NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Chapter 3

Bab 3: 「Sifat Posesif Heroine Favorit」


Setelah Hiyori kembali berinteraksi dengan Tenma dan Ayabe-san, waktu pun berlalu begitu saja.

 

Malam sebelum pesta ulang tahun Hiyori. Saat aku sedang bersiap untuk tidur demi menyambut besok, nada dering ponselku berbunyi.

 

Siapa ya jam segini? Hiyori kah?

 

Sambil memikirkan hal itu, saat melihat layar ponsel, tertera tulisan 『Serizawa-san』.

 

Eh? Serizawa-san?

 

Meski sedikit gugup menerima telepon dari Serizawa-san, aku pun mengangkatnya.

 

"H-halo. Serizawa-san ada apa?"

 

『Hei, Bun-bun. Mau pergi ke Donki sebentar tidak sekarang?』

Eeh……

 

"Etto, kalau ke Donki bukannya tadi sepulang sekolah kita sudah pergi

ya?"

 

『Ung. Seperti yang dikatakan Bun-bun, tadi sepulang sekolah kita memang pergi membeli perlengkapan pesta ulang tahun. Tapi ya, kita sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.』

 

"Eh? Kesalahan fatal?"

 

Apa ya. Apa ada barang penting yang lupa dibeli.

 

『Kita belum membeli party popper raksasa dan selempang Bintang Utama Hari Ini……!!』

 

……O-oh.

 

"Etto, apa barang itu wajib?"

 

『Bicara apa sih kamu Bun-bun. Sangat·Dibutuhkan·Sekali. Tahu. Makanya sekarang kita pergi ya.』

 

"Eh? Sekarang maksudnya…… ini sudah lewat jam 9 tahu!? Sudah malam, bagaimana kalau besok saja?"

 

『Kalau begitu tidak boleh. Harus dari sekarang, kalau tidak bakal tidak sempat lho, Bun-bun.』

 

"Ujung-ujungnya kamu cuma mau merasakan keseruan pergi ke Donki saat larut malam kan."

 

『Hu, ternyata kamu paham ya. Sekarang aku sudah pakai kaos kaki tahu.』

"Tidak tidak, tidak boleh tahu."

 

『Sudah terlambat kalau mau melarang sekarang. Aku sudah pakai sepatu dan keluar rumah. Etto, rumah Bun-bun di mana ya?

Pokoknya kalau jalan ke arah timur nanti sampai kan ya.』

 

"Waaaaah!! Sekarang aku bakal pergi menjemputmu, jadi tunggu

dengan tenang di rumah!!"

 

『Ooh paham.』

 

"Sekarang aku sudah pakai sepatu dan keluar rumah ini!!"

 

『Cepat banget.』

 

"Ruwet banget deh."

 

Setelah berhasil berpapasan dengan Serizawa-san, kami pun menuju

Don Quijote yang dekat dengan Stasiun Kyoto.

 

"Waah…… ternyata ada party popper sebanyak ini ya."

 

Melihat begitu banyak jenis party popper yang berjajar, aku sampai bengong.

 

Nn? Apa nih, 『Hebat!! Party Popper』?

 

Hhee~ pilih yang ini saja kali ya. Tidak tahu hebatnya di sebelah mana sih.

"Bun-bun, beli yang ini juga yuk. Party popper tipe bazoka M-72. Sudah termasuk 2 amunisi, murah banget lho."

 

"Sisa 1 amunisinya mau dipakai buat apa coba?"

 

"Bagaimana kalau Bun-bun coba tembakkan ke Hoshino buat uji coba?"

 

"Bisa mati dibunuh aku."

 

Untuk sementara, kami memasukkan 『Hebat!! Party Popper』 dan M-72 ke dalam keranjang belanja.

 

Selempang Bintang Utama Hari Ini juga berhasil ditemukan dengan selamat, dan tepat saat kami mulai melangkah, Serizawa-san menarik-narik lengan bajuku.

 

"Serizawa-san?"

 

"Hei, pakai ini juga yuk."

 

Yang disodorkannya adalah kacamata kumis dan topi kerucut yang merupakan perlengkapan pesta klasik.

 

"Bukannya Tsukimi-san bakal menolak ya?"

 

"Ung. Makanya, mari kita berdua yang pakai. Kembaran."

 

"Eh? Yah, tidak masalah sih……"

 

"Mufufu. Sudah ketok palu ya."

 

Dengan ekspresi puas, Serizawa-san memasukkan kacamata kumis dan topi kerucut ke keranjang.

 

Setelah itu, sambil mengobrol santai mengitari Donki, sebuah boneka beruang tertangkap oleh mataku.

 

Boneka beruang yang ukurannya pas kalau dipeluk oleh Hiyori.

 

"……Fumu."

 

Hadiahku kan sudah telanjur ketahuan oleh Hiyori. Memanfaatkan situasi ini untuk memberikan hadiah kejutan sepertinya tidak buruk juga.

 

Paling tidak, ini bisa dipakai sebagai perlindungan seandainya boneka beruang raksasa yang kubeli bareng Serizawa-san tidak diterima olehnya.

 

"Bun-bun, ada apa?"

 

Serizawa-san mendadak mengintip boneka beruang dari belakangku.

 

"Ah, boneka beruang. Mau beli?"

 

"Bagaimana kalau ini dijadikan hadiah kejutan buat Nanase-san?"

"Aa, Bun-bun. Soalnya isi hadiahmu kan sudah ketahuan ya. Boleh juga tuh. Kalau dipromosikan sebagai beruang induk dan anak, dia pasti bakal mau menerimanya."

 

"Oho, beruang induk dan anak. Boleh juga tuh."

 

Sip, kalau sudah diputuskan begitu mari kita beli.

 

Ada beberapa jenis sih…… tapi yang mencuri perhatianku adalah yang ini.

 

Boneka beruang dengan ekspresi ciut yang kelihatan sama sekali tidak bisa diandalkan.

 

Uwa, beruang ini kelihatan lemah banget. Ikan salmon saja sepertinya tidak bakal bisa ditangkap dengan benar olehnya. Bakal langsung tereliminasi di alam liar yang keras nih.

 

"Ooh, anak itu bagus tuh. Rasanya agak mirip Bun-bun. Hiyori juga pasti bakal senang."

 

Eh, tunggu sebentar. Beruang ini, mirip denganku?

 

"Kalau begitu, go ke kasir."

 

Masih agak syoj, aku pun mengikuti Serizawa-san dari belakang.

 

Selesai membayar, kami membagi dua uang untuk party popper, kacamata kumis, dan topi kerucut.

Saat keluar dari Donki, waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 10.30 malam.

 

Kalau memperhitungkan waktu mengantarkan Serizawa-san pulang ke rumahnya, dipastikan bakal lewat dari jam 11 malam.

 

Jalan pulang setelah sampai di rumah Serizawa-san nanti, aku harus berhati-hati supaya tidak kena penertiban jam malam oleh polisi……

 

"Pesta ulang tahun besok. Aku senang kalau Hiyori bisa menikmatinya.

Soalnya belakangan ini dia kelihatan sangat lelah."

 

Pasti yang dimaksud adalah masalah patah hati dari Tenma.

 

Serizawa-san juga mengkhawatirkan Hiyori dengan caranya sendiri.

 

"Aku sedikit iri pada Hiyori. Bisa menyukai seseorang, jatuh cinta dengan sungguh-sungguh…… mungkin karena itulah, di saat-saat tertentu, rasanya seperti ditinggalkan dari belakang."

 

Wajahnya dari samping terlihat begitu jernih, tetapi entah kenapa tampak sedikit kesepian.

 

Pasti, kata-kata penghiburan atau perhatian yang kupikirkan sendiri tidak akan benar-benar bisa menyentuh hati Serizawa-san.

 

Karena itulah, aku mengubah perasaan egois yang kupendam langsung menjadi kata-kata.

"Menurutku tidak perlu terburu-buru kok. Pandangan soal percintaan itu kan beda-beda tiap orang. Yang paling penting adalah Serizawa-san bisa menikmati percintaan itu sendiri, kan?"

 

"…………Mungkin saja ya."

 

Menanggapi kata-kataku, Serizawa-san mengulas senyum.

 

"Bagaimana ya mengatakannya, Bun-bun itu orang yang terlalu baik. Ya."

 

Orang yang terlalu baik, ini sudah orang ke-3 yang mengatakannya padaku.

 

"Padahal menurutku tidak sampai seimbang itu tuh……"

 

"Meskipun kupanggil keluar selarut ini, kamu tetap datang tanpa mengeluh, bahkan mau mendengarkan curhat mendadakku dengan serius. Bun-bun memang terlalu baik."

 

“Aku datang karena…… bagaimana ya. Memang aku juga khawatir, tapi yang paling utama karena aku senang kalau bersama Serizawa-san. Jadi, tanpa sadar aku langsung datang."

 

Uumm. Bagaimana ya. Kok rasanya ada yang aneh. Perasaan ini kalau diubah jadi kata-kata sepertinya butuh istilah yang berbeda.

 

"Aku pasti…… menyukai waktu-waktu saat bisa melakukan hal konyol bersama Serizawa-san seperti ini."

Ung. Yang ini nih. Rasanya yang ini jauh lebih pas.

 

Untuk pertama kalinya, aku merasa puas dengan pilihan kataku sendiri, aku menyadari kalau sosok Serizawa-san yang seharusnya ada di sebelahku mendadak menghilang.

 

"Lho? Serizawa-san……?"

 

Aku panik dan berbalik. Serizawa-san ternyata berdiri mematung beberapa langkah di belakangku, dengan wajah bengong.

 

Lalu, dengan wajah yang memerah sampai ke telinga, dia bergumam seolah sedang memeras suaranya keluar.

 

"……Fueh."

 

Fueh? Mendadak keluar suara yang sama sekali nggak sesuai dengan karakternya yang biasanya.

 

"Eh, kamu tidak apa-apa?"

 

“Ah, nggak. Etto…… s-sedikit kena critical…… nih.”

 

Seolah dadanya baru saja ditembak, dia memegangi dadanya dengan berlebihan.

 

Critical apaan, sih?

 

Saat aku masih memikirkan hal itu, Serizawa-san menatapku lekat-lekat dengan ekspresi datarnya seperti biasa.

 

“…………Aku ralat ya. Bungaku itu bukan orang yang terlalu baik, tapi……”

 

Serizawa-san tertawa seolah sudah pasrah, lalu berkata,

 

“Pemikat hati. Ya.”

 

◇

 

“Kalau begitu, pesta ulang tahun Hiyori kita mulai. Cheers~!”




"""""Cheers~!!"""""

 

Atas seruan Serizawa-san, semua orang dengan gembira mengangkat gelas mereka.

 

Kami sedang mengadakan pesta ulang tahun Hiyori di vila milik Serizawa-san.

 

Di sana tampak pula sosok Tenma dan Ayabe-san, dan semuanya sedang tertawa bersama dengan gembira.

 

Melihat suasana itu dari kejauhan, aku pun berpikir.

 

Rasanya seperti true ending ya. Tidak, dalam arti tertentu mungkin memang begitu.

 

Semua orang berkumpul bersama, saling tertawa dengan gembira…… bisa dibilang ini adalah akhir yang terbaik.

 

"Tomida, terima kasih ya."

 

Yang menyapa dengan suara itu adalah Tenma.

 

"Eh, a, tidak, yang mengundang ke pesta ulang tahun kan Nanase-san……"

 

"Bukan soal itu. Soal Hiyori. Berbagai hal…… itu lho."

 

"Justru kalau soal itu tidak perlu berterima kasih. Hiyori bisa bangkit kembali karena dia sendiri yang sudah berjuang keras."

 

"……Aa, benar juga ya."

 

Sambil tersenyum, kami memandangi Hiyori dan Ayabe-san yang sedang mengobrol dengan gembira.

 

Seharusnya obrolannya sudah selesai dengan pas, tapi Tenma masih berdiri di sampingku, seolah masih ada sesuatu yang ingin dia katakan.

 

"Etto, ada apa?"

 

Untuk sementara, aku mencoba menyapanya duluan.

 

"Itu…… soal kedepannya. Bolehkah aku memanggil Tomida dengan nama depan?"

 

"He?"

 

Aku refleks membelalakkan mata mendengar pernyataan yang di luar dugaan itu.

 

Ini maksudnya…… yang itu kan. Seperti teman dekat. Hubungan antara aku yang karakter figuran dan Tenma yang sang protagonis melangkah satu tahap lebih maju.

 

"T-tentu saja. K-kalau Tenma-kun tidak keberatan."

 

 "!!"

 

Kali ini Tenma yang memasang raut wajah terkejut.

 

"A, tidak, kalau dari sananya memanggilku dengan nama depan, aku pikir di sini lebih baik memanggil dengan nama depan juga……!! Etto, itu, maaf ya kalau aku kegeeran."

 

"Tidak!! Sama sekali tidak kok!! Malah aku senang banget!!"

 

Tenma menunjukkan senyum lebar yang benar-benar terlihat bahagia.

 

Ugh, senyuman sang protagonis berelemen cahaya. Terlalu menyilaukan.

 

Tapi, kalau dia tampak se-senang itu, rasanya jadi sedikit malu juga ya.

 

"Bungaku!! Ke depannya mohon bantuannya ya."

 

Melihat Tenma yang berjalan kembali ke tempat yang lainnya, aku merasa sedikit bahagia.

 

"Tenma-kun kelihatannya sangat bahagia ya."

 

"Nuwaah!?"

 

Refleks suara aneh keluar dari mulutku saat Ayabe-san mendadak muncul.

"Tenma-kun itu tadinya sangat cemas lho? Jangan-jangan dia dipikirkan tidak baik oleh Bungaku-kun."

 

"Tidak, justru kalimat itu adalah milikku, atau lebih tepatnya, anu, soal

nama panggilan……"

 

"Kalau Tenma-kun yang merupakan pacarku memanggilnya dengan nama depan, tentu saja aku sebagai pacarnya juga harus begitu, kan?."

 

"Eh? A, i-iya."

 

Bagaimana ya, padahal alasannya tidak masuk akal, tetapi karena dikatakannya dengan sangat mantap dan seolah hal yang wajar, aku jadi mengangguk begitu saja.

 

"Karena itulah, Bungaku-kun juga dipersilakan memanggilku Hana-chan ya."

 

"Tidak boleh dong."

 

Kalau yang memanggil Hiyori atau anak perempuan lain sih tidak apa-apa, tapi kalau cowok manggil Hana-chan itu rasanya terlalu geli.

 

"………………"

 

Sambil menggembungkan pipinya, Ayabe-san memprotesku. Tekanan tanpa suaranya luar biasa.

 

"…………………………Hana-san saja deh."

Tidak tahan dengan tekanannya, aku pun menyodorkan jalan tengah.

 

"Muu, baiklah. Kalau begitu kita sepakat ya."

 

Ayabe-san menerima hal itu dengan raut yang agak enggan.

