti yang dikatakan Tsukimi-san, aku pun memikirkan hal yang sama.

 

Terkait hal itu walau ini baru perkiraan sih, Tenma pun menjawab.

 

"Aku rasa ada 3 alasannya. Yang pertama karena isi gosipnya

berhubungan dengan percintaan, yang kedua karena target gosipnya adalah Hiyori dan yang lainnya yang merupakan anak-anak cewek terkenal dan populer di sekolah. Lalu yang ketiga karena ada seseorang yang sengaja menyebarkan gosip ini."

 

"Berarti ada seseorang yang tidak menyukaimu, lalu menyebarkan gosip buruk ini supaya Bun-bun jadi terisolasi kan," ujar Serizawa-san, yang langsung diangguki oleh Tenma.

 

"Yah, kalau dilihat dari sudut pandang orang luar, Bungaku yang sekarang kan kelihatan seperti cowok mata keranjang yang dikelilingi cewek-cewek. Jadi tidak aneh kalau ada murid cowok yang iri."

"……Memang sih, Bun-bun itu cowok pemikat hati. Bagian itu tidak bisa kubantah."

 

Kalian ini ya……

 

"Etto, berarti untuk mengatasi gosip tentangku ini, pertama-tama kita harus menemukan dalang yang menyebarkan gosipnya dulu kan?"

 

"Begitulah. Makanya begini. Maaf ya Bungaku, tapi besok pas jam istirahat siang, bisa tolong datang ke sini lagi tidak? Soalnya dalam hari ini aku mau mengajak anggota OSIS yang lain untuk membentuk 'Pasukan Penanggulangan Gosip Buruk Bungaku'."

 

"Eh, OSIS mau turun tangan menanganinya? Tidak apa-apa nih?"

Bukannya itu namanya menyalahgunakan wewenang organisasi ya?

 

"Tidak apa-apa. Soalnya aku ketua OSIS-nya. Wewenang OSIS pun bisa kumanfaatkan untuk kepentingan pribadi kok."

 

Tidak apa-apa dari mananya coba.

 

"Bungaku-kun. Kalau Tenma-kun sudah jadi begini tidak bakal ada yang bisa menghentikannya, jadi lebih baik jangan sungkan dan andalkan saja dia ya."

 

"K-kalau Hana-san yang bilang begitu sih……"

 

Aku pun mengatakannya dengan agak sungkan, Tenma mengangguk puas.

"Kalau begitu, sepertinya lebih baik kita fokus mengumpulkan informasi saja ya. Lagipula, bakal ada banyak orang yang menanyakan berbagai hal kepada kita."

 

Seperti yang dikatakan Ichika, kalau Ichika, Tsukimi-san, dan Serizawa-san yang merupakan target gosip ini tidak melakukan apa-apa pun, informasi bakal datang sendiri dari pihak sana.

 

Arah jalannya sudah ditentukan, dan setelah rapat strategi selesai, kami pun bersiap untuk pulang.

 

"Bungaku-kun."

 

"Kenapa?"

 

Ichika memanggilku. Saat aku berhenti melangkah, dia menatapku dari bawah dengan wajah gelisah dan malu-malu.

 

"Anu, itu…… aku percaya Bungaku-kun bukan orang yang bakal melakukan hal seperti itu. Aku percaya kok…… t-tapi, izinkan aku mengatakan 1 hal ini ya!"

 

"Eh? Apa itu?"

 

Apakah ada hal yang terpikirkan olehnya terkait gosip ini?

 

"Itu, padahal belum berpacaran…… t-tidak boleh melakukan hal-hal yang mesum tahu!"

 

……

 

……………

 

……………………

 

……………………………………Eh, maksudnya bagaimana?

 

◇

 

Keesokan harinya setelah berkonsultasi dengan Tenma dan yang lainnya. Aku sedang melangkah menuju ruang OSIS.

 

Serizawa-san dan Tsukimi-san sedang fokus mengumpulkan informasi

di dalam kelas.

 

"Tunggu dong Bun-kuun."

 

"Eh?"

 

Saat aku berbalik, Hiyori yang sudah pulih total sedang berlari-lari kecil menghampiriku.

 

Lho, bukannya waktu keluar kelas tadi dia sedang diberondong berbagai pertanyaan oleh semua orang ya?

 

"Kamu mau ke ruang OSIS kan? Aku ikut ya."

 

"Eh, a, ung……"

Begitu aku mengangguk, Hiyori mulai berjalan di sampingku.

 

Soal gosip ini sudah kujelaskan kepada Hiyori lewat telepon tadi malam.

 

Karena itulah, fakta bahwa dia berada di sisiku seperti ini berarti dia menganggapku sebagai teman yang berharga, sama seperti Tsukimi-san dan Serizawa-san.

 

"Eiy."

 

Hiyori yang berjalan di sampingku menyenggol bahuku pelan.

 

……Entah kenapa, jaraknya dekat banget.

 

"Bun-kun, kamu bakal datang ke rumahku hari Jumat minggu depannya lagi kan?"

 

"Eh, a, ung."

 

Seperti yang dikatakan Hiyori, dua minggu lagi, tepatnya hari Jumat, aku akan makan bersama keluarga Nanase di rumah mereka.

 

Bagaimana bisa jadi begini aku sendiri juga tidak begitu paham.

 

Tadi malam kebetulan Hiyori menyalakan panggilannya ke mode pengeras suara di ruang keluarga, jadi mama Hiyori menyadari keberadaanku lalu ikut bergabung dalam panggilan. Ditambah lagi papa Hiyori yang baru selesai mandi juga ikut datang…… setelah mengobrol bertiga seperti itu, pembicaraan langsung berlanjut jadi acara makan bersama.

 

"Anu, tidak apa-apa nih? Papanya Nanase-san tidak merasa keberatan?"

 

"Eh? Mana ada? Malah Papa terus-terusan menanyakan kapan Bun-kun bakal datang, sepertinya kamu disukai deh?"

 

Mana mungkin…… saat aku berpikir begitu, jariku tak sengaja bersentuhan dengan jari Hiyori.

 

Karena berjalan dalam jarak dekat hingga bahu saling bersentuhan, di saat-saat tertentu sesekali ujung jari Hiyori tanpa sengaja menyentuh jariku.

 

Karena menganggap ini terlalu dekat dan hendak mengambil jarak dari Hiyori, di saat itu juga jari kelingkingku dicengkeram erat olehnya.

 

Seolah-olah menegaskan bahwa dia tidak mengizinkanku untuk mengambil jarak sedikit pun.

 

"Ah, ngomong-ngomong kata Mama. Buat minggu depannya lagi, tolong tanyakan masakan favorit atau makanan yang ingin dimakan oleh Bun-kun gitu."

 

Lalu Hiyori mulai berbicara seolah tidak ada hal apa pun yang terjadi.

 

Bohong kan. Kenapa kamu bisa bersikap sebiasa itu? Kalau begini kan kelihatan seperti pasangan berpacaran saja.

Tidak, apakah bagi anak-anak gaul hal seperti ini sudah biasa………… kah?

 

Ah, jangan-jangan ke Tenma dulu dia juga begini ya.

 

"Aku cuma begini ke Bun-kun, lho?"

 

"……………Eh?"

 

Seketika, jantungku serasa tersentak. Jangan-jangan dia baru saja membaca pikiranku.

Kenapa bisa tahu apa yang kupikirkan……? Ah, tidak. Bagian pentingnya bukan di situ.

 

"Bun-kun, tidak masuk?"

 

"He?"

 

Tanpa kusadari kami sudah sampai di depan ruang OSIS. Jari kelingking yang tadinya dicengkeram erat pun sudah terbebas.

 

Melihat Hiyori yang memiringkan kepalanya bingung, aku berdehem pelan lalu mengetuk pintu.

 

"Anu, permisi."

 

Saat membuka pintu, di dalam tampak seorang gadis sedang berhadapan dengan segepok dokumen.

Rambut cokelat panjangnya yang berkilau menjuntai hingga ke pinggang, sementara tubuhnya yang mungil tetap memancarkan kesan feminin. Ditambah lagi, pembawaannya yang anggun dan lembut membuatnya terlihat jauh lebih dewasa, sampai-sampai orang bisa salah mengiranya sebagai siswi kelas tiga.

 

"Wah, maaf ya. Tomida Bungaku-san, kan? Aku sudah mendengar ceritanya dari Ketua. Silakan duduk di sini."

 

"Ah, baik……"

 

Dipandu menuju meja olehnya yang tersenyum ramah, aku pun menurut manis bagaikan kucing yang baru diadopsi.

 

"Orang yang cantik ya. Apa murid kelas 3 ya."

 

Hiyori yang duduk di sebelahku bergumam pelan di dekat telingaku.

