Bab 3: 「Sifat
Posesif Heroine Favorit」
Setelah Hiyori kembali berinteraksi
dengan Tenma dan Ayabe-san, waktu pun berlalu begitu saja.
Malam sebelum pesta ulang tahun Hiyori.
Saat aku sedang bersiap untuk tidur demi menyambut besok, nada dering ponselku
berbunyi.
Siapa ya jam segini? Hiyori kah?
Sambil
memikirkan hal itu, saat melihat layar ponsel, tertera tulisan 『Serizawa-san』.
Eh? Serizawa-san?
Meski sedikit gugup menerima telepon dari
Serizawa-san, aku pun mengangkatnya.
"H-halo. Serizawa-san ada apa?"
『Hei, Bun-bun. Mau pergi ke Donki sebentar tidak
sekarang?』
Eeh……
"Etto, kalau ke Donki bukannya tadi
sepulang sekolah kita sudah pergi
ya?"
『Ung. Seperti yang dikatakan Bun-bun, tadi
sepulang sekolah kita memang pergi membeli perlengkapan pesta ulang tahun. Tapi
ya, kita sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.』
"Eh? Kesalahan fatal?"
Apa ya. Apa ada barang penting yang lupa
dibeli.
『Kita belum membeli party popper raksasa dan
selempang Bintang Utama Hari Ini……!!』
……O-oh.
"Etto, apa barang itu wajib?"
『Bicara apa sih kamu Bun-bun.
Sangat·Dibutuhkan·Sekali. Tahu. Makanya sekarang kita pergi ya.』
"Eh? Sekarang maksudnya…… ini sudah
lewat jam 9 tahu!? Sudah malam, bagaimana kalau besok saja?"
『Kalau begitu tidak boleh. Harus dari sekarang,
kalau tidak bakal tidak sempat lho, Bun-bun.』
"Ujung-ujungnya kamu cuma mau
merasakan keseruan pergi ke Donki saat larut malam kan."
『Hu, ternyata kamu paham ya. Sekarang aku sudah
pakai kaos kaki tahu.』
"Tidak tidak, tidak boleh
tahu."
『Sudah terlambat kalau mau melarang sekarang. Aku
sudah pakai sepatu dan keluar rumah. Etto, rumah Bun-bun di mana ya?
Pokoknya
kalau jalan ke arah timur nanti sampai kan ya.』
"Waaaaah!! Sekarang aku bakal pergi
menjemputmu, jadi tunggu
dengan tenang di rumah!!"
『Ooh paham.』
"Sekarang aku sudah pakai sepatu dan
keluar rumah ini!!"
『Cepat banget.』
"Ruwet banget deh."
Setelah berhasil berpapasan dengan
Serizawa-san, kami pun menuju
Don Quijote yang dekat dengan Stasiun
Kyoto.
"Waah…… ternyata ada party popper
sebanyak ini ya."
Melihat begitu banyak jenis party popper
yang berjajar, aku sampai bengong.
Nn?
Apa nih, 『Hebat!! Party Popper』?
Hhee~ pilih yang ini saja kali ya. Tidak
tahu hebatnya di sebelah mana sih.
"Bun-bun, beli yang ini juga yuk.
Party popper tipe bazoka M-72. Sudah termasuk 2 amunisi, murah banget
lho."
"Sisa 1 amunisinya mau dipakai buat
apa coba?"
"Bagaimana kalau Bun-bun coba
tembakkan ke Hoshino buat uji coba?"
"Bisa mati dibunuh aku."
Untuk
sementara, kami memasukkan 『Hebat!! Party Popper』 dan
M-72 ke dalam keranjang belanja.
Selempang Bintang Utama Hari Ini juga
berhasil ditemukan dengan selamat, dan tepat saat kami mulai melangkah,
Serizawa-san menarik-narik lengan bajuku.
"Serizawa-san?"
"Hei, pakai ini juga yuk."
Yang disodorkannya adalah kacamata kumis
dan topi kerucut yang merupakan perlengkapan pesta klasik.
"Bukannya Tsukimi-san bakal menolak
ya?"
"Ung. Makanya, mari kita berdua yang
pakai. Kembaran."
"Eh? Yah, tidak masalah sih……"
"Mufufu. Sudah ketok palu ya."
Dengan ekspresi puas, Serizawa-san
memasukkan kacamata kumis dan topi kerucut ke keranjang.
Setelah itu, sambil mengobrol santai
mengitari Donki, sebuah boneka beruang tertangkap oleh mataku.
Boneka beruang yang ukurannya pas kalau
dipeluk oleh Hiyori.
"……Fumu."
Hadiahku kan sudah telanjur ketahuan oleh
Hiyori. Memanfaatkan situasi ini untuk memberikan hadiah kejutan sepertinya
tidak buruk juga.
Paling tidak, ini bisa dipakai sebagai
perlindungan seandainya boneka beruang raksasa yang kubeli bareng Serizawa-san
tidak diterima olehnya.
"Bun-bun, ada apa?"
Serizawa-san mendadak mengintip boneka
beruang dari belakangku.
"Ah, boneka beruang. Mau beli?"
"Bagaimana kalau ini dijadikan
hadiah kejutan buat Nanase-san?"
"Aa, Bun-bun. Soalnya isi hadiahmu
kan sudah ketahuan ya. Boleh juga tuh. Kalau dipromosikan sebagai beruang induk
dan anak, dia pasti bakal mau menerimanya."
"Oho, beruang induk dan anak. Boleh
juga tuh."
Sip, kalau sudah diputuskan begitu mari
kita beli.
Ada beberapa jenis sih…… tapi yang
mencuri perhatianku adalah yang ini.
Boneka beruang dengan ekspresi ciut yang
kelihatan sama sekali tidak bisa diandalkan.
Uwa, beruang ini kelihatan lemah banget.
Ikan salmon saja sepertinya tidak bakal bisa ditangkap dengan benar olehnya.
Bakal langsung tereliminasi di alam liar yang keras nih.
"Ooh, anak itu bagus tuh. Rasanya
agak mirip Bun-bun. Hiyori juga pasti bakal senang."
Eh, tunggu sebentar. Beruang ini, mirip
denganku?
"Kalau begitu, go ke
kasir."
Masih agak syoj, aku pun mengikuti
Serizawa-san dari belakang.
Selesai membayar, kami membagi dua uang
untuk party popper, kacamata kumis, dan topi kerucut.
Saat keluar dari Donki, waktu sudah
menunjukkan lewat dari jam 10.30 malam.
Kalau memperhitungkan waktu mengantarkan
Serizawa-san pulang ke rumahnya, dipastikan bakal lewat dari jam 11 malam.
Jalan pulang setelah sampai di rumah
Serizawa-san nanti, aku harus berhati-hati supaya tidak kena penertiban jam
malam oleh polisi……
"Pesta ulang tahun besok. Aku senang
kalau Hiyori bisa menikmatinya.
Soalnya belakangan ini dia kelihatan
sangat lelah."
Pasti yang dimaksud adalah masalah patah
hati dari Tenma.
Serizawa-san juga mengkhawatirkan Hiyori
dengan caranya sendiri.
"Aku sedikit iri pada Hiyori. Bisa
menyukai seseorang, jatuh cinta dengan sungguh-sungguh…… mungkin karena itulah,
di saat-saat tertentu, rasanya seperti ditinggalkan dari belakang."
Wajahnya dari samping terlihat begitu
jernih, tetapi entah kenapa tampak sedikit kesepian.
Pasti, kata-kata penghiburan atau
perhatian yang kupikirkan sendiri tidak akan benar-benar bisa menyentuh hati
Serizawa-san.
Karena itulah, aku mengubah perasaan
egois yang kupendam langsung menjadi kata-kata.
"Menurutku tidak perlu terburu-buru
kok. Pandangan soal percintaan itu kan beda-beda tiap orang. Yang paling
penting adalah Serizawa-san bisa menikmati percintaan itu sendiri, kan?"
"…………Mungkin saja ya."
Menanggapi kata-kataku, Serizawa-san
mengulas senyum.
"Bagaimana ya mengatakannya, Bun-bun
itu orang yang terlalu baik. Ya."
Orang yang terlalu baik, ini sudah orang
ke-3 yang mengatakannya padaku.
"Padahal menurutku tidak sampai
seimbang itu tuh……"
"Meskipun kupanggil keluar selarut
ini, kamu tetap datang tanpa mengeluh, bahkan mau mendengarkan curhat
mendadakku dengan serius. Bun-bun memang terlalu baik."
“Aku datang karena…… bagaimana ya. Memang
aku juga khawatir, tapi yang paling utama karena aku senang kalau bersama
Serizawa-san. Jadi, tanpa sadar aku langsung datang."
Uumm. Bagaimana ya. Kok rasanya ada yang
aneh. Perasaan ini kalau diubah jadi kata-kata sepertinya butuh istilah yang
berbeda.
"Aku pasti…… menyukai waktu-waktu
saat bisa melakukan hal konyol bersama Serizawa-san seperti ini."
Ung. Yang ini nih. Rasanya yang ini jauh
lebih pas.
Untuk pertama kalinya, aku merasa puas
dengan pilihan kataku sendiri, aku menyadari kalau sosok Serizawa-san yang
seharusnya ada di sebelahku mendadak menghilang.
"Lho? Serizawa-san……?"
Aku panik dan berbalik. Serizawa-san
ternyata berdiri mematung beberapa langkah di belakangku, dengan wajah bengong.
Lalu, dengan wajah yang memerah sampai ke
telinga, dia bergumam seolah sedang memeras suaranya keluar.
"……Fueh."
Fueh? Mendadak keluar suara yang sama
sekali nggak sesuai dengan karakternya yang biasanya.
"Eh, kamu tidak apa-apa?"
“Ah, nggak. Etto…… s-sedikit kena
critical…… nih.”
Seolah dadanya baru saja ditembak, dia
memegangi dadanya dengan berlebihan.
Critical apaan, sih?
Saat aku masih memikirkan hal itu,
Serizawa-san menatapku lekat-lekat dengan ekspresi datarnya seperti biasa.
“…………Aku ralat ya. Bungaku itu bukan
orang yang terlalu baik, tapi……”
Serizawa-san tertawa seolah sudah pasrah,
lalu berkata,
“Pemikat hati. Ya.”
◇
“Kalau begitu, pesta ulang tahun Hiyori kita mulai. Cheers~!”
"""""Cheers~!!"""""
Atas seruan Serizawa-san, semua orang
dengan gembira mengangkat gelas mereka.
Kami sedang mengadakan pesta ulang tahun
Hiyori di vila milik Serizawa-san.
Di sana tampak pula sosok Tenma dan
Ayabe-san, dan semuanya sedang tertawa bersama dengan gembira.
Melihat suasana itu dari kejauhan, aku
pun berpikir.
Rasanya seperti true ending ya.
Tidak, dalam arti tertentu mungkin memang begitu.
Semua orang berkumpul bersama, saling
tertawa dengan gembira…… bisa dibilang ini adalah akhir yang terbaik.
"Tomida, terima kasih ya."
Yang menyapa dengan suara itu adalah
Tenma.
"Eh, a, tidak, yang mengundang ke
pesta ulang tahun kan Nanase-san……"
"Bukan soal itu. Soal Hiyori.
Berbagai hal…… itu lho."
"Justru kalau soal itu tidak perlu
berterima kasih. Hiyori bisa bangkit kembali karena dia sendiri yang sudah
berjuang keras."
"……Aa, benar juga ya."
Sambil tersenyum, kami memandangi Hiyori
dan Ayabe-san yang sedang mengobrol dengan gembira.
Seharusnya obrolannya sudah selesai
dengan pas, tapi Tenma masih berdiri di sampingku, seolah masih ada sesuatu
yang ingin dia katakan.
"Etto, ada apa?"
Untuk sementara, aku mencoba menyapanya
duluan.
"Itu…… soal kedepannya. Bolehkah aku
memanggil Tomida dengan nama depan?"
"He?"
Aku refleks membelalakkan mata mendengar
pernyataan yang di luar dugaan itu.
Ini maksudnya…… yang itu kan. Seperti
teman dekat. Hubungan antara aku yang karakter figuran dan Tenma yang sang
protagonis melangkah satu tahap lebih maju.
"T-tentu saja. K-kalau Tenma-kun
tidak keberatan."
"!!"
Kali ini Tenma yang memasang raut wajah
terkejut.
"A, tidak, kalau dari sananya
memanggilku dengan nama depan, aku pikir di sini lebih baik memanggil dengan
nama depan juga……!! Etto, itu, maaf ya kalau aku kegeeran."
"Tidak!! Sama sekali tidak kok!!
Malah aku senang banget!!"
Tenma menunjukkan senyum lebar yang
benar-benar terlihat bahagia.
Ugh, senyuman sang protagonis berelemen
cahaya. Terlalu menyilaukan.
Tapi, kalau dia tampak se-senang itu,
rasanya jadi sedikit malu juga ya.
"Bungaku!! Ke depannya mohon
bantuannya ya."
Melihat Tenma yang berjalan kembali ke
tempat yang lainnya, aku merasa sedikit bahagia.
"Tenma-kun kelihatannya sangat
bahagia ya."
"Nuwaah!?"
Refleks suara aneh keluar dari mulutku
saat Ayabe-san mendadak muncul.
"Tenma-kun itu tadinya sangat cemas
lho? Jangan-jangan dia dipikirkan tidak baik oleh Bungaku-kun."
"Tidak, justru kalimat itu adalah
milikku, atau lebih tepatnya, anu, soal
nama panggilan……"
"Kalau Tenma-kun yang merupakan
pacarku memanggilnya dengan nama depan, tentu saja aku sebagai pacarnya juga
harus begitu, kan?."
"Eh? A, i-iya."
Bagaimana ya, padahal alasannya tidak
masuk akal, tetapi karena dikatakannya dengan sangat mantap dan seolah hal yang
wajar, aku jadi mengangguk begitu saja.
"Karena itulah, Bungaku-kun juga
dipersilakan memanggilku Hana-chan ya."
"Tidak boleh dong."
Kalau yang memanggil Hiyori atau anak
perempuan lain sih tidak apa-apa, tapi kalau cowok manggil Hana-chan itu
rasanya terlalu geli.
"………………"
Sambil menggembungkan pipinya, Ayabe-san
memprotesku. Tekanan tanpa suaranya luar biasa.
"…………………………Hana-san saja deh."
Tidak tahan dengan tekanannya, aku pun
menyodorkan jalan tengah.
"Muu, baiklah. Kalau begitu kita
sepakat ya."