 

"Bungaku-kun."

 

"Nn?"

 

"Terima kasih banyak ya. Cuma hal ini yang ingin kusampaikan padamu."

 

Sambil mengucapkan hal itu, Ayabe-san tersenyum.

 

"Bagi aku, Hiyori-chan adalah teman pertama yang kupunya…… sahabat dekat, dan sosok yang sangat berharga. Aku benar-benar ingin Hiyori-chan bahagia."

 

Dari kata-kata Ayabe-san, terasa tekad yang begitu kuat.

 

Keinginan murni yang mengharapkan kebahagiaan sahabatnya dari dasar hati.

 

"……Ung."

 

"Karena itulah, orang yang berpacaran dengan Hiyori-chan haruslah sosok yang bisa menopangnya, dan tidak boleh kalau bukan orang luar biasa yang setara dengan Tenma-kun."

Spesifikasi yang dituntut terlalu tinggi tuh.

 

"Ekspresi itu, kamu berpikir kalau ini obrolan yang tidak ada

hubungannya denganmu kan?"

 

Seolah bisa membaca isi pikiranku, dia menatapku dengan mata jernih.

 

"Yah, soalnya bagiku yang sudah ditolak lebih dari 10 kali ini kan obrolan yang nggak ada hubungannya denganku.."

 

"Orang-orang itu saja yang tidak punya mata buat menilai."

 

Ayabe-san menegaskan hal itu dengan senyuman secara mantap.

 

"Soalnya aku menganggap Bungaku-kun itu sosok luar biasa yang setara dengan Tenma-kun kok."

 

"Ahaha, terima kasih ya."

 

Menanggapi senyuman samar dariku, Ayabe-san mendongak menatapku dengan mata menyipit tajam.

 

"……Bungaku-kun. Kamu menganggap kata-kataku cuma sekadar pujian kosong kan."

 

Yah…… blak-blakan saja, iya.

 

Saat refleks mengalihkan pandangan mendengar kata-kata Ayabe-san, dia menyenggol lenganku dengan sikut sekitar tiga kali sambil cemberut.

"Pokoknya, kedepannya mohon bantuannya ya?"

 

Meninggalkan kata-kata itu, aku melihat Ayabe-san berjalan menuju tempat Tenma., tepat setelah itu,

 

"Tuh kan, Bun-bun itu memang pemikat hati."

 

Kali ini Serizawa-san yang datang mengusikku.

 

Ada apa nih? Hari ini kok banyak banget yang mengajakku bicara ya.

 

"Bisa tidak berhenti mengatakan hal yang buruk kudengar……"

 

"Habisnya itu fakta kok."

 

Sambil berkata begitu, Serizawa-san menatap Tenma dan Ayabe-san.

 

Seandainya aku ini pemikat hati, sekarang pasti sudah membangun harem kan. Sayangnya jangankan harem, tanda-tanda disukai seseorang saja tidak ada sama sekali.

 

"………………"

 

Serizawa-san menatapku dengan ekspresi cemberut. Seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu..

 

"Eh, ada apa? Kok rasanya mood-mu lagi jelek?"

 

"Puih."

Eeh…… dia malah memalingkan wajah dariku.

 

"Etto……"

 

Di saat aku sedang bingung, Serizawa-san sambil tetap memalingkan wajah menyodorkan kacamata kumis dan topi kerucut padaku.

 

Ah!! Lupa!! Benar juga. Kemarin kan kami beli bareng buat dipakai kembaran.

 

"Dari reaksimu itu, kamu pasti lupa kan."

 

"Tidak, mana ada…… tidak deh, iya. Maafkan aku, aku lupa."

 

Di sini aku menurut saja, lalu mengenakan kacamata kumis dan topi kerucut yang disodorkan.

 

"Pfft, kuh, c-cocok kok. Ya."

 

"Kamu lagi mengejekku kan?"

 

"Fuh, fufuh…… t-tidak kok."

 

Diucapkan sambil tertawa begitu sama sekali tidak ada daya bujuknya tahu.

 

"Lagipula, cepat Serizawa-san juga pakai dong. Kemarin kan sudah janji mau kembaran."

 

"Pukuku, iya tahu, iya tahu."

 

Sambil menahan tawa, Serizawa-san mengenakan kacamata kumis dan topi kerucut, dan akhirnya kami berdua tampil kembaran.

 

Gadis cantik itu kalau pakai kacamata kumis dan topi kerucut pun tetap kelihatan imut, jadinya licik banget ya.

 

"……Hiyori juga kelihatan sangat menikmati acara ini, syukurlah ya."

 

Sambil berkata begitu, Serizawa-san menatap Hiyori yang sedang tersenyum dengan ekspresi yang begitu lembut.

 

"Aku suka hal-hal yang menyenangkan. Kalau orang berharga bagiku merasa senang, aku juga ikut bahagia."

 

Namun setelah mengatakan itu, dia kembali menatapku lekat-lekat.

 

"Pemandangan seperti ini bisa kulihat, itu jelas-jelas berkat Bun-bun lho. Seperti dugaanku, Bun-bun itu cowok yang menarik ya. Yah, walau pemikat hati sih."

 

"Etto, untuk sementara terima kasih ya."

 

"Soal menyukai seseorang atau semacamnya, aku sih masih belum paham…… tapi aku juga suka waktu-waktu saat sedang bersama Bun-bun kok."

 

"Eh."

Sambil meninggalkan kata-kata itu dengan senyuman menggoda, Serizawa-san pun berlalu pergi.

 

………………Beneran deh, bicara apa coba orang itu. Kalau dikatain hal seperti itu, bukannya aku bisa kegeeran mengira dia ada rasa padaku.

 

Di kehidupan sebelumnya, aku pernah dikatai hal yang mirip.

 

Aku yang keburu kegeeran, saat memberanikan diri menyatakan cinta malah ditolak dengan suasana canggung, 『M-maaf…… aku tidak bermaksud ke arah sana』. Aku tidak bakal menempuh lubang yang sama untuk kedua kalinya.

 

………………Tapi tidak, kali ini bukannya berbeda ya——

 

"Bun-kuun."

 

Seolah menyela jalan pikiranku, sang bintang utama hari ini, Hiyori, mendatangi dan menyapaku.

 

Sudah lah, hari ini adalah hari di mana aku sangat sering disapa orang.

 

Ada diriku yang mulai menerima kenyataan itu.

 

"Lho? Bun-kun memakai kacamata kumis dan topi……"

 

"Bagus kan? Kembaran dengan Serizawa-san lho."

 

"……Hhee~"

Dengan suara yang agak datar, Hiyori melepas kacamata kumis dan topi kerucut yang kupakai, lalu mengambilnya.

 

"Eh, kenapa diambil?"

 

"Nnm, kenapa ya? Soalnya tidak cocok kali ya."

 

◇

 

Malam hari, aku terbangun karena tenggorokan terasa haus.

 

Saat memeriksa jam yang terlihat remang-remang di dalam kegelapan, waktu menunjukkan jam 2 subuh. Tanggal bahkan sudah berganti sejak tadi.

 

Suara napas halus dari semua orang yang sedang tidur terdengar pelan.

 

Pada akhirnya, pesta ulang tahun Hiyori berlangsung sangat heboh hingga langsung menyambung ke acara kompetisi game.

 

Di bawah dorongan suasana dan momentum saat itu, akhirnya berujung jadi acara menginap bersama.

 

Agar tidak membangunkan semua orang yang tertidur lelap di ruang keluarga, aku bertindak dengan sangat hati-hati mengambil air mineral dari dalam kulkas lalu meminumnya, Saat itulah, pintu ruang keluarga terbuka.

 

"Lho……? Bun-kun? Kamu bangun?"

"Nanase-san. Aku cuma agak haus……"

 

Hiyori…… sepertinya baru saja pergi dari kamar mandi kali ya.

 

Setelah meminum habis airnya aku berniat kembali tidur, tetapi Hiyori yang menatapku justru duduk di sofa ruang keluarga, lalu menepuk-nepuk area di sebelah dirinya pelan.

 

Setelah agak ragu sejenak, aku duduk di samping Hiyori.

 

"Hari ini benar-benar menyenangkan ya. Walau aku kaget banget sama boneka beruang raksasa yang itu sih."

 

Hiyori bercerita dengan gembira seolah sedang mengenangnya kembali.

 

Ngomong-ngomong, aku dan Serizawa-san dengan selamat dimarahi oleh Tsukimi-san, "Ha? Beruang sebesar ini gimana caranya kamu mau angkut ke rumah Hiyori coba?".

 

Meski terus mengomel, Tsukimi-san tetap bersedia membantu mengangkut boneka itu hari ini. Orangnya memang baik.

 

Ah, benar juga.

 

"Tunggu sebentar ya."

 

"Eh? U-ung."

 

Aku bergegas mengambil kantong kertas berisi boneka beruang (ukuran kecil), lalu menaruhnya di atas pangkuan Hiyori.

 

"Eh? Apa nih? Hadiah kan tadi sudah kuterima……"

 

Hiyori mengangkat kantong kertas itu dengan wajah bingung.

 

"Etto, ini hadiah kejutan."

 

"Eh, eh, eh, b-boleh kubuka?"

 

"U-ung."

 

Sambil sedikit kaget aku mengangguk pada Hiyori yang bertanya dengan nada antusias.

 

Siapa sangka, tensinya bakal naik sejauh itu……

 

Dengan kedua tangannya, Hiyori mengeluarkan boneka beruang dari kantong kertas secara hati-hati, lalu matanya berbinar-binar.

 

"Wah, anak beruangnya lucu banget."

 

"Yah, anggap saja pasangan induk dan anak bersama beruang raksasa yang tadi……"

 

Aku bergumam tanpa bermaksud beralasan kepada siapa pun.

 

Saat kulirik Hiyori, dia sedang menatap wajah beruang itu lekat-lekat.

Wajah beruang itu tetap memasang raut yang terkesan penakut seperti biasa.

 

"Anak ini, entah kenapa mirip seperti Bun-kun ya."

 

Bahkan Hiyori pun ikut-ikutan bilang begitu……

 

"Etto, ngomong-ngomong kalau kamu tidak suka, bisa dituker kok……"

 

Hiyori menggelengkan kepalanya pada kedua tanganku yang disodorkan.

 

"……Tidak bakal kuberikan ke siapa-siapa tahu. Anak ini kan Bun-kun milikku."

 

Seolah tidak mau direbut oleh siapa pun, Hiyori memeluk erat boneka beruang (Bun-kun) itu.

 

Yah, karena sampai diberi nama segala, berarti dia menyukainya…… kali ya?

 

Hiyori makin memeluknya dengan erat seolah sangat berharga, lalu sambil sedikit menundukkan wajahnya dia menatap beruang yang ada di dalam pelukannya.

 

"Bun-kun. Beneran deh, terima kasih ya……"

 

"Eh? Yah, tidak menyangka kamu bakal sesenang ini……"

"Bukan cuma soal ini saja. Soal hal-hal yang terjadi selama ini, semuanya."

 

Hari ini…… tidak, berlanjut dari kemarin, aku sering sekali diucapkan terima kasih ya.

 

"Ini kan berkat hasil kerja keras Nanase-san sendiri."

 

Aku mengucapkannya sambil menatap semua orang yang sedang tertidur.

 

"Kerja keras…… ya."

 

"Nanase-san?"

 

"Aku tuh ya, hari ini lumayan berjuang keras tahu?"

 

"Eh?"

 

Hari ini? Berjuang keras?

 

Ah, jangan-jangan maksudnya dia tetap berusaha menahan diri meski melihat Tenma dan Hana-chan bermesraan itu menyiksa baginya?

 

"Waktu Bun-kun mengobrol dengan Tenma atau Hana-chan aku sudah menahannya mati-matian, terus waktu kamu bermesraan dengan Shi-chan pun aku bersabar dan baru menyapamu setelah obrolan kalian berdua selesai."

 

"Eh? U-ung……?"

 

"Makanya, sambil memujiku bilang 'kamu sudah berjuang ya', usap kepalaku dong."

 

"……He?"

 

Aku kehilangan kata-kata menanggapi permintaan yang di luar dugaan itu.

 

"U-sa-p~"

 

Tanpa memedulikan diriku yang membeku, Hiyori terus mendesak.

 

Bentar, kenapa kamu mendadak melancarkan serangan bertubi-tubi begini? J-jangan-jangan…… dia sedang bermanja-manja padaku?

 

Pasrah pada Hiyori yang menyandarkan kepalanya ke bahuku, aku pun mengusap kepalanya dengan lembut.

 

Ah, luar biasa…… rambut Hiyori sangat halus. Ditambah aromanya wangi sekali.

 

"……♪"

 

Entah kenapa aku tidak begitu paham, tetapi Hiyori kelihatannya sedang dalam suasana hati yang sangat baik.

 

Etto, sisanya tinggal memujinya kan ya?

"Etto, Nanase——"

 

"Panggil Hiyori."

 

"Eh, tidak, kalau itu jelas-jelas agak……"

 

"Hana-san."

 

"Hiyori, hari ini kamu juga sudah sangat berjuang ya."

 

"Ehehe……"

 

Sambil mengusap kepalanya, aku memanggil namanya dan memujinya.

 

Rasanya seperti sedang melakukan permainan aneh semacam ini. Rasa bersalahnya parah banget.

 

"Hei hei, hal seperti ini…… gimana kalau ini jadi rutinitas kita berdua saja?"

 

"Eh, berarti mulai sekarang setiap hari aku harus mengusap kepala

Nanase-san?"

 

"Nanti aku juga bakal mengusap kepala Bun-kun kok……! Sambil bilang, 'Hebat ya sudah mau datang ke sekolah!' gitu."

 

"Poin pujian buatku asal-asalan banget kan?"

 

Tapi ya, mengusap-usap kepala heroine favorit ya.

……Boleh juga sih. Padahal hal itu makin memperparah keanehan permainan ini.

 

Lagipula……

 

"Hal yang bisa dilakukan seperti ini pun cuma untuk sekarang saja kan."

 

"……Eh? M-maksudnya bagaimana?"

 

Mendengar kata-kata yang mendadak kuucapkan, Hiyori bereaksi secara berlebihan.

 

"Mungkin Nanase-san sudah bisa mengakhiri perasaan cintamu pada Tenma-kun. Makanya mulai sekarang kamu pasti bakal mengalihkan pandangan ke cinta yang baru."

 

"……Kalau hal itu sih, memang benar."

 

"Pasti nanti kamu punya anak cowok yang ditaksir, memberanikan diri menyatakan cinta, lalu bersatu dengan seseorang yang tidak kukenal……"

 

Lalu setelah itu, kamu bakal memulai kisah cinta yang baru, kan.

 

"Makanya, kurasa kebersamaan kita seperti ini juga nggak akan bertahan lama. Sebentar lagi kamu pasti punya pacar, lalu Nanase-san bakal pergi meninggalkanku, kan?"