 

Untuk ukuran kelas 3, rasanya penampilannya kelihatan sedikit imut dan muda sih.

 

"Maaf aku terlambat memperkenalkan diri. Namaku Kirifuji Sena, sekretaris OSIS. Aku murid kelas 1, jadi tidak perlu memakai bahasa formal kok."

 

"Ah, baik……"

 

Refleks kami berdua membalas menggunakan bahasa formal, membuat Kirifuji-san terkekeh tersenyum.

"Aku seduh teh dulu ya. Camilan di sana silakan dinikmati sesuka hati."

 

Eh, camilan yang kelihatan mahal dan dipajang di meja ini boleh dimakan nih?

 

Sambil menikmati camilannya, aku bermaksud melihat apakah ada hal yang bisa kubantu dan mengalihkan pandangan kembali ke Kirifuji-san, tetapi cara menyeduh tehnya kelihatan sangat profesional jadi kuurungkan niatku.

 

Orang awam sepertiku kalau mencoba membantu secara

setengah-setengah justru cuma bakal mengganggu saja.

 

Kirifuji-san menyeduh teh sambil tersenyum lembut dan kelihatan sangat menikmati kegiatannya.

 

……Bagus ya.

 

Bagaimana ya mengatakannya, setiap gerak-geriknya sangat teliti, indah, dan hangat. Perhatian dan kebaikan Kirifuji-san tersalurkan dengan jelas.

 

"Sebentar Bun-kun. Dari tadi kamu terlalu memperhatikan Kirifuji-san tahu."

 

Hiyori menatapku dengan mata menyipit tajam.

 

"Eh, masa sih."

"Memang iya kok. Dari tadi cuma melihat Kirifuji-san terus. Itu…… Bun-kun suka cewek yang anggun seperti Kirifuji-san ya?"

 

"Tidak, bukan begitu maksudku……"

 

Di saat aku bingung harus membalas apa, Kirifuji-san dengan sigap menyajikan teh hangat di hadapan kami berdua.

 

"Maaf ya sudah membuat kalian menunggu."

 

"Ah, terima kasih."

 

Aku dan Hiyori memasukkan gula batu dan susu ke dalam teh yang disajikan, lalu mencicipinya sedikit.

 

"”Enak banget……!!”"

 

Seketika aku dan Hiyori saling bertatapan.

 

"Terima kasih banyak."

 

Rasanya begitu kaya, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan teh botolan yang biasa kuminum. Ditambah lagi, entah kenapa…… rasanya terasa sangat hangat.

 

Kirifuji-san yang duduk di hadapan kami bertiga juga ikut meminumnya.

 

Tampaknya dia meminum tehnya secara murni tanpa campuran gula maupun susu.

 

Di saat kami sedang menikmati teh buatan Kirifuji-san, pintu ruang OSIS mendadak terbuka.

 

"Maaf, ya. Sudah membuat kalian menunggu."

 

Tenma masuk ke dalam ruangan dengan napas yang agak

terengah-engah.

 

"Ketua Shindou, selamat atas kerja kerasnya."

 

"Aa, Kirifuji-san juga, selamat atas kerja kerasnya…… lho, Hiyori juga ada di sini?"

 

"Tentu saja. Soalnya aku kan tokoh utama dari gosip ini."

 

"Kalau hal itu sih memang benar, tapi bukannya kamu cuma sekadar…… ah, tidak, ya sudahlah."

 

Tenma melirik pelan ke arahku lalu menggelengkan kepalanya.

 

Sebenarnya apa yang tadinya hendak dikatakannya?

 

"Wah? Ketua, di mana Wakil Ketua Kimura?"

 

"Apa dia tidak datang, ya. Padahal tadinya dia bilang 'kalau bisa datang aku bakal datang'."

Kalau begitu sih dipastikan tidak bakal datang tuh.

 

Ngomong-ngomong, Wakil Ketua Kimura adalah teman masa kecil

Tenma sekaligus teman lamanya. Bisa dibilang karakter sahabat dekat di 『Tenichi!!』.

 

"Soal gosip Bungaku. Tampaknya gosip itu menyebar mulai dari murid kelas 3."

 

Memang benar kata Tsukimi-san dan Serizawa-san, orang yang menanyakan soal diriku adalah murid kelas 3……

 

"Sebaliknya, menurutku gosip tentang Senpai belum menyebar sepenuhnya di antara murid kelas 1."

 

"Hee~ kalau begitu, gosip tentang Bun-kun ini kalau dilihat dari alurnya menyebar dengan urutan kelas 3 → kelas 2 → kelas 1 ya."

 

"Kalau situasinya seperti itu, untuk sementara waktu lebih baik kita meminta keterangan dari murid kelas 3 yang punya kemungkinan tinggi terdapat dalang penyebar gosipnya ya."

 

"Seperti yang dikatakan Kirifuji-san sih, tapi…… untuk jaga-jaga bukannya lebih baik minta keterangan di area kelas 1 juga?"

 

"Tidak masalah kok. Untuk area kelas 1, Shio-chan bagian bendahara yang bakal meminta keterangan untuk kita."

 

"Lho? Bukannya kemarin dia sempat enggan memberikan bantuan ya?"

"Begitu kumohon-mohon dia langsung setuju. Anak itu gampangan…… maksudku, rapuh terhadap desakan."

 

Begitu ya, Shio-chan bagian bendahara ternyata gampangan ya…… aku jadi agak ingin bertemu dengannya.

 

"Apa ada hal yang bisa kubantu juga? Kalau cuma diam saja rasanya aku kurang enak hati……"

 

"Tapi Bun-kun. Kamu kan orang yang bersangkutan dalam gosip ini, bukannya tidak ada hal yang bisa dilakukan?"

 

Mengenai hal itu sih memang benar.

 

"Ah, kalau begitu bagaimana kalau Bungaku menyamar jadi cewek lalu ikut membantu meminta keterangan?"

 

Aku refleks tersedak teh mendengar pernyataan dari Tenma.

 

"B-, Bun-kun!? Tidak apa-apa!?"

 

"Gokho, gokho, u-, ung."

 

Hiyori mengelus punggungku dengan raut khawatir saat aku tersedak.

 

"Menyamar jadi cewek…… maksudnya Fumika-chan yang sempat dibilang oleh Ketua sebelumnya ya?"

 

"Aa, Fumika-chan."

Tunggu sebentar. Kenapa Kirifuji-san bisa tahu soal 『Fumika-chan』?

 

"Menurut saya itu ide yang sangat menarik…… maksud saya, ide yang sangat bagus. Senpai, apakah set penyamaran ceweknya masih ada?"

 

"Eh? U-, ung. Set penyamaran ceweknya masih terbiar ditinggal di

dalam loker kelas sih……"

 

Soalnya kalau dibawa pulang juga agak nggak enak.

 

"Sisa bajunya saja ya. Kalau begitu, bagaimana kalau menggunakan rok

cadangan milikku——"

 

"T-, tunggu sebentar!! Kalau soal baju biar aku yang siapkan jadi tidak apa-apa!! Di lokerku ada rok cadangan dan pita kok!! Makanya Bun-kun pakai milikku saja!"

 

"Eh, a, i-, iya……"

 

Aku mengangguk, sedikit ciut karena Hiyori tiba-tiba menyela.

 

"Kalau begitu, sepulang sekolah hari ini aku harus membereskan perlengkapan di gedung kelas 3, jadi sekalian saja kita minta keterangan ya."

 

"……Berarti aku yang menyamar jadi cewek ini juga ikut bareng kan?"

 

"Tentu saja♪"

 

"Etto, aku B-, Boleh ikut bareng juga tidak?"

 

"Kalau Nanase-senpai ikut rasanya situasinya bakal jadi agak rumit, jadi tolong bantu kumpulkan informasi di area kelas 2 saja ya♪"

 

"U-, baiklah……"

 

"Kalau begitu, pergerakan sepulang sekolah kita tentukan seperti itu ya. Sisanya tinggal berbagi informasi terkait gosip. Pas banget sepertinya ada pesan masuk tuh."

 

Seperti yang dikatakan Tenma, saat melihat layar ponsel, tampak Tsukimi-san, Serizawa-san, dan Ichika menuliskan informasi terkait gosip tersebut.

 

Coba kulihat……

 

Hana-san: 『Sepulang sekolah, menyuruh Nanase Hiyori membelikan alat kontrasepsi di minimarket』

 

"……………"

 

"……………"

 

"……………"

 

"……………"

 

Keheningan seolah waktu terhenti menyelimuti ruang OSIS.

"E-, ehem. Bungaku, Hiyori…… itu, hal-hal mesum seperti itu kurasa lebih baik dilakukan setelah kalian berpacaran."