Ayabe-san menerima hal itu dengan raut
yang agak enggan.
"Bungaku-kun."
"Nn?"
"Terima kasih banyak ya. Cuma hal
ini yang ingin kusampaikan padamu."
Sambil mengucapkan hal itu, Ayabe-san
tersenyum.
"Bagi aku, Hiyori-chan adalah teman
pertama yang kupunya…… sahabat dekat, dan sosok yang sangat berharga. Aku
benar-benar ingin Hiyori-chan bahagia."
Dari kata-kata Ayabe-san, terasa tekad
yang begitu kuat.
Keinginan murni yang mengharapkan
kebahagiaan sahabatnya dari dasar hati.
"……Ung."
"Karena itulah, orang yang
berpacaran dengan Hiyori-chan haruslah sosok yang bisa menopangnya, dan tidak
boleh kalau bukan orang luar biasa yang setara dengan Tenma-kun."
Spesifikasi yang dituntut terlalu tinggi
tuh.
"Ekspresi itu, kamu berpikir kalau
ini obrolan yang tidak ada
hubungannya denganmu kan?"
Seolah bisa membaca isi pikiranku, dia
menatapku dengan mata jernih.
"Yah, soalnya bagiku yang sudah
ditolak lebih dari 10 kali ini kan obrolan yang nggak ada hubungannya
denganku.."
"Orang-orang itu saja yang tidak
punya mata buat menilai."
Ayabe-san menegaskan hal itu dengan
senyuman secara mantap.
"Soalnya aku menganggap Bungaku-kun
itu sosok luar biasa yang setara dengan Tenma-kun kok."
"Ahaha, terima kasih ya."
Menanggapi senyuman samar dariku,
Ayabe-san mendongak menatapku dengan mata menyipit tajam.
"……Bungaku-kun. Kamu menganggap
kata-kataku cuma sekadar pujian kosong kan."
Yah…… blak-blakan saja, iya.
Saat refleks mengalihkan pandangan
mendengar kata-kata Ayabe-san, dia menyenggol lenganku dengan sikut sekitar
tiga kali sambil cemberut.
"Pokoknya, kedepannya mohon
bantuannya ya?"
Meninggalkan kata-kata itu, aku melihat
Ayabe-san berjalan menuju tempat Tenma., tepat setelah itu,
"Tuh kan, Bun-bun itu memang pemikat
hati."
Kali ini Serizawa-san yang datang
mengusikku.
Ada apa nih? Hari ini kok banyak banget
yang mengajakku bicara ya.
"Bisa tidak berhenti mengatakan hal
yang buruk kudengar……"
"Habisnya itu fakta kok."
Sambil berkata begitu, Serizawa-san
menatap Tenma dan Ayabe-san.
Seandainya aku ini pemikat hati, sekarang
pasti sudah membangun harem kan. Sayangnya jangankan harem, tanda-tanda disukai
seseorang saja tidak ada sama sekali.
"………………"
Serizawa-san menatapku dengan ekspresi
cemberut. Seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu..
"Eh, ada apa? Kok rasanya mood-mu
lagi jelek?"
"Puih."
Eeh…… dia malah memalingkan wajah dariku.
"Etto……"
Di saat aku sedang bingung, Serizawa-san
sambil tetap memalingkan wajah menyodorkan kacamata kumis dan topi kerucut
padaku.
Ah!! Lupa!! Benar juga. Kemarin kan kami
beli bareng buat dipakai kembaran.
"Dari reaksimu itu, kamu pasti lupa
kan."
"Tidak, mana ada…… tidak deh, iya.
Maafkan aku, aku lupa."
Di sini aku menurut saja, lalu mengenakan
kacamata kumis dan topi kerucut yang disodorkan.
"Pfft, kuh, c-cocok kok. Ya."
"Kamu lagi mengejekku kan?"
"Fuh, fufuh…… t-tidak kok."
Diucapkan sambil tertawa begitu sama
sekali tidak ada daya bujuknya tahu.
"Lagipula, cepat Serizawa-san juga
pakai dong. Kemarin kan sudah janji mau kembaran."
"Pukuku, iya tahu, iya tahu."
Sambil menahan tawa, Serizawa-san
mengenakan kacamata kumis dan topi kerucut, dan akhirnya kami berdua tampil
kembaran.
Gadis cantik itu kalau pakai kacamata
kumis dan topi kerucut pun tetap kelihatan imut, jadinya licik banget ya.
"……Hiyori juga kelihatan sangat
menikmati acara ini, syukurlah ya."
Sambil berkata begitu, Serizawa-san
menatap Hiyori yang sedang tersenyum dengan ekspresi yang begitu lembut.
"Aku suka hal-hal yang menyenangkan.
Kalau orang berharga bagiku merasa senang, aku juga ikut bahagia."
Namun setelah mengatakan itu, dia kembali
menatapku lekat-lekat.
"Pemandangan seperti ini bisa
kulihat, itu jelas-jelas berkat Bun-bun lho. Seperti dugaanku, Bun-bun itu
cowok yang menarik ya. Yah, walau pemikat hati sih."
"Etto, untuk sementara terima kasih
ya."
"Soal menyukai seseorang atau
semacamnya, aku sih masih belum paham…… tapi aku juga suka waktu-waktu saat
sedang bersama Bun-bun kok."
"Eh."
Sambil meninggalkan kata-kata itu dengan
senyuman menggoda, Serizawa-san pun berlalu pergi.
………………Beneran deh, bicara apa coba orang
itu. Kalau dikatain hal seperti itu, bukannya aku bisa kegeeran mengira dia ada
rasa padaku.
Di kehidupan sebelumnya, aku pernah
dikatai hal yang mirip.
Aku
yang keburu kegeeran, saat memberanikan diri menyatakan cinta malah ditolak
dengan suasana canggung, 『M-maaf…… aku tidak bermaksud ke arah sana』.
Aku tidak bakal menempuh lubang yang sama untuk kedua kalinya.
………………Tapi tidak, kali ini bukannya
berbeda ya——
"Bun-kuun."
Seolah menyela jalan pikiranku, sang
bintang utama hari ini, Hiyori, mendatangi dan menyapaku.
Sudah lah, hari ini adalah hari di mana
aku sangat sering disapa orang.
Ada diriku yang mulai menerima kenyataan
itu.
"Lho? Bun-kun memakai kacamata kumis
dan topi……"
"Bagus kan? Kembaran dengan
Serizawa-san lho."
"……Hhee~"
Dengan suara yang agak datar, Hiyori
melepas kacamata kumis dan topi kerucut yang kupakai, lalu mengambilnya.
"Eh, kenapa diambil?"
"Nnm, kenapa ya? Soalnya tidak cocok
kali ya."
◇
Malam hari, aku terbangun karena
tenggorokan terasa haus.
Saat memeriksa jam yang terlihat
remang-remang di dalam kegelapan, waktu menunjukkan jam 2 subuh. Tanggal bahkan
sudah berganti sejak tadi.
Suara napas halus dari semua orang yang
sedang tidur terdengar pelan.
Pada akhirnya, pesta ulang tahun Hiyori
berlangsung sangat heboh hingga langsung menyambung ke acara kompetisi game.
Di bawah dorongan suasana dan momentum
saat itu, akhirnya berujung jadi acara menginap bersama.
Agar tidak membangunkan semua orang yang
tertidur lelap di ruang keluarga, aku bertindak dengan sangat hati-hati
mengambil air mineral dari dalam kulkas lalu meminumnya, Saat itulah, pintu
ruang keluarga terbuka.
"Lho……? Bun-kun? Kamu bangun?"
"Nanase-san. Aku cuma agak
haus……"
Hiyori…… sepertinya baru saja pergi dari
kamar mandi kali ya.
Setelah meminum habis airnya aku berniat
kembali tidur, tetapi Hiyori yang menatapku justru duduk di sofa ruang
keluarga, lalu menepuk-nepuk area di sebelah dirinya pelan.
Setelah agak ragu sejenak, aku duduk di
samping Hiyori.
"Hari ini benar-benar menyenangkan
ya. Walau aku kaget banget sama boneka beruang raksasa yang itu sih."
Hiyori bercerita dengan gembira seolah
sedang mengenangnya kembali.
Ngomong-ngomong, aku dan Serizawa-san
dengan selamat dimarahi oleh Tsukimi-san, "Ha? Beruang sebesar ini gimana
caranya kamu mau angkut ke rumah Hiyori coba?".
Meski terus mengomel, Tsukimi-san tetap
bersedia membantu mengangkut boneka itu hari ini. Orangnya memang baik.
Ah, benar juga.
"Tunggu sebentar ya."
"Eh? U-ung."
Aku bergegas mengambil kantong kertas
berisi boneka beruang (ukuran kecil), lalu menaruhnya di atas pangkuan Hiyori.
"Eh? Apa nih? Hadiah kan tadi sudah
kuterima……"
Hiyori mengangkat kantong kertas itu
dengan wajah bingung.
"Etto, ini hadiah kejutan."
"Eh, eh, eh, b-boleh kubuka?"
"U-ung."
Sambil sedikit kaget aku mengangguk pada
Hiyori yang bertanya dengan nada antusias.
Siapa sangka, tensinya bakal naik sejauh
itu……
Dengan kedua tangannya, Hiyori
mengeluarkan boneka beruang dari kantong kertas secara hati-hati, lalu matanya
berbinar-binar.
"Wah, anak beruangnya lucu
banget."
"Yah, anggap saja pasangan induk dan
anak bersama beruang raksasa yang tadi……"
Aku bergumam tanpa bermaksud beralasan
kepada siapa pun.
Saat kulirik Hiyori, dia sedang menatap
wajah beruang itu lekat-lekat.
Wajah beruang itu tetap memasang raut
yang terkesan penakut seperti biasa.
"Anak ini, entah kenapa mirip
seperti Bun-kun ya."
Bahkan Hiyori pun ikut-ikutan bilang
begitu……
"Etto, ngomong-ngomong kalau kamu
tidak suka, bisa dituker kok……"
Hiyori menggelengkan kepalanya pada kedua
tanganku yang disodorkan.
"……Tidak bakal kuberikan ke
siapa-siapa tahu. Anak ini kan Bun-kun milikku."
Seolah tidak mau direbut oleh siapa pun,
Hiyori memeluk erat boneka beruang (Bun-kun) itu.
Yah, karena sampai diberi nama segala,
berarti dia menyukainya…… kali ya?
Hiyori makin memeluknya dengan erat
seolah sangat berharga, lalu sambil sedikit menundukkan wajahnya dia menatap
beruang yang ada di dalam pelukannya.
"Bun-kun. Beneran deh, terima kasih
ya……"
"Eh? Yah, tidak menyangka kamu bakal
sesenang ini……"
"Bukan cuma soal ini saja. Soal
hal-hal yang terjadi selama ini, semuanya."
Hari ini…… tidak, berlanjut dari kemarin,
aku sering sekali diucapkan terima kasih ya.
"Ini kan berkat hasil kerja keras
Nanase-san sendiri."
Aku mengucapkannya sambil menatap semua
orang yang sedang tertidur.
"Kerja keras…… ya."
"Nanase-san?"
"Aku tuh ya, hari ini lumayan
berjuang keras tahu?"
"Eh?"
Hari ini? Berjuang keras?
Ah, jangan-jangan maksudnya dia tetap
berusaha menahan diri meski melihat Tenma dan Hana-chan bermesraan itu menyiksa
baginya?
"Waktu Bun-kun mengobrol dengan
Tenma atau Hana-chan aku sudah menahannya mati-matian, terus waktu kamu
bermesraan dengan Shi-chan pun aku bersabar dan baru menyapamu setelah obrolan
kalian berdua selesai."
"Eh? U-ung……?"
"Makanya, sambil memujiku bilang
'kamu sudah berjuang ya', usap kepalaku dong."
"……He?"
Aku kehilangan kata-kata menanggapi
permintaan yang di luar dugaan itu.
"U-sa-p~"
Tanpa memedulikan diriku yang membeku,
Hiyori terus mendesak.
Bentar, kenapa kamu mendadak melancarkan
serangan bertubi-tubi begini? J-jangan-jangan…… dia sedang bermanja-manja
padaku?
Pasrah pada Hiyori yang menyandarkan
kepalanya ke bahuku, aku pun mengusap kepalanya dengan lembut.
Ah, luar biasa…… rambut Hiyori sangat
halus. Ditambah aromanya wangi sekali.
"……♪"
Entah kenapa aku tidak begitu paham,
tetapi Hiyori kelihatannya sedang dalam suasana hati yang sangat baik.
Etto, sisanya tinggal memujinya kan ya?
"Etto, Nanase——"
"Panggil Hiyori."
"Eh, tidak, kalau itu jelas-jelas
agak……"
"Hana-san."
"Hiyori, hari ini kamu juga sudah
sangat berjuang ya."
"Ehehe……"
Sambil mengusap kepalanya, aku memanggil
namanya dan memujinya.
Rasanya seperti sedang melakukan
permainan aneh semacam ini. Rasa bersalahnya parah banget.
"Hei hei, hal seperti ini…… gimana
kalau ini jadi rutinitas kita berdua saja?"
"Eh, berarti mulai sekarang setiap
hari aku harus mengusap kepala
Nanase-san?"
"Nanti aku juga bakal mengusap
kepala Bun-kun kok……! Sambil bilang, 'Hebat ya sudah mau datang ke sekolah!'
gitu."
"Poin pujian buatku asal-asalan
banget kan?"
Tapi ya, mengusap-usap kepala heroine
favorit ya.
……Boleh juga sih. Padahal hal itu makin
memperparah keanehan permainan ini.
Lagipula……
"Hal yang bisa dilakukan seperti ini
pun cuma untuk sekarang saja kan."
"……Eh? M-maksudnya bagaimana?"
Mendengar kata-kata yang mendadak
kuucapkan, Hiyori bereaksi secara berlebihan.
"Mungkin Nanase-san sudah bisa
mengakhiri perasaan cintamu pada Tenma-kun. Makanya mulai sekarang kamu pasti
bakal mengalihkan pandangan ke cinta yang baru."
"……Kalau hal itu sih, memang
benar."
"Pasti nanti kamu punya anak cowok
yang ditaksir, memberanikan diri menyatakan cinta, lalu bersatu dengan
seseorang yang tidak kukenal……"
Lalu setelah itu, kamu bakal memulai
kisah cinta yang baru, kan.
"Makanya, kurasa kebersamaan kita
seperti ini juga nggak akan bertahan lama. Sebentar lagi kamu pasti punya
pacar, lalu Nanase-san bakal pergi meninggalkanku, kan?"