Bagaimanapun juga Hiyori kan sangat populer jadi pasti banyak yang mengincarnya. Di masa depan yang dekat, peranku sebagai tempat persinggahan pun bakal berakhir.

 

Makanya…… kalau sampai Hiyori punya orang yang disukai,

 

"Aku juga harus menemukan orang yang kusukai dengan benar ya……"

 

"……Ha?"

 

Seperti yang dikatakan Serizawa-san, menyukai seseorang dengan sungguh-sungguh dan jatuh cinta secara serius. Melihat Hiyori yang seperti itu, aku jadi berpikir ingin jatuh cinta lagi.

 

"Kalau nanti aku ditolak, waktu itu tolong hibur aku ya. Ah, kalau penembakanku berhasil, aku bakal laporkan padamu sebelum ke siapa pun lho."

 

"………………"

 

"Benar juga. Kita berdua bisa kumpul di restoran keluarga atau semacamnya, saling bahas cara pendekatan ke orang yang disukai masing-masing, gimana cara menyatakan cintanya~ mengadakan rapat strategi~"

 

"Tidak mau ah."

 

"……Eh?"

 

Hiyori mencengkeram kedua bahuku dan mendorongku hingga rebah di sofa

 

"T-tunggu sebentar!? Nanase-sa——"

 

"Ssstt…… kalau bersuara keras begitu nanti semuanya bisa bangun kan? Tidak apa-apa?"

 

Sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, Hiyori tersenyum.

 

Aku refleks membisu. Soalnya kalau pemandangan seperti ini sampai kelihatan oleh semuanya……

 

"……Kalau aku sih, tidak peduli."

 

Hiyori melontarkan kata-kata seolah membaca isi hatiku. Pipi miliknya tampak sedikit memerah.

 

"K-kenapa melakukan hal seperti ini……?"

 

"Bun-kun itu sama sekali tidak paham apa-apa ya."

 

"Eh?"

 

"Aku tuh, kalau tidak ada Bun-kun…… sudah"

 

"E-etto…… N-Nanase-san?"

 

"Hei."

 

"I-iya!"

 

"Harus bagaimana…… supaya kamu mau cuma melihat ke arahku saja?"

 

Mata Hiyori yang menatapku begitu indah dan jernih, tetapi entah kenapa menyimpan sedikit bayangan.

 

"Milikku…… Bun-kun itu milikku. Sama sekali tidak mau kuberikan ke siapa pun. Kepada siapa pun. Makanya, daripada direbut oleh seseorang…… sekalian saja sekarang"

 

"N-Nanase…… san?"




"Aku, soalnya baru pertama kali, jadi mungkin masih belum begitu mahir sih……"

 

Wajah Hiyori kian mendekat. G-gawat, kalau begini terus bibir kami bakal……

 

"……Kalian berdua, sedang melakukan apa?"

 

Aku sontak mengalihkan pandangan ke arah suara itu. Di sana, Tsukimi-san berdiri menatap kami dengan curiga.

 

◇

 

"Semuanya, terima kasih ya sudah membantu mengangkutnya sampai ke sini!"

 

Menanggapi ucapan terima kasih dari Hiyori, kami bertiga—aku, Serizawa-san, dan Tsukimi-san—membalasnya dengan acungan ibu jari.

 

Sehari setelah pesta ulang tahun, aku dan Serizawa-san, dengan bantuan Tsukimi-san, menghabiskan sekitar satu jam untuk membawa boneka beruang raksasa itu sampai ke rumah Hiyori.

 

Serizawa-san yang berjalan di sampingku tampak terengah-engah dan kepayahan.

 

Setelah berpamitan dengan Hiyori, kami pun berjalan pulang.

 

"Bun-bun."

"Nn?"

 

Saat dipanggil oleh Serizawa-san dan berbalik, dia sama sekali tidak bergerak satu langkah pun dan malah terduduk jongkok di jalan.

 

"Gendong di punggung. Sudah tidak sanggup, malas jalan, capek, merepotkan."

 

"Eeto, bagaimana kalau digendong sama Tsukimi-san saja?"

 

"Jelas tidak mau."

 

"Katanya…… nn."

 

Serizawa-san menyodorkan kedua tangannya.

 

"Tidak tidak, jangan manja begitu dong, ayo jalan sendiri. Bakal kutinggal lho."

 

"……Bun-bun."

 

"Apa?"

 

"Ukuran dadaku lumayan besar tahu."

 

"Apa boleh buat ya. Cuma kali ini saja ya."

 

"Yaiy."

Tsukimi-san yang ada di samping menatapku dengan mata seolah sedang melihat tumpukan sampah, tapi mau bagaimana lagi kan?

 

Bagaimanapun juga anak laki-laki itu kan sangat menyukai dada.

 

Sambil menggendong Serizawa-san di punggung, aku kembali melangkah. Sensasi lembut yang terasa di punggungku………… lho, di luar dugaan Serizawa-san lumayan berat ya.

 

"Bun-bun. Sekarang kamu sedang memikirkan hal yang tidak sopan kan?"

 

"Eh? Aa, cuma berpikir kalau di luar dugaan kamu lumayan berat ya~ gitu. Ah, sebentar, jangan menepuk-nepuk kepalaku begitu."

 

"Kalau yang itu sih kamu yang salah."

 

Tsukimi-san yang berjalan di sampingku menatapku dengan tatapan jengkel.

 

Ah, kalau dipikir-pikir aku belum mengucapkan terima kasih pada Tsukimi-san karena sudah mau membantu ya.

 

"Tsukimi-san. Terima kasih ya hari ini sudah mau membantu."

 

"Bukan masalah sih…… lagipula, bukannya harusnya ajak Shindou sama Ayabe-san juga buat membantu?"

 

"Tidak ah, masa melibatkan dua orang yang tidak ada hubungannya."

"Beneran tuh Hoshino. Begini-begini kami juga tahu cara menjaga perasaan orang lain lho."

 

Bantuan datang dari Serizawa-san yang sedang kugendong di punggung.

 

"Aku juga mau kalian menjaga perasaanku tahu……?"

 

"Soalnya Hoshino itu walau mengomel tetap bakal membantu, jadinya tidak perlu repot-repot menjaga perasaanmu."

 

"Kucubit pipimu, ya."

 

"Gitu kata Bun-bun."

 

"Kubunuh kamu."

 

Hei, Serizawa. Jangan melibatkanku dong.

 

Kepalaku ditepuk-tepuk oleh Serizawa-san, sementara kakiku ditendang-tendang oleh Tsukimi-san, tetapi pada akhirnya kami sampai di rumah Serizawa-san dengan selamat.

 

"Bun-bun, terima kasih sudah menggendongku. Hari ini menyenangkan juga. Kalian berdua, sampai ketemu lagi hari Senin ya."

 

"Ung. Selamat beristirahat."

 

"Daa~"

Setelah berpisah dengan Serizawa-san, akhirnya tinggal aku dan Tsukimi-san berdua.

 

Aku melirik wajah Tsukimi-san dari samping.

 

Pada akhirnya, kejadian tadi malam dijelaskan oleh Hiyori sebagai 'kakinya tersandung lalu tidak sengaja menindihku'.

 

Tsukimi-san memang memasang raut curiga sampai akhir, tetapi dia tidak menginterogasi kami lebih jauh dari itu.

 

"……Apa."

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa kok."

 

……Sebelum diinterogasi terkait kejadian semalam, mungkin lebih baik kalau berpisah di sini saja ya.

 

Lagipula semalam aku sempat menembakkan party popper tipe bazoka M-72 ke arah Tsukimi-san untuk uji coba dan bikin dia marah besar.

 

"……A, etto. Bagaimana kalau kita berpisah di sini saja?"

 

"Bicara apa sih. Pulang bareng saja kan bisa. Aku juga mau dengar lebih detail soal kejadian semalam."

 

Sudah kuduga.

 

"Untungnya rumah kita kelihatannya dekat, jadi masih banyak waktu buat ngobrol.”

 

"Baik……"

 

Aku tidak punya daya untuk melawan di hadapan senyuman manis milik Tsukimi-san dan cuma bisa mengangguk pasrah.

 

"Jadi, kalian tadi malam sedang melakukan apa?"

 

"Kalau itu sih……"

 

Meski ditanya begitu, harus dijelaskan bagaimana ya. Jujur saja aku sendiri tidak begitu paham kenapa sampai ditindih begitu.

 

"……Apa, kamu berniat melakukan hal yang tidak bisa diucapkan ya?"

 

"A, tidak…… gimana ya, kalau cuma menjelaskan situasinya saja sih——"

 

Untuk sementara, aku menjelaskan alurnya sejak terbangun di tengah malam sampai Tsukimi-san mendadak masuk ke ruangan.

 

"Paham deh. Kalau yang menindih itu kamu sih urusannya bakal lebih gampang."

 

Tsukimi-san, wajahmu mengerikan tahu.

 

"Hiyori memang terkadang suka memperlihatkan rasa posesif yang luar biasa padamu, tapi siapa sangka sampai sejauh itu. Padahal waktu bersama Shindou dulu tidak sampai sebegininya tuh……"

 

Tsukimi-san menatapku dengan mata menyipit tajam.

 

Rasa posesif ya. Memang sih kemarin dia sempat bilang tidak mau memberikan pada siapa pun atau cuma mau melihat ke arahnya saja.

 

"Nn? Berarti maksudnya, Nanase-san itu mau menguasaiku sendiri begitu?"

 

"Ya maksudnya begitu."

 

"………………………………………………………………………………Eh, kenapa?"

 

Melihatku yang kebingungan, Tsukimi-san menghela napas panjang seolah sudah kehabisan kata-kata.

 

"K-kenapa?"

 

"………………Tidak, bukan apa-apa kok."

 

Eeh, hal yang seperti itu dipastikan tidak mungkin bukan apa-apa tahu.

 

"Pokoknya, jangan terus-terusan menari tap di atas ranjau Hiyori, ya. Tolong banget."

 

"Etto, aku bahkan nggak tahu ranjau Nanase-san itu ada di mana……"

"Kalau begitu bukannya paling aman kalau kamu tidak usah punya pacar seumur hidup saja?"

 

Parah banget……

 

"Haah, aku harus berhati-hati supaya apinya tidak menyambar ke arahku…… lagipula, kamu mau jalan bareng sampai kapan? Rumahku sudah sampai tuh."

 

"Rumahku di lantai 4 apartemen ini kok."

 

Begitu sampai di pintu masuk apartemenku, Tsukimi-san mendadak berhenti dan mematung dengan wajah bengong.

 

"……Bercanda kan."

 

"Tsukimi-san?"

 

"……Rumahku di lantai 5 apartemen ini tahu."

 

◇

 

"Sip, dengan begini barang-barang perlengkapan harian sudah dibeli semuanya ya."

 

Aku sedang berada di Kyoto Arpanti, pusat perbelanjaan besar di Stasiun Kyoto, untuk membeli beberapa perlengkapan sehari-hari yang perlu kutambah.

Lalu, selanjutnya aku melangkah menuju tujuan asliku, yaitu toko anime.

 

Lantai 6 Kyoto Arpanti merupakan area khusus anime yang diisi oleh toko anime, toko khusus permainan kartu, hingga claw machine yang menyediakan berbagai pernak-pernik terkait anime, sehingga benar-benar menjadi tempat suci bagi para pecinta anime.

 

Sambil menaiki eskalator dengan perasaan antusias, aku mendadak teringat.

 

Siapa sangka aku malah tinggal di apartemen yang sama dengan Tsukimi-san……

 

Meski sudah diwanti-wanti oleh Tsukimi-san untuk tidak menceritakannya ke yang lain, apa dia sebenci itu ya kalau sampai ketahuan tinggal di apartemen yang sama denganku.

 

Padahal tadi dia sempat bilang 『Kalau sampai ketahuan Hiyori…… bisa gawat banget tahu』 segala.

 

Saat sedang memikirkan hal itu, aku pun sampai di toko anime.

 

Saat berkeliling di dalam toko, mataku tertuju pada Ichibankuji.

 

​Ah, anime ini. Baru-baru ini aku menontonnya. Coba kulihat…… Hadiah

A adalah figur swimsuit ya. Wah, figur dengan kualitas yang cukup ba…… bagus, ya.

 

​Setelah mengecek dompet, aku pun pergi mencoba menarik undian.

 

​Hasilnya adalah lencana dan acrylic stand.

 

​Hasil yang biasa saja, tapi kelihatannya kedua barang itu adalah stok terakhir yang tersisa.

 

​"Um…… permisi."

 

​Tepat saat aku hendak beranjak pulang, pundakku dicengkeram kuat dari belakang.

 

​"Lencana dan acrylic stand itu. Bisa tolong serahkan padaku?"

 

​Eh, orang apa ini…… wajahnya tertutup rapat oleh masker, kacamata hitam, dan topi. Auranya menekan dan terasa menyeramkan.

 

​"Biaya undiannya tentu akan kutanggung……"

 

​"Etto, b-baik……"

 

​Dalam situasi seperti ini, lebih baik menuruti permintaannya dengan tenang.

 

​Aku menyingkir ke sudut agar tidak menghalangi orang lain, menyerahkan lencana serta acrylic stand, lalu menerima uangnya.

 

​Transaksi selesai dengan aman. Tepat saat aku hendak bergegas pulang,

 

Pikon.

 

Ponselku dan si orang mencurigakan itu berbunyi bersamaan menandakan ada notifikasi masuk.

 

​Melihat layar ponsel, ternyata ada pesan ucapan terima kasih dari Hiyori di grup chat. Di tengah rentetan balasan yang masuk, ponselku dan ponsel si orang mencurigakan terus berdering.

 

​Begitu aku mengirim balasan, ponsel si orang mencurigakan kembali berdering.

 

……Hanya Tsukimi-san yang belum membalas.

 

​"………………"

 

"………………"

 

​Aku membuka chat pribadi dengan Tsukimi-san, lalu membombardirnya dengan stiker acak.

 

Pikon.

 

Pikon.

 

Pikon.

 

​"……Ehto, apa yang sedang kamu lakukan, Tsukimi-san?"

 

"……Aku tidak kenal dengan orang bernama itu."

 

"Bukan begitu, suaranya jelas-jelas suara Tsukimi-san, kan!?"

 

"T-tunggu, bodoh, suaramu keras banget."

 

"Ah, m-maaf……"

 

​Sambil menghela napas, Tsukimi-san melepas kacamata hitam dan maskernya.

 

​"Tsukimi-san ternyata mengoleksi merch anime juga…… atau

jangan-jangan, kamu suka anime?"

 

"……Yah, sekadar hobi untuk dinikmati sendiri, sih."

 

"Kalau cuma disebut 'sekadar', tapi sampai nekat minta barang orang lain demi mendapatkannya, itu mah sudah kecanduan namanya."

 

"I-itu…… karena karakter di lencana dan acrylic stand itu adalah oshi kesayanganku."