 

"B-, Bukan begitu!? Memang sih sepulang sekolah kami sering mampir ke minimarket berdua! T-, Tapi kami belum melakukan hal-hal mesum kok!! Iya kan! Bun-kun!?"

 

"B-, Benar tuh!! Kami tidak melakukannya kok!!"

 

『Itu, padahal belum berpacaran…… t-tidak boleh melakukan hal-hal

yang mesum tahu!』

 

Jadi hal yang dikatakan Ichika kemarin itu maksudnya gosip yang ini!?

 

Tunggu sebentar, memangnya gosip lainnya berisi hal seperti apa lagi sih!?

 

Sampai ada gosip sekelas ini, gosip yang lain pasti isinya kacau balau dan murni tanpa bukti sama sekali!!

 

Etto, isi gosip yang lainnya adalah……!?

 

Saat larut malam pergi kencan ke Donki berdua saja dengan Serizawa Shizuku.

 

Saat hari libur membawa Tsukimi Hoshino masuk ke dalam apartemennya.

 

Sepulang sekolah, saling berpelukan tanpa memedulikan pandangan orang di pusat perbelanjaan bersama Nanase Hiyori.

 

……

…………

 

………………

 

………………………Ini mah bukan gosip, tapi kejahatan membeberkan fakta, kan?

 

◇

 

"Wah, imut sekali ya. Fumika-chan♪"

 

"Uugh…… jangan menggodaku dong."

 

Sepulang sekolah, Kirifuji-san kelihatan entah kenapa sangat menikmati momen melihat Fumika-chan yang kembali bangkit secara ajaib.

 

"Kalau begitu, ayo berangkat. Mulai sekarang, Senpai adalah Tomida Fumika-chan, magang pelaksana OSIS sekaligus teman masa kecil dan sahabat terbaikku, ya."

 

"Pengaturannya dibuat-buat sampai sejauh itu……"

 

Dengan mata sayu bagaikan ikan mati, aku diseret oleh Kirifuji-san menuju gedung kelas 3.

Ngomong-ngomong, Hiyori sampai detik-detik terakhir tetap bersikeras ingin ikut.

 

Saat sampai di gedung kelas 3, seisi gedung sedang heboh membicarakan gosip tentangku.

 

"Kamu jadi orang terkenal dalam arti yang buruk ya."

 

Kirifuji-san berbisik pelan di dekat telingaku.

 

Di saat yang sama, segerombolan siswi kelas 3 berjalan mendekat ke arah kami.

 

"Lho~? Kamu bukannya Kirifuji-san dari OSIS ya? Padahal masih kelas 1 tapi kenapa bisa ada di gedung kelas 3?"

 

Kirifuji-san membalas sapaan Senpai yang tampak gaul dan modis itu dengan senyum sempurnanya.

 

"Permisi ya. Sebenarnya ada tugas praktik OSIS di ruang perlengkapan yang ada di gedung ini."

 

"Ah, begitu ya. Merepotkan juga ya~"

 

Gerombolan siswi itu melirik pelan ke arahku.

 

"Ini teman masa kecilku, Fumika-chan. Sebenarnya aku bermaksud memintanya membantuku untuk urusan pembantu umum OSIS. Karena itulah kali ini aku memintanya mendampingiku sekalian membantu,"

 

"Begitu ya~ heh…… berarti dia kandidat anggota OSIS itu ya," gumam sekelompok siswi itu yang saling bertukar pandang dengan penuh minat lalu mengangguk pelan.

 

"Ngomong-ngomong, kalian tahu tidak? Rumor tentang cowok bernama Tomida Bungaku itu," lanjut mereka.

 

……Datang juga.

 

"Ya. Karena rumor itu belum terlalu menyebar di antara murid kelas 1, aku cuma tahu sedikit sih."

 

"Beneran deh, kamu harus berhati-hati. Soalnya dia itu cowok brengsek."

 

"Betul, betul. Katanya dia pernah menyeret anak bernama Serizawa ke area dewasa di Donki, terus membujuk anak bernama Tsukimi ke apartemennya lalu berhubungan sepanjang malam."

 

Kejam banget.

 

"Kalau aku mikirnya, dia itu memanfaatkan fakta berpura-pura menjenguk anak bernama Nanase yang lagi izin sakit, lalu memakai kesempatan saat kondisinya lemah untuk memaksa berhubungan seksual!"

 

Gawat banget ini mah.

 

"Begitu ya, kalau begitu dia memang benar-benar cowok brengsek yang tidak punya nurani ya. Ngomong-ngomong, cerita itu kalian dengar dari siapa?" tanya Kirifuji-san memancing informasi dari sekelompok siswi tersebut.

 

"Eeh, siapa ya. Iwata?"

 

"Aku dengarnya dari Ritsuko-chan~"

 

"Kalau aku dari Murakami kayaknya."

 

Setelah berhasil mengorek informasi dari kelompok siswi tersebut, aku merasa waktunya sudah pas lalu menggamit lengan baju Kirifuji-san pelan.

 

"Ah, maaf ya. Kami harus segera pergi. Senpai sekalian, terima kasih banyak atas informasi berharganya."

 

"Ah, maaf ya sudah menahan kalian~"

 

"Tidak apa-apa, kalau begitu kami permisi dulu."

 

Kami membungkukkan badan sedikit, lalu mulai melangkah menyusuri koridor menuju ruang perlengkapan.

 

Di tengah perjalanan, Kirifuji-san yang berdiri di sampingku berbicara dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan kebingungannya.

 

"Anu, Senpai…… itu, bukannya perilakumu itu sudah terlalu keterlaluan?"

 

"Kan aku tidak melakukannya!?" tegasku.

 

Dikira aku ini tokoh cowok di buku erotis NTR apa!!

 

"Fufu, bercanda kok. Aku cuma sedikit menggodamu," ucap Kirifuji-san sambil mengulas senyuman jahil dan terkekeh pelan.

 

……Yah, walau aku memang pergi ke Donki sampai larut malam dengan Serizawa-san, Tsukimi-san sudah berkali-kali datang ke rumahku, dan

aku juga pergi menjenguk Hiyori sih.

 

Bagaimana ya mengatakannya, karena informasinya dibumbui berdasarkan fakta yang ada, aku jadi tidak bisa membantahnya secara total, dan itu bikin posisiku makin serba salah.

 

Setelah itu, kami kembali disapa oleh beberapa murid kelas 3 dan mendengar berbagai macam hal soal rumor tersebut sebelum akhirnya masuk ke ruang perlengkapan.

 

Untuk sementara, aku mencatat daftar rumor yang kudengar beserta sumber informasinya di lembaran kertas.

 

"Fumu, rumornya sudah berkembang terlalu jauh, dan kandidat dalangnya juga lumayan banyak ya," gumam Kirifuji-san sambil menopang dagu menatap deretan rumor beserta daftar orang yang menyebarkannya.

Memang benar, mengidentifikasi dalang utama yang menyebarkan rumor dari jumlah sebanyak ini rasanya bakal sangat menguras tenaga.

Penyelidikan ini mungkin bakal mandek untuk sementara waktu.

 

"Untuk saat ini, aku akan membagikan informasi ini ke grup percakapan, jadi mohon tunggu sebentar ya," kata Kirifuji-san.

 

"Kalau begitu aku bakal merapikan perlengkapan dulu ya," sahutku.

 

"Terima kasih banyak. Sangat membantu," ucap Kirifuji-san.

 

Setibanya di ruang perlengkapan, aku menerima daftar barang dari Kirifuji-san.

 

"Bagaimana ya mengatakannya, tanpa perlu repot-repot minta keterangan pun, mereka sendiri yang mendatangi kita ya," ujarku.

 

"Memang begitu. Bagaimanapun kita ini pengurus OSIS. Karena punya pengaruh besar, kita adalah sosok yang sangat cocok untuk dimanfaatkan menyebarkan rumor," balas Kirifuji-san.

 

"……………Begitu ya."

 

Memang benar OSIS yang sekarang berisi orang-orang seperti Tenma dan Kirifuji-san, sekumpulan orang populer yang rupawan dan berkemampuan luar biasa. Pengaruh yang mereka miliki tentu sangat besar.

 

Setelah sekitar 30 menit melakukan pekerjaan bersama Kirifuji-san, seorang murid laki-laki melangkah masuk ke dalam ruangan.

 

"Kirifuji-chan ada~?"

 

"Wah, Wakil Ketua, selamat atas kerja kerasnya," sapa Kirifuji-san.

 

Seorang murid laki-laki berambut pirang mencolok, bertubuh tinggi, dan berwajah tampan tak kalah dari model. Tak salah lagi. Dia adalah sahabat dekat Tenma sekaligus Wakil Ketua OSIS, Kimura Ryota.