Bagaimanapun juga Hiyori kan sangat
populer jadi pasti banyak yang mengincarnya. Di masa depan yang dekat, peranku
sebagai tempat persinggahan pun bakal berakhir.
Makanya…… kalau sampai Hiyori punya orang
yang disukai,
"Aku juga harus menemukan orang yang
kusukai dengan benar ya……"
"……Ha?"
Seperti yang dikatakan Serizawa-san,
menyukai seseorang dengan sungguh-sungguh dan jatuh cinta secara serius.
Melihat Hiyori yang seperti itu, aku jadi berpikir ingin jatuh cinta lagi.
"Kalau nanti aku ditolak, waktu itu
tolong hibur aku ya. Ah, kalau penembakanku berhasil, aku bakal laporkan padamu
sebelum ke siapa pun lho."
"………………"
"Benar juga. Kita berdua bisa kumpul
di restoran keluarga atau semacamnya, saling bahas cara pendekatan ke orang
yang disukai masing-masing, gimana cara menyatakan cintanya~ mengadakan rapat
strategi~"
"Tidak mau ah."
"……Eh?"
Hiyori mencengkeram kedua bahuku dan
mendorongku hingga rebah di sofa
"T-tunggu sebentar!?
Nanase-sa——"
"Ssstt…… kalau bersuara keras begitu
nanti semuanya bisa bangun kan? Tidak apa-apa?"
Sambil menempelkan jari telunjuknya ke
bibirnya sendiri, Hiyori tersenyum.
Aku refleks membisu. Soalnya kalau
pemandangan seperti ini sampai kelihatan oleh semuanya……
"……Kalau aku sih, tidak
peduli."
Hiyori melontarkan kata-kata seolah
membaca isi hatiku. Pipi miliknya tampak sedikit memerah.
"K-kenapa melakukan hal seperti
ini……?"
"Bun-kun itu sama sekali tidak paham
apa-apa ya."
"Eh?"
"Aku tuh, kalau tidak ada Bun-kun……
sudah"
"E-etto…… N-Nanase-san?"
"Hei."
"I-iya!"
"Harus bagaimana…… supaya kamu mau
cuma melihat ke arahku saja?"
Mata Hiyori yang menatapku begitu indah
dan jernih, tetapi entah kenapa menyimpan sedikit bayangan.
"Milikku…… Bun-kun itu milikku. Sama
sekali tidak mau kuberikan ke siapa pun. Kepada siapa pun. Makanya, daripada
direbut oleh seseorang…… sekalian saja sekarang"
"N-Nanase…… san?"
"Aku, soalnya baru pertama kali,
jadi mungkin masih belum begitu mahir sih……"
Wajah Hiyori kian mendekat. G-gawat,
kalau begini terus bibir kami bakal……
"……Kalian berdua, sedang melakukan
apa?"
Aku sontak mengalihkan pandangan ke arah
suara itu. Di sana, Tsukimi-san berdiri menatap kami dengan curiga.
◇
"Semuanya, terima kasih ya sudah
membantu mengangkutnya sampai ke sini!"
Menanggapi ucapan terima kasih dari
Hiyori, kami bertiga—aku, Serizawa-san, dan Tsukimi-san—membalasnya dengan
acungan ibu jari.
Sehari setelah pesta ulang tahun, aku dan
Serizawa-san, dengan bantuan Tsukimi-san, menghabiskan sekitar satu jam untuk
membawa boneka beruang raksasa itu sampai ke rumah Hiyori.
Serizawa-san yang berjalan di sampingku
tampak terengah-engah dan kepayahan.
Setelah berpamitan dengan Hiyori, kami
pun berjalan pulang.
"Bun-bun."
"Nn?"
Saat dipanggil oleh Serizawa-san dan
berbalik, dia sama sekali tidak bergerak satu langkah pun dan malah terduduk
jongkok di jalan.
"Gendong di punggung. Sudah tidak
sanggup, malas jalan, capek, merepotkan."
"Eeto, bagaimana kalau digendong
sama Tsukimi-san saja?"
"Jelas tidak mau."
"Katanya…… nn."
Serizawa-san menyodorkan kedua tangannya.
"Tidak tidak, jangan manja begitu
dong, ayo jalan sendiri. Bakal kutinggal lho."
"……Bun-bun."
"Apa?"
"Ukuran dadaku lumayan besar
tahu."
"Apa boleh buat ya. Cuma kali ini
saja ya."
"Yaiy."
Tsukimi-san yang ada di samping menatapku
dengan mata seolah sedang melihat tumpukan sampah, tapi mau bagaimana lagi kan?
Bagaimanapun juga anak laki-laki itu kan
sangat menyukai dada.
Sambil menggendong Serizawa-san di
punggung, aku kembali melangkah. Sensasi lembut yang terasa di punggungku…………
lho, di luar dugaan Serizawa-san lumayan berat ya.
"Bun-bun. Sekarang kamu sedang
memikirkan hal yang tidak sopan kan?"
"Eh? Aa, cuma berpikir kalau di luar
dugaan kamu lumayan berat ya~ gitu. Ah, sebentar, jangan menepuk-nepuk kepalaku
begitu."
"Kalau yang itu sih kamu yang
salah."
Tsukimi-san yang berjalan di sampingku
menatapku dengan tatapan jengkel.
Ah, kalau dipikir-pikir aku belum
mengucapkan terima kasih pada Tsukimi-san karena sudah mau membantu ya.
"Tsukimi-san. Terima kasih ya hari
ini sudah mau membantu."
"Bukan masalah sih…… lagipula,
bukannya harusnya ajak Shindou sama Ayabe-san juga buat membantu?"
"Tidak ah, masa melibatkan dua orang
yang tidak ada hubungannya."
"Beneran tuh Hoshino. Begini-begini
kami juga tahu cara menjaga perasaan orang lain lho."
Bantuan datang dari Serizawa-san yang
sedang kugendong di punggung.
"Aku juga mau kalian menjaga
perasaanku tahu……?"
"Soalnya Hoshino itu walau mengomel
tetap bakal membantu, jadinya tidak perlu repot-repot menjaga perasaanmu."
"Kucubit pipimu, ya."
"Gitu kata Bun-bun."
"Kubunuh kamu."
Hei, Serizawa. Jangan melibatkanku dong.
Kepalaku ditepuk-tepuk oleh Serizawa-san,
sementara kakiku ditendang-tendang oleh Tsukimi-san, tetapi pada akhirnya kami
sampai di rumah Serizawa-san dengan selamat.
"Bun-bun, terima kasih sudah
menggendongku. Hari ini menyenangkan juga. Kalian berdua, sampai ketemu lagi
hari Senin ya."
"Ung. Selamat beristirahat."
"Daa~"
Setelah berpisah dengan Serizawa-san,
akhirnya tinggal aku dan Tsukimi-san berdua.
Aku melirik wajah Tsukimi-san dari
samping.
Pada akhirnya, kejadian tadi malam
dijelaskan oleh Hiyori sebagai 'kakinya tersandung lalu tidak sengaja
menindihku'.
Tsukimi-san memang memasang raut curiga
sampai akhir, tetapi dia tidak menginterogasi kami lebih jauh dari itu.
"……Apa."
"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."
……Sebelum diinterogasi terkait kejadian
semalam, mungkin lebih baik kalau berpisah di sini saja ya.
Lagipula semalam aku sempat menembakkan
party popper tipe bazoka M-72 ke arah Tsukimi-san untuk uji coba dan bikin dia
marah besar.
"……A, etto. Bagaimana kalau kita
berpisah di sini saja?"
"Bicara apa sih. Pulang bareng saja
kan bisa. Aku juga mau dengar lebih detail soal kejadian semalam."
Sudah kuduga.
"Untungnya rumah kita kelihatannya
dekat, jadi masih banyak waktu buat ngobrol.”
"Baik……"
Aku tidak punya daya untuk melawan di
hadapan senyuman manis milik Tsukimi-san dan cuma bisa mengangguk pasrah.
"Jadi, kalian tadi malam sedang
melakukan apa?"
"Kalau itu sih……"
Meski ditanya begitu, harus dijelaskan
bagaimana ya. Jujur saja aku sendiri tidak begitu paham kenapa sampai ditindih
begitu.
"……Apa, kamu berniat melakukan hal
yang tidak bisa diucapkan ya?"
"A, tidak…… gimana ya, kalau cuma
menjelaskan situasinya saja sih——"
Untuk sementara, aku menjelaskan alurnya
sejak terbangun di tengah malam sampai Tsukimi-san mendadak masuk ke ruangan.
"Paham deh. Kalau yang menindih itu
kamu sih urusannya bakal lebih gampang."
Tsukimi-san, wajahmu mengerikan tahu.
"Hiyori memang terkadang suka
memperlihatkan rasa posesif yang luar biasa padamu, tapi siapa sangka sampai
sejauh itu. Padahal waktu bersama Shindou dulu tidak sampai sebegininya
tuh……"
Tsukimi-san menatapku dengan mata
menyipit tajam.
Rasa posesif ya. Memang sih kemarin dia
sempat bilang tidak mau memberikan pada siapa pun atau cuma mau melihat ke
arahnya saja.
"Nn? Berarti maksudnya, Nanase-san
itu mau menguasaiku sendiri begitu?"
"Ya maksudnya begitu."
"………………………………………………………………………………Eh,
kenapa?"
Melihatku yang kebingungan, Tsukimi-san
menghela napas panjang seolah sudah kehabisan kata-kata.
"K-kenapa?"
"………………Tidak, bukan apa-apa
kok."
Eeh, hal yang seperti itu dipastikan
tidak mungkin bukan apa-apa tahu.
"Pokoknya, jangan terus-terusan
menari tap di atas ranjau Hiyori, ya. Tolong banget."
"Etto, aku bahkan nggak tahu ranjau
Nanase-san itu ada di mana……"
"Kalau begitu bukannya paling aman
kalau kamu tidak usah punya pacar seumur hidup saja?"
Parah banget……
"Haah, aku harus berhati-hati supaya
apinya tidak menyambar ke arahku…… lagipula, kamu mau jalan bareng sampai
kapan? Rumahku sudah sampai tuh."
"Rumahku di lantai 4 apartemen ini
kok."
Begitu sampai di pintu masuk apartemenku,
Tsukimi-san mendadak berhenti dan mematung dengan wajah bengong.
"……Bercanda kan."
"Tsukimi-san?"
"……Rumahku di lantai 5 apartemen ini
tahu."
◇
"Sip, dengan begini barang-barang
perlengkapan harian sudah dibeli semuanya ya."
Aku sedang berada di Kyoto Arpanti, pusat
perbelanjaan besar di Stasiun Kyoto, untuk membeli beberapa perlengkapan
sehari-hari yang perlu kutambah.
Lalu, selanjutnya aku melangkah menuju
tujuan asliku, yaitu toko anime.
Lantai 6 Kyoto Arpanti merupakan area
khusus anime yang diisi oleh toko anime, toko khusus permainan kartu, hingga
claw machine yang menyediakan berbagai pernak-pernik terkait anime, sehingga
benar-benar menjadi tempat suci bagi para pecinta anime.
Sambil menaiki eskalator dengan perasaan
antusias, aku mendadak teringat.
Siapa sangka aku malah tinggal di
apartemen yang sama dengan Tsukimi-san……
Meski sudah diwanti-wanti oleh
Tsukimi-san untuk tidak menceritakannya ke yang lain, apa dia sebenci itu ya
kalau sampai ketahuan tinggal di apartemen yang sama denganku.
Padahal
tadi dia sempat bilang 『Kalau sampai ketahuan Hiyori…… bisa gawat banget
tahu』 segala.
Saat sedang memikirkan hal itu, aku pun
sampai di toko anime.
Saat berkeliling di dalam toko, mataku
tertuju pada Ichibankuji.
Ah, anime ini. Baru-baru ini aku
menontonnya. Coba kulihat…… Hadiah
A adalah figur swimsuit ya. Wah, figur
dengan kualitas yang cukup ba…… bagus, ya.
Setelah mengecek dompet, aku pun pergi
mencoba menarik undian.
Hasilnya adalah lencana dan acrylic
stand.
Hasil yang biasa saja, tapi kelihatannya
kedua barang itu adalah stok terakhir yang tersisa.
"Um…… permisi."
Tepat saat aku hendak beranjak pulang,
pundakku dicengkeram kuat dari belakang.
"Lencana dan acrylic stand itu.
Bisa tolong serahkan padaku?"
Eh, orang apa ini…… wajahnya tertutup
rapat oleh masker, kacamata hitam, dan topi. Auranya menekan dan terasa
menyeramkan.
"Biaya undiannya tentu akan
kutanggung……"
"Etto, b-baik……"
Dalam situasi seperti ini, lebih baik
menuruti permintaannya dengan tenang.
Aku menyingkir ke sudut agar tidak
menghalangi orang lain, menyerahkan lencana serta acrylic stand, lalu menerima
uangnya.
Transaksi selesai dengan aman. Tepat
saat aku hendak bergegas pulang,
Pikon.
Ponselku dan si orang mencurigakan itu
berbunyi bersamaan menandakan ada notifikasi masuk.
Melihat layar ponsel, ternyata ada pesan
ucapan terima kasih dari Hiyori di grup chat. Di tengah rentetan balasan yang
masuk, ponselku dan ponsel si orang mencurigakan terus berdering.
Begitu aku mengirim balasan, ponsel si
orang mencurigakan kembali berdering.
……Hanya Tsukimi-san yang belum membalas.
"………………"
"………………"
Aku membuka chat pribadi dengan
Tsukimi-san, lalu membombardirnya dengan stiker acak.
Pikon.
Pikon.
Pikon.
"……Ehto, apa yang sedang kamu
lakukan, Tsukimi-san?"
"……Aku tidak kenal dengan orang
bernama itu."
"Bukan begitu, suaranya jelas-jelas
suara Tsukimi-san, kan!?"
"T-tunggu, bodoh, suaramu keras
banget."
"Ah, m-maaf……"
Sambil menghela napas, Tsukimi-san
melepas kacamata hitam dan maskernya.
"Tsukimi-san ternyata mengoleksi
merch anime juga…… atau
jangan-jangan, kamu suka anime?"
"……Yah, sekadar hobi untuk dinikmati
sendiri, sih."
"Kalau cuma disebut 'sekadar', tapi
sampai nekat minta barang orang lain demi mendapatkannya, itu mah sudah
kecanduan namanya."
"I-itu…… karena karakter di lencana
dan acrylic stand itu adalah oshi kesayanganku."