 

Karakter favorit!! Baguslah!! Bagus, bagus. Punya karakter favorit itu hal yang bagus.

 

……Ngomong-ngomong, karakter ini sifat dan suasananya agak mirip

dengan Hiyori, ya.

 

​"Kamu barusan pasti mikir kalau karakter kesayanganku itu mirip Hiyori, kan."

 

"Etto, tipe idaman Tsukimi-san itu cewek yang dadanya besar, baik hati, dan ceria, ya—gukhuft!"

 

"Jangan diucapkan dengan suara keras!!"

 

Sisi perutku langsung disodok keras oleh Tsukimi-san yang sedang ngambek.

 

​"Jangan katakan hal ini ke siapa pun."

 

"T-tentu saja."

 

​Sampai-sampai menyamar segala. Pasti dia menyembunyikannya dari orang-orang sekitar.

 

​"Eh, kalau begitu kenapa tadi minta ke aku? Emangnya segitunya pengen merch karakter itu?"

 

"Bukan cuma itu sih…… tapi, yah, kalau sama kamu…… rasanya kalaupun ketahuan, ya sudahlah."

 

​Tsukimi-san langsung membuang muka..

 

Eh, itu artinya……

 

"Kamu sebenarnya pengen…… teman sesama otaku, ya."

"…………Bising."

 

​Ternyata tebakanku tepat sasaran, pipinya langsung memerah.

 

Oho, tsundere ya rupanya?

 

"Ah, etto, aku juga nonton anime itu. Waktu nonton film kompilasinya, menurutku seru juga."

 

"Hah? Kamu nonton film kompilasinya?"

 

"I-iya. Aku berlangganan semua layanan streaming, jadi bisa ditonton di HP…… baru bagian pertama sih, bagian keduanya sepertinya mau kutonton nanti setelah pulang."

 

"……………………"

 

"Tsukimi-san? Ada apa——"

 

​Bum! Tsukimi-san tiba-tiba melakukan kabe-don agar aku tidak bisa kabur.

 

Meskipun ada selisih tinggi badan di antara kami, rasanya jelas-jelas aku yang jadi mangsanya.

 

​"Hei."

 

"B-baik!"

 

"Nomor kamarmu. Beritahu aku."

 

"Eh, kenapa?"

 

"Sudah, cepat beritahu."

 

"……Kamar 401."

 

"Bagus. Pintar sekali menjawabnya. Karena itulah, malam ini aku mau ke apartemenmu."

 

"H-ha????"

 

​A, aku tidak paham maksudnya. Kenapa? Apa maksudnya ini?

 

"Malam ini mau nonton film kompilasinya, kan? Aku juga belum nonton, jadi biarkan aku nonton bareng. Katanya ada potongan adegan baru dan opening khusus film……"

 

"T-tapi…… tapi kan."

 

"Kalau begitu, aku mau beli makan malam dan camilan dulu, pulanglah duluan dan bersiaplah."

 

"Eh, sebentar!?"

 

​Tsukimi-san pergi begitu saja tanpa menunggu jawabanku.

 

……Seriusan nih?

​Sambil kebingungan karena tidak bisa mencerna situasi, aku pulang ke rumah.

 

Setelah makan malam dan mandi, aku bersiap-siap untuk menonton film, lalu bel pintu berbunyi. Ting-tong.

 

D-dia benar-benar datang.

 

​"Halo."

 

Saat kubuka pintunya, tampak Tsukimi-san membawa kantong belanjaan besar.

Dia memakai kacamata, hoodie putih kebesaran (oversized), sandal Crocs, dan penampilan yang sangat santai.

 

​"……Apa?"

 

"Ah, tidak…… kacamatanya."

 

"Oh, biasanya aku pakai lensa kontak."

 

Sambil berkata begitu, dia masuk ke ruang masuk dan melepas sandal Crocs-nya.

 

"Etto, beneran mau nonton bareng di sini?"

 

"Iya."

 

"M-masuk ke kamar cowok jam segini apa tidak apa-apa……"

"Bukan masalah, kan. Kita kan sudah saling kenal."

 

Tsukimi-san menaruh barang bawaannya di atas meja dengan bunyi gedebuk, lalu duduk.

 

"Kenapa masih berdiri di situ? Mau duduk di sebelahku, tidak?"

 

"I-iya……”




Mengikuti dorongannya, aku duduk di sebelah Tsukimi-san.

 

Duh, dekat, dekat, dekat banget…… harum sampo miliknya tercium jelas, gawat banget ini situasinya…… b-harus alihkan perhatian ke sesuatu……

 

Ah, o-omong-omong…… Tsukimi-san membawa apa saja, ya?

 

Saat kuperiksa isi kantongnya, isinya ternyata adalah aneka camilan dan banyak sekali minuman berenergi.

 

Etto……anu, ini, jangan-jangan kita bakal begadang semalaman?

 

"Totalnya kan ada 2 bagian film kompilasi, terus dilanjut 13 episode anime utamanya, kan."

 

Eh, bukan cuma filmnya saja, tapi lanjut serial utamanya juga? Sudah pasti bakal begadang semalaman, dong.

 

"Iya."

 

Melihat kebingunganku, Tsukimi-san tersenyum manis sambil

menyodorkan kaleng minuman berenergi yang sudah dibuka pull-tab-nya.

 

"Wa, wah……"

 

Sambil menangis di dalam hati, aku terpaksa menerima minuman berenergi itu.

◇

 

"Eto, tiba-tiba banget…… tapi mulai sekarang aku mau kita memilih ketua kelas untuk kelas ini."

 

Saat HR setelah semua pelajaran berakhir, guru tiba-tiba mengumumkan hal itu.

 

Suara protes 'Eeh~' langsung menggema di seluruh kelas.

 

"Yah, namanya juga guru, jadi sempat lupa sori-sori…… pokoknya kita butuh satu orang siswa dan satu orang siswi, kira-kira siapa nih yang mau mengajukan diri~"

 

Tidak satupun siswa yang mengangkat tangan menanggapi panggilan guru tersebut.

 

Yah, disebutnya ketua kelas memang kedengarannya keren, tapi tugasnya adalah memimpin acara-acara seperti festival olahraga dan festival budaya, persiapan pelajaran hingga membereskan kelas setelahnya—singkatnya, segudang pekerjaan merepotkan. Dengan kata lain, posisinya mirip seperti pesuruh.

 

"……Ngomong-ngomong, sampai ketua kelasnya terpilih, hari ini tidak ada yang boleh pulang, ya~"

 

Meski begitu, tetap tidak ada satu pun murid yang mengangkat tangan.

 

"Baiklah. Guru sudah menduga bakal dapat reaksi seperti ini. Makanya! Guru sudah menyiapkan undian! Murid cowok ambil undian di kotak putih, dan murid cewek di kotak merah, yang dapat undian ‘Menang’, selamat, kalian resmi jadi ketua kelas!!"

 

Suara protes terdengar lagi, tapi suasana di kelas lebih ke arah 『Mau bagaimana lagi, ya』.

 

Mungkin karena itu lebih baik daripada waktu terbuang begitu saja tanpa keputusan. Yah, kalau menghitung jumlah siswa cowok di kelas, peluang menarik undian 'Menang' harusnya kecil.

 

Pengundian dimulai dari siswa yang duduk di ujung.

 

Ekspresi seisi kelas tampak sangat serius tidak seperti biasanya. Begitu menarik undian 'Kalah', mereka langsung memasang wajah lega.

 

Terutama bagi mereka yang aktif di klub atau kerja paruh waktu, kalau ketambahan tugas sekolah, waktu untuk kegiatan klub dan kerja paruh waktu mereka bakal berkurang, jadi wajar saja kalau mereka ngeri.

 

Kira-kira siapa satu-satunya murid cowok yang bakal jadi korban kelas ini……

 

『Menang』

 

Itu aku.

 

"O, Tomida-kun. Reaksi itu, berarti kamu dapat 'Menang', ya?"

"Bukan, ini bukan menang."

 

"Jangan melakukan perlawanan yang sia-sia, deh."

 

Undian 'Menang' milikku disita oleh guru, lalu nama 'Tomida Bungaku' ditulis di papan tulis.

 

"Hee~ Bun-kun. Dapat undian 'Menang', ya?"

 

Sambil menatap papan tulis dengan rasa putus asa, Hiyori dan yang lainnya tiba-tiba datang mendekat.

 

"Kurang beruntung banget, ya."

 

Tsukimi-san, yang frekuensi mengajaknya belakangan ini makin sering, menatapku dengan wajah prihatin.

 

"………………"

 

Entah kenapa Serizawa-san menatap lekat namaku yang tertulis di papan tulis. Ekspresinya tampak sangat serius.

 

"Bun-bun. Aku bakal serius. Pasti bakal narik undian 'Menang'."

 

"Eh? M-mah, kalau Serizawa-san ikut bareng, rasanya lumayan

diandalkan sih."

 

"Serahkan padaku."

Dia mengacungkan jempol dengan tangan kanannya, lalu maju mengambil undian.

 

Serizawa-san yang begitu bersemangat seperti ini, baru pertama kalinya kulihat.

 

"O, Serizawa ternyata dapat undian 'Kalah', ya."

 

"……Guru. Sekali lagi."

 

"Enggak bisa, jumlah undiannya pas buat jumlah murid."

 

"Tolong usahakan sedikit."

 

"Tidak boleh."

 

Serizawa-san kembali menghampiriku dengan bahu lemas.

 

"Ck, kalau sudah begini caranya, terpaksa aku harus merebut undian 'Menang' itu!"

 

Menurutku perjuangannya tidak sepadan dengan hasilnya, sih……

 

"Ah, Guru! Aku dapat undian 'Menang'!"

 

Hiyori mengangkat tangannya sambil menunjukkan undian 'menang' itu kepada guru. Seketika itu juga, para siswa cowok mulai bergeming ribut.

 

Rupanya Hiyori yang menarik undian 'Menang'.

"Eh? Lingkaran ini……"

 

"Guru. Ini sah sebagai 'Menang', kan?"

 

"Eh? A, ah. Iya. Betul."

 

Entah kenapa guru mendadak bicara formal, diangguki dengan puas oleh Hiyori.

 

Nama 'Nanase Hiyori' ditambahkan tertulis tepat di sebelah namaku.

 

"Dengan begitu. Mohon bantuannya, ya. Bun-kun."

 

Hiyori menyenggol bahuku dengan raut wajah yang tampak gembira.

 

Para siswa cowok menatap interaksi kami dengan tatapan penuh iri.

 

Yah, bagi para siswa cowok, hasil ini sudah pasti bisa dibilang 'Menang', sih.

 

"Hei, Tomida. Kamu tidak mau jadi ketua kelas, kan? Mau tukeran posisinya sama aku?"

 

Suzuki-kun, yang tadinya paling girang waktu dapat undian 'Kalah', berlari menghampiriku.

 

"Eh? Ah, etto."

 

"Suzuki-kun. Tolong jangan bilang hal aneh ke pasanganku, ya?"

Sebelum aku sempat menjawab, Hiyori sudah menyela dengan senyuman cerah di wajahnya.

 

"Hasil undian itu mutlak, jadi pasangan Bun-kun adalah aku, dan

pasanganku cuma Bun-kun seorang. Kan? Bun-kun."

 

"Eh? Ah, iya. Betul juga."

 

Tekanan yang dipancarkan oleh Hiyori membuat aku dan Suzuki-kun ciut. Melihat reaksi itu, para murid cowok sepertinya pasrah menerima keadaan.

 

"……Tidak bakal kuberikan ke siapa pun."

 

Hiyori bergumam pelan seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

 

"Nanase-san? Kamu barusan bilang sesuatu?"

 

"Enggak. Bukan apa-apa, kok."

 

Senyuman polos tanpa beban seperti biasanya.

 

Eh, apa cuma perasaanku saja, ya.

 

"Ketua kelas, boleh minta tolong kerjanya sebentar—"

 

Kami diminta tolong untuk membawakan dokumen, lalu melangkah berjalan menuju kantor guru. Tepat saat hendak melangkah keluar kelas sambil membawa segepok dokumen, aku dipanggil oleh guru.

"Sebentar, Tomida."

 

"Ya?"

 

"Kamu ini, sebenarnya pacaran sama Nanase, ya?"

 

"……Ha? Tiba-tiba ngomong apa, sih."

 

"Ya, abisnya…… ini."

 

Guru menunjukkan tiga undian ‘Menang’ kepadaku, yang semuanya memiliki tanda lingkaran.

 

"Eh, kok bisa ada 3 undian 'menang'……? Eh? Undian yang ini……"

 

Kalau diperhatikan baik-baik, hanya satu yang tanda lingkarannya digambar menggunakan pensil mekanik.

 

Sementara 2 undian sisanya digambar menggunakan spidol.

 

"Sebenarnya, undian 'menang' yang digambar pakai pensil mekanik ini diberikan oleh Nanase——"

 

"Bun-kun? Cepat ke sini, yuk?"

 

"Ah, maaf. Sebentar lagi."

 

Tepat di saat guru hendak mengatakan sesuatu, aku dipanggil oleh Hiyori, lalu buru-buru menghampirinya.

Mungkin, hal yang tadinya ingin dikatakan oleh guru adalah……

 

"Bun-kun? Ada apa?"

 

"……Ah, bukan apa-apa."

 

Masa, sih……

 

◇

 

Pekerjaan pertama sebagai ketua kelas ternyata tidak hanya sebatas membawakan dokumen.

 

Setelah pergi ke kantor guru bersama Hiyori, kami berdua menyelesaikan berbagai pekerjaan tambahan, mulai dari menyiram tanaman di taman bunga sampai mengurus ayam piaraan.

 

Setelah seluruh pekerjaan selesai, saat melihat ke luar jendela, ternyata hari sudah mulai senja. Itu adalah waktu di mana kegiatan klub sekolah akan segera berakhir sebentar lagi.

 

"Keputusan yang tepat karena menyuruh Shizuku-san dan Hoshino

pulang duluan."

 

"Iya, ya. Ternyata makan waktu lebih lama dari perkiraanku."

 

……Rasanya hal-hal yang kami kerjakan tadi sudah melampaui batas pekerjaan sebagai ketua kelas.

 

"Rasanya, sudah lama sekali ya. Pulang berdua saja seperti ini."

 

Hiyori mengatakannya dengan sedikit senyum bahagia.

 

Begitu ya, hari ini aku akan pulang bersama Hiyori berdua saja…… ya.

 

Eh? Kalau begitu, bukankah pusat perbelanjaan yang dijanjikan sebelumnya bisa dikunjungi hari ini saja?

 

"A, anu, Bun—"

 

"Nanase-san."

 

"Eh? A, i, ada apa?"

 

"Setelah ini, apa kamu ada rencana atau semacamnya?"

 

Eh? Kalau dipikir-pikir, bukannya ajakan ini bakal terdengar seperti mengajak berkencan, ya?

 

"Eh? Etto…… t, tidak ada kok?"