 

"Pekerjaan merapikan perlengkapannya sudah mau selesai?" tanya Kimura.

 

"Ya, baru saja selesai. Ngomong-ngomong jarang sekali ya. Wakil Ketua yang punya hobi membolos bisa datang ke tempat seperti ini," balas Kirifuji-san.

 

"Ah, soal kasus rumor cowok ini sih. Pelakunya kayaknya aku sudah tahu deh."

 

Eh…… bohong!?

 

"Baguslah. Berarti kamu membaca pesan-pesan di grup dengan teliti ya," sahut Kirifuji-san.

 

"Yah begitu deh. Soalnya kalau dimintai tolong sama Tenma sampai segitunya, mana mungkin aku tidak melakukan apa-apa. Setelah membaca gabungan informasi di pesan grup dan mencari kesamaannya, aku berhasil menyempitkan kandidat dalang penyebar rumornya."

 

Wakil Ketua Kimura, bukannya kompeten banget nih?

 

"Lagian, Kirifuji-chan juga sebenarnya sudah bisa mereka-reka kan?"

 

"Ya, tapi karena belum yakin, aku ingin mencocokkan jawabanku dengan jawaban Wakil Ketua saja kok♪"

 

Kirifuji Sekretaris juga bukannya terlalu kompeten nih?

 

"Benar juga. Bagaimanapun ini masih sebatas dugaan, jadi mari kita konfirmasi berbagai hal dulu.”

 

"Betul. Kalau begitu mari kita kembali ke ruang OSIS dulu."

 

Apa-apaan nih, pengurus OSIS ini isinya orang-orang kompeten semua kan.

 

"B-, benar juga ya. Ayo kita kembali. Ke ruang OSIS," ujarku mencoba ikut-ikutan bicara bergaya seperti mereka sambil bersiap keluar dari ruang perlengkapan.

 

"Kamu ganti baju dulu sana."

 

"……Baik."

 

Gara-gara argumen telak dan tak terbantahkan dari Wakil Ketua Kimura, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

 

◇

 

Jam istirahat siang keesokan harinya.

 

"Nah. Kalau begitu hari ini mari kita berjuang lagi ya♪"

 

"……………Baik."

 

Aku kembali menyamar menjadi perempuan dan melangkah bersama Kirifuji-san menuju gedung kelas 3.

 

Hari ini tujuannya bukan untuk mengumpulkan informasi lagi, melainkan untuk memastikan siapa dalangnya dan mengamankan bukti.

 

"Nah, hari ini adalah momen krusial kita ya. My best soul friend Fumika-chan."

 

Kenapa statusku malah naik pangkat jadi soul friend begini……

 

Sambil meminum obat lambung, aku menyusuri gedung kelas 3, dan sama seperti kemarin, pandangan dari murid laki-laki maupun perempuan langsung tertuju ke arah kami.

 

Tidak, lebih tepatnya tertuju pada Kirifuji-san. Namun Kirifuji-san sama sekali tidak gemetar atau terusik.

Hebat banget ya, padahal ditatap oleh orang-orang yang usianya dua tahun lebih tua biasanya bakal bikin merasa agak risi atau canggung.

 

Saat aku sedang kagum di dalam hati, seorang murid laki-laki berjalan mendekat.

 

"Lho, Kirifuji-san. Ini kan gedung kelas 3, ada apa?"

 

…………Umpannya dimakan.

 

Orang yang mengajak bicara adalah kapten tim basket yang tampan, Sasahara-senpai.

 

Dialah dalang (tentatif) yang pernah menyatakan cinta pada Hiyori di taman tengah lalu ditolak mentah-mentah.

 

"Aku ada sedikit urusan kerjaan OSIS yang ingin kutanyakan pada Kaburagi-senpai."

 

"Ah, begitu ya. Dia kan bagian humas ya," angguk Sasahara-senpai seolah memaklumi.

 

"Ngomong-ngomong, hari ini kamu kelihatan makin cantik saja ya.

Punya keanggunan khas seorang putri bangsawan."

 

Seperti yang diharapkan dari Sasahara-senpai. Merayu lawan bicara sudah seperti pengganti salam sapaan.

 

Tapi ngomong-ngomong, Kirifuji-san itu ternyata putri bangsawan ya.

Entah kenapa memang terasa ada aura seperti itu sih.

 

"……Terima kasih banyak. Senpai pandai sekali berbicara ya." balas Kirifuji-san menepis rayuan Sasahara-senpai. Entah cuma perasaanku saja atau memang ada nada penolakan dalam kata-katanya.

 

"Halo," sapa Sasahara-senpai beralih padaku.

 

Ooh, kali ini giliran ke sini ya.

 

"H-, halo (suara falseto)."

 

"Aku belum pernah melihatmu ya. Kalau boleh tahu, bisa sebutkan nama dan kontakmu?" tanya Sasahara-senpai meminta kontak sehalus mengembuskan napas.

 

"Maaf ya Sasahara-senpai. Anak ini agak pemalu dengan orang baru."

 

"Begitu ya. Ah, maaf ya. Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu kok."

 

Sasahara-senpai sambil membungkukkan badan meminta maaf.

 

Ada apa nih? Kok dia mendadak kelihatan seperti orang baik-baik……?

 

"…………Ngomong-ngomong, apa kamu tahu? Soal cowok yang terkenal dalam arti buruk itu."

 

Tarik kembali ucapanku tadi. Ternyata dia benar-benar bajingan.

 

"Etto, dia…… itu siapa ya? (suara falseto)"

 

"Namanya Tomida Bungaku, murid kelas 2."

 

Hebat banget bisa ingat namanya dengan benar!!

 

"Kelihatannya dia suka main-main dengan banyak cewek. Pasti kalau sudah bosan bakal langsung dibuang tanpa ampun. Sebelum beredar rumor pun aku sebenarnya lumayan akrab dengannya, tapi dia memang tipe cowok yang seperti itu."

 

Di pihakku sendiri sama sekali tidak punya ingatan pernah akrab dengannya sih……

 

"Bagus juga kalau kamu dan Kirifuji-san mau bantu menyebarkannya di antara murid kelas 1."

 

"Benar juga ya. Kalau sekadar memberi peringatan agar orang-orang di sekitar lebih berhati-hati sih mungkin bisa kami lakukan. Tapi, kalau sumber rumornya tidak jelas………… sebagai pengurus OSIS kami tidak bisa ikut campur menyebarkan rumor tak pasti yang belum tentu kebenarannya."

 

"……………Begitu ya, memang benar sih. Kalau sumber informasinya tidak bisa dipercaya sampai batas tertentu, pengurus OSIS tentu tidak bisa diajak kerja sama ya. Ung. Soal itu sih kamu tenang saja. Soalnya yang menyebarkan rumor ini adalah aku sendiri."

 

Sasahara-senpai, sudah dipastikan sebagai dalangnya.

"Apakah hal itu benar? Bukannya Senpai sedang pasang badan melindungi seseorang?"

 

"Ah, ini benar-benar aku kok. Atau kamu merasa aku ini tidak layak untuk dipercaya?"

 

Banget!!

 

"Aku mengerti. Akan kucoba beri peringatan kepada murid kelas 1…… khususnya para siswi agar lebih berhati-hati."

 

Kirifuji-san membalas dengan senyuman ramah nan sempurna seperti biasanya.

 

"Terima kasih. Sangat membantu."

 

Kami membungkuk kecil, lalu untuk sementara meninggalkan tempat itu.

 

"Ternyata dia gampang banget ngaku ya. Bagaimana ya mengatakannya, bukannya orang-orang seperti ini biasanya tidak mau ketahuan kalau dialah sumbernya?"

 

"Ya, pada umumnya memang seperti yang senpai katakan. Karena tidak mau bertanggung jawab dan tidak ingin merusak hubungan antar manusia, psikologi orang-orang akan mengarah ke sana. Tapi, Sasahara-senpai itu kan orang populer di sekolah. Karena itulah dia berpikir meskipun dibenci sedikit pun posisinya tidak akan bergoyang."

"Maksudnya dia punya rasa percaya diri berlebih sebagai kasta tertinggi?"

 

"Begitulah. Rasa tidak tersentuh khas kasta tertinggi. Bisa dibilang begitu."

 

Orang-orang yang secara sosial terlindungi seperti

Sasahara-senpai—kapten tim basket, ganteng, populer, dan berada di kasta atas sekolah—memang sangat gampang terjerumus ke dalam psikologi semacam itu.

 

Lagipula, dari sudut pandang Sasahara-senpai, dia pasti menginginkan kerja sama dari pengurus OSIS yang punya popularitas dan pengaruh lebih tinggi darinya.

 

Kirifuji-san pasti memancing informasi dari Sasahara-senpai dengan memperhitungkan hal tersebut.