Karakter favorit!! Baguslah!! Bagus,
bagus. Punya karakter favorit itu hal yang bagus.
……Ngomong-ngomong, karakter ini sifat dan
suasananya agak mirip
dengan Hiyori, ya.
"Kamu barusan pasti mikir kalau
karakter kesayanganku itu mirip Hiyori, kan."
"Etto, tipe idaman Tsukimi-san itu
cewek yang dadanya besar, baik hati, dan ceria, ya—gukhuft!"
"Jangan diucapkan dengan suara
keras!!"
Sisi perutku langsung disodok keras oleh
Tsukimi-san yang sedang ngambek.
"Jangan katakan hal ini ke siapa
pun."
"T-tentu saja."
Sampai-sampai menyamar segala. Pasti dia
menyembunyikannya dari orang-orang sekitar.
"Eh, kalau begitu kenapa tadi minta
ke aku? Emangnya segitunya pengen merch karakter itu?"
"Bukan cuma itu sih…… tapi, yah,
kalau sama kamu…… rasanya kalaupun ketahuan, ya sudahlah."
Tsukimi-san langsung membuang muka..
Eh, itu artinya……
"Kamu sebenarnya pengen…… teman
sesama otaku, ya."
"…………Bising."
Ternyata tebakanku tepat sasaran,
pipinya langsung memerah.
Oho, tsundere ya rupanya?
"Ah, etto, aku juga nonton anime
itu. Waktu nonton film kompilasinya, menurutku seru juga."
"Hah? Kamu nonton film
kompilasinya?"
"I-iya. Aku berlangganan semua
layanan streaming, jadi bisa ditonton di HP…… baru bagian pertama sih, bagian
keduanya sepertinya mau kutonton nanti setelah pulang."
"……………………"
"Tsukimi-san? Ada apa——"
Bum! Tsukimi-san
tiba-tiba melakukan kabe-don agar aku tidak bisa kabur.
Meskipun ada selisih tinggi badan di
antara kami, rasanya jelas-jelas aku yang jadi mangsanya.
"Hei."
"B-baik!"
"Nomor kamarmu. Beritahu aku."
"Eh, kenapa?"
"Sudah, cepat beritahu."
"……Kamar 401."
"Bagus. Pintar sekali menjawabnya.
Karena itulah, malam ini aku mau ke apartemenmu."
"H-ha????"
A, aku tidak paham maksudnya. Kenapa?
Apa maksudnya ini?
"Malam ini mau nonton film
kompilasinya, kan? Aku juga belum nonton, jadi biarkan aku nonton bareng.
Katanya ada potongan adegan baru dan opening khusus film……"
"T-tapi…… tapi kan."
"Kalau begitu, aku mau beli makan
malam dan camilan dulu, pulanglah duluan dan bersiaplah."
"Eh, sebentar!?"
Tsukimi-san pergi begitu saja tanpa
menunggu jawabanku.
……Seriusan nih?
Sambil kebingungan karena tidak bisa
mencerna situasi, aku pulang ke rumah.
Setelah makan malam dan mandi, aku
bersiap-siap untuk menonton film, lalu bel pintu berbunyi. Ting-tong.
D-dia benar-benar datang.
"Halo."
Saat kubuka pintunya, tampak Tsukimi-san
membawa kantong belanjaan besar.
Dia memakai kacamata, hoodie putih
kebesaran (oversized), sandal Crocs, dan penampilan yang sangat santai.
"……Apa?"
"Ah, tidak…… kacamatanya."
"Oh, biasanya aku pakai lensa
kontak."
Sambil berkata begitu, dia masuk ke ruang
masuk dan melepas sandal Crocs-nya.
"Etto, beneran mau nonton bareng di
sini?"
"Iya."
"M-masuk ke kamar cowok jam segini
apa tidak apa-apa……"
"Bukan masalah, kan. Kita kan sudah
saling kenal."
Tsukimi-san menaruh barang bawaannya di
atas meja dengan bunyi gedebuk, lalu duduk.
"Kenapa masih berdiri di situ? Mau
duduk di sebelahku, tidak?"
"I-iya……”
Mengikuti dorongannya, aku duduk di
sebelah Tsukimi-san.
Duh, dekat, dekat, dekat banget…… harum
sampo miliknya tercium jelas, gawat banget ini situasinya…… b-harus alihkan
perhatian ke sesuatu……
Ah, o-omong-omong…… Tsukimi-san membawa
apa saja, ya?
Saat kuperiksa isi kantongnya, isinya
ternyata adalah aneka camilan dan banyak sekali minuman berenergi.
Etto……anu, ini, jangan-jangan kita bakal
begadang semalaman?
"Totalnya kan ada 2 bagian film
kompilasi, terus dilanjut 13 episode anime utamanya, kan."
Eh, bukan cuma filmnya saja, tapi lanjut
serial utamanya juga? Sudah pasti bakal begadang semalaman, dong.
"Iya."
Melihat kebingunganku, Tsukimi-san
tersenyum manis sambil
menyodorkan kaleng minuman berenergi yang
sudah dibuka pull-tab-nya.
"Wa, wah……"
Sambil menangis di dalam hati, aku
terpaksa menerima minuman berenergi itu.
◇
"Eto, tiba-tiba banget…… tapi mulai
sekarang aku mau kita memilih ketua kelas untuk kelas ini."
Saat HR setelah semua pelajaran berakhir,
guru tiba-tiba mengumumkan hal itu.
Suara protes 'Eeh~' langsung menggema di
seluruh kelas.
"Yah, namanya juga guru, jadi sempat
lupa sori-sori…… pokoknya kita butuh satu orang siswa dan satu orang siswi,
kira-kira siapa nih yang mau mengajukan diri~"
Tidak satupun siswa yang mengangkat
tangan menanggapi panggilan guru tersebut.
Yah, disebutnya ketua kelas memang
kedengarannya keren, tapi tugasnya adalah memimpin acara-acara seperti festival
olahraga dan festival budaya, persiapan pelajaran hingga membereskan kelas
setelahnya—singkatnya, segudang pekerjaan merepotkan. Dengan kata lain,
posisinya mirip seperti pesuruh.
"……Ngomong-ngomong, sampai ketua
kelasnya terpilih, hari ini tidak ada yang boleh pulang, ya~"
Meski begitu, tetap tidak ada satu pun
murid yang mengangkat tangan.
"Baiklah. Guru sudah menduga bakal
dapat reaksi seperti ini. Makanya! Guru sudah menyiapkan undian! Murid cowok
ambil undian di kotak putih, dan murid cewek di kotak merah, yang dapat undian
‘Menang’, selamat, kalian resmi jadi ketua kelas!!"
Suara
protes terdengar lagi, tapi suasana di kelas lebih ke arah 『Mau
bagaimana lagi, ya』.
Mungkin karena itu lebih baik daripada
waktu terbuang begitu saja tanpa keputusan. Yah, kalau menghitung jumlah siswa
cowok di kelas, peluang menarik undian 'Menang' harusnya kecil.
Pengundian dimulai dari siswa yang duduk
di ujung.
Ekspresi seisi kelas tampak sangat serius
tidak seperti biasanya. Begitu menarik undian 'Kalah', mereka langsung memasang
wajah lega.
Terutama bagi mereka yang aktif di klub
atau kerja paruh waktu, kalau ketambahan tugas sekolah, waktu untuk kegiatan
klub dan kerja paruh waktu mereka bakal berkurang, jadi wajar saja kalau mereka
ngeri.
Kira-kira siapa satu-satunya murid cowok
yang bakal jadi korban kelas ini……
『Menang』
Itu aku.
"O, Tomida-kun. Reaksi itu, berarti
kamu dapat 'Menang', ya?"
"Bukan, ini bukan menang."
"Jangan melakukan perlawanan yang
sia-sia, deh."
Undian 'Menang' milikku disita oleh guru,
lalu nama 'Tomida Bungaku' ditulis di papan tulis.
"Hee~ Bun-kun. Dapat undian
'Menang', ya?"
Sambil menatap papan tulis dengan rasa
putus asa, Hiyori dan yang lainnya tiba-tiba datang mendekat.
"Kurang beruntung banget, ya."
Tsukimi-san, yang frekuensi mengajaknya
belakangan ini makin sering, menatapku dengan wajah prihatin.
"………………"
Entah kenapa Serizawa-san menatap lekat
namaku yang tertulis di papan tulis. Ekspresinya tampak sangat serius.
"Bun-bun. Aku bakal serius. Pasti
bakal narik undian 'Menang'."
"Eh? M-mah, kalau Serizawa-san ikut
bareng, rasanya lumayan
diandalkan sih."
"Serahkan padaku."
Dia mengacungkan jempol dengan tangan
kanannya, lalu maju mengambil undian.
Serizawa-san yang begitu bersemangat
seperti ini, baru pertama kalinya kulihat.
"O, Serizawa ternyata dapat undian
'Kalah', ya."
"……Guru. Sekali lagi."
"Enggak bisa, jumlah undiannya pas
buat jumlah murid."
"Tolong usahakan sedikit."
"Tidak boleh."
Serizawa-san kembali menghampiriku dengan
bahu lemas.
"Ck, kalau sudah begini caranya,
terpaksa aku harus merebut undian 'Menang' itu!"
Menurutku perjuangannya tidak sepadan
dengan hasilnya, sih……
"Ah, Guru! Aku dapat undian
'Menang'!"
Hiyori mengangkat tangannya sambil
menunjukkan undian 'menang' itu kepada guru. Seketika itu juga, para siswa
cowok mulai bergeming ribut.
Rupanya Hiyori yang menarik undian
'Menang'.
"Eh? Lingkaran ini……"
"Guru. Ini sah sebagai 'Menang',
kan?"
"Eh? A, ah. Iya. Betul."
Entah kenapa guru mendadak bicara formal,
diangguki dengan puas oleh Hiyori.
Nama 'Nanase Hiyori' ditambahkan tertulis
tepat di sebelah namaku.
"Dengan begitu. Mohon bantuannya,
ya. Bun-kun."
Hiyori menyenggol bahuku dengan raut
wajah yang tampak gembira.
Para siswa cowok menatap interaksi kami
dengan tatapan penuh iri.
Yah, bagi para siswa cowok, hasil ini
sudah pasti bisa dibilang 'Menang', sih.
"Hei, Tomida. Kamu tidak mau jadi
ketua kelas, kan? Mau tukeran posisinya sama aku?"
Suzuki-kun, yang tadinya paling girang
waktu dapat undian 'Kalah', berlari menghampiriku.
"Eh? Ah, etto."
"Suzuki-kun. Tolong jangan bilang
hal aneh ke pasanganku, ya?"
Sebelum aku sempat menjawab, Hiyori sudah
menyela dengan senyuman cerah di wajahnya.
"Hasil undian itu mutlak, jadi
pasangan Bun-kun adalah aku, dan
pasanganku cuma Bun-kun seorang. Kan?
Bun-kun."
"Eh? Ah, iya. Betul juga."
Tekanan yang dipancarkan oleh Hiyori
membuat aku dan Suzuki-kun ciut. Melihat reaksi itu, para murid cowok
sepertinya pasrah menerima keadaan.
"……Tidak bakal kuberikan ke siapa
pun."
Hiyori bergumam pelan seperti sedang
berbicara pada dirinya sendiri.
"Nanase-san? Kamu barusan bilang
sesuatu?"
"Enggak. Bukan apa-apa, kok."
Senyuman polos tanpa beban seperti
biasanya.
Eh, apa cuma perasaanku saja, ya.
"Ketua kelas, boleh minta tolong
kerjanya sebentar—"
Kami diminta tolong untuk membawakan
dokumen, lalu melangkah berjalan menuju kantor guru. Tepat saat hendak
melangkah keluar kelas sambil membawa segepok dokumen, aku dipanggil oleh guru.
"Sebentar, Tomida."
"Ya?"
"Kamu ini, sebenarnya pacaran sama
Nanase, ya?"
"……Ha? Tiba-tiba ngomong apa,
sih."
"Ya, abisnya…… ini."
Guru menunjukkan tiga undian ‘Menang’
kepadaku, yang semuanya memiliki tanda lingkaran.
"Eh, kok bisa ada 3 undian
'menang'……? Eh? Undian yang ini……"
Kalau diperhatikan baik-baik, hanya satu
yang tanda lingkarannya digambar menggunakan pensil mekanik.
Sementara 2 undian sisanya digambar
menggunakan spidol.
"Sebenarnya, undian 'menang' yang
digambar pakai pensil mekanik ini diberikan oleh Nanase——"
"Bun-kun? Cepat ke sini, yuk?"
"Ah, maaf. Sebentar lagi."
Tepat di saat guru hendak mengatakan
sesuatu, aku dipanggil oleh Hiyori, lalu buru-buru menghampirinya.
Mungkin, hal yang tadinya ingin dikatakan
oleh guru adalah……
"Bun-kun? Ada apa?"
"……Ah, bukan apa-apa."
Masa, sih……
◇
Pekerjaan pertama sebagai ketua kelas
ternyata tidak hanya sebatas membawakan dokumen.
Setelah pergi ke kantor guru bersama
Hiyori, kami berdua menyelesaikan berbagai pekerjaan tambahan, mulai dari
menyiram tanaman di taman bunga sampai mengurus ayam piaraan.
Setelah seluruh pekerjaan selesai, saat
melihat ke luar jendela, ternyata hari sudah mulai senja. Itu adalah waktu di
mana kegiatan klub sekolah akan segera berakhir sebentar lagi.
"Keputusan yang tepat karena
menyuruh Shizuku-san dan Hoshino
pulang duluan."
"Iya, ya. Ternyata makan waktu lebih
lama dari perkiraanku."
……Rasanya hal-hal yang kami kerjakan tadi
sudah melampaui batas pekerjaan sebagai ketua kelas.
"Rasanya, sudah lama sekali ya.
Pulang berdua saja seperti ini."
Hiyori mengatakannya dengan sedikit
senyum bahagia.
Begitu ya, hari ini aku akan pulang
bersama Hiyori berdua saja…… ya.
Eh? Kalau begitu, bukankah pusat
perbelanjaan yang dijanjikan sebelumnya bisa dikunjungi hari ini saja?
"A, anu, Bun—"
"Nanase-san."
"Eh? A, i, ada apa?"
"Setelah ini, apa kamu ada rencana
atau semacamnya?"
Eh? Kalau dipikir-pikir, bukannya ajakan
ini bakal terdengar seperti mengajak berkencan, ya?
"Eh? Etto…… t, tidak ada kok?"