 

"B-begitu ya……"

 

Tidak ada. Kalau begitu, mengajak ke pusat perbelanjaan harusnya tidak masalah. Tapi, kenapa rasa tegang ini mendadak melanda……

 

"B, Bun-kun?"

B, bulatkan tekadmu. Terus-terusan ragu begini justru yang paling menyiksa!!

 

"Ah, itu…… kalau tidak keberatan, maukah kamu pergi ke pusat perbelanjaan bersama-sama setelah ini?"

 

"……Eh?"

 

"Ah, tidak. Kamu kan sudah berjanji waktu itu, kan? Mau pergi berdua. Hari ini pas kita lagi berdua saja, jadi bagaimana menurutmu?"

 

"………………"

 

Mendengar ajakanku, Hiyori terdiam dengan wajah bengong.

 

"N, Nanase-san?"

 

J, jangan-jangan Hiyori sudah lupa!?

 

Eh? Apa-apaan, emangnya kapan aku janji begitu? Gawat juga kalau dia mikir…… 'Aku sama Bun-kun kan bukan hubungan yang seperti itu……'

dan semacamnya?

 

"……Kamu mengingatnya, ya."

 

"Eh? T, tentu saja."

 

"Uhehe, begitu ya, begitu ya! Sebenarnya aku juga tadi berniat mengajakmu, lho!!"

"K, kalau begitu, baguslah."

 

"Kalau sudah diputuskan begitu, ayo berangkat!"

 

Aku menghela napas lega dan keteganganku mencair.

 

Setidaknya, situasi terburuk berhasil dihindari. Ah, syukurlah tawarannya tidak ditolak.

 

Hiyori berjalan dengan langkah ringan sambil bersenandung kecil. Dia terlihat begitu ceria tidak seperti biasanya.

 

Apakah dia separah itu ingin pergi ke pusat perbelanjaan?

 

"Oh, Bungaku! Hiyori!"

 

Tenma yang menyadari keberadaan kami melambaikan tangan

sambil berjalan menghampiri.

 

Aura protagonis yang berkilau-kilau itu tetap saja menyilaukan mata seperti biasa.

 

"Jarang sekali kalian berdua bertahan sampai jam segini. Ada apa?"

 

"Menyelesaikan pekerjaan ketua kelas bersama Bun-kun. Kalau Tenma sendiri ada apa?"

 

"Aku ada urusan OSIS."

 

"Ah, benar juga. Tenma kan ketua OSIS, ya. Sampai lupa."

 

"Hei, jangan dilupakan dong. Begini-begini aku juga berusaha keras, tahu."

 

Maaf. Peraturan itu bahkan aku juga sempat lupa.

 

"Bungaku dan Hiyori juga mau pulang?"

 

"Ung. Membawa tas begini…… Tenma-kun juga mau pulang?"

 

"Iya, kebetulan mau ketemuan sama Ichika."

 

"Tenma-kunn…… eh? Hiyori-chan! Bungaku-kun!"

 

Begitu menyadari keberadaan kami, Ichika memperlihatkan senyuman cerah bagaikan malaikat. Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri kami.

 

"Hana-chan~"

 

"Hiyori-chan!"

 

Hiyori dan Ichika saling menepuk kedua telapak tangan mereka berdua dengan gembira.

 

Ya, ya. Senang rasanya melihat mereka tampak akrab begitu……

 

"Bungaku-kun!"

 

"Eh? Aku juga?"

 

"Tentu saja!"

 

"E, eto, i, iya-e~i."

 

Saat aku menepuk kedua telapak tangan bersama-sama persis seperti yang dilakukan Hiyori, Ichika tersenyum puas.

 

"Kalian berdua, apakah ini baru mau pulang?"

 

"…………Ung. Kami baru saja mau keluar dari gerbang sekolah."

 

Jeda barusan pasti karena aku sedang berpikir apakah perlu memberi tahu Tenma dan Ichika kalau kami mau pergi ke pusat perbelanjaan.

 

Yah, kalau bilang ke dua orang ini 'Aku mau pergi ke pusat perbelanjaan berdua dengan Hiyori', mereka pasti bakal salah paham yang tidak-tidak.

 

"Oh iya. Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kalian ikut bermain ke pusat perbelanjaan mulai sekarang? Belum pernah kan kita jalan-jalan berempat seperti ini?"

 

"Wah, aku juga ingin jalan-jalan bertiga—maksudku berempat!"

 

Ajakan tak terduga justru datang dari pasangan protagonis dan heroine itu.

Harusnya aku bisa menjawab dengan kata 'iya' secepat kilat, tetapi mengingat aku sudah terlanjur bilang mau pergi berdua saja dengan

Hiyori, aku jadi bimbang harus berbuat apa.

 

Jika menerima ajakannya, kami bakal pergi berempat, meski tujuan

awal untuk berbelanja di pusat perbelanjaan tetap bisa tercapai.

 

Sebaliknya, kalau cuma berdua saja, takutnya kalau sampai terlihat murid lain malah memicu kesalahpahaman yang tidak perlu, jadi pergi berempat sepertinya bukan ide yang buruk juga——

 

『Mau tidak ikut pergi? Berbelanja. B, berdua saja.』

 

…………………………

 

"Maaf ya kalian berdua, meski tawarannya menarik, sebenarnya kami habis ini…… ada, kencan."

 

"K-ke—!?"

 

Hiyori tampak kebingungan mendengar ucapanku.

 

Tentu saja. Kalau tiba-tiba bilang kencan, reaksi orang pasti bakal begitu.

 

Tapi, kalau bilang begini, Ichika dan Tenma sepertinya bakal mengurungkan niat dengan mudah…… kuharap. Mungkin, barangkali, semoga saja.

 

"B-begitu ya!? Hiyori-chan!!"

 

"E, a, u, ung. Sebenarnya…… mulai sekarang aku mau ber-berkencan dengan Bun-kun."

 

"A, m, maaf…… aku malah ngomong hal yang tidak-tidak."

 

"Tidak-notak, bukan begitu kok. Jujur saja aku senang banget diajak, dan aku bakal senang kalau kamu mau ngajak lagi kapan-kapan."

 

"Bungaku……"

 

Aku dan Tenma saling melakukan fist bump untuk mempererat persahabatan.

 

"Bungaku-kun!!"

 

"I, iya!?"

 

"Aku!! Percaya padanya!"

 

M-apaan yang dipercaya?

 

Ichika-san mendekat dengan ekspresi penuh antusias. Kenapa matanya berbinar-binar begitu, ya?

 

"A, terima kasih……?"

 

"Ayo, Tenma-kun. Kita pergi. Tidak boleh mengganggu waktu kalian berdua lagi."

 

"Betul juga! Sampai jumpa lagi, Hiyori! Bungaku!"

 

"Ung…… daa-dah."

 

"D, daa-dah~"

 

Aku dan Hiyori mengantar kepergian Tenma & Ichika yang berlalu sambil bergandengan tangan.

 

Badai telah berlalu, dan kini tinggallah aku dan Hiyori berdua saja.

 

"………………"

 

"………………"

 

Dan keheningan pun tercipta.

 

Maaf ya. Ini semua pasti gara-gara aku ngomong sembarangan tadi.

 

Jujur saja, aku sudah menduga situasinya bakal jadi begini. Tolong selamatkan aku, siapa pun.

 

Untuk sekarang, aku harus menjelaskan semuanya dengan benar kepada Hiyori.

 

"K-kencan, ya…… ahaha, aku tadi sempat kaget."

"Tidak, tadi itu cuma strategi supaya mereka berdua mau mengurungkan niat dengan mudah, ini sama sekali bukan kencan beneran, jadi intinya, itu……"

 

"……Bukannya ini kencan?"

 

"Ah, ini kencan kok."

 

T-celaka. Melihat ekspresi Hiyori yang tampak kesepian, secara refleks aku malah mengiyakan dan mengakuinya sebagai kencan.

 

Sambil merona merah, Hiyori mengulurkan tangan kanannya perlahan ke arahku. Bahkan orang sepertiku pun paham betul apa arti isyarat itu.

 

"……Kalau ini kencan, hal semacam ini harus dilakukan…… kan."

 

"A, iya."

 

Aku menerima uluran tangan Hiyori begitu saja.

 

Kencan sepulang sekolah pertama yang bukan kencan pura-pura…… terlebih lagi, pasanganku adalah heroine favoritku.

 

Aku mungkin bakal mati besok.

 

◇

 

Di pusat perbelanjaan depan Stasiun Kyoto, kami berdua menikmati berbagai kegiatan khas anak sekolah, mulai dari window shopping, makan es krim, hingga pergi ke pusat game.

 

Sekarang kami sedang menyusuri area mal sambil bergandengan tangan.

 

Kencan di pusat perbelanjaan ini berjalan lancar…… bisa dibilang begitu, ya.

 

Hanya saja, tatapan mata pelayan toko es krim tadi benar-benar luar biasa.

 

Tatapan yang seolah ingin mengatakan, 『Bukannya kemarin kamu membawa cewek lain ke sini, ya』…… itu benar-benar tatapan seseorang yang melihat musuh kaum hawa.

 

Tapi tetap saja…… tangan kami masih bergandengan sampai sekarang.

 

Jujur saja, tadinya kupikir begitu dilepas sekali, tangan ini tidak bakal bergandengan lagi.

 

Namun, setiap beberapa saat sekali, Hiyori terus meminta untuk menggenggam tangan kami kembali.

 

"Ngomong-ngomong, kado ulang tahunku itu dibeli di toko itu, kan?"

 

Tempat yang ditunjuk oleh telunjuk Hiyori adalah toko pernak-pernik yang sempat kukunjungi bersama Serizawa-san sebelumnya.

 

"Ung. Betul."

 

"Boleh kita mampir sebentar?"

 

Sambil mengangguk, aku ditarik oleh tangan Hiyori masuk ke dalam toko pernak-pernik.

 

Apakah membeli kado bersama Serizawa-san di tempat ini sudah berlalu lebih dari 1 bulan yang lalu, ya……

 

Sambil sedikit merasakan nostalgia, aku mengamati barang-barang yang dipajang di rak.

 

"Ah, ketemu."

 

Di ujung pandangan Hiyori, berjejer rapi set aroma stone yang kubelikan

sebagai kado.

 

Di sebelah aroma stone tersebut, berbagai botol minyak aromaterapi

yang diteteskan ke batu tertata berjajar.

 

"Ah, jangan-jangan minyak aromaterapimu sudah habis?"

 

"Masih ada kok. Hanya saja, aku ingin mencari aroma yang dipakai saat ingin bersantai dengan tenang."

 

"Begitu, ya……"

 

Maksudnya ingin memperbanyak variasi aromanya, ya.

"Ngomong-ngomong, kado yang diberikan semua orang isinya barang-barang yang punya efek relaksasi semua, ya…… kenapa bisa begitu, ya?"

 

Ya karena memang begitu tujuannya.

 

Hiyori memeriksa aroma minyak aromaterapi lewat sampel yang

disediakan sambil memilih-milih.

 

"Uumm. Aku kurang begitu paham, nih. Menurut Bun-kun, aroma yang seperti apa yang bagus?"

 

"Begitu ya…… apa Nanase-san punya aroma yang bikin tenang? Bagaimana kalau kita pilih aroma yang mirip seperti itu?"

 

"Aroma yang bikin aku tenang, ya…… ah."

 

Hiyori memasang ekspresi seolah mendapat pencerahan, lalu menatap tajam ke arah wajahku.

 

"Bun-kun, jangan bergerak dulu, ya…… eiya~"

 

"Eh? A, t-, nbaah!?"

 

Refleks suara aneh keluar dari mulutku saat Hiyori tiba-tiba memelukku. Bahkan dia mulai mengendus-endus.

 

"S-, s-, s-, sedang apa kamu?"

 

"Lagi mencium aroma Bun-kun."

 

"K-, kenapa?"

 

"Aroma Bun-kun itu bikin tenang banget, jadi aku mau cari aroma yang mirip."

 

Begitu, tidak paham. Tidak paham sih, tapi…… karena dadanya menempel erat banget, ya sudahlah tidak apa-apa.

 

"…………………………Masih lama?"

 

"Nn~? Nn-……"

 

Hiyori sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melepaskannya.

 

……Anu, perhatian orang-orang di sekitar lama-lama mulai terasa, nih.

 

"Aku suka aroma Bun-kun."

 

Berhenti, jangan menggesek-gesekan wajahmu sambil ngomong begitu, rasanya jadi bikin berdebar-debar enggak jelas.

 

Belasan menit kemudian, setelah membeli minyak aromaterapi dengan aroma yang disukai, kami keluar dari toko.

 

……Tatapan mata pelayan tokonya tadi, rasanya agak menyeramkan, ya.

 

"Untuk sekarang, sepertinya sudah keliling semua, ya?"

 

"……Ung. Betul."

 

Entah kenapa, Hiyori mengayun-ayunkan tangan kami yang bergandengan dengan semangat.

 

"Bun-kun…… tidak ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?"

 

"Eh, begitulah…… ah."

 

"O, sepertinya ada reaksi, tuh."

 

"Ada, sih…… tapi kayaknya enggak di sini, jadi untuk hari ini kayaknya enggak usah."

 

"Sebenarnya mau pergi ke mana?"

 

"Kafe kucing, tapi sepertinya cuma ada di sekitar Kawaramachi. Kalau dari sini sepertinya butuh waktu sekitar 30 menit."

 

"Aku sih enggak masalah, kok."

 

"Eh? Beneran?"

 

"Ung. Aku agak penasaran juga. Lagi pula…… aku masih ingin lebih lama berdua dengan Bun-kun~ gitu."

 

Hiyori melirikku sesaat, lalu langsung mengalihkan pandangannya.

"Eh? Ada apa? Mau ngomel soal sesuatu lagi?"

 

"…………Bukannya ngomongin hal kayak gitu."

 

Hiyori mengayun-ayunkan tangan kami yang bergandengan dengan

lebih kuat seolah sedang ngambek.

 

Aduh, apa pilihan kata yang kugunakan tadi salah, ya.

 

◇

 

Aku dan Hiyori duduk berdampingan di sofa kafe kucing yang terletak di Kawaramachi sambil bermain dengan kucing-kucing.

 

Sebenarnya aku sudah tertarik dengan kafe kucing sejak dulu. Tapi, masuk ke kafe kucing sendirian sebagai cowok rasanya terlalu berat, jadi kuurungkan niat itu……

 

"Miau……"

 

"G-, gemas banget……"

 

Sudut bibirku tanpa sadar melunak melihat lucunya kucing yang melompat naik ke atas pangkuanku.

 

Sambil mengelus kucing tersebut, pelayan kafe datang membawa latte art kucing yang kami pesan.

 

"Wah……!! Nanase-san!! Bukannya gemas banget, ya!?"

"Ung. Betul. Gemas banget. Bun-kun-nya."