 

"Nah, karena bukti sudah didapatkan, aku akan kembali ke ruang OSIS sebentar. Kemungkinan Sasahara-senpai bakal dipanggil sepulang sekolah nanti, jadi tolong luangkan waktumu ya."

 

"Ung. Aku paham."

 

Yah, padahal sepulang sekolah aku kan selalu senggang sih!

 

Tentu saja hal menyedihkan seperti itu tidak mungkin kuucapkan dan cuma kupendam di lubuk hati yang terdalam.

 

◇

 

"Ternyata yang menyebarkan rumor tentang Bun-kun itu Sasahara-senpai ya……"

 

Hiyori mengangguk seolah mengerti semuanya.

 

Sepulang sekolah, aku dan Hiyori sedang menunggu di ruang OSIS sambil menikmati teh seduhan Kirifuji-san.

 

Saat ini, Tenma dan Kimura-kun sedang pergi memanggil Sasahara-senpai.

 

Aku juga sempat mengajak Tsukimi-san, Serizawa-san, dan Ichika, tapi mereka bertiga kelihatannya sedang ada urusan jadi tidak bisa datang.

 

Yah, karena mendadak juga jadi mau bagaimana lagi.

 

Sesuai rencana, seharusnya sebentar lagi. Tepat saat aku memeriksa

waktu, pintu ruang OSIS mendadak terbuka.

 

"Bungaku, selamat atas kerja kerasnya. Maaf ya sudah menyita waktumu."

 

Di sana berdiri Tenma dan Kimura-kun. Serta sang pelaku, kapten tim basket Sasahara-senpai.

 

Awalnya Sasahara-senpai memasang raut wajah bingung tak paham situasi. Namun begitu menyadarinya, ekspresinya pelan-pelan makin mengeras.

 

Tampaknya dia sudah paham kalau para anggota OSIS berdiri di pihakku.

 

"Etto, kenapa aku dipanggil ke ruang OSIS ya? Aku kan sebenarnya lagi ada kegiatan klub?"

 

Sasahara-senpai berucap dengan nada ringan seolah berpura-pura bodoh.

 

"Yang menyebarkan rumor aneh tentang Bungaku itu Sasahara-senpai, kan?"

 

Mendengar pertanyaan yang terlalu blak-blakan dari Tenma, Sasahara-senpai terdiam sesaat sebelum menjawab.

 

"Ya-, masa sih……"

 

"Beralasan pun tidak ada gunanya, Sasahara-senpai. Soalnya cerita

rumor tentang Tomida-senpai yang Anda katakan padaku tadi sudah kurekam dengan benar."

 

Kirifuji-san tersenyum manis sambil menunjukkan ponsel yang berisi data rekaman.

 

Tepat saat itu.

Pandangan mata Sasahara-senpai sempat goyah sejenak.

 

"Aku sangat ahli dalam hal beginian♪"

 

Seolah membaca apa yang ingin dikatakan Sasahara-senpai lewat ekspresi wajahnya, Kirifuji-san berucap dengan raut sedikit bangga.

 

Sasahara-senpai tidak mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya bisa berdiri mematung dalam kebingungan.

 

Sebab dalam situasi seperti ini, keunggulan kasta milik Sasahara-senpai sama sekali tidak berguna.

 

Kombo tiga serangkai: korban + OSIS + bukti  bukanlah sesuatu yang bisa dilawan secara terang-terangan, seberapa populernya dia atau seberapa hebat posisinya sebagai kapten tim olahraga.

 

"………………Memang benar. Akulah yang menyebarkan rumor itu."

 

Setelah keheningan panjang, Sasahara-senpai menatapku dengan senyuman ejekan pada diri sendiri seolah sudah pasrah.

 

"Tidak disangka OSIS malah berpihak pada orang sepertimu ya…… Menyusul Hiyori, sebenarnya dengan cara apa kamu mengambil hati mereka?"

 

Sasahara-senpai berucap sambil melayangkan tatapan sinis dengan pipi yang sedikit kedutan.

"Sasahara-senpai. Bungaku itu adalah sosok penolong yang sudah menyatukan kembali 'orang yang sangat kucintai' dan 'sahabatku yang berharga'. Tolong hentikan cara bicaramu yang seperti itu."

 

Tenma yang bahkan di karya aslinya tidak pernah marah sama sekali, kini beneran marah. Meski pembawaannya tenang, tapi tekanannya nyata.

 

"Kenapa kamu melakukan hal seperti ini?"

 

"Mungkin untuk melampiaskan kekesalan karena sudah ditolak

mentah-mentah oleh Nanase-senpai…… kali ya."

 

Saat Kirifuji-san menjawab pertanyaan Hiyori, Sasahara-senpai hanya bungkam tanpa kata.

 

Tampaknya tebakan itu tepat sasaran.

 

"Uwwah…… kerdil banget jadi cowok."

 

Kimura-kun melontarkan kata-kata itu dengan ekspresi wajah yang

terang-terangan menunjukkan rasa jijik.

 

"……Yah, aku minta maaf ya, Tomida-kun. Aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Aku berjanji."

 

Permintaan maaf sebatas bibir tanpa sedikit pun rasa tulus dari dalam hati.

Menyadari hal itu, Tenma mengambil satu langkah mendekat dan memberikan teguran keras kepada Sasahara-senpai.

 

"Tolong kerahkan usahamu untuk meredakan rumor tentang Bungaku ya. Kami akan terus mengawasimu."

 

"Un!! Aa…… aku mengerti."

 

Gemetar ketakutan di hadapan tekanan Tenma, Sasahara-senpai meninggalkan ruang OSIS seolah-olah sedang melarikan diri.

 

Punggungnya kelihatan jauh lebih kecil dari biasanya.

 

"Nah, karena pelakunya sudah ketemu, apa dengan begini masalahnya sudah selesai?"

 

"Begitulah. Mulai sekarang rumornya bakal mereda sedikit demi sedikit. Tapi tidak akan bisa mereda secara total sih."

 

Seperti yang dikatakan Kirifuji-san, rumor yang sudah terlanjur menyebar luas hampir mustahil untuk menghilang sepenuhnya. Bukan tidak mungkin hal ini bakal terus diungkit kembali setiap kali ada kesempatan di masa depan.

 

Meski begitu, fakta bahwa satu tahap masalah ini sudah selesai tetaplah benar.

 

"Semuanya, terima kasih banyak sudah membantuku."

 

Aku membungkukkan badan kepada semuanya.

 

Semua orang memberikan balasan yang berbeda-beda.

 

Ada yang membalas dengan tulus mengucapkan sama-sama, ada juga yang memberikan balasan tsundere maksimal dengan berujar bukan berarti melakukan ini demi diriku.

 

"Mumpung sudah begini, bagaimana kalau kita mengadakan acara perayaan kecil-kecilan? Kebetulan aku punya camilan istimewa lho."

 

"Ah, boleh juga tuh!"

 

Hiyori langsung menyambar usulan dari Kirifuji-san.

 

Bagaimana nasib rumor ini ke depannya memang masih bikin penasaran, rasa cemas dan gelisah pun masih tersisa.

 

Meskipun begitu, daripada memikirkan hal itu, sekarang mari kita alihkan pandangan pada momen menyenangkan yang ada di depan mata.

 

Melihat mereka semua, itulah yang kupikirkan.

 

◇

 

"……Sip, dengan begini sepertinya sudah selesai semua ya."

 

"Iya ya."

Sepulang sekolah, aku dan Bun-kun menyelesaikan berbagai tugas kecil yang diminta guru sebagai ketua kelas.

 

"Entah bagaimana mengatakannya, rasanya jadi ketua kelas bareng Bun-kun sudah makin terbiasa, ya."

 

"Memang sih, padahal belum berlalu begitu lama."

 

"Kan? Rasanya kehebatan duet kita ini makin terasah saja!"

 

Sambil membicarakan hal tak penting seperti itu, kami pun menyelesaikan persiapan untuk pulang.

 

Sudah 1 minggu berlalu sejak terungkapnya Sasahara-senpai sebagai dalang yang menyebarkan gosip.

 

Topik seputar gosip tersebut pelan-pelan mulai mereda. Meski masih banyak orang yang melayangkan tatapan tajam bagaikan menusuk ke arah Bun-kun sih.

 

Yah, karena orangnya sendiri kelihatan tidak begitu ambil pusing, aku rasa waktu yang bakal menyelesaikan semuanya.

 

"Ooh, Bungaku dan Hiyori. Kebetulan sekali ya."

 

Tenma, Kimura-kun, dan Kirifuji-san…… kami berpapasan dengan para pengurus OSIS. Kelihatannya mereka bertiga juga baru selesai menyelesaikan urusan OSIS dan mau pulang.