"B-begitu ya……"
Tidak ada. Kalau begitu, mengajak ke
pusat perbelanjaan harusnya tidak masalah. Tapi, kenapa rasa tegang ini
mendadak melanda……
"B, Bun-kun?"
B, bulatkan tekadmu. Terus-terusan ragu
begini justru yang paling menyiksa!!
"Ah, itu…… kalau tidak keberatan,
maukah kamu pergi ke pusat perbelanjaan bersama-sama setelah ini?"
"……Eh?"
"Ah, tidak. Kamu kan sudah berjanji
waktu itu, kan? Mau pergi berdua. Hari ini pas kita lagi berdua saja, jadi
bagaimana menurutmu?"
"………………"
Mendengar ajakanku, Hiyori terdiam dengan
wajah bengong.
"N, Nanase-san?"
J, jangan-jangan Hiyori sudah lupa!?
Eh? Apa-apaan, emangnya kapan aku janji
begitu? Gawat juga kalau dia mikir…… 'Aku sama Bun-kun kan bukan hubungan yang
seperti itu……'
dan semacamnya?
"……Kamu mengingatnya, ya."
"Eh? T, tentu saja."
"Uhehe, begitu ya, begitu ya!
Sebenarnya aku juga tadi berniat mengajakmu, lho!!"
"K, kalau begitu, baguslah."
"Kalau sudah diputuskan begitu, ayo
berangkat!"
Aku menghela napas lega dan keteganganku
mencair.
Setidaknya, situasi terburuk berhasil
dihindari. Ah, syukurlah tawarannya tidak ditolak.
Hiyori berjalan dengan langkah ringan
sambil bersenandung kecil. Dia terlihat begitu ceria tidak seperti biasanya.
Apakah dia separah itu ingin pergi ke
pusat perbelanjaan?
"Oh, Bungaku! Hiyori!"
Tenma yang menyadari keberadaan kami
melambaikan tangan
sambil berjalan menghampiri.
Aura protagonis yang berkilau-kilau itu
tetap saja menyilaukan mata seperti biasa.
"Jarang sekali kalian berdua
bertahan sampai jam segini. Ada apa?"
"Menyelesaikan pekerjaan ketua kelas
bersama Bun-kun. Kalau Tenma sendiri ada apa?"
"Aku ada urusan OSIS."
"Ah, benar juga. Tenma kan ketua
OSIS, ya. Sampai lupa."
"Hei, jangan dilupakan dong.
Begini-begini aku juga berusaha keras, tahu."
Maaf. Peraturan itu bahkan aku juga
sempat lupa.
"Bungaku dan Hiyori juga mau
pulang?"
"Ung. Membawa tas begini…… Tenma-kun
juga mau pulang?"
"Iya, kebetulan mau ketemuan sama
Ichika."
"Tenma-kunn…… eh? Hiyori-chan!
Bungaku-kun!"
Begitu menyadari keberadaan kami, Ichika
memperlihatkan senyuman cerah bagaikan malaikat. Dia berjalan tergesa-gesa
menghampiri kami.
"Hana-chan~"
"Hiyori-chan!"
Hiyori dan Ichika saling menepuk kedua
telapak tangan mereka berdua dengan gembira.
Ya, ya. Senang rasanya melihat mereka
tampak akrab begitu……
"Bungaku-kun!"
"Eh? Aku juga?"
"Tentu saja!"
"E, eto, i, iya-e~i."
Saat aku menepuk kedua telapak tangan
bersama-sama persis seperti yang dilakukan Hiyori, Ichika tersenyum puas.
"Kalian berdua, apakah ini baru mau
pulang?"
"…………Ung. Kami baru saja mau keluar
dari gerbang sekolah."
Jeda barusan pasti karena aku sedang
berpikir apakah perlu memberi tahu Tenma dan Ichika kalau kami mau pergi ke
pusat perbelanjaan.
Yah, kalau bilang ke dua orang ini 'Aku
mau pergi ke pusat perbelanjaan berdua dengan Hiyori', mereka pasti bakal salah
paham yang tidak-tidak.
"Oh iya. Kalau tidak keberatan,
bagaimana kalau kalian ikut bermain ke pusat perbelanjaan mulai sekarang? Belum
pernah kan kita jalan-jalan berempat seperti ini?"
"Wah, aku juga ingin jalan-jalan
bertiga—maksudku berempat!"
Ajakan tak terduga justru datang dari
pasangan protagonis dan heroine itu.
Harusnya aku bisa menjawab dengan kata
'iya' secepat kilat, tetapi mengingat aku sudah terlanjur bilang mau pergi
berdua saja dengan
Hiyori, aku jadi bimbang harus berbuat
apa.
Jika menerima ajakannya, kami bakal pergi
berempat, meski tujuan
awal untuk berbelanja di pusat
perbelanjaan tetap bisa tercapai.
Sebaliknya, kalau cuma berdua saja,
takutnya kalau sampai terlihat murid lain malah memicu kesalahpahaman yang
tidak perlu, jadi pergi berempat sepertinya bukan ide yang buruk juga——
『Mau tidak ikut pergi? Berbelanja. B, berdua saja.』
…………………………
"Maaf ya kalian berdua, meski
tawarannya menarik, sebenarnya kami habis ini…… ada, kencan."
"K-ke—!?"
Hiyori tampak kebingungan mendengar
ucapanku.
Tentu saja. Kalau tiba-tiba bilang
kencan, reaksi orang pasti bakal begitu.
Tapi, kalau bilang begini, Ichika dan
Tenma sepertinya bakal mengurungkan niat dengan mudah…… kuharap. Mungkin,
barangkali, semoga saja.
"B-begitu ya!? Hiyori-chan!!"
"E, a, u, ung. Sebenarnya…… mulai
sekarang aku mau ber-berkencan dengan Bun-kun."
"A, m, maaf…… aku malah ngomong hal
yang tidak-tidak."
"Tidak-notak, bukan begitu kok.
Jujur saja aku senang banget diajak, dan aku bakal senang kalau kamu mau ngajak
lagi kapan-kapan."
"Bungaku……"
Aku dan Tenma saling melakukan fist bump
untuk mempererat persahabatan.
"Bungaku-kun!!"
"I, iya!?"
"Aku!! Percaya padanya!"
M-apaan yang dipercaya?
Ichika-san mendekat dengan ekspresi penuh
antusias. Kenapa matanya berbinar-binar begitu, ya?
"A, terima kasih……?"
"Ayo, Tenma-kun. Kita pergi. Tidak
boleh mengganggu waktu kalian berdua lagi."
"Betul juga! Sampai jumpa lagi,
Hiyori! Bungaku!"
"Ung…… daa-dah."
"D, daa-dah~"
Aku dan Hiyori mengantar kepergian Tenma
& Ichika yang berlalu sambil bergandengan tangan.
Badai telah berlalu, dan kini tinggallah
aku dan Hiyori berdua saja.
"………………"
"………………"
Dan keheningan pun tercipta.
Maaf ya. Ini semua pasti gara-gara aku
ngomong sembarangan tadi.
Jujur saja, aku sudah menduga situasinya
bakal jadi begini. Tolong selamatkan aku, siapa pun.
Untuk sekarang, aku harus menjelaskan
semuanya dengan benar kepada Hiyori.
"K-kencan, ya…… ahaha, aku tadi
sempat kaget."
"Tidak, tadi itu cuma strategi
supaya mereka berdua mau mengurungkan niat dengan mudah, ini sama sekali bukan
kencan beneran, jadi intinya, itu……"
"……Bukannya ini kencan?"
"Ah, ini kencan kok."
T-celaka. Melihat ekspresi Hiyori yang
tampak kesepian, secara refleks aku malah mengiyakan dan mengakuinya sebagai
kencan.
Sambil merona merah, Hiyori mengulurkan
tangan kanannya perlahan ke arahku. Bahkan orang sepertiku pun paham betul apa
arti isyarat itu.
"……Kalau ini kencan, hal semacam ini
harus dilakukan…… kan."
"A, iya."
Aku menerima uluran tangan Hiyori begitu
saja.
Kencan sepulang sekolah pertama yang
bukan kencan pura-pura…… terlebih lagi, pasanganku adalah heroine favoritku.
Aku mungkin bakal mati besok.
◇
Di pusat perbelanjaan depan Stasiun
Kyoto, kami berdua menikmati berbagai kegiatan khas anak sekolah, mulai dari
window shopping, makan es krim, hingga pergi ke pusat game.
Sekarang kami sedang menyusuri area mal
sambil bergandengan tangan.
Kencan di pusat perbelanjaan ini berjalan
lancar…… bisa dibilang begitu, ya.
Hanya saja, tatapan mata pelayan toko es
krim tadi benar-benar luar biasa.
Tatapan
yang seolah ingin mengatakan, 『Bukannya kemarin kamu membawa cewek lain ke sini,
ya』…… itu benar-benar tatapan seseorang yang melihat
musuh kaum hawa.
Tapi tetap saja…… tangan kami masih
bergandengan sampai sekarang.
Jujur saja, tadinya kupikir begitu
dilepas sekali, tangan ini tidak bakal bergandengan lagi.
Namun, setiap beberapa saat sekali,
Hiyori terus meminta untuk menggenggam tangan kami kembali.
"Ngomong-ngomong, kado ulang tahunku
itu dibeli di toko itu, kan?"
Tempat yang ditunjuk oleh telunjuk Hiyori
adalah toko pernak-pernik yang sempat kukunjungi bersama Serizawa-san
sebelumnya.
"Ung. Betul."
"Boleh kita mampir sebentar?"
Sambil mengangguk, aku ditarik oleh
tangan Hiyori masuk ke dalam toko pernak-pernik.
Apakah membeli kado bersama Serizawa-san
di tempat ini sudah berlalu lebih dari 1 bulan yang lalu, ya……
Sambil sedikit merasakan nostalgia, aku
mengamati barang-barang yang dipajang di rak.
"Ah, ketemu."
Di ujung pandangan Hiyori, berjejer rapi
set aroma stone yang kubelikan
sebagai kado.
Di sebelah aroma stone tersebut, berbagai
botol minyak aromaterapi
yang diteteskan ke batu tertata berjajar.
"Ah, jangan-jangan minyak
aromaterapimu sudah habis?"
"Masih ada kok. Hanya saja, aku
ingin mencari aroma yang dipakai saat ingin bersantai dengan tenang."
"Begitu, ya……"
Maksudnya ingin memperbanyak variasi
aromanya, ya.
"Ngomong-ngomong, kado yang
diberikan semua orang isinya barang-barang yang punya efek relaksasi semua,
ya…… kenapa bisa begitu, ya?"
Ya karena memang begitu tujuannya.
Hiyori memeriksa aroma minyak aromaterapi
lewat sampel yang
disediakan sambil memilih-milih.
"Uumm. Aku kurang begitu paham, nih.
Menurut Bun-kun, aroma yang seperti apa yang bagus?"
"Begitu ya…… apa Nanase-san punya
aroma yang bikin tenang? Bagaimana kalau kita pilih aroma yang mirip seperti
itu?"
"Aroma yang bikin aku tenang, ya……
ah."
Hiyori memasang ekspresi seolah mendapat
pencerahan, lalu menatap tajam ke arah wajahku.
"Bun-kun, jangan bergerak dulu, ya……
eiya~"
"Eh? A, t-, nbaah!?"
Refleks suara aneh keluar dari mulutku
saat Hiyori tiba-tiba memelukku. Bahkan dia mulai mengendus-endus.
"S-, s-, s-, sedang apa kamu?"
"Lagi mencium aroma Bun-kun."
"K-, kenapa?"
"Aroma Bun-kun itu bikin tenang
banget, jadi aku mau cari aroma yang mirip."
Begitu, tidak paham. Tidak paham sih,
tapi…… karena dadanya menempel erat banget, ya sudahlah tidak apa-apa.
"…………………………Masih lama?"
"Nn~? Nn-……"
Hiyori sama sekali tidak menunjukkan
tanda-tanda ingin melepaskannya.
……Anu, perhatian orang-orang di sekitar
lama-lama mulai terasa, nih.
"Aku suka aroma Bun-kun."
Berhenti, jangan menggesek-gesekan
wajahmu sambil ngomong begitu, rasanya jadi bikin berdebar-debar enggak jelas.
Belasan menit kemudian, setelah membeli
minyak aromaterapi dengan aroma yang disukai, kami keluar dari toko.
……Tatapan mata pelayan tokonya tadi,
rasanya agak menyeramkan, ya.
"Untuk sekarang, sepertinya sudah
keliling semua, ya?"
"……Ung. Betul."
Entah kenapa, Hiyori mengayun-ayunkan
tangan kami yang bergandengan dengan semangat.
"Bun-kun…… tidak ada tempat lain
yang ingin kamu kunjungi?"
"Eh, begitulah…… ah."
"O, sepertinya ada reaksi,
tuh."
"Ada, sih…… tapi kayaknya enggak di
sini, jadi untuk hari ini kayaknya enggak usah."
"Sebenarnya mau pergi ke mana?"
"Kafe kucing, tapi sepertinya cuma
ada di sekitar Kawaramachi. Kalau dari sini sepertinya butuh waktu sekitar 30
menit."
"Aku sih enggak masalah, kok."
"Eh? Beneran?"
"Ung. Aku agak penasaran juga. Lagi
pula…… aku masih ingin lebih lama berdua dengan Bun-kun~ gitu."
Hiyori melirikku sesaat, lalu langsung
mengalihkan pandangannya.
"Eh? Ada apa? Mau ngomel soal
sesuatu lagi?"
"…………Bukannya ngomongin hal kayak
gitu."
Hiyori mengayun-ayunkan tangan kami yang
bergandengan dengan
lebih kuat seolah sedang ngambek.
Aduh, apa pilihan kata yang kugunakan
tadi salah, ya.
◇
Aku dan Hiyori duduk berdampingan di sofa
kafe kucing yang terletak di Kawaramachi sambil bermain dengan kucing-kucing.
Sebenarnya aku sudah tertarik dengan kafe
kucing sejak dulu. Tapi, masuk ke kafe kucing sendirian sebagai cowok rasanya
terlalu berat, jadi kuurungkan niat itu……
"Miau……"
"G-, gemas banget……"
Sudut bibirku tanpa sadar melunak melihat
lucunya kucing yang melompat naik ke atas pangkuanku.
Sambil mengelus kucing tersebut, pelayan
kafe datang membawa latte art kucing yang kami pesan.
"Wah……!! Nanase-san!! Bukannya gemas
banget, ya!?"
"Ung. Betul. Gemas banget.
Bun-kun-nya."