 

Untuk mengabadikan momen ini, aku mengambil foto menggunakan ponsel. Sejujurnya kualitasnya terlalu bagus sampai sayang kalau diminum, tapi demi menghargai perasaan pembuatnya, kuterima dan kuminum dengan penuh rasa syukur.

 

"Ah, Bun-kun, di dekat bibirmu ada kumis putih."

 

Sambil meminum latte art dan bermain dengan kucing-kucing, Hiyori membersihkan sisa buih di dekat bibirku.

 

"Eh, a…… terima kasih."

 

Aduh, bersikap seperti anak kecil begini rasanya malu juga.

 

Karena salah tingkah, aku refleks membuang muka dari Hiyori. Tapi, kucing yang tadinya ada di pangkuanku tiba-tiba pindah dengan cepat ke pangkuan Hiyori.

 

"K-, kucingku…… direbut sama Nanase-san."

 

"P-, Bun-kun, enggak usah pasang wajah sedih begitu……"

 

I-ini yang namanya NTR, itu……?

 

Saat aku sedang terpukul, kucing lain perlahan menghampiri pangkuanku.

 

Begitu kuusap kepalanya, dia mulai bermalas-malasan dengan nyaman.

 

Kalau kulihat profilnya, ternyata namanya ‘Hiyori-chan’.

 

Dia meringkuk di pangkuanku dengan jauh lebih tenang ketimbang kucing sebelumnya. Seolah-olah ingin menegaskan kalau tempat ini adalah wilayah kekuasaannya.

 

Fumu-fumu.

 

"……Hiyori-chan ini posesif juga, ya?"

 

"Eh……!? T-tidak kok, ya!?"

 

"Eh?"

 

"Eh? A, tidak…… bukan apa-apa."

 

Sepertinya dia mengira aku sedang membicarakan dirinya. Hiyori membuang muka karena malu.

 

Aku mengalihkan pandangan kembali ke Hiyori-chan, lalu mengelus kepalanya lagi. Kucing itu langsung mendengkur nyaman.

 

Rasanya, sifat manja kucing ini mirip banget sama Hiyori.

 

Tapi, jujur saja, kalau cuma ada Hiyori-chan saja rasanya kurang. Aku ingin bermain dengan lebih banyak kucing lagi.

 

"Ah, benar juga. Masih ada benda ini."

 

Saat tangan kiriku memegang camilan kucing yang didapat dari paket

caffe latte, kucing-kucing lain langsung mengerubungiku.

 

Begitu, ya…… ini yang dinamakan masa-masa populer, ya.

 

Saat sedang mengelus Hiyori-chan menggunakan tangan kanan, tiba-tiba pipiku dicolok dari samping.

 

Ketika kutengok, Hiyori sedang cemberut menggembungkan pipinya sambil menatapku.

 

"Bun-kun, dari tadi aku lagi ajak kamu ngobrol, lho……"

 

"Eh, a…… maaf."

 

Ternyata begitu. Aku terlalu fokus pada Hiyori-chan sampai nggak menyadarinya.

 

"Kamu malah ninggalin pasangan kencanmu dan asyik sama Hiyori-chan si kucing, gitu?"

 

"Bukannya begitu, cara ngomongmu…… tapi maaf ya aku enggak sadar. Ada apa, emangnya?"

 

"……Elus-elus please."

 

"……Ha?"

"Kan kemarin kamu sudah bilang, kan? Mau bikin jadwal waktu buat dielus-elus."

 

Bohong, kan……? Jangan-jangan ucapanmu waktu pesta ulang tahun kemarin itu beneran serius?

 

"Elus."

 

"Etto……"

 

Hiyori mendekatkan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat. Aku jadi salah tingkah karena terlalu dekat.

 

"Elusss!"

 

Karena sepertinya sudah kehabisan kesabaran, Hiyori mencengkeram tangan kananku dan menaruhnya di atas kepalanya sendiri.

 

Pasrah, aku mengelus kepala Hiyori dengan lembut persis seperti sebelumnya.

 

"Ihihi……"

 

Hiyori tersenyum puas.

 

"……Meong!"

 

Ah, Hiyori-chan minta dielus lagi!

Tangan kiriku…… masih sibuk dikerubungi kucing-kucing yang sedang makan camilan.

 

Kalau begitu, mau tidak mau. Aku harus melepaskan tangan kananku dari kepala Hiyori.

 

"……Ah."

 

Dengan panik Hiyori mencengkeram tanganku yang terlepas, lalu menaruhnya kembali ke atas kepalanya.

 

……Sepertinya dia tidak akan berhenti sampai merasa puas.

 

Sambil meminta maaf kepada ‘Hiyori-chan’, aku kembali mengelus kepala Hiyori sembari melihat-lihat sekeliling

 

Kalau tempat seperti ini sampai ketahuan oleh kenalan……

 

"Bun-kun~? Tangannya berhenti……"

 

"”………………”"

 

Saat mengarahkan pandangan ke depan, kulihat pasangan Tenma dan Ichika sudah berdiri di sana.

 

Tenma memasang ekspresi geli sambil tersenyum usil, sementara Ichika memamerkan binar di matanya sambil memotret kami berturut-turut dengan ponselnya.

 

"B-, bukan begitu, kok!!"

 

Di hadapan tatapan mereka berdua yang menyiratkan banyak makna, aku buru-buru berteriak membela diri.

 

◇

 

Pling, notifikasi ponselku berbunyi.

 

Hiyori: 『Kalian berdua, benar-benar minta maaf, ya. Sejak pagi badanku mendadak kurang enak badan, jadi meskipun pas hari H-nya, bolehkah kita batalkan rencana hari ini?』

 

Shizuku: 『Maaf, aku juga mendadak ada urusan jadi enggak bisa ikut

main. Nenekku melewati tanjakan ke-47.』

 

Shizuku: 『Biasanya nenek selalu berhasil melewati tanjakannya sih, tapi kali ini kurasa bakal baik-baik saja, cuma karena satu keluarga pada pergi semua jadi aku juga harus ikut.』

 

『Kalau begitu, anggap saja hari ini batal, ya……』

 

Hiyori: 『Maaf ya, Hoshinon.』

 

Shizuku: 『Hoshino, kan orangnya gampang kesepian…… jadi maaf ya karena bikin kamu kesepian?』

 

『Mana mungkin aku kesepian, lagian hal begini kan di luar kendali. Terus, aku juga enggak kesepian, ya.』

Aku membalas pesan mereka berdua, lalu merebahkan tubuhku ke atas kasur.

 

"……Hah, tidak disangka-sangka mereka berdua membatalkan janji di saat-saat terakhir secara bersamaan."

 

Yah, karena alasannya sama-sama jelas, mungkin hari ini memang sedang ditakdirkan jadi hari seperti ini.

 

Sudah lama sekali rasanya akhir pekan dihabiskan seorang diri begini.

 

"Uwah…………"

 

Sepi.

 

“Rasanya seperti ada lubang besar di dalam hatiku

 

Aku tidak begitu suka kesendirian. Meski enggan mengakui, tapi seperti kata Shizuku, aku ini memang orang yang gampang kesepian…… kurasa.

 

……Mau main.

 

Karena sejak awal sudah berniat menghabiskan hari untuk jalan-jalan, rasanya jadi makin sepi.

 

Ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk (pikon).

 

Berharap itu pesan dari seseorang, kubuka pesannya, dan ternyata dari:

 

Bungaku: 『Yo~ sehat? Ngomong-ngomong, hari ini kamu senggang? Tiba-tiba banget sih wkwk. Kemarin kan si Tsukki bilang pengen nonton film itu tuh??? Sekarang udah bisa ditonton lewat streaming, jadi hari ini mau ke rumahku terus nonton bareng nggak??? Aslinya aku mau nonton bareng teman otakuku, tapi tiba-tiba dibatalin wkwk (Sumpah, demi apa pun, tuh anak rese banget, bang*et dah wkwk) Kalau kamu keberatan, ya aku tonton sendiri aja sih~? www』

 

"…………………………"

 

Pip…… prrrrt.

 

『……Halo. Tsukimi-san? Jangan-jangan kamu baru baca pesan—』

 

"Pesan macam apa itu tadi, gak punya beban banget. Mau cari perkara, hah?"

 

『Eh……!?』

 

"Eh!? Kepala batukmu itu. Jelas-jelas bikin ilfil banget, tahu."

 

『Abisnya, kalau kemarin-kemarin aku kirim pesan katanya terlalu kaku jadi disuruh ganti…… makanya, itu, kali ini aku nekat pakai gaya bahasa santai……』

 

『Kepada yang terhormat Tsukimi Hoshino-san. Telah tiba musim dengan langit biru yang menyegarkan. Bagaimana kabar Anda? Nah, alasan saya mengirim pesan ini karena game yang sebelumnya diminati oleh Tsukimi-san sudah saya dapatkan, oleh karena itu saya bermaksud mengajak Anda menikmatinya bersama. Saya akan sangat senang jika Anda berkenan memberikan balasan sekiranya memiliki waktu luang. Hormat saya. Kenapa gaya bahasa kaku begitu dibilang salah? Emangnya kita rekan bisnis apa.』

 

『Iya……』

 

『Kamu tuh hidupnya cuma kenal ekstrem 0 atau 100 doang, ya?』

 

『……Maaf.』

 

『Atau jangan-jangan, beneran dibatalkan sepihak? Kamu mana punya teman otaku selain aku.』

 

『……Soal dibatalkan itu bohong. Maaf.』

 

『Pamer, ya?』

 

『Ah, etto…… bukan pamer sih, lebih tepatnya jaga-jaga biar enggak canggung.』

 

『JNCK banget, ya.』

 

『………………………………MAAF.』

 

"………………"

 

『………………Anu, jadi bisa dibilang hari ini batal, gitu?』

 

"Enggak, aku udah di depan pintu kamarmu nih, cepetan buka."

 

『Eh!?』

 

Terdengar suara gedebak-gedebuk yang ribut, lalu pintu pun terbuka. Di hadapanku tampak Bungaku dengan napas tersengal-sengal dan ekspresi bloon.

 

"B-, beneran datang……"

 

"Kenapa pasang muka kaget gitu, kamu sendiri kan yang ngajak."

 

"Ya memang iya sih, tapi aku kira bakal ditolak……"

 

"Biasa aja kali, kebetulan hari ini jadwal aku kosong…… buruan suruh masuk."

 

"Ah, iya……"

 

Sudah berapa kali ya aku berkunjung ke sini? Seperti biasa, aku masuk ke ruang masuk, melepas sandal Crocs, dan berjalan menuju ruang keluarga.

 

"Etto, sekarang sekitar jam 10, ya…… mau makan siang apa?"

 

"Makan di sini aja. Nanti malam juga."

 

"Eh, sampai malam juga? Kalau gitu kita harus belanja bahan……"

 

"Nanti sore bareng aja, kan bisa."

 

"Ah, iya…… etto, Tsukimi-san."

 

"Apa?"

 

"Ada hal bagus yang lagi terjadi, ya?"

 

"……Bukan apa-apa."

 

◇

 

Panggilan tak terjawab

 

Hiyori telah membatalkan pengiriman pesan.

 

Hiyori telah membatalkan pengiriman pesan.

 

Hiyori telah membatalkan pengiriman pesan.

 

Hiyori: 『Maaf ya, tadi itu sebenarnya bukan apa-apa!! Gak usah dibalas juga gak apa-apa kok!! Jangan dipikirin, ya!』

 

……Jelas bukan nggak apa-apa, dan dia juga kelihatannya memang nggak baik-baik saja.

 

Sambil menatap layar ponsel, aku meneguk air minum.

 

Pagi tadi, saat bangun, aku melihat ada notifikasi masuk. Setelah kuperiksa, ternyata ada pesan dari Hiyori.

 

Ngomong-ngomong, Tsukimi-san sempat bilang kalau dia sedang tidak enak badan, ya. Apa ada hubungannya dengan hal itu, ya?

 

Untuk sementara, aku coba meneleponnya. Di jam segini dia seharusnya sudah bangun.

 

『……A, halo…… Bun…… kun?』

 

"Ah, pagi. Maaf ya, padahal kamu menelepon tapi aku tidak sempat mengangkatnya."

 

『Gokho, u-ung…… aku juga minta maaf…… gokho, gokho!!』

 

"……Nanase-san? Anu, kamu tidak apa-apa?"

 

『Ahaha, sepertinya aku sedikit terkena flu…… gokho! Gokho!』

 

Suara Hiyori tidak seceria biasanya, terdengar sangat lemah. Bahkan dari balik ponsel pun, aku bisa merasakan betapa lemasnya dia.

 

『Uu…… kepalaku sakit…… hari ini aku izin sekolah, ya……』

 

"Ung…… itu pilihan yang bagus. Suhu badanmu berapa?"

 

『Tadi waktu diukur, 39 derajat……』

 

Demamnya cukup tinggi, ya……

 

『Mau pergi ke rumah sakit, ambil obat, setelah itu mau istirahat dengan tenang, kok.』

 

"Ung. Aku rasa itu yang terbaik."

 

『Sebenarnya ya. Tadi sempat berpikir mungkin hari ini tidak bisa bertemu dengan Bun-kun, jadi aku merasa kesepian…… tapi begitu mendengar suara Bun-kun, energiku jadi pulih.』

 

Mendengar dia berkata begitu, sebagai sahabat aku merasa senang.

 

"Etto, nanti sepulang sekolah aku mau menjengukmu, ya."

 

Karena terlalu senang, aku jadi keceplosan mengucapkan hal yang agak berlebihan.

 

『Uuu…… terima kasih. Etto, Bun-kun datang sendirian, kan?』

 

"Eh? Ah, tidak, aku tadinya mau mengajak Tsukimi-san, Serizawa-san, atau Tenma dan Hana-san……"

 

Ah, tapi kalau datang bergerombol begitu sepertinya malah bakal merepotkan, ya.

 

"Ah—biar kutebak, sepertinya aku datang sendirian saja, deh."

 

『……Ung. Gokho, kalau begitu, sampai jumpa nanti sepulang sekolah.』

Aku mengakhiri panggilan telepon dengan Hiyori.

 

Nah, untuk barang yang mau kubawa saat menjenguk, sepertinya aku bisa minta saran dari Serizawa-san atau Tsukimi-san…… atau mungkin Tenma dan Ichika, ya.

 

Sambil memikirkan hal itu, aku melanjutkan persiapan untuk pergi ke sekolah.

 

◇

 

"Kalau buat bawaan menjenguk, permen pelega tenggorokan, jeli, atau minuman penambah ion saja sudah cukup, kan. Barang-barang yang nggak bakal rugi meskipun punya banyak. Ah, kalau mau beli jeli, sepertinya rasa persik bagus, deh. Hiyori suka, soalnya."

 

"Begitu, ya."

 

Saat jam istirahat siang, aku sedang meminta saran kepada Tsukimi-san mengenai bawaan barang untuk menjenguk Hiyori.

 

Sip, sepertinya sudah hampir tahu mau bawa apa.