Entah bagaimana, kami berlima berjalan menuju rak sepatu bersama, mengganti sepatu, lalu melangkah keluar gerbang sekolah.

 

"Nanase-senpai."

 

Seketika setelah keluar dari sekolah, Kirifuji-san yang berjalan sambil memperhatikan Bun-kun di depan menyapaku.

 

"……Di antara murid kelas 2, bagaimana perkembangan rumor tentang Tomida-senpai?"

 

"Uumm. Kalau dibandingkan saat puncaknya sih sudah mendingan. Kayaknya. Soalnya masih banyak orang yang bicara buruk soal

Bun-kun."

 

Yah, meredanya gosip memang memakan waktu, jadi mau bagaimana lagi.

 

"Begitu ya…… Ada satu hal yang ingin kusampaikan kepada Nanase-senpai."

 

Eh? Kepadaku?

 

"Tampaknya, cerita bahwa Sasahara-senpai menyebarkan rumor buruk demi menjatuhkan Tomida-senpai sudah menyebar luas di dalam sekolah."

 

"Eh?"

"Asal muasalnya kemungkinan dari pengikut Sasahara-senpai yang sebelumnya ikut membantu menyebarkan rumor Tomida-senpai."

 

"Kenapa bisa jadi begitu?"

 

"Aku rasa mereka cuci tangan dan membuang Sasahara-senpai. Banyak murid yang melihat Sasahara-senpai dipanggil oleh Ketua dan Wakil Ketua saat kegiatan klub. Di mata para pengikutnya, OSIS tampak sudah bertindak dan bakal ada pertanda sanksi. Sasahara-senpai kelihatannya punya banyak sekutu, padahal kenyataannya tidak. Begitulah kira-kira."

 

"Maksudmu, karena tidak mau ikut terseret, mereka menimpakan semua kesalahannya kepada Sasahara-senpai?"

 

Mendengar kata-kataku, Kirifuji-san hanya mengangguk.

 

"Kenapa kamu memberitahuku?"

 

"Karena dalam masalah ini, Nanase-senpai justru lebih mengkhawatirkan Tomida-senpai daripada dirinya sendiri."

 

"Aku sih bukannya terlalu memperhatikan, cuma cemas saja……"

 

Soalnya Bun-kun itu punya sisi yang masa bodoh dengan dirinya sendiri……

 

"……Nanase-senpai, bagian mana dari Tomida-senpai yang membuatmu tertarik padanya?"

 

"Uweh!? Kok mendadak begitu!?"

 

"Karena aku sendiri lumayan tertarik pada Tomida-senpai, jadi penasaran."

 

Eh, eh, eh. Kirifuji-san, menaruh minat pada Bun-kun? Memang sih dia sering mengajak Bun-kun bicara, dan rasanya jarak mereka agak dekat, tapi sebenarnya kenapa?

 

"E, etto……"

 

Bingung mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan, Kirifuji-san tersenyum padaku dengan ekspresi yang terkesan bijaksana.

 

"Tidak mau memberitahuku, ya?"

 

"He!? Bukan berarti tidak mau……"

 

Entah kenapa, kata-kata selanjutnya tersangkut di tenggorokan.

 

"Tidak apa-apa kok. Lagipula, sesuatu yang sangat kita sukai memang wajar kalau ingin kita miliki sendiri.."

 

"A, bukan begitu"

 

"Uwah, kolam ini kotor banget."

 

Terseret oleh ucapan Kimura-kun, perhatian kami beralih ke arah kolam.

Seperti yang dikatakan Kimura-kun, Kolam itu begitu kotor sampai sampah mengapung di permukaannya. Padahal seharusnya tidak terlalu dalam, tetapi dasarnya bahkan tidak terlihat.

 

"Mungkin karena pengelolaannya tidak menjangkau sampai ke sini. Walau cuma kebetulan lewat, tapi ini bisa jadi kegiatan pembersihan lingkungan, dan sepertinya bagus juga kalau OSIS mengumpulkan sukarelawan untuk membersihkannya."

 

"Ugeeh, kolam comberan begini mah biarpun kegiatan OSIS aku ogah masuk. Bangkai tikus saja sampai mengapung tuh."

 

Seperti yang dibilang Kimura-kun, aku jadi cemas apa tidak apa-apa

kalau masuk ke sana. Maksudku, takut kena penyakit atau semacamnya.

 

"……Lho, bukannya itu Sasahara-senpai?"

 

Di ujung dermaga kayu yang ditunjuk Tenma, tampak sosok Sasahara-senpai yang masuk ke dalam kolam comberan dan sedang mencari sesuatu dengan setengah mati.

 

Lalu, beberapa murid yang kebetulan lewat seperti kami tampak mengambil foto Sasahara-senpai menggunakan ponsel sambil menertawakannya.

 

"Lagian kenapa sih anak itu malah masuk ke kolam comberan?"

 

"Ada barang yang jatuh kali? Setengah mati banget nyarinya, kocak dah."

"Ahahah, dasar Dobuhara. Foto ini sebarin ke media sosial lucu kali ya?"

 

Sasahara-senpai dijadikan bahan tertawaan oleh semua orang.

 

Pemandangan ini rasanya mencerminkan posisi Sasahara-senpai yang sekarang.

 

"Gimana ya bilangnya…… benar-benar karma."

 

Melihat Sasahara-senpai, Kimura-kun bergumam pelan.

 

Jujur saja, melihatnya membuat perasaanku sedikit kurang nyaman, dan di saat yang lain berniat pergi meninggalkan tempat itu,

 

"Maaf. Nanase-san, boleh kutitipkan tas?"

 

"He?"

 

Saat berbalik dengan kaget, Bun-kun sedang melepas blazernya dan menggulung bagian bawah bajunya sambil menatap Sasahara-senpai.

 

"Hah? Tomida…… kamu jangan-jangan berniat menolong orang seperti Sasahara?"

 

"Ung. Habisnya, dia nyarinya sampai setengah mati begitu. Pasti itu barang yang sangat berharga."

 

"Gila ya, Sasahara itu kan dalang yang menyebarkan rumor buruk tentangmu? Biarkan saja orang seperti itu."

"Hal itu kan tidak ada hubungannya dengan yang sekarang."

 

Menanggapi kata-kata Kimura-kun, kami sampai dibuat tercengang oleh ucapan Bun-kun yang diutarakannya seolah bukan masalah besar.

 

"Nanase-san. Tasnya tolong ya."

 

"E, a, u, ung."

 

"Kalau begitu, aku pergi dulu!"

 

Meninggalkan kami yang terpaku tercengang, Bun-kun berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat Sasahara-senpai.

 

"T-, tunggu sebentar Bun-kun!?"

 

Melihat Bun-kun masuk ke dalam kolam comberan tanpa ragu, kami

pun bergegas menuju ujung dermaga kayu.

 

"Sasahara-senpai, aku bantu. Lagi mencari apa?"

 

Mendengar kata-kata Bun-kun, Sasahara-senpai melayangkan tatapan mata seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ke arah Bun-kun.

 

"Kenapa…… kamu? Orang sepertiku……?"

 

Suara Sasahara-senpai terlontar tanpa sengaja.

 

"Karena Sasahara-senpai kelihatannya bersungguh-sungguh."

Mendengar jawaban jujur nan lugas dari Bun-kun, Sasahara-senpai terdiam sesaat sebelum menjawab.

 

"…………A, tidak, kamu tahu sendiri kan. Murid-murid di sekitar lagi merekam situasi sekarang pakai HP. Kalau tersebar, kamu juga bakal dijadikan bahan tertawaan bareng aku tahu?"

 

Mendengar kata-kata Sasahara-senpai, Bun-kun melirik pelan ke arah para murid yang sedang merekam dengan ponsel.

 

"Benar juga ya. Kalau begitu waktu itu mari kita ditertawakan bersama."

 

Senyuman Bun-kun yang begitu lembut sampai rasanya ingin membuatku menangis.

 

"…………Cincin. Jatuh. Ini peninggalan Ibu. Sepertinya jatuh di sekitar sini."

 

Sasahara-senpai berucap sambil mengernyitkan wajahnya yang hendak menangis.

 

"Aku mengerti. Tidak perlu memasang wajah seperti itu, kamu tenang saja. Aku pasti bakal menemukannya!"

 

Sambil berkata begitu, Bun-kun mencari cincin itu dengan wajah yang belepotan lumpur.

 

"Tenma, ada apa sih sama cowok ini. Orang sebaik ini kok bisa sampai kelewatan begini……"

"Ahaha, memang orang yang terlalu baik ya. Tapi aku nggak bisa membiarkan orang sebaik itu sendirian. Aku memang sangat menyukainya. Ryota juga begitu, kan?"