Untuk mengabadikan momen ini, aku
mengambil foto menggunakan ponsel. Sejujurnya kualitasnya terlalu bagus sampai
sayang kalau diminum, tapi demi menghargai perasaan pembuatnya, kuterima dan
kuminum dengan penuh rasa syukur.
"Ah, Bun-kun, di dekat bibirmu ada
kumis putih."
Sambil meminum latte art dan bermain
dengan kucing-kucing, Hiyori membersihkan sisa buih di dekat bibirku.
"Eh, a…… terima kasih."
Aduh, bersikap seperti anak kecil begini
rasanya malu juga.
Karena salah tingkah, aku refleks
membuang muka dari Hiyori. Tapi, kucing yang tadinya ada di pangkuanku
tiba-tiba pindah dengan cepat ke pangkuan Hiyori.
"K-, kucingku…… direbut sama
Nanase-san."
"P-, Bun-kun, enggak usah pasang
wajah sedih begitu……"
I-ini yang namanya NTR, itu……?
Saat aku sedang terpukul, kucing lain
perlahan menghampiri pangkuanku.
Begitu kuusap kepalanya, dia mulai
bermalas-malasan dengan nyaman.
Kalau kulihat profilnya, ternyata namanya
‘Hiyori-chan’.
Dia meringkuk di pangkuanku dengan jauh
lebih tenang ketimbang kucing sebelumnya. Seolah-olah ingin menegaskan kalau
tempat ini adalah wilayah kekuasaannya.
Fumu-fumu.
"……Hiyori-chan ini posesif juga,
ya?"
"Eh……!? T-tidak kok, ya!?"
"Eh?"
"Eh? A, tidak…… bukan apa-apa."
Sepertinya dia mengira aku sedang
membicarakan dirinya. Hiyori membuang muka karena malu.
Aku mengalihkan pandangan kembali ke
Hiyori-chan, lalu mengelus kepalanya lagi. Kucing itu langsung mendengkur
nyaman.
Rasanya, sifat manja kucing ini mirip
banget sama Hiyori.
Tapi, jujur saja, kalau cuma ada
Hiyori-chan saja rasanya kurang. Aku ingin bermain dengan lebih banyak kucing
lagi.
"Ah, benar juga. Masih ada benda
ini."
Saat tangan kiriku memegang camilan
kucing yang didapat dari paket
caffe latte, kucing-kucing lain langsung
mengerubungiku.
Begitu, ya…… ini yang dinamakan masa-masa
populer, ya.
Saat sedang mengelus Hiyori-chan
menggunakan tangan kanan, tiba-tiba pipiku dicolok dari samping.
Ketika kutengok, Hiyori sedang cemberut
menggembungkan pipinya sambil menatapku.
"Bun-kun, dari tadi aku lagi ajak
kamu ngobrol, lho……"
"Eh, a…… maaf."
Ternyata begitu. Aku terlalu fokus pada
Hiyori-chan sampai nggak menyadarinya.
"Kamu malah ninggalin pasangan
kencanmu dan asyik sama Hiyori-chan si kucing, gitu?"
"Bukannya begitu, cara ngomongmu……
tapi maaf ya aku enggak sadar. Ada apa, emangnya?"
"……Elus-elus please."
"……Ha?"
"Kan kemarin kamu sudah bilang, kan?
Mau bikin jadwal waktu buat dielus-elus."
Bohong, kan……? Jangan-jangan ucapanmu
waktu pesta ulang tahun kemarin itu beneran serius?
"Elus."
"Etto……"
Hiyori mendekatkan wajahnya dengan jarak
yang sangat dekat. Aku jadi salah tingkah karena terlalu dekat.
"Elusss!"
Karena sepertinya sudah kehabisan
kesabaran, Hiyori mencengkeram tangan kananku dan menaruhnya di atas kepalanya
sendiri.
Pasrah, aku mengelus kepala Hiyori dengan
lembut persis seperti sebelumnya.
"Ihihi……"
Hiyori tersenyum puas.
"……Meong!"
Ah, Hiyori-chan minta dielus lagi!
Tangan kiriku…… masih sibuk dikerubungi
kucing-kucing yang sedang makan camilan.
Kalau begitu, mau tidak mau. Aku harus
melepaskan tangan kananku dari kepala Hiyori.
"……Ah."
Dengan panik Hiyori mencengkeram tanganku
yang terlepas, lalu menaruhnya kembali ke atas kepalanya.
……Sepertinya dia tidak akan berhenti
sampai merasa puas.
Sambil meminta maaf kepada ‘Hiyori-chan’,
aku kembali mengelus kepala Hiyori sembari melihat-lihat sekeliling
Kalau tempat seperti ini sampai ketahuan
oleh kenalan……
"Bun-kun~? Tangannya
berhenti……"
"”………………”"
Saat mengarahkan pandangan ke depan,
kulihat pasangan Tenma dan Ichika sudah berdiri di sana.
Tenma memasang ekspresi geli sambil
tersenyum usil, sementara Ichika memamerkan binar di matanya sambil memotret
kami berturut-turut dengan ponselnya.
"B-, bukan begitu, kok!!"
Di hadapan tatapan mereka berdua yang
menyiratkan banyak makna, aku buru-buru berteriak membela diri.
◇
Pling, notifikasi
ponselku berbunyi.
Hiyori:
『Kalian berdua, benar-benar minta maaf, ya. Sejak
pagi badanku mendadak kurang enak badan, jadi meskipun pas hari H-nya, bolehkah
kita batalkan rencana hari ini?』
Shizuku:
『Maaf, aku juga mendadak ada urusan jadi enggak
bisa ikut
main.
Nenekku melewati tanjakan ke-47.』
Shizuku:
『Biasanya nenek selalu berhasil melewati
tanjakannya sih, tapi kali ini kurasa bakal baik-baik saja, cuma karena satu
keluarga pada pergi semua jadi aku juga harus ikut.』
『Kalau begitu, anggap saja hari ini batal, ya……』
Hiyori:
『Maaf ya, Hoshinon.』
Shizuku:
『Hoshino, kan orangnya gampang kesepian…… jadi
maaf ya karena bikin kamu kesepian?』
『Mana mungkin aku kesepian, lagian hal begini kan
di luar kendali. Terus, aku juga enggak kesepian, ya.』
Aku membalas pesan mereka berdua, lalu
merebahkan tubuhku ke atas kasur.
"……Hah, tidak disangka-sangka mereka
berdua membatalkan janji di saat-saat terakhir secara bersamaan."
Yah, karena alasannya sama-sama jelas,
mungkin hari ini memang sedang ditakdirkan jadi hari seperti ini.
Sudah lama sekali rasanya akhir pekan
dihabiskan seorang diri begini.
"Uwah…………"
Sepi.
“Rasanya seperti ada lubang besar di
dalam hatiku
Aku tidak begitu suka kesendirian. Meski
enggan mengakui, tapi seperti kata Shizuku, aku ini memang orang yang gampang
kesepian…… kurasa.
……Mau main.
Karena sejak awal sudah berniat
menghabiskan hari untuk jalan-jalan, rasanya jadi makin sepi.
Ponselku bergetar menandakan ada pesan
masuk (pikon).
Berharap itu pesan dari seseorang, kubuka
pesannya, dan ternyata dari:
Bungaku:
『Yo~ sehat? Ngomong-ngomong, hari ini kamu
senggang? Tiba-tiba banget sih wkwk. Kemarin kan si Tsukki bilang pengen nonton
film itu tuh??? Sekarang udah bisa ditonton lewat streaming, jadi hari ini mau
ke rumahku terus nonton bareng nggak??? Aslinya aku mau nonton bareng teman
otakuku, tapi tiba-tiba dibatalin wkwk (Sumpah, demi apa pun, tuh anak rese
banget, bang*et dah wkwk) Kalau kamu keberatan, ya aku tonton sendiri aja sih~?
www』
"…………………………"
Pip…… prrrrt.
『……Halo. Tsukimi-san? Jangan-jangan kamu baru baca
pesan—』
"Pesan macam apa itu tadi, gak punya
beban banget. Mau cari perkara, hah?"
『Eh……!?』
"Eh!? Kepala batukmu itu.
Jelas-jelas bikin ilfil banget, tahu."
『Abisnya, kalau kemarin-kemarin aku kirim pesan
katanya terlalu kaku jadi disuruh ganti…… makanya, itu, kali ini aku nekat
pakai gaya bahasa santai……』
『Kepada yang terhormat Tsukimi Hoshino-san. Telah
tiba musim dengan langit biru yang menyegarkan. Bagaimana kabar Anda? Nah,
alasan saya mengirim pesan ini karena game yang sebelumnya diminati oleh
Tsukimi-san sudah saya dapatkan, oleh karena itu saya bermaksud mengajak Anda
menikmatinya bersama. Saya akan sangat senang jika Anda berkenan memberikan
balasan sekiranya memiliki waktu luang. Hormat saya. Kenapa gaya bahasa kaku
begitu dibilang salah? Emangnya kita rekan bisnis apa.』
『Iya……』
『Kamu tuh hidupnya cuma kenal ekstrem 0 atau 100
doang, ya?』
『……Maaf.』
『Atau jangan-jangan, beneran dibatalkan sepihak?
Kamu mana punya teman otaku selain aku.』
『……Soal dibatalkan itu bohong. Maaf.』
『Pamer, ya?』
『Ah, etto…… bukan pamer sih, lebih tepatnya
jaga-jaga biar enggak canggung.』
『JNCK banget, ya.』
『………………………………MAAF.』
"………………"
『………………Anu, jadi bisa dibilang hari ini batal,
gitu?』
"Enggak, aku udah di depan pintu
kamarmu nih, cepetan buka."
『Eh!?』
Terdengar suara gedebak-gedebuk yang
ribut, lalu pintu pun terbuka. Di hadapanku tampak Bungaku dengan napas
tersengal-sengal dan ekspresi bloon.
"B-, beneran datang……"
"Kenapa pasang muka kaget gitu, kamu
sendiri kan yang ngajak."
"Ya memang iya sih, tapi aku kira
bakal ditolak……"
"Biasa aja kali, kebetulan hari ini
jadwal aku kosong…… buruan suruh masuk."
"Ah, iya……"
Sudah berapa kali ya aku berkunjung ke
sini? Seperti biasa, aku masuk ke ruang masuk, melepas sandal Crocs, dan
berjalan menuju ruang keluarga.
"Etto, sekarang sekitar jam 10, ya……
mau makan siang apa?"
"Makan di sini aja. Nanti malam
juga."
"Eh, sampai malam juga? Kalau gitu
kita harus belanja bahan……"
"Nanti sore bareng aja, kan
bisa."
"Ah, iya…… etto, Tsukimi-san."
"Apa?"
"Ada hal bagus yang lagi terjadi,
ya?"
"……Bukan apa-apa."
◇
Panggilan tak terjawab
Hiyori telah membatalkan pengiriman
pesan.
Hiyori telah membatalkan pengiriman
pesan.
Hiyori telah membatalkan pengiriman
pesan.
Hiyori:
『Maaf ya, tadi itu sebenarnya bukan apa-apa!! Gak
usah dibalas juga gak apa-apa kok!! Jangan dipikirin, ya!』
……Jelas bukan nggak apa-apa, dan dia juga
kelihatannya memang nggak baik-baik saja.
Sambil menatap layar ponsel, aku meneguk
air minum.
Pagi tadi, saat bangun, aku melihat ada
notifikasi masuk. Setelah kuperiksa, ternyata ada pesan dari Hiyori.
Ngomong-ngomong, Tsukimi-san sempat
bilang kalau dia sedang tidak enak badan, ya. Apa ada hubungannya dengan hal
itu, ya?
Untuk sementara, aku coba meneleponnya.
Di jam segini dia seharusnya sudah bangun.
『……A, halo…… Bun…… kun?』
"Ah, pagi. Maaf ya, padahal kamu
menelepon tapi aku tidak sempat mengangkatnya."
『Gokho, u-ung…… aku juga minta maaf…… gokho,
gokho!!』
"……Nanase-san? Anu, kamu tidak
apa-apa?"
『Ahaha, sepertinya aku sedikit terkena flu……
gokho! Gokho!』
Suara Hiyori tidak seceria biasanya,
terdengar sangat lemah. Bahkan dari balik ponsel pun, aku bisa merasakan betapa
lemasnya dia.
『Uu…… kepalaku sakit…… hari ini aku izin sekolah,
ya……』
"Ung…… itu pilihan yang bagus. Suhu
badanmu berapa?"
『Tadi waktu diukur, 39 derajat……』
Demamnya cukup tinggi, ya……
『Mau pergi ke rumah sakit, ambil obat, setelah itu
mau istirahat dengan tenang, kok.』
"Ung. Aku rasa itu yang
terbaik."
『Sebenarnya ya. Tadi sempat berpikir mungkin hari
ini tidak bisa bertemu dengan Bun-kun, jadi aku merasa kesepian…… tapi begitu
mendengar suara Bun-kun, energiku jadi pulih.』
Mendengar dia berkata begitu, sebagai
sahabat aku merasa senang.
"Etto, nanti sepulang sekolah aku
mau menjengukmu, ya."
Karena terlalu senang, aku jadi
keceplosan mengucapkan hal yang agak berlebihan.
『Uuu…… terima kasih. Etto, Bun-kun datang
sendirian, kan?』
"Eh? Ah, tidak, aku tadinya mau
mengajak Tsukimi-san, Serizawa-san, atau Tenma dan Hana-san……"
Ah, tapi kalau datang bergerombol begitu
sepertinya malah bakal merepotkan, ya.
"Ah—biar kutebak, sepertinya aku
datang sendirian saja, deh."
『……Ung. Gokho, kalau begitu, sampai jumpa nanti
sepulang sekolah.』
Aku mengakhiri panggilan telepon dengan
Hiyori.
Nah, untuk barang yang mau kubawa saat
menjenguk, sepertinya aku bisa minta saran dari Serizawa-san atau Tsukimi-san……
atau mungkin Tenma dan Ichika, ya.
Sambil memikirkan hal itu, aku
melanjutkan persiapan untuk pergi ke sekolah.
◇
"Kalau buat bawaan menjenguk, permen
pelega tenggorokan, jeli, atau minuman penambah ion saja sudah cukup, kan.
Barang-barang yang nggak bakal rugi meskipun punya banyak. Ah, kalau mau beli
jeli, sepertinya rasa persik bagus, deh. Hiyori suka, soalnya."
"Begitu, ya."
Saat jam istirahat siang, aku sedang
meminta saran kepada Tsukimi-san mengenai bawaan barang untuk menjenguk Hiyori.