 

"Aku pulang~"

 

Saat aku sedang mencatat di ponsel, Serizawa-san yang tadi dipanggil akhirnya kembali dengan langkah sempoyongan.

 

"Selamat datang kembali, Serizawa-san. Mau Pocky?"

"Mau~"

 

Serizawa-san memakan Pocky yang kusodorkan sambil mengunyahnya pelan. Tatapan matanya terus mengunci ke arahku.

 

"Etto, ada sesuatu di wajahku, kah?"

 

"N~ tadi aku baru saja ditembak lalu menolaknya, tapi dari Senpai yang kutolak tadi sempat tersebut nama Bun-kun, lho."

 

"Eh? Namaku?"

 

"Ung. Kayaknya dia sempat bilang, 'Padahal sama cowok yang namanya Tomida itu……' gitu."

 

"Ngomong-ngomong, waktu aku berangkat bareng Shizuku, aku juga sempat ditanya hal kayak, 'Kamu akrab banget ya sama cowok bernama

Tomida itu', lho……"

 

"Senpai yang ditolak Hoshino minggu lalu, ya. Mungkin karena belakangan ini kamu terus-terusan bareng Bun-kun, ya?"

 

"Mungkin iya, ya? Rasanya kita sudah kayak grup yang itu-itu lagi."

 

"Bener juga, Bun-bun. Kamu sudah beradaptasi dengan pas di antara kami."

 

Aku sendiri masih merasa kalau posisiku ini bagaikan bubur teh sederhana yang terselip di antara sajian kuliner Prancis, sih……

Sambil memikirkan hal itu, aku mencatat bawaan untuk menjenguk ke dalam memo di ponsel.

 

◇

 

"…………………………"

 

Sepulang sekolah, aku sudah berdiri di depan rumah Hiyori.

 

Bawaannya sudah disiapkan, dan aku juga sudah mengirim pesan ke Hiyori kalau aku sebentar lagi sampai. Tinggal menekan bel pintu saja.

 

Aku melihat tulisan ‘Nanase’ yang tertera di papan nama rumah.

 

Ternyata menekan bel rumah anak perempuan itu tingkat kesulitannya tinggi banget, ya.

 

…………Hwaarrh!! Berangkat!!

 

……………………Yah, kurasa aku harus mengumpulkan keberanian sedikit

lagi, deh.

 

"Eh, apa jangan-jangan kamu temannya Hiyori?"

 

"Hyaaa!?"

 

Saat aku berbalik, ada seorang wanita cantik membawa kantong belanjaan yang kelihatan berat. Wajahnya terlihat muda, dengan dada yang besar.. Plus, ada aura yang rasanya familier.

Sekilas kukira dia adalah kakak perempuan Hiyori, tapi di pengaturan aslinya Hiyori tidak punya kakak perempuan.

 

Itu berarti…… beliau ini adalah mamanya Hiyori!!

 

"Ah, etto, aku temannya Hiyori, sahabatnya…… itu, datang untuk menjenguk."

 

Atau lebih tepatnya, mama Hiyori muda banget!! Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang punya anak gadis SMA……!!

 

"Wah, terima kasih ya. Tunggu sebentar, ya. Biar kubuka pintunya."

 

"Ah, biar kubawakan."

 

"Wah, terima kasih ya, Bun-kun."

 

"Sama-sama………… eh?"

 

Kenapa beliau tahu namaku……

 

Mama Hiyori tersenyum ramah ke arahku yang sedang kebingungan.

 

"Selamat datang, Bun-kun. Selamat datang di kediaman keluarga Nanase."

 

◇

 

"Ah, bawaannya taruh di situ saja ya. Terima kasih sudah membawakannya."

 

"Ah, baik."

 

Aku yang dipersilakan masuk ke ruang keluarga meletakkan kantong belanjaan yang tadinya dibawa mama Hiyori ke atas meja.

 

"Etto, kenapa bisa tahu namaku……"

"Mau tahu dari mana? Kan Hiyori selalu cerita soal kamu terus~"

 

Kira-kira aman, kan. Maksudku, bukan cerita keluh kesah, kan.

 

"Biar kumasak bubur sebentar, kamu bisa ke kamar Hiyori dulu, kan?"

 

"Ah, iya. Etto, aku bantu."

 

"Terima kasih. Kalau begitu, tolong siapkan baki nampannya ya."

 

Sesuai instruksi mama Hiyori, aku mengambil baki nampan, lalu di atasnya aku menyiapkan obat, air putih (untuk minum obat), permen pelega tenggorokan rasa buah, minuman penambah ion, dan jeli rasa persik.

 

Setelah itu, mama Hiyori menambahkan bubur telur buatannya ke dalam baki.

 

"Kalau begitu, Bun-kun, tolong ya."

 

Membawa baki nampan, aku menaiki tangga menuju kamar Hiyori.

 

Tok-tok, aku mengetuk pintu.

 

『Mama?』

 

"Ah, bukan. Ini Bungaku."

 

『Hah!? Bun-kun!?』

 

"Etto, aku bawa bubur dan macam-macam, boleh masuk?"

 

『A, u, ung. Boleh!』

 

"M, permisi……”

 

Aku masuk dengan agak sungkan ke kamar seorang gadis untuk pertama kalinya.

 

"Terima kasih sudah datang…… kheho."

 

Hiyori tampak lemas, terbaring di atas tempat tidur.

 

Sudah kuduga, karena sedang demam, pipi Hiyori tampak memerah.

 

Ekspresinya juga kelihatan tidak bersemangat dengan tatapan mata yang agak sayu.

 

"Eh, tadi belnya bunyi jam berapa, ya?"

"Ah, tidak. Pas aku mau menekan bel, mama Hiyori keburu pulang, jadi aku masuk bareng ke dalam rumah……"

 

Ah, sial. Aku tadi tidak sengaja memanggilnya mama Hiyori.

 

"Begitu, ya~"

 

Untunglah. Sepertinya dia nggak terlalu menyadarinya karena masih setengah sadar.

 

"Haus……"

 

"Ah, iya. Minuman penambah ion."

 

"Terima kasih."

 

Saat kubukakan tutupnya dan kuberikan, Hiyori langsung meneguknya

dengan lahap.

 

Merasa agak canggung, aku mengalihkan pandangan ke sana kemari sambil mengamati sekeliling.

 

Kamar Hiyori. Rasanya, tempat ini…… keren banget, ya…… iya. Ditambah lagi, wanginya juga enak.

 

Merasa kasihan pada diri sendiri karena miskin kosakata, mataku tak sengaja tertuju pada boneka beruang raksasa yang memancarkan eksistensi luar biasa.

Eh, itu boneka beruang raksasa super besar yang kubeli bersama Serizawa-san sebagai kejutan.

 

Kalau boneka beruang kecil Bungaku ada di…… ah, ada di atas tempat tidur Hiyori.

 

"Ah, kalau anak in, biasanya selalu kupeluk erat pas mau tidur."

 

"H-, heh—e?"

 

Iri banget, tukar posisi sama aku sana.

 

"Kuh!? Kheho! Kheho!"

 

"Nanase-san tidak apa-apa!?"

 

Sepertinya dia tadi tersedak saat sedang meminum minuman penambah ion. Aku pun mengelus punggungnya dengan lembut.

 

"……M-, maaf, ya. Aku sudah tidak apa-apa. Ahaha…… baru juga datang tapi malah bikin repot Bun-kun."

 

Hiyori tampak tertunduk lesu. Sepertinya dia benar-benar sedang tumbang karena sakit, ya.

 

"Tidak apa-apa. Malahan hari ini manfaatkan saja aku sepuasnya. Kan itu hak istimewa orang sakit! Jangan sungkan-sungkan, kalau ada hal yang ingin kulakukan untukmu, katakan saja apa pun. Mau rewel seperti apa pun boleh."

"…………..."

 

Tatapan mata Hiyori yang sayu menatapku lurus-lurus.

 

"…………Bun-kun memang baik, ya. Kalau begitu, mumpung ada kesempatan."

 

Hiyori menegakkan tubuhnya, duduk di tepi tempat tidur, lalu membuka mulutnya sambil berkata aahn.

 

"……Ehto? Nanase-san?"

 

"Bubur. Bun-kun yang suapin. Semuanya."

 

"Eh, semuanya!?"

 

"Bukannya tadi kamu sendiri yang bilang bakal lakuin apa pun yang

kuminta?"

 

"Eh, kalau itu sih…… ya, memang benar, sih……"

 

Yap. Tidak ada satu pun alasan untuk membantahnya.

 

Taburkan sedikit garam, lalu cedok bubur menggunakan sendok.

 

……Sebaiknya ditiup-tiup dulu, ya?

 

Setelah sedikit mendinginkan buburnya, aku membawanya ke dekat mulut Hiyori.

"……Enak. Kalau begini rasanya aku bisa makan semuanya."

 

"Syukurlah kalau begitu."

 

Hiyori benar-benar menghabiskan buburnya sampai suapan terakhir dengan disuapi, lalu meminum obatnya.

 

"Uhm…… demamnya sudah turun, belum ya? Bun-kun, bisa tolong pastikan sebentar?"

 

"Eh, memastikan maksudnya…… bukannya lebih baik pakai termometer saja?"

 

"Termometernya hilang."

 

"Eh, padahal yang ada di situ itu."

 

"Ini bukan termometer, tahu?"

 

"Eh, tapi"

 

"Ini bukan termometer, kan?"

 

"Ah, iya."

 

Begitu ya. Kelihatannya memang termometer, tapi ternyata bukan.

 

Kalau pemilik kamar ini sudah ngotot bilang begitu, pastinya memang bukan

"Etto, kalau begitu, telapak tangan ke dahi—"

 

"Kalau begitu suhunya tidak bakal ketahuan secara akurat, dong. Harus bersentuhan langsung antar dahi, kan."

 

Sebenarnya apa yang sedang dia bicarakan……?

 

"Hari ini mau menuruti permintaan rewel apa pun, kan?"

 

"…………Iya."

 

Maaf. Balasanku barusan terlalu kuat, ya?

 

Aku pun membulatkan tekad, lalu perlahan menempelkan dahiku ke dahi Hiyori.

 

……Demamnya, sepertinya belum turun. Kurasa.

 

Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada bibir Hiyori.

 

"……Bagaimana? Bun-kun, demamnya masih ada, ya?"

 

"Hef!? Ah, etto, kurasa masih ada. Sepertinya……"

 

Begitulah, jawabku dengan nada ketus sambil salah tingkah.

 

"B-, baiklah, sepertinya aku harus pulang sekarang! Permen pelega tenggorokan dan jeli persiknya kuletakkan di sini ya, makanlah kapan pun kamu mau."

"Eh~ mau pulang sekarang?"

 

"Yah, ibunya Nanase-san kan juga ada di rumah……"

 

Lagi pula, menjenguk orang sakit kan tidak seharusnya berlama-lama juga, ya.

 

"Tidak mau……"

 

"He?"

 

"……Belum mau pulang…… temani aku di sini."

 

Hiyori merengek menahanku agar tidak pergi. Apakah ini juga salah satu bentuk kerewelannya sebagai orang sakit?

 

"……Baiklah. Kalau begitu, sebentar lagi."

 

"Yey…… ehehe."

 

Hiyori memperlihatkan senyuman polos yang tampak gembira.

 

Melihatnya seperti itu, sudut bibirku tanpa sadar ikut melunak.

 

"Bun-kuun."

 

"Apa?"

 

"Ehehe~ cuma dipanggil aja—"

Hiyori terkikik seperti anak kecil.

 

"Bun-kun~"

 

"Iya~"

 

"Bun-kun Bun-kun Bun-kunn~"

 

"Iya, iya, iya."

 

"Ah, iya. Bisa minta satu permintaan lagi?"

 

"N? Ada apa?"

 

"Tolong lap-in badan?"

 

Hah, apa, heh, eh, h-ha?

 

"Badannya basah karena keringat, risih……"

 

"Eh, eh, eh, eh, eh. Tunggu, Nanase-san tunggu. I-, ibu! Tolong panggilkan ibu!"

 

"Tidak mau. Pokoknya maunya sama Bun-kun."

 

"Enggak, enggak mau lah—"

 

"Uu…… risih karena keringat."

Tanpa memedulikan kepanikanku, Hiyori mulai melepaskan kancing piyamanya.

 

Tunggu sebentar!! Kenapa malah mulai copot baju sih!?

 

Aku refleks membuang muka dari Hiyori yang mulai membuka

piyamanya.

 

"K-k-! Nanase-san, piyamanya! Baju! Baju!"

 

"Kalau Bun-kun yang lap-in badannya, nanti kututup dan pakai lagi

dengan benar, kok. Makanya, c-e-p-a-t—"

 

"Iya, iya, kuturuti! Setidaknya bagian punggungnya saja, ya!"

 

"Eh~? Ya ampun, repot banget ya."

 

Kompromi itu akhirnya diterima, dan aku bisa bernapas lega untuk sementara.

 

Tenang, cuma mengelap punggungnya saja, kok. Cuma mengelap punggungnya saja.

 

"Bun-kun~"

 

Saat aku berbalik, Hiyori yang bertelanjang dada menatapku dengan ekspresi terpesona.

Keringat yang menetes dari kulitnya. Dadanya yang seolah hampir tumpah dari balik lengannya (diperkirakan ukuran cup E). Perutnya yang kelihatan lembut.

 

…………Jujur saja, kalaupun aku sampai berpikiran yang aneh-aneh,

kurasa aku tidak sepenuhnya salah.

 

Namun, aku punya mental baja yang sudah ditempa sejak kehidupan sebelumnya, jadi aku pasti bisa menahannya.

 

"B-, boleh tolong balik badan?"

 

Sambil berusaha keras agar tidak malah menjadi orang yang terobsesi pada perutnya, aku mengambil handuk basah dan melangkah mendekati tempat tidur selangkah demi selangkah.

 

…………Punggungnya juga kelihatan seksi, ya.

 

Tidak, tidak, tidak, tidak. Bodoh amat. Apa yang sedang kupikirkan.

 

Hiyori ini, ya. Dia cuma sedang lemah karena sakit dan sedang kesulitan.

 

Itu saja—

 

Tapi dalam keadaan seperti ini, dia justru mengandalkan orang sepertiku..

 

Benar. Aku pasti sedang diandalkan olehnya. Dia memercayaiku.

Tapi kalau aku sampai punya pikiran mesum terhadap Hiyori yang sedang berpakaian seperti ini, itu benar-benar terlalu tidak murni.

 

Singkirkan semua pikiran kotor itu jauh-jauh. Ini bukan saatnya memikirkan hal-hal mesum seperti itu, tahu.

 

Setelah berhasil menenangkan pikiranku, aku mulai mengelap punggung Hiyori dengan handuk basah.

 

"Nhn……!"

 

"Hya!? M-, maaf!! Dingin, ya!? Atau sakit!?"