 

"Hah? Hei! Tenma!?"

 

Sama seperti Bun-kun, Tenma melepas sepatunya, melipat lengan bajunya, lalu masuk ke dalam kolam comberan menghampiri Bun-kun.

 

"…………Ah, sialan, beneran bodoh banget sih mereka itu!"

 

Meskipun ngomong begitu, Kimura-kun melepas tasnya lalu ikut masuk ke dalam kolam comberan.

 

"Bun-kun, pokoknya semua barang yang kamu temukan taruh di atas dermaga kayu! Biar aku yang periksa!"

 

"Aku juga bakal membantu."

 

"Nanase-san, Kirifuji-san. Terima kasih ya."

 

Aku menatap lekat wajah Bun-kun.

 

Profil wajahnya yang belepotan lumpur itu entah kenapa terlihat begitu keren. Dan yang paling utama, melihat ekspresi bersungguh-sungguh dari Bun-kun membuatku menyadarinya.

 

Benar juga ya. Bun-kun itu selalu berusaha bersungguh-sungguh, begitu jujur dan lurus hingga menyilaukan, selalu mengulurkan tangan kapan saja, dan bersikap sangat perhatian.

 

Aku ini, soal Bun-kun yang seperti itu——

 

"Nanase-san? Ada apa?"

 

"Tidak. Bukan apa-apa. Beneran bukan apa-apa kok."

 

Aku tersenyum seolah ingin mengelabui Bun-kun yang memasang raut wajah bingung.

 

Setelah itu, kami terus mencari sampai hari hampir benar-benar gelap. Setelah terus mencarinya, barang Sasahara-senpai yang hilang akhirnya berhasil ditemukan.

 

Bun-kun sama sekali tidak menanyakan alasan kenapa Sasahara-senpai sampai menjatuhkan cincin itu. Bagi Bun-kun, mungkin hal semacam itu memang bukan hal yang penting untuk dipersoalkan.

 

"Tomida-kun, terima kasih ya…… beneran…… maafkan aku."

 

Sasahara-senpai menyampaikan ucapan terima kasih dan permintaan maafnya kepada Bun-kun dari lubuk hatinya.

 

"Eh? Aaa…… soal kotor kena lumpur sih tidak usah terlalu dipikirkan."

 

"Bukan, bukan cuma soal itu saja……"

"Eh? Ah, kalau begitu, apa karena sudah selarut ini?"

 

"Bukan, bukan karena itu juga……!"

 

"Tidak usah sungkan begitu kali. Ah, benar juga. Kalau begitu, traktir kami semua kroket saja deh."

 

"Bukan, beda tahu. Maksudku bukan ke arah sana!! Ah, tidak, kalau traktir kroket sih bakal kutraktir tapi……!!"

 

Entah kenapa, percakapan antara Bun-kun dan Sasahara-senpai sama sekali tidak nyambung.

 

"Tenma. Apaan nih. Interaksi model begini."

 

"……Entahlah? Tapi ya bukannya bagus kalau mereka jadi makin akrab?"

 

"Etto, bakal…… jadi seperti itu kali ya?"

 

"……Fufu, hal yang seperti itu. Kelihatannya ya."

 

Melihat interaksi Bun-kun dan Sasahara-senpai yang mirip komedi manzai, kami semua tertawa serba salah.

 

◇

 

"……Ah, kroket yang ini. Enak sekali ya."

 

"Beneran? Soalnya ini rekomendasiku, syukurlah kalau cocok dengan selera Kirifuji-san."

 

Melihat diriku yang menyantap kroket dengan nikmat, Bungaku-senpai tersenyum senang.

 

Kami sedang berjalan di jalur pulang sambil menyantap kroket yang ditraktir oleh Sasahara-senpai.

 

Di saat semua orang sedang menikmati makanan dengan penuh kehangatan, hanya Wakil Ketua Kimura seorang yang memasang pandangan mata hampa.

 

Mungkin karena tidak tega melihat Wakil Ketua Kimura yang seperti itu, Ketua Shindou menepuk bahu Wakil Ketua Kimura pelan.

 

"Ada apa? Ryota."

 

"Apanya yang ‘ada apa’!! Badanku belepotan lumpur! Bau lagi! Sial banget! Beneran, norak bang——"

 

"Tidak norak kok."

 

Tidak seperti biasanya, Bungaku-senpai membantah ucapan Wakil Ketua Kimura dengan nada bicara yang jelas dan mantap.

 

Mendengar hal itu dari Bungaku-senpai, Wakil Ketua Kimura pun mengernyitkan alisnya.

"Hah? Penampilan penuh lumpur begini. Dilihat siapa pun dari sudut mana pun jelas-jelas kelihatan jelek dan norak kan."

 

"Tidak seperti itu kok. Waktu itu aku sangat senang karena kamu mau ikut membantu mencari cincinnya bersama-sama, dan aku merasa Kimura-kun yang seperti itu kelihatan keren. Makanya, aku tidak bakal membiarkan siapa pun mengatakan kamu kelihatan jelek."

 

Bungaku-senpai mengatakannya dengan begitu kuat dan tegas tanpa ragu.

 

"Ah……!? H-hah!? I-itu…… b-bukannya begitu!! Dipuji cowok mah sama sekali tidak bikin senang tahu!"

 

"Oho, ada apa nih Ryota. Jarang-jarang kamu sampai salah tingkah begini?"

 

"B-bukan!! Bukan begitu!! Rasanya ritmeku jadi berantakan, terus bikin risi geli gimana gitu…… ah, elah, udah deh!!"

 

Sambil membiarkan warna merah merambat sampai ke ujung telinganya, Wakil Ketua Kimura mengalihkan pandangan lalu melahap kroketnya dengan asal-asalan.

 

Fufu, saya paham kok. Wakil Ketua Kimura. Biasanya yang dipuji kan cuma penampilan luar dan kemampuan Anda saja, tapi saat ini karena diri Anda sendiri yang dipuji, jadinya merasa malu kan?

 

Lalu yang paling utama dari semuanya, rasanya membahagiakan.

Karena rasanya seolah diri sendiri benar-benar diperhatikan dengan mantap.

 

……Sedikit, aku merasa iri pada Wakil Ketua Kimura ya.

 

"…………"

 

Nanase-senpai hanya menatap interaksi antara Bungaku-senpai dan Wakil Ketua Kimura dalam diam.

 

Raut wajahnya tampak menyimpan sedikit bayangan muram……

 

 

"……Nanase-senpai?"

 

"Uweh!? A-ada apa ya?"

 

"Tidak, karena Senpai memperhatikan Wakil Ketua dan yang lainnya dengan ekspresi yang terkesan cukup rumit."

 

"Ahaha, bukan apa-apa kok, tidak ada apa-apa……"

 

Nanase-senpai berucap sambil menggenggam erat tali tas sekolahnya.

 

……Fumu, untuk saat ini sepertinya lebih baik tidak mendesaknya lebih jauh dari ini ya.

 

◇

Di saat semua orang melangkah menuju jalur pulang masing-masing, pada akhirnya tersisa aku dan Bungaku-senpai berdua saja.

 

Aku menatap wajah Bungaku-senpai dari samping.

 

Gawat.

 

Padahal harusnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan dan kubicarakan dengan Bungaku-senpai…………

 

Sosoknya saat melompat masuk ke kolam comberan tanpa ragu waktu itu, sosoknya yang terus mencari dengan sekuat tenaga meski wajahnya tersiram lumpur, serta sorot matanya yang begitu serius itu, benar-benar tidak bisa hilang dari kepala. Kata-kata yang ingin kuucapkan entah kenapa malah tersangkut di dasar tenggorokan.

 

 

"………………"

 

"………………"

 

Keheningan terus berlanjut.

 

A-aneh ya. Aku tidak bisa memancing pembicaraan dengan lancar seperti biasanya.

 

Saat aku sedang dibuat bingung oleh diriku sendiri yang berbeda dari biasanya, Bungaku-senpai justru yang duluan memancing pembicaraan.

 

"Kirifuji-san. Terima kasih ya untuk berbagai hal hari ini."

 

"He, a, i-iya…………"

 

Bukan, bukannya 'iya' dong. Harus dipanjangkan pembicaraannya dari situ. Sedang apa kamu Kirifuji Sena.

 

Setelah berdehem pelan sejenak, aku menatap Bungaku-senpai.

 

"Tapi ya…… melompat masuk ke kolam comberan begitu benar-benar membuatku terkejut. Bagaimanapun juga, kalau terlalu baik sampai sebegininya bukannya agak kelewatan ya……"

 

Aduh gawat. Padahal aku tidak berniat mengucapkan hal dengan nada seperti itu……

 

Kata-kata yang terlontar justru berbanding terbalik dengan kalimat yang sudah kususun di dalam kepala, membuat keringat dingin bercucuran.