Sip, sepertinya sudah hampir tahu mau
bawa apa.
"Aku pulang~"
Saat aku sedang mencatat di ponsel,
Serizawa-san yang tadi dipanggil akhirnya kembali dengan langkah sempoyongan.
"Selamat datang kembali,
Serizawa-san. Mau Pocky?"
"Mau~"
Serizawa-san memakan Pocky yang
kusodorkan sambil mengunyahnya pelan. Tatapan matanya terus mengunci ke arahku.
"Etto, ada sesuatu di wajahku,
kah?"
"N~ tadi aku baru saja ditembak lalu
menolaknya, tapi dari Senpai yang kutolak tadi sempat tersebut nama Bun-kun,
lho."
"Eh? Namaku?"
"Ung. Kayaknya dia sempat bilang,
'Padahal sama cowok yang namanya Tomida itu……' gitu."
"Ngomong-ngomong, waktu aku
berangkat bareng Shizuku, aku juga sempat ditanya hal kayak, 'Kamu akrab banget
ya sama cowok bernama
Tomida itu', lho……"
"Senpai yang ditolak Hoshino minggu
lalu, ya. Mungkin karena belakangan ini kamu terus-terusan bareng Bun-kun,
ya?"
"Mungkin iya, ya? Rasanya kita sudah
kayak grup yang itu-itu lagi."
"Bener juga, Bun-bun. Kamu sudah
beradaptasi dengan pas di antara kami."
Aku sendiri masih merasa kalau posisiku
ini bagaikan bubur teh sederhana yang terselip di antara sajian kuliner
Prancis, sih……
Sambil memikirkan hal itu, aku mencatat
bawaan untuk menjenguk ke dalam memo di ponsel.
◇
"…………………………"
Sepulang sekolah, aku sudah berdiri di
depan rumah Hiyori.
Bawaannya sudah disiapkan, dan aku juga
sudah mengirim pesan ke Hiyori kalau aku sebentar lagi sampai. Tinggal menekan
bel pintu saja.
Aku melihat tulisan ‘Nanase’ yang tertera
di papan nama rumah.
Ternyata menekan bel rumah anak perempuan
itu tingkat kesulitannya tinggi banget, ya.
…………Hwaarrh!! Berangkat!!
……………………Yah, kurasa aku harus
mengumpulkan keberanian sedikit
lagi, deh.
"Eh, apa jangan-jangan kamu temannya
Hiyori?"
"Hyaaa!?"
Saat aku berbalik, ada seorang wanita
cantik membawa kantong belanjaan yang kelihatan berat. Wajahnya terlihat muda,
dengan dada yang besar.. Plus, ada aura yang rasanya familier.
Sekilas kukira dia adalah kakak perempuan
Hiyori, tapi di pengaturan aslinya Hiyori tidak punya kakak perempuan.
Itu berarti…… beliau ini adalah mamanya
Hiyori!!
"Ah, etto, aku temannya Hiyori,
sahabatnya…… itu, datang untuk menjenguk."
Atau lebih tepatnya, mama Hiyori muda
banget!! Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang punya anak gadis SMA……!!
"Wah, terima kasih ya. Tunggu
sebentar, ya. Biar kubuka pintunya."
"Ah, biar kubawakan."
"Wah, terima kasih ya,
Bun-kun."
"Sama-sama………… eh?"
Kenapa beliau tahu namaku……
Mama Hiyori tersenyum ramah ke arahku
yang sedang kebingungan.
"Selamat datang, Bun-kun. Selamat
datang di kediaman keluarga Nanase."
◇
"Ah, bawaannya taruh di situ saja
ya. Terima kasih sudah membawakannya."
"Ah, baik."
Aku yang dipersilakan masuk ke ruang
keluarga meletakkan kantong belanjaan yang tadinya dibawa mama Hiyori ke atas
meja.
"Etto, kenapa bisa tahu
namaku……"
"Mau tahu dari mana? Kan Hiyori
selalu cerita soal kamu terus~"
Kira-kira aman, kan. Maksudku, bukan
cerita keluh kesah, kan.
"Biar kumasak bubur sebentar, kamu
bisa ke kamar Hiyori dulu, kan?"
"Ah, iya. Etto, aku bantu."
"Terima kasih. Kalau begitu, tolong
siapkan baki nampannya ya."
Sesuai instruksi mama Hiyori, aku
mengambil baki nampan, lalu di atasnya aku menyiapkan obat, air putih (untuk
minum obat), permen pelega tenggorokan rasa buah, minuman penambah ion, dan
jeli rasa persik.
Setelah itu, mama Hiyori menambahkan
bubur telur buatannya ke dalam baki.
"Kalau begitu, Bun-kun, tolong
ya."
Membawa baki nampan, aku menaiki tangga
menuju kamar Hiyori.
Tok-tok, aku mengetuk
pintu.
『Mama?』
"Ah, bukan. Ini Bungaku."
『Hah!? Bun-kun!?』
"Etto, aku bawa bubur dan
macam-macam, boleh masuk?"
『A, u, ung. Boleh!』
"M, permisi……”
Aku masuk dengan agak sungkan ke kamar
seorang gadis untuk pertama kalinya.
"Terima kasih sudah datang……
kheho."
Hiyori tampak lemas, terbaring di atas
tempat tidur.
Sudah kuduga, karena sedang demam, pipi
Hiyori tampak memerah.
Ekspresinya juga kelihatan tidak
bersemangat dengan tatapan mata yang agak sayu.
"Eh, tadi belnya bunyi jam berapa,
ya?"
"Ah, tidak. Pas aku mau menekan bel,
mama Hiyori keburu pulang, jadi aku masuk bareng ke dalam rumah……"
Ah, sial. Aku tadi tidak sengaja
memanggilnya mama Hiyori.
"Begitu, ya~"
Untunglah. Sepertinya dia nggak terlalu
menyadarinya karena masih setengah sadar.
"Haus……"
"Ah, iya. Minuman penambah
ion."
"Terima kasih."
Saat kubukakan tutupnya dan kuberikan,
Hiyori langsung meneguknya
dengan lahap.
Merasa agak canggung, aku mengalihkan
pandangan ke sana kemari sambil mengamati sekeliling.
Kamar Hiyori. Rasanya, tempat ini…… keren
banget, ya…… iya. Ditambah lagi, wanginya juga enak.
Merasa kasihan pada diri sendiri karena
miskin kosakata, mataku tak sengaja tertuju pada boneka beruang raksasa yang
memancarkan eksistensi luar biasa.
Eh, itu boneka beruang raksasa super
besar yang kubeli bersama Serizawa-san sebagai kejutan.
Kalau boneka beruang kecil Bungaku ada
di…… ah, ada di atas tempat tidur Hiyori.
"Ah, kalau anak in, biasanya selalu
kupeluk erat pas mau tidur."
"H-, heh—e?"
Iri banget, tukar posisi sama aku sana.
"Kuh!? Kheho! Kheho!"
"Nanase-san tidak apa-apa!?"
Sepertinya dia tadi tersedak saat sedang
meminum minuman penambah ion. Aku pun mengelus punggungnya dengan lembut.
"……M-, maaf, ya. Aku sudah tidak
apa-apa. Ahaha…… baru juga datang tapi malah bikin repot Bun-kun."
Hiyori tampak tertunduk lesu. Sepertinya
dia benar-benar sedang tumbang karena sakit, ya.
"Tidak apa-apa. Malahan hari ini
manfaatkan saja aku sepuasnya. Kan itu hak istimewa orang sakit! Jangan
sungkan-sungkan, kalau ada hal yang ingin kulakukan untukmu, katakan saja apa
pun. Mau rewel seperti apa pun boleh."
"…………..."
Tatapan mata Hiyori yang sayu menatapku
lurus-lurus.
"…………Bun-kun memang baik, ya. Kalau
begitu, mumpung ada kesempatan."
Hiyori menegakkan tubuhnya, duduk di tepi
tempat tidur, lalu membuka mulutnya sambil berkata aahn.
"……Ehto? Nanase-san?"
"Bubur. Bun-kun yang suapin.
Semuanya."
"Eh, semuanya!?"
"Bukannya tadi kamu sendiri yang
bilang bakal lakuin apa pun yang
kuminta?"
"Eh, kalau itu sih…… ya, memang
benar, sih……"
Yap. Tidak ada satu pun alasan untuk
membantahnya.
Taburkan sedikit garam, lalu cedok bubur
menggunakan sendok.
……Sebaiknya ditiup-tiup dulu, ya?
Setelah sedikit mendinginkan buburnya,
aku membawanya ke dekat mulut Hiyori.
"……Enak. Kalau begini rasanya aku
bisa makan semuanya."
"Syukurlah kalau begitu."
Hiyori benar-benar menghabiskan buburnya
sampai suapan terakhir dengan disuapi, lalu meminum obatnya.
"Uhm…… demamnya sudah turun, belum
ya? Bun-kun, bisa tolong pastikan sebentar?"
"Eh, memastikan maksudnya…… bukannya
lebih baik pakai termometer saja?"
"Termometernya hilang."
"Eh, padahal yang ada di situ
itu."
"Ini bukan termometer, tahu?"
"Eh, tapi"
"Ini bukan termometer, kan?"
"Ah, iya."
Begitu ya. Kelihatannya memang
termometer, tapi ternyata bukan.
Kalau pemilik kamar ini sudah ngotot
bilang begitu, pastinya memang bukan
"Etto, kalau begitu, telapak tangan
ke dahi—"
"Kalau begitu suhunya tidak bakal
ketahuan secara akurat, dong. Harus bersentuhan langsung antar dahi, kan."
Sebenarnya apa yang sedang dia
bicarakan……?
"Hari ini mau menuruti permintaan
rewel apa pun, kan?"
"…………Iya."
Maaf. Balasanku barusan terlalu kuat, ya?
Aku pun membulatkan tekad, lalu perlahan
menempelkan dahiku ke dahi Hiyori.
……Demamnya, sepertinya belum turun.
Kurasa.
Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada bibir
Hiyori.
"……Bagaimana? Bun-kun, demamnya
masih ada, ya?"
"Hef!? Ah, etto, kurasa masih ada.
Sepertinya……"
Begitulah, jawabku dengan nada ketus
sambil salah tingkah.
"B-, baiklah, sepertinya aku harus
pulang sekarang! Permen pelega tenggorokan dan jeli persiknya kuletakkan di
sini ya, makanlah kapan pun kamu mau."
"Eh~ mau pulang sekarang?"
"Yah, ibunya Nanase-san kan juga ada
di rumah……"
Lagi pula, menjenguk orang sakit kan
tidak seharusnya berlama-lama juga, ya.
"Tidak mau……"
"He?"
"……Belum mau pulang…… temani aku di
sini."
Hiyori merengek menahanku agar tidak
pergi. Apakah ini juga salah satu bentuk kerewelannya sebagai orang sakit?
"……Baiklah. Kalau begitu, sebentar
lagi."
"Yey…… ehehe."
Hiyori memperlihatkan senyuman polos yang
tampak gembira.
Melihatnya seperti itu, sudut bibirku
tanpa sadar ikut melunak.
"Bun-kuun."
"Apa?"
"Ehehe~ cuma dipanggil aja—"
Hiyori terkikik seperti anak kecil.
"Bun-kun~"
"Iya~"
"Bun-kun Bun-kun Bun-kunn~"
"Iya, iya, iya."
"Ah, iya. Bisa minta satu permintaan
lagi?"
"N? Ada apa?"
"Tolong lap-in badan?"
Hah, apa, heh, eh, h-ha?
"Badannya basah karena keringat,
risih……"
"Eh, eh, eh, eh, eh. Tunggu,
Nanase-san tunggu. I-, ibu! Tolong panggilkan ibu!"
"Tidak mau. Pokoknya maunya sama
Bun-kun."
"Enggak, enggak mau lah—"
"Uu…… risih karena keringat."
Tanpa memedulikan kepanikanku, Hiyori
mulai melepaskan kancing piyamanya.
Tunggu sebentar!! Kenapa malah mulai
copot baju sih!?
Aku refleks membuang muka dari Hiyori
yang mulai membuka
piyamanya.
"K-k-! Nanase-san, piyamanya! Baju!
Baju!"
"Kalau Bun-kun yang lap-in badannya,
nanti kututup dan pakai lagi
dengan benar, kok. Makanya,
c-e-p-a-t—"
"Iya, iya, kuturuti! Setidaknya
bagian punggungnya saja, ya!"
"Eh~? Ya ampun, repot banget
ya."
Kompromi itu akhirnya diterima, dan aku
bisa bernapas lega untuk sementara.
Tenang, cuma mengelap punggungnya saja,
kok. Cuma mengelap punggungnya saja.
"Bun-kun~"
Saat aku berbalik, Hiyori yang
bertelanjang dada menatapku dengan ekspresi terpesona.
Keringat yang menetes dari kulitnya.
Dadanya yang seolah hampir tumpah dari balik lengannya (diperkirakan ukuran cup
E). Perutnya yang kelihatan lembut.
…………Jujur saja, kalaupun aku sampai
berpikiran yang aneh-aneh,
kurasa aku tidak sepenuhnya salah.
Namun, aku punya mental baja yang sudah
ditempa sejak kehidupan sebelumnya, jadi aku pasti bisa menahannya.
"B-, boleh tolong balik badan?"
Sambil berusaha keras agar tidak malah
menjadi orang yang terobsesi pada perutnya, aku mengambil handuk basah dan
melangkah mendekati tempat tidur selangkah demi selangkah.
…………Punggungnya juga kelihatan seksi, ya.
Tidak, tidak, tidak, tidak. Bodoh amat.
Apa yang sedang kupikirkan.
Hiyori ini, ya. Dia cuma sedang lemah
karena sakit dan sedang kesulitan.
Itu saja—
Tapi dalam keadaan seperti ini, dia
justru mengandalkan orang sepertiku..
Benar. Aku pasti sedang diandalkan
olehnya. Dia memercayaiku.
Tapi kalau aku sampai punya pikiran mesum
terhadap Hiyori yang sedang berpakaian seperti ini, itu benar-benar terlalu
tidak murni.
Singkirkan semua pikiran kotor itu
jauh-jauh. Ini bukan saatnya memikirkan hal-hal mesum seperti itu, tahu.
Setelah berhasil menenangkan pikiranku,
aku mulai mengelap punggung Hiyori dengan handuk basah.
"Nhn……!"
"Hya!? M-, maaf!! Dingin, ya!? Atau
sakit!?"