 

Sebaiknya aku berhenti mengelapnya

—

"N-, rasanya enak kok, jangan berhenti."

 

Tolong aku, Hoshinon. Kalau begini terus aku bisa berubah menjadi Beast suci.

 

◇

 

"Bun-kun, terima kasih ya……"

 

"S-, sama-sama…………"

 

Berhasil mengelap punggung Hiyori dengan susah payah, aku terkapar dalam kondisi kelelahan fisik dan mental.

 

"Ehto, kalau begitu, aku benar-benar mau pulang sekarang, ya."

 

Tepat saat aku hendak pulang, ujung seragamku dicengkeram oleh Hiyori.

 

"…………Jangan pulang, tidak mau."

 

Tentu saja kalau diteruskan lebih lama lagi…… hari juga mau malam, kalau terlalu lama di sini mama Hiyori pasti bakal cemas dan datang memeriksa keadaan.

 

Beliau pasti tidak ingin anak laki-laki seumuran dibiarkan berduaan terlalu lama dengan anak gadisnya yang sedang sakit.

 

Terlebih lagi, dinding pertahanan rasionalitasku sudah di ambang kehancuran.

 

"……Ada apa, Bun-kun? Apa kamu marah?"

 

Menduga bahwa diamku adalah wujud dari kemarahan, dia bertanya dengan nada lemah bagaikan anak kecil yang dimarahi.

 

"Itu, bukan begitu…… aku bukannya mau bikin kamu repot. Maafkan aku."

 

"A, bukan begitu……"

 

"A-, aku…… cuma tidak mau dibenci oleh Bun-kun…… itu saja."

 

Suara dan tatapan mata Hiyori bergetar.

 

"Aku…… biarpun cuma sebentar saja, aku hanya ingin lebih lama berada bersama Bun-kun. Makanya, jangan benci aku."

 

"……Mana mungkin aku membencimu cuma karena hal seperti itu."

 

"Beneran?"

 

Tatapan matanya begitu tidak stabil dan dipenuhi kecemasan, seolah-olah mau menangis kapan saja.

 

"Beneran, kok. Lagi pula, tidak mungkin ada alasan bagiku untuk membenci Nanase-san, kan?"

 

"Tidak ada, itu tidak benar…… ada banyak alasannya kok…… aku ini dari dulu selalu saja merepotkan Bun-kun."

 

"Itu—"

 

"Bun-kun pasti bakal bilang tidak ada hal seperti itu. Kalau sama

Bun-kun, aku selalu merasa tidak apa-apa. Aku benci…… diri yang seperti ini."

 

Karena tidak punya rasa percaya diri pada diri sendiri, dia jadi cemas kalau-kalau merepotkan orang lain bakal membuatnya dibenci.

 

Hiyori pasti anak yang rasa percaya dirinya sangat rendah. Hal itu pasti disebabkan oleh pengalaman masa lalunya yang pernah dirundung atau sendirian.

 

Makanya, dia sangat sensitif dan takut dibenci oleh orang lain.

 

"Kalau begitu, hari ini sampai Nanase-san tertidur, aku tidak bakal beranjak dari sisimu. Aku janji."

 

"……………Ung."

 

Saat kugenggam erat tangan Hiyori, dia membalasnya dengan genggaman penuh rasa senang.

 

Yang harus kulakukan sekarang adalah membuat Hiyori merasa bahwa dia tidak sendirian dan tidak perlu kesepian.

 

Mungkin karena kelelahan dan efek obatnya, Hiyori langsung jatuh tertidur pulas.

 

Entah kenapa, Hiyori hari ini menjadi begitu rewel karena demamnya, atau tiba-tiba hampir menangis, emosinya begitu tidak stabil…… mirip seperti anak kecil, ya.

 

Setelah memastikan Hiyori benar-benar tidur, aku membawa baki nampan ke ruang keluarga, di sana tampak mama Hiyori sedang menyiapkan makan malam.

 

"Anu, maaf ya sudah berlama-lama di sini. Baki nampannya sudah kukembalikan."

 

"Wah, terima kasih ya~ maaf sudah merepotkanmu merawat Hiyori sampai larut begini."

 

"Ah, tidak. Sama sekali…… ini kulakukan atas kemauan sendiri."

 

Menjawabnya tanpa berpikir panjang, mama Hiyori langsung menatapku lekat-lekat.

 

"……Hei, Bun-kun. Apa kamu ada rencana setelah ini?"

 

"Tidak, tidak ada khusus."

 

"Begitu, ya! Kalau begitu, mau ngobrol sebentar denganku?"

 

"Hah!?"

 

"Aku sudah dari dulu ingin ngobrol banyak dengan Bun-kun, lho~"

 

"Ah, iya……"

 

W-, wah…… mana mungkin bisa kutolak tawaran ini……

 

◇

 

Mama Hiyori yang tersenyum ramah duduk di hadapanku yang berada di meja ruang keluarga.

Di hadapanku tersaji teh hitam yang masih mengepulkan uap hangat beserta tart buah mini.

 

"S-, selamat makan……"

 

Aku langsung memakan tart buah kecil itu dalam sekali gigit.

 

"W-, enak…… ini beli di toko mana, ya?"

 

"Nfufu~ sebenarnya ini buatan tanganku sendiri, lho~"

 

"Eh!? Sungguhan!?"

 

Mama Hiyori hebat banget!!

 

Mama Hiyori menatapku yang melahap tart itu dengan senyuman ramah sambil menopang dagunya dengan tangan.

 

"……Hei, Bun-kun. Bagaimana keadaan Hiyori di sekolah akhir-akhir ini?"

 

Hiyori di sekolah? Tentu saja seperti biasa…… kan.

 

"Begitulah. Dia ceria, bersemangat, kelihatan senang, dan populer banget. Banyak banget yang naksir."

 

"Iya, iya. Terus, apa lagi? Biasanya dia dekat dengan siapa saja?"

 

Orang yang biasanya dekat…… ya.

"Seorang anak perempuan bernama Serizawa-san dan anak perempuan bernama Tsukimi-san. Serta aku, sepertinya……"

 

…………Eh, jangan-jangan ucapanku barusan kedengaran menjijikkan banget?

 

"Iya, iya. Begitu, ya."

 

Meskipun baru saja mengatakan sesuatu yang menurutku menjijikkan, mama Hiyori tetap mengangguk dengan wajah tersenyum.

 

"……Bun-kun. Terima kasih banyak, ya."

 

"Eh? Kalau soal merawatnya tadi itu bukan hal yang besar……"

 

Mama Hiyori menggelengkan pelan kepalanya sambil tersenyum serba salah.

 

"Akhir-akhir ini anak itu kelihatan memaksakan diri tampil ceria…… jadi aku agak cemas. Apalagi, setelah berbagai hal terjadi saat SMP dulu, jadi makin khawatir."

 

Berbagai hal terjadi. Pasti itu masalah perundungan yang sempat diceritakan Hiyori.

 

"……Soal cerita SMP itu aku sempat dengar sedikit langsung dari orangnya, jadi kukatakan saja, untuk kejadian kali ini sama sekali tidak ada unsur perundungan atau dikucilkan, jadi bibi tidak perlu cemas."

 

"Ah, begitu, ya……"

 

Mendengar ucapanku, mama Hiyori menghela napas lega, rasa cemasnya tampak jelas sirna dari wajahnya.

 

Lalu, mama Hiyori menyipitkan matanya sambil tersenyum lembut kepadaku.

 

"Tapi, ya…… Hiyori, ternyata cerita soal kamu, ya. Begitu, ya……"

 

"Etto, kali ini juga, itu…… memang banyak hal yang terjadi, tapi semuanya baik-baik saja. Hiyori-san sudah berjuang dengan keras…… jadi, etto, intinya sekarang sudah aman."

 

Kosakataku sendiri gimana, ya. Kenapa aku mengulang kalimat yang sama dua kali.

 

"Begitu, ya, kalau Bun-kun yang bilang begitu, bibi jadi lega."

 

Mama Hiyori begitu baik karena mempercayai ucapanku yang sama sekali nggak meyakinkan ini.

 

"……Anak itu pasti bisa berjuang berkat ada kamu di sisinya."

 

"T-, tidak juga……"

 

"Bun-kun."

 

"Y-, ya!"

"Tolong jaga anak itu, ya?"

 

"B-, baik……"

 

Mama Hiyori mengangguk puas melihatku yang refleks mengiyakan tujuannya. Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang mendekat.

 

"Mama……"

 

Pintu ruang keluarga terbuka, dan yang muncul adalah Nanase Hiyori yang masih mengenakan piyama. Sambil mengusap matanya, Hiyori langsung membeku begitu menyadari keberadaanku.

 

"Eh, k-, kenapa Bun-kun bisa bareng sama Mama!? Kenapa lagi makan tart!?"

 

"Mama yang mengajak, lho~ kan? Bun-kun?"

 

"Ah, iya……"

 

"……Kok kelihatannya kamu manja banget sama Mama?"

 

Tidak manja, kok. Sekalipun iya, aku sudah berusaha keras agar ekspresiku tidak kelihatan begitu.

 

"Eeh~? Bun-kun, kamu lagi bermanja-manja sama aku, ya~? Mama jadi senang, deh~"

 

Mama Hiyori langsung mendekat lalu merapat erat ke sisiku.

"T-, tunggu dulu, Mama!!"

 

Sambil memasang ekspresi sedikit kesal, Hiyori menyela di antara aku dan mama Hiyori.

 

"Mama pergi sana!"

 

"Eeh, Mama masih mau ngobrol lebih banyak sama Bun-kun~"

 

"Enggak boleh!! Nanti Bun-kun risih, tahu!"

 

"Iya, iya……"

 

Mama Hiyori pun pergi meninggalkan ruang keluarga dengan wajah cemberut tak terima.

 

"……Bun-kun. Kenapa muka kamu kelihatan kecewa begitu?"

 

"Ah, tidak…… b-, omong-omong demamnya sudah baikan, belum?"

 

Sambil menghindari tatapan Hiyori yang terasa sedikit menyudutkan, aku mengalihkan topik pembicaraan.

 

"Eh? Gimana, ya…… uumm. Ngomong-ngomong, rasanya agak llebih ringan daripada tadi, sih……"

 

Kulihat wajah Hiyori. Pipinya memang masih agak merah, tetapi ekspresinya terlihat jauh lebih baik. Sepertinya obatnya sudah mulai bekerja.

Meskipun begitu, apa Hiyori benar-benar tidak ingat kejadian tadi, ya?

 

"B-, Bun-kun. Kalau ditatap sedekat itu, aku jadi malu, tahu……"

 

"A-, m-, maaf."

 

Yah. Dia pasti sudah lupa soal itu. Sudah pasti begitu.

 

"Etto…… kalau begitu, sepertinya aku sudah harus pamit pulang, ya? Sudah malam begini."

 

"Ah, ung…… sebentar lagi Papa juga bakal pulang, jadi, biar kuantar sampai depan pintu."

 

Begitu, ya. Papa Hiyori juga sebentar lagi pulang, ya…… kalau begitu aku harus segera pulang detik ini juga.

 

Sambil membawa tas, aku bergegas menuju pintu depan. Hiyori mengikutiku dari belakang.

 

"Kalau begitu, Nanase-san. Semoga lekas sembuh."

 

"Ung. Bun-kun. Terima kasih banyak untuk hari ini, ya……"

 

Tepat saat tanganku meraih kenop pintu depan,,

 

"Gokhoh, kokhoh, kokhoh!"

 

"N-, Nanase-san. Tidak apa-apa!?"

Aku melepaskan tanganku dari kenop pintu, melepas sepatu, lalu bergegas menghampiri Hiyori.

 

"Ung. Tidak apa-apa, terima kasih."

 

"B-, begitu?"

 

"Bun-kun itu, selalu saja mencemaskanku dan datang menghampiri, ya."

 

"Eh? Nanase-san. Barusan bilang apa—"

 

Tepat saat aku hendak menanyakan apa yang barusan tidak kudengar, Hiyori tiba-tiba menerjang ke dalam pelukanku.

 

Dengan panik, aku segera memeluk Hiyori dan menopangnya..

 

"Eh, Nanase-san!? Kamu beneran tidak apa-apa!?"

 

"Maaf. Kepalaku agak pusing, jadi boleh tolong topang aku sebentar?"

 

"U-, ung. Tentu saja."

 

"………………"

 

"………………"

 

Keheningan misterius kembali tercipta.

 

Etto, sebenarnya ada apa ini. Suasana macam apa ini……

"………………Etto, Nanase-san?"

 

"Tunggu, sebentar lagi. Makanya."

 

Sebentar lagi maksudnya apa?

 

Tepat saat aku hendak membuka mulut karena sudah tidak sabar, pintu depan tiba-tiba terbuka.

 

"Aku pulaaaaaaaang!? Ssssiapa kamu ini, hah!?"

 

"Ah, Pa, selamat datang~"

 

Gawat banget!! Papa Hiyori pulang di waktu yang paling buruk!!

 

"A, a, a, t-, tidak salah paham!! Om! Itu, cuma salah paham!!"

 

"Kamu tidak punya hak memanggilku Om! Jauhi Hiyori sekarang juga!!"

 

"Bukan begitu, Pa! Bun-kun itu orang baik!"

 

"B-, b-, Bun-kun!?"

 

"Wah, Ayah, selamat datang kembali~"

 

"A, a, a, Ayah!! Di ruang depan ada cowok asing yang tidak kukenal!!"

 

"Bukannya cowok asing, kok. Kan? Bun-kun?"

 

"A, a, a, Ayah sampai segitunya!?"

 

Papa Hiyori kebingungan. Keluarga Nanase kacau balau. Aku sendiri mematung terkejut.

 

"Ah, benar juga. Bun-kun. Mumpung Papa juga baru pulang, bagaimana kalau makan malam di sini dulu sebelum pulang?"

 

"N-, Nanase-san!?"

 

Tawaran mendadak macam apa itu!?

 

"Serahkan pada Mama! Mama bakal masak yang enak! Ah, ngomong-ngomong lauk hari ini adalah ayam goreng spesial keluarga

Nanase, Bun-kun suka ayam goreng, kan?"

 

"Eh, suka banget…… ah, tidak. Itu, rasanya tidak enak kalau merepotkan"

 

"Boleh juga, tuh."

 

Papa Hiyori langsung mencengkeram bahuku dengan erat.

 

"E, t-, anu……"

 

"Sepertinya kita…… harus banyak mengobrol, ya. Nah, ayo masuk ke dalam, Bun-kun."

 

"………………b-baik."

Tidak mungkin aku bisa menolak tawaran dari seluruh anggota keluarga

Nanase, jadi aku cuma bisa mengangguk pasrah.

 

"Asyik! Kalau sudah diputuskan begitu, ayo, ayo, kita ke ruang keluarga?"

 

Sambil didorong dari belakang oleh Hiyori yang entah kenapa memasang ekspresi puas, aku pun melangkah menuju ruang keluarga.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close