 

Menanggapi diriku yang seperti itu, Bungaku-senpai hanya tersenyum serba salah.

 

"Ahaha…… beneran maaf ya. Ah, benar juga. Yah hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih, aku mau belikan minuman di sana sebentar. Teh tidak apa-apa?"

 

Senpaimenunjuk mesin penjual otomatis yang ada tepat di dekat situ.

 

"Ah, tidak…… aku mengatakannya bukan dengan niat seperti itu……!"

"Tidak apa-apa, aku paham kok. Tapi ya, anggap saja ini demi menjaga harga diri senpaimu lalu terima saja traktirannya ya."

 

"……Kalau Senpai mengatakannya sampai sejauh itu. Mumpung sudah ditawarkan, mohon bantuannya ya."

 

"Ung, paham."

 

……Ah, gawat. Aku lupa memberitahunya kalau aku mau yang tanpa gula (unsweetened).

 

Jujur saja, selain teh murni tanpa susu, lemon, maupun gula, aku tidak begitu menyukainya sih…… tapi ya mau bagaimana lagi.

 

Sambil menatap Bungaku-senpai yang melangkah menuju mesin penjual otomatis, aku pun berpikir.

 

Jujur saja, aku sudah menaruh minat pada Bungaku-senpai bahkan sebelum kami saling bertemu.

 

Ketua Shindou dan Nanase-senpai yang merupakan salah satu sosok paling populer di sekolah.

 

Ayabe-senpai, Tsukimi-senpai, dan Serizawa-senpai yang selalu masuk jajaran siswa berprestasi.

 

Semua orang itu memberikan perhatian padanya.

 

Khususnya Nanase-senpai…… terlihat jelas ada perasaan yang menyerupai obsesi terhadapnya.

 

Alasannya baru saja sedikit kupahami tadi.

 

Yang ingin kuketahui adalah hal setelah itu, satu langkah lebih dalam menyusup ke sana……

 

"Maaf membuatmu menunggu. Etto, tidak apa-apa kan yang tanpa gula?"

 

"Eh?"

 

Yang disodorkan oleh Bungaku-senpai adalah teh tanpa gula.

 

K-kenapa bisa……?

 

"Lho, waktu kamu minum teh di ruang OSIS, kamu kan tidak memasukkan gula maupun susu, makanya kupikir lebih baik yang tanpa gula saja, apa salah ya?"

 

"……Tidak, terima kasih banyak ya. Fufu."

 

"Eh, k-kenapa?"

 

"Bukan apa-apa, bagi Senpai hal seperti ini pasti cuma sekadar hal sepele yang tidak berarti ya."

 

Bungaku-senpai meminum teh susunya sedikit sambil memasang raut wajah bingung.

 

Sambil menatap Senpai dengan senyum hangat, aku meminum teh tanpa gula.

 

Kalau sekarang, rasanya hal-hal yang benar-benar ingin kutanyakan, bakal bisa kuucapkan dengan benar.

 

Aku menarik napas perlahan, lalu menatap Bungaku-senpai.

 

"……Apakah Senpai pernah dimanfaatkan gara-gara kebaikan hati yang berlebihan itu? Apakah sama sekali tidak pernah merasa muak?"

 

Inilah hal yang sebenarnya ingin kutanyakan.

 

Menanggapi pertanyaanku, Bungaku-senpai sempat membelalakkan matanya karena terkejut untuk sejenak, namun di saat berikutnya dia mengangguk dengan sorot mata yang terkesan cukup serius.

 

"Benar juga ya. Seperti yang dikatakan Kirifuji-san, dimanfaatkan atau disakiti itu sudah sering banget terjadi. Aku selalu diperlakukan sebagai 'orang baik' yang serbaguna dan menguntungkan bagi semua orang."

 

Sorot mata Bungaku-senpai saat mengatakan itu adalah sorot mata seseorang yang sama-sama pernah dimanfaatkan sepertiku.

 

Aku sendiri selama ini juga dimanfaatkan orang lain demi kepentingan mereka, entah dari penampilan, kemampuan, maupun latar belakang keluargaku.

 

Alasanku masuk ke OSIS pun karena aku sudah benar-benar muak dari dasar hatiku saat melihat orang-orang saling berebut memperebutkan kemampuanku, dan ingin segera mengakhirinya.

 

"Tapi, aku ingin percaya kalau bukan cuma sebatas itu. Pasti akan ada seseorang yang benar-benar melihatku. Aku ingin percaya seperti itu."

 

Entah kenapa, sorot mata Bungaku-senpai saat mengatakan itu terasa begitu memikat.

 

Pasti dia sudah sering diperlakukan seenaknya demi keuntungan banyak orang, namun Bungaku-senpai yang tetap bersikeras mempertahankan kebaikan hatinya itu terasa sangat luar biasa bagiku.

 

"Lagipula, hari ini Kirifuji-san dan yang lainnya benar-benar memperhatikanku, kan? Itu saja sudah membuatku cukup bahagia."

 

"Hal itu tuh……"

 

"Makanya Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku."

 

Melihat senyuman dan mendengar nada suara lembut dari

Bungaku-senpai saat mengucapkan hal itu, napasku seketika terhenti.

 

"……Bungaku-senpai."

"Eh, lho? Panggilannya……"

 

"Maaf ya, tapi bisakah aku minta teh susunya satu teguk?"

 

"Eh? Sudah kuminum kok, tidak apa-apa nih?"

 

"Iya, sebagai gantinya, meskipun tidak seberapa, aku akan memberikan tehku satu teguk."

 

"Eh, tidak…… tidak usah tidak apa-apa kok!"

 

"Begitu ya…… ciuman tidak langsung denganku itu rasanya menjijikkan…… ya. Maafkan aku."

 

Sambil menerima teh susu milik Bungaku-senpai, aku berpura-pura bersedih dan terisak pelan.




"EH!? B-bukan begitu maksudku……!! Bukan berarti aku tidak mau 

ciuman tidak langsung……!!"


"Fufu……"


Sambil memperhatikan Bungaku-senpai yang panik tak karuan, aku menempelkan bibirku ke bekas tegukan teh susu miliknya.


Seperti dugaanku, rasanya manis.


Meskipun begitu. Sekali-kali menikmati yang manis sepertinya tidak 

buruk juga.


◇


"……Fuuu."


Seperti boneka yang talinya terputus, aku langsung ambruk ke atas tempat tidur.


Makan malam, mandi, hingga perawatan rambut dan kulit semuanya sudah selesai, sisanya tinggal tidur.


"……Bungaku-senpai."


Yang mendadak melintas di dalam benakku adalah wajah Bungaku-senpai.


"………………"

Memasang earphone, aku mulai mengoperasikan ponselku.


Pik.


『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』


"Bungaku-senpai……"


Pik.


『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』


"…………………………Haaaah~~~ sukanyaaa."


Aku memeluk erat-erat guling yang ada di atas tempat tidur.

"Hoaaaaaahhhh!!! Senpai!! Bungaku-senpai!! Suka! Aku suka banget sama Bungaku-senpai!! Ekspresi seriusnya waktu itu!!

Sorot mata itu!! Sikapnya yang terus mempertahankan kebaikan hatinya!! Suuuuper keren!! Nada suaranya yang lembut juga bikin meleleh! Terus, terus, fakta kalau dia memperhatikan diriku dengan benar itu juga bikin aku sukaaa banget!! Tapi tapi tapi, memang senyuman lembutnya itu yang paling nomor satu!! Sifatnya yang terlalu baik hati itu juga bikin aku nggak bisa membiarkannya begitu saja!! Haaaaah~~~~ kalau begini, aku yang harus melindunginya dong!! Duh~!? Kenapa sih!? Hah!? Yang begitu kan curang namanya!! Bikin mau mengamuk tahu tidak!? Terlalu indah dan berharga!! Beneran cinta mati tahu tidak!? Au-au-au-au!! Bungaku-shenpaaiii~! Suka suka sukaaa~~~♡ Cinta banget~~~♡"


Pik.


『Kirifuji-san. Terima kasih ya sudah memperhatikan diriku.』


Oke, tenangkan diri dulu.


"Ah~ kenapa ya suara Bungaku-senpai ini bisa bikin tenang banget begini…… Ini pasti efek 1/f fluctuation, kan. Ung. Pasti begitu. Sudah pasti begitu…… apa kuputar ulang terus-menerus saja ya sambil tidur……"


Mengatur panggilannya ke mode loop, di dalam kesadaran yang mulai samar-samar menjelang tidur, aku pun berpikir.


"Variasi…… suara Bungaku-senpai…… harus…… diperbanyak lagi……………" 



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close