Sebaiknya aku berhenti mengelapnya
—
"N-, rasanya enak kok, jangan
berhenti."
Tolong aku, Hoshinon. Kalau begini terus
aku bisa berubah menjadi Beast suci.
◇
"Bun-kun, terima kasih ya……"
"S-, sama-sama…………"
Berhasil mengelap punggung Hiyori dengan
susah payah, aku terkapar dalam kondisi kelelahan fisik dan mental.
"Ehto, kalau begitu, aku benar-benar
mau pulang sekarang, ya."
Tepat saat aku hendak pulang, ujung
seragamku dicengkeram oleh Hiyori.
"…………Jangan pulang, tidak mau."
Tentu saja kalau diteruskan lebih lama
lagi…… hari juga mau malam, kalau terlalu lama di sini mama Hiyori pasti bakal
cemas dan datang memeriksa keadaan.
Beliau pasti tidak ingin anak laki-laki
seumuran dibiarkan berduaan terlalu lama dengan anak gadisnya yang sedang
sakit.
Terlebih lagi, dinding pertahanan
rasionalitasku sudah di ambang kehancuran.
"……Ada apa, Bun-kun? Apa kamu
marah?"
Menduga bahwa diamku adalah wujud dari
kemarahan, dia bertanya dengan nada lemah bagaikan anak kecil yang dimarahi.
"Itu, bukan begitu…… aku bukannya
mau bikin kamu repot. Maafkan aku."
"A, bukan begitu……"
"A-, aku…… cuma tidak mau dibenci
oleh Bun-kun…… itu saja."
Suara dan tatapan mata Hiyori bergetar.
"Aku…… biarpun cuma sebentar saja,
aku hanya ingin lebih lama berada bersama Bun-kun. Makanya, jangan benci
aku."
"……Mana mungkin aku membencimu cuma
karena hal seperti itu."
"Beneran?"
Tatapan matanya begitu tidak stabil dan
dipenuhi kecemasan, seolah-olah mau menangis kapan saja.
"Beneran, kok. Lagi pula, tidak
mungkin ada alasan bagiku untuk membenci Nanase-san, kan?"
"Tidak ada, itu tidak benar…… ada
banyak alasannya kok…… aku ini dari dulu selalu saja merepotkan Bun-kun."
"Itu—"
"Bun-kun pasti bakal bilang tidak
ada hal seperti itu. Kalau sama
Bun-kun, aku selalu merasa tidak apa-apa.
Aku benci…… diri yang seperti ini."
Karena tidak punya rasa percaya diri pada
diri sendiri, dia jadi cemas kalau-kalau merepotkan orang lain bakal membuatnya
dibenci.
Hiyori pasti anak yang rasa percaya
dirinya sangat rendah. Hal itu pasti disebabkan oleh pengalaman masa lalunya
yang pernah dirundung atau sendirian.
Makanya, dia sangat sensitif dan takut
dibenci oleh orang lain.
"Kalau begitu, hari ini sampai
Nanase-san tertidur, aku tidak bakal beranjak dari sisimu. Aku janji."
"……………Ung."
Saat kugenggam erat tangan Hiyori, dia
membalasnya dengan genggaman penuh rasa senang.
Yang harus kulakukan sekarang adalah
membuat Hiyori merasa bahwa dia tidak sendirian dan tidak perlu kesepian.
Mungkin karena kelelahan dan efek
obatnya, Hiyori langsung jatuh tertidur pulas.
Entah kenapa, Hiyori hari ini menjadi
begitu rewel karena demamnya, atau tiba-tiba hampir menangis, emosinya begitu
tidak stabil…… mirip seperti anak kecil, ya.
Setelah memastikan Hiyori benar-benar
tidur, aku membawa baki nampan ke ruang keluarga, di sana tampak mama Hiyori
sedang menyiapkan makan malam.
"Anu, maaf ya sudah berlama-lama di
sini. Baki nampannya sudah kukembalikan."
"Wah, terima kasih ya~ maaf sudah
merepotkanmu merawat Hiyori sampai larut begini."
"Ah, tidak. Sama sekali…… ini
kulakukan atas kemauan sendiri."
Menjawabnya tanpa berpikir panjang, mama
Hiyori langsung menatapku lekat-lekat.
"……Hei, Bun-kun. Apa kamu ada
rencana setelah ini?"
"Tidak, tidak ada khusus."
"Begitu, ya! Kalau begitu, mau
ngobrol sebentar denganku?"
"Hah!?"
"Aku sudah dari dulu ingin ngobrol
banyak dengan Bun-kun, lho~"
"Ah, iya……"
W-, wah…… mana mungkin bisa kutolak
tawaran ini……
◇
Mama Hiyori yang tersenyum ramah duduk di
hadapanku yang berada di meja ruang keluarga.
Di hadapanku tersaji teh hitam yang masih
mengepulkan uap hangat beserta tart buah mini.
"S-, selamat makan……"
Aku langsung memakan tart buah kecil itu
dalam sekali gigit.
"W-, enak…… ini beli di toko mana,
ya?"
"Nfufu~ sebenarnya ini buatan
tanganku sendiri, lho~"
"Eh!? Sungguhan!?"
Mama Hiyori hebat banget!!
Mama Hiyori menatapku yang melahap tart
itu dengan senyuman ramah sambil menopang dagunya dengan tangan.
"……Hei, Bun-kun. Bagaimana keadaan
Hiyori di sekolah akhir-akhir ini?"
Hiyori di sekolah? Tentu saja seperti
biasa…… kan.
"Begitulah. Dia ceria, bersemangat,
kelihatan senang, dan populer banget. Banyak banget yang naksir."
"Iya, iya. Terus, apa lagi? Biasanya
dia dekat dengan siapa saja?"
Orang yang biasanya dekat…… ya.
"Seorang anak perempuan bernama
Serizawa-san dan anak perempuan bernama Tsukimi-san. Serta aku,
sepertinya……"
…………Eh, jangan-jangan ucapanku barusan
kedengaran menjijikkan banget?
"Iya, iya. Begitu, ya."
Meskipun baru saja mengatakan sesuatu
yang menurutku menjijikkan, mama Hiyori tetap mengangguk dengan wajah
tersenyum.
"……Bun-kun. Terima kasih banyak,
ya."
"Eh? Kalau soal merawatnya tadi itu
bukan hal yang besar……"
Mama Hiyori menggelengkan pelan kepalanya
sambil tersenyum serba salah.
"Akhir-akhir ini anak itu kelihatan
memaksakan diri tampil ceria…… jadi aku agak cemas. Apalagi, setelah berbagai
hal terjadi saat SMP dulu, jadi makin khawatir."
Berbagai hal terjadi. Pasti itu masalah
perundungan yang sempat diceritakan Hiyori.
"……Soal cerita SMP itu aku sempat
dengar sedikit langsung dari orangnya, jadi kukatakan saja, untuk kejadian kali
ini sama sekali tidak ada unsur perundungan atau dikucilkan, jadi bibi tidak
perlu cemas."
"Ah, begitu, ya……"
Mendengar ucapanku, mama Hiyori menghela
napas lega, rasa cemasnya tampak jelas sirna dari wajahnya.
Lalu, mama Hiyori menyipitkan matanya
sambil tersenyum lembut kepadaku.
"Tapi, ya…… Hiyori, ternyata cerita
soal kamu, ya. Begitu, ya……"
"Etto, kali ini juga, itu…… memang
banyak hal yang terjadi, tapi semuanya baik-baik saja. Hiyori-san sudah
berjuang dengan keras…… jadi, etto, intinya sekarang sudah aman."
Kosakataku sendiri gimana, ya. Kenapa aku
mengulang kalimat yang sama dua kali.
"Begitu, ya, kalau Bun-kun yang
bilang begitu, bibi jadi lega."
Mama Hiyori begitu baik karena
mempercayai ucapanku yang sama sekali nggak meyakinkan ini.
"……Anak itu pasti bisa berjuang
berkat ada kamu di sisinya."
"T-, tidak juga……"
"Bun-kun."
"Y-, ya!"
"Tolong jaga anak itu, ya?"
"B-, baik……"
Mama Hiyori mengangguk puas melihatku
yang refleks mengiyakan tujuannya. Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang
mendekat.
"Mama……"
Pintu ruang keluarga terbuka, dan yang
muncul adalah Nanase Hiyori yang masih mengenakan piyama. Sambil mengusap
matanya, Hiyori langsung membeku begitu menyadari keberadaanku.
"Eh, k-, kenapa Bun-kun bisa bareng
sama Mama!? Kenapa lagi makan tart!?"
"Mama yang mengajak, lho~ kan?
Bun-kun?"
"Ah, iya……"
"……Kok kelihatannya kamu manja
banget sama Mama?"
Tidak manja, kok. Sekalipun iya, aku
sudah berusaha keras agar ekspresiku tidak kelihatan begitu.
"Eeh~? Bun-kun, kamu lagi
bermanja-manja sama aku, ya~? Mama jadi senang, deh~"
Mama Hiyori langsung mendekat lalu
merapat erat ke sisiku.
"T-, tunggu dulu, Mama!!"
Sambil memasang ekspresi sedikit kesal,
Hiyori menyela di antara aku dan mama Hiyori.
"Mama pergi sana!"
"Eeh, Mama masih mau ngobrol lebih
banyak sama Bun-kun~"
"Enggak boleh!! Nanti Bun-kun risih,
tahu!"
"Iya, iya……"
Mama Hiyori pun pergi meninggalkan ruang
keluarga dengan wajah cemberut tak terima.
"……Bun-kun. Kenapa muka kamu
kelihatan kecewa begitu?"
"Ah, tidak…… b-, omong-omong
demamnya sudah baikan, belum?"
Sambil menghindari tatapan Hiyori yang
terasa sedikit menyudutkan, aku mengalihkan topik pembicaraan.
"Eh? Gimana, ya…… uumm.
Ngomong-ngomong, rasanya agak llebih ringan daripada tadi, sih……"
Kulihat wajah Hiyori. Pipinya memang
masih agak merah, tetapi ekspresinya terlihat jauh lebih baik. Sepertinya
obatnya sudah mulai bekerja.
Meskipun begitu, apa Hiyori benar-benar
tidak ingat kejadian tadi, ya?
"B-, Bun-kun. Kalau ditatap sedekat
itu, aku jadi malu, tahu……"
"A-, m-, maaf."
Yah. Dia pasti sudah lupa soal itu. Sudah
pasti begitu.
"Etto…… kalau begitu, sepertinya aku
sudah harus pamit pulang, ya? Sudah malam begini."
"Ah, ung…… sebentar lagi Papa juga
bakal pulang, jadi, biar kuantar sampai depan pintu."
Begitu, ya. Papa Hiyori juga sebentar
lagi pulang, ya…… kalau begitu aku harus segera pulang detik ini juga.
Sambil membawa tas, aku bergegas menuju
pintu depan. Hiyori mengikutiku dari belakang.
"Kalau begitu, Nanase-san. Semoga
lekas sembuh."
"Ung. Bun-kun. Terima kasih banyak
untuk hari ini, ya……"
Tepat saat tanganku meraih kenop pintu
depan,,
"Gokhoh, kokhoh, kokhoh!"
"N-, Nanase-san. Tidak
apa-apa!?"
Aku melepaskan tanganku dari kenop pintu,
melepas sepatu, lalu bergegas menghampiri Hiyori.
"Ung. Tidak apa-apa, terima
kasih."
"B-, begitu?"
"Bun-kun itu, selalu saja
mencemaskanku dan datang menghampiri, ya."
"Eh? Nanase-san. Barusan bilang
apa—"
Tepat saat aku hendak menanyakan apa yang
barusan tidak kudengar, Hiyori tiba-tiba menerjang ke dalam pelukanku.
Dengan panik, aku segera memeluk Hiyori
dan menopangnya..
"Eh, Nanase-san!? Kamu beneran tidak
apa-apa!?"
"Maaf. Kepalaku agak pusing, jadi
boleh tolong topang aku sebentar?"
"U-, ung. Tentu saja."
"………………"
"………………"
Keheningan misterius kembali tercipta.
Etto, sebenarnya ada apa ini. Suasana
macam apa ini……
"………………Etto, Nanase-san?"
"Tunggu, sebentar lagi.
Makanya."
Sebentar lagi maksudnya apa?
Tepat saat aku hendak membuka mulut
karena sudah tidak sabar, pintu depan tiba-tiba terbuka.
"Aku pulaaaaaaaang!? Ssssiapa kamu
ini, hah!?"
"Ah, Pa, selamat datang~"
Gawat banget!! Papa Hiyori pulang di
waktu yang paling buruk!!
"A, a, a, t-, tidak salah paham!!
Om! Itu, cuma salah paham!!"
"Kamu tidak punya hak memanggilku
Om! Jauhi Hiyori sekarang juga!!"
"Bukan begitu, Pa! Bun-kun itu orang
baik!"
"B-, b-, Bun-kun!?"
"Wah, Ayah, selamat datang
kembali~"
"A, a, a, Ayah!! Di ruang depan ada
cowok asing yang tidak kukenal!!"
"Bukannya cowok asing, kok. Kan?
Bun-kun?"
"A, a, a, Ayah sampai
segitunya!?"
Papa Hiyori kebingungan. Keluarga Nanase
kacau balau. Aku sendiri mematung terkejut.
"Ah, benar juga. Bun-kun. Mumpung
Papa juga baru pulang, bagaimana kalau makan malam di sini dulu sebelum
pulang?"
"N-, Nanase-san!?"
Tawaran mendadak macam apa itu!?
"Serahkan pada Mama! Mama bakal
masak yang enak! Ah, ngomong-ngomong lauk hari ini adalah ayam goreng spesial
keluarga
Nanase, Bun-kun suka ayam goreng,
kan?"
"Eh, suka banget…… ah, tidak. Itu,
rasanya tidak enak kalau merepotkan"
"Boleh juga, tuh."
Papa Hiyori langsung mencengkeram bahuku
dengan erat.
"E, t-, anu……"
"Sepertinya kita…… harus banyak
mengobrol, ya. Nah, ayo masuk ke dalam, Bun-kun."
"………………b-baik."
Tidak mungkin aku bisa menolak tawaran
dari seluruh anggota keluarga
Nanase, jadi aku cuma bisa mengangguk
pasrah.
"Asyik! Kalau sudah diputuskan begitu, ayo, ayo, kita ke ruang keluarga?"
Sambil didorong dari belakang oleh Hiyori yang entah kenapa memasang ekspresi puas, aku pun melangkah menuju ruang keluarga.



Post a Comment